Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR ORGANISASIONAL DI LINGKUNGAN KERJA YANG MENYEBABKAN STRES KERJA KARYAWAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada hakikatnya, dari sudut pandang pribadi pekerjaan merupakan suatu sarana untuk mencari nafkah atau menunjang kehidupan manusia. Pekerjaan juga memiliki fungsi psikologis, yaitu memberikan berbagai hal yang dibutuhkan manusia untuk kesehatan jiwa dan fisiknya. Dikatakan bahwa pekerjaan merupakan rantai terkuat seseorang dengan kenyataan. Pekerjaan membuat manusia merasa mempunyai arti dan tujuan dengan memberikan struktur bagi kehidupannya, memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan orang lain, satu sumber status pribadi dan identitas, satu seri tujuan yang hendak dicapai serta kegiatan yang hendak dilakukan. Dalam pandangan yang paling modern mengenai kerja (Pandji Anoraga, 1992), dikatakan bahwa: Pekerjaan merupakan bagian yang paling mendasar/esensial dari kehidupan manusia. Sebagai bagian yang paling mendasar, pekerjaan akan memberikan status dari masyarakat yang ada dilingkungan serta mampu mengikat individu lain baik yang bekerja ataupun tidak, sehingga pekerjaan akan memberikan isi dan makna dari kehidupan manusia yang bersangkutan Baik pria maupun wanita menyukai pekerjaan. Kalaupun orang tersebut tidak menyukai pekerjaannya, hal ini biasanya disebabkan oleh kondisi psikologis dan sosial dari pekerjaan itu Moral dari pekerja tidak mempunyai hubungan langsung dengan kondisi material yang menyangkut pekerjaan tersebut. Insentif dari kerja memiliki banyak bentuk dan tidak selalu tergantung pada uang. Insentif ini adalah halhal yang mendorong tenaga kerja untuk bekerja lebih giat. Namun dalam kenyataannya, sebagian besar dari apa yang disebut pekerjaan cenderung mempunyai konotasi paksaan, baik yang ditimbulkan dari dalam pekerjaan itu sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. Pekerjaan juga sering kali meliputi penggunaan waktu dan usaha diluar apa yang menjadi keinginan pribadi. Seperti yang diungkapkan oleh Studs Terkel dalam bukunya Working yang menguraikan tentang apa yang dilihatnya sebagai hakikat kerja zaman ini. Kerja, dari kodratnya, berkaitan dengan kekerasan-terhadap jiwa dan juga terhadap badan. Kerja berkaitan dengan tukak dan kecelakaan, berkaitan dengan pertandingan pekikan seperti juga pertandingan tinju, berkaitan dengan penyakit saraf selain keluhan. Diatas (atau dibawah) segalagalanya, kerja ada hubungannya dengan penghinaan dari hari ke hari. Mampu hidup sehari lebih lama merupakan kemenangan yang cukup bagi si terluka yang sedang berjalan di tengah kebanyakan dari kita. Senada dengan hal tersebut, seorang psikiater bernama J.A.C Brown dalam bukunya yang berjudul The Social Psychology of Industry menyebutka bahwa: Riset modern dewasa ini telah menunjukan bahwa kerja itu sesungguhnya merupakan bagian penting dari kehidupan manusia, sebab aspek kehidupan yang memberikan status kepada masyarakat. Dalam keadaan biasa, seseorang baik pria ataupun wanita sejak dulu kala memang menyukai pekerjaan. Bila mereka tidak menyukai pekerjaan, sesungguhnya kesalahannya tidak terletak pada si pekerja itu sendiri, tetapi pada kondisi-kondisi sosial dan psikologis dari pekerjaan itu.(Pandji Anoraga, 1992) Hal tersebut diatas mengindikasikan bahwa untuk beberapa jabatan, kerja merupakan penurunan derajat kemanusiaan serta sesuatu yang tidak terselesaikan. Karena banyak dari mereka yang mengalami berbagai kondisi kerja yang tidak menyenangkan. Sehingga hanya sebagian kecil orang yang merasa puas dengan pekerjaannya, sementara sebagian besar lainnya menderita penghinaan yang besar dan kecil ditempat kerja. Seperti diungkapkan oleh Kahn (T.M. Fraser, 1992:50), dari hasil penelitiannya dia menyatakan bahwa hanya sedikit orang yang menganggap dirinya sangat puas dengan pekerjaannya, selebihnya menyatakan tidak puas, dan sebagian besar menyatakan agak puas. Barbash juga menyatakan bahwa

1)

2) 3) 4)

sekitar 20% dari semua orang senantiasa membenci pekerjaannya tanpa mengindahkan bagaimana pengorganisasiannya. Sebuah laporan di Inggris memberikan angka 5% untuk ketidakpuasan, sedangkan dua buah survei di Jepang masing-masing memberikan angka 23% dan 15% untuk masalah yang sama. Menurut beberapa hasil penelitian berbagai kondisi ketidakpuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan akan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas, turnover dan tingkat absensi karyawan, serta dapat menimbulkan berbagai perilaku agresif, frustrasi, kegelisahan dan kecemasan karyawan yang merupakan tipe-tipe dasar dari stress serta berbagai penyakit yang berkenaan dengan stress. Stress merupakan aspek alamiah yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang. Stress dapat terjadi dalam setiap jajaran yang ada dalam perusahaan, baik pekerja, staf maupun pimpinan perusahaan. Hal ini selaras dengan keterangan Dinas Tenga Kerja yang menyatakan bahwa stress adalah suatu penyakit yang pernah diderita oleh hampir semua pekerja. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Northwestern National Life Insurance Co. (NWNL) di Minneapolis yang menyebutkan bahwa 7 dari 10 pekerja sering mengalami stress dan para responden yang memiliki berbagai masalah yang berkaitan dengan stress meningkat dari 13% dalam tahun 1985 menjadi 25% dalam tahun 1991 (Gibson et al. 1996:344). Penelitian lain menyebutkan bahwa diperkirakan sekitar 15% dari seluruh manusia menderita semacam gejala stress psikologis pada suatu ketika dalam hidupnya dan banyak diantaranya disebabkan oleh persoalan yang ditimbulkan dalam pekerjaan (Lucas dan Wilson, 1989:14). Menurut Dewiarti Soemantri yang merupakan seorang EXPERD Consultant menyatakan bahwa upaya untuk terhindar dari stress akan mustahil selama kita masih hidup. Karena dalam setiap aktivitas kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam menghadapi pekerjaan di kantor, pasti acapakali ada saja kendala atau hambatan yang harus kita lalui dan kita selesaikan Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa, Inggris telah kehilangan sekitar 40 juta hari kerja setiap tahunnya yang secara langsung berhubungan dengan pengaruh stress, dan hal ini paling tidak menambah biaya langsung sebesar 55 juta pound bagi pelayanan medis dan sosial serta kerugian sebesar 5 hingga 10% dari GNP-nya (Gross National Product). Begitupun halnya dengan Amerika Serikat yang mengeluarkan dana sebesar 30 milyar dollar setahun hanya untuk menangani penyakit jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh stress. Para ahli memperkirakan bahwa Amerika Serikat mengeluarkan dana sebesar 150 juta dollar per tahun untuk asuransi kesehatan dan penurunan produktivitas (Van den Bergh, 1991), bahkan ILO (International Labour Organiztion) pernah menyebutkan adanya kerugian sekitar 200 juta dollar per tahun karena penurunan produktivitas, absensi, asuransi kesehatan dan biaya perawatan kesehatan (Jakarta Pos, 19 Maret 1993). Hasil penelitian lain menyebutkan bahwa sekitar 60 sampai 90% dari total biaya pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan gejala stress (Compernolle, 1989). Di Nederland, Vis dan Van de Ploeg mengkalkulasikan bahwa stress telah meningkatkan biaya produksi dan pelayanan dengan rata-rata 6%. Disamping itu, 54% dari angka kematian di Swedia disebabkan oleh berbagai penyakit yang berhubungan dengan karakteristik pekerjaan. Data-data tersebut diatas mengindikasikan betapa stress kerja yang dialami oleh para karyawan telah banyak mendatangkan kerugian yang begitu besar, baik bagi individu yang mengalami stress maupun bagi organisasi secara keseluruhan. Hal ini terlihat dari adanya beberapa fakta yang tidak dapat kita abaikan, yaitu: pertama, orang menjadi sakit karena stress ditempat kerja; kedua, biaya yang dikaitkan dengan stress itu besar sekali jumlahnya bagi setiap majikan. Biaya tersebut mencakup hilangnya jam kerja, bertambahnya kecelakaan, premi asuransi dan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi, dan produktivitas yang menurun. Berdasarkan data-data tersebut diatas, maka penulis berkesimpulan bahwa stress kerja merupakan suatu masalah penting yang perlu segera mendapatkan penangan serius, tidak hanya dari para karyawan yang terkena stress tetapi juga dari pihak manajemen. Karena hal ini juga merupakan kepentingan organisasi yang tidak dapat diabaikan, sehingga pihak manajemen organisasi harus berupaya untuk mengambil langkah aktif dalam mengatasi masalah stres. Oleh karena itu, dalam penelitiannya penulis bermaksud menggunakan pendekatan manajemen stress sebagai upaya pemecahan masalahnya. Dengan pendekatan ini, fihak manajemen diharapkan dapat melakukan penanganan stress dengan tujuan untuk memperkecil/mengendalikan stressor serta menetralisir pengaruh stress melalui berbagai metode yang pada akhirnya dapat membantu

meningkatkan daya tahan seseorang terhadap stress.Sehingga upaya pemecahannya diharapkan akan lebih efisien dan efektif. Kesimpulan penulis tersebut didukung oleh pendapat seorang ahli, Steers (1981:340) yang mengungkapkan beberapa alasan pentingnya penanganan stress, diantaranya: (1) Stress dapat membawa dampak buruk berupa efek fisiologis maupun psikologis pada pekerja dan akan mempengaruhi kesehatan serta kontribusi mereka terhadap efektivitas organisasi (2) Stress merupakan penyebab utama bagi absensi dan keluar masuknya pegawai dalam suatu perusahaan (3) Stress yang dialami seorang pekerja lainnya, mulai dari suasana kerja yang menjadi kurang menyenangkan hingga pada masalah keselamatan yang terancam Dari berbagai data dan fakta yang berhasil dikumpulkan, maka penulis bermaksud untuk mengadakan penelitian mengenai faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya stress kerja dari perspektif atau sudut pandang karyawan. Penelitian ini akan dilakukan di Balai Pendayagunaan Sumberdaya Air () .......... Pemilihan objek penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil studi pendahuluan penulis terhadap beberapa orang pegawai ......... yang menghasilkan sejumlah data tentang adanya berbagai gejala stress yang dialami oleh para pegawai tersebut. Untuk lebih jelasnya berbagai gejala stress yang dialami oleh karyawan tersebut dapat dilihat dalam tabel dan diagram berikut ini: Tabel 1.1 Gejala Stres Kerja Karyawan Secara Fisik Frekuensi % Gejala

Gejala

Frekuensi

Gangguan tidur (insomnia) Pening tiba-tiba Sakit kepala Letih tak beralasan Selera makan berubah

45 39 30 30 27

75 65 50 50 45

Tekanan darah naik Nafas memburu Gangguan pencernaan Sakit punggung Otot tegang

24 21 18 18 18

40 35 30 30 30

Tabel 1.2 Gejala Stres Kerja Karyawan Secara Emosional

Gejala Gelisah (perasaan tak tenang) Cepat marah (mudah tersinggung) Tegang Bingung Jengkel

F 60 60 45 18 15

% 100 100 75 30 25

Gejala Depresi Agresif Gugup Harga diri menurun Menangis

F 12 12 6 9 3

% 20 20 10 15 5

Tabel 1.3 Gejala Stres Kerja Karyawan Secara Intelektual

Gejala Daya ingat menurun Sulit konsentrasi Semangat kerja turun Fikiran sering kacau

F 54 27 24 24

% 90 45 40 40

Gejala Mutu kerja menurun Sulit membuat keputusan Kepuasan kerja rendah Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif

F 18 12 12 12

% 30 20 20 20

Sering melamun

18

30

Hilang kreativitas dan inovasi

15

Tabel 1.4 Gejala Stres Kerja Karyawan Secara Interpersonal

Gejala Lebih suka menyendiri Hilang kepercayaan pada orang lain Mendiamkan orang lain (apatis) Susah bekerjasama Menyerang orang dengan kata-kata

F 33 30 21 12 12

% 55 50 35 20 20

Gejala Menyalahkan orang lain Mengingkari janji Sulit berkomunikasi dengan orang lain Sulit meminta bantuan orang lain Bersikap mendominasi

f 3 3 3 3 3

% 5 5 5 5 5

Sumber: Hasil Pengolahan Data Dibawah ini penulis sajikan sebuah grafik yang menggambarkan gejala-gejala stress yang paling banyak dialami oleh karyawan .........

Gambar 1.1 Gejala-gejala Stres Karyawan Berdasarkan grafik diatas dapat disimpulkan bahwa gejala stress yang paling dominan dirasakan oleh para karyawan ......... adalah gejala stress yang berbentuk fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala, tekanan darah naik, dan sebagainya. Gejala ini muncul dengan prosentase sebesar 32%. Kemudian gejala emosional sebesar 28%, yang berwujud gelisah, cepat marah, tegang, dan sebagainya. Gejala intelektual dialami karyawan sebesar 25% yang dapat berbentuk turunnya daya ingat, sulit konsentrasi, semangat dan mutu kerja menurun dan sebagainya. Terakhir, gejala interpersonal muncul dengan prosentase paling kecil, yaitu 15%. Gejala ini bisa berwujud seperti lebih suka menyendiri, hilang kepercayaan pada orang lain, apatis dan susah bekerjasama. 1.2 Identifikasi Masalah Pada dasarnya kondisi stress yang dialami oleh seseorang dapat terjadi karena adanya berbagai faktor penekan yang mempunyai potensi sebagai pencetus stress atau yang biasa disebut stressor. Faktor-faktor yang menyebabkan stress tersebut dapat berasal dari beberapa sumber, seperti: individu itu sendiri, kelompok, organisasi, maupun ekstra organisasi atau yang sering disebut sebagai life stressor. Stressor yang berasal dari individu bisa berupa ambiguitas dan konflik peran; pola kepribadian, dan kontrol pribadi. Sedangkan stressor yang berasal dari kelompok terjadi karena kurangnya keeratan kelompok serta kurangnya dukungan sosial. Stressor yang berasal dari organisasi terjadi karena beberapa faktor, seperti: kebijakan administratif dan strategis; struktur dan desain organisasi; proses organisasi; serta kondisi pekerjaan. Sementara stressor yang berasal dari luar organisasi (ekstraorganisasi) berupa perubahan

sosial/teknologi; masalah keluarga; kondisi ekonomi; ras dan kelas sosial; serta keadaan masyarakat atau lingkunan sekitar. Stress bisa terjadi karena satu stressor saja, tapi pada umumnya seseorang mengalami stress karena adanya kombinasi stressor. Misalnya seorang karyawan mengalami kecelakaan kerja karena kelengahannya. Kewaspadaanya berkurang karena ia mengalami tekanan dan ketegangan di dalam dirinya. Hal ini terjadi karena anaknya baru saja meninggal dan di tempat kerjanya tengah terjadi perampingan yang mengakibatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, dimana para pekerja termasuk dirinya masih diliputi kekhawatiran adanya PHK berikutnya. Selain itu, pekerjaan yang harus ditanggungnya menjadi semakin menumpuk karena berkurangnya pekerja akibat PHK. Kondisikondisi tersebut terjadi pada saat yang hampir bersamaan, sehingga menimbulkan tekanan serta ketegangan dalam diri karyawan tersebut yang akhirnya mengurangi kewaspadaanya. 1.3 Batasan dan Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan stress terhadap seseorang, baik itu yang berasal dari lingkungan kerja (organisasi) maupun yang berasal dari luar lingkungan kerja (individu, kelompok, ekstraorganisasi). Banyaknya faktor yang dapat menyebabkan stress kerja karyawan tersebut, membuat penulis merasa perlu untuk membatasi lingkup penelitian pada faktor-faktor penyebab stress yang berasal dari organisasi (lingkungan kerja). Hal ini didasarkan pada pendapat para peneliti (Lazarus, 1967), yang menyatakan bahwa stress hanya berhubungan dengan kejadian-kejadian di sekitar lingkungan kerja yang merupakan bahaya atau ancaman dan bahwa perasaan-perasaan yang terutama relevan mencakup rasa takut, cemas, rasa bersalah, marah, sedih, putus asa dan bosan. Penelitian lain menyebutkan bahwa diperkirakan sekitar 15% dari seluruh manusia menderita semacam gejala stress psikologis pada suatu ketika dalam hidupnya dan banyak diantaranya disebabkan oleh persoalan yang ditimbulkan dalam pekerjaan. Dengan melakukan pembatasan terhadap permasalahan penelitian, maka diharapkan penelitian ini akan lebih terfokus dan terarah, sehingga akan menghasilkan suatu pemecahan masalah yang akurat. Untuk itu penulis bermaksud melakukan penelitian yang dituangkan dalam judul Analisis Faktor-Faktor Organisasional (Lingkungan Kerja) Yang Menyebabkan Stres Kerja Karyawan Di Balai Pendayagunaan Sumberdaya Air () ......... Selanjutnya penulis berusaha untuk merumuskan beberapa masalah yang berkenaan dengan objek penelitiannya, yaitu: Bagaimana gambaran kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... secara umum? Bagaimana gambaran kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan jenis kelamin? Bagaimana gambaran kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan jenis usia? Bagaimana gambaran kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan tingkat pendidikan? Bagaimana gambaran kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan masa kerja? Faktor-faktor apa saja yang dominan dalam membentuk kebijakan administratif dan strategis yang menyebabkan stress kerja karyawan .........? Faktor-faktor apa saja yang dominan dalam membentuk struktur dan desain organisasi yang menyebabkan stress kerja karyawan .........? Faktor-faktor apa saja yang dominan dalam membentuk proses organisasi yang menyebabkan stress kerja karyawan .........? Faktor-faktor apa saja yang dominan dalam membentuk kondisi fisik lingkungan kerja yang menyebabkan stress kerja karyawan .........? Faktor-faktor apa saja yang dominan dalam menyebabkan stress kerja karyawan .........?

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

1.4 Tujuan Penelitian Berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang berhasil dirumuskan oleh penulis, maka pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk: 1. Memperoleh gambaran empiris mengenai kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... secara umum 2. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan jenis kelaminnya 3. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan usianya

4. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan tingkat pendidikannya 5. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai kondisi stress yang dialami oleh karyawan ......... berdasarkan masa kerjanya 6. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai faktor-faktor dominan dalam membentuk kebijakan administratif dan strategis yang menyebabkan stress kerja karyawan ......... 7. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai faktor-faktor dominan dalam membentuk struktur dan desain organisasi yang menyebabkan stress kerja karyawan ......... 8. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai faktor-faktor dominan dalam membentuk proses organisasi yang menyebabkan stress kerja karyawan ......... 9. Memperoleh gambaran secara empiris mengenai faktor-faktor dominan dalam membentuk kondisi fisik lingkungan kerja yang menyebabkan stress kerja skaryawan ......... 10. Mengukur bobot faktor-faktor yang dapat menyebabkan stress kerja karyawan ......... 1.5 Manfaat Penelitian Apabila tujuan penelitian dapat tercapai dan rumusan masalah dapat terjawab secara akurat, maka diharapkan penelitian ini akan memberikan manfaat bagi berbagai fihak yang berkepentingan, baik secara teoritis maupun secara praktis. 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dikemudian hari serta dapat menjadi tambahan pengetahuan untuk mengembangkan ilmu dalam kajian manajemen stress. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi fihak manajemen dan fihak-fihak lain yang berkepentingan (karyawan, konsultan, dan sebagainya) dalam mengelola stress yang dialami di tempat kerja. Sehingga dikemudian hari dapat ditemukan cara yang efektif untuk meminimalisir dampak negatif dari stress dan mengarahkannya menjadi sebuah rangsangan atau tantangan untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan. 1.6 Kerangka Pemikiran Stress diyakini sebagai suatu aspek alamiah yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang. Sehingga upaya untuk terhindar dari stress sangat mustahil dilakukan selama kita masih hidup. Stress ini dapat terjadi dalam setiap jajaran yang ada dalam perusahaan (organisasi), baik pekerja, staf maupun pimpinan perusahaan. Pada dasarnya stress merupakan tanggapan seseorang baik berupa fisik, psikologis, maupun perilaku terhadap setiap keadaan yang menantang/mengancamnya. Stress ini dapat bersifat positif maupun bersifat negatif, bergantung pada reaksi/tanggapan seseorang terhadap sumber stress (stressor) yang dihadapinya. Dalam keadaan tertentu stress akan sangat bermanfaat dan bersifat positif karena mampu memberikan tenaga ekstra yang dibutuhkan oleh seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Artinya, jenis stress yang dikenal dengan sebutan eustress ini dapat meningkatkan motivasi pribadi, memberikan rangsangan untuk bekerja lebih keras, serta mampu meningkatkan inspirasi hidup yang lebih baik . Namun, stress seringkali tidak bermanfaat dan bahkan dapat membahayakan seseorang apabila tidak dikelola dengan baik. Lebih jauh lagi stress mungkin dapat mengganggu kesehatan dan menimbulkan berbagai penyakit, seperti: gangguan pencernaan dan serangan jantung. Jenis stress ini disebut distress, yaitu jenis stress yang biasa dianalogikan dengan katastress. Artinya, meski ada beberapa peneliti yang menyatakan bahwa stress tidak selalu bersifat destruktif, namun dalam beberapa hal stress biasanya dilihat sebagai proses mengenai beberapa karkteristik kerja atau lingkungan kerja yang menghasilkan konsekuensi atau respon yang merugikan karyawan (Beehr et al, 2004:230). Seperti yang diungkapkan oleh Sondang P. Siagian (2003:300) yang menyatakan bahwa: Stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan fikiran dan kondisi fisik seseorang. Stres yang tidak bisa diatasi dengan baik biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang untuk berinteraksi secara positif dengan lingkungannya, baik dalam arti lingkungan pekerjaan maupun diluarnya. Artinya karyawan yang bersangkutan akan menghadapi berbagai gejala negatif yang pada gilirannya akan berpengaruh pada prestasi kerjanya.

(1) (2) (3) (4) (5)

Disamping itu, orang-orang yang mengalami stress bisa menjadi nervous dan merasakan kekhawatiran kronis. Mereka sering kali menjadi mudah marah dan agresif, serta tidak dapat relaks, atau menunjukan sikap yang tidak kooperatif. Lebih dari itu mereka mungkin melarikan diri dengan minum alkohol dan/atau merokok berlebihan. Mereka bahkan bisa terkena berbagai penyakit fisik, seperti masalah pencernaan dan/atau tekanan darah tinggi, serta sulit tidur. Lebih lanjut, Gibson et. al (1996:363) yang mengutip pernyataan dari Cox mengungkapkan bahwa stress kerja dapat membawa berbagai dampak negatif dalam beberapa aspek, diantaranya: Aspek subjektif: kekhawatiran/ketakutan, agresi, apatis, rasa bosan, depresi, keletihan, frustasi, kehilangan kendali emosi, penghargaan diri yang rendah, gugup, dan kesepian Aspek perilaku: mudah mendapat kecelakaan, alkoholik, penyalahgunaan obat, luapan emosional, makan atau merokok berlebihan, perilaku impulsive, dan tertawa gugup Aspek kognitif: ketidakmampuan dalam mengambil keputusan yang masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat pekak terhadap kritik dan rintangan mental Aspek fisiologis: meningkatnya kadar gula, kekeringan dari mulut, meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, berkeringat, membesarnya pupil mata serta tubuh menjadi panas dan dingin Aspek organisasi: keabsenan, pergantian karyawan (turnover) karyawan, rendahnya produktivitas, keterasingan dari rekan sekerja, ketidakpuasan kerja, menurunnya keikatan dan kesetiaan terhadap organisasi Kondisi stress tersebut terjadi karena adanya berbagai faktor penekan yang mempunyai potensi sebagai pencetus stress atau yang biasa disebutstressor. Stress dapat terjadi karena satu stressor, tapi pada umumnya stress terjadi karena adanya kombinasi dari beberapa stressor. Secara sederhana, Moorhead dan Griffin menyebutkan bahwa penyebab stress bisa dikelompokan kedalam dua kategori, yaitu: 1). Stressor organisasidan (2) stressor kehidupan. Kedua stressor ini akan sangat berpengaruh terhadap beberapa aspek, diantaranya: aspek individu, organisasi dan burnout(perasaan kelelahan atau keletihan yang muncul apabila seseorang terus-menerus mengalami banyak tekanan dan terlalu sedikit mendapatkan sumber kepuasan kerja). Menurut Stephen P. Robins terdapat tiga perangkat faktor yang dapat menyebabkan stress pada seseorang, yaitu: faktor lingkungan, organisasional dan faktor individu. Kondisi stress ini dapat berdampak pada beberapa aspek, seperti: aspek fisiologis, psikologis dan aspek perilaku. Senada dengan hal tersebut, Gibson et al. (1996:343) menyatakan bahwa penyebab stress karyawan ditempat kerja dibagi kedalam empat kategori, yaitu: (1) Lingkungan fisik, (2) Individu, (3) Kelompok, dan (4) Organisasi. Untuk lebih jelasnya mengenai berbagai faktor penyebab stress, serta konsekuensinya terhadap penampilan kerja. Berbeda dengan yang lainnya, Davis dan Newstrom (1985) membedakan stress kedalam dua tipe, yaitu: (1) stress positif yang dapat membantu membangun organisasi dan pribadi yang terkena stress, (2) stress negatif, yang dapat merugikan organisasi dan pribadi yang terkena stress, baik dalam jangka panjang maupun pendek. Kedua jenis stress ini dapat terjadi karena disebabkan oleh dua faktor, yaitu: (1) faktor organisasional dan (2) lingkungan luar pekerjaan. Menurut Fred Luthans (1995:298) sumber stress karyawan bisa berasal dari berbagai sumber, yaitu: (1) luar organisasi, (2) organisasi, (3) kelompok, (4) individual. Luthans (Agoes et al, 2003:50) juga mengatakan bahwa dalam sebuah perusahaan/organisasi besar, mapan dan kompleks akan banyak menghasilkan penyebab stress kerja sehingga individu akan semakin tertekan didalam melaksanakan tugasnya. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hampir setiap kondisi pekerjaan, baik fisik maupun sosial akan sangat berpotensi untuk menimbulkan stress, bergantung pada reaksi seseorang terhadap berbagai stressor yang dihadapinya. Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengatasi stress bergantung pada berbagai faktor, seperti: (1) kepribadian (tipe A/B), (2) daya tahan (3) dukungan sosial (3) persepsi, (4) pengalaman pekerjaan, (5) serta berbagai faktor kondisi individu lainnya (umur, jenis kelamin, pekerjaan, ras, letak demografis seseorang). Dari berbagai stressor organisasional (lingkungan kerja) yang dikemukakan oleh para ahli tersebut diatas, penulis bermaksud menggunakan pendekatan Fred Luthans dalam penelitiannya, yang menyatakan bahwa sumber stress yang berasal dari dalam organisasi (lingkungan kerja) terdiri dari:(a) kebijakan administratif dan strategis, (b) struktur dan desain organisasi, (c) proses organisasi, (d) serta kondisi fisik lingkungan kerja.

Pemilihan pendekatan tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa menurut hasil penelaahan penulis, faktor-faktor sumber stress yang diungkapkan oleh Fred Luthans dianggap mampu mewakili berbagai faktor yang berasal dari lingkungan kerja, baik lingkungan fisik maupun psikis. Sehingga penulis memandang teori Fred Luthans sebagai pendekatan yang paling memadai dalam melakukan penelitiannya. 1.7 Premis Premis merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Menurut Komaruddin (2000:202) premis adalah sesuatu yang dianggap benar, sesuatu yang dianggap sebagai suatu keputusan yang diterima sebagai kebenaran. Senada dengan hal tersebut Suharsimi Arikunto dalam bukunya (1992:56) menyebutkan anggapan dasar sebagai segala sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan bermanfaat sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti dalam melaksanakan penelitiannya. Dari penjelasan tersebut diatas, penulis kemudian berusaha mengemukakan beberapa premis, diantaranya: 1. Stress dapat terjadi dalam setiap jajaran yang ada dalam perusahaan, baik pekerja, staf maupun pimpinan perusahaan (Arti, N. et al, 1988) 2. Karyawan (SDM) adalah aset utama setiap perusahaan, yang menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi (Hasibuan, 1990:30) 3. Efek/dampak stress terhadap seseorang berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor perbedaan individual (Robbins, 1996:226) 4. Stress dapat membawa dampak buruk berupa efek fisiologis maupun psikologis pada pekerja dan akan mempengaruhi kesehatan serta kontribusi mereka terhadap efektivitas organisasi (1981:230) 5. Hampir setiap kondisi pekerjaan bisa menyebabkan stress, tergantung pada reaksi karyawan (T. Hani Handoko, 1996:201) 1.8 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang harus dibuktikan kebenarannya. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto (2002:64) bahwa hipotesis merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesis ini akan sangat berguna sebagai pedoman kerja dalam menetapkan variabel, mengumpulkan dan mengolah data serta mengambil kesimpulan. Menurut Consuelo G. Seville, dkk. (1993) hipotesis berfungsi untuk: a)memperkenalkan peneliti untuk berfikir dari awal suatu penelitian, b) menentukan tahap-tahap atau prosedur suatu penelitian, serta c) membantu menetapkan bentuk untuk penyajian, analisis dan interpretasi data. Berdasarkan kepentingan tersebut, maka penulis mengajukan hipotesis yaitu: faktor-faktor organisasional yang berupa kebijakan administratif dan strategis; struktur dan desain organisasi; proses organisasi; serta kondisi fisik lingkungan kerja merupakan faktor-faktor yang dominan dalam menyebabkan stress kerja karyawan. 1.9 Sistematika Pembahasan Untuk memudahkan pembaca dalam menangkap gambaran uraian yang disajikan penulis, maka disusunlah rumusan sistematika pembahasan sebagai berikut: BAB I merupakan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah yang diteliti, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka pemikiran, premis dan hipotesis serta sistematika pembahasan. BAB II merupakan kajian pustaka yang berisikan hasil telaahan terhadap teori dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan variabel-variabel penelitian. Bab ini berisikan tentang definisi stress dan gejalanya, faktor-faktor yang dapat menyebabkan stress (sumber stress/stressor), dampak (efek) stress serta upaya penanggulangan stress atau strategi coping stress. BAB III, metode penelitian membahas tentang lokasi penelitian, metode penelitian, operasionalisasi variabel, sumber data penelitian, populasi penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data. BAB IV, hasil penelitian dan pembahasan menampilkan gambaran tentang objek penelitian, gambaran stres kerja karyawan serta pengolahan dan analisis terhadap data-data penelitian BAB V, berisi kesimpulan dan pemaknaan penulis terhadap keseluruhan hasil penelitian serta saran-saran yang dianggap baik dan tepat dalam upaya pemecahan masalah.