Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN EKONOMI


Dibuat sebagai tugas kelompok dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan Lanjutan

OLEH KELOMPOK 2: Verawati Simanungkalit Mhd. Adam Hidayat Mhd. Yuhelmi Isra Dita A. W. Ningsih Ainol Mardhiah

PROGRAM PASCA SARJANA ILMU EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk adalah salah satu indikator penting dalam suatu negara. Para ahli ekonomi klasik yang di pelopori Adam Smith, bahkan menganggap bahwa jumlah penduduk merupakan input yang potensial yang dapat digunakan sebagai faktor produksi untuk meningkatkan produksi suatu rumah tangga perusahaan. Semakin banyak penduduk maka semakin banyak pula tenaga kerja yang dapat digunakan. Oleh karena jumlah penduduk terus bertambah, maka banyak yang harus dicanangkan untuk mengatasi keadaan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pertumbuhan penduduk terjadi menurut deret ukur, sedangkan

pertumbuhan produksi berlangsung secara deret hitung. Oleh sebab itu, peledakan penduduk akan mengakibatkan kelaparan dan kematian. Keyakinan ini pertama kali dikemukakan oleh Prof. Thomas Robert Malthus (Universitas Cambridge, 1785). Akan tetapi, Prof. Simon Kuznets membantahnya 173 tahun kemudian. Secara ilmiah, ia membuktikan bahwa Malthus sama sekali salah. Untuk itu, ia mendapat hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1971. Menurut Kuznets, pertumbuhan ekonomi berlangsung paling pesat pada saat pertumbuhan penduduk paling cepat pula. Keadaan ini dibuktikan oleh Eropa selama 100 tahun industrialisasi di Eropa. Prof Yamomoto di Jepang juga mempunyai keyakinan yang sama berdasarkan observasinya, bahwa pertumbuhan ekonomi di Jepang paling tinggi terjadi dalam tahun 1970-an. Ia menunjuk ketika Jepang secara dramatis mengambil alih pasaran produksi mobil dunia selama 30 tahun terakhir abad ke-20. Alasan utama korelasi antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi sebenarnya sederhana. Yaitu terdapatnya permintaan sangat besar dalam penduduk yang bertumbuh. Terdapat lebih banyak pembeli untuk produk yang dihasilkan, sehingga secara alamiah produksi makin tumbuh dan makin banyak orang bekerja, dengan demikian kemiskinan terhapus. Pertumbuhan penduduk adalah stimulus terbesar untuk kemajuan ekonomi. Tekanan karena pertumbuhan
2

penduduk pada sumber daya yang terbatas pada saat tertentu di suatu daerah tertentu menjadi daya dorong paling besar terhadap inovasi teknologi dan peningkatan produksi. Dengan demikian Thomas Malthus, seorang pastor Inggris yang pertama-tama bicara tentang peledakan penduduk dengan akibat kelaparan dan kematian terbukti salah berkali-kali.

1.2

Rumusan Masalah Sesuai dengan uraian di atas, maka kami merumuskan masalah-masalah

berikut: 1) apa yang dimaksud dengan pertumbuhan penduduk, pembangunan ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi; 2) apa saja faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk; 3) apa saja indikator yang dipakai untuk mengukur pertumbuhan ekonomi; 4) apakah pertumbuhan penduduk berbanding negatif atau positif dengan pertumbuhan ekonomi; 5) apa konsekuensi yang muncul dari ledakan penduduk terhadap pembangunan ekonomi di suatu negara.

1.3

Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:

1) pengertian pertumbuhan penduduk, pembangunan ekonomi, sekaligus pertumbuhan ekonomi; 2) faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan penduduk; 3) indikator yang dipakai untuk mengukur pertumbuhan ekonomi; 4) pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi; 5) konsekuensi yang muncul dari ledakan penduduk terhadap pembangunan ekonomi di suatu negara.

1.4

Manfaat Penulisan Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah

wawasan dan pengetahuan bagi penulis, masyarakat, dan rekan-rekan.

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan per waktu unit untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia. Pertumbuhan penduduk merupakan perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan penduduk yaitu kelahiran (natalitas), kematian (mortalitas) dan perpindahan penduduk (migrasi). Kelahiran dan kematian dinamakan faktor alami, sedangkan perpindahan penduduk dinamakan faktor non alami. Migrasi ada dua yaitu migrasi yang dapat menambah jumlah penduduk disebut migrasi masuk (imigrasi), dan yang dapat mengurangi penduduk disebut migrasi ke luar (emigrasi). Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran dapat diatur dan kematian dapat dicegah. Ini semua mengakibatkan menurunnya angka kematian secara drastis atau mencolok. Sesuai dengan tingkat kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maka tiap-tiap masyarakat atau negara, pertumbuhan penduduknya mengalami 4 periode, yaitu:

Periode I Pada periode ini, pertumbuhan penduduk berjalan dengan lambat yang

ditandai dengan adanya tingkat kelahiran dan kematian yang rendah sehingga disebut periode statis.

Periode II

Tahap kedua ini, angka kematian mulai turun karena adanya perbaikan gizi makanan dan kesehatan. Akibat dari itu semua, pertumbuhan penduduk menjadi cepat mengingat angka kelahiran yang masih tinggi.

Periode III Periode ini ditandai dengan tingkat pertumbuhan penduduk mulai turun.

Tingkat kematian pada periode ini stabil sampai pada tingkat rendah dan angka kelahiran menurun, penyebabnya antara lain adanya pembatasan jumlah anggota keluarga.

Periode IV Pada masa ini, tingkat kematian stabil, tetapi tingkat kelahiran menurun

secara perlahan sehingga pertumbuhan penduduk rendah. Periode ini disebut periode penduduk stasioner. Dari empat periode di atas, pertumbuhan penduduk Indonesia berada pada periode kedua dan sekarang sedang menuju periode ketiga. 2.1.1. Isu Pokok: Pertambahan Penduduk dan Kualitas Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan, pertumbuhan jumlah

penduduk dunia ternyata lebih tinggi daripada perkiraan dua tahun lalu. Revisi prediksi pertumbuhan tersebut memunculkan pertanyaan soal daya dukung alam dan sejumlah masalah lain. Dalam laporan bertajuk Prospek Populasi Dunia: Revisi 2012 yang dirilis di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat (14/6), disebutkan, penduduk dunia akan naik menjadi 8,1 miliar jiwa pada tahun 2025 dari jumlah 7,2 miliar jiwa saat ni. Jumlah itu akan terus berkembang menjadi 9,6 miliar pada tahun 2050. Prediksi sebelumnya, penduduk dunia diperkirakan hanya mencapai 9,3 miliar jiwa pada 2050. Menurut laporan terbaru ini, pertumbuhan penduduk paling tinggi akan terjadi di negara-negara berkembang, dan lebih dari setengah penambahan jumlah

penduduk dunia itu akan terjadi di Afrika. PBB memperkirakan, pada awal abad depan, populasi penduduk bumi bisa mencapai 16,6 miliar jiwa. Pertumbuhan penduduk terbesar akan terjadi di negara-negara miskin. Permasalahan penduduk tidak hanya permasalahan yang menyangkut jumlah. Permasalahan itu berkaitan dengan kesejahteraan manusia dan pembangunan. Pertambahan penduduk yang demikian cepatnya memiliki potensi konsekuensi yang serius bagi kesejahteraan umat manusia di muka bumi. Sehubungan dengan hal itu, penting sekali bagi kita untuk membuat kerangka pemikiran mengenai permasalahan penduduk tidak hanya semata-mata melihat jumlahnya. (Todaro, 1994) 2.1.2. Pertumbuhan Penduduk di Masa Lalu, Sekarang, dan yang Akan Datang

Sumber: Ernesto R. Gonzales, PhD. Why impose a two child policy for the Filipino Family? Dari gambar di atas, tampak bahwa sampai dengan tahu 1950-an laju pertumbuhan meningkat 1% per tahun. Sekarang ini, hanya dalam tempo 40 tahun saja, laju pertumbuhan penduduk dunia telah meningkat sekitar 1,8 persen per tahun.

Alasan terjadinya perubahan mendadak kecenderungan penduduk secara keseluruhan adalah bahwa selama perjalanan sejarah manusia, tingkat perubahan kependudukan sangat dipengaruhi oleh kelaparan,penyakit, kekurangan gizi, wabah dan perang. Sekarang ini, dalam abad ke-20 ini, kondisi seperti itu telah dapat dikendalikan melalui teknologi dan perkembangan ekonomi. Akibatnya mortalitas manusia menjadi lebih rendah dibandingkan dengan

sebelumnya.Misalnya, angka kematian di Afrika, Asia, dan Amerika Latin telah merosot sebesar 50% selama 30 tahun terakhir, sementara angka kelahiran relatif tinggi. Pertumbuhan penduduk saat ini telah berubah dengan cepat dari masa sejarah yang panjang di mana angka kelahiran dan kematian yang tinggi berubah menjadi angka kematian yang menurun tajam sementara angka kelahiran khususnya di negara-negara sedang berkembang tetap tidak berubah atau mendekati tingkat tertinggi dalam sejarah.

2.2. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan per kapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pertumbuhan ekonomi ialah proses kenaikan output perkapita yang terus menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Dengan demikian, makin tingginya pertumbuhan ekonomi biasanya makin tinggi pula kesejahteraan masyarakat, meskipun terdapat indikator yang lain yaitu distribusi pendapatan. Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat

perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik.

2.3. Keterkaitan Masalah Kependudukan dengan Pembangunan Ekonomi Masalah kependudukan erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi. Selain menyangkut produk nasional riel dan produk per kapita riel, juga terjadi perubahan- perubahan institutional dan perubahan-perubahan struktural ekonomi masyarakat. Hal ini tercermin dari perubahan atau pergeseran peranan sumbangan sektor- sektor ekonomi dalam produk dan pendapatan nasional. Masalah kepadatan penduduk, kecepatan perkembangannya,

penyebarannya yang tidak merata, produktivitas rata- rata yang relatif rendah, pengangguran dan masalah underitilized dari angkatan kerja tersebut, telah lama menjadi pusat perhatian dan merupakan bagian dari sasaran perbaikan dalam strategi pembangunan Indonesia. Dengan demikian, perlu disadari, bahwa pemecahan untuk masalah- masalah tersebut meliputi aspek- aspek perluasan pendidikan dan peningkatan keterampilan, pembinaan dan pengembangan kewiraswastaan yang memungkinkan tumbuhnya self creating jobs ataupun self employment, di samping peningkatan dan perluasan investasi yang lebih berorientasi kepada kegiatan- kegiatan yang padat karya dan program-program konvensional lain seperti keluarga berencana dan transmigrasi. Pertumbuhan penduduk di kebanyakan negara yang ekonominya tengah berkembang adalah akibat tingkat kelahiran yang tinggi dibarengi oleh tingkat kematian yang menurun. Tingkat kelahiran yang tinggi ini dalam banyak hal menyebabkan bahwa pola usia penduduk cenderung pada usia anak- anak, sehingga penduduk yang dewasa dan menduduki yang secara ekonomis adalah usia paling produktif, berkurang secara proposional. Tingkat kematian menurun terutama pada lapisan penduduk berusia rendah, seperti bayi dan anak- anak, sehingga proposi anak meningkat. Struktur penduduk dengan pola usia dan burden of dependency seperti ini pada umumnya tidak menumbuhkan semangat pembangunan.

Penyebab utama perbedaan laju pertumbuhan penduduk antara negaranegara maju dan negara-negara berkembang bertumpu pada perbedaan tingkat kelahiran. Kesenjangan tingkat kematian antara negara-negara maju dan berkembang semakin lama semakin kecil. Penyebab utamanya adalah membaiknya kondisi kesehatan di seluruh negara-negara dunia ketiga. Bagi kebanyakan negara berkembang, tingkat kematian bayi telah mengalami penurunan besar selama beberapa dekade terakhir sehingga harapan hidup menjadi lebih lama.

2.3

Teori

Pendukung Keterkaitan

Pertumbuhan

Penduduk

dengan

Pembangunan Ekonomi 2.3.1 Teori Jebakan Populasi Malthus Jumlah penduduk di suartu Negara akan menigkat sangat cepat sesuai dengan deret ukur atau tingkat geometric. Sementara, karena adanya proses pertambahan hasil yang semakin berkurang dari suatu factor produksi yang jumlahnya tetap, maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau deret aritmatik. Karena pertumbuhan pengadaan pangan tidak dapat berpacu secara memadai dengan kecepatan pertambahan penduduk, maka pendapatan per kjapita cenderung terus mengalami penurunan sampai sedemikian rendahnya sehingga segenap populasi harus bertahan pada kondisi sedikit di atas tingkat subsisten. Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah rendahnya taraf hidup yang kronis tersebut adalah dengan penanaman kesadaran moral di kalangan segenap penduduk dan kesediaan untuk membatasi jumlah kelahiran. Jika pendapatan agregat dari suatu negara meningkat lebih cepat maka secara definitive pendapatan per kapita juga meningkat. Seandainya pertumbuhan penduduk lebih cepat dari pada peningkatan pendapatan total, maka dengan sendirinya pendapatan per kapita akan menurun. Bila makin banyak penduduk maka saving dan investasi juga makin tinggi sehingga pendapatan per kapita

meningkat. Namun, jika terlalu banyak saving, pendapatan per kapita bisa menurun. Bangsa-bangsa miskin tidak bisa bangkit dari pendapatan subsisten tanpa pengendalian preventif (pengendalian kelahiran). Atau, pertambahan penduduk hanya bisa dihambat dengan pengendalian positif (kelaparan, penyakit, perang). Ada dua kelemahan teori Malthus: 1. Model ini tidak memperhitungkan kemajuan teknologi dan dampaknya yang besar dalam peningkatan produksi tanah. Jika teknologi dimasukkan dalam model ini maka pada semua tingkat pendapatan per kapita posisinya selalu lebih tinggi dari kurva pertumbuhan penduduk. 2. Tidak ada korelasi pasti dan jelas antara laju pertumbuhan penduduk dan tingkat pendapatan per kapita di kalangan negara-negara dunia ketiga. Tingkat kelahiran tidak memiliki hubungan yang baku dengan tingkat pendapatan per kapita. Alasan penolakan atas model Malthus: 1. Malthus tidak memperhitungkan perkembangan teknologi yg bisa menciptakan increasing return to scale. 2. Hipotetis mengenai hubungan (makro) antara pertumbuhan penduduk dengan pendapatan perkapita, secara empiris tidak terbukti. 3. Teori tersebut bertumpu pada variabel ekonomi yang keliru yaitu tkt pendapatan perkapita sebagai determinan utama pertumbuhan penduduk.

2.3.2 Teori Mikroekonomi Fertilitas Rumah Tangga Teori ini mengadopsi teori perilaku konsumen konvensional. Anak dianggap sebagai barang konsumsi (tidak memberi keuntungan). Permintaan anak merupakan pilihan ekonomi yang rasional bagi konsumen. Pilihan tersebut mengorbankan pilihan (barang) lain. Keinginan punya anak dipengaruhi oleh income, harga anak (biaya hidup) dan keinginan mengkonsumsi barang lain (efek substitusi dan pendapatan).
10

1. Permintaan terhadap anak berhubungan positif dengan pendapatan 2. ermintaan terhadap anak berhubungan negative terhadap harga relatif (biaya pemeliharaan) anak serta preferensi untuk barang-barang lain.

2.3.3 Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori pertumbuhan ekonomi dapat dibagi menjadi 2 : 1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis a. Frederich List (1789- 1846) Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi menurut Frederich List adalah tingkattingkat yang dikenal dengan sebutan Stuffen Theorien (teori tangga). Adapun tahapan-tahapan pertumbuhan ekonomi dibagi 4 sebagai berikut : 1. Masa berburu dan mengembara Pada masa ini, manusia belum memenuhi kebutuhan hidupnya sangatmengantungkan diri pada pemberian alam dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri 2. Masa berternak dan bertanam Pada masa ini, manusia sudah mulai berpikir untuk hidup menetap. Sehingga mereka bermata pencaharian bertanam 3. Masa Bertani dan kerajinan Pada masa ini, manusia sudah hidup menetap sambil memelihara tanaman yang mereka tanam kerajinan hanya mengajar usaha sampingan. 4. Masa kerajinan, Industri, dan perdagangan. Pada masa ini, kerajinan bukan sebagai usaha sampingan melainkan sebagai kebutuhan untuk dijual ke pasar, sehingga industri berkembang dari industri kerajinan menjadi industri besar.

b. Karu Bucher (1847- 1930) Tahap Perekonomian dapat dibagi menjadi 4: 1. Rumah tangga tertutup 2. Rumah tangga kota 3. Rumah tangga bangsa

11

4. Rumah tangga dunia

c. Werner sombart (1863- 1947) 1. Prakapitalisme (Varkapitalisme) 2. Zaman kapitalis madya (buruh kapitalisme) 3. Zaman kapitalai Raya (Hachkapitalismus) 4. Zaman kapitalis akhir (spetkapitalismus)

d. Walt Whitmen Rosfow (1916- 1979) 1. Masyakart tradisional (Teh Traditional Society) 2. Persyaratan untuk lepas landas (Precondition for take off) 3. Lepas landas cake off) 4. Perekonomian yang matang / dewasa (Matarty of economic) 5. Masa ekonomi konsumsi tinggi (high mass consumption)

2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik dan Neoklasik Teori pertumbuhan menurut Adam Smith, An Inquiry into the nature and causes of the wealth of the nation, teorinya yang dibuat dengan teori the invisible hands (teori tangan-tangan gaib). Pertumbuhan ekonomi ditandai oleh dua faktor yang saling berkaitan : 1. Pertumbuhan penduduk 2. Pertumbuhan output total

Pertumbuhan output yang akan dicapai dipengaruhi oleh 3 komponen berikut ini: 1. sumber-sumber alam 2. tenaga kerja (pertumbuhan penduduk 3. jumlah persediaan Menurut David Ricardo, faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar hingga menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Pendapat Ricardo ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus, menyatakan bahwa makanan (hasil

12

produksi) akan bertambah menurut deret hitung (satu, dua, dan seterusnya). Sedangkan penduduk akan bertambah menurut deret ukur (satu, dua, empat , delapan, enam belas, dan seterusnya) sehingga pada saat perekonomian akan berada pada taraf subisten atau kemandegan.

Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik 1. Robert Sollow Rober Sollow lahir pada tahun 1950 di Brookyn. Ia seorang peraih nobel di bidang dibidang ilmu ekonomi pada tahun 1987. Robert Sollow menekankan perhatiannya pada pertumbuhan output yang akan terjadi atas hasil kerja dua faktor input utama, yaitu modal dan tenaga kerja. 2. RF. Harrod dan Evsey Domar tahun 1947. Pertumbuhan ekonomi, menurut Harrod dan Domar, akan terjadi apabila ada peningkatan produktivitas modal (MEC) dan produktivitas tenaga kerja. 3. J. Schumpeter, pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh adanya proses inovasi-inovasi (penemuan-penemuan baru di bidang teknologi produksi) yang dilakukan oleh para pengusaha. Tanpa adanya inovasi, tidak ada pertumbuhan ekonomi.

2.4

Hal yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja (yang terjadi

beberapa tahun kemudian setelah pertumbuhan pendududuk) secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti

meningkatkan ukuran pasar domestiknya. Meskipun demikian, kita masih mempertanyakan apakah begitu cepatnya pertumbuhan penawaran angkatan kerja di negara-negara berkembang (sehingga banyak diantara mereka yang mengalami kelebihan tenaga kerja) benar- benar akan memberikan dampak positif, atau justru negatif, terhadap pembangunan ekonominya. Sebenarnya, hal tersebut (positif atau negatifnya pertambahan penduduk bagi upaya pembangunan ekonomi) sepenuhnya tergantung pada kemampuan sistem perekonimian yang bersangkutan

13

untuk menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut. Adapun kemampuan itu sendiri lebih lanjut dipengaruhi oleh tingkat jenis akumulasi modal dan tersedianya input atau faktor-faktor penunjang, seperti kecakapan manajerial dan administrasi. Pertumbuhan penduduk bisa menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi, karena: - bisa mengakibatkan pengangguran, - menyebabkan produktivitas rendah, - jumlah pendapatan terhadap perkapita rendah, - keinginan untuk berinvestasi menjadi rendah, - penyaluran pendapatan semakin tidak merata komposisinya, - bisa menimbulkan urbanisasi,dan - menyebabkan kemampuan ekspor menurun dan akan timbul keinginan untuk impor. Pertumbuhan penduduk bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, karena: - memungkinkan semakin bertambahnya tenaga kerja, - bisa memperluas perkembangan pasar,dan - meningkatkan teknologi terutama dalam bidang teknologi bahan pangan serta ilmu pemasarannya.

14

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan per kapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pertumbuhan penduduk mempengaruhi stabilitas, baik stabilitas politik maupun sosial, berkat pengaruhnya kepada pencapaian keseimbangan di dalam negeri dan peningkatan jumlah penduduk sebagai sumber kekuasaan politik dan militer. Stabilitas serupa ini dapat memberikan motivasi pembangunan. Pertumbuhan penduduk tidaklah apriori yang bersifat merugikan atau apriori yang bersifat menguntungkan pembangunan. Pertumbuhan penduduk memiliki kemampuan untuk memberi pengaruh yang bersifat baik dan buruk. Maka net-effect dari kedua kekuatan yang menambah dan mengurangi pendapatan merupakan hasil akhir dari pengaruh pertumbuhan penduduk pada pembangunan. Hasil akhir serupa ini dapat berbeda- beda untuk masing- masing negara. Hal ini bergantung kepada kondisi- kondisi yang memungkinkan faktor- faktor mana yang terutama dapat berlaku. Untuk keperluan analisis kita adalah penting untuk menjelajah sampai berapa jauh pertumbuhan penduduk memberi pengaruh kepada pembangunan ekonomi Indonesia.

15

DAFTAR PUSTAKA
ML. Jhingnan, 2008, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, terjemahan D.Guritno, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Gemmel. Norman, 1992, Ilmu Ekonomi Pembangunan, Pustaka LP3ES, Jakarta Sukirno, Sadono, 2006, Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar Kebijakan, Edisi kedua, Kencana, Jakarta Michael P. Todaro, 1998, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, terjemahan Haris Munandar, Edisi 6, Erlangga, Jakarta Michael P. Todaro, 1994, Ekonomi untuk Negara Berkembang, terjemahan Agustinus Subekti, Edisi 3, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta. http://divarahmanisa.wordpress.com/2011/01/09/hubungan-pertumbuhanpenduduk-dan-pertumbuhan-ekonomi/ http://edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Modul%20Onli ne/view&id=134&uniq=1207 http://gandeesss.blogspot.com/2011/01/hubungan-pertumbuhan-pendudukdan.html http://milanistyriza.blogspot.com/ http://shabrinadisini.blogspot.com/2011/01/hubungan-pertumbuhan-pendudukdan.html
kompas.com

16