Anda di halaman 1dari 181

ANALISIS PRODUKSI, KONSUMSI, DAN HARGA CENGKEH INDONESIA

Oleh: Tati Herlina Situmeang A14303036

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN TATI HERLINA SITUMEANG. Analisis Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia (dibawah bimbingan BONAR M. SINAGA). Cengkeh merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup memberi harapan bagi penerimaan negara melalui cukai rokok dan kegiatan ekspornya. Peran lain agribisnis cengkeh dalam perekonomian adalah dalam penyerapan tenaga kerja, penyumbang pendapatan petani, mendukung berkembangnya industri, dan potensial untuk menjadi sarana pengembangan dan pemerataan pembangunan wilayah (Siregar dan Suhendi, 2006). Indonesia merupakan negara produsen dan konsumen cengkeh terbesar di dunia. Hal ini selain dikarenakan cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, juga didukung oleh kondisi alam, iklim dan topografi yang mendukung dilakukannya agribisnis cengkeh di Indonesia (www.deptan.go.id). Produksi cengkeh Indonesia selain diekspor, juga diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cengkeh domestik khususnya pada industri rokok kretek, karena berdasarkan penggunaannya sebanyak 85 persen sampai 95 persen konsumsi cengkeh nasional digunakan untuk industri rokok kretek. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia juga pada saat-saat tertentu melakukan impor terhadap komoditas cengkeh. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas cengkeh, volume impor dan harga cengkeh impor, volume ekspor dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia, dan (3) dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data time series selama 27 tahun (tahun 1980-2006). Jawaban untuk tujuan pertama digunakan analisis deskriptif dengan menggunakan tabulasi dan untuk menjawab tujuan kedua digunakan analisis model ekonometrika dengan persamaan simultan melalui metode pendugaan OLS (Ordinary Least Squares), sedangkan untuk menjawab tujuan penelitian ketiga dianalisis menggunakan simulasi dengan metode Newton. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software Microsoft Excel dan Statistical Analysis System (SAS 9.1). Perkembangan produksi cengkeh dan luas areal cengkeh Indonesia pada periode 1980-2006 berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat tiap tahunnya. Perkembangan produktivitas cengkeh Indonesia pada periode 1980-2006 berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat tiap tahunnya namun produktivitas tanaman cengkeh di Indonesia umumnya masih rendah khususnya pada perkebunan rakyat. Periode tahun 1980 hingga tahun 2006 volume serta harga cengkeh impor dan ekspor Indonesia berfluktuasi dan secara rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya. Perkembangan konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek periode tahun 1980-2006 rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya dan sejalan dengan pertumbuhan produksi rokok kretek nasional pada periode yang sama. Periode tahun 1980-2006 perkembangan harga cengkeh

domestik mengalami fluktuasi dan secara rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya. Model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia terdiri dari 11 persamaan, yaitu 9 persamaan struktural dan 2 persamaan identitas. Produktivitas cengkeh dipengaruhi oleh pertumbuhan harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dan kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC. Luas areal tanam cengkeh dipengaruhi oleh harga pupuk, trend waktu, kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan luas areal tanam cengkeh tahun lalu. Impor cengkeh dipengaruhi oleh produksi cengkeh dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Impor cengkeh dalam jangka pendek maupun jangka panjang responsif terhadap perubahan produksi cengkeh dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Ekspor cengkeh dipengaruhi oleh suku bunga dan trend waktu. Konsumsi cengkeh industri rokok kretek dipengaruhi oleh variabel rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama, produksi rokok kretek, dan trend waktu. Produksi rokok kretek dipengaruhi oleh harga cengkeh domestik, trend waktu, dan produksi rokok kretek tahun lalu. Harga cengkeh domestik dipengaruhi oleh konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan harga cengkeh domestik tahun lalu. Harga cengkeh domestik dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan produksi cengkeh. Harga cengkeh domestik dalam jangka pendek maupun jangka panjang responsif terhadap perubahan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Harga cengkeh impor dipengaruhi oleh variabel harga cengkeh impor tahun lalu. Harga cengkeh ekspor dipengaruhi oleh harga cengkeh ekspor tahun lalu. Peningkatan harga cengkeh domestik sebesar 20 persen menyebabkan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, produksi cengkeh, ekspor cengkeh, dan penawaran cengkeh mengalami peningkatan, sedangkan impor cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, produksi rokok kretek, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor menurun. Peningkatan harga pupuk sebesar 20 persen mampu meningkatkan impor cengkeh, harga cengkeh domestik, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor. Sedangkan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, produksi cengkeh, ekspor cengkeh, penawaran cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, dan produksi rokok kretek mengalami penurunan. Peningkatan suku bunga sebesar 20 persen menyebabkan impor cengkeh, harga cengkeh domestik, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor meningkat. Sedangkan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, produksi cengkeh, ekspor cengkeh, penawaran cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, dan produksi rokok kretek mengalami penurunan. Peningkatan harga jual rokok kretek sebesar 20 persen menyebabkan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, produksi cengkeh, impor cengkeh, ekspor cengkeh, penawaran cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, produksi rokok kretek, harga cengkeh domestik, dan harga cengkeh impor meningkat. Sedangkan harga cengkeh ekspor mengalami penurunan. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar 20 persen mampu meningkatkan ekspor cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, dan produksi rokok kretek. Sedangkan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, produksi cengkeh, impor cengkeh, penawaran cengkeh, harga cengkeh domestik, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor mengalami penurunan.

ANALISIS PRODUKSI, KONSUMSI, DAN HARGA CENGKEH INDONESIA

Oleh: Tati Herlina Situmeang A14303036

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ANALISIS PRODUKSI, KONSUMSI, DAN HARGA CENGKEH

INDONESIA BELUM PERNAH DIAJUKAN OLEH PERGURUAN TINGGI MANAPUN UNTUK MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHANBAHAN YANG PERNAH DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN.

Bogor, Agustus 2008

Tati Herlina Situmeang A14303036

Judul : Analisis Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Nama : Tati Herlina Situmeang NRP : A14303036

Menyetujui: Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA NIP 130 517 561

Mengetahui: Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP 131 124 019

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Maret 1985 di Purwajaya, Kabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara keluarga Bapak C. G. Situmeang dan Ibu Siti Barimbing. Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 02 Purwajaya pada tahun 1997, kemudian melanjutkan pendidikan ke SLTP Swasta Xaverius Kotabumi dan lulus pada tahun 2000. Kemudian pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 09 Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2003. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2003 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH

1.

Kepada Tuhan Yesus Kristus, atas segala kasih, karunia, dan berkat yang selalu melimpah dalam hidupku.

2.

Kepada orang tua, saudara, dan keluarga besar tercinta, terima kasih atas dukungan doa, kasih sayang, pengorbanan, dan perhatiannya kepadaku.

3.

Kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan perhatiannya kepada penulis.

4.

Kepada dosen penguji utama Bapak Farobi Falatehan, SP., ME dan penguji wakil departemen Bapak Adi Hadianto, SP.

5.

Kepada my best friends (Jofan & Bu) atas dukungan doa dan semangat yang selalu untukku.

6.

Kepada keluarga besar EPS40 (Silvia, Christine, dan Marissa) untuk kebersamaan, kerjasama, semangat yang pernah ada.

7.

Kepada Mbak Ruby, Mbak Yani, Mbak Aam, Ajeng, Atika, Sanggam, Mbak Oci, Mbak Utin terimakasih untuk bantuan informasi dan semangat yang diberikan selama penyusunan skripsi ini.

8.

Kepada keluarga besar kost-an Karona dan yang lainnya, terimakasih untuk bantuan dan kebersamaan yang pernah ada.

9.

Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini membahas tentang perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas cengkeh, volume impor dan harga cengkeh impor, volume ekspor dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia. Skripsi ini juga membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia serta membahas mengenai dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 19992006. Penulis menyadari bahwa masih terdapat keterbatasan dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Agustus 2008

Tati Herlina Situmeang A14303036

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL................................................................................ DAFTAR GAMBAR ........................................................................... DAFTAR LAMPIRAN........................................................................ I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1.2. Perumusan Masalah ...................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................... 1.4. Kegunaan Penelitian ..................................................................... 1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ................................ II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 2.1. Gambaran Umum Komoditi Cengkeh .......................................... 2.1.1. Sejarah dan Penyebaran Tanaman Cengkeh....................... 2.1.2. Taksonomi dan Morfologi Tanaman Cengkeh ................... 2.1.3. Budidaya Tanaman Cengkeh .............................................. 2.1.4. Manfaat Cengkeh ................................................................ 2.2. Standar Mutu Cengkeh Indonesia ................................................. 2.3. Tinjauan Kebijakan Tataniaga Cengkeh Indonesia....................... 2.4. Tinjauan Penelitian Terdahulu ...................................................... 2.4.1. Penelitian Mengenai Cengkeh ............................................ 2.4.2. Penelitian Mengenai Produksi dan Ekspor Produk Pertanian.............................................................................. 2.5. Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu ....................................... III. KERANGKA PEMIKIRAN ................................................................ 3.1. Konsep dan Teori .......................................................................... 3.1.1. Fungsi Produksi .................................................................. 3.1.2. Permintaan Faktor Produksi dan Produksi Cengkeh .......... 3.1.3. Permintaan Cengkeh dan Produksi Rokok Kretek ............. v vii viii 1 1 8 10 11 11 12 12 12 12 14 15 15 17 18 18 21 22 23 23 23 27 29

ii

3.1.4. Teori Perdagangan Internasional ........................................ 3.1.5. Persamaan Simultan............................................................ 3.1.6. Persamaan Produktivitas Cengkeh, Luas Areal Cengkeh, Produksi Cengkeh, Impor Cengkeh, Ekspor Cengkeh, Penawaran Cengkeh, Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek, Produksi Rokok Kretek, Harga Cengkeh Domestik, Harga Cengkeh Impor, dan Harga Cengkeh Ekspor................................................................................. 3.1.6.1. 3.1.6.2. 3.1.6.3. 3.1.6.4. 3.1.6.5. 3.1.6.6. 3.1.6.7. 3.1.6.8. 3.1.6.9. Produktivitas Cengkeh....................................... Luas Areal Cengkeh .......................................... Produksi Cengkeh.............................................. Impor Cengkeh .................................................. Ekspor Cengkeh................................................. Penawaran Cengkeh .......................................... Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek....... Produksi Rokok Kretek ..................................... Harga Cengkeh Domestik..................................

31 36

36 36 37 37 37 38 38 39 39 40 40 40 41 44 44 44 49 49 50 50 51 52 52 53 53

3.1.6.10. Harga Cengkeh Impor ....................................... 3.1.6.11. Harga Cengkeh Ekspor...................................... 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ................................................. IV. METODE PENELITIAN..................................................................... 4.1. Metode Analisis ............................................................................ 4.2. Perumusan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia ...................................................................................... 4.2.1. 4.2.2. 4.2.3. 4.2.4. 4.2.5. 4.2.6. 4.2.7. 4.2.8. 4.2.9. Produktivitas Cengkeh .................................................... Luas Areal cengkeh......................................................... Produksi Cengkeh ........................................................... Impor Cengkeh................................................................ Ekspor Cengkeh .............................................................. Penawaran Cengkeh ........................................................ Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek .................... Produksi Rokok Kretek ................................................... Harga Cengkeh Domestik ...............................................

iii

4.2.10. Harga Cengkeh Impor ..................................................... 4.2.11. Harga Cengkeh Ekspor ................................................... 4.3. Evaluasi Model ............................................................................. 4.3.1. 4.3.2. 4.3.3. Koefisien Determinasi..................................................... Uji-F ................................................................................ Uji-t .................................................................................

54 54 55 55 56 57 58 60 61 62 63 63 67

4.4. Pengukuran Elastisitas .................................................................. 4.5. Validasi Model .............................................................................. 4.6. Simulasi Model ............................................................................. 4.7. Jenis dan Sumber Data .................................................................. 4.8. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ 4.9. Definisi Operasional...................................................................... V. HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................ 5.1. Perkembangan Produksi Cengkeh, Luas Areal Cengkeh, Produktivitas Cengkeh, Volume Impor dan Harga Cengkeh Impor, Volume Ekspor dan Harga Cengkeh Ekspor, Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek, dan Harga Cengkeh Domestik Indonesia Tahun 1980-2006........ 5.1.1. Produksi Cengkeh............................................................. 5.1.2. Luas Areal Cengkeh ......................................................... 5.1.3. Produktivitas Cengkeh...................................................... 5.1.4. Volume Impor dan Harga Cengkeh Impor ....................... 5.1.5. Volume Ekspor dan Harga Cengkeh Ekspor.................... 5.1.6. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek.................................................................... 5.1.7. Harga Cengkeh Domestik................................................. 5.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006 ............................... 5.2.1. Produktivitas Cengkeh...................................................... 5.2.2. Luas Areal Cengkeh ......................................................... 5.2.3. Produksi Cengkeh............................................................. 5.2.4. Impor Cengkeh ................................................................. 5.2.5. Ekspor Cengkeh................................................................ 5.2.6. Penawaran Cengkeh .........................................................

67 67 70 73 76 79 81 83 86 88 91 95 95 98 102

iv

5.2.7. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek...................... 5.2.8. Produksi Rokok Kretek .................................................... 5.2.9. Harga Cengkeh Domestik................................................. 5.2.10. Harga Cengkeh Impor ...................................................... 5.2.11. Harga Cengkeh Ekspor..................................................... 5.3. Dampak Perubahan Faktor Ekonomi terhadap Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006 ...... 5.3.1. Hasil Validasi Model ........................................................ 5.3.2. Peningkatan Harga Cengkeh Domestik 20 Persen ........... 5.3.3. Peningkatan Harga Pupuk 20 Persen................................ 5.3.4. Peningkatan Suku Bunga 20 Persen ................................. 5.3.5. Peningkatan Harga Jual Rokok Kretek 20 Persen ............ 5.3.6. Depresiasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Sebesar 20 Persen ............................................................. VI. KESIMPULAN DAN SARAN............................................................ 6.1. Kesimpulan ................................................................................... 6.2. Saran Kebijakan ............................................................................ 6.3. Saran Penelitian............................................................................. DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... LAMPIRAN.........................................................................................

102 105 109 112 115 118 118 119 120 121 121 122 123 123 125 125 126 130

DAFTAR TABEL Nomor 1. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor-Impor Cengkeh Indonesia Tahun 2001-2006 ................................................................................ 2. Perkembangan Harga Cengkeh Domestik dan Harga Cengkeh Dunia Tahun 2001-2005 ................................................................................ 3. Perkembangan Produksi, Produktivitas, dan Luas Areal Cengkeh Indonesia Tahun 2002-2006 ................................................................ 4. Perkembangan Produksi Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006 ......... 5. Perkembangan Luas Areal Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006 ...... 6. Perkembangan Produktivitas Cengkeh Indonesia Menurut Status Pengusahaan Tahun 1980-2006 ........................................................... 7. Perkembangan Volume, Nilai dan Harga Cengkeh Impor Indonesia Tahun 1980-2006 ................................................................................. 8. Perkembangan Volume, Nilai dan Harga Cengkeh Ekspor Indonesia Tahun 1980-2006 ................................................................................. 9. Kandungan Cengkeh dalam Rokok Kretek yang Digunakan Pabrik Rokok Kretek ....................................................................................... 10. Perkembangan Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek Indonesia Tahun 1980-2006.......................... 11. Perkembangan Harga Cengkeh Domestik Tahun 1980-2006.............. 12. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Produktivitas Cengkeh (YCDt).................................................................................................. 13. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Luas Areal Cengkeh (ATCt) ...... 14. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Impor Cengkeh (ICDt) ............... 15. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Ekspor Cengkeh (XCDt)............ 16. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek (CCRt)........................................................................... 17. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Produksi Rokok Kretek (QRKt).................................................................................................. Halaman

7 68 71

73

77

80

81

83 84

88 92 95 99

103

105

vi

18. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Domestik (HCDt).................................................................................................. 19. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Impor (HCIt) .... 20. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Ekspor (HCXt).................................................................................................. 21. Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006................................................................................ 22. Dampak Perubahan Faktor Ekonomi terhadap Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006................................

109 113

116

118

119

DAFTAR GAMBAR Nomor 1. Kurva Fungsi Produksi ........................................................................ 2. Kurva Terjadinya Perdagangan Internasional ..................................... 3. Mekanisme Pengaruh Kurs terhadap Volume Ekspor ........................ 4. Bagan Kerangka Berpikir Operasional ............................................... 5. Bagan Kerangka Model Ekonometrika................................................ Halaman 25 33 35 42 48

DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. Kebijakan Pemerintah pada Industri Cengkeh di Indonesia ............... 2. Pohon Industri Cengkeh ...................................................................... 3. Luas Areal Perkebunan Cengkeh Indonesia Menurut Provinsi dan Status Pengusahaan Tahun 2006.......................................................... 4. Data yang Digunakan dalam Model..................................................... 5. Program Komputer Pendugaan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SYSLIN................................................................................................ 6. Hasil Pendugaan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia .............................................................................................. 7. Hasil Dugaan Variabel Penjelas yang Berpengaruh Nyata terhadap Variabel Endogen dalam Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia ............................................................................... 8. Program Komputer Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006 Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SIMNLIN........................................................................ 9. Hasil Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006................................................................. 10. Program Komputer Simulasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006 Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SIMNLIN........................................................................ 11. Hasil Simulasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006................................................................. Halaman 130 132

133 134

138

140

149

150

153

157

160

I. PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Sektor pertanian cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik

Bruto (PDB). Pada tahun 2006 peranan sektor pertanian terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik yaitu mencapai 3.41 persen atau setara dengan Rp 204.2 triliun bahkan melebihi target Departemen Pertanian (Deptan) sebesar 2.9 persen, dimana pada sub sektor tanaman pangan mencapai Rp 77.3 triliun, hortikultura sebesar Rp 47.1 triliun, perkebunan Rp 50.5 triliun dan peternakan Rp 29.4 triliun (M. Fauzi, 2007). Selain dituntut mampu menciptakan swasembada pangan, sektor ini juga diharapkan mampu

menyediakan lapangan dan kesempatan kerja serta pengadaan bahan baku bagi industri hasil pertanian (www.deptan.go.id). Sektor pertanian merupakan salah satu sektor non-migas yang menjadi andalan untuk memperoleh devisa bagi Indonesia. Sektor ini juga dituntut untuk meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume ekspor hasil pertaniannya. Penerimaan devisa negara dari ekspor produk pertanian yang sempat turun di masa krisis ekonomi tahun 1998-1999, kembali mengalami masa pemulihan di tahun 2000-2005. Pada masa sebelum krisis (1995-1997) nilai

ekspor sebesar 5 miliar US$/tahun. Di masa krisis mengalami penurunan menjadi 4.6 miliar US$/tahun, namun setelah masa krisis nilai ekspor kembali meningkat menjadi 6.5 miliar US$/tahun (www.deptan.go.id). Melihat arti penting sektor pertanian tersebut diharapkan kebijakankebijakan ekonomi negara berupa kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan

kebijakan perdagangan tidak mengabaikan sektor pertanian, dalam arti kebijakankebijakan tersebut tidak bias kota, yaitu memprioritaskan aktivitas ekonomi kota yang biasanya digeluti para pelaku ekonomi skala besar. Demikian juga tidak bias modal, dalam arti kebijakan yang berorientasi mendukung para pemilik modal besar, padahal sektor pertanian umumnya digeluti oleh mereka yang dikategorikan sebagai pemodal kecil dan sedang (Irawan, 2006). Salah satu sub sektor di sektor pertanian adalah sub sektor perkebunan. Sub sektor ini semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber utama devisa negara. Pada sub sektor perkebunan terdapat banyak komoditas yang ditawarkan dan menjadi pilihan ekspor ke negara-negara lain, baik negara-negara maju maupun negara-negara berkembang. Cengkeh adalah salah satu komoditi perkebunan yang cukup memberi harapan bagi penerimaan negara melalui cukai rokok dan kegiatan ekspornya. Cukai merupakan penyumbang yang signifikan terhadap penerimaan negara dari beberapa sumber penerimaan negara. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2005 porsi penerimaan cukai dari total penerimaan, di luar hutang dan hibah, adalah sebesar 7.2 persen (Rp 31.439 triliun dari Rp 438.024 triliun). Cengkeh yang digunakan sebagai bahan baku rokok kretek memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan dari cukai, yaitu rata-rata sebesar 98 persen dari penerimaan total cukai tahun 2005 (Siregar dan Suhendi, 2006) dan menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) pada tahun 2007 penggunaan pita cukai rokok kretek tahun 2006 mencapai sebesar Rp 35.073 triliun. Selain dari cukai rokok, Indonesia juga melakukan

ekspor cengkeh yang memberikan penerimaan negara melalui devisa negara walaupun pada saat-saat tertentu Indonesia juga melakukan impor (Tabel 1). Negara utama tujuan ekspor cengkeh Indonesia adalah India dan Singapura. Peran lain agribisnis cengkeh dalam perekonomian adalah dalam penyerapan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja yang terkait langsung maupun tidak langsung berkisar 6 juta orang, apabila satu tenaga kerja menghidupi istri dan anak maka industri rokok akan menghidupi sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia (GAPPRI, 2006). Selain itu, cengkeh juga berperan sebagai penyumbang pendapatan petani, mendukung berkembangnya industri, dan potensial untuk menjadi sarana pengembangan dan pemerataan pembangunan wilayah (Siregar dan Suhendi, 2006). Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil cengkeh terbesar di dunia, hal ini selain dikarenakan cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, juga didukung oleh kondisi alam, iklim dan topografi yang mendukung dilakukannya agribisnis cengkeh di Indonesia (www.deptan.go.id). Indonesia masih tetap menempati posisi pertama di dunia untuk produksi cengkeh. Pada tahun 2004 produksi cengkeh Indonesia mencapai sebesar 73 837 ton, sedangkan produksi cengkeh dunia pada tahun yang sama mencapai sekitar 124.4 ribu ton. Tahun 2004 Indonesia memberikan kontribusi produksi cengkeh rata-rata sebesar 60 persen terhadap total produksi dunia, sedangkan untuk Asia, Indonesia memberikan kontribusi rata-rata sebesar 95 persen. Dua negara lain yang cukup potensial sebagai penghasil cengkeh adalah Madagaskar dan Zanzibar (Tanzania) yang seluruh produksinya mencapai berkisar antara 20 000-27 000 ton per tahun (www.fao.org).

Kontribusi ekspor cengkeh sebagai salah satu komoditi sub sektor perkebunan di Indonesia selama enam tahun terakhir yaitu dari tahun 2001 hingga tahun 2006 cenderung fluktuatif seperti terlihat pada Tabel 1. Pada tahun 2002 volume ekspor cengkeh Indonesia sebesar 9 399 918 kg dengan nilai 25 973 204 US$. Volume ekspor cengkeh pada tahun 2003 adalah yang terbesar, dimana volume tersebut mampu mencapai 15 688 150 kg dengan nilai ekspor sebesar 24 929 372 US$. Peningkatan produksi yang besar ini disebabkan karena pada tahun 2003 terjadi panen raya. Pada tahun 2005 volume dan nilai ekspor cengkeh kembali menurun masing-masing sebesar 1 377 144 kg dan 1 120 682 US$ dibandingkan tahun 2004, akan tetapi pada tahun 2006 volume ekspor cengkeh kembali meningkat menjadi 11 269 811 kg dengan nilai sebesar 23 532 773 US$. Tabel 1. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor-Impor Cengkeh Indonesia Tahun 2001-2006 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Ekspor Impor Volume (kg) Nilai (US$) Volume (kg) Nilai (US$) 6 323 785 10 669 320 16 899 532 17 365 062 9 399 918 25 973 204 796 416 653 472 15 688 150 24 929 372 172 610 151 967 9 059 802 16 037 068 8 669 7 864 7 682 658 14 916 386 512 727 11 269 811 23 532 773 1 337 823 http://comtrade.un.org/db/dqBasicQueryResults.aspx? Diakses pada tanggal 28 Agustus 2007

Indonesia merupakan negara produsen dan konsumen cengkeh terbesar di dunia. Produksi cengkeh Indonesia selain diekspor, juga diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cengkeh domestik khususnya pada industri rokok kretek, karena berdasarkan penggunaannya sebanyak 85 persen sampai 95 persen konsumsi cengkeh nasional digunakan untuk industri rokok kretek. Menurut GAPPRI (2005) kebutuhan bahan baku cengkeh oleh industri rokok kretek selama

tahun 2000-2004 berkisar antara 85 000 ton sampai 96 000 ton, dengan rata-rata penyerapan sekitar 92 133 ton/tahun (Husodo, 2006). Sehingga untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia melakukan impor terhadap komoditas cengkeh. Pada tahun 2001 volume impor cengkeh sebesar 16 899 532 kg dengan nilai 17 365 062 US$. Menurut Husodo (2006) peningkatan jumlah impor tersebut dikarenakan terjadinya panen kecil di dalam negeri dan diduga impor tersebut merupakan cengkeh Indonesia yang di reekspor oleh negara pengimpor, karena selain Indonesia hanya sedikit produksi dan penggunaan cengkeh oleh negara lain. Pada tahun 2002 pemerintah memandang perlu untuk menetapkan ketentuan impor cengkeh dalam rangka mengantisipasi lonjakan impor cengkeh yang mengakibatkan terjadinya penurunan harga cengkeh dan pendapatan petani di dalam negeri, yang diatur melalui Surat Keputusan Menperindag

No.528/MPP/Kep/7/2002 tertanggal 5 Juli 2002 tentang pengendalian impor cengkeh. Kebijakan ini ditetapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani cengkeh dengan tetap memperhatikan kepentingan industri pengguna cengkeh. Pada tahap awal, impor baru akan diizinkan apabila harga cengkeh produksi dalam negeri sudah naik hingga mencapai titik harga tertentu. Ketentuan impor cengkeh ini mengakibatkan terjadinya penurunan volume impor cengkeh yang sangat signifikan pada tahun 2002-2006, yaitu berkisar antara 512 kg pada tahun 2005 hingga 796 416 kg pada tahun 2002. Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan internasional cengkeh, sehingga fluktuasi produksi dan konsumsi, yang bisa terjadi karena faktor alam, aspek perilaku industri, maupun aspek kebijakan domestik, dapat mempengaruhi tatanan perdagangan tersebut. Berdasarkan Tabel 2, pada periode

tahun 2001-2005 harga cengkeh dunia mengalami fluktuasi berkisar antara 1 803.69 US$/ton dan 7 107.29 US$/ton. Harga cengkeh dunia terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu 1 803.69 US$/ton. Hal ini dikarenakan sejak tahun 2002 Indonesia mengurangi impor cengkeh yang pada awalnya Indonesia mengimpor cengkeh sekitar 70 persen dari volume perdagangan dunia. Penurunan impor ini diakibatkan oleh adanya Surat Keputusan Menperindag No.528/MPP/Kep/7/2002 tentang pengendalian impor cengkeh, sehingga menyebabkan impor cengkeh Indonesia menurun drastis yang berdampak pada penurunan harga cengkeh dunia (Siregar dan Suhendi, 2006). Demikian pula dengan harga cengkeh domestik mengalami fluktuasi berkisar antara 23 018 866 Rp/ton pada tahun 2003 dan 41 050 475 Rp/ton pada tahun 2001. Tabel 2. Perkembangan Harga Cengkeh Domestik dan Harga Cengkeh Dunia Tahun 2001-2005 Tahun Harga Domestik (Rp/ton) Harga Dunia (US$/ton) 2001 41 050 475 7 107.29 2002 37 332 564 5 406.25 2003 23 018 866 1 803.69 2004 23 345 387 2 725.00 2005 28 958 048 2 600.00 Sumber: http://faostat.fao.org/site/570/DesktopDefault.aspx?PageID=570 diakses pada tanggal 30 Agustus 2007 Volume ekspor dan impor yang terjadi dipengaruhi oleh jumlah produksi yang mampu dihasilkan pada tiap-tiap tahunnya. Selama periode tahun 2002 hingga tahun 2006, produksi cengkeh berfluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan (Tabel 3). Pada tahun 2003 produksi cengkeh Indonesia adalah yang terbesar yaitu 116 415 ton atau meningkat sebesar 37 405 ton dibandingkan tahun 2002 yang jumlah produksinya hanya 79 010 ton. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2003 terjadi panen raya di dalam negeri yang menyebabkan produksi

cengkeh meningkat (Husodo, 2006). Pada tahun 2004 produksi cengkeh kembali mengalami penurunan menjadi 73 837 ton, akan tetapi sejak tahun 2005 hingga tahun 2006 produksi cengkeh kembali meningkat yaitu dari 78 350 ton menjadi 83 782 ton. Tabel 3. Perkembangan Produksi, Produktivitas dan Luas Areal Cengkeh Indonesia Tahun 2002-2006 Tahun Produksi (ton) Produktivitas (kg/ha) Luas Areal (ha) 2002 79 010 246.05 430 212 2003 116 415 285.56 442 331 2004 73 837 236.32 438 253 2005 78 350 247.59 448 858 2006* 83 782 260.49 455 392 Sumber: http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/bun/2006 diakses pada tanggal 20 Agustus 2007 *): Data Sementara Fluktuasi volume dan nilai ekspor-impor cengkeh juga dipengaruhi oleh produktivitas dan ketersediaan luas areal yang dapat diolah untuk melakukan agribisnis cengkeh. Pada tahun 2003 produktivitas cengkeh Indonesia adalah yang terbesar, yaitu 285.56 kg/ha atau meningkat sebesar 39.51 kg/ha dibandingkan pada tahun 2002 yang jumlah produktivitasnya hanya 246.05 kg/ha, sedangkan pada tahun 2004 produktivitas cengkeh mengalami penurunan menjadi 236.32 kg/ha. Sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 produktivitas cengkeh kembali meningkat dari 236.32 kg/ha pada tahun 2004 menjadi 260.49 kg/ha pada tahun 2006. Luas areal tersebut menjadi salah satu faktor penentu dalam hal produksi yang mampu dicapai. Perkebunan cengkeh di Indonesia dikelola dalam tiga bentuk pengusahaan, yaitu Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN), dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Tanaman cengkeh merupakan tanaman rakyat, dimana 97 persen dari rata-rata total pemilikan perkebunan

cengkeh dimiliki oleh rakyat (Lampiran 3). Pada periode tahun 2002 hingga tahun 2006 luas areal cenderung berfluktuasi dan mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 luas areal cengkeh berkurang menjadi 438 253 hektar dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan banyak petani yang mengkonversikan lahan cengkeh dengan komoditi lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti kakao, kopi, dan berbagai jenis tanaman hortikultura (www.deptan.go.id). Pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006 luas areal cengkeh kembali meningkat menjadi 455 392 hektar.

1.2.

Perumusan Masalah Indonesia merupakan negara konsumen sekaligus produsen cengkeh

terbesar di dunia. Cengkeh merupakan salah satu komponen utama bahan baku rokok kretek. Besarnya pendapatan cukai dan kemampuannya menyediakan lapangan kerja berskala besar, menempatkan industri rokok sebagai salah satu bagian penting dalam ekonomi nasional. Tercapainya swasembada bahkan kelebihan produksi cengkeh, mengakibatkan peran komoditas dan nasib petani terpuruk selama dekade 90-an, akibatnya produksi terus menurun sejak tahun 2000, sehingga dikhawatirkan pada tahun 2009 Indonesia hanya mampu menyediakan separuh dari kebutuhan industri rokok kretek. Industri rokok kretek sendiri, berkembang sejak akhir abad ke-19. Tingginya kebutuhan devisa untuk memenuhi kebutuhan mengakibatkan ditetapkannya program swasembada cengkeh pada tahun 1970, antara lain melalui perluasan areal. Hasil dari pelaksanaan program swasembada cengkeh adalah terjadinya perkembangan luas areal yang sangat mencolok dari 82 387 hektar pada tahun

1970 menjadi 724 986 hektar pada tahun 1990. Swasembada dinyatakan tercapai pada tahun 1991, bahkan terlampaui, tetapi bersamaan dengan itu terjadi penurunan harga cengkeh. Pemerintah campur tangan untuk membantu petani mengatasi hal tersebut dengan: (1) mengatur tataniaga melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC), (2) mendiversifikasi hasil, dan (3) mengkonversi sebagian areal. Upaya-upaya tersebut tidak berhasil yang diindikasikan harga tetap tidak membaik, sehingga petani menelantarkan pertanamannya. Luas areal cengkeh berkurang drastis karena ditelantarkan petani, sehingga pada tahun 2002 luas areal cengkeh hanya sebesar 430 212 hektar. Diperkirakan untuk tahun 2006 luas areal tanaman cengkeh hanya meningkat menjadi 455 392 hektar dengan tingkat produksi sebesar 83 782 ton. Penurunan ini akibat dari ketidakpastian harga. Dampak dari harga jual yang tidak menentu menyebabkan keengganan petani untuk memelihara tanaman cengkehnya. Menurut GAPPRI, produksi juga turun sejak tahun 2000, sehingga diperkirakan tanpa upaya penyelamatan, tahun 2009 produksi cengkeh Indonesia hanya akan mampu menyediakan sekitar 50 persen dari kebutuhan pabrik rokok kretek yang rata-rata empat tahun terakhir mencapai 92 133 ton (www.deptan.go.id). Mengantisipasi hal tersebut, maka pemerintah melalui program

Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat memasukkan komoditi cengkeh sebagai salah satu dari 17 komoditi pertanian yang perlu dikembangkan, karena vitalitas sektor pertanian saat ini sedang mengalami

10

degradasi yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan (levelling off) produksi beberapa komoditas pertanian, antara lain komoditi cengkeh (www.deptan.go.id). Produksi cengkeh dometik umumnya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, yaitu sebagai bahan baku industri rokok kretek. Peluang ekspor cengkeh di pasar internasional juga memiliki prospek yang cukup baik, dimana selama periode tahun 2001-2006 volume dan nilai ekspor cengkeh cenderung mengalami peningkatan. Indonesia yang merupakan negara produsen maupun konsumen cengkeh diharapkan mampu meningkatkan penerimaan devisa negara melalui perkembangan produksi dan kegiatan ekspornya. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain: 1. Bagaimana perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas cengkeh, volume impor dan harga cengkeh impor, volume ekspor dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia? 2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia? 3. Bagaimana dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006?

1.3.

Tujuan Penelitian Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini

bertujuan untuk: 1. Menganalisis perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas cengkeh, volume impor dan harga cengkeh impor, volume

11

ekspor dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia. 2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia. 3. Menganalisis dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006.

1.4.

Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan bahan

masukan bagi individu atau instansi-instansi yang terkait seperti petani/produsen, eksportir, maupun pemerintah dalam mengambil keputusan dan menerapkan kebijakan-kebijakan dalam kaitannya dengan produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan informasi dan referensi untuk penelitian selanjutnya.

1.5.

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis produksi, konsumsi, dan harga

cengkeh Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yang membahas mengenai produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia secara umum, baik impor maupun ekspor cengkeh yang dianalisis tidak berdasarkan negara asal impor dan negara tujuan ekspor. Model penelitian ini belum menganalisis kebutuhan cengkeh untuk industri lain dan rumahtangga. Penelitian ini juga belum mencakup masing-masing produksi cengkeh perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta. Data yang digunakan adalah data time series selama periode 27 tahun yaitu dari tahun 1980-2006.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Gambaran Umum Komoditi Cengkeh

2.1.1. Sejarah dan Penyebaran Tanaman Cengkeh Daerah asal tanaman cengkeh sempat mengundang perdebatan dalam ruang lingkup internasional. Wiesner mengatakan cengkeh berasal dari Pulau Makian di Maluku Utara, sedangkan Toxopeus berpendapat, selain dari Maluku cengkeh juga berasal dari Irian (Hadiwijaya, 1986). Nicola Ponti dari Venesia mengungkapkan bahwa daerah asal cengkeh adalah Banda. Di daerah kepulauan Maluku ditemukan tanaman cengkeh tertua di dunia dan daerah ini merupakan satu-satunya produsen cengkeh terbesar di dunia (Bintoro, 1986). Penyebaran tanaman cengkeh keluar Pulau Maluku dimulai sejak tahun 1769. Bibit tanaman ini mula-mula diselundupkan oleh seorang kapten dari Perancis ke Rumania, selanjutnya disebarkan ke Zanzibar dan Madagaskar. Penyebaran tanaman cengkeh ke wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan baru dimulai pada tahun 1870. Sampai saat ini tanaman cengkeh telah tersebar ke seluruh dunia. Cengkeh ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar, India, dan Sri Lanka (Hadiwijaya, 1986). 2.1.2. Taksonomi dan Morfologi Tanaman Cengkeh Cengkeh (Syzygium aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Taksonomi tanaman cengkeh menurut beberapa ahli botani adalah sebagai berikut (http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkeh):

13

Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Myrtales : Myrtaceae : Syzygium : S. Aromaticum (L.) Merr. & Perry.

Cengkeh termasuk jenis tumbuhan perdu yang memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun, tingginya dapat mencapai 20m-30m dan cabang-cabangnya cukup lebat. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah. Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut. Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan pangkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2cm-3cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7.5cm-12.5cm. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh kering akan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri. Umumnya cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun (Najiyati, S. dan Danarti, 1992)

14

Menurut Hadiwidjaja (1986) varietas-varietas unggul cengkeh yang ditanam antara lain: 1. Cengkeh Siputih: (1) helai daun besar dan berwarna kuning atau hijau muda, (2) cabang kurang rimbun, dan (3) bunga besar, warna kuning, dan berjumlah belasan per rumpun. 2. Cengkeh Sikotok: (1) helai daun kecil, warna hijau sampai hijau tua kehitam-hitaman, dan lebih mengkilap, (2) cabang rimbun dan rendah, semua ranting tertutup daun, dan (3) bunga kuning kemerahan, tiap rumpun 20-50 bunga. 3. Cengkeh Zanzibar: (1) bentuk daun panjang ramping dan berwarna hijau gelap, (2) bunga berwarna lebih merah dengan produksi tinggi, dan (3) merupakan jenis terbaik. 2.1.3. Budidaya Tanaman Cengkeh Di Indonesia, budidaya tanaman cengkeh cocok pada ketinggian 0-900 m dpl (paling optimum pada 300-600 m dpl) atau terletak pada ketinggian lebih dari 900 m dpl, dengan hamparan lahan yang menghadap laut. Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik apabila cukup air dan mendapat sinar matahari langsung. Cengkeh menghendaki iklim yang panas dengan curah hujan cukup merata, karena tanaman ini tidak tahan kemarau panjang. Angin yang terlalu kencang dapat merusak tajuk tanaman. Untuk pertumbuhannya, curah hujan optimal bagi pertumbuhan tanaman cengkeh antara 1500-4500 mm/tahun. Cengkeh menghendaki sinar matahari minimal 8 jam per hari. Suhu yang optimal untuk tanaman ini adalah 22C -30C, dengan kelembaban udara antara 60 persen sampai 80 persen. Tanaman cengkeh juga menghendaki tanah yang subur, gembur

15

tidak berbatu, berdrainase baik, dan kedalaman air tanah pada musim hujan tidak lebih dangkal dari 3m dari permukaan tanah dan pada musim kemarau tidak lebih dari 8m (Hadiwijaya, 1986). 2.1.4. Manfaat Cengkeh Cengkeh banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negaranegara Asia dan Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Bagian utama dari tanaman cengkeh yang bernilai komersial adalah bunganya, yang sebagian besar digunakan dalam industri rokok, yaitu hingga sekitar 90 persen. Selain digunakan sebagai bahan baku rokok kretek, cengkeh juga digunakan untuk industri farmasi dan industri makanan (Lampiran 2). Minyak cengkeh yang berasal dari bunga cengkeh, gagang/tangkai dan daun cengkeh mengandung eugenol dan bersifat anestetik dan antimikrobial. Eugenol tersebut dapat digunakan untuk aromaterapi, mengobati sakit gigi, menghilangkan bau nafas, dan dapat mengendalikan beberapa jamur patogen pada tanaman. Bunga cengkeh dalam bentuk tepung digunakan dalam proses pembuatan makanan yang dimasak dengan suhu tinggi (www.deptan.go.id). Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh juga digunakan dalam campuran tradisional choji (1 persen minyak cengkeh dalam minyak mineral) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang mereka (http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkeh).

2.2.

Standar Mutu Cengkeh Indonesia Penentuan standar mutu cengkeh ruang lingkupnya mencakup ukuran,

warna, bau, bahan asing, gagang cengkeh, cengkeh inferior, cengkeh rusak, kadar air, dan kadar minyak atsiri. Bahan asing yang dimaksud yaitu semua bahan yang

16

bukan berasal dari bunga cengkeh. Cengkeh inferior yaitu cengkeh keriput, patah, dan cengkeh yang telah dibuahi. Cengkeh rusak adalah cengkeh yang telah berjamur dan telah diekstraksi. Standar mutu cengkeh di Indonesia tercantum di dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3392-1994 yang ditetapkan oleh Dewan Standardisasi Nasional (DSN) dari Standar Perdagangan SP-48-1976 (http://warintek.progressio.or.id). Standar mutu cengkeh Indonesia adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ukuran: sama rata Warna: coklat kehitaman Bau: tidak apek Bahan asing maksimum: 0.5-1.0 persen Gagang maksimum: 1.0-5.0 persen Cengkeh rusak maksimum: 0 persen Kadar air maksimum: 14.0 persen Cengkeh inferior maksimum: 2.0-5.0 persen Kadar Atsiri maksimum: 16.0-20.0 persen Beberapa upaya perbaikan untuk menanggulangi permasalahan mutu cengkeh di Indonesia antara lain dapat dilakukan dengan perwilayahan cengkeh sehingga penanaman dilakukan pada daerah yang sangat sesuai, penggunaan varietas unggul, serta perbaikan dan standardisasi cara pengolahan. Perbaikan cara pengolahan antara lain dengan waktu panen yang tepat sehingga rendemen cengkeh kering dan kadar minyak meningkat serta cengkeh inferior dan menir berkurang. Mengurangi kadar bahan asing pada cengkeh sebaiknya dilakukan pengeringan pada lantai jemur yang bersih atau di atas para-para menggunakan

17

tampah atau pengering buatan. Selain itu, kadar bahan asing dan persentase gagang cengkeh dapat dikurangi dengan melakukan sortasi sebelum cengkeh disimpan atau dipasarkan (Hidayat dan Nurdjannah, 1997).

2.3.

Tinjauan Kebijakan Tataniaga Cengkeh Indonesia Kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada

industri cengkeh tidak hanya dari sisi peningkatan produksi namun juga mengenai pengaturan tataniaga cengkeh. Kebijakan ini telah dilakukan sejak tahun 1969 hingga tahun 2002 seperti terdapat pada Lampiran 1 dan terakhir adalah peraturan mengenai pengendalian impor cengkeh tahun 2002. Pada tahun 1990 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan RI Nomor 306/KP/XII/1990 dibentuk badan sebagai pelaksana tataniaga cengkeh atau BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) untuk melakukan kegiatan pembelian, penyanggaan, penjualan cengkeh, dan stabilisasi harga cengkeh di tingkat petani. Sehingga dalam penelitian ini mencoba menggunakan variabel dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC. Kinerja tataniaga cengkeh nasional dapat digambarkan dalam tiga dekade yaitu (Wahyuni, dalam Sinaga dan Pakasi, 1999): 1. Dekade 70-an, diwarnai dengan adanya kekurangan produksi dalam negeri, harga cengkeh yang cenderung tinggi dan terus meningkat, sehingga impor dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut. 2. Dekade 80-an, tercapai swasembada cengkeh nasional tahun 1988. Selama dekade ini, produksi cengkeh masih terus meningkat akibat dari adanya perluasan areal tanaman cengkeh di berbagai lokasi. Perluasan areal dan pertanaman baru terutama disebabkan oleh tingkat harga yang tinggi dan

18

merangsang serta memotivasi petani secara kuat dalam mengembangkan usahatani cengkeh. 3. Dekade 90-an, terjadi kelebihan produksi pada awal dekade, produksi berlebih secara nasional merupakan akibat pertambahan areal pada dekade 80-an. Akibatnya harga cengkeh menurun bahkan menjadi rendah, seterusnya stok nasional meningkat pesat. Selain itu, tidak ada keinginan produsen untuk mengkonversi tanaman cengkehnya dengan tanaman lain.

2.4.

Tinjauan Penelitian Terdahulu

2.4.1. Penelitian Mengenai Cengkeh Hasil penelitian Rumondor (1993) yang menganalisis perkembangan tataniaga cengkeh di Sulawesi Utara menyatakan bahwa adanya mekanisme tataniaga baru ternyata tidak memberi harapan bagi petani untuk dapat menikmati harga yang layak melalui peningkatan pendapatan, karena sejak periode tahun 1982-1987 harga cengkeh mulai menurun di bawah harga dasar yang ditetapkan pemerintah. Keterbatasan modal dan rendahnya manajemen KUD menyebabkan tetap berkembangnya sistem ijon di tingkat petani. Disamping itu, faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran cengkeh oleh petani adalah harga, modal, dan biaya tataniaga. Namun kontribusi variabel ini dalam mempengaruhi penawaran cengkeh oleh petani tidak besar yaitu hanya 56.72 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa selain faktor-faktor tersebut maka penawaran cengkeh oleh petani dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kebutuhan rumah tangga. Sedangkan pada lembaga tataniaga (pedagang/penyangga), suplai cengkeh dipengaruhi oleh tingkat harga. Hal ini disebabkan karena lembaga-lembaga

19

tataniaga dapat menahan untuk tidak langsung menjual cengkeh yang dibeli dari petani, sampai pada tingkat harga yang dianggap menguntungkan. Sinaga dan Pakasi (1999) melakukan penelitian mengenai dampak perubahan faktor ekonomi terhadap permintaan dan penawaran cengkeh di Indonesia dengan menggunakan data time series periode 29 tahun yaitu dari tahun 1970-1998 yang dianalisis secara simultan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keragaan produksi, permintaan dan penawaran cengkeh di Indonesia adalah harga pupuk, suku bunga, luas areal penanaman baik swasta, rakyat dan negara, kebijakan tataniaga cengkeh, upah tenaga kerja, harga ekspor, harga impor, harga di tingkat petani, harga di tingkat pabrik rokok, konsumsi industri pabrik rokok, total produksi cengkeh, impor cengkeh, ekspor cengkeh, ekspor rokok kretek, jumlah stok cengkeh, permintaan cengkeh, harga jual rokok kretek mesin, dan harga jual rokok kretek tangan. Produksi, permintaan dan penawaran cengkeh Indonesia respon terhadap harga ekspor dan impor cengkeh, total produksi cengkeh, peningkatan jumlah penduduk, jumlah stok cengkeh, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, harga cengkeh di tingkat petani, total konsumsi cengkeh, harga cengkeh di tingkat pabrik rokok, dan konsumsi industri rokok kretek. Berdasarkan hasil analisis, ada keterkaitan antara luas areal, jumlah produksi, yang selanjutnya berkaitan dengan jumlah permintaan, penawaran, dan total konsumsi cengkeh serta jumlah ekspor dan impor cengkeh. Faktor-faktor tersebut juga terkait dengan harga-harga di berbagai pasar cengkeh seperti di tingkat petani, di tingkat pabrik rokok, di tingkat ekspor dan impor. Keterkaitan ini menunjukkan apabila terjadi perubahan terhadap salah satu faktor tersebut,

20

akan berpengaruh dan merubah faktor-faktor lainnya. Dampak dari simulasi ke enam skenario menunjukkan terjadinya peningkatan luas areal, jumlah produksi, peningkatan permintaan dan penawaran cengkeh serta total konsumsi cengkeh. Ada perbedaan antara kebijakan tataniaga cengkeh dengan BPPC dan tanpa BPPC. Dengan BPPC memberikan dampak menurunnya luas areal. Selain itu, dengan adanya BPPC berdampak pada terjadinya penurunan jumlah penawaran dan permintaan cengkeh Indonesia, demikian juga dengan penurunan ekspor dan impor, serta terhadap pembentukan harga tingkat petani, harga ekspor, dan impor berpengaruh negatif. Taruli (2002) mencoba menganalisis peluang ekspor agribisnis cengkeh Indonesia dengan menggunakan data periode waktu 18 tahun, yaitu dari tahun 1983-2000. Perkembangan volume ekspor cengkeh Indonesia dipengaruhi oleh harga domestik, harga ekspor, volume ekspor tahun sebelumnya, volume stok akhir tahun sebelumnya, jumlah penduduk negara India, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, variabel dummy pertama (panen kecil atau sedang dan panen besar), dan variabel dummy kedua (terbentuknya BPPC dan tidak ada). Volume stok akhir tahun sebelumnya dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika berpengaruh positif terhadap volume ekspor cengkeh Indonesia. Sedangkan harga domestik, harga ekspor, volume ekspor tahun sebelumnya, jumlah penduduk negara India, serta variabel dummy pertama dan kedua berpengaruh negatif. Dilihat dari peluang ekspor cengkeh Indonesia di pasar cengkeh domestik, pasar cengkeh internasional, sumberdaya Indonesia dan perkembangan produk mempunyai peluang cukup baik.

21

2.4.2. Penelitian Mengenai Produksi dan Ekspor Produk Pertanian Sihotang (1996) dalam penelitiannya mengenai analisis penawaran dan permintaan kopi Indonesia di pasar domestik dan internasional dengan periode 1969-1993. Penelitian ini menggunakan model ekonometrika persamaan simultan dengan metode Three Stage Least Square (3SLS). Hasil dari penelitian ini bahwa produksi kopi Indonesia tidak responsif terhadap harga kopi dan komoditas subtitusi di pasar domestik, harga ekspor, luas areal dan tingkat upah, kecuali kopi jenis robusta yang responsif terhadap luas areal dalam jangka panjang. Permintaan kopi di pasar domestik tidak responsif terhadap harga kopi, harga komoditi subtitusi dan komplementer serta pendapatan per kapita, namun sangat responsif terhadap pasokan ekspor. Penelitian yang dilakukan oleh Pitaningrum (2005) menganalisis mengenai penawaran dan permintaan udang di pasar Internasional menggunakan data sekunder dalam deret waktu periode 1983-2002 dan diduga dengan metode (Two Stage Least squares) 2SLS dengan menggunakan program Statistical Analysis System (SAS). Hasil dugaan penawaran udang Indonesia ke Jepang dan Amerika menunjukkan bahwa tidak semua variabel penjelas berpengaruh nyata. Faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan volume ekspor udang Thailand ke Jepang antara lain harga riil ekspor udang Thailand, nilai tukar riil bath terhadap dollar Amerika, dan variabel bedakala setahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan volume ekspor udang Cina ke Jepang maupun Amerika Serikat antara lain produksi udang Cina, harga riil ekspor udang Cina, nilai tukar riil yuan terhadap dollar Amerika, dan variabel bedakala setahun. Perkembangan volume impor udang di dunia dapat diwakili oleh perkembangan volume impor udang di

22

pasar Jepang dan Amerika Serikat. Harga udang dunia disamakan dengan harga impor udang Jepang dan hasil estimasi menunjukkan bahwa perkembangan harga udang dunia tidak dipengaruhi oleh variabel ekspor udang dunia dan impor udang dunia. Sedangkan harga riil ekspor udang Indonesia dipengaruhi oleh semua variabel penjelas.

2.5.

Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu tersebut, khususnya tentang

komoditi cengkeh dilakukan dengan beragam analisis dan penggunaan data terakhir tahun 2000. Model yang digunakan dalam penelitian ini

memperhitungkan time lag, sehingga dalam setiap persamaan memasukkan variabel lag endogen. Penelitian ini menganalisis produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia menggunakan data time series pada periode 1980-2006 dengan persamaan simultan melalui metode pendugaan Ordinary Least Squares (OLS) dan pengolahan data dilakukan menggunakan Statistical Analysis System (SAS 9.1). Selain itu, penelitian ini juga mencoba menganalisis mengenai dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006 menggunakan simulasi dengan metode Newton. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena merupakan penelitian yang membahas mengenai komoditi cengkeh dikarenakan produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, dan harga cengkeh domestik cenderung berfluktuasi sedangkan volume ekspor dan harga ekspor cengkeh Indonesia cenderung meningkat, tetapi impor cengkeh cenderung menurun sejak ditetapkannya Surat Keputusan Menperindag No.528/MPP/Kep/7/2002 pada tanggal 5 Juli 2002 mengenai pembatasan impor cengkeh.

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.

Konsep dan Teori Pada bagian ini akan dijelaskan konsep dan teori yang berhubungan

dengan penelitian antara lain mengenai fungsi produksi, permintaan faktor produksi dan produksi cengkeh, permintaan cengkeh dan produksi rokok kretek, teori perdagangan internasional, dan persamaan simultan. 3.1.1. Fungsi Produksi Produksi adalah tindakan dalam membuat komoditi, baik barang maupun jasa (Lipsey, 1993). Suatu proses produksi melibatkan suatu hubungan yang erat antara faktor produksi yang digunakan dengan produk yang dihasilkan. Tidak ada produk yang dihasilkan hanya dengan menggunakan satu faktor produksi saja. Dalam pertanian, proses produksi begitu kompleks dan terus-menerus berubah seiring dengan kemajuan teknologi. Menurut Doll and Orazem (1984), fungsi produksi selain menggambarkan hubungan antara faktor produksi dan hasil produksi, juga menggambarkan tingkat dimana sumberdaya diubah menjadi produk. Ada banyak hubungan faktor produksi dan hasil produksi dalam pertanian karena faktor produksi yang diubah menjadi hasil produksi akan berbeda-beda diantara tipe tanah, hewan, teknologi, curah hujan, dan faktor lainnya. Tiap hubungan faktor produksi-hasil produksi menggambarkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari sumberdaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk tertentu. Lipsey (1993) juga mengatakan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fungsi yang memperlihatkan hasil produksi maksimum yang dapat diproduksi oleh setiap faktor produksi dan oleh kombinasi berbagai faktor produksi. Sebuah

24

fungsi produksi dapat digambarkan dalam bentuk persamaan aljabar. Secara matematis fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut (Doll and Orazem, 1984): Y = f (X1, X2, ..., Xn) ................................................................................(1) dimana Y adalah hasil produksi dan X1, X2, ..., Xn adalah faktor produksi-faktor produksi yang berbeda yang terlibat dan ambil bagian dalam produksi Y. Simbol f menggambarkan bentuk hubungan dari faktor produksi menjadi hasil produksi. Dalam melihat perubahan dari produk yang dihasilkan sebagai akibat adanya perubahan penggunaan faktor produksi dalam fungsi produksi, dinyatakan dalam konsep elastisitas produksi. Elastisitas produksi = dY/dX . X/Y, atau .................................................(2) Elastisitas produksi = Produk Marginal/Produk Rata-rata .......................(3) Suatu fungsi produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi (Gambar 1). Daerah tersebut dapat dibedakan berdasarkan elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), antara nol dan satu (daerah II), dan lebih kecil dari nol (daerah III). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu, yang berarti bahwa penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi yang selalu lebih besar dari satu persen atau pada saat PM lebih besar dari PR. Keuntungan maksimum belum tercapai karena produksi masih dapat diperbesar dengan pemakaian faktor produksi yang lebih banyak. Karena itu, daerah I disebut sebagai daerah irrasional (Irrational Region atau Irrational Stage of Production). Syarat keharusan untuk tercapainya keuntungan maksimum adalah tingkat produksi yang terjadi harus berada pada daerah II dalam kurva fungsi produksi. Pada daerah ini elastisitas produksi bernilai antara nol dan satu atau pada saat PR lebih besar dari PM yang

25

kurang dari nol. Artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. Daerah ini dicirikan oleh penambahan hasil produksi yang peningkatannya makin berkurang (diminishing/decreasing return). Pada tingkat tertentu dari penggunaan faktor produksi di daerah ini akan memberikan keuntungan maksimum. Hal ini berarti bahwa penggunaan faktor produksi sudah optimal. Oleh karena itu, daerah II disebut sebagai daerah rasional (Rational Region atau Rational Stage of Production).
Y (produk) C PT B

A I X1 PM, PR X2 II X3 III X (faktor produksi)

PM X1 X2 X3

PR X (faktor produksi)

Gambar 1. Kurva Fungsi Produksi Sumber: Doll and Orazem, 1984 dimana: Titik A = Titik belok produksi Titik B = Titik perpotongan antara PM dan PR pada saat PR maksimum

26

Titik C = Titik produksi marjinal PT PR PM = Produksi Total = Produksi Rata-rata = Produksi Marjinal

Daerah III mempunyai elastisitas produksi lebih kecil dari nol atau PM sudah negatif, artinya setiap penambahan faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan bahwa pemakaian faktor produksi yang tidak efisien, sehingga daerah ini disebut juga sebagai daerah irrasional (Irrational Region atau Irrational Stage of Production). Doll and Orazem (1984) juga menyatakan bahwa di dalam teori ekonomi produksi terdapat asumsi yaitu semua produsen berusaha untuk memaksimalkan keuntungan yang ingin diperolehnya. Hal ini dapat dilihat pada persamaan: = Hy . Y Hx . X ..................................................................................(4) Keuntungan maksimum dapat tercapai pada saat turunan pertama dari fungsi keuntungan di atas terhadap faktor produksinya sama dengan nol. Hy . dY/dX Hx = 0 ................................................................................(5) Hy . PMx = Hx .........................................................................................(6) dimana: Hy . PMx= NPMx Hx Y X Hy = BKMx = Hasil produksi = Faktor Produksi = Harga Hasil Produksi

27

Hx PMx

= Harga Faktor Produksi = Produksi Marjinal

NPMx = Nilai Produk Marjinal BKMx = Biaya Korbanan Marjinal Sehingga persamaan tersebut dapat ditulis menjadi: NPMx = BKMx ........................................................................................(7) Dalam proses produksi, keuntungan maksimal dapat tercapai saat Biaya Korbanan Marjinal (BKMx) sama dengan Nilai Produk Marjinal (NPMx). Artinya dengan menambah biaya sebesar satu persen akan meningkatkan penerimaan sebesar satu persen juga. Jika perbandingan NPMx dan BKMx sama dengan satu maka proses produksi sudah mencapai kombinasi optimal. Saat NPMx lebih kecil dari BKMx menunjukkan bahwa dalam proses produksi, kombinasi penggunaan faktor produksi sudah melewati batas. Sedangkan jika nilai perbandingan NPMx dan BKMx lebih besar dari satu maka kombinasi pemakaian faktor produksi masih kurang. 3.1.2. Permintaan Faktor Produksi dan Produksi Cengkeh Pada pasar produk dan pasar faktor produksi yang bersaing sempurna, fungsi penawaran mencerminkan kuantitas produk yang ditawarkan sebagai fungsi dari harga produk dan harga faktor produksi. Suatu fungsi penawaran perusahaan yang memaksimumkan keuntungan dapat diturunkan dari fungsi keuntungan yang dicapai melaui dua syarat yaitu syarat order pertama (first order condition) dan syarat order kedua (second order condition). Menurut syarat order pertama, fungsi keuntungan akan maksimum jika turunan pertama dari fungsi tersebut terhadap faktor produksi sama dengan nol, berarti nilai produk marginal

28

harus sama dengan harga masing-masing faktor produksi yang digunakan. Syarat order kedua terpenuhi jika turunan kedua dari fungsi tersebut terhadap faktor produksi lebih kecil dari nol, berarti fungsi produksi cembung ke arah titik asal atau berada pada daerah rasional (Rational Stage of Production) (Beattie and Taylor, 1995; Henderson and Quandt, 1980; Koutsoyiannis, 1975 dalam Lifianthi, 1999). Selanjutnya materi pokok teori produksi bertumpu pada fungsi produksi, yaitu suatu fungsi yang menggambarkan hubungan teknis antara faktor produksi dan hasil produksinya. Faktor produksi dapat dibedakan menjadi faktor produksi tetap dan tidak tetap tergantung pada sisi produsen dalam jangka waktu tertentu. Dalam jangka pendek, faktor produksi terdiri dari faktor produksi tetap dan tidak tetap, dimana faktor teknologi belum berubah. Sedangkan dalam jangka panjang, semua faktor produksi adalah tidak tetap dan teknologi belum berubah. Setelah produsen berada pada posisi jangka waktu yang sangat panjang, maka faktor produksi dan teknologi adalah tidak tetap. Dengan menyederhanakan persoalan, maka dapat dimisalkan bahwa pada tingkat teknologi tertentu fungsi produksi cengkeh adalah sebagai berikut: QC = QC (PU, LA) ...................................................................................(8) dimana: QC PU LA = Jumlah produksi cengkeh (unit) = Jumlah faktor produksi pupuk (unit) = Jumlah faktor produksi lainnya (unit)

29

Jika diketahui harga cengkeh, harga faktor produksi pupuk, dan harga faktor produksi lainnya masing-masing adalah HQC, HPU, dan HLA, maka keuntungan produsen cengkeh dapat dirumuskan sebagai berikut: = HQC * QC (PU, LA) (HPU * PU + HLA * LA) ............................(9) Keuntungan maksimum dapat tercapai pada saat turunan pertama dari fungsi keuntungan di atas terhadap masing-masing faktor produksinya sama dengan nol dan dapat dirumuskan sebagai berikut: / PU = HQC * PU' HPU = 0 atau HPU = HQC * PU'...................(10) / LA = HQC * LA' HLA = 0 atau HLA = HQC * LA' .................(11) dimana PU' dan LA' merupakan produk marginal dari faktor produksi PU dan LA. Dari persamaan (10) dan (11) diketahui bahwa HQC, HPU, dan HLA merupakan variabel eksogen, sedangkah PU dan LA merupakan variabel endogen. Oleh karena itu, fungsi permintaan faktor produksi PU dan LA dapat dirumuskan sebagai berikut: PUD = PUD (HPU, HLA, HQC) ..............................................................(12) LAD = LAD (HLA, HPU, HQC)..............................................................(13) dimana PUD dan LAD masing-masing adalah permintaan terhadap faktor produksi pupuk dan faktor produksi lainnya. Dengan mensubstitusi persamaan (12) dan (13) ke persamaan (8), maka fungsi produksi (penawaran) cengkeh dapat dirumuskan sebagai berikut: QCS = QCS (HQC, HPU, HLA) ..............................................................(14) 3.1.3. Permintaan Cengkeh dan Produksi Rokok Kretek Faktor produksi utama dari pabrik rokok kretek adalah cengkeh, karena cengkeh merupakan faktor produksi bagi pabrik rokok kretek atau merupakan

30

pemintaan turunan (derived demand) dari pabrik rokok kretek. Oleh sebab itu fungsi permintaan cengkeh dapat didefinisikan sebagai fungsi dari harga cengkeh, harga faktor produksi lain, dan harga rokok kretek. Fungsi permintaan faktor produksi yaitu cengkeh dan produksi (penawaran) rokok kretek dapat diturunkan dari fungsi produksi pabrik rokok kretek, yang dirumuskan sebagai berikut: QR = QR (CE, LT)..................................................................................(15) dimana: QR CE LT = Jumlah produksi rokok kretek (unit) = Jumlah faktor produksi cengkeh (unit) = Jumlah faktor produksi lainnya (unit)

Jika diketahui harga rokok kretek, harga faktor produksi cengkeh, dan harga faktor produksi lainnya masing-masing adalah HQR, HCE, dan HLT, maka keuntungan produsen rokok kretek dapat dirumuskan sebagai berikut: = HQR * QR (CE, LT) (HCE * CE + HLT * LT) ...........................(16) Keuntungan maksimum dapat tercapai pada saat turunan pertama dari fungsi keuntungan di atas terhadap masing-masing faktor produksinya sama dengan nol dan dapat dirumuskan sebagai berikut: / CE = HQR * CE' HCE = 0 atau HCE = HQR * CE'...................(17) / LT = HQR * LT' HLT = 0 atau HLT = HQR * LT'....................(18) dimana CE' dan LT' merupakan produk marginal dari faktor produksi CE dan LT. Dari persamaan (17) dan (18) diketahui bahwa HQR, HCE, dan HLT merupakan variabel eksogen, sedangkah CE dan LT merupakan variabel endogen. Oleh karena itu, fungsi permintaan faktor produksi CE dan LT dapat dirumuskan sebagai berikut:

31

CED = CED (HCE, HLT, HQR)...............................................................(19) LTD = LTD (HLT, HCE, HQR) ...............................................................(20) dimana CED dan LTD masing-masing adalah permintaan terhadap faktor produksi cengkeh dan faktor produksi lainnya. Dengan mensubstitusi persamaan (19) dan (20) ke persamaan (15), maka fungsi produksi (penawaran) rokok kretek dapat dirumuskan sebagai berikut: QRS = QRS (HQR, HCE, HLT) ..............................................................(21) 3.1.4. Teori Perdagangan Internasional Perdagangan antar negara atau perdagangan internasional sudah ada sejak dahulu namun masih dalam jumlah dan ruang lingkup yang terbatas. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya taraf kehidupan yang bersamaan dengan kemajuan teknologi informasi menyebabkan peningkatan kebutuhan masyarakat. Peranan perdagangan internasional sangat penting, karena pada saat ini tidak ada satu negara pun yang berada dalam kondisi autarki, yaitu negara yang hidup terisolasi, tanpa mempunyai hubungan perdagangan dengan negara lain. Terdapat beberapa hal yang mendorong terjadinya perdagangan internasional diantaranya keterbatasan suatu negara dalam sumberdaya alam, sumberdaya modal, tenaga kerja, teknologi dan perbedaan dalam penawaran dan permintaan antar negara. Teori perdagangan internasional membantu menjelaskan arah serta komposisi perdagangan antara beberapa negara serta bagaimana efeknya terhadap struktur perekonomian suatu negara. Di samping itu, teori perdagangan internasional juga mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan internasional serta keuntungan yang diperolehnya (gains from trade). Kebijakan perdagangan internasional membahas masalah-masalah serta pengaruh

32

pembatasan perdagangan, serta hal-hal yang menyangkut proteksionisme baru (new protectionism) (Salvatore, 1997). Gambar 2 memperlihatkan proses terciptanya harga komoditi relatif ekuilibrium dengan adanya perdagangan internasional. Kurva S dan kurva D melambangkan kurva penawaran dan kurva permintaan terhadap komoditi cengkeh di kedua negara. Sumbu tegak melambangkan harga-harga relatif untuk komoditi X (Px/Py, atau jumlah komoditi Y yang harus dikorbankan oleh suatu negara dalam rangka memproduksi satu unit tambahan komoditi X), sedangkan sumbu mendatar melambangkan kuatitas komoditi X (cengkeh). Secara teoritis, suatu negara (negara A) akan mengekspor komoditi cengkeh ke negara lain (negara B) apabila harga domestik di negara A (sebelum terjadinya perdagangan) relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Struktur harga yang relatif lebih rendah di negara A tersebut disebabkan karena adanya kelebihan penawaran (excess supply) yaitu produksi domestik melebihi konsumsi domestik, sebesar BE. Dalam hal ini faktor produksi di negara A dalam memproduksi cengkeh relatif berlimpah. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Negara B mengalami kekurangan penawaran cengkeh karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand), sebesar BE sehingga harga menjadi lebih tinggi. Pada kesempatan ini negara B berkeinginan untuk membeli komoditi cengkeh dari negara lain yang harganya lebih murah. Apabila kemudian terjadi komunikasi antar negara A dan negara B, maka akan terjadi perdagangan antara kedua negara tersebut. Sebelum terjadinya perdagangan internasional harga cengkeh di negara A adalah sebesar Pa,

33

sedangkan di negara B sebesar Pb. Penawaran di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih besar dari Pa, sedangkan permintaan di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih rendah dari Pb. Pada saat harga internasional sama dengan Pw, maka di negara B terjadi kelebihan permintaan sebesar BE, sedangkan di negara A terjadi kelebihan penawaran sebesar BE. Perpaduan antara kelebihan penawaran di negara A dan kelebihan permintaan di negara B akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional, yaitu sebesar Pw. Dengan adanya perdagangan tersebut maka negara A akan mengekspor cengkeh sebesar BE, dan negara B akan mengimpor cengkeh sebesar BE.
Px/Py Px/Py Px/Py

Sa Ekspor B Pa A E A Pw A* Da 0 Negara A X 0 E
*

Sw Pb B Dw A Impor

Sb

E Db

X Perdagangan Internasional

0 Negara B

Gambar 2. Kurva Terjadinya Perdagangan Internasional Sumber: Salvatore, 1997 Kondisi nilai tukar seperti terdepresiasinya rupiah terhadap dollar merupakan faktor yang dapat menyebabkan kurva penawaran bergeser ke kanan. Nilai tukar menggambarkan daya saing suatu negara dalam perdagangan internasional. Terdepresiasinya rupiah terhadap dollar membuat harga cengkeh

34

Indonesia menjadi relatif lebih murah sehingga mendorong terjadinya peningkatan jumlah penawaran ekspor (Mankiw, 2000). Mekanisme pengaruh perubahan kurs terhadap volume ekspor dapat dilihat pada Gambar 3. Seandainya di negara A terjadi depresiasi kurs seperti yang terlihat pada penurunan kurs dari e1 menjadi e2 akan meningkatkan ekspor bersih dari NX1 ke NX2. Peningkatan dalam ekspor bersih ini akan menggeser kurva pengeluaran yang direncanakan ke atas dan meningkatkan pendapatan dari Y1 ke Y2. Peningkatan hasil produksi ini terjadi karena adanya peningkatan ekspor bersih sebagaimana ditunjukkan pada gambar perpotongan Keynesian. Penurunan kurs yang terjadi ini menyebabkan terjadinya peningkatan hasil produksi pada kurva investasi dan tabungan (IS). Kurva IS meringkas hubungan antara kurs dan pendapatan, semakin rendah kurs maka semakin tinggi tingkat pendapatan. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa penurunan kurs (depresiasi) menyebabkan terjadinya peningkatan volume ekspor. Selanjutnya dapat dijelaskan pula bagaimana mekanisme peningkatan volume ekspor yang disebabkan penurunan kurs pada gambar perdagangan internasional. Semula sebelum terjadinya penurunan kurs, besarnya nilai excess supply di negara A sebesar BE. Setelah terjadinya penurunan kurs menyebabkan terjadinya peningkatan excess supply menjadi FG. Kondisi ini mengakibatkan kurva penawaran dunia mengalami pergeseran dengan titik awal yang sama. Pergeseran kurva penawaran dunia dari Sw menjadi Sw1 menyebabkan tingkat harga dunia yang terjadi lebih rendah dan volume perdagangan internasional meningkat dari 0Q1 menjadi 0Q2. Negara pengimpor merespon perubahan harga ini dengan meningkatkan jumlah impornya. Besarnya volume ekspor negara A setelah depresiasi kurs (FG) sama dengan besarnya volume impor negara B (FG).

35

Pengeluaran (E) Pengeluaran aktual Y=E NX

b). Kurva Perpotongan Keynesian

Pengeluaran direncanakan E = C + I + G + NX Produk (Y)

Kurs Rp/$ (e)

Kurs Rp/$ (e)

a). Kurva Ekspor Bersih Negara A e1 e2 e1 e2

c). Kurva IS

NX1 Px/Py Da

NX2

Ekspor bersih (NX) Px/Py Sa Pw Pw1

Sw Px/Py Sw1

Y1 Db

Y2 Produk (Y) Sb

Dw

F B Negara A

E G X

Q1 Q2

F B Negara B

E G X

Perdagangan Internasional

Gambar 3. Mekanisme Pengaruh Kurs terhadap Volume Ekspor Sumber: Mankiw, 2000

36

3.1.5. Persamaan Simultan Menurut Gujarati (1997), persamaan simultan adalah model yang terdapat lebih dari satu variabel tak bebas dan lebih dari satu persamaan. Persamaan simultan berbeda dengan persamaan tunggal di mana hanya terdapat satu persamaan yang menghubungkan satu variabel tak bebas tunggal dengan sejumlah variabel yang menjelaskan baik nonstokastik atau jika stokastik, (diasumsikan) didistribusikan secara bebas dari unsur gangguan stokastik. Suatu ciri unik dari persamaan simultan adalah bahwa variabel tak bebas dalam satu persamaan mungkin muncul sebagai variabel yang menjelaskan dalam persamaan lain dari sistem. Bentuk umum dari persamaan simultan tersebut dapat dihipotesiskan sebagai berikut: Y1i = 10 + 12 Y2i + 11X1i + u1i ..............................................................(22) Y2i = 20 + 21 Y1i + 21X1i + u2i ..............................................................(23) dimana Y1 dan Y2 merupakan variabel yang saling bergantung, atau bersifat endogen, dan X1 merupakan variabel yang bersifat eksogen dan dimana u1 dan u2 unsur gangguan stokastik (Gujarati, 1997). 3.1.6. Persamaan Produktivitas Cengkeh, Luas Areal Cengkeh, Produksi Cengkeh, Impor Cengkeh, Ekspor Cengkeh, Penawaran Cengkeh, Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek, Produksi Rokok Kretek, Harga Cengkeh Domestik, Harga Cengkeh Impor, dan Harga Cengkeh Ekspor 3.1.6.1. Produktivitas Cengkeh Penggunaan teknologi dalam produksi cengkeh dapat dilihat dari produktivitas cengkeh Indonesia. Nilai produktivitas diperoleh dengan membagi produksi dengan luas areal cengkeh sehingga dalam hal ini produksi merupakan perkalian antara produktivitas dengan luas areal cengkeh. Produktivitas cengkeh

37

(YCDt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh domestik (HCDt), luas areal cengkeh (ATCt), harga riil faktor produksi pupuk (HPUt), suku bunga (SBIt), trend waktu (Tt), dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC (DBPPCt), dan tingkat produktivitas cengkeh tahun lalu (YCDt-1). Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi produktivitas cengkeh dapat dirumuskan sebagai berikut: YCDt = f (HCDt, ATCt, HPUt, SBIt, Tt, DBPPCt, YCDt-1) ....................(24) 3.1.6.2. Luas Areal Cengkeh Luas areal cengkeh (ATCt) dipengaruhi oleh harga riil cengkeh domestik (HCDt), harga riil faktor produksi pupuk (HPUt), suku bunga (SBIt), trend waktu (Tt), dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC (DBPPCt), dan luas areal cengkeh tahun lalu (ATCt-1) karena pada saat itu terjadi kelebihan pasokan cengkeh dalam negeri dan disarankan untuk menebang tanaman cengkehnya sehingga terjadi penurunan luas areal (Rumagit, 2007). Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi luas areal cengkeh dapat dinyatakan sebagai berikut: ATCt = (HCDt, HPUt, SBIt, Tt, DBPPCt, ATCt-1) ..................................(25) 3.1.6.3. Produksi Cengkeh Jumlah produksi cengkeh pada tahun ke-t (QCDt) merupakan hasil perkalian antara variabel teknologi atau produktivitas cengkeh (YCDt) dengan luas areal cengkeh (ATCt). Sehingga fungsi identitas produksi adalah sebagai berikut: QCDt = YCDt x ATCt ............................................................................(26) 3.1.6.4. Impor Cengkeh Impor cengkeh (ICDt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh impor (HCIt), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (NTKt), produksi cengkeh

38

(QCDt), konsumsi cengkeh industri rokok kretek (CCRt), trend waktu (Tt), dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC (DBPPCt), dan impor cengkeh tahun lalu (ICDt-1). Pada tahun 1990-1998 yang berhak melakukan impor cengkeh hanyalah BPPC, sehingga impor cengkeh pada saat beroperasinya BPPC lebih kecil dibandingkan dengan tidak adanya BPPC. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: ICDt = f (HCIt, NTKt, QCDt, CCRt, Tt, DBPPCt, ICDt-1).......................(27) 3.1.6.5. Ekspor Cengkeh Ekspor cengkeh adalah jumlah kelebihan produksi cengkeh yang tidak dikonsumsi dalam negeri, namun tidak selamanya kondisinya demikian, karena ada juga pengusaha yang mengekspor cengkeh tanpa mempedulikan kebutuhan cengkeh dalam negeri (Sinaga dan Pakasi, 1999). Karena keterbatasan data, maka stok cengkeh tahun sebelumnya tidak dimasukkan dalam persamaan ekspor cengkeh Indonesia. Ekspor cengkeh Indonesia (XCDt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh ekspor (HCXt), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (NTKt), produksi cengkeh (QCDt), suku bunga (SBIt), trend waktu (Tt), dan ekspor cengkeh tahun lalu (XCDt-1). Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: XCDt = f (HCXt, NTKt, QCDt, SBIt, Tt, XCDt-1) ...................................(28) 3.1.6.6. Penawaran Cengkeh Penawaran cengkeh (SCDt) merupakan jumlah cengkeh yang tersedia di dalam negeri, yang merupakan penjumlahan antara produksi cengkeh, stok cengkeh domestik tahun sebelumnya dan impor cengkeh dikurangi ekspor cengkeh Indonesia ke pasar internasional (Sihotang, 1996). Karena keterbatasan data, maka stok cengkeh domestik tahun sebelumnya tidak dimasukkan dalam

39

persamaan penawaran cengkeh Indonesia. Dalam penelitian ini penawaran cengkeh Indonesia (SCDt) merupakan penjumlahan antara produksi cengkeh (QCDt) dan impor cengkeh (ICDt) dikurangi ekspor cengkeh Indonesia ke pasar internasional (XCDt). Persamaan penawaran cengkeh dapat ditulis sebagai berikut: SCDt = QCDt + ICDt - XCDt .................................................................(29) 3.1.6.7. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek Produksi cengkeh yang dihasilkan sebagian dikonsumsi di dalam negeri baik sebagai bahan baku industri rokok kretek maupun untuk industri lain dan konsumsi rumahtangga. Namun berdasarkan penggunaannya sebanyak 85-95% konsumsi cengkeh di Indonesia digunakan untuk industri rokok kretek dan karena konsumsi cengkeh di luar industri pabrik rokok kretek di Indonesia seperti rumahtangga umumnya relatif kecil dan stabil yaitu sebesa 0.001

ons/kapita/minggu (BPS, 2006) sehingga diasumsikan cengkeh hanya digunakan sebagai bahan baku pabrik rokok kretek domestik yang fungsi konsumsi cengkeh rumahtangga dan industri lain dapat diabaikan. Konsumsi cengkeh industri rokok kretek (CCRt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh domestik (HCDt), produksi rokok kretek (QRKt), trend waktu (Tt), dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu (CCRt-1). Dengan demikian persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek dapat dinyatakan sebagai berikut: CCRt= f (HCDt, QRKt, Tt, CCRt-1) ........................................................(30) 3.1.6.8. Produksi Rokok Kretek Produksi rokok kretek (QRKt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh domestik (HCDt), harga riil jual rokok kretek (HJRKt), harga riil ekspor rokok

40

kretek (HXRKt), trend waktu (Tt), dan produksi rokok kretek tahun lalu (QRKt-1). Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: QRKt= f (HCDt, HJRKt, HXRKt, Tt, QRKt-1) ........................................(31) 3.1.6.9. Harga Cengkeh Domestik Harga cengkeh domestik (HCDt) diduga dipengaruhi oleh harga riil cengkeh impor (HCIt), produksi cengkeh (QCDt), konsumsi cengkeh industri rokok kretek (CCRt), trend waktu (Tt), dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC (DBPPCt), dan harga riil cengkeh domestik tahun lalu (HCDt-1). Persamaan harga cengkeh domestik dirumuskan sebagai berikut: HCDt= f (HCIt, QCDt, CCRt, Tt, DBPPCt, HCDt-1) ...............................(32) 3.1.6.10. Harga Cengkeh Impor Harga cengkeh impor Indonesia (HCIt) dipengaruhi oleh volume cengkeh impor (ICDt), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (NTKt), trend waktu (Tt), dan harga riil cengkeh impor tahun lalu (HCIt-1). Persamaan harga cengkeh impor dirumuskan sebagai berikut: HCIt= f (ICDt, NTKt, Tt, HCIt-1) ............................................................(33) 3.1.6.11. Harga Cengkeh Ekspor Harga cengkeh ekspor Indonesia (HCXt) dipengaruhi oleh volume cengkeh ekspor (XCDt), nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (NTKt), trend waktu (Tt), dan harga riil cengkeh ekspor tahun lalu (HCXt-1). Persamaan harga cengkeh ekspor adalah sebagai berikut: HCXt= f (XCDt, NTKt, Tt, HCXt-1) ........................................................(34)

41

3.2.

Kerangka Pemikiran Operasional Indonesia merupakan negara konsumen sekaligus produsen cengkeh

terbesar di dunia (Gambar 4). Produksi cengkeh Indonesia selain diekspor, juga diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi cengkeh domestik khususnya pada industri rokok kretek. Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan internasional cengkeh, sehingga fluktuasi produksi dan konsumsi, yang bisa terjadi karena faktor alam, aspek perilaku industri, maupun aspek kebijakan domestik, dapat mempengaruhi tatanan perdagangan tersebut (Siregar dan Suhendi, 2006). Pada tahun 2002 pemerintah memandang perlu untuk menetapkan ketentuan impor cengkeh dalam rangka mengantisipasi lonjakan impor cengkeh yang mengakibatkan terjadinya penurunan harga cengkeh dan pendapatan petani di dalam negeri, yang diatur melalui Surat Keputusan Menperindag

No.528/MPP/Kep/7/2002 tertanggal 5 Juli 2002 tentang pengendalian impor cengkeh. Kebijakan ini ditetapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani cengkeh dengan tetap memperhatikan kepentingan industri pengguna cengkeh. Pada tahap awal, impor baru akan diizinkan apabila harga cengkeh produksi dalam negeri sudah naik hingga mencapai titik harga tertentu. Ketentuan impor cengkeh ini mengakibatkan terjadinya penurunan volume impor cengkeh yang sangat signifikan pada tahun 2002-2006. Berdasarkan penggunaannya, sebanyak 85 persen hingga 95 persen konsumsi cengkeh nasional digunakan dalam industri rokok kretek sebagai bahan baku rokok kretek. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia melakukan impor terhadap komoditas cengkeh.

42

Gambar 4. Bagan Kerangka Berpikir Operasional

43

Selama periode tahun 2002 hingga tahun 2006, produksi dan produktivitas cengkeh cenderung berfluktuasi, sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut maka pemerintah melalui program Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat memasukkan komoditi cengkeh sebagai salah satu dari 17 komoditi pertanian yang perlu dikembangkan, karena vitalitas sektor pertanian saat ini sedang mengalami degradasi yang ditunjukkan dengan terjadinya penurunan (levelling off) produksi beberapa komoditas pertanian, antara lain komoditi cengkeh. Sehingga dengan adanya program tersebut diharapkan Indonesia sebagai negara produsen cengkeh mampu meningkatkan penerimaan devisa negara melalui perkembangan produksi dan kegiatan ekspor cengkeh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis (1) perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas cengkeh, volume dan harga cengkeh impor, volume dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia, dan (3) dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006. Jawaban untuk tujuan pertama digunakan analisis deskriptif dengan tabulasi dan tujuan kedua digunakan analisis model ekonometrika dengan persamaan simultan melalui metode pendugaan OLS (Ordinary Least Squares), sedangkan untuk menjawab tujuan penelitian ketiga menggunakan simulasi dengan metode Newton. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi individu atau instansi yang terkait dan dapat sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

IV. METODE PENELITIAN

4.1.

Metode Analisis Perkembangan produksi cengkeh, luas areal cengkeh, produktivitas

cengkeh, volume impor dan harga cengkeh impor, volume ekspor dan harga cengkeh ekspor, konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek, dan harga cengkeh domestik Indonesia dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi serta pengolahan data menggunakan software Microsoft Excel. Analisis deskriptif dalam penulisan digunakan untuk memberikan penjelasan serta interpretasi atas informasi dan data hasil penelitian. Tujuan penelitian kedua yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia dianalisis menggunakan persamaan simultan dengan metode pendugaan OLS (Ordinary Least Squares) serta pengolahan data menggunakan Statistical Analysis System (SAS 9.1). Pada dasarnya dampak penggunaan metode OLS pada persamaan simultan akan menghasilkan bias estimasi (biased) dan tidak konsisten (inconsistent) (Koutsoyiannis, 1977), akan tetapi dalam penelitian ini dihasilkan bahwa validasi pendugaan model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia cukup baik untuk dilakukan simulasi. Tujuan penelitian ketiga yaitu dampak perubahan faktor ekonomi terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006 dianalisis dengan simulasi model menggunakan metode Newton.

4.2.

Perumusan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Model adalah abstraksi dari fenomena aktual sebagai suatu sistem atau

proses (Koutsoyiannis, 1977). Penyederhanaan suatu fenomena dilakukan agar

45

dapat dilakukan pendugaan yang akurat atas perilaku dan fenomena yang ada dengan tingkat yang mendekati kenyataan atau seakurat mungkin. Salah satu model pendekatan yang dapat dipakai dalam menganalisis suatu fenomena ekonomi adalah dengan menggunakan model ekonometrika. Model ekonometrika merupakan suatu pola khusus dari model aljabar yang bersifat stokastik, mencakup satu atau lebih variabel pengganggu yang memperhitungkan unsurunsur yang sifatnya random. Dalam membangun model ekonometrika ada empat tahap utama yang harus dilalui yaitu: (1) spesifikasi, (2) pendugaan, (3) validasi, dan (4) penerapan model (Koutsoyiannis, 1977). Spesifikasi model merupakan tahap yang paling penting, karena pada tahap ini peneliti harus menspesifikasi model yang akan digunakan dalam penelitian atas dasar gambaran ekonomi, teknis, dan kelembagaan dari fenomena ekonomi yang dipelajari ke dalam hubungan matematik dan statistik. Tahap spesifikasi menurut Koutsoyiannis (1977) meliputi penentuan (1) variabel dependen (dependent variables) dan variabel penjelas (explanatory variables) yang akan dimasukkan dalam model, (2) harapan teoritis apriori mengenai tanda dan besaran parameter dari setiap persamaan. Dasar definisi apriori adalah pengetahuan mengenai teori, logika, dan fakta empiris yang ada dari hubungan ekonomi antar variabel dependen dan penjelas yang dipelajari, dan (3) bentuk matematis dari model (linier atau non linier, jumlah persamaan). Berkaitan dengan penerapan metode pendugaan model ekonometrika terdapat dua pendekatan yang dikembangkan yaitu pendekatan ortodoks dan pendekatan eksperimental (Koutsoyiannis, 1977).

46

Pendekatan ortodoks merupakan pendekatan yang memformulasikan suatu model matematis atas dasar teori secara apriori, dan berupaya mengukur parameter-parameter model tersebut berdasarkan data tersedia yang terbaik. Kelemahan data hanya mendorong sedikit modifikasi model sebelum diuji secara statistik, namun umumnya penganut pendekatan ortodoks cenderung kaku terhadap model yang telah dibangunnya, meskipun terdapat hasil statistik yang tidak diinginkan (tanda dan besaran parameter). Ketidaksesuaian tanda dan besaran parameter dengan harapan teori akan ditimpakan kepada kelemahan atau kekurangan data sebagai penyebabnya. Sementara parameter yang mempunyai tanda dan besaran yang salah meskipun nyata secara statistik, tidak mempunyai arti apa-apa dilihat dari kriteria ekonomi secara apriori. Sebagian besar penelitian dengan model ekonometrika saat ini dilakukan dengan pendekatan eksperimental, namun tetap bertitik tolak dari model yang sederhana terlebih dahulu seperti pada pendekatan ortodoks. Namun model yang dibangun tersebut tidak kaku, melainkan dimodifikasi secara bertahap berdasarkan bukti statistik yang diperoleh dari setiap hasil pendugaan. Modifikasi model dapat berupa penambahan variabel, penyusunan bentuk matematis yang lebih kompleks (non linier dan lain-lain), penambahan persamaan, dan penggunaan beragam metode pendugaan. Tanda atau besaran parameter dugaan yang sesuai dengan teori ekonomi secara apriori mendapat prioritas utama dalam pendekatan eksperimental. Karena itu bentuk non tunggal (rasio, perkalian, selisih, dan penjumlahan) dari variabel yang digunakan juga harus tetap berpegang pada teori dan logika ekonomi. Tanda (sign) dan besaran (magnitude) dari variabel penjelas dalam model penelitian ini

47

telah sesuai dengan teori ekonomi dan yang diharapkan. Untuk variabel harga output bertanda positif, harga input bertanda negatif, dan lag endogen berada diantara nol dan satu, ini berarti bahwa koefisien penyesuaian mendekati satu berarti lambat dalam menyesuaikan berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya sementara bila mendekati nol maka cepat dalam menyesuaikan berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhi. Dalam penelitian ini ditekankan bahwa teori ekonomi dapat atau tidak dapat mengindikasikan bentuk matematis yang tepat mengenai hubungan antar variabel dependen dan penjelas baik dalam bentuk linier maupun non linier. Setelah dilakukan evaluasi hasil pendugaan maka dilakukan respesifikasi model untuk memperoleh bentuk matematis yang relevan dengan fenomena dan tidak menyimpang dari teori ekonomi. Pada Gambar 5 dirumuskan persamaan-persamaan struktural yang menggambarkan hubungan antara variabel eksogen dengan variabel endogen ataupun antara variabel endogen itu sendiri. Akan dikemukakan pula tanda besaran parameter yang diperkirakan secara apriori berdasarkan pemahaman teori ekonomi dan hasil analisis empiris yang telah dilakukan peneliti terdahulu. Persamaan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, impor cengkeh, ekspor cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, produksi rokok kretek, harga cengkeh domestik, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor Indonesia yang disajikan adalah persamaan operasional yang telah mengalami respesifikasi dan menghasilkan tanda parameter dugaan yang sesuai dengan harapan.

48

Gambar 5. Bagan Kerangka Model Ekonometrika

49

4.2.1. Produktivitas Cengkeh Perilaku produksi cengkeh dapat dianalisis melalui respon areal dan produktivitasnya. Respon produktivitas cengkeh dapat dirumuskan sebagai berikut: YCDt = ao + a1HCDt + a2ATCt + a3{(HPUt-HPUt-1)/HPUt-1}*100 + a4SBIt + a5Tt + a6DBPPCt + a7YCDt-1 + u1 ...............................................(1) Koefisien yang diharapkan: a1, a2, a6 > 0 ; a3, a4 < 0 ; a5 0 ; 0 < a7 < 1 dimana: YCDt HCDt ATCt HPUt SBIt Tt = tingkat produktivitas cengkeh tahun ke-t (kg/ha) = harga riil cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg) = luas areal cengkeh tahun ke-t (ha) = harga riil pupuk tahun ke-t (Rp/kg) = suku bunga tahun ke-t (%) = trend waktu

DBPPCt = dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC: 1=BPPC, 0=tanpa BPPC YCDt-1 = tingkat produktivitas cengkeh tahun ke-(t-1) ao ai u1 = intersep = koefisien regresi (i = 1, 2, 3, ...) = error

4.2.2. Luas Areal Cengkeh Sementara itu fungsi luas areal cengkeh dapat dinyatakan sebagai berikut: ATCt = bo + b1HCDt + b2HPUt + b3SBIt + b4Tt + b5DBPPCt + b6ATCt-1 + u2 ..........................................................................(2)

50

Koefisien yang diharapkan: b1 > 0 ; b2, b3, b5 < 0 ; b4 0 ; 0 < b6 < 1 dimana: ATCt HCDt HPUt SBIt Tt = luas areal cengkeh tahun ke-t (ha) = harga riil cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg) = harga riil pupuk tahun ke-t (Rp/kg) = suku bunga tahun ke-t (%) = trend waktu

DBPPCt = dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC: 1=BPPC, 0=tanpa BPPC ATCt-1 = luas areal cengkeh tahun ke-(t-1) 4.2.3. Produksi Cengkeh Selanjutnya produksi cengkeh diperoleh dari hasil perkalian antara produktivitas cengkeh dengan luas areal cengkeh. Sehingga fungsi identitas produksi cengkeh adalah sebagai berikut: QCDt = YCDt x ATCt ..............................................................................(3) dimana: QCDt YCDt ATCt = produksi cengkeh tahun ke-t (kg) = tingkat produktivitas cengkeh tahun ke-t (kg/ha) = luas areal cengkeh tahun ke-t (ha)

4.2.4. Impor Cengkeh Persamaan impor cengkeh Indonesia dapat ditulis sebagai berikut: ICDt = co + c1HCIt + c2NTKt + c3QCDt + c4CCRt + c5Tt + c6DBPPCt + c7ICDt-1 + u3 ............................................................................(4)

51

Koefisien yang diharapkan: c4 > 0 ; c1, c2, c3, c6 < 0 ; c5 0 ; 0 < c7 < 1 dimana: ICDt HCIt NTKt QCDt CCRt Tt = volume cengkeh impor tahun ke-t (ton) = harga riil cengkeh impor tahun ke-t (US$/kg) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-t (Rp/US$) = produksi cengkeh tahun ke-t (kg) = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-t (ton) = trend waktu

DBPPCt = dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC: 1=BPPC, 0=tanpa BPPC ICDt-1 = volume cengkeh impor tahun ke-(t-1)

4.2.5. Ekspor Cengkeh Persamaan ekspor cengkeh Indonesia dapat ditulis sebagai berikut: XCDt = do + d1HCXt + d2NTKt + d3QCDt + d4SBIt + d5Tt + d6XCDt-1 + u4 .........................................................................(5) Koefisien yang diharapkan: d1, d2, d3 > 0 ; d4 < 0 ; d5 0 ; 0 < d6 < 1 dimana: XCDt HCXt NTKt QCDt SBIt Tt = volume cengkeh ekspor tahun ke-t (ton) = harga riil cengkeh ekspor tahun ke-t (US$/kg) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-t (Rp/US$) = produksi cengkeh tahun ke-t (kg) = suku bunga tahun ke-t (%) = trend waktu

XCDt-1 = volume cengkeh ekspor tahun ke-(t-1)

52

4.2.6. Penawaran Cengkeh Penawaran cengkeh Indonesia dalam penelitian ini merupakan jumlah cengkeh yang tersedia di dalam negeri, yang merupakan penjumlahan antara produksi cengkeh dan impor cengkeh dikurangi ekspor cengkeh Indonesia ke pasar internasional. Persamaan identitas penawaran cengkeh dapat ditulis sebagai berikut: SCDt = QCDt + ICDt - XCDt ...................................................................(6) dimana: SCDt QCDt ICDt XCDt = penawaran cengkeh Indonesia tahun ke-t (ton) = produksi cengkeh tahun ke-t (ton) = volume cengkeh impor tahun ke-t (ton) = volume cengkeh ekspor tahun ke-t (ton)

4.2.7. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek Persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek dapat dinyatakan sebagai berikut: CCRt = eo + e1HCDt-1/ HCDt + e2QRKt + e3Tt + e4CCRt-1 + u5 ...............(7) Koefisien yang diharapkan: e2 > 0 ; e1 < 0 ; e3 0 ; 0 < e4 < 1 dimana: CCRt HCDt QRKt Tt = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-t (ton) = harga riil cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg) = produksi rokok kretek tahun ke-t (juta batang) = trend waktu

CCRt-1 = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-(t-1)

53

4.2.8. Produksi Rokok Kretek Persamaan produksi rokok kretek dapat dinyatakan sebagai berikut: QRKt = f0 + f1HCDt + f2(HJRKt - HJRKt-1) + f3{(HXRKt - HXRKt-1)/ HXRKt-1}*100 + f4Tt + f5QRKt-1 + u6 ......................................(8) Koefisien yang diharapkan: f2, f3 > 0 ; f1 < 0 ; f4 0 ; 0 < f5 < 1 dimana: QRKt HCDt = produksi rokok kretek tahun ke-t (juta batang) = harga riil cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg)

HJRKt = harga riil jual rokok kretek tahun ke-t (Rp/bungkus) HXRKt = harga riil ekspor rokok kretek tahun ke-t (US$/kg) Tt QRKt-1 = trend waktu = produksi rokok kretek tahun ke-(t-1)

4.2.9. Harga Cengkeh Domestik Persamaan harga cengkeh domestik dapat dinyatakan sebagai berikut: HCDt = go + g1HCIt + g2QCDt + g3CCRt + g4Tt + g5DBPPCt + g6HCDt-1 + u7 ......................................................................(9) Koefisien yang diharapkan: g1, g3 > 0 ; g2, g5 < 0 ; g4 0 ; 0 < g6 < 1 dimana: HCDt HCIt QCDt CCRt Tt = harga riil cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg) = harga riil cengkeh impor tahun ke-t (US$/kg) = produksi cengkeh tahun ke-t (kg) = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-t (ton) = trend waktu

54

DBPPCt = dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC: 1=BPPC, 0=tanpa BPPC HCDt-1 = harga riil cengkeh domestik tahun ke-(t-1) 4.2.10. Harga Cengkeh Impor Persamaan harga cengkeh impor dirumuskan sebagai berikut: HCIt = ho + h1ICDt-1 + h2(NTKt - NTKt-1) + h3HCIt-1 + u8 ....................(10) Koefisien yang diharapkan: h1, h2 > 0 ; 0 < h3 < 1 dimana: HCIt ICDt-1 NTKt HCIt-1 = harga riil cengkeh impor tahun ke-t (US$/kg) = volume cengkeh impor tahun ke-(t-1) (ton) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-t (Rp/US$) = harga riil cengkeh impor tahun ke-(t-1)

4.2.11. Harga Cengkeh Ekspor Persamaan harga cengkeh ekspor dapat dinyatakan sebagai berikut: HCXt = io + i1XCDt + i2NTKt/NTKt-1 + i3HCXt-1 + u9 ..........................(11) Koefisien yang diharapkan: i2 > 0 ; i1 < 0 ; 0 < i3 < 1 dimana: HCXt XCDt NTKt = harga riil cengkeh ekspor tahun ke-t (US$/kg) = volume cengkeh ekspor tahun ke-t (ton) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-t (Rp/US$)

HCXt-1 = harga riil cengkeh ekspor tahun ke-(t-1)

55

4.3.

Evaluasi Model Terdapat tiga kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi model

ekonometrika yaitu: (1) kriteria ekonomi, (2) kriteria statistik, dan kriteria ekonometrika (Koutsoyiannis, 1977). Berdasarkan kriteria ekonomi, model dievaluasi dengan melihat apakah tanda dan besarnya parameter dugaan variabelvariabel penjelas dalam persamaan sesuai dengan hipotesis. Berdasarkan kriteria statistik, akan dilihat besarnya nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai uji F. Pada kriteria ekonometrik lebih diutamakan untuk melihat apakah terdapat hubungan multikolinear pada variabel-variabel penjelas dalam setiap persamaan. Berikut serangkaian evaluasi model yang dilakukan: 4.3.1 Koefisien Determinasi Kesesuaian model (goodness of fit) dihitung dengan nilai koefisien determinasi (R2) (Gujarati, 1997). Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur keragaman variabel dependen yang dapat diterangkan oleh keragaman variabel independen. R2 menunjukkan besarnya keragaman semua variabel independen yang dapat menjelaskan keragaman variabel dependen. Koefisien determinasi dapat dirumuskan sebagai berikut: R2 =

Jumlah Kuadrat regresi Jumlah Kuadrat Galat = 1 Jumlah Kuadrat total Jumlah Kuadrat Total

Selang R2 yang digunakan adalah 0< R2 >1. Jika R2 = 1 maka semua variasi respon dari variabel dependen dapat dijelaskan oleh fungsi regresi, sedangkan jika R2 = 0 berarti tidak satupun variasi pada variabel dependen dapat dijelaskan oleh fungsi regresi. Dalam kenyataannya nilai R2 berada dalam selang antara 0 sampai 1. Nilai koefisien determinasi semakin mendekati 1, maka model tersebut akan semakin baik.

56

4.3.2. Uji-F

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen dalam model secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Gujarati, 1997). Pengujian yang dilakukan menggunakan distribusi F dengan membandingkan antara nilai kritis F dengan nilai F-hitung yang terdapat pada hasil analisis. Langkah-langkah analisis dalam pengujian hipotesis terhadap variasi nilai variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variasi nilai variabel independen adalah sebagai berikut: 1. Perumusan hipotesis H0 : 1 = 2 = 3 = k = 0 atau variasi perubahan nilai variabel independen tidak dapat menjelaskan variasi perubahan nilai variabel dependen. H1 : Minimal ada satu nilai yang tidak sama dengan nol atau variasi perubahan nilai variabel independen dapat menjelaskan variasi perubahan nilai variabel dependen. 2. Perhitungan nilai kritis F-tabel dan F-hitung
Jumlah kuadrat regresi k

Fhitung = dimana:

Jumlah kuadrat sisa

(n - k - 1)

n = jumlah pengamatan (j = 1, 2, 3, ..., n) k = jumlah variabel bebas (i = 1, 2, 3, ..., k) 3. Penentuan penerimaan atau penolakan H0 F hitung < F tabel : terima H0 F hitung > F tabel : tolak H0

57

4.

Apabila keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 maka dapat disimpulkan bahwa variasi perubahan nilai variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi perubahan nilai semua variabel independen. Artinya, semua variabel independen secara bersama-sama dapat berpengaruh terhadap variabel dependen.

4.3.3. Uji-t

Setelah melakukan uji koefisien regresi secara keseluruhan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung koefisien regresi secara individu yaitu pengujian hipotesis dari koefisien regresi masing-masing variabel secara parsial atau terpisah. Pengujian ini dikenal dengan sebutan Uji-t. Nilai t-hitung digunakan untuk menguji apakah koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas secara individu berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel tidak bebasnya (Gujarati, 1997). Adapun analisis pengujiannya sebagai berikut: 1. Perumusan hipotesis H0 : i = 0 H1 : i < 0 atau i > 0; i = 0, 1, 2, ..., k k = koefisien slope Dari hipotesis tersebut dapat terlihat arti dari pengujian yang dilakukan, yaitu berdasarkan data yang tersedia, akan dilakukan pengujian terhadap i, apakah sama dengan nol yang berarti variabel bebas tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat, atau tidak sama dengan nol yang berarti variabel bebas mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

58

2.

Penentuan nilai kritis Dalam pengujian hipotesis terhadap koefisien regresi, nilai kritis dapat ditentukan dengan menggunakan tabel distribusi normal dan dengan memperhatikan tingkat signifikansi () dan banyaknya sampel (n) yang digunakan. t tabel = t ( / 2), (n-k-1)

3.

Menghitung nilai t-hitung koefisien variabel independen

thitung =

i-i
se i

dengan:

i
i

= nilai koefisien regresi = nilai koefisien regresi yang sesuai hipotesis (H0 : i = 0)

se i = simpangan baku untuk i atau standar kesalahan dugaan parameter

4.

Penerimaan atau penolakan H0 Jika t hitung < t tabel maka terima H0 Jika t hitung > t tabel maka tolak H0

5.

Apabila keputusan yang diperoleh adalah tolak H0 maka koefisien i tidak sama dengan nol yang menunjukkan bahwa i nyata atau memiliki nilai yang dapat mempengaruhi nilai dari variabel dependen.

4.4.

Pengukuran Elastisitas

Pengukuran elastisitas dilakukan untuk melihat seberapa besar derajat kepekaan (respon) variabel dependen terhadap perubahan yang terjadi pada variabel independen yang mempengaruhinya. Nilai elastisitas yang digunakan

59

adalah nilai elastisitas jangka pendek dan jangka panjang. Apabila suatu persamaan: Yt = a0 + a1X1t + a2X2t + a3X3t + ... + aiXit , maka 1. Nilai elastisitas jangka pendek dapat diperoleh dari perhitungan berikut:
Yt E (Xi)sr = Xt
X it X it Y t = (ai ) Y t

dimana: E (Yt Xit) = elastisitas variabel Yt terhadap variabel Xit dalam jangka pendek ai
X it
Yt

= koefisien regresi variabel independen Xi = rata-rata variabel independen Xi = rata-rata variabel dependen (Yt)

2.

Nilai elastisitas jangka panjang dapat diperoleh dari perhitungan sebagai berikut: E (Xi)lr = dimana: E (Xi)lr = elastisitas dalam jangka panjang an = nilai koefisien regresi dugaan variabel lag E(Xi)sr 1 - an

Apabila nilai elastisitas lebih besar dari satu (E > 1) dikatakan bahwa variabel endogen elastis (responsif) terhadap perubahan variabel penjelas, karena perubahan satu persen variabel penjelas mengakibatkan perubahan variabel endogen lebih dari satu persen. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1) berarti variabel endogen inelastis (tidak responsif) terhadap perubahan variabel penjelas karena perubahan satu persen variabel penjelas akan mengakibatkan

60

perubahan variabel endogen kurang dari satu persen. Sedangkan nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0) artinya inelastis sempurna, nilai elastisitas tak hingga (E = ~) artinya elastis sempurna, dan jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1) disebut elastis uniter.

4.5.

Validasi Model

Sebelum model diaplikasi terlebih dahulu divalidasi untuk memeriksa apakah model yang diduga dapat merefleksikan dengan baik realitas dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk memunuhi tujuan aplikasi model terutama untuk melakukan simulasi (Sitepu dan Sinaga, 2006). Model divalidasi pada periode tahun 1999-2006. Kriteria statistik yang digunakan untuk validasi model ekonometrika adalah Root Mean Squares Percent Error (RMSPE) dan
Theils Inequality Coefficient adalah sebagai berikut:
1 T Yt s Yt a 100 a T t =1 Yt
2

RMSPE =

U= 1 T dimana: RMSPE U Yts Yta T

1 T
T

(Y
T t =1 s 2 t

Yt a

(Y )
t =1

1 T

(Y )
T t =1 t

a 2

= Akar tengah kuadrat persen galat = Koefisien ketidaksamaan Theil = Nilai simulasi = Nilai aktual = Jumlah pengamatan simulasi

61

Nilai dari koefisien ketidaksamaan Theil (U) bernilai antara 0 dan 1. Jika U = 0 maka pendugaan model adalah sempurna, dan jika U = 1 maka pendugaan model adalah naif. Semakin kecil nilai RMSPE dan U semakin baik pendugaan model.

4.6.

Simulasi Model

Analisis simulasi dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan faktor ekonomi terhadap variabel-variabel endogennya. Analisis simulasi diterapkan pada periode tahun 1999-2006, yang sesuai dengan periode validasi model. Alternatif perubahan faktor ekonomi yang disimulasi adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan harga cengkeh domestik 20 persen. Simulasi dalam penelitian ini diasumsikan peningkatan harga cengkeh domestik sebesar 20 persen. Peningkatan harga cengkeh domestik sebesar 20 persen merupakan rata-rata peningkatan harga cengkeh domestik yang terjadi di dalam negeri dengan melihat perkembangan tahunan (trend) harga cengkeh domestik yang berfluktuasi. 2. Peningkatan harga pupuk 20 persen. Peningkatan harga pupuk dalam kondisi ekonomi normal sebelum adanya penghapusan subsidi pupuk berkisar antara 15-25 persen. Nilai 20 persen adalah nilai tengah dari rentang peningkatan harga pupuk tersebut. 3. Peningkatan suku bunga 20 persen. Sesuai dengan perkembangan inflasi, maka dalam penelitian ini diasumsikan terjadi peningkatan suku bunga sebesar 20 persen. Peningkatan suku bunga sebesar 20 persen merupakan rata-rata

62

peningkatan suku bunga yang terjadi di dalam negeri dengan melihat perkembangan tahunan (trend) suku bunga yang berfluktuasi. 4. Peningkatan harga jual rokok kretek 20 persen. Peningkatan harga jual rokok kretek sebesar 20 persen merupakan rata-rata peningkatan harga jual rokok kretek yang terjadi di dalam negeri dengan melihat perkembangan tahunan (trend) harga jual rokok kretek yang berfluktuasi. 5. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika 20 persen. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar 20 persen mewakili rata-rata depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang terjadi di dalam negeri, sebagai upaya pemerintah untuk memperbaiki kinerja ekspor dan memperoleh tambahan penerimaan devisa. Hal ini biasanya dilakukan dengan kebijakan devaluasi, yang dalam penelitian ini diasumsikan sebesar 20 persen.

4.7.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data time series. Data time series meliputi data tahunan selama 27 tahun (tahun 1980-2006). Semua data yang diperlukan diperoleh dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Badan Pusat Statistik, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia, Bank Indonesia, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi, serta literatur-literatur dan situs-situs yang terkait dengan penelitian ini. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data-data yang

63

digunakan dalam analisis model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia yang disajikan pada Lampiran 4.

4.8.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di daerah Jakarta dan Bogor. Lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di Jakarta dan Bogor terdapat instansi-instansi terkait seperti Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Badan Pengembangan Ekspor Nasional, Badan Pusat Statistik, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia, Bank Indonesia, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi yang menyediakan kebutuhan data yang diperlukan dalam penelitian. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Oktober sampai Desember 2007.

4.9.

Definisi Operasional

1.

Volume produksi cengkeh merupakan jumlah total produksi cengkeh yang dihasilkan dari seluruh pola pengusahaan yang ada di seluruh Indonesia baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta, dan perkebunan besar negara yang dinyatakan dalam satuan kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

2.

Luas areal cengkeh merupakan luas lahan yang digunakan untuk usahatani cengkeh yang meliputi semua pola pengusahaan baik perkebunan rakyat, swasta dan negara yang dinyatakan dalam satuan ha. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

64

3.

Produktivitas cengkeh merupakan pembagian antara produksi cengkeh dengan luas areal cengkeh yang dinyatakan dalam kg/ha. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

4.

Volume impor cengkeh didefinisikan sebagai total volume cengkeh yang diimpor dari pasar internasional tiap tahunnya dan dinyatakan dalam satuan ton. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

5.

Volume ekspor cengkeh didefinisikan sebagai total volume cengkeh yang diekspor ke pasar internasional tiap tahunnya dan dinyatakan dalam satuan ton. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

6.

Penawaran cengkeh merupakan hasil penjumlahan dari produksi cengkeh dan impor cengkeh yang kemudian dikurangi dengan ekspor cengkeh Indonesia ke pasar internasional. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

7.

Konsumsi cengkeh industri rokok kretek adalah jumlah cengkeh yang dikonsumsi/diminta oleh industri rokok kretek dalam satu tahun yang dinyatakan dalam satuan ton. Periode waktu yang digunakan adalah 19802006.

8.

Produksi rokok kretek merupakan jumlah total produksi rokok kretek yang dihasilkan oleh pabrik rokok kretek yang dinyatakan dalam satuan juta batang. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

9.

Harga riil cengkeh domestik adalah harga ditingkat produsen cengkeh setelah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) dan dinyatakan dalam satuan Rp/kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

65

10.

Harga riil cengkeh impor merupakan harga cengkeh impor Indonesia setelah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) yang merupakan hasil bagi antara total nilai impor dengan volume impor yang dinyatakan dengan satuan US$/kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

11.

Harga riil cengkeh ekspor merupakan harga FOB cengkeh Indonesia setelah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) yang merupakan hasil bagi antara total nilai ekspor dengan volume ekspor yang dinyatakan dengan satuan US$/kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

12.

Harga riil pupuk yang digunakan merupakan harga rata-rata pupuk bersubsidi yang telah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) yang dinyatakan dalam Rp/kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

13.

Harga riil jual rokok kretek adalah harga yang diterima konsumen rokok kretek domestik setelah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100), dan dinyatakan dalam satuan Rp/bungkus. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

14.

Harga riil ekspor rokok kretek merupakan harga FOB rokok kretek Indonesia setelah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) yang merupakan hasil bagi antara total nilai ekspor dengan volume ekspor yang dinyatakan dengan satuan US$/kg. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

66

15.

Ukuran nilai tukar rupiah merupakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang telah dideflasi dengan Indeks Harga Konsumen Indonesia (tahun 2002=100) serta dinyatakan dalam Rp/US$. Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

16.

Suku bunga diperoleh dari hasil perhitungan suku bunga nominal dikurangi laju inflasi dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Periode waktu yang digunakan adalah 1980-2006.

17.

Trend waktu merupakan variabel yang mewakili teknologi yang terdiri dari tahun 1980-2006.

18.

Dummy kebijakan tataniaga BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) tahun 1990-1998 merupakan badan yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan kegiatan pembelian, penyanggaan, penjualan cengkeh, dan stabilisasi harga cengkeh di tingkat petani.

19.

Pada komoditas pertanian umumnya dibutuhkan jangka waktu tertentu dalam rangka penyesuaian terhadap perubahan faktor yang

mempengaruhinya, sehingga pada penelitan ini setiap persamaan menggunakan variabel lag endogen.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.

Perkembangan Produksi Cengkeh, Luas Areal Cengkeh, Produktivitas Cengkeh, Volume Impor dan Harga Cengkeh Impor, Volume Ekspor dan Harga Cengkeh Ekspor, Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek, dan Harga Cengkeh Domestik Indonesia Tahun 1980-2006

5.1.1. Produksi Cengkeh Seperti yang terlihat pada Tabel 4, produksi cengkeh Indonesia dari tahun 1980-2006 terlihat adanya fluktuasi dari tahun ke tahun dengan kecenderungan meningkat tiap tahunnya baik perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, maupun perkebunan besar swasta. Sebagai tanaman tahunan, produksi dan produktivitas tanaman cengkeh terus meningkat menurut umur hingga batas waktu tertentu. Hal ini terkait dengan sifat tanaman cengkeh yang termasuk berbunga terminal dalam arti mengenal siklus produksi dimana setiap tiga sampai empat tahun terjadi satu kali berbunga lebat, satu kali berbunga sedang dan satu kali berbunga sedikit. Di sisi lain tanaman cengkeh mengenal kesesuaian lahan dan agroklimat dimana tiap daerah dapat berbeda satu sama lain sehingga jatuh tempo dari siklus produksi dapat bervariasi bagi seluruh wilayah produsen cengkeh di Indonesia. Pengaruh simultan dari faktor tersebut dapat menyebabkan fluktuasi produksi cengkeh nasional (Wahid dalam Yuhono, 1997). Periode tahun 1980 hingga tahun 1989 produksi cengkeh menunjukkan perkembangan yang cenderung meningkat yaitu dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 16.04 persen, hal ini terutama karena adanya peningkatan luas areal cengkeh di berbagai lokasi. Pada periode tersebut produksi cengkeh perkebunan rakyat rata-rata sebesar 47 277 900 kg dengan pertumbuhan rata-rata 15.35 persen, perkebunan besar negara rata-rata 524 900 kg dengan pertumbuhan

68

rata-rata sebesar 301.14 persen, sedangkan perkebunan besar swasta rata-rata 1 030 900 kg dan pertumbuhan rata-rata sebesar 226 persen. Tabel 4. Perkembangan Produksi Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006* 2000-2006 Rata-rata PR (kg) 33 453 000 28 775 000 32 412 000 40 401 000 47 751 000 40 652 000 48 681 000 69 679 000 77 909 000 53 066 000 47 277 900 64 423 000 77 642 000 70 278 000 65 669 000 75 812 000 87 889 000 57 396 000 57 492 000 64 835 000 51 345 000 67 278 100 57 926 000 70 782 000 77 241 000 74 518 000 71 794 000 76 201 000 81 630 000 72 870 290 61 320 440 (%) -13.98 12.64 24.65 18.19 -14.87 19.75 43.13 11.81 -31.89 15.35 21.40 20.52 -9.49 -6.56 15.45 15.93 -34.70 0.17 12.77 -20.81 1.47 12.82 22.19 9.13 -3.53 -3.66 6.14 7.13 7.17 8.09 PBN (kg) 367 000 176 000 217 000 824 000 283 000 301 000 598 000 312 000 1 082 000 1 089 000 524 900 837 000 422 000 462 000 218 000 192 000 148 000 320 000 316 000 343 000 364 000 362 200 343 000 346 000 351 000 354 000 355 000 372 000 372 000 356 143 420 890 (%) -52.04 23.30 279.72 -65.66 6.36 98.67 -47.83 246.80 0.65 301.14 -23.14 -49.58 9.48 -52.81 -11.93 -22.92 116.22 -1.25 8.54 6.12 -2.13 -5.77 0.88 1.45 0.86 0.28 4.79 0 0.35 110.84 PBS (kg) 398 000 401 000 180 000 603 000 854 000 1 037 000 1 349 000 1 011 000 2 233 000 2 243 000 1 030 900 1 652 000 2 189 000 2 384 000 1 479 000 2 375 000 1 970 000 1 763 000 1 384 000 1 999 000 1 194 000 1 838 900 1 609 000 1 557 000 1 417 000 1 599 000 1 688 000 1 777 000 1 780 000 1 632 429 1 486 110 (%) 0.75 -55.11 235 41.63 21.43 30.09 -25.06 120.87 0.45 226.00 -26.35 32.51 8.91 -37.96 60.58 -17.01 -10.51 -21.50 44.44 -40.27 -0.72 34.76 -3.23 -8.99 12.84 5.57 5.27 0.17 6.63 85.16 Total (kg) 34 218 000 29 352 000 32 809 000 41 828 000 48 888 000 41 990 000 50 628 000 71 002 000 81 224 000 56 398 000 48 833 700 66 912 000 80 253 000 73 124 000 67 366 000 78 379 000 90 007 000 59 479 000 59 192 000 67 177 000 52 903 000 69 479 200 59 878 000 72 685 000 79 009 000 76 471 000 73 837 000 78 350 000 83 782 000 74 858 857 63 227 440 (%) -14.22 11.78 27.49 16.88 -14.11 20.57 40.24 14.40 -30.57 16.04 18.64 19.94 -8.88 -7.87 16.35 14.84 -33.92 -0.48 13.49 -21.25 1.08 13.19 21.39 8.70 -3.21 -3.44 6.11 6.93 7.10 8.18

Sumber:Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006 (diolah) *): Data Sementara Keterangan: PR PBN PBS = Perkebunan Rakyat = Perkebunan Besar Negara = Perkebunan Besar Swasta

Peningkatan produksi cengkeh pada periode tahun 1980-1989 disebabkan oleh relatif tingginya harga cengkeh di pasar dalam negeri pada saat itu, disamping adanya dorongan dari pemerintah melalui beberapa paket kebijakan

69

yang diterapkan melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi (Rumagit, 2007). Untuk mengurangi dampak kelebihan produksi, maka pada tahun 1992 pemerintah melakukan upaya diversifikasi tanaman melalui Keppres RI No. 20 Tahun 1992 dan menetapkan sepuluh propinsi yaitu D. I. Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku sebagai daerah utama pemasok cengkeh untuk pabrik rokok kretek. Upaya diversifikasi tampaknya belum mampu mengurangi laju

peningkatan produksi, sehingga dilakukan lagi upaya konversi melalui Inpres No. 14 tahun 1996. Akibatnya terjadi pengurangan jumlah tanaman, luas areal, dan penurunan produksi yang cukup tajam. Keadaan yang makin memperparah kondisi tanaman cengkeh adalah akibat harga jual di tingkat petani yang jauh lebih rendah dari ongkos panen, sehingga petani tidak memanennya dan berlangsung cukup lama. Dampak lebih lanjut adalah kerusakan dan kematian tanaman cengkeh dalam jumlah yang cukup banyak seperti yang terjadi dari tahun 1990-1999 (Kemala, Et. al, 2001). Sehingga periode 1990-1999 produksi cengkeh Indonesia menurun menjadi 1.08 persen dibandingkan periode sebelumnya yaitu tahun 1980-1989 yang mampu mengalami laju pertumbuhan sebesar 16.04 persen. Produksi cengkeh dalam negeri tahun 2000-2006 kembali meningkat dengan rata-rata nilai sebesar 74 858 857 kg, dikarenakan mulai membaiknya harga cengkeh di dalam negeri, terutama sejak dibubarkannya BPPC pada tahun 1998. Meskipun harga cengkeh relatif cukup baik, akan tetapi petani kurang dapat menikmati kenaikan harga cengkeh tersebut karena produksi yang diperoleh umumnya rendah yaitu hanya sebesar 7.10 persen (Dirjen Perkebunan, 2006).

70

Secara keseluruhan, pada periode tahun 1980-2006 produksi cengkeh Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 8.18 persen dengan pertumbuhan produksi cengkeh tertinggi dicapai oleh perkebunan besar negara sebesar 110.84 persen kemudian diikuti oleh perkebunan besar swasta sebesar 85.16 persen dan perkebunan rakyat 8.90 persen. Fluktuasi perkembangan produksi cengkeh ini diakibatkan karena terjadinya peningkatan luas areal cengkeh yang menghasilkan dan adanya siklus produksi, dimana setiap tiga sampai empat tahun terjadi satu kali berbunga lebat, satu kali berbunga sedang dan satu kali berbunga sedikit (Taruli, 2002). 5.1.2. Luas Areal Cengkeh Perkembangan luas areal cengkeh Indonesia pada periode 1980-2006 berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat meskipun dengan laju

pertumbuhan rata-rata hanya sebesar 1.22 persen (Tabel 5). Pada periode tahun 1980-1989 rata-rata luas areal perkebunan Indonesia sebesar 611 684.2 hektar dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 7.45 persen. Pada periode tersebut luas areal perkebunan rakyat rata-rata sebesar 591 265.6 hektar dengan pertumbuhan rata-rata 7.55 persen, perkebunan besar negara rata-rata 5 100 hektar dengan pertumbuhan rata-rata sebesar -0.99 persen, sedangkan perkebunan besar swasta rata-rata 15 318.6 hektar dan pertumbuhan rata-rata sebesar 8.48 persen. Sejak tahun 1980 luas areal cengkeh terus meningkat hingga tahun 1987 yang mencapai luas sekitar 742 269 hektar. Selanjutnya dari tahun 1988 kecenderungan luas areal cengkeh terus menurun hingga tahun 2000 luas areal cengkeh hanya sekitar 415 598 hektar atau mengalami penurunan sebesar 4.32 persen. Hal ini disebabkan karena luas areal

71

cengkeh untuk mencapai swasembada sejak tahun 1981 dirasa sudah cukup, sehingga peningkatan luas areal hanya oleh sebagian petani cengkeh dalam skala kecil. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada tahun 1983, bahkan terlampaui. Akan tetapi bersamaan dengan itu terjadi penurunan harga dan penurunan luas areal perkebunan cengkeh Indonesia sampai dengan tahun 1999. Tabel 5. Perkembangan Luas Areal Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006* 2000-2006 Rata-rata PR (ha) 391 445 494 815 511 216 551 717 587 774 642 664 656 414 722 689 672 398 681 524 591 265.6 672 607 650 407 592 446 556 496 520 012 491 563 479 379 447 549 419 827 407 149 523 743.5 407 010 420 341 421 589 433 885 429 728 438 771 445 307 428 090.1 509 900.8 (%) 26.41 3.32 7.92 6.54 9.34 2.14 10.10 -6.96 1.36 7.55 -1.31 -3.30 -8.91 -6.07 -6.56 -5.47 -2.48 -6.64 -6.19 -3.02 -5.00 -0.03 3.28 2.30 2.92 -0.96 2.10 1.49 1.30 1.28 PBN (ha) 5 481 5 333 5 236 4 754 4 996 4 781 5 823 5 195 4 659 4 742 5 100 3 968 3 298 3 086 2 307 2 221 504 1 914 1 928 1 860 1 860 2 294.6 1 860 1 860 1 865 1 865 1 865 1 865 1 865 1 863.6 3 221.9 (%) -2.70 -1.82 -9.21 5.09 -4.30 21.80 -10.79 -10.32 1.78 -1.00 -16.32 -16.89 -6.43 -25.24 -3.73 -77.31 279.76 0.73 -3.53 0 13.11 0 0 0.27 0 0 0 0 0.04 4.50 PBS (ha) 11 176 16 986 14 417 16 174 15 512 16 030 17 072 14 385 15 708 15 726 15 318.6 16 107 14 499 12 818 12 244 12 143 9 756 10 420 8 065 7 048 6 850 10 995 6 728 7 099 6 758 6 583 6 660 8 221 8 221 7 181.4 11 607.6 (%) 51.99 -15.12 12.19 -4.09 3.34 6.50 -15.74 9.20 0.12 8.48 2.42 -9.98 -11.60 -4.48 -0.83 -19.66 6.81 -22.60 -12.61 -2.81 -7.53 -1.78 5.51 -4.80 -2.59 1.17 23.44 0 2.99 1.13 Total (ha) (%) 408 102 517 134 26.72 530 869 2.66 572 645 7.87 608 282 6.22 663 475 9.07 679 309 2.39 742 269 9.27 692 765 -6.67 701 992 1.33 611 684.2 7.44 692 682 -1.33 668 204 -3.53 608 350 -8.96 571 047 -6.13 534 376 -6.42 501 823 -6.09 491 713 -2.02 457 542 -6.95 428 735 -6.30 415 859 -3.00 537 033.1 -5.07 415 598 -0.06 429 300 3.30 430 212 0.21 442 333 2.82 438 253 -0.92 448 858 2.42 455 393 1.46 437 135.3 1.32 538 782.2 1.22

Sumber:Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006 (diolah) *): Data Sementara Periode 1990-1999 perkembangan luas areal perkebunan cengkeh Indonesia terus menurun dengan laju penurunan sebesar 5.07 persen. Hal ini

72

dikarenakan pada tahun 1991 pemerintah membentuk Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) untuk mengatur tataniaga cengkeh, namun usaha pemerintah tidak berhasil, yang diindikasikan oleh harga yang tidak kunjung membaik, sehingga petani menelantarkan tanamannya bahkan menebang tanamannya dan menggantikannya dengan tanaman perkebunan lain yang dianggap lebih menguntungkan. Hal ini merupakan salah satu penyebab berkurangnya luas areal cengkeh secara drastis (Siregar dan Suhendi, 2006). Penyebab lain berkurangnya luas areal cengkeh adalah meluasnya areal tanaman cengkeh yang rusak akibat serangan hama dan penyakit serta kemarau panjang (GAPPRI, 2006). Selain itu, akibat adanya kelebihan produksi pada tahun 1990-an dan harga cengkeh terus menurun, maka pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi luas areal cengkeh tahun 1992 yang diatur dalam Keppres RI No 20 Tahun 1992 dan terus berlanjut hingga tahun 2000 (Sinaga dan Pakasi, 1999). Mulai tahun 2000 dengan membaiknya harga, telah terjadi pertumbuhan luas areal dari tahun 2001 (429 300 hektar) hingga tahun 2006 menjadi 455 393 hektar meskipun dengan jumlah yang kecil yaitu rata-rata sebesar 1.55 persen. Pengusahaan cengkeh sebagian besar tersebar di 14 propinsi sentra penghasil cengkeh (Lampiran 3). Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 419 115 hektar (94 persen) menyebar di 14 propinsi dan 6 persen menyebar di propinsi lainnya. Usaha budidaya tanaman cengkeh mayoritas dikelola oleh perkebunan rakyat. Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa dari areal perkebunan cengkeh Indonesia seluas 455 393 hektar, 98 persen (445 308 hektar) dikelola oleh perkebunan rakyat dan sisanya 2 persen (10 085 hektar) dikelola oleh perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta.

73

5.1.3. Produktivitas Cengkeh Pada periode 1980-1989 produktivitas cengkeh perkebunan rakyat rata-rata sebesar 78.905 kg/ha dengan pertumbuhan rata-rata 7.56 persen, perkebunan besar negara rata-rata 105.898 kg/ha dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 305.26 persen, sedangkan perkebunan besar swasta rata-rata 66.282 kg/ha dan pertumbuhan rata-rata sebesar 165.53 persen (Tabel 6). Tabel 6. Perkembangan Produktivitas Cengkeh Indonesia Menurut Status Pengusahaan Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006* 2000-2006 Rata-rata PR (kg/ha) 85.460 58.153 63.402 73.228 81.240 63.255 74.162 96.416 115.867 77.864 78.905 95.781 119.374 118.623 118.004 145.789 178.795 119.730 128.460 154.433 126.109 130.510 142.321 168.392 183.214 171.746 0.167 0.174 0.183 95.171 102.235 (%) -31.95 9.03 15.50 10.94 -22.14 17.24 30.01 20.17 -32.80 7.56 23.01 24.63 -0.63 -0.52 23.55 22.64 -33.04 7.29 20.22 -18.34 6.88 12.86 18.32 8.80 -6.26 -99.90 3.95 5.55 8.10 3.25 PBN (kg/ha) 66.959 33.002 41.444 173.328 56.645 62.958 102.696 60.058 232.239 229.650 105.898 210.938 127.956 149.708 94.495 86.448 293.651 167.189 163.900 184.409 195.699 167.439 184.409 186.022 188.204 189.812 190.349 199.464 199.464 191.103 150.781 (%) -50.71 25.58 318.22 -67.32 11.14 63.12 -41.52 286.70 -1.12 305.26 -8.15 -39.34 17.00 -36.88 -8.52 239.69 -43.07 -1.97 12.51 6.12 13.74 -5.77 0.88 1.17 0.86 0.28 4.79 0 0.32 118.23 PBS (kg/ha) 35.612 23.608 12.485 37.282 55.054 64.691 79.018 70.282 142.157 142.630 66.282 102.564 150.976 185.988 120.794 195.586 201.927 169.194 171.606 283.627 174.307 175.657 239.150 219.327 209.677 242.898 253.453 216.154 216.519 228.168 148.762 (%) -33.71 -47.11 198.61 47.67 17.51 22.15 -11.06 102.27 0.33 165.53 -28.09 47.20 23.19 -35.05 61.92 3.24 -16.21 1.43 65.28 -38.54 8.42 37.20 -8.29 -4.40 15.84 4.35 -14.72 0.17 4.31 65.55

Sumber:Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006 (diolah) *): Data Sementara

74

Tahun 1979 terjadi panen kecil terburuk dimana produktivitas cengkeh perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta masing-masing hanya 2.567 kg/ha dan 2.441 kg/ha yang kemudian meningkat kembali pada tahun 1980 dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 2 508.52 persen dan 1 358.67 persen. Sedangkan pada perkebunan rakyat produktivitas cengkeh hanya meningkat sebesar 59.61 persen, hal ini dikarenakan adanya peningkatan luas areal perkebunan cengkeh sebesar 15.33 persen tetapi tidak diiringi dengan peningkatan jumlah produksi seperti yang terjadi pada perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta. Indonesia dinyatakan berhasil mencapai swasembada cengkeh pada tahun 1983 dengan produktivitas terbesar dicapai oleh perkebunan besar negara sebesar 173.328 kg/ha dengan laju pertumbuhan 318.22 persen kemudian diikuti oleh perkebunan besar swasta sebesar 37.282 kg/ha dan laju pertumbuhan 198.61 persen sedangkan perkebunan rakyat sebesar 73.228 kg/ha tetapi dengan laju pertumbuhan hanya 15.5 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan produktivitas cengkeh ini terus berlanjut hingga tahun 1988, namun pada tahun 1989 produktivitas cengkeh kembali menurun dengan penurunan terbesar terjadi pada perkebunan rakyat mencapai 32.80 persen. Produktivitas cengkeh perkebunan rakyat ini rendah disebabkan karena keterbatasan modal yang dimiliki petani sehingga mereka tidak mampu mengelola usahatani cengkeh dengan baik (Kemala dalam Taruli, 2002). Periode 1990-1999 perkembangan produktivitas cengkeh Indonesia menurun dibandingkan periode 1980-1989 yaitu perkebunan rakyat hanya mengalami pertumbuhan rata-rata 6.88 persen dengan rata-rata jumlah sebesar

75

130.510 kg/ha, perkebunan besar negara 13.74 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 167.439 kg/ha dan perkebunan besar swasta 8.42 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 175.657 kg/ha. Produktivitas cengkeh tertinggi dicapai pada tahun 1995 atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dengan total luas areal cengkeh sebesar 501 823 hektar dan total produksi cengkeh sebesar 90 007 000 kg. Hal ini diakibatkan pada tahun 1995 terjadi panen besar/raya dan luas areal cengkeh menurun (-6.09 persen) sedangkan pertumbuhan produksi cengkeh meningkat (14.84 persen) (Taruli, 2002). Selanjutnya produktivitas cengkeh terus menurun hingga tahun 1999 dengan perkebunan rakyat mengalami pertumbuhan yang negatif yaitu rata-rata 18.34 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 126.109 kg/ha, perkebunan besar negara 6.12 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 195.699 kg/ha dan perkebunan besar swasta -38.54 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 174.307 kg/ha. Hal ini terkait dengan siklus 2 - 4 tahunan tanaman cengkeh, dimana produksi yang tinggi pada satu tahun tertentu diikuti dengan penurunan produksi pada 1 2 tahun berikutnya (Husodo, 2006). Tahun 2004 perkebunan rakyat mengalami penurunan produktivitas menjadi 0.167 kg/ha atau dengan laju penurunan sebesar 99.90 persen dibandingkan dengan tahun 2003 yang jumlah produktivitasnya mampu mencapai 171.746 kg/ha. Secara keseluruhan yaitu pada periode tahun 2000-2006 produktivitas cengkeh Indonesia terus menurun dengan perkebunan rakyat hanya mengalami pertumbuhan rata-rata 8.10 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 95.171 kg/ha, perkebunan besar negara 0.32 persen dengan rata-rata jumlah sebesar 191.103 kg/ha dan perkebunan besar swasta 4.31 persen dengan rata-rata

76

jumlah sebesar 228.168 kg/ha. Produktivitas tanaman cengkeh di Indonesia umumnya masih rendah, yaitu berkisar antara 125-250 kg/ha, sedangkan potensinya dapat mencapai 500-800 kg/ha. Rendahnya produktivitas tersebut dikarenakan permodalan petani yang kurang, sehingga petani tidak dapat melakukan pemeliharaan dengan baik, antara lain tidak melakukan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu, meskipun harga cengkeh pada akhir-akhir ini (tahun 2001-2006) relatif cukup baik, akan tetapi petani kurang dapat menikmati kenaikan harga cengkeh tersebut karena produksi yang diperoleh umumnya rendah dan pemeliharan yang kurang memenuhi anjuran (Dirjen Perkebunan, 2006). Secara keseluruhan, pada periode tahun 1980-2006 pertumbuhan produktivitas cengkeh Indonesia tertinggi dicapai oleh perkebunan besar negara sebesar 118.23 persen kemudian diikuti oleh perkebunan besar swasta dan perkebunan rakyat masing-masing sebesar 65.55 persen dan 3.25 persen. 5.1.4. Volume Impor dan Harga Cengkeh Impor Fluktuasi nilai impor cengkeh ditentukan oleh volume dan harga cengkeh impor. Perkembangan volume dan harga cengkeh impor Indonesia pada periode 1980-2006 cenderung berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat meskipun secara keseluruhan rata-rata impor cengkeh Indonesia sebesar 4 123.111 ton dengan laju pertumbuhan 109 122.78 persen dan rata-rata harga cengkeh impor Indonesia sebesar 8.307 US$/kg dengan laju pertumbuhan hanya 12.98 persen (Tabel 7).

77

Tabel 7. Perkembangan Volume, Nilai dan Harga Cengkeh Impor Indonesia Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2000-2006 Rata-rata Volume (ton) 9 510 14 492 7 998 3 2 13 725 2 189 1 996 6 12 4 993.3 8 3 6 5 3 4 0 0 1 22 610 2 264 20 873 16 899 796 172 9 1 1 5 535.857 4 123.111 Impor Nilai (000US$) 60 921 120 014 70 156 69 56 47 401 7 829 14 003 113 217 32 077.9 144 34 72 89 46 54 0 1 1 40 067 4 050.8 52 390 17 365 653 151 8 1 1 10 081.3 15 994.670 Pertumbuhan (%) Harga (US$/kg) 6.406 8.282 8.772 23.000 28.000 3.454 3.577 7.016 18.833 18.083 12.540 18.000 11.333 12.000 17.800 15.333 13.500 0 0 1.000 1.772 9.070 2.510 1.028 0.820 0.878 0.889 1.000 1.000 1.160 8.307 Volume 52.39 -44.81 -99.96 -33.33 686 150 -84.05 -8.82 -99.70 100 68 591.82 -33.33 -62.50 100 -16.67 -40 33.33 -100 0 0 2 260 900 226 078.08 -7.68 -19.04 -95.29 -78.39 -94.77 -88.89 0 -54.87 109 122.78 Nilai 96.99 -41.54 -99.90 -18.84 84 544.64 -83.48 78.86 -99.19 92.04 8 445.91 -33.64 -76.39 111.77 23.61 -48.32 17.39 -100 0 0 4 006 600 400 649.44 30.76 -66.85 -96.24 -76.88 -94.70 -87.50 0 -55.92 151 502.30 Harga 29.28 5.92 162.21 21.74 -87.67 3.56 96.16 168.45 -3.98 39.92 -0.46 -37.04 5.88 48.33 -13.86 -11.96 -100.00 0 0 77.21 -3.19 41.64 -59.06 -20.17 7.02 1.25 12.50 0 -2.40 12.98

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2006 Periode 1980-1989 rata-rata impor cengkeh mencapai 4 993.3 ton dengan laju pertumbuhan sebesar 68 591.82 persen. Rata-rata laju pertumbuhan dan harga cengkeh impor pada periode yang sama sebesar 39.92 persen dan 12.54 US$/kg. Sebelum mencapai swasembada, Indonesia banyak melakukan impor cengkeh seperti yang terjadi pada tahun 1981 sebesar 14 492 ton. Setelah swasembada cengkeh tercapai, impor cengkeh kembali menurun meskipun pada tahun 1985 impor cengkeh kembali meningkat menjadi 13 725 ton dikarenakan pada saat itu

78

terjadi panen kecil, sehingga untuk memenuhi kebutuhan cengkeh dalam negeri yaitu sebagai bahan baku industri rokok kretek, maka Indonesia kembali melakukan impor cengkeh. Periode 1990-1999 rata-rata impor cengkeh Indonesia sebesar 2 264 ton dan laju pertumbuhan sebesar 226 078.08 persen tetapi dengan harga cengkeh impor yang mengalami penurunan sebesar 3.19 persen dan rata-rata harga impor hanya 9.07 US$/kg, dikarenakan pada periode tersebut terdapat kelebihan penawaran cengkeh di pasar domestik, juga sekaligus periode beroperasinya BPPC. Pada tahun 1996-1997 Indonesia tidak melakukan impor cengkeh. Impor cengkeh kembali meningkat pada tahun 1999 karena rendahnya produksi dalam negeri yang tidak mampu memenuhi permintaan cengkeh khususnya sebagai bahan baku industri rokok kretek. Periode tahun 2000-2006 volume impor cengkeh Indonesia hanya sebesar 5 535.857 ton dengan laju pertumbuhan sebesar -54.87 persen. Rata-rata harga cengkeh impor adalah 1.16 US$/kg dan laju pertumbuhan harga cengkeh impor yang negatif yaitu 2.4 persen. Pada saat panen kecil pada tahun 1999-2001, impor cengkeh kembali meningkat. Namun sejak tahun 2002 impor cengkeh Indonesia mengalami penurunan sebesar 95.29 persen dibandingkan tahun sebelumnya karena adanya Surat Keputusan Menperindag No.528/MPP/Kep/7/2002 tentang pengendalian impor cengkeh yang mengatur bahwa importir cengkeh adalah industri pengguna cengkeh yang memiliki Angka Pengenal Impor Produsen (API-P) atau Angka Pengenal Impor Terbatas (API-T) yang disetujui untuk mengimpor cengkeh yang diperlukan semata-mata untuk proses produksinya. Hal

79

ini terus berlanjut hingga tahun 2006, sehingga impor cengkeh Indonesia hanya sebesar satu ton. 5.1.5. Volume Ekspor dan Harga Cengkeh Ekspor Volume dan harga cengkeh ekspor Indonesia selalu berfluktuasi setiap tahunnya. Secara keseluruhan pada periode tahun 1980-2006 pertumbuhan ratarata volume ekspor cengkeh Indonesia sebesar 244.28 persen dan pertumbuhan rata-rata harga cengkeh ekspor sebesar 15.31 persen (Tabel 8). Periode tahun 1980-1989 rata-rata volume ekspor sebesar 1 064.4 ton dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 93.16 persen. Pada tahun 1984 volume ekspor cengkeh meningkat menjadi 1 584 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 341 ton atau mengalami pertumbuhan sebesar 364.52 persen. Peningkatan volume ekspor tahun 1984 dikarenakan tercapainya swasebada cengkeh serta terjadinya peningkatan harga cengkeh dari 2.886 US$/kg tahun 1983 menjadi 4.073 US$/kg pada tahun 1984. Periode tahun 1990-1999 rata-rata volume ekspor cengkeh Indonesia adalah 2739.6 ton dengan laju pertumbuhan sebesar 538.99 persen. Harga ekspor cengkeh pada periode yang sama mengalami peningkatan sebesar 26.08 persen dibandingkan periode sebelumnya yaitu tahun 1980-1989 yang hanya mampu mengalami laju pertumbuhan sebesar 2.3 persen. Pada periode ini yaitu pada tahun 1996 terjadi penurunan volume ekspor terbesar yaitu menjadi 230 ton dengan laju penurunan 53.06 persen. Tetapi pada periode yang sama yaitu pada tahun 1998 terjadi volume ekspor tertinggi yang mencapai 20 157 ton dengan laju pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5 562.08 persen. Hal ini

80

disebabkan karena pada saat itu terjadi panen besar/raya di dalam negeri dan didukung dengan besarnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Tabel 8. Perkembangan Volume, Nilai dan Harga Cengkeh Ekspor Indonesia Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2000-2006 Rata-rata Volume (ton) 39 51 81 341 1 584 1 071 1 818 1 836 2 568 1 255 1 064.4 1 105 1 118 794 700 670 490 230 356 20 157 1 776 2 739.6 4 655 6 324 9 399 15 688 9 060 7 680 9 059 8 837.86 3 700.185 Ekspor Nilai (000US$) 121 102 257 984 6 452 2 977 3 822 3 044 4 267 1 963 2 398.9 2 035 2 312 1 157 1 109 1 917 1 728 48 221 14 115 1 636 2 627.8 8 281 10 670 25 973 24 929 16 037 14 916 17 455 16 894.43 6 241.778 Pertumbuhan (%) Harga (US$/kg) 3.103 2.000 3.173 2.886 4.073 2.780 2.102 1.658 1.662 1.564 2.500 1.842 2.068 1.457 1.584 2.861 3.527 0.209 0.621 0.700 0.921 1.580 1.779 1.687 2.763 1.589 1.770 1.942 1.927 1.920 2.009 Volume 30.77 58.82 320.99 364.52 -32.39 69.75 0.99 39.87 -51.13 93.16 -11.95 1.18 -28.98 -11.84 -4.29 -26.87 -53.06 54.78 5 562.08 -91.19 538.99 162.11 35.85 48.62 66.91 -42.25 -15.23 17.96 39.14 244.28 Nilai -15.70 151.96 282.88 555.69 -53.86 28.38 -20.36 40.18 -54.00 116.09 3.67 13.61 -49.96 -4.15 72.86 -9.86 -97.22 360.42 628.88 -88.41 648.78 406.17 28.85 143.42 -4.02 -35.67 -6.99 17.02 78.40 303.61 Harga -35.54 58.64 -9.05 41.16 -31.76 -24.37 -21.14 0.22 -5.87 2.30 17.74 12.29 -29.54 8.72 80.60 23.25 -94.08 197.46 12.80 31.55 26.08 93.12 -5.16 63.78 -42.50 11.39 9.72 -0.79 18.51 15.31

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2006 Periode tahun 2000-2006 rata-rata volume ekspor dan harga cengkeh ekspor meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Rata-rata volume ekspor sebesar 8 837.86 ton dengan laju pertumbuhan rata-rata 39.14 persen. Rata-rata harga cengkeh ekspor sebesar 1.92 US$/kg dan laju pertumbuhan yaitu 18.51 persen. Pada periode tersebut juga terjadi peningkatan ekspor pada tahun

81

2003 sebesar 15 688 ton yang dikarenakan adanya panen besar/raya di dalam negeri. 5.1.6. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek Berdasarkan penggunaannya sebanyak 85-95 persen konsumsi cengkeh di Indonesia digunakan untuk industri rokok kretek sedangkan sisanya diserap oleh industri farmasi, makanan, maupun rumahtangga. Konsumsi cengkeh oleh rumahtangga umumnya relatif stabil yaitu sebesar 0.001 ons/kapita/minggu (BPS, 2006). Sehingga yang dimaksud dengan konsumsi cengkeh dalam penelitian ini adalah jumlah konsumsi cengkeh yang digunakan sebagai bahan baku industri rokok kretek domestik. Kebutuhan cengkeh oleh pabrik rokok kretek tergantung pada besarnya kandungan cengkeh jenis-jenis rokok kretek yang diproduksi, dapat dilihat pada Tabel 9. Kemala (2004), menyatakan bahwa kandungan cengkeh oleh LPEM-UI lebih mendekati kebenaran, sehingga dalam penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari LPEM-UI. Tabel 9. Kandungan Cengkeh dalam Rokok Kretek yang Digunakan Pabrik Rokok Kretek (mg/batang) Jenis Rokok Kretek Lembaga Sigaret Kretek Sigaret Kretek Klobot (KLB) Tangan (SKT) Mesin (SKM) LPEM-UI 636 422 880 GAPPRI 800 600 1000 Sumber: Kemala, 2004 Konsumsi cengkeh pabrik rokok kretek dipengaruhi oleh besarnya kandungan cengkeh dalam setiap jenis rokok kretek yang diproduksinya. Pada dasarnya, besarnya kandungan cengkeh dalam sebatang rokok, tergantung pada beberapa faktor, berikut ini: (1) jenis, (2) ukuran batang, (3) merek rokok kretek, dan (4) harga cengkeh. Pada rokok jenis SKM, kadar kandungan cengkehnya

82

paling rendah, diikuti rokok jenis SKT, dan yang paling tinggi adalah rokok jenis klobot. Ukuran yang meliputi besar kecil dan panjang pendek batang rokok kretek akan mempengaruhi bobot rokok kretek serta kandungan cengkehnya. Umumnya rokok jenis SKM paling ringan, kemudian rokok jenis SKT dan klobot yang paling berat. Keragaman kandungan cengkeh antar berbagai jenis merek rokok kretek bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan selera dan preferensi konsumen. Tingkat harga cengkeh dapat mempengaruhi besarnya kandungan cengkeh dalam rokok kretek. Selanjutnya, kandungan cengkeh yang terdapat pada rokok kretek jenis SKT dan KLB, lebih tinggi dibandingkan rokok jenis SKM. Bahwa rentangan campuran (blending) cengkeh-tembakau dalam rokok kretek ada batasnya. Kurang dari batas terendah, dikhawatirkan kekhasan aroma cengkeh akan hilang dari rokok kretek. Dengan demikian kekhawatiran akan terus menurunnya kadar kandungan cengkeh dalam rokok kretek kurang tampak beralasan, ini berarti konsumsi cengkeh pun akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya volume produksi rokok kretek (Gonarsyah dalam Rumagit, 2007). Pada Tabel 10 terlihat bahwa secara rataan dari tahun 1980-2006, pertumbuhan konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun sebesar 4.83 persen per tahun, hal ini sejalan dengan pertumbuhan produksi rokok kretek nasional pada periode yang sama yaitu sebesar 5.52 persen. Periode 1980-1989 konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek meningkat rata-rata sebesar 8.45 persen dengan peningkatan produksi rokok kretek sebesar 10.65 persen. Tahun 1990-1999 rata-rata konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek mengalami pertumbuhan sebesar 3.38 persen

83

dan produksi rokok kretek hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2.96 persen. Sedangkan tahun 2000-2006 laju pertumbuhan konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek meningkat sebesar 2.24 persen dimana produksi rokok kretek juga meningkat sebesar 2.57 persen. Tabel 10. Perkembangan Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek dan Produksi Rokok Kretek Indonesia Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2000-2006 Rata-rata Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek (ton) (%) 30 927.832 36 158.578 0.17 35 136.410 -0.03 38 297.632 0.09 42 075.802 0.10 45 951.786 0.09 51 310.656 0.12 57 183.432 0.12 61 906.330 0.08 63 492.854 0.03 46 244.131 8.45 68 358.564 0.08 66 659.056 -0.03 68 067.216 0.02 70 252.826 0.03 70 215.693 -0.01 78 598.399 0.12 83 552.410 0.06 87 609.592 0.05 83 075.142 -0.05 87 609.502 0.06 76 399.840 3.38 96 643.692 0.10 97 508.100 0.01 90 675.786 -0.07 87 343.456 -0.04 95 343.976 0.09 106 124.556 0.11 100 502.438 -0.05 96 306.001 2.24 70 391.915 4.83 Produksi Rokok Kretek (juta batang) (%) 52 766 64 255 0.22 61 673 -0.04 67 979 0.10 76 423 0.12 86 588 0.13 99 303 0.15 113 015 0.14 124 221 0.10 128 819 0.04 87 504.2 10.65 140 159 0.09 134 520 -0.04 138 879 0.03 143 886 0.04 143 230 -0.01 160 366 0.12 170 435 0.06 180 428 0.06 165 424 -0.08 169 762 0.03 154 708.9 2.96 185 548 0.09 187 332 0.01 173 909 -0.07 170 597 -0.02 188 292 0.10 211 249 0.12 199 132 -0.06 188 008.4 2.57 138 451.5 5.52

Sumber: Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia, 2006 (diolah) 5.1.7. Harga Cengkeh Domestik Harga cengkeh domestik selalu berfluktuasi setiap tahunnya, seperti terlihat pada Tabel 11. Fluktuasi harga cengkeh domestik ini tidak terlepas dari

84

berbagai kebijakan yang pernah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengatur kegiatan produksi maupun tataniaga cengkeh. Kebijakan ini telah dilakukan sejak tahun 1969 hingga tahun 2002 seperti terdapat pada Lampiran 1 dan terakhir adalah peraturan mengenai pengendalian impor cengkeh tahun 2002. Tabel 11. Perkembangan Harga Cengkeh Domestik Tahun 1980-2006
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1980-1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 1990-1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2000-2006 Rata-rata Harga Domestik (Rp/kg) 10 000 9 150 9 750 7 600 9 100 11 000 7 000 6 440 5 720 5 010 8 077 6 280 6 150 3 650 2 570 2 680 2 720 2 820 3 800 7 420 20 000 5 809 30 875 57 698 64 320 20 990 26 570 31 791 35 871 38 302.14 15 073.15 Pertumbuhan (%) -8.50 6.56 -22.05 19.74 20.88 -36.36 -8.00 -11.18 -12.41 -5.70 25.35 -2.07 -40.65 -29.59 4.28 1.49 3.68 34.75 95.26 169.54 26.21 54.38 86.88 11.48 -67.37 26.59 19.65 12.83 20.63 13.66

Sumber: Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2006 Periode tahun 1980-1989 rata-rata harga cengkeh domestik sebesar 8 077 Rp/kg dengan rata-rata pertumbuhan yang menurun yaitu sebesar 5.7 persen. Periode selanjutnya yaitu tahun 1990-1999 rata-rata pertumbuhan dan harga cengkeh domestik masing-masing sebesar 26.21 persen dan 5 809 Rp/kg. Pada

85

periode ini adalah periode beroperasinya BPPC yang mengatur tataniaga cengkeh, sehingga harga dasar cengkeh telah ditetapkan. Namun setelah BPPC dibubarkan pada tahun 1998, harga cengkeh domestik mengalami peningkatan yaitu dari 7 420 Rp/kg pada tahun 1998 menjadi 20 000 Rp/kg pada tahun 1999 atau meningkat sebesar 169.54 persen. Periode tahun 2000 hingga tahun 2006 rata-rata harga cengkeh domestik sebesar 38 302.14 Rp/kg atau meningkat sebesar 20.63 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. Namun pada tahun 2003 harga cengkeh kembali menurun. Fenomena turunnya harga cengkeh secara drastis pada tahun 2003 yang dimulai pada akhir bulan Juni 2002 hingga harga sempat mencapai 20 000 Rp/kg. Indonesia merupakan negara besar dalam perdagangan internasional cengkeh, sehingga fluktuasi produksi dan konsumsi, yang bisa terjadi karena faktor alam, aspek perilaku industri, maupun aspek kebijakan domestik, dapat mempengaruhi tatanan perdagangan tersebut. Sejak tahun 2002 Indonesia mengurangi impor cengkeh yang pada awalnya Indonesia mengimpor cengkeh sekitar 70 persen dari volume perdagangan dunia. Penurunan impor ini diakibatkan oleh adanya Surat Keputusan Menperindag No.528/MPP/Kep/7/2002 tentang pengendalian impor cengkeh yang menyebabkan impor cengkeh indonesia menurun drastis dan berdampak pada penurunan harga cengkeh dunia (Siregar dan Suhendi, 2006). Sedangkan menurut Wahyudi (2002) hal ini dikarenakan adanya penundaan pembelian cengkeh oleh konsumen utama cengkeh yaitu pabrik rokok kretek, terutama tiga pabrik rokok kretek besar yaitu Gudang Garam, HM Sampoerna dan Djarum yang menyerap 80 persen kebutuhan cengkeh untuk pabrik rokok kretek.

86

Secara keseluruhan yaitu tahun 1980-2006 rata-rata harga cengkeh domestik sebesar 15 073.1481 Rp/kg dengan laju pertumbuhan sebesar 13.66 persen. Fluktuasi harga cengkeh dapat disebabkan oleh fluktuasi hasil yang cukup tinggi yaitu produksi yang tinggi pada tahun-tahun tertentu dan diikuti dengan penurunan produksi tahun berikutnya. Dalam hal ini dikenal adanya siklus empat tahunan tanaman cengkeh, yaitu produksi yang tinggi pada satu tahun tertentu diikuti dengan penurunan produksi tiga tahun berikutnya. Kondisis ini menyebabkan pada tahun-tahun tertentu komoditas tersebut mengalami

over-supply dan di saat lain mengalami defisit. Selain itu, tidak terkontrolnya impor baik yang terkait dengan komoditas cengkeh itu sendiri maupun dengan rokok dapat menyebabkan ketidakpastian harga (Siregar dan Suhendi, 2006).

5.2.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1980-2006 Model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia terdiri dari 11

persamaan, yaitu 9 persamaan struktural dan 2 persamaan identitas. Persamaan struktural terdiri dari persamaan produktivitas cengkeh, luas areal cengkeh, impor cengkeh, ekspor cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, produksi rokok kretek, harga cengkeh domestik, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor Indonesia. Sedangkan persamaan identitas terdiri dari persamaan produksi cengkeh dan penawaran cengkeh. Program komputer serta hasil pendugaan model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia dapat dilihat pada Lampiran 5 dan Lampiran 6. Nilai dugaan statistik uji-F menunjukkan bahwa secara bersama-sama semua peranan keragaman variabel penjelas nyata terhadap peranan keragaman

87

variabel endogen, sedangkan uji-t menunjukkan tidak semua variabel eksogen berpengaruh nyata terhadap variabel endogennya. Nilai uji-F berkisar antara 3.38 hingga 1278.75 sedangkan pengujian terhadap parameter dugaan menggunakan taraf yaitu 20 persen untuk menunjukkan bahwa variabel tersebut berpengaruh nyata terhadap variabel endogennya. Berdasarkan uji statistik, nilai koefisien determinasi R2 berkisar antara 0.43780 pada persamaan harga cengkeh impor sampai dengan 0.99591 pada persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Nilai koefisien determinasi pada persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek sebesar 0.99591 menunjukkan bahwa keragaman konsumsi cengkeh industri rokok kretek sebesar 99.591 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel penjelasnya yaitu rasio HCDt-1 dengan HCDt, produksi rokok kretek, trend waktu, dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu, sedangkan sisanya yaitu 0.409 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Berbagai variabel penjelas yang berpengaruh secara nyata terhadap variabel endogen pada model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia dapat dilihat pada Lampiran 7. Nilai elastisitas dihitung untuk melihat respon variabel endogen terhadap variabel penjelas dari masing-masing persamaan atau untuk mengetahui persentase perubahan (peningkatan atau penurunan) variabel endogen bila variabel penjelasnya berubah satu persen. Variabel endogen dikatakan responsif terhadap perubahan variabel penjelas apabila nilai elastisitasnya lebih besar dari satu (> 1) dan tidak responsif apabila nilai elastisitasnya lebih kecil dari satu (< 1).

88

5.2.1. Produktivitas Cengkeh Hasil dugaan persamaan produktivitas cengkeh Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan dapat dilihat pada Tabel 12. Koefisien determinasi menunjukkan nilai 0.8963 yang berarti bahwa keragaman produktivitas cengkeh sebesar 89.63 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh domestik, luas areal cengkeh, pertumbuhan harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan produktivitas cengkeh tahun lalu sedangkan sisanya 10.37 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Tabel 12. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Produktivitas Cengkeh (YCDt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 20.594320 0.000119 0.000033 -0.586340 -0.860520 4.474710 13.484320 0.128549 Taraf Nyata 0.7081 0.6714 0.5649 0.0851* 0.1056* 0.0014* 0.1953* 0.5580 F statistik = 22.22 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek 0.0348 0.1456 -0.0089 -0.0209 Elastisitas Jangka Panjang 0.0400 0.1671 -0.0102 -0.0240 -

Intersep Harga cengkeh domestik Areal tanam cengkeh Pertumbuhan harga pupuk Suku bunga Trend waktu Dummy BPPC Produktivitas cengkeh tahun lalu R2 = 0.8963 Adj-R2 = 0.8560

Intersep HCDt ATCt { (HPUt - HPUt-1)/ HPUt-1}*100 SBIt Tt DBPPCt YCDt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Keragaman harga cengkeh domestik, luas areal cengkeh, pertumbuhan harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan produktivitas cengkeh tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman produktivitas cengkeh dan secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri produktivitas cengkeh dipengaruhi secara nyata oleh pertumbuhan harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dan dummy kebijakan

89

tataniaga berdasarkan BPPC. Sedangkan variabel harga cengkeh domestik, luas areal cengkeh, dan produktivitas cengkeh tahun lalu tidak berpengaruh nyata. Harga cengkeh domestik berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.000119 yang berarti jika harga cengkeh domestik meningkat satu Rp/kg, maka produktivitas cengkeh meningkat sebesar 0.000119 kg/ha. Nilai elastisitas jangka pendek produktivitas cengkeh terhadap harga cengkeh domestik sebesar 0.0348, berarti produktivitas cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik. Apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka produktivitas cengkeh hanya akan meningkat 0.0348 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang produktivitas cengkeh terhadap harga cengkeh domestik sebesar 0.04, yang berarti produktivitas cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik yaitu apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka produktivitas cengkeh akan meningkat sebesar 0.04 persen, cateris paribus. Variabel luas areal cengkeh berhubungan positif dan tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.000033 yang berarti jika luas areal cengkeh meningkat satu hektar, maka produktivitas cengkeh meningkat sebesar 0.000033 kg/ha. Nilai elastisitas jangka pendek produktivitas cengkeh terhadap luas areal cengkeh sebesar 0.1456, berarti produktivitas cengkeh tidak responsif terhadap perubahan luas areal cengkeh. Apabila luas areal cengkeh meningkat satu persen maka produktivitas cengkeh hanya akan meningkat 0.1456 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang produktivitas cengkeh terhadap luas areal cengkeh sebesar 0.1671, yang berarti produktivitas

90

cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan luas areal cengkeh yaitu apabila luas areal cengkeh meningkat satu persen maka produktivitas cengkeh akan meningkat sebesar 0.1671 persen, cateris paribus. Pertumbuhan harga pupuk berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap produktivitas cengkeh. Nilai parameter dugaan -0.58634 yang berarti jika pertumbuhan harga pupuk menurun satu persen, maka produktivitas cengkeh meningkat sebesar 0.58634 kg/ha. Nilai elastisitas jangka pendek produktivitas cengkeh terhadap pertumbuhan harga pupuk sebesar -0.0089, berarti produktivitas cengkeh tidak responsif terhadap perubahan pertumbuhan harga pupuk. Apabila pertumbuhan harga pupuk menurun satu persen, cateris paribus maka produktivitas cengkeh hanya akan meningkat 0.0089 persen, begitu juga dengan nilai elastisitas jangka panjang produktivitas cengkeh yang tidak responsif terhadap perubahan pertumbuhan harga pupuk yaitu -0.0102 yang berarti apabila pertumbuhan harga pupuk menurun satu persen maka hanya akan meningkatkan produktivitas cengkeh dalam jangka panjang 0.0102 persen, cateris paribus. Suku bunga berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap produktivitas cengkeh. Nilai parameter dugaan -0.86052 yang berarti jika suku bunga menurun satu persen, maka produktivitas cengkeh meningkat sebesar 0.86052 kg/ha. Nilai elastisitas produktivitas cengkeh terhadap suku bunga dalam jangka pendek maupun jangka panjang masing-masing sebesar -0.0209 dan -0.0240 menunjukkan bahwa produktivitas cengkeh tidak responsif terhadap perubahan suku bunga. Apabila suku bunga menurun satu persen maka hanya akan meningkatkan produktivitas cengkeh dalam jangka pendek maupun

91

jangka panjang masing-masing sebesar 0.0209 persen dan 0.0240 persen, cateris paribus. Terdapat pengaruh positif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend terhadap produktivitas cengkeh yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen yaitu dengan parameter dugaan sebesar 4.47471. Variabel dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC berhubungan positif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap produktivitas cengkeh. Artinya selama BPPC beroperasi (tahun 1990-1998) rata-rata produktivitas cengkeh lebih tinggi sebesar 13.48 kg/ha dibandingkan dengan tidak adanya kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC. Hal ini dikarenakan adanya harga dasar dari pemerintah, sehingga dapat menjadi insentif bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya. Nilai parameter dugaan produktivitas cengkeh tahun lalu terletak di antara nol dan satu tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas cengkeh. 5.2.2. Luas Areal Cengkeh Hasil dugaan persamaan luas areal cengkeh Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan disajikan pada Tabel 13. Dari hasil regresi persamaan luas areal cengkeh diperoleh koefisien determinasi 0.9652 yang berarti bahwa keragaman luas areal cengkeh sebesar 96.52 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh domestik, harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan luas areal cengkeh tahun lalu sedangkan sisanya 3.48 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan.

92

Keragaman harga cengkeh domestik, harga pupuk, suku bunga, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan luas areal cengkeh tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman luas areal cengkeh dan secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri luas areal cengkeh dipengaruhi secara nyata oleh harga pupuk, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan luas areal cengkeh tahun lalu. Sedangkan variabel harga cengkeh domestik dan suku bunga tidak berpengaruh nyata. Tabel 13. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Luas Areal Cengkeh (ATCt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 150658.6 0.259961 -44.67480 -344.1560 -1775.110 -31117.50 0.855379 Taraf Nyata 0.0298 0.5205 0.0879* 0.5421 0.1655* 0.0386* 0.0000* F statistik = 87.82 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek 0.0173 -0.0763 -0.0020 Elastisitas Jangka Panjang 0.1195 -0.5279 -0.0131 -

Intersep Harga cengkeh domestik Harga pupuk Suku bunga Trend waktu Dummy BPPC Areal tanam cengkeh tahun lalu R2 = 0.9652 Adj-R2 = 0.9542

Intersep HCDt HPUt SBIt Tt DBPPCt ATCt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Harga cengkeh domestik berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap luas areal cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.259961 yang berarti jika harga cengkeh domestik meningkat satu Rp/kg, menyebabkan luas areal cengkeh meningkat sebesar 0.259961 hektar. Nilai elastisitas jangka pendek luas areal cengkeh terhadap harga cengkeh domestik sebesar 0.0173, berarti luas areal cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik. Apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka luas areal cengkeh hanya akan meningkat 0.0173 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang luas areal cengkeh terhadap harga cengkeh domestik sebesar 0.1195,

93

yang berarti luas areal cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik yaitu apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan luas areal cengkeh 0.1195 persen, cateris paribus. Harga pupuk berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap luas areal cengkeh. Nilai parameter dugaan -44.6748 yang berarti jika harga pupuk menurun satu Rp/kg, menyebabkan luas areal cengkeh meningkat sebesar 44.6748 hektar. Nilai elastisitas jangka pendek luas areal cengkeh terhadap harga pupuk sebesar -0.0763, berarti luas areal cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga pupuk. Apabila harga pupuk menurun satu persen maka luas areal cengkeh hanya akan meningkat 0.0763 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang luas areal cengkeh terhadap harga pupuk sebesar -0.5279, yang berarti luas areal cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan harga pupuk yaitu apabila harga pupuk menurun satu persen maka hanya akan meningkatkan luas areal cengkeh 0.5279 persen, cateris paribus. Suku bunga berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap luas areal cengkeh. Nilai parameter dugaan -344.156 yang berarti jika suku bunga menurun satu persen, menyebabkan luas areal cengkeh meningkat sebesar 344.156 hektar. Nilai elastisitas jangka pendek luas areal cengkeh terhadap suku bunga sebesar -0.002, berarti luas areal cengkeh tidak responsif terhadap perubahan suku bunga. Apabila suku bunga menurun satu persen maka luas areal cengkeh hanya akan meningkat 0.002 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang luas areal cengkeh terhadap suku bunga sebesar

94

-0.0131, yang berarti luas areal cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan suku bunga yaitu apabila suku bunga menurun satu persen maka hanya akan meningkatkan luas areal cengkeh 0.0131 persen, cateris paribus. Terdapat pengaruh negatif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend terhadap luas areal cengkeh yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen yaitu dengan parameter dugaan sebesar -1775.11. Variabel dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap luas areal cengkeh. Artinya selama BPPC beroperasi rata-rata luas areal cengkeh lebih rendah sebesar 31117.5 hektar dibandingkan dengan tidak adanya kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC. Karena pada tahun 1990 hingga tahun1998 beroperasinya BPPC terjadi kelebihan penawaran cengkeh sehingga petani disarankan untuk menebang tanaman cengkehnya. Nilai parameter dugaan luas areal cengkeh tahun lalu mendekati satu dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen mengindikasikan bahwa luas areal cengkeh cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya. Inilah yang menjadi salah satu ciri perilaku tanaman tahunan yang tidak bisa disesuaikan luas arealnya secara cepat pada saat terjadi perubahan berbagai faktor ekonomi seperti perubahan harga cengkeh domestik maupun harga faktor produksinya. Karena itu wajar apabila variabel harga cengkeh domestik tidak berpengaruh nyata terhadap luas areal cengkeh.

95

5.2.3. Produksi Cengkeh Produksi cengkeh merupakan hasil perkalian antara produktivitas cengkeh dengan luas areal cengkeh, yang dicirikan dengan persamaan identitas. Sehingga persamaan produksi cengkeh adalah sebagai berikut: QCDt = YCDt x ATCt 5.2.4. Impor Cengkeh Hasil pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi impor cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 14. Hasil regresi persamaan impor cengkeh diperoleh koefisien determinasi 0.5678 yang berarti bahwa keragaman impor cengkeh sebesar 56.78 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh impor, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan impor cengkeh tahun lalu sedangkan sisanya 43.22 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Tabel 14. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Impor Cengkeh (ICDt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 5680.138 -41.82520 -0.037740 -0.000240 0.435373 -1040.190 -3634.280 0.231185 Taraf Nyata 0.5871 0.2490 0.9670 0.0344* 0.1900* Elastisitas Jangka Pendek -0.4286 -0.0747 -3.7349 7.4329 Elastisitas Jangka Panjang -0.5575 -0.0972 -4.8579 9.6680 -

Intersep Harga cengkeh impor Nilai tukar Rp/US$ Produksi cengkeh Konsumsi cengkeh industri rokok kretek Trend waktu Dummy BPPC Impor cengkeh tahun lalu R2 = 0.5678 = 0.3997 Adj-R2

Intersep HCIt NTKt QCDt CCRt Tt DBPPCt ICDt-1

0.2292 0.2267 0.2445 F statistik = 3.38 P value = 0.0176

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Pada Tabel 14 terlihat bahwa keragaman impor cengkeh secara bersamasama dapat dijelaskan oleh keragaman harga cengkeh impor, nilai tukar rupiah

96

terhadap dollar Amerika, produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan impor cengkeh tahun lalu yang secara statistik nyata pada level 0.0176. Secara sendirisendiri impor cengkeh dipengaruhi secara nyata oleh produksi cengkeh dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Sedangkan variabel harga cengkeh impor, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga BPPC, dan impor cengkeh tahun lalu tidak berpengaruh nyata. Harga cengkeh impor berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap impor cengkeh. Nilai parameter dugaan -41.8252 yang berarti jika harga cengkeh impor meningkat satu US$/kg, maka impor cengkeh akan menurun sebesar 41.8252 ton. Elastisitas jangka pendek impor cengkeh terhadap harga cengkeh impor sebesar -0.4286, berarti impor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh impor. Apabila harga cengkeh impor meningkat satu persen maka impor cengkeh akan menurun sebesar 0.4286 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang impor cengkeh terhadap harga cengkeh impor sebesar -0.5575, yang berarti impor cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh impor yaitu apabila harga cengkeh impor meningkat satu persen maka akan menurunkan impor cengkeh sebesar 0.5575 persen, cateris paribus. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap impor cengkeh. Nilai parameter dugaan -0.03774 yang berarti jika nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat (depresiasi) satu Rp/US$, maka impor cengkeh akan menurun sebesar 0.03774 ton. Elastisitas jangka pendek impor cengkeh terhadap nilai tukar rupiah terhadap

97

dollar Amerika sebesar -0.0747, berarti impor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat satu persen maka impor cengkeh akan menurun sebesar 0.0747 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang impor cengkeh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar -0.0972, yang berarti impor cengkeh dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yaitu apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat satu persen maka akan menurunkan impor cengkeh sebesar 0.0972 persen, cateris paribus. Produksi cengkeh berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap impor cengkeh. Nilai parameter dugaan -0.00024 yang berarti jika produksi cengkeh meningkat satu kilogram, maka impor cengkeh akan menurun sebesar 0.00024 ton. Elastisitas jangka pendek impor cengkeh terhadap produksi cengkeh sebesar -3.74, berarti impor cengkeh responsif terhadap perubahan produksi cengkeh. Apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka impor cengkeh akan menurun sebesar 3.74 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang impor cengkeh terhadap produksi cengkeh sebesar -4.86, yang berarti impor cengkeh dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan produksi cengkeh yaitu apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka akan menurunkan impor cengkeh sebesar 4.86 persen, cateris paribus. Konsumsi cengkeh industri rokok kretek berhubungan positif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap impor cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.435373 yang berarti jika konsumsi cengkeh industri rokok kretek

98

meningkat satu ton, maka impor cengkeh juga akan meningkat sebesar 0.435373 ton. Elastisitas impor cengkeh terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek dalam jangka pendek maupun jangka panjang masing-masing sebesar 7.43 dan 9.67 menunjukkan bahwa impor cengkeh responsif terhadap perubahan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Apabila konsumsi cengkeh industri rokok kretek meningkat satu persen maka akan meningkatkan impor cengkeh dalam jangka pendek maupun jangka panjang masing-masing sebesar 7.43 persen dan 9.67 persen, cateris paribus. Hal ini mengindikasikan bahwa impor cengkeh dilakukan untuk memenuhi peningkatan permintaan cengkeh dalam negeri terutama untuk kebutuhan pabrik rokok kretek, sebagaimana hasil penelitian Wahjutomo (1996). Trend waktu yang mewakili perkembangan teknologi berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap impor cengkeh. Variabel dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap impor cengkeh. Nilai parameter dugaan impor cengkeh tahun lalu terletak di antara nol dan satu tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap impor cengkeh. 5.2.5. Ekspor Cengkeh Hasil dugaan persamaan ekspor cengkeh Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan disajikan pada Tabel 15. Dari hasil regresi persamaan ekspor cengkeh diperoleh koefisien determinasi 0.7594 yang berarti bahwa keragaman ekspor cengkeh sebesar 75.94 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh ekspor, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, produksi cengkeh, suku bunga,

99

trend waktu, dan ekspor cengkeh tahun lalu sedangkan sisanya 24.06 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Keragaman harga cengkeh ekspor, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, produksi cengkeh, suku bunga, trend waktu, dan ekspor cengkeh tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman ekspor cengkeh yang secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri ekspor cengkeh dipengaruhi secara nyata oleh suku bunga dan trend waktu. Sedangkan variabel harga cengkeh ekspor, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, produksi cengkeh, dan ekspor cengkeh tahun lalu tidak berpengaruh nyata. Tabel 15. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Ekspor Cengkeh (XCDt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan -6674.940 191.7693 0.296799 0.000031 -328.2380 336.7863 0.201511 Taraf Nyata 0.3166 0.2613 0.4840 0.5703 0.0000* 0.0905* 0.2311 F statistik P value Elastisitas Jangka Pendek 0.4551 0.6548 0.5286 -0.2637 = 10.00 = 0.000 Elastisitas Jangka Panjang 0.5699 0.8201 0.6620 -0.3303 -

Intersep Harga cengkeh ekspor Nilai tukar Rp/US$ Produksi cengkeh Suku bunga Trend waktu Ekspor cengkeh tahun lalu R2 = 0.7594 = 0.6835 Adj-R2

Intersep HCXt NTKt QCDt SBIt Tt XCDt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Harga cengkeh ekspor berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap ekspor cengkeh. Nilai parameter dugaan 191.7693 yaitu jika harga cengkeh ekspor meningkat satu US$/kg, maka ekspor cengkeh akan meningkat sebesar 191.7693 ton. Nilai elastisitas jangka pendek ekspor cengkeh terhadap harga cengkeh ekspor sebesar 0.4551, berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh ekspor. Apabila harga cengkeh ekspor meningkat satu persen maka ekspor cengkeh hanya akan meningkat 0.4551 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang ekspor cengkeh

100

terhadap harga cengkeh ekspor sebesar 0.5699, yang berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh ekspor yaitu apabila harga cengkeh ekspor meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan ekspor cengkeh dalam jangka panjang sebesar 0.5699 persen, cateris paribus. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap ekspor cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.296799 yaitu jika nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat (depresiasi) satu Rp/US$, maka ekspor cengkeh akan meningkat sebesar 0.296799 ton. Nilai elastisitas jangka pendek ekspor cengkeh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar 0.6548, berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat satu persen maka ekspor cengkeh hanya akan meningkat 0.6548 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang ekspor cengkeh terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar 0.8201, yang berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yaitu apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan ekspor cengkeh dalam jangka panjang sebesar 0.8201 persen, cateris paribus. Produksi cengkeh berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap ekspor cengkeh. Nilai parameter dugaan 0.000031 yaitu jika produksi cengkeh meningkat satu kg, maka ekspor cengkeh akan meningkat sebesar 0.000031 ton. Nilai elastisitas jangka pendek ekspor cengkeh terhadap produksi cengkeh sebesar 0.5286, berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap

101

perubahan produksi cengkeh. Apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka ekspor cengkeh hanya akan meningkat 0.5286 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang ekspor cengkeh terhadap produksi cengkeh sebesar 0.662, yang berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan produksi cengkeh yaitu apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan ekspor cengkeh dalam jangka panjang sebesar 0.662 persen, cateris paribus. Suku bunga berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap ekspor cengkeh. Artinya jika suku bunga menurun maka ekspor cengkeh akan meningkat. Nilai parameter dugaan -328.238 yaitu jika suku bunga menurun satu persen, maka ekspor cengkeh akan meningkat sebesar 328.238 ton. Nilai elastisitas jangka pendek ekspor cengkeh terhadap suku bunga sebesar -0.2637, berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan suku bunga. Apabila suku bunga menurun satu persen maka ekspor cengkeh hanya akan meningkat 0.2637 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang ekspor cengkeh terhadap suku bunga sebesar -0.3303, yang berarti ekspor cengkeh tidak responsif terhadap perubahan suku bunga yaitu apabila suku bunga menurun satu persen maka hanya akan meningkatkan ekspor cengkeh dalam jangka panjang 0.3303 persen, cateris paribus. Terdapat pengaruh positif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend terhadap ekspor cengkeh yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen yaitu dengan parameter dugaan sebesar 336.7863. Nilai parameter dugaan ekspor cengkeh tahun lalu terletak di antara nol dan satu tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap ekspor cengkeh.

102

5.2.6. Penawaran Cengkeh Penawaran cengkeh Indonesia dalam penelitian ini merupakan jumlah cengkeh yang tersedia di dalam negeri, yang merupakan penjumlahan antara produksi cengkeh dan impor cengkeh dikurangi ekspor cengkeh Indonesia ke pasar internasional yang dicirikan dengan persamaan identitas. Persamaan penawaran cengkeh dapat ditulis sebagai berikut: SCDt = QCDt + ICDt - XCDt 5.2.7. Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek Hasil dugaan persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan disajikan pada Tabel 16. Dari hasil regresi persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek diperoleh koefisien determinasi 0.9959 yang berarti bahwa keragaman konsumsi cengkeh industri rokok kretek sebesar 99.59 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama, produksi rokok kretek, trend waktu, dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu sedangkan sisanya 0.41 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Keragaman variabel rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama, produksi rokok kretek, trend waktu, dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman konsumsi cengkeh industri rokok kretek yang secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri konsumsi cengkeh industri rokok kretek dipengaruhi secara nyata oleh variabel rasio harga cengkeh domestik

103

tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama, produksi rokok kretek, dan trend waktu. Sedangkan variabel konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu tidak berpengaruh nyata. Tabel 16. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Konsumsi Cengkeh Industri Rokok Kretek (CCRt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 13057.16 -1564.280 0.334210 797.5481 0.024460 Taraf Nyata 0.0000 0.0166* 0.0000* 0.0009* 0.7580 F statistik = 1278.75 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek -0.0253 0.6574 Elastisitas Jangka Panjang -0.0259 0.6738 -

Intersep Rasio HCDt-1 dengan HCDt Produksi rokok kretek Trend waktu Konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu R2 = 0.9959 Adj-R2 = 0.9951

Intersep HCDt-1/HCDt QRKt Tt CCRt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Variabel rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Nilai parameter dugaan -1564.28 yang berarti jika rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama menurun satu Rp/kg, menyebabkan konsumsi cengkeh industri rokok kretek meningkat sebesar 1564.28 ton. Nilai elastisitas jangka pendek konsumsi cengkeh industri rokok kretek terhadap rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama sebesar -0.0253, berarti konsumsi cengkeh industri rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama. Apabila rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik pada tahun yang sama meningkat satu persen maka konsumsi cengkeh industri rokok kretek hanya akan menurun 0.0253 persen, cateris paribus.

104

Elastisitas jangka panjang konsumsi cengkeh industri rokok kretek terhadap rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama sebesar -0.0259, yang berarti konsumsi cengkeh industri rokok kretek dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama. Apabila rasio harga cengkeh domestik tahun lalu dengan harga cengkeh domestik tahun yang sama meningkat satu persen maka hanya akan menurunkan konsumsi cengkeh industri rokok kretek 0.0259 persen, cateris paribus. Hal ini dikarenakan berapapun perubahan harga cengkeh domestik, industri rokok kretek tetap membutuhkan cengkeh sebagai bahan baku dalam memproduksi rokok kretek. Produksi rokok kretek berhubungan positif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Nilai parameter dugaan 0.33421 yang berarti jika produksi rokok kretek meningkat satu juta batang, menyebabkan konsumsi cengkeh industri rokok kretek akan meningkat sebesar 0.33421 ton. Elastisitas konsumsi cengkeh industri rokok kretek terhadap produksi rokok kretek dalam jangka pendek maupun jangka panjang masingmasing sebesar 0.6574 dan 0.6738 menunjukkan bahwa konsumsi cengkeh industri rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan produksi rokok kretek. Apabila produksi rokok kretek meningkat satu persen maka akan meningkatkan konsumsi cengkeh industri rokok kretek dalam jangka pendek maupun jangka panjang masing-masing sebesar 0.6574 persen dan 0.6738 persen, cateris paribus. Terdapat pengaruh positif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen yaitu dengan parameter dugaan sebesar 797.5481. Nilai

105

parameter dugaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun lalu terletak di antara nol dan satu tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek. 5.2.8. Produksi Rokok Kretek Hasil dugaan persamaan produksi rokok kretek Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan dapat dilihat pada Tabel 17. Koefisien determinasi menunjukkan nilai 0.9668 yang berarti bahwa keragaman produksi rokok kretek sebesar 96.68 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh domestik, selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu, pertumbuhan harga ekspor rokok kretek, trend waktu, dan produksi rokok kretek tahun lalu sedangkan sisanya 3.32 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Tabel 17. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Produksi Rokok Kretek (QRKt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 46268.62 -0.219760 2.089508 21.12576 2360.414 0.503855 Taraf Nyata 0.0029 0.0945* 0.8283 0.7226 0.0252* 0.0094* F statistik = 116.60 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek -0.0569 0.0014 -0.0010 Elastisitas Jangka Panjang -0.1146 0.0027 -0.0019 -

Intersep Harga cengkeh domestik Selisih HJRKt dengan HJRKt-1 Pertumbuhan harga ekspor rokok kretek Trend waktu Produksi rokok kretek tahun lalu R2 = 0.9668 Adj-R2 = 0.9585

Intersep HCDt (HJRKt - HJRKt-1) {(HXRKt - HXRKt-1)/ HXRKt-1}*100 Tt QRKt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Keragaman harga cengkeh domestik, selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu, pertumbuhan harga ekspor rokok kretek, trend waktu, dan produksi rokok kretek tahun lalu secara bersama-

106

sama dapat menjelaskan keragaman produksi rokok kretek yang secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri produksi rokok kretek dipengaruhi secara nyata oleh harga cengkeh domestik, trend waktu, dan produksi rokok kretek tahun lalu. Sedangkan variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu dan variabel pertumbuhan harga ekspor rokok kretek tidak berpengaruh nyata. Variabel harga cengkeh domestik berhubungan negatif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap produksi rokok kretek. Nilai parameter dugaan -0.21976 yang berarti jika harga cengkeh domestik menurun satu Rp/kg, menyebabkan produksi rokok kretek meningkat sebesar 0.21976 juta batang. Nilai elastisitas jangka pendek produksi rokok kretek terhadap harga cengkeh domestik sebesar -0.0569, berarti produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik. Apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka produksi rokok kretek hanya akan menurun 0.0569 persen, cateris paribus. Elastisitas jangka panjang produksi rokok kretek terhadap harga cengkeh domestik sebesar -0.1146, yang berarti produksi rokok kretek dalam jangka panjang tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik. Apabila harga cengkeh domestik meningkat satu persen maka hanya akan menurunkan produksi rokok kretek 0.1146 persen, cateris paribus. Hasil serupa seperti yang terdapat pada persamaan konsumsi cengkeh industri rokok kretek, yaitu berapapun perubahan harga cengkeh domestik, industri rokok kretek tetap akan membutuhkan cengkeh sebagai bahan baku dalam memproduksi rokok kretek yang berarti bahwa konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik.

107

Variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap produksi rokok kretek. Nilai parameter dugaan 2.089508 yaitu jika variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu meningkat satu Rp/bungkus, maka produksi rokok kretek akan meningkat sebesar 2.089508 juta batang. Nilai elastisitas jangka pendek produksi rokok kretek terhadap variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu sebesar 0.0014, berarti produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu. Apabila variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu meningkat satu persen maka produksi rokok kretek hanya akan meningkat 0.0014 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang produksi rokok kretek terhadap variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu sebesar 0.0027, yang berarti produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu yaitu apabila variabel selisih harga jual rokok kretek tahun yang sama dengan harga jual rokok kretek tahun lalu meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan produksi rokok kretek dalam jangka panjang sebesar 0.0027 persen, cateris paribus. Pertumbuhan harga ekspor rokok kretek berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap produksi rokok kretek. Nilai parameter dugaan 21.12576 yaitu jika pertumbuhan harga ekspor rokok kretek meningkat satu

108

persen, maka produksi rokok kretek akan meningkat sebesar 21.12576 juta batang. Nilai elastisitas jangka pendek produksi rokok kretek terhadap pertumbuhan harga ekspor rokok kretek sebesar -0.001, berarti produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan pertumbuhan harga ekspor rokok kretek. Apabila

pertumbuhan harga ekspor rokok kretek meningkat satu persen maka produksi rokok kretek hanya akan meningkat 0.001 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang produksi rokok kretek terhadap pertumbuhan harga ekspor rokok kretek sebesar -0.0019, yang berarti produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan pertumbuhan harga ekspor rokok kretek yaitu apabila pertumbuhan harga ekspor rokok kretek meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan produksi rokok kretek dalam jangka panjang sebesar 0.0019 persen, cateris paribus. Terdapat pengaruh positif perkembangan teknologi yang diwakili oleh variabel trend terhadap produksi rokok kretek yang berpengaruh nyata pada taraf 20 persen yaitu dengan parameter dugaan sebesar 2360.414. Nilai parameter dugaan produksi rokok kretek tahun lalu yang mendekati satu dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen mengindikasikan bahwa produksi rokok kretek cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya. Hal ini dikarenakan pengusaha membutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan produksi rokok kreteknya secara cepat pada saat terjadi perubahan berbagai faktor ekonomi seperti perubahan harga cengkeh domestik. Karena itu wajar apabila produksi rokok kretek tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh domestik.

109

5.2.9. Harga Cengkeh Domestik Hasil dugaan persamaan harga cengkeh domestik Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan disajikan pada Tabel 18. Hasil regresi persamaan harga cengkeh domestik diperoleh koefisien determinasi 0.7903 yang berarti bahwa keragaman harga cengkeh domestik sebesar 79.03 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel harga cengkeh impor, produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan harga cengkeh domestik tahun lalu sedangkan sisanya 20.97 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Tabel 18. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Domestik (HCDt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan -3955.370 16.68620 -0.000290 0.931464 -2202.820 -9235.360 0.658692 Taraf Nyata 0.9156 0.8301 0.2106 0.1964* 0.2143 0.2361 0.0034* F statistik = 11.94 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek 0.0197 -0.5167 1.8299 Elastisitas Jangka Panjang 0.0577 -1.5139 5.3614 -

Intersep Harga cengkeh impor Produksi cengkeh Konsumsi cengkeh industri rokok kretek Trend waktu Dummy BPPC Harga cengkeh domestik tahun lalu R2 = 0.7903 = 0.7241 Adj-R2

Intersep HCIt QCDt CCRt Tt DBPPCt HCDt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Keragaman harga cengkeh impor, produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, trend waktu, dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, dan harga cengkeh domestik tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman harga cengkeh domestik yang secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri harga cengkeh domestik dipengaruhi secara nyata oleh konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan harga cengkeh domestik

110

tahun lalu. Sedangkan variabel harga cengkeh impor, produksi cengkeh, trend waktu, dan dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC tidak berpengaruh nyata. Harga cengkeh impor berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh domestik. Nilai parameter dugaan 16.6862 yaitu jika harga cengkeh impor meningkat satu US$/kg, maka harga cengkeh domestik akan meningkat sebesar 16.6862 Rp/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh domestik terhadap harga cengkeh impor sebesar 0.0197, berarti harga cengkeh domestik tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh impor. Apabila harga cengkeh impor meningkat satu persen maka harga cengkeh domestik hanya akan meningkat 0.0197 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang harga cengkeh domestik terhadap harga cengkeh impor sebesar 0.0577, yang berarti harga cengkeh domestik tidak responsif terhadap perubahan harga cengkeh impor yaitu apabila harga cengkeh impor meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan harga cengkeh domestik dalam jangka panjang sebesar 0.0577 persen, cateris paribus. Produksi cengkeh berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh domestik. Nilai parameter dugaan -0.00029 yang berarti jika produksi cengkeh meningkat satu kilogram, maka harga cengkeh domestik akan menurun sebesar 0.00029 Rp/kg. Elastisitas jangka pendek harga cengkeh domestik terhadap produksi cengkeh sebesar -0.5167, berarti harga cengkeh domestik dalam jangka pendek tidak responsif terhadap perubahan produksi cengkeh. Apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka harga cengkeh domestik akan menurun sebesar 0.5167 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai

111

elastisitas jangka panjang harga cengkeh domestik terhadap produksi cengkeh sebesar -1.5139, yang berarti harga cengkeh domestik dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan produksi cengkeh yaitu apabila produksi cengkeh meningkat satu persen maka akan menurunkan harga cengkeh domestik sebesar 1.5139 persen, cateris paribus. Variabel konsumsi cengkeh industri rokok kretek berhubungan positif dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen terhadap harga cengkeh domestik. Nilai parameter dugaan 0.931464 yang berarti jika konsumsi cengkeh industri rokok kretek meningkat satu ton, menyebabkan harga cengkeh domestik meningkat sebesar 0.931464 Rp/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh domestik terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek sebesar 1.8299, berarti harga cengkeh domestik responsif terhadap perubahan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Apabila konsumsi cengkeh industri rokok kretek meningkat satu persen maka harga cengkeh domestik meningkat sebesar 1.8299 persen, cateris paribus. Elastisitas jangka panjang harga cengkeh domestik terhadap konsumsi cengkeh industri rokok kretek sebesar 5.3614, yang berarti harga cengkeh domestik dalam jangka panjang responsif terhadap perubahan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Apabila konsumsi cengkeh industri rokok kretek meningkat satu persen maka akan meningkatkan harga cengkeh domestik sebesar 5.3614 persen, cateris paribus. Industri rokok kretek merupakan konsumen utama cengkeh sehingga dengan adanya perubahan pembelian cengkeh oleh pabrik rokok kretek besar seperti Gudang Garam, HM Sampoerna dan Djarum yang menyerap 80 persen kebutuhan cengkeh untuk pabrik rokok kretek (Wahyudi, 2002), menyebabkan

112

harga cengkeh domestik responsif terhadap perubahan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. Trend waktu yang mewakili perkembangan teknologi berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh domestik. Variabel dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh domestik. Harga cengkeh domestik dipengaruhi pula oleh harga cengkeh domestik tahun sebelumnya dengan nilai parameter dugaan yang mendekati satu dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen mengindikasikan bahwa harga cengkeh domestik cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya. Hal ini dikarenakan meskipun informasi mudah diperoleh pada masing-masing negara dan fluktuasi harga pada suatu pasar dapat tertangkap oleh pasar lain, namun dibutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan harga cengkeh domestik secara cepat pada saat terjadi perubahan berbagai faktor ekonomi agar hal ini dapat dijadikan signal dalam mengambil berbagai keputusan bagi pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat di dalamnya. 5.2.10. Harga Cengkeh Impor Hasil dugaan persamaan harga cengkeh impor Indonesia menunjukkan bahwa semua tanda parameter dugaan telah sesuai dengan hipotesis yang diharapkan dan disajikan pada Tabel 19. Kemampuan menjelaskan variabel impor cengkeh tahun lalu, selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu, dan variabel harga cengkeh impor tahun lalu dalam persamaan harga cengkeh impor masih

113

relatif rendah yaitu hanya 43.78 persen sedangkan sisanya 56.22 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Tabel 19. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Impor (HCIt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 10.48215 0.000319 0.002300 0.676709 Taraf Nyata 0.4102 0.7835 0.6883 0.0005* F statistik = 5.71 P value = 0.0048 Elastisitas Jangka Pendek 0.0323 0.0011 Elastisitas Jangka Panjang 0.1000 0.0035 -

Intersep Impor cengkeh tahun lalu Selisih NTKt dengan NTKt-1 Harga cengkeh impor tahun lalu R2 = 0.4378 Adj-R2 = 0.3611

Intersep ICDt-1 NTKt - NTKt-1 HCIt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Keragaman variabel impor cengkeh tahun lalu, selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu, dan variabel harga cengkeh impor tahun lalu secara bersama-sama dapat menjelaskan keragaman harga cengkeh impor yang secara statistik nyata pada level 0.0048. Secara sendiri-sendiri harga cengkeh impor dipengaruhi secara nyata oleh variabel harga cengkeh impor tahun lalu. Sedangkan variabel impor cengkeh tahun lalu dan variabel selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu tidak berpengaruh nyata. Variabel impor cengkeh tahun lalu berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh impor. Nilai parameter dugaan 0.000319 yaitu jika impor cengkeh tahun lalu meningkat satu ton, maka harga cengkeh impor akan meningkat sebesar 0.000319 US$/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh impor terhadap impor cengkeh tahun lalu sebesar 0.0323, berarti harga cengkeh impor tidak responsif terhadap perubahan impor cengkeh tahun lalu. Apabila impor cengkeh tahun lalu meningkat satu persen maka harga cengkeh

114

impor hanya akan meningkat 0.0323 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang harga cengkeh impor terhadap impor cengkeh tahun lalu sebesar 0.1, yang berarti harga cengkeh impor tidak responsif terhadap perubahan impor cengkeh tahun lalu yaitu apabila impor cengkeh tahun lalu meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan harga cengkeh impor dalam jangka panjang sebesar 0.1 persen, cateris paribus. Variabel selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh impor. Nilai parameter dugaan 0.0023 yaitu jika selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu meningkat satu Rp/US$, maka harga cengkeh impor akan meningkat sebesar 0.0023 US$/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh impor terhadap selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu sebesar 0.0011, berarti harga cengkeh impor tidak responsif terhadap perubahan selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu. Apabila selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu meningkat satu persen maka harga cengkeh impor hanya akan meningkat 0.0011 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang harga cengkeh impor terhadap selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu sebesar 0.0035, yang berarti harga

115

cengkeh impor tidak responsif terhadap perubahan selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu yaitu apabila selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu meningkat satu persen maka hanya akan meningkatkan harga cengkeh impor dalam jangka panjang sebesar 0.0035 persen, cateris paribus. Nilai parameter dugaan harga cengkeh impor tahun lalu yang mendekati satu dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen mengindikasikan bahwa harga cengkeh impor cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya seperti perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Sehingga wajar apabila variabel selisih nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu tidak berpengaruh nyata terhadap harga cengkeh impor. 5.2.11. Harga Cengkeh Ekspor Hasil pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi harga cengkeh ekspor Indonesia disajikan pada Tabel 20. Hasil regresi persamaan harga cengkeh ekspor diperoleh koefisien determinasi 0.7524 yang berarti bahwa keragaman harga cengkeh ekspor sebesar 75.24 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel ekspor cengkeh, rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama, dan harga cengkeh ekspor tahun lalu sedangkan sisanya 24.76 persen dijelaskan oleh faktorfaktor lain yang tidak dimasukkan dalam persamaan. Pada Tabel 20 terlihat bahwa keragaman harga cengkeh ekspor secara bersama-sama mampu dijelaskan oleh keragaman variabel ekspor cengkeh, rasio

116

nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama, dan harga cengkeh ekspor tahun lalu yang secara statistik nyata pada level 0.000. Secara sendiri-sendiri, hanya variabel harga cengkeh ekspor tahun lalu yang mempengaruhi harga cengkeh ekspor secara nyata sementara variabel ekspor cengkeh dan variabel rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama tidak berpengaruh nyata. Tabel 20. Hasil Dugaan Parameter Persamaan Harga Cengkeh Ekspor (HCXt)
Variabel Notasi Parameter Dugaan 0.884444 -0.000130 0.894839 0.738924 Taraf Nyata 0.8854 0.5086 0.8808 0.000* F statistik = 22.28 P value = 0.000 Elastisitas Jangka Pendek -0.0532 0.1028 Elastisitas Jangka Panjang -0.2038 0.3937 -

Intersep Ekspor cengkeh Rasio NTKt-1 dengan NTKt Harga cengkeh ekspor tahun lalu R2 = 0.7524 Adj-R2 = 0.7186

Intersep XCDt NTKt-1/NTKt HCXt-1

Keterangan : * = nyata pada taraf 20% Variabel ekspor cengkeh berhubungan negatif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh ekspor. Nilai parameter dugaan -0.00013 yaitu jika ekspor cengkeh meningkat satu ton, maka harga cengkeh ekspor akan menurun sebesar 0.00013 US$/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh ekspor terhadap ekspor cengkeh sebesar -0.0532, berarti harga cengkeh ekspor tidak responsif terhadap perubahan ekspor cengkeh. Apabila ekspor cengkeh meningkat satu persen maka harga cengkeh ekspor akan menurun 0.0532 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang harga cengkeh ekspor terhadap ekspor cengkeh sebesar -0.2038, yang berarti harga cengkeh ekspor tidak responsif terhadap perubahan ekspor cengkeh yaitu apabila ekspor cengkeh meningkat satu

117

persen maka akan menurunkan harga cengkeh ekspor dalam jangka panjang sebesar 0.2038 persen, cateris paribus. Variabel rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama berhubungan positif dan berpengaruh tidak nyata terhadap harga cengkeh ekspor. Nilai parameter dugaan 0.894839 yaitu jika rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama meningkat satu Rp/US$, maka harga cengkeh ekspor akan meningkat sebesar 0.894839 US$/kg. Nilai elastisitas jangka pendek harga cengkeh ekspor terhadap rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama sebesar 0.1028, berarti harga cengkeh ekspor tidak responsif terhadap perubahan rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama. Apabila rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama meningkat satu persen maka harga cengkeh ekspor hanya akan meningkat 0.1028 persen, cateris paribus. Sedangkan nilai elastisitas jangka panjang harga cengkeh ekspor terhadap rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama sebesar 0.3937, yang berarti harga cengkeh ekspor tidak responsif terhadap perubahan rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama yaitu apabila rasio nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun lalu dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun yang sama meningkat satu persen maka hanya akan

118

meningkatkan harga cengkeh ekspor dalam jangka panjang sebesar 0.3937 persen, cateris paribus. Nilai parameter dugaan harga cengkeh ekspor tahun lalu yang mendekati satu dan berpengaruh nyata pada taraf 20 persen mengindikasikan bahwa harga cengkeh ekspor cenderung lambat dalam merespon berbagai perubahan situasi ekonomi yang mempengaruhinya seperti perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika yang juga tidak berpengaruh nyata terhadap harga cengkeh ekspor.

5.3.

Dampak Perubahan Faktor Ekonomi terhadap Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006

5.3.1. Hasil Validasi Model Tabel 21. Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006
Variabel YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt Notasi Produktivitas cengkeh Luas areal cengkeh Produksi cengkeh Impor cengkeh Ekspor cengkeh Penawaran cengkeh Konsumsi cengkeh industri rokok kretek Produksi rokok kretek Harga cengkeh domestik Harga cengkeh impor Harga cengkeh ekspor RMSPE (%) 6.2430 1.9426 7.1396 67107.4 85.6408 7.1316 5.4461 5.4233 40.8618 3042.0 76.5089 U-Theil 0.0311 0.0098 0.0361 0.4328 0.2281 0.0361 0.0270 0.0266 0.2227 0.9065 0.2492

Kriteria validasi dalam penelitian ini adalah RMSPE dan U-Theil (Tabel 21). Dari 11 variabel endogen terdapat empat variabel yang memiliki nilai RMSPE lebih besar dari 50 persen yaitu variabel impor cengkeh, ekspor cengkeh, harga cengkeh impor, dan harga cengkeh ekspor. Sedangkan nilai-nilai U relatif kecil yaitu mendekati nol, sehingga model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia cukup valid untuk proses simulasi. Program komputer serta hasil

119

validasi model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 19992006 dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Lampiran 9. 5.3.2. Peningkatan Harga Cengkeh Domestik 20 Persen Dampak peningkatan harga cengkeh domestik 20 persen terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 22. Program komputer serta hasil simulasi model produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia tahun 1999-2006 dapat dilihat pada Lampiran 10 dan Lampiran 11. Tabel 22. Dampak Perubahan Faktor Ekonomi terhadap Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006
Variabel YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt Notasi Produktivitas cengkeh Luas areal cengkeh Produksi cengkeh Impor Cengkeh Ekspor Cengkeh Penawaran cengkeh Konsumsi cengkeh industri rokok kretek Produksi rokok kretek Harga cengkeh domestik Harga cengkeh impor Harga cengkeh ekspor Nilai Dasar 165.9 427796 71159037 5242.1 7343.2 71156936 Simulasi 1 1.145 2.886 4.127 -36.381 1.405 4.125 Perubahan (%) Simulasi Simulasi Simulasi 2 3 4 -0.543 -7.993 -8.652 30.402 -2.914 -8.65 -0.422 -0.179 -0.555 1.887 -3.513 -0.555 0.06 0.021 0.032 0.313 0.011 0.032 Simulasi 5 -0.12 -0.002 -0.004 -1.051 8.285 -0.005

CCRt

94943.5

-2.021

-0.374

-0.033

0.044

0.002

QRKt HCDt HCIt HCXt

186432 32130.4 26.0067 2.7434

-2.570 20.00 -5.156 -1.301

-0.602 9.687 3.296 2.373

-0.049 0.698 0.301 3.908

0.065 0.298 0.064 -0.011

0.003 -0.047 -2.247 -7.819

Keterangan:

Simulasi 1: Peningkatan harga cengkeh domestik 20 persen Simulasi 2: Peningkatan harga pupuk 20 persen Simulasi 3: Peningkatan suku bunga 20 persen Simulasi 4: Peningkatan harga jual rokok kretek 20 persen Simulasi 5: Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika 20 persen

120

Peningkatan

harga

cengkeh

domestik

20

persen

menyebabkan

produktivitas cengkeh dan luas areal cengkeh mengalami peningkatan masingmasing 1.15 persen dan 2.89 persen. Produksi cengkeh juga meningkat 4.13 persen dikarenakan produktivitas dan luas areal cengkeh meningkat. Peningkatan produksi cengkeh akan berdampak pada penurunan impor cengkeh 36.38 persen dan peningkatan ekspor cengkeh 1.41 persen sedangkan harga cengkeh impor dan harga cengkeh ekspor masing-masing mengalami penurunan 5.16 persen dan 1.3 persen. Peningkatan produksi cengkeh juga akan menyebabkan penawaran cengkeh meningkat 4.12 persen. Peningkatan harga cengkeh domestik 20 persen akan berdampak pada penurunan konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek masing-masing 2.02 persen dan 2.57 persen. 5.3.3. Peningkatan Harga Pupuk 20 Persen Dampak peningkatan harga pupuk 20 persen terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 22. Peningkatan harga pupuk 20 persen menyebabkan produktivitas cengkeh dan luas areal cengkeh menurun masing-masing 0.54 persen dan 7.99 persen, sehingga produksi cengkeh juga mengalami penurunan 8.65 persen. Secara bersamaan akan berdampak pada peningkatan impor cengkeh 30.4 persen dan penurunan ekspor cengkeh 2.91 persen dengan harga cengkeh impor dan harga cengkeh ekspor masing-masing mengalami peningkatan 3.3 persen dan 2.37 persen. Hal ini menyebabkan penawaran cengkeh mengalami penurunan 8.65 persen. Penurunan produksi cengkeh akan menyebabkan harga cengkeh domestik meningkat 9.69 persen. Akibat peningkatan harga cengkeh domestik ini maka konsumsi cengkeh industri

121

rokok kretek dan produksi rokok kretek mengalami penurunan masing-masing 0.37 persen dan 0.60 persen. 5.3.4. Peningkatan Suku Bunga 20 Persen Dampak peningkatan suku bunga 20 persen terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 22. Peningkatan suku bunga 20 persen menyebabkan produktivitas cengkeh dan luas areal cengkeh menurun masing-masing 0.42 persen dan 0.18 persen, sehingga produksi cengkeh juga mengalami penurunan 0.56 persen. Penurunan produksi cengkeh akan berdampak pada peningkatan impor cengkeh 1.89 persen dan penurunan ekspor cengkeh 3.51 persen dengan harga cengkeh impor dan harga cengkeh ekspor masing-masing mengalami peningkatan 0.30 persen dan 3.91 persen. Hal ini menyebabkan penawaran cengkeh mengalami penurunan 0.56 persen. Penurunan produksi cengkeh akan menyebabkan harga cengkeh domestik meningkat 0.70 persen. Akibat peningkatan harga cengkeh domestik ini maka konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek mengalami penurunan masing-masing 0.03 persen dan 0.05 persen. 5.3.5. Peningkatan Harga Jual Rokok Kretek 20 Persen Dampak peningkatan harga jual rokok kretek 20 persen terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 22. Peningkatan harga jual rokok kretek 20 persen menyebabkan produksi rokok kretek mengalami peningkatan 0.07 persen, sehingga konsumsi cengkeh industri rokok kretek juga mengalami peningkatan 0.04 persen. Peningkatan konsumsi cengkeh industri rokok kretek menyebabkan impor cengkeh meningkat 0.31 persen yang akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan harga cengkeh impor 0.06 persen.

122

Peningkatan harga cengkeh impor ini menyebabkan harga cengkeh domestik meningkat 0.30 persen. Peningkatan harga cengkeh domestik akan menyebabkan produktivitas dan luas areal cengkeh meningkat masing-masing 0.06 persen dan 0.02 persen, sehingga produksi cengkeh juga akan mengalami peningkatan 0.03 persen. Secara bersamaan akan berdampak pada peningkatan ekspor cengkeh 0.01 persen dengan harga cengkeh ekspor mengalami penurunan 0.01 persen. Hal ini menyebabkan penawaran cengkeh mengalami peningkatan 0.03 persen. 5.3.6. Depresiasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika 20 Persen Dampak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika 20 persen terhadap produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia disajikan pada Tabel 22. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika 20 persen berdampak meningkatkan ekspor cengkeh Indonesia 8.29 persen, selanjutnya menyebabkan harga cengkeh ekspor turun 7.82 persen. Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah menyebabkan menurunnya impor cengkeh Indonesia 1.05 persen dengan harga cengkeh impor yang juga mengalami penurunan 2.25 persen. Penurunan harga cengkeh impor ini menyebabkan harga cengkeh domestik menurun 0.05 persen. Penurunan harga cengkeh domestik akan menyebabkan produktivitas dan luas areal cengkeh menurun masing-masing 0.12 persen dan 0.002 persen, sehingga produksi cengkeh juga akan mengalami penurunan 0.004 persen. Secara bersamaan penurunan produksi cengkeh menyebabkan penawaran cengkeh mengalami penurunan 0.005 persen. Akibat penurunan harga cengkeh domestik maka konsumsi cengkeh industri rokok kretek dan produksi rokok kretek mengalami peningkatan masing-masing 0.002 persen dan 0.003 persen.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. 1.

Kesimpulan Perkembangan produksi cengkeh dan luas areal cengkeh Indonesia masing-masing pada tahun 1980-2006 berfluktuasi dan cenderung meningkat tiap tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan pada periode tahun 1980-1989 lebih tinggi dibandingkan periode tahun 1990-1999 dan tahun 2000-2006. Perkembangan produktivitas cengkeh Indonesia pada tahun 1980-2006 berfluktuasi dan cenderung meningkat namun dengan produktivitas yang umumnya masih rendah terutama perkebunan rakyat yang mengalami pertumbuhan lebih kecil dibandingkan perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta.

2.

Volume impor serta harga cengkeh impor Indonesia tahun 1980-2006 berfluktuasi dan cenderung meningkat. Rata-rata pertumbuhan volume impor cengkeh pada periode tahun 1990-1999 lebih tinggi dibandingkan tahun 1980-1989 dan tahun 2000-2006. Sedangkan harga cengkeh impor Indonesia periode tahun 1980-1989 lebih tinggi dibandingkan tahun 19901999 dan tahun 2000-2006. Tahun 1980 hingga tahun 2006 volume ekspor serta harga cengkeh ekspor Indonesia berfluktuasi dan secara rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya. Periode tahun 1990-1999 pertumbuhan volume ekspor dan harga cengkeh ekspor lebih tinggi dibandingkan periode tahun 1980-1989 dan tahun 2000-2006.

3.

Perkembangan konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek tahun 19802006 rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya dan sejalan dengan

124

perkembangan produksi rokok kretek nasional pada periode yang sama. Rata-rata pertumbuhan konsumsi cengkeh untuk industri rokok kretek dan produksi rokok kretek nasional pada periode tahun 1980-1989 lebih tinggi dibandingkan periode tahun 1990-1999 dan tahun 2000-2006. Periode tahun 1980-2006 perkembangan harga cengkeh domestik mengalami fluktuasi dan secara rata-rata meningkat tiap tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan pada periode tahun 1990-1999 lebih tinggi dibandingkan tahun 1980-1989 dan tahun 2000-2006. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia adalah variabel harga pupuk, suku bunga, trend waktu, kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC, produksi cengkeh, konsumsi cengkeh industri rokok kretek, harga cengkeh domestik, produksi rokok kretek, produksi rokok kretek tahun lalu, luas areal tanam cengkeh tahun lalu, harga cengkeh domestik tahun lalu, harga cengkeh impor tahun lalu, dan harga cengkeh ekspor tahun lalu. Produksi, konsumsi, dan harga cengkeh Indonesia dalam jangka pendek maupun jangka panjang responsif terhadap perubahan produksi cengkeh dan konsumsi cengkeh industri rokok kretek. 5. Peningkatan harga cengkeh di tingkat petani dapat meningkatkan produksi cengkeh melalui peningkatan produktivitas dan luas areal cengkeh, akan tetapi berdampak terhadap penurunan produksi rokok kretek. Sedangkan peningkatan harga jual rokok kretek dapat meningkatkan produksi rokok kretek dan juga meningkatkan produksi cengkeh petani.

125

6.2. 1.

Saran Kebijakan Untuk meningkatkan produksi cengkeh melalui peningkatan produktivitas dan luas areal cengkeh, maka disarankan untuk meningkatkan harga cengkeh domestik dengan menetapkan harga dasar cengkeh di tingkat petani.

2.

Untuk meningkatkan produksi rokok kretek dan juga meningkatkan produksi cengkeh petani, maka disarankan untuk meningkatkan harga jual rokok kretek dengan melakukan efisiensi produksi dan pemasaran rokok kretek.

6.3. 1.

Saran Penelitian Penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis impor dan ekspor cengkeh Indonesia yang berkaitan dengan negara asal impor dan negara tujuan ekspor cengkeh Indonesia.

2.

Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menganalisis kebutuhan cengkeh untuk industri lain, kebutuhan cengkeh untuk rumahtangga, dan produksi cengkeh yang mencakup masing-masing perkebunan rakyat, perkebunan besar negara, dan perkebunan besar swasta.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, M. 2004. Dampak Kebijakan Ekonomi terhadap Produksi dan Ekspor Kakao Sulawesi Selatan. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Cengkeh Indonesia Tahun 19802006. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. Badan Pusat Statistik. 2006. Statistik Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 19802006. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Bintoro, M. H. 1986. Budidaya Cengkeh: Teori dan Praktek. Lembaga Swadaya Informasi, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Cengkeh. http://www.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2007. . 2006. Kebijakan Produksi Cengkeh di Indonesia. Makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional Penanganan Permasalahan Percengkehan di Indonesia, 9 Februari 2006, Jakarta. Doll, J. P. and F. Orazem. 1984. Production Economics Theory with Application. Second Edition. John Wiley and Sons Inc., New York. Fauzi, M. 2007. PDB Pertanian 2006 Lebihi Target. http://media-indonesia.com. Diakses pada tanggal 30 Agustus 2007. Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia. 2006. Prospek Kebutuhan Cengkeh untuk Pabrik Rokok Kretek. Makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional Penanganan Permasalahan Percengkehan di Indonesia, 9 Februari 2006, Jakarta. Gujarati, D. 1997. Ekonometrika Dasar. Terjemahan. Erlangga, Jakarta. Hadiwijaya, T. 1986. Cengkeh: Data dan Petunjuk ke Arah Swa Sembada. PT. Gunung Agung, Jakarta. Hidayat, T. dan N. Nurdjannah. 1997. Masalah dan Standar Mutu Cengkeh. Monograf Tanaman Cengkeh Vol. 2. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. http://id.wikipedia.org//wiki/Cengkeh.htm. Diakses pada tanggal 21 Agustus 2007. http://warintek.progressio.or.id/perkebunan/cengkeh.htm. Diakses pada tanggal 21 Agustus 2007.

127

http://www.depdag.go.id. Diakses pada tanggal 30 Agustus 2007. http://www.fao.org. Diakses pada tanggal 30 Agustus 2007. Husodo, S. Y. 2006. Revitalisasi Petani dan Perkebunan Cengkeh yang Berkelanjutan. Makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional Penanganan Permasalahan Percengkehan di Indonesia, 9 Februari 2006, Jakarta. Irawan, A. 2006. Analisis Perilaku Instabilitas, Pergerakan Harga, Kesempatan Kerja, dan Investasi di Sektor Pertanian Indonesia. Aplikasi Vector Error Correction Model. Jurnal Agro Ekonomi (JAE), 24(1):59-94. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor. Kemala, S. 1990. Tinjauan Penyebab Turunnya Harga Cengkeh. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 8:394-403. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. . 2004. Status Tanaman, Produksi, dan Penggunaan Cengkeh. Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 10(2):59-65. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. , R. Pribadi, dan I. Candra. 2001. Upaya Rehabilitasi untuk Menyeimbangkan Tingkat Penawaran dan Permintaan Cengkeh dalam Negeri. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 8(3):1-4. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of Econometrics Methods. Second Edition. Harper Row Publisher Inc., New York. Lifianthi. 1999. Dampak Kebijakan Ekonomi terhadap Produksi dan Ekspor Kopi Sumatera Selatan. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Lipsey, R. 1993. Pengantar Mikroekonomi. Terjemahan. Binarupa Akasara, Jakarta. Malau, M. P. 1998. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Ekspor Lada Indonesia. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mankiw, N. G. 2000. Teori Makroekonomi. Terjemahan. Erlangga, Jakarta. Najiyati, S. dan Danarti. 1992. Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Cengkeh. Penebar Swadaya, Jakarta.

128

Pitaningrum, D. 2005. Analisis Penawaran dan Permintaan Udang di Pasar Internasional. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rumagit, G. A. J. 2007. Kajian Ekonomi Keterkaitan antara Perkembangan Industri Cengkeh dan Industri Rokok Kretek Nasional. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rumondor, C. L. 1993. Analisis Perkembangan Tataniaga Cengkeh di Sulawesi Utara. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Salvatore, D. 1997. Ekonomi Internasional. Edisi kelima. Terjemahan. Erlangga, Jakarta. Sambudi, S. 2005. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi dan Ekspor Kopi Arabika Indonesia. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sihotang, J. 1996. Analisis Penawaran dan Permintaan Kopi Indonesia di Pasar Domestik dan Internasional. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sinaga, B. M. dan C. B. D. Pakasi, 1999. Dampak Perubahan Faktor Ekonomi Terhadap Permintaan dan Penawaran Cengkeh di Indonesia. Laporan Penelitian Staf Jurusan Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sinuraya, J. F. 2000. Respon Produksi dan Ekspor Karet Sumatera Utara. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Siregar, H. dan Suhendi, 2006. Usahatani Cengkeh, Industri Rokok, dan Kebijakan Kenaikan Harga Jual Eceran Rokok. Makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional Penanganan Permasalahan Percengkehan di Indonesia, 9 Februari 2006, Jakarta. Sitepu, R. K. dan Sinaga, B. M. 2006. Aplikasi Model Ekonometrika: Estimasi, Simulasi, dan Peramalan Menggunakan Program SAS. Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Taruli. 2002. Analisis Peluang Ekspor Agribisnis Cengkeh Indonesia. Skripsi Sarjana. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wachjutomo, A. 1996. Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Penawaran dan Permintaan Cengkeh di Indonesia. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

129

Wahyudi, A. 2002. Fenomena Turunnya Harga Cengkeh secara Drastis. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 8(2):17-19. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. Yuhono, J. T. 1997. Peran dan Prospek Cengkeh dalam Perekonomian Nasional. Monograf Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Rempah dan Obat, 9(1):39-44. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor. Zakiah. 2000. Model Respon Produksi dan Ekspor Minyak Nilam Indonesia: Suatu Analisis Simulasi. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

LAMPIRAN

130

Lampiran 1. Kebijakan Pemerintah pada Industri Cengkeh di Indonesia Tanggal 28 Desember 1969 25 Juli 1970 Surat Keputusan Keppres RI tahun 1969 Tentang Impor cengkeh

Tahun 1980

Tahun 1990

Tahun 1990

23 Januari 1991

30 Januari 1991

15 Mei 1991

SK Menperdag No. 167 tahun Pelaksanaan Keppres 1970 RI tanggal 28 Desember 1969 dengan menetapkan Badan Pengadaan Cengkeh (BPC) sebagai badan tunggal yang dapat melakukan pengadaan dan penyaluran cengkeh di dalam negeri. Keppres No. 8 tahun 1980 Tataniaga cengkeh hasil produksi dalam negeri yang mengatur harga dasar dan tataniaga cengkeh dalam negeri. SK Menperdag No.306 tahun Pembentukan Badan 1990 Peyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). SK Menperdag No. 307 tahun Pembentukan Badan 1990 Cengkeh Nasional (BCN). SK Menperdag No. 23/KP/I/1991 Struktur harga pembelian cengkeh dari petani, harga pembelian dari KUD dan harga penyerahan ke BPPC. SKB Dirjen Perdagangan Dalam Harga pasti menurut Negeri dan Dirjen Bina Usaha tingkat kadar kotoran Koperasi No. 1 tahun 1991 dan kandungan air. SK Menperdag No. 125 tahun Menentukan bahwa 1991 cengkeh adalah barang yang diawasi, penyimpanan, pemindahan dan pengangkutan harus dengan ijin resmi.

131

Lampiran 1. Lanjutan SKB Menkeu dan Menperdag Menetapkan No. 307 tahun 1991 keharusan industri sigaret kretek untuk menyertakan tanda bukti pembelian cengkeh dari BPPC dalam pemesanan pita cukai sigaret kratek. Tahun1992 Inpres No. 1 tahun 1992 Penetapan harga dasar bagi pembelian cengkeh oleh KUD. 11 April 1992 Keppres No. 20 tahun 1992 Tataniaga cengkeh hasil produksi dalam negeri. 22 April 1992 SK Menperdag No. 91/IV/1992 Petunjuk pelaksanaan Keppres No. 20 tahun 1992. 29 April 1992 SKB Dirjen Perdagangan Dalam Petunjuk Negeri dan Dirjen Koperasi No. pelaksanaan Keppres 03/DAGRI/KPB/IV/1992 dan No. 20 tahun 1992. No. 05/BUK/SKB/IV/1992 Tahun 1996 Inpres No. 4 tahun 1996 Tataniaga cengkeh hasil produksi dalam negeri. Tahun 1996 SK Menperindag No.114 tahun Pengaturan kembali 1996 mengenai tataniaga cengkeh hasil produksi dalam negeri. Tahun 1996 SK Menkop /PPK No. 335 tahun Pengaturan kembali 1996 mengenai tataniaga cengkeh hasil produksi dalam negeri. Tahun 1998* Keppres No. 21 tahun 1998 BPPC resmi dibubarkan dan Keppres No. 20 tahun 1992 tidak berlaku lagi. 5 Juli 2002** Surat Keputusan Menperindag Pengendalian Impor No.528/MPP/Kep/7/2002 Cengkeh. Sumber: Wachjutomo, 1996 * Sinaga dan Pakasi, 1999 ** http://www.depdag.go.id/ diakses pada tanggal 20 Agustus 2007 28 November 1991

132

Lampiran 2. Pohon Industri Cengkeh

Sumber: http://www.deptan.go.id/ diakses pada tanggal 20 Agustus 2007

133

Lampiran 3. Luas Areal Perkebunan Cengkeh Indonesia Menurut Provinsi dan Status Pengusahaan Tahun 2006
PR (ha) 1. Nanggroe Aceh 23 167 2. Sumatera Utara 3 087 3. Sumatera Barat 6 601 4. Riau 18 5. Kepulauan Riau 15 042 6. Jambi 318 7. Sumatera Selatan 412 8. Bangka Belitung 59 9. Bengkulu 1 047 10. Lampung 7 707 Sumatera 57 458 11. DKI. Jakarta 12. Jawa Barat 32 838 13. Banten 15 955 14. Jawa Tengah 40 222 15. D.I. Yogyakarta 3 089 16. Jawa Timur 34 280 Jawa 126 384 17. Bali 16 234 18. Nusa Tenggara Barat 1 598 19. Nusa Tenggara Timur 12 647 Nusa Tenggara 30 480 20. Kalimantan Barat 1 597 21. Kalimantan Tengah 228 22. Kalimantan Selatan 1773 23. Kalimantan Timur 234 Kalimantan 3 832 24. Sulawesi Utara 65 940 25. Gorontalo 3 071 26. Sulawesi Tengah 43 058 27. Sulawesi Selatan 49 960 28. Sulawesi Barat 2 054 29. Sulawesi Tenggara 7 757 Sulawesi 171 840 30. Maluku 36 458 31. Maluku Utara 15 869 32. Irian Jaya Barat 767 33. Papua 2 219 Maluku + Papua 55 314 Total Indonesia* 445 308 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006 *): Data Sementara No. Provinsi Keterangan: PR = Perkebunan Rakyat PBN = Perkebunan Besar Negara PBS = Perkebunan Besar Swasta PBN (ha) 1 865 1 865 1 865 PBS (ha) 1 607 1 306 3 771 6 684 37 37 1 500 1 500 8 220 Jumlah (ha) 23 167 3 087 6 601 18 15 042 318 412 59 1 047 7 707 57 458 34 445 15 955 41 528 3 089 39 916 134 934 16 271 1 598 12 647 30 517 1 597 228 1 773 234 3 832 67 440 3 071 43 058 49 960 2 054 7 757 173 340 36 458 15 869 767 2 219 55 314 455 393

Lampiran 4. Data yang Digunakan dalam Model


Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 YCDt 83.847 56.759 61.802 73.044 80.371 63.288 74.529 95.655 117.246 80.340 96.598 120.103 120.201 117.969 146.674 179.360 120.963 129.370 156.687 127.214 144.077 169.311 183.651 172.881 168.480 174.554 183.977 ATCt 408 102 517 134 530 869 572 645 608 282 663 475 679 309 742 269 692 765 701 992 692 682 668 204 608 350 571 047 534 376 501 823 491 713 457 542 428 735 415 859 415 598 429 300 430 212 442 333 438 253 448 858 455 393 QCDt 34 218 000 29 352 000 32 809 000 41 828 000 48 888 000 41 990 000 50 628 000 71 002 000 81 224 000 56 398 000 66 912 000 80 253 000 73 124 000 67 366 000 78 379 000 90 007 000 59 479 000 59 192 000 67 177 000 52 903 000 59 878 000 72 685 000 79 009 000 76 471 000 73 837 000 78 350 000 83 782 000 ICDt 9 510 14 492 7 998 3 2 13 725 2 189 1 996 6 12 8 3 6 5 3 4 0 0 1 22 610 20 873 16 899 796 172 9 1 1 XCDt 39 51 81 341 1 584 1 071 1 818 1 836 2 568 1 255 1 105 1 118 794 700 670 490 230 356 20 157 1 776 4 655 6 324 9 399 15 688 9 060 7 680 9 059 SCDt 34227471 29366441 32816917 41827662 48886418 42002654 50628371 71002160 81221438 56396757 66910903 80251885 73123212 67365305 78378333 90006514 59478770 59191644 67156844 52923834 59894218 72695575 79000397 76455484 73827949 78342321 83772942 CCRt 30 927.832 36 158.578 35 136.410 38 297.632 42 075.802 45 951.786 51 310.656 57 183.432 61 906.330 63 492.854 68 358.564 66 659.056 68 067.216 70 252.826 70 215.693 78 598.399 83 552.410 87 609.592 83 075.142 87 609.502 96 643.692 97 508.100 90 675.786 87 343.456 95 343.976 106 124.556 100 502.438 QRKt 52 766 64 255 61 673 67 979 76 423 86 588 99 303 113 015 124 221 128 819 140 159 134 520 138 879 143 886 143 230 160 366 170 435 180 428 165 424 169 762 185 548 187 332 173 909 170 597 188 292 211 249 199 132 Tt 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 DBPPCt 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 SBIt -2.47 6.41 3.81 0.54 6.99 10.69 5.17 4.87 9.83 5.67 8.34 8.51 8.86 -0.69 2.35 4.7 5.79 6.33 -42.11 9.92 5.18 5.07 2.9 3.25 1.03 -4.36 3.69

134

Lampiran 4. Lanjutan
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 IHK 10.68 11.44 12.55 13.99 15.21 15.87 17.27 18.81 19.84 21.02 23.02 25.22 26.46 29.04 31.73 34.47 36.70 40.75 72.39 73.85 80.75 90.88 100.00 105.06 113.25 125.09 141.48 HCDt 93 632.96 79 982.52 77 689.24 54 324.52 59 829.06 69 313.17 40 532.72 34 237.11 28 830.65 23 834.44 27 280.63 24 385.41 13 794.41 8 849.862 8 446.265 7 890.92 7 683.924 9 325.153 10 250.03 27 081.92 38 235.29 63 488.12 64 320.00 19 979.06 23 461.37 25 414.5 25 354.11 HCIt 59.98 72.4 69.9 164.4 184.1 21.76 20.71 37.3 94.92 86.03 78.19 44.94 45.35 61.29 48.32 39.16 0 0 1.381 2.399 3.108 1.131 0.82 0.836 0.785 0.799 0.707 HCXt 29.05 17.48 25.28 20.63 26.78 17.52 12.17 8.814 8.377 7.441 8.002 8.2 5.506 5.455 9.017 10.23 0.569 1.524 0.967 1.247 2.203 1.856 2.763 1.512 1.563 1.552 1.362 HPUt 655.43 611.89 717.13 643.32 591.72 630.12 723.8 717.7 831.65 880.11 912.25 872.32 907.03 895.32 819.41 754.28 899.18 981.6 1 540.3 1 557.2 1 424.1 1 265.4 1 150 1 094.6 1 015.5 919.34 848.18 HJRKt 1 132.77 1 296.24 1 714.66 1 774.48 2 076.79 2 206.49 2 288.01 2 157.15 2 121.77 2 106.85 2 218.85 2 284.66 2 537.53 2 312.09 2 389.63 2 427.91 2 423.13 2 321.06 2 026.07 2 617.91 2 703.81 3 147.67 3 777.21 3 807.35 3 642.38 3 730.65 3 461.59 HXRKt 102.72 104.05 98.024 100.12 90.00 203.76 81.228 53.344 50.882 38.221 38.818 42.891 41.878 36.284 39.471 37.514 39.131 35.563 17.069 12.359 13.734 12.212 11.768 11.174 9.8949 6.9542 5.6361 NTKt 5 936.33 5 620.629 5 513.944 7 105.075 7 074.293 7 126.654 9 583.092 8 782.562 8 714.718 8 587.06 8 258.036 7 898.493 7 792.895 7 265.84 6 933.501 6 695.677 6 493.188 11 411.04 11 085.79 9 614.083 11 882.35 11 443.66 8 940.00 8 057.301 8 203.091 7 914.302 6 479.361 HCDt-1 93 632.96 79 982.52 77 689.24 54 324.52 59 829.06 69 313.17 40 532.72 34 237.11 28 830.65 23 834.44 27 280.63 24 385.41 13 794.41 8 849.862 8 446.265 7 890.92 7 683.924 9 325.153 10 250.03 27 081.92 38 235.29 63 488.12 64 320.00 19 979.06 23 461.37 25 414.5 HCIt-1 59.98 72.4 69.9 164.4 184.1 21.76 20.71 37.3 94.92 86.03 78.19 44.94 45.35 61.29 48.32 39.16 0 0 1.381 2.399 3.108 1.131 0.82 0.836 0.785 0.799 HCXt-1 29.05 17.48 25.28 20.63 26.78 17.52 12.17 8.814 8.377 7.441 8.002 8.2 5.506 5.455 9.017 10.23 0.569 1.524 0.967 1.247 2.203 1.856 2.763 1.512 1.563 1.552

135

Lampiran 4. Lanjutan
Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 YCDt-1 83.847 56.759 61.802 73.044 80.371 63.288 74.529 95.655 117.246 80.340 96.598 120.103 120.201 117.969 146.674 179.360 120.963 129.370 156.687 127.214 144.077 169.311 183.651 172.881 168.480 174.554 ATCt-1 408 102 517 134 530 869 572 645 608 282 663 475 679 309 742 269 692 765 701 992 692 682 668 204 608 350 571 047 534 376 501 823 491 713 457 542 428 735 415 859 415 598 429 300 430 212 442 333 438 253 448 858 ICDt-1 9 510 14 492 7 998 3 2 13 725 2 189 1 996 6 12 8 3 6 5 3 4 0 0 1 22 610 20 873 16 899 796 172 9 1 XCDt-1 39 51 81 341 1 584 1 071 1 818 1 836 2 568 1 255 1 105 1 118 794 700 670 490 230 356 20 157 1 776 4 655 6 324 9 399 15 688 9 060 7 680 CCRt-1 30 927.832 36 158.578 35 136.410 38 297.632 42 075.802 45 951.786 51 310.656 57 183.432 61 906.330 63 492.854 68 358.564 66 659.056 68 067.216 70 252.826 70 215.693 78 598.399 83 552.410 87 609.592 83 075.142 87 609.502 96 643.692 97 508.100 90 675.786 87 343.456 95 343.976 106 124.556 QRKt-1 52 766 64 255 61 673 67 979 76 423 86 588 99 303 113 015 124 221 128 819 140 159 134 520 138 879 143 886 143 230 160 366 170 435 180 428 165 424 169 762 185 548 187 332 173 909 170 597 188 292 211 249 HPUt-1 655.43 611.89 717.13 643.32 591.72 630.12 723.8 717.7 831.65 880.11 912.25 872.32 907.03 895.32 819.41 754.28 899.18 981.6 1 540.3 1 557.2 1 424.1 1 265.4 1 150.0 1 094.6 1 015.5 919.34 HJRKt-1 1 132.77 1 296.24 1 714.66 1 774.48 2 076.79 2 206.49 2 288.01 2 157.15 2 121.77 2 106.85 2 218.85 2 284.66 2 537.53 2 312.09 2 389.63 2 427.91 2 423.13 2 321.06 2 026.07 2 617.91 2 703.81 3 147.67 3 777.21 3 807.35 3 642.38 3 730.65 HXRKt-1 102.72 104.05 98.024 100.12 90.00 203.76 81.228 53.344 50.882 38.221 38.818 42.891 41.878 36.284 39.471 37.514 39.131 35.563 17.069 12.359 13.734 12.212 11.768 11.174 9.8949 6.9542 NTKt-1 5 936.33 5 620.629 5 513.944 7 105.075 7 074.293 7 126.654 9 583.092 8 782.562 8 714.718 8 587.06 8 258.036 7 898.493 7 792.895 7 265.84 6 933.501 6 695.677 6 493.188 1 1411.04 1 1085.79 9 614.083 1 1882.35 1 1443.66 8 940.00 8 057.301 8 203.091 7 914.302

136

137

Lampiran 4. Lanjutan Keterangan: YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt Tt DBPPCt SBIt IHK HCDt HCIt HCXt HPUt HJRKt HXRKt NTKt HCDt-1 HCIt-1 HCXt-1 YCDt-1 ATCt-1 ICDt-1 XCDt-1 CCRt-1 QRKt-1 HPUt-1 HJRKt-1 HXRKt-1 NTKt-1

= tingkat produktivitas cengkeh tahun ke-t (kg/ha) = luas areal cengkeh tahun ke-t (ha) = produksi cengkeh tahun ke-t (kg) = volume cengkeh impor tahun ke-t (ton) = volume cengkeh ekspor tahun ke-t (ton) = penawaran cengkeh tahun ke-t (ton) = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-t (ton) = produksi rokok kretek tahun ke-t (juta batang) = trend waktu = dummy kebijakan tataniaga berdasarkan BPPC: 1=BPPC, 0=tanpa BPPC = suku bunga tahun ke-t (%) = indeks harga konsumen Indonesia (2002=100) = harga cengkeh domestik tahun ke-t (Rp/kg) = harga cengkeh impor tahun ke-t (US$/kg) = harga cengkeh ekspor tahun ke-t (US$/kg) = harga pupuk tahun ke-t (Rp/kg) = harga jual rokok kretek tahun ke-t (Rp/bungkus) = harga ekspor rokok kretek tahun ke-t (US$/kg) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-t (Rp/US$) = harga cengkeh domestik tahun ke-(t-1) = harga cengkeh impor tahun ke-(t-1) = harga cengkeh ekspor tahun ke-(t-1) = tingkat produktivitas cengkeh tahun ke-(t-1) = luas areal tanam cengkeh tahun ke-(t-1) = volume cengkeh impor tahun ke-(t-1) = volume cengkeh ekspor tahun ke-(t-1) = konsumsi cengkeh industri rokok kretek tahun ke-(t-1) = produksi rokok kretek tahun ke-(t-1) = harga pupuk tahun ke-(t-1) = harga jual rokok kretek tahun ke-(t-1) = harga ekspor rokok kretek tahun ke-(t-1) = nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tahun ke-(t-1)

138

Lampiran 5. Program Komputer Pendugaan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SYSLIN
OPTIONS NODATE NONUMBER; DATA CENGKEH; SET work. Data22; /* create data */ YCDt =(QCDt/ATCt); SCDt =(QCDt+ICDt-XCDt); /* create variabel dummy */ if 1990 =< thn <= 1998 then DBPPCt=1; else DBPPCt=0; /* merilkan data nominal */ HCDt =(HDt/IHKt)*100; HCXt =(HXt/IHKt)*100; HCIt =(HIt/IHKt)*100; HPUt =(HPt/IHKt)*100; NTKt =(NTt/IHKt)*100; HJRKt =(HJKt/IHKt)*100; HXRKt =(HXKt/IHKt)*100; /* create variabel lag */ HCDt1 = lag(HCDt); HCXt1 = lag(HCXt); HCIt1 = lag(HCIt); YCDt1 = lag(YCDt); ATCt1 = lag(ATCt); CCRt1 = lag(CCRt); QRKt1 = lag(QRKt); ICDt1 = lag(ICDt); XCDt1 = lag(XCDt); HPUt1 = lag(HPUt); NTKt1 = lag(NTKt); HJRKt1= lag(HJRKt); HXRKt1= lag(HXRKt); /* create data baru */ HCDtf = HCDt1/HCDt; HPUtd = ((HPUt-HPUt1)/HPUt1)*100; HJRKta= HJRKt-HJRKt1; HXRKtd= ((HXRKt-HXRKt1)/HXRKt1)*100; NTKta = NTKt-NTKt1; NTKtc = NTKt1/NTKt; /* create deskripsi variabel */ LABEL THN ='TAHUN' HCDt ='HARGA CENGKEH DOMESTIK' HCDtf ='RASIO HCDt1 DENGAN HCDt' HCXt ='HARGA CENGKEH EKSPOR' HCIt ='HARGA CENGKEH IMPOR' NTKt ='NILAI TUKAR Rp/US$' NTKta ='SELISIH NTKt DENGAN NTKt1' NTKtc ='RASIO NTKt1 DENGAN NTKt'

139

Lampiran 5. Lanjutan
HJRKt HJRKta HXRKt HXRKtd QCDt ATCt YCDt XCDt ICDt SCDt CCRt QRKt HPUt HPUtd SBIt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1 HXRKt1 HJRKt1 RUN; PROC SYSLIN OLS DATA=CENGKEH OUTEST=HASIL; ENDOGENOUS YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt; INSTRUMENTS NTKt HJRKt HXRKt SBIt HPUt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1; /* persamaan MODEL YCDt = MODEL ATCt = MODEL ICDt = MODEL XCDt = MODEL CCRt = MODEL QRKt = MODEL HCDt = MODEL HCIt = MODEL HCXt = struktural */ HCDt ATCt HPUtd SBIt Tt DBPPCt YCDt1/DW; HCDt HPUt SBIt Tt DBPPCt ATCt1/DW; HCIt NTKt QCDt CCRt Tt DBPPCt ICDt1/DW; HCXt NTKt QCDt SBIt Tt XCDt1/DW; HCDtf QRKt Tt CCRt1/DW; HCDt HJRKta HXRKtd Tt QRKt1/DW; HCIt QCDt CCRt Tt DBPPCt HCDt1/DW; ICDt1 NTKta HCIt1/DW; XCDt NTKtc HCXt1/DW; ='HARGA JUAL ROKOK KRETEK' ='SELISIH HJRKt DENGAN HJRKt1' ='HARGA EKSPOR ROKOK KRETEK' ='RASIO (HXRKt-HXRKt1) DENGAN HXRKt1' ='PRODUKSI CENGKEH' ='AREAL TANAM CENGKEH' ='PRODUKTIVITAS CENGKEH' ='EKSPOR CENGKEH' ='IMPOR CENGKEH' ='PENAWARAN CENGKEH' ='KONSUMSI CENGKEH' ='PRODUKSI ROKOK KRETEK' ='HARGA PUPUK' ='RASIO (HPUt-HPUt1) DENGAN HPUt1' ='SUKU BUNGA ='DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC,0=TANPA BPPC' ='TREND WAKTU' ='LAG DARI HCDt' ='LAG DARI HCXt' ='LAG DARI HCIt' ='LAG DARI YCDt' ='LAG DARI ATCt' ='LAG DARI CCRt' ='LAG DARI QRKt' ='LAG DARI ICDt' ='LAG DARI XCDt' ='LAG DARI HXRKt' ='LAG DARI HJRKt';

/* persamaan identitas */ IDENTITY QCDt = QCDt + 0; IDENTITY SCDt = QCDt + ICDt - XCDt; RUN;

140

Lampiran 6. Hasil Pendugaan Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label YCDt YCDt PRODUKTIVITAS CENGKEH

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

7 18 25

39278.07 4545.189 43823.25

5611.152 252.5105

22.22

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

15.89058 123.65779 12.85045

R-Square Adj R-Sq

0.89628 0.85595

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 20.59432 54.13842 0.000119 0.000275 0.000033 0.000056 -0.58634 0.321841 0.38 0.43 0.59 -1.82 0.7081 Intercept 0.6714 HARGA CENGKEH DOMESTIK 0.5649 AREAL TANAM 0.0851 RASIO (HPUtDENGAN HPUt1 0.1056 SUKU BUNGA 0.0014 TREND WAKTU 0.1953 DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC 0.5580 LAG DARI YCDt

Variable Intercept HCDt ATCt CENGKEH HPUtd HPUt1) SBIt Tt DBPPCt

DF 1 1 1 1

1 1 1

-0.86052 0.504978 4.474771 1.185594 13.48432 10.02484

-1.70 3.77 1.35

YCDt1

0.128549 0.215373

0.60

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

2.156306 26 -0.08616

Lampiran 6. Lanjutan

141

The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label ATCt ATCt AREAL TANAM CENGKEH

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

6 19 25

2.799E11 1.009E10 2.9E11

4.666E10 5.3128E8

87.82

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

23049.5526 543808.385 4.23854

R-Square Adj R-Sq

0.96520 0.95421

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 150658.6 64140.96 0.259961 0.397084 -44.6748 -344.156 -1775.11 -31117.5 24.82704 554.3488 1230.835 14005.16 2.35 0.65 -1.80 -0.62 -1.44 -2.22 0.0298 Intercept 0.5205 HARGA CENGKEH DOMESTIK 0.0879 HARGA PUPUK 0.5421 SUKU BUNGA 0.1655 TREND WAKTU 0.0386 DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC <.0001 LAG DARI ATCt

Variable Intercept HCDt HPUt SBIt Tt DBPPCt

DF 1 1 1 1 1 1

ATCt1

0.855379 0.069739

12.27

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

2.609366 26 -0.34844

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model ICDt

142

Dependent Variable Label ICDt IMPOR CENGKEH

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model 0.0176 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

7 18 25

7.4129E8 5.6428E8 1.3056E9

1.059E8 31348990

3.38

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

5599.01685 3915.92308 142.98077

R-Square Adj R-Sq

0.56779 0.39971

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 5680.138 10271.15 -41.8252 35.10517 -0.03774 0.900922 -0.00024 0.000106 0.435373 0.319646 -1040.19 835.6195 -3634.28 2903.286 0.55 -1.19 -0.04 -2.29 1.36 -1.24 -1.25 0.5871 Intercept 0.2490 HARGA CENGKEH 0.9670 NILAI TUKAR 0.0344 PRODUKSI 0.1900 KONSUMSI 0.2292 TREND WAKTU 0.2267 DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC 0.2445 LAG DARI ICDt

Variable Intercept HCIt IMPOR NTKt Rp/US$ QCDt CENGKEH CCRt CENGKEH Tt DBPPCt

DF 1 1 1 1 1 1 1

ICDt1

0.231185 0.192164

1.20

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

1.679382 26 0.150026

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label XCDt XCDt EKSPOR CENGKEH

143

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

6 19 25

5.0746E8 1.6075E8 6.6821E8

84576672 8460460

10.00

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

2908.68705 3841.00000 75.72734

R-Square Adj R-Sq

0.75943 0.68346

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label -6674.94 6490.103 191.7693 165.6288 0.296799 0.415823 0.000031 0.000054 -328.238 65.21059 336.7863 188.8210 0.201511 0.162895 -1.03 1.16 0.71 0.58 -5.03 1.78 1.24 0.3166 Intercept 0.2613 HARGA CENGKEH 0.4840 NILAI TUKAR 0.5703 PRODUKSI <.0001 SUKU BUNGA 0.0905 TREND WAKTU 0.2311 LAG DARI XCDt

Variable Intercept HCXt EKSPOR NTKt Rp/US$ QCDt CENGKEH SBIt Tt XCDt1

DF 1 1 1 1 1 1 1

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

1.476486 26 0.239165

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label CCRt CCRt KONSUMSI CENGKEH

Analysis of Variance

144

Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

4 21 25

1.134E10 46568872 1.139E10

2.8357E9 2217565

1278.75

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

1489.14920 71909.7648 2.07086

R-Square Adj R-Sq

0.99591 0.99513

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 13057.16 2498.037 -1564.28 600.7550 0.334210 0.030577 797.5481 206.3757 0.024460 0.078367 5.23 -2.60 10.93 3.86 0.31 <.0001 Intercept 0.0166 RASIO HCDt1 DENGAN HCDt <.0001 PRODUKSI ROKOK KRETEK 0.0009 TREND WAKTU 0.7580 LAG DARI CCRt

Variable Intercept HCDtf QRKt Tt CCRt1

DF 1 1 1 1 1

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

1.114601 26 0.399674

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label QRKt QRKt PRODUKSI ROKOK KRETEK

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F

DF

F Value

Pr

145

Model <.0001 Error Corrected Total 5 20 25 4.69E10 1.6087E9 4.85E10 9.379E9 80437014 116.60

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

8968.66846 141747.077 6.32723

R-Square Adj R-Sq

0.96683 0.95854

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 46268.62 13661.76 -0.21976 0.125210 2.089508 9.509508 21.12576 58.68568 3.39 -1.76 0.22 0.36 0.0029 Intercept 0.0945 HARGA CENGKEH DOMESTIK 0.8283 SELISIH HJRKt DENGAN HJRKt1 0.7226 RASIO (HXRKtDENGAN HXRKt1 0.0252 TREND WAKTU 0.0094 LAG DARI QRKt

Variable Intercept HCDt HJRKta HXRKtd HXRKt1) Tt QRKt1

DF 1 1 1 1

1 1

2360.414 976.0139 0.503855 0.175278

2.42 2.87

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

1.855126 26 0.031674

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label HCDt HCDt HARGA CENGKEH DOMESTIK

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

6 19 25

1.044E10 2.7696E9 1.321E10

1.7398E9 1.4577E8

11.94

146

Root MSE Dependent Mean Coeff Var 12073.4889 33608.2460 35.92419 R-Square Adj R-Sq 0.79032 0.72410

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label -3955.37 36835.10 16.68620 76.71464 -0.00029 0.000226 0.931464 0.695650 -2202.82 1714.607 -9235.36 7548.849 -0.11 0.22 -1.30 1.34 -1.28 -1.22 0.9156 Intercept 0.8301 HARGA CENGKEH 0.2106 PRODUKSI 0.1964 KONSUMSI 0.2143 TREND WAKTU 0.2361 DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC 0.0034 LAG DARI HCDt

Variable Intercept HCIt IMPOR QCDt CENGKEH CCRt CENGKEH Tt DBPPCt

DF 1 1 1 1 1 1

HCDt1

0.658692 0.196657

3.35

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

2.26586 26 -0.13453

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label HCIt HCIt HARGA CENGKEH IMPOR

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model 0.0048 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

3 22 25

27434.27 35229.60 62663.87

9144.757 1601.345

5.71

Root MSE Dependent Mean

40.01681 41.56703

R-Square Adj R-Sq

0.43780 0.36114

147

Coeff Var 96.27056

Parameter Estimates Parameter Standard Variable Estimate Error t Value Pr > |t| Label 10.48215 12.48567 0.000319 0.001146 0.002300 0.005657 0.676709 0.166573 0.84 0.28 0.41 4.06 0.4102 Intercept 0.7835 LAG DARI ICDt 0.6883 SELISIH NTKt DENGAN NTKt1 0.0005 LAG DARI HCIt

Variable Intercept ICDt1 NTKta HCIt1

DF 1 1 1 1

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

1.709384 26 0.139477

Lampiran 6. Lanjutan
The SAS System The SYSLIN Procedure Ordinary Least Squares Estimation Model Dependent Variable Label HCXt HCXt HARGA CENGKEH EKSPOR

Analysis of Variance Sum of Squares Mean Square

Source > F Model <.0001 Error Corrected Total

DF

F Value

Pr

3 22 25

1120.133 368.6053 1488.739

373.3778 16.75479

22.28

Root MSE Dependent Mean Coeff Var

4.09326 8.00095 51.15968

R-Square Adj R-Sq

0.75240 0.71864

Parameter Estimates Parameter Standard Variable

148

Variable Intercept XCDt NTKtc HCXt1 DF 1 1 1 1 Estimate Error t Value Pr > |t| Label 0.15 -0.67 0.15 6.74 0.8854 Intercept 0.5086 EKSPOR CENGKEH 0.8808 RASIO NTKt1 DENGAN NTKt <.0001 LAG DARI HCXt

0.884444 6.065744 -0.00013 0.000188 0.894839 5.900776 0.738924 0.109588

Durbin-Watson Number of Observations First-Order Autocorrelation

2.405645 26 -0.24912

Lampiran 7. Hasil Dugaan Variabel Penjelas yang Berpengaruh Nyata terhadap Variabel Endogen dalam Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia
Variabel Penjelas QCDt ATCt ICDt XCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt HPUt SBIt Tt DBPPCt HJRKt HXRKt NTKt Lag Endogen YCDt ATCt ICDt Variabel Endogen XCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt

149

150

Lampiran 8. Program Komputer Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006 Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SIMNLIN
OPTIONS NODATE NONUMBER; DATA CENGKEH; SET work. Data22; /* create data */ YCDt =(QCDt/ATCt); SCDt =(QCDt+ICDt-XCDt); /* create variabel dummy */ if 1990 =< thn <= 1998 then DBPPCt=1; else DBPPCt=0; /* merilkan data nominal */ HCDt =(HDt/IHKt)*100; HCXt =(HXt/IHKt)*100; HCIt =(HIt/IHKt)*100; HPUt =(HPt/IHKt)*100; NTKt =(NTt/IHKt)*100; HJRKt =(HJKt/IHKt)*100; HXRKt =(HXKt/IHKt)*100; /* create variabel lag */ HCDt1 = lag(HCDt); HCXt1 = lag(HCXt); HCIt1 = lag(HCIt); YCDt1 = lag(YCDt); ATCt1 = lag(ATCt); CCRt1 = lag(CCRt); QRKt1 = lag(QRKt); ICDt1 = lag(ICDt); XCDt1 = lag(XCDt); HPUt1 = lag(HPUt); NTKt1 = lag(NTKt); HJRKt1= lag(HJRKt); HXRKt1= lag(HXRKt); /* create data baru */ HCDtf = HCDt1/HCDt; HPUtd = ((HPUt-HPUt1)/HPUt1)*100; HJRKta= HJRKt-HJRKt1; HXRKtd= ((HXRKt-HXRKt1)/HXRKt1)*100; NTKta = NTKt-NTKt1; NTKtc = NTKt1/NTKt; /* create deskripsi variabel */ LABEL THN ='TAHUN' HCDt ='HARGA CENGKEH DOMESTIK' HCDtf ='RASIO HCDt1 DENGAN HCDt' HCXt ='HARGA CENGKEH EKSPOR' HCIt ='HARGA CENGKEH IMPOR' NTKt ='NILAI TUKAR Rp/US$' NTKta ='SELISIH NTKt DENGAN NTKt1'

151

Lampiran 8. Lanjutan
NTKtc HJRKt HJRKta HXRKt HXRKtd QCDt ATCt YCDt XCDt ICDt SCDt CCRt QRKt HPUt HPUtd SBIt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1 HXRKt1 HJRKt1 RUN; PROC SIMNLIN DATA=CENGKEH SIMULATE STATS OUTPREDICT THEIL; ENDOGENOUS YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt; INSTRUMENTS NTKt HJRKt HXRKt SBIt HPUt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1; PARM A0 A5 B0 B5 C0 C5 D0 D5 E0 F0 F5 G0 G5 H0 I0 20.59432 4.474771 150658.6 -31117.5 5680.138 -1040.19 -6674.94 336.7863 13057.16 46268.62 0.503855 -3955.37 -9235.36 10.48215 0.884444 A1 A6 B1 B6 C1 C6 D1 D6 E1 F1 G1 G6 H1 I1 0.000119 13.48432 0.259961 0.855379 -41.8252 -3634.28 191.7693 0.201511 -1564.28 -0.21976 A2 0.000033 A3 -0.58634 A4 -0.86052 A7 0.128549 B2 -44.6748 B3 -344.156 B4 -1775.11 C2 -0.03774 C3 -0.00024 C4 0.435373 C7 0.231185 D2 0.296799 D3 0.000031 D4 -328.238 E2 0.334210 E3 797.5481 E4 0.024460 F2 2.089508 F3 21.12576 F4 2360.414 ='RASIO NTKt1 DENGAN NTKt' ='HARGA JUAL ROKOK KRETEK' ='SELISIH HJRKt DENGAN HJRKt1' ='HARGA EKSPOR ROKOK KRETEK' ='RASIO (HXRKt-HXRKt1) DENGAN HXRKt1' ='PRODUKSI CENGKEH' ='AREAL TANAM CENGKEH' ='PRODUKTIVITAS CENGKEH' ='EKSPOR CENGKEH' ='IMPOR CENGKEH' ='PENAWARAN CENGKEH' ='KONSUMSI CENGKEH' ='PRODUKSI ROKOK KRETEK' ='HARGA PUPUK' ='RASIO (HPUt-HPUt1) DENGAN HPUt1' ='SUKU BUNGA' ='DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC' ='TREND WAKTU' ='LAG DARI HCDt' ='LAG DARI HCXt' ='LAG DARI HCIt' ='LAG DARI YCDt' ='LAG DARI ATCt' ='LAG DARI CCRt' ='LAG DARI QRKt' ='LAG DARI ICDt' ='LAG DARI XCDt' ='LAG DARI HXRKt' ='LAG DARI HJRKt';

16.68620 G2 -0.00029 G3 0.931464 G4 -2202.82 0.658692 0.000319 H2 0.002300 H3 0.676709 -0.00013 I2 0.894839 I3 0.738924;

152

Lampiran 8. Lanjutan
YCDt = A0 + A1*HCDt + A2*ATCt + A3*(((HPUt-HPUt1)/HPUt1)*100) + A4*SBIt + A5*Tt + A6*DBPPCt + A7*YCDt1; ATCt = B0 + B1*HCDt + B2*HPUt + B3*SBIt + B4*Tt + B5*DBPPCt + B6*ATCt1; ICDt = C0 + C1*HCIt + C2*NTKt + C3*QCDt + C4*CCRt + C5*Tt + C6*DBPPCt + C7*ICDt1; XCDt = D0 + D1*HCXt + D2*NTKt + D3*QCDt + D4*SBIt + D5*Tt + D6*XCDt1; CCRt = E0 + E1*(HCDt1/HCDt) + E2*QRKt + E3*Tt + E4*CCRt1; QRKt = F0 + F1*HCDt + F2*(HJRKt-HJRKt1) + F3*(((HXRKtHXRKt1)/HXRKt1)*100) + F4*Tt + F5*QRKt1; HCDt = G0 + G1*HCIt + G2*QCDt + G3*CCRt + G4*Tt + G5*DBPPCt + G6*HCDt1; HCIt = H0 + H1*ICDt1 + H2*(NTKt-NTKt1) + H3*HCIt1; HCXt = I0 + I1*XCDt + I2*(NTKt1/NTKt) + I3*HCXt1; QCDt = YCDt*ATCt; SCDt = QCDt + ICDt - XCDt; HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1 = = = = = = = = = lag(HCDt); lag(HCXt); lag(HCIt); lag(YCDt); lag(ATCt); lag(CCRt); lag(QRKt); lag(ICDt); lag(XCDt); lag(HPUt); lag(NTKt); lag(HJRKt); lag(HXRKt);

HPUt1 = NTKt1 = HJRKt1= HXRKt1=

RANGE THN=1999 TO 2006; RUN;

153

Lampiran 9. Hasil Validasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006
The SAS System The SIMNLIN Procedure Model Summary Model Variables Endogenous Parameters Range Variable Equations Number of Statements Program Lag Length 11 11 56 THN 11 24 1

The SAS System The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Data Set Options DATA= CENGKEH

Solution Summary Variables Solved Simulation Lag Length Solution Range First Last Solution Method CONVERGE= Maximum CC Maximum Iterations Total Iterations Average Iterations 11 1 THN 1999 2006 NEWTON 1E-8 5.839E-9 4 27 3.375

Observations Processed Read Lagged Solved First Last Variables HCXt Solved For 9 1 8 20 27

YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt

Lampiran 9. Lanjutan
The SAS System The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation

154

Solution Range THN = 1999 To 2006 Descriptive Statistics Actual Mean Std Dev 165.5 434476 72114375 7670.1 7955.1 72114090 95218.9 185728 35916.8 1.3232 1.7574 19.8405 14483.0 10444625 10436.8 4073.1 10432472 6488.5 14460.4 18053.0 0.9116 0.5037 Predicted Mean Std 165.9 427796 71159037 5242.1 7343.2 71156936 94943.5 186432 32130.4 26.0067 2.7434

Variable Dev YCDt 17.0417 ATCt 15126.6 QCDt 9665507 ICDt 2988.5 XCDt 1661.8 SCDt 9661047 CCRt 5237.7 QRKt 10316.4 HCDt 4079.9 HCIt 7.7413 HCXt 0.4809

N Obs 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

N 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

Statistics of fit Mean RMS % Variable Error YCDt 6.2430 ATCt 1.9426 QCDt 7.1396 ICDt 67107.4 XCDt 85.6408 SCDt 7.1316 CCRt 5.4461 QRKt 5.4233 HCDt 40.8618 HCIt 3042.0 HCXt 76.5089 N 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 Error 0.3421 -6679.7 -955338 -2428.0 -611.9 -957154 -275.4 703.9 -3786.3 24.6835 0.9859 Mean % Mean Abs Mean Abs Error 0.6184 -1.5356 -0.8683 37843.6 23.5902 -0.8733 -0.0726 0.6490 5.5841 2701.3 64.3318 Error 9.0810 6679.7 4409390 6522.0 2640.0 4404081 4436.6 8489.3 12716.2 24.6835 0.9859 % Error 5.5479 1.5356 6.1655 37887.9 49.2158 6.1567 4.6555 4.6029 34.6722 2701.3 64.3318 RMS Error 10.3622 8446.1 5216612 7944.7 3723.7 5212499 5137.2 9917.0 16042.3 25.8981 1.1464

Statistics of fit Variable YCDt ATCt R-Square 0.6883 0.6113 Label PRODUKTIVITAS CENGKEH AREAL TANAM CENGKEH

155

QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt 0.7149 0.3378 0.0448 0.7147 0.2836 0.4625 0.0975 -921.4 -4.919 PRODUKSI CENGKEH IMPOR CENGKEH EKSPOR CENGKEH SUPLAI CENGKEH KONSUMSI CENGKEH PRODUKSI ROKOK KRETEK HARGA CENGKEH DOMESTIK HARGA CENGKEH IMPOR HARGA CENGKEH EKSPOR

Lampiran 9. Lanjutan
The SAS System The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Theil Forecast Error Statistics MSE Decomposition Proportions Corr Covar Variable (UC) YCDt 0.94 ATCt 0.37 QCDt 0.95 ICDt 0.14 XCDt 0.61 SCDt 0.95 CCRt 0.95 QRKt 0.84 HCDt 0.28 HCIt 0.03 HCXt 0.26 N 8 MSE 107.4 (R) 0.83 0.93 0.85 0.84 0.29 0.85 0.58 0.68 0.44 -0.67 0.19 Bias (UM) 0.00 0.63 0.03 0.09 0.03 0.03 0.00 0.01 0.06 0.91 0.74 Reg (UR) 0.00 0.03 0.02 0.46 0.01 0.02 0.07 0.00 0.05 0.09 0.10 Dist (UD) 1.00 0.34 0.95 0.44 0.96 0.95 0.93 0.99 0.89 0.00 0.16 Var (US) 0.06 0.01 0.02 0.77 0.37 0.02 0.05 0.15 0.66 0.06 0.00

8 71336848 8 2.721E13 8 63117827 8 13865778 8 2.717E13 8 26391321 8 98346552 8 2.5736E8 8 8 670.7 1.3142

Theil Forecast Error Statistics Inequality U1 0.0622 0.0194 0.0717 0.6399 0.4222 0.0716 0.0538 0.0533 0.4042 16.4517 0.6301 Coef U 0.0311 0.0098 0.0361 0.4328 0.2281 0.0361 0.0270 0.0266 0.2227 0.9065 0.2492 Label PRODUKTIVITAS CENGKEH AREAL TANAM CENGKEH PRODUKSI CENGKEH IMPOR CENGKEH EKSPOR CENGKEH PENAWARAN CENGKEH KONSUMSI CENGKEH PRODUKSI ROKOK KRETEK HARGA CENGKEH DOMESTIK HARGA CENGKEH IMPOR HARGA CENGKEH EKSPOR

Variable YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt

156

Lampiran 9. Lanjutan
The SAS System The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Theil Relative Change Forecast Error Statistics Relative Change Proportions Corr Covar Variable (UC) YCDt 0.97 ATCt 0.29 QCDt 0.92 ICDt 0.01 XCDt 0.91 SCDt 0.92 CCRt 0.94 QRKt 0.92 HCDt 0.94 HCIt 0.02 HCXt 0.24 N 8 MSE 0.00413 (R) 0.81 0.79 0.79 0.99 0.85 0.79 0.62 0.63 0.78 -0.24 0.50 Bias (UM) 0.00 0.62 0.03 0.10 0.01 0.03 0.00 0.01 0.03 0.75 0.75 Reg (UR) 0.02 0.01 0.02 0.86 0.28 0.02 0.05 0.04 0.03 0.25 0.03 Dist (UD) 0.98 0.37 0.95 0.04 0.71 0.95 0.94 0.96 0.94 0.00 0.22 Var (US) 0.03 0.09 0.04 0.88 0.08 0.04 0.06 0.08 0.03 0.23 0.01 MSE Decomposition

8 0.000396 8 0.00574

8 24216456 8 8 8 8 8 8 8 0.1967 0.00573 0.00311 0.00305 0.1632 755.1 0.4526

Theil Relative Change Forecast Error Statistics Inequality U1 0.5772 0.9292 0.6023 0.6156 0.5910 Coef U 0.3024 0.5304 0.3255 0.4429 0.2750 Label PRODUKTIVITAS CENGKEH AREAL TANAM CENGKEH PRODUKSI CENGKEH IMPOR CENGKEH EKSPOR CENGKEH

Variable YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt

157

SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt 0.6027 0.7530 0.7461 0.5849 73.1629 1.7698 0.3258 0.4142 0.4070 0.3128 0.9882 0.5950 PENAWARAN CENGKEH KONSUMSI CENGKEH PRODUKSI ROKOK KRETEK HARGA CENGKEH DOMESTIK HARGA CENGKEH IMPOR HARGA CENGKEH EKSPOR

Lampiran 10. Program Komputer Simulasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006 Menggunakan SAS Version 9.1 Prosedur SIMNLIN
OPTIONS NODATE NONUMBER; DATA CENGKEH; SET work. Data22; /* create data */ YCDt =(QCDt/ATCt); SCDt =(QCDt+ICDt-XCDt); /* create variabel dummy */ if 1990 =< thn <= 1998 then DBPPCt=1; else DBPPCt=0; /* merilkan data nominal */ HCDt =(HDt/IHKt)*100; HCXt =(HXt/IHKt)*100; HCIt =(HIt/IHKt)*100; HPUt =(HPt/IHKt)*100; NTKt =(NTt/IHKt)*100; HJRKt =(HJKt/IHKt)*100; HXRKt =(HXKt/IHKt)*100; /* create variabel lag */ HCDt1 = lag(HCDt); HCXt1 = lag(HCXt); HCIt1 = lag(HCIt); YCDt1 = lag(YCDt); ATCt1 = lag(ATCt); CCRt1 = lag(CCRt); QRKt1 = lag(QRKt); ICDt1 = lag(ICDt);

158

XCDt1 = HPUt1 = NTKt1 = HJRKt1= HXRKt1= lag(XCDt); lag(HPUt); lag(NTKt); lag(HJRKt); lag(HXRKt);

/* create data baru */ HCDtf = HCDt1/HCDt; HPUtd = ((HPUt-HPUt1)/HPUt1)*100; HJRKta= HJRKt-HJRKt1; HXRKtd= ((HXRKt-HXRKt1)/HXRKt1)*100; NTKta = NTKt-NTKt1; NTKtc = NTKt1/NTKt; /* create deskripsi variabel */ LABEL THN ='TAHUN' HCDt ='HARGA CENGKEH DOMESTIK' HCDtf ='RASIO HCDt1 DENGAN HCDt' HCXt ='HARGA CENGKEH EKSPOR' HCIt ='HARGA CENGKEH IMPOR' NTKt ='NILAI TUKAR Rp/US$' NTKta ='SELISIH NTKt DENGAN NTKt1'

Lampiran 10. Lanjutan


NTKtc HJRKt HJRKta HXRKt HXRKtd QCDt ATCt YCDt XCDt ICDt SCDt CCRt QRKt HPUt HPUtd SBIt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1 HXRKt1 HJRKt1 ='RASIO NTKt1 DENGAN NTKt' ='HARGA JUAL ROKOK KRETEK' ='SELISIH HJRKt DENGAN HJRKt1' ='HARGA EKSPOR ROKOK KRETEK' ='RASIO (HXRKt-HXRKt1) DENGAN HXRKt1' ='PRODUKSI CENGKEH' ='AREAL TANAM CENGKEH' ='PRODUKTIVITAS CENGKEH' ='EKSPOR CENGKEH' ='IMPOR CENGKEH' ='PENAWARAN CENGKEH' ='KONSUMSI CENGKEH' ='PRODUKSI ROKOK KRETEK' ='HARGA PUPUK' ='RASIO (HPUt-HPUt1) DENGAN HPUt1' ='SUKU BUNGA' ='DUMMY KEBIJAKAN TATANIAGA CENGKEH:1=BPPC, 0=TANPA BPPC' ='TREND WAKTU' ='LAG DARI HCDt' ='LAG DARI HCXt' ='LAG DARI HCIt' ='LAG DARI YCDt' ='LAG DARI ATCt' ='LAG DARI CCRt' ='LAG DARI QRKt' ='LAG DARI ICDt' ='LAG DARI XCDt' ='LAG DARI HXRKt' ='LAG DARI HJRKt';

/* HCDt = HCDt*1.20; */ /* HJRKt = HJRKt*1.20; */

159

/* NTKt /* HPUt /* SBIt RUN; /*TITLE SIMULASI 1999-2006;*/ /*TITLE SIMULASI 1999-2006;*/ /*TITLE SIMULASI 1999-2006;*/ /*TITLE SIMULASI /*TITLE SIMULASI KENAIKAN HARGA CENGKEH DOMESTIK (HCDt) 20% THN KENAIKAN HARGA JUAL ROKOK KRETEK (HJRKt) 20% THN DEPRESIASI NILAI TUKAR RUPIAH (NTKt) 20% THN KENAIKAN HARGA PUPUK (HPUt) 20% THN 1999-2006;*/ KENAIKAN SUKU BUNGA (SBIt) 20% THN 1999-2006;*/ = NTKt*1.20; */ = HPUt*1.20; */ = SBIt*1.20; */

PROC SIMNLIN DATA=CENGKEH SIMULATE STATS; ENDOGENOUS YCDt ATCt QCDt ICDt XCDt SCDt CCRt QRKt HCDt HCIt HCXt; INSTRUMENTS NTKt HJRKt HXRKt SBIt HPUt DBPPCt Tt HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1;

Lampiran 10. Lanjutan


PARM A0 A5 B0 B5 C0 C5 D0 D5 E0 F0 F5 G0 G5 H0 I0 20.59432 4.474771 150658.6 -31117.5 5680.138 -1040.19 -6674.94 336.7863 13057.16 46268.62 0.503855 -3955.37 -9235.36 10.48215 0.884444 A1 A6 B1 B6 C1 C6 D1 D6 E1 F1 G1 G6 H1 I1 0.000119 13.48432 0.259961 0.855379 -41.8252 -3634.28 191.7693 0.201511 -1564.28 -0.21976 A2 0.000033 A3 -0.58634 A4 -0.86052 A7 0.128549 B2 -44.6748 B3 -344.156 B4 -1775.11 C2 -0.03774 C3 -0.00024 C4 0.435373 C7 0.231185 D2 0.296799 D3 0.000031 D4 -328.238 E2 0.334210 E3 797.5481 E4 0.024460 F2 2.089508 F3 21.12576 F4 2360.414

16.68620 G2 -0.00029 G3 0.931464 G4 -2202.82 0.658692 0.000319 H2 0.002300 H3 0.676709 -0.00013 I2 0.894839 I3 0.738924;

YCDt = A0 + A1*HCDt + A2*ATCt + A3*(((HPUt-HPUt1)/HPUt1)*100) + A4*SBIt + A5*Tt + A6*DBPPCt + A7*YCDt1; ATCt = B0 + B1*HCDt + B2*HPUt + B3*SBIt + B4*Tt + B5*DBPPCt + B6*ATCt1; ICDt = C0 + C1*HCIt + C2*NTKt + C3*QCDt + C4*CCRt + C5*Tt + C6*DBPPCt + C7*ICDt1; XCDt = D0 + D1*HCXt + D2*NTKt + D3*QCDt + D4*SBIt + D5*Tt + D6*XCDt1; CCRt = E0 + E1*(HCDt1/HCDt) + E2*QRKt + E3*Tt + E4*CCRt1; QRKt = F0 + F1*HCDt + F2*(HJRKt-HJRKt1) + F3*(((HXRKtHXRKt1)/HXRKt1)*100) + F4*Tt + F5*QRKt1; HCDt = G0 + G1*HCIt + G2*QCDt + G3*CCRt + G4*Tt + G5*DBPPCt + G6*HCDt1; HCIt = H0 + H1*ICDt1 + H2*(NTKt-NTKt1) + H3*HCIt1; HCXt = I0 + I1*XCDt + I2*(NTKt1/NTKt) + I3*HCXt1; QCDt = YCDt*ATCt;

160

SCDt = QCDt + ICDt - XCDt; HCDt1 HCXt1 HCIt1 YCDt1 ATCt1 CCRt1 QRKt1 ICDt1 XCDt1 = = = = = = = = = lag(HCDt); lag(HCXt); lag(HCIt); lag(YCDt); lag(ATCt); lag(CCRt); lag(QRKt); lag(ICDt); lag(XCDt); lag(HPUt); lag(NTKt); lag(HJRKt); lag(HXRKt);

HPUt1 = NTKt1 = HJRKt1= HXRKt1=

RANGE THN=1999 TO 2006; RUN;

Lampiran 11. Hasil Simulasi Model Produksi, Konsumsi, dan Harga Cengkeh Indonesia Tahun 1999-2006
SIMULASI KENAIKAN HARGA CENGKEH DOMESTIK (HCDt) 20% TAHUN 19992006 The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Actual N Obs N Mean Std Dev 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 165.5 434476 72114375 7670.1 7955.1 72114090 95218.9 185728 1.3232 1.7574 19.8405 14483.0 10444625 10436.8 4073.1 10432472 6488.5 14460.4 0.9116 0.5037

Variable Dev YCDt 16.4233 ATCt 17037.8 QCDt 9894738 ICDt 3088.9 XCDt 1655.9 SCDt 9890375 CCRt 6246.0 QRKt 13237.0 HCIt 7.0177 HCXt 0.4617

Predicted Mean Std 167.8 440144

74096028 3335.0 7446.4 74091917 93024.6 181640 24.6657 2.7077

SIMULASI KENAIKAN HARGA PUPUK (HPUt) 20% TAHUN 1999-2006 The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Actual Predicted Variable N Obs N Mean Std Dev Mean Std Dev

161

YCDt 16.8524 ATCt 9526.0 QCDt 7500569 ICDt 2451.1 XCDt 1594.2 SCDt 7496710 CCRt 5008.4 QRKt 9631.7 HCDt 4844.1 HCIt 8.2259 HCXt 0.5097 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 165.5 434476 72114375 7670.1 7955.1 72114090 95218.9 185728 35916.8 1.3232 1.7574 19.8405 14483.0 10444625 10436.8 4073.1 10432472 6488.5 14460.4 18053.0 0.9116 0.5037 165.0 393602 65002222 6835.8 7129.2 65001928 94588.9 185309 35242.9 26.8638 2.8085

SIMULASI KENAIKAN SUKU BUNGA (SBIt) 20% TAHUN 1999-2006 The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Actual Predicted Variable N Obs N Mean Std Dev Mean Std Dev YCDt 8 8 165.5 19.8405 165.2 17.6681 ATCt 8 8 434476 14483.0 427031 15256.7 QCDt 8 8 72114375 10444625 70763839 9922013 ICDt 8 8 7670.1 10436.8 5341.0 3058.8 XCDt 8 8 7955.1 4073.1 7085.2 1930.4 SCDt 8 8 72114090 10432472 70762095 9917224 CCRt 8 8 95218.9 6488.5 94911.9 5236.6 QRKt 8 8 185728 14460.4 186340 10318.3 HCDt 8 8 35916.8 18053.0 32354.7 4126.0 HCIt 8 8 1.3232 0.9116 26.0850 7.7732 HCXt 8 8 1.7574 0.5037 2.8506 0.4919

162

Lampiran 11. Lanjutan

SIMULASI KENAIKAN HARGA JUAL ROKOK KRETEK (HJRKt) 20% TAHUN 19992006 The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Actual Mean Std Dev 165.5 434476 72114375 7670.1 7955.1 72114090 95218.9 185728 35916.8 1.3232 1.7574 19.8405 14483.0 10444625 10436.8 4073.1 10432472 6488.5 14460.4 18053.0 0.9116 0.5037 Predicted Mean Std 166.0 427887 71181751 5258.5 7344.0 71179666 94984.9 186553 32226.1 26.0233 2.7431

Variable Dev YCDt 17.0415 ATCt 15159.3 QCDt 9672778 ICDt 3009.9 XCDt 1662.0 SCDt 9668298 CCRt 5198.0 QRKt 10205.0 HCDt 4122.5 HCIt 7.7484 HCXt 0.4808

N Obs 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

N 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

SIMULASI DEPRESIASI NILAI TUKAR RUPIAH (NTKt) 20% TAHUN 19992006 The SIMNLIN Procedure Dynamic Simultaneous Simulation Solution Range THN = 1999 To 2006 Actual Mean Std Dev 165.5 434476 72114375 7670.1 7955.1 72114090 95218.9 185728 35916.8 1.3232 19.8405 14483.0 10444625 10436.8 4073.1 10432472 6488.5 14460.4 18053.0 0.9116 Predicted Mean Std 165.7 427786 71156317 5187.0 7951.6 71153552 94945.1 186437 32115.4 25.4224

Variable Dev YCDt 17.0401 ATCt 15117.8 QCDt 9663214 ICDt 2959.5 XCDt 1586.1 SCDt 9658861 CCRt 5239.0 QRKt 10320.5 HCDt 4080.0 HCIt 7.7065

N Obs 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

N 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

163

HCXt 0.4198 8 8 1.7574 0.5037 2.5289