Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Farmakologi

Histamin dan Antihistamin

Disusun Oleh:
Riadi Marcelina Chrismicel Rianda Afrilia Ardiani Yunny Fauistine 102008037 102008045 102008046 102008047 102008048

Ivan Candra 102008071

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2010

Tujuan Percobaan
1. Memperlihatkan eek tripel respone akibat pemberian histamin intradermal pada manusia 2. Memperlihatkan dan membandingkan efek berbagai jenis histamin oral dalam melawan efek histamin 3. Memperlihatkan dan membandingkan efek proteksi berbagai jenis antihistamin terhadap bronkokonstriksi akibat semprotan histamin 4. Memperlihatkan efek adrenalin dalam menangulangi keadaan darurat akibat reaksi alergi hebat misalnya bronkospasme 5. Membiasakan diri dengan Golden Rule ; tersamar ganda

Alat dan Bahan


1. Pilihlah tiap kelompok dua orang percobaan yang tidak mempunyai riwayat alergi baik itu alergi kulit, seperti gatal-gatal, utikaria, angio-edem, atau sistem organ lain seperti asma bronkial, tukak lambung, dll 2. Orang percobaan harus puasa empat jam sebelum percobaan dimulai, agar absorbsi obat berlangsung baik 3. Hewan coba : empat ekor marmot. 4. Alat yang dipakai : tensimeter, stetoslop, termometer kulit, penggaris sungkup hewan coba dan nebulizer semprit 2,5 cc, tuberkulin dan jarum suntik no.23G dan 26G kertas karton yang telah dilubangi dan kapas 5. Obat-pbat larutan histamin 1:80 larutan garam faal (NaCl 0,9%) larutan alkohol 70% larutan antihistamin : difendihidramin dan klorfeneramin antihistamin oral : Chlorpheniramine maleate (CTM) Cetirizin Spiroheptadin Loratadin Homoclomin Sacharum Lactis (plasebo)

Antihistamin dan plasebo diatas dikemas dalam kapsul yang sama bentuk, besar dan

warnanya

Praktikum Histamin dan Antihistamin


Dasar Teori
Histamin merupakan suatu autakoid yang berasal dari asam amino yang terdapat dalam hewan dan tumbuhan. Mekanisme kerja dari histamin adalah terkait aktivasi tiga jenis resptor yakni H1 (pada endotel dan otot polos), H2 (pada mukosa lambung), dan H3(pada otak). Histamin penting dalam reaksi anfilaktik, alergi, trauma, syok. Efek dari histamin meliputi dilatasi kapiler, vasokonstriksi pembuluh darah besar, peningkatan permiabilitas kapiler dan tripel respon Lewis ( redness, flare, dan wheal). Antihistamin merupakan suatu obat yang bersifat antagonis kompetitif terhadap reseptor H1, sehingga antihistamin dapat menghambat efek dari histamin apabila diberikan sebelum pemberian histamin. Antihistamin terdiri dari dua generasi. Generasi pertama umumnya mula kerjanya cepat, masa kerjanya singkat, dan menimbulkan efek sedasi, dan efek atropin lilke (mulut kering). Contoh dari antihistamin generasi pertama adalah klorfeniramin maleat, homoclomin, spiroheptadin dan difenhidramin. Sedangkan antihistamin generasi kedua umumnya mula kerja lambat, masa kerja panjang, non sedatif, tidak ada efek antikolinergik. Contoh dari anti histamin generasi kedua ini adalah loratadin dan cetrizin.

Cara Kerja
A. Praktikum dengan orang percobaan Untuk melihat timbulnya reaksi triple respone akibat pemberian histamin intradermal pada manusia. 1. Lakukanlah pengukuran tanda vital : tekanan darah, nadi, frekuensi nafas dan suhu kulit, pada orang percobaan yang berbaring diatas meja laboratorium. Tiap kelompok terdiri dari dua orang mahasiswa sebagai orang percobaan dan lainnya bertindak sebagai pengamat. 2. Lakukan dua kali dengan interval lima menit dan cari nilai rata-ratanya 3. Orang percobaan dalam posisi duduk, dengan lengan bawah diletakkan diatas meja laboratorium dengan bagian voler menghadap keatas. 4. Bersihkan lengan bagian voler kiri dengan kapas yang lelah dibasahi alkohol untuk tindakan asepsis yaitu dengan mengusap secara sentrifugal ( dari bagian dalam ke luar ). 5. Letakkan kertas karton yang telah dilubangi sebagai alat bantu diatas bagian voler lengan yang telah dibersihkan tadim dan lakukan goresan X di dalam lubang tadi. Jangan mengores terlalu dalam sampai keluar darah dan jangan terlalu besar sehingga keluar dari lubang.

6. Mintalah larutan histamin pada instruktur dan teteskan satu tetes tepat diatas goresan tadi. Catat waktunya dan biarkan larutan tadi terhisap habis. 7. Lakukan observasi kapan timbulya triple respons, catat sebagai mula kerja dan ukur diameter terpanjang dan terpendek dari udem dan area kemerahan dan catat saat triple respinse mencapai ukuran maksimal, sebagai lama kerja. 8. Catatlah semua nilai tadi sebagai parameter dasar. 9. Mintalah obat antihistamin pada instruktur dan cattatlah kodenya, kemudian orang percobaan minum obat tadi dengan segelas air. 10. Setelah menunggu satu jam, maka dilakukan lagi pengukuran tanda vital, suhu kulit serta percobaan goresan histamin, persis di atasnya. 11. Bandingkan triple respons yang terjadi sebelum dan sesudah minm obat. 12. Catatlah juga semua gejala yang terjadi pada orang percobaan seperti : mengantuk, mulut kering, dan lain-lain.

Pembahasan
Pada orang percobaan A yang mendapatkan antihistamin golongan kedua yaitu setrizin diketemukan efek dari obat tersebut. Efek yang timbul dari obat tersebut adalah bertambahpanjangnya waktu untuk timbulnya kemerahan pada tangan pada pemberian histamin yang keudakalinya. Pertambahan panjang waktunya cukup signifikan yaitu sekitar dua setangah kalinya. Selain dari bertambahnya waktu untuk timbulnya kemerahan, hal lain yang juga cukup mencolok adalah berkurangnya pembengkakan yang terjadi dan juga terjadi pengecilan dari diameter flare. Ketiga triple respon lewis ini berkurang karena sebagian reseptor histamin pada OP sudah diduduki oleh anti histamin golongan kedua ini. Masih timbulnya tripel respon lewis ini juga masih dapat diterima karena untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan waktu sekitar dua sampai dengan tiga jam untuk golongan ini. Antihistamin golongan kedua ini juga dapat bekerja sampai dengan 24 jam. Untuk tanda-tanda vital tubuh pada OP A tidak menunjukan perubahan yang berarti keciali pada tekanan darah yang meurun pada pemberian antihistamin. Mungkin untuk tanda vital ini disebabkan salah satu efek anti histamin yang sangat jarang yaitu bekerja seperti kuinidin pada konduksi miokard berdasarkan sifat anastetik lokalnya. Mungkin juga penurunan tekanan darah ini disebabkan ada sebagian histamin pemberian intra dermal yang masuk ke dalam pembuluh darah periver yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah periver. Tetapi kemungkinan kedua ini sangat kecil karena jumlah antihistamin yang diberikan sangat sedikit dan tidak mungkin sampai menunjukkan efek sistemik menurunkan tekanan darah hingga 20mmHg. Gejala atau efek samping yang timbul pada OP berupa rasa mengantuk dan terdapat gatal pada tempat pemerbiran histamin yang pertama. Untuk gatal pada tempat pemberian histamin yang pertama merupakan suatu hal yang wajar karena golongan antihistamin merupakan suatu antagonis kompetitif, reseptor histamin yang pertama sudah diduduki dan tidak dapat digeser, selain daripada itu respon dari histamin pertama sudah berlangsung terlebih dahulu yaitu perembesan dari plasma oleh karena vvasodilatasi kapiler. Golongan antihistamin tidak dapat serta merta membuat vasokonstriksi pada pembuluh darah kecil seperti yang dapat dilakukan oleh golongan adrenalin. Jadi rasa gatal yang dialami oleh OP bukan merupakan efek samping dair pemberian obat antihistamin melainkan efek dari pemberian histamin pertama yang belum dicerna sempurna oleh tubuh. Sedangkan efek samping antihistamin generasi kedua yaitu berupa efek sedasi yang ditunjukkan oleh OP. Sebenarnya menurut literatur yang dibaca efek samping ini seharusnya tidak timbul karena sangat lemah dan bahkan seharusnya tidak ada efek mengantuk dari generasi kedua ini. Dua hipotesis yang mungkin dapat diambil dari kasus ini adalah orang tersebut mungkin sangat sensitiv terhadap obat ini sehingga akhirnya timbul juga efek mengantuknya dan kemungkinan lain adalah orang percobaan ini sudah mengetahui bahwa salah satu efeknya adalah mengantuk dan

mengantuk ini mejadi sesuatu yang sangat subjektif dirasakan oleh OP ini. Walaupun pada antihistamin generasi kedua tidak menunjukan efek anti mengantuk yang hebat tetapi dengan percobaan ini dapat membuktikan bahwa tidak pada setiap orang antihistamin ini tidak menimbulkan rasa mengantuk. Hal ini perlu menjadi suatu pertimbangan apabila memberikan suatu antihistamin walaupun yang bersifat nonsedatif kepada orang yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Pada orang percobaan B yang mendapatkan plasebo tidak didapatkan perubahan tanda vital yang terjadi. Ketidak adaan perubahan tanda vital yang berarti menunjukkan tidak adanya efek dari plasebo. Tripel respon lewis pada orang percobaan B menunjukan penurunan yang juga cukup dramatis bahkan sampai sepertiga dari sebelum diberikan antihistamin. Menurut pengamatan pada percobaan yang dilakukan terdapat suatu kesalahan yang merupakan kelalaian dalam percobaan. Kesalahan yang kami maksudkan adalah pada goresan sebelum diberikan antihistamin, ada keluar sedikit darah dari tempat goresan dan tetap dilakukan pemberian antihistamin. Sedangkan untuk goressan setelah pemberian antihistamin tidak sampai timbulnya darah. Timbulnya darah ini justru akan mempermudah histamin tersebut masuk ke alira yang lebih luas dan mnunjukan efek yang lebih luas. Oleh karena itu pada percobaan yang pertama menunjukan reaksi alergi yang lebih parah dibandingkan dengan reaksi kedua setelah pemberian antihistamin. Efek samping dari plasebo yang merupakan efek subjektif yang disebutkan pasien adalah kekeringan pada mulut. Sama seperti yang telah disebutkan juga pada percobaan diatas yaitu, efek ini mungkin hanya merupakan gejala subjektif karena telah mengetahui bahwa mungkin obat yang dimakan merupakan golongan antihistamin golongan pertam yang salah satu efeknya adalah menyebabkan kekeringan pada mulut yang lebih sering disebut atopin like syndrom.

Demonstrasi Efek Semprotan Histamin pada Marmot


Dasar Teori
Histamim dan antihistamin bekerja secara antagonis kompetitif padaa reseptor H1 dan H2. Karenanya efek antihistamin berguna untuk mencegah, tidak bisa mengobati reaksi alergi yang sedang berlangsung. Efek alergi yang ditimbulkan oleh histamin adalah terjadinya bronkospasme atau bronkokonstriksi. Akibat dari bronkospasme ini adalah tersumbatnya jalan nafas yang dapat menyebabkan kematian. Efek lain dari histamin adalah vasodilatasi dari pembuluh darah kecil yang akan menyebabkan turunnya tekanan darah sistemik, penurunan tekanan darah ini tidak dapat dikompensasi oleh adanya penyempitan pembuluh darah besar yang juga diakibatkan oleh histamin itu sendiri. Salah satu cara untuk mengatasi keadaan ini adalah dengan mpenyuntikan adrenergik (adrenalin) sesegera mungkin. Adrenalin dapat mengatasi reaksi hipersensitivitas yang bermaninfestasi menjadi syok anafilaktik dengan cara menghilangkan bronkospasme, rasa gatal, utrikaria dan kolaps kardiovaskular. Selain itu adrenalin juga merangsang reseptor P2 pada sel mast dan menyebabkan hambatan pengelpasan mediator inflamasi histamin dan leukotrien.

Cara Kerja
1. Ambillan empat ekor marmot, berilah tanda pada masing-masing marmot, sehingga jelas marmot yang diberi proteksi antihistamin dan yang tidak. 2. Dua ekor marmot disuntuk antihistamin, masing-masing dengan larutan difenhidramin dan larutan klorfeniramin maleat secara intra peritoneal, 30 menit sebelum dilakukan semprotan histamin. 3. Siapkan semprit dan ampul adrenalin yang sudah siap untuk disuntukkan. 4. Setiap 30 menit, 2 ekor marmot yang telah disuntik antihistamin dan dua lagi yang belonm diproteksi antihistamin dimasukkan ke dalam sungkup kaca. 5. Lakukan semprotan dengan larutan histamin 1:80 menggunakan nebulizer kira-kira sebanyak 1 ml. 6. Perhatikan perubahan yang timbul pada keempat ekor marmut tadi, dimana marmot yang tidak diproteksi akan mengalami bronkospasme dari sungkup kaca dan segera suntikkan larutan adrenalin intra peritoneal, lakukan pemijatan ringan untuk membantu pernafasannya.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


Hasil pengamatan yang didapatkan adalah pada marmut yang tidak diberikan proteksi oleh antihistamin mengalami sesak nafas. Sesak nafas ini terjadi setelah beberapa menit setelah penyemprotan histamin. Waktu yang dibutuhkan hingga marmut tesrebut sesak nafas termasuk sanggat cepat dan juga memerlukan pertolongan dengan adrenalin yang cepat pula melalui penyuntukan intraperitoneal. Sesak nafas yang terjadi pada marmut tersebut disebabkan oleh bekerjanya reseptor histamin H1 pada daerah bronkus. Reseptor histamin ini bekerja dan mengakibatkan bronkospasme. Bronkospasme yang terjaid ini menyebabkan terganggunya jalan nafas dan menyebabkan sesak nafas. Selain daripada itu efek lain yang tidak direkam adalah tekanan darah dari marmut tesrebut. Kemungkinan besar tekanan darah dari marmut tersebut akan menurun yang juga disebabkan oleh efek dari histamin tersebut. Pemberian adrenalin segera setelah marmut tersebut mengalami sesak nafas sangat diperlukan karena akan meningkatkan kemungkinan hidup dair marmut tesrsebut. Setelah penyuntikan adrenalin intraperitoneal akan mengakibatkan kecepatan bernafas dan jalan nafas kembali ke dalam keadaan normal.

Daftar Pustaka
Dewanto R H :Histamin & anti alergi. Dalam : Gunawan SG, editor. Farmakologi dan Therapy. Edisi 5. Jakarta : Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. h. 274-82.