Anda di halaman 1dari 17

PENGENALAN HEWAN AVERTEBRATA DAN VERTEBRATA PADA BERBAGAI HABITAT

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Hanifah Kholid Basalamah : B1J011156 : IV :2 : Kukuh Riyan Maulana

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hewan avertebrata pertama kali dikelompokkan berdasarkan banyaknya sel penyusun tubuh. Hewan avertebrata bersel satu dikelompokkan ke dalam hewan uniseluler, sedangkan yang tersusun dari banyak sel dikelompokkan ke dalam hewan multiseluler. Hewan uniseluler atau Protozoa dibedakan atas cara lokomosinya yaitu menggunakan silia, flagella, atau pseudopodia. Pembedaan hewan yang lainnya dilakukan berdasarkan kesimetrian tubuhnya, yaitu simetri radial atau bilateral, berdasarkan bentuk tubuh (bulat, memanjang, elips), ada tidaknya insang segmen, cangkang, antenna, dan ciri pembeda lainnya (Soeseno, 1990). Hewan avertebrata dari kelompok Protozoa, Cnidaria, Protostomata dan Deuterostomata sebagian besar hidup di daerah perairan, walaupun ada yang hidup di darat. Protozoa yang umum dapat ditemukan jika media air diberi bahan pakan adalah Trichodina, Tetrahymena, Paramecium, Spirostomata, Stentor, Euglena, Volvox, Phacus dan Vorticella. Classis Rotifera dari Pseudocelomata cukup banyak yang hidup di perairan tawar, sebagai contoh Branchionus, Rotaria, Keratella, Polyartha dan Fitinia (Soeseno, 1990). Mollusca terutama dari classis Gastropoda memiliki anggota yang hidup di air tawar. Sebagai contih : Bellamya, Pila, Brotia, Melanoides dan Lymnea. Disamping itu juga hidup di air tawar dari anggota Classsis Pelecypoda, antara lain Contradens, Corbicula dan Anadonta ( Suhardi, 1983). Hewan vertebrata sebagian besar memiliki habitat terestrial (Amfibia, Reptilia, Aves dan Mamalia). Adapun yang aktivitasnya lebih banyak di habitat akuatik antara lain adalah anggota dari Pisces, vertebrata semi-akuatik diantaranya adalah anggota dari Amibia. Habitat aboreal antara lain adalah anggota Amfibia (katak pohon) dan Aves (Jasin, 1989).

B. Tujuan Tujuan praktikum acara pengenalan hewan avertebrata dan vertebrata di berbagai habitat adalah untuk mengenali ciri-ciri yang tampak pada hewan avertebrata dan vertebrata yang hidup di habitat terrestrial, semi-akuatik, akuatik, dan aboreal serta mendeskripsikan ciri-ciri tempat hidup hewan avertebrata dan vertebrata yang diamati.

II. MATERI DAN METODE A. Materi Materi yang diamati adalah hewan avertebrata yang hidup di habitat terrestrial, semi-akuatik, akuatik, dan aboreal (bekicot, capung, keong mas, burung hantu, kalajengking dan ikan pari. Alat yang digunakan yaitu bak preparat, pinset, jarum preparat, buku gambar, dan alat tulis.

B. Metode 1. Mempersiapkan preparat yang akan diamati, minimal 2 jenis hewan avertebrata dan vertebrata dari masing-masing habitat. 2. Menegenali dan mencatat tempat hidup hewan avertebrata dan vertebrata yang diperoleh. 3. Mengenali dan menggambar hewan avertebrata dan vertebrata yang diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi spesifik yang dimiliki dan memberi keterangan tempat hidupnya. 4. Preparat yang telah diamati selanjutnya diklasifikasikan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengelompokkan Hewan Avertebrata Dan Vertebrata berdasarkan habitat Semi Terestrial Akuatik Aboreal Akuatik Achatina Avertebrata fulica Heteromethru s sp. Vertebrata Himantura sp. Tyto alba Pomacea canaliculata Anax junius

Tyto alba

Himantura sp

Pomaceae canaliculata

Anax junius

Achatina fulica

Heteromethrus sp.

B. Pembahasan Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa setiap hewan baik vertebrata maupun avertebrata mempunyai tempat hidupnya masing-masing. Berdasarkan lingkungan hidupnya, tempat hidup organisme di bedakan menjadi beberapa kelompok yaitu terestrial, akuatik, semi-akuatik, dan aboreal. Lingkungan terrestrial yaitu lingkungan dimana hewan hidup di daratan atau sebagian besar aktifitasnya di daratan. Lingkungan akuatik yaitu lingkungan dimana hewan hidup di lingkungan perairan atau sebagian besar aktifitasnya berada di perairan. Lingkungan semi-akuatik yaitu lingkungan dimana hewan hidup pada dua lingkungan secara seimbang yaitu lingkungan akuatik dan lingkungan semi akuatik. Lingkungan aboreal yaitu lingkungan dimana hewan hidup sebagian besar di pepohonan. Karakter ekologi merupakan karakter non struktural yang meliputi habitat, inang, kebiasaan makan, variasi makanan, parasit maupun reaksi inang. Sedangkan habitat yang dimaksud adalah tempat hidup dari suatu organisme atau komunitas organisme. Di bumi ini, pada dasarnya dikenal dua tipe habitat daratan dan perairan. Tetapi, karena suatu organisme adakalnya membutuhkan beberapa macam habitat dan siklus hidupnya sehingga dikenal pula adanya habitat akuatik, semi-akuatik, daratan (terestial) dan aboreal (Radiopoetro, 1991). Perbedaan hewan vertebrata dan avertebrata adalah adanya rangka internal yang tersusun atas tulang rawan dan tulang sejati. Vertebrata memili ki cranium (wadah otak) yang membungkus dan melindungi otak, serabut-serabut saraf halus bagian dorsal yang membesar di ujung anteriornya. Hewan avertebrata sebagian besar sistem sirkulasinya terbuka, sedangkan pada vertebrata sirkulasinya tertutup (Siwi, 1991). Hewan vertebrata merupakan hewan bertulang belakang dengan struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan avertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf, dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Sistem kerja yang sempurna, sistem peredaran darah yang terpusat pada organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya merupakan kemampuan hewan vertebrata dalam pemenuhan kebutuhan (Jasin, 1989). Habitat adalah tempat hidup suatu organisme atau komunitas organisme. Habitat juga merupakan tempat

hewan tinggal dan berkembang biak. Dasarnya, habitat adalah lingkungan fisik di sekeliling populasi suatu spesies yang mempengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies tersebut (Costello, 2009). Habitat hewan avertebrata dan vertebrata dapat dikelompokkan menjadi hewan akuatik, semiakuatik, terrestrial dan arboreal. Hewan akuatik merupakan hewan yang lebih banyak berada di air untuk aktivitas hidupnya. Habitat ini hampir seluruhnya terdiri dari air, umumnya dengan lahan kecil untuk berjemur atau beristirahat (Hickman, 1972). Pemahaman tentang morfologi, karakter taksonomi dan habitat diperlukan guna mengungkap potensi hewan tersebut. Studi taksonomi membutuhkan pemahaman aspek morfologi, terutama yang terkait dengan karakter taksonomi (Hadiyanto, 2010). Terestrial (terrestrial) berarti terkait dengan tanah atau permukaan tanah (terra, tanah). Hewan terestrial adalah hewan-hewan yang biasa berkeliaran di atas tanah, seperti harimau, biawak dan lain-lain. Tumbuhan terestrial adalah tumbuhan yang hidup di permukaan tanah, seperti kebanyakan jenis tanaman serta pohon. Semi akuatik merupakan habitat dimana aktivitas hewan dilakukan secara seimbang antara di air dan di darat. Arboreal merupakan daerah untuk aktivitas hewan yang lebih menyukai hidup diketinggian seperti pepohonanan (Siwi, 1991). Dari hasil pengamatan hewan avertebrata yang hidup di habitat terestrial adalah Achatina fulica (Bekicot), Heteromethrus sp. (Kalajengking). Avertebrata yang hidup di habitat akuatik adalah Pomacea canaliculata (Keong mas), yang hidup di habitat semi-akuatik adalah Anax junius (Capung). Sedangkan hewan vertebrata yang hidup di habitat akuatik adalah Lacrymaria sp. (Ikan Pari), dan yang hidup di habitat arboreal adalah Tyto alba (Burung Hantu). 1. Bekicot (Achatina fulica) Klasifikasi bekicot adalah sebagai berikut (Beng, 1982) : Kingdom Phylum Classis : Animalia : Mollusca : Gastropoda Species : Achatina fulica

Ordo Familia Genus

: Pulmonata : Achatinidae : Achatina Moluska adalah binatang yang berukuran relatif besar yang hidup pada

dasar perairan. Kebanyakan mererka tidak dijumpai sebagai plankton pada waktu dewasa dan hanya menjadi plankton untuk sementara waktu ketika masih berupa larva. Walaupun demikian, gastropoda yang merupakan salah satu hewan dari group ini adalah plankton sejati yang bersifat pelagik. Kebanyakan mereka dapat dikenal dari cangkang (shell) yang mengandung zat kapur (calcareous). Shell ini kadang-kadang tidak dapat dijumpai pada beberapa spesies. Gastropoda cenderung untuk mengerut dan melingkar di dalam awetan yang membuat mereka sulit dikenal (Hutabarat, 1986). Larva gastropoda mempunyai cangkang yang seperti agar-agar dan jernih tetapi bentuknya kahas seperti cangkang siput. Binatangnya sendiri agak mengerut berbentuk seperti garis hitam dalam cangkang ketika diawetkan. Cangkang ( shell) membentuk lingkaran yang berputar seperti arah jarum jam (dextral) dan terdapat sebuah titik mata yang menyolok. Panjang larva ini berkisar antara 0,5-3 mm (Hutabarat, 1986). Bekicot adalah binatang malam. Semua kegiatannya dilakukan pada malam hari. Siang hari digunakan sebagai waktu istirahat dan tidur. Makanan pokoknya berupa sisa-sisa tumbuhan dan daun-daun lunak terutama daun muda. Bekas gigitannya berbentuk lubang atau lekukan bergerigi kecil-kecil sesuai dengna lidahnya yang bergerigi lembut (Beng, 1982). Cangkok kerang ini terdiri dari dua belahan, sedangkan cangkok siput berbentuk seperti kerucut yang melingkar. Perbedaan lainnya, kaki siput tipis dan rata. Fungsinya adalah untuk berjalan dengan cara kontraksi otot. Lain halnya dengan kerang yang mempunyai kaki seperti mata kapak yang dipergunakan untuk berjalan di lumpur atau pasir. Sementara itu cumi-cumi dan sotong tidak

punya cangkok, kakinya terletak di bagian kepala yang berfungsi untuk menangkap mangsa. Mollusca memiliki alat pencernaan sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka di daerah rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas Mollusca kecuali kelas Cephalopoda (Beng, 1982). Pernafasan dilakukan dengan menggunakan insang atau paru-paru, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat ekskresi berupa ginjal. Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion yaitu ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal yang ketiganya dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya terpisah atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal. Berdasarkan simetri tubuh, ciri kaki dan cangkoknya, Mollusca dibagi menjadi lima kelas, yaitu kelas Gastropoda, Cephalopoda, Bivalvia atau Pelecypoda, Amphineura dan kelas Scaphopoda (Jasin, 1989). 2. Kalajengking (Heterometrus sp.) Menurut (Hutabarat, 1986) Klasifikasi dari kalajengking adalah sebagai berikut : Kingdom Filum Subfilum Kelas Ordo Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Chelicerata : Arachnida : Scorpiones : Heterometrus : Heterometrus sp. Kalajengking adalah sebuah arthropoda dengan delapan kaki, termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Dalam kelas ini juga termasuk laba-laba, harvestmen, mites, dan tick. Ada sekitar 2000 spesies kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari 49 U, kecuali New Zealand dan

Antarctica. Tubuh kalajengking dibagi menjadi dua segmen: cephalothorax dan abdomen. Abdomen terdiri dari mesosoma dan metasoma. Seluruh spesies kalajengking memiliki bisa. Umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai neurotoxin. Suatu pengecualian adalah Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa cytotoxic. Neurotoxin terdiri dari protein kecil dan juga sodium dan potassium, yang berguna untuk mengganggu transmisi neuro sang korban. Kalajengking menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan. Bisa kalajengking lebih berfungsi terhadap arthropod lainnya dan kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia; sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit, pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking, terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi manusia. Salah satu yang paling berbahaya adalah Leiurus quinquestriatus, dan anggota dari genera Parabuthus, Tityus, Centruroides, dan terutama Androctonus. Kalajengking yang paling banyak menyebabkan kematian manusia adalah Androctonus australis (Hutabarat, 1986). 3. Burung Hantu (Tyto alba) Menurut Anonymous (2008), klasifikasi Burung Hantu adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Animalia : Chordata : Aves : Strigiformes : Tytonidae : Tyto : Tyto alba Burung Hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil (MacKinnon, 1993).

Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka namanya Burung Hantu. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu. Di Jawa misalnya, nama burung ini adalah dars atau manuk. Burung hantu amat dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan wajah burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang (MacKinnon, 1993). Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun. Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu (MacKinnon et al., 2000). Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore ( krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari. Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat; paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam. Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam kegelapan total, hanya berdasarkan indera pendengaran dibantu oleh bulu-bulu wajahnya untuk mengarahkan suara (MacKinnon et al., 2000). Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa jenis juga kerap memanfaatkan ruang-ruang pada

bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak. Ordo Strigiformes terdiri dari dua suku (familia), yakni suku burung serak atau burung-hantu gudang (Tytonidae) dan suku burung hantu sejati (Strigidae). Banyak dari jenis-jenis burung hantu ini yang merupakan jenis endemik (menyebar terbatas di satu pulau atau satu region saja) di Indonesia, terutama dari marga Tyto, Otus, dan Ninox (MacKinnon, 1993). 4. Ikan Pari (Himantura sp.) Klasifikasi ikan pari menurut Wikipedia (2012), adalah sebagai berikut: Kingdom Phylum Class Subclass Order Family Genus Species : Animalia : Chordata : Chondrichthyes : Elasmobranchii : Myliobatiformes : Dasyatidae : Himantura : Himantura sp. Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii. Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan pari memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal (Anonim, 2004). Ikan pari (famili Dasyatidae) mempunyai variasi habitat yang sangat luas dengan pola sebaran yang unik. Daerah sebaran ikan pari adalah perairan pantai dan kadang masuk ke daerah pasang surut. Ikan pari biasa ditemukan di perairan laut tropis. Di perairan tropis Asia Tenggara (Thailand; Indonesia; Papua Nugini)

dan Amerika Selatan (Sungai Amazon), sejumlah spesies ikan pari bermigrasi dari perairan ( Anonymous, 2008). 5. Keong Emas (Pomaceae canaliculata) Klasifikasi keong mas menurut Jasin (1989) adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Classis Ordo Family Genus Subgenus Spesies : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Architaenioglosa : Ampullariidae : Pomaceae : Pomacea : Pomaceae Canaliculata Keong mas atau siput murbai merupakan hewan lunak (Mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Secara rinci klasifikasi bekicot termasuk dalam divisio Mollusca, kelas Gastropoda, ordo Pulmonata, famili Pomaceatidae, genus Pomacea, spesies Pomacea canaliculata Lamarck. Siklus hidup yang pendek, keperidian tinggi dan toleransi yang luas terhadap lingkungan membuat hewan ini mampu bereproduksi dengan cepat dan kosmopolit. Selama ini keong emas dikenal sebagai hama tanaman padi. Padahal keong emas ini memiliki kandungan gizi yang tak dapat disepelekan. Fertilitas yang tinggi dipadu dengan siklus hidup yang pendek membuat hewan ini mampu bereproduksi dengan cepat. Selain itu siput ini memiliki toleransi dan daya adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya sedemikian rupa sehingga mampu terdistribusi di seluruh wilayah tanah air (Jasin, 1989). Siput murbai dapat hidup antara 2 sampai 6 tahun dengan keperidian (fertilitas) yang tinggi. Rumah siput (cangkang) berwarna coklat muda, dagingnya berwarna putih susu sampai merah keemasan atau oranye. Ukuran siput murbai sangat tergantung pada ketersediaan makanan. Tutup rumah siput (operculum) siput murbai betina) (a1) berwarna putih cekung dan yang jantan cembung (a2). Stadia yang paling merusak ketika rumah siput berukuran 10 mm (kira kira sebesar biji jagung) sampai 40 mm ( kira kira sebesar bola pingpong). Tepi mulut

rumah siput betina dewasa melengkung kedalam (b1), sedangkan tepi rumah siput yang jantan melengkung keluar (Wikipedia, 2012). Habitat keong mas yaitu dikolam, rawa, sawah, irigasi, saluran air, dan areal yang selalu tergenang. Mereka mengubur diri dalam tanah yang lembab selama musim kemarau. Mereka kemudian berdiapause selama 6 bulan, kemudian aktif kembali jika tanah diairi. Mereka bisa bertahan hidup paadaa lingkungan yang ganas seperti air yang terpolusi atau kurang kandungan oksigen (Wikipedia, 2012). 6. Capung (Anax junius) Klasifikasi Capung ( Anax junius) menurut Anonymous (2008) adalah : Phylum Classis Ordo Familia Genus Spesies : Arthropoda : Insecta : Odonata : Aeshnidae : Anax : Anax junius Seperti serangga pada umumnya, tubuh capung terdiri dari tiga bagian. kepala dengan mata faset (mata majemuk), dada atau thorax dengan empat sayap panjang yang tidak bisa dilipat dan dilengkapi tiga pasang kaki, dan abdomen dengan sepuluh segmen. Memiliki dua pasang sayap tipis seperti selaput. Mengalami metamorfosis tidak sempurna merupakan metamorphosis yang melewati 2 tahapan yaitu dari telur menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa. Biasanya metamorfosis ini terjadi pada serangga seperti capung, belalang, jangkrik dan lainnya. Tipe mulut pada capung adalah menggigit (Anonymous, 2008). Capung dan capung jarum menyebar luas, di hutan-hutan, kebun, sawah, sungai dan danau, hingga ke pekarangan rumah dan lingkungan perkotaan. Ditemukan mulai dari tepi pantai hingga ketinggian lebih dari 3.000 m dpl. Beberapa jenisnya, umumnya jenis capung, merupakan penerbang yang kuat dan luas wilayah jelajahnya. Beberapa jenis yang lain memiliki habitat yang spesifik

dan wilayah hidup yang sempit. Capung jarum biasanya terbang dengan lemah, dan jarang menjelajah sampai jauh (Wikipedia, 2012). Sebagian besar siklus hidup capung dihabiskan dalam bentuk nimfa, di bawah permukaan air, dengan menggunakan insang internal untuk bernafas. Tempayak dan nimfa capung hidup sebagai hewan karnivora yang ganas. Nimfa capung yang berukuran besar bahkan dapat memburu dan memangsa berudu dan anak ikan. Setelah dewasa, capung hanya mampu hidup maksimal selama empat bulan (Anonim, 2004).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Hewan avertebrata yang hidup di habitat terestrial adalah Achatina fulica (Bekicot), Heteromethrus sp. (Kalajengking). Avertebrata yang hidup akuatik adalah Pomacea canaliculata (Keong mas), yang hidup semi akuatik Anax junius (Capung). 2. Hewan vertebrata yang hidup di akuatik adalah Himantura sp. (Ikan Pari), dan yang hidup arboreal adalah Tyto alba (Burung Hantu). 3. Habitat terrestrial adalah mayoritas berupa daratan, akuatik adalah habitat lebih banyak perairan daripada daratan, semi akuatik adalah habitat dimana hewan membagi waktu secara seimbang antara darat dan air, sedangkan arboreal merupakan habitat dimana hewannya banyak berada dipepohonan.

B. Saran 1. Sebaiknya untuk praktikum pengenalan hewan avertebrata dan vertebrata diberbagai habitat, spesimen yang disediakan jumlahnya diperbanyak supaya praktikan tidak berebut dalam menggambar. 2. Sebaiknya dalam menggambar harus lebih cermat lagi agar tidak keliru dalam mengelompokkan .

DAFTAR REFERENSI Anonim. 2004. Anax junius. www.zipcodezoo.com. Diakses tanggal 30 Maret 2013. Anonim. 2008. Capung. http://www.wikipedia. org. Diakses tanggal 30 Maret 2013. Costello, MJ. 2009. Distinguishing Marine Habitat Classification Concept for Ecological Data Management. Mar Ecol Prog Ser Vol. 397: 253-268

Beng, A. A. 1982. Bekicot Budidaya dan Pemanfaatannya. PT Penebar Swadaya, Jakarta. Hadiyanto. 2010. Biologi, Ekologi dan Peranan Suku Capitellidae Grube 1862 (Annelida: Polychaeta). LIPI, Jakarta. Oseana Vol XXXV Nomor 3 Tahun 2010: 29-38 Hickman, C. F. 1972. Biology of Animal. The C. V. Mosby Company, Saint Louis. Hutabarat, S. 1986. Kunci Identifikasi Zooplankton. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan. Sinar Jaya, Surabaya. MacKinnon, J. 1993. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung Di Jawa Dan Bali. Gadjah Mada University Press, Jogyakarta. MacKinnon, J., K. Phillipps, and B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI dan BirdLife IP, Bogor. Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Siwi, S. S . 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius, Yogyakarta. Soeseno, 1990. Burung Hias Aneka Jenis dan Perawatannya. Penebar Swadaya, Jakarta Suhardi, 1983. Evolusi Avertebrata. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Suhardi, 1983. Evolusi Avertebrata. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Wikipedia. 2010. http://wikipediaklasifikasi.org. Diakses tanggal 29 Maret 2013.