Anda di halaman 1dari 43

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah (Mansjoer, 2000). Hipertensi tak ubahnya bom waktu. Dia tak mengirimkan sinyal-sinyal bahaya terlebih dahulu. Vonis sebagai pengidap tekanan darah tinggi datang begitu saja. Karena tak mengirimkan alarm bahaya, orang kerap

mengabaikannya. Hipertensi kini ditengarai sebagai penyebab utama stroke dan jantung. Di Indonesia, satu dari setiap lima orang menderita tekanan darah tinggi, dan sepertiganya tidak menyadarinya. Padahal, sekitar 40 % kematian di bawah usia 65 tahun bermula dari tekanan darah tinggi. Penyakit ini sudah jadi epidemi di zaman modern, menggantikan wabah kolera dan TBC di zaman dulu. Orang juga sering tidak sadar dengan karakter penyakit ini yang timbul tenggelam. Ketika si penderita hipertensi dinyatakan bisa berhenti minum obat karena tekanan darahnya sudah normal, dia sering menganggap kesembuhannya permanen (Anonymous, 2007). Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Namun, hal itu bisa dicegah bila penderita hipertensi melakukan pengobatan teratur sesuai dengan jadwal. Menurut Suhardjono, kebanyakan penderita hipertensi tidak merasakan gejala yang berarti, sebagian besar dari mereka datang dalam kondisi stadium lanjut. Hipertensi merupakan

penyakit yang memerlukan penanganan jangka panjang bahkan hingga seumur hidup. Penanganan tersebut kerap kali melibatkan konsumsi obat dalam jangka panjang agar tekanan darah tetap terkontrol dan hipertensi bisa dikendalikan (Anonymous, 2007). Peran hipertensi terhadap kejadian stroke, pengendalian hipertensi untuk pencegahan stroke, serta terapi hipertensi pada stroke akut. Untuk itu penanganan stroke tidak bisa hanya dengan satu disiplin ilmu, perlu melibatkan banyak disiplin ilmu (Anonymous, 2007). Di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang, pada bulan Januari tahun 2009 pasien stroke yang dirawat inap sebanyak 55 orang. Stroke merupakan masalah serius karena dapat menyebabkan kematian, kecacatan, dan biaya yang dikeluarkan sangat besar. Karena itu, perlu usaha pencegahan untuk terjadinya stroke primer maupun stroke sekunder (stroke ulang). Salah satu upaya untuk meminimalisasi serangan stroke adalah dengan meningkatkan pengetahuan pasien yang berdampak pada pembentukan perilaku kesehatan. Kurangnya pengetahuan pasien tentang hipertensi dan stroke menyebabkan pasien hipertensi kurang bisa menjaga kesehatan, cara mengkonsumsi obat, dan menjalani gaya hidup sehat agar tidak terjadi serangan stroke secara mendadak (Anonymous, 2001). Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah Subang tahun 2008 sebanyak 355 penderita hipertensi yang pemah berobat maupun menjalani rawat inap di ruang perawatan. Dari hasil pendataan pada tanggal 23 November 2008 terhadap 37 pasien hipertensi yang dirawat di ruang penyakit dalam Rumah Sakit

Umum Daerah Unit Swadana Subang, diketahui bahwa mayoritas dari mereka tidak mengetahui tentang salah satu komplikasi akibat hipertensi yaitu stroke dan bagaimana menanganinya bahkan tidak sedikit dari mereka menganggap bahwa penyakit stroke tidak dapat disembuhkan. Dari uraian di atas, maka penulis tertarik dan ingin melakukan penelitian tentang tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke di Ruang Panyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang. B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini rumusan masalahnya adalah : " Bagaimanakah tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang?" C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu. b. Mengetahui pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan memahami.

c. Mengetahui pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi. D. Manfaat Penelitian Kegunaan atau manfaat yang dapat diperoleh mengenai tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke, yaitu: 1. Bagi Peneliti Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan dijadikan sebagai bekal ilmu yang kelak dapat diterapkan dalam praktek asuhan keperawatan. 2. Bagi Rumah Sakit Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pihak rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang lebih optimal terhadap pasien khususnya pada pasien hipertensi. 3. Bagi STIKes Indramayu Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi sebagai sumber informasi dan data dasar pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan hipertensi. 4. Bagi Perawat Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan dorongan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien hipertensi.

E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada pengetahuan pasien hipertensi yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Subang yang meliputi tingkatan: tahu, memahami, dan mengaplikasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2008. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan variabel tunggal yaitu pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang dirawat di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang pada bulan Nopember 2008. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner dengan pertanyaan yang bersifat tertutup.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003). 2. Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan sebagai yaitu tahu (know); memahami (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi

(evaluation) (Notoatmodjo, 2003). Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan pengertian penyakit hipertensi dan stroke (Notoatmodjo, 2003).

Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap suatu obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya. Misalnya dapat menjelaskan mengapa penderita hipertensi dapat menyebabkan stroke (Notoatmodjo, 2003). Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan metode yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Misalnya pasien hipertensi melakukan tindakan yang mengarah pada upaya untuk meminimalisasi serangan stroke (Notoatmodjo, 2003). Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan antara penyakit hipertensi dengan penyakit stroke dan sebagainya, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). Sintesis, menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru. Misalnya, dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusanrumusan yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).

Evaluasi, ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Misalnya, dapat membandingkan antara pasien hipertensi yang mengalami stroke dan pasien hipertensi yang tidak mengalami stroke, dapat menafsirkan manfaat untuk melakukan tindakan meminimalisasi serangan stroke (Notoatmodjo, 2003) 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003), beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yaitu umur, pendidikan, dan sosial ekonomi. Umur, berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan karena

kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyusun diri pada situasi-situasi baru, seperti mengingat hal-hal yang dulu yang pemah dipelajari, penalaran analogi, dan berpikir kreatif dan bisa mencapai puncaknya (Hurlock, 1993) dalam Notoatmodio, 2003. Pendidikan, merupakan faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan seperti sumber informasi, dan pengalaman. Menurut Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan memberikan suatu nilai-nilai tertentu -bagi manusia, terutama dalam membukakan pikirannya serta menerima hal-hal baru. Pengetahuan juga diperoleh melalui kenyataan (fakta) dengan melihat dan mendengar radio, melihat telivisi. Selain itu pengetahuan diperoleh sebagai akibat pengaruh dari hubungan orang tua, kakak-adik, tetangga, kawan-kawan dan lain-lain.

Sosial ekonomi, mempengaruhi tingkat pengetahuan dan perilaku seseorang di bidang kesehatan, sehubungan dengan kesempatan memperoleh informasi karena adanya fasilitas atau media informasi. Banyak wanita menengah dan golongan atas yang walaupun menjadi ibu dan pengatur rumah tangga tetapi tidak mau pasif, tergantung, dan tidak berkorban diri secara tradisional (Notoatmodjo, 2003). 4. Pengukuran Tingkat Pengetahuan Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dilakukan secara langsng dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terhadap suatu obyek kepada responden. Secara tidak langsung dengan cara menyebarkan beberapa pertanyaan atau kuesioner tentang materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden dengan pilihan benar dan salah (Notoatmodjo, 2003). 5. Proses Adopsi Pengetahuan Pengetahimn atau kognitif, merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Menurut Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi pengetahuan, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (obyek) terlebih dahulu; Interst, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus; Evaluation,(menimbangnimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya); Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru; Adaption, subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya

10

terhadap stimulus (Notoatmodjo, 2003). B. Pengetahuan tentang Hipertensi 1. Pengertian Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat antihipertensi (Mansjoer, 2000). 2. Penyebab Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu : hipertensi primer dan hipertensi sekunder (Mansjoer, 2000). Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan,, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisetemia (Mansjber, 2000). Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain (Mansjoer, 2000).

11

3. Tanda dan gejala Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Dengan demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, marah, telinga berdengung, rasa berat ditengkung, sukar tidur, mata berkunangkunang, dan pusing (Mansjoer, 2000). Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bqrtujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL, dan EKG). Dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan ekokardiografi (Mansjoer, 2000). Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran, hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejalagejala klinis. Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar, setelah beristirahat selama 5 menit, dengan ukuran pembungkus lengan yang sesuai (menutupi 80% lengan). Tensimeter dengan air raksa masih tetap dianggap alat pengukur yang terbaik (Mansjoer, 2000). Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya, riwayat dan gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskular, dan lainnya

12

(Mansjoer, 2000). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak 2 menit, kemudian diperiksa ulang pada lengan kontralateral. Dikaji perbandingan berat badan dan tinggi pasien. Kemudian dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk mengetahui adanya retinopati hipertensif, pemeriksaan leher untuk mencari bising karotid, pembesaran vena, atau kelenjar tiroid. Dicari tanda-tanda gangguan irama dan denyut jantung, pembesaran ukuran, bising, derap, dan bunyi jantung ketiga atau empat. Paru diperiksa untuk mencari ronki dan bronkospasme. Pemeriksaan abdomen dilakukan untuk mencari adanya massa, pembesaran ginjal, dan pulsasi aorta yang abnormal. Pada ekstremitas dapat ditemukan pulsasi arteri perifer yang menghilang, edema, dan bising. Dilakukan juga pemeriksaan neurologi (Mansjoer, 2000). 4. Klasifikasi Krisis Hipertensi Secara praktis krisis hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan perioritas pengobatan, sebagai berikut : Hipertensi emergensi (darurat) ditandai dengan TD Diastolik > 120 mmHg, disertai kerusakan berat dari organ sasaran yag disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut. Keterlambatan pengobatan akan menyebebabkan timbulnya sequele atau kematian. TD harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu sampai beberapa jam. Penderita perlu dirawat di ruangan intensive care unit atau (ICU). Hipertensi urgensi (mendesak), TD diastolik > 120 mmHg dan dengan tanpa kerusakan/komplikasi minimum dari organ sasaran. TD harus

13

diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman memerlukan terapi parenteral (Madjid, 2004). Dikenal beberapa istilah berkaitan dengan krisis hipertensi antara lain : Hipertensi refrakter : respons pengobatan tidak memuaskan dan TD > 200/110 mmHg, walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif (triple drug) pada penderita dan kepatuhan pasien. Hipetensi akselerasi : TD meningkat (Diastolik) > 120 mmHg disertai dengan kelainan funduskopi KW III. Bila tidak diobati dapat berlanjut ke fase maligna. Hipertensi maligna : penderita hipertensi akselerasi dengan TD Diastolik > 120 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema, peniggian tekanan intrakranial kerusakan yang cepat dari vaskular, gagal ginjal akut, ataupun kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan. Hipertensi maligna, biasanya pada penderita dengan riwayat hipertensi essensial ataupun sekunder dan jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai TD normal. Hipertensi ensefalopati : kenaikan TD dengan tiba-tiba disertai dengan keluhan sakit kepala yang sangat, perubahan kesadaran dan keadaan ini dapat menjadi reversible bila TD diturunkan (Madjid, 2004). Tingginya TD yang dapat menyebabkan kerusakan organ sasaran tidak hanya dari tingkatan TD aktual, tapi juga dari tingginya TD sebelumnya, cepatnya kenaikan TD, bangsa, seks dan usia penderita. Penderita hipertensi kronis dapat mentolelir kenaikan TD yang lebih tinggi dibanding dengan normotensi, sebagai contoh : pada penderita hipertensi kronis, jarang terjadi hipertensi ensefalopati, gangguan ginjal dan kardiovaskular dan kejadian ini

14

dijumpai bila TD Diastolik > 140 mmHg. Sebaliknya pada penderita normotensi ataupun pada penderita hipertensi baru dengan penghentian obat yang tiba-tiba, dapat timbul hipertensi ensefalopati demikian juga pada eklampsi, hipertensi ensefalopati dapat timbul walaupun TD 160/110 mmHg (Madjid, 2004). 5. Patofisiologi Hipertensi Ada 2 teori yang dianggap dapat menerangkan timbulnya hipertensi ensefalopati yaitu : Teori Over Autoregulation Dengan kenaikan TD menyebabkan spasme yang berat pada arteriole mengurangi aliran darah ke otak (CDF) dan iskemi. Meningginya permeabilitas kapiler akan

menyebabkan pecahnya dinding kapiler, udema di otak, petekhie, pendarahan dan mikro infark. Teori Breakthrough of Cerebral Autoregulation bila TD mencapai threshold tertentu dapat mengakibtakan transudasi, mikoinfark dan oedema otak, petekhie, hemorhages, fibrinoid dari arteriole (Madjid, 2004). Aliran darah ke otak pada penderita hipertensi kronis tidak mengalami perubahan bila Mean Arterial Pressure ( MAP ) 120 mmHg 160 mmHg, sedangkan pada penderita hipertensi baru dengan MAP diantara 60 120 mmHg. Pada keadaan hiper kapnia, autoregulasi menjadi lebih sempit dengan batas tertinggi 125 mmHg, sehingga perubahan yang sedikit saja dari TD menyebabkan asidosis otak akan mempercepat timbulnya oedema otak (Madjid, 2004).

15

C. Pengetahuan tentang Stroke 1. Pengertian Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis yang utama di Indonesia. Serangan otak ini merupakan kegawatdaruratan medis yang harus ditangani secara cepat, tepat dan cermat. Stroke adalah sindrom klinis yang awal tumbulnya mendadak, progesi cepat, berupa defisit neurologis lokat dan atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan perdarahan otak non traumatik (Mansjoer, 2000). 2. Penyebab Sel-sel darah merah tidak dapat sampai ke jaringan otak ketika pembuluh darah otak menjadi tersumbat (ischemic stroke) atau pecah (hemorrhagic stroke). Secara sederhana, stroke terjadi jika aliran darah ke otak terputus. Otak kita sangat tergantung pada pasokan darah yang berkesinambungan, yang dialirkan oleh arteri (pembuluh nadi). Beberapa penyebab timbulnya stroke yaitu infrak otak, perdarahan intraserebral, perdarahan subaraknoid, trombosis sinus dura, diseksi arteri karotis atau vertebralis, vaskulitis sistem saraf pusat, penyakit moya-moya (oklusi arteri besar intracranial yang progresif), migren, kondisi hiperkoagulasi, dan penyalahgunaan obat (kokain atau amfetamin) (Mansjoer, 2000).

16

3. Klasifikasi Stroke Ada beberapa tipe stroke yaitu: a. Thrombotic Stroke terjadi bila ada bekuan darah (thrombus) yang terbentuk di dalam arteri dan menghambat aliran darah ke otak. b. Embolic Stroke, terjadi bila ada sebuah bekuan darah atau sebagian dari plak, yang terbentuk dalam pembuluh darah lain di tubuh, kemudian terpecah dan mengalir ke pembuluh darah otak. Pecahan ini yang akhirnya menyumbat sebuah arteri di dalam otak. c. Lacunar Stroke disebabkan adanya blokade atau sumbatan pada beberapa pembuluh darah kecil di dalam otak. d. Cerebral Hemorrhage, terjadi bila arteri di otak pecah yang menyebabkan sel darah keluar dari pembuluh darah. Stroke jenis ini tidak ditandai dengan gejala awal (terjadi secara tiba-tiba). Biasanya terjadi akibat dari tekanan darah yang tinggi. Dapat juga terjadi karena adanya kelainan bawaan pada pembuluh darah. 4. Tanda dan gejala Gejala stroke bervariasi tergantung dari bagian otak yang terserang serta seberapa luas kerusakannya. Gejala-gejalanya antara lain; Sakit kepala yang hebat tanpa sebab yang jelas Merasa lemas, mati rasa (baal), atau kesemutan pada wajah, lengan, ataupun tungkai, terutama pada satu sisi tubuh saja, kiri atau kanan Kesulitan berjalan, pusing, serta hilang keseimbangan dan koordinasi gerak Kesulitan atau ketidakmampuan berbicara atau mengerti sesuatu; Gangguan penglihatan seperti pandangan kabur di salah satu atau

17

kedua mata; Perubahan kepribadian atau terjadi kebingungan; Kesulitan menggerakkan otot seperti mengunyah, menggerakkan tangan ataupun kaki; Tidak bisa mengontrol buang air besar dan buang air kecil ; Hilang kesadaran (pingsan); Gejala awal sebelum terjadi stroke yang sebenarnya disebut sebagai Transient Ischemic Attack (TIA). TIA terjadi bila suplai darah ke otak berkurang untuk waktu singkat yang hanya menyebabkan kerusakan sementara. TIA kadang sering disebut ministroke karena gejalanya sama dengan stroke tetapi gejala hilang dalam beberapa menit sampai beberapa jam. D. Peran Hipertensi Dalam Patogenesis Stroke Orang normal mempunyai suatu sistem autoregulasi arteri serebral. Bila tekanan darah sistemik meningkat, pembuluh serebral menjadi vasospasme (vasokonstriksi). Sebaliknya, bila tekanan darah sistemik menurun, pembuluh serebral akan menjadi vasodilatasi. Dengan demikian, aliran darah ke otak tetap konstan: Walaupun terjadi penurunan tekanan darah sistemik sampai 50 mmHg, autoregulasi arteri serebral masih mampu memelihara aliran darah ke otak tetap normal. Batas atas tekanan darah sistemik yang masih dapat ditanggulangi oleh autoregulasi adalah 200 mmHg untuk tekanan sistolik dan 110-120 mmHg untuk tekanan diastolik (Haryono, 1999). Ketika tekanan darah sistemik meningkat, pembuluh serebral akan berkonstriksi. Derajat konstriksi tergantung pada peningkatan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat cukup tinggi selama berbulan-bulan atau bertahun--

18

tahun, akan menyebabkan hialinisasi pada lapisan otot pembuluh serebral. Akibatirya, diameter lumen pembuluh darah tersebut akan menjadi tetap. Hal ini berbahaya karena pembuluh serebral tidak dapat berdilatasi atau berkonstriksi dengan leluasa untuk mengatasi fluktuasi dari tekanan darah sistemik. Bila terjadi penurunan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi ke jaringan otak tidak adekuat. Hal ini akan mengakibatkan iskemik serebral. Sebaliknya, bila terjadi kenaikan tekanan darah sistemik maka tekanan perfusi pada dinding kapiler menjadi tinggi. Akibatnya, terjadi hiperemia, edema, dan kemungkinan perdarahan pada otak (Haryono, 1999) Pada hipertensi kronis dapat terjadi mikroaneurisma dengan diameter 1 mm. Mikroaneurisma ini dikenal dengan aneurisma dari Charcot-Bouchard dan terutama terjadi pada arteria lentikulostriata. Pada lonjakan tekanan darah sistemik, sewaktu orang marah atau mengejan, aneurisma bisa pecah. Hipertensi yang kronis merupakan salah satu penyebab terjadinya disfungsi endotelial dari pembuluh darah,(Haryono, 1999). Pada keadaan normal, endotelial menunjukkan fungsi dualistik. Sifat ini secara simultan mengekspresikan dan melepaskan zat-zat vasokonstriktor (angiotensin II, endotelin-I, tromboksan A-2, dan radikal superoksida) serta vasodilator (prostaglandin dan nitrit oksida). Faktor-faktor ini menyebabkan dan mencegah proliferasi sel-sel otot polos pembuluh darah secara seimbang. Keseimbangan antara sistem antagonis ini dapat mengontrol secara optimal fungsi dinding pembuluh darah. Akibat disfungsi endotel, terjadi vasokonstriksi, proliferasi sel-sel otot polos pembuluh darah, agregasi trombosit, adhesi lekosit,

19

dan peningkatan permeabilitas untuk makromolekul, seperti lipoprotein, fibrinogen, dan imunoglobulin. Kondisi ini akan mempercepat terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis memegang peranan yang penting untuk terjadinya stroke infark (Haryono, 1999). E. Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Upaya meminimalisasi serangan stroke pada pasien hipertensi adalah dengan memodifikasi gaya hidup cukup efektif, meskipun harus disertai obat antihipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis obat. Langkah-langkah yang dianjurkan sebagai berikut: Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan (indeks massa tubuh 27); Membatasi minuman yang mengandung alkohol; Meningkatkan aktivitas aerobik (30 - 45 menit/hari); Mengurangi asupan natrium/garam dapur ( < 100 mmol/2,4 g Na/6 g NaCI/hari); Mempertahankan asupan kalium yang adekuat (90 mmol/hari); Memperlahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat; Berhenti merokok; Mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan; Menghindari stres mental, konsumsi obatobat amfetamin, kokain, clan sejenisnya; Mengendalikan penyakit jantung, diabetes mellitus, dan penyakit aterosklerotik lainnya; Menganjurkan konsumsi gizi seimbang dan olahraga teratur; Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin (Iskandar, 2005). Penatalaksanaan dengan obat antihipertensi bagi sebagian besar pasien dimulai dengan dosis rendah kemudian ditingkatkan secara titrasi sesuai dengan umur, kebutuhan, dan usia. Terapi yang optimal harus efektif selama 24 jam dan lebih disukai dosis tunggal karena kepatuhan lebih baik, lebih murah, dan dapat

20

mengontrol hipertensi terus-menerus dan lancar, dan melindungi pasien terhadap berbagai resiko dari kematian mendadak, serangan jantung, atau strok akibat peningkatan tekanan darah mendadak saat bangun tidur. Sekarang terdapat pula obat yang berisi kombinasi dosis rendah dua obat dari golongan yang berbeda. Kombinasi ini terbukti memberikan efektivitas tambahan dan mengurangi efek samping (Iskandar, 2005). Setelah diputuskan untuk memakai obat antihipertensi dan bila tidak terdapat indikasi untuk memilih golongan obat tertentu, diberikan diuretik atau beta bloker. Jika respon tidak baik dengan dosis penuh, dilanjutkan sesuai alogaritma. Diuretik biasanya menjadi tambahan karena dapat meningkatkan efek obat yang lain. Jika tambahan obat kedua dapat mengontrol tekan darah dengan baik minimal setelah satu tahun, dapat dicoba menghentikan obat pertama melalui penurunan dosis secara perlahan dan progresif (Iskandar, 2005) Pada beberapa pasien mungkin dapat dimulai terapi dengan lebih dari satu obat secara langsung. Pasien dengan tekanan darah 200/ 120 mmHg harus diberikan terapi dengan segera dan jika terdapat gejala kerusakan organ harus dirawat di rumah sakit (Iskandar, 2005). Hipertensi darurat adalah suatu kondisi dimana diperlukan penurunan tekanan darah dengan segera (tidak selalu diturunkan sampai batas normal), untuk mencegah atau membatasi kerusakan organ. Misalnya pada ensefalopati hipertensif, perdarahan intrakranial, infrakmiokard akut, dan eklampsia. Pilihan obat yang digunakan adalah : natrium nitroprusida, nikardipin hidroklorida, nitrogliserin, enalaprilat, hidralazin hidroklorida, diazoksid, labelator

21

hidroklorida, esmolol hidroklorida, dan fentolamin (Iskandar, 2005). Tujuannya adalah menurunkan kurang lebih 25% (dalam hitungan menit sampai 2 jam), kemudian mencapai 160/100 mmHg dalam 2 - 6 jam, guna menghindari iskemia ginjal, otak atau koroner. Pemberian nifedipin sublingual yang sering digunakan selama ini ternyata memiliki beberapa efek samping serius dan terdapat kesulitan dalam mengontrol penurun tekanan darahnya. Tekanan darah pasien tersebut harus dimonitor terus dengan interval waktu 15 - 30 menit (Iskandar, 2005)

22

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep Menurut Notoatmodjo (2003) untuk memudahkan alur penelitian maka harus dibuat kerangka konsep penelitian. Adapun skema kerangka konsep dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

Faktor yang mempengaruhi pengetahuan: Umur pasien Pendidikan pasien Pekerjaan pasien

Pasien hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang

Tingkat pengetahuan dalam upaya meminimalisasi serangan stroke berdasarkan tingkatan: Tahu Memahami Aplikasi

: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian: Tingkat Pengetahuan Pasien hipertensi Dalam Upaya Meminimilisasi Serangan Stroke.

23

Berdasarkan Gambar 3.1. kerangka konsep penelitian di atas bahwa variabel yang akan diteliti adalah variabel tunggal yaitu pengetahuan pasien hipertensi dengan sub variabel meliputi: tingkat pengetahuan pasien hipertensi pada tingkatan tahu, memahami dan aplikasi. Sedangkan karakteristik pasien hipertensi yaitu umur, pekerjaan dan pendidikan tidak diteliti, namun karakteristik tersebut dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yang hanya dijadikan sebagai data penunjang. Tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke dari masing-masing sub variabel diukur dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke yang telah diteliti dapat diperoleh hasil apakah termasuk dalam kategori baik, cukup baik atau kurang baik. Pengetahuan yang baik diharapkan dapat membentuk suatu sikap dan tindakan yang mengarah pada perilaku pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke.

24

B. Definisi Operasional Untuk memudahkan dan terciptanya alur pembahasan dalam penelitian ini disusun definisi operasional variabel penelitian sebagaimana terlihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian Tingkat Pengetahuan Pasien Hipertensi Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke

Variabel
Pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke.

Sub variabel
Pengetahuan tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu Pengetahuan tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan Memahami Pengetahuan tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan Aplikasi

Definisi operasional

Alat ukur

Cara Ukur
Melihat hasil jawaban responden Melihat hasil jawaban responden Melihat hasil jawaban responden

Skala
Ordinal
1. 2. 3.

Kategori
Baik, jika X 21,1 Cukup baik, 8,9 < X < 21,1 Kurang baik, jika X 8,9 jika,

Segala sesuatu yang diketahui oleh Kuesioner pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke dengan kemampuan untuk mengetahui, mengingat, dan menyebutkan. Segala sesuatu yang diketahui oleh Kuesioner pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke dengan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, dan menafsirkan serta menghubungkan. Segala sesuatu yang diketahui oleh Kuesioner pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke dengan kemampuan untuk mengaplikasi dan menerapkan.

Ordinal

1. 2. 3.

Baik, jika X 21,1 Cukup baik, 8,9 < X < 21,1 Kurang baik, jika X 8,9

jika,

Ordinal

1. 2. 3.

Baik, jika X 21,1 Cukup baik, 8,9 < X < 21,1 Kurang baik, jika X 8,9

jika,

25

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukan pencatatan dan analisis data hasil penelitian secara eksak dan menganalisis datanya menggunakan perhitungan statistik

(Arikunto, 2006). B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang dari bulan Nopember Desember 2008. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling yang dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia (Notoatmodjo, 2003). Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 responden. C. Variabel Penelitian Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau unsur yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang konsep penelitian tertentu (Notoatmodjo, 2003). Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang dengan sub variabel: pengetahuan pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu, memahami,

26

dan aplikasi. D. Instrumen Penelitian Alat pengumpul data untuk mengetahui sub variabel pengetahuan pasien tentang upaya meminimalisasi serangan stroke menggunakan kuesioner/angket dengan memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar. Untuk mendapatkan alat pengumpul data yang benar-benar valid atau dapat diandalkan dalam mengungkap data penelitian, maka instrumen penelitian disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Membuat kisi-kisi angket yang didalamnya menggunakan masing-masing variabel menjadi beberapa sub variabel dan indikator. Adapun kisi-kisi tersebut dapat dilihat dalam lampiran. 2. Berdasarkan kisi-kisi tersebut, langkah selanjutnya adalah menyusun pertanyaan atau butir-butir item. E. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Uji validitas Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat itu benarbenar mengukur apa yang diukur. Uji coba instrumentasi dilakukan dengan menggunakan uji validitas item dan reliabilitas responden terhadap instrumen tingkat pengetahuan. Uji coba dilakukan sebelum penelitian dengan menyebarkan instrumen kepada 10 responden pada pasien hipertensi yang dirawat di Rumah Sakit Umum PTPN VIII Subang. Hasil uji validitas didapat nilai rhitung > rtabel, berarti valid 2. Uji Reliabilitas

27

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dengan kata lain sejaulx mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap bisa jika dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2003). Hasil uji reliabilitas instrumen penelitian didapat nilai rhitung berarti reliabel. F. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Subang. Proses penelitian dapat selesai dalam waktu 2 bulan, mulai dari menyusun usulan penelitian sampai menyelesaikan laporan. Adapun waktu penelitian dilakukan pada bulan Nopember sampai dengan Desember 2008. G. Prosedur Pengumpulan Data 1. Perizinan Penelitian Sebagai salah satu persyaratan untuk penelitian ini adalah diperlakukannya perizinan baik dari tingkat lembaga-lembaga terkait dalam hal ini adalah instansi dimana peneliti melakukan penelitian. 2. Pelaksanaan Pengumpulan Data Pelaksanaan pengumpulan data ini dilakukan setelah seminar proposal skripsi. Prosedur yang ditempuh dalam pelaksanaan pengumpulan data ini adalah sebagai berikut : a. Memberikan informed consent kepada responden sebagai bentuk
>

rtabel,

28

kesediaan responden dijadikan sampel penelitian. b. Menyebarkan kuesioner kepada pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang yang menjadi sampel penelitian. c. Memberikan informasi berkaitan dengan kepentingan penelitian dan menjelaskan petunjuk pengisian kuesioner. d. Mengumpulkan lembar jawaban sebagai hasil pengumpulan data primer dari responden dan melakukan cek ulang untuk memeriksa kelengkapan identitas dan jawaban responden pada setiap lembar kuesioner. e. Menghitung hasil jawaban responden dan memberikan skor. H. Prosedur Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan data Setelah data terkumpul dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Verifikasi Data Verifikasi data bertujuan untuk menyeleksi atau memilih data yang memadai untuk diolah. Proses seleksi ditempuh dengan cara memeriksa dan menyeleksi kelengkapan pengisian yang dilakukan oleh responden baik identitas maupun jawabannya. b. Penyekoran Data yang ditetapkan untuk diolah kemudian diberi skor untuk setiap jawaban sesuai dengan sistem yang telah ditetapkan. Instrumen pengumpul data mengenai pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke menggunakan pilihan tunggal dimana

29

responden memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar, dengan pilihan jawaban "benar " dengan nilai 1 dan jawaban "salah" dengan nilai 0. 2. Analisis Data Analisis data untuk variabel pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke menggunakan kriteria skor ideal menurut Riduwan (2007) sebagai berikut: X ideal + Z (SD ideal) Pengelompokkan sumber penelitian ini dibagi dalam tiga kategori yang didasarkan pada kriteria ideal dengan ketentuan sebagai berikut: Kategori pertama, berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau sebesar 0,73, kurva normal dengan Z= 0,61. Kategori kedua, berada pada luas daerah kurva sebesar 46% atau letaknya terentang antara 0,73, kurva normal dengan Z= - 0,61 dengan Z = +0,61. Kategori ketiga, berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau sebesar 0,23, kurva normal dengan Z= - 0,61 Dengan pengelompokkan data mengenai pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke sebagai berikut: Skor ideal : jumlah item/soal x jawaban nilai atau skor maksimal Xideal SD ideal : x skor ideal : 1/3 x jumlah item/soal

Hasil perhitungan menggunakan rumus di atas setelah diformulasikan ke

30

dalam konversi adalah:


X X id + 0,61sd
X id 0,61sd < X < X id + 0,61sd

: Baik : Cukup baik : Kurang baik

X X id 0,61sd

Skor ideal Xideal SD ideal

= 30 x 1 = 30 = x 30 = 15 = 1/3 x 30 = 10

Dari hasil perhitungan di atas, selanjutnya dilakukan perhitungan variabel pengetahuan sebagai berikut: Baik Cukup baik Kurang baik : X 15 + 0,61 (10) = X 21,1 : 15 0,61(10) < X < 15 + 0,61(10) = 8,9 < X < 21,1 : X 15 0,61(10) = X 8,9.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

31

Pada bab V disajikan data hasil penelitian serta pembahasan mengenai gambaran tingkat pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke di Ruang Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Unit Swadana Subang yang terdiri dari sub variabel pengetahuan pada tingkatan tahu, memahami dan aplikasi yang akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai interpretasinya. A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Pasien Hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang Karakteristik pasien hipertensi berdasarkan umur didapatkan responden termuda berumur 33 tahun dan tertua berumur 60 tahun. Hasil penelitian yang didapat dari data pasien hipertensi berdasarkan karakteristik umur disajikan dalam bentuk Tabel 5.1 berikut ini: Tabel 5.1 Distribusi Pasien Hipertensi Menurut Umur Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No. 1 2 3 Umur 31 40 tahun 41 50 tahun 51 60 tahun Jumlah Frekuensi 4 10 28 42 % 9,52 23,81 66,67 100

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa pasien hipertensi yang berumur 51 60 tahun sebanyak 28 responden (66,67%) dan sebanyak 4

32

pasien hipertensi (9,52 %) berumur 31 40 tahun. Ini menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh pasien yang berumur di atas 40 tahun. Hasil penelitian yang didapat dari data pasien hipertensi berdasarkan karakteristik pendidikan disajikan dalam bentuk Tabel 5.2 berikut ini: Tabel 5.2 Distribusi Pasien Hipertensi Menurut Pendidikan Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No. 1 2 3 4 Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Jumlah Frekuensi 2 9 25 6 42 % 4,76 21,43 59,58 14,23 100

Berdasarkan Tabel 5.2 diketahui bahwa sebagian besar pendidikan pasien hipertensi (59,58 %) adalah SMA, dan hampir tidak ada pasien hipertensi (4,76%) berpendidikan SD. Ini berarti pendidikan pasien hipertensi didominasi berpendidikan SMA. Hasil penelitian yang didapat dari data pasien hipertensi berdasarkan karakteristik pekerjaan disajikan dalam bentuk Tabel 5.3 berikut ini:

Tabel 5.3 Distribusi Pasien Hipertensi Menurut Pekerjaan Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No. 1 2 Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Jumlah Frekuensi 17 25 42 % 40,48 59,52 100

33

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar (59,52%) pasien hipertensi adalah bekerja dan sebagian kecil (40,48%) pasien hipertensi adalah tidak bekerja. Ini menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh pasien yang memiliki pekerjaan. 2. Pengetahuan Pasien Hipertensi Pada Tingkatan Tahu Pada Pasien Hipertensi Hasil penelitian pada variabel pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke meliputi pengetahuan pada tingkatan tahu yang meliputi: pengertian hipertensi, penyebab hipertensi, komplikasi hipertensi dan tanda-tanda hipertensi disajikan pada Tabel 5.4 berikut ini: Tabel 5.4 Distribusi Pengetahuan Pasien Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Tahu Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No 1 2 3 Kategori Pengetahuan Baik Cukup baik Kurang baik Jumlah Frekuensi 32 7 3 42 % 76,19 16,67 7,14 100

Berdasarkan Tabel 5.4 diketahui bahwa pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu, sebagian besar (76,19%) termasuk kedalam kategori baik dan sebagian kecil (7,14%) pengetahuan pasien hipertensi termasuk kedalam kategori kurang baik. Ini berarti sebagian besar pasien hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang telah mengetahui dengan baik tentang pengertian hipertensi,

34

penyebab hipertensi, komplikasi hipertensi dan tanda-tanda hipertensi. 3. Pengetahuan Pasien Hipertensi Pada Tingkatan Memahami Pada Pasien Hipertensi Hasil penelitian pada variabel pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan memahami yang meliputi: hubungan tekanan darah dengan hipertensi, pencegahan komplikasi hipertensi dengan konsumsi makanan bergizi, berbagai penyebab yang berhubungan dengan komplikasi hipertensi, dan akibat komplikasi hipertensi disajikan pada Tabel 5.5 berikut ini: Tabel 5.5 Distribusi Pengetahuan Pasien Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Memahami Di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No 1 2 3 Kategori Pengetahuan Baik Cukup baik Kurang baik Jumlah Frekuensi 30 10 2 42 % 71,43 23,81 4,76 100

Berdasarkan Tabel 5.5 diketahui bahwa pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan memahami, sebagian besar (71,43%) termasuk kedalam kategori baik dan hampir tidak ada (4,76%) pengetahuan pasien hipertensi termasuk kedalam kategori kurang baik. Ini berarti sebagian besar pasien hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang telah memahami dengan baik tentang hubungan tekanan darah dengan hipertensi, pencegahan komplikasi hipertensi dengan konsumsi

35

makanan bergizi, berbagai penyebab yang berhubungan dengan komplikasi hipertensi, dan akibat komplikasi hipertensi. 4. Pengetahuan Pasien Hipertensi Pada Tingkatan Aplikasi Pada Pasien Hipertensi Hasil penelitian pada variabel pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi yang meliputi: Berbagai upaya meminimalisasi serangan stroke dengan berbagai cara yaitu: konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, bergaya hidup sehat, mengontrol tekanan darah, tidak merokok yang disajikan pada Tabel 5.6 berikut ini: Tabel 5.6 Distribusi Pengetahuan Pasien Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Aplikasi di Ruang Rawat Inap RSUD Subang No 1 2 3 Kategori Pengetahuan Baik Cukup baik Kurang baik Jumlah Frekuensi 31 7 4 42 % 73,81 16,67 9,52 100

Berdasarkan Tabel 5.6 diketahui bahwa pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi, sebagian besar (73,81%) termasuk kedalam kategori baik dan sebagian kecil (9,52%) pengetahuan pasien hipertensi termasuk kedalam kategori kurang baik. Ini berarti sebagian besar pasien hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang telah mengaplikasikan upaya meminimalisasi serangan stroke dengan mengkonsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, bergaya hidup sehat, mengontrol tekanan darah, tidak merokok.

36

5. Pengetahuan Pasien Hipertensi Hasil penelitian pada variabel pengetahuan pasien hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke meliputi pengetahuan pada tingkatan tahu, memahami dan aplikasi disajikan pada Tabel 5.7 berikut ini: Tabel 5.7 Distribusi Pengetahuan Pasien Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang No 1 2 3 Kategori Pengetahuan Baik Cukup baik Kurang baik Jumlah Frekuensi 25 14 3 42 % 59,53 33,33 7,14 100

Berdasarkan Tabel 5.7 diketahui bahwa pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu, memahami dan aplikasi adalah sebagian besar (59,53%) termasuk kedalam kategori baik, dan sebagian kecil (7,14%) pengetahuan pasien hipertensi termasuk kedalam kategori kurang baik. Ini berarti sebagian besar pasien hipertensi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang telah mengetahui dengan baik tentang upaya meminimalisasi serangan stroke. B. Pembahasan 1. Karakteristik Pasien Hipertensi Berdasarkan Umur, Pendidikan dan Pekerjaan Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 5.1 didapat bahwa pasien hipertensi didominasi oleh pasien yang berumur 51 60 tahun sebanyak 28 responden (66,67%), sebagian kecil (9,52%) pasien hipertensi berumur 31 40 tahun dan sebanyak (23,81%) pasien hipertensi berumur antara 41 50 tahun. Hal ini ada kemungkinan bahwa penderita hipertensi

37

banyak diderita oleh orang-orang yang berumur antara 30 sampai dengan 60 tahun. Hal ini diperkuat oleh pendapat Hanns Peter Wolff, dalam bukunya Speaking of High Blood Pressure , satu dari setiap lima orang menderita tekanan darah tinggi, dan sepertiganya tidak menyadarinya. Padahal, sekitar 40 % kematian di bawah usia 65 tahun bermula dari tekanan darah tinggi. Penyakit ini sudah jadi epidemi di zaman modern,

menggantikan wabah kolera dan TBC di zaman dulu. Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 5.2 didapat bahwa pendidikan responden sebagian besar (59,58 %) lulusan SMA dan berdasarkan Tabel 5.3 didapat bahwa sebagian besar responden (59,52%) memiliki status pekerjaan adalah bekerja. Kedua ciri ini merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan penderita hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke. Hal ini diperkuat dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan seseorang merupakan salah satu dipengaruhi domian pembentuk perilaku kesehatan dipengaruhi oleh ciri-ciri individu itu sendiri yang dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu ciri-ciri demografi (seperti jenis kelamin, umur), struktur sosial (seperti pendidikan, pekerjaan), dan manfaat kesehatan (seperti keyakinan pribadi) dan setiap individu mempunyai perbedaan-perbedaan karakteristik atau ciri-ciri tersendiri yang akan mempengaruhi perilakunya. 2. Pengetahuan Pasien Hipertensi Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Tahu di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 5.4 didapat bahwa

38

pengetahuan penderita hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu, sebagian besar (76,19%) termasuk kedalam kategori baik. Hal ini ada kemungkinan rata-rata penderita hipertensi tersebut pernah mendapatkan informasi dari dokter atau perawat tentang upaya menghindari kompliksi dari hipertensi. Banyaknya pengetahuan hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan tahu ini disebabkan oleh pengetahuan pada tingkatan ini hanya mengingat definisidefinisi atau pengertian-pengertian hipertensi yang sifatnya sekedar hafalan. Sedangkan pasien hipertensi yang memiliki pengetahuan pada kategori cukup baik dan kurang baik, ada kemungkinan karena baru menderita penyakit hipertensi ataupun belum pernah mendapatkan informasi apapun tentang penyakit hipertensi.

3. Pengetahuan Pasien Hipertensi Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Memahami di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 5.5 didapat bahwa pengetahuan responden tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan memahami, sebagian besar (71,43%) termasuk kedalam kategori baik dan pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya

meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi, sebagian besar (73,81%) termasuk kedalam kategori baik.

39

Pengetahuan pasien hipertensi, sebagian kecil termasuk kategori cukup baik dan kurang baik. Hal ini ada kemungkinan disebabkan oleh faktor pendidikan yang rendah, hal ini sesuai dengan pendapat Soekanto (2002) bahwa latar pendidikan yang dimiliki seseorang akan mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan orang yang berpendidikan lebih rendah. 4. Pengetahuan Pasien Hipertensi Dalam Upaya Meminimalisasi Serangan Stroke Pada Tingkatan Aplikasi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada Tabel 5.6 menunjukkan bahwa pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang, sebagian besar (73,81%) termasuk kedalam kategori baik. Hal ini ada kemungkinan sebagian besar pasien hipertensi telah mendapatkan informasi tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan ataupun makanan yang tidak boleh dikonsumsi bagi penderita hipertensi sedangkan sebagian kecil pasien hipertensi ada kemungkinan belum mendapatkan informasi tersebut sehingga pengetahuan masih cukup baik dan kurang baik. Pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi masih ada dalam kategori cukup baik dan kurang baik. Hal ini ada kemungkinan responden yang berpendidikan rendah sulit mencerna atau memahami bahasa ilmiah yang berkaitan dengan istilahistilah kesehatan. Namun demikian, hasil penelitian tentang pengetahuan pasien hipertensi responden dari masing-masing tingkatan pengetahuan sudah

40

baik yaitu sebagian besar (59,53%) termasuk kedalam kategori baik. Hal ini ada kemungkinan dikarenakan bahwa telah sampai akses informasi kesehatan terhadap penderita hipertensi, misalnya lewat pendidikan yang diberikan perawat, media massa, dan lain-lain. Dengan demikian diharapkan semakin baiknya tingkat pengetahuan penderita hipertensi dapat membentuk perilaku kesehatan yang mengarah pada upaya meminimalisasi serangan stroke sehinggga akan semakin kecil penderita hipertensi yang menderita stoke. Selanjutnya pengetahuan pasien hipertensi yang termasuk kategori kurang baik disebabkan oleh minimnya akses informasi kesehatan yang ditunjang oleh pendidikan rendah sehingga ada kemungkinan sulit untuk mendapatkan informasi hipertensi dari berbagai media baik cetak dan elektronik.. Pengetahuan sebagai parameter keadaan sosial sangat menentukan kesehatan penderita hipertensi. Penderita hipertensi dapat terhindar dari berbagai komplikasi akibat hipertensi asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan, sehingga perilaku kesehatan dapat terbentuk

(Notoatmodjo, 2003).

Jadi untuk meminimalisasi serangan stroke pada

penderita hipertensi diperlukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan penderita hipertensi secara lebih berkala oleh dokter atau peran dalam menjalankan perannya sebagai pendidik.

41

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan penderita hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke terdiri dari pengetahuan pada tingkatan tahu, memahami, dan aplikasi dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: A. Simpulan 1. Pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke

42

pada tingkatan tahu di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang adalah baik yaitu sebagian besar pasien telah mengetahui dengan baik tentang pengertian, penyebab, komplikasi dan tanda-tanda hipertensi. 2. Pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan memahami di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang adalah baik yaitu sebagian besar memahami dengan baik tentang hubungan tekanan darah dengan hipertensi, pencegahan komplikasi hipertensi dengan konsumsi makanan bergizi, berbagai penyebab yang berhubungan dengan komplikasi hipertensi, dan akibat komplikasi hipertensi. 3. Pengetahuan pasien hipertensi tentang upaya meminimalisasi serangan stroke pada tingkatan aplikasi di Ruang Penyakit Dalam RSUD Subang adalah baik yaitu sebagian besar pasien telah mengaplikasikan upaya meminimalisasi serangan stroke dengan berbagai cara yaitu: konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, bergaya hidup sehat, mengontrol tekanan darah, dan tidak merokok. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian, maka beberapa saran dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Pentingnya usaha peningkatan pengetahuan penderita hipertensi dalam upaya meminimalisasi serangan stroke yang dapat dilakukan dengan memberikan nasehat-nasehat secara intensif oleh perawat seperti penjelasan tentang caracara praktis dalam mencegah stroke secara rutin. 2. Kepada pihak rumah sakit, agar dapat menambah fasilitas dan alat-alat

43

kesehatan/kedokteran guna memberikan pelayanan optimal kepada pasien hipertensi sebagai upaya meminimalisasi berbagai komplikasi akibat hipertensi..