KAJIAN PINJAMAN DAERAH

i

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ..................................................................... 1.2. Identifikasi Masalah ............................................................. 1.3. Maksud dan Tujuan ......................................... ................... 1.4. Ruang Lingkup Kegiatan ..................................................... BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1. Dasar Hukum Pinjaman Daerah .......................................... 2.2. Prinsip Dasar Pinjaman Daerah ........................................... 2.3. Persyaratan Pinjaman ........................................................... 2.4. Sumber-Sumber Pinjaman Daerah....................................... 2.5. Jenis dan Jangka Waktu Pinjaman 2.6. Larangan Penjaminan .......................................................... 2.7. Pinjaman Dimasukan Dalam APBD................... ................. 2.8. Pembayaran Kembali Pinjaman................... ........................ 2.9. Pelaporan Pinjaman................... .......................................... BAB III GAMBARAN UMUM PEMERINTAH KOTA DEPOK 3.1. Kondisi Fisik ........................................................................ 3.1.1 Kondisi Geografi Kota Depok .................................... 3.1.2 Topografi. .................................................................. 3.1.3 Penggunaan Lahan. .................................................... 3.2. Administrasi ........................................................................ 3.3. Kependudukan ................................................................... . 3.3.1 Penduduk. .................................................................. 15 15 16 16 18 19 19 5 6 7 10 10 13 13 13 14 1 2 3 3

ii

3.3.2 Tenaga Kerja. ............................................................. 3.4. Pendidikan .......................................................................... 3.5. Kesehatan ............................................................................ 3.5.1 Sumber Daya Manusia Tenaga Kesehatan.................................................................. 3.5.2 Sarana dan Prasarana ............................................... 3.6. Perhubungan ( Jalan/Jembatan) ............................................ 3.7. Ekonomi ............................................................................... a. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Depok ......................................................................... b. Kondisi Perekonomian ..................................................... BAB IV PINJAMAN DAERAH 4.1. Analisa Kemampuan Pinjaman Daerah ............................... 4.2. Analisa Batas Maksimal Pinjaman ..................................... BAB V KESIMPULAN Analisa Kemampuan Pinjaman ..................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. DAFTAR TABEL Tabel 2.3 Tabel 3.1.3 Tabel 3.3.1 a Persyaratan Pinjaman ............................................

21 22 22

23 24 27 28

28 30

32 34

38 40

9

Jenis Penggunaan Lahan Kota Depok.................... 17 Proyeksi Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2010-2015 (jiwa) ............................................. 20

Tabel 3.3.1 b

Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan struktur Usia Kota Depok Tahun 2007 ....................... 20

Tabel 3.3.2

Prosentase Penduduk Berusia 10 Tahun keatas Menurut Jenis Kelamin dan Lapangan Usaha di Kota Depok Tahun 2007 .................................. 21

Tabel 3.5.1

Jumlah Tenaga Kesehatan (RSUD) kota Depok .. 23

iii

Tabel 3.5.2

Proyeksi Pengembangan Gedung, Sarana dan Prasarana RSUD Kota Depok ............................... 25

Tabel 3.7.a Tabel 3.7 a

PDRB Kota Depok 2003-2006 ............................. 29 Prosentase PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2003-2006 ................................... 30

Tabel 3.7 b

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Depok Tahun 2002-2006 .......................................................... 31

LAMPIRAN-LAMPIRAN

dihadapkan pada semakin meningkatnya kebutuhan pembiayaan pembangunan daerah. sehingga menjadi satu kesatuan perencanaan. Dengan demikian. hal ini memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk mencari alternatif sumber pembiayaan untuk membiayai pembangunan. diharapkan Kota Depok mampu memberikan pelayanan yang cepat. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 1 . namun paling tidak pinjaman daerah ini dapat mempercepat proses pembangunan yang dilaksanakan. Kota Depok merupakan pintu gerbang Propinsi Jawa Barat . untuk itu Pemerintah Daerah Kota Depok harus dapat menyediakan anggaran/dana investasi yang sangat besar. dan pengendalian dengan propinsi jawa barat. Karena pinjaman daerah ini dapat digunakan untuk membiayai proyek yang bersifat cost recovery khususnya untuk kepentingan pelayanan masyarakat sehingga dapat meningkatkan pembangunan dan perekonomian daerah. tepat dan terpadu kepada masyarakat. walaupun pada prinsipnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetap menjadi penerimaan utama . pelaksanaan. Secara geografis maupun fungsional pembangunan di Kota Depok memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pembangunan wilayah disekitarnya. maka salah satu sumber pendapatan daerah yang bisa digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan adalah dengan menggunakan dana pinjaman daerah.KAJIAN PINJAMAN DAERAH PEMERINTAH KOTA DEPOK BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keterbatasan sumber pembiayaan dalam negeri yang berasal dari pemerintah pusat maupun PAD.

yang disebabkan oleh lebih besarnya belanja daerah dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh. dana perimbangan. penyebab utama terjadinya defisit anggaran adalah adanya kebutuhan pembangunan daerah yang semakin meningkat. sementara itu sumber pendapatan asli daerah untuk membiayai belanja daerah tidak mencukupi sehingga kemampuan pemerintah daerah untuk menyediakan dana pembangunan sangat terbatas. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 2 . untuk menutupi kekurangan dana tersebut maka pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk menggunakan dana pinjaman sebagai mana diatur dalam Peraturan Pemerintah. 1. disebutkan bahwa sumber penerimaan daerah berasal dari pendapatan asli daerah. Penggunaan dana pinjaman daerah ini sebagai salah satu sumber pilihan pembiayaan pembangunan di masa yang akan datang akan memegang peranan penting dan membuka peluang bagi daerah untuk melakukan pinjaman dari pihak luar sesuai dengan peraturan yang berlaku.2 Identifikasi Masalah Pembiayaan merupakan transaksi keuangan untuk menutupi defisit anggaran. pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah.Kemandirian keuangan daerah ini tidak diartikan bahwa setiap pemerintah daerah harus dapat membiayai seluruh kemampuannya dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). karena di samping dari PAD masih ada penerimaan lain sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah direvisi melalui Undang-undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang telah direvisi melalui Undang-undang 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sejalan dengan undang-undang tersebut maka pemerintah daerah dituntut untuk dapat meningkatkan pendapatannya di dalam pelaksanaan pembangunan daerah.

3 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah : 1. dan transfer ke rekening dana cadangan. 1.Pengaturan tentang kebijakan pembiayaan dalam APBD telah diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. transfer dari dana cadangan. 1. penggunaannya dapat didanai dari penerimaan pembiayaan yang terdiri dari : sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. Untuk mengetahui kemampuan keuangan Pemerintah Kota Depok di dalam melakukan pinjaman Untuk menentukan besarnya pinjaman yang layak yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Depok Sebagai bahan dalam pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Kota Depok dalam memperkaya kajian tentang keuangan daerah khususnya mengenai kemampuan keuangan dalam melakukan pinjaman daerah sebagai salah satu sumber investasi untuk membiayai pelaksanaan pembangunan. dan pinjaman daerah. Namun apabila APBD diperkirakan defisit.4 Ruang Lingkup Kegiatan Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip dan tujuan yang telah diutarakan pada latar belakang bahwa kajian pinjaman ini mampu memberikan gambaran bagaimana memaksimalkan kemampuan daerah Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 3 . apabila APBD diperkirakan surplus maka penggunaannya dapat diarahkan untuk pengeluaran pembiayaan yang mencakup : pembayaran cicilan pokok hutang yang jatuh tempo. penyertaan modal (investasi daerah). Sebagai bahan masukan dan informasi bagi Pemerintah Kota Depok dalam memberi arah atau alternatif kebijakan yang berkaitan dengan pelaksanaan pinjaman daerah. Berdasarkan Pasal 174 Undangundang Nomor 32 Tahun 2004. pada Bab Keuangan Daerah. 4. 2. 3.

a) Seberapa besar manfaat yang akan dihasilkan dalam proses pembangunan di Kota Depok dengan sumber pembiayaan dari pinjaman. b) Sampai sejaumana kemampuan keuangan Pemerintah Kota Depok dalam melakukan pinjaman. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 4 . mengindentifikasi dan menganalisis . .dalam mengoptimalkan pembiayaan pembangunan yang bersumber dari pinjaman dengan melihat efektivitas dampak terhadap program kerja yang telah disusun dalam rencana pembangunan jangka menengah yang dituangkan dalam rencana kerja pemerintah daerah Sesuai kerangka pemikiran di muka maka ditetapkan ruang lingkup kegiatan yaitu mengumpulkan.

8. PP Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 3.02/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan dan Mekanisme Pemantauan Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pinjaman Daerah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 2. 6.BAB II KAJIAN TEORITIS 2. 4. Adapun dasar hukum yang menjadi acuan dalam melakukan pinjaman yaitu : 1. 9.1 Dasar Hukum Pinjaman Daerah Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. 7. 5. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 5 . UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 005/M. UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. PP Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.PPN/06/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.

Pinjaman Daerah adalah salah satu alternatif sumber pembiayaan Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah yang dananya berasal dari luar negeri (On-Lending).07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. 3. Pertanggungjawaban. 2. 4. dimana pada era otonomi daerah saat ini beban belanja untuk pembangunan di daerah cukup besar. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 6 .10. Pinjaman Daerah digunakan untuk membiayai kegiatan yang merupakan inisiatif dan kewenangan Daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan. termasuk untuk menutup kekurangan arus kas.2 Prinsip Dasar Pinjaman Daerah Menurut Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menetapkan bahwa pinjaman daerah adalah merupakan salah satu sumber pembiayaan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi yang dicatat dan dikelola dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). serta tuntutan masyarakat terhadap penyediaan fasilitas atau sarana dan prasarana pelayanan umum semakin meningkat. dan Publikasi Informasi Obligasi Daerah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. Adapun yang menjadi prinsip Pemerintah Daerah melakukan pinjaman adalah : 1. Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. 2. Sehingga dalam hal ini Pemerintah Daerah dituntut untuk bekerja keras mencari sumber-sumber alternatif pendapatan dan pembiayaan yang cukup memadai. Pinjaman daerah merupakan solusi alternatif untuk membiayai pembangunan.

Untuk Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang waktu pinjaman tidak boleh melebihi masa jabatan Kepala Daerah Debt Service Coverage ratio (DSCR) adalah merupakan perbandingan antara penjumlahan Pendapatan asli daerah. 2. : 1. bunga dan Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 7 . dana alokasi umum (DAU) setelah dikurangi belanja wajib dengan penjumlahan angsuran pokok. 3. 5. Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. bagian daerah dari pajak bumi dan bangunan. Batas maksimal defisit APBD daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.5. namun tentunya ada kaidah-kaidah yang perlu menjadi perhatian yaitu. Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang dilakukan dengan persetujuan DPRD.3 Persyaratan Pinjaman Seperti yang telah di isyaratkan dalam Peraturan Perundangundangan bahwasanya Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman untuk mendanai pembangunan. Rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (DSCR) paling sedikit 2. Batas masimal defisit APBD tidak termasuk SiLPA dan defisit yang dibiayai dengan pencairan dana cadangan Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah. 2. 6. Tidak melebihi Batas Defisit APBD dan Batas Kumulatif Pinjaman Daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.5. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan serta penerimaan sumber daya alam dan bagian daerah lainnya seperti pajak penghasilan perorangan. 4. 7.

5 anggaran yang bersangkutan Pokok yang jatuh tempo nggaran yang bersangkutan Pinjaman yang jatuh tempo pada tahun Lainnya Yang Jatuh Tempo (Biaya anggaran yang Bersangkutan komitmen. seperti PPh Perseorangan DAU : BW : Dana Alokasi Umum Belanja Wajib yaitu bisa belanja yang dalam harus tahun dipenuhi/tidak P B BL : : : Angsuran Bunga Biaya tempo) dihindarkan Pinjaman Penerimaan Sumber Daya Alam serta Bagian Daerah Lainnya ≥ 2. bila dirumuskan secara matematis perhitungan DSCR yaitu : Rumus DCSR : (PAD + BD +DAU)-BW DSCR = (P + B + BL) DSCR : PAD : BD : Debt Service Coverage ratio Pendapatan Asli Daerah Bagian Daerah dari PBB. BPHTB. Biaya Bank dan Lain-lain yang jatuh Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 8 .biaya pinjaman lainnya yang telah jatuh tempo.

13. Perbandingan sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik dengan penerimaan umum APBD tahun anggaran sebelumya. Rencana penggunaan pinjaman 15. seperti: • Persetujuan awal pemberi pinjaman. PERSYARATAN Surat Permohonan Kepala Daerah Kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapat pertimbangan. Rencana keuangan (financing plan) pinjaman yang akan diusulkan 15. • Bukti pelunasan pinjaman tahun sebelumnya. Salinan surat pelantikan Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah. Peta wilayah atau lokasi kegiatan. Perda APBD 3 (tiga) tahun berturut-turut. Kaitan dengan RPJMD j. Analisis aspek (pelayanan. 2. Lain-lain yang dianggap perlu. Kerangka Acuan Kegiatan yang berisi: a. ekonomi dll) g. Maksud dan Tujuan c. SKPD yang menjadi Penanggungjawab kegiatan e. Jangka waktu pinjam. Rasio Kemampuan Keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (DSCR) Tahun berkenaan ≥ 2. Jumlah pinjaman Sumber : Departemen Dalam Negeri Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 9 . Sisa pinjaman daerah yang masih ada 11. l. APBD tahun bersangkutan. Surat Persetujuan DPRD. Suku bunga 14. lingkungan.3 Persyaratan Pinjaman Daerah NO 1. 3. 10.Tabel 2. Latar belakang b. Jadwal Waktu Pelaksanaan i. 7. sosial. 6. Keterpaduan/ Sinergitas dengan Kegiatan Lain h. Ruang lingkup dalam pemanfaatan pinjaman d. Naskah Perjanjian Pinjaman. k. 9. 5. keuangan.5. 4. SKPD yang menjadi penanggungjawab keuangan f. Surat Pernyataan dari Kepala Daerah tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah. Struktur organisasi pengelola kegiatan dan keuangan. 8. 12.

sedangkan pinjaman daerah yang bersumber dari masyarakat berupa penerbitan Obligasi Daerah diterbitkan melalui pasar modal. Lembaga Keuangan bukan Bank. 4. dan biaya lain) seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang bersangkutan dan digunakan hanya untuk menutupi arus kas dan jumlah maksimum adalah 1/6 dari jumlah belanja dalam APBD tahun anggaran berjalan hal ini disebabkan dengan mempertimbangkan kecukupan daerah untuk membayar kembali pinjaman tersebut pada waktunya.4 Sumber-sumber Pinjaman Daerah Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman dengan bersumber pada. dan Masyarakat Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah diberikan melalui Menteri Keuangan. Pendapatan Dalam Negeri (Rekening Pembangunan Daerah). 3. Lembaga keuangan Bank. bunga.2. b. Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek yang bersumber dari : Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 10 .5 Jenis dan Jangka Waktu Pinjaman 1. Pinjaman Jangka Pendek Merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman (pokok pinjaman. a. Pinjaman Luar Negeri (Subsidiary Loan Agreement (SLA)/onlending) Pemerintah daerah lain. 2. Pemerintah. 5. 2. : 1.

dan biaya lain) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan. Pemerintah Daerah Lainnya 3. Lembaga keuangan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 3. bunga. Masyarakat Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 11 . Lembaga keuangan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 4.1. 2. Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman jangka menengah yang bersumber dari : 1. Pinjaman Jangka Menengah dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan. Pemerintah Daerah lain 2. Lembaga keuangan bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 5. Pinjaman jangka Menengah Merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman (pokok pinjaman. Lembaga keuangan bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 2. Pemerintah yang dananya berasal dari pendapatan APBN dan/atau pengadaan pinjaman Pemerintah dari Dalam Negeri atau Luar Negeri.

Pinjaman Jangka Panjang Merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman (pokok pinjaman. Masyarakat Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 12 . bunga. Lembaga keuangan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 4. 2. Pinjaman Jangka Panjang dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan dalam hal ini proyek investasi yang menyangkut sarana dan prasarana yang menghasilkan pendapatan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan sarana dan prasarana tersebut dan batas maksimum waktu pinjaman disesuaikan dengan umur ekonomis asset yang dibiayai dari pinjaman tersebut. Pemerintah yang dananya berasal dari pendapatan APBN dan/atau pengadaan pinjaman Pemerintah dari Dalam Negeri atau Luar Negeri. Lembaga keuangan bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia 5. dan biaya lain) harus dilunasi pada tahun-tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan. Pemerintah Daerah Lainnya 3.3. Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang yang bersumber dari : 1.

kewajiban membayar pinjaman tersebut diperhitungkan dengan DAU dan/atau Dana Bagi Hasil dari penerimaan negara yang menjadi hak daerah tersebut. Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran yang bersangkutan. Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan. wajib dialokasikan dalam APBD. 2.8 Pembayaran Kembali Pinjaman Ketentuan mengenai pembayaran kembali pinjaman dilakukan sesuai dengan perjanjian antara Pemerintah Daerah dengan yang memberi pinjam. dan dalam hal daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah.7 Pinjaman dimasukan dalam APBD Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 bahwa setiap pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. 2.2. Pemerintah pusat tidak menanggung pembayaran kembali pinjaman daerah yang menjadi kewajiban daerah dan tanggung jawab daerah Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 13 .6 Larangan Penjaminan Dalam beberapa hal daerah dilarang melakukan pinjaman Daerah yang bersipat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan daerah yaitu : 1. Proyek yang dibiayai dari Obligasi Daerah beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan Obligasi Daerah. untuk pinjaman luar negeri mengenai penyaluran dan pembayaran kembali pinjaman ditetapkan oleh Menteri Keuangan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 2. maka sesuai dengan ketentuan semua kewajiban pembayaran kembali pinjaman daerah menjadi tanggung jawab daerah.

Semua penerimaan dan kewajiban dalam rangka pinjaman daerah dicantumkan dalam APBD dan dibekukan sesuai dengan standar akuntansi Keuangan Pemerintah dan keterangan mengenai pinjaman jangka panjang dituangkan dalam lampiran dokumen APBD. Pemerintah dapat menunda penyaluran Dana Perimbangan dan dana bagi hasil yang menjadi hak daerah tersebut. posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Pemerintah (Menteri Dalam Negeri) setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. dalam hal daerah tidak menyampaikan laporan.2.9 Pelaporan Pinjaman Pemerintah daerah wajib melaporkan perjanjian pinjaman. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 14 .

54 ha atau 200. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunungsindur Kabupaten Bogor. Wilayah Kota Depok berbatasan dengan tiga Kabupaten dan satu Propinsi. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 15 .106º55’30’’ Bujur Timur. Limo. Kota Depok sebagai salah satu wilayah termuda di Jawa Barat. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pondokgede Kota Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Cimanggis. Secara lengkap wilayah ini mempunyai batasbatas sebagai berikut : a.1. d. b.504. Bentang alam Depok dari Selatan ke Utara merupakan daerah dataran rendah – perbukitan bergelombang lemah.29 km2 yang mencakup 6 kecamatan yaitu: Kecamatan Beji. dengan elevasi antara 50–140 meter diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen.29 Km2. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang dan wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.6º 28’00’’Lintang Selatan dan 106º43’00’’ . c. Luas keseluruhan Kota Depok 20. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor.BAB III GAMBARAN UMUM PEMERINTAH KOTA DEPOK 3.1 KONDISI FISIK 3.1 Kondisi Geografi Kota Depok Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6º 19’00’’ . mempunyai luas wilayah sekitar 200.

sawah 3473. berdasarkan atas elevasi atau ketinggian garis kontur. Jenis kawasan yang perlu dilindungi terdiri dari Cagar Alam Kampung Baru (Kelurahan Depok) area pinggir sungai dan situ. 3. sedangkan di bagian selatanmerupakan daerah perbukitan bergelombang lemah. Berdasarkan jenis kawasan lindung yang ada menggambarkan bahwa kondisi morfologis Kota Depok relatif datar. peta sebaran spasial kelas lereng lahan Kota Depok. Jenis penggunaan lahan yang dikategorikan untuk kawasan budidaya pada tahun 2001 didominasi oleh pemukiman 4702.39 ha(17. Wilayah dengan kemiringan datar hingga sedang digunakan untuk berbagai keperluan khususnya pemukiman. Badan air yang terdiri dari sungai dan situ-situ lokasinya tersebar mencakup luasan 551. lahan tidur 3543.3 Penggunaan lahan Jenis penggunan lahan di Kota Depok dapat dibedakan menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kota Depok sebagai pusat Pemerintahan berada di Kecamatan Pancoran Mas.Sawangan. 3. sebagian besar wilayah Kota Depok memiliki kemiringan lereng kurang dari 15% bentuk kemiringan wilayah tersebut sangat menentukan jenis penggunaan lahan.61 Ha (2.94%).2 Topografi Secara umum wilayah Kota Depok di bagian utara merupakan daerah dataran tinggi. Berdasarkan data RTRW Kota Depok (Anonimous. dengan elevasi antara 50-140 meter di atas permukaan laut. industri dan pertanian.28%).1. Sukmajaya dan Kecamatan Pancoran Mas.33 Ha.93 ha Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 16 . 2000). maka bentang alam daerah Depok dari selatan ke utara merupakan daerah dataran rendah – perbukitan bergelombang lemah.1.80%) dari total luas Kota Depok ± 20502.43 ha (22. intensitas penggunaan lahan dan kepadatan bangunan.

RRI) Sungai Garis Sempadan (Sungai.1.44 308. Pancoran Mas bagian selatan dan sebagian Kecamatan Cimanggis.41% 5.94%). Kuburan Hutan Kawasan Tertentu (TVRI.31% 1.15% 1.93 ha (8.57 967.00% Sumber : Hasil Revisi RTRW Kota Depok Tahun 2000 – 2010.40 7. Cilodong.50% 1.94% 0. dan jenis lahan penggunaan vegetasi campuran hanya 27.(16.88% 0.84% 1.968. Brimob.04 176.33 300.85 230.12 1.00 % 49.27% 50.37 10.80% dari total luas Kota Depok.56 26. Tegangan Tinggi. masalah yang dihadapi dalam penggunaan lahan ini adalah konversi lahan pertanian (lahan basah) menjadi kegiatan non pertanian.23% 4.13% 0.24 388.83% 35. Kemudian di bagian tengah diapit oleh Jalan Margonda Raya.029.70 20.77% 44.060.25 168.26 82. persoalannya adalah perkembangan nilai tanah (land rent) yang lebih tinggi dibandingkan dengan produktifitas pertanian sawah.171. Jika dilihat dari sebarannya dapat dikenali kawasan perumahan terkonsentrasi dominan di bagian utara yang berdekatan dengan Jakarta yaitu Kecamatan Limo. Lapangan Golf.34% 0. Penggunaan pertanian tersebar di Kecamatan Sawangan. Beji dan Sukmajaya.078.54% 1.45 254. Depo KRL. Tabel 3.69%).3 Jenis Penggunaan Lahan Kota Depok Jenis Penggunaan Lahan Kawasan Terbangun Perumahan + Kampung Pendidikan Tinggi Jasa dan Perdagangan Industri Kawasan Tertentu (Gandul.85% 100. Pipa Gas) Total Luas (Ha) 9. Kondisi di atas menggambarkan Kota Depok masih mencerminkan kegiatan yang bercampur antara pertanian dan perkotaan yang dipengaruhi oleh Kota Metropolitan. dan diperkirakan akan semakin mempercepat perubahan menjadi lahan perkotaan. Sungai Ciliwung dan Jalan Tole Iskandar. Radar AURI) Ruang Terbuka Hijau Sawah Teknis dan Non Teknis Tegalan/Ladang/Kebun/Tanah Kosong Situ & Danau Pariwisata.43 8. BAPEDA Kota Depok Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 17 .874. tegalan 1781.

maka wilayah Kota Depok tidak hanya terdiri dari wilayah Kota Administratif Depok. dan pelayanan kepada masyarakat serta untuk lebih meningkatkan peran aktif masyarakat. yaitu Kecamatan Limo.2 ADMINISTRASI Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tanggal 16 Mei 1994 Nomor 135/SK. serta untuk kesatuan perencanaan. 3. tetapi juga meliputi sebagian wilayah Kabupaten Bogor lainnya.Dewan 06/DPRD/1997 tentang Persetujuan Atas Pembentukan Kotamadya Dati II Depok dan untuk lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah. Desa Pondokjaya. maka pembentukan Kota Depok sebagai wilayah administratif baru di Propinsi Jawa Barat ditetapkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1999. Berdasarkan Undang-undang tersebut.DPRD/03/1994 tentang Persetujuan Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat tanggal 7 Juli 1997 Nomor 135/Kep. dalam rangka pengembangan fungsi kotanya sesuai dengan potensinya dan guna memenuhi kebutuhan pada masa-masa mendatang. pendidikan dan perkantoran yang tersebar di sepanjang Jalan Margonda Raya dan Jalan Akses UI. Kecamatan Cimanggis. terutama untuk sarana dan prasarana fisik kota. Desa Ratujaya. Desa Cipayung dan Desa Cipayung Jaya. pelaksanaan pembangunan. Kecamatan Sawangan dan sebagian wilayah Kecamatan Bojonggede yang terdiri dari Desa Pondokterong. pembinaan wilayah.Selain itu terdapat beberapa penggunaan lahan yang cenderung intensif seperti industri yang tersebar di Jalan Raya Bogor (Kecamatan Cimanggis). dan penduduk yang berbatasan dengan wilayah Kota Administratif Depok. Sehingga wilayah Kota Depok terdiri Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 18 . perdagangan dan jasa.

sedangkan Surat Keputusan Dewan (DPRD) ada 24 keputusan.470. Jumlah keputusan DPRD Kota Depok pada tahun 2007 yang berupa Surat keputusan Pimpinan DPRD sebanyak 2. 3. Fraksi Partai Amanat Nasional 5 orang. dan perempuan 6 orang. yang terdiri dari laki-laki 761. terdiri dari golongan I sebanyak 86 orang. laki-laki 39 orang. Kecamatan Cimanggis paling banyak penduduknya dibanding kecamatan lain di Kota Depok.538 Rukun Tetangga (RT). pembangunan dan pembinaan serta pelayanan masyarakat di Kota Depok.339. 828 Rukun Warga (RW).002 jiwa. Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah Kota Depok tahun 2007 adalah 6.888 jiwa.382 jiwa dan perempuan 708.43 persen. dan golongan IV sebanyak 2.483 orang. Sedangkan kecamatan dengan penduduk terkecil adalah Kecamatan Beji yaitu 139. Penduduk Jumlah penduduk Kota Depok pada tahun 2007 mencapai 1. Fraksi PDI Perjuangan 6 orang. Laju pertumbuhan penduduk Kota Depok tahun 2007 3.471 orang. kepadatan penduduk Kota Depok mencapai 7. Sampai dengan tahun 2007 Kota Depok mempunyai 63 kelurahan. dan sebanyak 4 berupa Peraturan Daerah (PERDA).dari 6 Kecamatan.3 KEPENDUDUKAN 3. kemudian Fraksi partai Golkar 8 orang.3. dan Fraksi Persatuan Bangsa 6 orang. Anggota DPRD dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera 12 orang. Fraksi Partai Demokrat 8 oang. Hal ini mengakibatkan bertambahnya beban tugas dan volume kerja dalam penyelenggaraan pemerintahan.1. sedangkan rasio jenis kelamin di Kota Depok adalah 102.37 jiwa/km2. golongan II sebanyak 1. yaitu 403. dan 4.762 orang. Di Tahun 2007.037 jiwa.722 orang. Kecamatan Sukmajaya merupakan kecamatan terpadat di Kota Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 19 .620 jiwa. Jumlah anggota DPRD Kota Depok hasil pemilu 2004 (periode 2004 – 2009) adalah 45 orang. golongan III sebanyak 2.

12 9.805 23.59 9.27 9.081 75.323 708.76 96.30 0.982 57.a Proyeksi Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2010 – 2015 (jiwa) Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) 2010 Pancoran Mas Sukmajaya Beji Sawangan Limo Cimanggis TOTAL 310.118 9.38 jiwa/km2.842 60.69 6.1.93 8.732.72 1.634.685 18.66 6.272 1.041 32.620 9.537 65.901 6.76 106.779 150.90 5.900 69.3.673 100.92 8.905 51.897 127.61 9.61 jiwa/km2.82 5.567 9.782.218 64.64 10.382 9.768 48.070 32.968 13.854 249.991 135.241 76.35 107.293 Sumber: Hasil Revisi RTRW Kota Depok Tahun 2000 – 2010.31 112.881 65.033.29 0.989 451.869 70.00 104.717 398.03 8.b Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Struktur Usia Di Kota Depok Tahun 2007 Kelompok Umur 1 Laki-Laki N 2 % 3 Perempuan N % 4 5 Laki-Laki+Perempuan N % 6 7 RJK 8 0 ‐4 5 ‐9 10 ‐14 15 ‐19 20 ‐24 25 ‐29 30 ‐34 35 ‐39 40 ‐44 45 ‐49 50 ‐54 55 ‐59 60 ‐64 65 ‐69 70 ‐74 75   + J UML AH 73.63 9.97 100 109.39 4.31 3.41 9.226 220. Tabel 3.45 Sumber : Depok Dalam Angka Tahun 2007 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 20 .69 109.05 4.710 46.320 41.42 9.82 1.20 1.438 16.306 71.921 35.27 1.36 3.360 61.632 15.35 8.903 14.723 126.685 63.03 100 139.002 7.265 179.949 761.762 30.23 1.92 8.660 478. kemudian Kecamatan Beji dengan tingkat kepadatan 9.17 107.Depok dengan tingkat kepadatan 10.15 103.642 2015 350.19 2.33 3.523 182.601 13.84 jiwa/km2.62 8.636 72.13 2.08 2.200 122.1.905 22.62 10.52 8.035.22 1.111 2.52 9.89 107.74 5. BAPEDA Kota Depok Tabel 3.72 6.99 94.278 77.189 217. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Sawangan yaitu sebesar 3.16 8.70 104.526 515.90 114.189 207.81 10.925 1.569 26.91 100 66.20 8.22 4.501 73.002 9.35 8.36 106.93 111.91 1.470.78 104.536 141.3.950 145.56 108.803 63.

30 100.24 33.36 6.3.3.00 100.36 %.3. dapat diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2006. Status pekerjaan didominasi sebagai buruh/karyawan/pegawai sebanyak 64.92 %.00 2005 (%) Perempuan 3 0.2 Persentase Penduduk Berusia 10 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin dan Lapangan Usaha di Kota Depok.42 100.71dari penduduk yang bekerja sebagian besar bekerja di sektor jasa dan perdagangan dengan persentase masing-masing 27. Jadi penduduk Kota Depok yang tergolong angkatan kerja 53.28 0. Tenaga Kerja Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun keatas. Kesempatan kerja memberikan gambaran besarnya tingkat penyerapan pasar kerja.56 % dan perempuan 25.2.36 25.27 0.63 % sedangkan yang menganggur sekitar 9.83 26. Penduduk yang tergolong “Angkatan Kerja adalah mereka yamg aktif dalam kegiatan ekonomi.00 Jumlah (%) 4 2. Gas & Air Konstruksi Perdagangan Angkutan & Komunikasi Keuangan Jasa-jasa Lain-lain JUMLAH Laki-laki 2 3.00 0.49 9.10 16.06 0. Tabel 3.88 0.98 % dan 26. Penduduk usia kerja terdiri dari “ angkatan kerja” dan bukan angkatan kerja.00 Sumber: Bapeda Kota Depok Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 21 .00 21.98 0.79 %. penduduk Kota Depok yang bekerja 44.14 14. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2006.75 0. kemudian berusaha sendiri 26.48 27. Penduduk yang bekerja masih didominasi lakilaki dari pada perempuan (lakilaki 63.41 15. & Penggalian Industri Listrik.35 0.63 0.00 35. Tahun 2007 Lapangan Usaha 1 Pertanian Pertamb.17 0.60 3.92 12.00 8. sisanya merupakan penduduk bukan angkatan kerja.50 4.70 6.84 %. sehingga angkatan kerja yang tidak terserap dikategorikan sebagai pengangur.98 %.79 23.

023 orang. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Kota Depok harus selalu ditingkatkan melihat perkembangan jumlah penduduk yang selalu bertambah dari tahun ke tahun. jumlah murid TK 14. huruf latin dan huruf lainnya 37. Selain itu terdapat 55 sekolah SMK.43 %.4 PENDIDIKAN Tahun Ajaran 2006/2007 jumlah Sekolah Taman Kanak-kanak di Kota Depok sebanyak 314 sekolah. serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.371 orang.581 murid. dan 4. Pada tahun 2006.99 %. dan 954 guru TK. Sekolah SMP berjumlah 137 sekolah dengan jumlah siswa 44.601 orang dan jumlah guru 3. huruf lainnya 1. upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan meningkatkan fasilitas.053.67%. dengan 125.3. Sekolah SD sebanyak 362 sekolah.07 %. 3.656 orang guru.51 %.183 orang. 27. Di tingkat SMA terdapat 51 sekolah dengan jumlah murid dan guru masing-masing 14. sarana dan prasaran kesehatan. Pembangunan kesehatan juga harus dipandang sebagai suatu investasi dalam kaitannya untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi.937 orang dan 1. dan yang buta huruf 1. dengan jumlah murid 18. serta penambahan tenaga medis terus dilakukan sehingga pelayanan secara maksimal bagi semua lapisan masyarakat dapat dirasakan dan tingkat Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 22 . Memiliki Ijazah tertinggi SLTA merupakan persentase terbesar dibanding jenjang pendidikan lainnya. yaitu hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan. penduduk Kota Depok yang berumur 10 tahun keatas yang memiliki ijazah tertinggi SLTA dan sederajat. Penduduk Kota Depok yang berumur 10 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis huruf latin 59.5 KESEHATAN Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat.726 orang dan jumlah guru 1.

D3 Keperawatan 2. SPK 1.1 Jumlah Tenaga Kesehatan (RSUD) Kota Depok No Spesifikasi Jumlah Pendidikan 1. Dkter Gigi 3. Apoteker 2. 3. kewaspadaan pangan dan gizi.5. merata. peningkatkan kesehatan keluarga.5. Sarjana Keperawatan 3. SMF 3. Dokter Umum 2. kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai agama. Dokter spesialis 1.kepuasan dapat lebih dimaksimalkan dengan pelayanan kesehatan secara mudah.1 Sumber Daya Manusia Tenaga Kesehatan Sumber daya manusia adalah unsur yang sangat penting dalam memberikan pelayanan yang optimal karena hal ini sangat mempengaruhi mutu pelayanan dan pengelolaan kesehatan. D3 Gigi 1. penyelenggaraan kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan dapat lebih dioptimalkan. dan murah ( Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 228/Menkes/SK/III/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah). Tenaga Medis 26 orang Paramedis Keperawatan 19 orang 1. 2. penanganan penyakit menular dan tidak menular. Seperti apa yang tertuang Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Depok tahun 2006 – 2011 dimana disebutkan bahwa prioritas perencanaan pembangunan lebih menitikberatkan pada bagaimana meningkatkan kualitas keluarga. D3 Kebidanan 2. hal ini tentunya harus ditunjang dengan sarana dan parasarana pelayanan yang memadai sehingga peningkatan kualitas pelayanan khususnya penyediaan layanan kesehatan dasar dan rujukan. pendidikan. Administrasi Negara 10 orang Paramedis Non Keperawatan Tenaga Non 20 orang Medis Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 23 . 4. Tabel 3. 3.

Sarana Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 24 . poliklinik RSUD Kota Depok dan ruang perawatan kelas III. dan genset) sudah selesai dan berfungsi: Bangunan/gedung dengan luas 4. namun hanya ada satu gedung yang telah siap untuk digunakan untuk pelayanan diataranya : IGD. D3 Analis 10. D3 Lingkungan 6. SMA Sumber : RSUD Kota Depok 3.4.420 M2 (yang terdiri dari gedung A. D3 Rontgent 7. IPAL.010 M2 (yaitu gedung C) sedang proses pembangunan (Pondasi) Bangunan/gedung dengan luas 8.2 Sarana dan Prasarana Untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kota Depok pada saat ini sudah tersedia Rumah Sakit Umum Daerah dimana proses pembangunan gedung RSUD dilakukan secara bertahap sesuai dengan Master Plan yang telah dibuat. Mengacu pada sarana dan prsarana yang tersedia di RSUD Kota Depok. Untuk meningkatkan pelayanan yang optimal tentunya sarana dan prasarana harus lebih ditingkatkan. Di Kota Depok tahun 2007 tersedia 27 puskesmas yang tersebar di 6 kecamatan dan 10 puskesmas pembantu. mengingat jumlah penduduk yang harus dilayani akan semakin berkembang setiap tahunnya. D3 Administrasi RS 11. D3 Gizi 9. D3 Rekam Medik 8.5. SKM 12. c. Ekonomi 5. terutama bangunan gedung dibagi dalam tiga kategori yaitu : a. OK. b.210 M2 belum dibangun. Untuk saat ini RSUD sudah dapat beroperasi. Bangunan/gedung dengan luas 3.

000. Sampai dengan tahun 2007 rumah sakit umum yang ada di Kota Depok ada 10.250.000.554.000.000       900.000 300.000 400.000 4010 C 20. FARMASI.805. CSSD Lt 2 : RAWAT INAP KELAS 2 Lt 3 : ADMINISTRASI MEDICAL RECORD Lt 1 : POLI TAMBAHAN.000.200.000.750.000 300 350 1.000 60.000 750.150. LAB.000 1.000.000.250.000 250. FAS UMUM Lt 2 : KANDUNGAN & BEDAH SENTRAL. BEDAH SENTRAL Lt 3 : ICU DAN ICCU Lt 1 : RAWAT INAP KELAS VIP Lt 2 : RAWAT INAP KELAS 1 LAUNDRY INSTALASI GIZI EKSISTING WORKSHOP AMBULANCE CENTER INSENERATOR IPAL GENSET NORTULARY (KAMAR JEAZAH) Instalasi Logistik Landasan Oksigen Sentral Instalasi Oksigen ke Gedung B.000       13. D MESJID SELASAR 1 LT SELASAR 2 LT TOTAL 60 50 50 70 180 80 24 150 3300 LUAS TOTAL B 3250 16. Sarana dan Prasarana RSUD Kota Depok Kelas C GED A PERUNTUKAN Lt 1 : POLIKLINIK UGD Lt 2 : RAWAT INAP KELAS 3 Lt 1 : RADIOLOGI. Rumah Bersalin 24 buah.072.000.2 Proyeksi Pengembangan Gedung.000 2. Balai Pengobatan 142.000 1.pelayanan kesehatan antara lain rumah sakit juga tersedia di Kota Depok.000. ANAK & KEBIDANAN.000.5.000.000.000. C. rumah sakit ibu dan anak ada 4 rumah sakit. Tabel 3.000 1850 9.500.050. INST. REHAB MEDIK.724 4% 3% 51.000 345.000 D E F G H I J K L M N O P             Gambar Konsultan+Pengawas Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 25 .

000.050.500.000 5. Laboratorium Sentral & Administrasi.850. UGD. Medical Record Lantai 2: Rinap Kelas III A 60 TT Lantai 3: Kelas II 50 TT Lantai 4: Kelas II 50 TT Lantai 1: Radiologi (kamar (X-Ray 2).500. Ruang Tunggu Lantai 2: OK 4 Kamar.            Penyempurnaan Master Plan Inflasi TOTAL ALKES    10%    70% 150.000 LUAS 3300 4330 TOTAL 21.750. Apotik.000. NICU 4TT Lantai 1: Rinap Kelas 1 A 20 TT Lantai 2: Rinap Kelas 1 B 20 TT Lantai 3: Rinap Kelas VIP 8 TT dan Super VIP 2 TT Lantai 4: Administrasi E F G H I Laundry Instalasi Gizi Workshop Ambulance Center IPAL 300 350 60 50 1.000 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 26 .000 300. Haemodialisa 4 TT Lantai 3: ICU 6TT.000 Kelas B GED A B PERUNTUKAN Poli.000 60. ICCU 4TT.000.500.000 42.000 1.000.000.000.000.295. Ruang Praktek 6.000 D 3700 18. Ct-Scan.761. Kelas III 60 TT Lantai 1: CSSD. Farmasi Rehabilitasi Medik. VK 1 kamar.650.180.533. kamar RR 2.000 C 4010 20.

C.000 690.358.000 150 16.600.440. Jumlah angkutan.000 66.000.000 2.000.000 6.654 4% 750. ijin trayek.000 54.000.000 400.110.400.000 3% 10% TOTAL 70% 1. Lalu lintas Angkutan Penumpang Kereta Api merupakan alat transportasi yang banyak diminati hal ini dikarenakan biayanya yang relative murah dan cepat sampai ditujuan.000.000 77.000.644. jumlah penumpang yang ada di Kota depok merupakan investasi yang menunjang pembangunan di Kota Depok dan merupakan salah satu asset di dalam penghitungan PAD Kota Depok.000 900.000 60. Dengan makin meningkatnya usaha pembangunan maka akan menuntut peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain.6 PERHUBUNGAN (JALAN/JEMBATAN) Perhubungan darat merupakan prasarana pengangkutan yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian.000 BIAYA ALKES Sumber : RSUD Kota Depok 3.000 150.000.000 150.000.000. B.932.D Masjid Selasar Jumlah Gambar Penyempurnaan Master Plan Penyempurnaan FS Konsultan+Pengawas Inflasi 50 70 180 80 24 250.000.J K L M N O P Insenerator Genset Kamar Jenazah Instalasi Logistik Landasan Oksigen Sentral Pekerjaan Pipa Oksigen ke Gedung A.000.150.000.000. Di Kota Depok terdapat 5 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 27 .

atas dasar harga berlaku. pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth). Perkembangan perekonomian Kota Depok tahun ketahun-nya mengalami perkembangan yang cukup signifikan hal ini dapat dilihat dengan makin meningkatnya aktifitas perekonomian.24 km2. UI. Depok Baru.529.31 km2. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Depok Kota Depok sebagai kota perdagangan dan jasa yang berbasiskan ekonomi perkotaan dan ekonomi pedesaan. hal menunjukan peningkatan yang terus indikator makro ini mencerminkan bahwa ekonomi daerah. yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). antara lain : Stasiun Kereta Api Pondok Cina. hal ini mencerminkan bahwa Kota Depok sebagai kota perdagangan dan jasa yang berbasiskan kegiatan Industri. pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi. PDRB Kota Depok terakhir (tahun 2006).16 km2. pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi suatu daerah. a.. serta pertanian menunjukan pertumbuhan yang terus meningkat. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 28 . jika dirinci menurut status pemerintah yang berwenang maka panjang jalan negara 14. jalan propinsi 19. perdagangan dan jasa.7 EKONOMI Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu daerah. Depok Lama.476 dengan jumlah kapasitas sentral dan jumlah LIS (Line in service) 80.301 dan 75. 3. dan sebaliknya. dimana masing-masing sektor perekonomian berkembang. dan Citayam.Stasiun Kereta Api. jalan kota 469.77 km2. Pada bulan September 2007 jumlah pelanggan Kancatel Depok sebesar 72. Panjang jalan di Kota Depok tahun 2007 adalah 503.

7.000.779.541.(dalam juta) pada Tahun 2006.06.000.000 2.a PDRB Kota Depok Tahun 2003-2006 10.10 (dalam juta) Tahun 2005 menjadi Rp..65 % dari Rp.000.000 4.000.000..000 6. 8.034.066. 5.000 8.000 1.967.(dalam juta) pada Tahun 2005 menjadi Rp.000 7. yaitu dari Rp.mengalami peningkatan sebesar 18.000 2003 2004 2005 2006 PDRB atas dasar harga berlaku PDRB atas dasar harga konstan Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 29 .91 % dibanding Tahun 2005.000.129.000 9. 7.15. Tabel 3.000.000 3.000. Sedangkan atas dasar harga konstan mengalami peningkatan sebesar 6. 4.750.666.01.000.000 5.(dalam juta) Tahun 2006.000.

sektor tersier mengalami pertumbuhan sektor pertumbuhan paling pesat.a Presentase PDRB Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2003 .59 48.04 %.59 38. yaitu mencapai 6.83 7.94 b.51 38.81 5.59 3. PERTANIAN 2.07 6.86 50.66 3.PERDAGANGAN. LISTRIK.99 2.00 2005)* (4) 2.87 47. hotel dan restoran yang bertumbuh hingga mencapai 9. HOTEL & RESTORAN 2.22 32.73 %.82 7.99 48. Subsektor yang tinggi pula pertumbuhannya adalah jasa-jasa yang mengalami pertumbuhan mencapai 8. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 3.94 8. Dari semua sektor yang ada.53 7.23 3. 2006 2003 (2) 3.18 30.Tabel 3. Angka ini merupakan yang paling tinggi dibanding subsektor-subsektor yang berkembang di Kota Depok.81 3.52 4.73 4. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN B. S E K U N BD E R 1.57 38. yaitu mencapai 7.65 47.39 %.09 5. T E R S I E R 1.65 2. Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 30 .01 %).44 5.65 %. P R I M E R 1.71 2006)* (5) 2.44 30.54 4.2006 KELOMPOK SEKTOR (1) A.60 5.27 48.JASA-JASA Sumber: BPS Kota Depok.30 4. Kondisi perekonomian Kemajuan ekonomi Kota Depok juga terlihat dari cukup tingginya Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE).98 48.32 6.49 4. INDUSTRI PENGOLAHAN 2.7. BANGUNAN/KONSTRUKSI C.42 3.64 3. lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan Jawa Barat (6.BANK & LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA 4.13 37.23 48.90 30. GAS DAN AIR MINUM 3.98 2004 (3) 3. Subsektor yang paling mendukung pesatnya laju tersier adalah subsektor perdagangan.34 5.

04 6.87 6.03 3.66 5.65 6.21 5.94 7.80 8.50 4.26 4.01 *)Angka Perbaikan **)Angka sementara Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 31 .95 6. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 3.62 5. HOTEL & RESTORAN 2.27 5.95 7.39 2.PERDAGANGAN. GAS DAN AIR MINUM 3.23 6.JASA-JASA PDRB KOTA DEPOK PDRB PROPINSI JAWA BARAT Sumber : BPS Kota Depok.70 4.27 -4.64 3.84 2004 (3) 4.34 4.83 10.00 5. BANGUNAN/KONSTRUKSI C.27 6. S E K U N BD E R 1. LISTRIK.93 5.7.49 7.78 6.91 6.07 7.77 2005* (4) 4.Tabel 3.15 3. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN B.BANK & LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA 4.83 6.98 6.24 6.32 4.03 9.00 7. T E R S I E R 1.24 4.23 2.23 2. INDUSTRI PENGOLAHAN 2.86 2.73 9.44 7.b Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Depok Tahun 2003-2006 KELOMPOK SEKTOR (1) A.88 7.96 5.58 6.62 2006** (5) -4. P R I M E R 1.94 6.70 8. 2006 2003 (2) 2.21 5. PERTANIAN 2.54 5.

00 dananya tidak (PAD + BHP/BHBP+DAU+DBHP Prov + DP OTSUS + BK Prov) .508. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan perumusan yang sistematis dan terkoordinasi melalui suatu perhitungan sebagai berikut: Perhitungan DSCR Pemerintah Kota Depok dengan Asumsi APBD tahun 2008. yaitu : 1. Rencana Usulan Pinjaman 2.000.(BW) DSCR = ANGSURAN POKOK PINJAMAN + BUNGA + BIAYA LAIN Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 32 .1 Analisis Kemampuan Pinjaman Daerah Kota Depok dalam pelaksanaan pembangunannya belum melakukan pinjaman. 131.600.00 12. Kota Depok dalam melakukan pembiayaan pembangunan lebih mengefektifkan pendanaan dari APBD. sehingga tidak ada kewajiban pembayaran ke pihak lembaga pemberi pinjaman manapun. Bunga/Tahun (%) (Mengikuti Suku Bunga yg berlaku) 3.BAB IV PINJAMAN DAERAH 4. namun untuk pembangunan selanjutnya Pemerintah Kota Depok dimungkinkan melakukan pinjaman apabila program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam proses pembangunan sumber mencukupi . Jangka Waktu Pinjaman : 8 (delapan) Tahun : : Rp. Dalam rangka pinjaman daerah Pemerintah Kota Depok perlu melakukan analisis kewajiban pinjaman berdasarkan potensi pendapatan riil maupun besaran biaya yang dibutuhkan sehingga tidak terjadi permasalahan dalam pengembaliannya.

292.509.766.381.450.31 (+) JUMLAH = 788.136. 3.678.847.387.872. Biaya Komitmen. 2.958. 2.500.(KOMPONEN B) DSCR = KOMPONEN C Keterangan : PAD BHP/BHBP DAU DBHP Prop DP Otsus BK Prop PK Biaya Lain : : : : : : : : : : : : : : : 80.815.74 65.092.54 130.62 427. 6.754. PAD BHP/BHBP DAU DBHP Prop DP Otsus BK Prop Komponen B 1.338. Belanja Langsung Pembayaran Utang Pokok Pegawai ( Tdk : : 459.00 44.47 Pendapatan Asli Daerah Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak Dana Alokasi Umum Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Utang Biaya Administrasi.74 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 33 .378.057.000.450. Biaya Provisi. 4.792. 5.000. asuransi dan Denda Komponen A 1.(KOMPONEN A) .425.00 106.570.821.00 (+) JUMLAH = 525.300.426.

338.768. 3.032.008.438.600.227.00 262.780.96 Ketentuan DSCR ≥ 2.658.575.5 ( Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman) 4.73 DSCR = 33.450.600.2 Analisa Batas Maksimal Pinjaman Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.00 (+) JUMLAH = 33.051.781.000.00 Pinjaman/jangka waktu) Biaya Lain ( Prediksi Provisi Bank 0. bahwa batas maksimal pinjaman Pemerintah Kota Depok dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2008 dapat dirumuskan sebagai berikut : Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 34 .47 – 525.678.Komponen C 1.00 DSCR = 7.00 788.008. Angsuran Bunga Angsuran Pokok ( Jumlah : : 16.657.658.74 DSCR = 33.008. 2.00 789.000.600.872.092.5% Notaris 1 permil : 15.570.600.

95 : 545.Komponen A Pendapatan Daerah : 749.000.127.727.508.797.00 c.800.95 : 75% x Penerimaan Umum APBD TA 2007 75% x 726.000. Dana Darurat Jumlah : 11.265.800.179.127.00 (+) Total Pinjaman : 142.95 Komponen B a.800.95 : 22.800.00 : : 22.000.138.127.634.600.179.265.00 : 749.549.96 Rencana Pinjaman TA 2008 : 131.127.138.00 (+) PENERIMAAN UMUM APBD TAHUN 2007 Komponen A Komponen B Jumlah Maksimum Pinjaman Jumlah Sisa Pinjaman TA 2007 : 10. DAK b.877.180.672.00 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 35 .979.797.00 (-) : 726.979.549.800.672. Pembayaran Pokok utang : 10.346.853.346.097.

750.350.00 : 11.600.000.00 PENERIMAAN UMUM APBD TA 2008 Komponen A Pendapatan Daerah : 795.488.122.00 c.Perhitungan perbandingan sisa pinjaman daerah dengan jumlah pinjaman yang akan diterima dengan penerimaan umum APBD TA 2008 dapat dirumuskan sebagai berikut : Rencana Pinjaman Sisa Pinjaman Tahun 2008 Total Pinjaman : 131.47 : 19.650.988.997.122.47 = 18.350.000. Dana Darurat Jumlah Penerimaan Umum APBD TA 2008 Komponen A Komponen B Jumlah : 795.488.678.138.000.000.872.508.678.850.000.000.41 Persyaratan = ≤ 75 % x 100% Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 36 .988.00 (+) : 776. Pembayaran Pokok Utang : 11.00 (+) Perbandingan Rencana Pinjaman dengan Penerimaan APBD TA 2008 142.47 Komponen B a.00 : : 19.750.000.997.000.678.47 : 7.138.00 = 776.000.850. DAK b.00 (+) : 142.872.750.678.750.

Perhitungan defisit APBD Pemerintah Kota Depok TA 2008 menurut PMK 95 tahun 2007 dapat dirumuskan sebagai berikut : Asumsi APBD TA 2008 adalah defisit (Pendapatan-Belanja) + (SiLPA TA 2007 +Pencairan Dana Cadangan+Penerimaan kembali pemberian pinjaman+ pencairan deposito) Surplus/Defisit = Total Pendapatan x 100% Komponen A Pendapatan Daerah Total Belanja Jumlah Silpa TA 2007 Pencairan Dana Cadangan Penerimaan Kembali Pinjaman Pencairan Deposito Jumlah TA 2008 Defisit : 795.06 % Ketentuan Defisit ≤ 3% Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 37 .000.891.16) : 106.00 (+) : (95.988.678.872.63 (-) : (202.891.678.571.719.00) Komponen B Pendapatan Daerah Surpus/Defisit = Defisit APBD x 100% 795.372.360.000.47 : 998.16 : : : 513.571.47 = x 100% (95.997.872.988.496.249.219.997.623.00) = 12.730.000.

891. diperlukan adanya analisis untuk menghitung kemampuan keuangan daerah dan menentukan besarnya pinjaman. Pinjaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Depok adalah sebesar 75% dari total penerimaan APBD tahun 2007 yaitu sebsear Rp.BAB V KESIMPULAN Pemerintah Kota Depok dengan cara meminjam dapat meningkatkan kemampuan pemerintah daerah untuk menggali Pendapatan Daerah Sendiri (PDS) yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan daerah membayar kembali pinjamannya.997. karena pinjaman daerah ini berbeda dengan Pedapatan Asli Daerah seperti pajak dan restribusi.000. Berdasarkan uraian tersebut di atas.508. Namun untuk menentukan apakah Pemerintah Kota Depok layak atau tidak untuk melakukan pinjaman. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK. 545. Bahwa berdasarkan perhitungan DSCR (Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.5% 2.097. serta batas maksimum pinjaman yang diperbolehkan sesuai dengan peraturan saat ini.634.00) dan hasil perhitungan batas maksimal defisit APBD Kota Depok adalah 12.600.00 memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan PP 54 Tahun 2005 pasal 12 3.96 % lebih besar dari syarat DSCR ≤ 2.853. dalam pinjaman ini terdapat kewajiban dari Pemerintah Kota Depok untuk mengembalikan berupa angsuran pokok pinjaman yang disertai dengan bunga.000. biaya administrasi dan denda.96 jadi apabila Pemerintah Kota Depok mengajukan pinjaman sebesar Rp. maka dalam kajian ini dapat dianalisis beberapa kesimpulan yaitu : 1.(95.07/2007 bahwa defisit APBD TA 2008 adalah sebesar Rp. Pemerintah Kota Depok memenuhi syarat untuk melakukan pinjaman hal ini disebabkan rasio kemampuan Pemerintah Kota Depok untuk mengembalikan pinjaman adalah sebesar 7.06 % Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 38 .131.

4. 5.sehingga sesuai dengan ketentuan apabila defisit APBD melebihi dari 3 % dari proyeksi PDB. Sesuai dengan peraturan yang berlaku bahwa Pemerintah Kota Depok dapat melakukan pinjaman sehingga perlu dipersiapkan langkah-langkah menuju pada pinjaman daerah yaitu : Kerangka Acuan Kegiatan yang terdiri dari : 1. Kaitan dengan RPJMD 10.Sosial. Maksud dan Tujuan 3. Latar Belakang 2. SKPD yang menjadi Penanggung Jawab Kegiatan 5. Analisis aspek (Pelayanan. Lungkungan. Keuangan . Ruang Lingkup Kegiatan 4. Peta Wilayah 11. Struktur Organisasi Pengelolan Kegiatan Keuangan 12. Jadwal Waktu Pelaksanaan 9. Lain-lain yang dianggap perlu • • Persetujuan Awal Pinjaman Bukti Pinjaman tahun sebelumnya ( bila ada) Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 39 . Ekonomi dst) 7. Defisit APBD Pemerintah Kota Depok lebih dari 3% maka untuk dapat melakukan pinjaman harus mendapatkan rekomendasi dari Departemen Keuangan dan apabila defisit APBD dibawah 3% maka rekomendasi cukup dari Departemen Dalam Negeri. SKPD yang menjadi Penanggung Jawab Keuangan 6. Keterpaduan/sinergitas dengan kegiatan yang lain 8.

DAFTAR PUSTAKA UU Nomor 17. 005/M. Bapeda Kota Depok. Tahun 2003 tentang Keuangan Negara UU Nomor 1.Profil Dinas Kesehatan Kota Depok Tahun 2007 Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 40 .02/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan dan Mekanisme Pemantauan Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Pinjaman Daerah. Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah PP Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah PP Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas No.PPN/06/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Depok Dalam Angka Tahun 2007 Dinas Kesehatan Kota Depok. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK.

tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2008 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Depok tahun 2006 – 2011 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum Kajian Pinjaman Daerah Pemerintah Kota Depok 41 . UI Press. tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2007 APBD Pemerintah Kota Depok.Bachrul Elmi 2002. APBD Pemerintah Kota Depok. Keuangan Pemerintah Daerah Otonomi di Indonesia.