Anda di halaman 1dari 102

Laporan Kasus

ANEMIA DEFISIENSI BESI + HIPERALDOSTERONISME PRIMER

Fitriyani Ichram Riyadi


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I ILMU PENYAKIT DALAM FK UNSRI/RSMH PALEMBANG 2013

Definisi

Anemia akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi yang kosong sehingga pembentukan hemoglobin berkurang
Kehilangan besi sebagai akibat

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Causa

perdarahan menahun Faktor nutrisi Kebutuhan besi meningkat Gangguan absorbsi besi

Sering dijumpai di negara berkembang, terutama Indonesia Prevalensi Pria > wanita tak hamil Wanita hamil 46-92%

Definisi

Sindrom yang disebabkan oleh hipersekresi aldosteron yang tak terkendali umumnya berasal dari kelenjar korteks adrenal

HIPERALDOS -TERONISME PRIMER

Causa

Hiperplasi kelenjar kortek adrenal Adenoma unilateral Karsinoma adrenal

1-2 % populasi hipertensi Prevalensi Wanita >> Pria Usia pertengahan

Laporan Kasus
Seorang perempuan berusia 45 tahun dengan ANEMIA DEFISIENSI BESI + HIPERALDOSTERONISME PRIMER

Kasus ini diangkat karena masalah sulitnya menegakkan etiologi dan penatalaksanaan yang tepat pada penderita

LAPORAN KASUS

ANAMNESIS

Identitas Penderita Ny. YA/ 45 tahun Alamat Jl. Belida Raya No. 16 RT.67 RW 19 Pusri Sako, Palembang Berobat ke poliklinik RSMH 14 Februari 2012 Keluhan Utama Badan lemas sejak 6 bulan yang lalu sebelum datang ke RSMH

Riwayat Perjalanan Penyakit 5 tahun yang lalu Badan kadang-kadang lemas, kesemutan (+), kram (+), kaku (+) di kedua tangan dan tungkai Sesak nafas jika beraktivitas berat (-), cepat lelah (-), berkeringat banyak (-), berdebar-debar (+), nafsu makan biasa, penurunan berat badan (-) BAB cair (-), BAB berlendir disertai darah (-), BAK biasa Sakit kepala (+), penurunan keadaran (-), bicara pelo (-) mulut mengot (-), demam (-), kejang (-) Os berobat ke spesialis. Os dikatakan sakit hipertiroid, kurang kalium, darah tinggi. Os diberi obat PTU 1 x 1, amlodipine 1 x 1, KCl 1 x 1, lansoprazole 1 x 1, antasida 3 x 1 sendok makan. Selanjutnya os kontrol rutin ke poli. Keluhan badan lemas berkurang.

2 tahun yang lalu

Os mengeluh kembali lemas , kelemahan pada kedua tungkai sehingga sulit untuk berjalan tidak ada, sesak nafas tidak ada, berdebar-debar (-), mual dan muntah (-), Sulit menelan (-). Os sedang hamil 12 minggu anak ke 5 mengalami perdarahan dari rahim, Os lalu berobat ke spesialis Kandungan dan os dirawat untuk dilakukan kuret. Os dirawat selama 3 hari. Dan pulang dengan perbaikan. Dikatakan karena kelelahan.

6 bulan yang lalu


Os mengeluh badan kembali lemas , kelemahan pada kedua tungkai sehingga sulit untuk berjalan tidak ada, pusing dan berkunang-kunang ada, jantung berdebar ada, mual ada, muntah tidak ada, nyeri ulu hati ada, BAB hitam tidak ada, muntah hitam tidak ada, BAK biasa. Pada pemeriksaan darah di poli RSMH os dikatakan sakit anemia,darah tinggi, kurang kalium. Os disaranakan kontrol rutin untuk mencari penyebab penyakitnya. Os masih mendapat obat valsartan 1x1, amlodipine 1x1, spironolakton 1x1, aspirin 1x1 , KCL 1x1, Lansoprazole 1x1, Antasida 3x1 sendok makan

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat menggunakan obat melancarkan buang air kecil disangkal. Riwayat darah tinggi baru diketahui sejak 5 tahun yang lalu. Os kontrol rutin ke poli RSMH. Riwayat sakit maag ada sejak usia 15 tahun yang lalu, sembuh dengan obat maag yang dijual bebas.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat perdarahan 3 kali pada kehamilan anak ke-2 tahun 1996 ,anak ke 4 tahun2001 ,dan ke 5 tahun 2010. Dilakukan tindakan kuret oleh Spesialis kandungan. Riwayat diare dan muntah-muntah sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat darah tinggi dalam keluarga ada yaitu bapak, ibu, saudara kandung ke 1,2 os.

Riwayat Sosial Ekonomi

Os ibu dari 2 orang anak bekerja sebagai PNS Suami os Bekerja sebagai konsultan, mendapat gaji setiap bulannya Os tinggal di rumah sendiri

Kesan : status ekonomi cukup

Riwayat Gizi & Kebiasaan

Riwayat pola makan yang tidak teratur dan kurang dari segi kualitas (mengurangi makan daging, pisang, sayuran) dan kuantitas ada sejak 5 tahun yang lalu.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

Tampak sakit sedang Sensorium : Tekanan darah : Nadi : Pernafasan : Temperatur : Tinggi badan : Berat badan : RBW : IMT :

Compos mentis 160/90 mmHg 84 x/m, reguler, isi & tekanan cukup 18 x/m 37 C 160 Cm 50 kg 92,5 % (underweight) 19,5 kg/m2 (status gizi cukup)

Keadaan Spesifik

Kepala Mata

Mulut Leher

: Konjungtiva palpebra pucat (+) , sklera ikterik (-), eksoftalmus (+), lid lag (-), lid traction (-) : Angular cheilosis (-), atrofi papil lidah (-) : JVP (5-2) cm H20, pembesaran KGB (-), struma (-)

Lanjutan

Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi

: Ictus cordis tak terlihat : Ictus cordis tak teraba : Batas atas ICS II, batas kanan LS dextra, batas kiri LMC sinistra Auskultasi : HR 84 x/mnt, reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru

: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: Statis dan dinamis simetris kanan & kiri : Stemfremitus kanan = kiri : Sonor pada kedua lapangan paru : Vesikuler (+) normal, ronki (-) wheezing (-)

Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: Datar, striae (-) : Lemas, nyeri tekan epigastrik (-), hepar dan lien tak teraba : Tympani : Bising usus menurun

Ekstremitas : edema pretibial (-), telapak tangan pucat (-)

Kekuatan ekstremitas superior 5 Kekuatan ekstremitas inferior 5 ROM aktif dan pasif tidak terbatas

INDEX WAYNE SKOR = 7 ( <10 eutiroid, 10-19 ragu-ragu, >19 hipertiroid ) Subjektif Nilai Gejala Objektif Nilai Ada Tidak ada Dispnoe deffort +1 Stuma (tiroid teraba) +3 -3 Palpitasi +2 Bruit tiroid +2 -2 Capai/lelah +2 Eksoptalmus +3 0 Suka panas -5 Gerakan hiperkinetis +4 -2 Suka dingin +5 Lid lag +1 0 Keringat banyak +3 Lid traction +2 0 Nervous -2 Telapak tangan hangat +2 -2 Nafsu makan (+) +3 Telapak tangan dingin +1 -1 Nafsu makan (-) -3 Fibrilasi atrium +4 0 BB (+) -3 Nadi < 80x.m 0 -3 BB(-) +3 80 90x/m 0 0 > 90x/m +3 0 Jumlah +14 -7

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium RSMH (18 Februari 2013) Hb 8,4 gr/dl Eritrosit 4.630.000/mm3 Ht 29 vol% Leukosit 6.700/mm3 LED 70 mm/jam Diffcount 0/0/0/63/30/7 MCV 62 fL MCH 18 pg MCHC 28 g/dl Retikulosit 1,1 % Trombosit 274.000/mm3

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium RSMH (18 Februari 2013) SGOT 29 U/L SGPT 22 U/L Ca 8,4 mmol/L Na 146 mEq/L K 1,9 mEq/L T3 1,53 nmol/L FT3 13,65 pmol/L T4 159,4 nmol/L FT4 20 pmol/L TSH 2,6 IU/mL Gambaran darah tepi : Eritrosit : mikrositik, hipokrom Leukosit : jumlah dan bentuk normal Trombosit : jumlah dan bentuk normal Kesan : Anemia mikrositik hipokrom

Kesan : Hipokalemia

EKG

Sinus rhytme, aksis normal, HR 83x/menit, PR interval 0,16 detik, QRS kompleks 0,06 detik, R/S di V1 < 1, S di V1 + R di V5/v6 <35, segmen ST depresi di lead I, II, III, aVF, V5,V6, T slurred (+) V4-V6, gel U (-) Kesan : Hipokalemia

Ekokardiografi ( 14 Februari 2013)

Ekokardiografi ( 14 Februari 2013)

LVH (-) Normokinetik EF 67% Fungsi diastolik normal MR moderate

Hipokalemia

Anemia Hipokrom Mikrositer

MASALAH

Hipertensi stage 2

PENGKAJIAN

- Anamnesa : Badan lemas, mudah lelah - Pem Fisik : konungtiva palpebra pucat (+), - Pem Labor : Hb 8,4 gr/dl, MCH 19 picogram, MCV 62 mikrogram, MCHC 28 % Rencana Diagnosis Serum besi TIBC Feritin

Anemia Hipokrom Mikrositer

Rencana Terapi

Rencana Edukasi

Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya, rencana pemeriksaan, penatalaksaan selanjutnya.

- Anamnesa : Badan lemas - Pem Fisik : (-)

- Pem Labor: Kalium = 1,9 mmol/l


Kalium serum tiap 1 bulan Kalium urin 24 jam Analisa gas darah Konsul divisi ginjal hipertensi
K-Aspartat KCl 3 x 300 mg 1 x 600 mg

Rencana Diagnosis

Hipokalemia

Rencana Terapi

Rencana Edukasi

Menjelaskan kepada keluarga dan pasien tentang penyakit, diet yang dianjurkan, tindakan yang dilakukan dan efek sampingnya.

- Anamnesa : Sakit kepala - Pem Fisik : TD = 160/90

- Pem Labor: (-)

Rencana Diagnosis

Konsul divisi ginjal hipertensi

Hipertensi Stage 2

Rencana Terapi

Captopril Amlodipin

3 x 25 mg 1 x 5 mg

Rencana Edukasi

Menjelaskan kepada keluarga dan pasien tentang penyakit, diet yang dianjurkan, tindakan yang dilakukan dan efek sampingnya

DIAGNOSIS SEMENTARA
Anemia hipokrom mikrositer + Hipokalemia e.c. ekstra renal loss + Hipertensi stage 2

DIAGNOSIS BANDING Anemia hipokrom mikrositer + Hipokalemia e.c. renal loss + Hipertensi stage 2
Anemia hipokrom mikrositer + Hiperaldosteronisme primer

PENATALAKSANAAN

Nonfarmakologi Diet tinggi kalium 1 gram/hari Edukasi Farmakologi K l-Aspartat 3 x 300 mg KCl 1 x 600 mg Captopril 3 x 25 mg Amlodipin 1 x 5 mg

RENCANA PEMERIKSAAN

Kalium urin Analisa gas darah SI, TIBC, feritin serum Kalium serum post koreksi Tes Benzidin Feses rutin Monitor EKG

PERKEMBANGAN SELAMA RAWAT JALAN

Tanggal S: O : Keadaan Umum Sensorium TD (mmHg) Nadi (x/m) RR Suhu

26 Februari 2013 Badan lemas sakit sedang Compos mentis 150/90 mmHg 84 x/mnt, reguler, isi & tekanan cukup 18x/mnt 36,3 0

Keadaan Spesifik Kepala Leher Thoraks

Konj palp pucat (+), sklera ikterik (-) JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-) Cor : HR 84x/m, reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo: vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen

Datar, lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, NT epigastrium (-), bising usus (+) normal Edema pretibia (-), telapak tangan pucat (-)

Ekstremitas

Kekuatan ekstremitas superior 5 Kekuatan ekstremitas inferior 5


ROM aktif tidak terbatas, ROM pasif tidak terbatas

Pemeriksaan penunjang

Kalium urine 35,0 mmol/24 jam ( 25-125 mmol/24 jam) Ureum 16 g/L Kreatinin 0,7 mg/dl Asam urat 5,2 mg/dl
Analisa Gas Darah pH : 7,54 (7,35 7,45) PCO2 : 52,7 mmHg (32,00 45,00) PO2 : 49,4 mmHg(75,00 105,00) HCO3- : 46,0 mmol/l (22,0-26,0) TCO2 : 47,7 mmol/l Na: 140,0 mmol/l (136,0-146-0) K: 2,5 mmol/l (3,50-5,10) Kesan: Alkalosis metabolik

Konsul Divisi Ginjal Hipertensi

Kesan : Hipokalemia ec. renal loss DD/ Hiperaldosteronisme primer Saran : - Terapi teruskan - Cek ulang kalium urine setelah kadar K serum normal - Cek klorida urin

A: Diagnosis Sementara

Anemia hipokrom mikrositer + Hipokalemia e.c. renal loss + Hipertensi stage 2

Diagnosis Banding

Anemia hipokrom mikrositer + Hiperaldosteronisme primer

P:

Nonfarmakologi Diet tinggi kalium 1 gram/hari Farmakologi KCL 1 x 500 mg K Aspartat 3 x 1 Captopril 3 x 25 mg Amlodipin 1 x 5 mg

Rencana pemeriksaan

Klorida urin SI, TIBC, Feritin serum Periksa kadar kalium serum post koreksi Tes benzidine Feses rutin

Tanggal S: O : Keadaan Umum Sensorium TD (mmHg) Nadi (x/m) RR Suhu

28 Februari 2013 Badan lemas (-) sakit sedang Compos mentis 150/80 mmHg 84 x/mnt, reguler, isi & tegangan cukup 22 x/mnt 36,2 0

Keadaan Spesifik Kepala Leher Thoraks

Konj palp pucat (-), sklera ikterik (-) JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-) Cor : HR 84x/m, reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo: vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen

Datar, lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, NT epigastrium (-), bising usus (+) normal Edema pretibia (-), telapak tangan pucat (-)

Ekstremitas

Kekuatan ekstremitas superior 5 Kekuatan ekstremitas inferior 5


ROM aktif tidak terbatas, ROM pasif tidak terbatas

Pemeriksaan penunjang

Feses rutin : Konsistensi : lunak Amoeba : negatif Eritrosit : negatif Leukosit : 0-2 Bakteri : positif Telur cacing : negatif, Darah samar : negatif SI : 15 mikrogram/l (61-157 ug/l) Ferritin : 3,98 ng/ml (13-400 nm/ml) TIBC : 324 mikrogram/dl (112-346 ug/dl) SI/TIBC : 4 %

Konsultasi Divisi Hematologi

Kesan: Anemia defisiensi besi

Saran : Sulfas ferrosus 3 x 200 mcg

A: Diagnosis Sementara

Anemia defisiensi besi + Hipokalemia e.c. renal loss + Hipertensi stage 1

Diagnosis Banding

Anemia defisiensi besi + Hiperaldosteronisme primer

P:

Nonfarmakologi Diet tinggi kalium 1 gram/hari Farmakologi Sulfas ferrosus 3 x 200 mcg KCL 3 x 500 mg Captopril 3 x 25 mg Amlodipin 1 x 5 mg

Rencana pemeriksaan

Klorida urin Periksa kadar kalium serum post koreksi

Tanggal S: O : Keadaan Umum Sensorium TD (mmHg) Nadi (x/m) RR Suhu

05 April 2013 (-) Sakit sedang Compos mentis 150/90 mmHg 60 x/mnt, reguler, isi & tekanan cukup 18 x/mnt 37 0

Keadaan Spesifik Kepala Leher Thoraks

Konj palp pucat (-), sklera ikterik (-) JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-) Cor : HR 60x/m, reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo: vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen

Datar, lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, NT epigastrium (-), bising usus (+) normal Edema pretibia (-), telapak tangan pucat (-)

Ekstremitas

Kekuatan ekstremitas superior 5 Kekuatan ekstremitas inferior 5


ROM aktif tidak terbatas, ROM pasif tidak terbatas

Pemeriksaan penunjang

Kalium: 2,8 mmol/l Klorida urin 88 mmol/24jam (110-250 mmol/24jam) Kesan : Hipokalemia

Pemeriksaan penunjang

EKG

Sinus rhytme, aksis normal, HR 76x/menit, PR interval 0,16 detik, QRS kompleks 0,06 detik, R/S di V1 < 1, S di V1 + R di V5/v6 <35, segmen ST depresi (+), T slurred (+), gel U (-) Kesan : Hipokalemia

Konsul divisi Ginjal hipertensi

Kesan: Hiperaldosteronisme Saran: Serum aldosterone, plasma renin Activity (PRA)

A: Diagnosis Sementara

Anemia defisiensi besi + Hiperaldosteronisme primer

Diagnosis Banding

Anemia defisiensi besi + Hiperaldosteronisme sekunder

P:

Nonfarmakologi Diet tinggi kalium 1 gram/hari Farmakologi Sulfas ferrosus 3 x 200 mcg KCL 3 x 500 mg Captopril 3 x 25 mg ( tunda) Amlodipin 1 x 10 mg

Rencana pemeriksaan

Serum aldosteron PRA Periksa kadar kalium serum post koreksi CT scan abdomen

Tanggal S: O : Keadaan Umum Sensorium TD (mmHg) Nadi (x/m) RR Suhu Keadaan Spesifik Kepala Leher Thoraks

07 juli 2013 (-) Sakit sedang Compos mentis 180/90 mmHg 82 x/mnt, reguler, isi & tekanan cukup 20 x/mnt 37 0 Konj palp pucat (-), sklera ikterik (-) JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-) Cor : HR 82x/m, reguler, murmur (-), gallop (-) Pulmo: vesikuler (+) normal, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen

Datar, lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, NT epigastrium (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas

Edema pretibia (-), telapak tangan pucat (-) Kekuatan ekstremitas superior 5 Kekuatan ekstremitas inferior 5 ROM aktif tidak terbatas, ROM pasif tidak terbatas

Pemeriksaan penunjang

Natrium: 142 mmol/l - Kalium: 3,0 mmol/l - Hb: 9,6 g/dl Serum aldosterone : 22 ng/dl (2 - 9 ng/dl supine) PRA : 0,15 ng/dl (0.2 - 1.6 ng/mL/hr supine) AAR ( Aldosteron Renin Ratio) 143

Pemeriksaan penunjang

CT Scan Abdomen

Kesan : Tidak menunjukkan kelainan Organ-organ abdomen dalam batas normal NB : CT Scan dengan kontras pasien alergi

Konsul gizi

EKG

Sinus rhytme, aksis normal, HR 80x/menit, PR interval 0,16 detik, QRS kompleks 0,06 detik, R/S di V1 < 1, S di V1 + R di V5/v6 <35, ST T change (-) Kesan : Normal EKG

Konsul Divisi Ginjal Hipertensi Kesan : Hiperaldosteronisme primer Saran : Spironolaton 2x100 mg

Konsul Bagian Radiologi

Konfirmasi hasil CT scan dengan USG

Kesan : USG abdomen dalam batas normal

A: Diagnosis Sementara

Anemia defisiensi besi + Hiperaldosteronisme primer

P:

Nonfarmakologi - Diet nasi biasa tinggi kalium 1 gram/hari - Edukasi


Farmakologi Sulfas ferrosus 3 x 200 mcg KCL 3 x 500 mg Captopril 3 x 25 mg Amlodipin 1 x 10 mg Spironolakton 2 x 100 mg

Rencana pemeriksaan

Periksa kadar kalium serum post koreksi AVS (Adrenal Vena Sampling)

ANALISA KASUS

ANALISA KASUS
Pemeriksaan Penunjang Anamnesis
Badan lemas, mudah Lelah, R/ perdarahan saat Hamil anak ke 2, 4, 5 R/ mengurangi makan daging
Hb 8,4 gr/dl MCH 18 picogram MCV 62 mikrogram MCHC 28 % SI : 15 ug/l Ferritin : 3,98 ng/ml TIBC : 324 ug/dl SI/TIBC = 4 %

Pemeriksaan Fisik
Konjungtiva palp. pucat Akral pucat

ANEMIA DEFISIENSI BESI

ANALISA KASUS
Anamnesis
Badan lemas, sakit Kepala mudah lelah, berdebar-debar R/ darah tinggi baru Diketahui 5 thn ygll

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Fisik
TD 160/90

Kalium 1,9 mmol/ K+ urin 33 mmol/l Aldosteron 22ng/dl Renin 0,15 ng/dl AAR 143 CT scan abdomen Normal AVS

HIPERALDOSTERONISME PRIMER

TERIMA KASIH

KLASIFIKASI DERAJAT DEFISIENSI BESI

Defisiensi besi dapat dibagi menjadi 3 tingkatan: Deplesi besi (iron depleted stute): cadangan besi menurun tetapi penyediaan besi untuk eritropoesis belum terganggu Eritropoesis defisiensi besi ( iron deficient erythropoiesis): cadangan besi kosong, penyediaan besi untuk eritropoesis terganggu, tetapi belum timbul anemia secara laboratorik. Anemia defisiensi besi: cadangan besi kosong disertai anemia defisiensi besi.

Etiologi
Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun dapat berasal dari: - saluran cerna: - saluran genitalia perempuan: menorrhagia atau metrorhagia. - saluran kemih: hematuria - saluran napas: hemoptoe. Faktor nutrisi: akibat kurangnyajumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi (bioavailabilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging). Kebutuhan besi meningkat: seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan. Gangguan absorbsi besi: gastrektomi, tropical sprue ataukolitis kronik.

Metabolisme besi
MAKANAN Terutama Protein hewan FERITIN Fe +++ Fe+++ LAMBUNG +HCL : Fe x Fe ++ HEMOSIDERIN FE+++

DISTRUKSI SDM

DUODENUM USUS HALUS Fe+++ Fe++

SEL MUKOSA

PLASMA

SDM Hb Fe++

Fe++ +APOFERITIN

Fe++ GLOBULIN

FERITIN

TRANSFERIN SUMSUM TULANG Fe++ + PROTOPORFIRIN HEME HEME + GLOBIN Hb

Klasifikasi derajat defisiensi besi


Deplesi besi: cadangan besi menurun tapi penyediaan besi utk eritropoesis belum terganggu Eritropoesis def besi: cadangan besi kosong, penyediaan besi utk eritropoesis terganggu, tp belum timbul anemia Anemia def besi: cadangan besi kosong, disertai anemia
Status anemia Feritin serum Besi ss tulang Protopofiri n eritrosit Saturasi transferin TIBC Hb

Keseimbangan besi negatif


Eritropoesis def besi Anemia def besi

N
,

N
N
mikrositik hipokromik

Adrenal venous sampling in right and left adrenal veins

Ada 6 subtipe hiperaldosteronisme primer, yaitu:

1. Aldosterone-producing adrenal adenomas (APA) Terjadi pada kira-kira 40% kasus. Hiperaldosteronisme cenderung lebih berat, dengan hipertensi dan hipokalemia yang lebih jelas. 2. Idiopathic hyperaldosteronism (IHA) Disebabkan oleh hiperplasia adrenal bilateral, terdapat pada 50-60% kasus. Secara umum, lebih ringan. 3. Primary adrenal hyperplasia (PAH) unilateral Mempunyai kemiripan biokimia dengan APA, tetapi menunjukkan bentuk jarang hiperaldosteronisme.

4. Aldosterone-producing adrenocortical carcinoma Merupakan penyebab yang jarang dari hiperaldosteronisme primer. 5. Familial hyperaldosteronism Tipe I atau glucocorticoid-remediable aldosteronism (GRA) diturunkan sebagai trait dominan autosom yang tergantung dengan ACTH. Kelainan itu terjadi < 3% kasus hiperaldosteronisme primer. Tipe II juga diturunkan secara dominant autosom, namun tidak tergantung dengan ACTH. 6. Ectopic aldosterone-producing adenoma/carcinoma Terjadi pada < 0,1% kasus.

Perubahan Gambar pada Hipokalemia

Aritmia pada hipokalemia

Kandungan Potasium pada Bahan Makanan


Jenis Makanan Kentang bakar dengan kulit Takaran 1 buah ukuran sedang Kadar Potasium (mg) 721

Prunes, dried
Kismis Prunes, juice Kacang Lima, digoreng Pisang

gelas
gelas 6 fl oz gelas 1 buah ukuran sedang

633
598 530 478 467

Acorn squash

gelas

448

Juice tomat

6 fl oz

400

Jeruk

1 buah ukuran sedang

237

Diagnosis Banding

Kriteria diagnosis anemia defisiensi besi


1. Dua dari tiga parameter :

- Besi serum < 50 mg/dl - TIBC > 350 mg/dl - Saturasi transferin < 15% 1. Ferritin serum < 20 mg/dl 2. Pengecatan sumsum tulang hemosiderin (-) 3. Dengan pemberian sulfas ferrosus 3 x 200 mg/hari selama 4 minggu disertai kenaikan kadar Hb > 2 g/dl

Nilai Normal elektrolit serum dan urine


Faktor
Konsentrasi Plasma K Cl Creatinine Urea Konsentrasi urine Cl Na K Analisa gas Darah pH HCO3 pCO2

Nilai Normal
3,5-5,5 mmol/l 97-107 mmol/l 0,5-1,1 mg/dl 20-45 mg/dl 30-120 mmol/l 40-130 mmol/l 30-110 mmol/l 7.420.04 254 mmol/l 394 mm Hg Dikutip dari Neprol Dial Transplant 14; 2957-2961,1999
85

Gambar Perubahan Gambar pada Hipokalemia

Potasium Serum 3,5 4,0 mEq/L

Gambaran EKG

Keterangan - Gel U masih normal - Tidak spesifik untuk hipokalemia - Gel U terlihat lebih tinggi dari gel T - Hipokalemia ada - Segmen ST me, gel T mendatar, gel U prominen - Hipokalemia progresif - Kompleks QRS menyempit, interval PR memanjang - Hipokalemia berat

3,0 3,5 mEq/L

2,5 3,0 mEq/L

< 2,5 mEq/L

Contemporary Urology. February 2003, Vol 15, No 2