Anda di halaman 1dari 55

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.1 Pada dasarnya tindakan seksio sesarea dilakukan atas pertimbangan, persiapan, dan indikasi yang serius demi menyelamatkan nyawa ibu dan janinnya. Saat ini prosedur seksio sesarea merupakan salah satu alternatif yang sering dilakukan di bidang kedokteran obstetri dan ginekologi dalam pelaksanaan kelahiran, terutama bila terdapat komplikasi, misalnya cephalopelvic disproportion, fetal distress, distosia karena kelainan tenaga ibu yang melahirkan, atau ibu dengan penyakit jantung. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan dalam antibiotika, transfusi darah, anastesi dan teknik operasi yang lebih sempurna, maka terjadi perluasan indikasi dalam melakukan tindakan seksio sesarea ini, bahkan saat ini ada kecenderungan untuk melakukan operasi ini tanpa indikasi yang kuat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa standar rata-rata seksio sesarea di sebuah negara adalah sekitar 5 15% dari seluruh kelahiran di negara-negara berkembang.2 Angka rata-rata seksio sesarea telah meningkat secara signifikan di seluruh dunia selama dekade terakhir, tetapi khusus di negara menengah dan berpenghasilan tinggi. Di Amerika Serikat, tingkat seksio sesarea pada
1

tahun 2006 adalah 31,1%, dan perkiraan terbaru untuk beberapa negara Eropa juga di atas 30%.3 Angka kejadian seksio sesarea di Indonesia menurut data survey nasional pada tahun 2007 adalah 921.000 dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22.8% dari seluruh persalinan . Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2007 di RSMH Palembang tercatat 756 (26,02 %) persalinan dilakukan melalui seksio sesarea dari total 2905 persalinan. 4 Sedangkan di
Rumah Sakit Umum Mayjen. H.A. Thalib Kerinci angka kejadian seksio sesarea pada tahun 2007 berjumlah 245 dari 531 persalinan atau sekitar 46% dari seluruh persalinan. Data yang diperoleh dari RSB Pertiwi Makassar angka persalinan seksio

sesarea mencapai 38,3% dari seluruh persalinan pada tahun 2008.5 Seksio sesarea merupakan operasi yang besar sehingga memiliki risiko yang lebih besar dibanding persalinan normal. Risiko ini bisa terjadi pada ibu maupun bayinya. Risiko pada ibu antara lain: akibat tindakan anestesi, pendarahan selama operasi, komplikasi penyulit atau infeksi pasca operasi, endometritis (radang endometrium), tromboflebilitis (pembekuan darah pembuluh balik), embolisme (penyumbatan pembuluh darah) paruparu, cedera (kerusakan-kerusakan) pada kandung kemih; ureter; usus halus, penyembuhan luka operasi yang lama, serta pemulihan bentuk, letak rahim menjadi tidak sempurna atau terjadi ruptur uteri pada kehamilan mendatang. Sedangkan risiko pada bayi, antara lain: akibat anestesi yang terlalu lama mengakibatkan bayi tidak spontan menangis sehingga terjadi kelainan hemodinamika dan mengurangi skor APGAR, pengeluaran lendir atau sisa

air ketuban di saluran respirasi anak juga tidak sempurna atau terjadi asfiksia neonatorum, risiko trauma sayatan, penyakit hyalin membran disease, bayi tidak mendapat kekebalan secara aktif seperti yang terjadi pada persalinan normal. Ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan seksio sesarea yaitu usia ibu, tempat tinggal, tingkat pendidikan ibu, paritas, riwayat seksio sesarea, lama persalinan, komplikasi antenatal primer dan jumlah janin dalam kandungan. Umur ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi angka kejadian seksio sesarea. Marieskind dalam sebuah laporan yang berjudul an evaluation of caesarean section in the United States memperkirakan bahwa ibu-ibu yang memiliki umur lebih tua akan memiliki risiko lebih besar untuk melahirkan dengan seksio sesarea dibanding dengan ibu-ibu yang memiliki umur lebih muda. Dari suatu penelitian kohort berbasis rumah sakit selama 10 tahun di rumah sakit pendidikan Leiden Nederland dan rumah sakit pendidikan Dr Hasan Sadikin Bandung didapatkan bahwa risiko seksio sesarea lebih tinggi pada ibu-ibu yang berumur 30 tahun ke atas. Penelitian mengenai pengaruh umur ibu terhadap angka kejadian seksio sesarea juga dilakukan di dua rumah sakit di Australia yaitu Royal North Shore Hospital (RNSH) dan Westmead Hospital yang merupakan bagian dari Departemen Obstetri Ginekologi Universitas Sidney Australia. Dari data yang dikumpulkan, diperoleh bahwa kejadian seksio sesarea

paling tinggi pada umur 30-34 tahun di RNSH yaitu 38,4% dan pada umur 25-29 tahun di Westmead Hospital yaitu 38,6%. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa umur ibu merupakan faktor yang mempengaruhi angka kejadian seksio sesarea, dimana didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea lebih tinggi pada umur ibu yang lebih tua. Dalam penelitian ini, akan diteliti tentang karakterisitik ibu yang melakukan persalinan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 januari-31 desember 2009.

B. Perumusan Masalah 1. Berapakah angka kejadian seksio sesarea pada ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari31 Desember 2009?
2.

Bagaimanakah

distribusi

indikasi

medis

yang

menyebabkan

diambilnya tindakan persalinan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009? 3. Bagaimana distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 berdasarkan umur ibu? 4. Bagaimana distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 berdasarkan paritas?

5.

Bagaimana distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 berdasarkan usia kehamilan?

6.

Bagaimana distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 berdasarkan riwayat seksio sesarea sebelumnya?

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengidentifikasi angka kejadian, indikasi, dan karakteristik ibu dengan persalinan seksio sesar di Bagian Kebidanan RSMH Palembang selama periode 1 Januari-31 Desember 2009. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan angka kejadian seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009. b. Mendeskripsikan distribusi indikasi medik yang menyebabkan diambilnya tindakan seksio sesarea. c. Mendeskripsikan distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea berdasarkan umur ibu. d. Mendeskripsikan distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea berdasarkan paritas. e. Mendeskripsikan distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea berdasarkan usia kehamilan.

f.

Mendeskripsikan distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea berdasarkan riwayat seksio sesarea sebelumnya.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti a. Memberikan gambaran angka kejadian seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 januari-31 desember 2009. b. Memberikan mempengaruhi informasi angka beberapa kejadian karakteristik sesarea ibu di yang Bagian

seksio

Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009. c. Penelitian ini dilaksanakan sebagai persyaratan kelulusan untuk meraih gelar Sarjana Kedokteran 2. Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan khususnya dokter yang ada di rumah sakit dalam mengambil keputusan untuk melakukan tindakan seksio sesarea. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Sebagai bahan ilmiah dan sumber informasi bagi institusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan pada masa yang akan datang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Seksio Sesarea Istilah caesar mungkin diturunkan dari kata kerja bahasa latin

caedere, yang artinya memotong atau menyayat. Hukum Roma menjelaskan bahwa prosedur tersebut dilakukan di penghujung kehamilan pada seorang wanita yang sekarat demi menyelamatkan nyawa calon bayi. Menurut literatur sejarah, tindakan seksio sesarea pertama kali dilakukan untuk menolong kelahiran seorang bayi laki-laki yang kemudian hari menjadi Sang Kaisar Roma yang terkenal, yaitu Julius Caesar. Namun dalam sejarah kedokteran, operasi caesar baru disebut sebagai cara untuk melahirkan bayi setelah tahun Masehi (tahun 1794), yaitu ketika seorang dokter di Virginia Amerika Serikat melakukan operasi pada istrinya. Saat itu, sejarah kedokteran Amerika mencatat hanya sekitar 10% wanita yang dapat hidup setelah persalinan tersebut. Pada awal permulaan operasi seksio sesarea, tidak dilakukan penjahitan pada luka operasinya sehingga menimbulkan kematian yang disebabkan pendarahan dan infeksi. Pada tahun 1896, dr. Lebas melakukan penjahitan saat melakukan operasi seksio sesarea, untuk mengurangi kematian akibat pendarahan dan infeksi, tetapi tindakan tersebut ditentang karena dianggap tidak lazim.

Untuk menghindari kematian akibat infeksi, Porro (1876) dari Italia melakukan seksio sesarea diikuti histerektomi, menempatkan serviks di luka insisi bagian depan, sehingga mengurangi perdarahan. Gagasan Porro sampai saat ini masih dipergunakan meskipun dengan indikasi terbatas, untuk mengindari infeksi sepsis. Dalam waktu yang bersamaan, Kehrer (1881) dan Sanger (1882) melakukan seksio sesarea dengan insisi membujur pada dinding rahim. Sekalipun Kehrer telah melakukan operasi terlebih dahulu, tetapi teknik operasi dengan insisi membujur dikenal dengan nama metode klasik menurut Sanger. Sedangkan Kehrer melakukan modifikasi insisi di bagian bawah, sehingga Kehrer dianggap sebagai father of lower segment operation. Sejarah mengenai seksio sesarea dengan insisi segmen bawah rahim sebenarnya pertama kali dilakukan oleh Osiander pada tahun 1805, sementara pada permulaan abad tersebut, Frank memulai suatu operasi dimana ia menjahit luka dari alur atas peritoneum parietal ke peritoneum visceral dan menginsisi uterus secara transversal melewati segmen di bawahnya. Untuk menghindari infeksi meluas ke dalam cavum abdominalis dilakukan seksio sesarea secara ekstraperitoneal. Teknik operasi membuka dinding abdomen, selanjutnya menyisihkan vesika urinaria sehingga terbukalah sebagian dinding rahim sebagai tempat untuk mengeluarkan janin. Apabila terjadi robekan peritoneum, segera dijahit kembali sehingga mengurangi kontaminasi bakteri dan infeksi peritonitis. Untuk melakukan seksio sesarea ekstraperitoneal dikenal Water method, yaitu dengan

menyisihkan vesika urinaria ke bawah menuju belakang simfisis. Latzco method, menyisihkan vesika urinaria ke samping untuk mendapatkan ruangan yang cukup luas sehingga insisi segmen bawah rahim dapat dilakukan, dan operasi seksio sesarea ekstraperitoneal tidak banyak dilakukan lagi. B. Definisi Seksio Sesarea 1. Seksio sesarea adalah tindakan pembedahan dengan membuka dinding perut atau rahim untuk melahirkan bayi.9 2. Seksio sesarea adalah melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (laparotomi) dan dinding uterus (histerotomi).10 3. Seksio sesarea adalah persalinan untuk melahirkan janin dengan berat 500 gram atau lebih, melalui pembedahan di perut dengan menyayat dinding rahim.11 4. Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim.12 5. Seksio sesarea adalah bentuk melahirkan anak dengan melakukan

sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen ibu (laparotomi) dan uterus (hiskotomi) untuk mengeluarkan satu bayi atau lebih.13

C. Syarat dan Prinsip Seksio Sesarea:14

Syarat seksio sesarea: 1. Uterus dalam keadaan utuh (karena pada seksio sesarea, uterus kan diinsisi). 2. Berat janin di atas 500 gram.
9

Prinsip seksio sesarea: 1. Keadaan yang tidak memungkinkan janin dilahirkan per vaginam, dan/atau 2. Keadaan gawat darurat yang memerlukan pengakhiran kehamilan / persalinan segera, yang tidak mungkin menunggu kemajuan persalinan per vaginam secara fisiologis

D. Indikasi Medis Seksio sesarea dilatarbelakangi oleh faktor ibu, janin, atau keduanya. Indikasi ibu bila kelahiran pervaginam membahayakan. Seksio sesarea dilakukan untuk indikasi janin bila risiko gawat janin lebih kecil dengan persalinan abdominal daripada pervaginam. Bila menyangkut kepentingan keduanya ( ibu dan janin) merupakan indikasi kombinasi untuk dilakukan seksio sesarea.

1.

Faktor Janin Seksio sesarea dilakukan karena keadaan janin, antara lain: a. Bayi terlalu besar Berat bayi lahir sekitar 4.000 gram atau lebih (giant baby) menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Apabila dibiarkan terlalu lama dalam jalan lahir dapat membahayakan keselamatan

10

janin. Umumnya bayi yang besar ditemukan pada ibu hamil yang menderita diabetes mellitus. Namun selain janin besar, janin dengan berat badan kurang (< 2,5 kg), lahir prematur, dan dismatur (intrauterine growth retardation) atau pertumbuhan janin terhambat, juga menjadi pertimbangan dilakukannya persalinan dengan operasi seksio sesarea

b.

Kelainan Letak atau Malpresentasi Janin 1) Letak Sungsang atau Bokong Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah cavum uteri. Risiko bayi lahir sungsang pada persalinan alami diperkirakan 4 kali lebih besar dibandingkan lahir dengan letak kepala yang normal. Indikasi seksio sesarea pada letak sungsang antara lain: a. b. Presentasi kaki murni Presentasi bokong dengan plasenta previa, gawat janin, janin besar, disproporsi sefalopelvik atau panggul sempit, anak mahal, dan bekas seksio sesarea sebelumnya. 2) Letak Lintang Letak lintang adalah keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada ada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada

11

sedikit lebih tinggi dibanding kepala, sedangkan bahu berada di pintu panggul atas. Letak lintang disebabkan banyak faktor, antara lain: kelainan dinding dan bentuk rahim, panggul sempit, tumor di jalan lahir, plasenta pevia, cairan ketuban yang banyak, kehamilan kembar, dan ukuran janin. Green Hill dan Eastman berpendapat pada letak lintang dilakukan tindakan seksio sesarea: a. Bila ada kesempitan panggul dengan janin hidup dan besar biasa. b. Semua primigravida walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit c. Multipara dapat ditolong dengan cara-cara lain terlebih dulu. Apabila ketuban pecah sebelum pembukaan lengkap dan terdapat prolapsus funikuli harus segera dilakukan seksio sesarea 3) Presentasi Muka Presentasi muka adalah keadaan dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal, sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah menghadap ke bawah. Indikasi untuk melakukan seksio sesarea pada presentasi muka adalah: posisi mento posterior persistens, kesempitan

12

panggul dan sulit turunnya kepala dalam rongga panggul, reposisi atau cara-cara lain tidak berhasil. 4) Presentasi Dahi Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Indikasi seksio sesarea pada presentasi dahi bila kala II lama; tidak mengalami kemajuan, dan reposisi tidak berhasil. 5) Presentasi ganda Presentasi ganda adalah keadaan dimana di samping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai tangan, lengan, atau keadaan dimana disamping bokong janin dijumpai tangan. Presentasi ganda terjadi karena pintu atas panggul tidak tertutup sempurna oleh kepala atau bokong, misalnya pada multipara dengan perut gantung, kesempitan panggul, janin kecil. Bila ditemukan prolapsus funikuli, dengan keadaan janin baik dan pembukaan belum lengkap sebaiknya dilakukan seksio sesarea

c.

Ancaman Gawat janin Pada persalinan bila terjadi keadaan gawat janin bisa merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan seksio sesarea. Seperti kita ketahui, janin memperoleh oksigen dan asupan makanan dari ibu

13

melalui plasenta dan tali pusat. Apabila terjadi gangguan pada plasenta serta tali pusat maka janin akan kekurangan oksigen

sehingga menyebabkan kerusakan otak, bahkan bisa terjadi kematian dalam rahim. Diagnosis gawat janin berdasarkan denyut jantung janin yang abnormal. Gangguan pada janin juga dapat diketahui dari adanya kotoran (mekonium) dalam air ketuban, dimana normalnya warna air ketuban pada janin cukup bulan berwarna agak putih keruh, tetapi bila janin mengalami gangguan warnanya menjadi kehijauan.3 d. Janin abnormal Janin yang abnormal, misalnya mengalami gangguan Rh, kerusakan genetik, dan hirosephalus bisa menjadi indikasi

dilakukannya seksio sesarea.

e.

Kelainan Tali Pusat Kelainan tali pusat yang biasa terjadi: 1) Prolapsus tali pusat (tali pusat menumbung) Prolapsus tali pusat adalah keadaan penyembulan sebagian atau seluruh tali pusat.3 Letak tali pusat bisa di depan atau di samping bagian terbawah janin, atau tepat di jalan lahir sehingga dapat mengancam kehidupan janin.Seksio sesarea dilakukan pada tali pusat menumbung dengan letak kepala bila pembukaan masih kecil, dan letak lintang
14

2) Terlilit tali pusat. Letak dan posisi tali pusat bisa membelit tubuh janin akibat gerakan janin dalam rahim. Hal ini bisa berbahaya bila kondisi tali pusat terjepit atau terpelintir sehingga menyebabkan aliran nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin terganggu. Terkadang lilitan tali pusat bisa menghalangi proses persalinan, dimana mengganggu turunnya kepala janin menuju jalan lahir. Seksio sesarea akan dilakukan bila usia janin sudah sampai pada batas bisa dilahirkan (34-36 minggu) tetapi tali pusat masih mengganggu janin, dan bila tali pusat sudah turun terlebih dahulu sebelum bayi lahir, misalnya akibat pecahnya ketuban sebelum waktunya

f.

Bayi kembar (multiple pregnancy) Multiple pregnancy adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Pada keadaan ini, sering terjadi kesalahan presentasi dan posisi yang diakibatkan janin kembar dan cairan ketuban yang berlebihan. Seksio sesarea dilakukan bila janin pertama letak lintang, plasenta previa, terjadi prolaps tali pusat, dan interlocking pada janin 69; anak pertama letak sunsang dan anak kedua letak kepala.

2.

Faktor Ibu a. Usia

15

Ibu yang hamil pertama kali pada usia di atas 40 tahun, memiliki risiko akan melahirkan dengan tindakan seksio sesarea, karena biasanya pada usia ini seseorang mempunyai penyakit yang berisiko, misalnya hipertensi, penyakit jantung, dan lain-lain.

b. Panggul sempit Panggul sempit bila ukurannya 1-2 cm kurang dari ukuran yang normal. Kesempitan panggul bisa: 1) Inlet (pintu atas panggul= P.A.P) 2) Mid pelvis (ruang tengah panggul = R.T.P) 3) Outlet (pintu bawah panggul= P.B.P) 4) Kombinasi dari inlet, midpelvis, atau outlet

Pembagian panggul sempit: 1) Kesempitan pintu atas panggul (pelvic inlet) Inlet dianggap sempit bila Conjugata Vera (CV) kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Karena yang biasanya diukur adalah Conjugata Diagonalis (CD) maka inlet dianggap sempit bila CD kurang dari 11,5 cm. 2) Kesempitan ruang tengah panggul (midpelvis)

16

Ruang tengah panggul dianggap sempit bila diameter interspinarum 9 cm atau jika diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 13,5 cm. 3) Kesempitan pintu bawah panggul (outlet) Pintu bawah panggul dianggap sempit bila diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm. Kesempitan pintu bawah panggul, meskipun bisa tidak menghalangi lahirnya janin, namun dapat menyebabkan perineal rupture yang hebat karena arcus pubis sempit, kepala janin

terpaksa melalui ruangan belakang. a) Bila conjugata vera = 8,5-10 cm, dilakukan partus percobaan yang memungkinkan diakhiri dengan partus spontan atau dengan ekstraksi vacum-ekstraksi forceps, atau dengan tindakan seksio sesarea sekunder atas indikasi obstetrik lainnya. b) Conjugata vera = 6-8,5 cm, dilakukan seksio sesarea primer c) Conjugata vera = 6 cm, dilakukan seksio sesarea primer mutlak.

c.

Disproporsi Sefalo-pelvic Disproporsi sefalo-pelvic berarti diameter kepala janin lebih besar daripada diameter pelvis ibu.

17

Penyebab disproporsi sefalo-pelvic dari faktor maternal, antara lain: wanita kecil dengan panggul kecil, tumor pelvis, kontraksi pelvis yang disebabkan fraktur atau cedera, rickets, maupun kongenital. Sedangkan dari faktor janin, antara lain: posisi oksipito-posterior, bayi besar (DM, hydrops fetalis), presentasi abnormal, dan hidrosefalus.18 Perlu dipikirkan kemungkinan

terjadinya disproporsi sefalo-pelvik bila pesalinan yang terlalu lama dan sulit, dengan anak lahir mati, atau bila persalinan yang diakhiri dengan seksio sesarea. Seksio sesarea primer dilakukan bila: 1) Panggul jelas sempit, sehingga anak tidak dapat melalui panggul 2) Kesempitan ringan tetapi umur ibu sudah lanjut atau karena komplikasi, seperti: kelainan letak, anak yang lahir sebelumnya tidak hidup. 3) Persalinan dahulu diakhiri dengan seksio sesarea karena disproporsi, terutama bila disproporsi sekarang masih ada.

d. Ruptura uteri Ruptura uteri adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau persalinan dimana umur kehamilan lebih dari 28 minggu. Frekuensi di rumah-rumah sakit di Indonesia berkisar 1:92 sampai 1:294 persalinan. 2 Kematian ibu dan janin karena ruptur uteri masih tinggi. Bila terjadi ruptur uteri, maka janin akan terlempar ke

18

dalam cavum abdomen, dan plasenta lepas sehingga hampir 100% janin akan meninggal. Sedangkan kematian ibu terutama disebabkan perdarahan, dan infeksi. Menurut waktu terjadinya: 1) Ruptura uteri gravidarum Terjadi saat hamil, sering berlokasi pada korpus. 2) Ruptura uteri durante partum Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada segmen bawah rahim, dan jenis ini yang terbanyak.

Menurut lokasinya: 1) Korpus uteri Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio sesarea klasik atau miomektomi. 2) Segmen bawah rahim (SBR) Biasanya pada partus yang lama dan sulit (tidak maju) 3) Serviks uteri Biasanya terjadi pada waktu melahirkan dengan ekstraksi forsep atau versi, sedangkan pembukaan belum lengkap. 4) Kolpoporeksis-kolporeksis Robekan robekana diantara servik dan vagina.

Menurut robeknya peritoneum:

19

1) Kompleta: dinding uterus robek, peritoneum terbuka, dan janin sudah berada di cavum abdominalis. 2) Inkompleta: dinding uterus robek, peritoneum masih utuh, dan janin masih di dalam cavum uteri atau terbungkus oleh peritoneum.

Menurut kejadiaannya: 1) Ruptura uteri spontan: pada uterus yang utuh 2) Ruptura uteri traumatik: akibat tindakan pada pertolongan persalinan (ruptura uteri violenta) 3) Ruptura uteri bekas luka dinding rahim, misalnya bekas seksio sesarea atau bekas operasi pada otot rahim. Jadi untuk tindakan pencegahan terjadinya ruptura uteri melalui seksio sesarea sedangkan bila ruptura uteri telah terjadi, laparotomi merupakan tindakan yang terbaik

e.

Distosia serviks Distosia serviks adalah terhalangnya kemajuaan persalinan karena kelainan pada serviks uteri. Walaupun his normal dan baik, kadang-kadang pembukaan serviks macet karena ada kelainan yang menyebabkan serviks tidak mau membuka. Ada 4 jains kelainan pada serviks uteri, yaitu: 1) Serviks kaku (rigid cervix)

20

Merupakan suatu kadaan dimana seluruh serviks kaku. Keadaan ini sering ditemukan pada primigravida tua, karena adanya paru-parut bekas luka atau bekas luka infeksi atau pada karsinoma servisis. Kejang atau kaku serviks dibagi 2 yaitu: a) Primer : karena takut atau pada primigravida tua. : karena bekas luka-luka dan infeksi yang

b) Sekunder

sembuh dan meninggalkan parut. Tindakan seksio sesarea dilakukan bila setelah pemberian obat-obatan seperti valium dan petidin tidak merubah sifat kekakuan serviks. 2) Serviks gantung (hanging cervix) Merupakan suatu keadaan dimana ostium uteri eksternum dapat membuka lebar, sedangkan ostium uteri internum tidak mau membuka. Serviks akan tergantung seperti corong. Bila dalam observasi keadaan tetap dan tidak ada kemajuan pembukaan ostium uteri internum, maka pertolongan yang tepat adalah melakukan tindakan seksio sesarea. 3) Serviks konglumer (conglumeratio cervix) Merupakan suatu keadaan dimana ostium uteri internum dapat membuka sampai lengkap, sedangkan ostium uteri eksternum tidak mau membuka. Keadaan ini sering kita jumpai pada ibu hamil dengan prolaps uteri disertai serviks dan dan

21

porsio yang panjang (elongatio servicis at portionis). Dalam hal ini serviks dapat menjadi tipis, namun ostium uteri eksternum tidak membuka atau hanya membuka 5 cm. Penanganan tergantung pada keadaan turunnya kepala janin, dengan tindakan sebagai berikut: a) Ostium uteri eksternum dicoba dilebarkan pembukaannya secara digital atau memakai dilatator. b) Ostium uteri eksternum diperlebar dengan sayatan menurut Duhrssen, yaitu melalui sayatan masing-masing selebar 1-2 cm sehingga pembukaan menjadi lengkap (10 cm) dan partus dapat dipimpin atau diselesaikan dengan ekstraksi vakum atau forceps. c) Bila usah-usaha di atas tidak berhasil atau tidak mungkin maka sebaiknya dilakukan seksio sesarea 4) Edema serviks Bila dijumpai edem yang hebat dari serviks disertai hematoma dan nekrosis, maka ini merupakan tanda adanya obstruksi. Bila syarat-syarat untuk ekstraksi vakum atau forceps tidak dipenuhi, maka dilakukan seksio sesarea.

f.

Pre-eklampsia Pre-eklampsia merupakan gejala awal dari eklampsia, yaitu keracunan dalam kehamilan. Pre-eklampsia sering muncul di

22

trimester ketiga kehamilan. Biasanya gangguan tersebut kerap terjadi pada usia kehamilan 20 minggu dan pada wanita yang mengandung anak pertama. Pre eklampsia atau toksemia gravidarum merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada ibu hamil di Indonesia. Gejala yang dapat ditemukan pada penderita pre eklampsia adalah tekanan darah yang meningkat, pembengkakan pada tungkai dan ditemukannya protein dalam air seni. Bila keadaan ini tidak diatasi, maka sang ibu akan jatuh ke dalam keadaan Eklampsia, yang berakibat kejang, suatu kondisi yang dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin dalam kandungan.15 Diagnosis pre-eklampsi bila ditemukan: 1) Tekanan sistolik 140 mm Hg atau lebih atau kenaikan 30 mm di atas tekanan yang biasa. 2) Tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih atau kenaikan 15 mmdi atas tekanan yang biasa. 3) Tekanan darah yang meninggi ini sekurangnya diukur 2 kali dengan antara 6 jam. 4) Proteinuria yaitu protein lebih dari 0,3 gr/l dalam urine 24 jam atau lebih dari 1 gr/l pada urine yang sembarangan. Proteinuria harus ada dalam 2 hari berturut-turut atau lebih.

23

5) Oedem atau pembengkakan yang menetap pada pergelangan kaki, tangan, dan wajah tetapi yang sering terjadi adalah bengkak pada kaki.

Pre-eklampsia dikatakan berat bila: 1) Tekanan darah sistolik 160 atau lebih atau diastolik 110 atau lebih, diukur 2 kali dengan antara sekurangnya 6 jam dan pasien dalam istirahat rebah. 2) Proteinuria 5 gram atau lebih dalam 24 jam. 3) Oligouria / jumlah urine 4000 cc atau kurang dalam 24 jam. 4) Gangguan serebral atau gangguan penglihatan. 5) Oedem paru-paru atau sianosis. Jika pre-eklampsia yang berat tidak berkurang dengan terapi di rumah sakit selama 2 hari, maka harus dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan dnegan induksi, namun kalau tidak mungkin, dilakukan seksio sesarea.

g.

Partus Lama (Prolonged Labor) Partus lama merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan lebih dari 18 jam pada multi. Partus lama disebut juga partus kasep atau partus terlantar. Menurut Harjono, partus kasep merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga menimbulkan gejala-gejala

24

dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, asfiksi, dan kematian janin dalam kandungan (KJDK).11 Penyebab terjadinya partus kasep, antara lain: 1) Distosia : faktor kekuatan, panggul, dan janin. 2) Pertolongan atau pimpinan partus yang salah. Gejala klinis partus kasep pada ibu, antara lain: 1) Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang: dehidrasi (nadi cepat dan lemah), demam, meteorismus, his (- / melemah), asidosis (respirasi cepat / cuping hidung), gangguan psikis (takut, gelisah, cemas, apatis) 2) Tanda-tanda infeksi intrauterin: air ketuban keruh kehijauan, berbau, kadang bercampur mekoneum. 3) Tanda-tanda rupture uteri: perdarahan melalui OUE, his (-) , robekan bisa meluas ke servik dan vagina. Sedangkan gejala pada janin, antara lain: 1) Ketuban bercampur mekoneum 2) DJJ lemah / (-) 3) Gerakan anak () 16 Pada keadaan partus kasep atau partus lama, tindakan seksio sesarea merupakan salah satu alternatif pilihan pertolongan.

h. Partus Tak Maju

25

Partus tak maju merupakan suatu persalinan dengan his yang tidak adekuat sehingga tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala, dan putar paksi selama 2 jam terakhir. Bila partus tak maju dibiarkan, bisa menimbulkan komplikasikomplikasi pada ibu dan janin sehingga tindakan pencegahan yang bisa dilakukan yaitu melahirkan janin dengan segera melalui seksio sesarea

i.

Plasenta 1) Plasenta previa Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. Faktor Predisposisi : a) b) Multiparitas dan umur lanjut ( >/ = 35 tahun). Defek vaskularisasi desidua yang kemungkinan terjadi akibat perubahan atrofik dan inflamatorotik. c) Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC, Kuret, dan lain-lain). d) e) Chorion leave persisten. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.

26

f) g)

Konsepsi dan nidasi terlambat. Plasenta besar pada hamil ganda dan eritoblastosis atau hidrops fetalis. Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan

anatomik melainkan fisiologik. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Beberapa klasifikasi plasenta previa : a) Menurut de Snoo, berdasarkan pembukaan 4 -5 cm i. Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostea. ii. Plasenta previa lateralis; bila mana pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi 3 : (1) Plasenta previa lateralis posterior; bila sebagian menutupi ostea bagian belakang. (2) Plasenta previa lateralis anterior; bila sebagian menutupi ostea bagian depan. (3) Plasenta previa marginalis; bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostea yang ditutupi plasenta.

b) Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat : i. Plasenta previa totalis ; seluruh ostium uteri ditutupi uri.

27

ii.

Plasenta previa partialis ; sebagian ostium uteri ditutupi uri

iii.

Plasenta letak rendah, pinggir plasenta berada 3-4 cm pada tepi ostium uteri. Pada pemeriksaaan dalam tak teraba.

c)

Menurut Browne: i. Tingkat I, Lateral plasenta previa : Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun tidak sampai ke pinggir pembukaan. ii. Tingkat II, Marginal plasenta previa: Plasenta mencapai pinggir pembukaan (Ostea). iii. Tingkat III, Komplit plasenta previa Plasenta menutupi ostea waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan iv. hampir lengkap.

Tingkat IV, Sentral plasenta previa.

Indikasi Seksio Sesarea pada plasenta previa : a) b) c) d) Plasenta previa totalis baik janin mati atau hidup Plasenta previa pada primigravida. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang Anak berharga dan fetal distres

28

e) f)

Plasenta previa lateralis jika : Pembukaan <4 cm atau servik belum matang, perdarahan banyak.

g) h) i)

Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. Plasenta previa menyebabkan janin tidak bisa turun dan

masuk ke dalam jalan lahir sehingga persalinan secara alami sulit dilakukan. Selain itu, plasenta previa memungkinkan plasenta keluar dahulu sebelum janin dilahirkan. Padahal pada persalinan normal, plasenta keluar pada kala tiga setelah janin dilahirkan. Hal ini bisa membahayakan keadaan janin, karena plasenta sebagai sarana mensuplai oksigen dan makanan bagi janin. Apabila tidak dilakukan tindakan seksio sesarea pada kelainan plasenta previa, bisa terjadi perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri sehingga dapat membahayakan ibu.

2) Plasenta Lepas (Solutio Plasenta) Solutio plasenta adalah pelepasan plasenta dari

perlekatannya pada uterus yang implantasinya normal sebelum

29

janin lahir pada kehamilan 22 minggu (berat janin 500 gr) atau lebih.9 Solusio plasenta terjadi sekitar 1 % dari semua kehamilan di seluruh dunia. Etiologi belum diketahui dengan jelas, namun terdapat beberapa keadaan tertentu yang menyertai: hipertensi, riwayat trauma, kebiasaan merokok, usia ibu < 20 atau >35 tahun, multiparitas, tali pusat yang pendek, defisiensi asam folat, perdarahan retroplasenta, penyalahgunaan alkohol dan obatobatan.17 Pertanda solutio plasenta adalah pendarahan yang banyak, dimana bisa keluar melalui vagina ataupun tersembunyi di dalam rahim. Persalinan dengan seksio sesarea pada solutio plasenta dilakukan untuk menghentikan pendarahan yang bisa mengancam kondisi ibu dan menolong janin lahir sebelum mengalami kekurangan oksigen atau keracunan ketuban.

3) Plasenta accreta Plasenta accreta merupakan keadaan menempelnya sisa plasenta di otot rahim.3 Hal ini umumnya dialami pada ibu dengan paritas berulang kali, usia rawan hamil/di atas 35 tahun, ada riwayat operasi. Bila sisa plasenta di otot rahim, banyak yang menempel, ada kemungkinan dilakukannya histerektomi.

30

4) Vasa previa Keadaan pembuluh darah di bawah rahim yang apabila dilewati janin dapat menimbulkan pendarahan banyak yang membahayakan ibu sehingga dilakukan tindakan seksio sesarea untuk mengurangi risiko.

j.

Ketuban Pecah Dini Ketuban pecah dini adalah rupturnya membran pembungkus janin atau amnion sebelum kehamilan 37 minggu. Hal ini terjadi sekitar 2-3 % pada kehamilan, dan 50 % pada persalinan preterm.23 Ketuban pecah dini terjadi sebelum in partu yaitu bila pembukaaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Pengaruh ketuban pecah dini terhadap janin dan ibu yaitu menyebabkan infeksi intra uterin sehingga meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas. Penyelesaian ketuban pecah dini bisa dengan seksio sesarea bila ada indikasi obstetrik.

k.

Persalinan Sebelumnya Dengan Operasi Sesar Sebenarnya persalinan melalui bedah sesar tidak

mempengaruhi persalinan selanjutnya harus berlangsung secara operasi atau tidak. Umumnya operasi sesar akan dilakukan lagi pada persalinan kedua apabila persalinan sebelumnya menggunakan

31

sayatan vertikal (corporal). Namun, operasi kedua bisa terjadi jika pada operasi sebelumnya dengan sayatan melintang tetapi ada hambatan pada persalinan per-vaginam, seperti partus tidak maju, letak lintang, janin terlalu besar, panggul sempit atau jalan lahir tidak mau membuka,dan lain-lain.

E. Kontra Indikasi 1. Kontra Indikasi Absolut a. b. c. d. e. f. g. 2. Pasien menolak. Infeksi pada tempat suntikan. Hipovolemia berat, syok. Koagulapati atau mendapat terapi antikagulan. Tekanan intrakranial meninggi. Fasilitas resusitasi minimal. Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anesthesia.

Kontra Indikasi Relatif a. Infeksi sisitemik (sepsis, bakteremi). b. Infeksi sekitar suntikan. c. Kelainan neurologist. d. Kelainan psikis. e. Bedah lama. f. Penyakit jantung. g. Hipovolemia ringan.

32

h. Nyeri punggung kronis.

F. Komplikasi 1. Komplikasi Ibu a. b. c. Perdarahan banyak. Luka operasi baru di perut. Cedera pada rahim bagian bawah atau cedera pada kandung kemih (robek). d. Pada kasus bekas operasi sebelumnya dapat ditemukan perlekatan organ dalam panggul. e. f. Emboli air ketuban yang dapat terjadi selama tindakan operasi. Infeksi pada rahim/endometritis, alat-alat berkemih, usus, dan luka operasi. g. Nyeri bila buang air kecil, luka operasi bernanah, luka operasi terbuka dan sepsis (infeksi yang sangat berat). h. i. Ruptur uteri spontan pada kehamilan mendatang. Kematian.

2.

Komplikasi Janin a. Depresi susunan saraf pusat janin akibat penggunaan obat-obatan anestesia (fetal narcosis).

33

b. Anak yang dilahirkan tidak spontan menangis melainkan harus dirangsang sesaat untuk bisa menangis, yang mengakibatkan kelainan hemodinamika dan mengurangi agar score terhadap anak. c. Pengeluaran lender atau sisa air ketuban di saluran napas tidak sempurna. d. Penyakit hyalin membrane disease. e. Trauma persalinan. f. Sistem kekebalan janin tidak segera didapat karena bayi berhadapan langsung dengan lingkungan steril, berbeda pada bayi yang lahir melewati vagina

G.

Faktor-faktor resiko pada ibu yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan seksio sesarea 1. Umur ibu Umur ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah insidens seksio sesarea. Ibu-ibu hamil yang berusia lebih tua akan memiliki resiko lebih besar melahirkan secara seksio sesarea

dibandingkan dengan ibu-ibu hamil yang berusia lebih muda. Suatu penelitian kohort berbasis rumah sakit selama 10 tahun di rumah sakit pendidikan Leiden Nederland dan rumah sakit pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung didapatkan bahwa resiko seksio sesarea lebih tinggi pada ibu-ibu yang berusia 30 tahun ke atas.

34

2. Paritas Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah insidens seksio sesarea. Berdasarkan penelitian di rumah sakit pendidikan Leiden Nederland dan rumah sakit Dr. Hasan Sadikin bandung didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea pada primigravida lebih tinggi dibanding nultigravida. 3. Usia kehamilan Usia kehamilan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah insidens seksio sesarea. Usia kehamilan ikut mempengaruhi

diambilnya suatu keputusan medis untuk mengakhiri persalinan melalui pervaginam atau perabdominal, di tambah dengan indikasi lain yang mengharuskan dilakukan nya tindakan pembedahan. 4. Riwayat seksio sesarea sebelumnya Adanya riwayat persalinan dengan seksio sesarea sebenarnya tidak mempengaruhi persalinan selanjutnya harus dilakukan dengan seksio sesarea juga atau tidak. Umumnya seksio sesarea akan dilakukan lagi pada persalinan kedua apabila seksio sesarea sebelumnya menggunakan sayatan vertikal (corporal). Namun, seksio sesarea kedua bisa terjadi jika seksio sesarea sebelumnya menggunakan teknik sayatan melintang tetapi ada hambatan pada persalinan pervaginam atau indikasi yang mengharuskan

dilakukannya tindakan pembedahan.

35

KERANGKA KONSEP

Ibu yang melahirkan di RSMH Palembang

Pervagin am

Seksio sesarea

Ekstrak si

Prevale nsi

Indika si

Karakteristik ibu

Usia ibu

Parita s

Usia kehamila n

Riwayat seksio sesarea sebelumnya

36

ALUR PENELITIAN

Fak.Kedokteran UPEP/UPKK RSMH Bag. Obstetri dan Ginekologi Bag. Etika dan Hukum Medical Record: Data sekunder Ibu yang melahirkan di bag. Kebidanan RSMH dengan seksio sesarea Analisis Data

Tabulasi

Deskriptif

37

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah suatu penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini dipilih karena paling sesuai untuk menggambarkan prevalensi dengan menggunakan data sekunder. Setelah diketahui prevalensi, kemudian diidentifikasi indikasi dan karakteristik ibu dengan persalinan seksio sesarea.

B.

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada tanggal 16 November 2009-29 Januari 2010.

C.

Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 januari-31 desember 2009. 2. Sampel Pada penelitian ini tidak dilakukan sampling. Oleh karena itu, sampel diambil dari seluruh ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan

38

seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009.

D.

Variabel Penelitian Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1. prevalensi tindakan seksio sesarea 2. indikasi tindakan seksio sesarea berdasarkan medis 3. karakteristik ibu : umur, paritas, usia kehamilan, dan riwayat seksio sesarea sebelumnya.

E.

Metode Pengumpulan Data Data dikumpulkan dari catatan rekam medis ibu-ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari31 Desember 2009.

F.

Defenisi Operasional 1. Prevalensi Seksio Sesarea Prevalensi seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut:

39

Jumlah ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 100% Jumlah ibu-ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 x

2.

Karakteristik Ibu Karakteristik individu menggambarkan identifikasi dan latar belakang responden atau ibu, antara lain : umur, paritas, usia kehamilan, dan riwayat persalinan sebelumnya

3.

Indikasi Tindakan Seksio Sesarea Berdasarkan Medis Indikasi tindakan seksio sesarea berdasarkan medis antara lain: faktor ibu, janin dan waktu yang melatarbelakangi tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009.

4.

Indikasi Tindakan Seksio Sesarea Berdasarkan: a. Umur ibu Umur ibu adalah umur responden waktu melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH dalam periode 1 Januari-31 Desember 2009 dinyatakan dalam tahun.

40

Umur ibu diklasifikasikan ke dalam enam kelompok: 1) Kurang dari atau sama dengan 19 tahun 2) Antara 20-24 tahun 3) Antara 25-29 tahun 4) Antara 30-34 tahun 5) Antara 35-39 tahun 6) Lebih dari atau sama dengan 40 tahun

b. Paritas Paritas adalah keadaan ibu sehubungan dengan jumlah kelahiran anak yang lalu, dapat hidup di dunia luar. Paritas diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok: 1) Paritas nol sampai satu (primipara) 2) Paritas dua sampai empat (multipara) 3) Paritas lima atau lebih (grandepara)

c. Usia kehamilan Usia kehamilan adalah satuan waktu yang menyatakan lamanya responden mengalami kehamilan. Usia kehamilan diklasifikasikan ke dalam empat kelompok: 1) Kurang dari 37 minggu (kehamilan pre term) 2) Antara 37-42 minggu (kehamilan aterm) 3) Lebih dari 42 minggu (kehamilan post term)

41

d. Riwayat Seksio sesarea sebelumnya Riwayat kehamilan sebelumnya adalah pernah mengalami persalinan dengan tindakan seksio sesarea pada kehamilan terdahulu. menjadi: 1) Pernah mengalami persalinan dengan seksio sesarea Riwayat kehamilan sebelumnya diklasifikasikan

sebelumnya. 2) Tidak pernah mengalami persalinan dengan seksio sesarea sebelumnya.

G.

Analisis Data Data-data yang dikumpulkan dari catatan rekam medik akan dikelompokkan dalam variabel penelitian dan selanjutnya disajikan dalam bentuk deskriptif. Data mengenai prevalensi tindakan seksio sesarea, indikasi seksio sesarea berdasarkan medis, teknik operasi, dan karakteristik individu akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan narasi untuk menjelaskan. Data X Jumlah %

Total Contoh tabel:

42

Distribusi persalinan dengan tindakan seksio sesarea berdasarkan indikasi medis Indikasi Jumlah Presentase

Total Prevalensi tindakan Seksio Sesarea di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSMH Palembang disajikan berdasarkan rumus-rumus sebagai berikut: Jumlah ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan seksio Sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 x 100%

Jumlah ibu-ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009

43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif menggunakan data sekunder yang didapat dari buku rekapitulasi persalinan catatan bidan dan sebagian dari rekam medik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prevalensi, indikasi dan karakteristik
ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009. Dari data yang diperoleh di Bagian Kebidanan RSMH Palembang diketahui bahwa jumlah persalinan pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 adalah 3125 persalinan. Dari jumlah tersebut didapatkan 873 kasus atau 27,97% yang melahirkan melalui tindakan seksio sesarea. Angka ini dapat dianggap cukup tinggi karena melampaui angka yang dianjurkan oleh WHO yaitu 10-15% dan juga angka yang dianjurkan berdasarkan surat edaran dari Menteri Kesehatan RI yaitu 20%. Dari angka tersebut juga dapat menunjukkan telah terjadinya peningkatan dari . pada tahun 2008. Salah satu penyebab terjadinya peningkatan ini kemungkinan karena adanya program

berobat gratis yang dilakukan Gubernur Sumsel H. Alex Noerdin yang dimulai sejak 22 Januari 2009.

1.

Prevalensi Seksio Sesarea Prevalensi seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang periode 1 Januari-31 Desember 2009 adalah sebesar 873 orang dari total 3125 orang ibu yang melahirkan. Jumlah tersebut didapatkan berdasarkan perhitungan sebagi berikut;
44

Jumlah ibu-ibu yang melahirkan dengan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 Jumlah ibu-ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 X 100%

873 3125 X 100%

27,93%

2.

Indikasi Medis Seksio Sesarea Dari total keseluruhan 873 tindakan seksio sesarea di Bagian Kebidanan RSMH Palembang periode 1 januari-31 Desember 2009. Indikasi terbanyak pertama adalah hipertensi dalam kehamilan sebanyak 189 kasus (24,09%), kedua adalah KPSW sebanyak 159 kasus (20,7%) dan ketiga adalah riwayat seksio sesarea sebelumnya sebanyak 131 kasus (17,06%). Berdasarkan data rekapitulasi pada table.1 terlihat bahwa indikasi medis untuk melakukan tindakan seksio sesarea sangat kompleks. Keputusan untuk melakukan seksio sesarea diambil terutama bila persalinan mengancam nyawa ibu dan janin atau keduannya. Pada beberapa kasus ada lebih dari satu indikasi medis yang melatarbelakangi diambilnya keputusan untuk melakukan tindakan seksio sesarea sehingga total ada 1159 kasus.

45

Tabel 1. Distribusi responden Menurut Indikasi Medis seksio Sesarea Berdasarkan Faktor Ibu Faktor ibu N % Hipertensi dalam kehamilan Ketuban pecah sebelum waktunya Bekas seksio sesarea Pendarahan antepartum Disproporsi kepala panggul Oligohidramnion Inersia uteri HELLP syndrome Infertil Preterm Posterm ODHA Ruptura uteri Mioma uteri Infeksi Hipertiroid Dekom Anhidramnion Diabetes mellitus Duplet rahim Condyloma acuminata Asma SLE Anemia Cystocele Hemoroid Tumor ovarium Tak cakap pervaginam Jumlah 185 159 131 103 86 23 10 9 9 9 6 6 6 5 5 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 768 24,09 20,70 17,06 13,41 11,20 2,99 1,30 1,17 1,17 1,17 0,78 0,78 0,78 0,65 0,65 0,26 0,26 0,26 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13 100

Indikasi terbanyak pertama tindakan seksio sesarea berdasarkan faktor janin adalah letak bokong sebesar 65 kasus (22,11%), kedua adalah letak lintang sebesar 61 kasus (20,75%) dan ketiga adalah gawat janin sebesar 60 kasus (20,41%). Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Indikasi Medis seksio Sesarea Berdasarkan Faktor Janin Faktor janin n %
46

Letak bokong Letak lintang Gawat janin Partus kasep Gameli Presentasi kaki Tali pusat menumbung Malposisi ASD Hydrocephalus Triplet Jumlah

65 61 60 56 26 13 5 4 2 1 1 294

22,11 20,75 20,41 19,05 8,84 4,42 1,70 1,36 0,68 0,34 0,34 100

Indikasi medis terbanyak pertama dari persalinan seksio sesarea ditinjau dari segi waktu, yaitu fase laten memanjang sebesar 35 kasus (36,08%), kala ll lama dan menyentuh garis bertindak memiliki jumlah kasus yang sama yaitu sebesar 28 kasus (28,87%). Tabel 3. Distribusi Responden menurut Indikasi Medis seksio Sesarea Berdasarkan Faktor Waktu Faktor waktu n % Fase laten memanjang 35 36,08 Kala ll lama 28 28,87 Menyentuh garis bertindak 28 28,87 Fase aktif lambat 3 3,09 Fase aktif berhenti 1 1,03 Gagal drip 1 1,03 Gagal vacum 1 1,03 Jumlah 97 100 3. Karakteristik Umur Ibu Sehubungan dengan Seksio Sesarea Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu bersalin dengan seksio sesarea di RSMH Palembang didapatkan 847 orang yang memiliki data umur dari 873 kasus sebagaimana dapat dilihat pada table berikut ini :

47

Table 4. Distribusi persalinan seksio sesarea berdasarkan umur ibu Umur ibu (tahun) N % 19 20-24 25-29 30-34 35-39 40 Jumlah 35 161 275 195 137 44 847 4,1 19,0 32,5 23,0 16,2 5,2 100,0

Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit pendidikan West Mead Australia didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea terbanyak pada umur 25-29 tahun (38,6%). Pada penelitian ini didapatkan hasil yang sama, dimana angka kejadian seksio sesarea terbanyak pada umur 25-29 tahun, yaitu 275 kasus (32,5%). Umur rata-rata dari seluruh ibu bersalin dengan seksio sesarea yang dirawat di RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009 adalah 29,22 tahun yang masih masuk dalam kelompok umur (2030) tahun atau masa aktif reproduksi sehat. Akan tetapi rata-rata umur seluruh ibu bersalin telah mendekati umur resiko dalam bersalin hal ini dapat saja sebagai pemicu timbulnya indikasi dilakukanya tindakan seksio sesarea. Dari hasil penelitian ini juga dapat dilhat kelompok umur 30-34 tahun cukup banyak yakni berjumlah 195 kasus atau 23,0% yang mencermin tingginya kelompok beresiko. Menurut Depkes RI umur 30-35 tahun dianggap sudah mulai berbahaya, sebab secara fisik sudah mulai menurun, apalagi jumlah kelahiran sebelumnya sudah cukup banyak. Kehamilan yang terjadi
48

diatas 35 tahun dianggap sangat berbahaya sebab alat reproduksi maupun fisik sudah jauh menurun. (Depkes RI 1993) Hasil dari penelitian mengenai pengaruh umur ibu terhadap angka kejadian seksio sesarea juga dilakukan di dua rumah sakit di Australia yaitu Royal North Shore Hospital (RNSH) dan Westmead Hospital yang merupakan bagian dari Departemen Obstetri Ginekologi Universitas Sidney Australia menunjukkan bahwa umur ibu merupakan faktor yang mempengaruhi angka kejadian seksio sesarea, dimana didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea lebih tinggi pada umur ibu yang lebih tua. Ibu-ibu dengan umur yang lebih tua juga meningkatkan risiko kompikasikomplikasi dalam kehamilan termasuk perdarahan antepartum,

pregnancy induced hypertension, diabetus mellitus gestasional dan berat badan lahir rendah, dan faktor-faktor inilah yang berperan terhadap tingginya angka kejadian seksio sesarea pada ibu-ibu dengan umur lebih tua. 4. Paritas Berdasarkan hasil penelitian paritas ibu bersalin dengan seksio sesarea di RSMH Palembang diperoleh 866 orang yang memiliki data paritas dari 873 kasus dapat dilihat pada tabel berikut : Table 5. Distribusi persalinan seksio sesarea berdasarkan paritas ibu Paritas n % 0-1 2-4 5 Jumlah 640 209 17 866 73,9 24,1 2,0 100

49

Dari tabel dapat dilihat bahwa angka kejadian seksio sesarea terbanyak pada paritas 0-1 yaitu 640 kasus (73,9%), berikutnya paritas 24 sebanyak 209 kasus (24,1%) dan terakhir paritas 5 sebanyak 17 kasus (2%). Hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Mayor HA Thalib Kabupaten Kerinci tahun 2007 dimana didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea lebih tinggi dari multipara yaitu sebesar 65,1% dibanding primipara yaitu 31,1%.\ Paritas juga merupakan salah satu yang mempengaruhi angka kejadian seksio sesarea. Dari penelitian yang dilakukan di rumah sakit pendidikan Leiden Nederland dan rumah sakit Dr Hasan Sadikin Bandung didapatkan bahwa angka kejadian seksio sesarea pada primigravida lebih tinggi dibanding multigravida. Francome dan Huntingford dan juga Well dan Gleicher menyatakan bahwa angka kejadian seksio sesarea pada primigravida tiga kali lebih tinggi dibanding multigravida. Paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman jika ditinjau dari sudut kematian maternal, sedangkan paritas 1 dan lebih dari 3 mempunyai kematian maternal yang lebih tinggi (Prawiroharjo,2005 : 23)

5.

Usia kehamilan Dari 873 orang ibu yang bersalin dengan seksio sesarea di RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009, hanya 860 orang

50

ibu yang memiliki data usia kehamilan sebagaimana tertera pada tabel dibawah ini : Table 6. Distribusi persalinan seksio sesarea berdasarkan usia kehamilan Usia Kehamilan n % preterm aterm posterm Jumlah 78 765 17 860 9,07 88,95 1,98 100

Dari tabel diatas tampak bahwa persalinan dengan tindakan seksio sesarea dilakukan paling banyak pada ibu dengan usia kehamilan aterm sebesar 765 orang ibu (88,95%), sisanya pada usia kehamilan preterm sebesar 78 orang ibu (9,07%) dan usia kehamilan posterm sebesar 17 orang ibu (1,98%). Usia kehamilan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah insidens seksio sesarea. Usia kehamilan ikut mempengaruhi

diambilnya suatu keputusan medis untuk mengakhiri persalinan melalui pervaginam atau perabdominal, di tambah dengan indikasi lain yang mengharuskan dilakukannya tindakan pembedahan.

6.

Riwayat seksio sesarea Berdasarkan hasil penelitian riwayat seksio sesarea sebelumnya pada ibu yang melahirkan dengan seksio sesarea di RSMH Palembang dapat dilihat pada table berikut : Table 7. Distribusi persalinan seksio sesarea berdasarkan riwayat seksio sesarea

51

Riwayat seksio sesarea sebelumnya Tidak Ya Jumlah

n 733 140 873

% 84 16 100

Dari table diatas dapat dilihat bahwa tindakan seksio sesarea dilakukan pada ibu yang melahirkan dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya sebesar 140 orang ibu dan sisanya tanpa riwayat seksio sesarea pada persalinan sebelumnya sebesar 733 orang ibu (84%).

52

BAB KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Pada penelitian ini didapatkan bahwa tindakan seksio sesarea terjadi pada 873 orang ibu (27,93%) dari 3125 orang ibu yang melahirkan di Bagian Kebidanan RSMH Palembang pada periode 1 Januari-31 Desember 2009. 2. Pada beberapa kasus ada lebih dari satu indikasi medis yang melatarbelakangi diambilnya keputusan untuk melakukan

tindakan seksio sesarea sehingga total ada 1159 kasus, indikasi terbanyak adalah faktor ibu sebesar 768 kasus (66,26%), kedua adalah faktor janin sebesar 294 kasus (25,37%) dan terakhir adalah dari faktor waktu sebesar 97 kasus (8,37%). 3. Hipertensi dalam kehamilan termasuk faktor ibu yang merupakan indikasi tertinggi yang melatarbelakangi tindakan seksio sesarea sebanyak 185 kasus (24,09%) 4. Letak bokong merupakan indikasi tertinggi dari faktor janin sebesar 65 kasus (22,11%). 5. Fase laten memanjang termasuk indikasi tertinggi dari faktor waktu sebesar 35 kasus (36,08%).

53

6.

Kasus seksio sesarea terbanyak dilakukan pada golongan umur 25-29 tahun sebanyak 275 kasus (32,5%).

7.

Faktor resiko seksio sesarea pada ibu yang berusia 35 tahun cukup tinggi, yaitu sebesar 181 kasus (21,4%).

8.

Persalinan dengan tindakan seksio sesarea paling banyak ditemukan pada primipara, yaitu 640 kasus (73,9%).

9.

Persalinan dengan tindakan seksio sesarea paling banyak dilakkukan pada ibu-ibu dengan usia kehamilan aterm sebesar 765 kasus (88,95%).

10. Riwayat seksio sesarea pada persalinan sebelumnya tidak terlalu berpengaruh terhadap cara atau proses persalinan berikutnya.

B. Saran 1. Tindakan seksio sesarea sebaiknya dilakukan atas dasar indikasi yang tepat dan kuat demi keselaatn ibu dan janin sehingga prevalensi seksio sesarea dapat diturunkan. 2. Meningkatkan Vaginal Birth After Caesarean (VBAC) kecuali pada keadaan-keadaan dengan kelainan yang menetap seperti panggul sempit atau apabila ada kontraindikasi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya VBAC 3. Perlunya pengetahuan ibu hamil tentang prenatal care sehingga faktor risiko atau hambatan-hambatan dalam proses persalinan bisa dihindari.

54

4.

Pentingnya komunikasi dua arah antara penolong dan pasien sejak masa kehamilan sehingga kondisi kehamilan dapat terus dipantau dan persalinan yang terjadi merupakan cara terbaik untuk kesehatan ibu dan janinnya.

5.

Pengisian rekam medis hendaknya dilakukan dengan teliti, lengkap dan tulisan yang mudah dibaca sehingga dapat digunakan dengan baik dan akurat untuk kepentingan penelitian dokter, pihal rumah sakit dan terutama pasien itu sendiri.

55