Anda di halaman 1dari 17

KARIES

Karies gigi adalah penyakit infeksi, proses patologis pada jaringan keras gigi yang terjadi karena adanya interaksi berbagai faktor (multifaktor) dalam rongga mulut, ditandai dengan hilangnya ion-ion mineral secara kronis dan berlanjut, baik dari emai mahkota maupun permukaan akar. Etiologi Karies dinyatakan sebagai penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies. Ada tiga faktor utama yang memegang peranan yaitu : 1. Host (tuan rumah) Yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. 2. Agen (mikroorganisme) S. mutans yang diakui sebagai penyebab utama karies oleh karena S. mutans mempunyai sifat asidogenik (menghasilkan asam) dan asidurik (resisten terhadap asam). 3. Diet (substrat) Membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies. 4. Waktu Waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan. Saat ini telah dikenal beberapa faktor yang berperan dalam permulaan karies pada gigi. Berikut ini lima faktor yang telah ditemukan yang mempengaruhi karies : 1. Bakteri di dalam plak Akumulasi plak dan retensi yang menyebabkan meningkatnya kesempatan untuk fermentasi karbohidrat oleh bakteri acidogenic yang mengandung oral biofilm, yang akhirnya menyebabkan produksi dan penyimpanan asam-asam organik pada plak atau permukaan gigi. Plak adalah lapisan polisakarida semitransparan yang melekat dengan kuat ke permukaan gigi dan mengandung organisme patogen. Diawali oleh terbentuknya pelikel-lapisan glikoprotein dari saliva, lalu bakteri melekat pada pelikel itu untuk kemudian melekat ke permukaan gigi, atau ke permukaan akar yang terekspos. Streptococci merupakan spesies bakteri pertama yang melekat ke permukaan gigi dan memulai pembentukan plak. Spesies-spesies lain secara progresif kemudian menginfiltrasi plak, dan setelah beberapa hari, bakteri batang gram negatif ulai predominasi. Bakteri yang paling kariogenik adalah streptococcus, seperti S.mutans, S.Sobrinus, dan juga Lactobaccilus. Metabolisme karbohidrat oleh bakteri-bakteri di dalam plak ini dapat menyebabkan menurunnya level pH pada permukaan gigi. Derajat penurunan pH tergantung dari ketebalan plak, komposisi bakteri di dalam plak, dan efisiensi kemampuan buffer saliva. Demineralisasi permukaan gigi sebanding dengan tingkatan pH dan durasi kontak pH plak yang rendah dengan permukaan gigi. 2. Frekuensi dari karbohidrat yang di konsumsi Hal ini dapat berlanjut menjadi faktor yang berperan besar pada terjadinya karies. Hal ini disebabkan bakteri plak memetabolisme karbohidrat dan memproduksi konsentrasi asam-asam organik yang dapat melarutkan apatit. Berdasarkan penelitian, asam yang dihasilkan dari fermentasi karbohidrat adalah asam organik lemah yang pada kebanyakan kasus hanya menyebabkan demineralisasi tingkat rendah. Namun bila sering mengonsumsi gula dalam waktu yang lama, karies akan berkembang sangat cepat. 3. Frekuensi dari asam-asam makanan (dietary acids) yang biasa terdapat pada soft drink, minuman berenergi, jus buah, dll juga dianggap sebagai faktor yang dapat mempertinggi resiko karies dan erosi. 4. Faktor pelindung alami seperti pellicle, saliva dan plak baik (bebas dari bakteri acidogenic) mempunyai peran penting dalam mencegah karies atau membatasi kemajuan prosesnya. 5. Flouride dan elemen lain berperan dalam mengontrol perkembangan karies Penyebab karies yang terjadi pada anak-anak tidak terlalu variatif. Secara umum karies pada anak terjadi disebabkan oleh: 1. Kebiasaan minum susu, air gula, jus, atau minuman mengandung karbohidrat lainnya menggunakan botol/dot saat berbaring sampai tertidur sehingga sisa minuman tersebut berada di dalam mulut dan menempel pada gigi. Umumnya, gigi desidui yang mudah terinfeksi adalah gigi anterior rahang atas, dan pada gigi rahang bawah lebih sedikit terkena karena terlindungi oleh lidah. Ada beberapa istilah untuk kasus ini, yaitu Baby Bottle Tooth Decay (BBTD), Baby Bottle Caries (Nursing Bottle Caries), Nursing bottle syndrome, Night Bottle syndrome, dll. 2. Anak yang ibunya memiliki jumlah S. mutans yang tinggi ( ibu memiliki resiko karies tinggi ) kolonisasi bakterinya lebih cepat daripada anak yang memiliki ibu dengan jumlah S. mutans yang rendah pada salivanya.

Histopatologi Histopatologi adalah ilmu yang mempelajari penampakan mikroskopis dari proses terjadinya penyakit, dalam hal ini adalah karies, dengan melihat keadaan enamel dan dentine.

1)

Caries enamel

Waktu yang diperlukan untuk White Spot agar dapat terlihat apakah 4 minggu. Secara histologi, keadaan ini tampak meruncing dengan dasarnya pada permukaan gigi, sedangkan bagian apeks menuju dentinoenamel junction dengan tampaknya 4 layer diatas.

2)

Fissure Caries Proses pembentukan lesi pada jenis karies ini bergerak ke arah dentinoenamel junction, searah dengan enamel prisma. Penampakannya ditandai dengan bentuk meruncing. Karena lesi ini berkembang searah dengan dentinoenamel junction dan enamel prisma, pembentukannya akan menjadi semakin besar menuju dentin.

3)

Dentine Caries Terbagi menjadi 5 zona, berurutan dari luar ke dalam, yaitu :

Zona 1, daerah yang mengalami dekomposisi total. Zona 2, daerah yang menuju dekalsifikasi dentin dan telah diserang oleh bakteria. Zona 3, daerah yang merupakan dekalsifikasi dentin yang tidak diserang lagi oleh bakteria. Zona 4, daerah dentin yang transclucent. Zona 5, daerah dentin yang normal namun proses odonthoblastic menunjukkan degenerasi awal.

Imunopatogenesis Karies gigi merupakan akibat dari infeksi bakter yang dapat merangsang sistem iun sehinggga memproduksi antiodi. Antibodi tersebut akan bereaksi dengan antigen baktersi dan membentuk kompleks imun yang komplemen. Antibodi tersebut akan mengikat dan menghancurkan bakteri tersebut pada proses fagositisis atau lisis. SIgA manusia dapat menghambat aktifitas enzim glukosiltansferase yang beasal dari bakreri oral dan menbantu menghambat perlekatan baktersi pada permukaan gigi. Jumlah sIgA pada pasien dengan kasus karies yang ringan prosentasinya lebih tinggi daripada pasien dengan kasus karies yang berat. Hal ini menunjukan peranan antibody sebagai pertahanan tubu, terurtama peranan sIgA dalam rongga mulut yang mencegah perlekatan kuman pada mukosa mulut dan gigi sehingga dapat disimpulkan bahwa sIgA berperan dalam pencegahan karies. Klasifikasi Karies Karies terbagi menjadi 4 tipe dasar, yaitu: 1. Pit dan fissure, bermula dari enamel Cara melihatnya dengan ada atau tidaknya stain di bagian fissure dan pit. Tahapan dari proses karies pit dan fissure I. II. Small pit. Mikroorganisme menyerang salah satu bagian gigi rentan yaitu pit

Bluish-white. Karena dentin lebih lunak dari enamel makan dentinoenamel yang diserang sehingga terlihat warna keputihan di ename (white spot) Open Cavity. Terlihatnya kavitas besar berwarna coklat muda seiring dengan diserangnya dentinoenamel junction. Pulpitis. Pulpa mulai diserang sehingga terjadi infeksi. Apical abscess. Pulpa mati dan gigi tidak baik, pulpitis sudah menyerang bagian ligament periodontal.

III. IV. V. 2.

Smooth surface karies, bermula dari enamel Sering ditemukan pada bagian kontak interproksimal namun juga dapat terjadi pada permukaan lunak yang lain. White spot- enamel habcur-karies. Karies masih bersifat reversible sehingga dapat dilakukan perawatan dengan diet dan pemberian mineral untuk membantu proses remineralisasi.

3.

Root caries, terdapat pada cementum bagian akar dan dentine

Pada awal karies adalah rusaknya cementum, dan dentin sehingga terbentuk kavitas pada bagian tersebut. Banyak ditemukan pada oran dewasa.

4.

Secondary caries, terdapat pada permukaan marginal dari restorasi

Macam Karies pada anak-anak

Rampant caries. Muncul dan menyebar pada waktu yang singkat, mencapai pula dengan cepat dan menghilangkan struktur gigi.Nursing bott caries adalah salah satu contoh dari rampant caries. Nursing bottle caries merupakan kebiasaan minum susu dari botol dalam waktu yang la

Klasifikasi Kavitas Karies Menurut G.J Mount dan W.R Hume lesi karies hanya terjadi di tiga tempat pada mahkota atu akar oleh katrena itu, parameter pertama untuk klasifikasi kavitas adalah tiga tempat, yakni : Site 1 : Pit, fissure dan kerusakan enamel pada permukaan oklusal dari gigi posterior atau permukaan halus lainnya Site 2 : Enamel, aproksimal yang berkontak dengan gigi di sebelahnya Site 3 : Sepertiga servikal mahkota, atau diikuti resesi gingiva akar terekspos Kemudian, ada lima ukuran lesi : SIZE 0. Lesi paling awalyang dapat diidentifikasi sebagai tingkat permulaan demineralisasi SIZE 1. Kavitas permukaan minimal yang melibatkan dentin sedikit diluar perawatan remineralisasi. SIZE 2. Sedikit melibatkan dentin, dengan menyisakan enamel yang disokong dengan baik oleh dentin dan masih dapat beroklusi dengan normal. SIZE 3. Lesi telah membesar, stuktur gigi lemah dengan cusp-cusp telah mengalami kerusakan sehingga tidak beroklusi dengan baik. SIZE 4. Karies telah melebar dan hampir merusak struktur gigi dalam jumlah yang besar. Pembagian kelas kavitas: Kelas 1. Pada gigi anterior terdapat pada bagian cingulum, sedangkan pada gigi posterior terdpat pada permukaan oklusal. Kelas 2. Terdapat pada bagian proksimal. Kelas 3. terdapat pada gigi anterior di bagian proksimal yang tidak melewati bagian insisal dan bukal. Kelas 4. Patahan pada bagia insisal kearah proksimal. Kelas 5. Karies pada bagian servikal. Teori menurut Mount: DO. Tidak ada kelainan. D1. Lesi kering. Belum ada kavitas. D2. Lesi basah. Belum ada kavitas. D3. Karies email.

Mekanisme Interaksi Ion Asam dengan Apatit Demineralisasi dan remineralisasi terjadi secara dinamis pada permukaan gigi. Namun apabila terjadi ketidakseimbangan antara keduanya dapat terjadi karies, yakni jika demineralisasi lebih besar daripada remineralisasi. Interaksi faktor-faktor etiologi karies Demineralisasi Plak + karbohidrat Remineralisasi Saliva + kehigienisan + fluoride Faktor pelindung alami

Faktor faktor yang berperan terhadap keseimbangan demineralisasi dan remineralisasi Faktor destabilisasi Diet + plak = asam plak Penurunan produksi saliva Tingkat buffer dan pembersihan mulut yang rendah Saliva yang bersifat asam dan asam yang bersifat erosif a) Faktor penstabil Saliva & kapasitas buffer Tingkat Ca2+ dan PO43Sistem buffer dan remineralisasi Protein pembersih mulut glikoprotein Pemaparan terhadap fluoride /

Demineralisasi Komponen mineral dari enamel, dentin, dan sementum adalah Hidroksiapatit (HA) Ca 10(PO4)6(OH)2. Pada lingkungan netral HA seimbang dengan lingkugan lokal (saliva) yang banyak mengandung ion-ion Ca 2+ dan PO43-. HA bersifat reaktif dengan ion hidrogen dibawah pH 5,5; atau biasa dikenal dengan pH kritis HA. H + bereaksi secara khusus dengan fosfat dengan segera didekat permukaan kristal. Proses tersebut dapat dapat dideskripsikan sebagai konversi PO 43menjadi HPO42- melalui adisi H+ dan pada saat yang sama H+ menjadi penyangga. HPO42- kemudian tidak dapat berperan kembal pada keseimbangan HA karena mengandung PO 43- lebih daripada HPO42-. Selanjutnya kristal HA pun larut. Inilah yang disebut deminerilasi.

b)

Remineralisasi Proses demineralisasi dapat dibalikkan jika pH di netralkan dan terdapat ion Ca 2+ dan PO43- dalam jumlah yang cukup. Pelarutan apatit dapat menjadi netral dengan menyangga ( buffering), dengan kata lain Ca2+ dan PO43- pada saliva dapat mencegah proses pelarutan tersebut. Ini dapat membangun kembali bagian-bagian kristal apatit yang larut. Inilah yang disebut remineralisasi. Secara umum, karies gigi dapat terjadi jika proses demineralisasi lebih tinggi dibanding proses remineralisasi.

c) Rekasi Lanjutan Ion-ion asam dengan apatit Selama erupsi gigi terdapat proses mineralisasi berlanjut yag disebabkan adanya ion kalsium dan fosfat dalam saliva. Pada mulanya apatit enamel terdiri atas ion karbonat dan magnesium namun mereka sangat mudah larut bahkan pada keadaan asam yang lemah. Sehingga terjadi pergantian, yakni hidroksil dan floride menggantikan karbonat dan magnesium yang telah larut, menjadikan email lebih matang dengan resistensi terhadap asam yang lebih besar. Tingkat kematangan atau resistensi asam dapat ditingkatkan dengan kehadiran flouride. Lihat bagan di bawah ini ! + H+ Ca10(PO4)6(OH)2 - H+ + FCa10(PO4)6(OH).F atau F2 Pada saat pH menurun, ion asam bereaksi dengan fosfat pada saliva dan plak (atau kalkulus), sampai pH kritis disosiasi HA tercapai pada 5,5. Penurunan pH lebih lanjut menghasilkan interaksi progresif antara ion asam dengan fosfat pada HA, menghasilkan kelarutan permukaan kristal parsial atau penuh. Flouride yang tersimpan dilepaskan pada proses ini dan bereaksi dengan Ca2+ dan HPO42- membentuk FA (Flouro Apatit). Jika pH turun sampai dibawah 4,5 yang merupakan pH kritis untuk kelarutan FA, maka FA akan larut. Jika ion asam dinetralkan dan Ca2+ dan HPO42 dapat ditahan, maka remineralisasi dapat terjadi. d) Kemungkinan Lanjutan Ini terlihat dari diagram siklus pH, yakni tergantung dari kekuatan asam yang ada, frekuensi dan durasi dari produksi dan potensial remineralisasi pada setiap situasi khusus, maka salah satu kemungkinan lanjutan dibawah ini dapat terjadi: Enamel dapat melanjutkan kematangannya, menjadi lebih resisten terhadap asam Karies kronis dapat berkembang Demineralisasi lambat dengan remineralisasi subpermukaan/subsurface lesion) Karies besar dapat timbul Demineralisasi tinggi dengan remineralisasi lemah Erosi dapat terjadi Demineralisasi sangat tinggi, tanpa remineralisasi sama sekali Ca2+ + (HPO4)3 + OH

aktif

(lesi

Tahap Pemeriksaan Anamnesis pemeriksaan klinis dan pendukung diagnosa rencana perawatan prognosis 1. Anamnesis Wawancara yang dilakukan oleh dokter dan pasien yang mencakup riwayat kesehatan umum & gigi, keluhan utama pasien, riwayat keluarga (genetik), dan riwayat sosial pribadi. Anamnesis bersifat subjektif. 2. Pemeriksaan a. Klinis: Extraoral : Memeriksa bagian kepala dan leher yang terlihat. Pemeriksaan rahang sangat penting. Contoh : Pemeriksaan secara umum pada pasien, pemeriksaan pada wajah, pemeriksaan pada daerah submental dan limfonodus pada mandibula, daerah parotid yang meliputi limfonodus, daerah TMJ, telinga, leher dan limfonodus servikal yang meliputi nodus supraklavikular, glandula tiroid Intraoral : Tampak umum dari kesehatan oral. Pemeriksaan terhadap phonetic, oklusi, susunan gigi, fungsi organ dalam mulut, dan kondisi jaringan dalam mulut sangat penting untuk diperhatikan. Contoh : Bibir dan sudut mulut, membran mukosa bibir, vestibulum lateral dan bukal, papilla dari duktus parotid, palatum durum dan gingival di palatal, palatum molle, tonsilla dan posterior faring, lidah-dorsum (papilla), ventrum (pembuluh darah, fimbriated fold), batas lateral, dasar mulut dan gingival lingual, gigi geligi (oklusi, karies, serta kelainan lain) b. Pendukung: Radiografis : Pemotretan yang digunakan adalah posterior bitewing (untuk melihat kondisi mahkota), periapikal (untuk melihat kondisi jaringan periodontal jika karies sudah cukup dalam), dan panoramic (melihat kondisi keseluruhan). Laboratoris : Pemeriksaan laboratorium yang digunakan adalah dengan menggunakan 16 faktor resiko karies. Pemeriksaan ini akan dipaparkan dalam Matriks Lampu lalu lintas (Traffic Light-Matrix). Hasil dari pemeriksaan ini dipaparkan dengan warna dan matriks, yaitu merah, kuning, dan hijau, yang mana menjadi alasan mengapa pemeriksaan ini disebut demikian. Merah jika faktor tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan karies. Walaupun unsur yang lainnya dapat diterima, jika ada warna merah, kemungkinan karies terjadi masih ada. Kuning jika faktor itu tidak terlalu membahayakan, tetapi masih berpotensi namun tidak sekuat potensi merah. Hijau jika keadaan tersebut bagus.

ke-16 faktor resiko yang diperiksa adalah: 1. SALIVA kemampuan kelenjar saliva minor dalam menghasilkan saliva (normal: di bawah 30 detik), viskositas (normal: berair, sediki berbusa, dan bisa membentuk suatu lapisan berkilau di dasar mulut), pH saliva tanpa stimulasi (normal: > 6,8), pH saliva dengan stimulasi (normal: setelah 5 menit, yang dihasilkan > 5ml), kapasitas buffer saliva yang distimulasi (normal: GC corp: 10-12; Vivadent: high). 2. DIET jumlah konsumsi gula (normal: nil) dan asam (normal: 1) setiap harinya 3. FLUORIDE riwayat pengaplikasian fluoride (normal: menggunakan air dan pasta gigi yang mengandung flouride) 4. PLAK/ORAL BIOFILM perbedaan stain (normal: stain merah), komposisi (normal: S. mutans <10 5CFU; Lactobacilli <104 CFU), dan aktivitas 5. FAKTOR MODIFIKASI riwayat kesehatan gigi, riwayat kesehatan umum, keluhan, gaya hidup, dan status sosioekonomi. Tentu saja yang normal adalah yang baik. 3. Diagnosis Memeriksa pasien dan memastikan penyakit pasien berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan. Multi diagnosa dapat terjadi jika terdapat gejala yang mirip yang belum bisa dipastikan, tetapi sebaiknya jangan ada. 4. Rencana Perawatan Rencana perawatan yang akan dilakukan harus direncanakan berdasarkan ukuran dan jenis lesi, jumlah lesi, caries yang sebelumnya, umur pasien, tingkat keberhasilan perawatan, status kesehatan gigi pasien sekarang, dan adanya kemungkinan untuk pemeriksaan rutin. 5. Perawatan Invasif dengan menggunakan prinsip minimal intervention. amalgam Komposisi: Alloy ( Ag, Sn, Cu, Zn) Merkuri (Hg) Sifat-sifat Flow. Dapat mengalir mengisi ruang kosong dengan meluncur bebas. Deformasi plastis karena adanya tekanan Tarnis. Memiliki permukaan yang kasar Korosi. Merubah warna gigi Creep. Berubah bentuk perlahan-lahan seperti yang terjadi pada logam yang dipanaskan dan keramik, kalau menerima tekanan restorasi amalgam dapat mengalami flow atau creep pada tekanan kunyah yang kuat Shringkage dan expansion. Kekuatan amalgam Kekuatan minimal Compressive strength : 3200 kg/cm2 Tensile strength : 500 kg/cm2 Faktor-faktor Rasio Hg dan bubuk alloy,Ukuran partikel,Porusitas,Triturasi dan kondensasi, Setting time, Toksik Manipulasi Manual. Menggunakan mortal dan pastel lalu adul bubuk alloy dan liquid Hg, lalu lakukan pemerasan (untuk membuang sisa merkuri), dengan teknik finger stall trituraion. Mekanik. Menggunakan amalgamator (triturasi dan mulling dilakukan sekaligus) Insersi hasil manupali amalgam tersebut ke dalam kavitas yang telah dipreparasi dengan menggunakan amalgam pistol Lalu kondensasi dengan menggunakan amalgam stopper Setelah kavitas terisi dengan baik amalgan yang telah dikondensasi lalu dibentuk fissura dengan menggunakan amalgam carver. Setelah itu burnishing dengan burnisher Indikasi Untuk preparasi kelas I dan III Pada daerah dengan tekan kunyah yang besar Kontraindikasi Pasien dengan riwayat alergi Untuk preparasi yang mempehalikan estetik (kelas III dan V) Kelebihan Adaptasi terhadap dinding kavitas baik Kuat terhadap tekanan kunyah Tidak larut dalam cairan mulut Mudah dikerjakan Dapat dipoles Ekonomis Kekurangan Warna tidak harmonis Kekuatan tepi jelek Konduktor yang baik Galvanic action

Korosi Merubah warna gigi.

GIC (glass ionomer cement) Komposisi dan Reaksi GIC merupakan hasil pengembangan teknologi berupa penggabungan dari silikat dan polyakrilik sehingga didapatkan bahan yang memiliki kelebihan-kelebihan kombinasi keduanya. GIC tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan. Perekatan GIC dengan enamel dan dentin berlangsung selama proses setting. Mekanisme perekatan antara GIC dengan enamel dibantu dengan adanya interaksi ion kalsium di permukaan enamel atau dentin. Agar perketan terjadi dengan sempurna maka bagian yang akan direkatkan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cleansing agent. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah ion kalsium. Manipulasi Campuran antara asam carboxylic (liquid) dengan cement memiliki ratio sebesar 1.3 1.35 : 1. Sedangkan campuran antara cement dengan air memiliki ratio sebesar 3.3 3.4 : 1. Kemudian letakkan bubuk dan cairan di atas kertas kertas atau mixing slab, bagi kedalam 4 bagian sama besar, campurkan bagian demi bagian bubuk dengan cairan. Mixing time yang dimiliki adalah 45 detik dengan ketentuan harus langsung digunakan karena working time yang dimiliki adalah 2 menit pada suhu 22 celcius namun akan bertambah menjadi 9 menit jika menggunakan mixing slab yang telah didinginkan pada suhu 3 celcius. Namun akan mengurangi ketahanan bahan akan tekanan dan elastisitas. Properties setting time memiliki setting time 6 8 menit dimulai dari saat pencampuran. Namun waktu ini dapat diperpanjang dengan menggunakan mixing slab yang telah didinginkan dengan resiko ketahanan yang menurun. Kekuatan Memiliki kekuatan terhdap tekanan sebesar 117 135 MN/m2.. kekuatan ikatan kekuatan ikatan GIC terhadap dentin lebih rendah dari polyakrilik, ini disebabkan GIC sensitive terhadap kelembapan selama setting time. Oleh karena itu diperlukan membersihkan permukaan dengan FeCl 3 sebelum diaplikasikan. Kelarutan Tingkat kelarutan GIC dalam air cukup rendah jika dibandingkan dengan bahan cement lainnya Biokompatibilitas Reaksi yang ditimbulkan jaringan terhadap GIC tidak menunjukan gejala yang perlu dikhawatirkan. Kelemahan utama dari GIC adalah kurang translucent dan memiliki permukaan yang kasar

Aplikasi Pada umunya GIC digunakan untuk keperuan restorative untuk daerah cervical dimana adanya resesi gingival. Jika digunakan dengan asam citric melapisi sebagai pelapis dentin, tidak dibutuhkan prepasi kavitas. Selain itu dapat juga diaplikasikan untuk pit and fissure sealent dan edodontic sealer. Clinical Considerations

Tipe 1 Luting Di bawah ini adalah alasan utama mengapa GIC digunakan sebagai luting : Ketebalan akhir yang baik Kelarutan yang rendah dalam lingkingan oral, Memiliki kekuatan tensil dan tahan terhadap abrasi yang sama dengan zinc phosphate, Adanya pelepasan fluoride yang berkelanjutan, Toleransi jaringan yang tinggi terhadap pulpa dan gingival. Kekuatan terhadap retensi Ini sangat baik untuk area dinding vertikal pada preparasi dan keakuratan yang tepat. Ini tidak baik untuk retensi dengan luting agent karena kekuatan tensilnya antara 2-4 MPa. Maka dari itu GIC tidak boleh digunakan karena sifat dari retensinya dan kondisi gigi yang tidak boleh bereaksi yang dapat mengakibatkan meningkatkan ikatan (adesi) yang tidak diinginkan.

Tipe 2.1 Restorative aesthetic Di bawah ini adalah alasan utama mengapa GIC tipe 2 digunakan sebagai restorasi : Material autocure dan resinmodified memiliki nilai estetik dan translusen Sifat fisik dari GIC akan bertahan cukup lama jika restorasi didukung penuh oleh struktur gigi dan hindari tekanan kuat pada bagian oklusal gigi anterior. Adesi dapat terjadi jika permukaan gigi dilapisi FeCl3 sehingga dapat mengeliminasi dari kebocoran. Material bertindak sebagai penghasil fluoride. Karena tipe ini dari material bioactive jadi selalu akan terjadi pertukaran fluoride dan ion- ion lain antara gigi, bahan restorasi dan lingkungan mulut. Tipe 2.2 Restorative reinforced Alasan ini digunakan jika dibutuhkan seting time yang cepat dengan meningkatkan sifat fisik tanpa memperhatikan sifat estetika dan translusen. Tipe 3 Lining and base cement Ada 2 perbedaan aplikasi berdasarkan ratio bubuk dan cairan Kandungan bubuk yang rendah harus digunakan untuk melapisi gigi sebelum direstorasi untuk mencegah pertukaran panas yang menyebabkan iritasi pulpa. Kandungan bubuk yang tinggi (ratio 3.5 : 1 atau lebih) harus digunakan sebagai basis atau pengganti dentin. resin komposit

: bahan restorasi kedokteran gig yang terdiri dari matriks resin organic, bahan pengisi filler anorganik, dan coupling agent. Selain itu resin merupakan bahan adhesive restoratif material. Properties Polimerisasi Shrinkage merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari. Pada jenis Resin mircohybrid peristiwa tersebut sangat sedikit terjadi karena kandungan resin yang tdak terlalu banyak. Water Sorption. penyerapan jumlah air oleh bahan sepanjang waktu per unit daerah permukaan atau volume. Bahan dengan kandungan partikel filler yang lebih tinggi, maka nilai water sorption lebih rendah. Koefisien thermal expansion. Nilai peubahan dimensi bahan perunit berubah dalam temperature. Koefisien thermal expansion resin mendekati Koefisien thermal expansion email. Wear presistance. Kemampuan bahan untuk menahan kehilangan permukaan sebagai hasil kontak abrasi dengan struktur gigi antagonis. Elastic modulus. Merupakan kekakuan bahan dari komposit yang didominasi oleh jumlah filler yang terkandung. Radioopacity. Kebanyakan komposit mikrohibrid merupakan radiopak. Ntensitas radiopak tergantung kandungan partikel filler. Warna yang cocok dengan struktur gigi. Mudah dimanipulasi. Mudah dalam polishing and finishing. Indikasi Restorasi resin komposit digunakan untuk merestorasi : Karies interproksimal gigi anterior Karies interproksimal yang mencapai insisal gigi anterior Karies servikal pada gigi yang membutuhkan sifat estetis Gigi yang seluruh bagian preparasinya berbatasan dengan enamel Untuk seluruh indikasi ini, daerah operatif harus diisolasi untuk mendapatkan ikatan yang maksimal. Kontraindikasi Restorasi resin komposit harusnya tidak digunakan pada kondisi : Daerah operatif tidak dapat cukup terisolasi. Beberapa restorasi servikal yang tidak membutuhkan sifat estetis. Beberapa restorasi yang mencapai permukaan akar (tanpa adanya batas enamel) karena akan terbentuk V-shaped gap (contraction gap) di antara akar dan komposit. Hal ini diakibatkan karena gaya penyusutan polimerisasi komposit lebih besar dari kekuatan ikatan komposit pada dentin akar. Gap ini terdiri dari komposit pada sisi restorasi dan dentin hibridisasi pada sisi akar. Restorative Technique 1. Etching, Priming, and Placing adhesive Pemakaian etching, priming dan adhesive berbeda kententuannya tergantung dari pabrik pembuatnya. Jika bonding dilakukan hanya pada enamel maka dapat mengunakan bahan priming dan adhesive yang ditempatkan dalam 1 botol atau tipe onebottle karena pemakaiannya tidak akan mempengaruhi kekuatan bonding itu sendiri. Jika proses bonding melibatkan dentin maka dentin harus dalam keadaan lembab setelah etching dilakukan dan sebelum pengaplikasian primer. Teknik umum pengaplikasian etching, primer dan adhesive: a. Permukaan proksimal dari struktur gigi yang tidak dipreparasi harus dilindungi dari etching dengan menggunakan polyester strip. b. Lalu gel etsa diaplikasikan pada seluruh permukaan gigi yang dipreparasi 0.5 mm dari gigi sekitar yang tidak dipreparasi. c. Tunggu antara 15-30 detik. Jika preparasi dilakukan pada enamel saja maka etsa didiamkan 30detik sedangkan jika preparasi juga melibatkan dentin maka etsa didiamkan 15 detik. d. Setelah itu etsa dibersihkan menggunakan air. Jika preparasi melibatkan dentin, akan lebih baik jika proses pengeringan tidak menggunakan udara atau chip blower tapi bisa menggunakan cotton pellet, disposable brush atau tissue. Permukaan dentin harus lembab. e. Jika sudah, primer diaplikasikan pada seluruh permukaan struktur gigi yang dipreparasi dengan mikrobrush atau aplikator yang lain. Berapa lama primer harus dipalikasikan, berapa lama harus dicuring, atau apakah membutuhkan lapisan tambahan ditentukan oleh aturan pabrik. Secara umum, dentin akan terlihat lebih mengkilap setelah aplikasi primer. Jika terdapat spot yyang terlihat kering maka lapisan tambahan primer dapat dilakukan. f. Pengaplikasian adhesive yang tidak disatukan dengan primer dapat dilakukan setelah pengaplikasian primer selesai. Adhesive diaplikasikan menggunakan microbrush ke seluruh permukaan gigi yang telh dietsa dan di priming. Adhesive akan dipolimerisasikan dengan light curing yang diaplikasikan secara langsung. Karena material ini berbahan dasar resin, maka secara umum memiliki oxygen- inhibited layer ketika polimerisasi.

2. Matrix application Matriks adalah alat yang diaplikasikan pada gigi yang sedang diprerparasi sebelum insersi dari material restorative. Penggunaan matriks bertujuan untuk: a. mengikat kelebihan material. b. membantu dalam pembentukkan kontour axial tooth yang tepat. c. mengisolasi gigi yang akan dipreparasi sehingga meningkatkan efektifitas dari sistem bonding enamel dan dentin. d. mengurangi jumlah kelebihan material sehingga dapat meminimalisaikan waktu yang diperlukan. Matriks biasanya diaplikasikan dan distabilkan oleh wedges dalam penggunaannya sebelum proses etsa dan bonding. Penggunaan matriks terlebih dahulu sebelum wedges dapat mencegah terjadinya fraktur pada gigi akibat wedges. Jika ternyata fraktur itu terjadi maka harus dilakukan retreatment dengan menggunakan material bonding. Penggunaan wedges diperlukan pada margin gingival untuk membantu menstabilkan posisi matriks, menyediakan slight separation pada gigi,

membantu mencegah overhang material restorasi pada gingival. Ketika proses isolasi juga menggunakan rubber dam, maka sebelum penggunaannya wedges harus dilubrikasi dengan sedikit water-soluble lubricans pada bagian ujungnya. Matriks untuk permukaan proksimal gigi anterior harus terbuat dari material yang tipis seperti polyester atau metal yang mudah untuk dibentuk. Ada 2 tipe utama matriks: Clear polyester strip matriks Digunakan hampir seluruh preparasi kelas III dan IV. Karena permukaan proksimal gigi biasanya konvek insisogingival dan matriks strip berbentuk flat, maka penting untuk membentuk stripnya sesuai dengan kontour gigi. Letakkan matriks paling sedikit 1mm melebihi margin gingival dan insisal dari preparasi. Terkadang matriks strip akan terdistorsi oleh kontak antar gigi yang rapat, karena itu pada kondisi ini penting untuk menggunakan wedges sebelum strip diselipkan. Compound-supported metal matriks jarang digunakan untuk restorasi kelas III dan hanya digunakan sebagai matriks tambahan pada restorasi kelas IV. 3. Inserting and Curing the composits Restorasi komposit ditumpat dalam 2 step, pertama adalah pengaplikasian adhesive bondinga dan selanjutnya baru inserting komposit ke dalam kavitas. Ada 2 tipe resin komposit: Self-cured composit Baik adhesive ataupun material komposit terdiri dari base dan katalis yang terpisah. Setting time dapat dikontrol dengan variaso dari proporsi base dan katalisnya. Biasanya proporsi akan ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Bonding adhesive dicampur pada mixing slab. Bonding adhesive adalah cairan dengan tekanan permukaan yang kecil dan punya kecenderungan untuk bersatu. Komposit material juga dicampur di mixing slab 30 detik untuk mendapatkan percampuran yang homogen. Proses inserting dari self-cured komposit: Waktu interval natara mixing dan polimerisasi sangat sempit karena itu harus berhati-hati dalam mengkoordinasikan agar dapat menghasilkan hasil yang optimal. Step pertama yang harus dilakukanadalah adhesive bonding. Setelah pengaplikasian adhesive bonding, tidak perlu menunggu setting ketika ingin melakukan inserting komposit. Hal ini dikarenakan permukaan luar dari adhesive bonding tidak akan mengeras apabila terekspos ke udara, sehingga penempatan komposit akan secara tidak langsung menutupi permukaan adhesive bonding dari udara dan adhesive bonding dapat mengeras. Seperti yang sudah dijelaskan, pencampuran komposit dilakukan 30 detik. Jumlah waktu yang diperlukan untuk final prosedur adalah 4 menit dengan pembagian 30 detik untuk pencampuran, 1 menit untuk insertion, dan 3 menit untuk final setting. Tahap insertion komposit sebaiknya dilakukan dalam 2 step, yang pertama penumpatan dilakukan setengah dari besar preparasi. Plugger tumpatan dan gunakan adhesive bonding sebagai lubrikasi. Lalu jika sudah baru tumpatkan lapisan kedua komposit untuk memenuhi kavitas. Tahapan ini dilakukan bervariasi tergantung dari besar kavitas, jika kavitas sangat besar dapat dilakukan dengan beberapa kali penumpatan lapisan karena tinggi tumpatan pada komposit paling banyak 2 mm. Komposit self-cured dapat dilakukan baik dengan hand mixing maupun menggunakan syringe.

Light-cured composit Pada light-cured komposit tidak perlu dilakukan pencampuran karena bahan base dan katalis biasanya ditempatkan dalam 1 syringe, kecuali operator menginginkan pencampuran warna untuk mendapatkan tumpatan yang lebih estetis dengan warna gigi pasien. Sama seperti self-cured komposit, step pertma adalah pengaplikasian adhesive bonding. Adhesive bonding di curing 10-20 detik dengan ujung light curing dekat tapi tidak menempel dengan gigi. Setelah itu baru dilakukan inserting koposit material. Light-cured composit disediakan dalam 2 jenis yaitu threaded syringe untuk penumpatan dangn hand instrumen dan self-contained compule yang diltekkan pada syringe untuk melakukan penumpatan dengan menggunakan syringe. Sinari komposit yang telah ditumpat tadi 20 detik. Jaga jarak ujung curing agar tidak merusak kontour dari restorasi. Jika komposit siekspos terlalu lama dengan sinar maka akan menghasilkan polimerisasi dengan warna gelap dan opaque. Pada restorasi besar, penumpatan sebaiknya dilakukan secara incremental. Hal yang harus diperhatikan pada light-cured komposit adalah karena sifatnya yang akan mudah mengeras jika terkena sinar maka sebaiknya setelh komposit dikeluarkan langsung dilakukan penumpatan untuk menhindari terjadinya setting diluar kavitas. 4. Countouring and Polishing the composit Coarse diamond bur dapat digunakan untuk menghilangkan kelebihan material tapi tidak dapat digunakan untuk proses finishing komposit karena beresiko tinggi merusak struktur gigi dan juga biasanya meninggalkan permukaan yang kasar pada restorasi dan gigi. Special fine diamond finishing instrument dapat digunakan untuk proses finishing. Beberapa bagian yang harus dicountouring dan polishing: a. Facial areas Kelebihan material dapat dihilangkan dengan flame-shaped carbide finishing bur atau polishing diamond. Medium speed dengan light intermittent brush strokes dan air collant dapat digunakan untuk menkontour. Sedangkan final finishing dan polishing dapat dilakukan menggunakan rubber polishing point dan terkadang alumunium oxide polishing paste. b. Lingual areas round atau oval carbide finishing bur atau diamond dengan kecepatan medium dengan air collant dan light intermitten pressure digunakan untuk menghilangkan kelebihan komposit dan menghaluskan permukaan. c. Proksimal dan embrasure areas Untuk mengecek contour permukaan proksimal dan margin dapat dilakukan menggunakan dental floss. Bila dental floss menyangkut maka additional finishing diperlukan. Kelebihan material dapat dihilangkan dengan menggunakan sharp gld finishing knife atau scaller. d. Occlusion Dapat dicek dengan menyuruh pasien menutup mulut secara pelan di atas articulating paper dan geser rahang pada bagian yang direstorasi. Jika terdapat kelebihan segera dihilangkan lalu lakukan pengecekan ulang.

Inlay Indirect Restorations merupakan tambalan yang dibuat di laboratorium, di mana sebelumnya gigi dan rahang pasien sudah dicetak oleh dokter gigi kemudian hasil cetakan tersebut dikirim ke laboratorium. Umumnya indirect restorations berupa logam tuang yang akan disemenkan pada gigi yang telah dipreparasi, dan pengerjaannya membutuhkan lebih dari satu kali kunjungan. Material yang

lazim digunakan adalah porcelain, logam paduan emas, atau logam paduan dasar. Indirect restoration umumnya diindikasikan pada gigi belakang (premolar maupun molar). 1. Direct inlay Metode pembuatan suatu inlay atau suatu cor-coran logam dengan menggunakan pola malam yang dibuat langsung dari gigi yang dipreparasi, bukan dari model. Digunakan pada teknik lost-wax casting. 2. Indirect Inlay Metode pembuatan suatu inlay atau suatu cor-coran logam dengan menggunakan model gigi yang pengerjaannya dilakukan di laboratorium. Biasanya, metode inlay dilakukan secara indirect. Pertama-tama gigi pasien yang mengalami karies dibersihkan, atau tambalan lama dibongkar. Kemudian gigi diasah/dipreparasi untuk kedudukan inlay/onlay, setelah preparasi selesai gigi pasien dicetak. Hasil cetakan akan dibawa ke dental lab untuk diproses selanjutnya. Gigi pasien lalu ditutup dengan tambalan sementara. Setelah jadi inlay/onlay, pasien datang kembali dan tambalan sementara akan dibongkar. Kemudian inlay/onlay tersebut dipasangkan kepada pasien. Bila kedudukannya baik maka inlay/onlay tersebut akan disemenkan sehingga cekat dan tidak dapat dilepas sendiri oleh pasien. Permukaan gigi premolar & molar tidak rata melainkan ada cusps. Inlay adalah tambalan yang berada di antara cusp, sehingga ukurannya biasanya tidak begitu luas. Sementara onlay biasanya lebih luas dan menutupi salah satu atau lebih tonjol gigi tersebut. Dapat dikatakan onlay adalah merekonstruksi kembali gigi yang kerusakannya sudah sangat luas.

BAHAN RESTORASI RIGID Aloi Emas Tuang Keuntungan bahan utama ini adalah kekuatannya walaupun dalam bentuk tipis serta ketahanannya terhadap kerusakan kororsi. Emas tuang cocok bagi restorasi yang melapisi seluruh permukaan gigi posterior. Kegagalan restorasi ini jarang disebabkan oleh bahannya, melainkan lebih banyak oleh kesalahan yang diciptakan operator atau dalam jumlah lebih sedikit dari pasien. Emas murni tidak digunakan dalam restorasi tuang karena bahan ini terlalu lunak sehingga dibuatkan aloinya dengan bahan logam lain. Tipe I : Perkiraan kadar emas 90% : lunak Tipe II : Perkiraan kadar emas 75% : medium Tipe III : Perkiraan kadar emas 70% : keras Tipe IV : Perkiraan kadar emas 65% : ekstra keras Kini telah diproduksi sejumlah aloi untuk dikombinasikan dengan lapisan porselen bonding. Yang paling murni berisi sekitar 84% emas dengan platinum dan palladium membentuk bagian terbesar keseimbangannya. Perekat Semen Semen perekat yang telah mengeras akan mengisi dan mengeratkan ketidakteraturan permukaan gigi dengan restorasi yang saling berhadapan. Semen perekat mencegah kebocoran tepi dan lapiasan semen harus dibuat setipis-tipisnya agar tidak terlarutkan cairan mulut. i. GIC tIpe 1 partikelnya lebih halus, dapat membentuk lapisan film yang lebih tipis. ii. Semen Z. Polikarboksilat Reaksi pulpa terhadap semen ini minimal dan semen ini beradhesi ke email. Semen ini tidak lebih baik dari semen ionomer kaca. iii. Semen Zn Fosfat Jika digunakan dengan hati-hati, semen ini memberikan perekatan yang efektif. Walaupun tidak adhesive pada email dan dentin tetapi semen ini sukar dilepaskan dari jaringan gigi kalau restorasinya dibuka karena semen saling mengunci dengan ketidakteraturan permukaan gigi. iv. Semen Perekat Sementara Semen yang berbahan dasar oksida seng dan eugenol telah khusus dibuat untuk perekatan sementara. Kekuatannya tidak seperti semen perekat permanent, tetapi cukup memadai bagi penggunaan sementara. Semen ini tidak cocok bagi penyemenan permanent karena kekuatannya yang rendah dan kelarutannya yang tinggi. Non invasive DHE / dental health education Diberikannya pengertian serta pemahaman kepada pasien mengenai oral hygiene. Metode ini diharapkan dapat mengurangi resiko karies yang timbul akibat pola hidup pasien yang buruk. Metode ini membutuhkan kesadaran yang cukup tinggi dari pasien untuk memperbaiki pola hidup menjadi lebih sehat sehingga mengeliminasi resiko-resiko karies yang akan timbul. DHE mencakup segala usaha yang berhubungan dengan instruksi kontrol plak pada pasien. Terdiri atas 3 tahap, yakni : a) Motivasi Memberikan motivasi mengenai pentingnya melakukan kontrol plak b) Edukasi / Pengajaran Mengajarkan cara-cara membersihkan permukaan gigi dengan alat bantu, seperti : sikat gigi, pasta gigi, dental floss, interdental brush, obat kumur (chlorhexidine). Pada tahap ini bias dibantu dengan penggunaan Dental Disclosing Agent, yang dapat berupa disclosing solution atau tablet. Hal ini digunakan untuk mengetahui adanya plak yang tampak berwarna merah setelah diberi disclosing agent. Kemudian dilakukan penyikatan gigi yang baik untuk menghilangkan plak tersebut. c) Instruksi

Menginstruksikan pasien untuk melakukan sendiri apa yang telah dijelaskan sebelumnya, kemudian, instruksikan pasien untuk kontrol kembali dan memeriksa plaknya, apakah ada perubahan atau tidak.

oral prophylaxis Prophylaxis merupakan penggunaan upaya-upaya untuk mencegah mulainya penyakit gigi dan jaringan lunak. Kadang-kadang diartikan sebagai scalling, pembersihan, dan pemolesan gigi. Prophylaxis sebagai perawatan gigi dilakukan terhadap pasien dalam rangka mencegah penyakit gigi. a) b) c) Oral Hygiene Office Prophylaxis Petunjuk Menyikat Gigi Dalam mengajari anak-anak bagaimana menyikat gigi mereka, kita harus menganjurkan dan memberi instruksi pada mereka untuk membersihkan debris-debris dan plaque dari dari semua permukaan gigi. Metode yang disarankan : Penilaian

Oral hygiene dan teknik menyikat gigi Start Instruction

Jelaskan alasan mengapa harus menyikat gigi Demonstrasikan pada studi model Berikan pesan kepada anak dan orangtua mengenai sikat gigi, pasta gigi, frekuensi, dan durasinya. Kunjungan kedua

Evaluasi kemajuan Memperkenalkan metode penilaian diri sendiri Berikan instruksi yang lebih detail tentang tekniknya Kunjungan berikutnya

Evaluasi kemajuan Perhatikan instruksi sebelumnya Ini adalah hal yang tidak mudah untuk menyikat gigi dengan teknik yang benar, karena untuk beberapa anak, ada yang tidak memiliki keterampilan untuk melakukannya dengan baik dan benar. Hal ini terutama pada kasus anak dibawah umur 5-6 tahun dan anak-anak yang memiliki kemunduran mental dan fisik. Untuk membantunya, dokter gigi harus mengikutsertakan orangtua. Anak-anak yang memiliki kemunduran mental dan fisik harus dianjurkan untuk menyikat gigi mereka sendiri, akan tetapi orangtua boleh membantu. Penginstruksian cara bagaimana menyikat gigi yang baik dan benar diarahkan oleh orangtua. Sikat gigi elektrik juga dapat membantu pasien ini.

d) e) f)

Dental Flossing Disclossing Wafers Oral Rinsing topical application Fluoride Applikasi fluoride dapat di lakukan dengan 3 cara: a. Air minum b. Pasta gigi c. Secara langsung pada permukaan gigi manfaat fluoride : a. Memperlambat perkembangan lesi karies dengan menghambat proses demineralisasi b. Meningkatkan resistensi enamel terhadap acid c. membantu proses remineralisasi d. Menghambat metabolisme bakteri e. Mengurangi wettability dari struktur gigi f. Menghambat pembentukan plak

optimal level of fluoride Kontrol level fluoride optimal akan bervariasi pada tiap orang bergantung pada tingkat keasaman mulut mereka, efek pada lesi yang telah terbentuk. Fluoride tidak hanya mencegah pembentukan lesi tapi juga menstabilkan lesi yang telah terbentuk Pengaruh fluoride terhadap lesi: Mendukung remineralisasi pada karies enamel yang mulai terbentuk Sebagian meremineralisasi karies dentin dan memperlambat proses karies pada lesi koronal berkavitas Meremineralisasi lesi pada permukaan akar Topikal fluoride lebih efektif unutk menghambat karies pada permukaan. Kurang efektif pada fissure dan interproksimal karies karena sulit menghilangkan plak di daerah tersebut Rencana aplikasi Penggunaan aplikasi fluoride minimal pada pagi dan malam hari Retensi fluoride pada gigi bergantung pada konsentrasi fluoride pada aplikasi Concentrated gel digunakan pada kasus karies aktif Pemakaian yang rutin sangatpenting Durasi min 3 menit Gel netral bekerja dengan baik pada porus enamel dan dentin yang terekspos serta lingkungan asam akan membantu fluoride masuk ke dalam struktur gigi Gel APF dapat tersimpan lama sbg flouride Untuk resiko karies rendah, acidulated gel digunakan dengan interval 6-12 bulan Untuk resiko karies tinggi, acidulated gel digunakan dengan interval 6 minggu

Chlorhexidine Paling efektif dalam agent pengontrol karies karena kemampuan adhesive menempel pada gigi dan oral mucosa dalam waktu yang cukup lama. Penggunaanya disarankan setengah jam setelah menyikat gigi, karena sodium dapat memperlambat kerja chlorhexidine. Selain itu sangat dianjurkan untuk menggunaka chlorhexidine dalam bentuk gel karena beberapa diantaranya mengandung kadar alcohol cukup tinggi yang dapat menyebabkan dehidrasi pada oral mucosa. Perlu diperhatikan bahwa penggunaannya, penggunaan berlebihan dapat mengakibatkan bakteri resisten terhadap chlorhexidine. Penggunaan yang rutin dapat meninggalkan noda pada sisa plak yang tertinggal di gigi. pit and fissure sealant : menutup bagian pit dan fisur dengan menggunakan resin dengan viskositas rendah, yang kemudiang diesa asam pada dinding pit dan fisur. Preventive effects: 1. 2. 3. secara mekanik mengisi pit dan fisur dengan acid-resistant resin. Sealant menolak organisme kariogenik pada pit dan fisur yang merupakan habitatnya. Pit dan fisur lebih mudah dibersihkan.

Penggunaan pit-fissure sealant efektif pada tingkat pencegahan. Indikasi sealant:

Tujuan sealant: mencegah karies pada gigi baru erupsi arrest incipient caries (=memberhentikan karies yang baru berkembang) mencegahbakteri parogenik berkembang pada fisur yang sudah di-seal mencegah terjadinya infeksi pada site lain.

Folwable composites, komposit yang memiliki viskositas yang rendah, dianjurakan dalam pemakaian pit-fissure sealant. Komposit ini memiliki sifat good wetting, flow yang cukup, resisten terhadap abrasi, dan resisten yang beik terhadap fraktur. Teknis klinis: 1. Cleaning Bersihkan debris dari pit dan fissure dengan sonde tajam. Gunakan air dengan sikat motor sekeliling permukaan gigi. hal ini untuk menghilangkan plak dan pelikel yang dapat mengganggu etching asam setelahnya. Pumice digunakan sebagai pengganti pasta

profilaksis karena kendungan fluor dan unsure minyak yang akan menurunkan efektivitas etching acid. Bersihkan permukaan dengan water spray untuk menghilangkan partikel pumice. 2. Isolation Menggunakan cotton rill, absorbent shirlds, dan high-volume evacuation with compressed air. 3. Etching Mikroporus di permukaan enamel dibuat dengan teknik etsa-asam. Gunakan 30-50% phosphoric acid solution atau gel dengan kapas kecil/sikat kecil. Perluas daerah etching melewati fissure sampai ke atas ujung dari cusp. Luas daerah yang dietsa harus cukup, karena batas sealant terletak pada enamel yang dietsa. Diamkan selama 20 detik.

4. Washing Enamel yang dietsa dibasuh dengan air kemusian dikeringkan dengan compressed air stream. 5. Application of sealant Untuk chemically cured sealant, instruksi pabrik harus diikuti. Penambahan katalis ke base akan memulai polimerisasi material. Working time terbatas. Untuk visible light-cured sealant, polimerisasi tidak akan sempurna tanpa paparan sinar ultra violet. Lampu kerja dan cahaya lampu juga dapat mempegaruhi waktu kerja. Waktu kerja lebih panjang dari chemically cured sealant. Letakkan resin pada salah satu ujung fissure/pit dan dorong sampai mengalir ke dalam dan ke atas seluruh panjang fissure. Pengaplikasian dengan hati-hati akan mencegah adanya gelembung udara. Dengan light-cured sealant, kemungkinan terjadinya gelembung udara lebih kecil karena tidak ada metrial yang perlu dicampur. 6. Check of occlusal interferences Articulating paper digunakan untuk mengecek perlawanan oklusal bila dibutuhkan. 7. Reevaluation Penting untuk diingat, gigi yang telah disealant harus diperiksa secara berkala untuk memastikan keefektifannya. Mungkin juga sealant perlu diganti yang baru karena yang lama lepas.

6. Prognosis Setelah perawatan selesai dilakukan, pasien harus diberitahu kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi setelah perawatan ini, misalnya kemungkinan timbulnya karies sekunder, perawatan yang akan dilakukan akan bertahan berapa lama, dan sebagainya.

KELAINAN JARIANGAN PERIODONTAL


Periodontitis Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (= jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang). Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan.Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal. Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang. Penyebab Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat pada permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah gusi sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis. Gejala Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang dapat diperhatikan adalah : Gusi berdarah saat menyikat gigi Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak. Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi. Terdapat nanah di antara gigi dan gusi. Gigi goyang. Perawatan Pada kasus-kasus periodontitis yang belum begitu parah, biasanya perawatan yang diberikan adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah tindakan ini, diharapkan gusi akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat kembali dengan baik. Pada kasus-kasus yang lebih parah, tentunya perawatan yang diberikan akan jauh lebih kompleks. Bila dengan kuretase tidak berhasil dan kedalaman poket tidak berkurang, maka perlu dilakukan tindakan operasi kecil yang disebut gingivectomy. Tindakan operasi ini dapat dilakukan di bawah bius lokal.

Pada beberapa kasus dapat dilakukan jaringan gusi, bawahnya. Antibiotik biasanya bawahnya. Perbaikan

tertentu yang sudah tidak bisa diatasi dengan perawatan di atas, operasi dengan teknik flap, yaitu prosedur yang meliputi pembukaan kemudian menghilangkan kotoran dan jaringan yang meradang di diberikan untuk menghentikan infeksi pada gusi dan jaringan di kebersihan mulut oleh pasien sendiri juga sangat penting.

Pencegahan Periodontitis Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi. Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut. Berhenti merokok Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.

Gambar 1 : Periodontitis

Gambar 2. Plak dan karang gigi dapat menyebabkan periodontitis

Gambar 3. gusi yang turun akibat periodontitis

Gingivitis

Gingivitis atau peradangan gingival adalah peradangan pada gingival dimana junctional epithelium tetap melekat pada gigi pada level aslinya Gingivitis tidak terjadi jika gigi memiliki periodontis. Kaena peridontitis adalah jika peradangan melibatkan gingival dan periodontium dan ter hilangnya perlekatan periodontal. Identifikasi Dapat dilihat da ri perubahan warna, tekstur, dankontur jaringan gingival disekitar jaringan atau seluruh lingkaran gigi. Etiologi Factor-faktor yang mempengaruhi gingivitis diantaranya : Plak

Bakteri merupakan penyebab langsung gingivitis. Jika plak dibiarka disekitar gingival maka akan terjadi peradangan sebagai respon terhadap hadirnya racun dari bakteri. Oral Hygiene

Karena bakteri plak penyebab utama gingivitis, status oral hygiene individu mempengaruhi terjadinya gingivitis. Rokok

Belum ada kejelesan bahwa rokok menyebabkan gingivitis namun sering ditemukn perokok menderita gingivitis. Ini dspatdiakibtakn dari vasokonstriksi dari nikotin pada rokok. Penyakita yang diderita atau Pengobatan

Penyakit atau pengobtaan yang diderita dan dijalani pasien biasanya membuat pasien rentan terkena gingivitis Perubahan Hormonal

Perubahan hormonal yang cukup signifikan membuat gingival mudah terserang bakteri. Gambaran Klinis dan Radiografis pada Gingivitis Gambaran Klinis Dalam mengevaluasi gambaran klinis dari gingivitis, sangat diperlukan sistematika yang benar. Kita harus benar-benar memperhatikan perubahan-perubahan pada jaringan dengan jeli dan fokus agar mendapatkan hasil diagnosis yang signifikan. Pendekatan klinis yang sistematik mengenai gingivitis meliputi pemeriksaan warna gusi, outline, konsistensi, posisi, kehilangan/penurunan jaringan, perdarahan dan rasa sakit yang ditimbulkan. 1. Perdarahan Gusi Saat Probing 2. Perdarahan Gusi yang Disebabkan oleh Faktor Lokal

3. 4.

a. Perdarahan Kronik dan Berulang b. Perdarahan Akut Perdarahan Gusi Terkait dengan Perubahan Sistemik Perubahan Warna pada Gingiva a. Perubahan Warna pada Gingivitis Kronik

Gambaran Radiografis Pada penyakit periodontal seperti gingivitis, perubahan gambaran radiografis yang terjadi merefleksikan lesi peradangan pada tulang. Perubahan ini terbagi menjadi dua aspek : 1. Perubahan morfologi pada tulang alveolar penyangga perubahan ini terjadi karena hilangnya crestal bone pada bagian intraproksimal, dan menumpuknya tulang pada aspek lingual atau bukal dari akar gigi. 2.Perubahan densitas internal dan pola trabekular perubahan aspek internal dari tulang alveolar merefleksikan perubahan pada struktur tulangnya. Reduksi/hilangnya jaringan tampak radiolusensi karena menurunnya jumlah dan densitas trabekula yang ada. Pada penyakit periodontal akut biasanya terjadi kehilangan jaringan tulang sehingga tampak radiolusensi. Sedangkan pada penyakit periodontal kronik biasanya terjadi sklerosis tulang yang menimbulkan gambaran radiopasitas. Perawatan Gingivitis Pada prinsipnya perawatan gingivitis adalah dengan menghilangkan faktor penyebabnya yaitu bakteri plak dan atau kalkulus, dengan cara scaling, root planing, kuretase, disertai instruksi pemeliharaan kebersihan mulut. Sementara itu, perawatan untuk kelainan periodontal lainnya tidak jauh berbeda dengan perawatan gingivitis, yaitu dengan menghilangkan faktor penyebabnya, plak dan kalkulus. Selain itu, bila ada kontak prematur dapat dilakukam pengerindian gigi lawan. Macam-macam perawatan periodontik, antara lain : a. Drainase Abses Periodontal Langkah pertama adalah mereduksi abses dan inflamasi dengan cara melakukan drainase dengan kuretase saku gusi atau menginsisi. Pencabutan gigi bila terpaksa bisa dilakukan untuk drainase sehingga eksudat yang purulen dapat keluar dengan lancar. Setelah kuretase, insisi, atau pencabutan, pasien diberi antibiotik dan analgetik. Pasien diinstruksikan untuk berkumur dengan air hangat setiap 2 jam. Kecuali terpaksa, abses periodontal bukan indikasi pencabutan, setelah pasien pulih dari proses drainase, dilakukan scaling atau rujuk ke spesialis periodontik untuk dilakukan bedah periodontal. b. Kuretase Kuretase adalah tindakan untuk membuang dan membersihkan jaringan granulasi dan nektrotik pada luka atau lesi. Pada perawatan periodontal, kuretase adalah menghilangkan jaringan granulasi atau jaringan nekrosis pada dinding dasar saku gusi. Kuretase pada soket gigi dilakukan dengan kuret berbetuk sendok kecil sampai jaringan lunaknya terangkat yang ditandai dengan bunyi kuret menyentuk jaringan keras (tulang). Tindakan hati-hati perlu dilakukan saat kuretase regio gigi posterior bawah karena dapat menyebabkab perforasi pda kanalis mandibularis dan pada gigi posterior atas karena dapat menyebabkan perforasi sinus. c. Scaling Scaling adalah pembersihan plak, kalkulus, dan stain secara mekanik dari permukaan mahkota dan akar gigi. Instrumen yang dapat digunakan adalah scaler ultrasonic, air scaler, dll. d. Root Planing Root planing adalah suatu prosedur perawatan definitif untuk membersihkan sementum atau permukaan dentin yang kasar, mengandung kalkulus, atau terkontaminasi toksin atau mikroorganisme. Prosedur ini dilakukan bila terdapat deposit yang berpenetrasi ke dalam gusi dan tidak dapat dibersihkan dengan scaling, diakukan juga pada saku gusi kronis yang menyebabkan melunaknya permukaan akar, serta pada akar yang permukaannya kasar sehingga menjadi tempat berkembang biaknya bakteri plak.

DISKOLORASI Perubahan warna adalah kelainan warna gigi rata-rata yang dapat dilihat secara klinis . perubahan warna biasanya dibagi atas : Intrinsik : disebabkan oleh internal stain atau enamel defek dan lebih membutuhkan perawatan complicated diandingkan dengan ekstrinsik. penyebabnya adalah penumpukan atau penggabungan bahan-bahan di dalam struktur gigi misalnya stain tetrasiklin, yang bila masuk ke dalam dentin akan terlihat dari luar karena transluensi email. Perubahan warna gigi dapat dihubungkan dengan periode perkembangan gigi misalnya pada dentiogenesis imperfekta atau setelah selesai perkembangan gigi yang disebabkan oleh pulpa nekrosis. Ekstrinsik :stain yang terdapat di atas permukaan eksternal gigi disebabkan oleh factor luar. misalnya noda tembakau yang menyebabkan warna gigi menjadi cokelat kekuning-kuningan sampai hitam, pewarnaan karena makanan dan minuman menyebabkan gigi menjadi berwarna gelap, pewarnaan karena noda logam nitrat perak, bercak kehijauan yang dihubungkan dengan membran Nasmyth pada anak-anak. Selain itu klasifikasi perubahan warna dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Formatif Perubahan warna yang terjadi selaa proses dentinogenesis baik pra maupun pasca natal. Factor-faktor yang menyebabkannya dibentuk dalam elemen gigi. Perubahan warna ini bersift congenital / keturunan, seperti : o Eritroblastosis Fetalis Etiologi : bilirubin biliverdin mengendap dalam email o Flourosis Endemik Etiologi : tingginya kandungan fluoride dalam email o Perubahan warna Tetrasiklin Etiologi : flourensi warna kuning(penggunaan tetrasiklin) dibawah sinar UV menggelapkan warna kuning. o Radang dan trauma gigi

o o o o o o o o o

Etiologi : email defisien karena pelepasan sementum pada email diskolorasi sekunderwarna coklat (akibat infiltrasi makanan) Amelogenesis imperfekta Dentin dysplasia Dentinogenesis imperfekta Odontodysplasia Email yang tipis berwaran kuning sampai coklat Profiri Meningkatnya kadar porifirin jaringan gigi warna coklat Anemia hemalitik Gangguan empedu Okronosis Hiperoksaluri primer

Infiltrativ Endogen Agen yang mengubah warna gigi dari dalam tubuh masuk dari pulpa gigi berubah warna Pulpa vital Perdarahan kapiler Obliterasi pulpa Aging Lepra lepromatosa Eksogen Agen yang mengubah warna gigi berasal dari luar tubuh dan menembus masuk ke dalam elemen gigi yang sudah terbentuk Semu Eksogen (endapan) kerusakkan

Penangan diskolorasi Prosedur profilaksis rutin Membersihkan gigi dengan sikta, untuk diskolorasi pada permukaan Bleaching Adalah pemutihan warna gigi melalui aplikasi bahan kimia untuk mengoksidasi pigmen organic pada gigi. Bahan yang biasa digunakan adalah hydrogen peroksida. Klasifikasi prosedur : INTERNAL Non Vital Indikasi : setelah dilakukan perawatan akar. Efek samping : resorpsi servikal. Macam teknik : Teknik Walking Beach 1. Jaringan sekitar gigi yang akan dirawat dilindungi dengan vaselin. 2. Isolasi gigi dengan karet isolator (rubberdam). 3. Kamar pulpa dan tanduk pulpa dibersihkan, kemudian dentin bagian labial dalamkamar pulpa dikurangi 0,5 mm dengan bor kecepatan rendah. 4. Kurangi gutaperca dengan plugger panas sebanyak 2 mm ke arah apikal. 5. Daerah orifis ditutup dengan semen seng oksida eugenol setebal 1 mm. 6. Bersihkan kamar pulpa dengan xylene atau isopropil alkohol 70 %, kemudian keringkan dengan aliran udara. Menurut Hyess (1986) dapat juga dipakai asam fosfat 37 % yang dioleskan dalam kamar pulpa selama 1 menit, kemudian bilas dengan air dan keringkan. 7. Letakkan pasta campuran natrium perborat dengan superoxol di dalam kamar pulpa,tekan dengan kapas ke arah dinding labial kemudian tutup dengan tumpatan sementara seng oksida eugenol. 8. Kujungan berikutnya dilakukan 3-7 hari kemudian. Bila pemutihan gigi belum berhasil, ulangi prosedur di atas, tetapi bila sudah berhasil, bersihkan gigi kemudian lakukan tumpatan tetap dengan resin komposit. Teknik Termokatalitik Tehnik ini mengunakan panas untuk mempercepat proses oksidasi. Sumber panas yang dapat digunakan adalah rheostat controlled photoflood, lihgt activited atau instrumen Woodson. Prosedur tehnik termokatalitik adalah sebagai berikut (Grossman, 1998; Walton & Torabinejab, 1996) : 1.Isolasi gigi yang akan dirawat dengan karet isolator. Lindungi jaringan lunak dengan petrolium jelly atau cocoabutter. 2. Buang bahan pengisi dari kamar pulpa 2-3 mm ke apikal dibawah gusi. 3. Buang dentin dibagian labial kamar pulpa dengan bor bulat yang berputar secara perlahan. 4. Bersihkan kamar pulpa dengan kloroform atau xylene, kemudian keringkan dengan hembusan udara. 5. Lindungi jaringan lunak dan gigi tetangga dari panas yang berasal dari sumber panas. Letakkan kasa yang telah dibasahi air di bawah karet isolator untuk menutup bibir dan jaringan lunak. 6. Letakkan sebuah kapas dalam kamar pulpa yang dibasahi hidrogen peroksida 30-35 %, tutup permukaan labial gigi dengan kapas yang telah dibasahi bahan pemutih. Arahkan sumber panas pada gigi yang telah disiapkan. 7. Basahi lagi kapas dengan hidrogen peroksida segar. Ulangi langkah ini 4-5 kali. 8. Evaluasi efek pemutihan,bila belum berhasil pertemuan berikutnya dilakukan seminggu kemudian setelah kavitas ditutup tumpatan sementara. 9. Apabila hasilnya sudah memuaskan, bersihkan kamar pulpa dengan kloroform xylene atau alkohol, kemudian lapisi dengan semen yang berwarna putih sebelum dilakukan tumpatan tetap dengan resin komposit.

Teknik Kombinasi Tehnik kombinasi ialah cara bleaching yang menggabungkan tehnik walking bleach dengan tehnik termokatalitik secara bergantian,sehingga hasilnya lebih cepat dan memuaskan. Prosedur tehnik kombinasi adalah langkah pertama sama dengan tehnik termokatalitik, setelah dilakukan pemanasan, kapas yang telah dibasahi hydrogen peroksida dalam kamar pulpa dikeluarkan lalu gigi dikeringkan. Kemudian pasta hasil pencampuran superoxol dengan bubuk natrium perborat diletakkan dalam kama pulpa. Tindakan selanjutnya seperti tehnik walking bleach (Walton & Torabinejab, 1996). Vital Indikasi : dikolorasi gigi akibat aging, trauma atau konsumsi obat-obatan saat sebelum dan sesudah restorasi untuk menyamakan warna bahan restorasi dengan gigi asli. EKSTERNAL Tehnik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warna karena Tetrasiklin Bleaching secara eksternal dilakukan pada gigi vital yang berubah warna karena tetrasillin yang belum parah yaitu gigi berwarna kuning. Tehniknya bleaching secara eksternal, sebagai berikut (Walton & Torabinejab, 1996) : 1. Bersihkan gigi, lindungi jaringan lunak dengan mengulaskan pasta pelindung mulut, pasang karet isolator ( rubberdam), ikat dengan benang (dental floss) pada gigi yang akan dirawat. 2. Letakkan sepotong kapas yang telah dibasahi larutan hidrogen peroksida pada bagian labial dan palatinal gigi. 3. Pemanasan dilakukan dengan cara memakai lampu reostat controlled photoflood yang diletakan sekitar 30 cm dari gigi selama 10-30 menit atau dengan hand-held thermostatically controlled yaitu dengan menempelkan ujung alat ini pada permukaan gigi yang telah diberi gulungan kapas yang dibasahi dengan superoxol. 4. Pemutihan gigi dilakukan selama 30-60 detik. Ulangi prosedur ini sebanyak 3 kali. 5. Kapas dilepas, gigi dibilas dengan air hangat, buka ikatan dental floss, lepaskan karet isolator, bersihkan sisa pasta pelindung mulut. 6. Suruh pasien menyikat gigi kemudian lakukan pemolesan. 7. Pasien disuruh datang 1 minggu kemudian, bila belum memuaskan prosedur bleaching diulang Bleaching Tehnik Mouthguard Tehnik ini biasanya dipakai pada perubahan yang ringan, dianjurkan sebagai tehnik pemutihan di rumah, biasa disebut juga tehnik pemutihan dengan matriks. Tehnik ini dapat dilakukan pada malam hari saat tidur disebut nightguard vital bleaching atau dipakai pada siang hari. Prosedur mouthguard bleaching adalah sebagai berikut (Walton & Torabinejab, 1996) : 1. Pasien diberi penjelasan, lakukan profilaksis, dibuat foto permulaan dan selama perawatan. 2. Gigi dicetak, dibuat model lengkung rahang dari gips batu. Dua lapis relief die diulaskan pada bagian bukal cetakan gigi untuk membentuk reservoir bagi bahan pemutih. 3. Matriks plastik lunak setebal 2 mm dibuat dan dirapikan dengan gunting sampai 1 mm melewati tepi ginggiva. 4. Mouthguard dicoba pada mulut, lalu diangkat dan bahan pemutih dimasukkan ke dalam ruangan dari setiap gigi yang akan diputihkan. Kemudian mouthguard dipasang atas gigi dalam mulut dan kelebihan bahan pemutih gigi dibuang. 5. Pasien harus dibiasakan menggunakan prosedur ini, biasanya 3-4 jam sehari dan bahan pemutih diisi kembali setiap 30-60 menit. 6. Perawatan dilanjutkan selama 4-24 minggu, pasien diperiksa setiap 2 minggu. Tehnik Bleaching pada Gigi Vital yang Berubah Warng karena Fluorosis Untuk memperbaiki pewarnaan karena fluorosis ini, cara yang lebih efektif adalah tehnik asam hidroklorik-pumis yang terkontrol atau disebut tehnik pumis asam. Sebetulnya cara ini bukan cara pemutihan gigi murni (oksidasi), melainkan suatu tehnik dekalsifikasi dan pembuangan selapis tipis email yang berubah warna Microabrasion Adalahteknik yang melibatkan pelarutan permukaan email asam dan pumis untuk menghilangkan stain atau efek superficial. Macroabrasion Adalah teknik alternative untuk menghilangkan white spot yang teralokasi dan superficial stain. + : Micro ( pembuangan struktur gig dapat dikontrol dengan baik) Macro ( lebih cepat, lebih mudah dalam penghilangan defek, tidak dibutuhkan instrument khusus lain) : Mcaro ( penggunaa high speed lebih sensitive dan berdampak besar gagal bagi operator)

Veneering Veneers sebagian Indikasi : restorasi pada defek local atau daerah yang terdiskolorasi intrinsik Veneers penuh Indikasi : rrestorasi pada defek general Yang perlu diperhatikan ; umur, oklusi, kesehatan jaringan, posisi dan susunan gigi, oral hygiene, kontur fisiologis Klasifikasi : Teknik indirect - : butuh 2 kali pertemuan dengan dokter gigi + : lebih kurang sensitive untuk operator, lebih estetis, lebih lama. Teknik direct - : lama dan operator harus sensitive + : cocok untuk anak,ekonomis