Anda di halaman 1dari 7

DAMOS DUMOLI AGUSMAN

APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI


PERJANJIAN INTERNASIONAL?
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi pada
esensinya adalah konfirmasi.”

ditandatangani oleh pejabatnya. Namun


Pengesahan/Ratifikasi: demikian, lembaga ini pada perkembangan
Persetujuan atau Konfirmasi? selanjutnya juga mulai dikenal dan
berkembang dalam hukum ketatanegaraan
Globalisasi Hubungan Internasional dewasa setiap Negara yang digunakan untuk objek
ini telah semakin meningkatkan persentuhan yang sama yaitu Perjanjian Internasional.
dan interaksi antara Hukum Internasional dan Lembaga pengesahan/ratifikasi dalam hukum
Hukum Nasional di Indonesia. Interaksi kedua ketatanegaraan selalu diartikan sebagai
bidang hukum ini semakin mempertajam tindakan persetujuan oleh suatu organ Negara
pertanyaan tentang arti lembaga “pengesahan” terhadap perbuatan Pemerintah untuk membuat
(ratifikasi, aksesi, acceptance, approval) dalam perjanjian atau konfirmasi organ tersebut
kaitannya dengan status Perjanjian terhadap penandatanganan suatu perjanjian
Internasional dalam oleh Pemerintahnya.
Hukum Nasional Republik
Indonesia. Bertolak dari
perbedaan disiplin hukum
Dari tataran teoritis dan tentang
praktis, pengertian pengesahan/ratifikasi
lembaga tersebut diatas, maka
pengesahan/ratifikasi secara tradisional,
ternyata dipahami secara pengesahan/ratifikasi
berbeda oleh kalangan ahli Perjanjian Internasional
Hukum Tata Negara dan selalu dilihat dari dua
oleh ahli Hukum perspektif prosedur yang
Internasional. Lembaga terpisah namun terkait,
pengesahan/ratifikasi itu yaitu Prosedur Internal
sendiri pada hakekatnya (Nasional) dan Prosedur
berasal dari konsepsi Eksternal (Internasional).
Hukum Perjanjian • Dari perspektif
Internasional yang selalu Prosedur Internal,
diartikan sebagai tindakan pengesahan/ratifikasi
‘konfirmasi’ dari suatu Negara terhadap Perjanjian Internasional adalah masalah
perbuatan hukum dari pejabatnya yang telah Hukum Tata Negara, yaitu Hukum
menandatangani suatu perjanjian sebagai tanda Nasional Indonesia yang mengatur
persetujuan untuk terikat pada perjanjian itu. tentang kewenangan eksekutif dan
Dari sisi Hukum Perjanjian maka ratifikasi legislatif dalam pembuatan Perjanjian
pada esensinya adalah konfirmasi. Konfirmasi Internasional serta mengatur produk
ini dibutuhkan karena pada era permulaan Hukum apa yang harus dikeluarkan
berkembangnya Perjanjian Internasional untuk menjadi dasar bagi Indonesia
masalah komunikasi serta jarak geografis antar melakukan Prosedur Eksternal.
Negara merupakan faktor yang mengharuskan • Sedangkan dari perspektif Prosedur
adanya ruang bagi setiap Negara untuk Eksternal maka pengesahan/ratifikasi
mengkonfirmasi setiap perjanjian yang telah Perjanjian adalah perbuatan hukum untuk
1
mengikatkan diri pada suatu Perjanjian

“hukum tata Negara ri tanpa sengaja mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasi


sebagai “persetujuan dpr” bukan “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam pasal 11
uud 1945. namun dalam praktek ketatanegaraan ri, yang kemudian ditafsirkan oleh
undang-undang no. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional, pengertian
persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi dpr” ketimbang “persetujuan dpr”.”

Internasional dalam bentuk ratifikasi, Hukum Tata Negara RI tanpa sengaja


aksesi, penerimaan dan persetujuan. (The mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasi
international act so named whereby a State sebagai “persetujuan DPR” bukan
establishes on the international plane its “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam Pasal
consent to be bound by a treaty) yang diatur 11 UUD 1945.2 Namun dalam praktek
oleh Hukum Perjanjian Internasional. ketatanegaraan RI, yang kemudian ditafsirkan
oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
Para perumus Konvensi Wina 1969 tentang tentang Perjanjian Internasional, pengertian
Perjanjian Internasional (Komisi Hukum persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi
Internasional) menyadari adanya perbedaan ini DPR” ketimbang “persetujuan DPR”. Itulah
dan bahkan mengakui bahwa kedua perspektif sebabnya pasal ini masih menyisakan
ini selalu membingungkan. Komisi secara tegas pertanyaan mendasar tentang “apakah DPR
menyatakan bahwa “Since it is clear that there harus terlibat membuat perjanjian sebelum
is some tendency for the international and ditandatangani atau hanya terlibat setelah
internal procedures to be confused and since it perjanjian ditandatangani oleh Pemerintah?”
is only international procedures which are Dalam hal ini perbedaan pengertian
relevant to international law of treaties, the “persetujuan” dengan “konfirmasi” pada
Commission thought it desirable in the lembaga pengesahan/ratifikasi menjadi sangat
definition to lay heavy emphasis on the fact relevan. Permasalahan ini tentunya akan sangat
that it is purely the international act to which terkait dengan persoalan wewenang membuat
the terms ratification relate in the present perjanjian, apakah wewenang eksklusif
article.”1 Namun demikian, sekalipun eksekutif atau tidak.
membedakannya, relasi kedua prosedur ini
cukup jelas bagi Komisi. Pada bagian lain, Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
Komisi menegaskan bahwa Prosedur Internal tentang Perjanjian Internasional per definisi
harus dipenuhi untuk dapat dilaksanakannya hanya mengatur tentang pengesahan/ratifikasi
Prosedur Eksternal. Komisi lebih lanjut dalam perspektif Prosedur Eksternal sehingga
menegaskan bahwa berlakunya perjanjian berkarakter “konfirmasi”, yaitu perbuatan
terhadap suatu Negara ditentukan oleh Prosedur hukum untuk mengikatkan diri pada suatu
Eksternal bukan Prosedur Internal. Perjanjian Internasional dalam bentuk
ratifikasi (ratification), aksesi (accession),
Jika dalam Prosedur Eksternal pengertian penerimaan (acceptance) dan penyetujuan
pengesahan/ratifikasi adalah “konfirmasi” dari (approval). Namun demikian Undang-Undang
Negara maka pada Prosedur Internal pengertian ini juga mengatur tentang persyaratan internal
ini dapat berupa: (pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undang
atau Perpres) sebagai dasar konstitusional
a. “Konfirmasi”, yaitu organ Negara seperti untuk dapat melakukan pengesahan/ratifikasi
parlemen memberikan konfirmasi terhadap
perbuatan Pemerintah yang telah 2
Pasal 11 UUD 1945:
menandatangani suatu perjanjian, atau 1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan
b. “Persetujuan”, yaitu organ Negara seperti Negara lain.
parlemen memberikan persetujuan terlebih 2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang
menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan
dahulu terhadap perjanjian yang akan rakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/atau
ditandatangani oleh Pemerintah. mengharuskan perubahan atau pembentukkan undang-undang
harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur
1
ILC Draft Articles on the Law of Treaties and Commentaries, AJIL dengan undang-undang.
Vol 61, Jan 1967, hal. 285-294
2
dalam perspektif eksternal. Dalam Undang- “persetujuan DPR” dapat mengambil bentuk
Undang dan praktek Indonesia, untuk Prosedur apa pun dan hanya merupakan syarat formil
Eksternal (yaitu penerbitan notification atau untuk dibuatnya suatu Perjanjian Internasional.
instrument of ratification/ accession / Namun dalam perkembangan praktek
acceptance/approval oleh Departemen Luar ketatanegaraan Indonesia output dari
Negeri) hanya dapat dilakukan setelah Prosedur “persetujuan DPR” ini telah mengambil bentuk
Internal terpenuhi. Akibatnya, secara hakiki Undang-Undang. Perkembangan ini tercermin
maka Undang-Undang ini telah memberikan dari praktek yang timbul menyusul Surat
interpretasi bahwa yang dimaksud dengan Presiden No. 2826/HK/1960 kepada Ketua
“persetujuan DPR” pada Pasal 11 UUD 1945 DPR, yang selalu menuangkan “persetujuan
adalah “konfirmasi” yang berarti bahwa DPR” kedalam format Undang-Undang dan
keterlibatan DPR adalah untuk menerima atau dalam praktek istilah ini selanjutnya selalu
menolak pengesahan/ratifikasi perjanjian yang diartikan secara baku sebagai
sudah dibuat oleh Pemerintah bukan untuk “pengesahan/ratifikasi”. Pemahaman ini
menyetujui perjanjian yang akan dibuat oleh kemudian terkristalisasi dalam Undang-
Pemerintah. Dari kekisruhan ini maka dapat Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
disimpulkan bahwa telah terjadi tarik menarik Internasional yang secara sengaja telah
untuk mengartikan pengertian menafsirkan kata “persetujuan DPR” pasal 11
pengesahan/ratifikasi antara Hukum Tata UUD 1945 sebagai “pengesahan dengan
Negara dengan Hukum Perjanjian bentuk Undang-Undang”. Namun tanpa
Internasional. Pasal 11 UUD 1945 sebagai disengaja Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
produk Hukum Tata Negara bergesekan dengan ternyata mendefinisikan istilah
Undang-Undang No 24 Tahun 2000 yang
sangat dipengaruhi oleh Hukum Perjanjian “Mohammad Yamin sebagai salah satu
perumus UUD 1945 pernah menyatakan
Internasional. Dalam kaitan ini, pandangan bahwa “tidak diterapkan dalam Pasal 11
Prof. Bagir Manan bahwa “wewenang untuk bentuk juridis lain daripada persetujuan
melakukan hubungan luar negeri termasuk DPR, Sehingga persetujuan DPR itu
membuat dan memasuki Perjanjian sendiri berupa apapun telah mencakupi
Internasional adalah kekuasaan eksklusif syarat formil menurut Konstitusi Pasal
11”.”
eksekutif”3 menjadi sangat relevan. Dalam hal
ini maka pengertian “persetujuan DPR” pada
Pasal 11 UUD 1945 harus diartikan sebagai “pengesahan/ratifikasi” sebagai perbuatan
“konfirmasi DPR” atas perbuatan hukum hukum untuk mengikatkan diri pada suatu
eksekutif. Perjanjian Internasional dalam bentuk
ratifikasi, aksesi, penerimaan dan persetujuan.5
Format Undang-Undang sebagai Sekalipun memakai definisi eksternal,
Output dari “Persetujuan DPR”: Undang-Undang ini juga ternyata mengartikan
Formal atau Prosedural? pengesahan/ratifikasi seperti yang dikenal
dalam Prosedur Internal (misalnya pemakaian
Persoalan mendasar lainnya adalah apa istilah “pengesahan dengan Undang-
output dari tindakan “persetujuan DPR” seperti Undang/Keppres” sehingga tanpa disengaja
yang dimaksud oleh Pasal 11 UUD 1945? telah menggunakan istilah yang sama untuk
Mohammad Yamin sebagai salah satu perumus pengertian yang sebenarnya berbeda.
UUD 1945 pernah menyatakan bahwa “tidak
diterapkan dalam Pasal 11 bentuk juridis lain Selanjutnya apa konsekeunsi dari Undang-
daripada persetujuan DPR, sehingga Undang atau Perpres yang mengesahkan suatu
persetujuan DPR itu sendiri berupa apapun Perjanjian terhadap Hukum Nasional (aspek
telah mencakupi syarat formil menurut internal) ternyata telah pula menimbulkan
Konstitusi Pasal 11”.4 Dari pandangan perdebatan baik di kalangan akademisi
Muhammad Yamin tersebut maka sebenarnya maupun praktisi. Masalah ini telah menjadi
3
Manan, Bagir Prof, Akibat Hukum di Dalam Negeri Pengesahan perdebatan dalam kerangka pergulatan teori
Perjanjian Internasional (Tinjauan Hukum Tata Negara), Focussed Group monisme-dualisme tentang hubungan Hukum
Discussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008.
4 5
Yamin, Muhammad, Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar Pasal 1 (2) Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
1945, Djilid Ketiga, 1960, hal. 784. Internasional
3
Internasional dan Hukum Nasional. Konstruksi bisa langsung diimplementasikan dengan
yang tepat perihal ini (apakah monisme atau Peraturan Pemerintah atau Perpres?
dualisme) belum tercermin dalam Hukum Tata d. Apakah Undang-Undang/Perpres yang
Negara Indonesia. Undang-Undang No. 24 mengesahkan Perjanjian Internasional
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional dapat di judicial-review?
ternyata juga tidak dimaksudkan untuk
menyentuh masalah substansi aspek internal Jika diidentifikasi dan dipetakan maka
dari pengesahan/ratifikasi ini. secara garis besar setidak-tidaknya terdapat
dua pandangan yang secara dinamis hidup
Dituangkannya “persetujuan DPR” dalam dalam dunia akademis dan praktisi tentang arti
format Undang-Undang/Perpres telah Undang-Undang/Perpres pengesahan/ratifikasi,
melahirkan diskusi baru tentang apa arti yaitu:
Undang-Undang/Perpres yang mengesahkan
tersebut, apakah “pengaturan” atau a. Pertama, pandangan yang menilai
“penetapan”. Dengan formatnya sebagai Undang-Undang/Perpres yang
Undang-Undang/Perpres maka Hukum mengesahkan suatu Perjanjian adalah
Nasional dewasa ini cenderung memperlakukan produk Hukum Nasional (substantif)
Undang-Undang/Perpres ini sebagaimana yang mentransformasikan materi
layaknya produk legislasi yang dengan perjanjian ke dalam Hukum Nasional
demikian tunduk pada kaidah perundang- sehingga status perjanjian berubah
undangan. Dalam kaitan ini Prof. Bagir Manan menjadi Hukum Nasional. Undang-
memberi pernyataan yang sangat menarik yaitu Undang/Perpres ini telah memiliki efek
“Jadi ada semacam kontradiksi keilmuan. Di normatif. Norma yang diaplikasikan
satu pihak, Perjanjian Internasional dalam Hukum Nasional adalah dalam
ditempatkan sebagai sumber hukum yang karakternya dan formatnya sebagai materi
berdiri sendiri, di pihak lain Perjanjian Undang-Undang/Perpres dan bukan
Internasional diberi bentuk peraturan dalam karakternya sebagai norma
perundang-undangan (Undang-Undang atau perjanjian. Kelompok ini menilai tidak
Keputusan Presiden/Peraturan Presiden).”6 perlu lagi ada legislasi baru untuk
Dari tataran praktis, pemberian bentuk memberlakukan norma perjanjian
kedalam Hukum Nasional (dualisme?).
“Undang-Undang No. 24 Tahun 2000
tentang Perjanjian Internasional Pendekatan ini tampaknya tercermin pada
ternyata juga tidak dimaksudkan untuk Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
menyentuh masalah substansi aspek tentang Hak Asasi Manusia yang pada
internal dari pengesahan/ratifikasi ini.” pasal 7 ayat (2) menyatakan “ketentuan
Hukum Internasional yang telah diterima
peraturan perundang-undangan terhadap Negara Republik Indonesia yang
pengesahan Perjanjian Internasional telah menyangkut Hak Asasi Manusia menjadi
menimbulkan berbagai pertanyaan, antara lain: Hukum Nasional.

a. Apakah Perjanjian Internasional yang b. Kedua, pandangan yang menilai Undang-


diratifikasi oleh Undang-Undang/Perpres Undang/Perpres yang mengesahkan suatu
dapat dibatalkan oleh perundang- Perjanjian adalah bersifat prosedural yaitu
undangan yang lebih tinggi? hanya merupakan persetujuan
b. Apakah suatu Undang-Undang tidak dapat DPR/Presiden dalam jubah Undang-
mengakui eksistensi suatu Perjanjian Undang/Perpres. Undang-Undang/Perpres
Internasional karena hanya diratifikasi ini tidak memiliki efek normatif karena
dengan Perpres? hanya bersifat penetapan bukan
c. Apakah Perjanjian Internasional yang pengaturan. Pandangan ini pada tahap
disahkan dengan Undang-Undang tidak selanjutnya akan terbagi dua, yaitu:
• Pertama, pandangan yang
menganggap Undang-Undang/Perpres
6
Manan, Bagir Prof, Akibat Hukum di Dalam Negeri Pengesahan yang mengesahkan suatu Perjanjian
Perjanjian Internasional (Tinjauan Hukum Tata Negara), Focussed Group
Discussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008. adalah ”menginkorporasi” Perjanjian
4
tersebut kedalam sistem Hukum Nasional, yaitu Undang-Undang No.
Nasional. Dengan inkorporasi ini 6/1996 tentang Perairan yang pada
maka Perjanjian Internasional dalam hakekatnya adalah penulisan kembali
karakternya sebagai norma Hukum (“copy paste”) pasal-pasal pada
Internasional telah memiliki efek UNCLOS 1982. Undang-Undang No.
normatif dan mengikat di dalam 6/1996 inilah (bukan Undang-Undang
Hukum Nasional. Keterikatan penegak No. 17/1985) yang mencabut
hukum terhadap norma yang Undang-Undang No. 4/1960 tentang
dihasilkan adalah bersumber dari Perairan Indonesia.
perjanjian itu sendiri dan bukan dari Permasalahan praktis yang muncul dewasa
Undang-Undang/Perpres yang ini yang bersumber dari tarik menarik antara
mengesahkan (monisme?). Pandangan perbedaan berbagai pandangan tersebut adalah
ini tercermin dalam praktek adanya gagasan untuk meningkatkan status
administrasi Negara misalnya dalam Keppres No. 36 Tahun 1990 (yang meratifikasi
penerapan Konvensi Wina 1961/1963 Konvensi tentang Hak Anak 1989) menjadi
tentang Hubungan Undang-Undang dengan dalih bahwa
Diplomatik/Konsuler yang diratifikasi kedudukannya sebagai Keppres telah
dengan Undang-Undang No. 1/1982. mempersulit untuk dikeluarkannya Undang-
Konvensi ini telah dijadikan dasar Undang atau Peraturan Pemerintah guna
hukum bagi Pemerintah untuk mengimplementasikan Konvensi ini. Produk
memberikan pembebasan pajak serta setingkat Undang-Undang (seperti Undang-
fasilitas diplomatik lainnya kepada Undang No. 23 Tahun 2002 tentang
para korps diplomatik di Indonesia. Perlindungan Anak) tidak bisa merujuk atau
Dalam hal ini tidak diperlukan mendasarkan pada Konvensi tentang Hak Anak
transformasi kaidah Konvensi kedalam dengan alasan bahwa Konvensi ini berstatus
Hukum Nasional dan bahkan sampai Keppres. Pemikiran ini mewakili pandangan
saat ini tidak ada legislasi nasional yang melihat Keppres 36 Tahun 1990 sebagai
yang memuat kaidah konvensi ini. produk substantif sebagaimana layaknya suatu
• Kedua, pandangan yang menganggap
Undang-Undang/Perpres yang “Apapun pandangan yang hendak dianut
oleh Indonesia hendaknya dapat
mengesahkan suatu Perjanjian hanya ditegaskan dalam sistem hukum
sekedar jubah persetujuan Indonesia baik dalam suatu doktrin
DPR/Presiden kepada Pemerintah RI maupun aturan konstitusi/legislasi guna
untuk mengikatkan diri pada tataran menciptakan kepastian hukum serta
Hukum Internasional dan belum prinsip “predictability” baik kalangan
akademisi khususnya praktisi seperti
mengikat pada tataran Hukum
diplomat.”
Nasional. Untuk itu masih dibutuhkan
legislasi nasional tersendiri untuk
mengkonversikan materi perjanjian Keppres sehingga diberlakukan logika hirarki
menjadi materi Hukum Nasional. perundang-undangan.
Tanpa legislasi nasional ini maka
Indonesia sebagai subjek Hukum Implikasi juridis dari peningkatan status
Internasional hanya terikat pada ratifikasi ini akan muncul terhadap Hukum
tataran internasional, sedangkan Internasional. Dari sisi Hukum Internasional
warganegaranya tidak terikat ratifikasi adalah pernyataan “consent to be
(dualisme?). Pandangan ini misalnya bound by a treaty” yang bersifat “eenmalig”
tercermin dalam praktek Indonesia (satu kali saja/final) dan tidak melihat
menyikapi UNCLOS 1982 yang bagaimana Hukum Tata Negara mengatur
diratifikasi dengan Undang-Undang mengenai pernyataan ini. Dengan kata lain,
No. 17/1985. Undang-Undang ini pada saat Indonesia telah menyatakan
hanya bersifat prosedural sehingga persetujuan untuk terikat pada Konvensi ini
masih dibutuhkan suatu Undang- melalui ratifikasi, maka pada saat itu pula
Undang lain yang mentransformasikan Konvensi ini berlaku (entry into force) bagi
UNCLOS 1982 ke dalam Hukum Indonesia. Peningkatan status ratifikasi (dari
5
Keppres ke Undang-Undang) tidak akan dapat
mempengaruhi/mengubah status Konvensi vis “...Mengingat Konvensi tentang Hak
a vis Indonesia. Dalam hal ini, peningkatan Anak 1989 yang disahkan melalui
status Keppres menjadi Undang-Undang tidak Keppres 36 Tahun 1990...”
akan mungkin dilanjutkan dengan penyampaian
ratifikasi baru kepada Sekjen PBB karena Perlukah Politik Hukum tentang
“peningkatan tingkat ratifikasi” tidak dikenal Pengesahan/Ratifikasi?
dalam Hukum Internasional.
Pandangan-pandangan tersebut diatas
Di lain pihak, pandangan kedua akan tampaknya tidak selalu kaku dan terdapat
menolak gagasan peningkatan status ratifikasi ruang untuk adanya variasi yang
ini. Menurut mereka Keppres No. 36 Tahun menggabungkan elemen masing-masing
1990 bersifat prosedural yang mengantar pendekatan. Selain itu, tidak tertutup adanya
Indonesia menjadi terikat pada Konvensi pandangan lain yang mungkin belum terdeteksi
tentang Hak Anak. Pandangan bahwa Keppres dan masih dikembangkan dalam dunia
ini hanya bersifat prosedural didasarkan pada akademisi.
fakta hukum bahwa berlakunya Konvensi ini
terhadap Indonesia tidak secara langsung Apa pun pandangan yang hendak dianut
disebabkan oleh Keppres ini melainkan oleh Indonesia hendaknya dapat ditegaskan
disebabkan oleh “instrument of ratification” dalam sistem hukum Indonesia baik dalam
yang disampaikan oleh Indonesia kepada suatu doktrin maupun aturan
Depository (Sekjen PBB). Berlakunya konstitusi/legislasi guna menciptakan
Konvensi terhadap Indonesia bukan pada kepastian hukum serta prinsip “predictability”
tanggal berlakunya Keppres melainkan pada baik kalangan akademisi khususnya praktisi
tanggal diserahkannya “instrument of seperti diplomat. Sehubungan dengan itu maka
ratification” kepada depository. sudah waktunya untuk mewacanakan suatu
politik hukum tentang hubungan Hukum
Berdasarkan padangan kedua ini maka Internasional dan Hukum Nasional yang dapat
Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang menjawab tentang arti dan fungsi
Perlindungan Anak seharusnya tidak perlu pengesahan/ratifikasi khususnya terhadap
merujuk Keppres ini namun langsung merujuk status hukum dari Perjanjian Internasional
pada Konvensi-nya. Menurut pandangan ini, dalam Hukum Nasional.
seyogyanya tidak ada persoalan untuk
mengeluarkan produk legislasi (Undang- Sekalipun Hukum Tata Negara Indonesia
Undang atau Peraturan Pemerintah) untuk belum memberi ketegasan tentang arti dan
mengimplementasikan Konvensi ini karena konsekuesi hukum dari suatu
yang diimplementasikan adalah Konvensi pengesahan/ratifikasi, setelah melalui
tentang Hak Anak (sebagai norma Hukum pembahasan dan kajian yang intensif dengan
Internasional yang telah berlaku bagi berbagai kelompok akademis tentang
Indonesia) bukan Keppres No. 36 Tahun 1990 pengertian pengesahan/ratifikasi ini maka
sebagai suatu produk legislasi. kecenderungan kuat sebaiknya diarahkan pada
konstruksi pemahaman tentang
Pandangan ini juga akan cenderung pengesahan/ratifikasi sbb:
mengusulkan bahwa seyogyanya pada
preamble Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 a. Pengesahan pada hakekatnya adalah the

“…sudah waktunya untuk mewacanakan suatu politik hukum tentang


hubungan Hukum Internasional dan Hukum Nasional yang dapat
menjawab tentang arti dan fungsi pengesahan/ratifikasi khususnya
terhadap status hukum dari Perjanjian Internasional dalam Hukum
Nasional.”

menyebutkan Konvensi-nya terlebih dahulu international act so named whereby a


sehingga berbunyi: State establishes on the international
6
plane its consent to be bound by a treaty
yang diwujudkan melalui penerbitan Damos dumoli agusman,
instrument of ratification/accession oleh Lahir di aceh barat, 4 agustus 1963. beliau
adalah direktur perjanjian ekososbud,
Menteri Luar Negeri. Pengesahan ini
direktorat jenderal hukum dan perjanjian
harus dilihat sebagai proses yang internasional, deplu ri. Lulus dari fh unpad,
menginkorporasi materi Perjanjian bandung pada tahun 1987 lalu mendapatkan
Internasional ke Hukum Nasional. master of arts dari hull university, inggris
b. Bahwa Pengesahan dilakukan dengan pada tahun 1991. beliau sering memberikan
Undang-Undang/Perpres harus dilihat kuliah umum di berbagai universitas di
indonesia dan juga beberapa kali menjadi
sebagai mekanisme internal hukum narasumber pada kegiatan diklat yang
ketatanegaraan untuk memberikan diselenggarakan oleh lemhanas.
landasan hukum bagi Pemerintah c.q.
Menteri Luar Negeri untuk mengikatkan
Indonesia pada perjanjian. Dalam hal ini,
Undang-Undang/Perpres dimaksud adalah
instrumen yang memiliki efek prosedural
bukan bukan efek normatif.
c. Dengan terikatnya Indonesia pada suatu
perjanjian (melalui pengesahan eksternal)
maka materi perjanjian dimaksud telah
mengikat baik pada tataran internasional
maupun dalam sistem Hukum Nasional
dan tidak dibutuhkan legislasi nasional
untuk membuatnya mengikat dalam
Hukum Nasional. Dalam hal ini yang
dibutuhkan hanya legislasi nasional yang
mengimplementasikan (bukan yang
mentransformasikan) materi perjanjian.
d. Konstruksi ini sejalan dengan maksud
perumus Undang-Undang No. 24 Tahun
2000 tentang Perjanjian Internasional pada
waktu itu bahwa jika Perjanjian sudah
disahkan dengan perundang-undangan
maka diasumsikan sudah mengikat dalam
sistem Hukum Nasional. Hal ini tercermin
dari penjelasan Pasal 13 Undang-Undang
No. 24 Tahun 2000: “Penempatan
peraturan perundang-undangan
pengesahan suatu Perjanjian
Internasional di dalam Lembaran Negara
dimaksudkan agar setiap orang dapat
mengetahui Perjanjian yang dibuat
Pemerintah dan mengikat seluruh Warga
Negara Indonesia”.