Anda di halaman 1dari 154

.

Pengertian Segmentasi Khalayak Istilah segmentasi khalayak berarti membagi dan mengatur khalayak menjadi beberapa kelompok kecil orang yang memiliki kebutuhan, kecenderungan, dan karakteristik serupa sehubungan dengan aspek-aspek komunikasi. Komunikator kesehatan melakukan segmentasi khalayak guna mendapatkan cara paling tepat dan efektif dalam berkomunikasi dengan kelompok-kelompok tersebut. Komunikator kesehatan harus mengidentifikasi beberapa khalayak yang potensial untuk strategi komunikasi. Masing-masing khalayak akan mendapat manfaat langsung dari perubahan perilaku yang diharapkan.

2.2

Langkah-langkah Proses Segmentasi Khalayak Dalam pembahasan ini, kami akan memaparkan empat langkah panduan utuk melaksanakan proses segmentasi khalayak primer (khalayak utama), khalayak sekunder, dan khalayak yang berpengaruh.langkah-langkah ini dapat mengarahkan komunikator pada keputusan dan gambaran khalayak bagi strategi komunikasinya. 2.2.1 Menentukan Segmentasi Khalayak. Apakah segmentasi perlu dilakukan? Jika seluruh khalayak potensial bisa dijangkau secara efektif melalui rangkaian saluran yang sama, dengan rangkaian pesan yang sepenuhya bisa diterima, maka komunikator tidak perlu melakukan segmentasi. Namun, dalam sebagian besar kasus, khalayak hanya akan mendapat manfaat bila mereka telah tersegmentasi. Kegiatan komunikasi juga akan menjadi efektif. Para komunikator kesehatan telah mengetahui bahwa segmentasi khalayak itu perlu, sehingga mereka dapat merancang berbagai pesan, seruan, atau himbauan untuk bertindak sesuai segmentasi tersebut, guna mempromosikan perubahan perilaku secara efektif. Ketersediaan sumber daya juga mempengaruhi keputusan segmentasi khalayak. Biaya yang diperlukan untuk mengembangkan
1

dan melaksanakan upaya komunikasi secara terpisah bagi beberapa kelompok mungkin akan membebani upaya komunikasi mereka. Jika sumber daya terbatas, namun segmentasi khalayak tidak bisa dihindari, mungkin lebih tepat untuk berfokus pada jumlah yang segmen yang sedikit, atau mencari cara untuk berbagai dana dengan program-program lain. Pedoman untuk membantu menentukan saat tepat melakukan segmentasi khalayak antara lain : 2.2.1.1 Lakukan segmentasi dengan tepat jika pemisahan khalayak memberikan manfaat. Misalnya memisahkan pengguna (user) suatu produk dengan bukan pengguna (non user), atau memisahkan orang yang mempraktikkan suatu perilaku dengan mereka yang tidak mempraktikkannya. Contohnya adalah pesan untuk pria yang tidak pernah menggunakan kondom akan berbeda dengan mereka yang pernah menggunakan kondom, meskipun tidak secara teratur. Kelompok pertama memerlukan informasi mengenai manfat penggunaan kondom. Kelompok kedua mungkin perlu diteliti lebih lanjut mengapa mereka tidak selalu menggunakan kondom. Rencana komunikasi yang efektif harus merancang pesan bagi kepentingan mereka. Hal yang sama juga berlaku untuk imunisasi anak. Program imunisasi seringkali menghimbau keluarga untuk mengimunisasikan anaknya, seolah-olah orang tua baru memikirkan topik ini untuk pertama kalinya. Di banyak negara, masalahnya bukan karena orang tua tidak tahu. Melainkan juga karena keluarga tidak memastikan anak-anaknya mendapatkan rangkaian imunisasi yang diperlukan. Berdasarkan pada tahapan perilaku yang berbeda ini, komunikator
2

melakukan segmentasi khalayak dan mengembangkan strategi komunikasi yang sesuai. Strategi pertama untuk meyakinkan orang tua agar memulai program imunisasi, strategi yang lain untuk mendorong mereka membawa anak-anaknya mendapatkan paket imunisasi yang lengkap. Contoh lain, komunikator kesehatan mengidentifikasi kematian ibu sebagai masalah kunci. Maka, ibu hamil menjadi khalayak potensial untuk diberi pesan tentang pentingnya asuhan kehamilan. Beberapa ibu hamil mungkin sama sekali tidak memeriksakan kandungannya. Lainnya mungkin mulai berkunjung pada trimester kedua dan ketiga dari periode kehamilannya. Khalayak sasaran pertama, dengan demikian, perlu memahami sifat mengunjungi tenaga kesehatan untuk memeriksakan kandungannya. Khalayak kedua sudah mengerti pentingnya pemeriksaan kandungan, tapi perlu memahami manfaatnya pada trimester pertama kehamilannya. 2.2.1.2 Lakukan segmentasi menurut kebutuhan informasi dan motivasi. Jika kelompok-kelompok khalayak sasaran berbeda-beda memerlukan jenis informasi atau motivasi yang berbeda-beda pula untuk mempromosikan perubahan perilaku. Kebutuhan informasi : khalayak sasaran potensial untuk mempromosikan penggunaan kontrasepsi bisa didefinisikan sebagai perempuan usia subur. Dalam kelompok ini, perempuan yang masih muda mungkin menginginkan satu atau dua anak, sementara cara kontrasepsi modern mungkin merupakan pemecahannya. Di sisi lain, perempuan yang lebih dewasa dengan tiga anak atau lebih mungkin ingin mempertimbangkan cara kontrasepsi permanen. Meskipun kedua kelompok tadi terdiri dari perempuan yang sudah menikah, dan masih dalam rentang usia subur, namun kebutuhan informasi mereka berbeda.
3

Dalam kasus ini, strategi yang tidak dibedakan bisa mendorong ibu untuk memilih pemecahan yang tidak tepat, atau justru tidak memberikan alasan yang cukup kuat untuk mencari metode KB yang paling sesuai. Melakukan segmentasi khalayak perempuan usia subur yang sudah menikah menjadi dua, yaitu mereka yang ingin menjarangkan kehamilan, dan mereka yang ingin membatasi jumlah anak, akan menghasilkan strategi yang lebih terfokus dan sesuai. Contoh lain, di banyak negara, sebagian besar remaja sudah aktif secara seksual. Perilaku yang diinginkan bagi mereka adalah menggunakan kontrasepsi untuk menghindari kehamilan yang tidak di inginkan. Untuk remaja yang belum aktif secara seksual, pesannya dapat berupa penundaan kegiatan seksual. Perbedaan perilaku ini memerlukan pesan dan meteri yang berbeda. Materi visual dengan sedikit teks mungkin diperlukan oleh banyak anggota khalayak yang tidak terlalu mahir membaca. Materi visual dengan lebih banyak teks, sebaliknya, bisa memberi pesan komunikasi lebih baik kepada anggota yang lebih mahir membaca. Motivasi : apakah strategi yang menarik bagi perempuan pedesaan juga menarik bagi perempuan di perkotaan? Jika tidak, pertimbangakan untuk melakukan segmentasi khalayak sasaran ini guna memastikan bahwa pendekatannya sesuai bagi kedua kelompok tersebut. Pikirkan apakah sebagaian besar anggota khalayak akan menanggapi himbuan dan pendekatan yang sama. Kemampuan membaca, bahasa, dan pertimbangan-pertimbangan lain bisa mengindikasikan perlunya pengembangan materi yang sesuai untuk kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu khalayak sasaran, meskipun pesan dasar dan perubahan perilaku yang diharapkan sama saja. Cukupkah satu rangkaian pesan untuk berkomunikasi secara

efektif dengan mereka semua? Jika tidak, pertimbangkan untuk melakukan segmentasi khalayak menurut jenis materi yang berbeda. Berfokus pada motivasi yang lebih dari sekadar mwngambil materi komunikasi yang sama, dan menyesuaikan ke dalam bahasa setempat menggunakan contoh-contoh setempat. Hal ini berarti memahami motivasi tertentu diantara khalayak yang sudah disegmentasi dan mengembangkan strategi komunikasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan mereka. 2.2.1.3 Lakukan segmentasi berdasarkan sumber informasi yang efektif. Jika kelompok yang berbeda-beda ini kemungkinan cenderung mengidentifikasi diri dengan juru bicara yang berbeda. Di banyak tempat, orang muda lebih menanggapi pesan yang diberikan oleh sebayanya ketimbang pesan yang diberikan oleh orang dewasa atau petugas. Masyarakat mungkin mempercayai orangorang yang terdengar dan terlihat serupa dengan mereka sendiri. Beberapa orang lebih mempercayai nasehat tetangganya daripada saran-saran tenaga kesehatan. Namun, emskipun pilihan seseorang bersifat perorangan, kecenderungan umum dalam kelompok tetap harus dipetimbangkan saat memilih segmen khalayak. Jika riset analisa situasi menunjukkan bahwa tanggapan sekelompok tertentu terhadap pesan atau sumber yang berbeda-beda ternyata lebih baik, sebaiknya dilakukan segmentasi. Contoh Pemilihan Khalayak : Lembar Kerja Langkah Demi Langkah. Langkah 1 : Identifikasi Segmen-Segmen Khalayak. Berdasarkan analisis situasi, identifikasi khalayak sasaran potensial untuk upaya komunikasi. Cantumkan nama khalayak potensial pada
5

kolom pertama tabel berikut ini. Untuk setiap khalayak, identifikasi segmen yang mungkin (subkelompok dengan ciri yang membedakan mereka secara menonjol dengan kelompok lain yang lebih besar). Jika terdapat perbedaan yang menonjol, maka diperlakukan pesan atau pendekatan komunikasi yang berbeda. 2.2.2 Menentukan Prioritas Segmen Khalayak dalam Strategi Komunikasi Kesehatan. Penentuan prioritas segmen khalayak diperlukan untuk penyesuaian ketersediaan sumber daya untuk menjangkau semua orang yang diidentifikasi terkena dampak atau beresiko mengalami masalah kesehatan. Pendekatan bertahap terhadap khalayak membantu membangun momentum bagi upaya komunikasi. Selain itu, membangun kapasitas/kemampuan salah satu segmen khalayak agar dapat membantu segmen lain yang berada pada tahap perubahan perilaku yang berbeda. Strategi komunikasinya sendiri bisa dimulai dengan menjangkau khalayak yang paling mudah dicapai, paling mau mendengarkan pesan, atau berada pada tahap yang sangat mungkin beralih ke tahap perubahan perilaku berikutnya.

2.2.3

Mengidentifikasi Khalayak yang Berpengaruh. Langkah 3 mengidentifikasi orang-orang yang berpengaruh dalam sosial khalayak utama. Yang bertujuan untuk menggerakkan orang-orang ini untuk mempengaruhi khalayak utama dalam perilaku sehat. Untuk membantu dalam menentukan sosok-sosok yang mempengaruhi pengetahuan dan perilaku khalayak sasaran terkait

dengan masalah kesehatan, dapat mengajukan pertanyaan sebagai berikut : 1. Siapa yang menyaranakan cara mencegah atau mengatasi masalah kesehatan? 2. Siapa yang mempengaruhi keputusan khalayak untuk mencari bantuan dalam mencegah atau mengatasi masalah kesehatan? 3. Siapa yang mempengaruhi keputusan khalayak untuk mencoba suatu produk,atau mempraktikkan perilaku sehat tertentu? 4. Siapa yang mempengaruhi keputusan khalayak untuk melanjutkan atau menghentikan perilaku sehat yang baru? 5. Siapa yang menyaranakan cara mencegah atau mengatasi masalah kesehatan? Identifikasi semua tenaga pelayanan dan pemasok bahan-bahan kepada khalayak sasaran utama. Identifikasi jaringan tenaga kerja beserta tenaga kerja alternatifnya. Contohnya apakah khalayak sasaran utama mencari pengobatan pada dukun?. Jika ya, dukun tersebut mungkin berpengaruh besar atas khalayak sasaran. Apakah khalayak mencari pertolongan kesehatan dari klinik pemerintah, outlet-outlet non pemerintah, atau klinik swasta? Saat mengidentifikasi tenaga kesehatan khalayak sasaran usahakanlah serinci mungkin. Misalnya, identifikasi apakah khalayak sasaran mengunjungi perawat atau dokter. Catat apakah mereka mengunjungi tenaga kesehatan terdekat, atau melakukan perjalanan untuk mencapai tenaga kesehatan yang disukainya. Informasi ini akan membantu dalam memilih tenaga kesehatan kunci. Untuk mengidentifikasi tokoh pembentuk opini, tanyai manajer program dan petugas masyarakat tentang siapa yang mempengaruhi
7

pendapat masyarakat menegnai masalah kesehatan, serta siapa yang mengarahkan putusan-putusan kebijakan kesehatan. Tanyakan namanama tokoh pembentuk opini dan pembuat kebijakan setempat lainnya. Saat menyusun daftar pihak-pihak yang berpengaruh, perkirakan tingkat pengaruhnya. Sebagai contoh hubungan antara klien dan tenaga kesehatan sangat kuat dalam mempengaruhi perilaku sehat. Kerabat tertentu, pasangan dan orang tua juga sangat berpengaruh. Dengan memperkirakan tingkat pengaruh pihak-pihak terhadap khalayak sasaran utama, maka kita akan lebih mampu membuat keputusan berdasarkan informasi mengenai cara menggunakan sumber komunikasi untuk mendorong advokasi yang bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut. Ketiga, tanyakan pada pihak yang berpengaruh mengenai sikapnya terhadap perilaku yang diharapkan. Mengetahui hal ini akan membantu menentukan berapa banyak meniveestasi yang perlu dilakukan tim dalam mempromosikan sikap positif dan advokasi diantara kelompok ini. 2.2.4 Menggambarkan Potret Khalayak Utama. Guna membantu mempersiapkan pendekatan kreatif untuk berkomunikasi secara efektif dengan khalayak primer (utama), khalayak sekunder, dan khalayak yang berpengaruh. Langkah ini menunjukkan bagaimana mengembangkan gambaran masing-masing khalayak yang sudah disegmentasi. dengan kata lain, langkah ini memberikan suau cara untuk menghidupkan setiap khalayak sasaran. Tujuan menggambar potret adalah memahami secara lengkap keinginan, kemauan dan harapan khalayak sasaran. Sehingga saat tim mengembangkan pesan, bisa terarah pada seseorang dalam potret
8

tersebut, bukan pada sekumpulan orang. Mulailah dengan melihat riset kuantitaif sebagai dasarnya, kemudian tambahkan informasi kuantitatif. Saat menjelaskan setiap segmen, pertimbangakan variable psikografis, data fisik dan social ekonomi, termasuk ciri psikologis anggota khalayak sasaran. Data ini bisa membantu memahami hal-hal seperti harga diri, kecenderungan mengambil risiko, dan fatalisme (sikap menyerahkan segala sesuatu pada nasib).Analisalah karakteristik tersebut bersama dengan data social ekonomi. Kemudian susun profil khalayak sasaran yang jelas dan realistis. Latihan ini akan membantu untuk memahami pikiran khalayak sasaran dengan menggambar potret seseorang yang berasal dari khalayak tersebut. Pikirkan karakteristik khlayak sasarn kunci dan mulailah membuat gambaran mental seseorang yang paling mewakili khalayak tersebut. Siapa namanya ? Cari foto atau gambar yang mewakili orang tersebut dan buat gambaranya, jika dia seorang perempuan ; Berapa usianya ? Seperti apa penampilanya ? Dimana dia tinggal ? Jika dia menikah ; Seperti apa suaminya ? Berapa anaknya ?
9

Apakah dia tinggal bersama ibu mertuanya ? Apakah dia tinggal di desa ? Apakah dia bekerja ? jika iya, Apakah pekerjaannya ? Apa medianya ? Apakah dia bisa menonton televisi atau mendengar radio ?

Kemudian kembangkan suatu cerita tentang karakter tersebut. Dalam cerita ini, jelaskan perilaku dan beberapa sikap kunci tentang perilaku sehat yang akan dikomunikasikan oleh program kepadanya. Potret ini tidak hanya berdasarkan fakta saja, meskipun riset tentang khalayak sasaran yang dikumpulkan telah memberi banyak fakta rinci. Menggambar potret Khlayak Sasaran Utama : Petunjuk : dengan menggunakn lembaran ini, atau pada kertas terpisah, gambarlah potret khalayak sasaran individu dengan kumpulan ciri khalayak utama berdasarkan data. Penjelasan ini harus termasuk bagaimana ia menanggapi norma masyarakat. Jelaskan dengan terperinci buat cerita tentang satu hari dalam hidup orang ini. Ingat bahwa penting ia adalah yaitu individu yang sangat khalayak sasaran kita.

10

Contoh : Cerita dari Ghana Cerita ini tentang Kwame, seorang petani berusia 42 tahun yang tinggal di kawasan tengah. Ia punya dua istri dan lima orang anak berusia 8 hingga 20 tahun. Kwame hidup dengan gaya pedesaan tradisional Ghana. Pagi hari dihabiskanya dengan bekerja di kebun, malam hari bersama teman-temanya di bar, meskipun Kwame menganggap dirinya lelaki yang sudah berkeluarga, kadang-kadang ia menjalin hubungan di luar nikah. Kwame sang petani sangat peduli pada kesehjateraan anak-anaknya dan ingin mereka hidup lebih baik dari dirinya. Ia peduli pada kedua istrinya karena merekalah yang merawat anak-anaknya. Namun, ia enggan berkomunikasi dengan kedua istrinya mengenai hal-hal pribadi seperti kesehatan reproduksi.ia berasumsi bahwa mereka sudah tahu apa yang harus 2.2.5 Contoh penerapan strategi segmentasi khalayak dalam suatu desa

11

Program Komunikasi Kepada ibu ibu di Desa tentang Pentingnya Imunisasi untuk Anak Usia 0 11 bulan Untuk memudahkan penyampaian informasi kami komunikator

merancang strategi Segmentasi Khalayak guna lebih mengefektifkan dan efisiensi dalam berkomunikasi Langkah I : Menentukan segmentasi khalayak Dalam membuat Program Komunikasi kepada ibu ibu di suatu Desa tentang pentingnya Imunisasi untuk anak usia 0 11 bulan kami mengolompokkan ibu ibu di Desa tersebut ke dalam beberapa kelompok atau segmentasi sebagai berikut.

Ibu ibu Kelompok Umur

Segmentasi Ibu muda (usia 15 25) Ibu berusia sedang ( 26 35 ) Ibu berusia tua (35 49) SD SMP SMA Sarjana Petani Pedagang Guru PNS Pegawai Swasta Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

Pekerjaan

Langkah II : Menentukan Prioritas segmen Khalayak dalam strategi komunikasi kesehatan


12

Segmen khalayak utama dalam program ini dapat ditentukan dengan menggunakan indikator khalayak yang paling mudah dicapai, paling mau mendengarkan pesan, atau berada pada tahap yang sangat mungkin beralih ke tahap perubahan perilaku berikutnya. Dalam program ini klalayak utamanya adalah ibu ibu yang berusia sedang (usia 26 35 tahun) karena memiliki emosi yang stabil untuk menentukan apa yang terbaik yang harus dilakukan pada keluarganya serta memiliki pendidikan yang tinggi disini dalam segmentasi yang berpendidikan sarjana, dan pekerjaannya adalah ibu rumah tangga karena faktor kesibukan yang sedikit dan prioritas untuk mengurus keluarga sangat tinggi sehingga memungkinkan minatnya terhadap kesehatan keluarga terutama anak. Langkah III : Mengidentifikasi Khalayak yang Berpengaruh Tujuan menentukan khalayak yang berpengaruh adalah menggerakkan orang orang ini untuk mempengaruhi khalayak utama dalam perilaku sehat. Dalam program ini khalayak yang berpengaruh adalah ibu ibu yang berusia 35 49 tahun, karena ibu ibu dalam usia tersebut sedikit banyaknya telah berpengalaman tentang imunisai sehingga ibu tersebut akan mampu untuk mempengaruhi ibu ibu yang menjadi khalayak utama berdasarkan pengalamannya tersebut. Langkah IV : Menggambar potret khalayak utama Dengan menggambar potret khalayak utama bertujuan memahami secara lengkap keinginan, kemauan, dan harapan khalyakan sasaran. Misal : Ibu Romlah warga Desa X yang berusia 27 tahun selalu menghadiri kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh Puskesmas setempat meskipun ibu tersebut berprofesi sebagai petan tetapi dia selalu rutin

13

mengikuti program imunisasi yang dilakukan puskesmas setempat, sehingga ibu tersebut merupakan contoh. Berdasarkan segmentasi khalayak diatas diperoleh : 1. Khalayak Primer (utama) adalah ibu ibu yang berusia sedang (usia 26 35 tahun), berpendidikan sarjana dan pekerjaannya adalah ibu rumah tangga. 2. Khalayak Sekunder adalah ibu ibu yang tidak termasuk dalam khalayak primer dan tersier. 3. Khalayak Tersier adalah adalah ibu ibu yang berusia 35 49 tahun karena memiliki faktor pengalaman yang mampu untuk mempengaruhi khalayak utama.

2.1 Komunikasi Kesehatan Strategis 2.1.1 Definisi Komunikasi Strategis Strategi komunikasi yang mantap memberikan koherensi bagi kegiatan program kesehatan dan membantu memperlancar kekuatan program untuk mencapai keberhasilan. Komunikasi strategis merupakan kemudi program yang akan mengarahkannya ke tujuan komunikasi strategis juga menjadi pengikat yang mempersatukan program atau visi kreatif yang memadukan berbagai aspek kegiatan program. 2.1.2 Karekteristik Komunikasi Kesehatan Strategis Untuk mencapai komunikasi kesehatan yang strategis ada beberapa syarat yang harus dicapai, antara lain: 1. Berorientasi pada hasil Bukti utama efektivitas upaya komunikasi strategis dapat terlihat dari hasil program kesehatan. Hal yang tidak kalah penting adalah peningkatan kapasitas mitra setempat untuk melaksanakan program sejenis secara mandiri.

14

2. Berdasarkan ilmu pengetahuan Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan penelitian memerlukan data yang akurat dan teori yang relevan. Semua ini diawali dengan riset formatif dan data yang cukup untuk mendefinisikan masalh kesehatan spesifik, mengidentifikasi solusi yang layak, dan menggambarkan khalayak sasaran. 3. Berfokus pada klien Pendekatan yang berfokus pada klien perlu diawali dengan pemahaman dari sudut pandang klien terkait dengan apa yang dimaksud dengan kebutuhan kesehatan. Diskusi dengan khalayak sasaran memberikan pandangan tentang kebutuhan kesehatan tersebut serta hambatanuntuk memenuhi kebutuhan yag diutarakan. 4. Partisipatif Komunikasi strategis mempromosikan pengambilan keputusan secara bersama oleh Stakeholder dan penerima manfaat dalam semua tahapan P-Process termasuk perencanaan, implementasi, dan evaluasi. 5. Berorientasi pada manfaat Khalayak sasaran harus melihat manfaat yang jelas saat melakukan tindakan yang dipromosikan oleh upaya komunikasi. 6. Berkaitan dengan pelayanan Upaya promosi kesehatan seharusnya mengidentifikasi dan mempromosikan pelayanan yang spesifik. Pendekatan ini menekankan konsep kemandirian individu atau kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri dan juga mendukung konsep kemandirian bersama. 7. Berbagai saluran Komunikasi strategis yang efektif biasanya menggunakan berbagai cara. Strategi komunikasi sering kali mengintegrasikan komunikasi interpersonal (IPC),

15

saluran berbasis masyarakat, dan berbagai media untuk menciptakan pertukaran informasi dan ide yang dinamis dan bersifat dua arah. 8. Berkualitas tinggi secara teknis Komunikator kesehatan strategis bekerja bersama lembaga dan individu yang kompeten untuk merancang pesan dan materi komunikasi berkualitas tinggi yang dirancang secara profesional. 9. Berkaitan dengan advokasi Advokasi terjadi pada dua tingkatan, yaitu tingkat pribadi/sosial dan tingkat kebijakan atau program. Advokasi pribadi dan sosial terjadi ketika pihak-pihak dengan perilaku baru mengakui perubahan perilaku mereka dan mendorong anggota keluarganya untuk mengadopsi perilaku serupa.

2.1.3 Kerangka Kerja Strategis Banyak model dan kerangka kerja strategis yang mengarahkan proses rancangan strategis. Dalam makalah ini menjelaskan kerangka kerja yang diberi nama Proses Perubahan Perilaku (Process Of Behavior Change / PBC) PBC adalah kerangka kerja yang telah berhasil digunakan dalam bidang komunikasi kesehatan selama bertahun-tahun. Kerangka kerja PBC mengakui bahwa perubahan perilaku berikut komunikasi yang dimaksudkan untuk mempegaruhi perubahan perilaku merupakan suatu proses. Masyarakat biasanya bertindak mengacu pada beberapa langkah lanjutan dalam proses perubahan perilaku, seperti dialog antar pasangan mengenai kesehatan reproduksi. Lebih jauh lagi, kerangka kerja ini menyatakan bahwa masyarakat pada tahap yang berbeda akan membentuk khalayak sasaran yang berbeda pula. Dengan demikian, mereka biasanya membutuhkan pesan-pesan yang berbeda, terkadang juga pendekatan yang berbeda, baik saluran, antarpribadi, saluran masyarakat, atau media massa.
16

Secara umum, khalayak umum dijelaskan sebagai berikut: a. Belum tahu : tidak sadar akan adanya masalah atau resiko pribadi bagi mereka b. Tahu : sadar akan adanya masalah, dan mengetahui perilaku yang diinginkan c. Setuju : setuju dengan perilaku yang diinginkan d. Berminat : bermaksud secara pribadi melakukan tindakan yang diinginkan e. Praktik : melakukan perilaku yang diinginkan f. Mengadvokasi: mempraktikan perilaku yang diinginkan sekaligus memberitahukannya kepada orang lain Adalah penting memahami posisi khalayak sasaran dalam hubungannya dengan elemem-elemen tersebut sebelum suatu strategi. Kemajuan dari satu elemen berikutnya meningkatkan kemungkinan perubahan perilaku dan berkesinambungan. Kebijakan public dan strategi komunikasi mempengaruhi perubahan individu dan masyarakat, membangun norma-norma masyarakat yang baru dan setelah beberapa waktu akan mendukung kebijakan dan program yang lebih kuat dan efektif. PBC ini juga bisa memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk mendukung perilaku baru. Advokasi merupakan elemen kunci dalam proses ini, dan bisa menjaga perilaku yang diinginkan agar tetap bertahan. Kerangka kerja PBC bisa bekerja secara efektif dengan rancangan proyek yang komprehensif dan pendekatan pelaksanaan yang disebut Proses dan prinsip komunikasi kesehatan P-Process. 2.2. Model P-Procces P-Procces adalah sebuah kerangka yang menggambarkan tahap demi tahap bagaimana mengembangkan strategi program komunikasi kesehatan. Selama ini PProcess telah memberikan kerangka kerja yang mantap dan mudah diterapkan untuk pengembangan strategi, pelaksanaan proyek, bantuan teknis, pembangunan institusi dan pelatihan. Kerangka kerja ini digunakan secara bersama sebagai panduan bagi bermacam-macam stakeholder yang terlibat dalam perancangan dan perwujudan program komunikasi kesehatan strategis.
17

2.2.1 Langkah-langkah P-Procces P-Process dikembangkan pada tahun 1983 dan digambarkan seperti ilustrasi berikut. Langkah P-Process adalah sebagai berikut 1. Analisa (Memahami karakteristik masalah kesehatan serta hambatan terhadap perubahan) Mendengarkan khalayak sasaran yang potensial, emnilai kebijakan, sumber daya, kekuatan serta kelemahan program yang sudah ada dan menganalisa sumber daya komunikasi. 2. Rancangan Strategis Menentukan tujuan, mengidentifikasi segmen khalayak sasaran, memposisikan konsep bagi khalayak sasaran, mengklasifikasika model perubahan perilaku yang akan digunakan,memilih saluran komunikasi, merencanakan diskusi antarpribadi, menyusun rencana tindakan dan rancangan evaluasi. 3. Pengambangan, Pengujian Awal, Perbaikan dan Produksi Mengembangkan konsep pesan, menguji melalui anggota khalayak sasaran dan pihak penanggung jawab, memperbaiki dan memproduksi pesan serta materi, serta menguji kembali materi baru dan materi yang sudah ada. 4. Manajemen, Pelaksanaan, dan Pemantauan Menggerakkan organisasi kunci, menciptakan lingkungan organisasi yang positif, mewujidkan rencana tindakan dan memantau penyebarluasan informasi, pengiriman dan penerimaan hasil-hasil program. 5. Evauasi Dampak Mengukur dampak pada khalayak sasaran dan menentukan cara meningkatkan proyek yang akan datang 6. Merencanakan Kesinambungan Menyesuaikan dengan kondisi yang terus berubah dan merencanakan kesinambungan serta kemandirian.
18

Gambar 1. Langkah-langkah P-Procces 2.2.2 Keunggulan P-Procces Beberapa kualitas p-process yang menjadikannya alat bantu yang sangat bermanfaat untuk perencanaan dan pelaksanaan program adalah : 1. P-process bersifat sistematis dan rasional 2. Selalu tanggap terhadap lingkungan yang berubah dan bisa disesuaikan dengan hasil temuan riset serta data-data baru 3. Praktis diterapkan di berbagai tingkatan di lapangan 4. Strategis dalam menyusun dan mencapai tujuan jangka panjang Jika diikuti secara berurutan, enam langkah p-process dapat membantu mengembangkan rancangan program yang efektif. 2.3 Analisis Situasi Tahap pertama yang harus dilakukan dalam merancang strategi komunikasi kesehatan adalah menganalisa situasi yang terdiri atas lima langkah pengembangan analisa situasi. Dalam mengembangkan strategi komunikasi kesehatan, pertama-tama kita dituntut memahami semua faktor yang mungkin mempengaruhi upaya-upaya komunikasi. Pemahaman atas faktor-faktor ini disebut sebagai analisa situasi.

19

Istilah analisa situasi bisa didefinisikan dan digunakan dalam berbagai cara. Dalam konteks panduan lapangan, istilah analisa situasi mengacu pada proses analisa faktor-faktor yang khusus berhubungan dengan pengembangan strategi komunikasi. 2.3.1 Fungsi Analisis Situasi Fungsinya adalah sebagai panduan untuk semua kegiatan komunikasi. Komunikator menggunakan analisa situasi untuk mengamati, mengumpulkan, mengatur, dan menilai faktor-faktor yang relevan. Dengan kata lain, analisis situasi adalah mengacu pada proses analisa faktor-faktor yang khusus berhubungan dengan pengembangan strategi komunikasi. Faktor-faktor tersebut mencakup karakteristik khalayak, sumber daya yang tersedia, dan lingkungan komunikasi. Salah satu hasil analisis situasi adalah pemahaman atas kesenjangan dasar pengetahuan, yang perlu dijembatani agar proses pengembangan strategi dapat dilanjutkan. Ukuran kuantitatif situasi saat ini, dalam hubungannya dengan khalayak sasaran, biasanya dilakukan dalam bentuk survey baseline. Pandangan lain seringkali diperoleh dengan menggunakan teknik kualitatif, seperti kelompok diskusi terfokus (Focus Grup Discussion). 2.3.2 Langkah Langkah Analisis Situasi Dalam perencanaan penentuan program komunikasi kesehatan dengan model P-Process, khususnya anilisa situasi terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu: Mengidentifikasi dan memahami masalah, Menentukan khalayak sasaran yang potensial, Mengidentifikasi Sumber Daya Komunikasi yang potensial, Melakukan penilaian lingkungan, Merangkum kekuatan dan kelemahan Sumber Daya Manusia, teknologi dan keuangan yang tersedia, serta peluang dan ancaman terhadap

20

komunikasi kesehatan yang efektif dalam lingkungan yang bersangkutan, hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi dan Memahami Masalah Langkah pertama dalam melakukan analisa adalah mengidentifikasi dan memahami masalah kesehatan tertentu, yang akan menjadi fokus program komunikasi yang akan diajukan. Pertimbangkan masalah kesehatan dalam konteks visi strategis secara keseluruhan. Untuk mendefinisikan strategi komunikasi yang efektif, kita perlu membandingkan visi bersama dengan pemahamn kita atas situasi saat ini. Kita juga perlu memahami kenapa perbedaan terjadi. Biasanya, dalam sebuah strategi komunikasi kesehatan nasional, terutama jika program dan pelayanan kesehatan terpadu menjadi satu, beragam masalah yang perlu diperhatikan akan teridentifikasi. Rangkaian masalah tersebut seringkali ditangani selama beberapa waktu, menggunakan teknis tahapan atau urutan, lapis-lapis pelayanan dan saluran komunikasi, guna memastikan cakupan maksimalnya. Perilaku-perilaku sehat juga dikelompokkan untuk mempromosikan perpaduannya. Namun, penting kiranya mengidentifikasi masalah kunci yang berkaitan dengan setiap perilaku sehat dalam strategi dan menyusun tujuan serta pesan yang sesuai untuk untuk masing-masing masalah. Kunci keberhasilan strategi komunikasi kesehatan adalah fokus pada suatu masalah tertentu,dalam rentang waktu tertentu. Mengungkap terlalu banyak masalah dalam satu kurun waktu, seringkali menciptakan pesan yang membingungkan atau mengacaukan khalayak, hingga membatasi dampak komunikasi. Pada beberapa kasus, kita tidak perlu mengidentifikasi masalah. Strategi yang ada mungkin sudah menunjukkan apa yang perlu dilakukan: apakah
21

langsung berkaitan dengan tujuan program yang menyeluruh atau idealnya berkaitan dengan visi strategis secara keseluruhan, yang dinyatakan oleh pimpinan kunci dan pembuat kebijakan. Tapi, jika suatu masalah sudah teridentifikasi, penting kiranya melakukan verifikasi atau pengecekan atas relevansi masalah tersebut. Kita juga pasti ingin mencegah munculnya cara pandang berdasarkan kemauan politis, informasi yang sudah basi, atau keterbatasan pemahaman stakeholder di awal program. a. Memahami Masalah Kesehatan Memahami masalah kesehatan berarti mempunyai persepsi yang jelas tentang lingkup dan tingkat parahnya permasalahan, berikut perilaku yang akan mencegah dan mengatasi masalah tersebut. Dalam upaya mencapai pemahaman ini, kita akan lebih mengenal sumber informasi yang tersedia terkait dengan permasalahan. b. Lingkup Permasalahan Kesehatan Memperkirakan lingkup permasalahan kesehatan merupakan faktor untuk memutuskan cara mengomunikasikannya. Lihat dua ukuran kunci dari luasnya lingkup permasalahan, yaitu prevalensi dan angka kejadian. Ukuran-ukuran tersebut umumnya tersedia di Departemen Kesehatan. Karena prevalensi selalu beruabah, para praktisi kesehatan masyarakat menggunakan ukuran paling baru yang dipadukan dengan angka kejadian untuk memperkirakan lingkup permasalahan. Angka kejadian menggukur jumlah kasus baru dari suatu masalah kesehatan tertentu per seribu orang dalam suatu populasi. Contoh Jumlah kasus gonorrhea di daerah Utara meningkat 10% per tahun. Jumlah ibu hamil pengidap anemia yang diperiksa di klinik perawatan kehamilan di daerah TImur meningkat 2% setiap tahun. Dengan melakukan pengukuran terhadap insiden membantu dalam memperkirakan besarnya angka prevalensi di masa mendatang tanpa

22

intervensi apapun. Informasi tersebut biasanya tersedia/dikeluarkan oleh DepKes atau program/proyek yang menangani masalah kesehatan. c. Tingkat Keparahan Masalah Kesehatan Parahnya masalah kesehatan berhubungan erat dengan luasnya lingkup permasalahan. Tingkat keparahan diukur dalam bentuk: Kematian atau jumlah orang yang meninggal karena masalah tersebut. Angka kesakitan (morbidity rate), atau jumlah orang yang menjadi cacat tetap atau cacat sementara karena masalah tersebut. Biaya penanganan masalah itu bagi seseorang, keluarganya, dan masyarakat secara keseluruhan. Depkes biasanya mengumpulkan informasi menyangkut angka kematian dan angka kesakitan masalah kesehatan tertentu. Organisasi yang melakukan advokasi untuk membangkitkan perhatian terhadap masalah kesehatan kerap mengumpulkan informasi mengenai biaya yang ditanggung individu dan masyarakat. Saat tingkat keparahan suatu masalah kesehatan didefinisikan, akan membantu jika dampak masalah tersebut dibandingkan dengan dampak penyakit umum lainnya. Data yang kita kumpulkan mengenai lingkup dan tingkat keparahan masalah akan berperan penting saat kita mengembangkan alas an untuk menggunakan sumberdaya dalam mencegah dan mengatasi masalah tersebut. d. Perilaku Pencegahan dan Penanganan yang Diharapkan Tanggapan yang tepat bagi suatu masalah kesehatan dapat berupa perubahan beberapa perilaku yang potensial. Perhatikan hal-hal di luar informasi factual tentang masalah kesehatan tersebut agar kita benar-benar memahami lingkungan dalam konteks yang lebih luas. Menunjukkan gambaran perubahanperilaku yang diharapkan, pada awal proses akan membantu kita dan tim dalam merancang strategi yang sesuai. e. Sumber-sumber Informasi

23

Informasi yang kita kumpulkan dengan mengidentifikasi lingkup dan tingkat keparahan masalah, serta perilaku pencegahan dan penanganan yang diharapkan, akan memberikan informasi untuk menyusun strategi komunikasi. 2. Menentukan Khalayak Potensial Khalayak primer strategi komunikasi biasanya terdiri dari orang-orang yang berisiko atau mengidap masalah kesehatan tertentu. Anak-anak merupakan satu pengecualian. Dalam kasus ini, sosok yang merawat merekalah yang biasanya dinyatakan sebagai khalayak kunci yang berpengaruh. Guna membantu mengidentifikasi khalayak potensial, kaji penelitian yang ada mencakup kondisi atau penyakit. Yang bisa dijadikan sumber-sumber informasi antara lain adalah Depkes, pusat-pusat kesehatan setempat, dan survei-survei kesehatan nasional. Petugas medis dan petugas kesehatan masyarakat bisa menjelaskan bagaimana masalah meluas. Mereka juga bisa mengidentifikasi siapa-siapa yang berisiko atau terpengaruh. Mungkin saja terjadi kesenjangan informasi, yang memerlukan penelitian formatif atau studi baseline, sebelumkita bisa memahami khalayak potensial, dan menjelaskan serta menggambarkan mereka. a. Megidentifikasi Karakteristik Khalayak Umum Ketika mengidentifikasi khalayak potensial, kelompokkan mereka menurut karakteristik umum seperti rentang usia,gender, pekerjaan, tempat tinggal, jumlah anak, dan gaya hidup, serta akses terhadap media cetak, radio, dan televisi. Cari karakteristik yang membedakan khalayak potensial dari orang yang tidak berisiko, atau tidak mempunyai masalah kesehatan. Pastikan bahwa analisa kita peka terhadap faktor gender, dengan mempertimbangkan peran dan hubungan gender yang berbeda di antara anggota khalayak potensial tersebut. Bagaimana perilaku khalayak potensial saat ini dalam hubungannya dengan konsep kesetaraan dan kesamaan gender? Lihat juga apakah anggota kelompok khalayak potensial menerima

24

dukungan social yang tinggi. Hal ini berperan penting bagi kemampuan individu untuk berubah. b. Megidentifikasi Tahap Perubahan Perilaku Untuk masing-masing khalayak, cari informasi yang mengidentifikasi perilaku sehat mereka saat ini dibandingkan denganperilaku sehat yang diharapkan atau direkomendasikan. Seberapa cepat atau lambat perilaku tersebut diadopsi. Sebuah pendekatan yang bermanfaat menggolongkan khalayak potensial kita menurut kerangka kerja PBC yang disajikan pada bagian pendahuluan. Guna menyusun perkiraan tahapan perubahan perilaku khalayak potensial, kaji data kuantitatif yang ada seperti data survey kependudukan dan kesehatan (Demographic and Health Survei-DHS) serta sensus. Kedua sumber tersebut bisa memberikan informasi relevan mengenai tahapan perubahan perilaku berbagai kelompok masyarakat di Negara itu. Umumnya, DHS menanyakan pengetahuan, perilaku dan praktik yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, ibu dan anak. DHS terbaru biasanya tersedia di Dinas Kesehatan setempat atau di kantor USAID. Jika tidak ada, Marco internasional, Inc., bisa memberikan salinan laporan DHS untuk berbagai negara. Kerap data khalayak yang ada tidak memadai untuk membuat keputusan yang berhubungan dangan strategi komunikasi. Kita mungkin perlu bekerjasama dengan para peneliti untuk merancang dan mengimplementasikan survei baseline kuantitatif, yangh akan menghasilkan informasi terpercaya mengenai karakteristik khalayak, masalah perilaku, hambatan terhadap perubahan perilaku, dan lain-lain. Seringkali, riset kuantitatif seperti diskusi kelompok terfokus dengan anggota khalayak potensial bermanfaat dilakukan guna mendapatkan informasi deskriptif yang kaya mengenai khalayak sasaran. Kadang-kadang, pengumpulan data ini dibarengi dengan wawancara tatap muka dengan para stakeholder kunci
25

untuk mendapatkan pandangan lain. Kita dan anggota tim perlu melacak penelitian pendahuluan yang diperlukan (jika ada). Pertimbangkan faktor waktu dan anggaran ketika permasalahan ini disentuh. Selain mengkaji studi formal, lakukan wawancara dengan ahli setempat untuk mengetahui pendapat mereka mengenai tahapan perilaku kellompok yang sedang dibahas. Guna mendapatkan pandangan yang berbeda, bicaralah dengan petugas program yang bekerja dengan khalayak potensial ini setiap hari. c. Megidentifikasi Hambatan Terhadap Perubahan Perilaku yang Sudah Diketahui Saat mewawancarai staf prigram, ahli kesehatan, perwakilan masyarakat dan anggota khalayak potensial, tanyakan pendapat mereka mengenai penyebab khalayak tidak mengadopsi perilaku sehat yang diharapkan. Seringkali, salah satu hambatan untuk mengadopsi perilaku adalah kenyataan bahwa khalayak memang tidak mengetahui perilaku tersebut. Hambatan di luar kesadarn dan pengetahuan juga harus dipertimbangkan. Memahami berbagai hambatan perubahan meskipun berada di luar jangkauan komunikasi, penting guna mengambil keputusan-keputusan komunikasi strategis. Pemahaman ini akan membantu memperkirakan tingkat perubahan yang bisa dicapai dalam jangka waktu tertentu. d. Megidentifikasi Pihak-Pihak yang Berpengaruh Setelah mengidentifikasi khalayak potensial, berikutnya adalah mencari tahu siapa yang mempengaruhi perilaku sehat mereka. Berkonsultasi dengan manajer program yang bekerja di tengah masyarakat dan tenaga-tenaga kesehatan masyarakat yang mengunjungi khalayak sasaran ini secara teratur. Kaji temuan penelitian yang relevan. Lakukan kunjumgan tidak resmi ke masyarakat dan rumah-rumah penduduk. Bicara

26

dengan anggota khalayak potensial serta pimpinan masyarakat mengenai masalah kesehatan ini. 3. Mengidentifikasi Sumber Daya Komunikasi yang Potensial Langkah ketiga dalam menganalisa situasi adalah memahami lingkungan komunikasi, termasuk kegiatan komunikasi kesehatan yang ada saat ini, serta sumber daya yang tersedia. Fokusnya adalah mengidentifikasi dan menilai sumber daya potensial yang bisa membantu melaksanakan program komunikasi. Secara luas, komunikator kesehatan mendefinisikan saluran komunikasi sebagai system penyampaian pesan untuk mencapai khalayak sasaran. Saluran ini dikategorikan sebagai saluran interpersonal, berorientasi pada masyarakat, dan media massa. Dua saluran terakhir sangat efektif jika tujuannya adalah untuk mengubah nilai-nilai masyarakat budaya. Saluran interpersonal berfokus pada komunikasi satu-satu, atau satu orang dengan satu kelompok. Saluran satu-satu mencakup komunikasi antara rekan sejawat, antarpasangan, dan antara petugas klinik kesehatan dengan klien. Contoh komunikasi satu orang kepada satu kelompok bisa berupa pertemuan tenaga kesehatan yang berkeliling ke masyarakat bekerjasama dengan organisasi perempuan. Saluran interpersonal menggunakan komunikasi verbal dan nonverbal. Saluran yang berorientasi pada masyarakat berfokus pada penyebaran informasi melalui jaringan social yang sudah ada, seperti keluarga atau satu kelompok masyarakat, serta memberikan peluang bagi anggota khalayak untuk saling memperkuat perilaku satu sama lain. Saluran media massa menjangkau khalayak luas. Saluran ini terutama efektif dalam menetapkan agenda, dan memberikan kontribusi untuk membangun normal sosial yang baru. Formatnya berkisar mulai dari pendidikan hingga hiburan dan iklan, mencakup televise, radio, dan media cetak seperti majalah,

27

Koran, media-media di luar ruang (billboard) dan di tempat-tempat persinggahan, internet dan pos. a. Kegiatan Komunikasi yang Tengah Berlangsung Banyak sekali saluran komunikasi yang tersedia. Tantangan kita adalah mencari saluran yang bisa menjangkau khalayak potensial yang telah kita identifikasi. Berikut dua pendekatan yang bisa membantu: Jelaskan upaya komunikasi yang sedang berlangsung melalui saluran dan media komunikasi. Lakukan perbincangan dengan orang yang telah melakukan kampanye komunikasi di daerah tersebut. Pendekatan ini merupakan titik awal yang baik untuk mengidentifikasi mitra setempat, sekaligus untuk memahami hambatan dan peluang dalam upaya-upaya komunikasi di sana. Golongkan kegiatan-kegiatan tersebut sesuai dengan saluaran-saluaran yang telah dijelaskan sebelumnya. Beberapa yang perlu diingat adalah : cari survei penggunaan media oleh khalayak sasaran yang potensial. Data survei kesehatan dan kependudukan bisa menjadi sumber yang bermanfaat. Selain itu, banyak negara melakukan survei penggunaan media oleh masyarakatnya. Tanyakan pada perusahaan periklanan apakah survei media tersedia. Wawancaralah manajer program suatu organisasi yang berkomunikasi dengan khalayak kita. Mereka bisa memberikan pandangan yang baik tentang apa yang gagal/berhasil. Kunjungi masyarakat tempat khalayak sasaran bermukim. Buatlah daftar saluran media yang ada. Jelaskan jumlah dan jenis khalayak yang mereka jangkau. Satu pendekatan untuk mengidentifikasi saluaran komunikasi kunci adalah mewawancarai manajer program proyek kesehatan yang sedang berlangsung. Saat kita mengidentifikasi kegiatan, catat pihak atau penanggung jawab perorangan atau organisasi untuk setiap kegiatan. Catat saluran utama dan
28

format yang digunakan oleh organisasi-organisasi tersebut. Fokuskan pada pesan dan khalayak sasaran mereka. Kegiatan ini akan memberi kita pemahaman mengenai pesan yang sedang dikomunikasikan, dan sejauh mana pesan tersebut diterima dengan baik.

b. Sumber-sumber Komunikasi, Organisasi dan Profesi Selain mengidentifikasi program dan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, berikut ini : Siapa yang berpengalaman dalam memproduksi materi pendidikan kesehatan? Apa peruasahaan iklan terbaik di daerah ini? Siapa yang bisa memproduksi program televise dan radio? Organisasi mana yang memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan dan petugas penyuluhan masyarakat? Adakah jaringan atau perkumpulan organisasi komunikasi? Jika ada, bagaimana keanggotaan dan ruang lingkupnya? 4. Menilai Lingkungan Langkah keempat dalam analisa situasi adalah menila aspek-aspek kuncii lingkungan tempat strategi akan diwujudkan. Kadang-kadan suatu masalah kesehatan hanya membutuhkan promosi perilaku kesehatan tertentu dan tidak perlu menyertakan suatu produk atau tindakan pelayanan (misalnya: pemberian ASI). Pada contoh lain, masalah kesehatan justru perlu diatasi dengan memberikan produk yang mudah didapat, misalnya sabun cucitangan. Isu kesehatan lain memerlukan interaksi dengan system pelayanan kesehatan, identifikasi organisasi dan professional yang membantu melaksanakannya. Ajukan pertanyaan kepada mereka menyangkut hal-hal

29

contohnya imunisasi. Pertimbangan semacam ini harus diteliti sebagai bagian dari proses penilaian lingkungan. a. Pelayanan Kesehatan dan/atau Produk serta Perilaku yang Mendukung Penilaian atas faktor ketersediaan, kemudahan mengakses, terjangkaunya biaya dan penerimaan atas pelayanan, produk serta perilaku, akan mengarah pada pengetahuan mengenai kapasitas tenaga kesehatan dan tempat pasokan produk yang bermanfaat guna membantu upaya komunikasi. b. Ketersediaan Berkonsultasi dengan manajer sumber daya manusia dan logistik dalam program yang akan dipromosikan melalui upaya komunikasi. Meminta mereka memperkirakan kapasitas dan permintaan saat ini. Pertanyaan kunci mencakup : Apakah mereka bisa meningkatkan kapasitasnya guna memenuhi tambahan permintaan? Berapa lama mereka bisa menanggapi kelangkaan persediaan dan kekurangan staf? Mampukah mereka menangani peningkatan klien? Cukupkah pasokan yang akan tersedia? Dapatkah bahan-bahan yang dipasok tersebut tersedia secara teratur? Periksa kembali apakah harapan yang dicita-citakan bisa dipenuhi oleh pelayanan yang ada atau tidak. Jika tidak, berarti kita mempromosikan sesuatu yang tidak produktif. Intinya adalah jangan mempromosikan dan menciptakan harapan yang tidak bisa dipenuhi oleh pelayanan kesehatan yang ada saat ini. Hal yang juga penting adalah melakukan anallisa kompetitif untuk memahami lingkungan yang lebih luas dan mengidentifikasi potensi hambatan-hambatan kesuksesan. Pertama, rrencanakan apakah kita akan mempromosikan suatu produk, pelayanan atau perilaku. Kemudian dalam kategori yang sama, buatlah daftar semua pesaing yang kita ketahui. Contoh,

30

jika mempromosikan suatu perilakuseperti menyusui, faktor pesaing bisa mencakup tekanan sosial untuk tidak menyusui. c. Kemudahan Mengakses Jika pelayanan atau pasokan tersedia, tanyakan apakah merekayang membutuhkan bisa mendapatkannya. Contoh, di beberapa negara yang menyediakan kontrasepsi, wanita yang aktif secara seksual dan tidak menikah tidak memiliki akses karena larangan budaya ataunhukum. Menentukan tingkat kemudahan mengakses sebelum memulai suatu kampanye yang spesifik merupakan hal penting. d. Jangkauan Biaya Tanyakan apakah khalayak sasaran utama mampu membayar ongkos pelayanan dan pasokan. Pikirkan juga hal-hal di luar biaya keuangan. Berapa banyak waktu dan upaya yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan atau produk tersebut. Jika seseorang harus cuti seharian dari pekerjaanya untuk mendapatkan produk itu, berapa ongkos kehilangannya (akibat cuti tersebut)? Memahami hambatan potensial seperti ini akan membantu kita merancang strategi yang lebih efektif. e. Penerimaan Tanyakan sejauh mana penerimaan sosial dalam hal mendapatkan dan menggunakan produk atau layanan tersebut. Contohnya, di beberapa negara, seorang perempuan yang membeli kondom tidak bisa diterima secara sosial, meskipun produk itu untuk suaminya sendiri. Di negara lain, kontrasepsi tertentu tidak bisa diterima karena dalam prosesenya tenaga medis harus menyentuh alat kelamin wanita. Wawancarai tenaga kesehatan dan pengguna layanan/produk mengenai hal-hal tersebut guna mengetahui hambatan untuk mempromosikan perilaku tertentu. Kaji pertanyaan dan temuan mengenai keempat hal tersebut, ketersediaan, kemudahan akses, jangkauan biaya dan penerimaan, dengan manajer [rogram yang bertanggung jawab memberikan pelayanan dan mendistribusikan
31

produk. Cari tahu hal-hal terkait pelayanan atau pasokan sekarang ini. Pertimbangkan untuk mengunjungi beberapa tempat pelayanan guna menguji faktor ketersediaannya. Kunjungi juga tempat pemasoknya untuk menguji akses. f. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik Kondisi sosial, ekonomi dan politik bisa membatasi komunikasi kesehatan. Kejahatan, pengangguran, kemiskinan, dan peningkatan ketegangan sosial, semuanya mempengaruhi perilaku sehat. Lakukan konsultasi dengan manajer program mengenai kondisi sosial yang mungkin berdampak pada kemampuan program mempromosikan isu-isu kesehatan.baca hal-hal yang terjadi saat ini. Tanyakan peraturan yang sedang diproses dan mungkin mempengaruhi promosi perilaku kesehatanyang efektif. Buat catatan mengenai pengembangan-pengembangan lain yang akan berkompetisi dalam aspek sumber daya dan perhatian khalayak sasaran kita. 5. Merangkum Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Langkah selanjunya adalah merangkum apa yang telah dipelajari untuk membentuk landasan strategi komunikasi. Banyak penyusun rencana strategis yang menggunakan kerangka SWOT : kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats). a. Merangkum Kekuatan-kekuatan dan Kelemahan-kelemahan Kunci Kaji sumberdaya yang bisa dikendalikan, buat daftar kekuatan dan kelemahan yang menjadi kunci kemampuan kita untuk berkomunikasi secara efektif. Libatkan kolega dalam menyusun daftar ini, kaji sumber daya keuangan, manusia dan teknologi yang bisa dicurahkan untuk inisiatif komunikasi. b. Merangkum Peluang-peluang dan Ancaman-ancaman Kunci Sama dengan di atas, ajukan pertanyaan berikut ini :

32

Apakah peluang kunci untuk meningkatkan kesehatan melalui komunikasi? Apakah ancaman terhadap kemampuan untuk meningkatkan kesehatan melalui komunikasi?

2.4 Penerapan Model P-Procees dalam Perencanaan Komunikasi Kesehatan Pada beberapa waktu terakhir ini, tepatnya Bulan November 2010, kita telah digemparkan oleh peristiwa meletusnya Gunung Merapi, dan banyaknya penduduk sekitar yang menjadi korban. Dari erupsi terakhir, korban meninggal akibat meletusnya gunung merapi masih sangat tinggi walaupun sebenarnya meletusnya gunung merapi dapat dideteksi sebelumnya. Padahal bisa diketahui, Gunung Merapi sendiri terletak di dekat perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang berkompeten. Seharusnya, korban yang jatuh pada peristiwa tersebut bisa dikurangi atu bahkan tidak ada sama sekali jika dilihat dengan kemajuan informasi dan tingginya pendidikan di sekitar Lereng Gunung Merapi. Apalagi meletusnya Gunung Merapi ini bukan hal yang pertama, terhitung sudah 68 kali meletus dan jarak puncak keaktifan yang cukup dekat, maka tingkat kepentingan untuk siaga bencana ini seharusnya sudah lebih ditingkatkan. Salah satu program yang bisa dijalankan adalah dengan melakukan sosialisasi mengenai siaga bencana merapi. Dalam menjalankan program ini dapat dilakukan perencanaan dengan menggunakan pendekatan model P-Procces dalam tahap analisis situasi sebagai berikut:

1.

Identifikasi dan Pemahaman Masalah Identifikasi dan pemahaman masalah dalam program ini adalah mengenai kemungkinan dampak dari adanya bencana alam yaitu letusan gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jogjakarta. Letusan Merapi meluncurkan guguran larva dan diikuti awan panas atau yang sering disebut
33

dengan wedhus gembel. Debu vulkanik yang dikeluarkan merapi berbahaya karena mengandung gas beracun yang mengakibatkan gangguan saluran pernafasan. Letusan gunung merapi menimbulkan dampak yang besar bagi kehidupan. Dampaknya adalah adanya korban jiwa, kerusakan rumah, perkebunan dan sarana infrastruktur penting, serta menyebabkan kelumpuhan sosial ekonomi di masyarakat. Di wilayah lereng gunung merapi pun sudah memilki satu strategi untuk mengurangi dampak kerugian dari kejadian bencana adalah dengan mempersiapkan pemerintah dan masyarakat untuk menghindari atau merespon bencana dengan tepat dan efisien. Untuk melindungi masyarakat dari kerugian besar akibat bencana merapi maka perlu ada kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan yaitu upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian langkah-langkah kegiatan yang tepat, efektif dan efisien. Membangun desa yang memiliki kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan hal penting yang harus dilakukan. Masyarakat sering tidak siap ketika bencana terjadi. Kondisi ketidaksiapan masyarakat ini disebabkan masyarakat memang tidak mempunyai pengetahuan yang menyangkut kesiagaan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan memerlukan kesadaran publik yang merupakan proses menjadikan masyarakat yang tinggal di daerah berbahaya mengetahui dan menyadari bahwa mereka tinggal di area beresiko, mengerti bahaya spesifik yang harus dihadapi, mengetahui tanda-tanda bahaya yang ada, mampu melakukan tindakan tepat untuk melindungi hidup dan mengurangi kerusakan asset. Kesadaran publik ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya alam sekitar serta dampak yang terjadi. 2. Menentukan Khalayak Potensial Ditinjau dari letak geografis, penduduk yang berpotensi terkena efek dari bencana letusan Gunung Merapi adalah penduduk yang tinggal di beberapa kabupaten, yang terletak di sisi Gunung Merapi. Lereng sisi selatan berada dalam
34

administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utaradan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Meski demikian, yang menjadi sasaran utama program ini adalah Komunitas Merapi, di luar positivis ( Penduduk sekitar yang lahir dan hidup bersama Merapi dalam jangka panjang) yaitu penduduk yang tinggal paling dekat dengan Gunung Merapi, yaitu penduduk di dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (terletak 4,5 km dari Gunung Merapi). Pihak-pihak yang dominan untuk mempengaruhi perilaku masyarakat adalah tokoh masyarakat, tokoh agama yangmemiliki kemampuan komunikasi, baik dalam tatap muka, kelompok, maupun massa dalam ukuran desa, juga data wilayah dan potensinya, termasuk data tokoh masyarakat dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

3.

Identifikasi Sumber Daya Komunikasi yang Potensial Masyarakat merupakan salah satu potensi kesiapsiagaan yang cukup besar yang harus dipersiapkan dan dikerahkan kekuatannya. Dengan dukungan dan kemampuan pemerintah, peran masyarakat tidak lagi menjadi obyek tapi juga harus menjadi subyek dan pelaku utama penanggulangan bencana. Masyarakat di sekitar Merapi memilki Balai Desa tempat bapak-bapak dan ibu-ibu bermusyawarah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tempat penyuluhan. Wilayah ini juga didukung adanya fasilitas papan pengumuman yang terletak di setiap pos kamling yang ada, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tempat menempelkan media media cetak yang dibuat. Di wilayah tersebut juga terdapat alat alat komunikasi yang mendukung penyampaian program, seperti radio, televisi dan lain lain. Namun, berhubung masyarakat di yang tinggal di sekitar gunung Merapi merupakan
35

orang orang yang sangat patuh terhadap tokoh masyarakat yang ada disana, maka sarana komunikasi yang paling efektif untuk digunakan adalah dengan menggunakan tokoh masyarakat dalam penyuluhan sehingga informasi yang diberikan dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat dengan lebih mudah. Dalam melaksanakan program-program yang diciptakan, perlu adanya kerja sama dengan berbagai lembaga agar mendukung terwujudnya program yang ingin dicapai lembaga tersebut bisa yang terkait langsung maupun tidak langsung. Adapun lembaga-lembaga yang mendukung kelangsungan program sebagai bencana khususnya gunung meletus adalah sebagai berikut: 1) Sultan Hamengkubuwono IX 2) Badan penanggulangun Bencana Daerah (BPBD) 3) Dinas Kesehatan 4) Palang Merah Indonesia (PMI) 5) Badan Usaha Logistik (BULOG) 6) Desa Siaga 7) Lembaga Swadaya Masyarakat 8) Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta Diharapkan melalui kerjasama ini, tujuan dari program yang dicanangkan dapat terwujud dengan baik.

4.

Penilaian Lingkungan Sebagian besar masyarakat terpapar bencana ini adalah manula. Keadaan sosial budaya dan ekonomi masyarakatnya sebagian besar beragama Islam, tingkat pendidikan masyarakatnya sebagian besar SD, SMP dan sederajat. Masyarakat sekitar gunung merapi lebih mempercayai ilmutiten atau ramalan daripada perhitungan berdasarkan ilmu pengetahuan. Sehingga upaya untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat agar tanggap terhadap bencana yang
36

dapat dibawa oleh gunung merapi adalah dengan memberi pengertian terlebih dahulu kepada para tokoh/ahli ilmutiten yang dipercaya oleh masyarakat sekitar tentang bahaya gunung merapi untuk selanjutnya mereka diharapkan member pengertian tentang status merapi yang sesungguhnya kepada masyarakat dan untuk segera mengungsi jika status merapi menjadi siaga. Setelah para tokoh masyarakat tersebut dapat menerima masukan, maka diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mengantisipasi bahaya jika sewaktu-waktu gunung merapi mulai menunjukkan aktivitasnya yang dapat menimbulkan bahaya. Untuk selanjutnya para tokoh tersebut dapat memberi instruksi pada masyarakat tentang tindakan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bahaya merapi.

5.

Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman a. Mengkaji kekuatan dan kelemahan kunci (faktor internal) Mengkaji kaji sumber daya keuangan, manusia dan teknologi dari dalam organisasi yang bisa digunakan untuk melakukan komunikasi. Kekuatan (strengths) : o Kebijakan dan program tentang siaga bencana sudah banyak dicanangkan oleh pemerintah maupun LSM dan sudah dikenal oleh masyarakt luas. o Masyarakat di sekitar Merapi memilki Balai Desa tempat bapakbapak dan ibu-ibu bermusyawarah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tempat penyuluhan. o Wilayah ini juga didukung adanya fasilitas papan pengumuman yang terletak di setiap pos kamling yang ada, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tempat menempelkan media media cetak yang dibuat. Di wilayah tersebut juga terdapat alat alat komunikasi yang
37

mendukung penyampaian program, seperti radio, televisi dan lain lain. Kelemahan (weakness) : Masyarakat sekitar gunung merapi lebih mempercayai ilmutiten atau ramalan daripada perhitungan berdasarkan ilmu pengetahuan. b. Merangkum peluang dan ancaman kunci (faktor eksternal) Sama dengan diatas yaitu membuat peluang kunci untuk meningkatkan kesehatan melalui komunikasi, dan mengidentifikasi ancaman terhadap kemampuan untuk meningkatkan kesehatan melalui komunikasi. Peluang (opportunities) : Adanya lembaga-lembaga yang mendukung kelangsungan program sehingga bisa menjadi peluang untuk bisa menjalankan program yang telah dicanangkan. Ancaman (threats) : Ancaman yang mungkin dihadapi dalam program ini adalah kegagalan dalam melakukan pendekatan dengan para tokoh di wilayah sasaran, sedangkan masyarakat yang menjadi obejknya sangat bergantung pada tokoh agama, ataupun tokoh masyarakat lainnya. Dengan kata lain, tokoh agama, tokoh adat, ataupun tokoh masyarakat lainnya lah yang memegang pengaruh besar terhadap perubahan perilaku masyarakat sehingga saat pendekatan terhadap tokoh gagal, maka bisa dipastikan program yang ditujukan untuk masyarakat tersebut juga tidak akan maksimal. 2.1 Pengertian Perencanaan Strategis dalam P-Process

38

P-Process adalah sebuah kerangka kerja yang didesain untuk memimbing para profesional komunikasi bagaimana mereka mengembangkan program komunikasi strategis. Peta jalan langkah-demi-langkah ini membawa para profesional komunikasi dari konsep perubahan perilaku yang tidak komprehensif menjadi program yang strategis dan partisipatoris dengan dampak yang terukur pada sasaran audien yang digarap. Langkah-langkah P-Process tersebut meliputi Analysis;, Strategic Design; Development and Testing; Implementation and Monitoring; dan Evaluation and Replanning. Pada pembahasan makalah ini dikhuskan pada langkah P-Process yang kedua yaitu Strategic Design (Perencanaan Stategis) Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya, termasuk modal dan sumber daya manusia. Perencanaan strategis merupakan sebuah alat manajemen yang digunakan untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan proyeksi kondisi pada masa depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk yang dapat digunakan organisasi

39

dari kondisi saat ini untuk mereka bekerja menuju 5-10 tahun ke depan (Kerzner, 2001 dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan_strategis). Untuk mencapai sebuah strategi yang telah ditetapkan oleh organisasi dalam rangka mempunyai keunggulan kompetitif, maka para pimpinan perusahaan, manajer operasi, haruslah bekerja dalam sebuah sistem yang ada pada proses perencanaan strategis (Brown, 2005 dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan_strategis). Kemampuan manufaktur, harus dipergunakan secara tepat, sehingga dapat menjadi sebuah senjata yang unggul dalam sebuah perencanaan stategi (Skinner, 1969 dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan_strategis ). Perencanaan strategis secara eksplisit berhubungan dengan manajemen perubahan, hal ini telah menjadi hasil penelitian beberapa ahli. Lorange (1980), menuliskan, bahwa perencanaan strategi adalah kegiatan yang mencakup serangkaian proses dari inovasi dan merubah perusahaan, sehingga apabila strategic planning tidak mendukung inovasi dan perubahan, maka itu adalah kegagalan 2.2 Langkah-Langkah Perencanaan Strategis dalam P-Process Langkah 1. Mengkaji Hal atau Masalah Utama, Berikut Segmen Khalayak dan Tujuan Pada bagian ini, ddihadapkan pada serangkaian pendekatan yang memungkinkan untuk mencapai tujuan. Namun, disisi lain mungkin ada cara cara lebih baik. Dalam hal ini, kita harus memastikan bahwa pendekatan strategis paling sesuai telah dikembangkan bersama sebuah pilihan/alternative yang ada. Sebelum berlanjut pada bagian eksplorasi alternatif strategis dan bagaimana menentukan pendekatan strategis berikut alas an pendukungnya, kita perlu memahami konsep komunikasi identitas jangka panjang dan penentuan posisi (positioning), sehingga kelak kita bisa menentukan komponen komponen program kita. Langkah 2 Menentukan Identitas Jangka Panjang dan Positioning Strategi Perilaku
40

Identitas Jangka Panjang Saat anggota khalayak sasaran mempresentasikan dan menanggapi upaya komunikasi kesehatan sebagai upaya untuk mengubah perilaku, maka mereka akan menciptakan sebuah persepsi dalam pikirannya. Persepsi inilah yang bakal menjadi identitas perilaku jangka panjang. Dalam hal ini, khalayak sasaran akan membangun suatu gambaran atau gagasan tentang perilaku. Gambaran ini hanya ada dalam pikiran khalayak sasaran dan merupakan identitas perilaku bagi mereka. Gambaran (gagasanpeny) terbaik adalah jelas, bisa dibedakan, mudah dikenali, serta menunjukkan manfaat perilaku sesuai harapan. Identitas jangka panjang atau merek : Memberikan tanda yang terlihat atau merek (simbol, nama, rancangan, warna, atau kombinasisemuanya) yang menempel pada suatu produk, layanan, atau perilaku. Menggalang suatu hubungan kepercayaan, reabilitas, dan ekslusivitas antara perilaku dan khalayak sasaran. Memberikan nilai tambah terhadap produk, pelayanan, atau perilaku dasar. Memberikan beberapa jenis imbalan psikologis terhadap khalayak sasaran. Menyederhanakan masalah perbedaan antara produk, pelayanan atau perilaku yang bersaing. Memiliki alur kepribadian, yang memungkinkan khalayak sasaran membentuk suatu hubungan dengan merek. Identitas jangka panjang merupakan rangkaian persepsi yang unik dan mewakili gambaran produk, pelayanan atau perilaku dalam pikiran klien . Pikirkan sebuah kotak yang diberi label nama produk, layanan atau perilaku. Kemudian simpanlah semua ciri-ciri, manfaat dan pikirannya. Setiap hal yang terpikirkan mengenai produk tersebut menjadi bagian dari identitas jangka panjangnya. Salah satu komponen paling penting dari identitas ini adalah hubungan emosional yang tercipta antara khalayak sasaran dengan produk, layanan atau perilaku.
41

Produk Banyak merek mobil telah membangun identitas jangka panjang untuk menjamin kesetiaan pelanggan. Mercedes-Benz merupakan sebuah contoh merek mobil mewah yang menciptakan banyak gambaran positif tidak hanya di antara para pelanggan mobil mewah , tapi juga di kalangan masyarakat umum. Alasannya sederhana, meskipun sejumlah orang saat ini tidak bisa menjangkau harga mobil mercedes, mereka tetap menghubungkan merek ini dengan citra yang positif. Mungkin suatu hari mereka bisa membeli mobil ini, atau setidaknya terinspirasi untuk memilikinya. Meskipun ada banyak merek mobil kategori mewah, dan semuanya memberikan fungsi serta perlengkapan yang sama, citra merek mercendes cukup kuat untuk tetap berada dalam daftar nama teratas, saat seseorang diminta untuk menyebutkan mobil mewah. Intel,produsen chip mikroprosesor, selama bertahun-tahun telah mengeluarkan biaya besar untuk mendukung mereknya. Intel meminta para produsen komputer untuk menggunakan logo intel pada komputer pribadi (personal computer-PC) manapun yang dibuatnya, jika menggunakan salah satu produk Intel. Mereka juga membayar kampanye iklan produsen saat logo intel dipasang. Citra merek intel memberikan kredibilitas bagi produsen komputer, dan pada saat yang sama memperkuat citra merek tersebut setiap kali iklan muncul. Kampanye iklan yang aktif mendemonstrasikan manfaat produk mendukung semua upaya tersebut, dan lebih jauh lagi nmenanamkan nama intel pada pelanggan. Citra merek intel cukup kuat hingga komputer yang menawarkan Intel Inside mendapatkan hargab lebih tinggi dibandingkan komputer lain yang menawarkan produsen chip saingannya. Layanan ( Jasa) Seperti visa dan mastercard, American Express(Amex) menawarkan kredit pembelian. Jika Visa dan MasterCard menawarkan kredit melalui bank dan organisasi lain, Amex menawarkan kredit langsung melalui organisasinya dengan biaya yang
42

seringkali lebih tinggi daripada perusahaan kartu kredit lainnya. Pemegang kartu Amex tidak bisa menunda pembayaran. Mereka harus membayar lunas setiap bulan untuk tagihan sebelumnya, jika memegang jartu hijau biasa. Dengan pertimbangan berikut ini: kartu kredit bank lebih mudah di dapatkan, kadang-kadang biayanya lebih rendah, dan kadang-kadang tidak dikenai biaya tambahan serta keleluasan membayar tagihan, mengapa di dunia ini terdapat tak kurang dari 42,7 jutabpemegang kartu Amex 2002? Jawabannya karena Amex telah mempromosikan ciytra merek hanya untuk anggota member only secara konsisten selama jangka panjang waktu tertentu kepada dua khalayak sasaran yang berbeda. Pelanggan pemegang kartu dan para pedagang eceran, hotel, maskapai penerbangan serta restoran yang menerima Amex di tempat mereka. Kedua khalayak sasaran tersebut mempercayai, mengendalikan serta memiliki hubungan dengan Amex dan kartu kredit warna hijau yang mudah diidentifikasi. Kampanye Bintang Emas Mesir merupakan Strategi komunikasi KB Nasional pertama di negara berkembang yang berfokus pada promosi kualitas pelayanan. Kampanye ini juga bertujuan memosisikan klinik pemerintah sebagai sumber pelayanan berkualitas tinggi. Dalam beberapa tahap, program Bintang Emas akan memberi merek Bintang Emas pada klinik yang berhasil melampaui 101 persyaratan pada daftar yang memuat indikator peningkatan kualitas selama dua kuartal berurutan. Merk/ logo Bintang Emas ini mengungkapkan kepada klien potensial dan para tenaga kesehatan bahwa klinik tersebut memenuhi persyaratan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Logo Bintang Emas digunakan di seluruh klinik, pada semua materi kampanye, serta dipromosikan besar-besaran di media. Logo ini menjadi lambang identitas klinik jangka panjang untuk pelayanan yang berkualitas. Perilaku Identitas perilaku jangka panjang umumnya tidak terdokumentasi dengan baik dan tidak biasa dipikirkan dengan cara seperti ini. Namun di Amerika penggunaan
43

sabuk pengamanan mobil selalu dilakukan sehingga seringkali sulit menyadari bahwa hal tersebut telah menjadi perilaku umum selama 12 tahun terakhir (National Highway Traffic Safety Administration 1999). Untuk menanamkan perilaku ini diperlukan kombinasi iklan layanan masyaraka, advokasi kebijakan, dan pemberian contoh. Sekarang hampir semua negara bagian mempunyai Undang-Undang Sabuk Pengaman yang mengharuskan penggunaan sabuk pengaman bagi siapapun yang duduk di bangku depan mobil. Semua produsen mobil diminta memberikan sabuk pengaman, baik di jok depan maupun belakang. Apakah penggunaan sabuk pengaman memang mempunyai identitas jangka panjang? Bacalah artikel di surat kabar, atau saksikan program berita di televisi yang mengumumkan kecelakaan mobil yang fatal. Salah satu informasi kunci yang biasa disebutkan terkait dengan penggunaan sabuk pengaman oleh pengemudi atau penumpang. Hal serupa berlaku juga untuk perubahan perilaku dalam komunikasi kesehatan. Program komunikasi kesehatan dapat saja membangun identitas jangka panjang kepada klien dengan mempromosikan produk, layanan, dan perilaku yang dipercaya secara konsisten memberikan keunggulan, dan dipersepsikan dengan pelanggansebagai sesuatu yang relevan dan menonjol. Identitas jangka panjang atau merek terdiri dari komponen yang nyata dan tidak nyata Komponen nyata adalah manfaat fungsional dan produk, seperti apa yang dilakukan oleh produk tersebut, serta tanda identifikasi khusus apapun (logo/nama). Komponen tidak nyata adalah manfaat emosional dari produk tersebut seperti kepercayaan, kehandalan, nilai tambah, dan kualitas perbedaan. Konsep yang sama bisa digunakan dalam komunikasi perubahan perilaku. Sebagai contoh, klien bisa terus menggunakan metode/program KB modern, dan berfikir positif tentang metode modern tersebut karena manfaat fumgsional (yaitu kehandalan) dan manfaat emosionalnya (yaitu, memberikan perasaan aman dan percaya diri kepada klien).

44

Orang mempunyai sikap atau kepercayaan tertentu terhadap produk, pelayanan dan perilaku, serta menyimpan cuplikan informasi dalam pikirannya. Sikap dan kepercayaan ini bisa positif, negatif, atau kombinasi keduanya. Sebagai contoh, saat beberapa orang berpikir positif mengenai istilah keluarga berencana dan mempraktikkan KB yang lain mungkin mengaitkan istilah tersebut dengan efek samping, atau menemukan bahwa KB bertentangan dengan budayanya selama ini. Mengembangkan program identitas jangka panjang bisa membantu memberikan kerangka cara berpikir seseorang mengenai perilaku dengan memenuhi kebutuhannya, menggalang sikap positif, dan pada saat yang sama juga menghilangkan perilaku serta kepercayaan negatif. Identitas jangka panjang jika dikelola dengan tepat dan berkesinambungan akan membantu membangun hubungan positif dan saling mempercayai antara khalayak sasaran dan perilaku yang diharapkan. Meskipun identitas atau merek jangka panjang biasanya dikaitkan dengan produk dan pelayanan, istilah ini belum umum dikaitkan dengan perilaku. Tapi, proses identitas jangka panjang akan membantu, mengatur, dan memberikan kerangka bagi seluruh program kesehatan. Konsep kuncinya adalah memberi nama pada perilaku tersebut. Di Ghana, untuk meningkatkan permintaan terhadap KB, identitas jangka panjang ini dinamakan Pilihan Hidup (Life Choice). KB bukan hanya program kesehatan yang mengurangi kehamilan yang tidak diinginkan, tapi juga dipandang sebagai alat bantu yang memungkinkan khalayak mencapai tujuan hidup pribadinya. Penentuan Posisi (Positioning) Komunikator perubahan perilaku menggunakan positioning untuk menentukan pendekatan terbaik dalam memotivasi khalayak sasaran aagr mengubah atau mengadopsi perilaku tertentu. Setelah menentukan tujuan bagi khalayak sasaran dan mengembangkan identitas jangka panjang, komunikator perlu memikirkan bagaimana mereka akan memosisikan perilaku untuk mencapai tujuan dan
45

memelihara identitas jangka panjang. Positioning ini berhubungan erat dengan identitas jangka panjang dan membangun citra perilaku yang diinginkan dalam pikiran khalayak sasaran, serta membantu khalayak untuk mengingat, mempelajari, bertindak dan mengadvokasinya. Jadi, identitas jangka panjang adalah semua yang diketahui dan dirasakan oleh khalayak sasaran mengenai produ, pelayanan atau perilaku. Oleh sebab itu, positioning merupakan citra promosi yang dengan sengaja dikonsumsikan kepada khalayak sasaran. Posisi yang efektif adalah sebagai berikut: Bergaung diantara khalayak sasaran Membedakan dari persaingan Menonjol sebagai hal yang lebih baik dari alternatif lain yang diketahui Memberikan manfaat senilai dengan biaya ataupun upaya yang dikeluarkan Positioning (pemosisian): dalam konteks rancangan strategis, positioning berarti menyajikan suatu isu, pelayanan atau produk dengan cara tertentu, sehingga tampak menonjol jika dibandingkan dengan pelayanan, atau produk sejenis yang bersaing, menjadikannya menarik. Positioning menciptakan suatu citra yangb berbeda dan menarik, suatu pijakan yang bertahan dalam pikiran khalayak sasaran. Sektor pemasaran komersial menggunakan istilah positioning dalam lingkungan yang kompetitif untuk menetapkan atau memosisikan sebuah produk diantara produk lainnya. Jika sebuah mobil Cadillac termasuk golongan mewah maka mobil yang lain menjadi golongan ekonomis seperti Hyundai. Jika pencuci rambut Clairol menawarkan rambut yang mudah di atur, maka pencuci rambut LOreal memberikan rambut yang megah dan berkilau. Posisi membantu mengomunikasikan perbedaan yang menarik dan unik kepada khalayak sasaran. Pembedaan ini memang dirancang untuk memberikan keunggulan bagi produk dalam kompetisi di pasaran. Posisi membantu pendekatan strategis secara keseluruhan. Memosisikan merupakan saran bagaimanaperubahan ini 9perubahan perilaku yang diharapkan) bisa disajikan kepada khalayak sasaran yang dituju dengan cara yang paling persuasif.
46

Dari sudut pandang komunikasi, posisi bisa menjadi elemen kunci karena menentukan cara orang melihatsuatu produk/pelayanan/perilaku, bagaimana mereka akan mengingat kegiatan komunikasinya dan sejauh mana hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan tindakan. Pikirkan pemosisian sebagai suatu cara untuk memasukkan PUNCH kedalam strategi. Positioning itu...... Positioning selalu positif. Unique selalu unik. Niche mengembangkan tempat khusus dalam pikiran khalayak sasaran. Competitive selalu bersaing. Helps selalu membantu khalayak sasaran dengan memberikan manfaat. Positioning berarti memberikan tanda-tanda yang bisa diingat oleh khalayak sasaran. Tujuannya adalah untuk mengetahui mengapa mereka harus mengadopsi suatu perilaku, sambil memberi dasar untuk taktik komunikasi : iklan, promosi, pengemasan, publisitas, peristiwa khusus, KIP(komunikasi interpersonal), komunikasi berbasismasyarakat, dan program advokasi. Semua ini akan membentuk perkembangan pesan dan pemilihan saluran. Selain itu, memastikan bahwa pesanpesan akan tetap konsisten, dn bahwa setiap upaya atau kegiatan komunikasi akan saling memperkuat kegiatan lain serta memberikan efek kumulatif. Langkah-langkah untuk mengembangkan suatu posisi 1. Langkah kunci pertama dalam mengembangkan suatu posisi adalah mengetahui arah gerakan khalayak sasaran untuk mendapatkan produk dan pelayanan kesehatan, serta bagaimana perilaku mereka saat ini. 2. Langkah kunci kedua adalah menentukan perilaku positif macam apa yang bisa disampaikan secara realistis kepada khalayak, yang lantas akan mereka persepsikaan sebagai suatu hal yangb bermanfaat. Langkah ini mungkin memerlukan riset tambahan tentang khalayak sasaran. Mulailah dengan mengkaji dan mengikuti langkah-langkah dasar ini :
47

Analisalah kemampuan program, identifikasi perbedaannya dari program lain (dari Analisa Situasi)

Analisalah persepsi khalayak sasaran tentang produk, pelayanan atau perilaku (dari Analisa Situasi dan Segmentasi Khalayak)

Buatlah daftar khalayak sasaran dan karakteristik mereka (dari Segmentasi Khalayak)

Cocokkan karakteristik produk, layanan, atau perilaku, dengan kebutuhan dan keinginan khalayak sasaran.

Eksplorasikan alternatif positioning. Buatlah pertanyaan positioning.

Mengembangkan pernyataan positioning (positioning statement) Pernyataan positioning menjelaskan bagaimana perilaku akan ditempatkan dalam pemikiran khalayak sasaran. Jadi, sama sekali bukan slogam yang mengundang. Pernyataan positioning membantu penulis mengembangkan slogam yang menarik perhatian. Namun yang dimaksud dengan positioning statement bukanlah slogam itu sendiri. Pernyataan positioning tidak boleh dimasukkan ke dalam materi komunikasi yang akan diberikan kepada khalayak. Pernyataan positioning merupakan panduan bagi pendekatan strategis dan pesan yang menyertainya. Langkah 3 Mengeksplorasi Alternatif-Alternatif Strategis Membandingkan tugas kita dengan pekerjaan seorang arsitek, lagi-lagi, akan membantu. Dalam membangun sebuah rumah, arsitek punya banyak pilihan. Ia mengetahui jumlah kamar tidur dan toilet yang diperlukan kliennya; ia tahu bahwa rumah harus mempunyai ruang keluarga, dapur, lemari pakaian, dan mungkin
48

ruangan-ruangan lain yang sudah ditentukan sebelumnya. Tetapi tetap saja ia mempunyai banyak pilihan. Apakah ia harus merancang rumah tiga lantai, atau rumah yang semua ruangannya ada di satu lantai? Apakah kamar tidurnya harus menghadap ke timur, barat, selatan, atau utara? Di lahan mana rumahnya harus dibangun, mengambil jarah dari jalan, atau lebih dekat ke jalan namaun halaman belakangnya besar? Arsitek yang berpengalaman akan mengeksplorasi alternatifalternatif menggunakan ketrampilan matematis dan logika, serta bakat kreatif untuk mencari rancangan terbaik. Hal serupa juga berlaku pada tim strategi komunikasi, maka cara terbaik untuk maju adalah membuat daftar kemungkinan pemecahan serta mulai menyeleksi pilihan tersebut. Berikut ini beberapa alternatif pendekatan strategis 1. Penjajakan daerah baru Penjelasan: Merupakan konsep yang baru bagi mereka yang tidak mempraktikkan perilaku alternatif. Contoh: komputer rumah, tetes vitamin A. Keuntungan: Berdasarkan kebutuhan khalayak, tidak mempunyai asosiasi negartif, memperkenalkan ide dan konsep baru. Kerugian: Masyarakat lambat bertindak, kesadaran generasi datang lebih dulu, mahal. 2. Kompetitif Penjelasan: mengalihkan perilaku saat ini kepada perilaku yang diinginkan. Contoh: Kontrasepsi modern dibandingkan dengan metode tradisional. Keuntungan: masyarakat sudah mempraktikkan perilaku, khalayak yang sudah disegmentasi perlu memahami manfaat yang jelas sehingga perilaku mereka bisa dialihkan.

49

Kerugian:

Harus

menawarkan

perbedaan

manfaat

sejelas

mungkin,

masyarakat mungkin mempunyai komitmen total terhadap perilaku sekarang dan tidak terbuka untuk perubahan. 3. Tranding up (Peralihan pada Sesuatu yang Lebih Baik) Penjelasan: beralih dari perilaku yang diharapakan pada perilaku yang lebih bermanfaat bagi khalayak sasaran. Contoh: Dari pil ke kontrasepsi jangka panjang untuk ibu yang tidak ingin punya anak. Keuntungan:masyarakat kebutuhan sesungguhnya. Kerugian: mengikis dasar yang sudah ada (harus mengubah dasar yang sudah ada), mungkin terlalu kecil untuk menjustifikasi investasinya. 4. Strategi segmentasi khalayak Penjelasan: pengguna vs bukan pengguna; perkotaan vs pedesaan; dari praktik sampai pada advokasi. Keuntungan: memahami perbedaan antarsegmen, efektif jika segmennya besar dan memiliki cukup akses untuk mngembangkan program. Kerugian: Bisa membutuhkan biaya lebih banyak, harus digunakan hanya jika pesannya memang perlu dibedakan. 5. Berorientasi produk Penjelasan: Pemasaran sosial (Social marketing). Contoh: menjual merk kondom tertentu. sudah punya kecenderungan untuk mempraktikkannya, memberikan pemecahan lebih baik untuk memenuhi

50

Keuntungan: prinsip pemasaran berlaku lebih mudah mengembangkan rencana, memungkinkan untuk menciptakan iklan yang mantap dan nyata berdasarkan profil khalayak yang berbeda.

Kerugian: penelitian mendalam untuk mengetahui pengguna baru atau ulangan, dan lain-lain; bisa melacak penjualan tapi perlu analisa penjualan, mahal.

6. Berorientasi kemasan Penjelasan: pelyanan yang dirangkaikan untuk suatu khalayak atau demi kenyamanan. Contoh: Paket pelayanan kesehatan esensial. Keuntungan: Menambah nilai bagi khalayak sasaran, memberi manfaat yang jelas-kenyamanan. Kerugian: janji yang dipromosikan harus siap di tingkat petugas.

7. Berorientasi pelayanan Penjelasan: promosi tenaga kesehatan; kualitas dalam pelayanan Contoh: Ghana-Kami Peduli Keuntungan: membantu membangan akan tuntutan pelayanan berkualitas tinggi. Kerugian: memerlukan program pelatihan yang besar, mungkin memerlukan komitmen dana yang besar untuk perlengkapan, fasilitas, dll. 8. Menciptakan merk Penjelasan: merupakn identifikasi sistem pelayanan atau produk. Contoh: Bangladesh Payung Hijau. Keuntungan: merupakan cara efektif untuk mempersatukan seluruh program.
51

Kerugian: aspek program lain harus memberikan janji merk yang sama.

9. Musiman Penjelasan: melakukan semua upaya dalam jangka tertentu. Contoh: Hari Imunisasi Nasional. Keuntungan: Bisa mengkonsentrasikan sumberdaya untuk jangka waktu pendek. Kerugian: tidak langsung, harus diulang setiap musim.

10. Berfokus pada media Penjelasan: menggunakan media sebagai pusat aktivitas program. Contoh: Radio Tanzania. Keuntungan: efektif jika media sangat kuat menjangkau khalayak sasaran. Kerugian: membatasi komunikasi untuk berfokus pada saluran, dan bukan pada khalayak sasaran atau pelayanan. Mungkin tidak menjangkau daerah pedesaan yang miskin. 11. Berbasis masyarakat Penjelasan: bergerak dalam lingkup partisipasi masyarakat. Contoh: Puentes-Peru. Keuntungan: Efektif di tingkat masyarakat. Kerugian: Terbatas secara geografis. Untuk meningkatkan skalanya biayanya mahal. 12. Diarahkan oleh yang mempengaruhi Penjelasan: menggunakan advokasi.

52

Contoh: demokrasi dan pemerintahan- hukum warisan bagi perempuan Nigeria. Keuntungan: baik untuk mengubah kebijakan; memberi dukungan program berikutnay yang berfokus pada khlayak sasaran. Kerugian: terbatas hanya pada pembuat pendapat. Mungkin memerlukan kampanye untuk mencipatakan permintaan supaya memotivasi pihak yang berpengaruh.

13. Berfokus pada KIP (Komunikasi Interpersonal) Penjelasan: Berdasarkan konseling pelayanan pribadi. Contoh: Nepal. Keuntungan: bisa mengkonssentrasikan sumber ke beberapa bidang untuk mendapatkan dampak yang tinggi. Kerugian: memberikan hasil terbatas pada perubahan perilaku tanpa penekanan di tingkat lainnya. 14. Fokus nasional, lokal, regional, geografis Penjelasan: ketika kebutuhan tertentu ada di suatu daerah sistem kesehatan yang berbeda memerlukan sistem strategi yang berbeda juga. Tidak tersedia di semua tempat. Contoh: strategi HIV/AIDS Tanzania Ishi. Keuntungan: efektif di tingkjat tenaga kesehatan. Kerugian: mungkin tidak memenuhi tujuan nasional, mahal.

15. Berfokus pada pusat Penjelasan: menempatkan wahana hiburan yang mendidik sebagai jangkar strategi komunikasi. Semua hal lain bergerak di sekitar program.
53

Contoh: Soul City- Amerika Selatan. Keuntungan: Menarik perhatian khalayak yang bersar, menggunakan contohcontoh untuk menunjukkkan perilaku positif. Bisa menyampaikan berbagai pesan, dan mengulangnya setelah beberapa lam.

Kerugian: Terfokus pada media massa dan mungkin tidak relevan di tingkat masyarakat. Kemungkinan yidak mengjangkau orang yang tidak punya akses terhadap media. Memerlukan keahlian teknis untuk menghasilkan program berkualitas baik.

Langkah 4 Menentukan Pendekatan Startegis dan Dasar Pemikiran / Alasan Setiap pendekatan strategis membutuhkan dasar atau alasan pendukung yang menyertai upayanya. Penulisan alasan pendukung memungkinkan kita memahami ketepatan pendekatan yang dipilih, sekaligus mengindentifikasi kekurangan yang mungkin ada. Lebih dan dari itu, kita kemungkinan pendekatan berkesempatan ini dalam untuk memepresentasikan mempertahankan beberapa

kesempatan. Dengan demikian, sebuah alasan pemikiran yang dipertimbangkan dengan baik akan berfungsi sebagai dasar yang kuat untuk membenarkan pendekatan kita

2.3 Penerapan Perencanaan Strategis P-Process Pada beberapa hari terakhir ini, tepatnya Bulan November 2010, kita telah digemparkan oleh peristiwa meletusnya Gunung Merapi, dan banyaknya penduduk sekitar yang menjadi korban. Dari erupsi terakhir, korban meninggal akibat meletusnya gunung merapi masih sangat tinggi walaupun sebenarnya meletusnya gunung merapi dapat dideteksi sebelumnya. Padahal bisa diketahui, Gunung Merapi sendiri terletak di dekat perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang
54

berkompeten. Seharusnya, korban yang jatuh pada peristiwa tersebut bisa dikurangi atu bahkan tidak ada sama sekali jika dilihat dengan kemajuan informasi dan tingginya pendidikan di sekitar Lereng Gunung Merapi. Apalagi meletusnya Gunung Merapi ini bukan hal yang pertama, terhitung sudah 68 kali meletus dan jarak puncak keaktifan yang cukup dekat, maka tingkat kepentingan untuk siaga bencana ini seharusnya sudah lebih ditingkatkan. Melalui analisis yang telah dilakukan, maka diperlukan adanya siaga bencana untuk mengubah pemikiran dari masyarakat sekitar lereng gunung merapi dan memberikan pengetahuan tentang siaga bencana. Untuk itu, dalam melakukan sosialisasi diperlukan strategi yang tepat agar dapat mengubah pola pikir masyarakat tersebut sehingga program sosialisasi bisa menghasilkan output seperti yang diharapkan. Strategi untuk sosialisasi siaga bencana yang penulis pilih dikelompokkan menjadi 3 bagian besar, yaitu:

1. Sosialisasi ke mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Jogjakarta 2. Sosialisasi ke Sultan Hamengkubuwono XI 3. Sosialisasi ke masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi Beberapa tujuan umumnya terangkum dalam metode SMART, dapat diperinci sebagai berikut: S = Spesific, disini meliputi sasaran dan tempat penyebaran komunikasi atau pesan siaga bencana yaitu daerah sekitar Lereng Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah M = Measurable, upaya yang penulis lakukan disini dapat dilihat melalui jangka pendek yaitu dengan tanggapan masyarakat terhadap sosialisasi

55

yang dilakukan, dan melalui jangka panjang yaitu perubahan pola pikir dan perilaku dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. A = Appropriate, setelah melakukan analisis khalayak dan identifikasi masalah di daerah sekitar Lereng Gunung Merapi ternyata merupakan daerah sasaran yang paling tepat.( ketepatan ) R = Realistic, program ini berisi tentang upaya mengubah pola pikir dari masyarakat sehingga pada akhirnya terjadi perubahan perilaku sesuai dengan harapan penulis.(terealisasi ) T = Time Bond, kegiatan ini akan direalisasikan sekitar bulan Juli 2012September 2012.

Sasaran dalam strategi ini dibagi menjadi 3 fokus, diantaranya adalah: Sasaran primer Sasaran sekunder : tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar lereng Gunung Merapi : mahasiswa Perguruan Tinggi di Daerah Istimewa Jogjakarta. Misalnya: UGM, UNY, UII, UM, Stikes Yogyakarta, UPN, Universitas Kesenian, dll. Sasaran tersier : Sultan Hamengkubuwono IX dan lembaga yang terkait.

2.1 Memilih Saluran yang Kemungkinan Paling Menjangkau Khalayak Sasaran Sebelum memutuskan materi yang akan dibuat, hal pertama yang harus diputuskan berkaitan dengan saluran komunikasi paling tepat untuk menjangkau khalayak sasaran. Para ahli komunikasi kesehatan mendefinisikan saluran

56

komunikasi sebagai cara pengiriman pesen yang memungkinkan terjadinya pertukaran pesan antara pengirim dan penerima. Jenis-jenis saluran komunikasi : 1. Saluran komunikasi interpersonal (KIP) Mencakup komunikasi antar individu (orang per orang), seperti komunikasi antar penyedia jasa kesehatan dengan kliennya, antara pasangan suami-isteri, atau antar rekan sebaya. 2. Saluran berbasis masyarakat Menjangkau komunitas tertentu (sekelompok orang dalam wilayah geografis tertentu, seperti desa atau tetangga, atau suatu kelompok berdasarkan minat atau karakteristik yang sama, seperti kelompok etnis atau kelompok berdasarkan status komunikasi komunitas antara lain : a. Media berbasis komunitas, seperti harian lokal, stasiun radio lokal, papan pengumuman, dan poster-poster. b. Kegiatan berbasis komunitas, seperti kegiatan kesehatan, drama rakyat, konser, pertemuan atau rapat umum, dan parade. c. Penggerakan atau mobilisasi komunitas, dimana komunitas berpartisipasi menentukan serta melakukan suatu tindakan sebagai bentuk kepedulian bersama. 3. Saluran media massa Dapat menjangkau khalayak luas dalam waktu singkat. Mencangkup media : a. Televisi b. Surat kabar c. Iklan luar ruang atau iklan berjalan d. Internet e. Radio f. Majalah
57

pekerjaan

yang sama). Bentuk-bentuk

g. Direct Mail Saluran saluran Komunikasi Khalayak Saluran Komunikasi Interpersonal Tenaga/penyuluh Perorangan kesehatan pada klien, antar pasangan suamiisteri, antar rekan sebaya. Saluran Jangkauan Keunggulan Dapat menjadi sumber informasi paling terpercaya karena dilakukan melalui komunikasi tatap muka. Tingkat partisipasi/keterlibatan paling tinggi. Sangat efektif. Saluran-saluran Komunitas Media komunitas Laki-laki, (surat kabar komunitas, stasiun radio lokal) perempuan, anak-anak Kelemahan Sulit untuk mengontrol pesan. Membutuhkan pelatihan dari seorang ahli komunikasi. Sangat mahal untuk dikembangkan. Makan waktu untuk menjangkau khalayak luas. Ada partisipasi khalayak. Mungkin lebih dapat diandalkan daripada media massa umum karena lebih bersifat lokal. Berbiaya rendah. Mahal untuk dikembangkan. Jangkauan khalayak yang berada di luar komunitas utama rendah. Frekuensi penyebaran informasi rendah. Komunikasi bersifat Kegiatan komunikasi (drama rakyat, pertemuan kelompok, rapat Segmen khalayak tertentu Ada partisipasi khalayak. Mungkin lebih dapat diandalkan daripada media komunitas karena satu arah. Mahal untuk dikembangkan. Jangkauan khalayak rendah.
58

umum, penyuluhan masyarakat/kegiatan mobilisasi penggerakan masyarakat)

terkait dengan keterlibatan khalayak. Mendorong pelembagaan struktur masyarakat. Mendorong kesinambungan usaha.

Frekuensi penyebaran informasi rendah.

Berbiaya rendah. Saluran Media Massa Televisi Rumah tangga, Jika pesan sampai ke keluarga (lakilaki, perempuan, remaja, anakanak) rumah, dapat mendorong munculnya diskusidiskusi dalam keluarga. Menjangkau persentase khalayak sasaran yang luas. Memberikan dampak pesan maksimum (karena melibatkan penglihatan, suara, gerak). Biaya efisien.

Biaya produksi mahal. Lebih menjangkau masyarakat kota daripada desa. Biayanya bisa terlalu mahal pada masamasa tertentu. Sulit untuk ditayangkan pada saat prime-time (waktu/jam tayang utama). Jika ditayangkan pada waktu lain, khalayak yang dijangkau kemungkinan tidak banyak. Khalayak terbagibagi.

Radio

Individu, keluarga,

Digunakan sebagai media perorangan di banyak

59

remaja, dewasa

negara. Disampaikan berulangulang (frekuensinya sering). Bisa digunakan untuk membangun jangkauan luas. Memperkuat pesan-pesan yang telah disampaikan melalui media televisi. Bisa sangat ktreatif. Lebih murah daripada televisi. Pesan bisa dikirim dengan atau dalam bahasa setempat. Dapat menjangkau khalayak yang berbeda berdasarkan gaya hidup, demografi, dan perilaku. Pesan disajikan dengan reproduksi warna. Jumlah pembaca meningkat terus. Lebih bergengsi. Media menjangkau khalayak yang luas dan banyak. Tepat waktu.

Jika terdapat banyak stasiun radio dalam satu wilayah, butuh biaya mahal untuk menyebarkan pesan. Tidak ada gambar atau visualisasi. Tidak selalu mudah untuk masuk ke seluruh negeri.

Majalah

Laki-laki, perempuan, remaja

Membutuhkan waktu yang lama. Frekuensi rendah. Pesan hanya untuk khalayak yang melek huruf. Terutama hanya menjangkau kelas atas. Hanya bagi mereka yang bisa baca tulis. Kualitas reproduksi kurang.
60

Surat kabar

Laki-laki dan perempuan yang berpendidikan,

para pembuat kebijakan

Keluasan berita. Berpengaruh. Ukuran pesan fleksibel.

Reproduksi foto kurang baik. Informasi cepat basi (berumur pendek). Biayanya bisa tidak efisien. Waktu paparan (penayangan) terbatas. Isi pesan terbatas. Tidak dapat bertahan lama.

Iklan luar ruang / berjalan (Billboard, iklan di bus)

Laki-laki dan perempuan

Bagus untuk membangun pengenalan dan kepedulian. Area dengan arus lalu lintas pesan yang tinggi. Pesan sangat singkat. Turut memberikan penekanan atas pesan media lainnya.

A. Mengembangkan Jangkauan Khalayak dengan Cepat Penggunaan beberapa saluran komunikasi didasarkan pada pada faktor jangkauan. Artinya, saluran-saluran utama yang dipilih merupakan saluransaluran yang dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Di beberapa negara, televisi dianggap sebagai media yang mampu melakukan hal itu (menjangkau khalayak luas dalam waktu singkat). Sementara dinegara lain, radiolah yang dianggap sebagai media yang sesuai atau efektif. Kegiatan-kegiatan masyarakat juga bisa menjangkau sejumlah besar orang dalam suatu masyarakat / komunitas. Namun frekuensi penyampaian pesan hanya terbatas pada kerangka waktu dan sejumlah kegiatan tertentu, yang memang direncanakan untuk komunitas tersebut. B. Menekankan Frekuensi (Kekerapan Pengulangan) Pesan

61

Penyampaian

pesan

menggunakan

gabungan

saluran-saluran

komunikasi harus dilakukan secara tetap guna menanamkan ingatan dalam benak khalayak untuk waktu yang cukup lama. Menekankan pada masalah frekuensi penyampaian pesan, dan menggunakan suatu media yang mungkin tidak bisa menjangkau banyak orang dengan cepat, namun punya cukup kemampuan untuk mengulang isi pesan secara berulang-ulang atau teratur untuk waktu yang lebih lama. Di banyak negara, radio misalnya, merupakan contoh saluran yang baik yang bisa membantu penyebaran pesan secara terus menerus atau berulang-ulang. Iklan radio relatif tidak mahal, dan spot (materi isi) iklan radio bisa disampaikan berulang-ulang selama kempanye. Komunitas interpersonal di klinik kesehatan merupakan suatu cara untuk membangun kesinambungan penyampaian pesan secara berulang-ulang. Ini dapat terjadi dengan memastikan bahwa mengulanginya pada setiap kunjungan. C. Kombinasi Jangkauan dan Frekuensi Untuk mengembangkan jangkauan pesan pada khalayak (dengan menggunakan berbagai media), tanpa mengurangi penyebaran pesan secara berulang-ulang (frekuensi), pertimbangan untuk menggunakan kombinasi atau gabungan kedua pendekatan tersebut. Kita dapat menjangkau banyak orang pada saat konsep ini berjalan. Di sebagian negara, penyebaran pesan menggunakan gabungan berbagai media seperti televisi, radio, kegiatan komunitas / kemasyarakatan, dan komunikasi inter personal merupakan cara untuk membangun, jangkauan pesan yang lebih luas, sekaligus untuk menyampaikan pesan dengan frekuensi berulang-ulang. D. Menjangkau Khalayak dengan Cara Paling Efisien Paduan berbagai saluran yang baik harus menyeimbangkan berbagai faktor, seperti besaran khalayak yang dapat dijangkau dan biaya yang dikeluarkan untuk menjangkaunya. Untuk membandingkan setiap saluran
62

komunikasi berdasarkan efisiensi biaya, bagilah biaya pemasangan pesan di media atau saluran tersebut dengan jumlah khalayak yang dapat dijangkau. E. Pendekatan dengan Banyak Saluran (Multichannel Approach) Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan banyak saluran dalam penyampaian pesan (Pendekatan banyak saluran), lebih berpeluang mengubah perilaku daripada pendekatan dengan saluran tunggal (Piotrow, Kincaid, Rimon & Rinehart, 1997). Tambahan lagi, pendekatan banyak saluran, khususnya lewat media massa, mampu lebih cepat mencapai tujuan. Melalui berbagai saluran komunikasi, kita dimungkinkan menjangkau lebih banyak orang dan lingkungan yang berbeda, dengan frekuensi terpaan pesan yang lebih sering. Kombinasi berbagai saluran juga memberikan sinergi (dorongan) terhadap kampanye, serta menambah dampak pesan kampanye. Hal tersebut penting dan memberi lebih banyak pengaruh bagi khalayak utama dan sekunder yang menerima terpaan pesan-pesan serupa. Terpaan berbagai saluran atau media komunikasi ini, pada gilirannya kelak, akan membantu menekankan arti penting dukungan kampanye tersebut bagi mereka. F. Mencapai Bauran Saluran Tanpa Batas Bauran beragam saluran komunikasi yang ideal adalah yang dapat menjangkau proporsi jumlah kelompok khalayak yang besar secara efisien. Pesen-pesan yang disampaikan melalui saluran-saluran tersebut harus konsisten dan saling mendukung. Ini berarti, pesan-pesan pada televisi, misalnya, konsisten dengan pesan-pesan yang disampaikan di klinik-klinik kesehatan. Perencana pesan harus memahami bagaimana khalayak menanggapi pesan masing-masing saluran, hingga pesan seolah tak berbatas / punya kesatuan utuh. Sebagai contoh, pesan-pesan yang menerpa para remaja dari suatu konser daerah yang diseponsori sebuah perusahaan pemasaran sosial,

63

harus diperkuat pula oleh materi pesan yang mereka terima lewat bimbingan remaja (peer conselor) serta pesan yang mereka dengar di radio. G. Memilih Saluran Utama dan Saluran Pendukung, Lengkap dengan Alasannya Kita harus menentukan mana yang akan menjadi saluran utama dan mana yang akan berlaku sebagai saluran pendukung. Seperti lokomotif yang menarik gerbong-gerbong kereta, maka saluran utama akan menjadi mesin penggerak yang menarik saluran-saluran lainnya. Pikirkan lembar kerja Anda saat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : 1. Saluran mana yang akan menjangkau proporsi terbesar khalayak sasaran ? 2. Saluran mana yang paling sesuai dengan pernyataan pesan ? 3. Saluran mana yang akan memberikan dampak terbesar ? Walaupun media massa dapat menjangkau lebih banyak orang, mungkin tidak selalu masuk akal jika harus selalu memilihnya sebagai saluran utama. Contoh Lembar Kerja Rangkuman Saluran Komunikasi Terpilih Contoh : Program Pilihan Hidup (Life Choices) di Ghana Saluran Komunikasi utama saya adalah : 1. Televisi Karena . . . Televisi menjangkau mayoritas luas semua kelompok khalayak, dan memiliki dinamika yang melibatkan penglihatan, pendengaran, serta gerakan untuk menghubungkan tiap cerita pengalaman orang. Televisi membuat cerita-cerita tadi terasa hidup. Saluran Komunikasi lainnya : 2. Radio Karena . . . Radio bisa mendukung cerita yang ditayangkan televisi, juga bisa menjangkau kelompok khalayak yang tidak terjangkau siaran televisi. Radio juga membantu menyajikan kisah lain menggunakan karakter orang yang berbeda, yang disampaikan

64

3. Media iklan luar ruang (Billboard) 4. Materi komunikasi interpersonal 5. Jangkauan komunitas

dalam bahasa setempat. Papan iklan ruang luar dapat mengingatkan khalayak akan karakter yang ditampilkan di televisi, dan mendukung dengan kalimat pendek sederhana : Ini Hidup Anda, Ini Pilihan Anda. Materi-materi tersebut dapat menjangkau mereka yang terkait untuk mengetahui lebih lanjut tentang metode KB. Selain itu, materi juga bisa mendukung tema Pilihan Hidup. Pengguna KB yang puas akan mendukung tema Pilihan Hidup melalui seminar dan kegiatan keliling, yang menyajikan kisah Pilihan Hidup mereka. Pada saat yang sama, mereka memberikan saran atas pilihan metode KB yang telah diambil.

2.2 Menentukan Alat Bantu Alat bantu merupakan taktik atau cara yang digunakan untuk mengirim pesan melalui saluran. Dalam komunikasi, alat bantu mencakup periklanan, publisitas, pendidikan, hiburan, penyuluhan, partisipasi masyarakat, pelatihan petugas kesehatan, manajemen kegiatan, serta pengembangan kemitraan swasta. Tim perencana komunikasi mempunyai banyak pilihan alat bantu. Tantangannya adalah bagaimana memilih kombinasi alat bantu terbaik agar sesuai dengan pendekatan strategis guna mencapai tujuan. Untuk itu, tim perlu memahami cara kerja alat bantu tersebut : alat bantu apa yang paling baik untuk mencapai tujuan, dan kapan harus menggunakannya. Penyuluhan misalnya, bisa membantu membangun kondisi yang dapat mendukung suatu perilaku sebelum khalayak diterpa pesan. Kampanye dengan penyuluhan kepada para pemuka agama di Yordania membuka jalan bagi kampanye kesehatan reproduksi remaja. Iklan di media massa dan kampanye humas (PR) bisa mendorong para pembuat kebijakan membuat suatu kebijakan guna mendukung perubahan perilaku. Di Rumania, peluncuran kampanye kesehatan ibu menggunakan banyak saluran komunikasi, berskala nasional, serta didukung oleh Departemen Kesehatan.

65

Tujuannya agar program terus berjalan guna menjamin petugas KB mendapat kompensasi (penghargaan / upah) atas kerjanya. Pertanyaan-pertanyaan utama yang diajukan adalah : 1. Alat bantu apa yang diperlukan untuk mendukung pendekatan strategis ? 2. Bagaimana alat tersebut akan digunakan ? 3. Mengapa alat tersebut yang diperlukan ? 4. Bagaimana alat-alat itu akan menyesuaikan diri dengan gambaran program keseluruhan ? 5. Bagaimana alat tersebut berfungsi bersama-sama ? Pertanyaan lain yang perlu diajukan di sini adalah : 1. Apakah mitra kita mempunyai kemampuan untuk mengelola alat tersebut ? 2. Apakah kita memiliki sumberdaya untuk membiayai alat tersebut ? Delapan Alat Bantu : Keunggulan, Kelemahan, Penggunaan yang Tepat Alat Advokasi Definisi Menciptakan suatu perubahan dalam opini publik dan menggerakkan sumberdaya serta kekuatan yang diperlukan untuk mendukung suatu isu, kebijakan atau khalayak pemilih. Keunggulan Membangun dukungan kebijakan. koalisi di tingkat akar rumput (masyarakat). Menciptakan lingkungan yang positif. Menghadapi aposisi. Kelemahan Jangkauan terbatas. keahlian yang Membutuhkan pengetahuan kontak. Butuh waktu lama untuk melihat perubahan. Penggunaan Untuk membuat / mengganti leglisasi / kebijakan dalam dukungan program kesehatan. Untuk mengubah sosial, atau politik berkaitan dengan isu-isu kesehatan. Untuk menghindari tanggapan negatif terhadap suatu
66

diantara pembuat Membutuhkan Bisa membangun sangat khusus.

tentang sistem dan situasi hukum,

program Periklanan Menginformasikan dan membujuk, dalam lingkungan yang terkontrol sedemikian rupa, melalui media yang dibayar, seperti televisi, radio, media luar ruang, surat kabar, dan majalah Mampu mengontrol isi pesan, penempatan media, penentuan waktu dan panjang pesan. Awalnya mahal, walau dalam jangka panjang biaya ternyata lebih efisien. Perlu menggunakan agen periklanana. Ruang penyampaian pesan terbatas. Kurang kredibel Promosi Memberi rangsangan tambahan yang mendorong khalayak untuk memikirkan perilaku yang diharapkan, atau untuk melakukan suatu tindakan yang mengarah kepada perilaku yang diharapkan, dengan rangsangan berupa
67

kesehatan. Untuk program komunikasi berskala nasional. Saat kontrol pesan diperlukan. Jika khalayak mampu mengakses media massa.

Tingkat tanggapan yang tinggi. Membuat khalayak bersikap aktif. Menghasilkan aksi / tindakan.

(terpecaya). Aksi segera tapi biasanya berjangka pendek. Bisa membutuhkan memproduksi dan menyebarkan pesan.

Saat mendorong khalayak untuk mencoba mempraktikan perilaku yang baru memperkenalkan suatu prodak atau pelayanan baru. Mendorong pemakaian (produk atau jasa).

biaya mahal untuk atau

pemberian kupon, contoh produk gratis, hadiah uang dan barang. Komunikasi Menguatkan Inter Personal interaksi pribadi antar individu. Termasuk diskusi / obrolan di dalam dan luar klinik, tidak hanya mencakup pelatihan informasi bagi petugas, tapi juga menguatkan lingkungan tempat komunikasi berlangsung. Menjangkau khalayak di tingkat individu. Terjadi komunikasi dua arah. Menekankan perilaku di lingkungan petugas. Membangun hubungan antara petugas / penyuluh dengan klien. Memungkinkan proses umpan balik yang efektif. Kegiatan Promosi dan Membuat dan atau mensponsori kegiatan yang perhatian dan Membangkitkan publisitas dan memperlihatkan itikad atau niat baik. Jika pembimbing dari rekan sebaya tidak mampu memenuhi janjinya,mungkin khalayak tidak terdorong untuk melakukan kunjungan ulang. Materi harus mudah dipahami, menarik, mudah didapat. Jangkauan terbatas. Bisa terjadi ketidak konsistenan dari satu situasi ke situasi lain. Berjangka pendek, bisa berbiaya mahal. Membutuhkan banyak tenaga. Selama peluncuran suatu kampanye. Menciptakan kepedulian.
68

Untuk semua promosi petugas / fasilitas. Semua program yang memberikan pelayanan.

Sponsorship bertujuan menarik

mempromosikan perilaku yang diharapkan. Misalnya melalui jumpa pers, pemunculan selebriti, acara pembukaan resmi, parade, konser, pemberian penghargaan, presentasi penelitian atau Partisipasi Masyarakat acara olah raga. Membantu masyarakat untuk ikut serta secara aktif mendukung dan memfasilitasi penerapan perilaku yang diharapkan. Melibatkan masyarakat secara keseluruhan. Mendukung perilaku kolektif dan individu. Membantu mengubah norma/nilai masyarakat. Publisitas Penggunaan media komunikasi gratis, untuk Memberikan sumber informasi yang

Sponsor harus dikejar, menerima keuntungan, dan sesuai dengan program.

Mempromosikan logo atau slogan. Membangun hubungan antara merek klien.

secara sosial harus keterkaitan

Membutuhkan waktu lama dan berkelanjutan. Perlu waktu lama untuk mengembangkan / memasyarakatkan. Masyarakat mungkin tidak selalu homogen (memiliki kesamaan). Kurang adanya kontrol terhadap pesan dan

Membangun partisipasi berkesinambungan dari masyarakat secara keseluruhan.

Memperkenalkan suatu produk atau layanan baru.


69

membangkitkan kesadaran khalayak dan membentuk sikap positif.

objektif dan lebih kredibel (dapat dipercaya). Menciptakan kesadaran dengan cepat. Tidak membutuhkan biaya mahal. Menguatkan kampanye yang dilakukan dengan iklan. Khalayak sangat pesan yang disampaikan melalui media hiburan. Isi program bisa disertakan. Pesan bisa membujuk / mengajak.

penempatan media. Perlu waktu lama untuk menciptakan hubungan media.

Ketika ada nilai berita yang perlu ditawarkan mengenai subyek tertentu.

Hiburan

Program televisi atau radio, drama rakyat, lagu, permainan yang memberikan hiburan yang dengan menyampaikan pesan yang mendidik di dalamnya.

Mahal Membutuhkan rancangan yang hati-hati atau teliti.

Berhubungan dengan kampanye iklan secara nasional. Bisa menjadi poin yang memberikan suara kuat untuk suatu strategi nasional. Bisa menggabungkan berbagai peasan berbeda untuk mempromosikan kesehatan secara
70

mudah menerima memproduksinya.

terpadu. A. Contoh contoh Saluran dan Alat Penyampaian Pesan Tabel dibawah ini menunjukkan hubungan antara saluran dan alat, serta meteri yang digunakan untuk setiap katagori. Sebagai contoh, media massa menjadi suatu saluran untuk menyampaikan pesan. Kendati demikian, pesan juga bisa disampaikan dengan merancang program yang diproduksi secara penuh, spot iklan yang dibayar, atau melalui berita sebagai suatu kampanye publisitas. Seluruh alat menggunakan saluran komunikasi yang sama, namun membutuhkan keahlian dan atau lembaga yang berbeda (agen periklanan, perusahaan humas, rumah produksi) untuk membantu melaksanakannya. Hubungan Antara Saluran dan Alat Saluran Komunikasi interpersonal Alat yang digunakan pada saluran Bimbingan dengan sebaya. Penyuluhan oleh petugas. Dukungan oleh klinik kesehatan untuk memperkuat upaya. Saluran komunitas Partisipasi masyarakaat. Materi / kegiatan Pelatihan, materi pendukung. Pelatihan, materi pendukung. Poster, pamflet, vidio yang dapat digunakan oleh klien (pasien) tanpa interaksi pribadi dengan petugas (provider) Pertemuan kelompok, panduan, kegiatan penyuluhan, materi ceramah dari pembicara, bahan materi dari Media komunitas. pers. Surat kabar komunitas, radio lokal, papan pengumuman, petugas yang memberikan pengumuman, pengumuman dengan alat pengeras Kegiatan masyarakat. suara. Drama rakyat, road show (kunjungan
71

Media massa : TV, Radio, Surat Kabar, Majalah, billboard, iklan berjalan Media massa : TV, Radio,Koran, Majalah, billboard, iklan berjalan

Periklanan.

lokasi ), pameran kesehatan. Iklan cetak, iklan TV, radio,poster luar ruang, iklan pada kartu yang bisa diedarkan.

Publisitas.

Press release (pemberitahuan kepada pers), penyampaian pemberitahuan dengan vidio (video release), dengan artikel, pemberitahuan kepada pers melalui radio, jumpa pers (pers conference),iklan layanan masyarakat (Public Service Announcements), pelatihan wartawan. Kit (materi dan pelengkap) berisi fakta penting dan kisah yang mendorong untuk mendapatkan dukungan suatu kebijakan, isu atau konstituensi; pertemuan; surat. Kupon, contoh produk gratis, kontes, hadiah uang dan barang, baik melalui media, atau di tataran masyarakat, atau melalui toko. Konferensi berita, pemunculan selebriti, acara pembukaan resmi (grand opening), parade, konser, pemberian penghargaan, presentasi penelitian atau acara olah raga. Program televisi atau program radio, drama rakyat, lagu, permainan.
72

Media, komunitas, interpersonal

Pendampingan / penyuluhan.

Media, komunitas, antar pribadi

Promosi.

Media, masyarakat

Penciptaan kegiatan dan Sponsorship.

Media, masyarakat

Sarana hiburan pendidikan.

B. Rangkuman Lembar Kerja Untuk Memilih Alat Bantu Contoh Strategi Komunikasi untuk Demokrasi dan Pemerintahan di Nigeria Sebuah upaya komunikasi dikembangkan dengan tujuan mendorong warga negara Nigeria dalam rentang usiapemilih agar terlibat dalam kegiatankegiatan sipil, khususnya untuk bekerja dalam kelompok-kelompok yang mungkin sudah ada, guna memberikan pendampingan untuk perubahan sosial. Kombinasi alat bantu digunakan untuk mendorong warga Nigeria agar terlibat. Saya memilih alt berikut : Melatih organisasi setempat yang dilakukan oleh para mitra LSM, supaya mereka bisa memberikan pendampingan untuk perubahan sosial. Kegiatan kehumasan Karena . . . Guna membantu organisasi bekerja sama dengan pemerintah dan atau pejabat setempat untuk meyakinkan mereka, baik dari sisi cara maupun keefektifannya, agar mempengaruhi perubahan yang diharapkan. Guna mendapatkan cakupan media untuk membantu mendorong kelompok-kelompok lokal bertindak dan mendorong individu agar bekerja sama dalam Kampanye periklanan kelompok. Menjangkau individu melalui televisi, radio, dan media luar ruang. Juga untuk menunjukkan keberhasilan usaha pendampingan yang dilakukan Penggerakan masyarakat Promosi kegiatan oleh kelompok lokal. Untuk mendorong organisasi / lembaga lokal agar dapat membantu masyarakat mereka sendiri. Untuk mengadakan lomba Pahlawan Lokal yaitu individu-individu yang mampu meyakinkan kelompok untuk menjadi pendamping dalam proses perubahan yang menghasilkan sukses perubahan.

73

2.3 Memadukan Pesan, Saluran dan Alat Bantu Inilah keuntungan perencanaan komunikasi strategis : proses perencanaan memungkinkan kita memperhatikan seluruh gambaran mengenai cara menggunakan pesan, saluran, dan alat untuk memaksimalkan upaya komunikasi, seperti dijabarkan dalam contoh-contoh berikut. A. Contoh Kampanye Gizi untuk ASI Khalayak sasarannya terdiri dari ibu-ibu muda, dan isu utamanya adalah mendorong pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi. Pendekatan strategisnya dilakukan dengan cara meyakinkan ibu-ibu yang mengandung, sepanjang masa kehamilannya, untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya kelak.Pesan tersebut didasarkan pada keinginan para ibu agar bayinya tetap sehat pada tahap awal perkembangannya. Saluran penyampaian pesannya melalui komunikasi interpersonal,komunikasi berbasis masyarakat, dan siaran radio. Alat bantu yang digunakan berupa pelatihan bagi petugas kesehatan untuk memberi penyuluhan kepada ibu hamil pada saat kunjungan. Alat lainnya adalah materi komunikasi interpersonal untuk mendukung upaya penyuluhan dan memperkuat perilaku positif di wilayah kerja petugas, pertemuan kelompok di tempat-tempat umum pada hari kerja, serta program hiburan pendidikan melalui radio yang menitikberatkan masalah gizi. Semua upaya tersebut direncanakan bersama-sama, sehingga pesannya dapat saling menunjang dan memiliki kesamaan satu sama lain. Guna mendapatkan dampak atau pengaruh maksimal, maka waktu pelaksanaan semua upaya tersebut jatuh pada periode yang sama. B. Mengintegrasi Saluran dan Alat Program Kesehatan Terpadu Zambia (Zambia Integreated Health Program - ZIHP) dirancang untuk menggerakkan reformasi kesehatan di distrik terpilih negara tersebut. Program ini menitik beratkan kebutuhan berbagai kelompok khalayak dan menawarkan paket pelayanan kesehatan
74

terpadu kepada setiap khalayak. ZIHPCOMM adalah program komunikasi yang dirancang untuk menyampaikan pesan kepada empat kelompok khalayak utama (perempuan, lelaki, pengasuh anak dan remaja), dengan menitikberatkan empat bidang teknis : malaria, HIV/AIDS, kesehatan reproduksi terpadu, serta kesehatan anak dan gizi. ZIHPCOMM mempunyai tiga tujuan utama : meningkatkan permintaan terhadap perbaikan masalah kependudukan, kesehatan dan gizi; mengubah pengetahuan dan sikap khalayak atas perilaku kesehatan; serta meningkatkan pengetahuan mengenai waktu dan tempat untuk mendapatkan pelayanan. Dalam ZIHPCOMM, dikembangkan serangkaian tindakan yang sesuai dengan saluran-saluran komunikasi yang berbeda-beda. Penerapannya di media massa dilakukan melalui Paket Kampanye Kesehatan yang Lebih Baik (The Best Health Campaign), mencakup pesan di radio dan televisi tentang perilaku kesehatan. Paket Komite Kesehatan Rukun Tetannga (Neighborhood Health Committe) menjadi komponen kemitraan masyarakat, mencakup pelatihan kader kesehatan masyarakat, berikut materi-materi cetak untuk mendukung pelatihan dan aktivitas kelompok kerja masyarakat yang sedang berlangsung. Sebuah program radio menyelenggarakan pendidikan jarak jauh untuk mendukung mitra-mitra masyarakat. Hal ini menjadi perekat bagi keseluruhan paket kemitraan masyarakat. Program tersebut memberikan informasi terkini mengenai program kampanye kesehatan dan teknik-teknik menggerakkan masyarakat. Paket program kesehatan antar pribadi (untuk perorangan-peny) melengkapi paket-paket melalui media massa dan masyarakat. Paket tersebut mencakup seperangkat kegiatan berbasis klinik, termasuk materi-materi untuk penyuluhan, materi pelatihan, dan materi pendukung klinik lainnya, seperti poster, lukisan dinding, dan leflet. Semua elemen paket antar pribadi turut memperkuat pengalaman klien dan pasien untuk semua hal yang berkaitan dengan kesehatan, semisal : pelayanan KB, pelayanan kebidanan, pelayanan
75

perawatan kesehatan anak, penanganan infeksi saluran reproduksi, atau pelayanan yang berhubungan dengan HIV. Kampanye kesehatan yang Lebih Baik, paket Komite Kesehatan Rukun Tetangga, dan paket klinik saling melengkapi satu sama lain untuk menajmin bahwa semua tataran dalam sistem mendapat materi sesuai dengan isi pesan yang konsisten dari sumber yang dapat dipercaya. Masing-masing paket cukup fleksibel untuk menampung perubahan fokus-fokus program, namun tetap menawarkan konsistensi dan kredibilitas (kepercayaan) sehingga bisa meningkatkan dampak penyebaran pesan pada khalayak. P-Process merupakan suatu kerangka yang menggambarkan tahap demi tahap bagaimana mengembangkan strategi program komunikasi kesehatan. Strategi komunikasi yang mantap akan memberikan koherensi bagi kegiatan program kesehatan dan membantu kekuatan program untuk mencapai keberhasilan. Komunikasi yang strategis merupakan kemudi program yang akan mengarahkan tercapainya tujuan dan menjadi pengikat yang akan mempersatukan program atau visi kreatif melalui perpaduan berbagai aspek kegiatan program. Selama hampir dua dekade, P-Process telah memberikan kerangka kerja yang mantap dan mudah diterapkan (OSullivan, 2005). P-Process digunakan sebagai pengembang strategi, pelaksanaan proyek, bantuan teknis, pembangunan institusi dan pelatihan. P-Process digunakan secara bersama sebagai panduan bagi bermacammacam stakeholders yang terlibat di dalam perancangan dan perwujudan program komunikasi kesehatan strategis. Dalam upaya pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam komunikasi kesehatan, diperlukan pengelolaan semua unsur upaya komunikasi terutama rekan kerja dan agen-agen yang bekerjasama. Upaya tersebut merupakan salah satu langkah dalam P-Process. Di dalam P-Process hal ini disebut dengan manajemen pelaksanaan dan pemantauan. Manajemen yang berhasil memerlukan kepemimpinan, peran, dan
76

tanggung jawab dengan definisi yang jelas, koordinasi melekat dan kerja tim yang melibatkan semua pihak, serta kepatuhan terhadap anggaran serta kerangka waktu (OSullivan, 2005). Langkah ini terspesifikasikan menjadi 6 komponen utama antara lain adalah : a. Mengidentifikasi organisasi utama dan mitra-mitra kerjasama b. Mendefinisikan peran dan tanggungjawab masing-masing mitra kerja c. Membuat garis besar kerjasama para mitra d. Menyusun kerangka waktu pelaksanaan strategi e. Menyusun anggaran f. Perencanaan untuk memantau kegiatan 2.1 Mengidentifikasi Organisasi Utama dan Mitra Mitra Kerjasama Dalam pengidentifikasian organisasi utama dan mkitra kerjasama, terlebih dahulu diperlukan cara untuk membedakan hal hal di antara keduanya. Cara untuk membedakan organisasi utama dengan mitra kerjasama antara lain adalah sebagai berikut : a. Mengidentifikasi area dan keahlian fungsional utama. Identifikasi ini mencakup hal-hal seperti : Koordinasi manajemen Kebijakan Riset Periklanan

77

Rencana Penempatan media Humas Kegiatan berbasis masyarakat Pelatihan Pemantauan Evaluasi

Organisasi utama memiliki beberapa ciri, antara lain : 1. Bertanggungjawab atas keseluruhan koordinasi rancangan dan pelaksanaan strategi 2. Manajer bertugas sebagai penghubung Maksud dari pernyataan di atas adalah semua informasi yang ada harus melalui manajer, sehingga dapat dipastikan bahwa : semua kegiatan berjalan sesuai strategi, masih mencukupi dalam kerangka anggaran, sesuai jadwal, menjamin semua mitra dilibatkan, dan selalu mendapatkan informasi terkini.

78

3. Bertanggungjawab untuk memperoleh semua persetujuan yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan. 4. Organisasi utama berfungsi sebagai : pusat kegiatan yang berwenang mengeluarkan laporan status mengingatkan ke kelompok lain mengenai masalah dan isu-isu yang memerlukan perhatian membantu meningkatkan kemampuan mitra kerja melalui tugas harian untuk mewujudkan strategi komunikasi

Mitra kerjasama merupakan pihak yang diajak bekerjasama oleh pihak organisasi utama. Macam-macam mitra kerja ada tiga, antara lain : a. Mitra kerja utama Merupakan mitra kerja yang sangat berperan membantu organisasi utama untuk melaksanakan program kerjanya. Tanpa adanya mitra kerja utama, maka dapat dipastikan kegiatan yang direncanakan oleh organisasi utama tidak akan berjalan dengan lancar atau bahkan dapat disimpulkan kegiatan tersebut tidak akan berjalan sama sekali. b. Mitra kerja menengah Merupakan mitra kerja yang membantu proses kegiatan dengan jalan pemberian bantuan dana ataupun jasa untuk pelaksanaan kegiatan/program yang dicanangkan oleh organisasi utama. Selain hal tersebut juga untuk mencapai tujuan dari pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. c. Mitra kerja pelengkap/accessories
79

Merupakan mitra kerja yang bertujuan untuk melengkapi pelaksanaan kegiatan. Mitra diperlukan saat pelaksanaan kegiatan. Walaupun dikatakan sebagai pelengkap, namun tanpa adanya mitra pelengkap ini maka kegiatan atau program yang telah direncanakan tidak akan berjalan dengan baik.

Mitra-Mitra Kerja Sama yang Potensial Mitra kerjasama dalam proses komunikasi kesehatan memiliki beberapa peran yang terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian peran tersebut mencakup hal hal yang berkaitan dengan :

1. Masalah kebijakan Memfasilitasi pelaksanaan strategi sesuai rencana mungkin memerlukan perubahan kebijakan, baik kebijakan publik maupun sektor swasta. Guna mengubah hambatan semacam itu, diperlukan berbagai taktik advokasi di tingkat tertinggi. Peran-peran yang diperlukan di sini kemungkinan mencakup individu dengan pengaruh yang tepat, guna difungsikan dalam dewan penasehat atau komite koordinasi yang mengawasi upaya-upaya komunikasi. Pendekatan ini menjamin agar mekanisme manajemen tetap pada tempatnya saat program menghadapi hambatan-hambatan kebijakan.

2. Penelitian, pemantauan dan evaluasi

80

Jika terdapat komponen penelitian dalam strategi atau terdapat rencana untuk pemantauan dan evaluasi, terdapat beberapa opsi untuk memilih siapa yang akan melakukan penelitian. Walaupun mungkin terdapat ahli dalam organisasi utama, anggota staf seringkali memiliki tanggung jawab lain dan tidak bisa mendapatkan informasi secepat yang dibutuhkan. Setelah mitra-mitra penelitian dipilih, pastikan mereka memiliki semua informasi dasar yang diperlukan dan mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan semua mitra tersebut.

3. Periklanan Sebuah kelompok in-house jarang memiliki keahlian dan pengalaman dalam menyusun dan melaksanakan suatu kampanye komunikasi lengkap yang mencakup: penyusunan materi kreatif produksi pembayaran media fungsi-fungsi agen periklanan dll Pengalaman hampir selalu menunjukkan adanya manfaat ketika organisasi utama dibiarkan memilih dan mengadakan kontrak dengan agen periklanan untuk melakukan tugas tersebut.

4. Penempatan media

81

Agen periklanan biasanya akan menangani pembayaran slot waktu media dan memastikan agar pesan-pesan disampaikan sesuai rencana media. Jika agen periklanan tidak mamapu memberikan jasa tersebut, kemungkinan besar harus melibatkan seseorang atau suatu perusahaan yang khusus menangani pembelian slot ruang atau waktu media.

5. Humas (hubungan masyarakat) Humas merupakan bidang yang bisa atau tidak bisa dikelola oleh perusahaan periklanan. Staf humas bekerjasama dengan para pembuat keputusan tingkat atas di organisasi utama dan agen lainnya untuk melatih individu-individu tertentu sebagai pembicara atau agen lainnya seandainya program menuai kritik. Jenis tugas ini membutuhkan keputusan-keputusan manajemen yang strategis serta kerjasama erat dengan agen mitra lainnya.

6. Kegiatan berbasis komunitas atau masyarakat Walaupun suatu komunikasi tidak mengharuskan kerjasama dengan kelompok berbasis masyarakat guna menjamin kelancaran pelaksanaan, melibatkan jasajasa organisasi terkadang bisa berguna dalam menyebarluaskan pesan-pesan kepada khalayak sasaran.

7. Pelatihan Identifikasi area-area kesenjangan keahlian atau pengetahuan yang bisa menghambat tim manajemen mencapai tujuan strategi.
82

2.2 Menetapkan Peran dan Tanggungjawab Masing-Masing Mitra Setelah organisasi utama dan mitra kerjasama teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah menjabarkan peran dan fungsi masing-masing serta untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan program. Setelah peran tersebut ditentukan, upayakan untuk membangun cara-cara kerja yang akan memberikan manfaat kepada organisasi mitra serta mendukung strategi komunikasi. Organisasi mitra harus mendapat manfaat dan keikutsertaannya dalam strategi sebab jika tidak dilakukan maka tidak akan terjadi suatu kerjasama. Contoh lembar kerja identifikasi bidang-bidang fungsional dan keahlian kunci yang diperlukan: Bidang fungsional Riset/ penelitian Kebijakan Keahlian yang diperlukan Kualitatif, evaluasi Hubungan dengan Siapa yang memliki keahlian tersebut Organisasi utama, beberapa perusahaan swasta pejabat Mantan menteri kesehatan Beberapa biro swasta Organisasi kerjasama keluarga

pemerintah Periklanan/ humas Pelatihan juru bicara kreatif Kegiatan berbasis Advokasi setempat masyarakat Pelatihan

perempuan Keahlian konseling berbasis Badan/ asosiasi klinik, interpersonal komunikasi berencana

Tabel 2.2.1 2.3 Membuat Garis Besar Kerjasama Para Mitra

83

Setelah menetapkan peran dan tanggung jawab masing masing mitra beserta organisasi utama, maka diperlukan suatu langkah untuk mengikat hubungan kerjasama tersebut. Kerjasama antara organisasi utama dengan mitra kerjasamannya, baik satu mitra ataupun lebih dari satu mitra, tertuang dalam suatu nota kesepahaman. Nota ini merupakan tanda tertulis (hitam di atas putih) adanya ikatan di antara kedua belah pihak. Nota kesepahaman ini disebut juga dengan Memorandum of Understanding (MoU). Di dalam nota kesepahaman (MoU) ini akan tertuang beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kerjasama antara organisasi utama dengan mitra kerjanya. Hal-hal tersebut antara lain berupa pertanyaan sebagai berikut : a. Adakah badan penasehat yang terdiri dari mitra mitra yang bekerjasama ? b. Apakah badan penasehat tersebut akan mengadakan pertemuan secara teratur ? c. Kewenangan pengambilan keputusan seperti apa yang akan dimiliki oleh badan penasehat tersebut ? d. Apakah organisasi utama akan menangani koordinasi sehari hari ? e. Apakah organisasi utama akan memberikan informasi terkini tentang kegiatan program kepada semua mitra ? Dalam kerjasama antara organisasi utama dengan para mitra kerja, perlu diperhatikan batas waktu dari nota kesepahaman yang telah dibuat tersebut. Pelaksanaan kerjasama dan keberlakuan atas nota kesepahaman tersebut dibatasi oleh waktu. Oleh karena itu, nota kesepahaman harus selalu diperbaharui/di- up date. Pembaharuan nota kesepahaman tersebut untuk menghindari terjadinya kerugian antara organisasi utama maupun para mitra kerja, baik untuk satu pihak maupun kedua belah pihak. Pada dasarnya, tujuan utama dari pembuatan nota kesepahaman adalah untuk memperoleh keuntungan bersama di antara kedua belah pihak yakni pihak organisasi utama maupun mitra kerja. 2.4 Menyusun Kerangka Waktu Pelaksanaan Strategi
84

Upaya komunikasi sangat terkait dengan pemberian pelayanan, pelatihan, dan bidang-bidang lainnya. Apabila strategi komunikasi akan dilaksanakan secara bertahap maka diperlukan sebuah kerangka waktu yang akan menunjukkan kapan kegiatan utama masing-masing tahap akan dilaksanakan dan di mana letak poin-poin keputusan kunci berada. Kerangka waktu yang dibuat akan menjadi panduan untuk menjamin agar kegiatan pelaksanaan tetap berada pada jalurnya. Dalam pelaksanaannya nanti, diperlukan suatu pemfokusan dan disebut juga dengan ketetapan strategis yakni dilakukan melalui upaya hanya mengidentifikasi batu lompatan utama (OSullivan, 2005). Apabila ada perubahan keadaan atau kondisi saat pelaksanaan program komunikasi kesehatan, maka diperlukan tindakan penyesuaian dan memastikan bahwa status kegiatan harus selalu diinformasikan kepada semua mitra kerja atau organisasi yang relevan. Dalam ilmu administrasi kesehatan, penyusunan kerangka waktu pelaksanaan suatu kgiatan atau strategi terbagi menjadi beberapa macam. Macam-macam dari penyusunan kerangka waktu tersebut antara lain sebagai berikut : a. PERT PERT (Program Evaluation and Review Technique) adalah suatu teknik menilai dan meninjau kembali program. PERT merupakan metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi adanya penundaan, maupu gangguan produksi serta mengkoordinasikan berbagai bagian suatu pekerjaan secara menyeluruh dan mempercepat terselesaikannya proyek yang bersangkutan. Menurut Azwar (2010), teknik ini memungkinkan dihasilkannya suatu pekerjaan yang terkendali dan teratur karena jadwal dan anggaran dari suatu pekerjaan telah ditentukan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan. b. CPM
85

CPM (Critical Path Method) atau metode jalur kritis merupakan suatu model kegiatan proyek yang digambarkan dalam bentuk jaringan (Dannyanti, 2010). Metode jalur kritis merupakan metode yang digunakan untuk merencanakan dan mengawasi proyek-proyek dan merupakan sistem yang paling banyak digunakan di antara semua sistem lainnya. Dengan CPM, jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai tahap suatu proyek dianggap diketahui dengan pasti dan juga hubungan antara sumber yang digunakan dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek. CPM menganalisis jaringan kerja yangberusaha mengoptimalkan biaya total proyek yang bersangkutan. Perkiraan yang akan diperoleh dari metode CPM adalah perkiraan terkait waktu dan pembiayaan untuk setiap kegiatan di dalam jaringan. c. Gantt Chart / kolom sederhana Gantt chart merupakan alat fundamental dan mudah diterapkan untuk

memungkinkan seseorang melihat dengan mudah waktu dimulai dan selesainya tugas dan sub-tugas dari proyek. Semakin banyak tugas dalam proyek dan semakin penting urutan antara tugas tugas tersebut, maka semakin besar pula kecenderungan untuk memodifikasi gantt chart. Kemudahan dari penggunaan metode gantt chart antara lain adalah sebagai berikut : - mampu menggambarkan jadwal suatu kegiatan dan kenyataan kemajuan sesungguhnya pada saat pelaporan, - dapat digabungkan dengan metode lain yang akan bermanfaat pada saat pelaporan, - mudah dibuat dan dipahami sehingga bermanfaat sebagai alat komunikasi dalam penyelenggaraan proyek. 2.5 Menyusun Anggaran

86

Untuk menjamin agar memiliki sumber daya keuangan yang diperlukan demi menjalankan strategi komunikasi di semua bagian, maka diperlukan penyusunan sebuah anggaran. Walaupun tim strategi mungkin menggunakan beberapa pendekatan berbeda dalam membuat sebuah anggaran, terdapat beberapa situasi yang biasa terjadi dan menggerakkan proses. Situasi tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. Besaran dana telah ditetapkan dan tim strategi harus mengalokasikan danadana tersebut bagi semua kegiatan untuk masa waktu terbatas. Tim juga harus mempertanggungjawabkan pengalokasian dana tersebut. b. Tim melakukan analisis situasi, mengidentifikasi khalayak sasaran,

menetapkan tujuan, kemudian memperoleh komitmen pendanaan dari satu atau lebih sumber dana untuk melanjutkan perancangan strategi komunikasi, serta melaksanakannya. Tambahan dana juga bisa didapat dari organisasi atau program lain. Dalam penaksiran banyaknya dana aktual yang dibutuhkan untuk masingmasing kategori anggaran, sebaiknya dilakukan penelitian mengenai perbandingan biaya dalam negeri. Dari hal tersebut akan didapatkan keterangan-keterangan dari kontraktor jasa, seperti biro riset dan agen periklanan. Di ilmu administrasi, perencanaan anggaran terbagi menjadi tiga bagian yakni tentang proses perencanaan anggaran, perangkat perencanaan anggaran, serta hasil dari perencanaan anggaran. Perangkat perencanaan anggaran tersebut dapat berbeda antara institusi satu dengan institusi lainnya. Yang terpenting pada perencanaan anggaran bukanlah perangkat dan ataupun hasil perencanaan anggaran, melainkan proses yang ditempuh dalam melakukan perencanaan anggaran tersebut (Azwar, 2010). Manfaat dari proses perencanaan anggaran (budgetting) tersebut antara lain adalah :
87

- Membantu pengaturan dalam pemanfaatan sumber daya - Membantu pengambilan keputusan - Membantu pemantauan dan pengawasan - Membantu perencanaan rencana - Memperjelas pendelegasian wewenang Sekalipun banyak macam dan bentuk rencana anggaran, namun proses yang ditempuh dalam menyusun rencana anggaran pada dasarnya tidaklah berbeda. Proses yang dimaksud adalah sebagai berikut : a. Mengidentifikasi kegiatan Mengidentifikasi berbagai kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang diidentifikasi sebaiknya hanya yang bersifat pokok saja (mollar activities) dalam arti apabila tidak dilaksanakan, akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. b. Menentukan sumber daya Menentukan jumlah dan jenis sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan yang telah diidentifikasi. Sumber daya secara umum dibedakan atas empat macam yakni tenaga (man), dana (money), sarana (material), dan tata cara (method). c. Mengubah sumber daya dalam bentuk uang Kegiatan ini dengan maksud mengubah sumber daya yang diperlukan ke dalam bentuk mata uang. Untuk memudahkan pekerjaan biasanya digunakan biaya unit baku (standard unit cost) yang dihitung berdasarkan harga masa lalu ditambah dengan perkiraan kenaikan harga pada masa datang.
88

d. Menyusun dan menyajikan rencana anggaran Proses ini merupakan kegiatan menyusun dan menyajikan rencana anggaran yang telah disusun ke dalam format baku yang telah disepakati. e. Mengirimkan untuk persetujuan Melalui proses mengirimkan rencana anggaran yang telah disusun kepada pihak-pihak yang berwenang memberikan persetujuan. Terkadang diperlukan beberapa revisi. 2.6 Perencanaan untuk Memantau Kegiatan Pemantauan adalah fungsi yang penting, namun sering kali tidak diperhatikan dalam pelaksanaan strategi. Sebuah rencana managemen yang baik berisi proses untuk melacak pelaksanaan kegiatan. Dalam pemantauan ini mencakup : 1. Media yang digunakan tepat sasaran khalayak 2. Memantau kegiatan yang seharusnya berjalan sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Hal ini dilakukan menghindari keadaan yang tidak diinginkan, misalnya bila menggunakan leaflet dalam media komunikasi, sebaiknya ada pemateri yang menjelaskan dari ini leaflet tersebut agar ilmuilmu yang ada bisa diserap dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Adanya sumber daya yang bertanggungjawab dalam setiap tugas-tugas yang diberikan demi kelancaran kegiatan 2.7 Contoh Pengaplikasian Manajemen Pelaksanaan FGD (Forum Group Discussion) bertemakan Perwujudan Generasi Muda Indonesia Bebas HIV/AIDS. Program komunikasi kesehatan ini merupakan kegiatan forum yakni diawali dengan adanya penjelasan materi terkait hal yang diangkat menjadi tema dan selanjutnya akan dibahas dan diulas lebih jauh dalam forum kecil
89

oleh para peserta yang dibentuk menjadi beberapa kelompok. Hasil diskusi nantinya akan dipadukan antar kelompok yang terbagi tadi sehinggga dapat ditarik suatu kesepakatan terkait bagaimana cara yang efektif dan efeisien dalam mewujudkan generasi muda Indonesia yang bebas akan penyakit HIV/AIDS. Manajemen pelaksanaan dari kegiatan FGD tersebut seperti terlampir di bawah ini : No. Pertanyaan 1. Organisasi utama Jawaban UKM KOMPLIDS (Komunitas Mahasiswa Peduli HIV/AIDS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Organisasi utama bertanggung jawab atas Universitas Jember Koordinasi manajemen, komunikasi dengan mitra, ketepatan jadwal dan anggaran, pertemuan badan penasehat, masukan teknis atas semua aspek penyusunan dan pelaksanaan strategi. 2. Mitra kerjasama a. Mitra Kerjasama Utama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember b. Mitra Kerjasama Menengah Dokter dari Rumah sakit, puskesmas, atau intansi terkait KPA (Komisi Peduli HIV/AIDS) Komunitas Rohan (penasun) c. Mitra Kerjasama Pelengkap
90

Media massa seperti Radar Jember, Radio Prosalina, WAO sebagai media cetak Institusi sekolah Mitra kerjasama bertugas atas menengah atas Fakultas dan Universitas memberikan kebijakan pelaksanaan baik waktu maupun dana. Dokter dari Rumah sakit, puskesmas, atau intansi terkait sebagai narasumber memberikan informasi terkait HIV/AIDS, pelaksanaan VCT (Voluntary Counseling and Testing). Media massa seperti Radar Jember, Radio Prosalina, WAO sebagai media cetak memberikan bantuan dana berupa potongan harga pencetakan sertifikat dan book note, membantu proses hubungan masyarakat/sasaran program. KPA (Komisi Peduli HIV/AIDS) dan Komunitas Rohan (penasun) narasumber dalam pelaksanaan program komunikasi kesehatan. Institusi sekolah menengah atas badan penyedia sasaran program komunikasi kesehatan yakni siswa SMA
91

yang rentan mengalami HIV/AIDS. 3. Strategi yang kaan dilaksanakan sepanjang periode waktu berikut in, mencakup tahapan tahapan sebagai berikut : November 2012 Januari 2013 1. Merancang pendekatan strategis 2. Penyusunan materi dan 4. 5. Total perkiraan biaya untuk periode tersebut : Kegiatan-kegiatan akan dipantau dengan cara : produk kreatif Rp10.000.000,Evaluasi berkala yakni laporan dari masing-masing panitia (dari organisasi utama) beserta mitra kerja utama yakni pihak fakultas dan universitas setiap 2 minggu sekali. Tabel 2.7.1

P-Process merupakan suatu kerangka yang menggambarkan tahap demi tahap bagaimana mengembangkan strategi program komunikasi kesehatan. Strategi komunikasi yang mantap akan memberikan koherensi bagi kegiatan program kesehatan dan membantu kekuatan program untuk mencapai keberhasilan. Komunikasi yang strategis merupakan kemudi program yang akan mengarahkan tercapainya tujuan dan menjadi pengikat yang akan mempersatukan program atau visi kreatif melalui perpaduan berbagai aspek kegiatan program. Selama hampir dua dekade, P-Process telah memberikan kerangka kerja yang mantap dan mudah diterapkan (OSullivan, 2005). P-Process digunakan sebagai pengembang strategi, pelaksanaan proyek, bantuan teknis, pembangunan institusi dan
92

pelatihan. P-Process digunakan secara bersama sebagai panduan bagi bermacammacam stakeholders yang terlibat di dalam perancangan dan perwujudan program komunikasi kesehatan strategis. Proses evaluasi dampak memainkan peran kunci dalam strategi komunikasi. Tanpa evaluasi, tidak akan ada yang bisa memutuskan apakah strateginya terlaksana, atau efektif. Perencanaan evaluasi dilakukan pada awal proses rancangan strategi. Idealnya, sebuah rencana evaluasi dibuat secara partisipatif berdasarkan masukan berbagai stakeholder, seperti staf program, kelompok masyarakat, ahli riset. Seorang ahli komunikasi tidak perlu menjadi pakar dalam metodologi riset. Namun, ia benarbenar perlu memainkan peran aktif dalam mengembangkan rencana evaluasi, guna memastikan bahwa hal tersebut telah berfokus pada masalah-masalah komunikasi yang tepat. Langkah ini terspesifikasikan menjadi 6 komponen utama antara lain adalah : a. Mengidentifikasi lingkup dan jenis evaluasi b. Merencanakan pemantauan dan penilaian dampak c. Mengidentifikasi rancangan evaluasi dan sumber data d. Menyesuaikan evaluasi untuk situasi tertentu e. Memutuskan pelaksanaan evaluasi f. Merancang dokumentasi dan penyebarluasan hasil-hasil evaluasi

2.1 Mengidentifikasi lingkup dan jenis evaluasi Penentuan lingkungan dan jenis evaluasi yang tepat, diperlukan dan memungkinkan untuk dilaksanakan merupakan elemen kunci dalam rancangan strategi. Pada tingkat dasar, evaluasi mempunyai tujuan untuk:
93

2.1.1 Mengetahui apakah aktivitas yang dicantumkan dalam rencana kerja benarbenar dilaksanakan (evaluasi proses atau pemantauan) 2.1.2 Menentukan apakah tujuan yang dipaparkan pada tujuan perubahan perilaku yang telah dicapai ( penilaian dampak) Evaluasi, seperti riset, harus dinyatakan sejak awal proyek komunikasi strategis. Tujuan komunikasi strategis yang dinyatakan sedari dini akan mengarahkan setiap tahap evaluasi. Tujuan perubahan perilaku individu juga memerlukan suatu evaluasi yang akan mengukur perilaku individu untuk jangka waktu tertentu; tujuan kebijakan untuk mengesahkan peraturan tertentu memerlukan cara untuk menentukan peraturan mana, atau bagian peraturan manakah yang akan menjadi hukum, sementara tujuan mendorong keaktifan masyarakat sejak awal membutuhkan ukuran atau indikator keaktifan masyarakat. Rancangan evaluasi harus berfokus pada unit analisa yang dituju dan perubahan yang diharapkan. Dengan demikian, pihak-pihak yang akan melaksanakan evaluasi idealnya berpartisipasi membantu menyusun tujuantujuan yang SMART (Spesific, Measurable, Appropriate, Realistic, Time-bound) dengan cara tertentu, sehingga tujuan dan proses pencapaiannya bisa diukur secara tepat-akurat sepanjang proyek berlangsung.

Pada tingkat yang lebih kompleks dan strategis, evaluasi juga harus: a. b. Menilai kecukupan/ kelayakan strategi yang dipilih Menyoroti bidang- bidang yang memiliki dampak terendah dan tertinggi

94

c.

Tidak hanya mengidentifikasi perubahan individu atau masyarakat saja, tetapi juga mengukur hasil (indeks) kesehatan dan social berbasis populasi, seperti angka kelahiran dan kematian, tingkat pendidikan dan pendaftaran pemilih

d. e.

Menunjukkan cara- cara meningkatkan program Mengukur efektivitas biaya perorang yang terjangkau, atau perukuran manapun dari perubahan perilaku

Tanpa dokumentasi evaluasi, pembuatan kebijakan, perencanaan program, pemberi dana dan peserta tidak akan mengetahui apa yang terjadi, mengapa, kapan, atau apa efeknya. Dalam waktu beberapa tahun, sebuah program yang tidak di evaluasi seolah- olah tidak pernah ada. Tip rancangan evaluasi efektif: 1. Evaluasi harus diperkenalkan, dipahami dan direncanakan sejak program dimulai. Evaluasi juga harus berdasarkan pada tujuan program. Jadi, bukan tambahan di menit- menit terakhir sebelum program berlagsung sehingga harus memastikan adanya data baseline dan data pasca intervensi untuk mengukur perubahan. 2. Evaluator perlu membantu petugas program untuk menyatakan tujuan dengan istilah- istilah yang bisa diukur, konsisten dengan teori perubahan perilaku dan membantu pemanfaatan metodologi riset yang praktis dan sesuai dengan situasi. 3. Evaluasi harus menghindari klaim dampak yang berlebihan, yaitu hanya berdasarkan pada data sebelum dan sesudah program. Data semacam ini memang dapat mendokumentasikan hubungan antarvariabel, tetapi tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab akibat.
95

4. Penggunaan jenis data yang berbeda dan analisa yang lebih luas bisa memperkuat kemungkinan bahwa program komunikasi tertentu telah menyebabkan perubahan perilaku yang dapat diukur atau memberikan kontribusi terhadap sejumlah perubahan yang bisa diidentifikasi. Bagan berikut ini merangkum cara- cara yang bisa digunakan evaluasi untuk program kesehatan masyarakat.
Tujuan pemanfaatan evaluasi praktik kesehatan masyarakat Mendapatkan wawasan a. b. c. Menilai kebutuhan, keinginan dan aset anggota masyarakat Mengidentifikasi hambatan dan fasilitator penggunaan pelayanan Mempelajari cara menjelaskan dan mengukur kegiatan serta efek program

Mengubah praktik d. e. Menyempurnakan rencana untuk memperkenalkan layanan baru Memberikan karakteristik sejauh mana rencana intervensi diterapkan

Menilai f. efek Meningkatkan isi materi pendidikan a. Menilai pengembangan keterampilan para peserta program
h. Memeriksa apakah hak- hak peserta dilindungi Menentukan prioritas untuk pelatihan stafperilaku tenaga kesehatan setelah jangka waktu b.i. Membandingkan perubahan j. tertentu Membuat penyesuaian di tengah pelaksanaan program (midcourse adjustment) untuk meningkatkan alur pasien/ klien g. Meningkatkan kompetensi budaya program

c. Membandingkan biaya dengan manfaat


l.

k.

Meningkatkan kejelasan pesan komunikasi kesehatan

Menentukan apakah angka kepuasan pelanggan dapat ditingkatkan

Menggerakkan dukungan masyarakat terhadap program d.m. Mencari peserta yang berhasil baik dalam program

e. Memutuskan alokasi sumber daya baru f. Mendokumentasikan tingkat kesuksesan dalam mencapai tujuan g. Menunjukkan apakah persyaratan akuntabilitas sudah terpenuhi h. Mengumpulkan informasi beberapa evaluasi untuk memperkirakan efek hasil dari jenis program yang sama i. Mengumpulkan kisah-kisah keberhasilan Mempengaruhi peserta a. Memperkuat pesan-pesan program b. Mendorong dialog dan meningkatkan kesadaran mengenai masalah kesehatan c. Memperluas kesepakatan di antara anggota koalisi mengenai tujuan program d. Mengajarkan keterampilan evaluasi pada staf dan stakeholder lain e. Mendukung perubahan dan pengembangan organisasi
96

Center for disease control and prevention, 1999

97

2.2 Merencanakan Pemantuan dan Penilaian Dampak Secara kronologis, setelah selesai disusun, evaluasi harus menyentuh aspekaspek berikut ini: Memantau kegiatan dan hasil program, penilaian dampak. 2.2.1 Pemantauan Pemantuan mensyaratkan adanya perhatian pada proses, kinerja, dan sedikit banyak, pada hasil: a. Pemantauan Proses Pada tahap ini, evaluator harus mengukur apakah kegiatan berlangsung sesuai dengan frekuensi, intensitas dan waktu yang telah direncanakan, serta memang di arahkan untuk mencapai khalayak sasaran. Idealnya, pemantauan dimulai sejak awal kegiatan program, dan terus berlangsung sepanjang program atau kampanye. Pemantauan yang dilakukan setelah kegiatan selesai tidak akan sehandal pemantauan yang dilakukan terus menerus. b. Pemantauan Kinerja Kualitas (mutu), kuantitas (besaran) dan distribusi (pembagian) hasil komunikasi harus dipantau dengan ketat. Contohnya, apakah poster yang telah ditetapkan jumlahnya sudah dicetak dan didistribusikan ke tempat yang telah disepakati? Apakah jumlah tenaga kesehatan atau tenaga lainnya yang telah ditetapkan sudah dilatih mengenai penggunaan materi komunikasi yang tepat? Apakah semua anggota manajemen dan tim komunikasi melaksanakan fungsinya sesuai rencana? Apakah kualitas dan volume keluaran (output),apakah poster,drama seri atau kegiatan masyarakat berada pada tingkat yang ditetapkan dan diharapkan? Bagaimana cara kinerja tim manajemen memenuhi harapan dan persyaratan
98

rencana kerja? Ukuran untuk pemantauan proses dan kinerja harus sespesifik dan sekuantitatif mungkin, karena tidaklah mungkin menentukan keberhasilan strategi, jika pada kenyataannya hal-hal tersebut tidak dilaksanakan sesuai rencana. c. Pemantauan Hasil Fokus evaluasi bergeser dari kegiatan dan tindakan, kembali ke tujuan awal. Jika tujuannya adalah meningkatkan kunjungan di klinik tertentu, meningkatkan pembelian produk tertentu, atau penggunaan kondom, maka sudah sejauh mna perbuatan itu terjadi? Selama proses pemantauan, survey yang ekstensif tidaklah memungkinkan. Namun, pengamatan dan wawancara lokasi penting dilakukan untuk memastikan hasil yang diharapkan mulai terjadi. Hasil yang bukan merupakan tujuan, atau yang berbeda dari tujuan awal program memerlukan perhatian seksama dan segera, serta umpan balik kepada direktur program. Jika perlu, lakukan perubahan dalam pelaksanaan atau strateginya. Pemantauan merupakan hal penting untuk memastikan bahwa program dilaksanakan sesuai perencanaan. 2.2.2 Penilaian Dampak Penilaian dampak ditujukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan apakah strategi komunikasi mencapai tujuan yang sudah ditentukan? Selanjutnya, penilaian dampak dimanfaatkan untuk melihat perbedaan yang dilakukan strategis pada lingkungan program secara keseluruhan.

99

Indikator Langkah pertama evaluasi dampak adalah menentukan indikator yang anda gunakan untuk menentukan apakah tujuan telah dicapai. Contoh indikator individu untuk strategi komunikasi perubahan perilaku adalah: a. Presentasi jumlah khalayak sasaran dengan perilaku spesifik (terhadap, suatu produk, praktek, atau pelayanan) b. Presentasi jumlah khalayak sasaran yang percaya bahwa pasangan, teman, kerabat dan masyarakat mereka menyetujui c. Presentasi jumlah non-user yang ingin mengikuti praktik tertentu di masa mendatang d. Presentasi jumlah khalayak sasaran yang yakin bahwa mereka bisa menjalankan praktik tertentu di masa mendatang. Indikator perubahan sosial a. b. c. d. e. f. g. Kepemimpinan Tingkat dan modal partisipasi Sumber daya informasi Efektifitas bersama Rasa memiliki Ikatan sosial Norma social (Figueroa, Kincaid, Raid & Lewis, 2002)

100

Isu kunci dalam penilaian dampak adalah rancangan atau rencana riset evaluasi yang harus ditentukan sedini mungkin dalam sebuah proyek. Menurut tradisi, khususnya dalam riset biomedis, penilaian dampak yang disebut dengan Standart Emas adalah suatu rancangan percobaan yang secara acak melibatkan individu atau komunitas dalam program tertentu. Setelah program selesai, perbedaan antara mereka yang terlibat dalam program dan yang terlibat akan menentukan dampak proyek. Desain Eksperimental (Experimental Design) Masalah utama yang muncul dalam menerapkan disain eksperimental pada komunikasi strategis adalah sebagai berikut : a. Kelompok kontrol (yang tidak terpapar atau tidak dikenai perlakuan tertentu sesuai dengan program) dan kelompok eksperimen harus memiliki semua karakteristik kunci yang sama,karena akan berpengaruh pada hasilnya. b. Tidak ada kejadian atau kegiatan yang membedakan kelompok kontrol dan kelompok eksperiment, kecuali kegiatan proyek yang terjadi diantara kelompok yang terpapar maupun yang ada dalam kelompok kontrol. c. Tidak boleh ada kontaminasi atau pertukaran kegiatan dan informasi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Rancangan Kuasi-Eksperimental (Quasi-Experimental) Pengganti disain eksperimental murni dalam proyek komunikasi adalah desain kuasi-eksperimental. Jenis riset ini tidak memilih secara acak kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sebagai gantinya, dilakukan upaya untuk mengidentifikasi daerah atau unit kontrol, dengan program
101

berupa perubahan khalayak sasaran yang sebisa mungkin dapat diperbandingkan. Namun dalam kuasi-eksperimental terdapat beberapa masalah. Misalnya, kemiripan kemiripan di antara kelompok kontrol, kejadian kejadian yang membedakan di daerah yang berbeda beda dan kontaminasi antara kedua kelompok. Dengan demikian, jelas bahwa paparan terhadap program komunikasi strategis tidak bisa dikontrol dengan cara yang sama. Penggunaan Analisa Statistik untuk Menjelaskan Perbedaan dan Kontaminasi Populasi Analisa Statistik juga bisa diterapkan pada kontaminsasi , yaitu paparan terhadap kelompoj kontrol dan ketidakterpaparan kelompok percobaan. Memboboti satu populasi atau populasi lain agar tercapai kesetaraan bisa mengontrol perbedaan ini. Teknik yang umum digunakan adalah analisa bivariat (bivariate analysis). Melalui teknik ini, peneliti menentukan ada tidaknya korelasi (hubungan) antara dua variabel, dengan cara memeriksa kekuatan dan arah hubungan. Misalnya saja, ditemukan hubungan positif dan negatif antara dua variabel. Artinya, jika nilai satu variabel meningkat, maka nilai variabel kedua juga meningkat. Tetapi, analisa bivariat tidak mengasumsikan hubungan sebab - akibat di antara variabel variabel tersebut. Analisa regresi digunakan jika satu variabel atau lebih di asumsikan meramalkan atau menjelaskan perubahan pada variabel yang lain. Misalnya saja, dalam suatu kampanye komunikasi terdapat variabel pesan, variabel kepercayaan terhadap pesan dan bobot media. Analisa regresi bisa digunakan untuk menentukan bahwa penerimaan khalayak sasaran terhadap suatu pesan bisa meramalkan dengan mengukur variabel yang berhubungan seperti kepercayaan terhadap pesan dan bobot media.
102

Membangun Hubungan Sebab Akibat Untuk benar memperkuat kesimpulan bahwa proyek komunikasi benarjawab terhadap perubahan perilaku yang

bertanggung

diukur,program harus berusaha membangun delapanpoin kunci berikut ini. Dengan demikian sejak awal evaluasi, data yang berhubungan dengan masing masing poin tersebut harus dikumpulkan : a. Bukti bukti perubahan perilaku yang diharapkan dari waktu 1 ke waktu 2. (Lihat grafik 1) sebagai ilustrasi suatu perubahan perilaku yang terjadi setelah suatu kampanye hipotesis. b. Bukti bukti perubahan yang terjadi selama atau setelah intervensi. (Lihat grafik 1) isu utama dalam evaluasi perubahan perilaku, menyusul intervensi komunikasi, adalah bias pemilihan (selectivity bias) khalayak sasaran. Pengukuran harus dilakukan jenis survei longitudinal untuk menganalisa kelompok yang sama atau sangat mirip selama beberapa waktu tertentu, dan menanyakan hal hal yang terkait dengan praktik saat ini. Survey semacam ini bisa mengidentifikasi lebih jelas mana yang terjadi dulu : pengetahuan, pengalaman dan perilaku tertentu atau paparan terhadap komunikasi strategis. Grafik 1 Evaluasi : Perubahan dan Urutan Kampanye

Dampak

103

Waktu c. Bukti bahwa perubahan lebih besar terjadi pada mereka yang terpapar kampanye komunikasi strategis daripada mereka yang tidak terpapar. Program komunikasi strategis sejak awal harus mendokumentasi seberapa banyak, dan segman populasi mana yang terpapar intervensi komunikasi. Contohnya, pemirsa langsung suatu seri di televisi. Grafik 2 ini mengilustrasikan perbedaan pengguna metode kontrasepsi modern antara (1) mereka yang langsung terpapar program radio, (2) mereka yang mendengar pesan radio melalui rekannya, (3) mereka yang tidak mendengar pesan radio maupun rekannya. Grafik 2 Penggunann Metode Kontrasepsi Modern Saat Ini Di Anatar Wanita Menikah Usia Subur oleh Sumber Paparan Terhadap Pesan Program Radio KB 100 %penggunaan metode KB modern 80

20 Tidak mendengar Mendengarkan pesan pesan dari teman program dari rekan dari radio
104

Mendengar pesan

d.

Bukti mengenai logika ilmiah. Untuk memperkuat klaim klaim bahwa program komunikasi strategis telah menyebabkan perubahan perilaku, kampanye hendaknya beranjak dari teori perubahan perilaku yang tepat dan mendokumentasikan tidak hanya hasil akhirnya, tetapi juga langkah langkah pendahuluan atau pertengahan lainnyayang mengarah pada perubahn perlaku seperti itu. Contoh, jika pengetahuan dan persetujuan terhadap praktik tertentu menunjukan penolakan, sementara pada saat yang sama, praktiknya justru terlihat meningkat, maka hal ini akan menimbulkan keraguan terhadap keabsahan (validitas) temuan. Grafik 3 dibawah ini mengilustrasikan bagaimana pengumpulan data mengenai indikator indikator pertengahan berdasarka teori perubahan perilaku dari pengetahuan ke persetujuan dan berlanjut pada praktik memberikan tambahan validitas terhadap kesimpulan yang menyatakan bahwa program komunikasi strategis telah menyebabkan perubahan.

Grafik 3 Evaluasi Teori

sebelum sebelum sesudah sebelum

sesudah

Pengetahuan

persetujuan

praktik
105

e.

Mengontrol variabel variabel yang bertentangan. Mengontrol variabel yang bertentangan tersebit hingga mencapai kemungkinan tingkatan tertentu. Mengontrol variabel seperti itu berarti mengidentifikasi variabel tersebut di saat awal, mengumpulkan data mengenai variabel itu sejauh mungkin, dan menimbang bobotnya secarasesuai untuk analisa akhir. Grafik 4 ini dibawah ini menunjukan hubungan antara kasus baru malaria dan turunnya curah hujan dalam konteks kampanye antimalaria yang terjadi pada periode yang sama. Grafik menunjukan bahwa menurunnya curah hujan, dan bukan kampanye, yang mungkin merupakan penyebab utama menurunnya kasus malaria baru.

Grafik 4 Evaluasi : Variabel yang bertentangan Kampanye Antimalaria

Dampak Curah Hujan

Waktu

f.

Bukti adanya tanggapan atas dosis tertentu. Satu jenis pengukuran studi medis dan klinis yang seringkali bias memperkuat kesimpulan
106

mengenai penyebab dampak kegiatan komunikasi adalah penggunaan ukuran tanggapan berdasarkan pemberian dosis tertentu. Hipotesisnya, peningkatan paparan komunikasi akan meningkatkan kemungkinan perubahan perilaku. Dengan demikian, ukuran paparan harus mempertimbangkan paparan bukan hanya sebgai variable ya dan tidak, melainkan lebih sebagai variabel kumulatif yang terus meningkat. Artinya, tingkat paparan terhadap intervensi yang berbeda, atau intervensi yang sama sekali berulangkali, harus bisa di kumpulkan dan dievaluasi. g. Bukti tentang luas permasalahan dan arah perubahan. Jelas, semakin besar perubahan perilaku ke arah yang diharapkan, maka akan semakin meyakinkan pula pernyataan yang mengklaim efektivitas intervensi komunikasi. h. Bukti tentang kemungkinan replikasi (penerapan ulang). Pengujian sebab akibat terakhir dalam eksperimen ilmiah adalah kemampuanuntuk mereplikasi hasilnya, yang bisa di lakukan oleh peneliti lain dan/atau proyek lain. Meskipun hal ini tidak selalu memungkinkan dalam intervensi-intervensi komunikasi, setiap upaya mesti dilakukan untuk mengulangi intervensi, kemudian dievauasi guna mengonfirmasi validitas data awal. Jika intervensi-intervensi dirancang di bidang yang sama, dengan rancangan riset yang bisa diperbandingkan, maka sejumlah studi yang berbeda akan meningkatkan kesimpulan bahwa intervensi tertentu tidak hanya efektif untuk satu keadaan saja, tapi juga bisa efektif untuk kondisi yang berbeda. Kemampuan untuk memperkirakan hasil yang akan datang merupakan elemen kunci dalam kesimpulan sebab akibat. Jika beragam kajian menegaskan hasil yang sama, maka replikasi ini akan menambah validitas kajian-kajian individual.
107

Singkatnya, analisa dampak dalam bidang komunikasi akan selalu bersifat kontroversial dan dipertanyakan oleh pihak-pihak skeptic. Untuk alasan tersebut, penting kiranya evaluasi program komunikasi strategis mendokumentasikan dampak dan memperkuat kesimpulan sebab akibat dengan sebanyak mungkin cara. 2.3 Mengidentifikasi rancangan Evaluasi dan Sumber Data Simpanlah kerangka konseptual dalam benak kita, saat menimbang bagaimana seharusnya evaluasi upaya komunikasi dirancang, dan sumber data mana yang akan digunakan. Kerangka kerja ini bisa diubah agar sesuai dengan perilaku kesehatan lain selain mengadopsi metode KB. Variabel dalam kerangka kerja ini bisa dianalisa dengan cara yang berbeda-beda untuk mengukur perubahan pada tingkat individu, program dan hasil. Penting diperhatikan, keputusan seseorang untuk berupaya mengikuti perubahan perilaku yang diprogramkan dipengaruhi oleh dua hal: 1. Proses khalayak sasaran dalam menimbang risiko pribadi dengan keuntungan mengadopsi perilaku 2. Persepsi khalayak sasaran tentang norma komunitas. Tingkat-Tingkat Pengukuran Evaluasi komunikasi strategis bergantung pada pengumpulan data di berbagai tingkat yang relevan dengan tujuan program. Dua tingkat pengukuran utama untuk data evaluasi komunikasi adalah: a. Berdasarkan populasi Pengukuran berdasarkan populasi berguna untuk melacak hasil pendahuluan, pertengahan, dan jangka panjang. Contoh, survey di antara khalayak sasaran untuk mengukur paparan, pengetahuan, perilaku emosi dan
108

faktor-faktor lain yang dilaporkan oleh khalayak sasaran itu sendiri kerap menjadi pertanda perubahan perilaku (dikenal sebagai hasil pendahuluan). Survey juga bisa melacak perubahan perilaku atau praktik selama proyek berlangsung (misalnya, melalui hasil-hasil pertengahan). Pertengahan ini pada gilirannya mempengaruhi hasil jangka panjang yang berhubungan dengan status kesehatan, seperti angka kesuburan atau kematian. Contoh dari Zimbabwe berikut ini mengukur hasil pendahuluan dan pertengahan. Sementara contoh dari Bolivia mencakup hasil kematian bayi jangka panjang. Contoh: Mempromosikan Tanggung Jawab Seksual di Kalangan Remaja Zimbabwe Tahun 1997-1998, berlangsung kampanye multimedia guna

mempromosikan tanggung jawab seksual di kalangan remaja Zimbabwe sekaligus memperkuat akses mereka terhadap pelayanan kesehatan reproduksi oleh tenaga kesehatan terlatih. Survey dasar (baseline) dan lanjutan (follow up) yang masing-masing melibatkan sekitar 1.400 wanita dan pria berusia 1024 tahun dilakukan di 5 daerah kampanye dan 2 daerah pembanding. Analisa regresi logistik dilakukan untuk menilai paparan terhadap kampanye dan menilai dampaknya pada pengetahuan dan diskusi, perilaku seks yang lebih aman serta penggunaan layanan kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa kampanye menjangkau 97 persen khalayak sasaran orang muda. Kesadaran akan metode kontrasepsi meningkat di daerah kampanye. Hasil kampanye memperlihatkan, 80 persen responden mendiskusikan topic kesehatan reproduksi dengan teman (72 persen), kakak/adik (49 persen), orang tua (45 persen), guru (34 persen) atau pasangan (28 persen). Sebagai tanggapan terhadap kampanye, orang muda di daerah kampanye dilaporkan 2,5 kai lebih mungkin mengatakan tidak terhadap seks, dibandingkan dengan daerah pembaning, 4,7 kali lebih mungkin mengunjungi
109

pusat

kesehatan,

dan

14

kali

lebih

mungkin

mengunjungi

pusat

pemuda/pemudi. Penggunaan kontrasepsi pada hubungan seks terakhir meningkat secara signifikan di daerah kampanye (dari 56 persen menjadi 67 persen). Kegiatan peuncuran, selebaran dan drama merupakan komponen kampanye yang paling berpengaruh. Responden yang terpapar lenbih banyak komponen punya kemungkinan lebih besar untuk mengambil tindakan sebagai tanggapan atas kampanye tersebut. (Kim, Kols, Nyakauru, Marangwanda dan Chibatamoto, 2001) Contoh: Proram Kesehatan Reproduksi Nasional Bolivia Di Bolivia, serangkaian kampanye kesehatan reproduksi yang dirancang dengan seksama, dan dilaksanakan dengan baik, memberikan kontribusi peningkatan yang signifikan terhadap status kesehatan ibu dan anak-anak Bolivia. Dari tahun 1994 hingga saat ini, Program Kesehatan Reproduksi Nasional telah meaksanakan upaya komunikasi strategis untuk mengungkap kebutuhan khalayak sasaran yang spesifik, dengan menggunakan berbagai saluran komunikasi. Program ini di kendalikan oleh riset, dan hasil utamanya berupa peningkatan penggunaan kontrasepsi dan penurunan kematian bayi. (The Johns Hopkins University center for Communication Programs, 1999) b. Berdasarkan program Pengukuran berdasarkan program bergantung pada kumpulan statistik layanan, data penjualan, wawancara klien saat pulang, wawancara atau observasi diklinik atau tempat layanan, dan kemungkinan termasuk kajian atas factor-faktor organisasi serta manajemen yang relevan dengan kinerja program.

110

Contoh: Lama Sesi Konseling dan Jumlah Informasi Relevan yang Disampaikan: Studi Klien Samaran (Mystery Cient) di Klinik Peru Hambatan waktu memperparah ketidakmampuan tenaga kesehatan KB daam memberikan bimbingan lengkap kepada kliennya. Maka, penting kiranya bagi tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah perpanjangan waktu sesi bimbingan akan meningkatkan jumlah informasi relevan yang bisa diberikan kepada klien. Menggunakan teknik klien menyamar (mystrery client), 28 wanita dilatih untuk berpura-pura mencari informasi mengenai metode yang efektif dan memilih kontrasepsi suntik di 19 klinik daerah perkotaan, dalam suatu sampel nasional depkes di Peru. Setiap klinik dikunjungi pada hari yang berbeda oleh 6 klien simulasi dengan jumlah total 114 kasus. Untuk setiap kunjungan, mereka (klien samara-peny) mencatat topic yang didiskusikan oleh tenaga kesehatan berdasarkan daftar tilik berisi 46 poin, sambil memperkirakan lamanya sesi konseling. Ternyata, tenaga kesehatan menggunakan waktu 2 sampai 45 menit untuk memberikan konseing. Jumlah informasi yang diberikan, yang relevan dengan pilihan klien, meningkat secara signifikan sejumlah 43 persen saat lama sesi konseing berlangsung dari 2-8 menit menjadi 9-14 menit. Tapi, peningkatan jumlah informasi bermanfaat yang disampaikan menjadi tidak berarti, atau tidak bermakna, ketika sesi memanjang lebih dari 14 menit. Berapapun lamanya, banyak informasi yang seharusnya diberikan ternyata tidak disampaikan. Penawaran serangkaian pilihan kontrasepsi yangluas memakan sebagian besar waktu konsultasi, dan sangat berhubungan dengan lama sesi. Diskusi mengenai efek sampingan metode yang telah di pilih, berikut penapisan (screening) kontraindikasi, ternyata tidak bervariasi menurut lamanya sesi. Studi itu lantas menimpulkan bahwa perpanjangan sesi konseling lebigh dari 14 menit hanya memberikan sedikit manfaat terhadap efektivitas konseling bagi ibu yang memilih KB suntik. Karena itu, tenaga
111

kesehatan hendaknya menggunakan waktu yang ada lebih efisien lagi. Mereka hendaknya lebih praktis menilai kebutuhan klien, dan sebaiknya menghindari penyampaian terlalu banyak informasi mengenai metode yang tidak relevan. Para tenaga kesehatan ini harus berfokus pada metode yang telah dipiih klien, dan menjeaskan metode tersebut lebih mendaam lagi. (Leon, Monge, Zumaran, Garcia, dan Rios, 2001) Jenis Data yang Diperlukan Mengumpulkan jenis data yang berbeda sangat penting dalam menilai program komunikasi. Berhubung komunikasi mempengaruhi individu, keompok dan masyarakat, maka penting kiranya mengumpulkan informasi kuantitatif dan kualitatif yang relevan dengan unit analisa. a. Data Kuantitatif Data ini bisa diambil dari survey, statistic pelayanan atau data penjuaan, serta melibatkan langkah aktif untuk mengumpulkan informasi dari individu, masyarakat, tempat, atau fasilitas pelayanan. Data hendaknya dikumpulkan dalam kuantitas dan kualitas yang memadai, serta relevan untuk analisa ebih mendalam. Tidak mudah mengumpulkan jenis data semacam ini. Proses pengumpulannya juga bukan tanpa masalah. Survei, bentuk dta kuantitatif paling um,um terkait dengan komunikasi strategis dan perubahan perilaku didapat dari survey terhadap responden individu yang dipilih secara acak. Survey merupakan bentuk riset operasional yang rumit dan sangat khusu, serta memerlukan para ahli dalam penerapannya. b. Statistic pelayanan

112

Pengumpulan data statistik pelayanan tampaknya relatif mudah kerena dilakukan hanya dengan mengunjungi berbagai fasilitas. Pada praktiknya, statistik pelayanan terbukti tidak memuaskan bila dibandingkan dengan survey yang diakukan oleh peneliti yang sudah berpengalaman. Inilah masalah terkait dalam penggunaan statistik pelayanan: 1. 2. 3. 4. 5. Perbedaan tingkat akurasi dan kelengkapan dalam pengisian statistik pelayanan Perbedaan definisi istilah, seperti awal dan kelanjutan, serta perubahan dalam praktik-praktik fasilitas-fasilitas yang berbeda Catatan yang tidak bisa dibaca atau tidak dimengerti Catatan yang tidak bisa diakses Kesenjangan pada data kunci Peningkatan statistik pelayanan melalui system informasi manajemen merupakan kelanjutan tujuan yang dapat menyederhanakan evaluasi beberapa program komunikasi strategis. Tetapi, pada keenyataanya, hal seperti ini tetap saja masih merupakan suatu ideal dibandingkan kenyataan yang ada di banyak Negara. c. Data penjualan Pengumpulan data penjualan merupakan unsur penting, terutama dalam evauasi program pemasaran social (social marketing). Beberapa pertanyaan yang harus dijawab adalah: 1. 2. 3. Pada titik manakah (pedagang besar, distributor, pedagang eceran) data akan dikumpulkan? Bagaimana cara pencatatan perbedaan harga dan pengepakann? Bagaimanan materi promosi yang gratis dibedakan dari materi yang di jual?

113

4.

Bagaimana mempertimbangkan dampak penggantian (subtitusi) ketika produk berharga ebih rendah, menggeser produk yang harganya lebih tinggi?

d. Evaluasi kualitatif Riset kualitatif tidak hanya penting pada awa proyek untuk memahami masalah, khalayak sasaran, dan situasi secara keseluruhan. Riset ini juga berperan penting selama proyek berlangsung, baik untuk memantau maupun mengevaluasidampak. Peran utama riset kualitatif dalam evaluasi program mencakup: 1. 2. Bantuan untuk mengevaluasi kegiatan dan produk saat disebarluaskan Bantuan untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa dampak tersebut dicapai Evaluasi kualitatif bisa bersifat halus, intuitif dan sangat menarik, jika dilakukan dengan peka menggunakan langkah-langkah etnografis, yang tidak menyolok. 1. Diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) Kelompok diskusi di antara individu-individu yang homogen, diarahkan oleh moderator terlatih, bisa menampakkan gambaran masyarakat, juga niai serta prasangka individu, intensitas emosi, titiktitik kontroversi, dan bahasa yang biasa digunakan khalyak sasaran kata demi kata. 2. Wawancara Pewawancara bisa mendapatkan informasi dan tanggapan emosional dengan mewawancarai pihak berpengaruh, informan kunci,
114

atau anggota khalyak sasaran yang khas. Pertanyaan-pertanyaan terbuka, dilanjutkan dengan tanggapan dan penggalian hal signifikan lebih mendalam melalui wawancara dapat memberikan kekayaan informasi kualitatif yang berharga. 3. Pengamatan (observasi) Apakah secara langsung pada objeknya, atau tidak langsung (melalui videotape maupun audiotape), pengamatan bisa memberikan wawasan langsung mengenai reaksi khalayak sasaran atau klien terhadap jebnis komunikasi tertentu, atau terhadap produk dan perilaku yang dianjurkan. Peluang observasi langsung dalam program kesehatan reproduksi kurang berpeluang dibandingkan dengan perawatan anak dan program kesehatan keluarga. Namun, pengamatan praktik klinis atau pengamatan langsung terhadap peristiwa atau kinerja pelayanan akan memberikan umpan balik yang berharga. 4. Catatan harian Catatan harian bisa berguna bagi masyarakat yang melek huruf, atau professional yang memahami, untuk merekam tindakan dan tanggapan langsung dari hari ke hari, memantau kegiatan yang sedang berlangsung, menangkap sepenuhnya sejarah suatu kejadian, dan memahami proses perubahan perilaku lebih baik lagi saat program benar-benar dilangsungkan janka waktu tertentu. e. Kombinasi-evaluasi kuantitatif dan kualitatif Evaluasi yang meyakinkan dalam efek sebab akibat, maupun bisa bermanfaat untuk pemrograman yang akan datang mengkombinasikan langkah kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi kuantitatif dapat menentukan

115

berapa banyak perubahan yang terjadi, bahkan berapa banyak perubahan yang bisa secara spesifik dikaitkan dengan intervensi komunikasi yang berbeda. Evaluasi kualitatif penting untuk membingkai pertanyaan sesuai dengan data kuantitatif yang akan diambil, sekaligus bermanfaat untuk memastikan bahasa yang tepat, sehingga khalayak sasaran mengerti apa yang ditanyakan. Selain itu, evaluasi kualitatif berguna untuk mengukur intensitas emosi dan kepastian yang melingkupi tanggapan tertentu. Di atas semua itu, evaluasi kualitatif berupaya mengeksplorasi mengapa dan bagaimana perubahan telah terjadi, serta memberikan wawasan yang berguna untuk memperbaiki dan meningkatkan intervensi yang akan datang. Di sisi lain, evaluasi kuantitatif berfokus pada berapa banyak perubahan yang telah terjadi. 2.4 Menyesuaikan evaluasi untuk situasi tertentu Pada tingkat teoritis, evaluasi yang paling berguna akan disesuaikan dengan strategi komunikasi tertentu dan situasi yang menjadi pertimbangan. Ini berarti, evaluasi akan merefleksikan model perubahan perilaku konseptual yang digunakan untuk merancang program di saat awal, berfokus pada khalayak sasaran untuk program tertentu, mengukur sejauh mana paparan berbagai media yang digunakan dalam program ( apakah radio, televise, pertemuan masyarakat, komunikasi interpersonal dan konseling, atau saluran komunikasi lain) dan mengaitkan temuan- temuan dengan tujuan, penentuan posisi dan pelaksanaan program. Pada tingkat praktis, rancangan evaluasi harus konsisten dengan ruang lingkup program dan ketersediaan sumberdaya manusia, keuangan serta fisik. Program multimedia nasional yang banyak dipilih sebagai program komunikasi strategis, memerlukan survei nasional, statistik tempat pelayanan yang dipilih dan kombinasi langkah-langkah kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan daerah- daerah yang diteliti.
116

Intervensi lokal berskala kecil mungkin lebih tepat menggunakan disain eksperimental/kontrol. Untuk mengukur dampaknya, lebih baik gunakan program yang tidak mencolok dibandingkan dengan survei. Pada dasarnya, ruang lingkup evaluasi harus konsisten dengan ketersediaan sumber daya anggaran. Biaya evaluasi bisa berkisar dari 10 persen ukuran proyek sampai dengan dua- tiga kali ukuran proyek, sepanjang riset memang merupakan sesuatu yang primer ( hal yang jarang terjadi). Tapi evaluasi ini bisa menyesatkan jika intervensi yang lemah dan tidak terlalu mahal dievaluasi melalui proses riset yang kuat. Hasilnya seringkali negative. Peraturan umumnya, evaluasi harus berjumlah sekitar 20 persen biaya proyek. Proyek yang sangat kecil mungkin sama sekali tidak bisa menganggarkan program evaluasi, karena tidak tersedia sumberdaya yang cukup. Proyek besar bisa memberikan justifikasi atas pengeluaran biaya yang lebih besar, karena mempunyai kebutuhan umpan balik komprehensif yang lebih besar. 2.5 Memutuskan pelaksanaan evaluasi Debat berkepanjangan berlangsung seputar isu apakah evaluasi harus dilakukan oleh peneliti proyek yang berhubungan erat dengan perancangan program, ataukah harus independen. Artinya, dilakukan oleh ahli dari luar yang sebelumnya hanya sedikit sekali berhubungan dengan program, serta tidak mendapatkan keuntungan finansial dari program tersebut. Secara keseluruhan, evaluasi kolaboratif adalah situasi yang ideal. Dalam evaluasi kolaboratif para evaluator yang terampil bekerjasama erat dengan para perencana dan manajer program. Namun, mereka tetap mengembangkan, standart ilmiah yang ketat dan independen untuk pengukuran. Terlebih lagi, disebagian besar Negara, terkait dengan masalah bahasa dan perlunya mengembangkan keahlian setempat, pengumpulan data dilakukan dibawah kontrak dengan periset pasar setempat dan lembaga riset
117

lainnya. Lembaga seperti ini harus mengenali nilai dan integri tas data, menghargai aturan untuk melindungi subjek manusia, dan melakukan analisa pendahuluan yang independen. Tapi, hasil kerja mereka bisa dibantu, dan kadang- kadang diarahkan ke tingkat yang lebih baik dengan bantuan para peneliti dan evaluator yang mengembangkan rancangan riset asli. Kerjasama antara para pelaksana dan peneliti, dengan pengenalan masing- masing pihak terhadap peran parsial yang independen dan terpisah, merupakan kombinasi terbaik untuk mengevaluasi program komunikasi strategis. 2.6 Merencanakan dokumentasi dan penyebarluasan hasil-hasil evaluasi Tahap terakhir evaluasi manapun haruslah berupa dokumentasi

lengkap dan laporan hasil. Evaluator yang tidak melengkapi beberapa tabel, tidak merangkum, atau mendistribusikan hasil, berarti tidak memenuhi tanggung jawab mereka. Hasil di sini termasuk wawasan dan pelajaran yang didapat sebagai tambahan data dan tabel. Dokumentasi merupakan hal yang sangat penting. Sebuah program yang tidak dievaluasi dan didokumentasi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan tersingkir dari benak masyarakat. Evaluasi yang baik harus dilaporkan dengan jelas kepada sedikitnya tiga khalayak sasaran yang berbeda, masing-masing dengan cara yang sesuai : 1. Pada para peserta dan masyarakat Data dasar bisa disampaikan secara lisan kepada pimpinan masyarakat, semua yang terlibat dalam program, serta masyarakat umum. Data bisa dijelaskan melalui media lokal, rangkuman singkat bisa diberikan kepada semua pelaksana program, dan sejauh memungkinkan, kepada, mereka yang terpapar intervensi (sasaran program). 2. Pada donor

118

Para donor ini, baik pimpinan pemerintah, lembaga internasional, atau yayasan swasta, berhak mendapatkan laporan yang jujur dan komprehensif mengenai dampak proyek yang telah di danainya. Meskipun mereka terlihat sibuk, dan perhatiannnya dipenuhi hal-hal lain, program komunikasi stategis mempunyai kewajiban untuk mempresentasikan hasilnya. Presentasi bisa dilakukan melalui pertemuan yang mengandung pers nasional dan lokal, melalui kelompok diskusi terfokus yang melibatkan peran serta donor, melalui laporan yang disebarkan kepada pers, atau melalui peristiwa media tertentu yang dirancang khusus untuk mengundang perhatian terhadap hasil evaluasi. Laporan kepada donor haruslah akurat, jelas, dan memberikan perhatian cukup tidak hanya pada data, tapi juga terhadap dampak data pada program-program mendatang serta kegiatan lain yang berhubungan. 3. Pada profesional di bidangnya Untuk para profesional di bidang komunikasi, serta bidang penting apapun yang mungkin terlibat, temuan penting program dapat didokumentasikan melalui artikel yang dikaji sejawat, presentasi pada pertemuan profesional, bab buku-buku tertentu, dan bahkan textbook . Hasil dari profesional dan/atau bidang akademis perlu dijelaskan secara teperinci, baik menurut ciri intervensi komunikasi trategis maupun metodologi yang digunakan, guna mengumpulkan dan menganalisis data evaluasi. Jika strategi-strategi komunikasi menyarankan suatu arah baru, atau bahkan menyarankan perubahan konsep atau pemahaman sebelumnya, inovasi seperti ini semestinya ditampilkan dengan jelas dan dipertahankan dengan baik. Komunikasi kepada rekan sejawat di bidangnya harus mencakup informasi yang memadai sehingga pihak lain terdorong dan mampu mereplikasi program, saat situasinya memerlukan hal tersebut.

119

Komunikasi strategis menuntut pertimbangan akan evaluasi strategis sejak proses perancangan strategi dimulai. Evaluasi strategis tidak sekadar mencakup dokumentasi lengkap dan memadai mengenai proses yang digunakan, tujuan yang dicapai, dampak, dan jika mungkin, efektifitas biaya program. Tetapi juga harus meliputi panduan dan rekomendasi untuk perbaikan program-program yang akan datang. BAB III. PEMBAHASAN 3.1 Contoh Program Keluarga Harapan di Indonesia Tahun 2009 Pemerintah Indonesia sedang melakukan uji coba Program Keluarga Harapan (PKH), sebuah program bantuan tunai bersyarat berbasis rumahtangga. Tujuan utama program adalah untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anakanak dibawah usia 6 tahun, dan meningkatkan partisipasi sekolah dasar anak. Secara keseluruhan, PKH memiliki dampak positif (atau baik). PKH secara signifikan meningkatkan pengeluaran rumahtangga perkapita per bulan untuk komponen pendidikan (Rp. 2,786) dan kesehatan (Rp. 4,271). Hasil temuan yang disajikan pada laporan ini memegang peran penting pada pengambilan keputusan untuk melanjutkan program. Indonesia meluncurkan PKH dengan harapan mampu memecahkan masalah klasik yang sering dihadapi oleh rumahtangga miskin, seperti masalah gizi buruk, tingginya kematian ibu dan bayi, serta rendahnya partisipasi angka sekolah. PKH juga ditempatkan sebagai embrio pengembangan sistem perlindungan sosial lebih lanjut, dan sebagai salah satu strategi memerangi kemiskinan. Peserta PKH, rumah tangga sangat miskin, akan menerima bantuan sepanjang anggota rumah tangga mematuhi kewajiban PKH. Sanksi berupa pengurangan bantuan sampai dikeluarkan dari program akan diberlakukan jika peserta tidak mematuhi komitmen kewajiban program.

120

Berbeda dengan bantuan langsung tunai (BLT), peserta PKH wajib melakukan aktifitas yang terkait dengan pengembangan investasi SDM. PKH mencakup dua komponen, yaitu pendidikan dan kesehatan. Peserta PKH kesehatan wajib menggunakan layanan prenatal, proses kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih dan layanan postnatal (khusus ibu hamil), mengimunisasikan anak, dan melakukan pemantauan tumbuh kembang anak.PKH semula diluncurkan di tujuh propinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi utara, Gorontalo dan Sumatra Barat) dengan jumlah peserta 382,000 rumah tangga dari 500,000 target rumah tangga. Sampai 2009, PKH diperluas di lima propinsi lainnya, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan. Jumlah total peserta PKH mencapai 720,000 rumah tangga yang tersebar di 13 propinsi tersebut diatas. 3.2 Hasil dan Pembahasan Evaluasi Indikator PKH kesehatan yang dihasilkan dari hasil analisis pada kedua jenis survei. Pada kolom intervensi dan kontrol disajikan proporsi indikator PKH kesehatan, perbedaan proporsi diantara kedua survei baik dalam angka absolut maupun persen, serta p-value hasil uji beda rata-rata diantara kedua survei. Kunjungan Posyandu Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada responden pada survei dasar dan lanjut adalah kunjungan Posyandu bagi anak usia 0-36 bulan selama 3 (tiga) bulan terakhir. Sebelum intervensi, sekitar 70 dari 100 bayi berusia kurang dari tiga tahun telah dibawa oleh orang tuanya ke Posyandu. Setahun kemudian, angka kunjungan Posyandu ini naik menjadi 96 per 100 bayi atau mengalami kenaikan 35.7 persen. Kondisi serupa ditemukan juga pada kelompok kontrol. Proporsi bayi dari rumahtangga bukan peserta PKH yang dibawa oleh orang tuanya ke Posyandu mengalami kenaikan. Namun demikian, persentase
121

kenaikkannya 30.3poin (lebih kecil dibandingkan dengan kelompok intervensi). Penggunaan Layanan Kesehatan Pada kelompok intervensi PKH, proporsi penimbangan berat badan bayi berusia dibawah 1 tahun naik dari 67 per 100 bayi pada awal program (survei dasar) menjadi 93 per 100 bayi pada tahun 2008 atau terjadi kenaikan secara sebesar 38.6 persen. Demikian halnya dengan kepemilikan KMS dan Buku KIA, proporsi bayi pada kelompok intervensi yang memiliki KMS dan Buku KIA pada awal program masing-masing adalah 45 persen dan 39 persen. Setahun setelah pelaksanaan PKH, proporsi kepemilikan KMS dan Buku KIA naik masingmasing menjadi 86 persen dan 59 persen. (Tabel 13).

37

122

Tabel 13. Indikator tujuan PKH kesehatan Indikator Tujuan Kunjungan Posyandu Timbang berat badan Memiliki KMS Memiliki buku KIA Melakukan imunisasi Imunisasi BCG Imunisasi POLIO 1 Imunisasi POLIO 2 Imunisasi POLIO 3 Imunisasi POLIO 4 Imunisasi DPT 1 Imunisasi DPT 2 Imunisasi DPT 3 Imunisasi Campak Imunisasi Hepatitis B 1 Imunisasi Hepatitis B 2 Imunisasi Hepatitis B 3 Kelompok Intervensi Survei Survei Beda % p-val Dasar Lanjut beda 70.89 67.47 45.55 39.04 27.05 86.30 80.14 71.23 58.90 43.49 74.32 65.75 53.77 50.68 69.52 58.90 48.63 96.23 93.49 85.96 58.56 91.10 97.60 98.63 96.58 95.55 95.21 98.63 96.92 95.55 97.26 94.52 92.12 92.12 25.34 35.7 0.00** 26.03 38.6 0.00** 40.41 88.7 0.00** 19.52 50.0 0.00** 64.04 236.7 0.00** 11.30 13.1 0.00** 18.49 23.1 0.00** 25.34 35.6 0.00** 36.64 62.2 0.00** 51.71 118.9 0.00** 24.32 32.7 0.00** 31.16 47.4 0.00** 41.78 77.7 0.00** 46.58 91.9 0.00** 25.00 36.0 0.00** 33.22 56.4 0.00** 43.49 89.4 0.00** Kelompok Kontrol Survei Survei Beda % p-val Dasar Lanjut beda 73.55 72.73 40.77 33.61 28.65 78.24 78.79 68.87 58.68 43.53 69.15 58.68 49.59 49.86 64.74 54.27 46.83 364 95.87 93.94 85.67 52.62 92.29 94.49 96.42 94.21 92.84 90.91 94.49 92.56 90.36 94.77 91.18 91.46 89.81 364 22.31 30.3 0.00** 21.21 29.2 0.00** 44.90 110.1 0.00** 19.01 56.6 0.00** 63.64 222.1 0.00** 16.25 20.8 0.00** 17.63 22.4 0.00** 25.34 36.8 0.00** 34.16 58.2 0.00** 47.38 108.9 0.00** 25.34 36.7 0.00** 33.88 57.7 0.00** 40.77 82.2 0.00** 44.90 90.1 0.00** 26.45 40.9 0.00** 37.19 68.5 0.00** 42.98 91.8 0.00**

No. Obs. 292 292 Catatan: ** signifikan pada tingkat 5 %, [standar errors]

Untuk indikator kesehatan lain seperti kegiatan imunisasi dan berbagai cakupan imunisasi menunjukkan pola sama diantara kelompok intervensi dan kontrol. Indikator PKH kesehatan yang dihasilkan dari analisis data survei lanjutan memiliki proporsi lebih tinggi ketimbang indikator serupa yang diperoleh dari hasil analisis data survei dasar. Temuan ini bermakna secara statistik pada tingkat 5 persen (Tabel 13) baik untuk kelompok intervensi maupun kontrol. Mengingat kelompok intervensi PKH dipilih secara random maka perbedaan proporsi indikator PKH kesehatan yang diperoleh dengan membandingkan

123

proporsi indikator PKH kesehatan hasil survei dasar dengan survei lanjutan menunjukkan efek PKH

Gambar 4 menyajikan dampak PKH kesehatan untuk kelompok intervensi. Gambar 4 juga menyajikan perbedaan proporsi indikator PKH kesehatan yang diperoleh dari survei dasar dan lanjutan untuk kelompok kontrol. Perbedaan proporsi pada kelompok kontrol ini secara tidak langsung menunjukkan adanya pengaruh dari program-program lain selain PKH, misalnya program rutin Depkes RI, yang turut berimplikasi pada kenaikkan sejumlah indikator PKH kesehatan.

124

Gambar 4. Dampak PKH (dalam %) pada indikator kesehatan Dampak PKH kesehatan secara umum lebih tinggi ketimbang programprogram rutin. Gambar 4, misalnya, menunjukkan kegiatan imunisasi pada kelompok PKH mengalami kenaikan sebesar 237 persen. Cakupan kegiatan imunisasi pada kelompok kontrol juga naik, namun demikian kenaikkannya tidak setinggi pada kelompok intervensi. Kenaikan kegiatan imunisasi kelompok kontrol menembus angka 222 persen. Pola yang sama ditemukan juga untuk indikator PKH kesehatan lainnya seperti, cakupan imunisasi campak, imunisasi polio, penimbangan berat badan, serta kunjungan Posyandu. Efek murni PKH Kesehatan Untuk memberi gambaran tentang dampak murni PKH pada indikator kesehatan, sesi berikut menyajikan hasil perhitungan DD. Kunjungan Posyandu Tabel 14 menyajikan estimasi perhitungan rata-rata dampak PKH pada kunjungan Posyandu oleh bayi berusia dibawah tiga tahun selama periode 3 bulan terakhir. Sebelum intervensi, sekitar 71 persen bayi usia kurang dari tiga tahun diajak orang tuanya berkunjung ke Posyandu pada tiga bulan sebelum survei. Setahun setelah pelaksanaan uji coba, PKH menaikkan angka kunjungan Posyandu sebesar 36 persen. Kenaikan kunjungan Posyandu terjadi pula pada kelompok kontrol, dari 74 persen naik menjadi 96 persen atau terjadi kenaikan sebesar 30 persen. Secara rata-rata PKH berhasil menaikkan kunjungan Posyandu pada bayi dibawah usia 3 tahun sebesar 5 persen poin.

125

Tabel 14. Proporsi bayi usia 036 bulan melakukan kunjungan Posyandu 3 bulan terakhir Status Survei Lanjutan Dasar Perbedaan antar survei Kelompok Intervensi Kontrol (n=292) (n=264) 0.962 0.959 [0.015] [0.011] 0.709 0.736 [0.031] [0.032] 0.253 0.223 [0.026] [0.035] Beda 0.004 [0.018] -0.027 [0.045] 0.031 [0.043] p-val 0.85 0.54 0.48

Note: ** signifikan pada tingkat 5%, [standar errors] Penimbangan Bayi Perhitungan rata-rata dampak PKH pada kegiatan tumbuh kembang bayi usia dibawah 1 tahun. Dampak PKH pada pemantauan tumbuh kembang anak lebih tinggi daripada kunjungan Posyandu. Proporsi penimbangan berat badan bayi pada kelompok intervensi naik dari 67 persen pada awal intervensi menjadi 94 persen. Proporsi penimbangan bayi pada kelompok kontrol juga mengalami kenaikan dari 73 persen pada pelaksanaan survei dasar tahun 2007 menjadi 94 persen pada survey lanjutan tahun 2008. Secara rata-rata PKH berhasil menaikkan kegiatan pemantuan tumbuh kembang anak sebesar 3 persen poin.

126

Tabel 14. Proporsi bayi berusia 012 Bulan yang melakukan penimbangan berat badan Status Survei Lanjutan Dasar Perbedaan antar survei Kelompok Intervensi Kontrol (n=292) (n=264) 0.935 0.940 [0.018] [0.013] 0.675 0.728 [0.031] [0.031] 0.260 0.212 [0.026] [0.036] Beda -0.005 [0.022] -0.053 [0.044] 0.049 [0.044] p-val 0.84 0.23 0.27

Note: [standar errors] Tabel 15. Proporsi Bayi Berusia 012 bulan yang melakukan imunisasi Status Survei Lanjutan Dasar Perbedaan antar survei Kelompok Intervensi Kontrol (n=292) (n=264) 0.911 0.923 [0.020] [0.015] 0.271 0.286 [0.027] [0.028] 0.640 0.637 [0.028] [0.033] Beda -0.012 [0.025] -0.015 [0.039] 0.003 [0.043] p-val 0.63 0.69 0.94

Note: [standar errors] Pelaksanaan uji coba PKH juga menunjukkan hasil positif pada kegiatan imunisasi. Perbandingan rata-rata kegiatan imunisasi anak usia dibawah 1 tahun antara rumahtangga intervensi PKH ketika survei dasar adalah 0.015 lebih rendah dibandingkan dengan rumahtangga kontrol pada survei yang sama. Sementara itu, rata-rata kegiatan imunisasi antara rumahtangga intervensi dibandingkan rumahtangga kontrol ketika survei lanjutan hanya 0.015 lebih tinggi. Hasil uji beda dua rata-rata menunjukkan perbedaan signifikan

127

baik menurut series waktu maupun menurut rumahtangga, hanya peningkatan lamanya rata-rata tahun sekolah rumah tangga intervensi yang relatif kecil yakni sekitar 0.07 tahun sekolah. Secara rata-rata PKH berhasil meningkatkan kegiatan imunisasi sebesar 0.3 persen poin (Tabel 16). Hasil estimasi DD untuk berbagai indikator PKH kesehatan secara lengkap disajikan pada lampiran 1 laporan studi ini.

2.1 Metode Penelitian Kualitatif 2.1.1 Pengertian Penelitian kualitatif adalah sejenis penelitian formatif yang secara khusus memberikan teknik untuk memperoleh jawaban atau informasi mendalam tentang pendapat dan perasaan seseorang. Penelitian ini memungkinkan kita mendapatkan hal-hal yang tersirat (insight) mengenai sikap, kepercayaan, motivasi dan perilaku target populasi. Berbeda dengan riset kuantitatif yang berhubungan dengan sikap dan perilaku yang secara obyektif dapat diukur. Penelitian kualitatif berusaha menjawab pertanyaan mengapa, sedangkan riset kuantitatif berupaya menjawab pertanyaan seberapa banyak dan seberapa sering. Bila proses penelitian kualitatif merupakan satu temuan, sebaliknya proses pada penelitian kuantitatif mengejar bukti. Sifat kualitatif tersebut tidak hanya berlaku pada teknik untuk mendapatkan jawaban saja tetapi juga teknik analisisnya. Penelitian kualitatif atau sering juga diistilahkan dengan metode interaksi simbolik merupakan sebuah pendekatan yang temuan temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk perhitungan lainya, prosedur ini menghasilkan temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana. Sarana itu meliputi pengamatan dan wawancara, bamun bisa juga mencakup dokumen, buku, kaset, video juga bisa data yang sudah berujud atau sudah dihitung dapat dicotohkan sensus penduduk. 2.1.2 Alasan Pendekatan Kualitatif Ada dua alasan utama yang mendasari penggunaan metode penelitian kualitatif, yaitu alas an konseptual dan alasan praktis. Di samping itu ada alasan lain yang bersifat pragmatis. Secar terperinci, alasan-alasan tersebut adalah : a. Alasan Konseptual
128

Penelitian kualitatif memberikan informasi yang mendalam sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih besar dibandingkan dengan teknik kkuntitatif. Di samping itu, melalui penelitian kuallitatif, khususnya untuk interview perorangan, memungkinkan penelliti mengikat atau menyatukan sekelompok perilaku yang menjadi dasar bagi pengambilan keputusan atau tindakan yang dilakukan masyarakat tertentu. b. Alasan Praktis Alasan lainnya ialah yang berhubungan dengan sifat penelitian kuallitatif itu sendiri serta hubungannya dengan proses pengambilan keputusandalam penelitian. Penelitian kualitatif bersifat subyektif dan intuisi. Langkah yang utama dalam proses riset formulatif adalah merumuskan masalah dan informasi yang dibutuhkan, memformulasikan hipotesa dan menentukan berbagai variabel. Semua itu adalah intuitif dan oleh karenanya bersifat kualitatif. Di samping itu, alasan pragmatis juga menjadi pertimbangan penggunaan jenis penelitian ini, yaitu : biaya murah, waktu singkat, rancangan dapat dimodifikasi selama penelitian berlangsung. 2.1.3 Aplikasi Teknik Penelitian Kualitatif Secara umum dapat dijelaskan bahwa penggunaan penelitian kualitatif antara lain sebagai berikut : 1. Penelitian kualitatif dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan gagasan. Gagasan distimulasi dengan cara mengamati dan mendengarkan populasi target, mengamati interaksi mereka dengan program atau produk, atau mendengarkan berbagai issue dalam bahasa mereka sendiri. Issue dan perilaku yang berkembang dalam masyarakat mungkin berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh manajer program. Selanjutnya dikembangkan gagasan-gagasan baru untuk strategi komunikasi. Pesan-pesan seperti advertensi, nama pabrik dan poster diteliti secara kualitatif untuk mengkaji gagasan yang telah ditampilkan. 2. Sebagai langkah pendahuluan yang membantu mengembangkan studi kuantitatif, antara lain untuk mengembangkan hipotesa, menspesifikasi tipe masyarakat yang akan diwawancarai, mwmbantu mengembangkan pertanyaan dan alur pertanyaan, membantu mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah penelitian, untuk memilih dan merumuskan kembali berbagai materi.
129

3. Sebagai suatu cara untuk membantu memahami hasil studi kuantitatif, antara lain dengan menjelaskan, memperluas dan menjernihkan data kuantitatif, terutama untuk hasil temuan-temuan yang tidak terduga, meningkatkan pemahaman kita tentang alasan terjadinya kecenderungan tertentu dan menjelaskan berbagai faktor yang mengakibatkan perubahan perilaku. 4. Untuk topik penelitian tertentu studi kualitatif merupakan metode pengumpulan data primer. Berbagai masalah penelitian tidak mudah untuk didekati dengan metode kuantitatif, karenanya metode kualitatif merupakan metode yang lebih tepat untuk mendekatinya. 2.1.4 Penggunaan Penelitian Kualitatif 1. Merancang kuesioner. 2. Memberikan informasi yang mendalam mengenai pengetahuan, sikapdan persepsi. 3. Membuat hipotesa untuk suatu penelitian. Selain itu, penelitian kualitatif dapat juga digunakan : 1. Sebelum program dimulai, misalnya sebelum membuat perencanaan. 2. Pada saat program dilaksanakan misalnya evaluasi program yang sedang berjalan. 3. Sesudah program selesai. 2.1.5 Kunci Keberhasilan Ada tiga kunci keberhasilan yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian kualitatif dengan baik, yaitu : 1. Penelitian harus mengembangkan seni bertanya mengapa Dalam mengembangkan pertanyaan mengapa tersebut, Paul Lazarsfel menyarankan : a. Pertanyaan tersebut harus diajukan secara spesifik sehingga unsure-unsurnya dapat diuraikan. b. Pertanyaan tersebut harus dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pengalaman responden. Lebih lanjut Lazarsfeld menyatakan hal-hal yang harus mendapat perhatian yaitu : tanyakan dengan cara netral, hindari
130

kecenderungan untuk mengarahkan satu pertanyaan, catat setiap tanda baik verbal maupun nonverbal yang membingungkan responden. 2. Peneliti harus mengembangkan seni mendengarkan Beberapa hal yang perlu diingatkan sehubungan dengan seni mendengarkan, yaitu : a. Mendengarkan secara aktif berhubungan erat dengan empati. b. Cara mengucapkan sesuatu dapat menghasilkan arti yang lebih dalam daripada kata-kata yang diucapkan. c. Mendengarkan dengan cermat apa yang dimaksud dan apa yang diucapkan. 3. Peneliti harus berperan sebagai penyelidikyang kreatif. Penelitian kualitatif banyak persamaannya dengan proses penyelidikan yang dilakukan oleh seorang detektif. Meskipun demikian, pada penelitian kualitatif selalu digunakan teknik-teknik khusus dan standar pertanyaan tertentu. Kunci untuk mendapat jawaban yang benar adalah menyesuaikan dan menciptakan proses sedemikian rupa sehingga responden merasa tidak tertekan, merasa bebas untuk menyampaikan pendapatnya. b.1.6 Masalah dan Kelemahan Penelitian Kualitatif Masalah utama pada penelitian kualitatif adalah penelitian tersebut sering tidak dilaksanakan dengan seksama. Misalnya hasil penelitian kualitatif dianalisa sebagai hasil riset kuantitatif, mengambil kesimpulan yang cepat atau lebih memproyeksikan jawaban daripada mengembangkan hipotesa dan memperoleh hal-hal yang tersirat. Masalah lain adalah berhubungan dengan subjektivitas si peneliti. Karena sangat ditekankan pada interpretasi tentang makna yang tersirat, riset kualitatif sangat cenderung mengalami bias karena subjektivitas si peneliti atau si pengamat. Masalah terakhir, riset kualitatif mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi dan tidak memerlukan format pertanyaan standar. Oleh karena itu peneliti mempunyai peluang yang amat besar untuk menyimpang dari issue penelitian karena ketidakdisiplinan atau perbedaan dalam proses berpikir. 2.1.7 Kelebihan dan Kekurangan Ada beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yaitu Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Di bawah ini adalah
131

beberapa kelebihan dan kekurangan dari Focus Group Discussion dan wawancara mendalam : FGD 1. 2. 3. 4. 5. Penemuan masalah, persepsi dan kepercayaan Lamanya perputaran data Ketergantungan kualitas pada kemampuan seseorang Bias dari pewawancara Kesulitan analisa ++ +++ + + + Wawancara Mendalam +++ + -

2.1.8 Aplikasi yang Tepat untuk Masing-masing Teknik Di bawah ini adalah penggunaan yang tepat bagi masing-masing teknik kualitatif :

Penggunaan FGD - Interaksi

responden

Penggunaan Wawancara Mendalam dapat - Interaksi kelompok tidak produktif

menstimulasi jawaban yang lebih kaya, pemikiran baru. - Pengaruh kelompok akan bermanfaat untuk memacu pemikiran responden. - Subyek diskusi tidak begitu sensitive - Pengaruh kelompok akan menghambat jawaban-jawaban dan mengaburkan arti dari hasil wawancara - Subyek diskusi begitu sensitive

sehingga responden tidak mau bicara - Topik sedemikian rupa sehingga terbuka dalam kelompok - Topiknya sedemikian rupa sehingga jawaban yang mendalam diharapkan dari setiap individu, juga subyeknya komplek sehingga respondennya harus - Diperlukan seorang pewawancara / moderator untuk melaksanakan - Materi diskusi tidak luas - Area subjek tunggal diuji secara mendalam - Perlu pengetahuan yang cukup untuk banyak mengetahui subyeknya - Diperlukan sejumlah pewawancara - Materi diskusi luas dan banyak - Area subyek tidak tunggal - Pedoman wawancara perlu
132

semua responden dapat memberikan tanggapan terhadapapa yang diketahui

membuat pedoman wawancara yang bermakna - Sejumlah responden dapat disatukan dalam satu lokasi - Waktu sedikit dan biaya kecil 2.1.9

dikembangkan dan dapat dibahas setiap selesai wawancara - Responden tersebar atau tidak dapat disatukan dengan beberapa alasan - Waktu cukup banyak dan biaya mahal

Strategi Pengujian Hasil Penelitian Untuk Membuktikan Validitas Peneliti yang menggunakan rancangan riset kuantitatif mengurangi datanya dengan mengubahnya ke dalam angka dan menggunakan uji statistak. Hal tersebut tidak menjamin hasilnya valid, karena mungkin ada kesalahan dalam pengambilan sampel atau dalam pengumpulan data. Sedangkan dalam penelitian kualitatif oleh karena pengambilan sampelnya secara purposive (non probability) dan jumlahnya sedikit, maka agar validitas data tetap terjaga perlu dilakukan beberapa strategi. Uki validitas yang digunakan dalam penelitain kualitatif disebut triangulasi. Triangulasi yang meliputi 1. Triangulasi sumber Triangulasi sumber dilakukan dengan cara cara sebagai berikut: a. Cross-check data dengan fakta dari sumber lainnya. Sumber tersebut mungkin berupa informan yang berbeda, teknik riset yang berbeda untuk menggali topik yang sama, atau hasil dari sumber lainnya dan dari studi riset yang sama. Datanya harus memperkuat atau tidak ada kontradiksi satu dengan yang lainnya. b. Membandingkan dan melakukan kontras data. Hal tersebut dapat dilakukan pada rancangan penelitian dengan menghasilkan kategori informan yang berbeda. Membandingkan dan melakukan kontras pada data adalah penting jika anda mencoba mengidentifikasi variabel atau ingin melakukan konfirmasi hubungan antar variabel. c. Gunakan kelompok informan yang sangat berbeda semaksimal mungkinDidalam rancangan studi dan sampel, dinyatakan sangat berguna untuk mencari kategori informan yang berbeda (extreme) dalam variabel tertentu. Misalnya dalam mengkategorikan kelompok pengunjung dan bukan pengunjung puskesmas dan hal tersebut mungkin merupakan cara yang tercepat untuk mengidentifikasi variabel kunci yang mempengaruhi perilaku kesehatan.
133

2. Triangulasi metode Triangulasi metode dilakukan dengan cara menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data. Misalnya selain menggunakan FGD juga digunakan metode wawancara mendalam. Bisa juga selain menggunakan metode wawancara mendalam dilakukan observasi, atau menggunakan metode FGD sekaligus juga dilakukan observasi. 3. Triangulasi data a. Analisa Data dilakukan oleh lebih dari 1 orang. Analisa data bisa dilakukan oleh peneliti dan orang lain yang ahli dalam analisa data kuantitatif. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar interpretasi yang dilakukan hasilnya sama dengan yang dilakukan orang lain. b. Minta umpan balik dari informan. Umpan balik tersebut berguna bukan saja untuk alasan etik atau memperbaiki kesempatan agar hasilnya akan dilaksanakan tetapi juga untuk memperbaiki kualitas proposal, data dan kesimpulan yang ditarik dari data tersebut. Saransaran dan informasi tambahan yang dikumpulkan dari masa umpan balik akan meningkatkan kualitas laporan 2.1.10 Pemilihan Sampel Meskipun dalam penelitian kualitatif sampel (informan) tidak dipilih secara acak (probability sampling) seperti pada penelitian kuantitatif, namun demikian sampel dipilih sesuai dengan prinsip yang berlaku. Prinsip pengambilan sampel pada penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :

1.

Kesesuaian (appropriateness) Sampel dipilih berdasarkan pengetahuan yang dimiliki yang berkaitan dengan topic penelitian. Apabila peneliti belum mempunyai gambaran tentang siapa yang harus dipilih sebagai sampel, maka sebaiknya peneliti mencari informan kunci (key informan). Selanjutnya melalui informan kunci ini dapat dinyatakan informan selanjutnya. Begitu seterusnya, sehingga dari satu informan semakin lama semakin bertambah banyak, dan

134

disesuaikan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan. Cara pengambilan sampel seperti ini disebut snowball sampling. 2. Kecukupan (adequacy) Data yang diperoleh dari sampel seharusnya dapat menggambarkan seluruh fenomena yang berkaitan dengan topic penelitian, oleh karena itu harus memenuhi kategori-kategori yang berkaitan dengan penelitian, seperti : umur, pendidikan, pendapatan, agama, suku bangsa dan lain-lain. Dengan variasi kategori-kategori ini, diharapkan informasi yang dikumpulkan akan bervariasi, sehingga dapat memperoleh gambaran dan fenomena yang ada. Jadi dalam penelitian jumlah sampel tidak menjadi faktor penentu utama dalam penelitian, akan tetapi kelengkapan data yang dipentingkan. 2.2 Prinsip-Prinsip Focus Group Discussion 2.2.1 Pengertian Focus Group Diskusi adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif, dimana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau fasilitator mengenai suatu topik. Irwanto dalam Yusuf (2011) mendefinisikan FGD adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. 2.2.2 Penggunaan Metode FGD FGD harus dipertimbangkan untuk digunakan sebagai metode penelitian sosial jika : a. b. c. d. Peneliti ingin memperoleh informasi mendalam tentang tingkatan persepsi, sikap, dan pengalaman yang dimiliki informan. Peneliti ingin memahami lebih lanjut keragaman perspektif di antara kelompok atau kategori masyarakat. Peneliti membutuhkan informasi tambahan berupa data kualitatif dari riset kuantitatif yang melibatkan persoalan masyarakat yang kompleks dan berimplikasi luas. Peneliti ingin memperoleh kepuasan dan nilai akurasi yang tinggi karena mendengar pendapat langsung dari subjek risetnya.

135

Sedangkan FGD harus dipertimbangkan untuk tidak digunakan sebagai metode penelitian sosial jika: a. b. c. Peneliti ingin memperoleh konsensus dari masyarakat/peserta Peneliti ingin mengajarkan sesuatu kepada peserta Peneliti akan mengajukan pertanyaan sensitif yang tidak akan bisa di-share dalam sebuah forum bersama kecuali jika pertanyaan tersebut diajukan secara personal antara peneliti dan informan. d. e. f. 2.2.3 Peneliti tidak dapat meyakinkan atau menjamin kerahasiaan diri informan yang berkategori sensitif. Metode lain dapat menghasilkan kualitas informasi yang lebih baik Metode lain yang lebih ekonomis dapat menghasilkan informasi yang sama. Hal-hal yang melatarbelakangi FGD Irwanto dalam Yusuf (2011) mengemukakan tiga alasan perlunya melakukan FGD, yaitu alasan filosofis, metodologis, dan praktis. a. Alasan Filosofis
-

Pengetahuan yang diperoleh dalam menggunakan sumber informasi dari berbagai latar belakang pengalaman tertentu dalam sebuah proses diskusi, memberikan perspektif yang berbeda dibanding pengetahuan yang diperoleh dari komunikasi searah antara peneliti dengan responden.

Penelitian tidak selalu terpisah dengan aksi. Diskusi sebagai proses pertemuan antarpribadi sudah merupakan bentuk aksi.

b. Alasan Metodologis
-

Adanya keyakinan bahwa masalah yang diteliti tidak dapat dipahami dengan metode survei atau wawancara individu karena pendapat kelompok dinilai sangat penting. Untuk memperoleh data kualitatif yang bermutu dalam waktu relatif singkat. FGD dinilai paling tepat dalam menggali permasalahan yang bersifat spesifik, khas, dan lokal. FGD yang melibatkan masyarakat setempat dipandang sebagai pendekatan yang paling sesuai.

c. Alasan Praktis

136

Penelitian yang bersifat aksi membutuhkan perasaan memiliki dari objek yang diteliti- sehingga pada saat peneliti memberikan rekomendasi dan aksi, dengan mudah objek penelitian bersedia menerima rekomendasi tersebut. Partisipasi dalam FGD memberikan kesempatan bagi tumbuhnya kedekatan dan perasaan memiliki. Menurut Koentjoro (dalam Yusuf : 2011) kegunaan FGD di samping sebagai alat pengumpul data adalah sebagai alat untuk meyakinkan pengumpul data (peneliti) sekaligus alat re-check terhadap berbagai keterangan/informasi yang didapat melalui berbagai metode penelitian yang digunakan atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, baik keterangan yang sejenis maupun yang bertentangan. Dari berbagai keterangan di atas, Yusuf menyimpulkan dalam kaitannya dengan penelitian, FGD berguna untuk: 2.2.4 Memperoleh informasi yang banyak secara cepat Mengidentifikasi dan menggali informasi mengenai kepercayaan, sikap dan perilaku kelompok tertentu Menghasilkan ide-ide untuk penelitian lebih mendalam dan Cross-check data dari sumber lain atau dengan metode lain Karakteristik Fokus Group Diskusi Kelompok harus cukup kecil sehingga memungkinkan setiap individu untuk mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya, tetapi disamping itu juga cukup memperoleh pandangan anggota kelompok yang bervariasi. Apabila kelompok lebih dari 12 orang, timbul kecenderungan peserta FGD ingin mengeluarkan pendapatnya tetapi tidak mendapat kesempatan. Kelompok yang hanya dihadiri 4-6 orang memberi peserta lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi tetapi ide-ide yang diperoleh terbatas. b. Peserta tidak saling mengenal Peserta FGD ini mempunyai ciri-ciri yang sama. Ciri-ciri yang sama ditentukan oleh tujuan dari studi, dimana ciri yang sama ini digunakan sebagai dasar dalam pemilihan peserta FGD. Misalnya Petugas Puskesmas ingin mengetahui mengapa ibu-ibu balita tidak menggunakan Posyandu. Maka ciri-ciri yang sama yang kita pilih sebagai peserta FGD adalah ibu-ibu balita yang tidak pernah mengunjungi Posyandu. Kemudian kalau kita ingin
137

a. Peserta terdiri dari 6-12 orang.

lebih spesifik lagi karena kita akan melakukan program penyuluhan yang berbeda menurut pekerjaan ibu-ibu, maka ciri-ciri yang sama lainnya yang akan kita cari adalah jenis pekerjaannya. Jadi misalnya kita kelompokan peserta FGD dengan ciri-ciri : ibu balita, tidak menggunakan posyandu, bekerja sebagai petani dan lain-lain. c. Fokus Group Diskusi adalah suatu proses pengumpulan data. FGD berbeda dengan diskusi kelompok lainnya misalnya Delphi process,Brainstorming, Nominal groups. Fokus group bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi peserta terhadap sesuatu misalnya pelayanan, tidak mencari consensus, tidak mengambil keputusan mengenai tindakan apa yang harus diambil. Sedangkan ketiga teknik lainnya seperti tersebut diatas biasanya bertujuan untuk memecahkan masalah, mengidentifikasi konsensus dan pemecahan yang disetujui oleh semua pihak.

d. Fokus Group Diskusi mengumpulkan data kualitatif. FGD akan memberikan data yang mendalam mengenai persepsi dan pandangan peserta. Oleh karena itu dalam FGD digunakan pertanyaan yang terbuka, yang memungkinkan peserta untuk memberikan jawabannya yang disertai dengan penjelasanpenjelasa. Moderator disini hanya berfungsi sebagai pengarah, pendengar, pengamat dan menganalisa data dengan menggunakan proses induktif. e. Fokus Group Diskusi menggunakan diskusi yang terfokus. Topik diskusi ditentukan terlebih dahulu dan diatur secara berurutan. Pertanyaan diatur sedemikian rupa sehingga dimengerti oleh peserta diskusi. f. Lama Fokus Group diskusi Biasanya FGD dilangsungkan selama 60-90 menit. FGD yang pertama kali biasanya lebih lama jika dibandingkan dengan FGD selanjutnya, karena pada FGD yang pertama semua informasinya masih baru. Jumlah FGD yang harus dilaksanakan untuk suatu studi tergantung kepada kebutuhan proyek, sumber dana, serta apakah masih ada informasi baru yang harus dicari. g. Tempat Pelaksanaan Fokus Group Diskusi

138

FGD sebaiknya dilaksanakan disuatu tempat dimana peserta dapat secara bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Misalnya Puskesmas tidak tepat untuk mendiskusikan tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. 2.3 Persiapan Fokus Group Diskusi Sebelum FGD dilaksanakan perlu ada persiapan-persiapan sebagai berikut: 1. Menentukan jumlah kelompok Untuk menentukan jumlah kelompok yang dibutuhkan perlu ditetapkan terlebih dahulu hipotesa topic yang akan diteliti. Pegangan yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah kelompok adalah : a Minimal 2 FGD pada tiap kategori. Misal : melaksanakan 2 kelompok FGD pada tiap-tiap sekmen populasi, seperti kelompok pengguna posyandu dan kelompok non pengguna, kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Hal ini dilakukan karena tiap sekmen dianggap berbeda perilaku dan sikapnya, b Bahasan kelompok bervariasi Missal : menilai mutu pelayanan kesehatan, maka tanggapan dari kelompok FGD kedua akan membiaskan tanggapan dari kelompok FGD pertama. Demikian pula bila ada kelompok ketiga dan seterusnya. c Sampai tidak ada informasi baru FGD perlu dilaksanakan pada beberapa kelompok sampai diperoleh informasi yang secara umum sejalan dengan sebelumnya. Bila dari dua kelompok FGD diperoleh informasi yang berbeda maka perbedaan tersebut perlu ditelusuri pada beberapa kelompok lagi, sampai informasi yang diperoleh dapat dimengerti dan digunakan. d Lokasi geografis yang bermakna Bila letak geografis memberikan perbedaan pandangan, gaya hidup, perilaku maupun angka kesakitan maka perlu dilakukan FGD di tiap wilayah geografis. 2. Menentukan Komposisi Kelompok a. Kelas Sosial

139

Sebaiknya FGD dilaksanakan pada responden yang mempunyai status sosial yang sama. Karena bila pada satu kelompok FGD, respondennya memiliki status sosial yang berbeda, maka dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan karena responden yang status sosialnya lebih tinggi akan lebih dominan daripada yang status sosialnya lebih rendah. b. Daur Hidup Responden yang mempunyai daur hidup (seperti : umur, status perkawinan, jumlah anak) yang berbeda sebaiknya tidak disatukan dalam satu kelompok FGD, karena pengalaman yang berbeda akan memberikan informasi yang berbeda pula. c. Status Terhadap Sesuatu Status responden terhadap sesuatu (seperti peserta KB dan non peserta KB, yang melaksanakan ANC di tenaga kesehatan dan ANC di non tenaga kesehatan) tidak boleh disatukan ke dalam satu kelomok FGD, karena akan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap suatu masalah. d. Tingkat Keahlian Responden yang memiliki tingkat keahlian maupun pengalaman yang berbeda terhadap sesuatu sebaiknya tidak disatukan ke dalam satu kelompok FGD, karena akan mempengaruhi tanggapan mereka terhadap suatu masalah. e. Perbedaan Budaya Responden yang mempunyai perbedaan budaya sebaiknya tidak disatukan ke dalam satu kelompok FGD, karena budaya yang dianutnya biasanya akan mempengaruhi sikap dan perilakunya terhadap topik yang didiskusikan. f. Jenis Kelamin Bila topik diskusi berkaitan dengan jenis kelamin, maka responden harus dipisahkan. Akan tetapi, topik diskusi tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, maka responden pria dan wanita dapat disatukan ke dalam satu kelompok FGD. 3. Menentukan Tempat Diskusi Faktor yang harus diprhatikan dalam menentukan tempat FGD adalah : a. Mendatangkan Rasa Aman

140

Lokasi harus dipilih di tempat di mana peserta merasa aman untuk berbicara dan berpendapat karena tidak diamati oleh orang di luar kelompok. b. Nyaman Pilih tempat yang nyaman bagi peserta, dalam arti tidak terlalu sempit dan panas sehingga mengganggu jalannya diskusi. c. Lingkungan yang Netral Jangan pilih tempat yang dapat mempengaruhi tanggapan peserta sehingga tanggapan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dirasakannya. Misalnya bila ingin mendiskusikan masalah kualitas pelayanan maka FGD jangan dilakukan di tempat pelayanan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain. d. Mudah Dicapai Responden Sebaiknya FGD dilaksanakan di tempat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal responden karena faktor kelelahan dapat mempengaruhi tanggapan responden. e. Kaca Satu Arah Di negara-negara maju, FGD dilaksanakan di ruang kaca satu arah, di mana selama diskusi berlangsung dapat diobservasi oleh pihak luar tanpa diketahui oleh peserta diskusi, sehingga tidak mempengaruhi tanggapan yang diberikan. 4. Pengaturan Tempat Duduk Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengatur tempat duduk adalah : a. Hindari Penunjukan Status Urutan duduk peserta sebaiknya dilakukan secara acak sehingga tidak mempengaruhi tanggapan peserta. b. Memungkinkan Fasilitator Bertatap Muka Dengan Peserta Hal ini penting dilakukan untuk mengendalikan kelompok, mendorong peserta pemalu dan pendiam serta membatasi peserta dominan. c. Jarak yang Sama Antara Fasilitator dengan Tiap Peserta Hal ini dimaksudkan untuk mendorong interaksi dan perasaan sebagai bagian dari kelompok sehingga seluruh peserta dapat berperan aktif dalam diskusi.

141

Jika digambarkan, layout ruang diskusi dapat dilihat sebagai berikut:

5.

Menyiapkan Undangan Supaya FGD memperoleh hasil yang baik, peserta FGD harus homogen, yaitu mempunyai persamaan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain. Tekait dengan homogenitas atau heterogenitas peserta FGD, Irwanto dalam Yusuf (2011) mengemukakan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Pemilihan derajat homogenitas atau heterogenitas peserta harus sesuai dengan tujuan awal diadakannya FGD. b. Pertimbangan persoalan homogenitas atau heterogenitas ini melibatkan variabel tertentu yang diupayakan untuk heterogen atau homogen. Variabel sosio-ekonomi atau gender boleh heterogen, tetapi peserta itu harus memahami atau mengalami masalah yang didiskusikan. Dalam mempelajari persoalan makro seperti krisis ekonomi atau bencana alam besar, FGD dapat dilakukan dengan peserta yang bervariasi latar belakang sosial ekonominya, tetapi dalam persoalan spesifik, seperti perkosaan atau diskriminasi, sebaiknya peserta lebih homogen. c. Secara mendasar harus disadari bahwa semakin homogen sebenarnya semakin tidak perlu diadakan FGD karena dengan mewawancarai satu orang saja juga akan diperoleh hasil yang sama atau relatif sama.

142

d. Semakin heterogen semakin sulit untuk menganalisis hasil FGD karena variasinya terlalu besar. e. Homogenitas-heterogenitas tergantung dari beberapa aspek. Jika jenis kelamin, status sosial ekonomi, latar belakang agama homogen, tetapi dalam melaksanakan usaha kecil heterogen, maka kelompok tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan FGD masih dianggap perlu. f. Pertimbangan utama dalam menentukan homogenitas-heterogenitas adalah ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh heterogen dan ciri-ciri mana yang harus/boleh/tidak boleh homogen. Pada waktu mengundang peserta FGD, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu : a. Jelaskan kepada calon peserta FGD mengenai lembaga yang mengadakan studi dan tujuannya. b. Jelaskan rencana FGD dan maminta calon peserta untuk berpartisipasi dalam FGD. Sebutkan juga mereka yang sudah bersedia ikut serta dalam FGD untuk mendorong calon peserta lain ikut berpartisipasi dalam FGD. c. Beritahukan tanggal, waktu, tempat dan lamanya pertemuan. d. Apabila seseorang tidak mau atau tidak dapat datang, maka tekankan pentingnya distribusi orang tersebut dan jika tetap menolak, maka ucapkan teerimakasih. e. Jika orang tersebut berkenan datang maka beritahukan kembali tentang hari, jam, tempat dan pentingnya berpartisipasi dalam FGD. 6. Menyiapkan Fasilitator Beberapa persiapan yang perlu dilakukan adalah : a. Fasilitator menggunakan petunjuk diskusi supaya diskusi terfokus. Petunjuk diskusi ini berupa pertanyaan terbuka (open ended). b. Peranan fasilitator adalah sebagai berikut : Menjelaskan tentang topik diskusi. Seorang fasilitator tidak perlu seorang ahli yang berkaitan dengan topik diskusi, tetapi yang penting adalah ia harus memahami topik diskusi untuk dapat menguasai pertanyaannya. Di samping itu, mampu melakukan pendekatan kepada peserta FGD, sehingga mereka terdorong untuk
143

mengeluarkan pendapatnya. Fasilitator yang mempunyai rasa mempunyai rasa humor akan lebih berhasil dalam FGD tersebut. Mengarahkan kelompok, bukan diarahkan oleh kelompok. Fasilitator bertugas mengajukan pertanyaan dan harus netralterhadap jawaban peserta. Tekankan bahwa tidak ada jawaban benar atau salah. Tidak boleh memberikan persetujuan atau tidak setuju terhadap jawaban yang akan mempengaruhi pendapat peserta. Amati peserta dan tanggap terhadap reaksi mereka. Mendorong semua peserta untuk berpartisipasi dan jangan sejumlah individu memonopoli diskusi. Ciptakan hubungan baik dengan peserta sehingga dapat menggali jawaban dan komentar yang lebih dalam. Fleksibel dan terbuka terhadap saran, perubahan-perubahan, dan lain-lain. Amati komunikasi nonverbal (gerakan tangan, perubahan raut wajah) antar peserta dan tanggap akan hal tersebut. Hati-hati terhadap nada suara dalam mengajukan pertanyaan. Peserta akan merasa tidak senang apabila nada suara fasilitator memperlihatkan ketidaksabaran dan tidak bersahabat. 7. Menyiapkan Pencatat Pencatat berlaku sebagai observer selama FGD berlangsung dan bertugas mencatat hasil diskusi. Yang perlu dicatat adalah sebagai berikut : a. Tanggal pertemuan FGD, waktu mulai dan waktu berakhir FGD. b. Nama masyarakat dan catat secara singkat mengenai masyarakat tersebut serta informasi lainnya yang mungkin dapat mempengaruhi aktivitas peserta, misalnya jarak dari desa ke kota dan sebagainya. c. Tempat pertemuan FGD, catatan ringkas mengenai tempat dan sejauh mana tempat tersebut mempengaruhi peserta, misalnya apakah tempatnya cukup luas, menyenangkan peserta, dan lain-lain. d. Jumlah peserta dan beberapa uraiannya yang meliputi : jenis kelamin, umur, pendidikan dan lain-lain.
144

e. Deskripsi umum mengenai dinamika kelompok misalnya derajat partisipasi peserta, apakah ada peserta yang dominan, peserta yang merasa bosan, peserta yang selalu diam dan lain-lain. f. Pencatat harus menuliskan kata-kata yang diucapkan dalam bahasa lokal oleh peserta. g. Pencatat mengingatkan kepada fasilitator jika ada pertanyaan yang terlupakan atau juga mengusulkan pertanyaan yang baru. h. Pencatat dapat meminta peserta untuk mengulangi lagi komentarnya jika fasilitator tidak mendengarkan komentar peserta tersebut karena sedang mendengarkan komentar peserta lain. i. Catatan hasil FGD harus ditulis secara lengkap. 2.4 Pelaksanaan Focus Group Discussion 1. Persiapan Fasilitator dan pencatat harus datang tepat waktunya sebelum peserta datang. Ambil kesempatan untuk berbincang dengan peserta dan gunakan kesempatan ini untuk mengenal nama peserta dan yang menjadi perhatian mereka. Fasilitator menyiapkan dan mengatur tempat duduk peserta sedemikian rupa sehingga mendorong peserta untuk mau berbicara. Sebaiknya peserta duduk dalam satu lingkaran dengan fasilitator sedangkan pencatat biasanya duduk di luar lingkaran tersebut. Fasilitator harus mengusahakan tidak ada intrupsi dari luar pada waktu FGD berjalan. Semua perlengkapan FGD harus disiapkan, misalnya kaset, baterai, petunjuk diskusi, dan lain-lain. 2. Pembukaan FGD Hal-hal yang harus diperhatikan oleh fasilitator ketika membuka diskusi sebagai berikut : b. Jelaskan tujuan diadakan FGD, perkenalkan nama fasilitator serta pencatat dan peranannya masing-masing. c. Minta peserta memperkenalkan diri dan fasilitator harus cepat mengingat nama peserta dan menggunakannya pada waktu berbicara dengan peserta.

145

d. Jelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak bertujuan untuk memberikan ceramah tetapi untuk mengumpulkan pendapat dari peserta. Tekankan bahwa fasilitator ingin belajar dari peserta. e. Tekankan bahwa pendapat dari semua peserta sangat penting sehingga diharapkan semua peserta aktif mengeluarkan pendapat. f. Jelaskan bahwa pada waktu fasilitator mengajukan pertanyaan jangan berebut menjawabnya dalam waktu bersamaan antar peserta. g. Mulailah pertemuan dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya umum dan tidak berkaitan dengan topic diskusi. 3. Teknik Pengelolaan Focus Group Discussion Beberapa teknik yang dapat dilakukan pada waktu melaksanakan FGD yaitu : a. Klarifikasi Sesudah peserta menjawab pertanyaan, fasilitator dapat mengulangi jawaban peserta dalam bentuk pertanyaan untuk meminta penjelasan yang lebih lanjut. Misalnya : Apakah saudara dapat menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut ?

b. Reorientasi Supaya diskusi hidup dan menarik, teknik reorientasi harus efektif. Fasilitator dapat menggunakan jawaban seorang peserta untuk ditanyakan kepada peserta lain. c. Ahli / orang lain yang berpengaruh Usahakan supaya orang yang ahli semisal bidan, dokter atau lurah tidak hadir dalam pertemuan FGD ibu-ibu pengunjung Posyandu. Tetapi apabila tidak dapat dihindari mohon pada mereka untuk diam dan mendengarkan diskusi. Apabila ad aide atau saran dapat dikemukakan kepada fasilitator sesudah diskusi. d. Peserta yang dominan Apabila ada peserta yang dominan, maka fasilitator harus lebih banyak memperhatikan peserta lain agar supaya mereka lebih berpartisipasi. Dapat juga dilakuka dengan tidak memperhatikan orang yang dominan tersebut sehingga tidak mendorongnya untuk
146

memberikan jawaban. Kalau tidak berhasil maka secara sopan fasilitator dapat menyatakan kepadanya untuk memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk berjalan. e. Peserta yang diam Agar supaya peserta yang diam mau berpartisipasi, maka sebaiknya memberikan perhatian yang banyak kepadanya dengan selalu menyebutkan namanya dan mengajukan pertanyaan. f. Penggunaan gambar atau foto Dalam melakukan FGD, fasilitator dapat menggunakan foto atau gambar, misalnya memperlihatkan foto anak yang kurang gizi dan menanyakan bagaimana keadaan anak tersebut? Apa yang harus ibu lakukan?

4. Teknik Probing Probing adalah kemampuan untuk menstimulasi percakapan untuk mendorong responden menjawab pertanyaan secara lengkap. Cara melakukan probing adalah dapat mengajukan pertanyaan siapa, apa, dimana, bilamana, mengapa, bagaimana?. Beberapa teknik probing yang umumnya digunakan: a. Echo probe Adalah teknik probing dengan mengulangi jawaban responden b. Requested probe Yaitu mengulangi bagian dari petanyaan c. Silent probe Teknik probing dengan cara menunggu sebentar atau istirahat untuk memperoleh penjelasan yang lebih jauh. d. Encouragement probe Untuk mendorong e. Repeat probe Dengan cara mengulangi pertanyaan. Hal ini dilakukan apabila terjadi kebingungan pada responden. Probing berakhir jika kita telah memperoleh jawaban yang lengkap sehingga kita telah mencatat apa yang ada dalam pikiran responden, arti dan kedalamannya.
147

orang untuk meneruskan

pembicaraannya

dengan

senyum

menganggukan kepala dan lain-lain

5. Penutupan Fokus Group Untuk menyimpulkan pertemuan Focus Group, fasilitator sebaiknya memperhatikan halhal berikut: a. Jelaskan bahwa pertemuan sudah selesai, tanyakan kepada masing-masing peserta apakah masih ada lagi komentar. Komentar yang sesuai dapat digali lebih mendalam. b. Ucapkan terimakasih kepada para peserta atas pasrtisipasinya dan nyatakan bahwa komentar mereka sangat berguna untuk penyusunan program atau untuk merancang materi pendidikan dan lain-lain. Sesudah FGD selesai, fasilitator dan pencatatan harus bertemu untuk melengkapi catatan hasil diskusi 2.4.3.5 Menyusun catatan (Transkrip) FGD Dalam FGD data yang dikumpulkan adalah semua hasil diskusi dan pengamatan yang dicatat oleh si pencatat. Peranan si pencatat tidak kalah penting dengan fasilitator, meskipun ia banyak bekerja di belakang layar. Si pencatat harus bertindak sebagai pencatat yang penuh konsentrasi, tetapi sekaligus juga harus menjadi pengamat yang jeli. Pencatat harus menggambarkan situasi, dan ekspresi para peserta secara tepat dan benar. Dalam pencatatan sering juga orang menggunakan tape recording (meminta ijin dari para peserta). Akan tetapi kerugiannya kalau semata-mata memakai tape recorder adalah suasana, ekspresi seseorang tidak dapat ditangkap. Padaal semua hal tersebut merupakan bagian penting dalam menginterpretasikan data. Sering juga mempergunakan kedua-duanya, yaitu mencatat dan menggunaan tape recorder. Meskipun dalam masing-masing kelompok diskusi kita anggap para peserta relative homogen, pencatat tetap memperlakukan para peserta diskusi sebagai individual responden, sebab itu pencatat harus juga mencatat identitas/karakteristik jenis kelamin, umur, nama, alamat, pekerjaan, suku bangsa, dan lain-lain (karakteristik yang relevan dengan studinya) dari masingmasing peserta. Fasilitator akan menanyakan semua itu pada saat diskusi. Dari pengalaman, untuk memudahkan pencatatan, bisa dibuat peta duduk dari masingmasing peserta dan memberikan nomor untuk masing-masing peserta. Dengan demikian pencatat tidak perlu lagi mencatat nama peserta setiap kali peserta tersebut bicara, tetapi cukup dengan
148

mencatat nomor. Namun demikian dalam menulis kembali hasil diskusi (dalam menyusun transkrip) karakteristik si pembicara dicantumkan lagi. Langkah pertama pertama sesudah selesai FGD adalah menyusun kembali catatan-catatan itu atau membuat trannskrip. Dalam menyusun catatan-catatan itu, dapat juga dibantu dengan mendengarkan kembali tape recorder untuk bagian-bagian yang terlewatkan. Apabila pencatatan dilakukan semata-mata dengan tape recorder, kita dapat mendengarkan kaset berulang-ulang agar supaya kita dapat menghayati secara tepat suasana diskusi. Misalnya suasana gelak tawa, hening, dan sebagainya. Catatan-catatan tersebut kemudian ditata menurut, aturan pedoman FGD. 2.5 Keuntungan Dan Kerugian FGD 2.5.1 Keuntungan FGD a. Sinergisme Suatu kelompok mampu menghasilkan informasi, ide dan pandangan yang lebih luas. b. Snowballing Komentar yang didapatkan secara acak dari responden dapat memacu mulainya suatu reaksi rantai respon yang menghasilkan ide baru. c. Stimulation Pengalaman dalam kelompok sendiri merupakan sesuatu yang menyenangkan dan mendorong partisipasi d. Security Individu/responden merasa aman di dalam kelompok dan lebih merasa bebas mengutarakan perasaan/pikiran e. Spontanitas Individu tidak diharapkan menjawab setiap pernyataan, karena itu diharapkan bahwa jawaban lebih memiliki arti, karena melalui suatu proses kelompok. 2.5.2 Kerugian FGD a. Teknik FGD relative cepat dan murah dibandingkan studi kuantitaif, karena itu sering digunakan oleh pembuat keputusan untuk mendukung dugaan / pendapat pembuat keputusan b. Teknik FGD mudah dilaksanakan, tetapi sulot melakukan interpretasi data
149

c. Memerlukan fasilitator/moderator yang memiliki keterampilan tinggi.

BAB 3. PEMBAHASAN 3.1 Contoh Pengunaan FGD Dalam Bidang Kesehatan 1. Latar belakang dilakukan FGD Program pelatihan konselor sebaya di Provinsi Bali pertama kali diadakan pada tahun 2008 dengan melatih 20 orang remaja SMA/SMK, pelatihan kedua pada tahun 2009 sebanyak 20 remaja SMA/SMK. Sekolah-sekolah tersebut ditunjuk oleh pemegang program kesehatan remaja di Kabupaten/Kota, dimana setiap sekolah yang ditunjuk akan memilih siswanya sebagai calon peserta pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi di Provinsi Bali. Pelatihan ketiga dilaksanakan pada tahun 2010 sekaligus dipakai untuk penelitian ini berasal dari 10 SMP dan 10 SMA/SMK di 8 Kabupaten/Kota se-Bali dengan jumlah peserta masing-masing Kabupaten satu orang remaja SMP dan satu orang remaja SMA/SMK, kecuali Kota Denpasar terdiri dari dua orang remaja SMP dan dua orang remaja SMA/SMK, karena di Kota Denpasar jumlah remaja diasumsikan paling banyak. Pada pelatihan tahun 2010 Kabupaten Jembrana tidak mengirim peserta karena ada masalah koordinasi antara Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, sehingga peserta Kabupaten Jembrana dialihkan ke Kabupaten Badung dan Kabupaten Buleleng, dengan pertimbangan sekolah pedesaan yang lokasinya dekat dengan perkotaan, dan sekolah yang lokasinya paling jauh dari Provinsi. Peserta pelatihan konselor sebaya telah menyebar di 9 Kabupaten / Kota se-Bali, namun tidak ada penambahan jumlah peserta yang dilatih pertahunnya, dan tidak ada penyegaran pelatihan pada sekolah yang telah dilatih, sehingga tidak ada kesinambungan program selanjutnya. Terbatasnya sekolah dan minimnya remaja yang terjangkau dengan
150

pelatihan konselor sebaya, menyebabkan kurang meratanya penyebaran informasi tentang kesehatan reproduksi yang diberikan pada remaja di Provinsi Bali. 2. Tema FGD: Focus Group Discussion tentang pelaksanaan program konselor sebaya pendidikan kesehatan reproduksi di Provinsi Bali. 3. Tujuan FGD Untuk mendapatkan evaluasi dan mengetahui lebih mendalam program pendidikan konselor sebaya mengenai pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah yang dianggap gagal, dan kurang terkoordinasi di Provinsi Bali. 4. Subjek penelitian Subjek penelitian sekaligus menjadi informan dalam penelitian ini berjumlah 25 orang yang terdiri dari 6 orang informan SMA/SMK, 6 orang informan SMP, 7 orang informan Kepala Sekolah/Guru dan 6 orang informan pelatih yang dibagi menjadi 4 kelompok FGD yaitu kelompok konselor sebaya SMA/SMK, kelompok konselor sebaya SMP, kelompok Kepala Sekolah/guru dan kelompok pelatih. 5. Materi yang didiskusikan dalam FGD a. Proses Seleksi Calon Peserta Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja
-

Penentuan calon peserta Kriteria calon peserta Persiapan mental peserta Kesesuaian materi kesehatan reproduksi dengan perkembangan bio psiko social remaja Penyajian materi yang memiliki daya tarik Materi pendukung yang dibutuhkan konselor sebaya Pendekatan pembelajaran / metode pelatihan Durasi pelatihan konselor sebaya Penyegaran pelatihan konselor Pengakuan posisi konselor oleh teman sebaya
151

b. Ketepatan Materi Pelatihan


-

c. Proses pelatihan
-

d. Implementasi Pasca Pelatihan


-

Fasilitas untuk mengimplementasikan program konselor sebaya Upaya dan hambatan implementasi Hampir semua informan remaja (11 dari 12 informan remaja) menyatakan mereka

6. Hasil FGD ditunjuk langsung oleh kepala sekolah atau guru PMR untuk mengikuti pelatihan konselor sebaya. Hal ini menyebabkan remaja merasa terpaksa dan merasa diberi beban yang berat karena mereka kurang berminat dengan program konselor sebaya. Ada satu informan menyatakan dirinya melalui proses seleksi disekolah. Sosialisasi yang kurang di sekolah serta tidak ditentukan kriteria peserta menjadi penyebab kurang pahamnya kepala sekolah/guru untuk memilih remaja. Mereka pada umumnya hanya berdasarkan pengamatan sehari-hari dengan melihat prestasi akademik dan keaktifan siswa. Hal ini tentu tidak cukup karena untuk menjadi konselor sebaya diperlukan karakteristik-karakteristik tertentu diantaranya mempunyai minat, secara sukarela untuk membantu dan lainnya. Minimnya jumlah remaja yang dilatih dimasing-masing sekolah menyebabkan sulitnya remaja dalam membagi tugas untuk melakukan sosialisasi di sekolah, hal ini berbeda dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan melatih Kader Kesehatan Remaja minimal 10% dari jumlah siswa, sehingga memudahkan mereka melaksanakan tugas. Dengan jumlahnya yang banyak menyebabkan mereka lebih di kenal di sekolah, dibandingkan konselor sebaya yang hanya satu orang. Pemahaman yang belum maksimal pada teknik konseling menjadi penyebab utama remaja belum merasa mampu melakukan konseling pada teman sebayanya. Mereka yang telah mencoba melakukan konseling umumnya sebatas curhat biasa dengan teman-teman dekat meraka. Singkatnya hari pelatihan menyebabkan waktu pelatihan sampai larut malam, hal ini membuat remaja merasa bosan dan merasa dikejar-kejar materi, sehingga remaja merasa lelah, bosan, mengantuk dan tidak konsentrasi menerima pelajaran. Kondisi ini dapat dinetralisir dari cara penyampaian materi oleh pelatih yang menurut remaja, gaul-gaul dan sesuai dengan keinginan remaja. Hambatan implementasi dialami remaja karena kurangnya dukungan baik dari sekolah, petugas kesehatan maupun dari pelatih itu sendiri. Hambatan juga berasal dari teman-teman mereka yang belum memanfaatkan mereka sebagai konselor sebaya. Hal ini
152

terjadi karena tidak ada pengakuan dari pihak sekolah dan tidak pernah diumumkan didepan seluruh siswa bahwa mereka telah menjadi konselor sebaya yang bersertifikat. Sekolah yang telah mendukung program ini karena ada motivasi eksternal yaitu lomba UKS tingkat nasional. Motivasi internal belum ada dari sekolah karena tidak pernah ada sosialisasi tentang konselor sebaya sehingga mereka tidak mengerti dengan apa yang harus mereka lakukan untuk mendukung program konselor sebaya. Pada umumnya sekolah menyambut positif program ini, dan kepala sekolah/guru akan mendukung sepenuhnya asal mereka diberikan sosialisasi terlebih dahulu, sehingga mereka bisa mengerti dan bisa mendampingi remaja saat melakukan kegiatan. Menurut kepala sekolah/guru dan pelatih yakin program ini bisa berkelanjutan jika ada kesepakatan antara Dinas Kesehatan dengan Dinas Pendidikan untuk memasukkan program konselor sebaya ini kedalam kegiatan ekstrakurikuler, sehingga pembiayaannya bisa dianggarkan dari sekolah masing-masing.

153

154

Anda mungkin juga menyukai