Anda di halaman 1dari 9

Sistem Kemih

Pendahuluan
Ginjal mengeliminasi konstituen-konstituen plasma yang tidak diperlukan ke dalam urin sementara menahan bahan-bahan yang bermanfaat bagi tubuh. Satuan fungsional pembentuk urin di ginjal adalah nefron, yang terdiri dari komponen vaskuler dan tubulus yang saling berkaitan. Komponen vaskuler terdiri dari dua jaringan kapiler yang terangkai, yang pertama adalah glomerulus, berkas kapiler yang menyaring sejumlah besar volume plasma bebas protein ke dalam komponen tubulus. Jaringan kapiler kedua terdiri dari kapiler peritubulus, yang melingkari komponen tubulus. Kapiler peritubulus berawal di kapsul Bowman, yang melingkupi glomerulus untuk menerima filtrat, dan kemudian berlanjut sebagai saluran berkelok-kelok yang akhirnya berakhir di pelvis ginjal. Sewaktu mengalir melalui berbagai bagian tubulus, filtrat mengalami modifikasi oleh sel-sel yang melapisi bagian dalam tubulus, tempat bahan-bahan yang diperlukan untuk mempertahankan komposisi dan volume CES dikembalikan ke plasma. Apa yang tertinggal di tubulus kemudian diekskresikan sebagai urin. Ginjal melaksanakan tiga proses dasar dalam menjalankan fungsi regulatorik dan ekskretoriknya: (1) filtrasi glomerulus, perpindahan non-diskriminatif plasma bebas protein dari darah ke dalam tubulus; (2) reabsorpsi tubulus, perpindahan selektif konstituen-konstituen tertentu dalam filtrat kembali ke darah kapiler peritubulus; dan (3) sekresi tubulus, perpindahan yang sangat spesifik zat-zat tertentu dari darah kapiler peritubulus ke dalam cairan tubulus. Segala sesuatu yang difiltrasikan atau disekresikan tetapi tidak direabsorpsi akan diekskresikan sebagai urin.

Filtrasi Glomerolus
Filtrat glomerulus terbentuk sewaktu sebagian plasma yang mengalir melalui tiap-tiap glomerulus terdorong secara pasif oleh tekanan menembus membran glomerulus untuk masuk ke dalam lumen kapsul Bowman di bawahnya. Tekanan filtrasi netto yang memicu filtrasi ditimbulkan oleh ketidakseimbangan dalam gaya-gaya fisik yang bekerja pada membran glomerulus. Tekanan darah kapiler glomerulus yang tinggi dan mendorong filtrasi mengalahkan kombinasi dari tekanan osmotik koloid plasma dan tekanan hidrostatik kapsul Bowman yang bekerja berlawanan. Biasanya, 20% sampai 25% curah jantung disalurkan ke ginjal untuk mengalami proses regulatorik dan ekskretorik ginjal. Dari plasma yang mengalir melalui ginjal, dalam keadaan normal 20% difiltrasi melalui glomerulus, menghasilkan laju filtrasi glomerulus (GFR) 125 ml/menit. Komposisi filtrat tersebut identik dengan plasma, kecuali protein plasma yang tertahan oleh membran glomerulus. GFR dapat secara sengaja diubah dengan mengubah tekanan darah kapiler glomerulus sebagai hasil dari pengaruh simpatis pada arteriol aferen. Vasokontriksi arteriol aferen menurunkan aliran darah ke glomerulus, sehingga tekanan darah glomerulus menurun dan GFR juga menurun. Sebaliknya, vasodilatasi arteriol aferen meningkatkan aliran darah glomerulus dan GFR. Kontrol simpatis atas GFR merupakan bagian dari respons refleks baroreseptor untuk mengkompensasi perubahan tekanan darah arteri. Jika GFR berubah, jumlah cairan yang keluar melalui urin juga berubah, sehingga volume plasma dapat diatur sesuai dengan kebutuhan untuk membantu memulihkan tekanan darah ke normal dalam jangka panjang.

Reabsorpsi Tubulus

Setelah plasma bebas protein difiltrasi melalui glomerulus, setiap zat ditangani secara tersendiri oleh tubulus, sehingga walaupun konsentrasi semua konstituen dalam filtrat glomerulus awal identik dengan konsentrasinya dalam plasma (dengan pengecualian protein plasma), konsentrasi berbagai konstituen mengalami perubahan-perubahan saat cairan filtrasi mengalir melalui sistem tubulus. Kapasitas reabsorptif sistem tubulus sangat besar. Lebih dari 99% plasma yang difiltrasi dikembalikan ke darah melalui reabsorpsi. Zat-zat utama yang secara aktif direabsorpsi adalah Na+ (kation utama CES), sebagian besar elektrolit lain, dan nutrien organik, misalnya glukosa dan asam amino. Zat terpenting yang direabsorpsi secara pasif adalah Cl-, H2O, dan urea. Hal utama yang berkaitan dengan sebagian besar proses reabsorpsi adalah reabsorpsi aktif Na+. Suatu pembawa basolateral setiap sel tubulus proksimal mengangkut Na+ ke luar dari sel ke dalam ruang lateral di antara sel-sel yang berdekatan. Perpindahan Na+ ini memicu reabsorpsi netto Na+ dari lumen tubulus ke plasma kapiler peritubulus, yang sebagian besar terjadi di tubulus proksimal. Energi yang digunakan untuk memasok pembawa Na+-K+ ATPase akhirnya bertanggung jawab untuk mereabsorpsi Na+, glukosa, asam amino, Cl-, H2O, dan urea dari tubulus proksimal. Pembawa kotransportasi spesifik yang terletak di batas luminal sel tubulus proksimal terdorong oleh gradien konsentrasi Na+ untuk secara selektif mengangkut glukosa atau asam amino dari cairan luminal ke dalam sel tubulus. Dari sel tubulus, zat-zat tersebut akhirnya masuk ke plasma. Klorida direabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradien listrik yang diciptakan oleh reabsorpsi aktif Na+. Air secara pasif direabsorpsi akibat gradien osmotik yang diciptakan oleh reabsorpsi aktif Na+. Enam pulu lima persen H2O yang difiltrasi akan direabsorpsi dari tubulus proksimal melalui cara ini. Reabsorpsi ekstensif H2O meningkatkan konsentrasi zat-zat lain yang tertinggal di dalam cairan tubulus, yang sebagian besar adalah zat-zat sisa. Molekul urea yang kecil merupakan satu-satunya zat sisa yang direabsorpsi secara parsial akibat efek pemekatan ini; sekitar 50% urea yang difiltrasi akan direabsorpsi. Zat-zat sisa lain, yang tidak dapat direabsorpsi, akan tetap berada di urin dalam konsentrasi yang tinggi. Di awal nefron, reabsorpsi Na+ terjadi secara konstan dan tidak dikontrol, tetapi di tubulus distal dan pengumpul, reabsorpsi sebagian kecil Na+ yang difiltrasi berubah-ubah dan dapat dikontrol. Tingkat reabsorpsi Na+ yang dapat dikontrol ini terutama bergantung pada sistem renin-angiotensin-aldosteron yang kompleks. Karena Na+ dan anion penyertanya Cl-, merupakan ion-ion yang paling aktif secara osmotis di CES, volume CES ditentukan oleh beban Na+ dalam tubuh. Pada gilirannya, volume plasma, yang mencerminkan volume CES total, penting untuk penentuan jangka panjang tekanan darah. Apabila beban Na+/volume CES/volume plasma/tekanan darah arteri di bawah normal, ginjal mensekresikan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu serangkaian proses yang berakhir pada peningkatan sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron meningkatkan reabsorpsi Na+ dari bagian distal tubulus, sehingga memperbaiki beban Na+/volume CES/tekanan darah yang semula menurun. Elektrolit-elektrolit lain yang secara aktif direabsorpsi oleh tubulus, misalnya PO43- dan Ca2+, memiliki sistem pembawa masing-masing yang independen. Karena pembawa-pembawa tersebut, seperti pembawa kotransportasi nutrien organik, dapat mengalami kejenuhan, mereka memperlihatkan kapasitas transportasi maksimum, atau Tm. Apabila filtrasi suatu zat yang direabsorpsi secara aktif melebihi Tm, reabsorpsi akan berlangsung pada kecepatan maksimum yang konstan, dengan jumlah zat tambahan yang difiltrasi diekskresikan dalam urin

Sekresi Tubulus
Tubulus ginjal mampu secara selektif menambahkan zat-zat tertentu ke dalam cairan filtrasi melalui proses sekresi tubulus. Sekresi suatu zat meningkatkan ekskresinya dalam urin. Sistem sekresi yang terpenting adalah (1) H+, yang penting untuk mengatur keseimbangan asam-basa; (2) K+, yang menjaga konsentrasi K+ plasma pada tingkat yang sesuai untuk mempertahankan eksitabilitas normal

membran sel otot dan saraf; dan (3) anion dan kation organuk, yang melaksanakan eliminasi senyawa-senyawa organik asing dari tubuh.

Ekskresi Urin dan Klirens Plasma


Dari 125 ml/menit cairan yang difiltrasi di glomerulus, dalam keadaan normal hanya 1 ml/menit yang tertinggal di tubulus dan diekskresikan sebagai urin. Hanya zat-zat sisa dan kelebihan elektrolit yang tidak diperlukan oleh tubuh dibiarkan berada di dalam tubulus. Karena bahan yang diekskresikan itu disingkirkan atau dibersihkan dari plasma, istilah klirens plasma mengacu pada volume plasma yang dibersihkan dari zat tertentu setiap menitnya oleh ginjal. Ginjal mampu mengekskresikan urin dengan volume dan konsentrasi yang berbeda-beda baik untuk menahan atau mengeluarkan H2O, masing-masing bergantung pada apakah tubuh mengalami defisit atau kelebihan H2O. Ginjal mampu menghasilkan urin dengan rentang dari 0,3 ml/menit pada 1.200 mosm/l sampai 25 ml/menit pada 100 mosm/l dengan mereabsorpsi H2O dalam jumlah bervariasi dari bagian distal nefron. Variasi reabsorpsi ini dimungkinkan oleh adanya gradien osmotik vertikal yang berkisar dari 300 sampai 1.200 mosm/l di cairan interstisium medula yang dibentuk oleh sistem countercurrent lengkung Henle dan daur ulang urea antara tubulus pengumpul dan lengkung Henle. Gradien osmotik vertikal tempat cairan tubulus hipotonik (100 mosm/l) terpajan sewaktu cairan mengalir melalui bagian distal nefron ini menciptakan gaya pendorong pasif untuk reabsorpsi progresif H2O dari cairan tubulus, tetapi tingkat reabsorpsi H2O yang sebenarnya bergantung pada jumlah vasopresin (hormon antidiuretik) yang disekresikan. Vasopresin meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan pengumpul terhadap H2O; keduanya impermeabel terhadap H2O jika tidak terdapat vasopresin. Sekresi vasopresin meningkat sebagai respons terhadap defisit H2O, dan hal ini menyebabkan peningkatan reabsorpsi H2O. Sekresi vasopresin dihambat jika terdapat kelebihan H2O, sehingga reabsorpsi H2O menurun. Dengan cara ini, penyesuaian dalam reabsorpsi H2O yang dikontrol oleh vasopresin membantu mengkoreksi setiap ketidakseimbangan cairan. Setelah terbentuk, urin didorong oleh kontraksi peristaltik melalui ureter dari ginjal ke kandung kemih untuk disimpan sementara. Kandung kemih dapat menampung 250 sampai 400 ml urin sebelum reseptor regang di dindingnya memulai refleks berkemih. Refleks ini menyebabkan pengosongan kandung kemih secara involunter dengan secara bersamaan menyebabkan kontraksi kandung kemih yang disertai oleh pembukaan sfingter uretra internal dan eksternal. Berkemih dapat untuk beberapa saat dan dengan sengaja dicegah sampai waktu yang lebih tepat dengan pengencangan secara sengaja sfingter eksternal dan diafragma pelvis di sekitarnya.

Kompartemen cairan tubuh : Cairan ekstrasel dan intrasel, Cairan interstisial dan edema Asupan cairan harian Cairan ditambahkan ke dalam tubuh dari 2 sumber utama : 1. air/cairan dalam makanan, menambahkan cairan tubuh sekitar 2100ml/hari 2. Sintesis di tubuh hasil oksidasi karbohidrat, yg menambah sekitar 200ml/hari Jadi total asupan cairan harian kira-kira : 2300ml/hari. Dipengaruhi oleh : cuaca, kebiasaan, dan tingkat aktivitas fisik.

Kehilangan cairan tubuh harian Kehilangan air yang tidak dirasakan (insensible water loss) ex : evaporasi dari traktus respiratorius dan difusi melalui kulit : mengeluarkan air sekitar 700ml/hri. Kehilangan air yang dirasakan lingkungan), vol keringat normal 100 ml/hari. Kehilangan air lewat feses (normal 100ml/hari) Kehilangan air melalui ginjal ( normal 1400 ml/hari) kehilangan air lewat keringat ( sangat bervariasi, bergantung pada aktivitas fisik dan suhu

Kompartemen cairan tubuh Semua cairan tubuh didistribusikan terutama di antara dua kompartemen : 1. Cairan ekstrasel cairan interstiaial dan plasma darah 2. Cairan intrasel Ada juga kompartemen cairan lainnya yang kecil disebut : cairan transelular : meliputi cairan dalam rongga sinovia, peritoneum, perikardium, dan intraokular, cairan serebrospinal. Normal 1-2 liter. Rata2 orang dengan BB 70kg memiliki total cairan tubuh sekitar 60% BB/ 42 liter. Presentasi tersebut dapat berubah bergantumg dengan : umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas. Seiring dengan pertumbuhan : akan semakin menurun, karena berkaitan dengan peningkatan presentasi lemak tubuh, sehingga mengurangi persentasi cairan dalam tubuh. Kompartemen cairan intrasel Sekitar 28 dari 42 liter cairan tubuh ada di dalam 75 triliun sel, jadi cairan intrasel merupakan 40% dri BB total. Kompartemen cairan ekstrasel 20% dri BB, atau sekitar 14 liter pada orng dewasa normal dg BB 70kg. Cairan interstisial : > ces dan Plasma : ces. Plasma : bagian darah yang tidak mengandung sel, plasma terus menerus menukar zat dengan cairan interstisial melalui pori-pori membran kapiler. Dimana pori-pori bersifat : sangat permeabel untuk hampir semua zat terlarut dalam ces kecuali protein.

Volume darah Darah itu : mengandung CES(cairan dalam plasma) dan CIS(cairan dalam sel darah merah). Ratarata volume darah orang dewasa : 7% dri BB, atau 5 liter. Sekitar 60% berupa plasma, 40% berupa sel darah merah. Hematokrit ( packed red cell volume) : adalah fraksi darah yang terdiri atas sel darah merah, yang ditentukan dengan sentrifugasi darah dlm tabung hematokrit sampai sel-sel ini jadi benar-benar mampat dibawah tabung. Nilai N ( laki2 : 0,40 , wanita : 0,36). Konstituen cairan ekstrasel dan intrasel Komposisi ion plasma serupa komposisi ion cairan interstisial Karena keduanya hanya dipisahkan o/ membran kapiler yang sangat permeabel. Perbedaan utama adalah : konsentrasi protein dalam plasma lebih tinggi. Karena efek donan, konsentrasi ion bermuatan positif (kation) > 2% dalam plasma dari pada cairan interstisial. Protein dalam plasma : punya muatan akhir negatif, jadi lebih suka ikat kation (na dan kalium). Konsentrasi ion bermuatan negatif (anion) dalam cairan interstisial cenderung lebih tinggi dibandingkn dengan plasma karena muatan negatif protein plasma akan menolak anion yang bermuatan negatif. Cairan ekstrasel : mengandung sejumlah besar ion natrium dan klorida, serta ion bikarbonat dalam jumlah yang cukup besar. Hanya sedikit ion kalium, kalsium, magnesium, fosfat dan asam organik. Komposisi ces diatur dengan cermat oleh berbagai mekanisme, khususnya GINJAL.

Konstituen penting pada cairan intrasel

Cis dipisahkan dari ces : oleh membran sel yang sangat permeabel terhadap air, tapi tidak permeabel terhadap sebagian besar elektrolit dalam tubuh. Cis : hanya sedikit mengandung ion natrium & klorida & hampir tidak ada ion kalsium. Banyak kalium dan fosfat, magnesium dan sulfat dalam jumlah sedang. Pengaturan pertukaran cairan dan keseimbangan osmotik antra ces & cis Jumlah relatif ces yang didistribusikan antara plasma & ruang instertisial terutama ditentukan oleh : keseimbangan daya hidrostatik dan osmotik koloid. Distribusi cairan antar kompartemen ces dan cis terutama ditentukan oleh efek osmotik dari zat terlarut yang lebih sedikit ( khususnya natrium, klorida, dan elektrolit lain) membran sel sangat permeabel terhada cairan tapi relatif impermeabel terhadap ion yang kecil seperti natriun dan klorida, jadi cairan dengan cepat bergerak melintasi membran sel, sehingga intrasel tetap isotonik terhadap ekstrasel. Prinsip dasar osmosis dan tekanan osmotik Osmosis : difusi netto cairan yang menyebrangi membran permeabel selektif dari tempat yang konsentrasi airnya tinggi ke tempat yang konsentrasi airnya lebih rendah. Semakin tinggi konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan makin rendah konsentrasi airnya. Cairan berdifusi dari daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah (konsentrasi air yang tinggi) ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang tinggi (konsentrasi air rendah). Karena membran sel relatif impermeabel terhadap kebanyakan zat terlarut tapi sangat permeabel terhadap air jadi bila salah satu sisi membran sel konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi, air akan berdifusi melintasi membran menuju daerah dg konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi. Kecepatan difusi air tersebut dinamakan : kecepatan osmosis. Tekanan osmotik Itu merupakan besar tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah osmosis. Jadi semakin tinggi tekanan osmotik suatu larutan, semakin rendah konsentrasi air dan konsentrasi zat terlarut semakin tinggi. Keseimbangan osmotik dipertahankan antara cis & ces Dengan perubahan konsentrasi yang relatif kecil pada zat terlarut dalam CES, tekanan osmotik yang besar dapat terbentuk di sepanjang membran sel. Cairan isotonik, hipotonik dan hipertonik 1. Isotonik : larutan yang netral, karena tidak menimbulkan pengerutan maupun pembengkakan sel. ex : jika sel diletakkan dalam suatu larutan dengan zat terlarut impermeabel yang punya osmolaritas 282 mOsm/lt sel tidak akan mengkerut atau membengkak karena konsentrasi air dalam CIS dan CES sama & zat terlarut tdk dapat masuk atau keluar dri sel. 2. Hipotonik : larutan yang punya konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah (<282 mOsm/lt), air akan berdifusi ke dalam sel dan sebabkan sel membengkak. Air akan terus berdifusi ke dalam sel, yang akan mengencerkan CIS & memekatkan CES s/d osmolaritas nya sama. Contoh : larutan natrium klorida dengan konsentrasi <0,9%

3. Hipertonik : larutan yang punya konsentrasi zat terlarut impermeabel yang lebih tinggi, air akan mengalir keluar dri sel ke dalam CES. Nah dalam hal ini, sel akan mengkerut sampai kedua konsentrasi menjadi sama. Contoh : larutan natrium klorida yang > 0,9% Isotonik, hipotonik dan hipertonik merujuk pada dapat atau tidaknya suatu larutan menyebabkan perubahan volume sel.

Cairan isosmotik, hiperosmotik dan hipo-osmotik 1. Isosmotik : larutan dengan osmolaritas yang sama dengan sel, tanpa memperhatikan zat terlarut tersebut dapat menembus membran sel atau tidak. 2. Hiperosmotik dan hipo-osmotik : secara berturut-turut merupakan larutan yang punya osmolaritas lebih tinggi atau lebih rendah dibanding dg CES tanpa memperhatikan kemampuan zat terlarut tersebut menembus membran sel. Volume dan osmolalitas ces dan cis pada keadaan abnormal Beberapa faktor yang dapat menyebabkan perubahan nyata pada vol cis dan ces : 1. Meminum air 2. Dehidrasi 3. Infus intravena berbagai jenis larutan 4. Kehilangan sejumlah besar cairan dr traktus gastrointestinal 5. Kehilangan cairan melalui keringat/ ginjal yg berlngsung abnormal Prinsip-prinsip dasar yang harus diingat : 1. Air bergerak cepat melintasi membran sel 2. Membran sel hampir sepenuhnya impermeabel terhadap banyak zat terlarut Contoh : efek penambahan larutan salin ke CES

Edema : kelebihan cairan dalam jaringan 1. Edema intraselAda 2 keadaan yang sebabkan terjadinya pembengkakan intrasel : depresi sistem metabolisme jaringan dan tidak adanya nutrisi sel yang adekuat. 2. Edema ekstrasel terjdi bila ada akumulasi cairan yang berlebihan dalam ruangan ekstrasel. Ada 2 penyebab tersering : kebocoran abnormal cairan dari plasma ke ruang interstisial dg melintasi kapiler dan kegagalan sistem limfatik untuk mengembalikan cairan dari interstisium ke dalam darah. Ringkasan faktor-faktor pengaman yang mencegah edema 1. Faktor pengaman yang dihasilkan oleh komplians jaringan yang rendah pada kisaran negatif besarnya sekitar 3 mmhg 2. Faktor pengaman yang dihasilkan oleh peningkatan aliran limfe sekitar 7 mmhg 3. Faktor pengaman yang disebabkan oleh pengeluaran protein dari ruang interstitium sekitar 7 mmhg

Kesimpulan Ginjal hanya bekerja pada plasma, sedangkan plasma bagian dari CES. CES terdiri dari plasma dan cairan interstisium Pertukaran antara plasma dan cairan interstisium itu berlangsung bebas kecuali protein

plasma jadi komposisi plasma sama dengan interstisium

Jadi dngan melaksanakan fungsi regulatorik dan eksretorik pada plasma, ginjal akan mempertahankan lingkungan cairan internal yang sesuai agar sel berfungsi optimal untuk mencapai homeostasis.