Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ketika pasukan infanteri romawi menyangka militer kaum muslimin mendapat bantuan untuk berperang, mereka merasa takut dan panik tatkala berhadapan dengan pasukan militer kaum muslimin di suatu tempat yang bernama Mutah. Ketakutan pasukan romawi cukup beralasan. Pada saat mereka terlibat bentrok melawan kaum muslimin dengan mengerahkan kekuatan infanteri yang tidak tanggung-tanggung besarnya sebanyak seratus ribu prajurit ditambah pasukan gabungan dari beberapa kabilah arab yang jumlahnya mencapai seratus ribu orang pula. Hal itu berarti jumlah mereka mencapai dua ratus ribu orang. Tujuannya agar pasukan kaum muslimin dapat ditundukkan dengan mudah. Namun, kenyataannya pertempuran berlangsung sengit dan berdarah-darah tanpa kelihatan hasilnya. Padahal pasukan Islam yang dipimpin ksatriaksatria muslim pilihan itu berjumlah jauh lebih sedikit dari kekuatan militer pasukan romawi, yaitu sekitar tiga ribu orang. Namun kekuatan iman yang kokoh dalam hati mereka membuatnya kuat. Perang Mutah, peristiwa yang disebut sebagai pertempuran terdahsyat dan peperangan berdarah terbesar yang pernah dialami kaum muslimin semasa hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pada perang Mutah kali ini pasukan muslim terlibat bentrok langsung dengan pasukan Romawi dan sekutunya yang memiliki jumlah pasukan yang jauh lebih besar dari jumlah pasukan orang-orang muslim. Namun, berkat pertolongan dari Allah dan kepiawaan Khalid bin Walid dalam mengatur strategi perang salah satu komandan perang andalan umat muslim saat itu. Banyak orang Arab yang memprediksi bahwa pertempuran tersebut akan membawa kekalahan bagi kaum, justru berakhir seri. Dengan meninggalkan korban nyawa yang tidak sedikit di pihak romawi. Pertempuran berdarah ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 8 H, bertepatan dengan tahun 629 M.. Terjadi peristiwa yang memicu perang. Syahdan, saat itu Haris bin Umair al Azdi sedang berpergian menuju Syam. Ia mendapat tugas khusus dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang delegasi untuk menyampaikan sebuah surat penting
1

kepada Raja Busra. Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan tersebut, tanpa diduga ia bertemu dengan Syurahbil al Ghossani seorang yang menjabat sebagai penguasa setempat dibawah Kekaisaran Romawi ketika sedang melewati sebuah kawasan yang bernama Mutah. Begitu mengetahui bahwa Haris bin Umair al Azdi salah satu delegasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera menangkap dan mengikatnya kemudian menghadapkannya kepada Kaisar. Tidak lama setelah itu, nyawa sahabat ini pun berakhir dibawah tebasan pedang sang musuh.

B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. Bagaimanakah persiapan sebelum Perang Mutah dimulai ? Bagaimanakah Kronologi Perang Mutah ? Bagaimanakah strategi yang diatur dalam Perang Mutah ? Apa saja dampak dari perang Mutah ?

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Islam yaitu Perang Mutah. Selain itu untuk mengetahui dan memahami bagaimana latar belakang, kronologi dan dampak dari perang tersebut.

BAB II PEMBAHASAN
2

A. Pengaktifan Kekuatan Militer Kaum Muslimin Kabar kematian Haris bin Umair yang bertugas sebagai delegasi itu langsung menyulut kemarahan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sebelumnya, tidak pernah ada delegasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang dibunuh ketika menjalankan tugasnya sebagai duta penghubung. Pembunuhan kepada delegasi yang seharusnya dijamin keamanannya sekalipun dalam kondisi perang merupakan bentuk kriminal yang paling keji dan secara langsung merupakan bentuk penghinaan kepada pihak yang mengutusnya. Untuk memberi mereka pelajaran atas perbuatan keji mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam segera menyiapkan bala tentara berjumlah tiga ribu orang. Pasukan ini membawa tugas khusus dari beliau untuk mendatangi daerah terbunuhnya Haris bin Umair dan menyeru terlebih dahulu penduduknya untuk menerima ajaran Islam. Jika mereka menolak, maka mereka wajib diperangi. Menjelang keberangkatan, tiba-tiba ada yang berkata kepada Zaid bin Haritsah. Jika memang Muhammad seorang Nabi, kata para pemuka yahudi, kau takkan pernah bisa pulang! kata-kata ini mereka deraskan kepada Zaid. Saat itu Rosulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada sang panglima dan pasukannya: Tidak seperti biasanya, Rasulullah mengangkat tiga komandan pasukan sekaligus dalam satu pasukan sebelum diberangkatkan, Zaid bin Haritsah lah pemimpin kalian. Apabila Zaid bin Haritsah terbunuh, maka yang memegang kepemimpinan pasukan adalah Jafar bin Abi Thalib. Dan bila Jafar terbunuh, maka kepemimpinan beralih ke Abdullah bin Rowahah. Dan bila Abdullah bin Rowahah terbunuh, maka hendaklah kaum muslimin memilih sendiri salah seorang di antara mereka untuk dijadikan pemimpin pasukan, demikian intruksi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada para sahabatnya pada saat pembekalan pasukan. Beliau kemudian menyerahkan panji perang kaum muslimin yang berwarna putih kepada Zaid bin Haritsah. Sesungguhnya dulu, kata orang-ang Yahudi itu, Apabila Nabi-nabi bani Israil menyebut nama seratus orang sebagai panglima, maka dipastikan mereka semua akan gugur. Jadi, jika memang Muhammad seorang Nabi, engkau wahai Zaid pasti mati dalam perang ini! Apa jawab Zaid? Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah merekamnya,
3

Tak sedikit pun keraguan padaku bahwa dia seorang Nabi. Dan kata-katanya benar lagi dibenarkan dari langit tinggi! Tatkala pasukan Islam yang dipimpin Zaid bin Haritsah telah siap untuk berangkat, orang-orang datang mengerumuni mereka,memanggil para komandan pasukan yang di tunjuk Rosulullah shallallahu alaihi wasallam dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Pada saat itu, salah seorang dari ketiga komandan pasukan, Abdullah bin Ruwahah. Mengapa engkau menangis? Tanya mereka. Abdullah bin Ruwahah menjawab,Demi Allah,aku menangis bukan karena cinta dunia dan rindu kepada kalian, tetapi aku pernah mendengar Rosulullah shallallahu alaihi wasallam membaca ayat dari sebuah kitab Allah, yang di dalamnya disebutkan neraka, Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam: 71) Aku tidak tahu apa yang teradi pada diriku setelah aku meninggal nanti. Mereka berkata,Allah tentu menyertai kalian dengan keselamatan, melindungi kalian, dan mengembalikan kalian kepada kami dalam kedaan baik dan memperoleh harta rampasan. Kemudian Abdullah bin Ruwahah melantunkan syair: Ku mohon maghfiroh kepada Ar-Rahman Disamping tebasan pedang yang menepis kotoran Atau hunjaman tanganku yang kuat perkasa Dengan tombak yang mengeluarkan isi dada Biarlah orang berkata saat melewati kuburku Allah telah memberikan petunjuk kepadaku Kemudian 3000 pasukan itu pun berangkat dan masyarakat Madinah turut hadir melepaskan kepergian para panglima Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memberi salam kepada mereka. Beliau turut mengantar keberangkatan pasukan ini keluar Madinah hingga sampai ke daerah yang bernama Tsaniyyah al-Wada, disitu beliau berhenti dan mengucapkan selamat jalan kepada para pasukan. B. Pergerakan Militer Islam Dan Persiapan Pihak Musuh
4

Para mujahidin akhirnya bergerak menuju arah utara dengan bertawakal kepada Allah. Misi yang amat berat ini mereka tempuh demi meraih keridhaan Allah dan rasulNya. Mereka terus berjalan dengan matahari terik di siang hari dan bintang-bintang pada malam hari. Hingga akhirnya, pasukan yang dikomandoi Zaid bin Haritsah ini singgah di Maan, sebuah kawasan di negeri Syam, berbatasan dengan Hijaz utara. Di Maan ini lah pasukan Islam mendapat informasi yang membuat bulu kuduk berdiri. Para mata-mata mengabarkan mereka bahwa Kekaisaran Romawi ternyata sudah mengendus pergerakan militer kaum muslimin dan telah menyiapkan bala tentara untuk menyambut kedatangan mereka. Yang membuat suasana menjadi mencekam adalah jumlah pasukan yang telah disiapkan Romawi untuk menghadapi kaum muslimin, tidak tanggung-tanggung sebanyak seratus ribu prajurit lengkap dengan persenjataannya. Ditambah lagi adanya dukungan personil dari beberapa kabilah yang ingin memerangi Islam sebanyak seratus ribu prajurit. Itu berarti total keseluruhan dari lawan yang harus dihadapi umat Islam saat itu berjumlah 200.000 orang. Dua Hari Yang Menegangkan Kebimbangan lalu melanda pasukan Islam dengan segera setelah mereka mendengar informasi yang mengejutkan itu. Tidak pernah terlintas di benak mereka sebelumnya akan menghadapi pasukan musuh dengan jumlah yang amat besar. Mungkinkah pasukan yang hanya berjumlah 3000 orang ini mampu menghadapi pasukan lawan yang berjumlah hingga 200.000 prajurit bersenjata lengkap? Itulah yang menjadi pikiran kaum muslimin saat itu. Mereka bimbang harus berbuat apa, akhirnya pasukan ini tertahan tidak bergerak di Maan sambil terus berpikir, langkah apakah yang harus dijalankan. Selama tinggal di Maan, musyawarah dan tukar pikiran terus terjadi di antara para sahabat dalam mencari solusi permasalan ini. Apakah tetap nekat maju berperang ataukah mundur saja? Bagaimana kalau kita mengirim pesan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menginformasikan kepada beliau jumlah lawan kita. Entah setelah itu beliau mengirimkan bala bantuan tambahan atau memerintahkan kita dengan suatu perintah yang akan kita kerjakan usul salah seorang Shahabat kepada yang lainnya. Namun usulan ini ditolak oleh Abdullah bin Ruwahah, ia malah balik berkata dengan penuh semangat,
5

Wahai Kaum! Demi Allah! Sungguh apa yang kalian benci itulah justru tujuan kalian berperang yaitu mencari mati syahid. Kita tidak memerangi lawan karena jumlah, kekuatan dan banyaknya jumlah mereka! Tidaklah kita memerangi mereka kecuali karena agama ini (Islam) yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka marilah kita berangkat. Kemenangan atas musuh atau mati syahid lah salah satu dari dua kebaikan yang pasti akan kita dapatkan! Mendengar ucapan itu, para sahabat lainnya yang sebelumnya ragu-ragu, kembali membara semangat jihadnya. Akhirnya, usulan inilah yang diamini oleh seluruh pasukan Islam. Para Mujahidin Akhirnya Bergerak Menuju Arah Musuh Setelah dua hari berdiam diri di Maan, pasukan kemudian bergerak menuju arah musuh yang sebelumnya telah lama menunggu kedatangan mereka. Hingga di suatu tempat yang bernama Masyarif, pasukan musuh melihat keberadaan mereka dan mulai bergerak mendekat ke arah pasukan Islam. Kaum muslimin kemudian menarik diri ke arah Mutah lalu membuat kamp di sana sambil menyiapkan diri untuk menghadapi lawan. Quthbah bin Qatadah al Adzri dipercaya memimpin pasukan di sayap kanan sedangkan untuk pasukan sayap kiri kepemimpinannya diserahkan kepada Ubadah bin Malik al Anshori. Sebelum pertempuran pecah, Abu Hurairah yang saat itu turut serta dalam pasukan ini sempat tidak pede ketika melihat kelengkapan persenjataan dan fasilitas yang dimiliki oleh musuh. Mengetahui hal itu, Tsabit bin Arqom lalu menegurnya, Abu Hurairah, ada apa denganmu? Sepertinya engkau sedang memperhatikan jumlah musuh yang banyak ya kata Tsabit bin Arqom. Betul sekali jawab Abu Hurairah Ingatkah engkau pada saat perang Badar? Kita meraih kemenangan saat itu bukan karena disebabkan jumlah pasukan! ujar Tsabit memberi motivasi kepada sahabatnya sebelum pecahnya pertempuran. C. Jalannya Pertempuran Di kawasan bernama Mutah inilah, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Islam yang berjumlah tiga ribu orang melawan dua ratus ribu pasukan musuh yang disokong oleh kekaisaran Romawi untuk mengenyahkan kaum Muslimin. Dunia saat itu
6

menjadi saksi bisu atas salah satu pertempuran terdahsyat dan paling berdarah yang terjadi di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Meskipun jumlah umat Islam saat itu jauh lebih sedikit dari jumlah lawan, namun apabila iman tertancap kokoh di dalam setiap sanubari prajurit, maka hal-hal yang diluar dugaan bisa saja terjadi. Para ksatria Islam maju dengan gagah berani sambil mengarahkan senjatanya kearah musuh. Generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat berperang tanpa takut mati. Hidup atau mati, sama-sama akan menghasilkan kebaikan. Jika gugur di medan perang maka surga Allah lah yang akan diraih, dan apabila hidup, maka kemuliaan lah yang akan diraih. Semangat yang membara ini tidak menyala sia-sia. Pasukan Romawi beserta para sekutu yang sebelumnya menganggap sebelah mata kekuatan kaum muslimin karena jumlahnya yang tidak seberapa dibandingkan dengan jumlah yang mereka miliki, kini harus dibuat terperangah menyaksikan kehebatan tempur yang di miliki tiga ribu pasukan muslim ini. Zaid bin Haritsah yang menjadi komandan pasukan sekaligus pembawa panji perang umat Islam, maju ke arah musuh dengan gagah berani sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Ia bertempur dengan penuh semangat meski luka mulai memenuhi tubuhnya. Akhirnya, setelah berjuang beberapa lamanya, ia roboh dan gugur di medan tempur setelah pasukan musuh berulangkali melancarkan serangan ke arah tubuhnya. Gugurnya sang komandan bukan berarti menjadikan pertempuran selesai saat itu juga. Jafar bin Abi Thalib langsung mengambil alih panji perang dan memimpin pasukan memerangi musuh. Beliau sendiri bertempur dengan hebat hingga membuat lawan yang dihadapinya tercengang melihat kehebatannya. Bahkan ketika beliau merasa kelelahan ditengah mencamuknya pertempuran di antara kedua belah pihak, beliau turun dari kuda yang dikendarainya lalu membunuhnya agar tidak dapat dimanfaatkan oleh musuh apabila tertangkap. Jafar bin Abi Thalib terus bertempur dengan heroik di barisan terdepan musuh sambil membawa panji perang. Hingga akhirnya senjata lawan berhasil mengenai lengan kanannya hingga terputus dari tubuhnya. Namun hal itu tidak membuat beliau menyerah atau berhenti bertempur seketika itu juga. Dengan tangan kirinya, beliau lalu membawa panji perang dan terus bertempur. Tetapi ditengah pertempuran, beliau kembali terkena tebasan senjata musuh dan membuat tangan kirinya terputus hingga akhirnya beliau tidak memiliki tangan lagi untuk membawa senjata
7

ataupun panji perang. Namun apakah beliau menyerah sampai disitu? Jawabannya tentu saja tidak! Beliau lalu mendekap panji tersebut dengan dada dan lengan atasnya lalu bangkit kembali terjun ke medan pertempuran. Hingga akhirnya, seorang tentara Romawi berhasil menebas tubuhnya menjadi dua. Saat itu juga lah beliau akhirnya gugur di medan jihad setelah bertahan cukup lama menahan rasa sakit. Ada yang berkata tentang dirinya,Sesungguhnya seorang prajurit Romawi membabatkan pedang ke tubuhnya, hingga terbelah menjadi dua bagian. Allah menganugerahinya dua sayap di surga. Dengan dua sayap itu dia bisa terbang menurut kehendaknya. Oleh karena itu Jafar bin Abi Thalib dijuluki At-Thayyar (penerbang) atau Dzul Janahain (orang yang memiliki dua sayap). Al-Bukhari meriwayatkan dari Nafi, Ibnu Umar memberitahunya bahwa pada saat itu dia berdiri di samping jasad Jafar yang sudah terbunuh. Kuhitung ada lima puluh luka entah karena sabetan atau hunjaman di tubuhnya. Sementara taka da satu luka pun di bagian punggungnya. Dalam riwayat lain Ibnu Umar berkata,pada pertempuran itu aku juga berada di sana bersama mereka. Kami mencari-cari Jafar bin Abi Thalib,dan akhirnya kami menemukannya berada di antara orang-orang yang gugur. Kami melihat ada tujuh puluh luka lebih di sekujur tubuhnya, entah karena sabetan entah karena hunjaman.Dalam riwayat Al-Umari dari Nafi terdapat tambahan,Dan kami mendapatkan luka-luka itu ada di tubuhnya bagian depan. Pasca gugurnya Jafar bin Abi Thalib, panji perang segera diambil alih oleh Abdullah bin Ruwahah. Beliau kemudian menjabat sebagai komandan pasukan Islam yang berikutnya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau lalu melanjutkan pertempuran hingga akhirnya ikut menyusul kedua orang temannya yang terlebih dahulu gugur di medan jihad. Otomatis dengan gugurnya Zaid, Jafar dan Abdullah, terjadi kekosongan jabatan komandan pasukan Islam. Hal ini tidak boleh didiamkan lama-lama begitu saja, harus segera ada yang mengisi posisi ini. Jika tidak segera diangkat pemimpin yang baru, keadaan akan semakin memburuk. Panji perang kaum muslimin yang lepas dari tangan Abdullah bin Rowahah segera dibawa oleh Tsabit bin Aqrom. Mengetahui pemegang panji sebelumnya yang

tidak lain adalah pemimpin pasukan telah gugur, ia segera berkata kepada temantemannya, Wahai kaum muslimin sekalian! Tentukan salah seorang dari kalian untuk menjadi pemimpin pasukan..!! kata Tsabit. Engkau saja! jawab orang-orang di sekitarnya. Tidak, aku tidak pantas untuk memegangnya.. balas Arqom. Para sahabat kemudian merekomendasi agar komandan pasukan dipegang oleh Khalid bin Walid yang saat itu turut serta dalam pasukan Islam dan akhirnya beliau menerima mandat dari kaum muslimin sebagai pemimpin pasukan lalu memimpin kembali pertempuran. Tatkala panji perang dipegang oleh beliau, ia kembali berperang dengan dahsyatnya. Dalam suatu riwayat beliau mengisahkan, Pada saat pertempuran Mutah, ada Sembilan buah pedang yang patah di tanganku kecuali lempengan (pedang) buatan Yaman. Hal ini mengisyaratkan betapa hebatnya pertempuran saat itu. D. Rasulullah Mengetahui Hasil Pertempuran Pada saat terjadinya bentrok antara Pasukan Islam dengan Romawi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengetahui terlebih dahulu hasil pertempuran sebelum ada orang yang mengabarkannya kepada beliau. Sambil berlinang air mata, beliau menceritakannya kepada para sahabat yang berada di sekitarnya, Zaid memegang panji lalu terbunuh. Kemudian Jafar mengambilnya dan ia pun terbunuh. Lalu Ibnu Rowahah mengambil panji dan ia pun terbunuh juga. Hingga tampil lah salah satu pedang Allah (Khalid bin Walid) mengambil panji, hingga Allah menganugerahkan kemenangan atas mereka. E. Strategi jitu dalam Perang Mutah Strategi Rasulullah dalam Perang Mu'tah 1. Mobilisasi Masif Pasukan Mu'tah berjumlah sekitar 3.000 pasukan. Sebuah pasukan terbesar yang dimiliki kaum muslim setelah perang Ahzab. 2. Mengangkat dan Merekomendasikan Komandan Perang. "Kalau Zaid gugur, Ja'far bin Abi Thalib yang memegang pimpinan. Kalau Ja'far gugur, Abdullah bin Rawahah yang memegang pimpinan." Itulah rekomendasi yang diberikan
9

Rasulullah. Adapun peperangan ini merupakan peperangan pertama bagi Khalid bin Walid setelah beberapa waktu lalu masuk Islam. Dengan sukarela, ia menjadi prajurit bawah komando orang-orang yang telah ditunjuk Rasulullah. 3. Membuat Aturan Perang Rasulullah berpesan kepada para komandan sebelum keberangkatan mereka, seperti yang diriwayatkan dalam sahih Bukhari, "Berperanglah kalian atas nama Allah, di jalan Allah, melawan orang-orang kafir kepada Allah. Jangan berkhianat, jangan mencincang, jangan membunuh anakanak, wanita, orang yang sudah tua renta, orang yang menyendiri di biara Nasrani, jangan menebang pohon kurma dan pohon apa pun, dan jangan merobohkan bangunan. 4. Melepas Keberangkatan Pasukan Strategi perang ini biasa dilakukan oleh para pemimpin untuk memompa semangat pasukan. Beliau mengantarkan mereka sampai di Tsaniatul Wada'. Setelah itu, pasukan berangkat dengan rahmat Allah tanpa ada ketakutan sedikit pun di dalam hati mereka, kecuali takut kepada Allah. Menuju karunia Allah dengan menghadapi pasukan besar musuh. Inilah komitmen terbesar seorang muslim diuji, tidak salah jika Rasulullah mengatakan bahwa, "Puncak dari agama adalah jihad." Hal tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa perjuangan yang kita lakukan pada bangsa Indonesia belum sebanding dengan mereka.

Strategi Para Komandan Pasukan pada Perang Mu'tah 1. Mengetahui Peta Kekuatan Musuh Setelah pasukan muslim tiba di Mu'tah, mereka mendapat informasi bahwa pasukan musuh berjumlah 200.000 pasukan Romawi yang terdiri dari orang-orang Yunani dan orang-orang Arab sekitar Syam. Selain itu, bantuan pasukan dari Heraklius juga didatangkan. Beberapa keterangan menyebutkan bahwa Heraklius-lah yang akan memimpin pasukannya yang terdiri dari 100.000 orang Romawi. Mereka bermarkas di Ma'ab di bilangan Balga'. Selain itu, ditambah lagi dengan 100.000 orang dari Bani Lakhm, Judham, Qain, Bahra', dan Bali. Berdasarkan informasi, pasukan tersebut dipimpin oleh Theodore, saudara Heraklius.
10

2. Membentuk Dewan Musyawarah Militer Berdasarkan timbangan manusiawi, tidak masuk akal kalau 3.000 personel berhadapan dengan 200.000 personel karena sangat tidak sebanding. Setelah tiba di Mu'an, para sahabat dari perwira tinggi militer bermusyawarah mengenai strategi menghadapi musuh. Kebingungan merayap ke dalam hati mereka hingga berjalan dua malam. Akhirnya, ada yang mengusulkan untuk mengirimkan surat kepada Rasulullah supaya beliau mengirimkan bala bantuan personel atau instruksi lain. Namun, Abdullah bin Rawahah tidak setuju dan memberikan motivasi kepada mereka, "Saudara-saudara, demi Allah, apa yang tidak kita sukai dalam keberangkatan kalian justru itu yang kita cari sekarang ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi musuh itu bukan karena jumlah, bukan karena kekuatan, juga bukan karena banyaknya personel. Tetapi, kita memerangi mereka hanyalah karena agama ini, yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Oleh karena itu, marilah kita maju. Kita akan memperoleh satu dari dua pahala yaitu menang atau mati syahid. Akhirnya, gelora jihad mereka terbakar dan mengambil keputusan sesuai dengan pendapat Abdullah bin Rawahah. 3. Membagi Pos Komando Pasukan muslim bermarkas di Mutah dan bersiap menghadapi pasukan musuh. Sayap kanan pasukan dipimpin oleh Quthbah bin Qatadah Al-Adzari, sedangkan sayap kiri dipimpin oleh Ubadah bin Malik AlAnshary. Sementara, komando tertinggi dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. 4. Melaksanakan seimbang. Zaid Estafet bin Kepemimpinan Haritsah berperang Sesuai sambil Instruksi memegang Rasulullah bendera

Kedua pasukan bertemu, lalu terjadilah pertempuran yang hebat dan tidak kepemimpinan, kemudian gugur. Setelah itu, bendera kepemimpinan diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib. Ia juga gugur, kedua tangannya putus, dan di tubuh bagian depan terdapat 90 lebih luka tusukan pedang dan panah. Kemudian, bendera kepemimpinan diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Ia juga syahid di jalan-Nya. 5. Majunya Khalid bin Walid dan Strateginya Setelah itu, salah satu dari pasukan mengambil bendera kepemimpinan dan diberikan kepada Khalid bin Walid. Meskipun sudah menolaknya, seluruh pasukan memilihnya. Kemudian, beliau yang selama ini terkenal dengan kemahirannya dalam berperang, melakukan
11

strategi perangnya. Ia menilik kebutuhan pasukan muslim merupakan suatu siasat yang dapat menakuti pasukan Romawi. Tujuannya adalah menyelamatkan pasukan muslim dari kehancuran dengan menarik mundur. Strateginya di antaranya: Menyusun Kembali Pasukan Muslim Yang pertama kali ia lakukan adalah menyatukan dan menyusun kembali barisan pasukan setelah sempat porak-poranda karena menyaksikan para komandannya jatuh berguguran dan adanya kevakuman komando. Membuat Insiden-insiden Kecil Ia sengaja membuat insiden-insiden kecil untuk mengulur-ulur waktu sampai petang hari karena kesepakatan dunia ketika itu adalah pertempuran tidak boleh dilaksanakan pada malam hari. Kesempatan itulah yang digunakannya sebagai strategi. Kamuflase Pasukan Pada saat itulah, Khalid mengambil kesempatan untuk menyusun siasat perangnya. Anak buah Khalid yang jumlahnya tidak sedikit itu dipencar-pencar sedemikian rupa dalam suatu garis memanjang. Yang dikerahkan untuk maju adalah dari barisan belakang, yang berada di garis depan diubah ke garis belakang, dan sebaliknya. Sementara, sayap kanan dialihkan ke sayap kiri dan sayap kiri dialihkan ke sayap kanan. Bila keesokan paginya pasukan Romawi sudah bangun, mereka merasa ada kesibukan dan hiruk-pikuk yang cukup menggentarkan perasaan. Mereka beranggapan bahwa bala bantuan dari Rasulullah telah didatangkan. Kalau pada hari pertama jumlah 3.000 orang itu telah membuat peranan besar terhadap pasukan Romawi dan jumIah mereka yang terbunuh juga tidak sedikit meskipun tak dapat mereka pastikan konon apa lagi yang dapat mereka lakukan dengan bala bantuan yang baru didatangkan itu dan tidak ada orang yang mengetahui berapa besarnya efek dari strategi itu ialah pihak Romawi menjauhkan diri dari serangan Khalid. Mereka senang kalau Khalid tidak sampai menyerang mereka. Namun, sebenarnya, Khalid lebih senang lagi. Ia dapat menarik mundur pasukannya dan kembali ke Madinah, setelah mengalami suat
12

pertempuran yang tidak membawa kemenangan untuk pasukan muslim maupun lawan mereka. Sekalipun telah mengerahkan keberanian yang tinggi, ketangguhan dan kegagahan yang tiada bandingannya, sangat aneh apabila pasukan kecil ini mampu bertahan terus-menerus apalagi sampai memenangkan pertempuran menghadapi pasukan Romawi. Menyadari fakta ini, Khalid bin Walid merasa perlu mengubah strategi perang untuk melepaskan kaum muslimin dari situasi sulit yang mereka hadapi. Awalnya Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukannya bertahan di hadapan pasukan Romawi sepanjang siang hari. Pada hari pertama pertempuran, ia merasakan perlunya melakukan siasat perang yang mampu menyusupkan rasa takut di hati pasukan musuh sehingga mampu menarik mundur pasukan Islam dari medan tempur tanpa diikuti aksi pengejaran dari pasukan lawan. Beliau sadar betul bahwa melepaskan diri dari cengkeraman mereka sangat sulit bila kondisi kaum muslimin berada di medan terbuka dan musuh melakukan pengejaran jika mereka mundur. Karena itu pada hari kedua pertempuran beliau mengubah formasi pasukannya dan mengatur strategi baru. Front pasukan terdepan beliau pindah ke belakang, dan yang belakang beliau tarik ke depan. Pasukan sayap kanan dipindah ke sayap kiri dan pasukan sayap kiri menempati posisi baru yaitu di sayap kanan. Sehingga nampak seolah-olah ada pasukan baru yang terlihat di mata lawan. Ketika kedua belah pasukan berhadapan kembali di medan pertempuran, bala tentara Romawi kaget bukan kepalang melihat perubahan yang ada di pasukan Islam. Seolah-olah mereka telah mendapat pasukan tambahan dari Madinah. Rasa takut segera memasuki hati prajurit Romawi yang berhadapan dengan kaum muslimin. Mereka mendapatkan bala bantuan..!! ujar salah seorang dari mereka kepada temannya. Kedua belah pihak ini kembali terlibat bentrok lagi. Tetapi pada momen kali ini, pasukan Romawi berperang dengan rasa gentar menghadapi kaum muslimin. Setelah beberapa saat terjadi gesekan-gesekan, Khalid bin Walid sang komandan pasukan Islam mulai memainkan strategi keduanya. Secara bertahap sedikit demi sedikit beliau mulai menarik mundur pasukannya dari arena pertempuran sambil terus menjaga formasi tempur anak buahnya. Sesuai perkiraan, pasukan Romawi tidak melakukan aksi
13

pengejaran karena beranggapan bahwa kaum muslimin ingin melakukan siasat tipu daya terhadap bala tentara Romawi dengan berusaha menjalankan siasat tertentu untuk menggiring mereka masuk lebih dalam lagi ke padang pasir. Demikianlah, akhirnya pasukan musuh kembali ke negerinya tanpa berpikir akan melakukan pengejaran terhadap kaum muslimin. Sementara Khalid bin Walid beserta para sahabat berhasil mundur dengan selamat hingga kembali ke Madinah. F. Dampak Perang Mutah Perang Mutah memang berakhir seri. Namun dampak yang ditimbulkannya sungguh luar biasa bagi perkembangan dakwah Islam dan reputasi kaum muslimin di mata dunia. Berikut adalah kutipan pernyataan Syeikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri di bukunya yang berjudul ar rachiqul al makhtum: Walaupun dalam pertempuran ini kaum muslimin belum mampu melakukan pembalasan, namun pertempuran ini memiliki dampak yang besar bagi reputasi kaum muslimin, di mana seluruh bangsa Arab tercengang dan heran karenanya. Pasukan Romawi merupakan negara super power di muka bumi pada saat itu. Bangsa Arab mengira bahwa pertempuran yang dilakukan kaum muslimin itu sama saja dengan aksi bunuh diri dan mencari mati. Pertemuan pasukan kecil yang berkekuatan 3000 personil melawan pasukan besar yang berkekuatan 200.000 personil, lalu kepulangan mereka dari pertempuran tersebut tanpa mendapat kerugian yang berarti merupakan keajaiban. Ini menegaskan betapa kaum muslimin adalah manusia yang memiliki tipikal sendiri, tidak seperti yang sudah biasa dan diketahui bangsa Arab saat ini. Yaitu bahwa mereka dibantu dan ditolong oleh Allah dan bahwa pemimpin mereka (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam) adalah benar-benar utusan Allah. Karena itu setelah peperangan ini, kita melihat kabilah-kabilah Arab yang selama ini menjadi musuh bebuyutan dan selalu mengadakan pemberontakan terhadap kaum muslimin menjadi bersimpati terhadap Islam. Sehingga kabilah-kabilah; Bani Sulaim, Asyja, Ghathafan, Dzubyan, Fuzarah dan lainnya menyatakan masuk Islam. Perang Mutah ini merupakan permulaan pertemuan berdarah dengan bangsa Romawi dan mukaddimah serta persiapan bagi ekspansi penaklukan terhadap negerinegeri Romawi dan pembebasan oleh kaum muslimin terhadap bumi yang amat jauh tersebut.

14

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Perang Mutah merupakan paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000 orang. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Romawi dan kaum Muslimin sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mutah sehingga disebut perang Mutah (sekitar Yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M. Berkat pertolongan dari Allah dan kepiawaan Khalid bin Walid dalam mengatur strategi perang salah satu komandan perang andalan umat muslim
15

saat itu, pertempuran berakhir seri. Dengan meninggalkan korban nyawa yang tidak sedikit di pihak romawi. B. Saran Sebagai mahasiswa seharusnya mengerti dan memahami bagaimana perang Mutah tersebut. mulai dari latar belakang terjadinya, kronologi, dampak dan hikmah yang terkandung dalam hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

A. Fillah, Salim. 2009. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta : Pro-U Media. Al-Mubarakfuri, Syaik Syafiyyurrahman. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Al Kautsar. Rusan, H. 1981. Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah SAW. Semarang : Wicaksana.

16

17