Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Keperawatan Keluarga merupakan bidang kekhususan spesialisasi yang terdiri dari keterampilan berbagai bidang keparawatan. Praktik keperawatan keluarga didefinisikan sebagai pemberian perawatan yang menggunakan proses keperawatan kepada keluarga dan anggota-anggotanya dalam situasi sehat dan sakit. Penekanan praktik keperawatan keluarga adalah berorientasi kepada kesehatan, bersifat holistik, sistemik dan interaksional, menggunakan kekuatan keluarga. Salah satu aspek terpenting dari perawatan adalah penekanannya pada unit keluarga. Keluarga, bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau resipien keperawatan. Secara empiris, kami menyadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga, mempunyai hubungan yang sangat erat. Kekerasan Dalam Rumah Tangga memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Data yang diperoleh dari Junal perempuan edisi ke 45, menunjukkan bahwa dari tahun 2001 terjadi 258 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tahun 2002 terjadi sebanyak 226 kasus, pada 2003 sebanyak 272 kasus, tahun 2004 terjadi 328 kasus dan pada tahun 2005 terjadi 455 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Jurnal Perempuan edisi 45). Kekerasan Dalam Rumah Tangga menjadi kasus yang tak pernah habis dibahas karena meskipun berbagai instrumen hukum, mulai dari internasional sampai pada tingkat nasional belum mampu menekan angka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang terjadi. Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang paling aktual adalah kekerasan yang terjadi di Pasuruan pada pertengahan tahun 2006 dialami oleh Siti Nur Jazilah yang disiram air keras oleh suaminya dan mengakibatkan wajahnya melepuh. Hal ini dipicu sikap suaminya yang tidak ingin Siti beraktifitas lagi di

luar rumah karena takut Siti kembali menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial) yang merupakan pekerjaan Siti sebelum ia menikah. (Lisa face off, 2005) Berdasarkan data yang diperoleh dari Mitra Perempuan didapati bahwa perkembangan kekerasan perempuan meningkat dari tahun ke tahun, hal ini tampak pada tabelberikut: Tabel 1.1 Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga dari tahun 2001 2005 Tahun 2005 2004 2003 2002 2001 Kasus 455 328 272 226 258 Sumber: Jurnal perempuan no. 45 Dari data di atas dapat diketahui bahwadaritahun ke tahun Kekerasan Dalam Rumah Tangga cenderung meningkat karena kekerasan yang dihadapi perempuan juga meningkat. Sedangkan dari sumber yang sama disapati bahwa jenis kekerasan yang paling sering dihadapi adalah kekerasan secara psikis (45,83%). Dari semua data yang ada dapat ditarik sebuah kesimpulan yaitu kekerasan yang dihadapi perempuan dari tahun ke tahun meningkat dan jenis kekerasan psikis adalah yang paling banyak di derita.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana Unit kelurga menjadi unit sentral dalam kesehatan ? 2. Apa yang dimaksud dengan keluarga ? 3. Apa pengertian dari trend issue dalam keperawatan keluarga ? 4. Bagaimana konsep dalam kekerasan dalam rumah tangga ?

5. Apa saja jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT Tahun 2004 ? 6. Apa tujuan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menurut UU KDRT tahun 2004 ? 7. Bagaimana siklus KDRT ? 8. Apa saja faktor resiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga ? 9. Bagaimana penangganan kasus kekerasan dalam rumah tangga ? 10.Apa sajakah kendala penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga? 11. Apa sajakah Hak-Hak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga ? 12. Bagaimana Kewajiban Pemerintah Pada Penanganan Kekerasan Dalam Rumah tangga ? 13 Bagaimanakah Peran Perawat Pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga

C. Tujuan
1. 2. Mengetahui faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga; Mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.

D. Manfaat
1. 2. 3. Mahasiswa dapat lebih mengenal permasalahan sosial; Menambah pengetahuan tentang kekerasan dalam rumah tangga; Membuat masyarakat Indonesia lebih bijak dalam menyikapi permasalahan rumah tangga.

BAB II PEMBAHASAN

A. Unit Keluarga menjadi Fokus Sentral dari Perawatan Salah satu aspek terpenting dari perawatan adalah penekanannya pada unit keluarga. Keluarga, bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau resipien keperawatan. Secara empiris, kami menyadari bahwa kesehatan para anggota keluarga dan kualitas kesehatan keluarga, mempunyai hubungan yang sangat erat. Unit dasar ini memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap perkembangan seorang individu yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya kehidupan individu tersebut. Keluarga memiliki pengaruh yang penting sekali terhadap pembentukan identitas seorang individu dan perasaan harga diri. Prioritas tertinggi keluarga biasanya adalah kesejahteraan anggota keluarganya. Minuchin (1977), seorang ahli terapi keluarga ternama, membuat ringkasan dengan begitu indah tentang peran ganda yang dimainkan oleh keluarga: Keluarga merupakan matriks dari perasaan beridentitas dari anggotaanggotanya, merasa memiliki dan berbeda. Tugas utamanya adalah memelihara pertumbuhan psikososial anggota-anggotanya dan kesejahteraan selama hidupnya secara umum. Keluarga juga membentuk unit sosial yang paling kecil yang mentransmisikan tuntutan-tuntutan dan nilai-nilai dari suatu masyarakat dan dengan demikian melestarikannya. Keluarga harus beradaptasi dengan kebutuhankebutuhan masyarakat sementara keluarga juga membantu perkembangan dan pertumbuhan anggota sementara itu semua tetap menjaga kontinuitas secara cukup untuk memenuhi fungsinya sebagai kelompok referensi dari individu (Friedman, 1998)

Beberapa alasan mengapa unit keluarga harus menjadi fokus sentral dari perawatan : Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan keluarganya, bahwa peran dari keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi-strategi hingga fase rehabilitasi. Mengkaji/menilai dan memberikan perawatan kesehatan merupakan hal yang penting dalam membantu setiap anggota kelompok untuk mencapai suatu keadaan sehat (wellness) hingga tingkat optimum. Melalui perawatan kesehatan keluarga yang berfokus pada peningkatan perawatan diri (self-care), pendidikan kesehatan dan konseling keluarga serta upaya-upaya yang berarti yang dapat mengurangi risiko yang diciptakan oleh pola hidup dan bahaya dari lingkungan. Tujuannya adalah mengangkat derajat kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang mana secara tidak langsung mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota keluarga. Mengingat keluarga merupakan sistem pendukung yang vital bagi individu-individu, sumber dari kebutuhan-kebutuhan ini perlu dinilai dan disatukan ke dalam perencanaan tindakan bagi individu-individu (Friedman, 1998). Ada empat tingkatan keperawatan keluarga, yaitu: Level 1 : keluarga menjadi latar belakang individu/anggota keluarga dan fokus pelayanan keperawatan di tingkat ini adalah individu yang akan dikaji dan diintervensi. Level 2 : keluarga merupakan penjumlahan dari anggota-anggotanya, masalah kesehatan/keperawatan yang sama dari masing-masing anggota akan diintervensi bersamaan, masing-masing anggota dilihat sebagai unit yang terpisah. Level 3 : fokus pengkajian dan intervensi keperawatan adalah sub-sistem dalam keluarga, anggota-anggota keluarga dipandang sebagai unit yang 5

berinteraksi, fokus intervensi: hubungan ibu dengan anak; hubungan perkawinan; dll. Level 4 : seluruh keluarga dipandang sebagai klien dan menjadi fokus utama dari pengkajian dan perawatan, keluarga menjadi fokus dan individu sebagai latar belakang, keluarga dipandang sebagai interaksional system, fokus intervensi: dinamika internal keluarga; struktur dan fungsi keluarga; hubungan sub-sistem keluarga dengan lingkungan luar. B. Definisi-definisi Keluarga Definisi keluarga sangat bermacam-macam tergantung dari dimensi (sudut pandang) mana seseorang membuat definisi, perbedaan ini dapat terjadi karena dilihat dari dimensi sosial, interaksional, formalitas, tradisional atau yang lainnya. Definisi yang berorientasi pada formalitas atau legalitas Keluarga berkumpulnya dua orang atau lebih dan saling berinteraksi yang ada suatu ikatan perkawinan ataupun adopsi. Definisi keluarga saat ini harus menggambarkan bentuk-bentuk keluarga yang ada sekarang di masyarakat. Burgess dkk. (1963) membuat definisi yang berorientasi pada tradisi dan digunakan sebagai referensi secara luas : Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah dan ikatan adopsi. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah tangga atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah tangga sebagai rumah mereka. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peranperan sosial seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki dan perempuan, saudara dan saudari.

Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri (Friedman, 1998). Whall (1986) dalam analisis konsep tentang keluarga sebagai unit yang perlu dirawat, ia mendefinisikan keluarga sebagai kelompok yang

mengidentifikasikan diri dengan anggotanya yang terdiri dari dua individu atau lebih yang asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi yang berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga. Family Service America (1984) mendefinisikan keluarga dalam suatu cara yang komprehensif, yaitu sebagai dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan keintiman. Dalam menyatukan kedua gagasan sentra dari definisi-definisi

diatas, keluarga menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Hariyanto, 2005). Taylor, 1979 memberikan pengertian secara sederhana keluarga

dipandang sebagai sebuah sistem sosial, The family is comprised of a network of a continually evolving interpersonal unions (structure). It is linked of bonds of closeness, security, identity, support and sharing (bonding), and is demarcated by genetic heritage, legal sanction, and interpersonal alliance (boundaries). The family is perpetuated to fill individual biologic, economic, psychologic and social needs (function). Definisi-definisi tambahan tentang keluarga berikut ini mengkonotasikan tipe-tipe keluarga secara umum yang dikemukakan untuk mempermudah pemahaman terhadap literatur tentang keluarga: Keluarga inti (konjugal) yaitu keluarga yang menikah, sebagai orang tua atau pemberi nafkah. Keluarga inti terdiri dari suami, istri dan anak-anak kandung mereka, anak adopsi atau keduanya

Keluarga orientasi (keluarga asal) yaitu unit keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan. Keluarga besar yaitu keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh darah), yang paling lazim menjadi anggota keluarga orientasi yaitu salah satu teman keluarga inti. Berikut ini termasuk sanak keluarga, kakek/nenek, tante, paman dan sepupu (Hariyanto, 2005).

C. Trend dan Isu Keperawatan Keluarga 1. Definisi Kerawatan gerontik adalah serangkaian kegiatan yang diberi via praktek keperawatan kepada keluarga untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.. Keberhasilan keperawatan di R.S dapat menjadi sia sia jika dilanjutkan oleh keluarga di rumah. Keluarga sebagai titik sentral pelayanan kesehatan. Keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat. Askep yang diberikan berdasarkan pada masalah kesehatan dari setiap anggota keluarga. Agar Pelayanan Kesehatan Yang Diberikan Dapat Diterima Oleh Keluarga harus mengerti dan memahami tipe dan struktur keluarga tahu tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya perlu pemahaman setiap tahap perkembangan dan tugas perkembangan

Tindakan Pengkajian Yang Dilakukan : Tindakan promosi : Jika keluarga belum memenuhi seluruh tugas

perkembangannya. Tindakan prefentif : Agar keluarga mampu mencegah munculnya masalahpada perkembangan berikutnya.

Tugas Perkembangan Keluarga Membina hubungan intim yang memuaskan. Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis. Mendiskusikan rencana memiliki anak / KB. D. Konsep kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut undang-undang kekerasan dalam rumah tangga tahun 2004, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga juga diistilahkan dalam kekerasan domestik. Dengan pengertian domestik ini diharapkan memang konotasinya tidak hanya terjadi dalam hubungan suami istri saja, tetapi juga pada setiap pihak yang ada di dalam keluarga tersebut (masih memiliki hubungan darah) atau bahkan pada seorang pekerja rumah tangga selaku pihak yang turut dilindungi. Kasus kekerasan terhadap pembantu rumah tangga sering kali diselesaikan dengan menggunakan pasal-pasal dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), namun pada praktiknya hal ini menjadi tidak terlihat karena status mereka yang rentan mendapatkan perlakuan kekerasan. Persoalan KDRT merupakan fenomena gunung es yang hanya kelihatan puncaknya sedikit tetapi sebetulnya tidak menunjukkan fakta yang valid. Persoalan KDRT banyak terjadi di keluarga , namun umumnya keluarga korban tidak mempunyai ruang atau informasi yang jelas apakah persoalan keluarga mereka layak untuk dibawa ke pengadilan, karena selama ini masyarakat menganggap bahwa persoalan-persoalan KDRT adalah persoalan yang sifatnya sangat pribadi dan hanya dapat diselesaikan dalam lingkup rumah tangga saja.

Salah satu konsekuensi meningkatnya jumlah korban KDRT sebenarnya sangat berakibat terhadap persoalan rumah tangga mereka sendiri. Jika kasuskasus KDRT pada akhirnya menimbulkan dampak traumatik pada anggota keluarga yang lain dan meningkatkan angka kriminaliktas, maka hal itu akan semakin menguatkan perlunya intervensi negara melalui produk UU agar kelompok korban bisa mendapatkan keadilan dan pelaku ataupun calon pelaku tidak merajalela. Ketidak beranian korban sangat berkaitan erat dengan budaya yang berlaku di Indonesia, yaitu budaya patriarki yang sangat kental dan sering kali melihat bahwa maalah KDRT bisa diselesaikan tanpa harus melalui jalur hukum. Ironisnya pilihan untuk menyelesaikan persoalan KDRT tanpa melaui jalur hukum selalu disampaikan oleh aparat penegak hukum itu sendiri. Padahal aparat penegak hukum sebetulnya sangat mengetahui bahwa persoalan KDRT adalah kejahatan yang harus direspons dengan hukum. Kekerasan dalam rumah tangga memang tidak bisa dilepaskan secara murni sebagai satu bentuk kejahatan tanpa harus disandingkan dengan satu

bentuk hubungan keluarga. Hal ini merupakan hal yang sangat dilematis tetapi juga disadari oleh korban, khususnya oleh korban yang melaporkan. Mereka yang menjadi korban KDRT pada umumnya memang tidak bisa kemudian secara gagah berani mengatakan bahwa dirinya akan melaporkan anggota keluarganya . Hal ini mungkin membutuhkan satu proses konseling yang cukup lama. Undang-Undang KDRT membagi ruang lingkup KDRT menjadi tiga bagian hubungan, yaitu hubungan garis keturunan darah (misalnya anak), hubungan suami istri, hubungan orang yang bekerja di dalam lingkup dalam keluarga tersebut atau tidak punya hubungan sama sekali.Dari beberapa beberapa pengamatan, ditemukan bahwa KDRT dapat terjadi di segala tingkat ekonomi. Kelompok yang rentan menjadi korban KDRT adalah istri, anak, dan pembantu rumah tangga, secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa siapa saja bisa sangat rentan mendapatkan kekerasa asalkan ia berjenis kelamin perempuan, namum tidak menutup kemungkinan suami mendapatkan perlakuan kekerasa dari istrinya. Kekerasan dalam rumah tangga juga mungkin saja dilakukan oleh ibu kandung

10

terhadap anak kandungnya sendiri. Hal ini juga telah diantisipasi dalam UU KDRT, bahwa ruang lingkup KDRT adalah kekerasan domestik, artinya hubungan perkawinan tidak hanya dilihat dari segi hukum negara, tetapi juga dari hukum adat atau agama, oleh karena itu, yang dilindungi tidak hanya istri tetapi juga anak, pasangan hidup dan pembantu rumah tangga.

E. Jenis Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT Tahun 2004 Jenis kekerasan dalam rumah tangga menurut UU KDRT tahun 2004 adalah sebagai berikut : 1. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Memukul dengan menggunakan alat tubuh atau alat bantu dan bisa dideteksi dengan mudah dari hasil visum. 2. Kekerasan Psikis Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang. 3. Kekerasan Ekonomi Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

11

4. Kekerasan Seksual Kekerasan seksual adalah pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu. Dalam KUHP disebut delik kesusilaan, namun di KUHP tidak dikenal kekerasan seksual terhadap istri. Undang-Undang KDRT mengenal kekerasan seksual terhadap istri (marital rape). Hal ini akan terlihat janggal karena kerangka yang dipakai adalah perkawinan sebagai satu bentuk yang melegitimasi apapun bentuk interaksi antara suami dan istri. Sebagai contoh, anggapan yang menyatakan bahwa dalam suatu hubungan suami-istri tidak ada perkosaan, karena seorang istri hukumnya wajib untuk melayani suami, jadi tidak ada yang namanya kekerasan ataupun paksaan. Pembuktian dalam UU KDRT tidak hanya melihat pembuktian dalam kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), oleh karena itu UU KDRT tidak hanya mengatur hukum materielnya saja, tapi juga mengatur hukum acaranya kecuali jika ada hal-hal tertentu yang tidak diatur dalam UU KDRT maka akan menggunakan KUHAP. Undang-Undang KDRT memungkinkan satu alat bukti sebagai

pembuktian yang dirasa cukup. Namun hal ini perlu didiskusikan lebih lanjut karena masih mengundang perdebatan, terutama dari pihak aparat penegak hukum untuk itu perlu segera dicari jalan keluar terhadap masalah pembuktian ini di tengah keterbatasan alat bukti dengan tidak menghilangkan kaidah-kaidah hukum yang ada. Selain itu perlu dipikirkan keselamatan korban (terutama jika korban tinggal satu rumah degan pelaku), mungkin perlu disediakan rumah aman (shelter) kepada korban KDRT sehingga memungkinkan si korban atau saksi untuk sementara waktu tinggal di situ sambil melakukan konseling terus-menerus. Pendirian rumah aman ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ketika kasus tersebut dilaporkan dan kemudian ditindaklanjuti sampai diputus oleh pengadilan bagi korban umumnya akan tetap meninggalkan persoalan-persoalan yang

12

menyangkut psikis yang harus diselesaikan. Selain rumah aman yang didirikan seorang perawat juga perlu membuka unit untuk kelompok perempuan dan anak korban kekerasan berupa Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang berada di tingkatan kepolisian daerah.

F. Tujuan Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT Tahun 2004 Tujuan penghapuasan kekerasan dalam rumah tangga menurut UU KDRT tahun 2004 adalah sebagai berikut : Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmanis dan sejahtera

G. Siklus KDRT Ciciek (1999, hal.29) menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu perilaku yang berulang dan membentuk suatu pola yang khas.Untuk memahami masalah kekerasan dalam rumah tangga, kita harus memahami siklus atau lingkaran kekerasan tersebut. Pemahaman tersebut akan sangat membantu kita untuk mengetahui mengapa perempuan atau istri yang dianiya tetap mencoba bertahan dalam situasi yang buruk. Adapun siklus atau tahap-tahap tersebut sebagai berikut: tahap awal atau tahap munculnya ketegangan, tahap pemukulan akut, dan tahap bulan madu semu. Berikut ini adalah penjabaran tentang siklus kekerasan:

13

Konflik

Bulan madu

Cinta Harapan Teror

Kekerasan

Minta maaf

H. Faktor Resiko Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga Beberapa faktor pencetus terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut : Faktor Masyarakat : 1. Kemiskinan 2. Urbanisasi yang terjadi keenjangan pendapatan di antara penduduk kota. 3. Masyarakat keluarga ketergantungan obat 4. Lingkungan dengan frekuensi dan kriminalitas yang tinggi

Faktor Keluarga 1. Adanya anggota keluarga yang sakit dan membutuhkan bantuan terus-menerus, misalnya anak dengan kelainan mental dan orang lanjut usia (lansia). 2. Kehidupan keluarga yang kacau, tidak saling mencintai dan menghargai serta tidak menghargai peran wanita.

14

3. Kurang adanya keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga 4. Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas. Faktor Individu Di Amerika Serikat, mereka yang mempunyai resiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga ialah sebagai berikut : 1. Wanita yang lajang, bercerai, atau ingin bercerai 2. Berumur 17-28 tahun 3. Ketergantungan obat atau alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat tersebut 4. Sedang hamil 5. Mempunyai partner dengan sifat memiliki dan cemburu berlebihan. I. Penangganan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam kaitan kekerasan dalam rumah tangga, selama ini yang banyak dilakukan di Indonesia adalah upaya pedampingan korban. Hal ini dilakukan oleh organisasi non pemerintah seperti Kayanamitra, Rumah ibu, Rifka anisa dan lainlain. Kegiatan tersebut terutama pada pedampinga korban kekerasan yang dari segi kesehatan masyarakat termasuk pencegahan sekunder khususnya pada pencegahan cacat. Kegiatan lainnya yang dapat dilakukan secara singkat dapat dilihat pada bagan ( Stark Flitcraft, 1998;WHO, 1997:Surjadi dan Handayani, 1999).

15

Bagan Lima tingkat pencegahan masalah kekerasan dalam rumah tangga

Kemitraan Harmonis di Keluarga Individu

Keluarga Lingkungan

Promosi Kesehatan

Perlindungan Khusus

Diagnosa Dini dan Pengobatan Segera

Pencegahan Cacat

Rehabilitasi

Peningkatan kesadaran masyarakat akan kesetaraan gender pada kehidupan keluarga dan masyarakat

Perlindungan kesadaran gender dan bahaya KDRT : Pasangan yang mau menikah Orang tua Anak sekolah Guru Tokoh Agama Masyarakat Dokter Mahasiswa Psikolog Ahli Hukum

Pendampingan : Screening - Psikologis - Medis kelompok - Sosial resiko tinggi - Ekonomi Screening di - Hukum klinik gawat Peningkatan darurat/kebid kepercayaan diri anan korban Umum Krisis center Konsultasi keluarga Klinik kesehatan Jiwa

Rehabilitasi korban anak pelaku

16

Kegiatan yang dilakukan dapat dibedakan atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1. Pencegahan primer, terdiri atas promosi kesehatan dan pencegahan khusus 2. Pencegahan sekunder, terdiri atas diagnosis dini, pengobatan segera, dan pembatasan cacat. 3. Pencegahan tersier, merupakan kegiatan rehabilitasi terhadap korban, anak, dan pelaku J. Kendala Penanganan Kasus Kekerasa dalam Rumah tangga Kendala-kendala dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga adala sebagai berikut : Kendala yang berhubungan dengan budaya atau tradisi yang meliputi : Tradisi pemingikitan (seclusion) Tradisi pengucilan dalm bidang tertentu (Exlusion) Feminisme wanita (rendah hati-modest, taat-submissive). Korban kurang faham bahwa perbuatan pelaku merupakan tindak pidana Tenggang waktu antara kejadian dengan saat pelaporan korban ke polisi cukup lama, sehingga bekas luka atau hasil visum et repertum tidak dapat mendukung Korban merasa pelaku adalah tulang punggung keluarga, sehingga apabila dilaporkan maka tidak akan ada yang membiayai diri dan anak-anaknya. K. Hak-Hak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Hak-hak korban kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut : 1. Hak mendapatkan perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, dan lembaga sosial 2. 3. Hak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan midisnya Hak mendapatkan penanganan secara khusus berkaitan dengan kerasiaan dan privasi korban.

4.

Hak mendapatkan pedampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum.

17

5.

Hak mendapatkan pelayanan bimbingan rohani.

L. Kewajiban Pemerintah Pada Penanganan Kekerasan Dalam Rumah tangga Kewajiban pemerintah pada penanganan kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai berikut : 1. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. 2. Menyelenggarakan komnikasi, informasi, dan edukasi tentang kekerasa dalam rumah tangga. 3. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif gender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang sensitif gender. M. Peran Perawat Pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga Berdasarkan berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia , patut diakuai seorang perawat baik dalam praktik perorangan yang dilaksanakan maupun sebagai perawat yang bekerja di pusat kesehatan masyarakat mempunyai kesempatan dan dituntut untuk memberikan pelayanan yang berkualitas bagi kliennya. Seorang perawat diharapkan mampu menerapkan pendekatan

keperawatan dengan melakukan tindakan pencegahan dan kesehatan masyarakat pada praktik yang dilakukannya terhadap klien dan keluarganya. Untuk itu

perilaku perawat sebagai perawat yang bertanggung jawab dengan mendampingi keluarga agar menjadi keluarga yang sehat merupakan salah satu upaya yang dapat dipandang ikut memberikan kontribusi pada upaya kesehatan bagi keluarga dan masyarakat. Perawat puskesmas yang jumlahnya cukup besar di daerah perkotaan dapat memberikan bantuan yang bermakna bagi kesehatan keluarga dan masyarakat yang dilayaninya dan lebih jauh lagi dapat diharapkan ikut mengatasi masalah kesehatan perkotaan di tingkat keluarga dan perorangan. Selain itu bagi perawat puskesmas prinsip pencegahan dan upaya perumusan masalah,

18

identifikasi faktor resiko dan protektif, serta melakukan intervensi dan perluasan intervensi merupakan siklus kegiatan yang mencakup dan mengisi program kesehatan masyarakat yang dikelolanya. Secara umum peran perawat dalam kasus KDRT di antaranya adalah sebagai berikut : Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesi Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi korban Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. Mengantarkan korban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif (ruang pelayanan khusus). Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada korban dengan pihak kepolisian, dinas sosial, serta lembaga sosial yang dibutuhkan korban. Sosialisasi Undang-Undang KDRT kepada keluarga dan masyarakat.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2001. Rencana Strategis Nasional Making Pregnancy Safer" di Indonesia 2001-2010. Jakarta: Depkes RI. 2. ____. 2008. Peningkatan Pelayanan Obstetri Ginekologi dalam Upaya Mningkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Keluarga. Jakarta: Depkes RI. 3. Program Pembangunan Nasional 2000-2004. Jakarta. 4. World Health Organization. 2002. The Millennium Development Goals for Health: A Review of The Indicators. Jakarta: Depkes RI. 5. Ferry Efendi, Makhfudli, Ferry Efendi, Makhfudli. 2009.

Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Salemba Medika.

20