Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan, kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. B. RUANG LINGKUP PENULISAN Ruang lingkup penulisan makalah ini mencakup konsep dasar nyeri. C. TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk memperluas wawasan tentang ilmu konsep nyeri 2. Meningkatkan pemahaman asuhan dengan nyeri 3. Memenuhi tugas mata kuliah PRAKTIK KLINIK.

D. METODE PENULISAN Dalam mengerjakan makalah ini kelompok menggunakan metode literatur baik melalui buku-buku yang ada di perpustakaan maupun konsul langsung dengan dosen pembimbing. E. SISTEMATIKA PENULISAN Makalah ini diuraikan dalam tiga bab yaitu : Bab pertama Membahas pendahahuluan yang terdiri dari latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab kedua Membahas pengertian, fisiologi, teori pengontrolan nyeri, respom psikologis, respon fisiologis, respon tingkah laku, faktor yang mempengaruhi nyeri, intensitas nyeri Bab ketiga Membahas penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN Konsep Dasar Nyeri

A. Pengertian nyeri Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007). Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan B. Fisiologi nyeri Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.
3

Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu : a. Reseptor A delta Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan b. Serabut C Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi 0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang terdapat pada tulang, pembuluh darah, syaraf, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya komplek, nyeri yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi. Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

C. Teori Pengontrolan nyeri (Gate control theory) Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul, namun teori gerbang kendali nyeri dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007) Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri. Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A
4

dan C melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi impuls melalui mekanisme pertahanan. Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. tehnik distraksi, konseling dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter, 2005).

D. Respon Psikologis respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien. Arti nyeri bagi setiap individu berbeda-beda antara lain : 1) Bahaya atau merusak 2) Komplikasi seperti infeksi
5

3) Penyakit yang berulang 4) Penyakit baru 5) Penyakit yang fatal 6) Peningkatan ketidakmampuan 7) Kehilangan mobilitas 8) Menjadi tua 9) Sembuh 10) Perlu untuk penyembuhan 11) Hukuman untuk berdosa 12) Tantangan 13) Penghargaan terhadap penderitaan orang lain 14) Sesuatu yang harus ditoleransi 15) Bebas dari tanggung jawab yang tidak dikehendaki Pemahaman dan pemberian arti nyeri sangat dipengaruhi tingkat pengetahuan, persepsi, pengalaman masa lalu dan juga faktor sosial budaya.

E. Respon fisiologis terhadap nyeri 1) Stimulasi Simpatik:(nyeri ringan, moderat, dan superficial) a) Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate b) Peningkatan heart rate c) Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP d) Peningkatan nilai gula darah e) Diaphoresis

f) Peningkatan kekuatan otot g) Dilatasi pupil h) Penurunan motilitas GI 2) Stimulus Parasimpatik (nyeri berat dan dalam) a) Muka pucat b) Otot mengeras c) Penurunan HR dan BP d) Nafas cepat dan irreguler e) Nausea dan vomitus f) Kelelahan dan keletihan

F. Respon tingkah laku terhadap nyeri Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup: 1. Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur) 2. Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir) 3. Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, peningkatan gerakan jari & tangan Ketegangan otot,

4. Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri) Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan
7

membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri. Meinhart & McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri: 1) Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima) Fase ini mungkin bukan merupakan fase yg paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting, terutama dalam memberikan informasi pada klien. 2) Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa) Fase ini terjadi ketika klien merasakan nyeri. karena nyeri itu bersifat subyektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleraransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan orang lain. orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya mencegah nyeri, sebelum nyeri datang. Keberadaan enkefalin dan endorfin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorfin berbeda tiap individu, individu dengan endorfin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar. Klien bisa mengungkapkan nyerinya dengan berbagai jalan, mulai dari ekspresi wajah, vokalisasi dan gerakan tubuh. Ekspresi yang ditunjukan klien itulah yang digunakan perawat untuk mengenali pola perilaku yang menunjukkan nyeri. Perawat harus melakukan pengkajian secara teliti apabila klien sedikit mengekspresikan nyerinya, karena belum tentu orang yang tidak mengekspresikan nyeri itu tidak mengalami nyeri. Kasus-kasus seperti itu tentunya membutuhkan bantuan perawat untuk membantu klien mengkomunikasikan nyeri secara efektif. 3) Fase akibat (terjadi ketika nyeri berkurang atau berhenti)

Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala sisa pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

G. Faktor yang mempengaruhi respon nyeri 1) Usia Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. 2) Jenis kelamin Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri). 3) Kultur Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri. 4) Makna nyeri Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya. 5) Perhatian Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya

distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri. 6) Ansietas Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. 7) Pengalaman masa lalu Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri. 8) Pola koping Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri. 9) Support keluarga dan sosial Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan perlindungan.

H. Intensitas Nyeri Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007). Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :

10

1)

skala

intensitas

nyeri

deskritif

2) Skala identitas nyeri numerik

3) Skala analog visual

4) Skala nyeri menurut bourbanis

11

Keterangan : 0 :Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul. Karakteristik paling subyektif pada nyeri adalah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan, sedang atau parah. Namun, makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan. Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari tidak terasa nyeri sampai nyeri yang tidak tertahankan. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif
12

digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992). Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005). Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter, 2005).

13

BAB III PENUTUP


14

A. Kesimpulan

Nyeri adalah perasaan tidak nyaman yang betul-betul subjektif dan hanya orang yang menderitanya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi. Nyeri dapat timbul oleh berbagai stimuli, tapi reaksi terhadap nyeri tidak dapat diukur dengan objektif. Nyeri adalah pengalaman yang dipelajari oleh pengaruh dari situasi hidup masingmasing orang. Nyeri menyertai berbagai bentuk gangguan patofisiologi dan beberapa macam cara terapi. Nyeri merupakan perasaan yang sering ditakuti oleh banyak orang yang akan menjalani bedah. Walaupun banyak penderita kanker tidak pernah mengalaminya, nyeri merupakan hal yang utama dihayati oleh orang. Mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman yang hebat merupakan intervensi keperawatan utama yang memerlukan keterampilan seni dan pengetahuan. Memerlukan konsep yang berhubungan dengan nyeri, pengumpulan data dan terapi yang bermamfaat. Juga memerlukan kepekaan dan empati, salah satu usaha pihak perawat untuk berusaha mencari pengertian apakah yang dialami oleh pasien dan berkomunikasi tentang pengertian dan asuhan bagi perawat memerlukan pendekatan sistematis (proses keperawatan) pada pasien yang menderita nyeri. Terlalu sering bila pasien pria atau wanita menyatakan nyeri diberi obat-obatan tanpa pengkajian yang abash dan evaluasi, dan berakibat kelebihan obatobatan yang sebetulanya intervensi jauh lebih efektif.

15

Pokok penting yang harus selalu diingat adalah apa yang dikatakan pasien tentang nyeri adalah tidak pada pernyataan verbal. Beberapa pasien tidak dapat atau tidak akan melaporkan secara verbal bahwa mereka mengalami nyeri. Karenanya, perawat juga bertanggung jawab terhadap pengamatan perilaku nonverbal yang dapat terjadi bersama dengan nyeri. Di dalam makalah ini kelompok hanya menyampaikan konsep dasar nyeri dan belum termasuk asuhan keperawatannya. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas kelompok ingin memberikan beberapa saran kepada pembaca. Pertama apa yang dicatat dalam makalah ini masih banyak kekurangan yang perlu perbaikan, untuk itu disarankan kepada pembaca untuk lebih banyak mencari sumber-sumber lain yang berhubungan dengan nyeri. Untuk itu kelompok telah mencantumkan banyak referensi yang bisa di baca. Selalin itu kelompok sangat mengharapkan kepada pembaca untuk menerapkan ilmu yang telah di dapat khususnya pelajaran tentang nyeri ini setelah berada di lapangan nantinya. Kepada perpustakaan kelompok sangat mengharapkan adanya tambahan buku-buku yang berhubungan dengan konsep dasar nyeri.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Priharjo, R (1993). Perawatan Nyeri, pemenuhan aktivitas istirahat. Jakarta : EGC hal : 87. 2. Shone, N. (1995). Berhasil Mengatasi Nyeri. Jakarta : Arcan. Hlm : 76-80 3. Ramali. A. (2000). Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah. Jakarta : Djambatan. 4. Syaifuddin. (1997). Anatomi fisiologi untuk siswa perawat. edisi-2. Jakarta : EGC. Hlm : 123-136. 5. Tamsuri, A. (2007). Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Jakarta : EGC. Hlm 1-63 6. Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533.

17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN S


18

DENGAN GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI DI RUANG PENYAKIT DALAM PRIA RSUD SOEDARSO PONTIANAK

A.

PENGKAJIAN Inisial Klien Umur Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan : Tn S : 54 Tahun : Laki-laki : Kelas 1 SD (Tidak Tamat) : Swasta

Status Perkawinan : Kawin Agama Alamat Suku/Bangsa Diagnosa Medis No. Reg Tanggal Masuk Jam Masuk Ruangan : Islam : Desa Gelik Kec. Selakau Utara : Melayu/Indonesia : Hematuri : 784770 : 8 Januari 2013 : 21:37 WIB : Penyakit Dalam Pria (G)

B.

RIWAYAT KEPERAWATAN 1. Riwayat Sebelum Sakit

19

Tidak ada penyakit berat yang diderita. Klien mengatakan hanya demam saja. Klien mengatakan tidak ada alergi. Klien mengatakan pernah merokok dan sekarang sudah berhenti.

2.

Riwayat penyakit sekarang a. Keluhan Utama Klien mengatakan mengeluh nyeri pinggang.

b.

Riwayat Keluhan Utama Klien mengatakan nyeri pinggang dan nyeri pada kandung kemih. Klien mengatakan nyeri pada saat akhir buang air kecil.

c.

Riwayat Kesehatan masa lalu Klien mengatakan tiga tahun yang lalu pernah menderita penyakit yang sama dan masuk ke RSUD Singkawang selama sembilan hari.

d.

Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga klien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit yang seperti dialami klien. Klien mengatakan tidak ada yang menderita penyakit menular.

e.

Riwayat Kesehatan Lingkungan Keluarga klien mengatakan kondisi lingkungan rumah klien bagus dan bersih.

20

C.

GENOGRAM

D.

DATA BIOLOGIS 1. Pola Nutrisi SMRS : Sebelum Sakit frekuensi makan klien sebanyak 3 kali sehari, dengan porsi yang normal. MRS : Setelah masuk rumah sakit klien makan 1 kali sehari.

2.

Pola Minum
21

SMRS : Sebelum akit klien minum 8 gelas standar perhari. MRS : Setelah akit frekuensi minum klien tidak berubah.

3.

Pola Eliminasi BAB SMRS : Sebelum sakit klien mengatakan BABnya lancar MRS : Saat mengalami gangguan eliminasi urine klien mengatakan perut terasa diremas-remas. BAK SMRS : Sebelum sakit klien mempunyai fekuensi urine berkemih 500CC/hari. MRS : Saat sakit klien hanya berkemih 250CC/hari, dan warna urine merah terdapat hematuri dan klien mengatakan nyeri pada saat BAK dan sesudah BAK.

4.

Pola Istirahat dan tidur SMRS : Sebelum sakit klien tidak mengalami kesulitan tidur. MRS : Klien mengatakan sulit untuk memulai tidur dan selalu terjaga pada malam hari. Frekuensi tidur kurang.

5.

Pola Hygiene SMRS : Perawatan diri selalu terjaga. MRS : Perawatan diri agak kurang karena sakit

6.

Pola Aktivitas SMRS : Sebelum sakit klien bisa melakukan aktifitas seperti biasanya, dan rajin bekerja. MRS : Klien tiak bisa bergerak, terganggu kondisinya yang lemah.
22

E.

PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan Umum

Keadaan Umum klien saat dikaji lemah. Kesadaran : E = 3 V = 5 M = 6 TTV : TD= 120/80 mmHg N= 65x/menit RR = 28x/menit S=36.5x/menit GCS = 14

2.

Kepala

Inspeksi : Kepala simetris, rambut berwarna putih dan kusut. Tidak terdapat lesi pada kepala. Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan pada saat dipijit.

3.

Mata

Inspeksi : Kedua mata simetris, penglihatan agak kabur (karena peubahan usia)

4.

Hidung

Inspeksi : Kedua hidung simetris kiri dan kanan, penciuman normal.

5.

Telinga

Inspeksi : Kedua telinga simetris, tidak terdapat lesi, pendengaran baik.


23

6.

Mulut

Inspeksi : Bibir agak kering, gigi klien tidak lengkap.

7.

Leher

Inspeksi : Leher simetris tidak ada tonjolan nodus limfe, tidak terdapat lesi.

8.

Dada

Inspeksi : Bentuk dada simetris kiri dan kanan, pergerakan thorax simetris.

9.

Jantung

Inspeksi : Tidak tampak pembesaran jantung. Palpasi : Tidak ada nyeri pada dada. Perkusi : Pelan Auskultasi : Tidak ada mur mur.

10.

Abdomen

Inspeksi : Abdomen simetris kiri dan kanan. Auskultasi : Terdengar bising 6 x/menit. Palpasi : palpasi 4 kuadran 1 kuadran kanan atas Hepar teraba ujungnya 1 kuadran kiri atas Tidak ada nyeri tekan 1 kuadran kanan bawah Ada nyeri tekan
24

1 kudaran kiri bawah Ada nyeri tekan Perkusi : suara dalness

11.

Integument

Inspeksi : Warna kulit klien kuning langsat.

12.

Ekstermitas Kanan 5555 5555 5555 5555 Kiri

13.

Genetalia Inspeksi : kondisi baik, klien mngatakan saat BAK terasa nyeri.

F.

DATA PSIKOLOGIS 1. Suatu Emosi Klien dapat mengndalikan emosinya dengan baik. 2. Konsep Diri Konsep diri menurun karena sakit. 3. Gaya Komunikasi Menggunakan bahasa verbal. 4. Pola Interaksi Interaksi klien dengan keluarga baik, klien dengan perawat baik.
25

5.

Pola Koping Pertahanan tubuh menurun karena sakit.

G.

DATA SPIRITUAL Klien beragama Islam dan yakin dengan berdoa penyakit yang diderita klien pasti akan sembuh.

H.

DATA PENUNJANG Ureum : 29,2 mg/dl Kreatin : 1,0 mg/dl Gula darah Sewaktu : 160 mg/dl

26

ANALISA DATA

NO 1.

DATA

ETIOLOGI

MASALAH Nyeri

DS : - Klien mengatakan Masuknya


27

mengeluh BAK. -

nyeri

pada

saat mikroorganisme dalam saluran kemih

Klien mengatakan sakit saat duduk

DO : - Klien tampak meringis Inflamasi pada saluran setelah BAK kemih P : Nyeri saat BAK Q : Nyeri seperti ditusuk-tusuk. Merangsang R : Perut kanan dan kiri bawah nyeri palpasi dalam. S : Skala nyeri 6 T : Saat BAK, saat duduk. TTV : TD : 120/80 mmHg N : 65x/menit R : 28x/menit S : 36,50C 2. DS : - Klien mengatakan nafsu Inflamasi makan menurun kemih -Klien mengatakan mengeluh cepat kenyang DO : -Klien tampak lemah -Klien tampak kurus TTV : TD : 120/80 mmHg N : 65 x/menit RR : 28 x/menit S : 36,5 0 C Ketidakseimbangan nutrisi Faktor Psikologis Nafsu makan menurun saluran Ketidakseimbangan nutrisi Nyeri dirasakan serabut

Ansietas

28

3.

DS : -Klien mengatakan susah Inflamasi tidur dan merasa cemas kemih -Klien mengatakan sering terjaga pada malam hari DO : -Klien pucat,lemas tampak

saluran Gangguan tidur

pola

Ansietas

-Kantung mata klien tampak Susah tidur membengkak TTV : TD : 120/80 mmHg N : 65 x/menit RR : 28 x/menit S : 36,5 0 C 4. DS : -Klien mengatakan tidak Inflamasi bisa bergerak, sakit pada kemih pinggangnya -Klien mengatakan tidak bisa Nyeri timbul beraktifitas bergerak DO : -Klien tampak lemah tonus otot 4 -Klien tidak bisa berdiri lama saluran Intoleransi aktifitas Gangguan pola tidur

saat

Pembatasan aktifitas

-Klien berjalan atau mandi dibantu keluarga Imobilitas fisik

Intoleransi aktifitas 5. DS : -Klien sering menanyakan Inflamasi kepada perawat mengenai kemih penyakitnya dan proses terapinya DO : -Klien tampak bingung Kelemahan saluran Kurang pengetahuan

29

-Klien banyak bertanya-tanya Perubahan kesehatan status

Kurang informasi tentang penyakitnya

Kurang pengetahuan

30

DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO. 1.

Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan infeksi pada saluran kemih ditandai dengan : DS : -Klien mengatakan mengeluh nyeri saat BAK -Klien mengatakan sakit saat duduk DO :-Klien tampak meringis saat dan setelah BAK -P : Nyeri Q : Terasa seperti ditusuktusuk R : Perut kanan dan kiri bawah, Palpasi dalam S : 7 (berat) T : Saat BAK -TTV : TD: 120/80 mmHg N : 65 x/menit RR : 28 /menit

Tanggal Masalah Muncul Teratasi

Paraf

31

S : 36,5 0 C 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor psikologis ditandai dengan : DS : -Klien mengatakan nafsu makan menurun -Klien mengatakan mengeluh cepat kenyang DO :-Klien tampak lemah -Klien tampak kurus -TTV : TD : 120/80 mmHg N : 65 x/menit RR : 28 x/menit S : 36,5 0C 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas ditandai dengan : DS :-Klien mengatakan susah tidur dan merasa cemas -Klien mengatakan sering terjaga pada malam hari DO : -Klien pucat,lemas tampak

-Kantung mata klien tampak membengkak -TTV : TD : 120/80 mmHg N : 65 x/menit RR : 28 x/menit

32

S : 36,5 0 C 4. Imobilitas fisik berhubungan dengan Nyeri ditandai dengan : DS : -Klien mengatakan tidak bisa bergerak, sakit pada pinggangnya -Klien mengatakan tidak bisa beraktifitas DO : -Klien tampak lemah -Klien tidak bisa berdiri lama -Klien berjalan atau mandi dibantu keluarga 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi tentang proses penyakit ditandai dengan : DS :-Klien sering menanyakan kepada perawat mengenai penyakitnya dan proses terapinya DO : -Klien tampak bingung -Klien banyak bertanya

33

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO Dx 1 -NOC

NOC dan NGO

NIC dan AMH -NIC Manajement Nyeri -AMH a. Guidance - Kaji intensitas, lokasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri. b. Support - Anjurkan klien
34

Rasionalisasi

Defisit nyeri teratasi -NGO Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam, devisit nyeri teratasi dengan kriteria hasil : Tanda-tanda nyeri berkurang saat berkemih, skala nyeri 4. Saat duduk klien tidak merasa sakit.

Rasa sakit yang hebat menandakan adanya nyeri.

Untuk membantu

Klien tampak tenang.

minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontraindikasi. c. Teaching

klien dalam berkemih.

Teknik distraksi -Ajarkan tehnik distraksi relaksasi, dan adalah teknik untuk mengalihkan rasa sentuhan therapeutik. nyeri. d. Development Environment - Berikan lingkungan yang nyaman. e. Colaboration -Kolaborasikan dengan dokter tentang pemberian obat analgetik. 2. -NOC Ketidak seimbangan nutrisi teratasi. -NGO Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam ketidak seimbangan nutrisi teratasi, dengan kriteria hasil : Klien tampak lebih segar Berat badan klien bertambah. -NIC Manajement Nutrisi. -AMH a. Guidance -Kaji asupan nutrisi dan kalori yang diperlukan klien. b. Support -Anjurkan klien makan sedikit deimi sedikit tapi sering. c. Teaching - Ajarkan klien bagaimana menjaga kebutuhan makanan
35

Lingkngan yang nyaman untuk menghilangkan rasa nyeri.

Analgetik memblok lintasan nyeri

Membantu dalam tindakan keperawatan selanjutnya.

Membantu dalam pemenuhan nutrisi

Supaya kebutuhan nutrisi selalu terjaga

setiap hari. d. Development Environment - Batasi Pengunjung.

dan terpenuhi.

e. Colaboration - Kolaborasi dengan ahli giizi dalam pemenuhan nutrisi klien. 3. -NOC Gangguan pola tidur teratasi -NGO Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam gangguan pola tidur klien teratasi, dengan kriteria hasil : - NIC Defisit Pola Tidur -AMH a. Teaching Mengkaji Penyebab gangguan pola tidur.

Memberikan kenyaman klien dalam makan.

Bisa menentukan nutrisi yang tepat.

- Klien tidak susah tidur dan b. Support tidak merasa cemas - Klien tidur nyenyak pada - Meminimalkan tindakan yang malam hari. membangunkan tidur klien. c. Teaching - Mengajarkan klien tidur secara teratur d. Development Environment - Ciptakan suasana yang nyaman, dan hindarkan suasana
36

Untuk mengidentifikasi intervensi yang tepat Supaya klien tidak terjaga.

Memenuhi kebutuhan Istirahat tidur

Membrikan kondisi situasi yang kondusif.

kebisingan. e. Colaboration - Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian teapi. 4. -NOC Imobilitas fisik teratasi -NGO Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam imobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil : -NIC Manajement Imobilitas Fisik -AMH a. Guidance Mencegah iritasi dan komplikasi. Membantu klien agar istirahat dan tidur.

-Pertahankan body aligment dan posisi - Klien dapat bergerak, sakit yang nyaman pada pinggangnya berkurang, b. Support -Aktifitas klien bisa dilakukan - Anjurkan klien sendiri. melakukan latihan -Tonus otot 5 gerak aktif dan pasif. c. Teaching -Mengajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif maupun pasif. d. Develovment Environment. Cegah Pasien jatuh. f. Colaboration Kolaborasikan dengan ahli fisiotherapi dalam melatih ekstermitas.

Meningkatkan sirkulasi dan mencegah kontraktur.

Supaya klien mengerti dan mau melakukannya.

Mempertahankan keamana klien

Mempercepat proses penyembuhan dan melatih ekstermitas klien.

37

5.

- NOC Pengetahuan Klien akan bertambah. -NGO Setalah dilakukan tindakan keperawatan 2x 24 jam pengetahuan klien akan bertambah, dengan kriteria hasil : - Klien akan mengerti. - Klien tidak bertanya-tanya. - Klien tidak bingung

-NIC Manajement Pengetahuan -AMH a. Guidance -Kaji tingkat pengetahuan klien. b. Support Mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang penyakitnya.

-Berikan informasi tentang penyakit, Meningkatkan program pengobatan, pengetahuan klien dan kemungkinan efek samping. c. Teaching. Ajarkan klien untuk tindak lanjut. d. Development Environmnet - Berikan lingkungan yang kondusif e. Colaboration -Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian terapi. Memudahkan klien dalam berkonsentrasi dan menyimak ilmu yang disampaikan. Untukpengobatan lanjut

38

CATATAN PERKEMBANGAN

NO Tanggal/ Jam

Catatan Keperawatan

Catatan Perkembangan dan Evaluasi

Paraf

39

Senin 14.01.13 10:00

S : Klien mengatakan nyeri pada perut. Melakukan pendekatan pada O : Keeadaan umum lemah, klien dan keluarga kesadaran kompos mentis Respon: Keluarga klien dan klien ramah dan kooperatif TTV : TD:120/70 mmHg N: 65 x/menit RR: 28 x/menit S: 36,50C Terpasang Infus RL.

11:15

Melakukan tindakan TTV TD:120/70 mmHg N: 65 x/menit RR: 28 x/menit S: 36,50C Respon: Klien bersedia untuk diperiksa

A: Masalah Belum teratasi P: intervensi dilanjutkan. - Mengkaji skala nyeri - Observasi TTV -Pelaksaan tindakan ROM

11:30

Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya. Respon: Klien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya.

11:50

Melakukan monitoring terhadap nutrisi yang dibutuhkan klien Respon: Klien memperhatikan dan mau bekerja sama.

13.15 Memberitahu klien untuk istirahat yang cukup Respon : Klien kooperatif dan memenuhi perintah
40

perawat.

Selasa 14.01.13 20.10

S : Klien mengatakan nyeri pada perut. Melakukan pendekatan pada O : Keeadaan umum klien dan keluarga membaik, kesadaran kompos Respon: Keluarga klien dan mentis klien ramah dan kooperatif. Memberikan pertahanan body aligment dan posisi yang nyaman Respon: klien mempertahankan body aligment. Klien sudah tidak bingung lagi TD:120/80 mmHg N: 67x/menit RR: 20 x/menit S: 36,50C

20:25

20:30

Melakukan latihan aktif maupun pasif Respon: klien melakukan latihan aktif dengan berjalan ditempat selama 1 menit

Terpasang Infus RL. A: Masalah Belum teratasi P: intervensi dilanjutkan. - Mengkaji skala nyeri - Observasi TTV -Pelaksaan tindakan ROM

20:40

Membantu Klien untuk mengeliminasi situasi stress sebelum waktu tidur. Respon : Klien bersedia dan melakukannya.

20:55

Memberikan informasi tentang teknik tidur yang benar. Respon : klien mengatakan sudah mengetahui teknik tidur yang benar.

41

21:20

Melakukan tehnik distraksi pada saat klien sebelum tidur. Respon : Klien tampak tenang. Melakukan tindakan TTV TD:120/80 mmHg N: 67x/menit RR: 20 x/menit S: 36,50C Respon: Klien bersedia untuk diperiksa Mengobservasi tingkat nyeri

05:55 Rabu Pagi

06:35 Rabu Pagi

Respon: Nyeri berkurang sedikit. Tingkat nyeri 4 P : Nyeri Q : Sudah agak ringan R : Perut kanan dan kiri bawah, Palpasi dalam S:4 T : Saat BAK dan duduk

07:45 Rabu Pagi 3 Kamis 17.01.13 13:00 Melakukan pendekatan pada klien dan keluarga Respon: Keluarga klien dan
42

Melakukan tindakan ROM Respon: Klien Kooperatif melakukannya. S : Klien mengatakan nyeri pada perut. O : Keeadaan umum membaik, kesadaran kompos

klien ramah dan kooperatif 14:00 Mengkaji Tingkat nyeri klien

mentis Klien sudah tidak bingung lagi

14:10

Respon: Klien mengatakan TD:120/80 mmHg nyerinya sedikit berkurang. N: 67x/menit P : Nyeri Q : Sudah agak ringan RR: 20 x/menit

0 R : Perut kanan dan kiri S: 36,5 C bawah, Palpasi dalam Terpasang Infus RL.

S:4 T : Saat BAK dan duduk 14:30 Menyajikan makananan dalam porsi sedikit gtapi sering.

A: Masalah Belum teratasi P: intervensi dilanjutkan. - Mengkaji skala nyeri - Observasi TTV

Respon : Klien bekerja sama -Pelaksaan tindakan ROM dengan baik. Melakukan tindakan latihan gerak aktif maupun pasif Respon : klien bisa melakukan sendiri 16:10 Pemberian Injeksi Respon: Klien bersedia.

14: 45

17:30

Mengkaji TTV TD:120/80 mmHg N: 67x/menit RR: 20 x/menit S: 36,50C

43

44