Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Isu penguatan mutu pendidikan merupakan salah satu akibat yang ditimbulkan dari isu-isu globalisasi. Sektor Pendidikan Tinggi sebagai stakeholder peningkatan mutu pendidikan di semua jenjang pendidikan, memiliki tanggung jawab terbesar dari sektor-sektor pendidikan di bawahnya. Itu sebabnya, berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia mencanangkan berbagai rencana strategis guna menghadapi segala kemungkinan di masa depan. Salah satu rencana strategis tersebut yaitu dengan memperkuat kompetensi mahasiswanya di berbagai bidang strategis. Di abad 21 ini, bidang teknologi informasi dan komunikasi adalah salah satu bidang strategis karena dapat menjembatani antara penguatan mutu pendidikan dengan kompetensi yang dimiliki subyek pendidikan. Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon sebagai salah satu perguruan tinggi di kabupaten Cirebon memiliki perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, tentunya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan SDM. Peningkatan kemampuan SDM di bidang teknologi informasi dan komunikasi dapat dijadikan prioritas utama sebagai jawaban atas isu penguatan mutu pendidikan tersebut. Sehingga perlu diformulasikan beberapa rencana strategis di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Tak terkecuali di Jurusan Pendidikan IPA Biologi Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon. Jurusan IPA Biologi adalah salah satu Jurusan terbaik di Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon dari setiap segi pengembangan kompetensi. Tak terkecuali pengembangan kompetensi di bidang teknologi. Di dalam misi kelembagaan, secara eksplisit telah diamanatkan rencana strategis tersebut dalam dua poin Misi kelembagaan. Pada poin ke 6 dan 7 disebutkan; (6) membekali lulusan Prodi IPA Biologi dengan kompetensi di bidang teknologi informasi dan komunikasi dan bahasa asing; dan (7) memperkuat sistem manajemen informasi akademik di prodi dengan pengembangan IT. 1

Namun, pada kenyataannya usaha pengembangan untuk menuju arah ini dirasa belum cukup memberikan hasil yang maksimal. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Kiranya perlu diadakan evaluasi terpadu serta perumusan kembali strategi jitu guna memenuhi amanat kedua Misi tersebut. Dalam hal ini, semua mahasiswa dan dosen adalah aktor utama yang harus dilibatkan dalam rencana strategis ini. Permasalahan di atas telah membawa penulis pada satu kesimpulan yang dapat digunakan sebagai acuan utama dalam usaha pemecahan masalah yang sedang dihadapi, bahwa di Jurusan Pendidikan IPA Biologi perlu dilaksanakan pengembangan di bidang TIK dengan bidang garapan pengembangan e-learning. Pada hakikatnya, e-learning merupakan salah satu produk tertinggi dari penerapan TIK dalam dunia pendidikan. E-learning adalah suatu metode belajar mengajar yang menggunakan media jaringan internet yang dilaksanakan didalam kelas virtual. Penerapan e-learning dengan metode blended learning adalah metode terbaik untuk tahap awal pengembangan. Dalam penelitian ini, penulis telah mengantisipasi segala kemungkinan kegagalan pengembangan dan penerapan. Antisipasi ini di dapatkan dari hasil analisis awal, pengembangan e-learning yang sebelumnya sudah dilaksanakan mengalami kegagalan oleh banyak faktor. Terutama faktor humanity. Kiranya faktor kegagaan tersebut harus menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Perlu dibentuk suatu model maupun desain pengembangan e-learning yang lebih segar dan terprogram secara matang. Dalam hal ini penulis menggunakan model pengembangan manajemen yang didesain dengan memanfaatkan partisipasi komunitas guna mewujudkan tujuan utama yaitu penerapan e-learning di Jurusan IPA Biologi. Pada dasarnya, manajemen pembelajaran adalah proses penataan kegiatan belajar mengajar dengan melibatkan semua komponen pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien (Castetter, 1996). Berdasarkan definisi tersebut, manajemen e-learning dapat diartikan sebagai proses penataan pembelajaran online dengan menggunakan TIK dan melibatkan seluruh komponen pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang efektif dan efisien.

Sebagai kata kerja, desain memiliki arti proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru. Sedangkan partisipasi merupakan suatu perilaku yang memberikan pemikiran, perhatian dan kemampuan terhadap sesuatu. Komunitas berasal dari bahasa latin yaitu communitas yang berarti kesamaan, dapat diterjemahkan sebagai kelompok manusia yang berada di suatu lokasi tertentu yang memiliki ikatan emosional. Dari pemahaman tersebut desain partisipasi komunitas dapat diartikan sebagai sebuah proses untuk membuat obyek baru yang dibentuk dari hasil sumbangan berbagai pemikiran dan kemampuan dalam suatu kelompok manusia yang memiliki ikatan emosional. Sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi, dalam proposal ini penulis mengajukan permohonan dukungan dan restu terkait pengembangan manajemen e-learning dari Ketua Jurusan IPA Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dukungan dan restu tersebut diharapkan sebagai bentuk legalitas atas pengembangan ini. Karena dalam proses pengembangan ini secara langsung akan melibatkan semua mahasiswa dan dosen sebagai aktor utama yang diharapkan dapat membentuk komunitas pengembang. Atas dasar hal tersebut, pengembangan ini penulis beri judul Pengembangan Manajemen E-Learning dengan Desain Partisipasi Komunitas di Jurusan Pendidikan IPA Biologi Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon. Diharapkan dengan pengembangan yang didesain dengan partisipasi komunitas, dapat menghasilkan sebuah sistem e-learning handal yang dapat diimplementasikan dalam proses perkuliahan di Jurusan IPA Biologi. Baik dengan metode blended learning maupun metode pembelajaran jarak jauh. Serta menghasilkan suatu pola manajemen e-learning baru guna

meningkatkan mutu pendidikan Jurusan IPA Biologi di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. B. Perumusan Masalah Berpijak dari latar belakang masalah, masalah pokok yang sedang dihadapi dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengembangan manajemen elearning dengan desain partisipasi komunitas guna mewujudkan Misi Jurusan IPA Biologi. Dengan demikian penulis akan mencoba menjelaskan

permasalahan yang dihadapi yang mengarah pada pemecahan masalah pokok yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana spesifikasi e-learning handal yang dapat

diimplementasikan di Jurusan Pendidikan IPA Biologi ? 2. Bagaimana mekanisme pelaksanaan pengembangan manajemen elearning dengan desain partisipasi komunitas sebagai alternatif pemecahan masalah kegagalan penerapan e-learning di Jurusan Pendidikan IPA Biologi ? 3. Bagaimana cara mengimplementasikan e-learning dalam proses perkuliahan di Jurusan IPA Biologi. Dengan rumusan masalah semacam ini, diharapkan masalah pokok yang sedang dihadapi dapat segera dipecahkan. Mengingat pengenalan Teknodik (Teknologi Pendidikan) bagi seluruh mahasiswa dan dosen mendesak untuk segera dilaksanakan. C. Tujuan Pengembangan Tujuan pengembangan ini bertolak dari permasalah yang hendak dipecahkan yaitu sebagai berikut. 1. Merumusakan spesifikasi e-learning handal yang dapat

diimplementasikan di Jurusan Pendidikan IPA Biologi. 2. Melaksanakan pengembangan manajemen e-learning dengan desain partisipasi komunitas sebagai alternatif pemecahan masalah kegagalan penerapan e-learning di Jurusan Pendidikan IPA Biologi. 3. Merumuskan langkah-langkah strategis implementasi e-learning dalam proses perkuliahan di Jurusan IPA Biologi. D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan Spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut. 1. E-learning yang dikelola secara profesional. 2. E-learning yang mengutamakan partisipasi komunitas yaitu antara mahasiswa dan dosen dalam proses pengembangannya. 3. E-learning yang dapat diimplementasikan dalam proses perkuliahan di Jurusan IPA Biologi.

E. Pentingnya Pengembangan Memperhatikan pengembangan sebelumnya yang mengalami sejumlah kegagalan, sekiranya perlu dilakukan pengembangan dengan desain baru. Pengembangan ini dirasa mendesak untuk segera dilaksanakan. Hal ini terkait dengan dua Misi Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang dirasa belum mencapai tujuan yang maksimal. Sehingga, diharapkan hasil akhir dari proses ini semakin meningkatkan mutu pendidikan di Jurusan IPA Biologi. Dengan begitu, kompetensi lulusan di bidang TIK akan semakin terdongkrak. F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi Dasar Asumsi penulis dalam pengembangan ini dilandasi pada asumsi manajemen yang baik akan membentuk sebuah sistem yang handal. Baik manajemen sistem e-learning maupun manajemen komunitasnya. Selain itu, desain pengembangan semacam ini pernah dilakukan oleh Romi Satria Wahono pada tahun 2006 ketika mengembangkan situs e-learning gratis IlmuKomputer.Com (http://ilmukomputer.com) . Sampai saat ini, situs tersebut masih bertahan dan memiliki sejumlah konten yang sering dijadikan rujukan pengembangan di bidang rekayasa perangkat lunak (e-learning). IlmuKomputer.Com adalah situs yang menyediakan materi dan kuliah gratis berbahasa Indonesia mengenai e-learning gratis (http://ilmukomputer.com). 2. Analisis Keterbatasan Pengembangan Produk yang hendak dihasilkan dengan model pengembangan ini, memiliki spesifikasi yang masih sangat luas. Hal ini disebabkan oleh tujuan pengembangan yang memang luas dan dalam sekala besar. Namun, fokus pengembangan ditekankan pada Manajemen e-learning yang dilakukan oleh komunitas. Komponen komunitas terdiri dari mahasiswa dan dosen Jurusan IPA Biologi. Kehandalan produk hasil pengembangan ini (e-learning) sangat ditentukan oleh bagaimana produk tersebut dikelola. Dengan demikian sekiranya perlu dianalisa faktor-faktor yang akan menyebabkan kegagalan pengembangan dan implementasi produk.

Analisa tersebut berpijak dari unsur-unsur yang mendukung efektivitas dan efisiensi manajemen e-learning. Asumsi keterbatasan tersebut adalah jika unsur-unsur di bawah ini tidak berjalan optimal, maka kemungkinan besar pengembangan dan penerapan sistem akan mengalami kegagalan. Unsur-unsur tersebut yaitu sebagai berikut. a. Dukungan kebijakan dari Jajaran pimpinan Jurusan IPA Biologi. b. Pemahaman dosen Jurusan IPA Biologi tentang teknologi elearning. c. Pemahamaman mahasiswa Jurusan IPA Biologi tentang teknologi e-learning. d. Kesiapan dosen Jurusan IPA Biologi dalam hal penyiapan materi kuliah ke dalam sistem e-learning. e. Kesiapan mahasiswa Jurusan IPA Biologi dalam hal menerima materi kuliah melalui e-learning. f. Kesiapan infrastruktur pendukung manajemen e-learning di Jurusan IPA Biologi. g. Sistem pembinaan SDM pendukung manajemen e-learning di Jurusan IPA Biologi. h. Pembiayaan sistem e-learning di Jurusan IPA Biologi. i. Penerapan e-learning yang terdiri dari: jenis pembelajarannya, proses pembelajaran dengan e-learning di dalam dan di luar Kampus. j. Sistem pengendalian dalam proses pembelajaran menggunakan elearning di Jurusan IPA Biologi oleh admin, dosen dan Jajaran Pimpinan perguruan tinggi. k. Dampak proses pembelajaran dengan e-learning terhadap

peningkatan mutu hasil belajar mahasiswa Jurusan IPA Biologi. l. Perumusan indicator keberhasilan proses pengembangan dan penerapan sistem pembelajaran e-learning di Jurusan IPA Biologi.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori dan Penelitian Relevan 1. Penelitian dan Pengembangan Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan. Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalahmasalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuantemuan penelitian untuk memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi. Dalam proses pengembangan ini, tidak dapat terpisah dari penggunaan istilah-istilah teknis. Oleh sebab itu, perlu sekiranya penulis paparkan beberapa istilah penting sebagai berikut (Debrean Helmy Sofiyanto, dkk., tanpa tahun). a. Sistem, ialah interaksi dari elemen-elemen yang saling berkaitan bekerja sama untuk mencapai tujuan. b. Online, adalah terhubung,terkoneksi, aktif dan siap untuk operasi, dapat berkomunikasi dengan atau dikontrol oleh komputer. c. Hosting, biasa disebut sebagai web hosting adalah layanan penyewaan ruang simpan data (space) yang digunakan untuk menyimpan data-data website agar halaman website tersebut bisa diakses dari mana saja. d. Domain, adalah suatu nama berformat huruf abjad (a, b, c, d, e, dan seterusnya) dan angka (1, 2, 3,dan seterusnya) serta simbol (-)untuk menamai alamat url website sebagai pengganti format deretan angka dari alamat IP client server hosting tempat file web diletakkan.

e. Local Area Network (LAN), merupakan suatu jaringan komputer yang saling terhubung dengan menggunakan kabel. Biasanya digunakan hanya pada suatu lokasi yang terbatas. f. Local Host, merupakan suatu tempat penyimpanan (server) local. Server jenis ini dapat dihubungkan dengan client dengan

menggunakan kabel LAN. g. Situs (Website), atau situs juga dapat diartikan sebagai kumpulan halaman yang menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau gerak, data animasi, suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). h. Learning Management System (LMS). LMS merupakan kendaraan utama dalam proses pengajaran dan pembelajaran e-learning. LMS adalah Kumpulan perangkat lunak yang didesain untuk pengaturan pada tingkat individu, ruang kuliah, dan institusi. Karakter utama LMS adalah pengguna yang merupakan pengajar dan peserta didik. i. Administrator, merupakan manusia yang memiliki wewenang penuh terhadap kebutuhan administrasi suatu sistem. 2. Teori Manajemen Pendidikan dan E-Learning Administrasi pendidikan merupakan salah satu bagian dari sistem pendidikan yang mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka mengimplementasikan fungsifungsi manajemen dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh, terdiri dari berbagai kegiatan yang berhubungan dan berkesinambungan. Ada ahli yang mengatakan sama antara administrasi pendidikan dan manajemen pendidikan, tetapi ada yang mengatakan berbeda diantara keduanya. Mohammad Fakry Gaffar dalam Yahya (2003: 34) memberikan gambaran tentang kedudukan administrasi dan manajemen dalam konteks

pendidikan secara umum terdiri dari komponen-komponen yang secara langsung merupakan bagian dari proses pendidikan. Komponen-komponen tersebut antara lain: guru/dosen, karyawan, sumber belajar, sarana-prasarana, kurikulum, biaya, pengawasan, kepemimpinan, sistem evaluasi, orang tua dan manajemen. Adapun gambaran tentang kedudukan manajemen dalam konteks pendidikan secara umum seperti gambar berikut ini.

Dosen

Kedudukan manajemen dalam proses pendidikan Administrasi adalah keseluruhan proses dengan mana sumbersumber manusia dan materiil yang cocok dibuat tersedia dan efektif bagi pencapaian maksud-maksud organisasi secara efisien (Sutisna, 1989: 19). Sedangkan Schermerhorn, Jr., (1997: 4) mendefinisikan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan

pengendalian terhadap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan. Manajemen pendidikan adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama (Engkoswara, 2001: 2).

E-learning singkatan dari electronic learning merupakan istilah populer dalam pembelajaran online berbasis internet dan intranet. Teknologi e-learning ini merupakan sebuah teknologi yang dijembatani oleh teknologi internet, membutuhkan sebuah media untuk dapat menampilkan materi-materi kuliah dan pertanyaan-pertanyaan dan juga membutuhkan fasilitas komunikasi untuk dapat saling bertukar informasi antara mahasiswa dengan dosen. Berbagai pendapat dikemukakan untuk dapat mendefinisikan e-learning secara tepat. Ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar didapatkan pengertian yang utuh tentang wilayah dari e-learning. Istilah yang lain meliputi distance learning, distance education, telelearning, online learning dan e-training. E-learning sendiri adalah salah satu bentuk dari konsep Distance Learning. Bentuk e-learning sendiri cukup luas, sebuah portal yang berisi informasi ilmu pengetahuan sudah dapat dikatakan sebagai situs elearning. E-learning atau Internet enabled learning menggabungkan metode pengajaran dan teknologi sebagai sarana dalam belajar. Elearning adalah proses belajar secara efektif yang dihasilkan dengan cara menggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari dukungan dan layanan dalam belajar (Barbara, S., Wagner P., et al, 2008:4). Selain itu, Seok (2008: 5) menyatakan bahwa e-learning is a new form of pedagogy for learning in the 21st century. E-Teachers are elearning instructional designers, facilitator of interaction, and subject matter exsperts. Fernando Alonso et al (2008: 389) mengatakan bahwa Learning management systems (LMS) or e-learning platforms are dedicated software tools intended to offer a virtual educational and/or online training environment. Secara filosofis, e-learning digambarkan oleh Kamarga (2002: 5354) sebagai berikut: 1) E-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line. 2) E-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat

memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar

10

konvensional, kajian terhadap buku teks, CD ROOM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi 3) E-learning tidak menggantikan model mengajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model tersebut melalui pengayaan konten dan pengembangan teknologi pendidikan. 4) Kapasitas peserta didik amat bervariasi tergantung pada penyampaiannya. Makin baik keselarasan antara konten dan alat penyampaian dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberikan hasil yang lebih baik. Definisi e-learning adalah proses belajar secara efektif yang dihasilkan dengan cara menggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari dukungan dan layanan dalam belajar (Barbara, S., Wagner P., et al, 2008: 397). Thompson, Ganxglass dan Simon (Simamora, 2003: 351) mendefinisikan bahwa e-learning adalah suatu pengalaman belajar yang disampaikan melalui teknologi elektronika. Definisi lain tentang elearning disampaikan oleh Dodd (2002: 286) adalah kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang tersambung pada internet. Clark dan Mayer (2003: 11) mendefinisikan bahwa e-learning as

training delivered on a computer (including CD-ROM, Internet, or Intranet) that is designed to support individual learning or oragnizational performance goals. Selain itu, Rosenberg (2001: 28-29) menjelaskan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet, untuk menyampaikan solusi-solusi yang menambah pengetahuan dan kemampuan berdasarkan tiga kriteia di bawah ini. 1) E-learning is networked, which makes it capable of instant updating, storage/retrieval, distribution and sharing of instruction or information. 2) It is delivered to the end-user via a computer using standard Internet technology.

11

3) It focuses on the broadest view of learning-learning solutions that go beyond the traditional paradigms of training. Berdasarkan semua definisi diatas, maka manajemen e-learning adalah proses penataan pembelajaran online dengan menggunakan ICT dan melibatkan seluruh komponen pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang efektif dan efisien. 3. Komponen-Komponen E-learning Komponen utama sistem e-learning mengacu pada rumusan yang telah dikemukankan oleh Romi (2008) dalam website pribadinya. Dia merumuskan komponen-komponen e-learning dari pemahaman dasarnya yaitu; (1) Infrastruktur e-learning dapat berupa PC, jaringan internet, dan perlengkapan multimedia lainnya, (2) Sistem dan apilkasi e-learning yang mampu mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional dengan menggunakan Learning Management System (LMS) di dalamnya terdapat fitur yang mendukung bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian, sistem ujian online, dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen pembelajaran. (3) Konten dan bahan ajar yang berupa berbagai macam format pemberkasan. 4. Penelitian Relevan a. Model Manajemen E-learning Model memiliki arti sebagai bentuk percontohan dari suatu bentuk. Dalam jurnal penelitiannya, Lantip Diat Prasojo (tanpa tahun) membahas mengenai pengembangan model manajemen e-learning yang dapat diterapkan di perguruan tinggi dimulai dengan melakukan analisis SWOT. Model manajemen e-learning merupakan suatu mekanisme yang dapat memberdayakan unsur-unsur manajemen elearning dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Model manajemen e-learning di perguruan tinggi yang dikembangkan merupakan formulasi model hipotetik manajemen elearning perguruan tinggi yang efektif dan efisien. Formulasi model ini didasarkan pada teori-teori, analisis hasil penelitian dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Formulasi model ini dibangun 12

berdasarkan unsur-unsur yang mendukung efektivitas dan efisiensi manajemen e-learning. Hasil dari formulasi tersebut berupa model konsep manajemen e-learning yang efektif dan efisien di perguruan tinggi dan diharapkan juga bermanfaat untuk perguruan tinggi lain. Model ini diharapkan sebagai suatu solusi terhadap masalahmasalah manajemen e-learning di perguruan tinggi. Penjelasan model manajemen e-learning yang efektif dan efisien di perguruan tinggi tersebut didasarkan pada unsur-unsur yang mendukung efektivitas dan efisiensi manajemen e-learning. Adapun langkah-langkah dalam memperjelas model tersebut adalah pertama, melakukan analisis kebutuhan dan menggunakan metode SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan unsur manajemen elearning sebagaimana tersebut di atas. Kedua, setelah mengetahui kebutuhan, kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan masing-masing unsur kemudian merumuskan strategi-strategi berdasarkan metode SWOT sehingga dengan strategi-strategi tersebut masing-masing unsur manajemen e-learning dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Ketiga, melakukan pengembangan manajemen e-learning dengan menggunakan metode SOAR (Strenght, Opportunity,

Action, Result). Pengembangan didasarkan pada analisis kekuatan, peluang dan tindakan untuk memperoleh hasil yang bermutu. Keempat, melakukan analisis efektivitas dan efisiensi

manajemen e-learning dengan melihat efektivitas dan efisiensi masing-masing unsurnya. Apabila hasil analisis tersebut sudah efektif dan efisien, maka model manajemen e-learning tersebut dapat meningkat mutu hasil belajar mahasiswa. Sebaliknya, jika hasil analisisnyatidak efektif dan tidak efisien, maka dilakukan perbaikan berupa proses ulang (feedback) dari awal sampai ditemukan model manajemen e-learning yang efektif dan efisien.

13

b. Desain Partisipasi Komunitas Dari model hipotetik yang telah dikemukanan oleh Lantip Diat Prasojo di atas, dapat dikolaborasikan dengan model pengembangan e-learning gratis yang telah dilaksanakan oleh Romi Satria Wahono (2003). Dalam papernya, Romi menjelaskan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk membentuk situs e-learning gratis. Model pengembangan yang ia lakukan berdasarkan model manajemen situs dan motivasi komunitas. Pemikiran Romi didukung oleh studi kasus proyek

pengembangan IlmuKomputer.Com (http://ilmukomputer.com), yaitu situs yang menyediakan materi dan kuliah gratis berbahasa Indonesia. Proyek pengembangannya sendiri sebenarnya baru berjalan beberapa bulan sebelum diterbitkannya paper tersebut, namun

perkembangannya telah mencapai hit harian (daily hits) puluhan ribu, dan diakses dari pengguna dengan domain-domain universitas di Indonesia (ITB, UI, UGM, ITS, berbagai STIK, dsb.). IlmuKomputer.Com juga telah di indeks dan direview oleh puluhan search engine dunia maupun Indonesia, dan juga telah diperkenalkan ke komunitas-komunitas teknologi informasi (TI) di Indonesia. Beberapa organisasi dan komunitas TI Indonesia di dalam dan luar negeri telah tertarik untuk menjalin kerjasama, baik teknis maupun strategis. Dan beberapa penerbit buku di Indonesia juga telah setuju untuk menerbitkan dalam bentuk buku beberapa kuliah berseri di IlmuKomputer.Com. Dalam papernya, Romi mencoba mensarikan berbagai

pemikiran dan konsep yang ia dapatkan selama menggarap situs elearning gratis IlmuKomputer.Com. Sebenarnya konsep yang ditawarkan adalah sederhana dan tidak ada yang baru, namun justru kadang-kadang adalah hal yang sering dilupakan dalam pengelolaan. 1. Melakukan Survey, Menyusun Agenda Umum, Rencana ke Depan, dan Mulai Mengelola Situs e-learning Gratis Agenda umum dan grand design ke depan harus disusun terlebih dahulu. Melakukan pendataan dan analisa matang 14

terhadap bidang apa yang akan dikerjakan, siapa pengguna, siapa penulis, dan rencana jangka pendek dan panjang. Lakukan survey terhadap komunitas yang bidangnya akan kita garap, ini bisa dilakukan melalui situs komunitas, mailing list/milis (di yahoogroups.com atau di server lain). Idealnya, seorang pengelola situs e-learning adalah orang yang memiliki kompetensi inti pada bidang tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan sistem kolaborasi dengan pakar pada bidang yang akan digarap. Membuat prototipe dan mulai melakukan pendesainan awal situs. 2. Menyajikan Tema dan Materi Terpadu dan Komprehensif, Materi Dibuat Semenarik Mungkin Mempersiapkan tema materi yang komprehensif, dari pengenalan bidang sampai tingkat lanjut. Persiapkan materi andalan, dimana pengguna tidak bisa mendapatkan dari situs lain (strategi anti kerumunan). Sajikan materi semenarik mungkin, hias materi dengan image yang ringan namun menawan, membuat pengguna betah membaca tulisan dan mengunjungi situs. Tawarkan kepada individu-individu yang kompeten dan aktif berdiskusi dan menulis di komunitas (situs atau milis) tersebut untuk berkontribusi menulis. Tulisan dari figur individu dan tokoh di milis akan membawa side effect dan menarik penulis lain untuk berkontribusi ke situs e-learning kita. Apabila masih sulit mendapatkan tulisan, awali dengan daur ulang tulisan-tulisan menarik yang ada. 3. Mengenalkan Situs Tersebut ke Berbagai Komunitas Yang Berhubungan, Daftarkan ke Search Engine Dunia maupun Indonesia Mendaftarkan diri ke milis komunitas, masuk dan aktif diskusi dengan tema yang ada. Memperkenalkan proyek situs elearning tersebut, dan mengusahakan dia menjadi isu diskusi di dalam milis komunitas. Melakukan gerilya dan ajakan

mengunjungi dan berkontribusi menulis ke individu maupun

15

komunitas secara umum. Dan jangan lupa mengirimkan update materi secara kontinyu. Daftarkan ke search engine dunia (google.com, yahoo.com, altavista.com, dsb) maupun Indonesia (searchindonesia.com, catcha.com, indocenter.co.id, dsb.) untuk menangkap pengguna yang melakukan pencarian dan

penjelajahan lewat search engine tersebut. 4. Melakukan Strategi untuk Mendapatkan Pemasukan Dana Bagaimanapun ini adalah faktor cukup penting untuk e-

menjaga kontinyuitas dan keberlangsungan proyek situs

learning. Dengan pemasukan dana tersebut, dapat memberi reward uang ke penulis dan pengelola. Beberapa cara yang bisa ditempuh dalam mendapatkan pemasukkan dana adalah:

membuka penawaran banner sponsor, melakukan penjajagan ke penerbit buku untuk menerbitkan materi berseri di situs tersebut, atau bahkan kita bisa bergerak lebih jauh training atau kursus di bidang yang kita garap. Keunggulan kompetitif berupa materi dan penulis yang kompeten mungkin modal tersendiri untuk membuka usaha training ini. Untuk jangka panjang, bahkan kita bisa pikirkan bahwa proyek situs eLearning ini untuk menjadi cikal bakal dengan membuka

perusahaan penerbitan buku, grup sertifikasi keahlian, perusahaan training dan konsultan, dsb. 5. Harus Ada Satu atau Dua Orang yang Berkonsentrasi untuk Mengelola, Mengkoordinir dan Mendapatkan Pemasukan Tetap dari Situs eLearning Gratis Kisah sukses perjuangan Paul J Deitel dan Harvey M. Deitel sebagai penulis buku yang sangat produktif dan kemudian mendirikan perusahaan Deitel & Associates, Inc. Situs e-learning tersebut disamping memberi materi pembelajaran kepada

pengguna dan pembaca, diharapkan juga dapat membuka lowongan kerja dan pemasukkan bagi para penulis. Para penulis yang tertarik dan berkonsentrasi untuk produktif menulis bisa

16

diberi kesempatan untuk mengelola penuh situs e-learning gratis tersebut. Full version (versi lengkap) dari tulisan-tulisan berserinya bisa diterbitkan dalam bentuk buku. Dan penulis bisa hidup dari bekerja sebagai penulis atau trainer dari usaha yang dilakukan pada poin nomor 4. 6. Manajemen Yang Baik Terhadap SDM (Penulis, Pengelola) dan Pembaca Melakukan manajemen SDM yang ada, baik itu pengelola, penulis maupun pembaca. Pada saat belum bisa memberi reward uang kepada penulis, beri reward dengan penulisan kolom kepada penulis dan

pengenalan penulis. Beri motivasi terus

pengelola untuk selalu produktif. Menjaga hubungan dengan pembaca dan penguna situs kita bisa dilakukan dengan adanya forum diskusi, milis, buku tamu, dsb. Usahakan pembaca mempunyai keterikatan dengan kita. Apabila dana

memungkinkan, lakukan perlombaan menulis atau program beasiswa kepada mahasiswa/ pelajar tidak produktif menulis di situs e-learning tersebut. Dalam bagian penutup, Romi memberikan suatu motivasi sebagai berikut; Tiada keberhasilan tanpa kerja keras. Disamping mimpi, konsepsi dan gagasan, dituntut juga jiwa pioner, berani berkorban dan kerja keras dalam mengimplementasikan hal-hal diatas. Penulis yakin bahwa perjuangan mengembangkan e-learning gratis akan berefek ganda. Bagi pembaca merupakan wadah gratis dalam belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Bagi penulis dan pengelola bisa sebagai saluran menuangkan ekspresi diri, mampu yang mau

mengembangkan kompetensi inti keilmuan, dan juga sebagai sumber pendapatan baru. Knowledge based community (komunitas berbasis ilmu pengetahuan) tidak hanya tergantung kepada pemerintah (lembaga pusat) tetapi juga kepada tangan-tangan kita, khususnya kepada komunitas TI maupun para calon pendidik untuk memberi solusi terbaik, murah, mudah dan bermanfaat untuk semua orang dari segala lapisan. 17

5. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Pengembangan E-Learning Seperti yang telah disinggung dalam bagian asumsi dan keterbatasan, analisa keterbatasan berpijak dari unsur-unsur efektifitas dan efisisensi manajemen e-learning. Model manajemen ini disandarkan pada model hipotetik yang telah dikemukakan oleh Lantip Diat Prasojo. Untuk lebih jelasnya, sekiranya penulis paparkan lebih rinci tiap-tiap unsur yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. a. Dukungan Kebijakan dari Jajaran Pimpinan Dalam hal ini, penulis hanya fokus pada kebijakan Ketua Jurusan IPA Biologi. Penulis tidak akan melibatkan pimpinan yang lebih tinggi di atasnya. Seperti yang telah ditulis pada bagian awal, pengembangan ini lebih bersifat Pengembangan Internal Akademik di Bidang TIK yaitu lebih melihat ke dalam dua Misi Jurusan IPA Biologi yang telah dipaparkan. Dukungan penuh dari Ketua Jurusan sebagai ujung tombak perkembangan Jurusan, diharapkan mendukung secara penuh penyelenggaraan sistem e-learning dalam bentuk program dan kegiatan yang beragam, kesejahteraan SDM pendukungnya dan pengembangan sistem e-learning. Lebih dari hanya sekedar dukungan, penulis secara jelas akan meminta sejumlah kebijakan baik dalam bidang akademik maupun kebijakan pengembangan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Ketua Jurusan IPA Biologi. b. Pemahaman Dosen Tentang Teknologi E-learning Pemahaman ini meliputi pembelajaran online, internet dan Learning Management System (LMS). Sehingga perlu

diterapkannya beberapa langkah strategis guna menghadapi permasalahan ini. Dalam hal ini penulis akan mengajukan sejumlah usulan yang secara implisit akan dipaparkan di bagian BAB III. c. Pemahamaman Mahasiswa Tentang Teknologi E-learning Pemahaman ini meliputi pembelajaran online, internet dan blended learning maupun distance learning. Pada bagian ini,

18

mahasiswa diasumsikan sebagai subyek utama dalam proses pengembangan ini. d. Kesiapan Dosen dalam Hal Penyiapan Materi Kuliah ke dalam Sistem E-learning Kesiapan ini meliputi kepemilikan fasilitas pribadi (laptop dan sambungan internet) untuk mendukung proses pembelajaran

dengan e-learning dan kemampuan operasional (upload materi, diskusi online, kuis, UTS, UAS, memberikan komentar) dalam memanfaatkan e-learning. Untuk bagian fasilitas, penulis kira sudah dapat dipenuhi. Untuk kemampuan operasional, kembali pada kebijakan Ketua Jurusan untuk mengadakan sejumlah pelatihan peningkatan SDM bidang TIK. e. Kesiapan Mahasiswa dalam hal Hal Penyiapan Materi Kuliah ke dalam Sistem E-learning Kesiapan ini meliputi kepemilikan fasilitas pribadi (laptop dan sewa internet) untuk mendukung proses pembelajaran dengan elearning dan kemampuan operasional (download materi, diskusi online, menjawab kuis, menjawab UTS, menjawab UAS, bertanya online) dalam memanfaatkan e-learning di Jurusan IPA Biologi. Pengembangan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat meminimalisir pengeluaran biaya yang harus dikeluarkan

mahasiswa. Dalam hal ini akan dilaksanakan pula pengembangan e-learning, web base learning/bahan ajar/modul berbasis perangkat mobile. Dengan asumsi, setiap mahasiswa memiliki handphone. Untuk tugas berat ini akan ditangani oleh komunitas yang akan dibentuk. f. Kesiapan Infrastruktur Pendukung Manajemen E-learning Pada dasarnya, proses pengembangan ini dilatar belakangi oleh ketersediaan infrastruktur yang belum digunakan secara maksimal. Infrastruktur terdiri dari: kesiapan hardware: Komputer server (hosting) dan client (komputer mahasiswa dan dosen), jaringan

19

internet, Wifi, Bandwith. Kesiapan software: perangkat lunak sistem dan perangkat lunak aplikasi (LMS dan lain-lain). Kesiapan brainware: analisis sistem, pengelola database, spesialis jaringan, programmer, dan operator. Kesiapan brainware akan ditangani oleh komunitas. g. Sistem Pembinaan SDM Pendukung Manajemen E-learning Bagian ini akan ditangani dengan sistem partisipasi komunitas. Dimana setiap komponen komunitas saling mengisi kekosongan kemampuan pengelolaan e-learning. Tanggung jawab komunitas meliputi: pembinaan dosen, mahasiswa dan pembinaan SDM yang terkait langsung dengan operasional teknis sistem e-learning: administrator, pengelola database, spesialis jaringan, programmer, dan teknisi di Jurusan IPA Biologi. h. Pembiayaan Sistem E-learning Disinilah letak kekuatan sebuah komunitas jika saling bekerjasama mengatasi masalah. Pembiayaan akan dibebankan kepada komunitas. Dalam pengembangan ini, akan didesain sejumlah strategi untuk meminimalisir beban biaya yang harus dikeluarkan dengan cara mengefisiensikan segala sumberdaya yang sudah dimiliki. Pembiayaan Sistem terdiri dari: penyusunan rencana anggaran, pengalokasian dan pendistribusian, realisasi penggunaan,

pertanggungjawaban, serta pelaksanaan pengawasan penggunaan pembiayaan sistem e-learning. i. Pelaksanaan Proses Pembelajaran dengan E-learning Penggunaan E-learning diasumsikan dapat diterapkan di semua mata kuliah. Hal ini terkait dengan penyediaan bahan ajar/ modul mata kuliah sebagai salah satu usaha dosen untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa terhadap sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan. Pelaksanaan proses pembelajaran terdiri dari: jenis

pembelajarannya, proses pembelajaran dengan e-learning di dalam

20

dan di luar Kampus. Selain itu, perlu ditekankan bahwa indikator keberhasilan pengembangan dan penerapan e-learning ada pada pelaksanaan dan komitmen bersama untuk menerapkan e-learning di semua mata kuliah, terutama dengan metode blended learning. j. Sistem Pengendalian Sistem Pengendalian dan adalah jantungnya e-learning kesuksesan proses

pengembangan

penerapan

dalam

perkuliahan. Sistem Pengendalian dilaksanakan oleh admin, komunitas, dosen dan Jajaran Pimpinan Jurusan. Adiministrator dipilih dari orang yang mengetahui secara penuh seluk-beluk sistem e-learning. Baik dari sisi teknis, perawatan sistem, manajemen sistem, keamanan sistem dan kehandalan sistem. Komunitas, dosen, dan pimpinan dapat mengendalikan sistem melalui administrator. Tanggungjawab utamanya adalah dalam pengendalian penerapan dan pelaksanaan. Komunitas (mahasiswa dan dosen) merupakan komponen utama pengendali utama proses perkuliahan dengan sistem e-learning terhadap peningkatan mutu hasil belajar mahasiswa. k. Dampak proses pembelajaran Dampak proses pembelajaran dengan e-learning terhadap peningkatan mutu hasil belajar mahasiswa Jurusan IPA Biologi yang meliputi peningkatan IPK dan percepatan studi, pemahaman materi perkuliahan dan kemampuan ICT Mahasiswa Jurusan IPA Biologi. l. Penentuan Indikator Keberhasilan Pengembangan Manejemen Indikator keberhasilan pengembangan manajemen e-learning penting untuk diketahui. Hal ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pengembangan. Selain itu, dapat digunakan juga untuk meilhat sejauh mana tujuan pengembangan dapat tercapai. Indikator keberhasilan dapat ditentukan dari hasil kinerja poin (a) sampai dengan poin (j) pada unsure-unsur di atas.

21

6. Model Penerapan E-learning Dalam hal ini, penulis hanya fokus pada penggunaan e-learning sebagai sarana penunjang proses perkuliahan di kelas. Model penerapan semacam ini biasa disebut dengan istilah blended learning. Pada tahap awal pengembangan, kiranya model ini yang paling tepat untuk segera diterapkan. Mengingat dalam proses penerapan e-learning perlu dilakukan adaptasi yang terbilang tidak mudah. Secara keseluruhan, penerapan e-learning dalam proses perkuliahan akan mempengaruhi kultur pendidikan yang selama ini sudah lama melekat dalam budaya perkuliahan biasa. Istilah blended learning dipergunakan untuk mendeskripsikan suatu situasi perkuliahan yang menggabungkan beberapa metode penyampaian yang bertujuan untuk memberikan pengalaman yang paling efektif dan efisien (Harriman, 2004; Williams, 2003). Kombinasi yang dimaksud dapat berupa gabungan beberapa macam teknologi pengajaran, misalnya video, CD-ROM, film, atau internet dengan pengajaran tatap muka (face to face) yang dilakukan oleh dosen/pendidik. Dari perspektif course design, jenis pengajaran blended ini dapat berada di antara dosen yang sepenuhnya tatap muka sepenuhnya dan pembelajaran online. Kerres and De Witt (2003) mengemukakan kerangka 3C untuk para pengajar yang hendak merancang blended learning, yang meliputi content (isi materi pembelajaran), communication (komunikasi antara mahasiswa dan dosen serta antarsiswa sendiri). Dan construction (penciptaan kondisi mental pembelajar untuk membantu memetakan posisi mereka dalam lanskap pembelajaran).

B. Kerangka pemikiran Kerangka pemikiran mengacu pada semua penjelasan yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kerangka pemikiran yang ada berbentuk hubungan sebab akibat dari suatu proses. Landasan berpijak pada bagian

22

awal, dilakukan pengembangan dan di bagian akhir tercapainya tujuan atau keadaan yang diinginkan.
Misi ke 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Keadaan Sekarang/ Latar Belakang Masalah Landasan Pengembangan

Pelaksanaan Misi ke 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi belum maksimal

Perlu diterapkannya e-learning

Solusi Pemecahan Masalah

Proses Pemecahan Masalah

Pengembangan e-learning di Jurusan IPA Biologi

Faktor-faktor Penentu Keberhasilan-Kegagalan Implementasi Sistem e-learning

Kebijakan Pimpinan

Pemahaman Dosen dan Mahasiswa Tentang ELearning

Kesiapan Dosen dan Mahasiswa Tentang dalam Hal PenyiapanMenerima Materi

Kesiapan Infrastruktur

Sistem Pembinaan SDM

Pembiayaan Sistem

Pelaksanaan Proses Perkuliahan

Sistem Pengendali

Masalah yang akan ditemui dalam Proses Pengembangan

Dampak Proses Perkuliahan dengan E-learning Indikator keberhasilan PengembanganImplementasi E-learning

Pengembangan Manajemen E-learning dengan Desain Partisipasi Komunitas di Jurusan IPA Biologi

Strategi Jitu Pengembangan

E-learning Handal yang dapat Diterapkan dalam Proses Perkulihan di Jurusan IPA Biologi

Produk

Tercapainya Misi 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Keadaan yang Diinginkan

23

C. Rancangan Model Rancangan model dalam pengembangan ini bertolak dari pengembangan dua model sebelumnya yang telah dipaparkan. Perlu formulasi yang sesuai dengan kebutuhan di Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Hasil formulasi ini akan menghasilkan rancangan model yang terdiri dari 2 macam model pengembangan yaitu; model instruksional dan model konseptual. Model instruksional adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan suatu produk yang diinginkan. Sedangkan model konseptual adalah model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Penulis mengambil langkah tersebut didasarkan pada kebutuhan terhadap ketercapaiannya kondisi yang diinginkan sesuai dengan amanat Misi 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi. Mengingat, sistem e-learning belum pernah diterapkan di Jurusan IPA Biologi. Sehingga perlu dilaksanakan pengembangan yang lebih komprehensif. Model instruksional digunakan sebagai langkah-langkah untuk menghasilkan sistem e-learning yang handal (sisi manajemen). Sedangkan model konseptual digunakan untuk merancang sistem e-learning yang dapat diterapkan di Jurusan IPA Biologi. Kedua model di atas terbilang berat jika harus dilaksanakan oleh hanya satu orang. Disinilah letak peranan partisipasi komunitas dalam proses pengembangan. Karena pada dasarnya, kinerja komunitas adalah saling menguatkan dan saling ketergantungan satu sama lainnya. Kinerja komunitas akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengorganisir komunitas tersebut. Namun, apabila proses manajemen tersebut tidak berjalan dengan baik, kemungkinan besar proses pengembangan pun akan mengalami kegagalan. Secara tidak langsung, Misi 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi sulit untuk dicapai secara maksimal. Disinilah letak kelemahan sebuah sistem. Di bawah ini digambarkan model manajemen e-learning dan produk hasil manajemen tersebut yang dapat diterapkan Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Model tersebut terdiri dari banyak komponen yang saling mempengaruhi.

24

Misi 7 dan 8 Jurusan IPA Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon Pengembangan Manajemen e-learning oleh Komunitas Secara Berkelanjutan

Dukungan dan Kebijakan Ketua Jurusan Identifikasi Infrastruktur Pemahaman-Kesiapan dosen & Mhs.
Pembinaan SDM dalam Komunitas Identifikasi-Pembiayaan oleh Komunitas Blended Learning oleh Dosen-Mahasiswa Pengendalian e-learning oleh Komunitas Dampak Penerapan e-learning

Metode SOAR

Dukungan Kebijakan yang berwawasan Global


Sistem Pengendalian e-learning yang baik oleh Komunitas

Metode SWOT Dan Perumusan Masalah Manajemen e-learning

Optimalisasi Pemahaman dan kesiapan Dosen & Mahasiswa

Standarisasi Infrastruktur e-learning

Proses Perkuliahan elearning yang baik

Manajemen e-learning berlangsung efektif dan efisien

Peningkatan Mutu Pendidikan Mahasiswa

Sistem Pembinaan SDM yang baik dan Berkelanjutan

Dampak Penerapan elearning yang sesuai Misi

Sistem Pembiayaan elearning oleh Komunitas

Model Instruksional; Pengembangan Manajemen E-learning dengan Desain Partisipasi Komunitas 25

PC Laboratorium Atas PC Mahasiswa

Kelas 1

Kelas 2

Kelas -n

PC Laboratorium Bawah

Proyektor PC Mahasiswa PC Dosen -A PC Dosen -B PC Dosen -n

Keterangan: Jaringan LAN Internet

PC Mahasiswa

PC Mahasiswa

Infrastruktur e-learning

Sistem dan Aplikasi elearning

Server (Lokal Host)

JARDIKNAS & KOMUNITAS PEMBELAJAR

Moddle (Online)
Konten e-learning

Mobile Learning

Dosen Mahasiswa

dan Bahan Ajar e-learning

Website Kampus

Blog Mahasiswa

Blog Dosen

Blog Dosen

Blog Mahasiswa

Model Konseptual : Arsitektur Jaringan Komputer dan Penerapan e-learning Model Partisipasi Komunitas di Jurusan IPA Biologi 26

BAB III MEKANISME PENGEMBANGAN

Mekanisme pengembangan berisi tahapan-tahapan spesifik dan sistematik yang harus ditempuh dalam proses pengembangan ini. Dalam hal ini, penulis akan memaparkan secara rinci tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam proses pengembangan. Tahapan-tahapan tersebut merupakan tahapan yang masih fleksibel, dalam artian masih dimungkinkan akan terjadi perubahan. Perubahan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan dalam proses pengembangan ini. Penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat

dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2012). Produk yang akan dihasilkan dari penelitian dan pengembangan ini terdiri dari dua macam bentuk yaitu sistem instruksional (manajemen) dan sistem perangkat lunak (e-learning). Tahapan pengembangan disesuaikan dengan kebutuhan proses

pengembangan sistem e-learning dengan desain partisipasi komunitas di Jurusan IPA Biologi yang mengacu pada model manajemen e-leraning (model instruksional) serta model rancangan sistem e-learning (model konseptual) di Jurusan IPA Biologi. Tahapan pengembangan untuk model manajemen e-learning terdapat pada Tahapan Pendahuluan sedangkan tahapan pengembangan model rancangan sistem e-learning terdapat pada Tahapan Pengembangan Model Konseptual. A. Tahapan Pendahuluan 1. Penentuan Kebijakan Ketua Jurusan Kebijakan Ketua Jurusan berupa Surat Keputusan (SK) yang berkaitan dengan penerapan sistem e-learning di Jurusan IPA Biologi. SK tersebut digunakan sebagai tanda legalitas atas proses pengembangan ini. Wewenang pihak pengembang sepenuhnya di bawah kekuasaan Ketua Jurusan. Pihak pengembang hanya memiliki wewenang dalam proses pengembangan yang akan melibatkan komunitas (mahasiswa dan dosen).

27

Surat Keputusan tersebut akan sangat dibutuhkan, mengingat proses pengembangan ini akan melibatkan semua mahasiswa dan dosen. Dengan SK tersebut, diharapkan mahasiswa dan dosen memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan dan kesuksesan proses pengembangan. Tanggung jawab tersebut diharapkan tercantum secara jelas dalam SK yang akan dibuat. Pembuatan SK diharapkan dibentuk melalui musyawarah dalam komunitas. SK tersebut juga diharapkan memuat tentang peraturan

penggunaan property kampus yang meliputi infrastruktur pendukung sistem manajemen e-learning (kebutuhan server database, jaringan proyektor, jaringan antar ruang kelas-laboratorium-kantor), sistem pengendalian (oleh ketua jurusan, dosen, mahasiswa serta komunitas), kebijakan pembinaan SDM (mahasiswa dan dosen), dan bagaimana metode penerapan e-learning dalam proses perkuliahan (blended learning, PJJ, Jardiknas, komunitas belajar gratis). 2. Pembentukan Organisasi Pembentukan organisasi dengan dasar-dasar keorganisasian

komunitas. Pembentukan organisasi meliputi AD/ART, Visi & Misi organisasi, struktur keorganisasian, pembagian tugas, dan lain sebagainya. Pembentukan organisasi akan digalakan oleh pihak pengembang dalam musyawarah yang akan dilakukan. Komunitas ini bersifat independent. Arti independent di sini yaitu sebuah organisasi yang dapat berdiri sendiri tanpa ketergantungan dengan pihak lain, kecuali kepada pihak Lembaga Jurusan IPA Biologi. Sifat independent ini sangat diperlukan dengan tujuan untuk menghindari intervensi dari banyak pihak yang menginginkan keuntungan-keuntungan tertentu dengan alasan apapun. Kerjasama yang akan berlangsung sebatas kerjasama antar organisasi tanpa ada ikatan ketimpangan kekuasaan. Kerjasama hanya dilandasi oleh kebutuhan kebermanfaatan dari produk yang akan dihasilkan. Adapun infrastruktur yang akan digunakan hanya sebatas

28

penggunaan untuk memaksimalkan fungsi-fungsi peralatan yang dimiliki, tanpa ada kuasa khusus dari pihak komunitas. Adapun tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh komunitas adalah sebagai berikut: (1) Mengadakan pembinaan terhadap dosen demi terbentuknya pemahaman tentang teknologi e-learning, (2) Mengadakan pembinaan terhadap mahasiswa demi terbentuknya pemahaman tentang teknologi e-learning, (3) Dosen termasuk anggota komunitas yang bekewajiban menyiapkan berbagai macam materi, misalnya: modul kuliah, SAP, silabus, jurnal ilmiah, dan lain sebagainya ke dalam sistem elearning (uploading dan pengelolaan) yang akan dibantu oleh

administrator dan komunitas, (4) Mahasiswa termasuk anggota komunitas yang bekewajiban menyelesaikan tugas dari dosen. Tugas tersebut diharapkan ada yang berbentuk tugas-tugas digital. Mahasiswa juga dapat memberikan sumbangan berupa macam-macam produk digital, misalnya; video tutorial, ensiklopedi, jurnal praktikum, dan lain sebagainya ke dalam sistem e-learning (uploading dan pengelolaan) yang akan dibantu oleh administrator dan komunitas, (5) Sistem evaluasi kesuksesan

pengembangan manajemen maupun penerapan sistem dilakukan oleh komunitas berdasarkan indikator-indikator yang nantinya akan dirumuskan bersama. 3. Pembiayaan Sistem E-learning Pembiayaan sistem e-learning berasal dari dana swadaya komunitas baik dalam bentuk sumbangan rutin maupun infaq. Selain itu akan diterapkan pula strategi pendapatan tambahan dari sistem e-learning. Pendapatan tambahan dapat bersumber dari program afiliasi yang sesuai dengan tema sistem e-learning. 4. Studi Pendahuluan Studi pendahuluan terdiri dari; (1) Pengukuran kebutuhan sistem elearning di Jurusan IPA Biologi, (2) Analisis kebutuhan keahlian dalam proses pengembangan, (3) Jajak pendapat (dapat berupa angket) komunitas tentang desain sistem e-learning dan konten yang diinginkan, (4)

29

Pemetaan minat dan keahlian bidang TIK yang dimiliki oleh mahasiswa dan dosen (5) Analisis kebutuhan modal pengembangan.

B. Tahapan Pengembangan Model Konseptual 1. Penamaan Pengembangan Penamaan pengembangan perlu dilakukan. Penamaan

pengembangan meliputi; nama proyek pengembangan, pemilihan domain website dan e-learning, dan sebagainya yang akan dibahas pada tahap selanjutnya. 2. Penentuan Bidang Garapan (Keahlian) Penentuan bidang garapan ditentukan dari hasil analisis komponenkomponen e-learning yang terdiri dari 3 macam yaitu; infrastruktur, sistem dan aplikasi, serta konten dan bahan ajar dan ditambah dengan bidang keorganisasian (humanity). a. Bidang Penanganan Akademik dan Komunitas 1) Pengawasan Sistem Manajemen Akademik, Bertugas

mengawasi proses pengelolaan sistem yang berhubungan dengan manajemen akademik. 2) Pengawasan Sistem Manajemen Komunitas, Bertugas

mengawasi proses pembentukan dan pengelolaan komunitas. 3) Pelaksana Manajemen Akademik, yaitu pihak yang bertugas melaksanakan program-program yang berhubungan dengan pengelolaan sistem akademik. 4) Pelaksana Manajemen Komunitas, yaitu pihak yang bertugas melaksanakan program-program yang berhubungan dengan pengelolaan komunitas. 5) Administrasi Sistem Akademik, yaitu pihak yang bertugas melaksanakan proses administrasi yang berhubungan dengan

sistem akademik yang dimutakhirkan. 6) Administrasi Komunitas, yaitu pihak yang bertugas

melaksanakan proses administrasi komunitas.

30

7) Pengawasan Sistem Perkulihan E-learning, yaitu proses pengawasan penerapan e-learning dalam perkuliahan. 8) Administrasi Sistem E-learning, yaitu segala urusan

administrasi sistem e-learning. 9) Pengawasan Pelaksanaan Pengembangan E-learning, proses pengembangan pengembangan. 10) Pengawasan Pelaksanaan Sub Pengembangan E-learning, dalam pengembangan ini akan dibagi ke dalam banyak sub yang akan dibebankan ke semua komponen komunitas sesuai dengan bidang garapan dan keahliannya. 11) Penanganan dan Pengawasan Pembiayaan, adalah proses penanganan yang dilakukan oleh pihak yang bertugas menangani dan mengawasi pembiayaan sistem e-learning. 12) Pengawasan Kerjasama Komunitas dan HUMAS, adalah proses penanganan yang dilakukan oleh pihak yang bertugas menangani semua bentuk kerjasama dengan pihak lain. b. Bidang Penanganan Infrastruktur E-learning 1) Penanganan Hardware 2) Penanganan Jaringan dan Keamanan Jaringan 3) Penanganan Trouble Shooting 4) Pengawasan Pembangunan Infrastruktur c. Bidang Sistem dan Aplikasi E-learning 1) Pengawasan Sistem Manajemen E-learning (LMS) 2) Penanganan Pembentukan Sistem E-learning (LMS) 3) Penanganan Penggunaan Perangkat Lunak E-learning (LMS) 4) Penanganan Perangkat Lunak Sistem Infrastruktur d. Bidang Konten dan Bahan Ajar E-learning 1) Penanganan Naskah Multimedia 2) Pengadaan Konten dan Bahan Ajar Format Teks 3) Pengadaan Konten dan Bahan Ajar Format Gambar 4) Pengadaan Konten dan Bahan Ajar Format Audio-Video ini perlu diawasi demi kesuksesan

31

5) Pengadaan Konten dan Bahan Ajar Format Presentasi dan Animasi 6) Pengawasan Efektifitas dan Efisiensi Konten dan Bahan Ajar 7) Pengelola Konten dan Bahan Ajar 3. Strategi Pengembangan Jangka Pendek a. Sosialisasi Proses Pengembangan b. Pembentukan Komunitas dan Pembagian Tugas c. Pemilihan Ketua Pelaksana Pengembangan, Ketua Komunitas, Administrator, Pengawas. d. Pembinaan Mahasiswa dan Dosen. e. Melakukan Survey (SWOT dan SOAR), Menyusun Agenda Umum, Rencana ke Depan, dan Mulai Mengelola Situs e-learning. f. Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur. g. Perencanaan dan Pembangunan Sistem dan Aplikasi h. Penentuan Tema dan Materi Terpadu dan Komprehensif, Materi Dibuat Semenarik Mungkin. i. Mengenalkan Situs Tersebut ke Berbagai Komunitas Yang

Berhubungan, Daftarkan ke Search Engine Dunia maupun Indonesia. 4. Penentuan Strategi Pengembangan Jangka Panjang a. Melakukan Strategi untuk Mendapatkan Pemasukan Dana b. Manajemen Yang Baik Terhadap SDM (Penulis, Pengelola) dan Pembaca. c. Evaluasi Model Manajemen dan Sistem E-learning Secara

Berkesinambungan. d. Pembinaan dan Pencarian Bibit-bibit Baru yang Memiliki Kemampuan Mengembangkan Sistem e. Pengawasan Proses Pengembangan Secara Berkelanjutan Sampai Waktu yang tak ditentukan

32

BAB IV PENUTUP

Untuk menjadi seorang entrepreneur harus selalu memiliki Visi dan Misi ke arah masa depan, yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Seorang Entrepreneur adalah manusia yang mampu memulai segalanya dengan cara yang berbeda. Visi dan Misi semacam itu merupakan salah satu visualisasi mimpi yang sewajarnya disikapi dengan tekad bulat. Seorang entrepreneur tak selamanya manusia yang hebat secara akademis, tetapi seorang entrepreneur adalah manusia yang berani berpikir berbeda serta mampu memvisualisasikan mimpinya dalam bentuk yang lebih nyata, yang dapat dipahami oleh manusia di luar dirinya. Proposal pengembangan ini hanya salah satu bentuk visualisasi tentang Visi Masa Depan. Namun, ada satu kekhawatiran besar yang selalu membuat lemah yaitu ketika penulis melihat prospek antusiasme dari orang-orang di sekitar. Komitmen yang Kuat Adalah Modal yang Paling Dibutuhkan dalam Proses Pengembangan Ini

Cirebon, 17 April 2013

Torikul Fauzi

33