Anda di halaman 1dari 11

PEMUNGUTAN KOSAKATA DAERAH : Satu Sisi Pelestarian Kebudayaan Daerah Oleh : I Gede Nurjaya Universitas Pendidikan Ganesha E-mail

: gedenurjaya@gmail.com Abstract Language and culture maintenance are two fields which are mutually related. The means by which they are related to each other is lexical items. Therefore, local lexical items as one of the components of language and the verbal records of culture occupy a strategic function for that purpose. Based on the estimation of the possibility of the future of linguistic phenomena in Indonesia, it seems of necessity to vary the lexical items of Indonesian by adopting local lexical items that represent the important cultural aspects of a particular region. Key words: Language, culture maintenance, local lexical items. 1. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa pengaruh yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Iptek yang nota bene berbau asing ini membawa serta kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya adalah adanya kecenderungan dari orang-orang tertentu yang lebih banyak menggunakan kata-kata asing dalam berbahasa Indonesia. Mereka beranggapan bahwa menggunakan kata-kata asing dalam berbahasa Indonesia terasa lebih intelek dan lebih modern. Memungut kata-kata asing, apalagi yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang tidak ada salahnya. Pemungutan itu membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan berkembang. Pemungutan kosakata tersebut juga akan lebih menunjang kemampuan bahasa Indonesia sebagai alat kebudayaan dan lebih menunjang kemampuan bahasa Indonesia sebagai alat penyampaian gagasan. Hanya saja, pemungutan kosakata itu sebaiknya tidak hanya mengarah kepada pemungutan kosakata asing saja. Jika hanya itu yang dilakukan, akan dikhawatirkan dapat memunculkan anggapan bahwa bahasa Indonesia yang merupakan alat kebudayaan bangsa Indonesia tidak dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Bahasa Indonesia, dengan demikian,

hanya akan menjadi alat ilmu pengetahuan dan teknologi atau menjadi alat bagi kebudayaan-kebudayaan barat saja. Kebudayaan-kebudayaan daerah yang tersebar di wilayah Indonesia tidak akan terwakili secara proporsional dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itulah, kosakata bahasa Indonesia semestinya terdiri juga dari kosakata tentang kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Hal ini perlu mengingat kosakata suatu bahasa pada hakikatnya adalah rekaman verbal kebudayaan dari masyarakat pemakaianya.

2. Bahasa sebagai Tiang Kebudayaan Koentjaraningrat (1983) mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dengan pengertian ini, kebudayaan itu tidak hanya mengacu kepada hal-hal yang indah, seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan, dan fisafat. Kebudayaan dalam hal ini menyangkut 7 unsur yang berkaitan dengan kehidupan manusia, yaitu (1) sistem religi dan keagamaan, (2) sitem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem mata pencaharian, (4) sistem pengetahuan, (5) bahasa, (6) kesenian, dan (7) sistem teknologi dan peralatan. Bahasa yang merupakan salah satu unsur kebudayaan, dalam hal ini, mendapat perhatian yang lebih khusus karena bahasa yang merupakan bagian dari kebudayaan juga merupakan alat kebudayaan. Sebagai alat, bahasa turut serta menentukan keberadaan kebudayaan tersebut. Tanpa bahasa, tampaknya perkembangan, pelestarian, dan pewarisan kebudayaan akan mendapatkan hambatan yang cukup berarti. Kalau diibaratkan sebuah rumah, bahasa adalah sebagai tiang penyangga dari rumah budaya tersebut. Sebagai tiang, ia adalah bagian dari rumah tersebut, namun rumah tanpa tiang tidak akan pernah dapat berdiri kokoh. Perumpamaan ini semakin memantapkan pentingnya bahasa dalam kebudayaan. Bahasa sebagai alat kebudayaan sudah semestinya mampu menjalankan tugasnya sebagai sarana pengembang, pelestari, dan pembinaan kebudayaan.

Sebagai sarana pengembangan kebudayaan, bahasa haruslah mampu menyerap atau merepresentasikan unsur-unsur atau pun nilai-nilai baru yang merupakan hasil dari proses perkembangan budaya ke dalam simbol-simbol kebahasaan, baik verbal maupun tertulis. Dalam keadaan seperti ini, bahasa haruslah mampu menampung konsep-konsep baru dari segala bidang kehidupan, misalnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang pesat. Pemungutan kata disket, televisi, komputer, dan lain-lainnya lagi adalah pemungutan yang sangat wajar dan memang seharusnya dilakukan oleh bahasa Indonesia. Pemungutan itu akan membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan berkembang. Selain itu, pemungutan kata-kata yang bersifat ilmiah dan tenologis seperti ini akan semakin memantapkan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah dan modern. Dengan dipungutnya katakata tersebut, menunjukkan juga bahwa bahasa memang tepat juga disebut sebagai sarana pengembang kebudayaan. Hal itu dikarenakan keberadaan kata dalam bahasa akan sangat berpengaruh terhadap perilaku pemakai bahasa tersebut. Sebagai contoh, dengan dimunculkannya kata reformasi, atau pun KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) pada tahun-tahun belakangan ini, membuat banyak anggota masyarakat yang menjadi sadar akan hal itu sehingga banyak juga yang perilakunya berubah. Budaya sogok-menyogok dalam mencari pekerjaan sebagai PNS sudah mulai disadari sebagai budaya yang salah dan haram. Pergantian menteri dalam mereformasi suatu kabinet juga mulai dirasakan sebagai kewajaran. Contoh ini adalah suatu bukti keberadaan peran bahasa dalam pengembangan budaya. Sebagai alat pembinaan kebudayaan, bahasa memiliki fungsi untuk menyebarluaskan dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap

kebudayaannya. Dalam hal ini, sisi sosial dari bahasa itulah yang lebih ditonjolkan. Hal ini tentu agak berbeda dengan fungsi yang pertama tadi. Pada fungsinya sebagai pengembangan kebudayaan, bahasa lebih banyak menjalankan fungsi ilmiahnya. Masalah yang muncul kemudian adalah bahasa yang bagaimana dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana dalam pembinaan kebudayaan ini? Bagi bahasa Indonesia, masalah ini bukanlah terlalu sulit untuk dipecahkan.

Kemampuan bahasa Indonesia untuk menampung unsur kebudayaan tentulah merupakan jawaban yang tepat untuk masalah ini. Kemampuan bahasa Indonesia untuk menampung unsur-unsur kebudayaan, terutama kebudayaan daerah, juga sangat penting dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah. Sudah disadari bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan berbagai bahasa daerah dan sistem budayanya. Keragaman itu merupakan kekayaan bangsa yang patut dipelihara. Bahasa Indonesia dalam fungsinya sebagai pelestari kebudayaan, tentulah memegang peranan penting untuk merekam puncak-puncak kebudayaan daerah yang menonjol sehingga budaya daerah tidak punah. Salah satu unsur kebahasaan yang dapat membantu pelestarian itu adalah kosakata. Sebagai contoh adalah dalam bahasa Bali. Di Bali kata anggapan (ani-ani) sudah mulai hilang pada kelompok anak-anak muda pada masyarakat tertentu. Kehilangan kata ini tampaknya diikuti juga oleh hilangnya budaya potong padi beserta perangkatnya yang lain, seperti sekahe manyi (kelompok potong padi). Pemungutan kata-kata daerah tampaknya juga akan menunjang proses komunikasi yang lebih mantap dengan menggunakan bahasa Indonesia. Banyak kata-kata daerah, terutama yang berkaitan dengan budaya, belum dapat digantikan dengan kata-kata bahasa Indonesia, sekali pun mungkin saja kata tersebut dapat diterjemahkan secara paksa. Bagi orang Bali, misalnya, kata bungsil, bungkak, kuud, dan nyuh merujuk kepada referen dan fungsi yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia, semua kata itu dapat saja diterjemahkan dengan kelapa beserta embelembelnya, seperti menjadi kelapa muda, tetapi penerjemahan yang demikian belum merujuk secara valid baik dalam hal tingkat kematangannya maupun fungsinya. Masih banyak contoh-contoh lain dari berbagai daerah yang belum ada inventarisnya, tetapi perlu diperhatikan.

3. Kemungkinan Hari Depan Kebahasaan di Indonesia Pewacanaan mengenai perlunya pemungutan kosakata daerah oleh bahasa Indonesia tidak terlepas dari kemungkinan hari depan bahasa Indonesia. Kemungkinan hari depan kebahasaan di Indonesia dan pengaruhnya terhadap

kebudayaan daerah ini didasarkan atas pengamatan terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang demikian pesatnya. Poedjosoedarmo (1978)

mengemukakan tiga kemungkinan perkembangan yang akan terjadi. Ketiga hal itu adalah (1) bahasa Indonesia akan terus berkembang dan akhirnya akan mendesak bahasa-bahasa daerah sampai mati, (2) akan terjadi diglosia mantap, dan (3) akan terjadi semacam integrasi antara bahasa-bahasa daerah dengan bahasa Indonesia.

3.1 Bahasa-bahasa Daerah Mati Melihat perkembangan bahasa Indonesia yang senantiasa menanjak, baik dilihat dari segi inventarisasi unsur-unsurnya, variasinya, fungsinya maupun tuahnya, maka ada alasan yang kuat untuk menduga di waktu-waktu yang akan datang bahasa Indonesia akan menjadi semakin kuat. Ini berarti akan ada kemungkinan mendesak bahasa-bahasa daerah sehingga bahasa daerah akan menjadi semakin lemah. Pernyataan ini tampaknya mendapat dukungan dari Sumarsono (1990) yang menemukan bahwa bahasa Melayu Loloan, salah satu bahasa daerah di wilayah kabupaten Negara, yang cukup kuat mengahadapi gempuran bahasa daerah (bahasa Bali), ternyata menjadi lemah ketika

menghadapi bahasa Indonesia. Keadaan tersebut dapat terjadi karena masyarakat Loloan menganggap bahasa Indonesia tidak mengandung konotasi keagamaan, seperti halnya bahasa Bali. Selain itu, bahasa Indonesia dianggap milik mereka (para pendukung bahasa Melayu Loloan) dalam posisinya sebagai bangsa Indonesia. Pada pihak lain, Steinhauer (1995) tampak pula mendukung pernyataan di atas. Ia mengemukakan bahwa tanpa pembersihan etnis, melainkan akibat perkembangan alamiah saja, seperti urbanisasi, pengawahutanan dan

penghancuran lingkungan lainnya, penyakit AIDS dan genesida budaya oleh televisi, kebanyakan dari 6000 bahasa tersebut (bahasa-bahasa di dunia, red) akan punah dalam abad yang akan datang, jika bukan sebelumnya. Dikhawatirkan, Indonesia tidak akan ketinggalan dalam perkembangan ini. Karena itu saja, bahasa-bahasa daerah di Indonesia patut diperhatikan selama masih ada kemungkinan.

Jika hal seperti ini dibiarkan tanpa ada titik baliknya, pada akhirnya akan ada satu kemungkinan saja yang terjadi, yaitu bahasa Indonesia akan menjadi satu-satunya bahasa yang dipakai oleh masyarakat dan bahasa daerah akan lenyap begitu saja. Pertama-tama, bahasa daerah kecil yang memiliki pendukung sedikit akan mati terlebih dahulu, kemudian bahasa daerah kecil yang sering dipakai sebagai lingua franca, lalu akhirnya bahasa-bahasa daerah besar, semuanya akan terdesak lenyap. Pendesakan ini diawali oleh pengambilan fungsi kebahasaannya, pelemahan daya gunanya, dan kemudian pendesakannya. Kalau ini terjadi, komunikasi di masyarakat akan menjadi efisien. Salah paham antara orang dari daerah yang satu dengan yang lain diperkecil. Komunikasi antara pemerintah dan rakyat pun menjadi lancar. Anak sekolah tak perlu mempelajari dua bahasa. Pengajaran ilmu pengetahuan dapat diperlancar. Kejadian seperti ini, dari sudut pandang bahasa Indonesia memang menguntungkan, tetapi dari sudut kebudayaan, hal ini dikhawatirkan akan berakibat kurang baik. Lenyapnya bahasa daerah dengan cara displacement, terdesak ke luar oleh bahasa Indonesia tentu saja berakibat kurang baik. Penggusuran bahasa daerah akan berakibat tergusurnya kebudayaan daerah. Akibatnya akan memunculkan kekosongan budaya pada masyarakat Indonesia. Hilangnya bahasa dengan demikian berarti hilangnya kebudayaan. Penggantian kebudayaan yang telah mapan dan berakar dengan kebudayaan lain yang baru dan asing dengan cara penggusuran bisa berakibat fatal. Krisis identitas yang cukup serius akan menjadi penyakit yang menghinggapi masyarakat yang bahasanya tergusur itu. Masyarakat yang kehilangan kebudayaannya akan dihinggapi penyakit hampa budaya, akan hilangnya kepercayaan diri, dan akan senantiasa mencari tuntunan orang lain untuk membuat keputusan-keputusan. Contoh hampa budaya ini dapat dilihat pada masyarakat migran serta keturunannya, masyarakat budak belian yang dipaksa bekerja di tengah masyarakat majikan, dan masyarakat jajahan yang kebudayaannya digasak oleh kebudayaan penjajah, atau contoh termodern adalah para pekerja Indonesia yang bekerja sebagai TKI di kapal-kapal pesiar atau di negara-negara tetangga. Pada masyarakat semacam ini biasanya

terdapat rasa kurang bergairah, walaupun mungkin, mereka itu mengecap kehidupan ekonomi yang lebih baik.

3.2 Diglosia Mantap Pada masyarakat dwibahasa terdapat penggunaan bahasa yang sifatnya diglosia. Pada masyarakat itu, terdapat pilihan-pilihan penggunaan bahasa secara baik. Misalnya, bahasa Indonesia digunakan pada waktu-waktu tertentu dan bahasa daerah digunakan pada kesempatan dan fungsi yang lainnya. Diglosia yang kurang lebih mantap ini adalah kemungkinan ke dua yang dapat tercipta jika melihat arus perkembangan bahasa Indonesia yang pesat ini. Ferguson dalam Seopomo (1978) mengemukakan bahwa situasi diglosia memang biasanya mantap. Relasi antara bahasa H dengan bahasa L stabil, paling tidak untuk waktu yang lama sekali. Bahasa H tidak akan mendesak bahasa L. Pengalaman di Arab, Haiti, Yunani, dan Jerman selatan membuktikan kebenaran ini. Hanya saja, keadaan diglosia mantap seperti pernyataan Ferguson tadi belum dapat sepenuhnya terjadi di Indonesia. Proses desak-mendesak dalam pembagian fungsi kebahasaan masih berjalan terus. Tumpang tindih penggunaan bahasa antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah masih cukup banyak. Tetapi, jika diglosia ini dapat tercipta, akan ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh oleh masyarakat Indonesia. Keuntungan keadaan diglosia ini adalah identitas daerah dapat

dipertahankan secukupnya, sementara kebudayaan nasional yang dilambangi oleh bahasa Indonesia dikembangkan. Kekosongan kebudayaan tidak akan terjadi. Akar kita sebagai bangsa tetap dapat terpelihara dengan baik. Akan tetapi, efisiensi komunikasi memang tidak dapat dikembangkan sampai titik optimal . Faktor kesalahpahaman antar daerah yang disebabkan oleh bahasa masih ada. Anak-anak dipaksa mempelajari dua bahasa dalam hidupnya walaupun dengan begitu mereka mendapat untung juga.

3.3 Integrasi

Integrasi Kebahasaan

dalam situasi kebahasaan di Indonesia saat ini

mungkin saja terjadi. Dalam keadaan ini bahasa daerah juga akan hilang, tetapi hilangnya bukan karena digusur, melainkan disatukan ke dalam tubuh bahasa Indonesia. Dalam hal ini, mungkin saja konsep-konsep yang dilambangi oleh kata dan ungkapan bahasa daerah dipungut atau dipelihara di dalam bahasa Indonesia. Mungkin saja konsep itu dilambangi oleh kata lain, tetapi inti konsep dan nilai itu toh tetap terpelihara. Dari sudut kesejahteraan kebudayaan, yang penting justru pemeliharaan konsep dan sebagian besar nilai-nilai ini dan bukannya bentuk linguistik yang melambanginya. Kalau integrasi ini dapat terjadi di Indonesia, kejelekan-kejelekan yang ada pada kemungkinan pertama dan ke dua akan dapat diatasi. Akar kebudayaan bangsa ini akan tetap terpelihara sebab segala konsep dan cara berpikir yang penting masih dilambangi oleh kata-kata yang telah dipungut di dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, karena bahasa yang ada tinggal bahasa Indonesia saja, maka komunikasi menjadi lebih efisien, kesalahpahaman antar daerah maupun antara pemerintah dengan rakyat dapat diperkecil. Bahasa Indonesia akan menjadi efektif, baik sebagai bahasa rasio maupun bahasa rasa, baik ilmiah, bisnis, maupun kekeluargaan. Salah satu cara mengintegrasikan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia adalah dengan jalan menunjukkan sikap positif terhadap kebudayaan dan bahasa daerah. Segenap komponen bangsa harus pandai menghargai inti sari kebudayaan daerah. Secara pelan-pelan, kebudayaan daerah haruslah dirangkul menjadi kebudayaan nasional. Dengan merangkul kebudayaan daerah dan mengangkatnya menjadi kebudayaan nasional, maka istilah-istilah dan ungkapan bahasa daerah yang melambangi butir-butir kebudayaan itu secara otomatis akan masuk ke dalam khasanah kata dan ungkapan bahasa Indonesia. Dengan begini, lambat-laun kebudayaan dan bahasa daerah akan terintegrasi ke dalam bahasa Indonesia. 4. Pemungutan Kosakata Daerah Bahasa yang merupakan alat dan sekaligus bagian dari kebudayaan hendaknya dapat dipakai dalam semua segi kehidupan. Bahasa haruslah

mempunyai konsep yang cukup untuk menyatakan kegiatan, baik material maupun spritual. Bahasa Indonesia pun semestinya demikian pula. Kebudayaan daerah yang merupakan kebudayaan yang telah berurat berakar haruslah tetap dipertahankan, terutama yang bernilai positif. Salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan daerah adalah dengan memungut kosakata daerah yang mewakili konsep dan nilai budaya daerah. Memasukkan kata-kata, ungkapanungkapan, maupun istilah-istilah yang demikian itu akan merupakan sumbangan yang cukup berarti dalam merangkul kebudayaan daerah tersebut. Hanya saja pertanyaan yang kemudian muncul adalah kata-kata yang bagaimana yang perlu dipungut? Ada beberapa alasan mengapa suatu bahasa memungut unsur-unsur dari bahasa lain. Hockett mengemukakan dua sebab untuk hal ini, yaitu (1) adanya keperluan memenuhi kebutuhan (need-filling motive), dan (2) adanya keinginan beraksi-aksian (prestige motive) (Hockett, 1962). Sementara itu, Poedjosoedarmo (1978) menambahkan satu alasan pungutan kata yang masuk ke dalam tubuh bahasa Indonesia dari bahasa-bahasa daerah adalah alasan kelembaman bahasa (transference). Dari ketiga alasan pemungutan kosakata daerah itu, tampaknya alasan yang pertamalah yang mendekati kecocokan dipakai pedoman. Kosakata yang dipungut adalah kosakata yang memang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan. Pemungutan dengan alasan ke dua, yaitu adanya keinginan untuk beraksiaksian, yang di dalamnya termasuk juga eufemisme, tampaknya akan menimbulkan kebiasaan yang kurang sehat walaupun akan memunculkan katakata atau ungkapan yang terasa lebih sopan. Bahkan, Poedjosoedarmo (1978) mengemukakan bahwa kebiasaan bereufemisme ini dianggapnya mengajari diri sendiri untuk mengembangkan sikap kemasyarakatan yang membeda-bedakan, yang feodalistis, yang berkelas-kelas. Kebiasaan ini mengajari diri sendiri untuk menutup-nutupi sesuatu fakta dengan kata-kata yang muluk. Kita mendidik diri sendiri menjadi masyarakat yang tidak berani menatap kenyataan hidup. Padahal, kesemuanya hanyalah tergantung kepada pendapat kita.

Dalam hal pungutan dari bahasa daerah yang berdasar pada alasan pemenuhan kebutuhan, maka penting sekali untuk disebut kata-kata dan ungkapan yang melambangi konsep-konsep dan nilai yang spesifik ada di dalam kebudayaan daerah. Kata gamelan, wayang, dalang, kecak, suling, joged, galungan, ngaben, yadnya, tri hita karana, dan lain-lainnya adalah kata-kata yang mewakili konsepkonsep budaya daerah. Dengan masuknya kata-kata dan ungkapan ini ke dalam bahasa Indonesia, berarti konsep-konsep kebudayaan daerah ini telah atau paling tidak mulai ramai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ini berarti konsep-konsep dan kebiasaan daerah itu telah mulai memasuki khasanah kebudayaan nasional. Unsur-unsur bahasa yang masuk lantaran kebutuhan, sangat menguntungkan bahasa Indonesia, sebab dengan masuknya kata-kata seperti di atas bahasa Indonesia akan menjadi kaya dan lebih mampu mengantarkan berbagai pokok pembicaraan. Selain itu, kebudayaan daerah akan terangkat masuk ke dalam khasanah kebudayaan nasional atau setidak-tidaknya mulai diperhatikan dengan sikap yang positif. Hal ini diduga dapat meningkatkan integrasi bangsa ini.

5. Penutup Pemungutan kosakata yang mewakili konsep-konsep kebudayaan daerah dari bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia, tampaknya merupakan salah satu solusi untuk mencegah punahnya kebudayaan daerah di Indonesia. Selain itu, pemungutan ini akan semakin meningkatkan peran, fungsi, dan tuah bahasa Indonesia bagi masyarakat Indonesia. Dengan melakukan hal tersebut, bahasa Indonesia diharapkan mampu menjalankan fungsinya, baik sebagai bahasa ilmu pengetahuan maupun bahasa pengantar dalam ranah-ranah adat atau budaya daerah. Hanya saja, dalam memungut kosakata bahasa daerah tetap juga perlu memperhatikan rambu-rambu kebahasaan yang dimiliki oleh bahasa Indonesia.

Daftar Pustaka Badudu, J.S. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia. Hockett, C.F. 1962. A Cours in Modern Linguistics. New York.

10

Koentjaraningrat. 1983. Pengantar Antropologi. Jakarta : Angkasa Baru. Koentjaraningrat. 1983. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta : Gramedia. Podjosoedarmo, Soepomo. 1978. Interferensi dan Integrasi dalam Situasi Keanekabahasaan. Dalam Majalah Pengajaran Bahasa dan Sastra Th IV No.2. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sumarsono. 1982. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan. Disertasi (tidak dipublikasikan) : Universitas Indonesia. Steinhauer, Hein. 1995. Struktur Verba Bahasa Nimboran. Dalam Linguistik Indonesia, Tahun 13, No. 1 dan 2.

11