Anda di halaman 1dari 2

Faktor yang mencemari sungai

Faktor utama yang mengakibatkan pencemaran sungai sesungguhnya adalah kegiatankegiatan yang dilakukan oleh manusia.

Salah satu faktor pencemaran sungai yang paling sering kita temui dalam kehidupan seharihari ialah perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan. Kebiasaan buruk ini sudah sangat melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Jumlah tempat sampah yang minim serta kurangnya kesadaran dari dalam diri manusia membuat semakin hari semakin banyak sampah yang dibuang di sungai, bukan di tempat sampah. Kebanyakan dari kita malas untuk menyimpan terlebih dahulu sampah kita hingga menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya, sehingga akhirnya dibuang begitu saja di tempat yang tidak seharusnya. Sayangnya, perilaku buruk ini menimbulkan dampak yang buruk dalam jangka waktu yang cukup panjang. Contohnya saja di Jakarta, sampah sudah menumpuk sejak bertahun-tahun yang lalu, namun efeknya baru terasa akhir-akhir ini. Banjir seringkali terjadi walaupun hujan hanya sebentar. Sampah yang menumpuk menghambat aliran air sungai ke laut sehingga sungai meluap dan terjadilah banjir.

Limbah pabrik juga merupakan salah satu faktor penyebab tercemarnya sungai. Dalam setiap proses produksi yang dilakukan oleh pabrik, hampir semuanya menghasilkan limbah. Pabrik yang taat aturan akan rela mengeluarkan kocek lebih untuk proses pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai. Contohnya saja, ada pabrik yang menyaring dulu limbah pabriknya, lalu diujicobakan di sebuah kolam ikan. Jika ikan masih tetap hidup, maka air tersebut layak untuk dibuang ke sungai. Hal ini sangat baik untuk ditiru oleh seluruh pabrik di Indonesia. Sayangnya, kesadaran itulah yang belum dipunyai para pemilik pabrik. Kebanyakan dari mereka hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan untung sebanyakbanyaknya dan mengeluarkan biaya sekecil-kecilnya. Mereka hanya memikirkan keuntungan diri sendiri tanpa memikirkan nasib orang lain yang menggunakan air yang tercemar karena ulah mereka. Akhirnya masyarakat sekitarlah yang menerima imbasnya.

Kaum petani juga berkontribusi dalam pencemaran sungai. Sebagai petani tentunya mereka ingin tanamannya tumbuh subur dan tidak gagal panen. Mereka juga menginginkan tanamannya bebas dari segala jenis hama. Karena itu, digunakanlah pestisida untuk membasmi hama secara cepat dan mudah. Memang hama akan hilang, namun pestisida yang

digunakan secara berlebihan akan terbawa ke sungai dan mencemarinya. Lebih buruk lagi, pestisida tersebut bisa menimbulkan booming pertumbuhan enceng gondok (eutrofikasi) yang menghambat sinar matahari masuk ke dalam sungai. Hal ini bisa menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di dalam sungai akan kekurangan sinar dan mati. Penggunaan pestisida yang kelihatannya tidak membahayakan nyatanya sangat berefek buruk bagi lingkungan sungai.

Pemukiman kumuh juga menjadi salah satu penyebab terbesar tercemar dan menyempitnya badan sungai. Arus urbanisasi masyarakat desa ke kota saat ini cukup besar dan agaknya banyak menimbulkan efek buruk bagi wajah ibukota. Banyak masyarakat yang pindah ke kota-kota besar, bermimpi mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan hidup lebih nyaman, namun tidak membekali diri dengan keterampilan dan uang yang cukup. Akhirnya setelah pindah ke kota, mereka menempati pemukiman kumuh di bantaran sungai. Sampah rumah tangga akhirnya mencemari sekaligus membuat badan sungai semakin sempit. Sungai tidak hanya kotor, namun juga tersumbat apalagi pada musim penghujan.

Sangat amat disayangkan, banyak sekali perilaku manusia yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada pencemaran sungai. Alangkah lebih baik jikalau setiap orang bahu membahu dan saling menyadarkan satu sama lain untuk hidup bersih dan tidak mencemari lingkungan, sehingga tercipta lingkungan yang asri dan hijau, terutama di lingkungan sungai.