Anda di halaman 1dari 2

RUU Sediaan Farmasi dan Alkes

Isi dari RUU sediaan farmasi dan alkes : Bahwa akan dilakukan standarisasi pada obat-obatan farmasi, obat herbal , kosmetik, suplemen kesehatan, pangan olahan, mesin-mesin sarana kesehatan, dan alat kesehatan lainnya. Dalam upaya pembangunan kesehatan yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 juga pemenuhan hak asasi manusia. Maka dalam masalah kefarmasian, ini perlu dilakukan pengawasan dari semua proses bahkan hingga distribusi ke masyarakat. Masyarakat perlu mendapat perlindungan dalam penyediaan farmasi dan alat kesehatan. Dalam hal pemantauan dan pengawasan dalam bidang farmasi, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga juga memberikan sanksi jika memang ada pihak yang melanggar undang- undang dan membahayakan kesehatan masyarakat misalnya ada pihak dengan sengaja membuat obat yang tidak sesuai standar, memberikan informasi yang menyesatkan, perlabelan yang tidak sesuai dengan obat, tidak sesuai izin edar, kecurangan lainnya, bisa dikenakan sanksi pidana dengan hukuman 10 tahun dan denda hingga 1 milyar. Selain mendorong industri farmasi dalam negri baik berbahan kimia atau herbal, hal lain yang dilakukan adalah mendorong industri kimia dalam negri untuk

menyediakan bahan baku obat. Selama ini hampir persen bahan baku obat yang digunakan industri farmasi indonesia berasal dari impor luar negri. Jika potensi ini bisa diambil industri dalam negri, untuk mendongkrak roda perekonomian indonesia juga mempermudah pengawasan standarisasi yang dilakukan oleh pemerintah.

Hubungan RUU sediaan farmasi dan alkes dengan agama :

Indonesia penduduknya mayoritas banyak beragama islam kurang lebih 90% islam, RUU sediaan farmasi dan alkes sangatlah penting artinya karena menyangkut kehidupan masyarakat Indonesia. Orang sakit, stress, kecelakaan dan banyak sekali macam-macam penyakit pastinya membutuhkan obat. Bagi pengusaha, penanam saham atau modal, pabrik atau industri farmasi yang ada di Indonesia harus sanggup memproduksi obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia keseluruhannya. Seperti harga bisa murah dan terjangkau oleh masyarakat untuk membeli obat. Agama mengajarkan para pimpinan, pengusaha, penanam modal, pabrik farmasi harus memiliki keimanan, keteladanan dan karakter yang membangun untuk kemajuan negara. Bagi kementrian kesehatan harus wajib mensosialisasikan ke bawah karakter keimanan, dan keteladanan ini, tujuannya mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia para pekerja, PNS, buruh serta sarjana farmasi dalam konteks yang lebih luas mendidik untuk memiliki karakter yang bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi pada IPTEK yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang maha esa berdasarkan pancasila.