Anda di halaman 1dari 20

PERSYARATAN SEDIAAN STERIL

- Fisik : kejernihan, partikel, suspense - Kimia : isotonis, isohidris - Biologi : steril, pirogen

1. Kejernihan Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif, yang

artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat. Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk mengetahui kejernihan dari sediaan yang dibuat. Syarat kejernihan yaitu sediaan larutan ( kecuali suspensi dan emulsi) adalah tidak ada zat yang terdispersi dalam larutan jernih 2. Partikel Sediaan steril harus bebas dari partikel melayang karena dapat menyebabkan kontaminasi dan membawa mikroorganisme. Partikel asing tersebut merupakan partikel-partikel yang tidak larut yang dapat berasal dari larutan dan zat kimia yang terkandung, dari lingkungan, Partikel peralatan, asing personal, dapat maupun wadah. tersebut

menyebabkan pembentukan granuloma patologis dalam organ vital tubuh. Untuk mengetahui keberadaan partikel asing dilakukan dengan menerawang sediaan pada sumber cahaya. Tujuan dari uji partikel asing ini adalah agar mengetahui apakah ada partikel dalam sediaan. Dari

hasil uji ini mensyaratkan bahwa tidak terdapat partikel asing dalam sediaan. Pada waktu pembuatan sediaan steril kemungkinan jika masih terdapat partikel asing bisa terjadi karena sewaktu penyaringan masing ada partikel yang lolos dari saringan 3. Tipe suspense Untuk sediaan steril tipe suspense harus memenuhi persyaratan yang berlaku untuk suspensi steril Suspensi optalmik merupakan sediaan cair steril yang mengandung mata. Suspensi untuk injeksi merupakan sediaan berupa partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada

suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal. Sedangkan suspensi untuk injeksi kontinyu merupakan sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Suspensi steril berlaku sebagai obat yang hipertonis, mengambil cairan dari jaringan sekitar. Sehingga akhirnya bisa larut. Walau sudah larut semua, cairan tetap sebagai hipertonis Persyaratan fisik lainnya : - Stabil.

Artinya sediaan tidak mengalami degradasi fisika (ataupun kimia). Misal jika bentuk sediaan larutan maka sediaan tersebut tetap berada dalam bentuk larutan (bukan suspensi). Sifat stabil ini berkaitan dengan formulasi. Ketidakstabilan dapat dilihat dari: a. terjadi perubahan warna

Contoh: larutan adrenalin yang awalnya berwarna jernih karena teroksidasi akan menjadi merah karena terbentuk adenokrom. b. terjadi pengendapan

Contoh: injeksi aminophilin dibuat dengan air bebas CO2, karena jika tidak bebas CO2 maka akan terbentuk theopilin yang kelarutannya kecil dalam air sehingga akan mengendap. Akibatnya dosis menjadi berkurang.

4. Tonisitas Tonisitas menggambarkan tekanan osmose yang

diberikan oleh suatu larutan (zat padat yang terlarut di dalamnya) Suatu larutan dapat bersifat isotonis, hipotonis, atau hipertonis NaCl 0,9 % sebagai larutan pengisotoni Tidak semua sediaan steril harus isotonis, tapi tidak boleh hipotonis, beberapa boleh hipertonis Tonisitas laruan obat suntik :

1.Isotonis Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah, sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonis ( ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl ). 2.Isoosmotik Jika suatu larutan memiliki tekanan osmose sama dengan tekanan osmose serum darah, maka larutan dikatakan isoosmotik ( 0,9% NaCl, 154 mmol Na+ dan 154 mmol Clper liter = 308 mmol per liter, tekanan osmose 6,86 ). Pengukuran menggunakan alat osmometer dengan kadar mol zat per liter larutan. 3.Hipotonis Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkna air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel sel darah merah. Peristiwa demikian disebut hemolisa. 4.Hipertonis Turunnya titik beku besar, yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah, sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel sel darah merah. Peristiwa demikian disebut Plasmolisa. Bahan pembantu mengatur tonisitas Glukosa, Sukrosa, KNO3 dan NaNO3 adalah : NaCl,

pH dan Osmolalitas Injeksi a. Isohidris yaitu pH larutan sama dengan pH darah. Kalau bisa pH sama dengan pH darah, tapi tidak selalu, tergantung pada stabilitas obat. Contoh: injeksi aminofilin dibuat sangat basa karena pada kondisi asam akan terurai. Dalam pembuatan ditambahkan etilendiamin untuk menaikkan kelarutan dari aminofilin. Aminofilin injeksi R/ Teofilin Etilen diamin Aqua p.i. Cara pemberian 2,4% 2,0 0,55 ad 100 i.v. 24% 20,0 5,5 ad 100 ml i.m.

b. Isotonis, yaitu tekanan osmosis larutan sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. Di luar isotonis disebut paratonis, meliputi: hipotonis dan hipertonis. - hipotonis yaitu tekanan osmosis larutan lebih kecil dari tekanan osmosis cairan tubuh (NaCl 0,9%). NaCl jika terurai menjadi Na (15,1 mOsmol) dan Cl (154 mOsmol) sehingga total 308 mOsmol. Sedangkan tekanan osmosis cairan tubuh yaitu 300 mOsmol. Pada hipotonis, cairan masuk ke tubuh dan masuk ke sel darah merah, sehingga sel darah merah bisa pecah (irreversibel) - hipertonis, yaitu tekanan osmosis larutan lebih besar dari tekanan osmosis cairan tubuh. Air akan mengalir keluar dari sel darah sehinggga sel mengkerut (krenasi), bersifat reversibel.

Pengaturan tonisitas Pengaturan meliputi tonisitas adalah formula suatu sehingga upaya formula untuk yang

mendapatkan larutan yang isotonis. pengaturan

Upaya tersebut

semula hipotonis menjadi isotonis,dan langkah kerja pengerjaan formula tersebut. Ada dua kelas untuk pengaturan tonisitas : 1. Metode Kelas satu 2. Metode kelas 2 Metode Kelas Satu Dari formula yang ada (termasuk jumlah solvennya) dihitung tonisitasnya dengan menentukan Tf nya, atau kesetaraan dengan NaCl. Jika Tf-nya kurang dari 0,52O atau kesetaraannya dengan NaCl kurang dari dihitung banyaknya padatan NaCl, yang ditambahkan supaya larutan menjadi isotonis. 0,9 %, harus Cara

pengerjaannya semua obat ditimbang, ditambah NaCl padat, diatamabah air sesuai formula. Metode kelas satu meliputi metode kriskopik faktor (penurunan disosiasi titik dan beku), metode perhitungan dengan

ekuivalensi NaCl Metode Kelas Dua Dari formula yang ada (selain solven) hitung volume larutannya yang memungkinkan larutan menjadi isotonis. Jika volume ini lebih kecil dari pada volume dalam formula, artinya larutan bersifat hipotonis. Kemudian hitunglah volume larutan isotonis, atau larutan dapar

isotonis, yang ditambahkan berupa larutan NaCl 0,9%, bukan padatan NaCl, misalnya NaCl 0,9 % yang harus ditambahkan dalam formula tadi untuk mengganti posisi solven isotonis. selisih volume formula dan volume larutan Metode kelas dua meliputi metode White-

Vincent dan metode Sprowls. Contoh soal : Suatu formula injeksi tiap 500 ml mengandung Morfin HCl (BM=375,84 g/mol dan Liso=3,3) 3 gram dan nicotinamida (BM=122,13 g/mol dan Liso=1,9) 10 gram. Aturlah tonisitasnya dengan 4 metode di atas Penyelesaian Formula di atas adalah sebagai berikut: R/ Morfin HCl Nikotinamida Aquadest ad Pengaturan tonisitas 3 10 500 ml kelas satu mengubah formula

menjadi sebagai berikut: R/ Morfin HCl Nikotinamida NaCl Aquadest ad 3 10 x gram 500 ml

X dapat dihitung dengan metode Kriskopik, metode ekuivalensi NaCl, dan faktor disosiasi

Pengaturan

tonisitas

kelas

dua

mengubah

formula

menjadi sebagai berikut R/ Morfin HCl Nikotinamida Aqua ad 3 10 y ml yang didapat

(y < 500 ml, sehingga larutan isotonis) NaCl 0,9 % ad 500 ml

Harga y dapat dihitung dengan metode white vincent dan metode sprowls Metode Kriskopik Memerlukan data Tf1% data bisa dicari di Farmakope Indonesia Ed IV atau buku lainnya. Dengan diketahui harga BM dan Liso sebenarnya harga Tf1% bisa dihitung. Morfin HCl Tf1% = Liso x C = 3,3 x (3 g/375,84 Tf1% = Liso x C = 1,9 x (10 g/122,13

g/mol): 1 L = 0,026O Nickotinamida

g/mol): 1 L = 0,16O 1 % Morfin HCl mempunyai Tf = 0,026O, formula: 0,6%, maka Tf-nya 0,6x0,026=0,016O 1 % Nikotinamid mempunyai Tf = 0,16O, formula: 2%, maka Tf-nya 2x0,16=0,32O Maka Tf formula adalah 0,016+0,32 = 0,336 < 0,52 hipotonis, maka perlu penambahan NaCl untuk menurunkan titik bekunya sehingga Tf-nya menjadi

0,52, Hafalkan Tf% NaCl adalah 0,58. diperlukan untuk 100 ml formula adalah

NaCl yang

0,52 0,336 --------------- x 1 g = 0,317 gram, sehingga untuk 500 ml perlu 1,586 gram 0,58 X dalam formula perubahan adalah 1,586 Metode Ekuivalensi NaCl memerlukan data E yang bisa dilihat di Farmakope Indonesia Ed IV atau buku lainnya. sebenarnya 1 gram obat (Penurunan TB oleh Obat 1 gram = Penurunan TB oleh NaCl E gram) Untuk Morfin HCl 1/1 L E/ 1 L Emorfin HCl = 0,15 Dengan harga diketahui E bisa harga BM E dan Liso dihitung. adalah

banyaknya NaCl yang secara koligatif setara dengan

3,3 ----------- = 3,4 -----------375,84 Untuk nikotinamida 1/1 L E/1 L 58, 45

1,9 ----------- = 3,4 -----------122,13 58, 45

E nikotinamida = 0,27

Metode Ekuivalensi NaCl dimulai dari sini 1 g morfin HCl setara dengan 0,15 g NaCl, di formula 3 g maka setara 0,45 g NaCl 1 g nikotinamida setara dengan 0,27 g NaCl, di formula 10 g maka setara 2,7 g NaCl Maka tonisitas formula setara dengan 0,45+2,7 g NaCl dalam 500 ml larutan, kurang dari 0,9 % (0,9 g dalam 100 ml) atau 4,5 g per 500 ml, hipotonis Kekurangan NaCl = 4,5 g 3,15 g = 1,35 gram tiap 500 ml Contoh soal : Injeksi fenobarbital R/ Na fenobarbital etil morfin HCl aqua 1g 0,5 g ad 1 liter

Diketahui: etil morfin E = 0,16, Tf1%=0,09 na fenobarbital E=0,24, Tf1%=0,14 Cek isotonis/blm? Kalau belum aturlah Metode white vincent

Metode Kelas Dua Dari formula yang ada (selain solven) hitung volume larutannya yang memungkinkan larutan menjadi isotonis. Jika volume ini lebih kecil dari pada volume dalam formula, artinya larutan bersifat hipotonis. Kemudian hitunglah volume larutan isotonis, atau larutan dapar isotonis, misalnya NaCl 0,9 % yang harus ditambahkan dalam formula tadi untuk mengganti posisi solven selisih volume formula dan volume larutan isotonis. Metode kelas dua meliputi metode White-Vincent dan metode Sprowls.
Metode white-vincent memerlukan data E, dengan perhitungan dimulai seperti metode Ekuivalensi NaCL. Formula setara dengan 3, 15 gram NaCl, supaya isotonis maka volumenya (3,15/0,9) x 100 ml = 350 ml, maka jumlah NaCl 0,9 % yang dibutuhkan adalah 500 ml 350 ml = 150 ml Formula menjadi: . R/ Morfin HCl Nikotinamida 3 10

Aquadest ad 350 ml (dengan volume segini, di dapat larutan isotonis, tetapi kadar obatnya terlalu besar, maka perlu diencerkan. Supaya tetap isotonis maka pengenceran menggunakan larutan yang isotonis pula, yaitu NaCl 0,9%)

NaCl 0,9 % ad

500 ml

Pengerjaan: Morfin HCl 3 gram, Nikotinamida 10 gram, dilarutkan dalam air sampai 350 ml (didapat larutan obat isotonis dengan kadar terlalu tinggi), kemudian larutan ini diencerkan dengan NaCl 0,9 % sampai volume 500 ml

Metode Sprowls memerlukan data V, yaitu volume larutan dalam ml yang mengandung 0,3 gram obat dan bersifat isotonis. Harga V dapat dilihat di buku-buku farmasi fisika. Dengan diketahui harga BM dan Liso sebenarnya harga V bisa dihitung Untuk Morfin HCl 0,52=3,3x(300 mg/375,84g/mol):Vmorfin HCl maka Vmorfin HCl=5,07 ml Untuk Nikotinamida 0,52=1,9x(300 mg/122,13g/mol):Vnikotinamida maka Vnikotinamida=8,98 ml
0,3 g Morfin HCl supaya isotonis volumenya 5,07 ml, formula 3 g maka volumenya 50,7 0,3 g nikotinamida supaya isotonis volumenya 8,98 ml, formula 10 g maka volumenya 299,3 Maka volume larutan obat isotonis adalah diencerkan dengan NaCl 0,9 % sampai 500 ml. Formula menjadi: R/ Morfin HCl 3 350 ml,

kadar obat belum sesuai yang diinginkan maka perlu

Nikotinamida Aquadest ad NaCl 0,9 % ad

10 350 ml 500 ml gram,

Pengerjaan: Morfin HCl 3 gram, Nikotinamida 10

dilarutkan dalam air sampai 350 ml (didapat larutan obat isotonis dengan kadar terlalu tinggi), kemudian larutan ini diencerkan dengan NaCl 0,9 % sampai volume 500 ml Cara menghitung isotonis: 1. cara w Satuan g% atau g/100 ml Contoh: Dibuat 100 ml, kadar 10 mg/ml. a = 0.101 b = 0.76 Jawab: Kadar metadon = 10mg/ml = 1000 mg/100ml = 1 g/100ml (1%). NaCl 0.9% = 0.52 (disebut isotonis) 1/0.9 x 0.52 = 0.76 (isotonis) Zat itu hipo atau hiper? Liat a. Jika a = 0.52 (isotonis)

a < 0.52 (hipotonis) a > 052 (hipertonis) w = zat pengisotonis yang perlu ditambahkan kalau tanda negatif ditulis, hipernya berapa? a bisa gabungan, bisa dilihat di tabel. 2. cara h H = mh / fh x (0.28 fa/ma x a + fb/mb x b .) g/L mh = berat fh = faktor disosiasi - netral - asam lemah, basa lemah - kuat Contoh infus laktat : NaCl KCl CaCl2 0.3 (a) > 3 g/L 0.1 (b) > 1 g/L 0.1 (c) > 1 g/L :1 : 1.5 : 1.8

Aqua ad 100 > 1000 Jawab: h = 1.8/58.5 x 3 + 1.8/.. x 1 + 1.8/ x 1 Dalam penggunaan metode h lebih simpel, tidak perlu tabel

5. Steril PERSYARATAN STERIL Jadi pemilihan metode berdasarkan pertimbangan : - 1. Kondisi dari materi/objek yang disterilkan (perlu perhatian khusus) - 2. Tingkat sterilitas yang ingin dicapai (hasil) 6. Pirogen Pirogen merupakan substansi yang mampu menyebabkan demam dan sering mencemari sediaan farmasi. Sampai saat ini, substansi pirogenik yang diketahui paling aktif dan paling sering mencemari sediaan farmasi adalah endotoksin; selain itu masih banyak substansi pirogenik lainnya seperti bakteri, fungi , DNARNA virus dan lain-lain (Suwandi, 1988). Endotoksin merupakan suatu produk mikroorganisme terutama dari bakteri gram negatif yang terdiri atas suatu senyawa kompleks lipopolysaccharida yang pyrogenic, suatu protein dan suatu lipid yang inert. Pada saat ini endotoksin diketahui merupakan pirogen yang paling, kuat, namun kehadiran pirogen lain dalam suatu sediaan perlu diperhitungkan; karena manusia tidak hanya respon terhadap endotoksin saja tetapi juga pirogen yang lain. Pada tahun 1923 Seibert membuktikan bahwa pirogen adalah substansi yang tidak tersaring, thermostabil, dan non volatile. Pada tahun 1937 Co Tui membuktikan bahwa kontaminasi pirogen ini juga terjadi pada alat-alat seperti wadah-wadah untuk melarutkan obat suntik, juga pada zat kimia yang digunakan sebagai zat berkhasiat. Pirogen dapat bersumber dari:

Pelarut Zat aktif Peralatan Timbul pada proses penyimpanan

Sifat sifat pirogen:

Thermostabil, sehingga hanya dapat dihilangkan dengan pemanasan pada suhu 650C selama 1 menit, 250C selama 15 menit atau 180C selama 4 jam; Larut dalam air. Sehingga tidak bisa memakai penyaring bakteri; Tidak dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa; Tidak menguap, destilasi biasa ada yang ikut bersama percikan air; Berat molekul (BM) antara 15.000 4.000.000; dan Ukuran umumnya 1 50m.

Secara garis besar, pirogen dikelompokkan menjadi 2 golongan; yaitu pirogen endogen dan pirogen eksogen.

Pirogen Endogen

yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri sebagai reaksi kekebalan melawan kuman penyakit yang masuk ke tubuh. Misalnya interleukin-1 (IL1), interleukin-6 (IL-6), alpha-interferon, dan tumor necrosis factor (TNF).

Pirogen Eksogen

yaitu faktor eksternal tubuh yang menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh manusia. Misalnya bagian dari sel bakteri dan virus. Selain itu, bisa juga berupa zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau virus tertentu.

Jika suatu pirogen masuk ke tubuh, maka pirogen menjadi suatu benda asing yang dapat menimbulkan respon imun berupa demam. Demam yaitu suatu keadaan ketika temperatur tubuh di atas batas normal yang dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh bahan bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan temperatur. Penyebab penyebab tersebut meliputi penyakit bakteri, tumor otak, dan keadaan lingkungan yang dapat berakhir dengan serangan panas. Uji pirogenitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakan suatu sediaan uji bebas pirogen atau tidak (Anonim, 1995) dengan maksud untuk membatasi resiko reaksi demam yang dapat diterima oleh pasien apabila diinjeksi dengan suatu sediaan farmasi (Suwandi, 1988). Uji pirogenitas biasanya menggunakan kelinci. Pengujian ini ditetapkan di USP pertama kali pada tahun 1942 dan merupakan pengujian resmi untuk menentukan non-pirogenitas sediaan farmasi. Sejak diketahui bahwa endotoksin ternyata mampu menggumpalkan sel darah Limulus, kemudian dikembangkan suatu pengujian untuk mendeteksi adanya endotoksin dengan menggunakan reagensia yang dibuat dari sel darah Limulus. Pengujian ini kemudian dikenal sebagai metode Limulus Amebocyt Lysate (LAL Test). Meskipun demikian, pengujian pirogenitas menggunakan kelinci masih menjadi pilihan utama karena:

Metode ini telah lama dikenal dan digunakan untuk menguji berbagai sediaan dan terbukti memberikan hasil memuaskan; Kelinci memiliki sensitivitas terhadap substansi pirogenik yang mirip dengan manusia. Kenaikan suhu kelinci akibat substansi-pirogenik, sampai batas tertentu masih dapat diterima oleh manusia; sehingga

kenaikan suhu kelinci tersebut dapat distandardisasi terhadap substansi pirogenik yang dapat diterima manusia. Bangham menyebutkan, uji kelinci menggambarkan seluruh respon farmakologis terhadap pirogen dan relevan dengan respon pada manusia; Metode kelinci mampu mendeteksi semua pirogen termasuk endoktoksin sedangkan LAL tidak.

Sedangkan kelemahan metode uji pirogenitas menggunakan kelinci dibandingkan dengan LAL Test antara lain:

Memerlukan pemeliharaan dan perawatan hewan dan laboratorium yang lebih intensif. Hewan harus dipelihara dalam ruangan dengan temperatur tidak jauh berbeda dengan tempat percobaan. Pemeliharaan hewan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk menghindari infeksi penyakit yang dapat mengganggu percobaan atau mengacaukan interpretasi hasil. Berat badan kelinci harus dijaga jangan sampai mengalami penurunan yang berarti dalam 1 minggu menjelang digunakan; Sensitivitas dipengaruhi oleh musim, kegaduhan, kegelisahan, makanan dan lain sebagainya. Kegelisahan akan dapat menyebabkan kenaikan suhu relatip tinggi, sehingga mengacaukan interpretasi hasil; Variabilitas biologis. Respon setiap kelinci terhadap substansi yang sama belum tentu sama, sehingga terdapat variasi kenaikan suhu pada tiap kelinci.

Prinsip uji pirogenitas menggunakan kelinci adalah dengan injeksi intravena ke tubuh kelinci di bawah kondisi tertentu dan selanjutnya dipantau dan dicatat temperatur 3 kelinci dalam jangka waktu tertentu.

Farmakope Indonesia menyebutkan, suatu sediaan dinyatakan memenuhi syarat, jika kenaikan suhu ketiga kelinci tidak melebihi batas tertentu; dan tidak memenuhi syarat jika total kenaikan suhu ketiga kelinci melebihi batas tertentu (lihat Tabel 1). Tabel 1: Syarat Pirogenitas Sediaan Jumlah Sediaan uji Kelinci memenuhi syarat jika jumlah respon (1) tidak melebihi ( C) (2) 3 6 9 12 1,20 2,80 4,50 6,60 Sediaan uji tidak memenuhi syarat jika jumlah respon melebihi (C) (3) 2,70 4,30 6,00 6.60

Jika respon yang terjadi terletak di antara kolom (2) dan kolom (3), pengujian dapat diulangi menggunakan 3 kelompok kelinci yang lain. Apabila pengujian ke empat jumlah respon melebihi 6,60 C, sediaan tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat. Yang dimaksud dengan respon adalah selisih antara suhu maksimum (suhu tertinggi yang dicatat selama 3 jam setelah penyuntikan sediaan uji) dikurangi suhu awal kelinci (suhu rata rata 2 pembacaan suhu dengan interval 30 menit yang dilakukan 40 menit dan 10 menit sebelum penyuntikan sediaan uji). Jika hasilnya negatif, maka dianggap sama dengan 0 (nol).

Tidak semua kelinci dapat digunakan sebagai hewan uji. Kelinci dengan kriteria berikut ini tidak dapat digunakan:

3 (tiga) hari sebelumnya telah dipakai untuk uji pirogenitas dan hasilnya negatif (menunjukkan penurunan suhu badan) 3 (tiga) minggu sebelumnya telah digunakan untuk uji pirogenitas dan hasilnya sediaan uji tidak memenuhi syarat Telah digunakan kapan saja untuk uji pirogenitas dengan respon rata rata kelompok kelinci melebihi 1,2oC.