Anda di halaman 1dari 6

Pengaruh Perubahan Kadar Air Tanah Terhadap Parameter Kekuatan Tanah Lempung .

Agus Darmawan Adi


Universitas Gadjah Mada, Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, Yogyakarta 55281 Indonesia

Abstract
A study was conducted to investigate the effect of water content change to the soil strength and structure. Two soil types were used in this study. Both soils had very high to extremely high plasticities which could be classified into CE to CV and also as expansive soils. Compaction test results indicated that the maximum dry density occurred at optimum moisture content closed to the soil plastic limit. Clays used in this study suffered from strength reduction due to water content increase. Soil consistency became soft at water content of 45% to 50% and became very soft at water content of 55% to 60%. The effect of water content change on soil density and volume change was similar. However, when it was considered to the soil liquidity index, soil having higher plasticity index had steeper slope in relationship to the soil density and volume change. Simple model to illustrate the effect of soil softening showed that strength reduction produced significant increase on ground deformation which might cause potential damage of the structure.
Keywords : water-content, strength, density, liquidity-index, deformation.

1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Bangunan, seperti jalan, tanggul, bendungan tanah dan yang lainnya, menggunakan tanah dengan jumlah yang sangat banyak/luas. Di Indonesia, dua musim ektrim akan terjadi di setiap tahunnya yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Tanah mempunyai tingkat sensitivitas yang berbeda-beda terhadap perubahan musim yang dalam hal ini kondisi kebasahan atau pengaruh air. Perubahan kekuatan tanah lempung karena perubahan kadar air sering mengakibatkan kerusakan bangunan atau penurunan stabilitas bangunan bahkan dapat terjadi keruntuhan/longsor. Tanah lempung dapat menjadi sangat keras dan retak-retak di permukaan pada musim kemarau yang panjang. Pada kondisi ini, tanah mempunyai kekuatan yang besar untuk mendukung beban yang bekerja di atasnya. Kekuatan lempung dapat berubah total pada musim hunjan yang berkepanjangan. Tanah akan menyerap air, mengembang, menjadi lebih lunak dan kekuatan dapat turun drastis. Kemampuan tanah untuk mendukung beban sangat rendah dan deformasi serta potensi penurunan menjadi semakin besar. Lempung yang ada terdiri dari banyak jenis. Lempung berplastistas rendah dianggap sebagai lempung yang kurang senstitif terhadap perubahan kadar air. Jenis lempung ini tidak banyak menyerap air bebas sehingga pengembangan tanah dianggap tidak besar dan kurang berpotensi merusak bangunan yang ada di sekitarnya. Lempung dengan plastisitas tinggi atau sangat tinggi, sangat sensitif terhadap perubahan kadar air. Lempung jenis ini mempunyai kemampuan menyerap air bebas yang sangat besar,

mengakibatkan tanah mengembang dengan besar. Sebaliknya, disaat kering, tanah akan menyusut menjadi keras atau sangat keras. Kembang-susut ini sering menimbulkan retak di permukaan sampai kedalaman tertentu. Kerusakan bangunan akibat lempung plastisitas tinggi atau ekspasif, sering diakibatkan oleh pengembangan volume dan tekanan pengembangan. Selain itu, kenaikan kadar air akan mengakibatkan ikatan antar butiran tanah berkurang, mengakibatkan kekuatan tanah berkurang. Berkurangnya kekuatan tanah akibat perubahan kadar air perlu diteliti dan dibuat korelasi yang diharapkan secara garis besarnya dapat diketahui pola perubahannya, dan kemungkinan kerusakan yang diakibatkan penurunan kekuatan tanah dapat diantisipasi. 1.2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : a. Mendapatkan korelasi perubahan kekuatan tanah dengan paremeter kekuatan tanah lempung. b. Menganalisis deformasi tanah/bangunan akibat perubahan parameter kekuatan tanah lempung 1.3. Tinjauan Pustaka Pengaruh air pada tanah terutama akibat perubahan musim, sebagian besar terjadi pada lapisan tanah dekat dengan permukaan. Beberapa bangunan, seperti jalan dan tanggul, sebagian besar permukaannya terbuka ke udara bebas sehingga sangat mudah bagi air terutama air hujan untuk berinteraksi langsung dengan tanah. Pengaruh air menjadi pemicu kerusakan beberapa ruas jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta [1]. Pada musim kemarau, banyak ruas jalan yang dibangun atau

diperbaiki sehingga saat itu kondisi jalan mulus dan nyaman untuk dilewati. Namun setelah musim penghujan berlangsung beberapa lama, kondisi jalan mulai terganggu, berawal dari tidak ratanya permukaan jalan karena ada yang turun (mengalami deformasi), retak pada permukaan jalan dan akhirnya lapis perkerasan rusak/hancur. Kondisi lapis perkerasan jalan yang mudah rusak pada tanah lempung lunak juga dilaporkan [5] Analisis dan observasi dilakukan pada beberapa jenis lapis perkerasan di atas tanah lunak. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa setelah satu tahun penurunan lapis perkerasan ada yang mengalami penurunan sampai 9 cm. Dengan penurunan tersebut, jalan diperkirakan akan mengalami kerusakan lebih lanjut. Kekuatan tanah lempung dipengaruhi oleh kadar air, terutama setelah lempung mendekati atau pada kondisi jenuh [6]. Lempung akan menyerap air bebas dan mengembang sedemikian rupa sehingga menjadi semakin lunak dengan semakin banyaknya air yang diserap. Kemampuan menyerap air oleh lempung, dipengaruhi oleh jenis mineral lempung, kondisi awal, permeabilitas, waktu dan beberapa parameter yang lain. Untuk suatu lempung dengan kondisi tertentu, semakin lama terendam, kondisi tanah semakin lunak, sehingga pada suatu saat dapat bersifat cair. Hal ini yang harus dicegah, agar bangunan tidak rusak atau runtuh. 1.4. Landasan Teori Plastistas Lempung Sifat lempung sangat dipengaruhi oleh kadar air dan plastisitasnya. Pada kadar air rendah, butiran lempung akan saling melekat dengan kuat dan membentuk massa yang sangat kompak dan kuat. Jika lempung menyerap air, air akan mengisi rongga antar butir, volume akan bertambah, butiran akan merenggang dan ikatan antar butir berkurang. Kemampuan lempung menyerap air sangat tinggi dan lempung dapat menjadi bersifat cair. Dengan meningkatnya kandungan air dalam tanah, volume tanah akan bertambah, yang diidealisasikan dengan hubungan linier [2] dan [4]. Sebaliknya, jika tanah lempung cair dikurangi kadar airnya, lempung akan menyusut, kondisinya akan menyusut menjadi lebih padat, menuju kondisi plastis. Pada kondisi plastis ini, lempung tidak dapat lagi mengalir namun masih dapat diubah bentuknya tanpa terjadi retak. Pengurangan kadar air selanjutnya, lempung akan menuju kondisi semi padat diikuti dengan berkurangnya volume. Pada kondisi ini lempung sudah cukup padat, jika diubah bentuknya akan terjadi retak-retak. Jika kadar air diukurangi terus, maka pada suatu kadar air tertentu, lempung tidak dapat lagi menyusut, kondisi padat, dan pengurangan kadar air akan digantikan dengan udara.

Kadar air batas antara kondisi cair dan plastis disebut batas cair (liquid limit, LL), antara kondisi plastis dan semi padat disebut batas plastis (plastic limit, PL) dan antara kondisi semi padat dan padat disebut batas batas susut (shrinkage limit, SL). Sebagaimana diidealisasikan, tanah mulai jenuh air jika mempunyai kadar air lebih dari kadar air batas susut, sehingga hubungan antara kadar air dengan volume tanah bersifat linier. Namun fenomena ini kurang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, karena kebanyakan tanah mengembang pada kadar air lebih dari batas susut namun masih mempunyai udara di dalam rongga/pori tanah. Tampaknya, tanah mulai jenuh air pada kadar air sekitar batas plastis. Pada kondisi semi padat atau padat, lempung mempunyai kekuatan yang cukup baik untuk mendukung beban dan menjaga stabilitas. Pada kondisi kadar air yang lebih tinggi dari batas plastis, terjadi perubahan yang cukup signifikan pada sifat lempung terutama kekuatannya. Rentang kadar air tanah pada kondisi plastis ini dapat digunakan sebagai ukuran tingkat plastisitas yang dikenal sebagai indeks plastis tanah (plasticity index, PI), dengan nilai dihitung sebagai selisih dari batas cair dan batas plastis tanah, sebagai berikut. PI = LL PL (1) Kondisi kadar air tanah di lapangan sering dikaitkan dengan batas plastis dan batas cair tanah yang selanjutnya dikenal dengan indeks kecairan (liquidity index, LI) dengan besaran sebagai berikut. w PL (2) LI
LL PL

Nilai LI akan menunjukkan kondisi kadar air suatu tanah dikaitkan dengan batas cair dan batas plastis tanah tersebut. Jika LI negative, tanah mempunyai kadar air pada kondisi semi padat atau padat. Jika LI tanah mempunyai nilai antara 0 sampai 1, tanah berada pada kondisi plastis dan jika LI lebih dari 1, maka tanah mempunyai kadar air pada kondisi cair. Kekuatan tanah lempung Kekuatan tanah lempung biasanya disajikan dengan parameter kohesi tak terdrainasi. Kohesi tak terdrainasi tanah lempung bervariasi sangat besar, dari kondisi keras (cu > 200 kN/m2) sampai sangat lunak (cu < 12.5 kN/m2) seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Konsistensi lempung dan rentang kohesi.
Konsistensi sangat lunak lunak sedang kaku sangat kaku keras (very soft) (soft) (medium) (stiff) (very stiff) (hard) c u kN/m 0 - 12.5 12.5 - 25 25 - 50 50 - 100 100 - 200 > 200
2

Secara umum, elemen tanah di bawah permukaan, mempunyai kondisi tekanan vertical dan lateral tertentu yang pada kodisi alami disajikan

sebagai koefisien tekanan tanah diam (Ko) yang merupakan nilai banding antara besarnya tekanan lateral terhadap tekanan vertikal, sebagai berikut. K0 = h/v (1) dengan : h = tekanan lateral dalam tanah v = tekanan vertical dalam tanah Untuk tanah yang terkonsolidasi normal, besarnya K0 kurang dari 1 sehingga tekanan lateral akan lebih kecil dibandingkan dengan tekanan vertical. Tekanan lateral ini penting dalam pengujian kekuatan tanah di laboratorium untuk merepresentasikan kondisi tegangan dalam tanah saat dibebani. Tanah untuk bangunan jalan dan tanggul dikaitkan dengan posisi tanah yang dangkal, sehingga tegangan lateral pada tanah relatif kecil, sehingga dipilih pengujian tekan bebas untuk pengujian kekuatan tanah. Tipikal hasil uji tekan bebas disajikan dalam bentuk hubungan antara regangan dan tegangan seperti pada Gambar 1.
14

2. Metode Penelitian 2.1. Bahan dan alat Pada penelitian ini digunakan 2 jenis tanah lempung yang diambil dari daerah Krembangan Wates berwarna coklat dan dari daerah Karangsari Wates berwarna hitam. Alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi alat uji : kadar air, berat jenis, batas cair, batas plastis, batas susut, distribusi ukuran butir, tekan bebas dan pemadata tanah. Untuk analisis deformasi digunakan paket program Plaxis. 2.2. Prosedur Pengujian sampel-sampel tanah dilaksanakan sesuai peraturan (standard) yang banyak digunakan yaitu ASTM. Penelitian ini diawali dengan penyiapan sampel dan alat kemudian dilanjutkan dengan pengujian sifat indeks tanah terdiri dari berat jenis, batas cair, batas plastis, batas susut dan distribusi ukuran butir tanah. Selanjutnya dilakukan uji pemadatan tanah untuk mendapatkan kadar air optimum dan kepadatan maksimum. Dengan acuan kadar optimum atau kepadatan maksimum, dibuat sampel-sample tanah untuk pengujian utama (tekan bebas). Data yang yang dihasilkan dari rangkaian pengujian dievaluasi dan dibuat korelasi perubahan parameter kekuatan tanah terhadap variasi perubahan kandungan air. Untuk aplikasi analisis deformasi bangunan teknik sipil, dibuat model sederhana sebuah jalan dengan lapis keras fleksibel dibebani kendaraan dan dievaluasi deformasinya. 2.3. Aplikasi Untuk mengetahui pengaruh perubahan kadar air terhadap stabilitas dan deformasi suatu kondisi atau bangunan teknik sipil, model sederhana dibuat dengan menggunakan parameter yang berubah-ubah akibat perubahan kadar air tanah. Model sederhana yang dipilih adalah sebuah jalan dengan lapis keras fleksibel yang dievaluasi deformasinya. 3. Hasil dan pembahasan 3.1. Sifat umum dan klasifikasi tanah Tanah yang digunakan pada penelitian ini mempunyai kadar air lapangan sekitar 28.95% untuk lempung coklat dan 26.80% untuk lempung hitam. Berat jenis tanah lempung coklat sebesar 2.58 dan lempung hitam sebesar 2.59. Kedua jenis tanah yang digunakan ini termasuk tanah yang mempunyai plastisitas tinggi. Batas cair lempung coklat mencapai 94.46% dengan batas plastis 29.46% dan batas cair lempung hitam sebesar 86.92% dengan batas plastis 35.18%. Lempung coklat termasuk tanah dengan plastisitas ekstrim tinggi (CE) sedangkan lempung hitam masuk kelompok tanah berplastisitas sangat tinggi (CV)

Tegangan,

12

max = qu

10

1/2max

0 0 2 4 6 Regangan, 8 10

Gambar 1. Tipikal hasil uji tekan bebas Dari hasil uji tekan bebas, tegangan maksimum disebut dengan kuat tekan bebas tanah (qu). Parameter tanah jenuh air (kohesi undrained, cu) didekati dengan : (2) cu = qu/2 Parameter kekuatan yang lain berupa modulus elastis tanah (E) adalah kemiringan garis lurus penghubung titik (0.0) dengan titik di grafik tekan bebas dengan tegangan setengah dari tegangan maksimum, disebut juga sebagai modulus sekan, sebagai berikut. E =/ (3) Gambaran nilai modulus elastis tanah dilaporkan oleh [4], untuk lempung mulai 2000 kPa untuk lempung sangat lunak sampai 100000 untuk Analisis Deformasi Analisis deformasi pada tanah akibat beban dapat dimodelkan sebagai 1 set persamaan matematik yang berupa hubungan tegangan dan regangan. Model material sering disajikan dalam bentuk laju kenaikan tegangan (stress rates) dikaitkan dengan laju kenaikan regangan (strain rates). Analisis selanjutnya digunakan paket program Plaxis.

[3]. Kondisi plastisitas tersebut mengindikasikan bahwa kedua lempung tersebut bersifat ekspansif. Sifat ekspansif kedua tanah tersebut dikuatkan dengan nilai batas susut tanah. Kedua lempung yang digunakan mempunyai batas susut kurang dari 12%. Batas susut lempung coklat sebesar 9.58% dan lempung hitam sebesar 11.26%. Fraksi halus tanah (lolos ayakan no. 200) lempung coklat mencapai 99.34%, dengan fraksi lempung (<0.002 mm) sebesar 18%. Aktivitas tanah sebesar 3.62, sehingga dapat masuk kelompok lempung ekspansif. Lempung hitam mempunyai fraksi halus sekitar 92.54% dengan fraksi lempung 15%. Aktivitas lempung hitam tercatat sebesar 3.45, dan termasuk kelompok lempung ekspansif. Kepadatan maksimum (MDD) lempung coklat sebesar 1.40 gr/cm3 dan lempung hitam sebesar 1.26 gr/cm3, menunjukkan bahwa kedua tanah tersebut akan menghasil performa yang kurang baik jika digunakan sebagai timbunan jalan atau subgrade. Kadar air optimum (OMC) lempung coklat sebesar 29.81% dan lempung hitam sebesar 36.72%. Jika dibandingkan dengan batas plastis tanah, maka dapat diindikasikan bahwa pada pekerjaan pemadatan tanah kohesif dengan tenaga pemadat standar, kadar air optimum tanah pada kepadatan maksimum akan berada di sekitar batas plastis tanah. 3.2. Pengaruh kadar air terhadap qu Pengaruh kadar air terhadap perubahan kekuatan tanah, ditunjukkan pada Gambar 2.

atas 60%. Ketahanan lempung hitam terhadap perubahan kadar dibandingkan dengan yang coklat dikarenakan batas plastis lempung hitam lebih tinggi dibandingkan dengan lempung coklat. Pada saat lempung coklat sudah melunak pada kadar air lebih dari 30%, lempung hitam masih cukup kuat karena batas plastis dan kadar air optimum pemadatan standar tanah ini di sekitar 36%. Dengan demikian lempung hitam akan mulai melunak pada kadar air lebih dari 36%. Penggambaran kuat tekan bebas tanah terhadap indeks kecairan (Gambar 3) memberikan indikasi yang berbeda. Kekuatan tanah dengan kadar air di bawah batas plastis tanah (LI negatif) paling tidak berada pada konsistensi kaku (stiff) atau sangat kaku, dan semakin keras dengan berkurangnya kadar air. Pada LI antara 0.15 sampai 0.20, umumnya tanah berada pada konsistensi sedang (medium). Lempung akan menjadi lunak pada LI melebihi 0.25 sampai 0.30, dan selanjutnya menjadi sangat lunak. Lempung coklat cenderung lebih cepat mengalami penurunan kekuatan. Hal ini diperkirakan karena lempung coklat mempunyai batas plastis yang lebih rendah dan mempunyai indeks plastisitas yang lebih besar.

Gambar 3. Kuat tekan bebas sampel tanah terhadap indeks kecairan 3.3. Pengaruh Kadar Air Terhadap Densitas Tanah Perubahan kadar air tanah terhadap densitas menunjukkan pola yang mirip, baik dilihat dari besarannya maupun pola perubahan densitasnya. Perubahan densitas ditinjau terhadap indeks kecairan (Gambar 4), lempung coklat yang mempunyai batas plastis lebih rendah dan kepadatana maksimum lebih besar, densitas tanah akan cepat turun. Sebaliknya, lempung hitam mempunyai batas plastis yang lebih tinggi dengan kepadatan maksimum yang lebih rendah, maka perubahan densitas terhadap kenaikan indeks kecairan tanah akan menjadi lambat yang ditunjukkan dengan grafik hubungan perubahan densitas terhadap indeks kecairan, lebih landai. 3.4. Pengaruh Kadar Air Terhadap Volume Tanah Pengaruh perubahan kadar air tanah terhadap perubahan volume tanah, disajikan pada Gambar 5. Perubahan volume spesifik kedua tanah yang diuji terhadap perubahan kadar air tanah hampir sama, karena kondisinya jenuh. Korelasi volume spesifik

Gambar 2. Korelasi kadar air terhadap qu Kekuatan tanah (qu) tampak sangat tinggi di kadar air sekitar 20%. Kondisi keras di kadar air rendah ini akan turun cukup drastis jika kadar air naik. Pada kadar sekitar 35%, kedua lempung tersebut sudah menjadi agak lunak dengan konsistensi sedang dan jika kadar air ditingkatkan lagi, tanah menjadi lunak. Lempung coklat menjadi lunak pada kadar air sekitar 44% dan diperkirakan menjadi sangat lunak pada kadar air di atas 50%. Lempung hitam mempunyai kekuatan yang lebih baik pada kadar yang lebih tinggi, dengan mencapai konsistensi lunak pada kadar air sekitar 53% dan diperkirakan menjadi sangat lunak pada kadar air di

terhadap indeks kecairan sebagaimana ditunjukkan Gambar 5, tanah yang mempunyai indeks plastis besar akan menunjukkan kemiringan perubahan volume spesifik yang lebih tegak, dan sebaliknya, jika indeks plastis tanah kecil, grafik hubungan volume spesifik terhadak indeks kecairan akan menjadi lebih landai.

3.6. Pengaruh Kadar Air Terhadap Modulus Elastis Tanah Modulus elastis tanah (E) ditinjau sebagai secant modulus pada kondisi tegangan puncak (qu) dan pada setengah tegangan puncak, dirangkum pada Gambar 7.
100000

10000 E,kN/m2 1000

100 0

Lempungcoklatdiqumaks" Lempungcoklatdi0.5qu" Lempunghitamdiqumaks Lempunghitamdi0.5qu 10 20 30 Kadarair,% 40 50 60

Gambar 4. Densitas sampel tanah terhadap kadar air dan indeks kecairan

Gambar 7. Modulus elastis tanah (secant modulus) Nilai modulus elastis pada tegangan 0.5qu memberikan hasil yang lebih besar dibandingkan modulus elatis pada tegangan maksimum (qu) dengan kisaran antara kelipatan 2 sampai 4 untuk lempung coklat dan antara kelipatan 2 sampai 8 untuk lempung hitam. Pada penelitian ini, nilai modulus elatis pada tegangan 0.5qu masih berada di bawah nilai modulus elastis yang disarankan [4]. Kemungkinan, nilai yang disarankan [4] tersebut adalah modulus tangent yang merupakan garis singggung dari grafik yang terbesar sehingga didapatkan nilai modulus elastis yang maksimum. 3.7. Deformasi model tanah dasar jalan Untuk analisis pengaruh perubahan kadar air tanah terhadap deformasi bangunan, dipilih model jalan sederhana dengan lapis keras fleksibel seperti ditunjukkan pada Gambar 8.

Gambar 5. Volume spesifik sampel tanah terhadap indeks kecairan 3.5. Pengaruh densitas tanah terhadap qu tanah Kenaikan densitas memberikan pengaruh yang yang besar pada kenaikan kuat tekan bebas sampel tanah (Gambar 6). Kedua lempung mempunyai kecenderungan peningkatan kekuatan yang hampir sama, walaupun kekuatan lempung coklat berada sedikit di bawah lempung hitam. Pola peningkatan kekuatan yang sama terjadi pada kepadatan sampai sekitar 1.50 g/cm3 dan selanjutnya lempung hitam cenderung mempunyai peningkatan kekuatan yanag lebih besar. Hal ini diperkirakan karena lempung hitam mempunyai kepadatan maksimum yang lebih rendah sehingga tingkat kepadatannya lebih tinggi.

Gambar 8. Skema model jalan untuk analisis deformasi Model jalan tersebut terdiri dari lapis permukaan setebal 10 cm, lapis fondasi setebal 20 cm, lapis fondasi bawah setebal 20 cm dan tanah dasar yang divariasikan dengan 3 jenis tanah sebagaimana disebutkan pada Tabel 2. Pengaruh perubahan kadar air dievaluasi dengan menganalisis deformasi material di bawah lapis keras fleksibel dengan tanah 1 sebagai dasar pembanding. Akibat perendaman, tanah dasar dasar jalan menjadi tanah 2. Untuk perendaman yang lama, tanah dasar jalan

Gambar 6. Korelasi kuat tekan bebas terhadap densitas tanah

menjadi tanah 3. Beberapa parameter lain untuk analisis diambil nilai pendekatan. Tabel 2. Data tanah untuk input parameter
No 1 2 3 Tipe Tanah 1 Tanah 2 Tanah 3 sat kN/m 18.5 18 17.5
3

cu kN/m 100 50 25
2

phi .. 5 3 1

E kN/m
2

e.

5000 3000 1500

f.

Hasil analisis deformasi dengan program Plaxis pada kondisi tanah dasar berupa tanah 1 (kondisi awal) akibat beban gandar kendaraan 80 kN, didapatkan penurunan sebesar 3.6 cm. Analisis deformasi dengan tanah dasar jalan berupa tanah 2 menghasilkan penurunan sebesar 5.9 cm. Pada analisis deformasi dengan tanah dasar berupa tanah 3, penurunan jalan akan menjadi cukup besar yaitu sekitar 11.5 cm

g.

h.

diplotkan terhadap indeks kecairan tanah, lempung dengan indeks plastis yang besar memberikan grafik yang lebih tegak. Perubahan kadar air terhadap volume jika diplotkan terhadap indeks kecairan, tanah berindeks plastis besar memberikan kemiringan grafik yang lebih tegak. Kedua lempung yang diuji menjadi kaku (stiff) pada densitas yang sama yaitu diatas 1.30 gr/cm3, walaupun tanah mempunyai kepadatan maksimum dan kadar air optimum berbeda, Modulus elastis tanah (secant modulus) pada 0.5qu memberikan hasil yang lebih kecil dibandingkan nilai modulus yang disajikan oleh referensi. Analisis deformasi pada model sederhana jalan memberikan gambaran bahwa penurunan kekuatan tanah berakibat meningkatnya deformasi tanah dan jalan sampai tingkat yang dapat menimbulkan kerusakan.

Daftar pustaka [1] A.D Adi, 2006, Studi Kerusakan Jalan Piyungan Wonosari dari Aspek Geoteknik, Forum Teknik FT UGM, No. 1 Vol. 30. [2] B.M. Das, 1990, Principles of Geotechnical Engineering, Third Edition, PWS-KENT Publishing Company, Boston [3] British Standard 5930, 1981, Code of Practice for Site Investigation, British Standards Institution, London [4] J.E. Bowles, 1982, Foundation Analysis and Design, Third Edition, McGraw Hill International Book Company, Tokyo [5] R.A.A. Soemitro, E. Kurniawan, dan A. Suwito, 2009, Assesment to the Field Evaluation of Soft Clay Subgrades Induced Flexible Pavement Condition, Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XIII, Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia, Bali. [6] R.H.G. Parry dan C.P. Wroth, 1981, Shear Stress-Strain Properties of Soft Clay, Soft Clay Engineering, Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam.

Gambar 9. Analisis deformasi jalan dengan tanah 1 sampai 3 Penurunan jalan dan tanah dasar dengan kemungkinan 3 jenis tanah dasar dirangkum dalam Gambar 9. Deformasi terbesar terjadi pada tapak roda yang mendukung langsung beban kendaraan dan muatannya. Bagian tengah antara kedua tapak roda ikut mengalami penurunan yang cukup besar pula. Apabila lajur yang satunya mengalami penurunan yang sama/mirip, maka dapat dipastikan seluruh badan jalan akan mengalami penurunan yang cukup besar dan kerusakan jalan tidak dapat dihindarkan. 4. Kesimpulan a. Tanah yang diteliti termasuk lempung dengan plastisitas sangat tinggi (CV) dan plastisitas ekstrim tinggi (CE), dan dapat dimasukkan ke dalam kelompok tanah ekspansif. b. Kepadatan maksimum tanah lempung dengan uji pemadatan standar, terjadi pada kadar air optimum di sekitar batas plastis tanah. c. Tanah lempung yang diuji menjadi lunak pada kadar air antara 45% sampai 50% dan menjadi sangat lunak di kadar air antara 55% sampai 60%. d. Perubahan densitas tanah terhadap perubahan kadar menunjukkan pola yang sama. Jika