Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT (FBA)

PRAKTIKUM-IV

Analisis Etil Parametoksi Sinamat dari Rimpang Kencur

Nama NIM Kelas/Golongan Kelompok

: Dita Mayasari : 09/284457/FA/08338 : FBA/III :2

Tanggal praktikum : 19 Oktober 2011 Dosen jaga Asisten jaga Asisten koreksi : Prof. Dr. Wahyono, Apt. : Dian, Lely :

LABORATORIUM AKTO FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011

Praktikum 4 Analisis Etil Parametoksi Sinamat dari Rimpang Kencur


I. PENDAHULUAN Praktikum ini bertujuan untuk memahami prinsip langkah-langkah dan mampu melakukan isolasi serta identifikasi isolat secara kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah serbuk rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) dan isolat yang diambil adalah etil parametoksi sinamat. Klasifikasi dari tanaman kencur sebagai berikut : divisi : Spermatophyta

anak divisi : Angiospermae kelas bangsa suku marga jenis : Dicotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae : Kaempferia : Kaempferia galanga L. (Syamsuhidayat,1991)

Kencur mempunyai efek analgetik, antipiretik, antifungi, antikarsinogenik, anti masuk angin, tetanus, obat radang lambung, sakit kepala, demam malaria, dan penambah nafsu makan. Kandungan kencur adalah pati (4,14%), mineral (13,73%), minyak atsiri (0,02%), sineol, asam metal kanil, etil ester sinamat, asam sinamat, borneol, kamfer, parameumisin, asam anisat, dan flavonoid. Kandungan utama kencur adalah etil parametoksi sinamat yang berefek analgetik dan diduga bertanggungjawab pada efek penambah nafsu makan. Struktur etil parametoksi sinamat sebagai berikut :

Sebagai ester asam sinamat dengan gugus fenol termetilasi, etil parametoksi sinamat larut baik dalam heksana, petroleum eter, tetapi juga larut dalam etanol dan tidak larut dalam air. Etil parametoksi sinamat secara kuantitatif dapat diekstraksi dengan etanol dan dikristalisasi melalui pemekatan dan pendinginan. Secara kualitatif, etil parametoksi sinamat dapat dideteksi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan pereaksi anisaldehid-asam sulfat dan vanillin-asam sulfat (Anonim, 1977).

II.

SKEMA KERJA 30 gram serbuk rimpang kencur ditambah 200 mL etanol 95%

Dilakukan pengojokan dengan pembagian sebagai berikut : Kel.1 dan 2 : digojok selama 1 minggu Kel.3 dan 4 : digojok selama 1 hari, lalu dimaserasi selama 1 minggu dan setiap hari dilakukan penggojokan manual selama 2 menit Kel.5 : digojok selama 30 menit lalu dimaserasi selama 1 minggu

Maserat disaring

Filtrat diuapkan pada cawan porselen di atas penangas air hingga volume 10 mL

Filtrat dituang ke dalam Erlenmeyer bertutup, sisa yang tertinggal dicuci dengan 5 mL etanol 95% dan dicampurkan ke dalam Erlenmeyer

Kristalisasi dengan menyimpan cairan dalam almari pendingin min. 24 jam

Kristal disaring

Kertas saring dan kristal dikeringkan di oven 50C, ditimbang

Bentuk kristal dan jarak lebur diamati di bawah mikroskop

Uji kelarutan dan uji KLT

III.

HASIL DAN ANALISIS DATA Perhitungan rendemen kristal Kelompok Bobot kertas saring + kristal (gram) 1 2 3 4 5 0,59 0,52 0,53 0,63 0,54 Bobot kertas saring (gram) 0,37 0,36 0,38 0,42 0,37 Bobot kristal (gram) 0,22 0,16 0,15 0,21 0,17

Uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) No. 1 2 Totolan Sampel Pembanding Sebelum disemprot UV 254 UV 366 Tampak Setelah disemprot UV 366 Tampak -

KLT tersebut dilakukan dengan sistem : Fase diam Fase gerak Pembanding : Silika gel G : Toluena : Kencur

Jumlah totolan : 2 totolan Jarak elusi Deteksi : 8 cm : Lampu UV 254 dan 366 nm, pereaksi semprot anisaldehid-asam sulfat

(dipanaskan 5 menit pada suhu 110C)

Setelah disemprot pada sinar tampak dan lampu UV 366 nm

IV.

PEMBAHASAN Isolasi etil parametoksi sinamat dilakukan dengan cara maserasi serbuk rimpang kencur

dengan 200 mL etanol 95%. Pelarut yang digunakan adalah etanol 95% karena etil parametoksi sinamat larut dalam etanol sehingga senyawa dapat ditarik keluar. Campuran serbuk dan etanol lalu digojok dengan perlakuan sebagai berikut: kelompok 1 dan 2 digojok selama 1 minggu dengan shaker, kelompok 3 dan 4 digojok selama 1 hari dengan shaker, lalu dimaserasi selama 1 minggu dan setiap hari dilakukan penggojokan manual selama 2 menit, sedangkan kelompok 5 digojok selama 30 menit dengan shaker lalu dimaserasi selama 1 minggu. Tujuan penggojokan untuk mengalirkan penyari berulang-ulang ke dalam serbuk. Larutnya zat aktif terjadi bila penyari menembus dinding sel akibat perbedaan kadar zat aktif di dalam dan di luar sel sehingga terjadi difusi. Perbedaan perlakuan penggojokan untuk mengetahui pengaruh penggojokan terhadap banyaknya zat aktif yang terlarut. Setelah pengojokan dilakukan maserasi. Maserasi adalah proses ekstraksi dingin yang berprinsip pada difusi, dimana perendaman serbuk dalam cairan penyari yang bertujuan untuk melarutkan zat aktif dalam bahan ke cairan penyari. Tujuan maserasi selama 1 minggu agar semua zat aktif keluar dari serbuk sehingga diperoleh isolat dalam jumlah banyak. Satu minggu kemudian, maserat disaring dan filtrat diuapkan di atas penangas air hingga volume 10 mL. Pemekatan bertujuan untuk memperbesar kadar etil parametoksi sinamat dalam pelarut etanol sehingga banyak kristal yang didapat. Filtrat pekat dituang ke dalam Erlenmeyer bertutup, sedangkan sisa filtrat dicuci dengan 5 mL etanol 95% dan dicampur. Selanjutnya, kristalisasi dilakukan dengan menyimpan ke dalam almari pendingin dan diambil lagi ketika praktikum selanjutnya. Prinsip kristalisasi ini yaitu perbedaan kelarutan etil parametoksi sinamat pada keadaan panas dan dingin. Etil parametoksi sinamat tidak larut etanol pada keadaan dingin sehingga dapat dipisahkan dari pelarutnya dengan penyaringan. Kristal yang diperoleh disaring dengan kertas saring dan dikeringkan di oven bersuhu 50C. Kristal yang diperoleh berwarna putih bening lalu ditimbang dan diperoleh bobot kertas saring dan kristal masing-masing kelompok berurutan : 0,59 gram; 0,52 gram; 0,53 gram; 0,63 gram; dan 0,54 gram. Bobot kertas saring masing-masing kelompok berurutan : 0,37 gram; 0,36 gram; 0,38 gram; 0,42 gram; dan 0,37 gram. Bobot kristal masing-masing kelompok berurutan : 0,22 gram; 0,16 gram; 0,15 gram; 0,21 gram; dan 0,17 gram. Hasil ini kurang sesuai teori dimana semakin lama waktu penggojokan maka semakin banyak zat aktif yang terlarut dalam penyari dan semakin banyak kristal yang diperoleh. Hal ini dapat disebabkan rusaknya senyawa etil parametoksi sinamat pada pemanasan di atas penangas air maupun proses kristalisasi yang kurang karena keterbatasan waktu. Kristal selanjutnya diamati bentuk dan jarak lebur di bawah mikroskop, uji kelarutan dalam petroleum eter, etanol, dan air. Namun, keterbatasan kristal memungkinkan hanya dilakukan uji KLT. Sebelumnya, isolat dilarutkan sedikit dengan pelarut etanol 95% untuk memudahkan penotolan pada pelat KLT.

Uji kualitatif KLT menggunakan fase diam silika gel G dan fase gerak toluena. Sampel dan pembanding kencur ditotolkan hingga totolan terlihat jelas pada lampu UV. Sebelum elusi, bejana dijenuhkan dengan fase gerak agar kecepatan elusi di setiap sisi sama. Penjenuhan dilakukan dengan meletakkan kertas saring terjuntai pada bejana berisi fase gerak. Apabila kertas saring sepenuhnya telah terbasahi barulah dikatakan jenuh. Setelah elusi dengan jarak pengembangan 8 cm, pelat dikeluarkan, dikeringkan, dan diamati pada lampu UV 254 dan 366 nm. Pengamatan pada UV 254 dan 366 nm maupun dengan sinar tampak tidak menunjukkan adanya bercak. Untuk memperkuat identifikasi, penyemprotan dilakukan dengan pereaksi semprot anisaldehid-asam sulfat yang mendeteksi adanya senyawa turunan fenol yang memberikan warna bercak ungu. Pereaksi ini akan mengabstraksi H+ sampel sehingga terbentuk ikatan rangkap terkonjugasi. Semakin lama reaksi berlangsung maka senakin panjang ikatan terbentuk. Oleh karena itu, pengamatan dilakukan dengan cepat dan teliti. Setelah disemprot, pengamatan pada lampu UV 254 dan 366 nm maupun sinar tampak tetap tidak menunjukkan adanya bercak sehingga tidak dapat diketahui apakah sampel mengandung etil parametoksi sinamat. Hal ini dapat disebabkan oleh kadar etil parametoksi sinamat yang kecil maupun kristal yang tidak murni saat penotolan, rusaknya senyawa etil parametoksi sinamat akibat pemanasan di atas penangas air, tidak murninya pembanding kencur (etil parametoksi sinamat) yang tidak menunjukkan bercak, serta sistem KLT yang kurang sesuai dalam fase gerak.

V.

KESIMPULAN 1. Etil parametoksi sinamat merupakan kandungan utama rimpang kencur (Kaempferia galanga L.). 2. Etil parametoksi sinamat dapat diisolasi dari serbuk rimpang kencur dengan cara maserasi menggunakan etanol 95%. 3. Prinsip kristalisasi etil parametoksi sinamat adalah perbedaan kelarutan etil parametoksi sinamat yang tidak larut etanol dalam keadaan dingin. 4. Hasil praktikum : a. Kristal yang diperoleh berwarna putih bening dengan bobot berurutan 0,22 gram; 0,16 gram; 0,15 gram; 0,21 gram; dan 0,17 gram. b. Uji KLT tidak menunjukkan adanya senyawa etil parametoksi sinamat karena sampel dan pembanding tidak terlihat. 5. Semakin lama waktu penggojokan maka semakin banyak zat aktif yang terlarut dalam penyari dan semakin banyak kristal yang diperoleh.

VI.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid I, Depkes RI, Jakarta Riyanto, S., 1987, Seminar Nasional Metabolit Sekunder, PAU Bioteknologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Stahl, E., 1973, Drug Analysis by Chromatography and Microscopy, Ann Arbor Science Publisher Inc. Syamsuhidayat, Sri S., 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Depkes RI, Jakarta

Yogyakarta, 23 Oktober 2011 Asisten koreksi, Praktikan,

Dita Mayasari