Anda di halaman 1dari 14

ORIENTASI PERKAWINAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

MAKALAH Diajukan untuk melengkapi salah satu tugas Mata Kuliah: Sosiologi dan Psikologi Keluarga

Dosen Pembimbing: Dr. H. Achmad Junaidi, M.Ag

Oleh: MUHAMMAD FARICH MAKMUR NIM. 08 3911010

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER MEI 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.1 Seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak terdapat kasus mengenai perkawinan, hal itu disebabkan karena ketidakmampuan kedua belah pihak baik suami maupun istri untuk menyesuaikan perubahanperubahan yang terjadi setelah perkawinan. Dalam perkawinan terdapat dua pribadi yang berbeda, sehingga diperlukan adaptasi satu sama lain untuk menghindari masalahmasalah dalam perkawinan uyang bisa berakibat pada perceraian. Oleh sebab itu selama adaptasi dengan pasangan hidupnya terjadi perubahan psikologi pada diri masing masing. Selama ini yang menjadi sebuah rahasia publik adalah apa sebenarnya tujuan dari perkawinan itu dilangsungkan, karena setiap individu tentunya mempunyai tujuan-tujuan dan orientasi perkawinan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dapat diasumsikan bahwa keragaman tujuan serta orientasi perkawinan setiap masing-masing individu. Hal ini sebanarnya dalam beberapa disiplin ilmu pengatahuan telah dijabarkan bagaimana tujuan diadakannya perkawinan itu, baik dalam hukum-hukum positif Indonesia, dalam Hukum Islam dan juga dalam ilmu psikologi. Atas dasari itulah maka penulis merasa sangat penting untuk mengangkat masalah ini kedalam sebuah pembahasan makalah pada kesempatan kali ini, yaitu mengenai apa sebenarnya orientasi perkawinan ketika ditinjau dari sisi psikologi. Sehingga
1

nantinya

diharapkan

menjadikan

sebuah

pemahaman

yang

Wikipedia Eksiklopedia Bahasa Indonesia, Tentang (http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan), diakses Tanggal 23 Mei 2013

Perkawinan,

komprehensip

mengenai

masalah

tersebut,

sehingga

solusi

yang

akan

dimunculkannya pun nantinya diharapkan akan dapat menjawab kebutuhan masyarakat saat ini. B. Rumusan Masalah Agar supaya pembahasan dalam makalah ini fokus dan tidak terlalu melebar, maka disini akan penulis rumuskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa hakekat perkawinan itu sebenarnya? 2. Bagaimana orientasi perkawinan dalam perspektif ilmu psikologi? C. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah untuk mejawab rumusan diatas, yaitu sebagai berikut: 1. Mendeksripsikan bagaimana hakikat perkawinan. 2. Mendeskripsikan psikologi. orientasi perkawinan dalam perspektif ilmu

BAB II PEMBAHASAN A. Kilas Pandang Tentang Perkawinan Perkawinan adalah kata benda turunan dari kata kerja dasar kawin. Kata itu berasal dari kata jawa kuno ka-awin atau ka-ahwin yang berarti dibawa, dipikul, dan diboyong, kata ini adalah bentuk pasif dari kata jawa kuno awin atau ahwin. Selanjutnya kata itu berasal dari kata vini dalam Bahasa Sanskerta.2 Menurut pendapat Duvall dan Miller perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan yang diakui secara sosial, menyediakan hubungan seksual dan pengasuhan anak yang sah, dan didalamnya terjadi pembagian hubungan kerja yang jelas bagi masing-masing pihak baik suami maupun istri.3 Menurut pendapan Seccombe dan Warner perkawinan adalah antara dua mitra yang memiliki obligasi berdasarkan minat pribadi dan kegairahan.4 Sedangkan menurut pendapat Olson dan de Frain perkawinan adalah komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumber-sumber ekonomi.5 Dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.6 Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam Perkawinan menurut hukun Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mithaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.7

Wikipedia Eksiklopedia Bahasa Indonesia, Tentang Perkawinan, (http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan), diakses Tanggal 23 Mei 2013 3 Olson, D.H.,DeFrain, J. Marriages & Families. (Boston : McGrawHill. 2006), 17 4 Olson, D.H.,DeFrain, J 17 5 Olson, D.H.,DeFrain, J 17 6 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1 7 Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam Pasal 2

Pada awalnya, masalah perkawinan merupakan masalah bersama, keputusan antar keluarga namun kemudian terjadi pergeseran dimana perkawinan merupakan bagian dari HAM, keputusan individual atau perseorangan. Menurut David Knox ada 3 (tiga) alasan positif mengapa seseorang melakukan pernikahan yaitu emotional security, companionship, desire to be a parent. Selanjutnya ia mengatakan bahwa alasan salah untuk menikah adalah physical attractiveness, economic security, pressure from parents, peers, partners or pregnancy, escape, rebellion or rescue.8 Pakar lain, Turner dan Helms menyebutkan ada dua faktor motif seseorang menikah yaitu : a. Faktor Pendorong Hal-hal yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan perkawinan adalah cinta, konformitas, legitimasi seks dan anak. b. Faktor Penarik Hal-hal yang menjadi faktor penarik untuk melakukan perkawinan adalah persahabatan, berbagi rasa dan komunikasi. Dengan perkataan lain dapat juga dikatakan bahwa melalui perkawinan akan dapat dipenuhi beberapa kebutuhan manusia yaitu : 1. 2. 3. 4. Kebutuhan fisiologis dan material; Kebutuhan psikologis; Kebutuhan sosial; Kebutuhan religious.9

Menurut Strong dan De Vault mengemukakan periodisasi dalam perkawinan dalam beberapa bagian, antara lain sebagai berikut: 1. Periode Tahun Awal Dimulai saat seseorang baru menikah dan belum memiliki anak. Tahap ini merupakan tahun yang sangat kritis, karena seseorang mengalami transisi dalam

Williams, B.K. ,Sawyer, S.C., Wahlstrom, C. M. Marriages, Families, and Intimate Relationships. A Practical Introduction. (Boston : Pearson Education,Inc. 2006), 44-45 9 Secombe,K., Warner, R.L. Marriages and Families. (Canada: Wadsworth. 2004), 13-16

kehidupannya. Tahun pertama perkawinan ini akan menentukan perkembangan perkawinan selanjutnya, apakah akan menjadi lebih baik atau malah memburuk. Masa ini berlangsung 10 tahun pertama perkawinan, yang meliputi fase perkenalan awal diikuti oleh fase menetap. Selama fase perkenalan, satu sama lain saling mengenal kebiasaan sehari-hari. Mereka menetapkan peraturan kehidupan sehari-hari,menyelesaikan sekolah, memulai karir atau merencanakan kehadiran anak pertama. Pada fase menetap, pasangan masih mengejar karir, memutuskan memiliki anak dan mengatur peran masing-masing. Mereka saling menyesuaikan harapan sesuai dengan peran yang atas dasar jender, hukum, dan pengalaman pribadi yang dipelajarinya. Satu sama lain saling memberikan pendapatnya tentang pembagian peran yang akan dijalankan sebagai pasutri. Pasutri yang memiliki latar belakang yang sama akan lebih mudah menyesuaikan diri satu sama lain, karena mempunyai harapan yang sama terhadap pasangannya. Sedangkan perbedaan latar belakang keluarga (seperti agama, suku bangsa, sosial dan keluarga yang retak) akan mengganggu proses penyesuaian perkawinan. 2. Periode Perkawinan Muda. Diawali dengan mulai adanya anak dalam kehidupan pasutri. Istri berhenti bekerja dan mengasuh anak, mulai menyesuaikan diri dengan irama kehidupan rutin dalam perkawinan. Sedangkan bagi perempuan berkarir yang tetap bekerja, harus mampu membagi waktunya dengan baik dalam mengurus rumah tangga, anak serta pekerjaannya. Hal ini tidak mudah, karena menuntut penyesuaian psikologis yang cukup besar. Untuk itu ada yang menyebutkan pada periode ini kepuasan perkawinan pada perempuan mulai berkurang. 3. Periode Tahun Pertengahan Periode ini antara tahun ke 11 sampai dengan ke 30 tahun perkawinan. Jika pasangan memiliki anak, maka fase ini diisi dengan fokus pada pengembangan anak dan pengasuhan keluarga, serta menetapkan tujuan-tujuan baru untuk masa depan. Jika pasangan tidak memiliki anak, maka fase ini

didedikasikan untuk karir, aktivitas kemasyarakatan atau tugas-tugas sosial. Titik beratnya adalah kebahagiaan dan kesejahteraan pasangan hidupnya. Pada periode ini, anak sudah berkembang menjadi remaja yang memiliki nilai-nilai dan ide pergaulan yang berbeda. Untuk itu seringkali terjadi konflik antara anak dengan orangtua. Namun pada periode ini pasutri sudah memiliki kondisi keuangan yang baik, karena istri sudah mulai bekerja kembali dan pengasuhan anak banyak berkurang. Hal lain yang terjadi, pasutri sudah mulai memasuki tanda-tanda ketuaan, sudah mulai banyak orang seumurnya yang meninggal. Reaksi yang terjadi, biasanya ada yang menarik diri dari pergaulan namun ada juga yang malah aktif membina hubungan baik dengan orang lain seperti kenalan, saudara dan anakanak. Periode ini juga merupakan masa persiapan pasutri kehadiran menantu, saudara-saudara yang baru, dan mempersiapkan diri menjadi kakek nenek, disamping harus menerima kehadiran orangtua sendiri yang sudah mulai tergantung pada mereka. 4. Periode Tahun Matang Periode ini diawali dalam tahun ke 31 saatsaat menjadi tua bersama, merencanakan pensiun, menjadi kakek nenek dan hidup sendiri tanpa pasangan serta persiapan kematian. Disebut juga periode perkawinan tua.10 B. Orientasi Perkawinan Orientasi secara bahasa adalah peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar. Pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.11 Orientasi yaitu tujuan dan bertindak sesuai tujuan tersebut yang hendak dicapai oleh seseorang, kelompok, serta kumpulan atau organisasi. Jadi, orientasi lebih luas dari sekedar tujuan dan juga bukan tujuan akhir, karena menyangkut keseluruhan tindakan, sikap, usaha, serta berhubungan erat dengan misi dan visi yang akan hendak dicapai.12

10 11

Secombe,K., Warner, R.L. ... 20-24 Arti Kata. http://www.artikata.com/arti-342993-orientasi.html, diakses tanggal 23 Mei 2013 12 Pengertian Orientasi, http://www.jappy.8m.com/custom3.html, diakses tanggal 23 Mei 2013

Jadi orientasi perkawinan adalah sebuah tujuan yang hendak dicapai dalam sebuah perkawinan secara keseluruhan baik menyangkut tindakan, sikap, usaha, serta berhubungan erat dengan misi dan visi yang akan hendak dicapai dalam sebuah perkawinan. Dalam hukum Islam tujuan perkawinan dibagi dalam beberapa bagian yaitu antara lain: 1) Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam. 2) Untuk Membentengi Akhlaq yang Luhur dan untuk Menundukkan Pandangan. Sasaran utama dari disyariatkannya pernikahan dalam Islam di antaranya adalah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pem-bentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk me-melihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. 3) Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami Jadi, tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan syariat Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syariat Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu harus kafa-ah dan shalihah.13 Seperti yang dijelaskan pada sub-bab sebelumnya bahwasanya ada beberapa tujuan perkawinan itu dilaksanakan. Akan tetapi pada pembahasan kali ini penulis mencoba menguak bagaimana orientasi pernikahan dalam sebuah
13

Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Tujuan Pernikahan Dalam Islam, (http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalam-islam/), diposting tahun 2012 diakses tanggal 23 Mei 2013

kajian yang paling vital dalam perkawinan, yaitu mengenai orientasi seksual. Dimana pada perkembangan dunia global saat ini, ini merupakan sebuah hal yang memang membutuhkan sebuah penjabaran yang komprehensip. Karena jika orientasi seksual dalam sebuah keluarga sudah mulai mengalami pergeseranpergeseran, maka ini akan menimbulkan sebuah bola salju yang semakin lama semakin membesar dan akhirnya dapat mengakibatkan keretakan dalam sebuah perkawinan. Orientasi seksual menurut Nevid, Rathus dan Rathus mendefinisikan orientasi seksual sebagai berikut: Sexual orientation is the directionality of one sexual interests toward members of the same gender, the opposite gender, or both genders. Papalia mendefinisikan orientasi seksual sebagai: Focus of consistent sexual, romantic, and affectionate interest, either heterosexual, homosexual, or bisexual. Dari kedua definisi di atas terlihat bahwa orientasi seksual adalah arah ketertarikan seksual, romantis dan kasih sayang terhadap jenis kelamin yang sama (homoseksual), berbeda (heteroseksual) atau keduanya (biseksual). Menurut Nevid, Rathus dan Rathus, orientasi heteroseksual adalah ketertarikan secara erotis dan kecenderungan untuk membina hubungan secara romantis dengan orang yang berbeda jenis kelamin dengan dirinya. Orientasi homoseksual adalah ketertarikan secara erotis dan

kecenderungan untuk membina hubungan romantis dengan orang yang jenis kelaminnya sama. Sedangkan orientasi biseksual adalah ketertarikan secara erotis dan kecenderungan untuk membina hubungan romantis dengan orang yang jenis kelaminnya berbeda dan juga dengan orang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.14 1. Bisexuality Mayoritas dari orang yang memiliki orientasi biseksual awalnya memiliki hubungan heteroseksual sebelum mereka memasukkan unsur homoseksualitas dalam hidup mereka. Tipe Biseksualitas Terdapat beberapa tipe biseksual:

14

Rah Madya Handaya, Psikologi Seksual: Orientasi Seksual, (Jakarta: Pusat Pengembangan Bahan Ajar, 2011), 1

a) Bisexuality as a real orientation Orientasi biseksual dimiliki sejak lahir dan rasa ketertarikan terhadap ke dua jenis kelamin berlangsung sampai masa dewasa. Orang yang memiliki orientasi ini kemungkinan mempunyai lebih dari satu pasangan pada saat yang bersamaan. Beberapa riset menyatakan bahwa wanita cenderung lebih mudah untuk berganti perilaku seksualnya (straight, bisexual, lesbian) dibandingkan pria. b) Bisexuality as a transitory orientation Perilaku biseksual ini bersifat sementara yang dilakukan oleh orang heteroseksual atau homoseksual, dan mereka akan kembali kepada perilaku seksual sesuai dengan orientasi seksual mereka setelah periode eksperimen selesai. Misal di penjara, sekolah asrama dengan 1 jenis kelamin. c) Bisexuality as a transitional orientation Terjadi saat seseorang memiliki orientasi seksual yang lain dan bertahan menjalani orientasi seksual tersebut. Misal: Seseorang yang telah lama menikah dan kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang lesbian. d) Bisexuality as a homosexual denial Perilaku biseksual dipandang sebagai suatu usaha untuk

menghindari dari stigma sebagai seorang homoseksual Misal: Menikah dengan lawan jenis namun tetap memiliki hubungan homoseksual.15 2. Homosexual Pengertian Davison dan Neale menyatakan bahwa sampai tahun 1973, dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), homoseksualitas, yang diartikan sebagai hasrat atau aktivitas seksual yang diarahkan pada orang yang berjenis kelamin sama, masih dianggap sebagai penyimpangan seksual. Pada tahun 1973, Nomenclature Committee of the American Psychiatric Association merekomendasikan untuk menghilangkan kategori homoseksualitas sebagai penyimpangan dan menggantinya dengan
15

Rah Madya Handaya, . , 3

10

kategori gangguan orientasi seksual. Kategori ini adalah untuk orang-orang homoseksual yang terganggu, mempunyai masalah, dan berharap untuk mengubah orientasi seksual mereka. Dalam buku DSM-III, terdapat kategori homoseksualitas yang egodistonik, yaitu orang yang mempunyai hasrat homoseksual, merasa hasrat seksual ini merupakan masalah, dan berharap dapat menjadi heteroseksual. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa orang yang mempunyai hasrat homoseksual tetapi tidak terganggu oleh hal tersebut, tidak dapat dikatakan sakit atau menyimpang. Menurut Davison dan Neale, pada edisi revisi DSM-III yang diterbitkan pada tahun 1987, diputuskan bahwa homoseksual yang ego-distonik tidak lagi dimasukkan dalam daftar sebagai suatu penyimpangan Pada DSM-IV Text Revision, yang terbit pada tahun 2000, homoseksualitas juga sudah tidak dimasukkan sebagai suatu penyimpangan. Nevid, Rathus dan Rathus menyatakan bahwa istilah homoseksualitas mengarah pada ketertarikan seksual pada sesama jenis kelamin, baik itu pada laki-laki maupun perempuan. Definisi homoseksual yang diberikan Nevid adalah: An attraction to, and preference for, developing romantic relationships with members of one own gender. Oetomo memberikan definisi mengenai orang homoseks: Orang homoseks adalah orang yang orientasi atau pilihan seks pokok atau dasarnya, entah diwujudkan atau dilakukan ataupun tidak, diarahkan kepada sesama jenis kelaminnya. Dalam memandang kaum homoseksual ini, kaum heteroseksual cenderung berfokus pada aspek seksual, padahal aktivitas seksual kaum homoseksual, seperti juga heteroseksual, hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan aktivitas mereka. Dalam hubungan kaum homoseksual terlibat banyak hal selain kegiatan seksual (Nevid, Rathus & Rathus). Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Oetomo mengenai definisi yang diberikannya di atas: Laki-laki homoseks adalah laki-laki yang secara emosional dan seksual tertarik kepada laki-laki, dan wanita homoseks adalah wanita yang secara emosional dan seksual tertarik kepada wanita. Dari penjelasan di atas dapat kita lihat adanya keterlibatan faktor emosional dalam hubungan kaum homoseksual. Menurut Peplau dan Cochran, fokus utama dalam kehidupan homoseksual adalah membangun kedekatan yang

11

romantis dengan anggota gender yang sama dan membentuk skema tentang cinta dan berbagi antara seseorang dengan pasangannya. Banyak kaum homoseksual yang tidak menyukai istilah homoseksual karena dianggap istilah tersebut terlalu berfokus pada perilaku seksual saja. Mereka lebih menyukai istilah gay untuk laki-laki dan lesbian untuk perempuan. Oetomo menyatakan bahwa penggunaan istilah gay dan lesbi mengacu pada gaya hidup, sikap bangga dan keterbukaan. Etiologi Homoseksual Banyak teori yang mencoba menjelaskan faktor-faktor penyebab seseorang menjadi homoseksual. Sampai saat ini tidak ada jawaban yang pasti mengapa sebagian orang menjadi homoseksual dan yang lainnya menjadi heteroseksual. Pandangan Biologis Psikolog Michael Bailey dan Richard Pillard menyatakan bahwa faktor biologislah penyebabnya, yaitu adanya gay yang mempengaruhi perkembangan seseorang menjadi gay.16

16

Rah Madya Handaya, . , 4-6

12

BAB III KESIMPULAN Perkawinan adalah komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumbersumber ekonomi. Perkawinan juga didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan mempunyai sebuah orientasi atau tujuan yang ingin dicapai dalam perspektif psikologi perkawinan merupakan sarana untuk menyalurkan beberapa kebutuhan diantaranya: 1. Kebutuhan fisiologis dan material; 2. Kebutuhan psikologis; 3. Kebutuhan sosial; 4. Kebutuhan religious.

13

DAFTAR PUSTAKA

Arti Kata. http://www.artikata.com/arti-342993-orientasi.html, diakses tanggal 23 Mei 2013 Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam Pasal 2 Olson, D.H.,DeFrain, J. Marriages & Families. (Boston : McGrawHill. 2006), 17 Pengertian Orientasi, http://www.jappy.8m.com/custom3.html, diakses tanggal 23 Mei 2013 Rah Madya Handaya, Psikologi Seksual: Orientasi Seksual, (Jakarta: Pusat Pengembangan Bahan Ajar, 2011), 1 Secombe,K., Warner, R.L. Marriages and Families. (Canada: Wadsworth. 2004), 13-16 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1 Wikipedia Eksiklopedia Bahasa Indonesia, Tentang Perkawinan,

(http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan), diakses Tanggal 23 Mei 2013 Williams, B.K. ,Sawyer, S.C., Wahlstrom, C. M. Marriages, Families, and Intimate Relationships. A Practical Introduction. (Boston : Pearson Education,Inc. 2006), 44-45 Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Tujuan Pernikahan Dalam Islam,

(http://almanhaj.or.id/content/3232/slash/0/tujuan-pernikahan-dalamislam/), diposting tahun 2012 diakses tanggal 23 Mei 2013