Anda di halaman 1dari 33

DIARE AKUT et causa INTOLERAN LAKTOSA

KELOMPOK 2

penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya >3x/hari disertai konsistensi tinja menjadi cair, dengan/tanpa darah dan atau lendir.

INFEKSI

NON INFEKSI

Bakteri Virus Fungi Parasit

ALERGI

Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare osmotik, sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus. Diare osmotik terjadi karena terdapatnya bahan yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus akan difermentasi oleh bahteri usus sehingga tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan menarik cairan. Diare sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi c AMP dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit. Sedangkan diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat adanya gangguan pada kontrol otonomik,misal pada diabetik neuropathi, post vagotomi, post reseksi usus serta hipertiroid.

Mulut Farings Esofagus Gaster Usus halus (duodenum,ileum,jejunum) Usus besar (caecum, apendiks, kolon, dan rectum) Anus

1. Mulut Histologi : Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk Histopatologi : Carcinoma sel skuamosa Fungsi pada saluran pencernaan : Mengunyah Saliva mencerna karbohidrat dengan bantuan enzim amilase, anti bakteri, mempermudah menelan.

2. Faring dan Esofagus Histologi : Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk Histopatologi : Carcinoma sel skuamosa Fungsi pada saluran pencernaan : Sebagai saluran untuk lewatnya makanan Mensekresi mukus sebagai pelindung dari makanan yg tajam, enzim dan asam dari lambung.

3. Gaster Cardia Epitel selapis torak Fundus Epitel selapis torak Fungsi pada saluran pencernaan :
Sel parietal Membentuk asam HCL yg ,mensekresi factor

intrinsik gaster. Sel principal Menghasilkan pepsinogen

Pilorus Epitel selapis torak

Fungsi pada saluran pencernaan : Mensekresi mukus dan di antara mukus nya terdapat sel G ( gastrin ) yang berfungsi merangsang pelepasan sekresi asam dari kelenjar fundus. Fungsi gaster : -Menampung makanan -Mencampur makanan -Pengosongan lambung melalui pembukaan sfinter piloricum. -Histopatologi : Adenocarcinoma

4. Usus Halus ( intestinum Tenue ) Duodenum Jejunum Ileum Histologi : Epitel selapis torak dengan sel goblet Histopatologi : Limfoma maligna Fungsi pada saluran pencernaan :
Mengangkut bahan makanan ( chime ) dari lambung ke

usus besar Menyelesaikan pencernaan dengan secret enzim yang berasal dari dinding usus halus Menyerap hasil akhir pencernaan ke dalam pembuluh darah dan pembuluh limfe pada dindingnya Mensekresi hormon

5. Usus Besar ( Intestinum Crasum ) Colon Caecum Colon Ascendens Colon Tranversum Colon Descendens Colon Sigmoid Histologi : Epitel selapis torak dengan sel goblet Histopatologi : Adenocarcinoma Fungsi pada saluran pencernaan :

Absorbsi air Membentuk masa feses Menghasilkan lendir untuk melumasi permukaan mukosa Terdapat Limfosit Membentuk nodulus limfatikus

Jumlah Cairan Tubuh Manusia(dalam %)


Intraseluler BBLR NEONATUS 30 % 35 % Ekstraseluler 50 % 35 40 %

ANAK-ANAK
DEWASA

35 %
40 45 %

30 %
15 20 %

KATION
Na : 142 K:5 Ca : 5 Mg : 3 Cl: 103 SO4: 1 HPO4: 2

ANION
HCO3 : 27

Asam Organik: 6 Protein: 6

155

155

PH cairan tubuh dipertahankan dengan cara:

Sistem Buffer Sistem ini akan mengubah asam dan basa menjadi asam dan basa lemah HCl + NaHCO3H2CO3 + NaCl (asam kuatasam lemah) Na(OH) + H2CO3 NaHCO3 + H2O (basa kuat basa lemah)
Homeostasis Respiratorik

Homeostasis ginjal

Kelebihan asam akan dikeluarkan oleh ginjal dengan jalan membentuk urin yang asam, sebagian besar dalam bentuk amonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk merubah jumlah asam atau basa

Air yang keluar dari tubuh lebih banyak dari pada cairan yang masuk. Keluarnya air biasanya disertai elektrolit.

Tergantung dari jumlah air atau elektrolit yang

banyak dikeluarkan maka mungkin terjadi: Dehidrasi isotonik : tidak ada perubahan konsentrasi elektrolit darah (kadar Na : 130150 mEq/L) Dehidrasi hipotonik : konsentrasi elektrolit dalam darah turun (kadar Na : <130 mEq/L) Dehidrasi hipertonik : konsentarsi elektrolit dalam darah naik (kadar Na: >150 mEq/L)

Penentuan Derajat Dehidrasi ( Modifikasi Skor Maurice King )


Klinik
1 Keadaan Umum Terlihat sehat

Angka
2 Terlihat sakit, Gelisah 3 Sakit berat, syok Apatis, koma Jelek

Kulit

Normal

Kurang

Mata

Normal

Cekung

Sangat Cekung

Respirasi

20 30 x/menit

30 40

40 60x/menit

Nadi

< 120x/menit

120 140

> 140x/menit

Mulut

Normal

Kering

Kering, sianosis

Skor:

: Dehidrasi Ringan 7 13 : Dehidrasi Sedang > 13 : Dehidrasi Berat Berdasarkan kehilangan berat badan, dehidrasi akut dapat di bagi atas:
Dehidrasi ringan : kehilangan berat badan 21/25% Dehidrasi sedang : kehilangan berat badan 5-10% Dehidrasi berat : kehilangan berat badan >10%

<7

Tingkat Dehidrasi

Kehilangan Cairan (cc/kg BB) Berat Badan 3-10 kg 10-15 kg 30 cc >15 kg 25 cc

Dehidrasi Ringan

50 cc

Dehidrasi Sedang

80 cc

70 cc

50 cc

Dehidrasi Berat

125 cc

80 cc

80 cc

Gejala Keadaan Umum

Isotonik Apatis

Hipertonik Iritabel/gelisah

Hipotonik Koma

Kulit
Selaput Lendir Turgor Mata Ubun-ubun besar Nadi Gejala CNS

Dingin
Basah Sangat Kurang Cekung Cekung Cepat & Lemah Tidak Biasa

Variatif
Kering Berkurang Cekung Cekung Cepat & Keras Sering Kejang

Dingin
Basah Sangat Kurang Cekung Cekung Sangat Lemah Tidak Biasa

Rehidrasi Rehidrasi Oral Oralit Home made


Larutan Gula-Garam Larutan Air Tajin Air Kelapa Muda

Oralit Lengkap Kemasan Oralit Standar WHO : Nacl, Natrium Bikarbonat, KCl

Pengaturan Diet (makanan & minuman) Simtomatik


Antipiretik bila disertai febris

Antibiotika

Seorang anak lelaki berusia 10 bulan dibawa ke Puskesmas karena diare yang sudah berlangsung selama 2 hari. Diare terjadi setiap kira-kira 68x/hari dengan tinja cair berlendir tanpa darah dan setiap diare sebanyak kira-kira gelas. Sehari sebelum dibawa ke rumah sakit penderita disertai muntah 3x banyak. Disamping diare anak batuk pilek disertai demam.

Identitas Pasien :
Nama : -

Usia : 10 bulan
Alamat : -

Keluhan utama : Diare selama 2 hari (Diare akut :

kurang dari dua minggu) Riwayat penyakit sekarang :


Frekuensi BAB : 6-8x/hari Konsistensi tinja : Cair, berlendir, tanpa darah

Volume tinja : gelas setiap BAB


Sehari sebelum dibawa ke Rumah Sakit muntah 3x

banyak

Batuk, Pilek, Demam (+) Haus Kencing banyak Tidak mau minum

Riwayat penyakit dahulu : Riwayat kebiasaan : Riwayat kelahiran : Keadaan Umum : Lemah Tanda Vital :
Denyut nadi : 152x/menit Takiaritmia ( N = 80 120

x/menit) Respiration Rate : 56x/menit takipneu ( N = 40x/menit) Suhu : 39 0 kompensasi dehidrasi isotonik
Berat Badan : 12 kg

Inspeksi : Fontanel mayor cekung Mata cekung Konjungtiva kering

Abdomen cembung menandakan

dehidrasi isotonik Palpasi : Perkusi : Auskultasi : Bising usus sulit di dengar

Pemeriksaan Mikroskopik
Eritrosit dalam tinja : negative tidak ada infeksi leukosit dalam tinja : negative tidak ada infeksi Tes reduksi tinja (clinetest) : positif kuat malabsorpsi

KH Clinetest dipakai untuk pemeriksaan urin dan bias juga dipakai untuk pemeriksaan dalam tinja.
Elektrolit darah :
Na+ : 152 meq/l Hipernatremia ( N = 130-150 meq/l) K+ : 2.5 meq/l Hipokalemi (N = 3,5)

Analisa gas darah :


pH : 7.22 ( N = 7,4) BE : -15 meq ( N = -3 s/d + 3 ) HCO3- : 9 meq/l ( N = 24 )

Pemeriksaan tambahan yang diperlukan :


Challenge test
Mikrobio Virus Tes Darah Lengkap

Lactose Intolerance Diare karena Virus (Norwalkvirus)

Rehidrasi :
Infus cairan tidak mengandung Na , Larutan

glukosa, dan K Oralit


Pengaturan Diet : LLM

Simtomatik : Antipiretik & Antiemetik

Ad vitam : Dubia ad bonam


Ad sanasionam : Dubia ad bonam Ad fungsionam : Dubia ad bonam

Cara menurunkan morbiditas & mortalitas

Pemberian ASI
Pemberian makananpendamping ASI Penggunaan air bersih untuk kebersihan dan

untuk minum Cuci tangan Penggunaan jamban Pembuangan tinja bayi yang aman Imunisasi campak

DAFTAR PUSTAKA
1. Suraatmaja S. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. SMF Ilmu

Kesehatan Anak FKUNUD. Denpasar: 2000. 2. . Buku Ajar Diare. Departemen Kesehatan RI. 3. Hassan R, Alatas H. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak I. Infomedika. Jakarta: 2002. Hal:283-301. 4. Murray K, Granrer K, Mayes A, Rodwell W, Bani P [Ed]. Biokimia Harper. Edisi XXIV. Jakarta : EGC; 2003. 632-643. 5. Sherwood L, Santoso L [ed]. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi II. EGC. Jakarta : 2001. 6. Junqueira C, Carreiro J, Kelley O, Komala S [ed]. Histologi Dasar. Edisi VIII. EGC. Jakarta : 1997. Hal : 279-310. 7. Behrman E, Kliegman R, Arvin M, Nelson E [ed]. Nelson Text Book of Pediatrics. Edisi XV. Volume 1. Jakarta: EGC; 1999. 266-267. 8. Sudoyo A, Setyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S [ed.]. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta: 2007. Hal:408-413. 9. Matondang S, Wahidiyat I, Sastroasmoro S. Diagnosis Fisis pada Anak. Edisi II. Jakarta: CV Sagung Seto: 2003. 112 10. http://www.idai.or.id//detil..asp