Anda di halaman 1dari 14

IMPETIGO BULOSA DAN IMPETIGO KRUSTOSA

Disusun oleh : Syinta Amelia 110.2005.263

TUGAS KEPANITERAAN DI BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

RSUD CILEGON 2013

1.1 Impetigo Bulosa a. Definisi Impetigo bulosa adalah suatu penyakit infeksi piogenik pada kulit yang superfisial dan menular disebabkan oleh staphylococcus aureus. Ditandai oleh lepuh lepuh berisi cairan kekuningan dengan dinding tegang. Terkadang tampak hipopion. b. Epidemiologi Dapat terjadi pada semua umur terutama mengenai bayi dan anak anak, sering pada anak anak usia 4 5 tahun. Mengenai kedua jenis kelamin, laki laki dan perempuan sama banyak. Lebih banyak terjadi pada daerah tropis dengan udara panas, musim panas dengan debu, hygiene yang jelek dan malnutrisi. c. Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh staphylococcus aureus group II strain 77 dan 55 yang memproduksi toksin epidermolisis. d. Gejala Klinis Keadaan umum tidak dipengaruhi. Tempat predileksi di ketiak, dada, punggung. Sering bersama sama miliaria. Terdapat pada anak dan orang dewasa. Lepuh timbul mendadak pada kulit sehat, bervariasi mulai miliar hingga lentikular dapat bertahan 2-3 hari. Kelainan kulit berupa eritema, bula hipopion. Kadang kadang waktu penderita datang berobat, vesikel / bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa. e. Faktor Predisposisi Faktor predisposisi, yaitu sebagai berikut : Daerah Lebih banyak pada daerah tropis dengan udara panas.

Iklim Iklim panas dengan banyak debu Higiene Higiene kurang Gizi Lebih sering dan lebih berat pada keadaan kurang gizi dan anemia. Lingkungan Yang kotor dan berdebu akan lebih sering dan lebih hebat.

f. Manifestasi Klinis Tempat predileksi tersering pada impetigo bulosa adalah di ketiak, dada, dan punggung. Terdapat pada anak anak dan dewasa. Kelainan kulit berupa vesikel ( gelembung berisi cairan dengan diameter 0,5 cm ) kurang dari 1 cm pada kulit yang utuh, dengan kulit sekitar normal atau kemerahan. Pada awalnya vesikel berisi cairan yang jernih yang berubah menjadi berwarna keruh. Atap dari bulla pecah dan meninggalkan gambar collarette pada pinggirnya. Krusta varnishlike terbentuk pada bagian tengah yang jika disingkirkan memperlihatkan dasar yang merah dan basah. Bulla yang utuh jarang ditemukan karena sangat rapuh. g. Diagnosis Banding
Pemphigoid bullosa

h. Komplikasi Jika vesikel / bula telah pecah dan hanya terdapat koleret dan eritema, maka mirip dermatofitosis. i. Pemeriksaan Penunjang Preparat mikroskop langsung dari cairan bula untuk mencari Staphlococcus.

j. Prognosis Secara umum prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan pengobatan yang teratur. 2.1 Impetigo Krustosa a. Definisi Impetigo krustosa adalah suatu penyakit infeksi piogenik pada kulit yang superfisial dan menular disebabkan oleh streptococcus B hemolyticus. b. Epidemiologi Dapat terjadi pada anak. Lebih banyak terjadi pada daerah tropis dengan udara panas, musim panas, lembab dan higienitas yang kurang baik. c. Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh streptococcus B hemolyticus. d. Gejala Klinis Tidak disertai gejala umum, hanya terdapat pada anak. Tempat predileksi di muka, yakni di sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut. Kelainan kulit berupa eritema dan vesikel yang cepat memecah sehingga jika penderita datang berobat yang terlihat ialah krusta tebal berwarna kuning seperti madu. Jika dilepaskan tampak erosi di bawahnya. Sering krusta menyebar ke perifer dan sembuh di bagian tengah. e. Faktor Predisposisi Suhu yang panas, Lembab, Higienitas yang kurang baik. f. Manifestasi Klinis Penyakit ini biasanya asimetris yang ditandai dengan lesi awal berbentuk makula eritem pada wajah, telinga maupun tangan yang berubah dengan cepat menjadi vesikel berisi cairan bening atau pustul dengan cepat dan dikelilingi

oleh suatu areola inflamasi, bila mengering akan mengeras menyerupai batu kerikil yang melekat di kulit. Jika diangkat maka daerah tempat melekatnya tadi nampak basah dan berwarna kemerahan. g. Diagnosis Banding Ektima h. Komplikasi Jika tidak di obati secara teratur, maka penyakit ini dapat berlanjut menjadi glomerulonefritis (2-5%) akut yang biasanya terjadi 10 hari setelah lesi impetigo pertama muncul, namun bias juga terjadi setelah 1-5 minggu kemudian. i. Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan penunjang untuk menetapkan diagnosis dilakukan biakan bakteriologis eksudat lesi, biakan secret dalam media agar darah, dilanjutkan dengan tes resistens. Selain itu kultur dilakukan untuk mengetahui kuman penyebabnya. Baik staphylococcus maupun streptococcus mudah berkembang pada media aerob, contohnya blood agar. Pemeriksaan histopatologi kulit pada infeksi yang sangat superficial yaitu diatas lapisan epidermis. Pemeriksaan gram dilakukan pada stratum korneum dan lapisan diatas granuler. Hal tersebut berhubungan dengan akantolisis jaringan sub corneal epidermis. Hanya sedikit infiltrat yang tampak. Pada pemeriksaan lokalisasi dan efloresensi dari penyakit ini diperoleh bahwa lesi penyakit ini biasanya terdapat pada daerah yang terpajan, terutama wajah, tangan, leher dan ekstremitas. Sementara efloresensi / sifat-sifatnya berupa macula eritematosa miliar sampai lentikular, krusta kuning kecoklatan, berlapis-lapis, mudah diangkat. a. Gram-stain Bila diperlukan dapat memeriksa isi vesikel dengan pengecatan gram untuk menyingkirkan diagnosa banding dengan gangguan infeksi gram

negatif. Bisa dilanjutkan dengan tes katalase dan koagulase untuk membedakan antara Staphylokokus dan Streptokokus. Pada pewarnaan gram akan memperlihatkan neutrofil dengan kuman gram-positif di dalam rantai atau kelompok. b. Kultur bakteri Kultur akan memperlihatkan S.aureus, kebanyakan merupakan kombinasi dengan S.pyogenes atau GABHS yang lain, tetapi kadang timbul sendiri. Kultur bakteri juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi methicillinresistant Staphylococcus aureus (MRSA), jika lesi imeptigo pecah, jika ada glomerulonefritis poststreptokokus. Eksudat diambil dari bawah krusta untuk dilakukan kultur. Kultur bakteri pada lubang hidung terkadang dibutuhkan untuk menentukkan seseorang S.aureus karier atau bukan. Jika pada kultur tersebut negatif dan penderita persisten terhadap timbulnya impetigo, maka kultur bakteri harus dilakukan pada aksila, faring dan perineum. Pada penderita dengan status S.aureus karier yang negatif dan tidak mempunyai faktor predisiposisi dapat dilakukan pemeriksaan level serum IgM. Pemeriksaan level serum IgA, IgM, dan IgG juga dapat dilakukan untuk mengetahui imunodefisiensi yang lain. c. Pemeriksaan Laboratorium Pada darah tepi terdapat leukositosis pada hampir 50% kasus impetigo, terutama pada infeksi yang disebabkan streptokok. Level Anti DNAase (Antideoksiribonuklease) B meningkat cukup signifikan pada pasien impetigo streptokok. Urinalisis perlu dilakukan untuk mengevaluasi glomerulonefritis poststreptokokus jika pada pasien timbul edema dan hipertensi. Hematuria, proteinuria, cylindruria merupakan indikator terlibatnya ginjal.

4. Pemeriksaan lainnya Selain itu dapat juga dilakukan biakan bakteriologis eksudat besi; biakan sekret dalam media agar darah, dilanjutkan dengan tes resistensi. Biopsi dapat diindikasikan. Tes yang lainnya berupa : - Titer Antistreptolysin-O (ASO) memberikan positif lemah terhadap streptokokus, tapi ini jarang dilakukan. - Streptozyme : positif untuk Streptokokus, tapi jarang dilakukan. j. Prognosis Secara umum prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan pengobatan yang teratur, meskipun dapat pula komplikasi sistemik seperti glomerulonefritis dan lain-lain. Lesi mengalami perbaikan setelah 7-10 hari pengobatan.

2. Beda impetigo bulosa dan impetigo krustosa. UKK Impetigo Bulosa Impetigo Krustosa Eritema, bula hipopion Eritem, vesikel ( pecah ), bila pecah koleret Predileksi Usia Ketiak, dada, punggung Anak, dewasa krusta tebal kuning madu, dasar erosi Lubang hidung mulut Anak

Diferensiasi Durasi Gejala Lesi Kulit Type Warna

Impetigo Bulosa 2-3 hari

Impetigo Krustosa Hari Minggu Tak ada s/d pruritus Vesikel pustula pecah + erosi Golden Yellow Crusts

Vesikel & bula + kuning Jernih atau cairan keruh Timbul/menonjol pd kulit Normal, erytema +/Bula hipopion Bila bula pecah grayBrownish, krusta hemorrhagic: Collarete Erytematous Erosion lemah/lunak:

Ukuran & bentuk Palpasi

Kecil, bulat/ oval Bula Krustosa tebal berwarna kuning seperti madu

Susunan

Scattered ( menyebar jauh ) Discrete ( menyebar dekat ) Confluent ( lingkaran jadi 1 ) Predileksi : muka peri oral / nasal

Distribusi

Predileksi : wajah, tangan, tungkai, intertrigenous site General bula & deskuamasi pada infant Impetigo Neonatorum

DD

Pemphigoid Bullosa

Ektima

3. Patofisiologi Impetigo bulosa dan impetigo krustosa 3.1 Patofisiologi Impetigo Bulosa Bakteri staphylococcus aureus masuk melalui kulit yang terluka melalui transmisi kontak langsung. Kemudian bakteri staphylococcus aureus ini memproduksi toksin ( exofiliatin ) menyebabkan kerusakan dibawah stratum korneum sehingga menimbulkan vesikel. Mula mula berupa vesikel, kemudian lama kelamaan membesar menjadi bula yang sifatnya tidak mudah

pecah, karena dindingnya relative lebih tebal dari impetigo krustosa. Isinya berupa cairan yang lama kelamaan akan berubah menjadi keruh karena invasi leukosit dan akan mengendap. Patogenesis Infeksi ( Streptococcus )

Toksin Turun ke lapisan dibawahnya Merusak Jaringan Desmosom Sampai ke dermis Antar sel tidak terikat Terjadi Inflamasi Vesikel Tanda tanda inflamasi termasuk udema dan rubor

3.2 Patofisiologi Impetigo Krustosa

Pada impetigo krustosa, infeksi ditemukan pada bagian minor dari trauma ( misalnya : gigitan serangga, abrasi, cacar ayam, pembakaran). Trauma

membuka protein-protein di kulit sehingga bakteri mudah melekat, menyerang dan membentuk infeksi di kulit. Pada epidermis muncul neutrophilic vesicopustules. Pada bagian atas kulit terdapat sebuah infiltrate yang hebat yakni netrofil dan limfosit. Bakteri gram-positif juga ada dalam lesi ini. Eksotoksin Streptococcus pyrogenic diyakini menyebabkan ruam pada daerah berbintik merah, dan diduga berperan pada saat kritis dari Streptococcal toxic shock syndrome. Kira-kira 30% dari populasi bakteri ini berkoloni di daerah nares anterior. Bakteri dapat menyebar dari hidung ke kulit yang normal di dalam 7-14 hari, dengan lesi impetigo yang muncul 7-14 hari kemudian. Penyakit yang terjadi karena invasi Streptococcus beta hemolyticus grup A diantaranya Erisipelas, Sepsis Puerpuralis. Sedangkan Penyakit yangterjadi karena infeksi local Streptococcus beta hemolyticus grup Adiantaranya radang tenggorokan. Pada Impetigo, lokalisasi infeksi sangatsuperficial dengan pembentukan vesicopustulae di bawah stratum korneum,terutama pada anak kecil. Penyebaran terjadi percontinuitatum. Bagian kulityang megelupas diliputi oleh crusta berwarna kuning madu.

4. Pengobatan pada impetigo bullosa dan impetigo krustosa 4.1 Pengobatan Pada Impetigo Bullosa Pencegahan :
- Benzoyl peroxide wash ( soap bar ) - Kristal permanganas kalicus atau Nacl 0,9 % kompres ( beri sesuai dosis, jangan sampai mewarnai kulit ).

a. Terapi Topikal minyak mupirocin efektif terhadap S.aureus, GAS & MRSA. b. Terapi Sistemik Eritromisin 250-500 mg q.i.d (10 hr) 40 mg/kgBB/hari q.i.d (10 hr)

Cephalexin

250-500 mg q.i.d (10 hr) 40-50 mg/kgBB/hari q.i.d (10 hr) ( Kontraindikasi pada wanita hamil )

Minocyclin

100 mg b.i.d (10 hr)

Ciprofloxacin 500 mg b.i.d (7 hr) - Th/ aman utk wanita hamil : Penicillin tetapi dilakukan test alergi terlebih dahulu. - Bila takut injeksi : ampicillin/ amoxycillin - Bila alergi penicillin, beri eritromycin p.c ( Kontraindikasi : Maag ). 4.2 Pengobatan Pada Impetigo Krustosa Perawatan Umum : 1. Memperbaiki higienis dengan membiasakan membersihkan tubuh dengan sabun, memotong kuku dan senantiasa mengganti pakaian. 2. Perawatan luka 3. Tidak saling tukar menukar dalam menggunakan peralatan pribadi ( handuk, pakaian, dan alat cukur ). a. Terapi Topikal Pengobatan topikal dilakukan apabila krusta dan sisa impetigo telah dibersihkan dengan cara mencucinya menggunakan sabun antiseptik dan air bersih. Untuk krusta yang lebih luas dan berpotensi menjadi lesi sebaiknya menggunakan larutan antiseptic. Dapat menggunakan asam salisil 3-6% untuk menghilankan krusta. Bila krusta hilang maka penyebaranya akan terhenti. Pustule dan bula didrainase. Bila dasar lesi sudah terlihat, sebaiknya diberikan preparat antibiotic pada lesi tersebut dengan hati-hati sebanyak 4 kali sehari. Preparat antibiotik juga dapat digunakan untuk daerah yang erosive. Misalnya menggunakan krim neomycin yang mengandung clioquinol 0,5%-1% atau asam salisil 3%-5%.

b. Terapi Sistemik Pengobatan sistemik di indikasikan jika terdapat factor yang memperberat impetigo seperti eczema. Untuk mencegah infeksi sampai ke ginjal maka di anjurkan untuk melakukan pemeriksaan urine. Bakteri pun di uji untuk mengetahui ada tidaknya resistensi antibiotic. Pada impetigo superficial yang disebabkan streptococcus kelompok A, penisilin adalah drug of choice. Penisilin oral yang digunakan adalah potassium Phemmoxymethylpenicilin. Bila resisten bias digunakan oxacilin dengan dosis 2,5 gr/ hari dan dosis untuk anak-anak disesuaikan dengan umur. Dapat juga digunakan eritromisin dosis 1,5 2,0 g yang diberikan 4 kali sehari. Penisilin V oral ( 250mg per oral ) efektif untuk streptokokkus atau staphylokokkus aureus non-penisilin. Penisilin semi sentetis, methicin, atau oxacilin ( 500mg setiap 4-6 jam ) diberikan untuk staphylokokkus yang resisten terhadap penisilin eritromisin ( 250mg 4 kali sehari ) lebih efektif dan aman, di gunakan pada pasien yang sensitive terhadap penisilin. Antibiotic oral diberikan bila : a. Erupsi memberat dan semakin meluas b. Anak lain yang terpapar infeksi c. Bila bentuk nephritogenik telah berlebihan d. Bila pengobatan topical meragukan e. Pada kasus yang disertai folliculitis

5. Gambar pada impetigo bulosa dan impetigo krustosa a. Gambar Impetigo Bulosa

Pada gambar tampak gambaran pustula dengan dasar eritematosa, bula hipopion, krusta dan koleret

Pada gambar tampak gambaran pustula dengan dasar eritematosa, bula hipopion, krusta, dan koleret b. Gambar Impetigo Krustosa

Gambar Impetigo Krustosa

Ambar Impetigo Krustosa pada ( a. Mulut, b. Belakang telinga, c. Lutut, d. Wajah, e. Lubang hidung )