Anda di halaman 1dari 19

ANALISIS EKONOMI PENGENDALIAN HPT

Oleh : ABDUL SAHID

PENDAHULUAN
Budidaya Tanaman Pertanian 1. Kendala eksternal Kendala Iklim Kendala Tanah Kendala OPT (hama, penyakit, gulma) 2. Kendala SDM

Kendala OPT
1.Menurunkan kualitas 2.Menurunkan kuantitas 3.Gagal Panen

Kerugian akibat serangan OPT di Indonesia


1.Tahun 1976-1977 hama wereng coklat merusak tanaman padi seluas sekitar 1,5 juta Ha (terjadi di Jawa, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan Bali). 2.Tahun 1989-1992 hama penggerak batang padi putihmerusak tanaman padi seluas sekitar 75.000 Ha (terjadi di pantai utara Jawa Barat). 3.Kerugian akibat serangan hama tikus rata-rata 200 000 ton beras setiap tahun. 4.Tahun 1986 hama kutu loncat lamtoro (Heteropsylla cubana) pengendalian dengan predatornya Curinus coeruleus

Timbulnya Ledakan Hama


Menurut Stern, Smith, van den Bosch, dan Hagen (1959), ada 3 keadaan yang menyebabkan timbulnya ledakan hama. 1.Pemasukan spesies tanaman baru Pemasukan spesies tanaman baru yang sebelumnya tidak ada di daerah tersebut, sering menciptakan kondisi yang sesuai untuk peningkatan populasi serangga hama. Contoh: Tanaman alfalfa (dimasukkan ke California) dan dibudidayakan oleh petani untuk makanan ternak tahun 1856 maka perkembangan kupu-kupu alfalfa (Colias philodice erytheme) meningkat dan merusak secara ekonomi.

2.Pemindahan hama melewati batas geografik Binatang arthropoda dapat timbul sebagai hama setelah dipindahkan atau ikut pindah sehingga melewati batasbatas geografi tertentu, dan berhasil meninggalkan M.A nya yang ada di tempat asalnya.
3.Perubahan toleransi manusia Binatang arthropoda (serangga) digolongkan statusnya sebagai hama yang sebelumnya tidak dianggap sebagai hama, hal ini karena manusia menurunkan toleransinya terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh hama. contoh: kepik Lygus sp. yang merusak kacang panjang. Kacang panjang yang dipasarkan dalam keadaan segar tidak dipermasalahkan. Kacang panjang yang dipasarkan melalui industri pengawetan maka hal ini dipermasalahkan

Menurut Pimentel (1982) 1.Pertanaman monokultur Dalam sistem lingkungan pertanian didapatkan komunitas biotik yang lebih sederhana karena hanya ditanam satu jenis tanaman tertentu dalam waktu yang lama dengan daerah yang luas. Keadaan seperti ini kurang stabil sehingga memberikan lingkungan yang sesuai bagi peningkatan populasi hama. 2.Pemasukan jenis tanaman baru Jenis tanaman baru tidak dapat menahan serangan organisme-organisme yang asli di ekosistem tersebut. Contoh Kentang yang berasal dari Bolivia dimasukkan ke USA. Tanaman baru tersebut oleh kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa decemlineata) yang memang asli dari daerah tersebut.

3.Pemasukan spesies hewan baru Sering terjadi pemasukan spesies hewan pada suatu daerah dan akhirnya menjadi hama di daerah baru tersebut, hal ini karena pengendalian alami hama baru tersebut masih belum tersedia (berkembang) di daerah tersebut.
4.Pemindahan tanaman ke daerah yang berbeda iklim. contoh: di USA hama penggerek kentang (Pthorimaea operculella) menjadi hama serius di bagian tenggara USA yang beriklim panas tetapi hama tersebut kurang merusak di daerah sebelah utara USA yang beriklim lebih dingin.

5.Hasil Pemuliaan Tanaman Tujuan seleksi tanaman: mendapatkan varietas tanaman baru yang mempunyai kualitas dan produksi tinggi, tetapi sering varietas tersebut memiliki sifat yang peka terhadap hama dan penyakit tertentu karena sifat-sifat ketahanan tetua (induknya) tidak terbawa pada varietas baru tersebut. Contoh: varietas sorghum yang produksinya tinggi tetapi ternyata peka terhadap serangan kepik Blissus leucopterus.

6.Berkurangnya keanekaragaman genetik Banyak hama dan penyakit tanaman yang memiliki variabilitas genetik yang mampu mengatasi faktor ketahanan tunggal yang ada pada tanaman inangnya. Contoh hama wereng batang padi coklat yang merupakan hama padi utama di Indonesia. Hama tersebut mampu membentuk biotipe baru yang dapat merusak varietas padi yang dibuat resisten terhadap hama tersebut.

7.Jarak tanam Pada petak-petak pertanaman, kerapatan tanaman diatur sedemikian rupa sehingga dapat menjamin pertumbuhan tanaman yang optimal dan memperoleh hasil yang maksimum. Pengaturan tanaman dan penjarakan akan merubah habitat ekologi sehingga memudahkan hama untuk mencapai tanaman inangnya.

8.Penanaman terus-menerus Di ekosistem pertanian beberapa jenis tanaman tertentu yang diusahakan manusia tumbuh di tempat yang sama dari tahun ke tahun. Hal ini akan mengakibatkan hama tersebut akan semakin berkembang dan meningkatkan jumlahnya sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar. 9.Unsur hara tanah Pemupukan akan berpengaruh terhadap kandungan unsur dalam jaringan tanaman yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat kepadatan populasi hama yang akan makan tanaman tersebut. Contoh: hama aphis hijau (Macrosiphum granarium) dan wereng batang padi coklat (Nilaparvata lugens) yang populasinya akan bertambah bila kandungan N tanaman inangnya tinggi. Kutu ungu (Lepidosaphes beckii) di USA serangannya semakin berat bila kandungan Mg pada tanaman jeruk meningkat. Demikian juga kutu aphis pada tanaman kacang panjang akan meningkat bila kandungan P meningkat.

10.Masa tanam Seringkali tanaman terhindar dari serangan hama karena masa tanamnya tidak sesuai dengan perkembangan populasi hama di lapangan (fenologi antara hama dan fenologi tanaman inangnya tidak sesuai). 11.Asosiasi antara tanaman-hama Beberapa jenis hama mampu memakan beberapa spesies tanaman inangnya, mereka akan pindah dari satu jenis tanaman ke jenis tanaman lain bila tanaman pertama berkurang, sehingga berakibat serangan hama pada tanaman kedua akan meningkat. Contoh: Kepik Lygus sp. yang menyerang alfalfa dan kapas di USA

12.Pestisida yang merubah fisiologi tanaman Pestisida merupakan biosida yang potensial sehingga penggunaannya kadang-kadang dapat mempengaruhi atau merubah fisiologi tanaman. Contoh: Kalsium arsenat digunakan untuk mengendalikan kumbang moncong pada kapas dan penggerek buah kapas ternyata populasi aphis meningkat. Tanaman jagung disemprot dengan herbisida 2,4-D untuk mengendalikan gulma ternyata meningkatkan populasi aphis sampai 2x lipat dibandingkan dengan jagung yang tidak disemprot dengan herbisida tersebut.

Akibat penggunaan pestisida yang kurang tepat


Salah satu faktor yang mendorong timbulnya banyak ledakan hama adalah pada penggunaan pestisida sintetik yang kurang tepat sehingga cenderung berkelebihan dan tidak mengenai sasaran. Pestisida yang tadinya digunakan untuk mengendalikan hama dengan cara mengurangi populasi hama tetapi karena pengetahuan dan perhitungan akhirnya pestisida tersebut malahan meningkatkan populasi hama sehingga tujuan penyelamatan kerusakan tanaman kurang tercapai. Hal-hal yang menyebabkaan pestisida tidak menjadi efektif dan malahan sebaliknya, faktor-faktor ini sering dikatagorikan sebagai pengaruh (efek) samping yang merugikan pestisida yaitu: 1.)Ketahanan hama terhadap pestisida (Resistensi hama), 2) Resurjensi hama, dan 3). Letusan hama kedua, 4). Terbunuhnya M.A hama dan serangga berguna lainnya, 5). Pencemaran lingkungan, 6). Residu pada produk pertanian, 7). Penambahan biaya produksi

Resistensi Hama terhadap Pestisida Pestisida sintetik pertama: DDT tahun 1945. Tahun 1946 dilaporkan di Swedia bahwa telah terjadi resistensi lalat rumah terhadap DDT tersebut. Dalam kurun waktu 20 tahun setelah tahun 1946 telah dilaporkan kira-kira 224 spesies hama tanaman resisten terhadap pestisida. Petani semakin banyak dan sering menggunakan pestisida karena petani ingin melihat hasilnya yang nyata. Penggunaan pestisida yang berlebihan ini dapat menimbulkan efek samping pestisida yang lain dan dapat menstimulasikan peningkatan populasi hama. Timbunya resistensi hama terhadap pemberian pestisida yang terus menerus merupakan fenomena dan konsekuensi logis yang biasa dan merupakan reaksi evolusi yang umum dan logik yang akan terjadi pada setiap organisme yang selalu berada dalam keadaan tertekan (stress).

Mekanisme resistensi terhadap pestisida 1. Populasi yang terdiri dari banyak individu diberikan tekanan dengan pestisida. 2. Sebagian besar individu mati, tetapi ada yang mampu dan masih hidup (faktor fisik, sebagian besar genetik).
Individu yang tidak mati memiliki sifat genetik yang memang tahan terhadap tekanan pestisida mungkin disebabkan karena adanya enzim-enzim yang mampu menetralkan daya racun atau sifat-sifat fisiologik lainnya.

3.

4. Generasi individu dari populasi yang lahir berikutnya terdiri dari banyak individu yang tahan terhadap pestisida yang dikenakan dan seterusnya sehingga muncullah populasi hama yang resisten terhadap pestisida.

Setiap individu memiliki potensi untuk menjadi tahan terhadap pestisida yang dikenakan kepadanya, hanya waktu dan besarnya ketahanan sangat bervariasi dipengaruhi oleh jenis hama, jenis pestisida yang diberikan, intensitas pemberian pestisida, dan faktor-faktor lingkungan lainnya.

Resurjensi hama Peristiwa resurjensi hama terjadi setelah diperlakukan pestisida ternyata hama sasaran yang mula-mula populasinya menurun tetapi kemudian populasinya meningkat kembali jauh lebih tinggi daripada jenjang populasi sebelum diadakan perlakuan pestisida.
Resurjensi ini dapat terjadi karena terbunuhnya M.A oleh pestisida yang digunakan yang umumnya berspektrum lebar dan tidak selektif. Dari beberapa hasil penelitian dapat dibuktikan bahwa banyak musuh alami (predator dan parasit) yang lebih peka terhadap pestisida dibandingkan dengan hamanya. Berkurangnya M.A setelah perlakuan pestisida mungkin disebabkan berkurangnya inang (hama) akibat hama terbunuh oleh pestisida.

Letusan hama kedua Peristiwa letusan hama kedua terjadi apabila setelah perlakuan pestisida menghasilkan penurunan populasi hama utama (hama sasaran), tetapi kemudian terjadi peningkatan populasi atau letusan hama kedua yang sebelumnya bukan merupakan hama utama di daerah tersebut.
Contoh Tahun 1973 munculnya hama wereng batang padi coklat yang menggantikan kedudukan hama penggerek batang padi sebagai hama utama. Hal ini mungkin disebabkan penggunaan pestisida golongan khlor secara intensif yang dilakukan sebelum tahun 1972 untuk mengendalikan hama penggerek batang padi.