Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

PRODUKSI UDANG GALAH


H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga Abstrak Dalam rangka meningkatkan produktivitas udang galah di kolam budidaya, dilakukan pembentukan populasi dasar sintetis, dengan harapan pada generasi tertentu akan diperoleh benih yang menunjukkan kinerja pertumbuhan yang jauh lebih baik. Produksi benih sebar dilakukan melalui pemijahan induk MahakamMahakam dan Mahakam-Bone. Sedangkan sistem teknologi budidaya yang diterapkan adalah budidaya terintegrasi udang galah bersama padi di sawah atau UGADI. Kegiatan pembentukan populasi dasar sintetis menghasilkan calon induk dasar sintetis sebanyak 1.000 pasang dengan ukuran dan bobot calon induk jantan dan betina masing-masing 14,1cm dan 39,1 g serta 11,9 cm dan 18,5 g. Kegiatan budidaya udang galah di sawah bersama padi menghasilkan kelangsungan hidup antara 34,2-72,5% dan FCR antara 1.1-1.9.

PENDAHULUAN Latar Belakang Udang galah (Macrobrachium

dan binatang lain, padi-padian, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, alga,

serta daun dan batang lunak tanaman air. Bahkan dapat memanfaatkan bakteri heterotrof dalam bentuk biofloc

rosenbergii) merupakan spesies penting secara komersil khususnya di Asia

(Rohmana, 2009). Pengembangan terkendala dengan udang galah

Tenggara untuk konsumsi lokal maupun sebagai produk ekspor yang bernilai tinggi. Selain pangsa pasarnya yang masih terbuka luas, udang galah relatif mudah dibudidayakan karena makanannya tidak tergantung pada pakan buatan dan dapat dibesarkan secara polikultur dengan ikan tawar lain (Asaduzzaman et al., 2009). Menurut Weidenbach (1982) M.

ketidakberhasilan

produksi benih di hatchery akibat infeksi penyakit terpungkiri yang beragam saat dan ini tidak banyak

bahwa

hatchery udang galah yang berhenti beroperasi. Kerentanan larva terhadap penyakit sebagai dampak dari

manajemen induk yang salah. Pada umumnya hatchery menggunakan induk dari hasil pembesaran sendiri tanpa memperhatikan induk yang kaidah memproduksi Kegiatan bahwa

rosenbergii di alam memiliki kebiasaan makan yang bersifat omnivor, makan dengan frekuensi sering dan rakus

terhadap cacing air, serangga air, larva serangga, moluska kecil, krustase (udang jenis lain), daging dan organ dalam ikan

seharusnya. memperlihatkan

sebelumnya

hibridisasi udang galah Mahakam-Bone

46

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

dan

pemijahan

Mahakam-Mahakam kelangsungan

Mahakam (Kalimantan Timur), Sungai Cenranae-Bone (Sulawesi Selatan) dan Citanduy (Jawa Barat). Induk F3 dari ketiga sumber tersebut akan dijadikan sebagai bahan dasar pembentukan sintetis udang galah. Mina padi atau UGADI (Udang Galah dan Padi) belum lama dikenal di populasi

mampu

meningkatkan

hidup larva yang jauh lebih baik sehingga produktivitas benih di hatchery

meningkat. Oleh karena itu produksi benih sebar pada tahun 2011 pun akan menggunakan kedua kombinasi

pemijahan tersebut. Sementara itu produktivitas udang galah di kolam pembesaran mengalami permasalahan dengan pertumbuhan yang lambat. Peningkatan performa udang galah dapat dilakukan melalui upaya perbaikan diantaranya mutu genetik benih

masyarakat tetapi belum berkembang secara intensif dan berkelanjutan.

Gerakan ugadi merupakan sinergi antara pertanian dan perikanan sekaligus

menambah pendapatan petani. Budidaya ugadi adalah budidaya terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah, yaitu selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan udang. Selain menyediakan pangan sumber

dengan

hibridisasi,

penggunaan induk hasil seleksi dan pembentukan populasi dasar sintetis. Penggunaan benih hibrida untuk

meningkatkan kinerja pertumbuhan telah dilakukan. Namun demikian upaya

karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein, sehingga cukup baik untuk meningkatkan masayarakat. tepat, ugadi kebutuhan Dengan dapat teknologi gizi yang

tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Untuk mendukung

produktivitas udang konsumsi di kolam budidaya, pada tahun 2011 ini akan dilakukan pembentukan populasi dasar sintetis, dengan harapan pada generasi tertentu akan diperoleh benih yang menunjukkan kinerja pertumbuhan yang jauh lebih baik. Pada saat ini BBPBAT Sukabumi memiliki induk udang galah F3 terseleksi yang berasal dari Sungai

memberikan

keuntungan bagi petani. Keuntungan yang didapat dari usaha tani ugadi berupa peningkatan produksi padi dan udang, mengurangi penggunaan pestisida, pupuk organik dan penyiangan. Pada saat harga gabah turun atau bahkan gagal panen, petani tetap mendapatkan pendapatan dari pemeliharaan udang galah konsumsi.

47

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk

Alat Alat digunakan adalah kolam

memperoleh calon induk udang galah unggul melalui pembentukan populasi dasar sintetis dan benih udang galah berkualitas baik hasil hibridisasi dan pemijahan induk terseleksi. Target Memperoleh benih sebar udang

pemeliharaan induk, kolam pemijahan, bak penetasan, bak pemeliharaan larva, bak pemeliharaan juvenil, kolam

pentokolan, kolam pembesaran, sawah, bak penampungan air air laut, bak bak

penampungan

tawar,

pencampuran air laut-air tawar, instalasi aerasi, instalasi ait tawar, instalasi air laut, genset, ember, baskom, gayung, alat sifon, alat packing, dan peralatan galah berkualitas baik sebanyak 2.000.000 ekor dan calon induk dasar sintetis sebanyak 1.000 ekor. METODOLOGI Waktu dan Tempat Kegiatan perbanyakan calon induk dasar sintetis dan produksi benih udang galah dilakukan pada bulan JanuariDesember 2011. Tempat kegiatan adalah Sub Unit Pembenihan Udang Galah Palabuhan Ratu dan BBPBAT Sukabumi di Selabintana. Bahan dan Alat Bahan Bahan yang digunakan adalah induk F3 Mahakam, Cenranae-Bone dan Perbaikan konstruksi Menambal bocoran - Merapikan pematang dan saluran - Memperbaiki pintu air
48

perikanan lainnya. Prosedur Kerja Produksi Benih Sebar Kegiatan produksi benih mengikuti Standar Prosedur Operasional (SPO)

Pembenihan Udang Galah (BBPBATS, 2009). a. Persiapan kolam Pengeringan kolam - Menguras air - Menjemur tanah dasar untuk

menguapkan gas-gas sisa metabolit sampai kadar air mencapai 15 - 20%

Citanduy, pakan induk, pakan larva, artemia, pakan benih, pakan pembesaran, obat-obatan, kapur, pupuk dan benih padi INPARI 13.

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

Pengolahan tanah dasar - Pembalikan tanah dasar proses untuk oksidasi b. Persiapan sarana dan prasarana Bangunan hatchery dibersihkan dengan sapu, lantainya didesinfeksi dengan kalsium hipoklorit 10% Mencuci kotoran yang menempel pada permukaan bak dengan memakai

menyempurnakan dalam tanah

- Pengapuran bila pH tanah < 6,7 dengan bahan CaCO3 (ton/ha) - Pemupukan menggunakan pupuk

organik (kompos) dengan dosis 1 3 ton/ha Pengisian plankton - Menutup pintu pengeluaran air air dan penumbuhan

detergen selanjutnya diseka dengan kalsium hipoklorit 10% Pipa saluran air didesinfeksi dengan cara memasukkan larutan kalium

permanganat dengan dosis 100 g/ton ke dalamnya dan ditahan selama

sampai tidak ada kebocoran - Air dimasukkan melalui pintu

minimal 24 jam Perlengkapan aerasi dan perlengkapan lapang lainnya dicuci dengan detergen selanjutnya direndam pada larutan iodin dengan dosis 100 ml/ton selama minimal 24 jam, lalu dibilas dan dikeringkan (dijemur) di tempat yang bersih Bangunan dan bak pemeliharaan

pemasukan yang dilengkapi saringan dengan mesh size 1 mm untuk mencegah masuknya ikan liar dan sampah dari saluran air - Pemupukan anorganik awal 5 ppm dengan rasio N : P = 3 : 1 hingga 5 : 1 - Pemupukan anorganik susulan 2 ppm dengan rasio yang sama
Tabel 1. Kebutuhan Kapur Bakar (CaO) pada Berbagai pH pan Tekstur Tanah TANAH LIAT 14,32 10,74 8,95 5,37 3,58 1,79 Nihil LIAT BERPASIR 7,16 5,37 4,48 3,58 1,79 1,79 Nihil

dibiarkan terjemur selama minimal 1 minggu selanjutnya dicuci ulang natrium

pH TANAH < 4,0 4,0 4,5 4,6 5,0 5,1 5,5 5,6 6,0 6,1 6,5 >6,5

BERPASIR 4,48 4,48 3,58 1,79 0,90 Nihil Nihil

dengan

menggunakan

thiosulfat 5% sampai residu kaporit hilang

49

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

Pemasangan perlengkapan aerasi dan pipa outlet/dop di setiap wadah

Mengisi air pada bak pencampuran dengan salinitas yang dikehendaki Menimbang kalsium hipoklorit

pemeliharaan

sebanyak 30 g/m3, ditempatkan di c. Pengelolaan air sumber Air tawar berasal dari sumur dalam, dipompa dan diendapkan di bak - Pengaerasian dilakukan selama 1 jam untuk Air laut diambil pada saat kondisi jernih di hamparan karang dengan menghomogenkan kalsium ember 10 liter, lalu diencerkan dengan air, diaduk dan disebar merata pada air yang didesinfeksi

reservoir air tawar

hipoklorit - Air dibiarkan selama minimal 24 jam hingga semua mikroba mati, lalu dinetralkan dengan natrium

menggunakan pompa dan diendapkan di bak reservoir air laut Air tawar dialirkan melalui send filter dan air laut disaring dengan filter bag ke dalam bak pencampuran Pada kegiatan pembenihan

thiosulfat 15 g/m3 dengan cara seperti hipoklorit - Pemberian EDTA sebanyak 5-10 g/m3 dapat dilakukan 2 jam setelah memberikan kalsium

dibutuhkan air bersalinitas 5 untuk penetasan telur dan 12 untuk

pemberian natrium thiosulfat - Pengaerasian dilakukan terus

pemeliharaan larva, dan untuk membuat air dengan salinitas tersebut digunakan perhitungan dengan rumus:

menerus minimal 12 jam hingga air siap pakai d. Pengelolaan induk Pemeliharaan induk dilakukan di kolam dengan kepadatan 5 ekor/m2, selama pemeliharaan induk diberi pakan pellet 3% dengan frekuensi 3 kali sehari serta

ScVc = StVt + SlVl


St: salinitas air tawar, Vt: volume air tawar Sl: salinitas air laut, Vl: volume air laut Sc: salinitas air campuran, Vc: volume air campuran

Desinfeksi air dilakukan dengan cara berikut:

untuk

melengkapi

kebutuhan

nutrisinya ditumbuhkan pakan alami

50

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

Pemijahan dilakukan di bak pemijahan berukuran 15 m2secara masal dengan kepadatan 2-3 ekor/m2 serta

scoopnet dan ditampung di baskom 10 liter f. Pengelolaan larva Wadah pemeliharaan larva berupa bak fiber glass volume 1,5 m3 dan diisi dengan air bersalinitas 12 ppt sebanyak 1 m3 yang telah didesinfeksi Manajemen pemberian pakan larva

perbandingan jantan dan betina adalah 1 : 3. Model pemijahan yang akan dilakukan adalah persilangan induk betina Mahakam F3 Mahakam dengan induk jantan Bone F3 dan pemijahan sesama induk Mahakam F3 Pemilahan induk yang bertelur

disajikan pada Tabel 2 Mulai stadia hari ke-31, benih diberi pakan cramble sebanyak 2 g/m3 bersamaan dengan pemberian pakan

dilakukan setelah 3 minggu pemijahan. e. Penetasan telur Wadah penetasan berupa bak volume 2 m3 dan diisi dengan air bersalinitas 5 ppt yang telah didesinfeksi Induk yang bertelur dikelompokkan berdasarkan tingkat kematangan telur. Selama pengeraman induk diberi pakan pellet sebanyak 3 %/BB dengan

egg custard Penambahan air dilakukan pada hari ke-7 dan 10 sebanyak 0,25 m3 hingga mencapai volume maksimal (1,5 m3) selanjutnya dilakukan pergantian air sebanyak 10-25% setiap tiga hari bertepatan dengan waktu penyifonan kotoran Monitoring kesehatan dan lingkungan dilakukan secara rutin dan apabila terjadi gejala penyakit dan penurunan kualitas air dilakukan tindakan berupa pemberian probiotik dan pergantian air Penurunan salinitas dimulai pada saat stadia D-28 secara gradual dan

frekuensi 2 kali yaitu pagi dan sore hari Telur akan menetas setelah kira-kira 21 hari sejak diovulasikan; telur yang telah berwarna kecoklatan akan segera

menetas, biasanya tidak lebih dari dua hari Induk yang telah menetaskan telur dipindahkan induk dan ke larva bak pemeliharaan dengan

dipanen

mencapai salinitas 0 promil pada saat stadi juvenil D-5.

51

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

Tabel 2. Manajemen Pemberian Pakan Larva Udang Galah


STADIA (hari ke-) D1 D2-5 D6-10 D11-15 D16-20 D21-25 D26-30 D31-35 D36-40 07.00 ARTEMIA (ekor/ml) 1 1 1-2 1-2 2 2 2 2 09.00 EGG CUSTARD 3 (g/m ) 2 4 6 8 6 4 2 11.00 ARTEMIA (ekor/ml) 1 1-2 1-2 2 2 2 2 13.00 EGG CUSTARD 3 (g/m ) 2 4 6 8 6 4 2 15.00 ARTEMIA (ekor/ml) 1 1 1-2 1-2 2 2 2 2 17.00 EGG CUSTARD 3 (g/m ) 2 4 6 8 6 4 2

g. Penyediaan pakan buatan larva Menimbang bahan-bahan pakan yang terdiri dari tepung terigu 250 g, tepung kanji 10 g, udang kering 15 g, cumicumi segar 10 g, udang segar 10 g, ragi roti 10 g, minyak ikan 5 g, telur ayam 10 butir, vit mix 2 g Bahan yang masih kasar diiris dengan pisau sehingga mudah diblender Semua bahan dibender hingga hancur dan tercampur merata Adonan ditempatkan pada wadah

h. Penyediaan pakan alami-artemia Dekapsulasi artemia dengan tahapan proses sebagai berikut: - Menimbang siste artemia sebanyak 75 gram dan memasukkan dalam kantong mesh 200 selanjutnya

direndam dalam air tawar selama jam - Membuat larutan dekapsulasi yang terdiri dari kaporit 30 gram dan soda api 15 gram dalam 1 liter air tawar - Membuat larutan penetral natrium thiosulfat 15 gram dalam 1 liter air tawar - Siste dalam kantong yang telah direhidari direndam dalam larutan dekapsulasi selama 5 menit

plastik tahan panas dan dikukus hingga matang Pakan buatan yang sudah matang dicetak dengan mata kain kasa 1 yang mm

mempunyai

lubang

selanjutnya diremas-remas hingga cangkang terkelupas yang dicirikan dengan terjadinya perubahan warna menjadi oranye - Siste dicuci dengan air tawar sampai bersih untuk membuang larutan

sehingga menghasilkan butiran pakan berukuran 0,5-1 mm Pengawetan pakan dapat dilakukan dengan cara menyimpannya dalam kulkas
52

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

dekapsulasi lalu direndam dalam larutan penetral selama 5 menit dan dibilas lagi dengan air tawar - Siste siap ditetaskan dan untuk pengawetan dapat disimpan dalam kulkas Wadah penetasan berupa fiber glass berbentuk kerucut dan diisi dengan air bersalinitas didesinfeksi Menimbang siste hasil dekapsulasi sesuai kebutuhan lalu dimasukkan ke dalam corong penetasan yang telah berisi air dan diberi aerasi kuat Panen dilakukan setelah 24 jam dengan cara menyifon menggunakan selang inchi yang bagian ujungnya dilengkapi kantong mesh 200 Siste dibilas dengan air steril lalu diberikan pada larva udang. i. Pengelolaan juvenil Wadah pemeliharaan juvenil berupa bak outdoor volume 20 m3 dengan air tawar (0 ) sebanyak 15 m3 yang telah didesinfeksi. Aerasi diberikan sangat kuat supaya terjadi pengadukan bahan organik. 12 yang telah

Penebaran juvenil muda sebaiknya dilakukan pada pagi hari dengan kepadatan 1000-2000 ekor/m3 Pemberian pakan alami artemia

dilakukan hanya pada saat penebaran selanjutnya yang diberikan pakan buatan protein 40% dengan

mengandung 40%

sebanyak

BB/hari

frekuensi 3 kali yaitu jam 07.00, 12.00 dan 17.00 Pemeliharaan juvenil dilakukan selama 15 hari dan benih siap ditebar di kolam untuk ditokolkan atau langsung

dibesarkan. j. Pengelolaan biosekuritas Pengaturan tata letak - Pengaturan tata letak berdasarkan alur produksi secara berurutan mulai dari sub unit pengelolaan air sumber, karantina, telur, pemijahan, pemeliharaan penetasan larva,

penyediaan pakan hidup artemia, penyediaan pemeliharaan pemanenan benih - Pemagaran areal hatchery dan pakan buatan juvenil, larva, dan

penyekatan antara area sub unit produksi - Penyimpanan pakan, bahan kimia dan obat-obatan dilakukan secara
53

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

terpisah, bersih dan siap pakan sesuai peruntukannya Pengaturan akses masuk lokasi Sterilisasi ruangan wadah, peralatan dan

ukuran 6-8 gram/ekor selama 2 bulan (60 hari) pemeliharaan, dengan

kepadatan yang sama yaitu 5 ekor/m2. Pembentukan Populasi Dasar Sintetis Calon Induk Udang Galah Prosedur pembentukan populasi

Sanitasi lingkungan pembenihan Pengelolaan limbah buangan hatchery Pengaturan personil: - Pakaian dan perlengkapan kerja

dasar sintetis mengacu pada protokol P4 Pemuliaan Udang Galah (LRPTBPAT

Sukamandi, 2010) dan Teknis pembesaran udang galah mengikuti Standar Prosedur Operasional (SPO) Pembesaran Udang Galah di Kolam (BBPBATS, 2007). a. Penyediaan induk dari populasi/strain

personil harus bersih - Sterilisasi alas kaki dan tangan k. Pembesaran udang galah bersama padi di sawah

yang berbeda Populasi/strain bersumber dari tiga

Dalam pemeliharaan ugadi, benih padi yang digunakan yaitu dari jenis INPARI 13 dan benih udang galah

populasi budidaya generasi ke-3 (F3) asal Mahakam (M), Cenranae-Bone (B) dan Citanduy (C) Kriteria induk jantan dan betina adalah

(Macrobrachium rosenbergii). Pupuk yang digunakan pada awal pemeliharaan padi dengan NPK. Pakan buatan (pellet) dengan protein 30%. Pemberian pakan pada awal penebaran sebanyak 4% bobot biomass dan berkurang pada 1 bulan terakhir masa pemeliharaan, sebanyak 2% Pemijahan untuk menghasilkan populasi dasar sintetik dilakukan secara resiprokal, yaitu induk jantan dari Ukuran benih yang ditebar yaitu ukuran 3-5 gram/ekor dengan masa populasi A dikawinkan dengan induk betina dari populasi B dan sebaliknya. Selain itu, pemijahan pada masingyang secara visual tampak normal dan sehat dan berukuran masingmasing 50 dan 40 gram. b. Pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva

bobot biomass.

pemeliharaan 3 bulan (90 hari) dan

54

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

masing populasi/strain juga dilakukan. Jumlah kombinasi persilangan adalah N2; dimana N adalah jumlah populasi. Sehingga terdapat 32 (=9) kombinasi persilangan yaitu MM, MB, MC, BM, BB, BC, CM, CB dan CC. Pemijahan antara suatu kombinasi populasi dengan kombinasi populasi lainnya dilakukan secara terpisah. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap kombinasi populasi memiliki

Memindahkan induk induk betina yang telah memijah dan mengerami telur berwarna kecoklatan ke wadah

penetasan sampai telur dilepaskan dari kantung pengeraman (brood chamber). Memindahkan induk betina setelah semua telur menjadi larva. Memelihara larva secara terpisah antar famili dalam bak pemeliharaan larva. Metoda pemeliharaan larva mengikuti SOP produksi benih (BBPBATS, 2009). c. Pendederan (pentokolan) Tahap pendederan bertujuan

representasi (turunan) yang dapat dikontribusikan kepada populasi dasar. Sementara pemijahan pada masingmasing kombinasi populasi dapat

menyediakan benih udang galah dengan ukuran yang siap ditebar ke kolam pembesaran. Bergantung pada ukuran tokolan yang dikehendaki untuk tujuan pembesaran, dikenal istilah tokolan I dan tokolan 2. Tokolan satu adalah tokolan berukuran panjang total 3-5 cm yang didapat dari pemeliharaan PL selama satu bulan sedangkan tokolan 2 berkuran 5-7 cm yang didapatkan dari pemeliharaan PL selama 2 bulan. Pendederan dapat

menerapkan salah satu dari dua cara, yaitu pemijahan secara berpasangan atau pemijahan secara komunal. Dalam hal ini di BBPBAT Sukabumi dilakukan pemijahan secara komunal. Pemijahan secara komunal dilakukan dengan menebar dan memelihara

calon-calon induk jantan dan betina secara bersama-sama dalam satu

kolam dan membiarkan perkawinan terjadi di kolam. Mengecek induk-induk yang telah

dilakukan di kolam tanah atau waring dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pendederan dalam kolam tanah dapat menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik, namun biasanya memiilki kelangsungan hidup yang rendah.

memijah dengan cara memanen dan mengamati secara visual setelah 15 hari masa pemijahan.

55

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

Sebaliknya, pendederan dalam waring umumnya hidup menghasilkan lebih kelangsungan walapun

4 kali per hari, untuk kontrol pakan menggunakan anco - Memonitor parameter kualitas air (kuantitas periodik dan dan kualitas) kondisi secara waring.

yang

tinggi,

pertumbuhan sedikit lebih rendah. Uraian dalam protokol ini adalah untuk

pendederan yang dilakukan dalam waring yang dipasang di kolam tanah untuk masa pemeliharaan selama 1 bulan. Mempersiapkan kolam, meliputi

Diupayakan agar sirkulasi air dalam waring terjaga dengan menggosok sisi-sisi waring secara rutin terutama apabila populasi organisme penempel pada waring telah rata - Memasukkan volume air per sebayak hari 10% guna

mengolah tanah dasar, mengangkat sisa-sisa bahan organik, dan menabur kapur bila pH tanah rendah. Mengisi kolam melalui sistem

mempertahankan kualitas air kolam - Pada saat pemanenan, mengambil 50% populasi terbaik dari masingmasing kombinasi pemijahan dan dilakukan komunal. d. Pembesaran Tahap pembesaran ditujukan untuk mendapatkan udang galah calon induk dengan ukuran >30 gram/ekor. Persiapan wadah pemeliharaan Persiapan pembesaran kolam kolam sama untuk kegiatan persiapan benih pembesaran secara penyaringan hingga ketinggian air 30 cm, memupuk kolam dengan kotoran ayam 250-500 kg/ha, 15 kg/ha urea dan 10 kg/ha TSP Memasang waring ukuran 2x2 m dengan ukuran mata waring 1 mm beserta perangkat pendukungnya, yaitu shelter dan aerasi. - Memasukkan air hingga ketinggian 80 cm, dengan penetrasi cahaya 25-40 cm - Menebar juvenil yang telah siap dari masing-masing kombinasi pemijahan dengan kepadatan 250 ekor/m2 - Memberi pakan benih dengan pakan berprotein 38-40%, sebanyak 20% dari bobot biomass dengan frekwensi

seperti produksi

untuk

(pemeliharaan induk).

56

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

Penebaran benih - Padat tebar : o tahap pentokolan II (ukuran 10 15 ekor/m2) o tahap pembesaran (ukuran 5 10 ekor/m2) - Waktu tebar benih/tokolan dilakukan pada pagi atau sore hari - Aklimatisasi dilakukan hingga ada kesuaian dengan air kolam - Benih yang sehat dengan sendirinya akan keluar dari wadah aklimatisasi Pemberian pakan - Menimbang pakan sesuai kebutuhan o Pentokolan II : 10 6% biomass dengan frekuensi 3 4 x per hari o Pembesaran : 5 3% biomass dengan frekuensi 3-4 kali per hari - Ukuran butiran pakan disesuaikan dengan ukuran udang - Pemberian pakan disebar merata ke seluruh kolam

pemijahan pada kegiatan pembentukan populasi dasar sintetis disajikan pada Tabel 3. Induk betina F3 Citanduy paling baik dalam hal pemijahan, lebih dari 75% berhasil bertelur selama 15 hari

pemijahan. Kelangsungan hidup larva tertinggi diperoleh dari hasil pemijahan Bone-Ciamis, diikuti Bone-Bone Sedangkan dan pada

Mahakam-Mahakam.

kegitan pentokolan, kelangsungan hidup tertinggi diperoleh dari hasil pemijahan Mahakam-Bone diikuti Mahakam-Ciamis dan dan Bone-Bone (Tabel 4). Setiap kombinasi pemijahan diambil tokolan yang paling besar sebanyak 1000 ekor sehingga terdapat 9000 tokolan hasil pencampuran 9 kombinasi pemijahan. Tokolan tersebut dipelihara sampai

mencapai ukuran calon induk. Pada akhir pemeliharaan diseleksi calon induk yang ukurannya paling besar sebanyak 1000 ekor jantan dan 1000 ekor betina dengan ukuran dan bobot jantan 14,1 cm dan

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembentukan Populasi Dasar Sintetis Hasil pemijahan dan pemeliharaan

39,1 g serta betina 11,9 cm dan 18,5 g. Hasil kegiatan pendederan juvenil udang galah dengan teknologi bioflok disajikan pada Tabel 5.

larva udang galah dari sembilan kombinasi

57

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

Tabel 3. Keberhasilan Pemijahan dan Kelangsungan Hidup Larva pada Pembentukan Populasi Dasar Sintetis
JUMLAH BETINA (EKOR) 30 30 30 30 30 30 30 30 30 JUMLAH JANTAN (EKOR) 15 15 15 15 15 15 15 15 15 JUMLAH BETINA BERTELUR (EKOR) 26 22 21 15 12 19 17 21 16 KEBERHASILAN PEMIJAHAN (%) 89,7 81,5 77,8 55,6 46,2 73,1 73,9 72,4 57,1 SR LARVA-JUVENIL (%) 13,31 17,91 27,27 18,97 29,00 19,90 35,44 13,44 32,76

KOMBINASI CC CM CB MC MM MB BC BM BB

Tabel 4. Bobot Benih Udang Galah pada Pemeliharaan Tokolan Bulan Pertama dan Kedua serta Kelangsungan Hidup selama Pemeliharaan
KOMBINASI CC CM CB MC MM MB BC BM BB BOBOT 1 BLN (g) 0,100,05 0,060,02 0,060,02 0,200,10 0,090,08 0,230,23 0,050,02 0,120,07 0,100,05 BOBOT 2 BLN (g) 1,530,64 2,050,72 1,810,56 1,970,70 1,080,43 1,020,71 1,320,43 1,070,42 1,270,38 SR JUVENIL-TOKOLAN (%) 75,0 85,0 85,0 92,3 77,6 98,9 69,9 81,0 89,1

Tabel 5. Laju Pertumbuhan Harian, Kelangsungan Hidup, FCR dan Retensi Nitrogen
PERLAKUAN ULANGAN 1 Biofloc 2 3 RataanSTDV 1 2 3 RataanSTDV LPH (%) 12.18 11.29 10.95 11.470.64 11.29 8.57 7.87 9.241.8 SR (%) 92.00 98.00 89.11 93.044.53 53.78 77.78 93.78 75.1120.1 FCR 0.76 0.90 1.10 1.100.9 1.72 1.79 1.46 1.660.2 RETENSI NITROGEN (%) 58.93 49.82 41.08 49.498.92 26.13 25.1 30.81 27.353.05

Kontrol

58

PRODUKSI UDANG GALAH (H. Sutomo, D. Rohmana, S. Rosellia, K. Tisna Wibowo, A. Djadjanurdjasa, S. Hastuti, Sudiana, L. Rahmi, T. Bastian, Nendih, Bunga)

Tabel 6. Data Kegiatan Sistem Budidaya Terintegrasi Udang Galah-Padi (UGADI)


NOMOR SAWAH SAWAH 3 875 4,377 5 4 31 Mei 7.61 3.64 255 22 Aug 61.5 9.0 70.5 2,226.0 1.40 50.9

PARAMETER Luas (m ) Jumlah Tebar (ekor) 2 Padat Tebar (ekor/m ) Pakan (% BBM) Tebar Tanggal Panjang (cm) Berat (g) Pakan (g/hari) Panen Tanggal Ukuran Besar (kg) Ukuran Kecil (kg) Total (kg) Total (ekor) FCR SR (%)
2

SAWAH 1 1,126 5,750 5 4 07 Jun 7.31 3.31 305 22 Aug 61.0 9.0 70.0 1,965.0 1.58 34.2

SAWAH 2 1,028 5,180 5 4 07 Jun 10.42 10.47 868 09 Aug 97.0 6.0 103.0 3,037.0 1.51 58.6

SAWAH 4 666 2,544 4 4 31 Mei 7.92 3.98 162 22 Aug 52.5 4.0 56.5 1,845.0 1.11 72.5

SAWAH 5 849 4,425 5 4 31 Mei 7.61 3.64 258 22 Aug 65.0 4.0 69.0 2,270.0 1.94 51.3

Laju

pertumbuhan

harian

dan

Udang Galah Pamarican, Balai Udang Galah Karawang dan VEDCA Cianjur. Hasil kegiatan sistem budidaya

kelangsungan hidup benih udang galah pada perlakuan bioflok lebih tinggi

daripada kontrol sebagai akibat dari selalu tersedianya pakan dalam bentuk bioflok. Udang galah dapat meretensi protein sebanyak 17,3-25% (Rohmana dkk., 2010). Udang windu hanya meretensi nitrogen sebesar 16,3-17,1% (Hari et al.. 2004). Benih sebar udang galah pada tahun 2011 telah didistribusikan ke wilayah Jawa Barat (Sukabumi, Garut, Karawang),

terintregasi antara udang galah dan padi (Ugadi) disajikan pada Tabel 6. Kegiatan budidaya udang galah di sawah bersama padi menghasilkan kelangsungan hidup

antara 34,2-72,5%, lebih rendah dari budidaya udang di kolam yang

menghasilkan kelangsungan hidup antara 60-80%. budidaya Namun demikian FCR pada ugadi lebih baik daripada

Banten (Pandeglang), Kalimantan Timur, DI Yogyakarta (Sleman), dan Riau

budidaya monokultur di kolam yaitu antara 1.1-1.9. FCR budidaya monokultur udang galah umumnya di atas 2.

(Kampar). Sedangkan induk/calon induk pada tahun 2011 mulai didistribusikan ke Loka Riset Pemuliaan Sukamandi, Balai

59

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 2 Nopember 2013, hal 46-60.

KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pembentukan populasi

DAFTAR PUSTAKA
Asaduzzaman M, Wahab MA, Verdegem MCJ, Benerjee S, Akter T, Hasan MM, Azim ME. 2009. Effect of addition of tilapia Oreochromis niloticus and substrates for periphyton developments on pond ecology and production in C/N-controlled freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii farming systems. Aquaculture 287: 371-380. [BBPBATS] Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. 2007. Standar Prosedur Operasional (SPO) Pembesaran Udang Galah di Kolam. Sukabumi: BBPBATS, DJPB-DKP. [BBPBATS] Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.2009. Standar Prosedur Operasional (SPO) Pembenihan Udang Galah. Sukabumi: BBPBATS, DJPB-DKP. [LRPTBPAT] Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar Sukamandi.2010. Protokol Pemuliaan Udang Galah. Sukamandi: LRPTBPAT, PRPB-BRKP. New MB. 2002. Farming Freshwater Prawns: A Manual for Cultureof The Gaint River Prawn (Macrobrachium rosenbergii). Roma: Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rohmana, D. 2009. Konversi limbah budidaya ikan lele, Clarias sp., menjadi bakteri heterotrof untuk perbaikan kualitas air dan makanan udang galah, Macrobrachium rosenbergii [Tesis]. Bogor: Mayor Ilmu Akuakultur, Sekolah Pascasarjana, IPB. Weidenbach RP. 1982. Dietary components of freshwater prawns reared in Hawaiian ponds. Di dalam: New MB, Editor. Giant Prawn Farming. Giant Prawn 1980, An International Conference on Freshwater Prawn Farming; Bangkok, 15-21 June 1980. Amsterdam: Elseiver. hlm 257-267.

dasar sintetis menghasilkan calon induk dasar sintetis sebanyak 1.000 pasang. Benih sebar udang galah didistribusikan ke wilayah Jawa Barat (Sukabumi, Garut, Karawang), Kalimantan Banten Timur, DI (Pandeglang), Yogyakarta

(Sleman), dan Riau (Kampar). Sedangkan induk/calon induk didistribusikan ke Loka Riset Pemuliaan Sukamandi, Balai Udang Galah Pamarican, Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut Karawang dan VEDCA Cianjur. Kelangsungan hidup pada kegiatan budidaya udang galah bersama padi lebih rendah daripada budidaya udang di kolam. Namun

demikian FCR pada budidaya ugadi lebih baik daripada budidaya monokultur di kolam.

60