Anda di halaman 1dari 35

Daftar Isi

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang . . . . . . . . 1.2 Rumusan Masalah Penelitian 1.3 Tujuan Penelitian . . . . . . . 1.3.1 Tujuan Umum . . . . . 1.3.2 Tujuan Khusus . . . . 1.4 Manfaat Penelitian . . . . . . 1.4.1 Manfaat Teoritis . . . 1.4.2 Manfaat Praktis . . . . 1.5 Batasan Penelitian . . . . . . 1.5.1 Batasan Narasumber . 1.5.2 Batasan Teori . . . . . 1.6 Sistematika Penulisan . . . . 1 1 4 4 4 4 5 5 5 5 6 6 6 7 7 8 10 10 12 14 15 16 18 23 25 26

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . .

2 Landasan Teori 2.1 Denisi Konseling . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.1 Pastoral Konseling . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.1.1 Kelebihan utama dan batasan batasan pastoral konseling . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.1.2 Batasan-batasan tertentu dalam pastoral konseling: . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.2 Tujuan Konseling . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.3 Fungsi Konseling . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.4 Tahapan-Tahapan Layanan Konseling Pastoral . . . . . 2.1.5 Konsele Prole . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.1.6 Keterampilan-Keterampilan Konselor Kristen . . . . . . 2.1.7 Kepribadian Konselor . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.2 Denisi Biseksual . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2.2.1 Perkembangan Identitas Pada Biseksual . . . . . . . . 1

Daftar Isi 3 Penjelasan Kasus 4 Analisis dan Pembahasan 5 Penutup 5.1 Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5.2 Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

2 28 32 33 33 33

Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kehidupan manusia tidak pernah statis. Dimulai dari pembuahan sampai kematian selalu terjadi perubahan, baik dalam kemampuan sik maupun kemampuan psikologis. Perubahan inilah yang disebut sebagai perkembangan dalam rentang kehidupan manusia. Manusia memiliki tahapan perkembangan dengan tugas-tugas perkembangan yang penting untuk berbagai tahapan rentang kehidupan. Salah satu tahapan dalam rentang kehidupan manusia adal ah masa dewasa awal atau dewasa dini (dalam Hurlock, 1999). Masa dewasa awal atau dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Individu yang berada pada masa dewasa awal atau dewasa dini diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/isteri, orangtua, dan pencari nafkah, dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Masa dewasa awal atau dewasa dini memiliki beberapa tugas perkembangan, salah satu diantaranya adalah memilih pasangan. (dalam Hurlock, 1999). Berdasarkan teori perkembangan psikososial Erikson (dalam Papalia, Olds, & Feldman, 1998), masa dewasa awal (young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy versus isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif dan membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang terten tu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan 1

1.1. Latar Belakang

orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Genbeck dan Patherick (2006) menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam berpacaran yaitu keintiman dengan pasangan dan berbagi dengan orang lain yang mereeksikan tugas perkembangan pada masa ini. Individu dewasa awal atau dewasa dini mencari keintiman emosional dan sik kepada pasangan romantis. Hubungan ini mensyaratkan keterampilan seperti kesadaran diri, empati, kemampuan mengkomunikasikan emosi, pembuatan keputusan seksual, penyelesaian konik dan kemampuan mempertahankan komitmen. Keterampilan tersebut sangat penting ketika individu dewasa awal atau dewasa dini memutuskan untuk menikah, membentuk pasangan yang tidak terikat pernikahan, atau hidup seorang diri, atau memiliki atau tidak memiliki anak (Lambeth & Hallet dalam Papalia, 2008). Hal ini jugalah yang terjadi pada individu biseksual. Biseksual merupakan sebuah istilah yang merupakan salah satu dari tiga klasikasi utama orientasi seksual manusia disamping homoseksual dan heterogenitas. Orientasi seksual dapat dilihat sebagai salah satu dari empat komponen yaitu identitas seksual, jenis kelamin secara biologis, identitas gender, dan peran seks secara sosial (Shively & De Cecco dalam Fox, 2000). Suatu literatur penelitian telah mengemukakan secara jelas berbagai macam kriteria untuk mendenisikan orientasi seksual, termasuk di antaranya perilaku seksual, affectional attachment (close relationships) , fantasi-fantasi erotis, arousal, erotic preference, dan identikasi diri sebagai biseksual, heteroseksual, atau homoseksual (Shively, Jones & De Cecco dalam Fox, 2000). Seksologis Jerman, Krafft-Ebing me nyebut biseksual dengan sebutan psychosexual hermaphroditism , yaitu merujuk pada eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan ke betulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Namun, penggunaan dari biseksual telah mengalami perubahan. Ellis (dalam Sto rr, 1999) kemudian meninggalkan istilah psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu. Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas dan homosek-

1.1. Latar Belakang

sualitas (dalam Storr, 1999). Masters (1992) mengatakan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki ma upun perempuan. Biseksual juga didenisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional dan seksual kepada pria dan wanita (Rob in & Hammer dalam Matlin, 2004). Selain itu, biseksual juga dapat didenisikan seba gai orientasi seksual yang mempunyai ciri- ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis dan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Orang-orang yang memiliki orientasi biseksual, dapat mengalami pengalaman seksual, emosional dan ketertarikan afeksi kepada sesama jenis dan lawan jenis (dalam wikipedia, 2008). Kinsey dalam penelitian yang dilakukan di Amerika menyatakan sekitar 1% individu mengatakan bahwa diri mereka adalah biseksual yaitu 1,2% pria dan 0,7% wanita (dalam Santrock, 2003). Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih terbatas (Oetomo, 2006). Individu gay, lesbi atau biseksual sering mengalami diskriminasi. Di masyarakat Indonesia sering didengar larangan dan ancaman dari para pemimpin agama, yang tanpa berpikir panjang dan membaca lebih cermat teks-teks keagamaan dengan mudahnya menyatakan mereka sebagai orang berdosa. Hal ini sangat menyakitkan bagi kaum gay, lesbi dan biseksual di Indonesia. Tidak adanya pengakuan dalam kehidupan bermasyarakat ju ga merupakan perilaku diskriminatif. Media massa jarang membahas isu-isu yang penting untuk kaum gay, lesbi dan biseksual (Oetomo, 2006). Kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari komunitas heteroseksual dan homoseksual. Hal ini dikarenakan adanya prasangka seksual. Kaum heteroseksual cenderung meyakini bahwa kaum biseksual seringkali tidak setia kepada pasangannya (Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Bagi kaum lesbi dan gay, mereka sering meyakini bahwa individu biseksual membingungkan dan kaum lesbi dan gay kadang-kadang memunculkan prasangka seksual untuk mencegah kaum biseksual dari munculnya pengakuan kaum biseksual yang menyatakan mereka adalah kaum lesbi dan gay (Herdt, Rust, Peplau & Spalding dalam Matlin, 2004). Secara khusus, manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin melepaskan diri dari hubungannya dengan manusia lain. Orang membutuhkan orang lain, orang selalu berada dalam hubungan timbal balik dengan orang lain. Maka orang harus selalu bertemu, bercakap-cakap dengan orang lain.

1.2. Rumusan Masalah Penelitian

Percakapan menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan konseling. Pelayanan konseling tidak sama dengan khotbah atau pemberian nasihat. Belajar konseling tidak sama dengan belajar menjadi penasihat (advisor), guru atau seorang pemberi resep (recipe giver). Karena pelayanan konseling yang utama adalah justru menolong konsele (klien atau penerima bimbingan) untuk bertanggung jawab penuh dalam hidupnya, dan di bawah terang rman Tuhan menolong dia menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan dan persoalan hidupnya. Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih mendalam tentang orientasi seks biseksual dan bagaimana membantu, menangani serta memotivasi individu yang memiliki orientasi seks biseksual agar kembali memiliki kehidupan dengan orientasi seks yang normal.

1.2

Rumusan Masalah Penelitian

Penulisan karya ilmiah ini dimaksudkan untuk dapat menjawab penanganan konseling bagi individu yang memiliki orientasi seks biseksual. Pertanyaan yang ingin dijawab dalam penulisan karya ilmiah ini, yakni: Apa penyebab individu mengalami penyimpangan seks berorientasi biseksual? Bagaimana pandangan Alkitab tentang biseksual? Bagaimana penanganan konseling yang tepat oleh gereja terhadap penderita biseksual?

1.3
1.3.1

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memberikan informasi bagi masyarakat umum mengenai ciri-ciri individu yang berorientasi biseksual dan bagaimana cara penanganannya.

1.3.2

Tujuan Khusus

Penulisan karya ilmiah ini juga memiliki tujuan khusus yaitu membekali para pelayan Tuhan yang memiliki hati untuk memberikan pelayanan konseling

1.4. Manfaat Penelitian

dengan menyekolahkan mereka ke sekolah konseling dan membuka pelayanan konseling centre di gereja atau di tempat umum, serta memberikan informasi bagaimana cara penanganan oleh gereja pada kasus individu yang mengalami orientasi biseksual.

1.4
1.4.1

Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis, antara lain: 1. Dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi disiplin ilmu psikologi terutama pada bidang konseling, mengenai penanganan bagi penderita penyimpangan seks berorientasi biseksual. 2. Dapat menjadi masukan bagi para peneliti lain yang tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai penyimpangan seks berorientasi biseksual.

1.4.2

Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis, antara lain: 1. Memberikan informasi dan pencerahan kepada individu biseksual sehingga individu biseksual dapat terbuka pemikirannya dan memiliki keinginan untuk kembali menjalani hidup normal. 2. Menjadi sumbangan informasi bagi lingkungan sekitar individu biseksual agar dapat memberikan dukungan positif sehingga kaum biseksual dapat sembuh dan memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi.

1.5

Batasan Penelitian

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis membagi batasan penulisan kepada dua hal berikut ini:

1.6. Sistematika Penulisan

1.5.1

Batasan Narasumber

Batasan narasumber yang penulis kemukakan dalam penulisan karya ilmiah ini tidak hanya sebatas di lingkungan gereja namun mencakup kalangan umum.

1.5.2

Batasan Teori

Penulis membatasi kajian teori dalam penulisan karya ilmiah ini mengenai ciri-ciri dan penanganan konseling pada penderita penyimpangan seks yang berorientasi biseksual.

1.6

Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam penulisan ini akan dibagi ke dalam empat bab. Gambaran umum tentang isi dari setiap bab pada penulisan ini akan di jelaskan sebagai berikut : Bab I: Pendahuluan, memuat latar belakang, rumusan masalah penilitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penilitian dan sistematika penulisan. Bab II: Landasan Teori, bab ini berisi tentang teori-teori yang menjadi acuan dalam penulisan karya ilmiah ini. Bab III: Penjelasan Kasus, bab ini berisi tentang penjelasan dan penanganan pada kasus individu yang mengalami penyimpangan seks berorientasi biseksual. Bab IV: Analisis dan Pembahasan, bab ini berisi analisis dan pembahasan mengenai data-data yang telah dianalis berdasarkan teori pada teori bab II. Bab IV: Penutup, bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran-saran yang diperoleh dari pembahasan dalam penulisan ini untuk penyempurnaan dan pengembangan selanjutnya.

Bab 2 Landasan Teori


2.1 Denisi Konseling

Secara etiomologi, konseling berasal dari bahasa Latin Consilium artinya dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami sedangkan dalam bahasa Angglo Saxon istilah konseling berasal dari Sellan yang berarti menyerahkan atau menyampaikan. Di dalam Alkitab asal istilah counsellor dari Yesaya 9: 5, yakni: Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang : Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Tuhan Yesus kepada manusia sebagai Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa dan Raja Damai. Tuhan Yesus adalah konselor yang sejati, kita sebagai pesuruh dari konsulor yang sejati. Tanamkan dalam diri anda pengakuan bahwa Tuhan Yesus yang mau bekerja dalam diri anda untuk menasehati sesama anda, karenanya sandarkan diri anda pada pimpinan Roh Kudus. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu, tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yoh 14:16,26) Roh Kudus sebagai Penolong yang menyertai dan Pengingat atas pernyataanpernyataan Yesus kepada kita. Roh Kudus adalah suatu Pribadi yang mem7

2.1. Denisi Konseling

punyai ciri-ciri: Menolong, menghibur, mengingatkan dan mengajar. Roh Kudus adalah suatu pribadi yang terlibat dalam pekerjaan konseling. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, konseling berarti pemberian bimbingan oleh orang yang ahli kepada seseorang. Dalam situs Wikipedia bahasa Indonesia, konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah yang berakhir pada teratasi nya masalah yang dihadapi klien. Bantuan yang diberikan kepada individu yang sedang mengalami hambatan, memecahkan sesuatu melalui pemahaman terhadap fakta,harapan, kebutuhan dan perasaan - perasaan klien. Konseling adalah proses pemberian informasi objektif dan lengkap, dengan panduan keterampilan interpersonal, bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau upaya untuk mengatasi masalah tersebut.

2.1.1

Pastoral Konseling

Pastor adalah kata bahasa Latin yang berarti gembala. Jabatan pastor sejak awal dikenakan kepada pemimpin-pemimpin gereja untuk menjelaskan kepedulian mereka terhadap kehidupan rohani jemaat mereka baik secara individu maupun kelompok. Pastoral konseling adalah hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dan sebagainya), suatu dialog yang terjadi antara pendeta dan konselenya, yang bisa melibatkan, seluruh aspek kehidupan mereka masing-masing. Sebagai konselor dengan konselennya (klien) sedalam mana konselor mencoba membimbing konselennya ke dalam suatu suasana percakapan konseling yang ideal (conductive atmosphere) yang memungkinkan konsele dapat mengenal dan mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, persoalannya, kondisi hidupnya, dimana ia berada sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Pelayanan konseling adalah bagian integral dari pelayanan hamba Tuhan. Hamba Tuhan akan kehilangan identitasnya jikalau ia menolak pelayanan yang satu ini. Meskipun demikian pelayanan Konseling bukan pelayanan secara otomatis dapat hamba Tuhan lakukan hanya oleh karena bakat-bakat alamiahnya dalam pengembalaan ataupun oleh karena kuliah-kuliahnya di

2.1. Denisi Konseling

dalam sekolah Theologi. Berdasarkan denisi ini kita bisa melihat paling tidak empat aspek penting yang harus dikenal oleh setiap konselor (Hamba Tuhan): 1. Hubungan timbal balik (interpersonal relationship) antara konselor dengan konselennya Ini meliputi persoalan-persoalan sekitar : 1. Alasan mengapa hubungan timbal balik ini harus merupakan suatu dialog. 2. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan konselor dalam hubungan timbal balik ini. 2. Hamba Tuhan sebagai konselor Kecenderungan untuk melakukan pelayanan konseling tanpa tanggung jawab. 3. Suasana percakapan konseling yang ideal (conducive atmosphere) 1. Understanding ( sikap penuh perhatian) 2. Responding ( Memberi tanggapan yang membangun). 4. Melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggung jawabnya pada Tuhan dan mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan 1. Melihat tujuan hidupnya secara Kristen. 2. Melihat Alkitab sebagai standard kebenaran yang mutlak untuk menilai tingkah laku dan kebutuhannya. 3. Memakai sarana dan jalan yang sesuai dengan iman Kristen dalam mencapai tujuan yang benar. 4. Melihat tujuan hidupnya secara realistis. 5. Mencapai tujuan hidup yang dicita-citakan dengan takaran dan kekuatannya sendiri.

2.1. Denisi Konseling 2.1.1.1 Kelebihan utama dan batasan batasan pastoral konseling

10

Kita telah mengetahui bahwa meskipun pastoral konseling berhubungan dengan bentuk-bentuk konseling lainnya, pastoral konseling juga memiliki bentuk khusus yang membedakannya dari bentuk-bentuk konseling lainnya. Ciriciri pastoral konseling berkaitan baik dengan kelebihan maupun keterbatasannya. Kelebihan utama pastoral konseling adalah sebagai berikut : 1. Pelatihan pelayanan secara teologi. 2. Ketajaman rohani. 3. Penggunaan sumber-sumber rohani. 4. Adanya kepercayaan dan penyesuaian proses konseling sehubungan dengan pelayanan sebagai seorang pribadi dan sebagai perwakilan dari gereja. 5. Kesempatan untuk menggunakan sumber-sumber seputar kehidupan berjemaat. 6. Kesempatan untuk mengambil inisiatif dalam membangun suatu hubungan konseling dan kemungkinan diadakannya intervensi awal. 7. Kesediaan pelayanan-pelayanan konseling dengan mengabaikan masalah pembayaran. 2.1.1.2 Batasan-batasan tertentu dalam pastoral konseling:

1. Waktu. Hanya sedikit pendeta yang memiliki waktu bagi semua jemaatnya yang membutuhkan konseling. Bahkan pendeta yang tanggung jawab utamanya adalah memelihara dan memberikan konseling pun merasa kekurangan waktu; tekanan dari tanggung jawab lain seringkali memungkinkan untuk melihat bahwa seseorang mengalami krisis yang parah. Namun sayangnya hal ini merusak kelebihan pastoral yang unik dari konseling intervensi awal yang potensial dan berorientasi-prevensi. Meskipun demikian, seperti yang diketahui banyak pendeta, permintaan pelayanan adalah tekanan yang konstan, mengurangi waktu yang tersedia untuk konseling dan, dalam beberapa kasus, membatasi konseling untuk intervensi-intervensi yang jelas.

2.1. Denisi Konseling 2. Pelatihan

11

Dalam beberapa kasus, pelatihan ini hanya bersifat sementara dan mempunyai implikasi untuk jenis konseling yang perlu ditangani. Beberapa model pastoral konseling memisalkan pengetahuan yang lebih maju tentang teori kepribadian dan psikoterapi dan merupakan pertanyaan-pertanyaan berguna bagi para pendeta yang hanya mengikuti satu atau dua kursus psikologi atau konseling. Sebagian besar pendeta tidak memiliki latar belakang yang dibutuhkan dalam teori kepribadian dan psikologi psychotherapeutic untuk memberikan psikoterapi rekonstruktif yang intensif. Atau mereka juga tidak memiliki pra-syarat pelatihan mengenai psikodiagnostik dan psikopatologi untuk memberikan perawatan total bagi beberapa individu yang bermasalah. Para pendeta, sama seperti konselor profesional lainnya, harus secara jelas menyadari keterbatasan mereka dalam bersaing dan siap serta bersedia mengalihkannya kepada orang lain ketika keterbatasan-keterbatasan itu dicapai. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam keterbatasan ini. Namun pastoral konseling seharusnya tidak dipandang sebagai suatu pengganti bagi terapi medis atau terapi psikologi lainnya. Ketika terapi lain dibutuhkan, pastoral konseling masih merupakan sumber pertolongan tambahan yang khusus dan berguna. 3. Konik Tidak sama seperti para profesional konseling lainnya, pendeta tidak memiliki batasan kontak yang istimewa dengan para klien-nya di luar kantor konseling. Alasan mengapa para psikoterapis membatasi kontak adalah jika kontak tersebut menyulitkan terapi, kadang-kadang meng- kontaminasi perawatan secara menyeluruh sehingga kontak ini harus dihentikan. Aturanaturan yang mengatur pelaksanaan pertemuan- pertemuan psikoterapi passien dan ahli terapinya dibuat untuk memfasilitasi tugas psychotherapeutic. Aturan-aturan ini berbeda dengan aturan yang terkait dengan masalah sosial, bisnis, atau hubungan kekeluargaan. Namun, pendeta secara rutin bertemu dengan mereka yang terlibat dalam konseling melalui berbagai peran mereka. Hal ini seringkali membuat baik pendeta maupun jemaatnya dalam situasi yang janggal, terutama dalam hubungan konseling jangka panjang.

2.1. Denisi Konseling 4. Pembayaran

12

Meskipun hal ini merupakan kelebihan yang membuat bantuan pendeta tersedia bagi mereka yang terbatas sumber keuangannya, tidak adanya pembayaran akan menurunkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab dalam proses konseling. Hal ini juga meningkatkan kemungkinan bahwa seseorang mengambil keuntungan dari waktu pelayanan, menggunakannya dengan caracara yang tidak produktif. Tidak adanya pembayaran, bagaimanapun juga, bisa merupakan kelebihan maupun kekurangan dari pastoral konseling yang biasa dilakukan. Pastoral konseling tampaknya, sesuai dengan uraian di atas, menempati posisi terbaik sebagai konseling yang terfokus dan berani. Terapi intensif jangka panjang tampaknya tidak sesuai dengan terbatasnya waktu dari sebagian besar pendeta, atau sebagian besar pendeta tidak pernah mengikuti pelatihan yang penting dan tidak memiliki latar belakang psikologi sehingga tidak memiliki pengalaman yang sesuai ataupun produktif. Konseling jangka pendek juga membuat para pendeta dapat menghindari beberapa pemindahan komplikasi yang digolongkan sebagai bagian utama dari pertemuan konseling jangka panjang. Secara ringkas, pastoral konseling harus benar-benar terfokus, dan fokus yang sarankan sebaiknya berhubungan dengan tujuan utama dari pertumbuhan rohani.

2.1.2

Tujuan Konseling

Konseling sekuler bertujuan untuk menolong orang yang dikonseling (konselee) mendapatkan kebahagiaan hidup. Sebaliknya, konseling Kristen memiliki tujuan utama agar konselee dapat hidup menyenangkan Tuhan, yaitu melakukan apa yang Tuhan kehendaki sesuai dengan Firman-Nya. Ketaatan seseorang kepada Tuhan dan Firman-Nya akan membuahkan kebahagiaan hidup yang sejati. Tujuan utama suatu konseling adalah sebagai berikut : 1. Menyediakan fasilitas untuk perubahan perilaku Hampir semua para ahli dalam bidang konseling akan menyetujui bahwa tujuan suatu konseling adalah membawa klien agar terjadi perubahan yang memungkinkan klien hidup sesuai dengan pembatasan- pembatasan yang ada dalam masyarakat. Tujuan konseling harus jelas, jadi perubahan perilaku yang dikehendaki ialah perubahan yang bagaimana dan selanjutnya bagaimana melakuk-

2.1. Denisi Konseling

13

an perubahan tersebut dengan bantuan dari konselor. Istilah milieu therapy menunjukkan perlunya mengubah lingkungan ( manipulasi lingkungan ) agar selanjutnya mengubah klien. 2. Meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu Dalam kenyataanya hampir semua orang mengalami kesulitan menghadapi proses pertumbuhan dan perkembangannya. Tidak semua orang yang berpengaruh terhadap proses perkembangan seseorang, bisa memperlihatkan tindakan sama dan konsisten, sehingga selalu menghadapi sesuatu yang baru yang belum tentu disenangi atau dituruti. Akar persoalan seperti ini menajdi tanda bahwa kehidupan tidak mungkin terhindar dari persoalan yang setiap kali harus dihadapi dan karena itu membutuhkan kemampuan, keterampilan dan juga kemauan dan kesanggupan untuk menghadapi. Hal ini bisa diberikan secarah sistematis oleh seorang konselor dan inilah salah satu dari tujuan konseling, yakni meningkatkan keterampilan untuk menghadapi sesuatu. Membantu orang belajar untuk menghadapi situasi dan tuntutan baru adalah tujuan penting dari konseling. 3. Meningkatkan kemampuan dalam menentukan keputusan Dalam batas tertentu, konseling diarahkan agar seseorang bisa membuat sesuatu keputusan pada saat penting dan benar-benar dibutuhkan. Keputusan yang diambil pada akhirnya harus merupakan keputusan yang diambil pada akhirnya harus merupakan keputusan yang ditentukan oleh klien sendiri dengan bantuan dari konselor. Konseling bertujuan membantu klien memperoleh informasi dan kejelasan di luar pengaruh emosi dan cirri kepribadiannya yang bisa mengganggu pengambilan keputusan. Dengan konseling klien dibantu memperoleh pemahaman bukan saja mengenai kemampuan , minat dan kesempatan yang ada, melainkan juga mengenai emosi dan sikap yang bisa mempengaruhi dalam menentukan pilihan dan pengambilan keputusan. 4. Meningkatkan dalam hubungan antar perorangan Sebagai makhluk sosial, seseorang diharapkan mampu membina hubungan yang harmonis dengan lingkungan sosialnya, mulai dari ketika kecil di sekolah, dengan teman sebaya, rekan sepekerjaan atau seprofesi dan dalam keluarga. Kegagalan dalam hubungan antar perorangan adlah kegagalan

2.1. Denisi Konseling

14

dalam penyesuaian diriyang antara lain disebabkan oleh kurang tepatnya memandang atau menilai diri sendiri atau kurangnya keterampilan untuk menyesuaikan diri. Konseling bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan seseorang sehingga pandangan dan peningkatan terhadap diri sendiri bisa lebih objektif serta meningkatkan keterampilan dalam penyesuaian diri agar lebih efektif. 5. Meningkatkan dalam hubungan antar perorangan Beriorientasi pada paham humanistik, bahwa pada hakikatnya jelas bahwa orang punya kemampuan, namun acap kali ternyata kemampuan tersebut tidak atau kurang berfungsi, tidak actual, jadi berfungsinya tidak mencapai maksimal sebagaimana keadaan sebenarnya yang mungkin bisa dicapai. Memberfungsikan kemampuan yang benar-benar dimiliki dengan membantu menyediakan fasilitas, adalah tujuan dari konseling. Kalau ternyata pada seseorang kemampuannya tidak efektif, mungkin penyebabnya terletak pada gambaran dan ciri-ciri kepribadiannya atau bisa juga karena lingkungan yang menghambat.

2.1.3

Fungsi Konseling

1. Konseling dengan fungsi pencegahan merupakan upaya mencegah timbulnya masalah kesehatan. 2. Konseling dengan fungsi penyesuaian dalam hal ini merupakan upaya untuk membantu klien mengalami perubahan biologis, psikologis, social, cultural, dan lingku ngan yang berkaitan dengan kesehatan. 3. Konseling dengan fungsi perbaikan dilaksanakan ketika terjadi penyimpangan perilaku klien atau pelayanan kesehatan dan lingkungan yang menyebabkan terjadi masalah kesehatan sehingga diperlukan upaya perbaikan dengan konseling. 4. Konseling dengan fungsi pengembangan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan upaya peningkatan peran serta masyarakat. 5. Konseling dengan fungsi advokasi menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal.1

2.1. Denisi Konseling

15

2.1.4

Tahapan-Tahapan Layanan Konseling Pastoral

Untuk dapat memberikan layanan Konseling Pastoral (KP) maka konselor harus mengetahui tahap-tahapnya, kekhasan dalam setiap tahap tersebut. Menurut Tulus Tuu (2007:72-81) ada beberapa tahap untuk dapat memberikan layanan Konseling Pastoral yakni: 1. Tahapan awal Pada tahap ini konselor mendengarkan pergumulan pikiran atau perasaan konseli (yang mengalami sakit). Apabila relasi konselor cukup baik dengan konseli, pendampingan dapat diawali dengan berdoa memohon rahmat/berkat Tuhan agar proses KP yang akan dilangsungkan (kemungkinan bisa terjadi dalam beberapa pertemuan) dapat berlangsung dengan baik. 2. Tahapan inti Pada tahap ini konselor berupaya menggali, mencari, menemukan pokokpokok akar masalah (dari pikiran/perasaan konseli) serta akibat-akibat yang dihadapikonseli. Dalam tahap ini konselor perlu mengembangkan percakapan dengan menggunakan model-model Respons Understanding (U), Respons Suportif (S), Respon Interpretatif (I), dan Respons Evaluatif (E). Respons Understanding (U), berisi pemahaman dan pengertian, maksudnya konselor mengungkapkan dengan kalimatnya sendiri tentang pikiran/perasaan konseli. Respons Understanding ini sering ada dimana-mana dalam konseling, sehingga dapat dikombinasi dengan Rerspons SIE (Suportif, Interpretatif, Evaluatif). Respons Suportif (S), berisi reeksi teologis, untuk mendukung, menentramkan, meneguhkan, menghibur konseli. Respons ini sangat berguna untuk merespons konseli yang mengungkapkan kebimbangan, keragu-raguan, ketakutan, kekhawatiran, gelisah, resah, sedih, duka, putus asa, merasa kecil/minder, dan tidak berdaya, bingung, kecewa, benci, dendam. Dalam percakapan pada tahap ini perasaan konseli perlu ditanggapi konselor dengan memberikan inspirasi teologis. Oleh karena itu konselor perlu memiliki pemahaman yang berkaitan dengan ayat-ayat Kitab Suci tertentu supaya dapat mendorong konseli keluar/membebaskan diri dari rasa itu. Respons Interpretatif (I), isinya reeksi psikologis bertujuan untuk menafsir, menuntun, membimbing dan menerangkan. Intinya mengajak konseli merenungkan pikiran/perasaan yang menjadi problemnya dalam konteks

2.1. Denisi Konseling

16

pemikiran psikolog tertentu. Respons Interpretatif (I) ini akan mengarah ke Respons Evaluatif (E) dan Respons Action (A) d. Respons Evaluatif (E) isinya unsur psikologis dan teologis. Respons ini berusaha mengevaluasi, menanggapi hal-hal yang baik dari konseli, memberikan ide-ide, alternativealternatif jalan keluar, atau solusi. 3. Tahapan penutup Pada tahap ini konselor berusaha untuk mengakhiri proses KP dengan Respons Action (A). Maksudnya, konselor membantu konseli untuk membuat tindakan konret. Supaya proses ini dapat berjalan baik, pentingnya memiliki kebiasaan berdoa perlu digaris bawahi. Menurut Alastair V.Campbell (1987:198-199), KP dapat berlangsung dengan menggunakan tahap-tahap tersebut apabila konselor menjalankan fungsifungsi berikut: 1. Fungsi penyembuhan, menolong konseli supaya dapat mengatasi persoalan psikologis dan spiritual cukup berat. 2. Fungsi peneguhan, memberikan dukungan pada konseli yang menghadapi permasalahan dan kemungkinan menjadi kehilangan pengharapan juga. 3. Fungsi bimbingan, memberikan bimbingan moral dan pengarahan spiritual supaya tetap memiliki tujuan hidup. 4. Fungsi rekonsiliasi, memberikan bimbingan sehingga konseli dapat menyelesaikan masalah intrapersonal maupun interpersonal dalam hubungannya dengan sesama maupun anggota keluarga.

2.1.5

Konsele Prole

Ada tiga golongan manusia yang disebutkan oleh Paulus dalam I Kor 2:123:4, yaitu: Manusia duniawi (I Kor 2:14), manusia rohani yang bertabiat duniawi (I Kor 3:2) dan manusia yang dewasa dalam Kristus (I Kor 2: 15). Seorang konselor harus dapat mengerti siapa konsele yang anda hadapi. Berikut adalah klasikasi konsele : 1. Orang duniawi Orang yang bukan Kristen dan tidak menerima Kristus sebagai juru selamat.

2.1. Denisi Konseling

17

Kehidupan manusia duniawi dikendalikan oleh ego yang duduk di takhtanya dan mengendalikan seluruh kehidupan individu bersama dengan sejumlah menteri yaitu menteri-menteri: Tragedi dalam kehidupan seperti ini adalah karena di atas takhta ini sering terjadi pergantian pemerintahan menteri-menteri (kudeta). Ada orang-orang tertentu yang suatu saat hawa nafsunya duduk di takhta pemerintahan sehingga ego orang tersebut jatuh terkuasai. Orang tersebut akan hidup dalam berbagai hawa nafsu (misalnya nafsu marah, nafsu makan atau nafsu seks). Penguasaan menteri kemauan yang membuat orang tersebut mempunyai kemauan keras yang melampaui batas sehingga sering mengakibatkan pelanggaran. Keinginan yang kuat yang menguasai seseorang akan mengakibatkan "break-down" jika yang diinginkannya tidak tercapai. Pergantian kekuasaan atau kudeta-kudeta seperti ini akan menyebabkan seseorang putus asa terhadap dirinya dan mencari jalan keluar atas masalah "kudeta dalam kehidupan" ini. Kegagalan dalam menemukan jalan keluar ini sering menyebabkan orang tersebut bunuh diri. Seorang konselor dapat membantunya. Ada kelepasan bagi orang yang terbelenggu ini. Yesus berkata: "Mari kepadaKu yang berbeban berat ..." (Mat 11:28). 2. Orang rohani bayi dan kanak-kanak. Orang Kristen lahir baru (bayi rohani) yang memiliki ciri-ciri sering bertengkar seperti kanak-kanak. Melalui kelahiran baru, Yesus sudah berdiam di hatinya. Ia kini sering berdoa dan meminta pimpinanNya. Tetapi pada keadaan-keadaan tertentu ketika lengah, sejumlah kudeta sering terjadi, misalnya kudeta menteri emosi. Itu sebabnya Paulus berkata: Bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara duniawi? (I Kor 3:3) Mengapa? Karena raja ego masih duduk di takhtanya. Hanya saat-saat tertentu saja ego meminta pertolongan Tuhan. Hasilnya adalah orang rohani yang hidup dalam tabiat duniawi. Orang ini tahu bahwa jalan keluar dari kesukaran adalah Yesus. Ini membedakannya dari orang duniawi yang tidak mengetahui jalan keluar dan jalan yang benar. 3. Orang Kristen dewasa Seorang Kristen yang sungguh-sungguh seharusnya menempatkan Kristus duduk di takhta hatinya. Dengan demikian Yesus merupakan pemegang ken-

2.1. Denisi Konseling

18

dali pemerintahan. Semua menteri tetap ada dan berfungsi tetapi tunduk kepada Yesus dan tidak memerintah lagi. Ciri orang Kristen yang matang adalah segala sesuatu (menteri) diatur seimbang (balance). Langkah yang perlu diambil agar menjadi orang Kristen dewasa adalah: Harus menyerahkan diri dan menyerahkan pimpinan hidup kepada Yesus. Akui Yesus sebagai Raja hidupmu. Dengan sikap: Kendalikan cita-citaku, kemauanku ... emosiku, maka anda akan tumbuh menjadi Kristen dewasa. Gantungkan cita-cita anda lebih tinggi dari bintang di langit, yaitu di hatiNya. Anda harus mengerti dari golongan manakah konsele yang anda layani itu. Jangan terkecoh oleh usia dan penampilan seseorang. Ada perbedaan antara usia rohani dan usia jasmani. Seorang konselor harus bermata jeli. Jangan heran jika anda bertemu dengan rohaniwan yang belum lahir baru.

2.1.6

Keterampilan-Keterampilan Konselor Kristen

Ada beragam jenis ketrampilan yang harus dikembangkan seorang konselor Kristen kalau dia mau melayani para kliennya. Kemampuan- kemampuan tersebut diperlukan dalam keseluruhan proses konseling sejak dari pertemuan awal sampai kepada pemecahan nal dari permasalahan. Secara berkala konselor harus mengevaluasi bagaimana kemampuannya dalam setiap bidang ketrampilan tersebut. Seringkali ada manfaatnya memiliki seorang rekan yang membantu dalam evaluasi ini. 1. Kemampuan untuk memperoleh data Jika seorang konselor ingin berhasil, dia harus mampu memperoleh cukup data untuk membuat penilaian mengenai akar dari permasalahan dan terapi yang sesuai. Yang menjadi intinya adalah observasi yang tajam terhadap setiap gejala yang ditunjukkan oleh konsele. Selain dari penampilan secara umum, ketidakwajaran apapun seperti disorientasi, delusi, halusinasi, obsesi, fobia, atau gangguan pikiran, harus diperhatikan. Konselor akan mencoba memahami suasana hati konsele dan hubungan antar pribadinya. Untuk memperoleh perspektif yang benar dari klien-nya, sangat penting untuk mengembangkan seni "mengajukan pertanyaan yang tepat". Hal ini mencakup pengetahuan tentang bagaimana mengungkap dan menangani hasil dari pertanyaan-pertanyaan provokatif yang menimbulkan kegelisahan. Begitu pula bagaimana beralih dari pertanyaan-pertanyaan yang umum

2.1. Denisi Konseling

19

ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesik. Konselor juga harus mengembangkan kemampuan untuk mengarahkan wawancara secara logis dan halus menuju ke bagian-bagian yang sulit dan menyakitkan (masalah kejiwaan yang pernah dialami sebelumnya, penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau alkohol, percobaan bunuh diri). Sebagai tambahan, sangat penting bagi konselor untuk mampu menerangkan istilah kata dengan jelas, memberikan bimbingan, dan mengakhiri wawancara secara bijaksana. 2. Kemampuan untuk merumuskan pendekatan Memilih di antara berbagai cara pendekatan dan rencana tindakan yang bisa diadopsi sesuai dengan setiap kepribadian klien merupakan salah satu hal paling sulit yang dihadapi oleh seorang konselor. Bagaimana seorang konselor dapat mengetahui cara untuk memulainya? Nasehat kami adalah supaya dia menggunakan beberapa teknik dasar pada saat dia memulai tugasnya. Dia akan belajar untuk membuat beragam pendekatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu dari para konselenya seiring dengan meningkatnya pengalaman, pengetahuan, dan sensitivitas yang dimilikinya. Dia harus bersabar dengan dirinya sendiri saat mencoba untuk menguasai dunia konseling yang kompleks dengan berbagai dimensinya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan belajar kapan saatnya memberikan wawasan/pengertian dan menawarkan dukungan, kapan saatnya menekankan tingkah laku dan kapan saatnya untuk memfokuskan pada perasaan, kapan saatnya bertindak langsung dan kapan saatnya bertindak tidak langsung, kapan saatnya menggali masa lalu dan kapan saatnya berkonsentrasi pada masa sekarang. Dia juga belajar pentingnya menjadi diri sendiri konsele akan percaya pada konselor hanya jika dia bersikap spontan/apa adanya dan nondefensif. Kesulitan untuk mengetahui bagaimana memilih pendekatan yang tepat menjadi bertambah lagi dengan adanya sejumlah besar pilihan yang tersedia. Berikut ini adalah suatu daftar umum yang singkat mengenai apa yang dapat dilakukan oleh seorang konselor : Menawarkan dukungan. Konseling yang suportif (supportive counseling) benar-benar membantu secara emosional dan spiritual. Beberapa teknik yang masuk dalam kategori ini adalah memberi nasehat (Amsal 19:20), penghiburan (2 Korintus 1:3-4), memberi dorongan (Roma 1:11-12), mendengarkan (Elihu di Ayub 32), dan mendidik (suratsurat Paulus). Konseling yang suportif, tentu saja, tidak hanya terbatas

2.1. Denisi Konseling

20

pada pertemuan-pertemuan pribadi. Keseluruhan tubuh Kristus berpotensi besar sebagai sumber dukungan bagi individu-individu yang membutuhkan bantuan. Memberikan pengertian. Perumpamaan-perumpamaan dari Kristus memberikan penjelasan kepada para pendengar-Nya mengenai kebenaran mengenai diri mereka sendiri yang tadinya tidak mungkin dapat mereka mengerti. Nabi Natan menggunakan pendekatan yang serupa untuk membuat Daud menyadari dosanya. Menganjurkan konsele untuk mengaku dosa (Yakobus 5:16). Memberikan penguatan lisan secara positif (Roma 1:8). Memperlihatkan teladan seorang Kristen. Banyak tokoh Alkitab yang hidupnya menjadi teladan bagi orang lain. Ingatlah teladan Musa kepada Yosua, teladan Naomi kepada Rut, teladan Kristus kepada muridmurid-Nya. Mendidik para konsele. Hal ini untuk menantang keyakinan-keyakinan yang salah dari konsele (Galatia 4:9). Konselor Kristen dapat memberitahukan kebenaran-kebenaran Tuhan sebagai gantinya. Prosedur yang paling berguna dalam kasus ini adalah dengan memberikan konsele tugas- tugas untuk dikerjakan di rumah. Bekerjasama dengan konsele dalam sebuah kelompok. Alkitab seringkali menekankan pentingnya dan manfaat-manfaat pribadi yang diperoleh dari menjalin interaksi dengan orang lain saling mengasihi satu sama lain, saling memikul beban, bersikap ramah satu sama lain (1Korintus 12, Efesus 4:14-16). Memulai program konseling bersama keluarga konsele. Ada penekanan yang kuat mengenai keluarga, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rasul Paulus memberi banyak nasehat tentang kehidupan keluarga (Efesus 5:22-33; 6:1-4). Manfaatkan teknik-teknik modern untuk mengembangkan tingkah laku. Beberapa teknik yang tersedia adalah pelatihan ketegasan, pelatihan tingkah laku, dan penguatan secara positif maupun negatif.

2.1. Denisi Konseling

21

Sampai di bagian ini, kita hanya menyentuh bagian permukaan saja. Di antara rencana-rencana tindakan lain yang bisa diterapkan oleh seorang konselor adalah pemurnian melalui meditasi, menasehati (1Tesalonika 5:14), konfrontasi, dan mendesak konsele untuk melakukan reeksi atau membuka diri. Dalam banyak kejadian, seorang konselor akan menemukan bahwa satu metode pendekatan saja tidaklah cukup. Dukungan saja tidak cukup. Pengertian/wawasan saja tidak cukup (Salomo punya banyak pengertian/ wawasan tetapi masih tetap jatuh dalam dosa). Begitu pula, mendengarkan atau melepaskan tekanan semata akan memiliki pengaruh yang kecil pada kehidupan konsele. Perlu ada perubahan-perubahan tingkah laku yang lebih spesik. Alkitab berulangkali menekankan pentingnya aktivitas Kristen yang benar (Matius 7:24, Filipi 2:13; 4:13). Jika hanya ada sedikit atau tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik dari tingkah laku konsele dalam batas waktu yang masuk akal, beberapa cara pendekatan tambahan harus diterapkan. Dalam kasus seperti itu kita sering menemukan bahwa akan sangat membantu bagi konsele untuk memeriksa rencana hidupnya sendiri (contohnya mengamati bagaimana sebenarnya ia menjalani hidup). Kemudian kita membantunya membuat perubahan-perubahan yang tepat. Kita sebut cara ini bergerak dari rencana "A" ke rencana "B". Rencana "B" menganjurkan aktivitas-aktivitas harian spesik yang akan menghasilkan kesehatan. Di antara anjuran-anjuran tersebut adalah interaksi sosial, olahraga, rekreasi, dan saat teduh. Rencana ini perlu dinyatakan secara terbuka dan dievaluasi ulang secara berkala. Jika ternyata semua ini terbukti tidak mencukupi, seorang konselor akan menyadari bahwa faktor-faktor lainnya mungkin terlibat dan bahwa evaluasi lebih lanjut diperlukan. Mungkin perlu mengadakan pemeriksaan kejiwaan secara khusus. Atau menganjurkan konsele untuk mengadakan pemeriksaan sik yang ekstensif, atau pengobatan oleh psikiater, atau mungkin perawatan rumah sakit. 3. Mengikuti teladan Kristus Sangat penting bahwa seorang konselor Kristen berupaya secara sadar untuk menjadi seperti Kristus. Semakin dekat sang konselor menyamakan caranya berhubungan dengan konsele seperti cara Yesus berhubungan dengan orangorang yang dilayani-Nya, ia akan makin berhasil. Satu ciri yang menyolok dalam pelayanan Yesus adalah Ia memperlihatkan berbagai sikap. Ada saat-

2.1. Denisi Konseling

22

nya Ia lemah lembut dan pasif. Di saat lain Ia aktif dan penuh keramahan, atau baik tetapi tegas. Jika diperlukan, Ia bisa benar-benar bersikap keras. Dengan kata lain, Yesus menempatkan diri-Nya pada situasi yang spesik. Demikian juga seharusnya seorang konselor Kristen. (Lihat 1Tesalonika 5:14). Bercermin dari pelayanan Yesus, poin-poin utama dari konseling Kristen adalah kebaikan hati dan kelemahlembutan (2Korintus 1:3-4; 10:1; Galatia 6:1; 1Tesalonika 2:7,11; 2Timotius 2:24; Titus 3:2). Tanda paling jelas dari pelayanan Kristus dan yang terlihat melalui konselor Kristen adalah kasih yang ia tunjukkan kepada konselenya. Ingatlah bahwa kasih adalah hal utama yang ditekankan dalam Alkitab: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." (1Korintus 13:1) "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Upaya seorang konselor untuk meneladani sikap Kristus akan terlihat jelas dari kontak awal hingga melalui semua aspek dari proses konseling. Dengan menerapkan teladan pendekatan Kristus, seorang konselor akan mampu memberikan rasa nyaman kepada konsele, membina hubungan, membentuk suasana penuh kejujuran untuk wawancara, dan menunjukkan kasih, perhatian, dan empati. Konselor yang demikian akan menjadi peka terhadap perubahan-perubahan suasana hati konsele. Dia akan eksibel dalam menghadapi berbagai situasi yang sulit (misalnya, jika konsele menolak untuk berbicara atau jelas-jelas paranoid), mencoba tidak memperlihatkan keterkejutan besar, dan mempertahankan tingkat kontak mata yang benar. Dia akan sensitif/ peka terhadap masalah-masalah yang kelihatan sepele seperti tatanan sik (misalnya posisi tempat duduk) dan posisi tubuhnya (dia akan agak condong ke depan untuk menunjukkan ketertarikannya). Komunikasi akan berada pada tingkat yang dapat dipahami oleh konsele. Seorang konselor yang mengikuti pola pendekatan seperti Kristus yaitu mengembangkan kemampuan mendengarkan yang tajam (Yakobus 1:19) dan akan mampu memperoleh/mengeluarkan informasi yang berkaitan dengan bijaksana.

2.1. Denisi Konseling 4. Kemampuan menggunakan Firman Tuhan

23

Alkitab memainkan peran yang sangat penting dalam konseling Kristen. Dengan menyediakan makanan rohani Firman Tuhan menghasilkan pertumbuhan dan penyembuhan bagi konsele. Seorang konselor Kristen akan menggunakan Alkitab secara tajam, bijaksana, dan peka. Ada berbagai cara dimana konselor bisa menggunakan Firman Tuhan, misalnya sebagai alat/cara untuk menantang dan konfrontasi secara langsung, atau sumber penghiburan dan dukungan yang positif. Alkitab juga memberikan nasihat praktis dan berbagai teladan hidup orang- orang kudus. Dalam keadaan-keadaan yang tepat konselor bisa mempertimbangkan untuk memberikan tugas rumah (mempelajari Alkitab dan/atau menghafal). Atau dia mungkin bisa membantu konselenya dengan menunjukkan jalan-jalan dalam kehidupan pribadinya sendiri yang memiliki nilai spesial. Dengan bertambahnya pengalaman, seorang konselor akan menemukan lebih banyak dan makin banyak lagi cara menggunakan Alkitab. Kita telah melihat bahwa ada sejumlah persyaratan yang dibutuhkan untuk berhasilnya konseling Kristen. Ini meliputi ketrampilan mengumpulkan data, kemampuan merumuskan cara pendekatan yang cocok untuk setiap individu konsele, mengikuti teladan Kristus, dan pengetahuan bagaimana menggunakan Alkitab. Seorang konselor yang bijaksana akan secara berkala mengevaluasi dirinya sendiri dan bersungguh-sungguh memacu kemajuan dirinya dalam bidang-bidang dimana dia merasa lemah.

2.1.7

Kepribadian Konselor

Kepribadian konselor sangat menentukan hubungan yang terjadi di dalam konseling pastoral. Kata kunci yang perlu dibangun melalui kepribadian konselor ialah menjadi kepercayaan dari konseli agar konseli merasa penting membukakan hal-hal yang ia rasakan sangat berharga dalam permasalahannya atau beban-bebannya. Sukses tidaknya dalam praktik konseling pastoral sangat tergantung pada kepribadian konselor. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan oleh seorang konselor, yaitu: 1. Memiliki kepribadian yang kuat. Tanda kepribadian yang tidak sehat, misalnya dalam hidup setiap hari sering dijumpai hal yang aneh-aneh, antara lain bila bertemu dengan seseorang te-

2.1. Denisi Konseling

24

rus merasa benci atau sebaliknya terus merasa simpati. Juga dasar pengalaman yang aneh-aneh, misalnya sewaktu dia dulu anak-anak pernah dipukul oleh orang yang tampangnya kurus, tinggi, dan berkumis. Pengalaman ini terpendam. Setiap kali dia bertemu dengan orang yang kurus, tinggi, dan berkumis, dia terus terpancing. Ini semua tanda kepribadian yang tidak sehat. Seorang konselor harus mampu mengontrol gejala seperti ini di dalam dirinya sendiri. 2. Bersikap menerima seseorang sebagaimana adanya. Menerima seseorang sebagaimana adanya (as he/she as) adalah penting sekali. Apabila konseli datang (masuk) dengan celana pendek, misalnya, atau memaki-maki, atau tersenyum, jangan terus terpengaruh oleh kemampuan konseli. Menerima seseorang sebagaimana adanya adalah ciri pendekatan Yesus (bndk. Yohanes 3; Yohanes 4; Lukas 19). Sewaktu Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, Ia menerima perempuan itu apa adanya, tanpa menghakiminya. Ia menerima perempuan yang didapati berzinah; Ia juga menerima Zakheus, seorang pemungut cukai yang tidak jujur itu. Yesus berbelaskasihan terhadap orang lain. Belas kasih Yesus merupakan gambaran pendekatan-Nya perlu menjadi jiwa pelayanan konseling pastoral (bndk. Markus 8:2; 6:34). 3. Empati (Emphaty). Seorang konselor harus menanamkan perasaan empati di dalam dirinya. Empati ialah mampu merasakan problem seseorang seperti orang itu merasakannya, namun konselor tidak bisa hanyut dalam perasaan konseli. Gembala sebagai konselor memasuki atau merasakan bagaimana perasaan konseli. 4. Jaminan Sosial. Seorang konselor harus mempunyai jaminan emosional (emotional security). Apabila konseli menangis, misalnya, konselor tidak usah ikut menangis. Apabila konseli tertawa, konselor tidak perlu ikut tertawa. Seandainya konseli mengharapkannya, cukuplah tersenyum saja. Tujuan kita berbuat demikian agar kita (konselor) berfungsi sebagai cermin bagi konseli, agar dia melihat dirinya sendiri melalui sikap kita (konselor).

2.2. Denisi Biseksual 5. Menghindari Nasihat-Nasihat.

25

Memberikan nasihat-nasihat adalah pekerjaan yang paling mudah, akan tetapi yang paling sulit adalah menolong. Konselor harus menahan diri untuk tidak memberikan atau menjejali nasihat-nasihat, kecuali di akhir pertemuan. Ini pun hanya bila perlu. Menasihati sering disebut directive counseling. Menasihati berarti konselor yang terus berbicara. Cara ini tidak baik. Keadaan konseli jangan kita tinjau dari sudut moral dan lantas kita memarahinya (misalnya, bagaimana konseli telah mencuri uang ibunya, dan lain-lain). Jangan memberikan penilaian moral (moral evaluation) dalam konseling agar yang bersangkutan tidak takut. Jangan terlalu cepat meminta berdoa atau membaca Alkitab. Ini semua akan menutupi masalah-masalah yang telah lama disimpannya. 6. Ilmu Psikologi dan Psikoterapi. Konselor seharusnya telah mendapatkan latihan-latihan konseling dan memahami ilmu jiwa-dalam, antara lain: Freud, Jung, Adler, dan lain-lain. Penyakit gangguan jiwa ditentukan oleh ada atau tidaknya rasa rendah diri yang tidak wajar (MC) sebagai hasil persaingan ketika dia kalah. Belajarlah tentang psikoterapi, dan sebaiknya seorang konselor pernah dikonseling (dianalisis). Siapakah yang kita terima dalam konseling? Semua orang, kecuali orang gila (Schizophrenia). Kita bisa menolong orang yang neurosis; tetapi apabila dalam keadaan parah, orang tersebut perlu kita bawa ke psikiater. Apa batas jiwa yang sehat dengan yang tidak sehat? Ada dua jenis penyakit jiwa (mental illness) atau mental disorder, yaitu Neurosa (Neurosis) dan Psikhosa (Psychosis). Penderita neurosa pada umumnya masih bisa bekerja mencari makan, tetapi ia sering terganggu oleh suatu gejala kejiwaan yang tidak bisa dikontrol sendiri karena dia (konseli) tidak mengetahui apa penyebabnya dan sejak kapan gejala itu menimpa dirinya.

2.2

Denisi Biseksual

Krafft-Ebing, salah seorang seksologis Jerman menyebut biseksual dengan sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetu lan dari karakteristik

2.2. Denisi Biseksual

26

pria dan wanita dalam satu tubuh (Bowie dalam Storr, 1999). Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah psychosexual hermaphroditism dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu. Menurut Freud (1905), biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas, sedangkan menurut Stekel (1920) dan Klein (1978), biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari maskulinitas dan femininitas melainkan heteroseksualitas dan homoseksualitas (dalam Storr, 1999). Dalam pengertian umumnya, biseksual adalah orientasi seksual yang mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual kepada pria dan wanita. Menurut Masters (1992), biseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara seksual baik itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Biseksual juga didenisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan secara psikologis, emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan (Robin & Hammer, 2000 dalam Matlin, 2004). Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa biseksual adalah istilah untuk orang dengan orientasi seksual yang memiliki ketertarikan estetis, psikologis, emosional dan seksual baik kepada laki-laki maupun perempuan.

2.2.1

Perkembangan Identitas Pada Biseksual

Terdapat empat tingkatan pada biseksual dalam menghadapi identitas mereka (Weinberg dkk, 1994): Initial Confusion Merupakan periode yang sangat membingungkan, ragu dan berjuang dengan identitas mereka sebelum mendenisikan diri mereka sendiri sebagai biseksual. Biasanya merupakan langkah awal dalam proses menjadi biseksual. Bagi beberapa biseksual, periode ini dilewati dengan perasaan seksual yang kuat terhadap kedua jenis kelamin yang sangat mengganggu, tanpa orientasi, dan terkadang menakutkan Finding and Applying The Label Pada beberapa orang yang awalnya belum mengenal istilah biseksual, biasanya mereka mendapatkan istilah tersebut dengan mendengar, membacanya di suatu sumber, atau mempelajarinya dari komunitas biseksual. Penemuan

2.2. Denisi Biseksual

27

ini membuat perasaan mereka menjadi lebih bermakna sehinga hal ini kemudian menjadi titik balik dalam kehidupan mereka. Dilain pihak ada pula yang sudah memiliki pengetahuan tentang biseksual namun belum dapat melabelnya pada diri mereka. Hal ini terjadi pada mereka yang awalnya merasakan dirinya sebagai homoseksual. Selain itu ada pula yang tidak menjalani titik balik yang spesik dalam kehidupannya namun perasaan seksual terhadap kedua jenis kelamin terlalu sulit untuk disangkal. Mereka pada akhirnya menyimpulkan untuk tidak memilih. Faktor terakhir yang mengarahkan seseorang untuk memakai label biseksual adalah dorongan yang datang dari teman- teman yang telah mendenisikan diri mereka sebagai biseksual. Settling into The Identity Tingkatan ini dikarakteristikkan dengan transisi yang lebih rumit dalam selflabeling. Pada tingkat ini mereka lebih dapat menerima diri, tidak begitu memperhatikan sikap negatif dari orang lain Continued uncertainity Banyak pria dan wanita yang meragukan identitas biseksual mereka karena hubungan seksual yang eksklusif. Setelah terlibat secara eklusif dengan pasangan berbeda jenis dalam waktu tertentu, beberapa diantara mereka mempertanyakan sisi homoseksual dari seksualitas mereka. Sebaliknya, setelah terlibat dengan pasangan sejenis, mereka mulai mempertanyakan komponen heeroseksual dalam seksualitas mereka.

Bab 3 Penjelasan Kasus


Kasus penyimpangan seksualitas yang berorientasi biseksual tidak hanya terjadi di kalangan umum saja, biseksual dapat terjadi pada siapapun, termasuk para pelayanan gereja yang aktif dalam melayani. Penyimpangan seksualitas yang berorientasi biseksual sendiri, baik yang ringan maupun berat jika tidak segera mendapatkan pertolongan atau bantuan oleh orang-orang yang memang memiliki skill atau kemampuan dalam mengatasi gangguan-gangguan tersebut, dalam hal ini konselor atau pun psikolog, dan psikiater, maka gangguan tersebut dapat menimbulkan kesenjangan moral di lingkungan masyarakat khususnya akan berdampak negatif di lingkungan gereja. Pada kasus biseksual ini akan sangat mempengaruhi hubungan mereka tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan Tuhan. Berikut ini adalah contoh kasus yang penulis coba kemukakan mengenai seorang pelayan gereja yang mengalami gangguan penyimpangan seks yang berorientasi biseksualitas. A. Deskripsi Kasus Salah seorang pemuda pelayan Tuhan di sebuah gereja lokal berinisialkan GS memiliki kelainan dalam hubungan seksual. Pada awalnya GS hidup bersama neneknya namun kemudian GS hidup seorang diri. Pada saat kesendiriannya GS hidup dengan mengenal banyak orang sehingga dia hidup dalam lingkungan yang pergaulannya bebas. Kemudian GS memiliki seorang pacar wanita berinisial ET yang keintimannya sudah melampaui batas dan sudah melakukan hubungan layaknya suami-istri (seksual) yang seharusnya jika dalam proses pacaran tidak sampai demikian. Ketika GS tinggal dan berkunjung di rumah pamannya, GS mengalami pelecehan seksual (sodomi) oleh pamannya yang berinisial MK secara ber28

29 ulang kali dan GS akhirnya menikmati pelecehan seksual tersebut karena GS merasakan kenikmatan seksual yang belum pernah GS rasakan sebelumnya. Kemudian GS berteman dengan orang-orang yang memiliki kelainan seksual yang salah satunya adalah AD. Lambat laun, GS terjerumus di dalamnya. GS menjalani hubungan dengan sesama jenis dengan AD dan juga berpacaran dengan ET pada waktu yang bersamaan dan GS menikmatinya. Hingga pada akhirnya hubungan GS dan ET berakhir dan saat ini GS masih menjalani hubungannya dengan AD. Pada kehidupannya GS tetap terlibat dalam pelayanan gereja. Hingga pada akhirnya GS merasakan kejenuhan akan kehidupannya, GS berkeinginan untuk hidup normal dan memiliki keluarga yang utuh yaitu menjadi suami yang baik dan memiliki seorang istri dan anak sehingga GS pun mengakhiri hubungannya dengan AD. B. Latar Belakang Subyek Kasus Pada saat ini GS berusia 30 tahun dan masih berstatus lajang. Sejak GS berusia 15 tahun, GS hidup sendiri tidak bersama dengan kedua orang tuanya dikarenakan kedua orang tuanya telah bercerai. Kemudian GS dibesarkan oleh neneknya di Jakarta. Setelah beberapa waktu lamanya GS memilih untuk hidup sendiri dengan bekerja dan menyewa tempat tinggal. GS sendiri memiliki kepribadian lemah gemulai, keras kepala, egois dan sensitif namun juga berjiwa humoris dan kreatif sehingga GS disukai oleh banyak orang dan GS memiliki banyak teman. GS memiliki hobi tnes, bernyanyi dan berbicara di depan banyak orang. Oleh sebab itu GS bekerja sebagai Master Ceremony (MC) disebuah perusahaan Event Organizer. Pacar GS sendiri yang berinisial ET pandai bermain musik dan terlibat dalam pelayanan di gereja. Saat ini ET sedang menyelesaikan kuliahnya yang telah menginjak semester akhir disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Paman GS berinisial MK memiliki seorang istri dan dua orang anak. MK mempunyai sebuah bengkel dan tinggal di Bekasi. MK sendiri memiliki kepribadian yang keras dan tidak bersahaja. Sedangkan GS bertemu dengan komunitas homoseksualnya di tempat kebugaran (gym). Pada saat di tempat gym, GS bertemu dengan AD. Kepribadian AD yang lucu dan bersahaja membuat AD mudah bergaul dengan siapa saja. AD sendiri berusia 25 tahun dan memiliki tubuh atletis.

30 C. Identikasi Masalah Kekecewaan yang dirasakan GS setelah kedua orang tuanya bercerai membuat dirinya bertumbuh dengan perhatian dan pengawasan yang kurang. Kemudian saat GS hidup seorang diri, jiwanya yang masih sangat rentan (mudah terpengaruh), emosi yang labil dan kurangnya perhatian orang tua membuatnya terjerumus dalam pergaulan yang tidak sehat yang dimulai pada saat GS memiliki pacar, mengalami pelecehan seksual dan hingga akhirnya terlibat dalam komunitas homoseksual. D. Penanganan Kasus Setelah bertemu dengan teman lamanya yang merupakan seorang konselor, GS ingin menjalani konseling sehingga GS memutuskan untuk mendaftar mengikuti sesi konseling. Pada tahap awal, konselor mendengarkan segala permasalahan yang dihadapi oleh GS. Berikut adalah poin-poin yang didapat pada tahap ini: 1. Pada awalnya GS mengalami kekecewaan karena kedua orangtuanya berpisah. 2. Kemudian setelah memulai hidup seorang diri GS terlibat pergaulan bebas. 3. Lalu GS menjalin hubungan dengan seorang wanita dengan tidak sehat. 4. Pada saat berkunjung ke kediaman keluarganya GS mengalami pelecehan seksual. 5. Semasa berprofesi sebagai MC, GS terlibat dalam komunitas homoseksual dan sulit untuk meninggalkannya. 6. Pada akhirnya GS menjalin hubungan biseksual yaitu dengan sesama jenis dan juga dengan lawan jenis. Kemudian pada tahapan selanjutnya yaitu tahapan inti. Konselor berupaya menggali, mencari, menemukan pokok-pokok akar masalah serta akibatakibat yang dihadapi konseli. Berikut adalah poin-poin yang didapat pada tahap ini: 1. Kurangnya perhatian dan pengawasan yang didapat GS semasa remaja yang disebabkan oleh perceraian kedua orang tuanya.

31 2. Keinginantahuan yang begitu besar akan dunia namun tidak sebanding dengan pemahamannya akan agama sehingga menyebabkannya rentan dan terjerumus dalam pergaulan bebas. 3. Keinginan untuk berubah dan meninggalkan kebiasaan buruknya begitu besar namun tidak ditopang dengan dukungan-dukungan orang disekitarnya. Lalu yang terakhir pada tahapan penutup konselor berusaha untuk mengakhiri proses KP dengan Respons Action (A). Maksudnya, konselor membantu konseli untuk membuat tindakan konret. Berikut adalah poin-poin yang didapat pada tahap ini: 1. Konselor memberikan pandangan-pandangan pada konseli sehingga konseli dapat melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah membuatnya terjerumus pada kehidupan biseksual. 2. Konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai dimana saja terdapat komunitas homoseksual dan tindakan apa yang konseli akan lakukan untuk keluar dari komunitas tersebut. Kemudian konselor juga memberikan arahan agar konseli dapat benar-benar meninggalkan komunitas tersebut. 3. Konselor memberikan pengarahan mengenai seks yang baik dan benar menurut pandangan Kristen. Lambat laun kebiasaan buruk GS pun berubah karena GS ingin berubah. GS meninggalkan komunitas dan kebiasaan lamanya sebagai homoseksual dan memiliki komunitas yang baru dimana terdapat banyak anak-anak Tuhan yang memberikan dukungan dan doa agar GS dapat keluar dari kebiasaan hidupnya yang buruk. Membutuhkan waktu yang lama untuk GS dapat lepas dan meninggalkan kebiasaan hidup sebagai homoseksual. Berulang kali GS jatuh bangun namun hal itu tidak menyurutkan semangat dan tekadnya untuk berubah dan pada akhirnya membuahkan hasil yang baik.

Bab 4 Analisis dan Pembahasan

32

Bab 5 Penutup
5.1 5.2 Kesimpulan Saran

33