Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I.

IDENTITAS Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan Agama Suku/Bangsa Status perkawinan Masuk Rumah Sakit Jiwa : Nn. H : Perempuan : 35 tahun : Jl. Pulau Laut Banjarmasin : SD (kelas 3) :: Islam : Banjar/Indonesia : Cerai : 13 Juni 2013

II.

RIWAYAT PSIKIATRI Autoanamnesa dilakukan tanggal 13 Juni 2013 pukul 11.30 WITA di poli RS ULIN dengan penderita. A. KELUHAN UTAMA Cemas kalau dirinya sakit dan akan meninggal B. KELUHAN TAMBAHAN Sering curiga pada orang lain C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Autoanamnesis Pada tahun 1978 menurut pasien yang diberitahukan oleh ibu pasien, saat pasien

masih bayi pasien sudah di tinggal oleh ayah pasien sehingga pasien hanya tinggal dengan ibu pasien.

Saat usia 6 tahun (tahun 1984) menurut pasien, pasien sudah sering ditinggal oleh orangtua pasien, sehingga pasien akan tinggal sendiri dirumahnya. Saat itu menurut pasien, pasien sering menangis di rumah karena sedih di tinggal ibu pasien. Pasien juga mengaku tidak begitu banyak memiliki teman dan lebih sering menyendiri di rumahnya, dan pasien sering merasa takut kalau ibunya akan meninggalkan pasien. Pasien hanya sekolah sampai usia 9 tahun ( kelas 3 SD). Pasien berhenti karena masalah ekonomi. Saat usia 16 tahun (tahun 1994) pasien sudah menikah, sebelum menikah pasien mengaku pernah diperkosa oleh tetangganya, saat itu pasien mengaku diberikan minuman yang membuat pasien terangsang. Saat menjalani pernikahan pasien mengaku sering bertengkar dengan suaminya karena pasien bercerita tentang dirinya yang pernah diperkosa. Saat itu pasien sempat ingin menyilet tangannya untuk bunuh diri tapi suami pasien dapat membujuknya. Pada tahun 1997 pasien mengakupernah mengonsumsi inex, pasien mengaku hanya mengonsumsinya sampai tahun 2002 saja. Pasien mengaku mengonsumsinya saat ada acara atau perayaan saja di tempat kerjanya di tempat karoeke. Tahun 1998 (saat berumur 20 tahun) pasien bercerai dengan suaminya karena suami pasien tidak tahan lagi dengan pasien. Pasien memiliki 2 orang anak, kedua anak pasien ikut dengan mantan suaminya ke jawa. Setelah bercerai pasien bekerja di tempat karoke, setelah 4 bulan bercerai dengan suaminya pasien menikah dengan seorang polisi yang sering ditemui pasien di tempat kerjanya, menurut pasien pasien merupakan istri kedua dari polisi tersebut. Saat bersama dengan suami baru pasien, pasien sering dipukuli oleh suaminya dengan pistol, pasien juga sering diinjak injak dan di ancam oleh suami pasien. Pasien memiliki 3 orang anak dengan suami pasien sekarang. Tahun 2008 Ibu pasien meninggal dunia karena sakit, saat ibu pasien meninggal pasien merasa sedih dan sering menangis sendiri. Tahun 2009 pasien bercerai dengan suaminya karena pasien tidak tahan disiksa lagi. Ketiga anak pasien sekarang tinggal dengan pasien. Awal tahun 2010 anak pasien yang ke 3 masuk rumah sakit karena TBC, anak pasien sempat dirawat dirumah sakit selama 3 minggu. 4 bulan kemudian anak korban

yang ke 2 masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama. Dalam waktu 1 tahun pasien bolak balik rumah sakit membawa anaknya berobat. Pada tengah tahun 2010 pasien sempat jatuh sakit dan harus di opname di rumah sakit, bersamaan dengan itu anak ke 2 pasien juga sedang dirawat dirumah sakit yang sama dengan pasien karena penyakit TBC. Pasien masuk rumah sakit ULIN di bagian penyakit dalam wanita, saat dirawat disana pasien berteriak teriak, pasien berteriak dia tidak ingin mati. Pasien mengaku saat itu dia merasa takut sakitnya akan membuatnya meninggal. Karena pasien mengamuk dan bicara tidak nyambung pasien di bawa ke RS Sambang Lihum pada pertengahan tahun 2010. Pasien sempat dirawat disana 10 hari. Saat dirawat disana pasien tidak begitu mau meminum obat yang diberikan. Pasien pulang dari sambang lihum karena keadaan pasien mulai tenang sehingga keluarga pasien menjemput pasien pulang. Setelah keluar dari Sambang Lihum pasien tidak teratur meminum obat yang diberikan dan akhirnya pasien tidak mau meminum obatnya lagi. Pasien mengatakan keadaannya baik baik saja setelah keluar RS Sambang Lihum. Pada Tengah 2011 pasien merasakan dirinya kembali cemas akan kesehatannya, pasien kembali merasa takut yang berlebihan kalau dirinya akan mati karena sakit. Kadang ketika pasien merasa sesak nafas pasien akan pergi ke IGD berulangkali. Walau pun sudah di jelaskan pasien baik baik saja, pasien tetap khawatri tentangg kesehatannya dan terus bertanya tentang kesehatannya pada orang lain. Saat pasien merasa takut mati pasien merasakan jantungnya yang berdebar debar, nafasnya menjadi sesak, serta perut pasien terasa sakit. Kemudian pasien berobat pada dokter, Pasien didiagnosis maag kronis, kemudian pasien diberikan obat, pasien menyebutkan saat itu salah satu obat yang diberikan adalah diazepam(lupa kalau kada itu clobazam). Pasien sempat berobat selama 3 bulan. Pada akhir tahun 2011 pasien berobat lagi dengan dr. Asykin Sp,Kj, menurut pasien saat itu pasien diminta untuk dirawat di RS Sambang Lihum, tapi pasien tidak mau sehingga pasien hanya rawat jalan saja. Pasien diberikan obat racikan oleh dokter. Saat meminum obat yang diberikan pasien selalu merasakan rasa tidak percaya obat tersebut dapat menyembuhkan pasien, pasien juga merasa obat tersebut mengandung

racun sehingga pasien sering tidak meminum obat yang diberikan. Pasien hanya berobat samapai tengah tahun 2012. Awal tahun 2013 pasien sering mengurung dirinya dirumah karena takut jika dia keluar rumah dia akan sakit. Pasien juga sudah tidak mau bekerja lagi. Pasien merasa tidak ada semangat untuk bekerja dan selalu merasa malas. Pasien hanya sering berhubungan dengan teman pasien lewat hp, pasien mengaku dia selalu bertanya tentang penyakit penyakit yang mungkin dia derita. Pada tanggal 13 Juni 2013 pasien datang ke RS ULIN dan mengeluhkan pasien merasa cemas terhadapa sakit yang dia derita, pasien juga merasakan takut bahwa dirinya akan mati, pada saat di ukur tekanan darah pasien, pasien mengaku jantungnya terasa beerdebar debar karena takut dia mengalami hipertensi bahkan setelah pasien tau tekanannya normal dia tetap mengaku berdebar debar dan merasa takut. Pasien juga mengaku sering curiga dengan orang orang disekitarnya. Pasien juga mengaku mengalami kesulitan untuk tidur. Pasien mengaku dia sudah merasakan hal ini sejak tahun 2010. Pasien mengaku sering minum air putih yang banyak supaya racun dalam tubuhnya terbuang sehingga pasien bisa kencing 30 kali dalam sehari.

D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien pernah masuk RS Sambang Lihum karena berteriak teriak dia tidik ingin mati. E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI 1. Riwayat Prenatal Tidak ada data yang cukup 2. Infancy (0-1,5 tahun) basic trust vs miss trust Tidak ada data yang cukup 3. Early childhood (1,5 - 3 tahun) Autonomy vs Shame and Doubt Tidak ada data yang cukup 4. Preschool age (3-6 tahun) inisiative vs guilt

idak ada data yang cukup 5. School age (6-12 tahun) Industry vs inferiority Saat usia 6 tahun menurut pasien, pasien sudah sering ditinggal oleh orangtua pasien, sehingga pasien akan tinggal sendiri dirumahnya. Saat itu menurut pasien, pasien sering menangis di rumah karena sedih di tinggal ibu pasien, dan pasien sering merasa takut kalau ibunya akan meninggalkan pasien. Pasien juga mengaku tidak begitu banyak memiliki teman dan lebih sering menyendiri di rumahnya. Pasien mulai bersekolah di sekolah dasar umur 6 tahun. Pasien hanya sekolah sampai usia 9 tahun karena masalah ekonomi. 6. Adolescence (12-20 tahun) Identity vs Role diffusion Pada usia ini pasien belum memiliki teman dekat. Pasien sering merasa cemas akan segala sesuatu yang dikerjakannya. Pasien menikah saat usia 16 tahun, pasien sempat ingin bunuh diri karena bertengkar dengan suaminya. 7. Riwayat Pendidikan Pasien hanya sekolah sampai SD kelas 3. Pasien berhenti sekolah karena masalah ekonomi. 8. Riwayat Pekerjaan Pasien tidak bekerja lagi. Saat usia 16 tahun pasien bekerja sebagi pedagang alat rumah tnagga, kemudian usia 20 tahun pasien bekerja sebagai penjaga di tempat karoke di Banjarmasin 9. Riwayat Perkawinan Pasien pernah menikah 2 kali, pasien menikah pertamakali saat usianya 16 tahun. Saat menjalani pernikahan pasien mengaku sering bertengkar dengan suaminya karena pasien bercerita tentang dirinya yang pernah diperkosa. Saat itu pasien sempat ingin menyilet tangannya untuk bunuh diri tapi suami pasien dapat membujuknya. 4 tahun kemudian (saat berumur 20 tahun) pasien bercerai dengan suaminya karena suami pasien tidak tahan lagi dengan pasien. Pasien memiliki 2 orang anak,

kedua anak pasien ikut dengan mantan suaminya ke jawa. Setelah bercerai pasien bekerja di tempat karoke, setelah 4 bulan bercerai dengan suaminya pasien menikah dengan seorang polisi yang sering ditemui pasien di tempat kerjanya, menurut pasien pasien merupakan istri kedua dari polisi tersebut. Saat bersama dengan suami baru pasien, pasien sering dipukuli oleh suaminya dengan pistol, pasien juga sering diinjak injak dan di ancam oleh suami pasien. Pasien memiliki 3 orang anak dengan suami pasien sekarang. F. RIWAYAT KELUARGA Pasien merupakan anak satu satunya. Hubungan antara anggota keluarga tidak harmonis dikarenakan ayah pasien meninggalkan pasien dan ibunya sejak pasien bayi. Setelah perceraian terjadi pasien tinggal bersama ibunya. Tidak ada riwayat sakit serupa dalam keluarga. Genogram :

Herediter (-) Ket : Laki-laki perempuan Penderita meninggal

G. RIWAYAT SITUASI SEKARANG Pasien tinggal dengan ke 3 anaknya dirumahnya. Pasien merasa cemas terhadapa sakit yang dia derita, pasien juga merasakan takut bahwa dirinya akan mati, pada saat di ukur tekanan darah pasien, pasien mengaku jantungnya terasa beerdebar debar karena takut dia mengalami hipertensi bahkan setelah pasien tau tekanannya normal dia tetap mengaku berdebar debar dan merasa takut. Pasien juga mengaku sering curiga dengan orang orang disekitarnya. Pasien juga mengaku mengalami kesulitan untuk tidur. Pasien mengaku sering minum air putih yang banyak supaya racun dalam tubuhnya terbuang sehingga pasien bisa kencing 30 kali dalam sehari. H. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA Penderita merasa dirinya sakit dan ingin mengobatinya

III.

STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Pada saat datang ke Poli Jiwa RS ULIN pada tanggal 13 juni 2013 Seorang perempuan, sesuai usia, berambut lurus panjang. Pasien menggunakan jaket berwarna kuning dengan celana kain berwarna putih. Pasien tampak gelisah saat akan dilakukan pemeriksaan. Saat pertama kali masuk ruangan, pasien duduk di kursi. 2. Kesadaran Jernih 3. Perilaku dan aktifitas psikomotor hipoaktif 4. Pembicaraan Pembicaraan jelas dan koheren.

5. Sikap terhadap pemeriksa Kooperatif 6. Kontak psikis Ada, wajar, dan dapat dipertahankan. B. KEADAAN AFEKTIF, PERASAAN, EKSPRESI AFEKTIF SERTA EMPATI 1. Afek 2. Ekspresi afektif 3. Keserasian 4. Empati : hypothymia : Cemas : appropriate : tidak dapat dirabarasakan

C. FUNGSI KOGNITIF 1. Kesadaran 2. Orientasi - Waktu - Orang - Tempat - Situasi : baik : baik : baik : baik : jernih

Saat ditanya tadi datang ke poliklinik Jiwa dengan siapa, pasien menjawab dengan anak pasien dan sepupu pasien; dulu siapa teman dekatnya, pasien dapat menjawab; Saat ditanya tempat pasien sekarang berada di mana pasien menjawab di RS ULIN; Kabupaten apa, pasien menjawab Banjarmasin; provinsinya apa, pasien menjawab Kal-Sel. Saat ditanaya ini hari apa, pasien menjawab kamis, 2 hari kedepan hari apa, pasien menjawab sabtu; ini bulan apa, pasien menjawab juni; ini tahun berapa, pasien menjawab 2013. 3. Konsentrasi : tidak terganggu

Pasien diminta menyebutkan hasil 100 di kurang 3 sampai 5 kali pengurangan pasien bisa menjawab walaupun agak lambat. 4. Daya ingat - Segera - Jangka pendek : baik : baik

- Jangka panjang : baik Saat disuruh untuk menghapal 3 benda (pulpen, jam tangan, dan buku) lalu dialihkan perhatiannya, pasien dapat menyebutkan kembali ke 3 benda

tersebut dengan tepat dan cepat. Kemudian pasien di minta menceritakan pernikahannya dulu bagaimana, siapa walinya pasien dapat menjawab tanpa ragu dan pasien di tanya kemaren malam makan apa dengan siapa pasien menjawab dengan cepat dan tanpa ragu. 5. Intelegensi dan pengetahuan umum : sesuai dengan taraf pendidikan dan usia. 6. Pikiran abstrak : baik Pasien diminta untuk menyebutkan arti tangan panjang, pasien menjawab maling; buah tangan pasien menjawab hadiah. D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Halusinasi : Auditorik (-) dan visual (-) 2. Depersonalisasi/derealisasi : (-) E. PROSES PIKIR 1. Arus pikir - Produktivitas - Kontuinitas - Hendaya berbahasa : menjawab spontan saat ditanya : relevan : tidak ada

2. Isi pikir a. Preokupasi b. Waham 3. Bentuk pikir a. Autistik : tidak ada : tidak ada : Hipokondrik

F. PENGENDALIAN IMPULS Terkendali. G. DAYA NILAI 1. Daya nilai sosial 2. Uji daya nilai 3. Penilaian realitas H. TILIKAN Tilikan derajat 6 (Menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi mencapai perbaikan) I. TARAF DAPAT DIPERCAYA Dapat dipercaya. IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT A. STATUS INTERNUS a. Keadaan umum : baik b. Tanda vital : TD : 130/90 mmHg R : 20 x/menit c. Bentuk badan d. Kulit e. Kepala Rambut hitam, lurus, dan panjang : gemuk : sawo matang N : 72 x/menit T : 36,60C : tidak terganggu : tidak terganggu : tidak terganggu

Bentuk normal. Wajah simetris. Mata : palpebra tidak edema dan hiperemi, alis dan bulu mata tidak rontok, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, produksi air mata dalam batas normal. Pupil : diameter 3 mm/3 mm, isokor, refleks cahaya +/+ normal. Kornea : refleks kornea +/+ normal. Telinga minimal. : bentuk dalam batas normal, secret tidak ada, serumen

Hidung : bentuk normal, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada epistaksis, kotoran hidung minimal. Mulut : bentuk normal, mukosa bibir kering, gusi tidak berdarah dan tidak bengkak. Lidah : tidak kotor, tepi hiperemi, tremor halus. Pharing : tidak hiperemi. Tonsil : warna merah muda, tidak ada pembesaran.

f. Leher : vena jugularis : pulsasi tidak terlihat, tekanan tidak meningkat, tidak ada pembesaran KGB, tidak kaku kuduk, tidak ada massa dan tortikolis. g. Thoraks : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi h. Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi : tidak tampak pulsasi ataupun iktus : thrill tidak ada, apex teraba di ICS V LMK kiri : Batas kanan : ICS IV LPS kiri : bentuk simetris, tidak retraksi, tidak dispnoe, ritme pernafasan normal, frekuensi 20x/menit : fremitus vokal simetris : sonor : vesikuler, rhonki +/+, tidak ada wheezing

Batas kiri Batas atas Auskultasi i. Abdomen : Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi j. Ekstremitas : - Atas - Bawah

: ICS V LMK kiri : ICS II LPS kanan

: S1 dan S2 tunggal, murmur tidak ada : bentuk datar, simetris : bising usus normal : tidak ada massa dan nyeri : timpani, tidak ada tanda-tanda ascites : tidak ada edema dan sianosis , parese (-) : tidak ada edema dan sianosis , parese (-)

B. STATUS NEUROLOGIS Nervus I-XII Gejala rangsang meningeal Gejala TIK meningkat Refleks fisiologis Refleks patologis Anamnesa -Pasien bicara sendiri sejak 4 tahun lalu. -Terdapat halusinasi audiotorik dan halusinasi visual. -Pasien tidak pernah bergaul dengan lingkungan sekitar. -Pasien sering murung dan melamun, merasa tidak punya tujuan hidup. -Pasien sering tidak bisa tidur. -Pasien merasa tidak berguna dan menjadi beban keluarga. -Nafsu makan pasien menurun, dan muntah jika makan. -Berat badan pasien turun drastis dari 42 kg menjadi 31 kg dalam sebulan terakhir. : tidak ada kelainan : tidak ada : tidak ada : normal : tidak ada

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

- Perilaku dan aktifitas psikomotor - Pembicaraan : koheren - Afek a. Stabilitas b. Pengendalian c. Kesungguhan d. Empati e. Kedalaman f. Skala differensiasi g. Arus emosi - Keserasian - Konsentrasi - Daya ingat * segera * jangka pendek * jangka panjang - Intelegensi - Halusinasi - Arus pikir - Waham - Tilikan : depresi : stabil - Ekspresi afektif

: hipoaktif

: terkendali : sungguh-sungguh : dapat dirabarasakan : dalam : sempit : lambat : appropriate : tidak terganggu : tidak terganggu : tidak terganggu : tidak terganggu : sesuai tingkat pendidikan dan usia : auditorik : normal : tidak terganggu : derajat 1 : terganggu dalam hal persepsi

- Penilaian realita tentang diri sendiri

(halusinasi), isi pikir (waham), dan pengendalian diri . VI. EVALUASI MULTIAKSIAL a. Aksis I b. Aksis II c. Aksis III : F 41.2 : Ciri kepribadian paranoid : None

d. Aksis IV e. Aksis V

: Masalah timbuk karena melihat kedua anak pasien sakit : GAF SCALE 80 71 = gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social dan pekerjaan

VII. DAFTAR MASALAH 1. Organobiologik Normal 2. Psikologik 3. Sosial

VIII. PROGNOSIS a. Diagnosis penyakit b. Perjalanan penyakit c. Ciri kepribadian d. Stressor psikososial e. Usia saat menderita f. Pendidikan g. Ekonomi h. Organobiologik i. Riwayat Herediter j. Pengobatan psikiatrik k. Ketaatan berobat Kesimpulan : dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad bonam : dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad malam : bonam : bonam : dubia ad bonam : dubia ad malam : dubia ad malam

IX.

RENCANA TERAPI (terapi belum di tulis ka desmi tapi sudah unda tulis (silvek)) a. Psikofarmaka : Amitriptilin 3 x 25 mg Chlorpromazine 2 x 100 mg Trihexyphenidil 3 x 2 mg/hari a. Psikoterapi b. Rehabilitasi : Support terhadap penderita dan terapi keluarga (Familial terapi), : sesuai minat dan bakat penderita disesuaikan dengan test psikologi penderita. c. Pemeriksaan penunjang : lab darah lengkap, foto thoraks, pemeriksaan dahak SPS (sewaktu pagi sewaktu)

X.

DISKUSI Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan status mentalis menunjukkan bahwa pasien pada kasus ini menderita F 41.2 gangguan campuran anxietas dan depresi. Menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk gangguan campuran anxietas dan depresi adalah1 : Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri, Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus-menerus, di samping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas fobik.

Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan.

Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori F 43.2 gangguan penyesuaian.

Kecemasan atau anxietas adalah keadaan individu mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem saraf autonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik. Kecemasan merupakan unsur kejiwaan yang menggambarkan perasaan, keadaan emosional yang dimiliki seseorang pada saat menghadapi kenyataan atau kejadian dalam hidupnya.2 Gejala-gejala anxietas antara lain, adanya perasaan cemas atau khawatir yang tidak realistik terhadap 2 atau lebih hal yang dipersepsi sebagai ancaman, perasaan ini menyebabkan individu tidak mampu istirahat dengan tenang (inability to relax). Terdapatnya paling sedikit 6 dari 18 gejala berikut : kedutan otot/ rasa gemetar , otot tegang/kaku/pegal linu, tidak bisa diam, mudah menjadi lelah, nafas pendek/terasa berat, jantung berdebar-debar, telapak tangan basah/dingin, mulut kering, kepala pusing/rasa melayang, mual, mencret, perut tak enak, muka panas/ badan menggigil, buang air kecil lebih sering, sukar menelan/rasa tersumbat, perasaan jadi peka/mudah ngilu, mudah terkejut/kaget, sulit konsentrasi pikiran, sukar tidur, mudah tersinggung. Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari bermanifestasi dalam gejala : penurunan kemampuan bekerja, hubungan sosial, dan melakukan kegiatan rutin.

Depresif merupakan suatu gangguan perasaan/afektif/mood ini adalah suatu kelainan fundamental berupa perubahan suasana perasaan mood atau afek, biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan afek ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Gejala utama pada depresif yaitu adanya afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya antara lain seperti konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Pada depresif diperlukan masa sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Obat acuan yang digunakan sebagai obat anti depresi adalah amitriptilin. Amitriptilin termasuk obat anti-depresan golongan trisiklik. Dosis amitriptilin yang dianjurkan adalah 75-150 mg/hari. Mekanisme kerja obat anti-depresi secara umum adalah dengan menghambat re-uptake aminergic neurotransmitter dan menghambat penghancurannya oleh enzim monoamine oksidase, sehingga akan terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Efek samping obat anti-depresi dapat berupa sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun), mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi. Pada dasarnya semua obat anti-depresi mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaannya terutama pada efek sekunder (efek samping).

Amitriptilin mempunyai efek samping sedasi yang cukup tinggi (+++) dibanding obat anti-depresi lainnya sehingga obat ini cocok untuk digunakan pada pasien ini karena pasiennya mengeluh sulit tidur.3 Obat anti-anxietas yang digunakan pada pasien ini adalah golongan

benzodiazepine (clobazam), yang mana benzodiazepine merupakan drug of choice untuk pengobatan anxietas. Benzodiazepine mempunyai rasio terpeutik lebih tinggi dan lebih kurang menimbulkan adiksi. Efek samping obat anti-anxietas adalah sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan kurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif melemah), dan relaksasi otot (rasa lemas, rasa cepat lelah). Dosis anjuran untuk clobazam sendiri adalah 2-3 x 10 mg/hari. Clobazam sangat minimal dalam menimbulkan gejala putus obat.3

Anda mungkin juga menyukai