Anda di halaman 1dari 13

Mekanisme Kerja Ginjal dan Gangguan Sistem Kerja Ginjal Ivander Benedict H

10-2011-287 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 Telephone : (021) 5694-2061 Fax : (021) 563-1731 Email : Ivander.benedict@yahoo.co.id

Pendahuluan
Ginjal merupakan suatu organ yang berfungsi untuk mengatur kadar cairan dalam tubuh. Ginjal melakukan 3 proses untuk berjalannya sistem kemih tersebut. Menurut cara kerjanya dan mekanisme kerja ginjal, ada yang dilakukan secara pasif dan aktif (memerlukan energi) dan pengaturannya ada yang diatur oleh hormon yang disekresi karena mendeteksi suatu kebutuhan oleh tubuh. Di dalam makalah yang saya buat ini, dipaparkan struktur makroskopik dan struktur mikroskopik ginjal, metabolisme air, hormon yang disekresikan, mekanisme kerja ginjal, dan pengaturan asam basa yang dilakukan oleh ginjal untuk mengatur pH urin dan darah. Semoga bermanfaat.

Struktur Makro dan Mikroskopis Ginjal


Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperi toneal antara vertebra lumbal I dan IV; seluruh traktus urinarius (ginjal, ureter, vesica urinaria) terletak retroperitoneal; pada neonatus kadang dapat diraba; pada janin permukaannya berlobulasi yang kemudian menjadi rata pada masa bayi.1 Ginjal terdiri dari korteks dan medula; tiap ginjal terdiri atas 8-12 lobus yang berbentuk piramid; dasar piramid terletak di korteks dan puncaknya yang disebut papila bermuara di kaliks minor. Pada daerah korteks terdapat glomeru lus, tubulus kontortus proksimal dan distal. Pada daerah medula penuh dengan percabangan pembuluh darah arteri dan vena renalis, ansa Henle dan duktus koligens.

Satuan kerja terkecil dari ginjal disebut nefron; tiap ginjal mempunyai 1 juta nefron. Nefron terdiri atas glomerulus, kapsula Bowman, tubulus kontortus prok simal, ansa Henle, tubulus kontortus distal. Ujung dari nefron yaitu tubulus kontortus distal bermuara di duktus koligens. Nefron yang terletak di daerah korteks disebut nefron kortikal; nefron yang ter-letak di perbatasan dengan medula disebut nefron juksta medular. Nefron juksta medular mempunyai ansa Henle yang lebih panjang yang berguna terutama pada ekskresi air dan garam.2 Sebagian tubulus distal akan bersinggungan dengan arteriol aferen dan eferen pada tempat masuknya kapsula Bowman; pada tempat ini sel tubulus distal menjadi lebih rapat dan intinya lebih tegas disebut makula densa; dinding arteriol afaren yang bersinggungan mengalami perubahan dan mengandung granula yang disebut renin; daerah ini merupakan segitiga deng-an batas-batas pembuluh aferen, eferen dan makula densa, disebut aparat juksta glomerular.

Terdapat sepasang ginjal, kanan-kiri columna vertebralis setinggi VTh 12-VL 3. Tiap ginjal terletak di dalam massa lemak perirenal, retroperitoneal di dinding posterior abdomen, pada musculus psoas. Tiap ginjal mempunyai permukaan (facies) anterior dan posterior; tepi (margo) medial dan lateral, tepi lateral konveks, tepi medial konkaf, di tengah-tengah tepi medial terdapat hilum renale tempat keluar masuknya arteri/vena renalis dan ureter; kutup (polus) superior dan inferior. Ginjal dewasa segar berwarna coklat kemerahan, panjang 10 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm.

Penampang melintang ginjal secara makroskopis terdiri :

Medulla : terdiri atas 6-10 piramid jaringan, masing-masing dengan basis menghadap kapsula dan puncak (apeks) yang disebut papilla, mengarah ke dalam hilum renale. Di dalam medulla terdapat anksa Henle dan tubu-lus kolektivus.

Korteks : terletak di antara dua pyramid, memisahkan basis pyramid deng-an kapsula luar. Dalam korteks terdapat 1 juta glomerulus, tubulus proksimal dan tubulus distal.

Secara mikroskopis, nefron merupakan unit fungsional ginjal, yang dibagi menjadi dua bagian : korpuskulum renale (terdiri dari glomerulus dan Kapsula Bowman) dan tubulus renalis (terdiri dari tubulus proksimal, anksa Henle, tubulus distal, tubulus kolektivus). Apparatus jukstaglomerularis adalah bangunan kecil pada kutub korpuskulum renale; di daerah ini tubulus distal berjalan di sudut antara arteriola aferen dan eferen, menempel pada kedua arteriola tersebut; ini merupakan struktur tempat terjadinya pengendalian umpan balik tingkat penyempitan (konstriksi) kedua arteriola.2

Vaskulatur ginjal, dari arteri renalis cabang aorta abdominalis setinggi VL1-VL2 Secara tipikal tiap arteri renalis bercabang-cabang di dekat hilum renale menja-di 5 arteri segmentalis. Arteri segmentalis bercabang-cabang menjadi arteri lobaris, yang selanjutnya bercabang-cabang menjadi arteri interlobaris. Arteri interlobaris berjalan diantara lobus-lobus ginjal kearah permukaan ginjal yang kemudian melengkung membentuk busur-busur yang disebut a. arkuata. Arteri arkuata bercabang secara radier kearah luar permukaan yang memasok darah untuk nefron. System venosa ginjal menunjukkan pola yang sama. Ginjal dilindungi oleh beberapa mekanisme terhadap kerusakan akibat anoksia: reflek vaskuler, vaskuler shunting, pelepasan hormon-hormon oleh ginjal.

System koleksi urin; setelah urin dibentuk oleh nefron, urin dikumpulkan dalam pelvis renalis. Pelvis renalis bercabang-cabang menjadi 4-8 ruang besar berbentuk corong disebut kaliks mayor yang masing-masing bercabang menjadi dua / lebih kaliks minor. Ke dalam kaliks minor ini menonjol papilla renalis yaitu bagian fungsional ginjal. Melalui papilla ini nefron menuangkan urin ke dalam kaliks dengan perantaraan tubulus kolektivus. Dari kaliks minor urin masuk ke dalam pelvis, ureter dan berakhir di vesika urinaria.3

Inervasi ginjal tampaknya berkaitan erat dengan dinding pembuluh darah, yakni berefek vasokontriksi / vasodilatasi. Serabut saraf simpatis dan parasimpatis

pascaganglioner masuk hilum renale dari pleksus seliakus dan mengikuti pembuluh darah masuk ke ginjal.4

Mekanisme Kerja Ginjal


Darah yang masuk ke dalam ginjal melalui arteri renalis akan masuk ke ginjal dan akhirnya ke arteriol afferent. Tekanan darah yang masuk ke dalam arteriol ini hanya 40% dari tekanan darah, karena efek dari autoregulasi (45mmHg). Darah akan mengalami 3 proses penyaringan dan filtratnya akan menjadi urin. 3 proses tersebut adalah : Filtrasi Darah yang masuk ke dalam glomerulus akan difiltrasi, semua zat akan difiltrasi kecuali protein plasma, karena membrane glomerulus memiliki glikoprotein yang memiliki muatan negative yang akan menolak protein untuk difiltrasi. Filtrat glomerulus memiliki komposisi yang hampir sama dengan komposisi cairan plasma. Singkatnya, filtrate glomerulus sama seperti plasma darah kecuali tidak mengandung protein dalam jumlah yang berarti. Selain protein, zat-zat tersebut lolos dalam membrane filtrasi.5 Glomerulus filtrasi rate (GFR) adalah kecepatan filtrasi glomerulus per satuan waktu. Besarnya tekanan GFR dipengaruhi oleh 3 macam tekanan yaitu: a. Tekanan kapiler pada glomerulus 45 mmHg b. Tekanan pada kapsula bowman 10 mmHg c. Tekanan onkotik koloid plasma 20 mmHg Sehingga resultan tekanan darah yaitu 15 mmHg mengarah ke tubulus proksimal. Jadi tekanan yang mendorong filtrasi glomerulus dapat dikatakan sebagai, tekanan filtrasi = tekanan hidrostatik kapiler (tekanan hidrostatik kapsula + tekanan onkotik protein plasma). Apabila tekanan darah menjadi besar, efek autoregulasi akan membuat arteriol afferent berkonstriksi, sehingga darah yang masuk ke dalam kapiler dapat dibendung. Sebaliknya, apabila tekanan darah rendah, arteriol efferent akan berkonstriksi, sehingga darah yang keluar kapiler dapat ditahan sehingga lebih banyak darah yang difiltrasi.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju filtrasi glomerulus sebagai berikut :5 a. Tekanan glomerulus: semakin tinggi tekanan glomerulus semakin tinggi laju filtrasi, semakin tinggi tekanan osmotik koloid plasmasemakin menurun laju filtrasi, dan semakin tinggi tekanan capsula bowman semakin menurun laju filtrasi. b. Aliran dara ginjal: semakin cepat aliran daran ke glomerulussemakin meningkat laju filtrasi. c. Perubahan arteriol aferen: apabial terjadi vasokontriksi arteriol aferen akan menyebabakan aliran darah ke glomerulus menurun. Keadaan ini akan menyebabakan laju filtrasi glomerulus menurun begitupun sebaliknya.

d. Perubahan arteriol efferent: pada kedaan vasokontriksi arteriol eferen akan terjadi peningkatan laju filtrasi glomerulus begitupun sebaliknya. e. Pengaruh perangsangan simpatis, rangsangan simpatis ringan dan sedang akan menyebabkan vasokontriksi arteriol aferen sehingga menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus. f. Perubahan tekanan arteri, peningkatan tekanan arteri melalui autoregulasi akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah arteriol aferen sehinnga menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus. g. penyumbatan saluran kemih yang menyebabkan tekanan intratubulus meningkat. Rearbsorbsi Rearbsorbsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, ansa henle dan tubulus kontortus distal. Semua asam amino, glukosa, dan elektrolit umumnya diserap 99%-100%. Namun urea, asam urat dan kreatinin umumnya disekresi. Mekanisme terjadinya reabsorpsi pada tubulus melalui dua cara yaitu :5 a. Transport aktif Zat-zat yang mengalami transfort aktif pada tubulus proksimal yaitu ion Na+, K+, PO4-, NO3-, glukosa dan asam amino. Terjadinya difusi ion-ion khususnya ion Na+, melalui sel tubulus ke dalam pembuluh kapiler peritubuler disebabkan perbedaan potensial listrik di dalam epitel tubulus (-70mvolt) dan di luar sel (-3m volt). Perbedaan electrochemical gradient ini membantu terjadinya proses difusi. Selain itu perbedaan konsentrasi ion Na+ di dalam dan di luar sel tubulus membantu meningkatkan proses difusi tersebut. Meningkatnya difusi natrium disebabkan permeabilitas sel tubuler terhadap ion natrium relative tinggi. Keadaan ini dimungkinkan karena terdapat banyak mikrovilli yang memperluas permukaan tubulus. Proses ini memerlukan energi dan dapat berlangsung terus-menerus. b. Transport pasif Terjadinya transport pasif ditentukan oleh jumlah konsentrasi air yang ada pada lumen tubulus, permeabilitas membran tubulus terhadap zat yang terlarut dalam cairan filtrate dan perbedaan muatan listrik pada dinding sel tubulus. Zat yang mengalami transport pasif, misalnya ureum, sedangkan air keluar dari lumen tubulus melalui proses osmosis. Terdapat 2 jenis penyerapan, yaitu :5 Rearbsorbsi obligat

Penyerapan yang tidak dipengaruhi oleh hormon dan kebutuhan tubuh. Penyerapan ini terjadi di TKP, 65% air diserap, 100% asam amino dan glukosa diserap di sini juga. Namun penyerapan ini bergantung pada GFR. Na+ merupakan transportasi bagi penyerapan air, Cl- dan glukosa, sehingga Na+ ini bertindak sebagai truk pengangkut ion lain. Rearbsorbsi fakultatif Penyerapan ini bergantung pada kebutuhan tubuh dan diatur oleh hormon ADH dan reseptor macula densa yang mendeteksi Na+ dalam filtrate. Hormon ADH bekerja apabila osmolaritas cairan tubuh tinggi, sehingga kadar ADH akan naik dan akan menyebabkan naiknya tekanan darah, rasa haus dan meningkatnya rearbsorbsi Na+ di tubuli distal. Apabila kadar Na dalam tubulus kontortus distal rendah, maka macula densa akan mendeteksi hal tersebut dan sel juskstaglomerularis akan mengeluarkan enzim renin yang akan dibawa ke hati. Hati akan memproduksi angiotensinogen yang akan berubah menjadi angiotensin I. angiotensin I akan diubah menjadi angiotensin II oleh ACE yang diproduksi oleh paru-paru sehingga tekanan darah akan meningkat dan sekresi hormone aldosteron yang menyebabkan penyerapan Na+ dalam tubuli distal akan meningkat sehingga cairan tubuh dapat dipertahankan. Di dalam ansa henle, terjadi mekanisme yang dikenal dalam proses reabsorbsi di kenal dengan sistem counter current. System counter current merupakan suatu system yang terdiri dari 2 pembuluh yang sejajar dan berdekatan dengan arah aliran yang berlawanan. Atau dikenal sebagai mekanisme Pemekatan dan Pengentalan Urin (sistem

Countercurrent). Countercurrent multiplier system terdapat di lengkung Henle, suatu bagian nefron yang panjang dan melengkung dan terletak di antara tubulus proximal dan distalis. Sistem multiplikasi tersebut memiliki lima langkah dasar dan bergantung pada transport aktif natrium (dan Klorida) keluar pars ascenden lengkung. Sistem tersebut juga bergantung pada impermeabilitas relatif bagian lengkung ini terhadap air yang menjaga agar air tidak mengikuti natrium keluar. Akhirnya sistem ini mengandalkan permeabilitas duktus-duktus pengumpul terhadap air sehingga menjadi isotonik. Langkah-langkah pada Countercurrent Multiplier System :5 1. Sewaktu natrium ditransportasikan keluar pars ascendens, cairan interstisium yang melingkupi lengkung henle menjadi pekat. 2. Air tidak dapat mengikuti natrium keluar pars ascendens. Filtrat yang tersisa secara progresif menjadi encer.

3. Pars ascendens lengkung bersifat permeable terhadap air. Air meninggalkan bagian ini dan mengalir mengikuti gradien konsentrasi ke dalam ruang intersisium. Hal ini menyebabkan pemekatan cairan pars descendens. Sewaktu mengalir ke pars ascendens, cairan mengalami pengenceran progresif karena natrium dipompa keluar. 4. Hasil akhir ialah pemekatan cairan interstisium di sekitar lengkung henle. Konsentrasi tertinggi terdapat di daerah yang mengelilingi bagian bawah lengkung dan menjadi semakin encer mengikuti pars ascendens. 5. Di bagian puncak pars ascendens lengkung, cairan tubulus bersifat isotonik atau bahkan bersifat hipotonik. Di bagi menjadi dua jenis :5 1. counter current multiplier : terjadi di ansa henle, air akan keluar dari ansa henle,sehingga terjadi pemekatan urin 2. counter current exchanger : terjadi di vasa recta, dimana sangat membrannya permeabel terhadap bahan tertentu dan air. Sekresi Merupakan proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah menuju cairan tubular untuk kemudian di keluarkan dalam urin. Sekresi tubulus melalui proses : sekresi aktif dan sekresi pasif. Sekresi aktif merupakan kebalikan dari transpor aktif. Dalam proses ini terjadi sekresi dari kapiler peritubuler ke lumen tubulus. Sedangkan sekresi pasif melalui proses difusi. Ion NH3- yang disintesa dalam sel tubulus selanjutnya masuk ke dalam lumen tubulus melalui proses difusi. Dengan masuknya ion NH3- ke dalam lumen tubulus akan membantu mengatur tingkat keasaman cairan tubulus. Kemampuan reabsorpsi dan sekresi zat-zat dalam berbagai segmen tubulus berbeda-beda. Adapun zat yang disekresi : 1. Zat seperti ion hidrogen, kalium dan ammonium, produk hasil metabolik, kreatinin, serta obat-obat tertentu secara aktif di sekresi dalam tubulus. 2. Sekresi ion hidrogen dan ammonium membantu dalam pengaturan pH plasma dan keseimbangan asam basa plasma. Pengeluaran Urin Urin yang di hasilkan dari proses- proses di atas akan di keluarkan melalui ureter yang merupakan perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari ginjal serta memiliki aktivitas peristaltic, dimana gelombang peristaltisnya dapat mengalirkan urin,selanjutnya urin di alirkan ke kandung kemih sebagai container penyimpan urin yang letaknya berbeda antara laki laki dan perempuan serta mempunyai otot detrusor yang berkotraksi ketika

ingin berkemih. Beralih dari kandung kemih urin akan masuk ke dalam uretra dimana urin akan di eskresikan lewat orifisium uretra eksterna. Fungsi-fungsi spesifik ginjal yang spesifik berikut sebagian besar membantu mempertahankan stabilitas lingkungan cairan internal. Yaitu: 1. Mempertahankan keseimbangan H2O di tubuh. 2. Mempertahankan osmolarits cairan tubuh. 3. Mengatur konsetrasi sebagian ion seperti Natrium,kalium,klorida,bikarbonat,hidrogen,kalsium,fosfat,sulfat,dam magnesium. 4. Mempertahankan volume plasma yang tepat. 5. Mempertahankan keseimbangan asam basa. 6. Mengeluarkan produk-produk akhir metabolisme tubuh. 7. Mengeluarkan senyawa asing misalnya obat. 8. Menghasilkan eritropoietin untuk memproduksi sel darah merah 9. Menghasilkan renin,hormon yang memicu peristiwa yang penting dalam penghematan ion. 10. Mengubah vitamin d ke bentuk aktifnya.

Metabolisme air dan Keseimbangan Asam dan Basa.


Air merupakan pembentuk sekitar 60% dari tubuh. Jumlah terdistribusi sekitar 40% air sel, 15% air intersisium dan 5%air plasma. Air perlu dipertahankan karena dalam kehidupan sehari-hari, air keluar melalui tubuh melalui tinja,urin, nafas, bahkan kulit.5 Manusia mendapatkan air dengan cara sebagian besar dari minum dan sebagian kecil dari makanan. Seluruh makanan yang dimakan mengandung air walaupun jumlahnya tidak banyak. Jika terjadi tidak keseimbangan cairan, pengaturan metabolisme air terutama dipengaruhi oleh Hormon ADH dari kelenjar hipofise posterior yang berfungsi meningkatkan permeabilitas air dan urea dari tubulus distal dan tubulus koligens.Urea sendiri bersifat menarik air sehingga terjadi penarikan air yang ganda. Oleh sebab ADH berfungsi bagaimana kebutuhan air. jika osmolar tubuh tinggi maka ADH akan digiatkan sedangkan jika osmolar tubuh rendah maka ADH akan di hambat. Osmolar tubuh sendiri merangsang rasa haus. Defisit air sampai 1-2% maka menimbulkan rasa haus yang hebat. Pada keadaan klinis, defisit air bisa mencapai 5% yang menyebabkan turgor kulit berkurang. 6

Cairan yang ada di dalam tubuh kita itu sendiri berperan didalam pengaturan metabolisme air. Apabila cairan tubuh tidak seimbang maka dapat memberikan dampak yang buruk bagi tubuh. Untuk itu penting bagi kita menjaga cairan tubuh tetap seimbang.

Metabolisme air dan Keseimbangan Asam dan Basa.


Air merupakan pembentuk sekitar 60% dari tubuh. Jumlah terdistribusi sekitar 40% air sel, 15% air intersisium dan 5%air plasma. Air perlu dipertahankan karena dalam kehidupan sehari-hari, air keluar melalui tubuh melalui tinja,urin, nafas, bahkan kulit.5 Manusia mendapatkan air dengan cara sebagian besar dari minum dan sebagian kecil dari makanan. Seluruh makanan yang dimakan mengandung air walaupun jumlahnya tidak banyak. Jika terjadi tidak keseimbangan cairan, pengaturan metabolisme air terutama dipengaruhi oleh Hormon ADH dari kelenjar hipofise posterior yang berfungsi meningkatkan permeabilitas air dan urea dari tubulus distal dan tubulus koligens.Urea sendiri bersifat menarik air sehingga terjadi penarikan air yang ganda. Oleh sebab ADH berfungsi bagaimana kebutuhan air. jika osmolar tubuh tinggi maka ADH akan digiatkan sedangkan jika osmolar tubuh rendah maka ADH akan di hambat. Osmolar tubuh sendiri merangsang rasa haus. Defisit air sampai 1-2% maka menimbulkan rasa haus yang hebat. Pada keadaan klinis, defisit air bisa mencapai 5% yang menyebabkan turgor kulit berkurang. 6 Cairan yang ada di dalam tubuh kita itu sendiri berperan didalam pengaturan metabolisme air. Apabila cairan tubuh tidak seimbang maka dapat memberikan dampak yang buruk bagi tubuh. Untuk itu penting bagi kita menjaga cairan tubuh tetap seimbang.

Water intake dan water loss


Asupan rata-rata air adalah sekitar 3 liter perhari dari semua sumber, dan jumlah ini juga setara dengan jumlah yang keluar.6 Dalam tubuh yang sehat, penyesuaian terhadap keseimbangan air terjadi melalui peningkatan asupan air dalam mekanisme haus atau melalui penurunan keluaran air oleh ginjal. Sumber asupan air (Water intake):7 (1) Makanan yang ditelan mengandung sekitar 700ml air. Daging mengandung 50 sampai 75 air dan beberapa jenis buah dan sayuran mengandung 95% air.

(2) Air atau minuman lain yang dikonsumsi mencapai sekitar 1600ml. (3) Air metabolik yang dihasilkan melalui katabolisme mencapai sekitar 300ml. Katabolisme 1g lemak menghasilkan 1,07 ml air; 1g karbohidrat, 0,55 ml air, dan 1g protein 0,41 ml air. Pengeluaran air (Water loss) berlangsung terutama melalui urine, saluran cerna (tinja), dan pengeluaran yang tidak dirasakan melalui kulit dan paru.6

Dehidrasi8
Dehidrasi adalah kehilangan cairan dari jaringan tubuh yang berlebihan. Dehidrasi dapat digolongkan berdasarkan derajat atau jenisnya.8 1. Derajat. Dehidrasi digolongkan menjadi ringan, sedang, atau berat. >Dehidrasi ringan dicirikan dengan kehilangan 5% dari berat badan sebelum sakit. >Dehidrasi sedang dicirikan dengan kehilangan 5%-10% dari berat sebelum sakit. >Dehidrasi berat dicirikan dengan kehilangan lebih dari 10% berat badan sebelum sakit. 2. Tipe. Terdapat tiga tipe dehidrasi-isotonik, hipertonik, dan hipotonik. Dehidrasi isotonis Dicirikan dengan defisit air dan elektrolit yang terjadi dalam proporsi seimbang. Isotonis merupakan jenis dehidrasi yang paling sering terjadi (sekitar 70% kasus dehidrasi dihubungkan dengan diare bayi). Kehilangan cairan terutama melibatkan komponen ekstrasel dan volume darah sirkulasi, menyebabkan anak rentan terhadap syok hipovolemik. Kadar natrium (Na+) serum menurun atau tetap dalam batas normal; kadar klorida (Cl-) menurun; dan kadar kalium (K+) tetap normal atau menurun. Dengan demikian, tidak ada perbedaan tekanan osmotik antara cairan intraselular dengan ekstraselular, dan kehilangan cairan terbatas pada cairan ekstraselular. Dehidrasi hipertonik dicirikan dengan kehilangan cairan melebihi kehilangan elektrolit. Hal ini terjadi pada sekitar 20% kasus dehidrasi akibat diare pada bayi.

Kehilangan air yang berlebihan dibandingkan elektrolit, mengakibatkan perpindahan cairan dari kompartemen intrasel ke ekstrasel, yang dapat menyebabkan gangguan neurologis seperti kejang.

Kadar natrium (Na+) serum meningkat; kadar klorida (Cl-) meningkat; dan kadar kalium (K+) bervariasi. Cairan yang hilang hipotonik, biasanya karena kehilangan cairan insensibel yang tinggi (demam tinggi atau lingkungan yang panas dan kering; poliuria pada diabetes insipidius atau diare rendah natrium yang kadang-kadang diperberat dengan pemberian diet terlalu encer atau kandungan protein yang tinggi)

Dehidrasi hipotonik dicirikan dengan kehilangan sejumlah elektrolit melebihi kehilangan cairan. Pada bayi, sebanyak 10% kasus dehidrasi yang terjadi akibat diare berat. Pada dehidrasi hipotonik, cairan berpindah dari kompartemen ekstrasel ke kompartemen intrasel sebagai usaha mempertahankan keseimbangan osmotik, yang selanjutnya dapat meningkatkan kebocoran CES dan secara umum mengakibatkan syok hipovolemik. Kadar natrium (Na+) serum menurun; kadar klorida (Cl-) menurun; dan kadar kalium (K+) bervariasi. Peningkatan volume intraseluler akan menyebabkan peningkatan volume dalam otak dan kadang-kadang menimbulkan kejang. Tanda-tanda dehidrasi bergantung pada derajat dehidrasi antara lain haus, keletihan, penurunan berat badan, membran mukosa kering, penurunan atau hilangnya produksi air mata. Turgor kulit tidak elastis dan waktu pengisian kembali (capillary refill) kapiler meningkat, mata cekung, depresi fontanel, penurunan haluaran urine, takikardia, takipnea, penurunan tekanan darah, rasa haus berlebihan.9 Kemungkinan penyebab dehidrasi antara lain: muntah dan diare yang berlebihan, asupan cairan yang tidak cukup, ketoasidosis diabetik, luka bakar berat, demam tinggi berkepanjangan, dan hiperventilasi.9 Ginjal berperanan dalam regulasi asam basa cairan tubuh dengan mengontrol [HCO3-] pH normal urine dalam keadaan kompensisi terhadap asidosis dan alkalosis. Dalam keadaan normal ion-ion H+ di sekresi ke dalam fitrat dari sel-sel epitel dari duktus

pengumpul dan tubulus distal dan proksimal. Dan ini merupakan hasil dari CO2 yang diproduksi secara metabolis dan H2O yang membentuk H2CO3, yang kemudian mengalami dososiasi menjadi HCO3- dan H+. Sekitar 85% dari sekresi ion H+ ini dan pemulihan dari HCO3- terjadi di tubulus proksimal dan di mana H+ disekresikan sebagai ganti NA+ dari filtrat. Oleh karena itu Na+ di reabsopsi dan H+ dieliminasi untuk mencegah akumilasi asam. H+ yang disekresi membentuk H2CO3 di daam cairan tubular, kemudian mengalami desosiasi menjadi CO2 dan H2O. CO2 kemudian berdifusi kembali kedalam darah yang akhirnya dapat dihembuskan keluar ketika sampai di paru-paru. Sementara itu, HCO3 terbentuk didalam sel dan Na+ direabsorpsi dari filtrat dan dikembalikan kedalam darah guna mempertahankan rasio HCO3 dan O2 yang tetap seimbang.10,11

Kesimpulan
Ginjal merupakan suatu organ yang berfungsi untuk mengatur kadar cairan dalam tubuh. Mekanisme kerjanya adalah filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi. Ketiganya dipertahankan melalui sistem autoregulasi guna menjalankan fungsi homeostasis.

Daftar Pustaka
1. Bullock N, Doble A, Turner W, Cuckow P. Urologi: An Illustrated Colour Text. Edinburgh: Elsevier; 2008. 2. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of Anatomy and Physiology. 12 th ed. Hoboken: John Wiley & Sons; 2009. 3. Erochenko VP. Atlas Histologi di Fiore Dengan Korelasi Fungsional. 9th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003. 4. OCallaghan CA. The Renal System at a Glance. 3rd ed. Hoboken: WileyBlackwell; 2009. 5. Ganong, William F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 22nd Ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008. 6. Sherwood L. Human physiology: From Cells to Systems. 7th ed. Belmont: Yolanda Cossio; 2010. 7. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.h.333-4. 8. Uliyah M, Hidayat AAA. Keterampilan dasar praktik klinik untuk kebidann. Edisi ke-2. Jakarta: Salemba Medika; 2008.h.49-54.

9. Muscari ME. Panduan belajar: keperawatan pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2005.h.110-1. 10. Kalbe Medical. Sekilas tentang ginjal. Diunduh dari

http://www.sahabatginjal.com/ ,23 september 2012. 11. Guyton, AC, Hall JE.Buku ajar fisiologi kedokteran Edisi 11. Jakarta; EGC. 2007.