Anda di halaman 1dari 2

PEJALAN JAUH

Langit biru menyeret awan dengan angin yang terikat, bergerak menuju ke timur. Sementara sinar mentari pagi pergi ke arah yang berlawanan. Udara sejuk mengalir di kota ini, dedaunan hijau pun menyambut kicauan mesin-mesin kendaraan bermotor. Motor, mobil, bus kota semua bergegas seolah dikejar waktu. Roda sepeda berputar pelan, becak dikayuh perlahan. Di pinggir jalan, banyak orang berjalan kaki, muda, setengah baya dan tua. Berbelok ke utara, di sana kujumpai sebuah pasar, Pasar Demangan namanya. Pasar itu ramai, jalanan yang lebar menjadi sempit karena banyak penjual dan pembeli yang berlalu lalang. Memasuki utara pasar, tanda batas antara kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman agak malumalu terlihat. Ah, aku sudah masuk wilayah Sleman. Berarti aku sudah dekat dengan kampus, ucapku dalam hati. Kulangkahkan kakiku dengan tegap dan penuh semangat. Aku berjalan ke utara. Hari itu masih sangat pagi. *** Ternyata Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memang tidaklah jauh dari pasar tersebut. Aku hanya perlu berjalan ke utara dan berbelok ke barat sedikit. Kira-kira hanya butuh waktu sepuluh menit. Saat itulah aku melihat dari jalan Colombo, pintu gerbang depan UNY. Dua pagar besar berwarna putih terbuka, seakan menyambut diriku sebagai mahasiswa baru kampus ini. Jalan bagian dalam sudah teraspal, mulus. Lalu di tengah, di antara dua jalan aspal, berdiri plang besar yang bertuliskan Pendidikan Investasi Peradaban. Aku alihkan lagi pandanganku, di sana ada menara yang tinggi sekali, di bawahnya ada air mancur yang indah. Airnya berkilau karena terkena cahaya matahari. Permisi pak, kalau fakultas ilmu pendidikan (FIP) itu di mana ya? tanyaku pada satpam yang posnya di dekat gerbang UNY. Oh FIP ya? Mbaknya terus lurus aja ke utara, menuju ke arah taman Pancasila. Nah, nanti pintu masuk ke FIP ada di sebelah timurnya. Iya pak, terima kasih banyak. *** Hari ini aku ingin menyelesaikan segala syarat dan administrasi untuk kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) dan tutorial pendidikan agama Islam (PAI). Begitu masuk ke fakultas, banyak kakak angkatan yang murah senyum. Karena merasa sungkan, akhirnya aku pun juga ikut tersenyum. Sungguh lucu, wajahku yang jarang tersenyum menjadi murah senyum. Mari dik, jurusan apa? Saya bimbingan konseling (BK) mas.

Oh, stan BK ada di sebelah sana? Adik sudah ke stan badan eksekutif mahasiswa (BEM) FIP? Kalau belum, ke stan BEM dulu, nanti langsung ke stan BK ucap mas yang ramah itu. Ma situ tampan, bersih dan rapi. Rambutnya belah samping, raut wajahnya kencang, dan senyumnya sungguh indah. Ah, aku mungkin telah terpesona olehnya. Setelah urusan administrasi ospek di fakultas selesai, aku menuju masjid Muhajidin UNY untuk mengurus tutorial PAI. Masjid Mujahidin itu megah sekali, sangat luas, bersih dan nyaman. Mungkin jika dibandingkan bisa saja mirip dengan masjid Istiqlal Jakarta yang sering aku lihat di televisi. Aku tarik nafas perlahan, lalu kuhembuskan. Aku sangat grogi, karena kudengar di masjid ini juga akan diuji kemampuan membaca Al-Quran, sementara aku masih belum lancar membaca. Selamat pagi Mas ucapku. Assalammualaikum jawabnya. Waalaikummussalam, Mas kalau mau mendaftar tutorial PAI bagaimana ya? Di sebelah mana? Oh, silahkan ke sebelah sana, di tempat mbak-mbak itu ya tunjuknya. Mas Mujahidin ini berbeda dengan mas yang kulihat di fakultas tadi. Dia punya jenggot yang lebat, bajunya gamis, dan celananya kain. Namun, dia baik. Lalu aku langsung menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh mas tadi. Permisi mbak, saya mau mendaftar tutorial PAI. Oh silahkan duduk. Adik fakultas apa? Saya FIP mbak. Oh FIP. Udah bisa baca Al-Quran? Coba baca dulu ya, ini Al-Qurannya. Aku grogi, agak kikuk juga. Namun aku beranikan diri membaca, walaupun aku tahu banyak bacaanku yang salah. Namun tak mengapa, mbak yang ada di depanku ini terlihat baik. Dia justru tersenyum mendengar banyak bacaanku yang salah. Dan aku terus melanjutkan membaca dengan bimbingan mbak itu. *** Akhirnya urusanku di kampus ini sudah selesai. Tak terasa waktu sudah sore hari. Cahaya jingga menyinariku. Langit senja terlihat kembali menyeret awan dengan angin terikat. Menuju ke arah barat. Aku pun juga turut mengikut langkah langit menuntunku. Menuju ke barat hingga pertigaan pasar, lalu aku berbelok ke selatan. Melambaikan tangan, dan berpisah pada langit senja. Aku akan merindukan kalian. Langit, kota ini dan kampus itu.