Anda di halaman 1dari 16

Pemeriksaan Pendengaran

Di susun oleh : Yunita Cahyadika Pembimbing : dr. Asad, Sp.THT (KL)

Alat Pemeriksaan Telinga


- Lampu Kepala - Corong Telinga - Otoskop - Pinset telinga - Garputala - Pelilit kapas - Pengait Serumen

Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit kedepan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membran timpani.

Inspeksi
Keadaan dan bentuk daun telinga Daerah belakang daun telinga (retro-aurikuler) apakah terdapat tanda peradangan atau sikatrik bekas operasi. Melihat keadaan liang telinga dan membran timpani.

Uji pendengaran
Tes garputala Tes Rinne Tes untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang pada telinga yang diperiksa Cara pemeriksaan : penala digetarkan, tangkainya diletakkan diprosesus mastoid setelah tidak terdengar penala dipegang didepan telinga kira-kira 2 cm. bila masih terdengar disebut rinne positif, bila tidak terdengar disebut rinne negatif

Tes Weber Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Cara pemeriksaan : penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan digaris tengah kepala (di vertex, dahi, pangkal hidung, ditengah-tengah gigi seri atau di dagu). Apabila bunyi penala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut weber lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan kearah telinga mana bunyi terdengar lebih keras disebut weber tidak ada lateralisasi.

Tes Schwabach Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Cara pemeriksaan : penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut schwabach memendek, bila pemeriksa tidak mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu penala diletakkan pada prosesus mastoideus pemeriksaan lebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi disebut schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kira-kira sama-sama mendengarnya disebut dengan schwabach sama dengan pemeriksa.

Tes Bing(tes oklusi) Cara pemeriksaan : tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liangtelinga, sehingga terdapat tuli konduktif kira-kira 30 Db. Penala digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala(seperti weber) Penilaian : bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup, berarti telinga tersebut normal. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif.

Tes Stenger : digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik (simulasi atau pura-pura tuli).

Cara pemeriksaan : menggunakan prinsip masking. Misalnya pada seorang yang berpura2 tuli pada telinga kiri. Dua buah penala yang identik digetarkan dan masing-masing diletakkan didepan telinga kiri dan kanan dengan cara tidak kelihatan oleh yang diperiksa. Penala pertama digetarkan dan diletakkan didepan telinga kanan (yang normal) sehingga jelas terdengar. Kemudian penala yang kedua digetarkan lebih keras dan diletakkan didepan telinga kiri (yang pura2 tuli). Apakah kedua telinga normal karena efek masking, hanya telinga kiri yang mendengar bunyi, jadi telinga kanan tidak akan mendengar bunyi. Tetapi bila telinga kiri tuli, telinga kanan tetap mendengar bunyi.

Tes Berbisik Pemeriksaan ini bersifat semi-kuantitatif menentukan derajat secara kasar. Hal yang perlu diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, dengan panjang minimal 6 meter. Nilai normal tes berbisik 5/6-6/6.

Pemeriksaan Audiometri Audiometri adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran

Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-18.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari.

Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran


Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Klasifikasi Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali

2) Audiometri tutur system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran

Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT.

Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB