Anda di halaman 1dari 2

A.

Seni Pada Masa Pendudukan Jepang (1942 1945)

Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif ialah: Agus Jaya, Otto Jaya, Zaini, Kusnadi dll. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah naungan POETRA (Pusat tenaga Rakyat) oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH. Mansur Jatuhnya kekuasaan Belanda ke tangan Jepang bukan hanya suatu kemenangan militer saja, tetapi bangsa Indonesia lebih melihat peristiwa ini sebagai kemenangan kepercayaan akan harga diri bangsa Asia terhadap bangsa Barat. Ini dipaparkan oleh A.D. Pirous bahwa: Kedatangan Jepang ke Indonesia pada waktu itu dirasakan sebagai saudara tua yang melepaskan kekuasaan penjajahan Belanda yang diterima dengan semangat persaudaraan yang erat. Jepang yang juga unggul dalam kebudayaan, diharapkan dapat membantu mengembangkan kebudayaan Indonesia, harapan ini jadi lebih diyakini, ketika pemerintah Jepang menampakan perhatiannya yang besar terhadap persoalanpersoalan kebudayaan (AD. Pirous 2003:3). Pada masa pendudukan Jepang seni rupa Indonesia mendapatkan perhatian yaitu dengan disediakannya alat-alat dan tempat untuk melukis sehingga terselenggara pameran lukisan pertama pada bulan September 1942. Tapi sayangnya karya-karya yang dibuat hanya sebagai propaganda pemerintahan Jepang yaitu dengan bertemakan kehebatan pemerintahan Jepang. Puncak campur tangan pemerintahan Jepang dapat dicatat pada bulan April tahun 1943 atau setahun setelah masa pendudukan. Jepang membentuk suatu badan kebudayaan yang diberi nama Keimin Bunka Sidosho dengan kontrol di bawah seniman Jepang yaitu Saseo Ono, di dalamnya tetap terdapat propaganda pemerintahan Jepang. Akan tetapi oleh para seniman lokal Keimin Bunka Sidosho dimanfaatkannya sebagai kesempatan untuk berlatih secara teratur dengan literatur dan peralatan yang ada, mereka mengadakan ceramah/diskusi tentang seni rupa dengan sedikitnya memberikan pandangan-pandangan baru tentang perkembangan kesenian (seni rupa) Indonesia. Di pihak lain Indonesia mendirikan Poetra yang dalam bagian seni rupanya dipimpin oleh S. Sujoyono dan Affandi. Selain mengabdi pada bidang seni, seniman-seniman lokal berjuang melawan pemerintahan Jepang lewat lukisan dan poster, dengan jiwa nasionalisme pada saat itu sebagai contoh lukisan Affandi menyindir pekerja romusha dengan badan kurus dan pakaian compang-camping, demikian juga poster dengan model pelukis Dullah, teks oleh

Khairil Anwar Boeng Ajo Boeng direproduksi dan disebar lewat gerbong-gerbong kereta api.