Anda di halaman 1dari 9

PENETAPAN KONSENTRASI HAMBAT MINIMUM (KHM)

Tanggal Praktikum I. TUJUAN

: Selasa, 06 Nopember 2012

Tujuan penentuan kadar hambat minimum antibiotika adalah untuk mengetahui kadar minimal suatu anti biotika yang dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme. Dalam praktikum kali ini dicari kadar minimal antibiotik Tetrasiklin terhadap kuman Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

II.

DASAR TEORI Konsentrasi hambat minimum (KHM) adalah konsentrasi minimum dari suatu zat yang mempunyai efek daya hambat pertumbuhan mikroorganisme. Penetapan KHM dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Cara cair Pada cara ini digunakan media cair yang telah ditambahkan zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan pengenceran-pengenceran tertentu. Kemudian ditanamkah biakan bakteri dalam jumlah yang sama. Respon zat uji ditandai dengan kejernihan atau kekeruhan pada tabung setelah inkubasi. 2. Cara padat Pada cara ini digunakan media padat yang telah dicampur dengan larutan uji dengan berbagai konsentrasi. Dengan cara ini satu cawan petri bisa ditanami beberapa jenis mikroba sehingga nilai KHM zat tersebut terhadap mikrobamikroba yang digunakan dapat diketahui.

KHM dapan ditentukan dengan prosedur tabung dilusi. Prosedur ini digunakan untuk menentukan konsentrasi antibiotika yang masih efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri patogen dan mengindikasukan dosis antibiotika yang efektif dalam mengontrol infeksi pada pasien. KHM dapat juga ditentukan dengan menggunakan konsentrasi tunggal dari suatu antibiotika dengan membandingkan kecepatan pertumbuhan mikroorganisme pada tabung kontrol dan tabung yang diberikan antibiotika. Pada suatu konsentrasi tertentu, antibiotika mempunyai efek menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme tersebut ditandai dengan
1

adanya kekeruhan pada media yang digunakan. Pada kadar tertentu, dimana pertumbuhan mikroorganisme terhambat oleh jumlah antibiotik yang sesuai, tidak terjadi kekeruhan pada media. Dengan menggunakan metode penegceran, dapat di lihat pada konsentrasi berapa antibiotik tersebut mempunyai efek menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pengamatan dilakukan berdasarkan intensitas kekeruhan yang terjadi pada setiap tabung berisi media dan suspensi kuman dengan konsentrasi antibiotik yang berbeda konsentrasinya setelah diinkubasi selama 24 jam. Adapun antibiotik yang digunakan dalam percobaan ini adalah

Tetrasiklin.Tetracycline / tetrasiklin merupakan kelompok antibiotika yang dihasilkan oleh jamur Streptomyces Aureofaciens. Antibiotika ini merupakan derivate dari senyawa hidronaftalen dan berwarna kuning. Dalam kedokteran hewan golongan tetracycline yang sering digunakan adalah khlortetrasiklin, oksitetrasiklin dan tetrasiklin. Sifat kimiawi tetrasiklin Tetrasiklin mudah membentuk garam dengan ion NA+ maupun Cl- . Obat ini dalam bentuk kering bersifat stabil, tidak demikian halnya bila antibiotika ini berada dalam larutan air. Untuk tetrasiklin sediaan basah perlu ditambahkan buffer. Dalam larutan tetrasiklin yang biasa digunakan untuk injeksi mengandung buffer dengan pelarut propylen glikol pada pH 7,5, dapat tahan 1 tahun pada suhu kamar sampai 45O C. Bila pH lebih tinggi dari 7,5 maka tingkat kestabilan tetrasiklin akan menurun. Mekanisme kerja tetrasiklin

Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dengan jalan menghambat sintesis protein. Hal ini dilakukan dengan cara mengikat unit ribosoma sel kuman 30 S hingga mencegah terbentuknya amino asetil RNA. Antibiotik ini dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe dan Mg. Meskipun tetrasiklin dapat menembus sel mamalia namun pada umumnya tidak menyebabkan keracunan pada individu yang menerimanya.

Kegunaan klinis tetrasiklin dalam kedokteran hewan Hewan kecil Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi yang disebabkan oleh kuman

gram positif maupun gram negative, terutama pada penyakit saluran pernafasan, perkencingan, leptospirosis, panleukopenia dll Hewan besar Antibiotika ini hampir selalu diberikan untuk mengatasi berbagai penyakit pada hewan besar, hal ini mungkin disebabkan karena sifat obat yang mempunyai spectrum luas. Dalam kasus lapangan antibiotika ini biasa digunakan untuk mengatasi penyakit-penyakit seperti metritis, pneumonia, mastitis, enteritis, leptospirosis, shipping fever, listeriosis, anaplasmosis, penyakit jembrana dan antraks. Untuk babi Dapat digunakan untu mengatasi penyakit seperti radang usus, paru dll. Dalam dosis rendah klortetrasiklin juga ditemukan tercampur dalam pakan. Untuk unggas Biasa digunakan untuk mengatasi penyakit pada unggas seperti CRD, sinusitis, infeksi PPLO dan erysipelas. Dalam banyak pakan ayam juga ditemukan kadar tetrasiklin dengan dosis rendah. Penggunaan topical Tetrasiklin digunakan untuk mengatasi radang infeksi pada kulit, biasanya sediaan tetrasiklin dikemas dalam bentuk salep 1%. Dapat digunakan untuk mengobati penyakit mata seperti opthalmik, selain itu dapat juga digunakan untuk mengatasi pink eye. Dalam percobaan ini, kelompok V melakukan uji antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli. Pada umumnya jika kita mendengar kata bakteri, yang langsung terbayang adalah makhluk amat kecil yang berbahaya karena menyebabkan berbagai penyakit. Bakteri Escherichia coli adalah salah jenis bakteri yang sering dibicarakan. Cukup banyak
3

masyarakat yang tahu E. coli namun hanya sebatas bakteri ini adalah penyebab infeksi saluran pencernaan. Namun banyak sebenarnya yang patut diketahui dari bakteri ini.

E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 micrometer dan diamater 0.5 micrometer. Volume sel E. coli berkisar 0.6-0.7 micrometer kubik. Bakteri ini termasuk umumnya hidup pada rentang 20-40 derajat C, optimum pada 37 derajat.Kita mungkin banyak yang tidak tahu jika di usus besar manusia terkandung sejumlah E. coli yang berfungsi membusukkan sisa-sisa makanan. Dari sekian ratus strain E. coli yang teridentifikasi, hanya sebagian kecil bersifat pathogen, misalnya strain O157:H7. Bakteri yang namanya berasal dari sang penemu Theodor Escherich yang menemukannya di tahun 1885 ini merupakan jenis bakteri yang menjadi salah satu tulang punggung dunia bioteknologi. Hampir semua rekayasa genetika di dunia bioteknologi selalu melibatkan E. coli akibat genetikanya yang sederhana dan mudah untuk direkayasa. Riset di E. coli menjadi model untuk aplikasi ke bakteri jenis lainnya. Bakteri ini juga merupakan media cloning yang paling sering dipakai. Teknik recombinant DNA tidak akan ada tanpa bantuan bakteri ini. Banyak industri kimia mengaplikasikan teknologi fermentasi yang memanfaatkan E. coli. Misalnya dalam produksi obat-obatan (insulin, antiobiotik), high value chemicals (1-3 propanediol, lactate). Secara teoritis, ribuan jenis produk kimia bisa dihasilkan oleh bakteri ini asal genetikanya sudah direkayasa sedemikian rupa guna menghasilkan jenis produk tertentu yang diinginkan. Jika mengingat besarnya peranan ilmu bioteknologi dalam aspekaspek kehidupan manusia, maka tidak bisa dipungkiri juga betapa besar manfaat E. coli bagi kita.

III.

ALAT DAN BAHAN Alat Tabung reaksi Cawan petri Labu ukur 100 ml Labu Erlenmeyer 100 ml Gelas ukur Rak tabung reaksi Inkubator Kawat ose Spatel Kaca arloji Volume pipet 1 ml Mortir + stamper Batang pengaduk Volume pipet 5 ml Jumlah 11 8 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 Bahan 60 ml media Nutrient Brith (NB) dan 136 ml Nutrient agar (NA) Suspensi Echerichia coli yang berumur 18-22 jam 250 mg Tetrasiklin HCL pekat Aquadest steril secukupnya

IV.

PROSEDUR 4.1.Cara cair 1. Menimbang tepat 250 mg Tetrasiklin, kemudian larutkan dalam HCl pekat dan diencerkan sampai 100 ml dalam labu takar. (konsentrasi 2,5 mg/ml atau 2500 /ml).

2. Menyiapkan 10 tabung reaksi, tabung 1 berisi media dengan kekuatan 2x (double sterngth media) dan tabung berikutnya berisi media dengan kekuatan biasa masing-masing 2 ml. 3. Dengan menggunakan volum pipet, diambil 1 ml zat uji dan memasukannya ke tabung I kemudian ambil 1 ml, lalu memasukannya ke tabung II, kocok, ambil 1 ml dan memasukkannya ke tabung III dan melakukan pengerjaan sampai pada tabung ke-10 dan terakhir diambil 1 ml dari tabung 10 untuk dibuang (volume tiap tabung harus tetap 2 ml).
5

4. Kemudian ke dalam tipa-tipa tabung tadi dimasukan 0,5 ml suspensi Escherichia coli. 5. Menyiapkan 1 tabung reaksi sebagai blangko yang berisi 2 ml media dan biakan bakteri. 6. Menyiapkan 1 tabung reaksi sebagai blangko yang berisi 2 ml media dan tertrasiklin. 7. Semua tabung diinkubasi pada 37oC selama 24-48 jam. 8. Pada akhir peeriode inkubasi amati perubahan yang terjadi. Tabung terakhir yang jernih sebelum terjadi kekeruhan merupakan perkiraan nilai KHM dari tetrasiklin.

V.

HASIL PENGAMATAN Tabung I II III IV V VI VII VIII IX X Endapan Putih +++ +++ ++ + + + +++ +++ +++ +++ Keterangan Terbentuk endapan Terbentuk endapan hitam Terbentuk endapan hitam Tidak terbentuk endapan Tidak terbentuk endapan Tidak terbentuk endapan Terbentuk endapan putih Terbentuk endapan putih Terbentuk endapan putih Terbentuk endapan putih

VI.

PEMBAHASAN

Kadar hambat minimum yang digunakan untuk menghambat pertumbuhansuatu mikroorganisme disebut Kadar Hambat Minimum (KHM). Anti mikroba dapat meningkatkan aktivitasnya dari bakteriostatik menjadi bakteriosid, apabilakadar anti mikrobanya ditingkatkan lebih besar dari MinimumInhibitoryConcentration (MIC) tersebut. Dari hasil pengamatan yang didapat bahwa hanya tabung IV, V dan VI saja yang tidak terdapat pertumbuhan bakteri, karena di dalam tabung tidak terbentuk endapan putih maupun hitam, hal tersebut terjadi karena tetrasiklin bekerja dengan maksimum dalam mencegah pertumbuhan bakteri, sedangkan pada tabung lainnya antibiotik bekerja secara minimum dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Kadar hambat minimum yang digunakan untuk menghambat pertumbuhansuatu mikroorganisme disebut Kadar Hambat Minimum (KHM). Anti mikrobadapat meningkatkan aktivitasnya dari bakteriostatik menjadi bakteriosid, apabila kadar anti mikrobanya ditingkatkan lebih besar dari Minimum Inhibitory Concentration (MIC) tersebut.Suatu anti mikroba, menunjukkan toksisitas yang selektif missal, obat lebih beraksi terhadap mikroorganisme/ obat pada reaksi biokimia penting dalam sel parasit lebih unggul daripada pengaruhnya terhadap selhospes serta karena struktur sel mikroorganisme berbeda dengan struktur selmanusia/ hospescinamis. Pada praktikum kali ini, praktikan di harapkan mampu menentukan kadar hambatminimum suatu antibiotic yg telah di tentukan. Kadar hambat minimum itu sendrimerupakan seberapa kuat antibiotic yang di gunakan dapat mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri. Jika tidak terdapat bakteri yang tumbuh pada lingkungan yang telahdibuat, itu artinya antibiotic itu mempunyai kadar bunuh mikroba yang mengakibatkantidak ada satu pun bakteri yang tumbuh. Maka hasil yang digunakan merupakan hasil darikelompok lain yang telah sesuai dengan teori yang ditegaskan. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, dalam penentuan kadar hambatminimum antibiotic ada beberapa metode yang dapat dilakukan. Pada praktikum kali inicara yang kita gunakan yaitu. Metode difusi dengan cara kaca silinder dan kertas cakram. Sebelumnya cawan petri yang akan digunakan diisi dahulu dengan medium yang telah dcampur dengan suspensi bakteri. Jika menggunakan kaca silinder biarkan medium menjadisetengah padat kemudian letakkan kaca silinder diantara medium ( jangan sampaimenyentuh dasar cawan petri ) dengan
7

maksud agar larutan antibiotic dapat terdifusidengan baik dan masukkan larutan antibiotic yang telah di buat kedalam kaca silinder menggunakan pipet mikro sebanyak 0,1ml. Sedangkan jika menggunakan kertas cakram,kertas sebelum dibasahi dengan larutan antibiotic dan langsung dimasukkan dalam mediumyang telah dibuat.Kadar hambat minimal suatu antibiotika dapat melihat kadar terkecil dari suatu antibiotikayang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan kuman. Antibiotik yang digunakandalam percobaan ini adalah Cyprofloxacin dimana konsentrasinya terlalu tinggi untuk percobaan ini sehingga tidak ada bakteri yang tumbuh, selain Itu juga penataan mediumyang terlalu tipis pada cawan petri juga menjadi faktor penentuan kadar hambat minimal antibiotika.

VII.

KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi tetrasiklin mempengaruhi pertumbuhan bakteri dalam media Nutrien Broth. Semakin tinggi konsentrasi tetrasiklin maka semakin rendah bakteri dapat tumbuh. Jadi pertumbuhan bakteri dengan konsntrasi tetrasiklin benbanding terbalik.

DAFTAR PUSTAKA

Suryana, Shendi. 2012. Modul Praktikum Mikrobiologi & Virologi. Garut : laboratorium Farmasi FMIPA Universitas Garut.

http ://www.Scribd.com/doc/37083951/kadar-hambat-minimum. 12-11-12. http ://www. Pharzone.com/blog/50-mikrobiologi. 18-12-12.

http://redpoll.pharmacy.ualberta.ca/CCDB/cgi-bin/STAT_NEW.cgi. 19-12-12.
http ://www. Pharzone.com/blog/50-mikrobiologi. 19-12-12.