Anda di halaman 1dari 119
STRATEGI STRATEGI PENANGANAN PENANGANAN KORUPSI KORUPSI DI DI NEGARA NEGARA - - NEGARA NEGARA ASIA

STRATEGISTRATEGI PENANGANANPENANGANAN KORUPSIKORUPSI DIDI NEGARANEGARA--NEGARANEGARA ASIAASIA PASIFIKPASIFIK

NEGARA NEGARA - - NEGARA NEGARA ASIA ASIA PASIFIK PASIFIK LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI
NEGARA NEGARA - - NEGARA NEGARA ASIA ASIA PASIFIK PASIFIK LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI
NEGARA NEGARA - - NEGARA NEGARA ASIA ASIA PASIFIK PASIFIK LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI
NEGARA NEGARA - - NEGARA NEGARA ASIA ASIA PASIFIK PASIFIK LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI INTERNASIONAL JAKARTA 2007

Strategi Penanganan Korupsi Di Negara-Negara Asia Pasifik

LAPORAN KAJIAN

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

PUSAT KAJIAN ADMINISTRASI INTERNASIONAL

2007

Sambutan Kepala Lembaga Administrasi Negara

P emberantasan korupsi merupakan salah satu agenda penting dari pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pemberantasan korupsi juga merupakan agenda di

tingkat regional dan internasional. Lembaga-lembaga internasional turut menegaskan komitmennya untuk bersama-sama memerangi korupsi. Salah satu penghambat kesejahteraan negara berkembang pun disinyalir akibat dari praktek korupsi yang eksesif, baik yang melibatkan aparat di sektor publik, maupun yang melibatkan masyarakat yang lebih luas. Indikasi tetap maraknya praktek korupsi di negara ini dapat terlihat dari tidak kunjung membaiknya angka persepsi korupsi Indonesia. Beberapa survey yang dilakukan oleh lembaga independen internasional juga membuktikan fakta yang sama, walaupun dengan bahasa, instrumen atau pendekatan yang berbeda. Situasi ini jelas memprihatinkan banyak pihak. Terkait dengan hal di atas, Lembaga Administrasi Negara yang diamanatkan untuk mengembangkan sistem administrasi negara melalui kajian dan penelitian telah melakukan kajian tentang Strategi Penanganan Korupsi di Beberapa Negara Asia Pasifik. Kajian ini memfokuskan pada studi perbandingan mengenai strategi pemberantasan korupsi di beberapa negara Asia Pasifik yaitu Singapura, Hong Kong, dan India. Beberapa pelajaran penting dapat dipetik dari pengalaman ketiga negara dalam memerangi korupsi yang akut. Hal ini karena ketiga negara juga pernah mengalami kondisi korupsi yang sangat buruk. Singapura dan Hong Kong adalah contoh sukses pemeberantasan korupsi yag efektif. Hal ini tidak lepas dari coverage wilayah yang relatif kecil (city concern), sehingga mereka mempunyai banyak kemudahan. India sendiri memang tidak sesukses Singapura maupun Hong Kong, namun mempunyai karakteristik geografis, populasi, sosial ekonomi yang mirip dengan Indonesia. Sehingga mempunyai hambatan yang relatif sama. Namun ketiga

negara menekankan pentingnya good will dan political will dari semua pihak untuk

bersama-sama terlibat dalam upaya pemberantasan korupsi.

Berdasarkan studi perbandingan dengan ketiga negara tersebut di atas, kajian

ini memberikan rekomendasi kebijakan untuk bahan pertimbangan bagi konsep

pengembangan strategi pemberantasan korupsi di Indonesia agar terselenggara lebih

efektif, transparan, dan akuntabel.

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada tim peneliti dari

Pusat Kajian Administrasi Internasional (PKAI) LAN atas kerja keras yang telah

dilakukan sehingga kajian ini dapat diselesaikan dengan baik dan diharapkan dapat

terus ditingkatkan di masa-masa mendatang.

Semoga kajian ini dapat memberikan masukan yang berharga bagi semua

pihak, khususnya para penyelenggara negara dalam membangun strategi

pemberantasan korupsi yang komprehensif dan efektif.

Jakarta,

Desember 2007

Lembaga Administrasi Negara

Kepala

Sunarno, SH, MSc.

Kata Pengantar

P uji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga

Kajian Strategi Penanganan Korupsi di Beberapa Negara Asia Pasifik dapat

diselesaikan sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Laporan ini

merupakan hasil akhir kegiatan kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Administrasi

Internasional Lembaga Administrasi Negara mengenai strategi penanganan korupsi

di Singapura, Hong Kong, India, dan Indonesia yang membahas aspek kebijakan dan

perundangan, kelembagaan dalam pemberantasan korupsi, dan pencegahan tindak

korupsi.

Dengan ini Lembaga Administrasi Negara menyampaikan ucapan terima kasih

dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Duta Besar dan Perwakilan

Pemerintah Indonesia di Singapura, India, dan Hong Kong atas segala bantuan dan

dukungan yang telah diberikan sehingga kajian ini dapat berjalan dengan baik.

Ucapan terima kasih dan penghargaan juga disampaikan kepada segenap nara

sumber yang telah memberikan data dan informasi mengenai strategi penanganan

korupsi baik di Singapura, India, Hong Kong, dan tentunya di Indonesia.

Semoga hasil kajian ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi lembaga-

lembaga yang berkompeten dengan pemberantasan korupsi di Indonesia, dan

masyarakat luas pada umumnya. Kami menyadari bahwa laporan ini masih terdapat

banyak kekurangan. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan masukan, kritik dan

saran dari berbagai pihak demi terwujudnya laporan penelitian yang lebih baik.

Jakarta, Desember 2007 Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Administrasi Pembangunan dan Otomasi Administrasi Negara

Drs. Desi Fernanda, M.Soc.Sc

Executive Summary

P emberantasan korupsi di Indonesia pada dasarnya sudah dilakukan sejak empat dekade silam. Sejumlah perangkat hukum sebagai instrumen legal yang menjadi dasar proses pemberantasan korupsi di Indonesia juga telah

disusun sejak lama. Namun efektivitas hukum dan pranata hukum yang belum cukup memadai menyebabkan iklim korupsi di Indonesia tidak kunjung membaik. Hal ini setidaknya dibuktikan dengan berbagai indeks korupsi yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga independen yang berbeda, dengan metode dan variabel yang juga berbeda, namun menghasilkan hasil pengukuran yang relatif sama, yaitu menempatkan Indonesia di ranking paling bawah. Berdasarkan studi yang dilakukan Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2006 adalah 2,4 dan menempati urutan ke-130 dari 163 negara. Sebelumnya, pada tahun 2005 IPK Indonesia adalah 2,2, tahun 2004 (2,0) serta tahun 2003 (1,9). Bahkan berdasarkan hasil survei dikalangan para pengusaha dan pebisnis oleh lembaga konsultan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong Kong, Indonesia kembali dinilai sebagai negara paling terkorup di Asia pada awal tahun 2004 dan 2005. Hasil survey PERC menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling korup di antara 12 negara Asia. Predikat negara terkorup diberikan karena nilai Indonesia hampir menyentuh angka mutlak 10 dengan skor 9,25 (nilai 10 merupakan nilai tertinggi atau terkorup). Sedangkan pada tahun 2005 Indonesia masih termasuk dalam tiga teratas negara terkorup di Asia. “Prestasi” korupsi yang telah dicapai Indonesia disamping merugikan secara langsung bagi pertumbuhan perekonomian dan pemerataan pembangunan nasional, berdampak negatif bagi masuknya investasi asing ke Indonesia, juga melunturkan citra dan martabat bangsa di dunia internasional. Dalam menangani masalah korupsi, Indonesia dapat dikatakan tertinggal

dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Masing-masing negara pada prinsipnya mempunyai tantangan dan persoalan tersendiri dalam

menghadapi korupsi, mengingat korupsi memiliki beragam modus dan bentuknya seiring dengan makin kompleksnya administrasi birokrasi. Hal ini menyebabkan strategi pemberantasan korupsi yang ditempuh oleh setiap negara memiliki karakteristik tersendiri dan tingkat efektivitas yang berbeda pula. Terkait dengan hal tersebut, kajian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan strategi pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh beberapa negara di Asia Pasifik yang meliputi pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam menangani masalah korupsi guna memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan Pemerintah Indonesia tentang penanganan korupsi. Negara-negara yang dijadikan lokus dalam penelitian ini adalah Singapura, Hong Kong, India dan tentunya Indonesia. Alasan pemilihan negara-negara tersebut adalah bahwa Singapura dan Hong Kong dapat dikatakan sebagai model yang ideal (role model) dalam memberantas korupsi. Kedua negara tersebut berhasil menekan angka korupsi ke tingkat minimal dan dikategorikan sebagai negara terbersih di Asia. Sementara itu, meskipun pemberantasan korupsi di India relatif tertinggal dibandingkan dengan Singapura dan Hong Kong namun penanganan masalah korupsi di India relatif lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu kondisi geografis dan demografi India yang memiliki kesamaan dengan Indonesia menjadi salah satu alasan lain dalam pemilihan lokus. Dari hasil temuan, diperoleh sejumlah data dan informasi yang mencakup:

gambaran umum korupsi di masing-masing negara; kebijakan dan perundangan pemberantasan korupsi; kelembagaan dalam pemberantasan korupsi; dan strategi pencegahan tindak korupsi. Selanjutnya beberapa kesimpulan dan rekomendasi mengenai strategi pemberantasan korupsi disampaikan berdasarkan analisis data dan informasi yang didapat. Sejumlah pemikiran yang dapat disimpulkan adalah bahwa strategi pemberantasan korupsi harus dibangun didahului oleh adanya itikad kolektif, yaitu semacam kemauan dan kesungguhan (willingness) dari semua pihak untuk bersama- sama tidak memberikan toleransi sedikitpun terhadap perilaku korupsi. Perilaku korupsi harus dicitrakan dan diperlakukan sebagai perilaku kriminal, sama halnya dengan tindak kriminal lainnya, yang memerlukan penanganan secara hukum. Di samping itu, keberhasilan penanganan korupsi di negara-negara lain juga

dipengaruhi oleh keberadaan lembaga anti korupsi yang kuat dalam menangani

pencegahan dan pemberantasan korupsi. Sebagai contoh, Singapura dan Hong Kong hanya memiliki satu lembaga anti korupsi yang memiliki kewenangan penuh untuk menyelidiki dan mengajukan tuntutan kasus-kasus korupsi. Oleh karena itu, dalam mewujudkan sebuah strategi yang efektif, dibutuhkan pemenuhan prasyarat sebagai berikut :

1. Didorong oleh keinginan politik serta komitmen yg kuat dan muncul dari kesadaran sendiri

2. Menyeluruh dan seimbang

3. Sesuai dengan kebutuhan, ada target, dan berkesinambungan

4. Berdasarkan pada sumber daya dan kapasitas yang tersedia

5. Terukur

6. Transparan dan bebas dari konflik kepentingan Berkenaan dengan political will serta komitmen yang harus dibangun, maka

perlu menegaskan kembali political will pemerintah, diantaranya melalui :

Penyempurnaan UU Anti Korupsi yang lebih komprehensif, mencakup

kolaborasi kelembagaan yang harmonis dalam mengatasi masalah korupsi Kontrak politik yang dibuat pejabat publik

Pembuatan aturan dan kode etik PNS

Pembuatan pakta integritas

Penyederhanaan birokrasi (baik struktur maupun jumlah pegawai)

Penyempurnaan UU Anti Korupsi ini selain untuk menjawab dinamika dan perkembangan kualitas kasus korupsi, juga untuk menyesuaikan dengan instrumen hukum internasional. Saat ini isu korupsi tidak lagi dibatasi sekat-sekat negara, namun telah berkembang menjadi isu regional bahkan internasional. Hal ini tidak lepas dari praktek korupsi yang melibatkan perputaran dan pemindahan uang lintas negara. Adanya kewenangan yang jelas dan tegas yang diberikan oleh suatu lembaga anti korupsi juga menjadi kunci keberhasilan strategi pemberantasan korupsi. Tumpang tindih kewenangan di antara lembaga-lembaga yang menangani masalah korupsi menyebabkan upaya pemberantasan korupsi menjadi tidak efektif dan efisien.

Strategi pemberantasan korupsi harus juga bersifat menyeluruh dan seimbang. Ini berarti bahwa strategi pemberantasan yang parsial dan tidak komprehensif tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Berkenaan dengan hal itu maka, strategi pemberantasan korupsi harus dilakukan secara adil, dan tidak ada istilah “tebang pilih” dalam memberantas korupsi. Di samping itu penekanan pada aspek pencegahan korupsi perlu lebih difokuskan dibandingkan aspek penindakan. Upaya pencegahan (ex ante) korupsi dapat dilakukan, antara lain melalui:

Menumbuhkan kesadaran masyarakat (public awareness) mengenai dampak destruktif dari korupsi, khususnya bagi PNS. Pendidikan anti korupsi Sosialisasi tindak pidana korupsi melalui media cetak & elektronik Perbaikan remunerasi PNS Adapun upaya penindakan (ex post facto) korupsi harus memberikan efek jera, baik secara hukum, maupun sosial. Selama ini pelaku korupsi, walaupun dapat dijerat dengan hukum dan dipidana penjara ataupun denda, namun tidak pernah mendapatkan sanksi sosial. Hukuman yang berat ditambah dengan denda yang jumlahnya signifikan. Pengembalian hasil korupsi kepada negara. Tidak menutup kemungkinan, penyidikan dilakukan kepada keluarga atau kerabat pelaku korupsi. Strategi pemberantasan korupsi harus sesuai kebutuhan, target, dan berkesinambungan. Strategi yang berlebihan akan menghadirkan inefisiensi sistem dan pemborosan sumber daya. Dengan penetapan target, maka strategi pemberantasan korupsi akan lebih terarah, dan dapat dijaga kesinambungannya. Dalam hal ini perlu adanya komisi anti korupsi di daerah (misalnya KPK berdasarkan wilayah) yang independen dan permanen (bukan ad hoc). Selain itu strategi pemberantasan korupsi haruslah berdasarkan sumber daya dan kapasitas. Dengan mengabaikan sumber daya dan kapasitas yang tersedia, maka strategi ini akan sulit untuk diimplementasikan, karena daya dukung yang tidak seimbang. Dalam hal ini kualitas SDM dan kapasitasnya harus dapat ditingkatkan,

terutama di bidang penegakan hukum dalam hal penanganan korupsi. Peningkatan kapasitas ini juga dilakukan melalui jalan membuka kerjasama internasional. Keterukuran strategi merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan. Salah satu caranya yaitu membuat mekanisme pengawasan dan evaluasi atas setiap tahapan pemberantasan korupsi dalam periode waktu tertentu secara berkala. Selain itu juga, dalam rangka penyusunan strategi yang terukur, perlu untuk melakukan survei mengenai kepuasan masyarakat atas usaha pemberantasan korupsi yang telah dilakukan pemerintahan. Terakhir adalah bahwa sebuah strategi pemberantasan memerlukan prinsip transparan dan bebas konflik kepentingan. Transparansi ini untuk membuka akses publik terhadap sistem yang berlaku, sehingga terjadi mekanisme penyeimbang. Warga masyarakat mempunyai hak dasar untuk turut serta menjadi bagian dari strategi pemberantasan korupsi. Saat ini optimalisasi penggunaan teknologi informasi di sektor pemerintah dapat membantu untuk memfasilitasinya. Strategi pemberantasan juga harus bebas kepentingan golongan maupun individu, sehingga pada prosesnya tidak ada keberpihakan yang tidak seimbang. Semua strategi berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan objektif. Instrumen strategi pemberantasan lain yang menjadi bagian dari elemen masyarakat adalah pers. Transparansi dapat difasilitasi dengan baik dengan adanya dukungan media massa yang memainkan peranannya secara kuat. Dengan adanya kebebasan pers, maka kontrol masyarakat dapat semakin ditingkatkan lagi.

Daftar Isi

 

Hal

SAMBUTAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA ………………….

i

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………

iii

EXECUTIVE SUMMARY ………………………………………………………………………

iii

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………

ix

Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………

xi

Daftar Gambar ……………………………………………………………………………………

xii

Daftar Grafik ………………………………………………………………………………………

xiii

BAB I : PENDAHULUAN ………………………………………………………………………

1

A. Latar Belakang ……………………………………………………………………….

1

B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………….

4

C. Ruang Lingkup ……………………………………………………………………….

5

D. Tujuan …………………………………………………………………………………

5

E. Jadwal …………………………………………………………………………………

5

F. Metodologi Penelitian ……………………………………………………………

5

BAB II : GAMBARAN UMUM KORUPSI ………………………………………………

9

A. Memahami Korupsi ………………………………………………………………

9

B. Peta Korupsi Dunia dan Regional …………………………………………….

16

C. Korupsi di Beberapa Negara …………………………………………………….

27

1. Singapura ………………………………………………………………………….

27

2. Hong Kong ………………………………………………………………………

29

3. India …………………………………………………………………………………

32

4. Indonesia ………………………………………………………………………….

36

BAB III : KEBIJAKAN DAN PERUNDANGAN PEMBERANTASAN KORUPSI ……………………………………………………………………………

38

A. Singapura ………………………………………………………………………………

41

B. Hong Kong …………………………………………………………………………….

45

C. India ……………………………………………………………………………………

48

D. Indonesia ………………………………………………………………………………

50

BAB IV : KELEMBAGAAN DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI …………

57

A. Singapura ………………………………………………………………………………

B. Hong Kong …………………………………………………………………………….

C. India ……………………………………………………………………………………

D. Indonesia ………………………………………………………………………………

BAB V : STRATEGI PENCEGAHAN TINDAK KORUPSI ………………………….

A. Singapura ………………………………………………………………………………

B. Hong Kong …………………………………………………………………………….

C. India ……………………………………………………………………………………

D. Indonesia ………………………………………………………………………………

BAB VI : REKOMENDASI KEBIJAKAN .……………………………………………….

A. Masalah dalam Strategi Kebijakan Penanganan Korupsi di Indonesia ……………………………………………………………………………….

B. Alternatif Strategi Kebijakan Penanganan Korupsi …………………….

C. Policy Action dalam Perumusan Strategi Kebijakan Penanganan Korupsi di Indonesia ……………………………………………………………….

LAMPIRAN-LAMPIRAN

54

62

66

71

80

82

88

91

93

97

97

98

100

Daftar Tabel

 

Hal

Tabel 1.1

Operasionalisasi dan Output Tiap Tahap Kegiatan ……………………

7

Tabel 2.1 Daftar Peringkat Pengambil Aset Negara Terbesar versi Stolen Asset Recovery Innitiatives (StAR) Bank Dunia & PBB

19

Tabel 2.2 Indeks Penyuapan Beberapa Negara

23

Tabel 2.3 Perbandingan Profil 4 Negara dalam Penanganan Korupsi

26

Tabel 3.1 Perbandingan Beberapa Istilah dalam Perundangan Indonesia dengan UNCAC

53

Tabel 3.2 Terpidana Koruptor dan Uang Pengganti

54

Tabel 4.1 Indikator Kinerja CPIB Singapura

59

Tabel 4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan dan Kegagalan Suatu Lembaga Anti Korupsi

76

Tabel 4.3 Kelebihan dan Kelemahan dari Pembentukan Lembaga Anti Korupsi

77

Tabel 5.1 Instrumen Pencegahan Korupsi per Sektor

81

Tabel 5.2 Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia

93

Daftar Gambar

 

Hal

Gambar 2.1

Peta Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Seluruh Dunia

17

Gambar 4.1

Struktur Organisasi CPIB Singapura

61

Gambar 4.2

Struktur Organisasi ICAC Hongkong

65

Gambar 4.3

Struktur Organisasi CBI India ……………………………………………

69

Gambar 4.4

Struktur Central Vigilance Commission (CVC) India ……………

71

Gambar 4.5

Struktur Organisasi KPK Indonesia ……………………………………

74

Gambar 5.1

Strategi Anti Korupsi Singapura …………………………………………

83

Gambar 5.2

Keterkaitan antara Korupsi dengan Perbaikan Remunerasi

Pegawai Negeri …………………………………………………………………

87

Gambar 5.3

Strategi Pemberantasan Korupsi Hongkong

89

Daftar Grafik

 

Hal

Grafik 2.1

Peringkat Korupsi Beberapa Negara Asia

20

Grafik 2.2

Sektor Terlibat Kasus Penyuapan

24

Grafik 2.3

Wilayah yang Terkena Dampak Kasus Penyuapan

25

Grafik 2.4

Kecenderungan Korupsi di Singapura …………………………………

28

Grafik 2.5

Kecenderungan Korupsi di Hong Kong …………………………………

30

Grafik 2.6

Laporan Korupsi Hong Kong

31

Grafik 2.7

Kecenderungan Korupsi di India

33

Grafik 2.8

Kecenderungan Korupsi di Indonesia

36

Grafik 2.9

Pengendalian Korupsi (2002)

37

Bab I Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG

S alah satu isu atau masalah yang paling krusial untuk dipecahkan oleh bangsa dan pemerintah Indonesia adalah masalah korupsi. Hal ini disebabkan semakin lama tindak pidana korupsi di Indonesia ini semakin sulit untuk

diatasi. Maraknya korupsi di Indonesia disinyalir terjadi di semua bidang dan sektor pembangunan. Apalagi setelah ditetapkannya pelaksanaan otonomi daerah,

berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, disinyalir korupsi menyebar bukan hanya terjadi pada tingkat pusat tetapi juga meluas ke tingkat daerah dan bahkan menembus ke tingkat pemerintahan yang paling kecil di daerah. Dari penjabaran di atas, dapat dikatakan bahwa korupsi di Indonesia bukan hanya suatu fenomena tetapi sudah menjadi kultur yang sudah mengakar ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa sulitnya menangani korupsi di Indonesia. Hal ini seperti mengobati penyakit kulit yang sudah mengakar sampai jauh ke bawah kulit dan bahkan ke daging; sulit menyembuhkannya kecuali diobati sampai ke akar-akarnya. Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam dalam mengatasi praktik- praktik korupsi. Upaya pemerintah dilaksanakan melalui berbagai kebijakan yang berupa peraturan perundang-undangan dari yang tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar 1945 sampai dengan Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu pemerintah juga membentuk komisi-komisi yang berhubungan langsung dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi seperti Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

1

Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam hal pemberantasan korupsi adalah :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, khususnya pasal 21 dan pasal 5 (ayat 1)

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana

3. Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998

4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik KKN

5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

7. Dibentuknya Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) tahun 2001 berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999

8. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK)

9. Dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 junto Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002

10. Dibentuknya Tim Pemberantas Korupsi dan lain-lainnya.

Upaya pencegahan praktik korupsi juga dilakukan di lingkungan eksekutif atau penyelenggara negara, dimana masing-masing instansi memiliki Internal Control Unit (unit pengawas dan pengendali dalam instansi) yang berupa inspektorat. Fungsi dari inspektorat ini adalah mengawasi dan memeriksa penyelenggaraan kegiatan pembangunan di instansinya masing-masing, terutama pengelolaan keuangan negara, agar supaya kegiatan pembangunan berjalan secara efektif, efisien dan ekonomis sesuai sasaran. Di samping pengawasan internal ada juga pengawasan dan pemeriksaan kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh instansi eksternal yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP). Selain lembaga internal dan eksternal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga ikut berperan dalam melakukan pengawasan kegiatan pembangunan, terutama

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

2

kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara. Beberapa LSM yang aktif dan gencar mengawasi dan melaporkan praktik korupsi yang dilakukan penyelenggara negara antara lain adalah Indonesian Corruption Watch (ICW), Government Watch (GOWA), dan Masyarakat Tranparansi Indonesia (MTI). Dilihat dari upaya-upaya pemerintah dalam memberantas praktik korupsi di atas sepertinya sudah cukup memadai baik dilihat dari segi hukum dan peraturan perundang-undangan, komisi-komisi, lembaga pemeriksa baik internal maupun eksternal, bahkan keterlibatan LSM. Namun pada kenyataannya praktik korupsi bukannya berkurang malah meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan Indonesia kembali dinilai sebagai negara paling terkorup di Asia pada awal tahun 2004 dan 2005 berdasarkan hasil survei dikalangan para pengusaha dan pebisnis oleh lembaga konsultan Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Hasil survey lembaga konsultan PERC yang berbasis di Hong Kong menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling korup di antara 12 negara Asia. 1 Predikat negara terkorup diberikan karena nilai Indonesia hampir menyentuh angka mutlak 10 dengan skor 9,25 (nilai 10 merupakan nilai tertinggi atau terkorup). Sedangkan pada tahun 2005 Indonesia masih termasuk dalam tiga teratas negara terkorup di Asia. Peringkat negara terkorup setelah Indonesia, berdasarkan hasil survey yang dilakukan PERC, yaitu: India (8,9), Vietnam (8,67), Thailand, Malaysia dan China berada pada posisi sejajar di peringkat keempat yang terbersih. Sebaliknya negara yang terbersih tingkat korupsinya adalah Singapura (0,5) disusul Jepang (3,5), Hong Kong, Taiwan dan Korea Selatan. Untuk tahun 2006 posisi Indonesia “naik” satu peringkat dibandingkan dengan Filipina. 2 Perubahan yang dilakukan China dan Thailand sungguh mengesankan, yaitu mampu mengubah reputasi negara yang bergelimang korupsi menjadi negara yang rendah korupsinya. India dan Vietnam juga mulai melakukan perbaikan melalui keinginan politik tinggi dalam mempersempit ruang korupsi. China selama satu dasawarsa terakhir melancarkan perang besar dengan korupsi. Para pejabat yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi tidak segan-segan dibawa ke tiang

1 Kompas, 4 Maret 2004 2 Kompas, 14 Maret 2007

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

3

gantungan. Tindakan ini cukup efektif mengurangi praktik korupsi di kalangan pejabat. Sementara Thailand juga melakukan kampanye pemberantasan korupsi secara serius. Sektor perpajakan dan pengadilan yang dianggap rawan korupsi dan kolusi dijadikan prioritas dalam target kampanye melawan korupsi. Hasilnya mengesankan. Kemajuan dalam kampanye korupsi membawa dampak positif dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk kesanggupan membayar hutang luar negeri. Selama lima tahun Thailand mampu mencicil 50 milyar dollar AS utangnya. Upaya penanganan korupsi yang sistematis dan berkelanjutan di negara- negara tersebut tampak begitu kontras dengan realitas yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan studi yang dilakukan Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2006 adalah 2,4 dan menempati urutan ke-130 dari 163 negara. Sebelumnya, pada tahun 2005 IPK Indonesia adalah 2,2, tahun 2004 (2,0) serta tahun 2003 (1,9). 3 Hal ini menunjukkan bahwa penanganan kasus korupsi di Indonesia masih sangat lambat dan belum mampu membuat jera para koruptor. Oleh karena itu sangatlah menarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang strategi yang dilakukan negara-negara tersebut dalam menangani korupsi, sehingga bisa menjadi negara yang rendah tingkat korupsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Pusat Kajian Administrasi Internasional Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia memandang perlu untuk melakukan kajian lebih jauh tentang strategi penanganan korupsi di negara-negara Asia Pasifik, sebagai bahan masukan untuk memperkuat (revitalize) penanganan korupsi yang diterapkan di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan, yaitu: bagaimanakah strategi penanganan korupsi yang dilakukan di beberapa negara Asia Pasifik? Khususnya negara-negara yang berhasil mengatasi masalah korupsi sehingga dapat memperbaiki indeks persepsi korupsi yang menjadi tolok ukur korupsi suatu negara.

3 Kompas, 7 November 2006

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

4

C.

RUANG LINGKUP

1. Fokus Kajian ini membahas tentang strategi penanganan korupsi di negara-negara Asia Pasifik dengan fokus pada pendekatan penanganan korupsi yang dilakukan yang mencakup aspek kebijakan, kelembagaan dan pencegahan.

2. Lokus Kajian dilakukan di Indonesia dan beberapa negara Asia Pasifik (Singapura, Hong Kong dan India), dimaksudkan untuk mendapatkan data dan informasi tentang strategi penanganan korupsi pada masing-masing negara.

D. TUJUAN

Kajian ini bertujuan untuk:

1.

Mengidentifikasi

pendekatan-pendekatan

yang

dilakukan

oleh

beberapa

negara Asia Pasifik dalam menangani masalah korupsi.

2.

Memberikan

rekomendasi

kebijakan

yang

dapat

diterapkan

Pemerintah

Indonesia tentang penanganan korupsi.

E. JADWAL

Pelaksanaan kegiatan kajian ini dilaksanakan selama 12 (dua belas) bulan pada tahun anggaran 2007.

F. METODOLOGI PENELITIAN

1. Metode Kajian Kajian strategi penanganan korupsi di negara-negara Asia Pasifik menggunakan metode deskriptif komparatif. Metode tersebut dipilih karena kajian ini akan mendeskripsikan obyek penelitian yaitu penanganan korupsi di beberapa negara

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

5

terpilih di kawasan Asia Pasifik secara komprehensif dan kemudian akan dibandingkan (komparasi) satu sama lain untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Kajian ini bertujuan untuk menyampaikan, menganalisis, mengklasifikasi, dan membandingkan strategi penanganan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah di sejumlah negara terpilih. Rangkaian kegiatan yang dilakukan terkait dengan kajian, antara lain adalah melakukan observasi awal, mencari sumber informasi yang berkaitan dengan topik strategi penanganan korupsi baik di dalam maupun luar negeri, menyusun riset desain, melakukan pengumpulan data lapangan di dalam dan luar negeri, menganalisis data dan informasi yang diperoleh dari lapangan, serta menyajikannya di dalam sebuah laporan kajian.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang diadopsi dalam kajian ini adalah melalui studi literatur, dokumentasi, dan focus group discussion (FGD). Teknik ini memiliki kelebihan untuk memperoleh data dan informasi yang bersifat kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah panduan wawancara (interview guidelines) yang digunakan pada saat pencarian data lapangan di dalam maupun di luar negeri. Panduan wawancara tersebut meliputi indikator-indikator atau besaran-besaran yang menjadi fokus dalam kajian strategi penanganan korupsi.

FGD dilakukan dengan mengundang para ahli/pakar yang terkait penerapan strategi penanganan korupsi untuk memperoleh data dan informasi empirik dari pengalaman negara-negara yang berhasil atau pun gagal menangani korupsi.

3. Analisis Data

Setelah dilakukan pengumpulan data lapangan, maka data tersebut diolah dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk dapat mengungkap latar belakang sesungguhnya dari fenomena-fenomena yang sedang diteliti atau dikaji. Dalam hal ini fenomena tersebut adalah strategi penanganan korupsi yang dilakukan oleh beberapa negara Asia Pasifik. Pemikiran logis (professional judgement), induksi dan evaluasi juga digunakan dalam pemberantasan korupsi.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

6

4. Tahapan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan kajian terdiri dari beberapa tahapan dan merupakan suatu proses yang berlangsung selama 1 (satu) tahun anggaran. Pada setiap tahapan diharapkan menghasilkan output yang dapat dicapai dan terukur oleh tim pelaksana kegiatan. Untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan kajian maka proses tersebut dapat dijabarkan dalam suatu operasionalisasi kegiatan kajian sebagai berikut.

Tabel 1.1 Operasionalisasi dan Output Tiap Tahap Kegiatan

No

Tahapan

Kegiatan yang dilakukan

Output

1.

Pengumpulan data awal dan studi literatur

Mengumpulkan data awal dan literatur yang berkaitan dengan strategi penanganan korupsi

Terkumpulnya data awal dan literatur yang berkaitan dengan penanganan korupsi

2.

Penyusunan riset desain

Menyusun riset desain dan rencana penelitian

Tersusunnya riset desain dan instumen penelitian strategi penanganan korupsi di beberapa negara Asia Pasifik

3.

Pengiriman surat dan korespondensi

Mengirimkan surat dan korespondensi ke instansi-instansi di dalam maupun luar negeri yang menjadi lokus kajian

Terkirimnya surat dan korespondensi baik ke dalam maupun luar negeri yang menjadi lokus kajian

4.

Pengumpulan data lapangan ke sejumlah instansi dalam dan luar negeri

Melakukan kunjungan lapangan dan pencarian data penelitian di beberapa daerah dan

Tersedianya data dan informasi mengenai strategi penanganan korupsi dari pencarian

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

7

   

negara yang menjadi lokus penelitian

data lapangan di sejumlah daerah dan negara.

5.

Pembuatan laporan kajian sementara

Mengolah, menganalisis, dan menyajikan hasil penelitian lapangan

Tersusunnya laporan sementara kajian strategi penanganan korupsi di beberapa negara Asia Pasifik

Menyusun hasil analisa data lapanan sebagai bahan pembuatan laporan akhir

6.

Ekspose laporan kajian sementara

Memaparkan hasil laporan sementara pada forum LAN

Terkumpulnya berbagai masukan baik kritik maupun saran untuk penyempurnaan laporan kajian.

7.

Penyempurnaan laporan sementara menjadi laporan akhir

Merevisi laporan sementara berdasarkan hasil ekspose

Tersusunnya laporan akhir kajian strategi penanganan korupsi di beberapa negara Asia Pasifik

8.

Pencetakan dan penyerahan laporan akhir

Mencetak dan menyerahkan laporan akhir

Tercetaknya laporan akhir kajian strategi penanganan korupsi di beberapa negara Asia Pasifik

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

8

Bab II Gambaran Umum Korupsi

A. MEMAHAMI KORUPSI

K orupsi bukanlah merupakan barang yang baru dalam sejarah peradaban manusia. Fenomena ini telah dikenal dan menjadi bahan diskusi bahkan sejak 2000 tahun yang lalu ketika seorang Perdana Menteri Kerajaan India

bernama Kautilya menulis buku berjudul Arthashastra. Demikian pula dengan Dante yang pada tujuh abad silam juga menulis tentang korupsi (penyuapan) sebagai tindak kejahatan. Tidak ketinggalan seorang Shakespeare juga menyinggung korupsi sebagai sebuah bentuk kejahatan. Sebuah ungkapan terkenal pada tahun 1887 mengenai korupsi dari sejarahwan Inggris, Lord Acton, yaitu “power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely”, menegaskan bahwa korupsi berpotensi muncul di mana saja tanpa memandang ras, geografi, maupun kapasitas ekonomi. Beberapa negara di Asia memiliki beragam istilah korupsi yang pengertiannya mendekati definisi korupsi. Di China, Hong Kong dan Taiwan, korupsi dikenal dengan nama yum cha, atau di India terkenal dengan istilah baksheesh, atau di Filipina dengan nama lagay dan di Indonesia atau Malaysia memiliki padanan kata yaitu suap. Semua istilah memiliki pengertian yang variatif, namun pada umumnya merujuk pada kegiatan ilegal yang berlaku di luar sistem formal. Tidak semua istilah ini secara spesifik mendefinisikan diri sebagai sebuah pengertian hukum dari praktik korupsi. Istilah-istilah ini juga belum memberikan gambaran mendalam mengenai dampak luas dari praktik korupsi. Istilah lokal yang dianggap paling mendekati pengertian korupsi secara mendalam adalah yang berlaku di Thailand, yaitu istilah gin muong, yang secara literal berarti nation eating. Pengertian dari istilah ini menunjukkan adanya kerusakan yang luar biasa besar terhadap kehidupan suatu bangsa akibat dari adanya perilaku praktik korupsi.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

9

Dalam norma umum di masyarakat maupun norma khusus semisal perundangan, istilah korupsi memiliki beragam pengertian. Perbedaan pengertian ini menyebabkan implikasi hukum dan sosial yang berbeda pula di masyarakat. Sebuah tindakan korupsi yang merugikan keuangan negara boleh jadi secara norma sosial dianggap oleh masyarakat sebagai tindakan wajar dan tidak melanggar. Ini karena pandangan dan pemahaman suatu masyarakat terhadap perbuatan korupsi berbeda dengan masyarakat lainnya. Oleh karenanya suatu masyarakat dapat menilai suatu perbuatan termasuk dalam praktik korupsi, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat lain, terlebih dalam masyarakat yang permisif dan patronialistik. Terlepas dari perbedaan pemahaman ini, sebenarnya terdapat ciri khas/atribut yang melekat pada tindakan korupsi, yang membedakannya dengan yang lain. Dari segi bahasa, kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio. Kata ini sendiri memiliki kata kerja corrumpere yang berarti busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalikkan atau menyogok. 4 Dalam Wordnet Princenton Education, korupsi didefinisikan sebagai “lack of integrity or honesty (especially susceptibility to bribery); use of a position of trust for dishonest gain.” 5 Selanjutnya dalam Kamus Collins Cobuild arti dari kata corrupt adalah “someone who is corrupt behaves in a way that is morally wrong, especially by doing dishonesty or illegal things in return for money or power.” 6 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, Balai Pustaka, 597:2001) 7 , korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Sementara itu, Direktur Transparency International India, secara lebih sederhana mendefinisikan korupsi sebagai ”the use of public office for private gain”. Jadi segala tindakan penggunaan barang publik untuk kepentingan pribadi adalah termasuk kategori korupsi. Transparency International sendiri sebagai lembaga internasional yang sangat menaruh perhatian terhadap korupsi di negara-negara di dunia dan menyoroti korupsi yang dilakukan oleh birokrasi, mendefinisikan korupsi

4 Komisi Pemberantasan Korupsi, Pahami Dulu, Baru Lawan! hal 7

5 dalam LAN (2006), Kajian tentang Pola Korupsi di Lingkungan Instansi Pemerintah, Laporan Akhir Penelitian

6 dalam Eris Yustiono (2005), Revitalisasi Isu-Isu Strategis Manajemen Sumber Daya Manusia Sebagai Salah Satu Upaya Meminimalisir Korupsi, Jurnal Ilmu Administrasi Vol 2 No. 3 hal 274

7 dalam Eris Yustiono (2005), ibid

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

10

sebagai perilaku pejabat publik, baik politikus maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengan dirinya, dengan cara menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Pengertian ini lebih dilatarbelakangi karena korupsi yang dilakukan oleh birokrasi memiliki dampak dan pengaruh negatif yang besar dan signifikan terhadap pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nasional. Jika dibandingkan dengan korupsi yang dilakukan oleh para pelaku bisnis ataupun masyarakat. Pendapat dari beberapa pakar mengenai korupsi juga dapat dijelaskan seperti Juniadi Suwartojo (1997) menyatakan bahwa korupsi adalah tingkah laku atau tindakan seseorang atau lebih yang melanggar norma-norma yang berlaku dengan menggunakan dan/atau menyalahgunakan kekuasaan atau kesempatan melalui proses pengadaan, penetapan pungutan penerimaan atau pemberian fasilitas atau jasa lainnya yang dilakukan pada kegiatan penerimaan dan/atau pengeluaran uang atau kekayaan, penyimpanan uang atau kekayaan serta dalam perizinan dan/atau jasa lainnya dengan tujuan keuntungan pribadi atau golongannya sehingga langsung atau tidak langsung merugikan kepentingan dan/atau keuangan negara/masyarakat. Sementara Brooks 8 memberikan pengertian korupsi yaitu: “Dengan sengaja melakukan kesalahan atau melalaikan tugas yang diketahui sebagai kewajiban, atau tanpa hak menggunakan kekuasaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang sedikit banyak bersifat pribadi.” Selanjutnya Alfiler 9 menyatakan bahwa korupsi adalah: “Purposive behavior which may be deviation from an expected norm but is undertake nevertheless with a view to attain materials or other rewards.Bahkan Klitgaard membuat persamaan sederhana untuk menjelaskan pengertian korupsi sebagai berikut :

C = M + D – A

di mana:

C = Corruption / Korupsi

8 dalam Alatas, (1987), Korupsi: Sifat, Sebab, dan Fungsi, Jakarta, LP3ES 9 dalam Ledivina V. Carino, (1986), Bureaucratic Corruption in Asia: Causes Consequences and Controls, Quezon City, JMC Press Inc

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

11

M = Monopoly / Monopoli

D = Discretion / Diskresi / keleluasaan

A = Accountability / Akuntabilitas

Persamaan di atas menjelaskan bahwa korupsi hanya bisa terjadi apabila seseorang atau pihak tertentu mempunyai hak monopoli atas urusan tertentu serta ditunjang oleh diskresi atau keleluasaan dalam menggunakan kekuasaannya, sehingga cenderung menyalahgunakannya, namun lemah dalam hal pertanggung jawaban kepada publik (akuntabilitas). Beberapa pengertian di atas menyoroti korupsi sebagai perilaku merugikan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa pihak dan tidak secara eksplisit disebutkan apakah dari unsur birokrasi, swasta, maupun masyarakat. Karena pada dasarnya tindakan korupsi bukan saja terjadi di sektor pemerintahan tetapi juga dalam dunia bisnis dan bahkan dalam masyarakat. 10 Dari beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa korupsi bukan saja

dilakukan oleh kalangan birokrat, tetapi juga kalangan di luar birokrasi. Arti maupun pendefinisian tindakan korupsi juga memiliki berbagai sudut pandang yang cukup berbeda. Namun demikian, suatu tindakan dapat dikategorikan korupsi—siapa pun pelakunya—apabila memenuhi unsur-unsur: 11

1. Suatu pengkhianatan terhadap kepercayaan.

2. Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta atau masyarakat umumnya.

3. Dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan khusus.

4. Dilakukan dengan rahasia, kecuali dengan keadaan dimana orang-orang berkuasa atau bawahannya menganggapnya tidak perlu.

5. Melibatkan lebih dari satu orang atau pihak.

6. Adanya kewajiban dan keuntungan bersama dalam bentuk uang atau yang lain.

10 lihat The World Bank Policy Paper (2000), Anticorruption in Transition, A Contribution to the Policy Debate, Washington DC 11 Alatas, (1987), ibid

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

12

7.

Terpusatnya kegiatan (korupsi) pada mereka yang menghendaki keputusan yang pasti dan mereka yang dapat mempengaruhinya.

8. Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korup dalam bentuk-bentuk pengesahan hukum.

9. Menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif pada mereka yang melakukan korupsi.

Oleh karena itu, tim peneliti menyimpulkan bahwa korupsi dapat diartikan sebagai tindakan dan perilaku yang menyimpang atau melanggar aturan, norma, dan etika dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki, mengingkari amanat yang diemban untuk kepentingan memperkaya diri sendiri, kerabat ataupun orang lain Korupsi yang terjadi dalam birokrasi tentunya mendapat perhatian dan

penekanan tersendiri dalam kajian ini. Karena pada kasus korupsi, birokrasi atau pemerintah memiliki peranan ganda yaitu sebagai pelaku dan pemberantas korupsi itu sendiri. Sementara dunia usaha dan masyarakat berperan sebagai pelaku dan korban. Kasus-kasus korupsi yang menjadi sorotan banyak pihak baik dalam maupun luar negeri adalah korupsi yang terjadi di tubuh birokrasi. Selain berakibat luas dan destruktif terhadap pembangunan ekonomi serta masyarakat secara umum, korupsi dalam birokrasi pada umumnya berskala luas dengan jumlah (nominal) yang besar dan melibatkan pejabat negara, elit politik maupun pegawai negeri. Sedangkan kasus- kasus korupsi pada sektor bisnis, pada umumnya berskala kecil dan hanya berdampak pada perusahaannya sendiri. Dalam studi yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia, praktik-praktik korupsi dapat diidentifikasi meliputi

1. manipulasi uang negara,

2. praktik suap dan pemerasan,

3. politik uang, dan

4. kolusi bisnis.

Di Indonesia, untuk kategori manipulasi uang negara, sektor yang paling korup ialah pengadaan barang dan jasa mencakup konstruksi, pekerjaan umum, perlengkapan militer, dan barang jasa pemerintah. Untuk kasus suap dan pemerasan,

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

13

korupsi terbesar terjadi di kepolisian, sektor peradilan, pajak dan bea cukai, serta sektor perijinan. Korupsi juga terjadi di kalangan politisi (anggota DPR dan partai politik), serta pada praktik kolusi dalam bisnis. Untuk kasus kolusi bisnis, korupsi

terbesar terjadi di tubuh militer, kepolisian, dan pegawai pemerintah lewat koperasi dan yayasan. Dari segi aktornya, pelaku korupsi terbagi menjadi aparat pemerintah, pelaku sektor bisnis, dan warga masyarakat. Secara tradisional, pelaku korupsi biasanya hanya menyangkut pemerintah atau aparat birokrasi dengan warga. Namun demikian kecenderungan saat ini menunjukkan adanya peningkatan kontribusi atas tingkatan korupsi dari pelaku di sektor bisnis. Pada dasarnya praktik korupsi dapat dikenal dalam berbagai bentuk umum sebagai berikut :

1. bribery (penyuapan),

2. embezzlement (penggelapan/pencurian),

3. fraud (penipuan),

4. extortion (pemerasan), dan

5. favouritism (favoritisme).

Kelima bentuk ini secara konsep seringkali overlapping satu sama lain, di mana masing-masing istilah digunakan secara bergantian. Untuk lebih mudah dalam membedakan satu konsep dengan yang lainnya, Amundsen (2000) menjelaskan masing-masing pengertian konsep secara detail. Penyuapan didefinisikan sebagai Bribery is the payment (in money or kind) that is given or taken in a corrupt relationship”. (Amundsen, 2000: 2). Jadi penyuapan adalah pembayaran (dalam bentuk uang atau sejenisnya) yang diberikan atau diambil dalam hubungan korupsi. Sehingga esensi korupsi dalam konteks penyuapan adalah baik tindakan membayar maupun menerima suap. Beberapa istilah yang memiliki kesamaan arti dengan penyuapan adalah kickbacks, gratuities, baksheesh, sweeteners, pay-offs, speed money, grease money. Jenis-jenis penyuapan ini adalah pembayaran untuk memuluskan atau memperlancar urusan, terutama ketika harus melewati proses birokrasi formal. Dengan penyuapan ini pula maka kepentingan perusahaan atau bisnis dapat dibantu oleh politik, dan menghindari tagihan pajak serta peraturan

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

14

mengikat lainnya, atau memonopoli pasar, ijin ekspor/impor dsb. Lebih lanjut Amundsen menjelaskan bahwa penyuapan ini juga dapat berbentuk pajak informal, ketika petugas terkait meminta biaya tambahan (under-the-table payments) atau mengharapkan hadiah dari klien, serta bentuk donasi bagi pejabat atau petugas terkait. Sedangkan penggelapan atau embezzlement didefinisikan sebagai embezzlement is theft of public resources by public officials, which is another form of misappropiation of public funds” (Amundsen, 2000, 3). Jadi ini merupakan tindakan kejahatan menggelapkan atau mencuri uang rakyat yang dilakukan oleh pegawai pemerintah atau aparat birokrasi. Penggelapan ini juga bisa dilakukan oleh pegawai di sektor swasta. Biasanya kasus korupsi selalu melibatkan dua pihak, yaitu aparat (yang menerima suap) dan warga (yang memberi suap). Namun demikian dalam kacamata hukum, penggelapan juga merupakan tindakan pidana korupsi, walaupun jenis korupsi ini tidak melibatkan warga masyarakat secara langsung, karena penggelepan hanya dilakukan oleh satu pihak saja, yaitu aparat. Penggelapan adalah salah satu bentuk korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang menjadi modus korupsi di negara paling korup, melibatkan pemegang kekuasaan hak monopoli. Kasus penggelapan paling banyak ditemukan adalah dalam bentuk memproteksi kepentingan bisnis mereka dengan menggunakan kekuatan politik. Di beberapa negara lain modus yang terjadi seperti upaya menasionalisasi perusahaan asing, hak properti dan hak monopoli, serta mendistribusikannya ke kelompok/golongan yang dekat dengan kekuasaan. Adapun fraud atau penipuan diartikan sebagai “fraud is an economic crime that involves some kind of trickery, swindle or deceit (Amundsen, 2000: 3). Fraud adalah kejahatan ekonomi yang berwujud kebohongan, penipuan, dan perilaku tidak jujur. Jenis korupsi ini merupakan kejahatan ekonomi yang terorganisir dan melibatkan pejabat. Dari segi tingkatan kejahatan, istilah fraud ini merupakan istilah yang lebih populer dan juga istilah hukum yang lebih luas dibandingkan dengan bribery dan embezzlement. Dengan kata lain fraud relatif lebih berbahaya dan berskala lebih luas dibanding kedua jenis korupsi sebelumnya. Kerjasama antar

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

15

pejabat/instansi dalam menutupi satu hal kepada publik yang berhak mengetahuinya merupakan contoh dari jenis kejahatan ini. Bentuk korupsi lainya adalah extortion atau pemerasan yang didefinisikan sebagai ”extortion is money and other resources extracted by the use of coercion, violance or the threats to use force” (Amundsen, 2000: 4). Korupsi dalam bentuk pemerasan adalah jenis korupsi yang melibatkan aparat yang melakukan pemaksaan atau pendekatan koersif untuk mendapatkan keuntungan sebagai imbal jasa atas pelayanan yang diberikan. Pemerasan ini dapat berbentuk “from below” atau “from above”. Sedangkan yang dimaksud dengan “from above” adalah jenis pemerasan yang dilakukan oleh aparat pemberi layanan terhadap warga

B. PETA KORUPSI DUNIA DAN REGIONAL

Saat ini fenomena korupsi terjadi di hampir semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Namun demikian, di negara berkembang, tingkat korupsi cenderung tinggi dibandingkan dengan negara maju. Peta Indeks Persepsi Korupsi berikut menjelaskan distribusi geografis korupsi di seluruh dunia. Pada Tabel 2.1, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) masing-masing negara digambarkan dalam warna. Biru adalah negara-negara yang tingkat korupsinya paling kecil (9-10). Merah tua merupakan negara dengan tingkat korupsi terparah (1-1,9). Sedangkan warna-warna lain berada di antaranya (2-8,9) Namun sebagian besar negara-negara berkembang berada pada tingkat korupsi sedang sampai dengan parah (2-2,9), termasuk Indonesia (warna merah). Dari gambar di atas juga dapat diketahui bahwa gejala umum menunjukkan bahwa tingkat korupsi relatif berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

16

Gambar 2.1 Peta Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Seluruh Dunia

2.1 Peta Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Seluruh Dunia Sumber: Transparency International (2006) Korupsi juga

Sumber: Transparency International (2006)

Korupsi juga menciptakan ketidak seimbangan dan ketidak adilan di masyarakat, sehingga korupsi sebenarnya merupakan persoalan yang kritis. Hal ini tidak lain karena praktik korupsi sangat mempengaruhi kinerja ekonomi dan pembangunan suatu negara. Pada masa lalu, rendahnya kesejahteraan dituding sebagai faktor dan akar penyebab korupsi. Perilaku korup dianggap ”menguntungkan” dalam kondisi penghasilan yang rendah. Suap menjadi suplemen pendapatan dan secara esensial akan terjadi ”trickle-down effect”. Namun saat ini, hipotesis ini banyak diragukan oleh kalangan. Banyak variabel lain yang dianggap potensial sebagai penyebab munculnya praktik korupsi, seperti nilai, budaya, perilaku, lingkungan sosial, pranata hukum dan sebagainya. Namun demikian, satu hal yang tidak diragukan bahwa daya rusak korupsi terhadap ekonomi global sangatlah besar. Seperti yang diestimasi oleh Bank Dunia bahwa pada tahun 2003 saja, untuk biaya suap yang dibayarkan (tidak termasuk penggelapan atau bentuk korupsi lainnya) pada aktivitas ekonomi mencapai USD 1 triliun.

menemukan

momentumnya ketika era transparansi dan akuntabilitas menjadi wacana publik.

Di

Indonesia,

perhatian

terhadap

isu

korupsi

kembali

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

17

Kesadaran masyarakat akan hukum dan situasi politik, sosial dan ekonomi yang membaik, mendorong kesadaran akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas publik. Kesadaran publik akan pentingnya memberantas korupsi juga meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran mereka akan hak dasar sebagai warga negara. Apalagi fakta menyebutkan bahwa Indonesia memiliki rapor korupsi yang tidak kunjung membaik. Momentum perhatian terhadap isu korupsi ini juga diperkuat dengan situasi euforia otonomi dan semangat desentralisasi yang justru kontra produktif terhadap upaya pemberantasan korupsi secara nasional. Penelitian Bank Dunia pada tahun 2007 mengenai korupsi di tingkat daerah menunjukkan fakta bahwa desentralsasi menyuburkan korupsi di tingkat lokal. Hal ini terjadi karena adanya desentralisasi keuangan, politik dan hubungan antara lembaga pemerintah di tingkat lokal yang ditandai dengan kuatnya kedudukan lembaga legislatif dibanding lembaga eksekutif 12 . Potret Indonesia dalam peta korupsi di dunia sangatlah mencolok. Sebagai contoh adalah hasil pemeringkatan korupsi oleh TI dan skor korupsi oleh PERC yang menghasilkan kesimpulan buruknya kinerja pemberantasan korupsi di Indonesia, Yang paling baru, misalnya, pada rilis Bank Dunia dan PBB (September 2007) yang memprakarsai pengembalian aset melalui program Stolen Asset Recovery Innitiatives (StAR), mantan Presiden Soeharto didudukkan di peringkat pertama sebagai pengambil aset negara terbesar di dunia, dengan estimasi aset yang diambil sekitar USD 15 - 35 milyar. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi status hukumnya di Indonesia, karena pada saat bersamaan, kasus sengketa Soeharto dengan Majalah Time terkait laporan harta kekayaan Soeharto, justru pada tingkatan kasasi di Mahkamah Agung dimenangkan oleh pihak Soeharto. Dalam daftar peringkat pengambil aset negara terbesar yang dirilis Bank Dunia dan PBB ini, seluruhnya berasal dari negara berkembang atau negara dengan kapasitas ekonomi yang rendah, yaitu dari kawasan Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur.

12 Bank Dunia, 2007. Memerangi Korupsi di Indonesia yang Terdesentralisasi. Hal.15

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

18

Terlepas dari nuansa politis diluncurkannya prakarsa ini, berkenaan dengan program pengembalian aset ini, Sekjen PBB Ban Ki-Moon 13 menegaskan bahwa Every 100 million dollars recovered could fund full vaccinations for 4 million children, provide water connections for some 250,000 households, or fund treatment for over 600,000 people with HIV/AIDS for a full year”. Ini berarti bahwa dari setiap USD 100 juta yang dikembalikan, hasilnya bisa untuk membiayai vaksinasi untuk 4 juta orang anak, juga menyediakan saluran air bersih untuk 250.000 kepala kelurga (KK) atau penanganan/perawatan lebih dari 600.000 orang yang mengidap HIV/AIDS selama satu tahun penuh. Dengan demikian bisa dibayangkan betapa nilai manfaat dari pengembalian aset ini sangatlah besar. Dengan asumsi USD 10 milyar saja yang bisa kembali, maka nilai kemanfaatan yang bisa dinikmati oleh Indonesia maupun negara-begara lain yang menjadi korban korupsi akan sangat menakjubkan.

Tabel 2.1 Daftar Peringkat Pengambil Aset Negara Terbesar versi StAR (Stolen Asset Recovery Innitiatives) Bank Dunia & PBB

No

Nama Terduga

Negara

Estimasi Aset

Tahun

1

H.M. Soeharto

Indonesia

USD 15 – 35 Milyar

1967

– 1988

2

Ferdinand Marcos

Filipina

USD 5 – 10 Milyar

1972

– 1986

3

Mobutu Sese Seko

Zaire

USD 5 Milyar

1965

– 1997

4

Sani Abacha

Nigeria

USD 2 – 5 Milyar

1993

– 1998

5

Slobodan/Milosevic

Serbia

USD 1 Milyar

1989

– 2000

6

Jean Claude Duvalier

Haiti

USD 300 – 800 juta

1971

– 1986

7

Alberto Fujimori

Peru

USD 600 juta

1990

– 2000

8

Pavio Lazarenko

Ukraina

USD 114 – 200 juta

1996

– 1997

9

Arnoldo Areman

Nikaragua

USD 100 juta

1997

– 2002

10

Joseph Estrada

Filipina

USD 70 – 80 juta

1998

– 2001

Sumber : Diolah dari Kompas online, 18 September 2007

13 Dalam Artikel ”Rekor Koruptor ”Top Markotop” oleh M. Fadjroel Rachman di Kompas, 20 September 2007.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

19

Di tingkat regional pun, posisi Indonesia mendapat tempat yang sangat kontras dengan peringkat paling bawah. Peringkat yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga independen yang berbeda dengan variabel dan metode pengukuran yang berbeda, namun menunjukkan adanya konsistensi hasil pengukuran. Grafik berikut merupakan pemeringkatan negara hasil pengolahan oleh Political and Economy Risk Consultancy (PERC)—sebuah lembaga independen yang berbasis di Hong Kong—menunjukkan peringkat korupsi negara-negara di Asia berdasarkan perhitungan skor, sebagai berikut:

Grafik 2.1 Peringkat Korupsi Beberapa Negara Asia

berikut: Grafik 2.1 Peringkat Korupsi Beberapa Negara Asia Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006 Rentang

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Rentang skor dari nol sampai 10, di mana skor nol adalah mewakili posisi terbaik, sedangkan skor 10 merupakan posisi skor terburuk. Ini merupakan survey tahunan yang dilakukan oleh PERC untuk menilai kecenderungan korupsi di Asia dari tahun ke tahun. Dalam hal ini PERC bertanya kepada responden untuk menilai kondisi di mana mereka bekerja sekaligus juga untuk menilai kondisi negara asalnya

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

20

masing-masing. Metode ini digunakan agar dapat menghasilkan data perbandingan antar negara (cross-country comparison), sehingga survey ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi bagaimana persepsi terhadap suatu negara berubah seiring waktu.

Kabar baik yang didapatkan dari survey PERC tahun 2006 ini adalah persepsi ekspatriat terhadap korupsi adalah membaiknya penanganan korupsi di banyak negara-negara Asia. Dengan kata lain, iklim bisnis di Asia menuju ke iklim yang sehat yang ditandai dengan berkurangya praktik korupsi. Kesimpulan ini didapatkan setelah membandingkan dari tahun ke tahun untuk pertanyaan survey yaitu ”how big is the problem of corruption in terms of its being a feature influencing the overall business environment?”. Skor yang didapat dari 10 negara (dari 12 negara yang disurvey), menunjukkan adanya perbaikan. Sayangnya perbaikan iklim bisnis pada tingkat regional ini tidak didukung oleh iklim di tingkat nasional. Dari daftar peringkat di atas diketahui bahwa Indonesia menempati urutan terbawah dari 13 negara yang diukur. Data PERC ini ternyata sejalan dengan hasil survey Transparency International, sehingga menegaskan validitas buruknya kondisi korupsi di Indonesia. Grafik di atas juga menunjukkan adanya kecenderungan negara dengan kemapanan ekonomi lebih baik, mempunyai tingkat korupsi yang rendah. Sehingga semakin renda kapasitas ekonomi suatu negara, potensi korupsinya juga semakin besar. Konsistensi ini juga terlihat pada peta distribusi IPK di dunia yang dihasilkan oleh TI, di mana, wilayah yang IPK nya tinggi, lebih banyak terletak pada negara- negara yang secara ekonomi mapan. Walaupun hipotesis ini masih perlu pengujian lebih lanjut, namun secara umum yang terlihat mengindikasikan adanya konsistensi tersebut. Selain CPI atau Corruption Perception Index, TI juga menerbitkan Bribe Payer Index (BPI) yaitu adalah indeks lain yang dikembangkan untuk mengukur tingkat penyuapan yang dilakukan oleh perusahaan yang beroperasi di luar negeri. BPI ini dilakukan pada 30 negara yang termasuk pemimpin ekspor yang terkemuka di dunia.

Rentang skala 1 sampai dengan 10, di mana skala 1 menunjukkan bahwa penyuapan adalah biasa, sementara skala 7 menunjukkan bahwa penyuapan tidak

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

21

pernah terjadi. Hasil dari perhitungan rata-rata kemudian dikonversi ke rentang skor

1 – 10. Indonesia “beruntung” tidak termasuk dalam list, bukan karena tidak terdapat praktik suap-menyuap, namun karena kapasitas ekonomi Indonesia tidak sebesar ke 30 negara di atas. 30 negara di atas adalah negara-negara yang secara akumulatif mewakili 82% kapasitas ekspor dunia. Berdasarkan data tersebut, Diane Mak membagi negara-negara tersebut dalam 4 cluster, yaitu:

1. Cluster 1: Switzerland, Sweden, Australia, Austria, Canada, UK, Germany, Netherlands, Belgium, USA, Japan

2. Cluster 2: Singapore, Spain, United Arab Emirates, France, Portugal, Mexico

3. Cluster 3: Hong Kong, Israel, Italy, South Korea, Saudi Arabia, Brazil, South Africa, Malaysia

4. Cluster 4: Taiwan, Turkey, Russia, China, India.

Dengan pengelompokan ini, maka cluster 1 merupakan kelompok negara

dengan kebiasaan praktik penyuapan yang paling sedikit, atau hampir tidak terjadi, sementara cluster 4 mewakili negara dengan kondisi praktik suap yang parah dan dianggap biasa dalam aktivitas bisnis. Adapun kalau dilihat dari segi sektor, maka terdapat 7 sektor yang paling sering terlibat dalam kasus praktik penyuapan. Sektor-sektor tersebut adalah:

1. kepolisian,

2. pelayanan/perijinan,

3. peradilan,

4. pelayanan medis,

5. pendidikan,

6. pendapatan umum dan

7. pajak.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

22

Tabel 2.2 Indeks Penyuapan Beberapa Negara

Tabel 2.2 Indeks Penyuapan Beberapa Negara Sumber : Diane Mak, 2006 PKAI – Strategi Penanganan Koru

Sumber : Diane Mak, 2006

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

23

Grafik 2.2 Sektor terlibat kasus Penyuapan

Pelayanan Peradilan/ Pelayanan Sistem Pekerjaan Pendapatan Polisi Perijinan Hukum Medis Pendidikan Umum Pajak
Pelayanan
Peradilan/
Pelayanan
Sistem
Pekerjaan
Pendapatan
Polisi
Perijinan
Hukum
Medis
Pendidikan
Umum
Pajak
Prosentase Responden
Pembayar Suap

Sumber : TI Global Corruption Barometer, 2006.

TI menemukan bahwa kepolisian merupakan sektor yang paling rawan, sementara pajak merupakan sektor yang paling aman dari dari ketujuh sektor terhadap praktik penuapan. Gambaran sektor ini tidak mencerminkan gambaran masing-masing negara, namun merupakan agregasi dari seluruh negara yang disurvey. Oleh karenanya terdapat variasi ranking sektor pada masing-masing negara. Ranking sektor ini tidak menunjukkan besarnya nominal nilai uang yang berputar dalam praktik korupsi di masing-masing sektor. Sedangkan dari segi distribusi wilayah, diketahui bahwa ternyata benua Afrika merupakan kawasan yang paling banyak mencatat praktik penyuapan ini, sementara wilayah Uni Eropa merupakan wilayah yang dinyatakan relatif paling bersih. Posisi Asia Pasifik terletak di ranking 4 dari 7 wilayah yang dikelompokkan. Grafik berikut secara rinci menunjukkan masing-masing posisi wilayah.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

24

Grafik 2.3 Wilayah yang terkena dampak kasus Penyuapan

Total Sampel Afrika Amerika Latin NIS Asia Pasifik Eropa Amerika Utara UE + Prosentase Responden
Total Sampel
Afrika
Amerika Latin
NIS
Asia Pasifik
Eropa
Amerika Utara
UE +
Prosentase Responden
Pembayar Suap

Sumber : TI Global Corruption Barometer, 2006.

Memperhatikan data-data sekunder di atas, maka sangat wajar kalau banyak suara yang pesimis mengenai prospek pemberantasan korupsi di Asia, khususnya di Indonesia. Korupsi di Asia bukan sesuatu yang tidak mungkin diberantas. Bahkan korupsi juga bukan merupakan bagian dari budaya Asia atau negara-negara berkembang. Hal ini telah dibuktikan dengan baik oleh Singapura dan Cili yang secara agresif berhasil memberantas korupsi, sehingga menempatkan mereka menjadi negara dengan kategori jauh lebih bersih melebihi negara-negara Eropa Barat seperti Perancis dan Spanyol. Sehubungan dengan kepentingan penelitian ini, maka dipilih 3 negara yang mewakili profil korupsi yang terbaik yaitu Singapura dan Hon Kong, serta profil korupsi yang lemah yaitu India. Pemilihan ini lokus ini didasarkan pada beberapa pertimbangan penting. Pemilihan Singapura dan Hong Kong lebih di dasarkan pada fakta bahwa kedua negara termasuk paling sukses dalam upaya pemberantasan korupsi. Sedangkan pemilihan India adalah atas dasar pertimbangan kemiripan struktur pemerintahan dan cakupan (coverage) wilayah yang relatif sama luasnya.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

25

Sehingga ada asumsi bahwa kompleksitas pemasalahan yang dihadapi relatif juga sama. Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya bahwa India dicatat oleh PERC telah menghasilkan kemajuan besar dalam upaya pemberantasan korupsi ini. Berikut ini adalah perbandingan umum masing-masing sampel negara yang menjadi lokus kajian ini.

Tabel 2.3 Perbandingan Profil 4 Negara dalam Penanganan Korupsi

         

Peringkat

Kelembagaan

Tahun

Perundangan

Cakupan

di Asia

(2006)

Singapura

CPIB

1952

2

UU

Skala kota/lokal

1

Hong Kong

ICAC

1974

3

UU

Skala kota/lokal

3

India

CBI*, CVC

1963,1964

5

UU

Skala nasional

8

Indonesia

KPK,

2002

7

UU

Skala nasional

13

Kepolisian,

 

Kejaksaan

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Dalam perbandingan di atas, dapat diketahui bahwa Singapura merupakan pionir dalam upaya pemberantasan korupsi. Sejak didirikannya Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) pada tahun 1952, Singapura kini telah mencatatkan diri sebagai negara paling bersih korupsi di tingkat Asia, dan bahkan di dunia pun Singapura diakui secara internasional. Sementara Hong Kong menandai permulaan perjuangan pemberantasan korupsi dengan membentuk lembaga independen ICAC pada tahun 1974. Hong Kong harus melewati kompromi politik antar lembaga terkait, terutama bagi beberapa lembaga yang diduga melakukan praktik korupsi, untuk memuluskan strategi pemberantasan korupsinya. Dalam waktu singkat Hong Kong meraih hasil yang sangat maju, sehingga berhasil masuk kategori wilayah paling bersih di Asia setelah Singapura dan Jepang. Perlu diperhatikan bahwa terdapat persamaan profil antara Singapura dan Hong Kong di mana keduanya memiliki wilayah teritori yang kecil, seukuran kota.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

26

Fokus pemberantasan korupsi pada kedua negara menjadi lebih baik karena cakupan yang kecil atau “city concern”. Kondisi geografis ini menguntungkan keduanya dalam melakukan percepatan pemberantasan korupsi, karena daya jangkau yang lebih cepat.

Sebagai negara di Asia yang berprestasi dalam hal pemberantasan korupsi, Singapura dan Hong Kong boleh jadi merupakan contoh yang ideal. Namun apabila memperhatikan variabel lain yang membedakan karakteristik kedua negara dengan negara-negara lainnya maka Singapura dan Hong Kong menjadi terlalu jauh untuk dijadikan benchmark dalam memberantas korupsi. Sebagai contoh, kondisi luas wilayah geografis Indonesia yang puluhan kali lebih besar dari Singapura dan Hong Kong, tentu akan memunculkan kompleksitas permasalahan di lapangan yang jauh lebih rumit. India sebagai negara dengan wilayah daratan yang luas, mempunyai karakteristik permasalahan yang mirip dengan Indonesia. Kondisi geografis menyebabkan struktur pemerintahan di India juga bertingkat, disesuaikan dengan kebutuhan distribusi kekuasaan pada jenjang vertikal dari pusat ke daerah (negara bagian) dan horizontal, mencakup seluruh wilayah pada tataran level pemerintahan yang sama. Indonesia dengan kondisi yang relatif sama juga mempunyai profil dan struktur pemerintahan yang berjenjang.

C. KORUPSI DI BEBERAPA NEGARA

1. SINGAPURA Sejarahnya Singapura mulai menjadi koloni Inggris sejak tahun 1819. Pada tahun 1963 bergabung dengan Federasi Malaysia, namun dua tahun kemudian memisahkan diri dari Malaysia dan menjadi merdeka. Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling sejahtera di dunia dengan jaringan perdagangan internasional yang kuat, terutama didukung oleh adanya aktivitas pelabuhan Singapura yang termasuk pelabuhan paling sibuk di dunia. Kondisi ekonomi yang sangat bagus dicerminkan oleh Gross Domestic Product (GDP) per kapita yang menyamai atau setara dengan negara-negara Eropa Barat.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

27

Singapura menganut tipe pemerintahan republik parlementer, dengan

dukungan konstitusi 3 Juni 1959, yang sudah diamandemen pada tahun 1965. Struktur pemerintah Singapura adalah sebagai berikut:

1. Kepala Negara adalah Presiden

2. Kepala Pemerintahan adalah Perdana Menteri yang dibantu oleh Senior Minister dan Minister Mentor.

Sedangkan kelembagaan legislatif Singapura menganut Parlemen Unikameral, dengan jumlah kursi 84 buah, dihasilkan dari pemilihan umum untuk masa periode 5 tahun. Sebagai tambahan tersedia 9 kursi untuk calon anggota legislatif yang dinominasikan, dan 3 kursi untuk pihak oposan yang kalah, yang ditunjuk sebagai anggota non-konstituen (nonconstituency members).

Grafik 2.4 Kecenderungan Korupsi di Singapura

members ). Grafik 2.4 Kecenderungan Korupsi di Singapura Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006 Berdasarkan

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Berdasarkan laporan PERC, Singapura adalah salah satu negara yang secara konsisten sebagai negara paling bersih korupsi di level Asia. Konsistensi ini ditunjukkan oleh grafik berikut ini, di mana skor yang dimiliki Singapura selalu berada di atas skor rata-rata Asia selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

28

Singapura adalah negara dengan kinerja pemberantasan korupsi terbaik di Asia, bahkan termasuk yang terbaik di dunia. Dengan skor yang mendekati angka absolut 0, Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan konsistensi pemberantasan korupsi yang paling baik. Grafik di atas bahkan membuktikan bahwa skor yang dimiliki oleh Singapura berada jauh di atas rata-rata skor Asia.

2. HONG KONG Wilayah Hong Kong berada di bawah pemerintahan kolonial Inggris pada tahun 1841, dan setahun kemudian secara resmi dilepaskan oleh Cina. Berdasarkan perjanjian antara Cina dengan Inggris pada tanggal 19 Desember 1984, Hong Kong berubah status dan nama resmi menjadi the Hong Kong Special Administrative Region (SAR) of China mulai tanggal 1 Juli 1997. Pada perjanjian ini, Cina menjanjikan formula “one country, two system”, yang berimplikasi bahwa sistem ekonomi sosialis Cina tidak akan diberlakukan di Hong Kong, serta Hong Kong akan menikmati otonomi yang sangat luas, mencakup banayk kewenangan kecuali urusan luar negeri dan pertahanan sampai dengan 50 tahun ke depan. Hong Kong berlokasi di wilayah Asia Timur, berbatasan langsung dengan Cina dan Laut Cina Selatan, dengan total luas 1.092 km persegi. Sampai dengan Juli 2007 diperkirakan populasi penduduk di Hong Kong mencapai 6.980.412 jiwa dengan struktur demografi 13% usia di bawah 14 tahun, 74% usia produktif antara 15 – 64 tahun, serta 12,9% untuk usia pensiun yaitu 65 tahun ke atas. Penyelenggaraan pemerintahan Hong Kong didukung oleh konstitusi mini

(Basic Law) yang telah disetujui oleh China’s National People’s Congress pada Maret 1990. Secara formal struktur lembaga eksekutif terdiri atas :

1. Kepala Negara adalah Presiden Cina

2. Kepala Pemerintah adalah Chief Executive, yang dipilih oleh 800 anggota komisi pemilihan untuk setiap periode 5 tahunan,

3. Kabinet yaitu Executive Council yang terdiri dari 14 anggota resmi dan 15 anggota tidak resmi. Sedangkan lembaga legislatif dikenal dengan nama LEGCO atau Legislative

Council bersifat unicameral, terdiri dari 60 kursi.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

29

Berdasarkan laporan PERC, kondisi penanganan korupsi di Hong Kong relatif stabil. Walaupun ada penurunan sedikit dalam 2 tahun erakhir, namun penurunan ini tidak signifikan, karena kecenderungan penuruan ini juga terjadi pada skor rata-rata Asia.

Grafik 2.5 Kecenderungan Korupsi di Hong Kong

Asia. Grafik 2.5 Kecenderungan Korupsi di Hong Kong Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006 Sama

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Sama halnya dengan Singapura, kinerja pemberantasan korupsi di Hong Kong tergolong sangat baik. Dalam 10 tahun terakhir, skor yang di capai Hong Kong selalu berada di atas skor rata-rata Asia. Capaian ini menempatkan Hong Kong sebagai salah satu wilayah yang paling bersih korupsi di Asia. Namun demikian terdapat data menarik dari ICAC mengenai kecenderungan pelaku korupsi di Hong Kong, yang meningkat dari segi jumlah, maupun dari sektor- sektor di mana para pelaku itu berasal. Grafik di bawah menunjukkan kecenderungan praktik korupsi di Hong Kong adalah meningkat dalam kurun 30 tahun lebih. Apabila diperhatikan pada tahun 1974–1978 terjadi penurunan praktik korupsi. Berdasarkan keterangan informan, pada periode tersebut terjadi resistensi yang hebat dari beberapa pihak terhadap upaya pemberantasan korupsi di Hong Kong oleh ICAC. Akhirnya, karena situasinya menjadi deadlock, maka diputuskan untuk dilakukan pengampunan massal kepada

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

30

unit dan individu pelaku korupsi, dan mulai melakukan upaya pemberantasan efektif, setelah adanya pengampunan massal itu.

Grafik 2.6 Laporan Korupsi Hong Kong

5000 4500 4000 Total 3500 3,339 3000 Sektor Bisnis 2500 2,037 2000 Pemerintah 1500 1,068
5000
4500
4000
Total
3500
3,339
3000
Sektor Bisnis
2500
2,037
2000
Pemerintah
1500
1,068
1000
Lembaga Publik
500
234
0

74 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 98 '00 '02 '04 '06

Sumber : ICAC Hong Kong, 2007

Fakta yang menarik dari grafik itu diketahui bahwa kecenderungan sektor publik dalam praktik korupsi menurun dalam 6 tahun terakhir. Demikian pula korupsi di sektor bisnis mengalami trend penurunan yang sama. Namun demikian sektor bisnis masih tetap lebih tinggi tingkat korupsinya dibandingkan dengan sektor publik. Tercatat sejak tahun 1988 sampai dengan saat ini, berdasarkan data statistik ICAC, sektor bisnis ”menyalip” sektor publik dalam hal praktik korupsi. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga publik antara lain adalah Legislative Council (LegCo), Securities and Future Commission (SFC), The Hospital Authority (HA), dan Urban Renewal Authority (URA). Dalam sebuah survey tahunan yang melibatkan 1.500 warga Hong Kong melalui random sampling, dan dilaksanakan pada akhir tahun 2006 oleh lembaga penelitian profesional, dipanitiai oleh ICAC, diketahui bahwa toleransi publik

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

31

terhadap korupsi di pemerintahan: mencapai nilai 1,1 14 . Artinya bahwa publik Hong Kong pada umumnya sangat tidak mentolerir adanya praktik korupsi di Hong Kong.

3. INDIA India adalah salah satu negara dengan sejarah peradaban leluhur paling tua di dunia. Peradaban lembah Hindus telah hadir sejak 5000 tahun silam. Suku Arya yang berasal dari Barat Laut telah menduduki dataran India sejak 1500 SM, yang kemudian berakulturasi dengan penduduk lokal Dravidian menghasilkan budaya India klasikal. Infiltrasi asing mulai masuk dimulai dengan serangan Arab pada abad 8 dan Turki pada abad 12. Sampai dengan abad ke 19, seluruh dataran India dikuasai oleh pemerintah kolonial Inggris. Dengan perjuangan anti kekerasan oleh Mohandas Gandhi dan Jawaharlal Nehru, India berhasil memproklamirkan kemerdekaannya

pada tahun 1947. Pada tahun 1971, East Pakistan menjadi negara terpisah yang dikenal sekarang dengan nama Bangladesh. Persoalan utama yang kini dihadapi India adalah konflik tidak berujung dengan Pakistan mengenai wilayah Kashmir, populasi yang terlalu besar, degradasi lingkungan, kemiskinan yang meluas serta konflik etnik dan agama. India berlokasi di selatan Asia, berbatasan dengan Laut Arab dan Teluk Bengal, antara Myanmar dan Pakistan, memiliki luas wilayah mencapai 3.287.590 km persegi. Estimasi populasi penduduk pada Juli 2007 mencapai 1.129.866.154 jiwa. Tipe pemerintah India merupakan Republik Federal, yang terdiri dari 28 negara bagian dan 7 union territories. Adapun struktur lembaga eksekutif adalah terdiri dari.

1. Kepala Negara adalah Presiden, yang dibantu oleh Wakil Presiden.

2. Kepala Pemerintahan adalah Perdana Menteri.

3. Kabinet dibentuk dengan anggotanya ditunjuk/diangkat oleh Presiden atas rekomendasi Perdana Menteri.

Sedangkan kelembagaan legislatifnya adalah parlemen bikameral (Sansad) yang terdiri dari Dewan Negara atau Rajya Sabha dan Majelis Rakyat atau Lok Sabha.

14 Skala nilai 0 -10, di mana 0 mewakili penolakan total dan 10 mewakili toleransi total

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

32

Rajya Sabha terdiri dari 250 anggota, di mana 12 anggota diantaranya ditunjuk oleh Presiden, sedangkan sisanya dipilih oleh anggota state and territorial assmeblies. Anggota Rajya Sabha melaksanakan tugasnya untuk periode enam tahun. Adapun Lok Shaba terdiri atas 545 kursi, di mana 543 merupakan keannggotaa hasil pemilihan umum, dan sisanya sejumlah 2 orang anggota ditunjuk oleh Presiden. Berdasarkan data PERC, peringkat India dalam 10 tahun terakhir selalu berada di bawah skor rata-rata Asia. Namun demikian pada dua tahun terakhir terdapat peningkatan yang sangat baik, yaitu menembus skor terbaik di bawah 7, setelah pencapaian terbaik sebelumnya pada tahun 1998. Hal ini merupakan indikasi penting dari keseriusan dan itikad yang kuat berbagai pihak di India untuk memberantas korupsi.

Grafik 2.7 Kecenderungan Korupsi di India

korupsi. Grafik 2.7 Kecenderungan Korupsi di India Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006 Menurut survey

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Menurut survey yang dilakukan PERC, 2006, pada umumnya ekspatriat di India percaya adanya perbaikan situasi korupsi di India. Hal ini dibuktikan dengan perubahan persepsi ini yang dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2005) adalah yang terbesar di bandingkan negara-negara lainnya. Oleh karenanya skor saat ini adalah yang terbaik yang pernah dicapai India. Responden yang sama juga

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

33

berpendapat negatif mengenai determinasi pemerintah dalam memberantas korupsi, dan efektivitas sistem yudisial dalam menuntut dan menghukum individu pelaku korupsi. Fakta menarik lainnya bahwa lebih dari 40% responden berpendapat bahwa level korupsi mengalami penurunan Penyebab korupsi di India diyakini bukan karena rendahnya gaji atau kesejahteraan pegawai. Dalam satu kesempatan Seminar yang diorganisir oleh UNODC di the India Habitat Centre, New Delhi, Desember 2005, Tahiliani 15 menegaskan bahwa faktor rendahnya gaji sebegai penyebab korupsi di India adalah sebuah mitos belaka. Justru penegakan hukum yang masih lemah menjadi faktor yang berkontribusi langsung terhadap level korupsi di India. Tahiliani 16 selanjutnya berpendapat bahwa penyebab terbesar terjadinya korupsi di India adalah aktivitas politik dalam negeri, terutama dengan adanya event- event pemilihan umum. India dengan struktur kelembagaan pemerintahan federal, memiliki pemerintahan yang berjenjang, dari mulai pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. Pemilihan umum yang dilakukan pada masing-masing level pemerintahan kerap membuka peluang terjadinya korupsi. Dalam penelasan yang lebih rinci, menurut Sondhi 17 , seorang spesialis Ilmu Politik dari University of Delhi— menulis bahwa korupsi di India terjadi akibat beberapa faktor yaitu :

Pertama, patronase atau kepemimpinan politik. Dari akar permasalahan patronase politik ini, kemudian menurunkan banyak varian praktik korupsi yang berdampak pada aktivitas politik, ekonomi dan sosial. Selanjutnya menurut Sondhi (2000), dokumen resmi pertama yang mengupas masalah korupsi di India adalah the AD Gorwala Report. Dalam dokumen ini disebutkan bahwa sebenarnya penurunan character building di India pasca periode 1974 menyebabkan dua akibat langsung yaitu kekerasan dan ketamakan. Perang Dunia Kedua menjadi faktor yang menguntungkan sebagian orang, baik secara legal maupun ilegal.

15 Admiral Tahiliani, Chairman of TI India

16 Wawancara oleh Tim Peneliti terhadap Mr. Tahiliani dilakukan pada Mei 2007

17 Sonil Sondhi, 2000. Combatting Corruption in India: The Role of Civil Society. Hal. 7

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

34

Kedua, labirin administrasi. Sistem administrasi dan hukum India didesain pada pertengahan abad ke 19 untuk melayani kepentingan pemerintah kolonial Inggris pada masa itu. Ketiga, hukum yang lemah. Faktor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan korupsi di India adalah hukum dan pranatanya yang menangani kasus korupsi secara biasa saja. Tidak muncul itikad yang kuat untuk memberantas korupsi di India. Pelaku korupsi jarang ditangkap, kalaupun tertangkap dan diadili, hanya

akan mendapat hukuman yang ringan atau malah dibebaskan dari segala tuduhan. Keempat, lingkungan sosial. Administrasi publik sebagai sub sistem dari sistem politik, merupakan bagian dari sistem yang lebih besar yaitu sistem sosial. Oleh karenanya sistem sosial sangat berpengaruh terhadap administrasi publik. Korupsi telah menjadi bagian dari perilaku dan kejiwaan masyarakat India, sehingga dianggap tidak melanggar norma. Lebih lanjut menurut Tahiliani, korupsi di India telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rs 20.000 crores 18 . Sementara Bank Dunia mengestimasi kerugian ditaksir sekitar 3% dari pertumbuhan bisnis di India per tahunnya. Selanjutnya perhitungan Bank Dunia, dengan adanya upaya mengurangi korupsi di India, maka dampak positif yang langsung dirasakan adalah meningkatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 2-4% per tahun. Dalam kasus korupsi di India, TI India melaporkan bahwa tidak semua instansi pemerintah terlibat dalam kasus korupsi yang berskala besar. Dua di antaranya yaitu jawatan kereta api dan telekomunikasi yang berhasil mengurangi level korupsi secara signifikan setelah memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan fungsinya. Korupsi di India tidak hanya melibatkan sektor publik, namun juga sektor swasta. Oleh karenanya di India dikenal tiga jenis korupsi, yaitu :

1. Korupsi dalam partai politik

2. Korupsi dalam domain publik

3. Korupsi dalam masyarakat madani

18 satuan penghitungan di India, 1 crore = 10 juta.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

35

4. INDONESIA Seperti yang sudah diulas banyak pada latar belakang, bab pendahuluan dan awal bab ini, kondisi Indonesa dalam peta korupsi dunia maupun regional masih sangat memprihatinkan. Di mata internasional Indonesia seolah identik dengan praktik korupsi. Citra yang begitu buruk ini sudah melekat pada setiap individu maupun bangsa. Data PERC menunjukkan belum adanya perbaikan signifikan dan efektif terhadap pemberantasan korupsi. Grafik 2.8 memperlihatkan fakta bahwa praktik korupsi di Indonesia jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.

Grafik 2.8 Kecenderungan Korupsi di Indonesia

lain di Asia. Grafik 2.8 Kecenderungan Korupsi di Indonesia Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Dari Gambar 2.9 diketahui bahwa peringkat korupsi Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif tidak mengalami perubahan. Pada tahun 2004 – 2006 terlihat ada sedikit perbaikan kinerja, walaupun masih cukup jauh di bawah skor rata-rata Asia. Bahkan data pada rentang tahun 1999 sampai dengan tahun 2002, menunjukkan bahwa angka korupsi di Indonesia menyentuh angka absolut, yang berarti praktik

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

36

korupsi yang terjadi pada periode tersebut sangat memprihatinkan, dan menentuh batas-batas yang bisa ditolerir.

Grafik 2.9 Pengendalian Korupsi (2002)

yang bisa ditolerir. Grafik 2.9 Pengendalian Korupsi (2002) Sumber : World Bank, Combatting Corruption in Indonesia,

Sumber : World Bank, Combatting Corruption in Indonesia, 2003. p.2

Data dari TI juga memposisikan Indonesia dalam posisi terbawah sebagai salah satu negara paling korup. Dari beberapa hasil survey oleh lembaga-lembaga independen, maka World Bank Institute berinisiatif untuk mengaggregasi hasil survey untuk menentukan kinerja pemberantasan korupsi beberapa negara. The World Bank Institute melakukan perhitungan dengan metode agregasi dari berbagai data statistik dan peringkat korupsi yang dikeluarkan beberapa lembaga internasional, menghasilkan kesimpulan bahwa Indonesia bersama Bangladesh dan Nigeria adalah negara-negara dengan kinerja pemberantasan korupsi paling buruk.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

37

Bab III Kebijakan Dan Perundangan Pemberantasan Korupsi

S trategi pemberantasan korupsi melalui penataan kebijakan dan peraturan perundangan dilakukan oleh banyak negara. Pemberantasan korupsi memerlukan perangkat undang-undang anti korupsi yang efektif karena

dengan instrumen hukum ini dapat diberikan jaminan kepastian hukum dan jaminan keadilan yang lebih objektif. Penataan kebijakan dan perundangan juga termasuk menata pranata hukum, sehingga membangun kapasitas hukum yang lebih berwibawa. Dengan adanya kapasitas hukum yang berwibawa, citra pemberantasan korupsi akan secara otomatis membaik. Namun demikian, lingkungan lokal strategis sangat berpengaruh dalam mendukung atau sebaliknya yaitu resisten terhadap strategi kebijakan dan perundangan ini. Ketika strategi pemberantasan korupsi diperkenalkan pertama kali di Hong Kong, misalnya, justru pihak yang resisten dengan kebijakan ini adalah aparat kepolisian yang notabene merupakan bagian dari pranata hukum itu sendiri. Pada waktu itu sektor kepolisian adalah termasuk yang paling korup di bandingkan dengan sektor-sektor publik lainnya. Akibat dari resistensi yang muncul ini adalah disharmoni antara sesama lembaga penegak hukum. Untuk menghindari kebuntuan, dilakukan kompromi kebijakan yang memberikan pengampunan yang hanya berlaku pada saat itu. Pada tingkat domestik, beberapa kendala seputar perundangan anti korupsi banyak ditemukan, antara lain adanya indikasi bahwa perangkat perundang- undangan justru kontra produktif terhadap upaya pemberantasan korupsi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya kecenderungan perundang-undangan antikorupsi

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

38

yang justru melindungi pelaku korupsi, bukan karena kesengajaan, namun akibat sistem pembuktian yang terlalu berbelit-belit. Dengan kondisi seperti ini, pelaku korupsi diuntungkan dengan celah pembuktian yang berbelit, yang memudahkan mereka untuk memanfaatkan celah ini untuk menghindari pembuktian secara hukum. Di masa lalu persoalan korupsi merupakan persoalan masing-masing negara. Penyelesaian kasus korupsi merupakan persoalan yang hanya diselesaikan pada tingkat lokal, dan tidak mempunyai hubungan dengan lingkungan luarnya. Namun demikian, dalam perkembangannya, kasus korupsi tidak lagi berhenti pada level domestik, namun melaju melampaui batas-batas negara dan. Persoalan di tingkat lokal ini pun akan bertambah kompleks dengan keruwetan sistem perundangan di negara lain, apabila sebuah kasus korupsi melibatkan negara lain yang menjadi tujuan pelarian uang hasil korupsi. Dalam konteks tata hubungan internasional, wilayah yurisdiksi suatu negara merupakan wilayah yang memiliki kedaulatan hukum masing-masing, Saat ini persoalan korupsi sudah bukan lagi merupakan persoalan di tingkat lokal saja, tetapi telah menjadi perhatian dan kepentingan masyarakat internasional yang lebih luas. Korupsi diyakini bukan persoalan lokal, karena daya rusak korupsi juga melampaui batas-batas kedaulatan negara. Dengan demikian, kerjasama internasional menjadi instrumen penting untuk menjembatani penyelesaian berbagai persoalan lintas negara, termasuk masalah aset yang dikorupsi. Kerjasama internasional diwujudkan melalui pelembagaan kerjasama dan harmonisasi perundangan dari masing-masing negara yang berbeda. Berkenaan dengan hal tersebut, lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Bank Dunia memegang peranan sangat penting untuk mengintegrasikan upaya harmonisasi perundangan. Hukum internasional yang berhubungan langsung dengan penanganan korupsi, termasuk yang berlaku untuk wilayah Asia Pasifik dan Asia Tenggara adalah:

Anti Corruption Action Plan for Asia and the Pacific Action Plan (Konferensi Tokyo 2001) MoU on Cooperation for Preventing and Combating Corruption 2004 (Singapura, Indonesia, Brunei, Malaysia)

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

39

The United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (UNTOC)

The United Nations Convention Against Corruption (UNCAC)

Dalam konteks hubungan internasional, negara-negara yang sedang membangun instrumen untuk memerangi korupsi di masing-masing negara, memerlukan model kerjasama melalui sebuah kerangka hukum (legal framework) untuk secara resmi melakukan perjanjian ekstradisi dan MLA (Mutual Legal Assistance). Di Asia Pasifik sendiri terdapat berbagai jenis MLA yang berbeda. Tercatat lebih dari 70 MLA yang berjalan di wilayah ini, berdasarkan OECD Anti- Corruption Division yang menyelenggarakan Prakarsa Anti Korupsi untuk Asia Pasifik (ADB/OECD Anti-Corruption Initiative for Asia and the Pacific). Belakangan model ini kemudian dikembangkan lebih luas dalam skema kerjasama multilateral, seperti the OECD Convention on Combatting Bribery of Foreign Public Officials in International BusinessTransactions. Untuk menyiasati ketiadaan treaty, maka banyak negara-negara Asia Pasifik yang mempunyai perangkat perundangan dalam sistem hukum domestiknya yang memberi peluang untuk melakukan kerjasama kasus per kasus. Dalam hal asset recovery, kedua konvensi PBB di atas juga memuat inovasi yang memungkinkan untuk meningkatkan kerjasama internasional. Dengan semakin

banyaknya negara-negara Asia Pasifik yang menjadi bagian dari konvensi ini, tentu akan mendukung percepatan model kerjasama internasional dalam pemberantasan korupsi, khususnya dalam hubungannya dengan perjanjian ekstradisi dan MLA. UNCAC menentukan adanya lima komponen penting dalam membangun instrumen pemberantasan korupsi, yaitu:

Prevention / Pencegahan

Criminalization / Kriminalisasi

General technical assistance/information exchange/implementation

Asset recovery / Pengembalian aset

International cooperation / kerjasama internasional

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

40

Beberapa waktu terakhir, komponen asset recovery atau pengembalian aset

dan international cooperation atau kerjasama internasional menjadi isu utama dalam konvensi ini. Komponen kerjasama internasional yang dimuat dalam pasal 44 sampai dengan pasal 50 konvensi ini adalah:

1. Ekstradisi (pasal 44)

2. Transfer Narapidana (pasal 45)

3. Mutual Legal Asistance /MLA (pasal 46)

4. Transfer of Criminal Proceedings (pasal 47)

5. Kerjasama Penegakan hukum (Pasal 48), dan

6. Investigasi bersama (pasal 49)

7. Teknik Investigatif khusus (pasal 50)

A. SINGAPURA

Salah satu pilar strategi pemberantasan korupsi di Singapura adalah perangkat perundangan anti korupsi yang selalu dikembangkan dan disesuaikan dengan dinamika lingkungan internal dan eksternal. Pengembangan perundangan anti korupsi di Singapura dilakukan dengan adanya beberapa amandemen atau perubahan yang dianggap perlu untuk mengantisipasi masalah secara kontekstual. Amandemen ini dilakukan bukan untuk merubah isi, namun justru untuk memperluas daya jangkau perundangan dalam rangka efektivitas pemberantasan korupsi. Terminologi korupsi, misalnya, dalam perundangan Singapura (Prevention of Corruption Act) adalah ”The asking, receiving or agreeing to receive, giving, promising or offering of any gratification as an inducement or reward to a person to do or not to do any act, with a corrupt intention”. Jadi korupsi diartikan sebagai upaya meminta, menerima atau menyetujui untuk meminta, memberi, menjanjikan atau menawarkan gratifikasi sebagai inducement atau hadiah kepada orang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal, dengan sebuah maksud yang korup. Pengertian ini telah menjadi pegangan masyarakat hukum di sana, sejak UU ini diundangkan.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

41

Instrumen utama perundangan di Singapura terkait dengan pemberantasan korupsi 19 , yaitu :

1. Prevention of Corruption Act (PCA)

2. Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of

Benefits) Act

PCA diundangkan pada tanggal 17 Juni 1960, selain untuk memberdayakan CPIB, memiliki 5 unsur penting yaitu

a. Ruang lingkup PCA diperluas menjadi 32 section, dimana dalam Prevention of Corruption Ordinance sebelumnya hanya mempunyai 12 section. Pada perkembangannya, PCA mengalami amandemen beberapa kali, sampai saat ini telah bertambah menjadi 37 section.

b. Korupsi secara jelas didefinisikan dalam berbagai bentuk gratifikasi dalam section 2 yang juga mendefinisikan untuk pertama kali CPIB dan Direkturnya.

c. Hukuman untuk pelaku korupsi ditingkatkan menjadi hukuman penjara 5 tahun dan/atau denda S$ 10,000 dalam section 5. Hukuman ini ditingkatkan menjadi S$ 100,000 sejak tahun 1989.

d. Bagi yang terbukti menerima gratifikasi secara ilegal harus membayar kembali suap yang diterimanya sebagai tambahan atas hukuman yang dikenakan di pengadilan 20

e. Memberikan kewenangan yang lebih luas bagi CPIB seperti memberikan kewenangan untuk melakukan penangkapan dan menyelidiki orang yang ditahan kepada personil (section 15), memberikan keweangan kepada penuntut umum untuk mengijinkan direktur dan personil senior CPIB menyelidiki rekening bank orang yang dicurigai melanggar PCA (section 17) dan memberikan wewenang kepada personil CPIB untuk memeriksa

19 KBRI Singapura. 2006. Korupsi dan Permasalahannya; Singapura Sebagai Studi Kasus. Hal. 46 20 Berdasarkan hasil diskusi dengan Direktur Investigasi CPIB dan Ng Sheng seorang officer pada International & Public Affairs CPIB pada Juni 2007, dijelaskan bahwa semua public official termasuk pegawai CPIB dilarang untuk menerima barang apapun dari pihak mana pun. Setiap penerimaan barang harus di-declare dan diserahkan untuk menjadi properti instansi atau aset negara. Pada prinsipnya seluruh pegawai menerima jaminan kesejahteraan dari negara, sehingga penerimaan pendapatan di luar dari apa yang disediakan oleh negara dianggap pelanggaran. Dalam hal ini, penekanannya terletak pada profesionalisme pegawai.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

42

rekening

diperlukan.

pejabat

publik

termasuk

milik

isteri,

anak

atau

agennya

jika

Kapasitas instrumen PCA ini terus dikembangkan oleh Singapura secara ekspansif, disesuaikan dengan dinamika lingkungan yang terjadi. PCA selain menangani dan mengatur korupsi aktif, juga mengatur korupsi dalam bentuk

pasif. Seluruh pelaku potensial korupsi dapat dijerat oleh pasal-pasal kriminal korupsi di PCA, yaitu sari sektor publik, swasta, individu di Singapura dan warga negara Singapura di mana pun, termasuk di luar negeri. Seperti pada tahun 1963, PCA sudah memberikan kewenangan kepada personil CPIB untuk meminta kehadiran saksi dan memeriksanya, serta memperoleh bantuan dari saksi. Pada tahun 1966, PCA menambah kewenangan CPIB, yaitu :

a. Pada section 28 bahwa seseorang dapat didakwa korupsi meskipun tidak secara nyata menerima suap, mengingat niat untuk korupsi sudah cukup untuk mendakwa.

b. Pada section 35 bahwa warga negara Singapura yang bekerja untuk pemerintah di kedutaan besar dan badan pemerintah lainnya di luar negeri dapat dituntut di hadapan hukum untuk korupsi yang dilakukan di luar wilayah yurisdiksi Singapura akan diperlakukan seolah-olah dilakukan di dalam wilayah yurisdiksi Singapura.

Pada amandemen PCA yang ketiga pada tahun 1981, dimaksudkan untuk menciptakan efek pencegahan dengan mewajibkan mereka yang terbukti di pengadilan melakukan korupsi untuk mengembalikan dana yang korupsi, selain hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan. Apabila yang bersangkutan tidak mampu mengembalikan, maka akan dikenai hukuman yang lebih berat. Efek pencegahan ini sangat kental terasa, misalnya pada kasus korupsi Lim How Seng (seorang mantan kepala Museum Singapura), yang pada tahun 2002 yang padahal hanya terbukti meminta 2 pinjaman sebesar S$ 20,000 kepada pemenang tender pada proses pengadaan 3-dimensional show yang baru untuk museumnya. Dia mendapat hukuman 3 bulan penjara, dan berkewajiban membayar denda S$ 20,000. Ironisnya dia juga kehilangan hak

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

43

pensiunnya yang jauh lebih besar dari uang yang diperkarakan yaitu sebesar kurang lebih antara S$ 125,000 s.d. S$ 200,000 per bulan. Diberitakan yang bersangkutan tidak lama kemudian melakukan bunuh diri akibat rasa malu yang amat sangat serta kehilangan martabat oleh kasus korupsi yang menimanya di mana hanya melibatkan uang kurang lebih 10% dari penghasilan pensiunan per bulannya. PCA juga memberikan wewenang untuk melakukan investigasi kepada pejabat investigasi yang menangani kasus korupsi dan menetapkan hukuman yang tegas bagi segala bentuk korupsi dan gratifikasi 21 . Bahkan pada bab 241 yang sangat ekspansif, PCA memberikan kewenangan kepada CPIB untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku tanpa harus menunggu adanya surat perintah (seizable offences), apabila ditemukan ada indikasi pelanggaran tindak pidana korupsi. PCA juga memungkinkan penuntut umum menerbitkan perintah yang memberikan wewenang kepada pejabat CPIB untuk melakukan kewenangan polisi seperti pada saat melakukan investigasi berbagai kejahatan, dan kewenangan polisi lannya untuk membebaskan dengan jaminan mereka yang menjadi subyek investigasi (section 16). Dalam hal perlakuan terhadap mereka yang melaporkan kasus korupsi baik melalui telepon maupun secara tertulis, berdasarkan section 28, PCA memberikan perlindungan. Menurut Ng Sheng, seorang officer International & Public Affairs CPIB, perlindungan ini meliputi kerahasiaan saksi, nama, alamat tempat tinggal, keluarga, dan perlindungan hukum lainya. Namun demikian, apabila di kemudian hari dikeahui laporan yang diberikan salah, maka PCA akan mengenakan denda S$ 10,000 dan/atau hukuman penjara masimal 1 tahun, tergantung dari berat ringannya kasus yang dituduhkan. Beberapa hal penting yang dapat digaris bawahi dan menjadi pelajaran dalam PCA ini adalah:

1. Pengembalian hasil korupsi kepada negara

2. Ketidaksesuaian antara kekayaan dengan pendapatan dapat dijadikan bukti di pengadilan

21 KBRI Singapura. Ibid. hal. 48

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

44

3.

Pernyataan di bawah sumpah atas kekayaan yang dimiliki seseorang (khususnya pejabat publik), pasangan, maupun anak-anaknya.

4. Menyelidiki kasus korupsi di sektor publik maupun swasta.

Corruption, Drug Trafficking and Other Serious Crimes (Confiscation of Benefits) Act yang disahkan pada tahun 1999, untuk menggantikan Corruption (Confiscation of Benefits) Act tahun 1989. UU ini kemudian diamandemen untuk

terakhir kalinya pada tahun 2001. Hasil amandemen terakhir ini memberikan kewenangan kepada pengadilan untuk membekukan dan mengambil alih properti dan aset hasil korupsi, dan perdagangan obat terlarang dan kejahatan berat lainnya yang berkaitan, termasuk kejahatan pencucian uang. Dalam UU ini diatur mengenai hukuman denda maksimal S$ 200,000 dan/atau hukuman penjara maksimal 7 tahun untuk mereka yang menyembunyikan atau mentransfer hasil korupsi, perdagangan obat terlarang dan kejahatan berat lainnya, termasuk pencucian uang. Sedangkan instrumen hukum internasional dalam rangka pemberantasan korupsi yang telah diadopsi oleh Singapura adalah :

1.

Anti Corruption Action Plan for Asia and the Pacific Action Plan.

2.

Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation for Preventing and Combating Corruption.

B. HONG KONG

Hong Kong adalah satu dari sedikit wilayah di Asia yang masuk kategori bebas korupsi. Penegakan hukum di Hong Kong, terutama yang berkenaan dengan kasus korupsi sangatlah tegas. Bahkan angka toleransi publik terhadap korupsi mendekati angka ekstrim yaitu menolak sama sekali kasus korupsi terjadi di Hong Kong. Kesuksesan ini ditandai dengan kinerja ICAC yang meyakinkan dalam pemberantasan korupsi. Pada awal-awal berdirinya ICAC di tahun 1974 - 1975,

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

45

terdapat 2466 kasus korupsi yang diinvestigasi dari 6368 kasus yang dilaporkan 22 . Jumlah kasus yang berhasil dimejahijaukan pada tahun 1974 adalah 108 kasus, dan meningkat menjadi 218 kasus pada tahun berikutnya. Sampai dengan tahun 1981, ICAC telah melakukan hampir 500 kajian tentang

berbagai kebijakan dan praktik yang berlaku di instansi-instansi pemerintah. Selain itu lebih dari 10.000 pegawai pemerintah yang telah menghadiri pelatihan yang dilakukan ICAC. Sampai dengan tahun 1981 saja, the Community Relations Department (salah satu departemen dalam ICAC) telah berhasil merekrut 110 tenaga lokal, dan menerima lebih dari 10.000 laporan praktik korupsi, dan menangani lebih ari 19.000 events, seperti seminar, camps, eksibisi, dan kompetisi Instrumen perundangan di Hong Kong yang berhubungan dengan strategi pemberantasan korupsi di Hong Kong, adalah:

The Independent Commission Against Corruption Ordinance

The Prevention of Bribery Ordinance

The Elections (Corrupt and Illegal Conduct) Ordinance

Pada The Independent Commission Against Corruption Ordinance, dinyatakan secara detail tentang korupsi (receiving any advantage), peran-peran dari berbagai posisi ICAC, prosedur untuk menangani tersangka, kewenangan untuk menangkap, menahan dan memberikan jaminan, mencari dan menyita, kemampuan mengambil sampel forensik dari seorang tersangka, dan kemampuan menginvestigasi setiap tuduhan korupsi oleh pegawai negeri. Sedangkan pada The Elections (Corrupt and Illegal Conduct) Ordinance ditekankan upaya pencegahan praktik pemilihan yang ilegal dan korup, dan tuduhan spesifik yang melibatkan proses pemilihan umum untuk memilih the Chief Minister, Dewan Legislatif (Legislative Council), Dewan Distrik (District Council), serta Kepala, Wakil Kepala atau Komisis Eksekutif pada the Rural Committee dan dewan desa (Village Representative).

22 Menurut keterangan Ms. Dorothy TAM CHEUNG Kwei-ying, seorang ICAC Regional Officer pada kesempatan diskusi dengan tim Peneliti, menyebutkan bahwa laporan atau kompalin mengenai korupsi dapat disampaikan secara individual, melalui telepon atau surat tertulis, yang dijaga kerahasiaannya. Setiap komplain mengenai korupsi akan diproses pada hari itu juga, kemudian dalam waktu 48 jam akan dirancang jadwal interview dengan si pelapor.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

46

Ordinan yang penting lainnya yaitu The Prevention of Bribery Ordinance yang menjelaskan secara detail antara lain adalah kategori penyuapan, kewenangan ICAC untuk menelusuri rekening bank, menelaah dokumen bisnis dan pribadi, tersangka yang harus menyatakan pendapatan secara detail, aset-aset dan pengeluaran, kemampuan untuk menahan dokumen perjalaan dan menyegel properti untuk mencegah tersangka menghilangkan barang bukti dari proses investigasi. Yang paling penting dari ordinan ini adalah pemberian perlindungan bagi pelapor (whistleblowers). Pada pasal 3 ordinan ini diatur mengenai barang bukti dari hasil praktik korupsi untuk mencegah pegawai negeri dari menerima segala bentuk keuntungan (prevents pubic servants from receiving ”any advantage”) tanpa adanya persetujuan dari Chief Excecutive. Selanjutnya pasal 4 mengatur secara lebih tegas bahwa pegawa negeri tidak dapat menerima atau meminta segala bentuk keuntungan karena ada hubungannya dengan kewenangan resmi yang bersangkutan, sekaligus orang yang menawari ”keuntungan” tadi (memberi suap) dianggap telah melakukan pelanggaran pidana. Dua pasal ini secara tegas membatasi pegawai negeri dari segala tindakan penyalahgunaan wewenang untuk praktik-praktik korupsi, sekaligus uga mencegah warga untuk terlibat dalam praktik korupsi tersebut. Hal ini karena praktik korupsi dalam bentuk suap-menyuap adalah tindakan yang dilakukan secara langsung oleh dua pelaku/pihak, yaitu pegawai negeri sebagai pemberi layanan dan warga masyarakat sebagai penerima layanan. Pasal yang lebih memperluas jeratan tindak pidana korupsi yaitu pada pasal 10 mengatur mengenai individu yang diduga melakukan praktik korupsi, dan bisa dinyatakan bersalah walaupun aset mereka tidak dapat dihubungkan secara langsung sebagai bukti hasil kejahatan korupsinya. Pasal 10 ini selanjutnya juga melarang pegawai negeri untuk memiliki aset melebihi kemampuan pernyataan resmi kepemilikan aset mereka (di luar batas kewajaran penghasilannya). Salah satu contoh keberhasilan dari efektifnya dua ordinan yaitu The Independent Commission Against Corruption Ordinance dan The Prevention of Bribery Ordinance, adalah bersihnya proyek the Airport Core Program (ACP)— sebagai proyek terbesar dalam sejarah Hong Kong yang mencapai nilai US $ 21 milyar—dari praktik korupsi.

PKAI – Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

47

Di samping itu, untuk meningkatkan etos kerja dan disiplin personil ICAC

dibangun suatu kode etik yang mengikat seluruh jajaran ICAC dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya sehari-hari. Kode etik yang dikembangkan dalam ICAC adalah :

1. menganut prinsip integritas dan fair play

2. menghormati hak-hak yang diakui secara hukum bagi semua orang

3. menjalankan tugas tanpa rasa takut, praduga atau itikad tidak baik

4. bertindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku

5. tidak mengambil keuntungan dari kewenangan atau jabatan yang diemban

6. menjaga rahasia

7. menerima tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan dan instruksi

8. menjaga kesopanan dan mengendalikan ucapan maupun tindakan

9. berusaha meraih keunggulan pribadi dan profesional

C. INDIA

Menurut data PERC 2006, walaupun India tidak termasuk kelompok negara yang bersih dari korupsi, namun negara ini berhasil mencatat perbaikan paling progresif dalam kinerja pemberantasan korupsi di bandingkan dengan negara-negara lain di Asia. Perundangan India yang menjadi bagian dari strategi pemberantasan korupsi di India adalah: