Anda di halaman 1dari 25

Kata Penghantar

Syukur dan terima kasih yang tak terhingga di panjatkan ke hadrat Allah Yang Maha Esa atas kesempatan yang telah diberikan sehingga tugas yang diberikan dapat diselesaikan dengan jayanya. Terima kasih juga tidak terlupakan kepada Dr. Wiendyati, SpTHT-KL selaku dosen pembimbing atas waktu, pengarahan, dan masukan-masukan serta ilmu-ilmu yang telah diberikan. Terima kasih juga diucapkan teman-teman Co-Ass Ilmu THT , tidak dilupakan juga ucapan terima kasihnya atas semangat dan motivasi yang diberikan, sehingga pada akhirnya dapat dirampungkan sebuah tugas kasus yang merupakan salah satu prasyarat dalam mengikuti kegiatan kepanitraan klinik THT. Adapun tugas ini ditulis berdasarkan acuan dari berbagai sumber yang ada, sehingga dimaksudkan untuk dapat mempermudahkan kami, para mahasiswa kepanitraan, para dokter konsulen, maupun masyarakat umum dalam membacanya. Tentunya dalam penulisan tugas ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, selalu dimohonkan bimbingan dan pengarahannya. Semoga tugas ini dapat bermanfaat secara maksimal bagi sesiapa pun yang membacanya.

Jakarta, Agustus 2013

NorHazirah Binti Mohd Rashid 11 2011 256

DAFTAR ISI
Kata Penghantar ........................................................................................................................1 Daftar Isi ...................................................................................................................................2 Pendahuluan ..............................................................................................................................3 Anatomi telinga .........................................................................................................................4 Fisiologi telinga..........................................................................................................................6 Otitis media akut.......................................................................................................................7 Status Pasien............................................................................................................................16 Pembahasan kasus...................................................................................................................24 Daftar Pustaka..........................................................................................................................25

PENDAHULUAN

Otitis Media Akut (OMA) merupakan peradangan sebagian atau seluruh bagian mukosa telinga tengah , tuba eusthacius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid yang berlangsung mendadak yang disebabkan oleh invasi bakteri maupun virus ke dalam telinga tengah baik secara langsung maupun secara tidak langsung sebagai akibat dari infeksi saluran napas atas yang berulang. Prevalensi kejadian OMA banyak diderita oleh anak-anak maupun bayi dibandingkan pada orang dewasa tua maupun dewasa muda. Pada anak-anak makin sering menderita infeksi saluran napas atas, maka makin besar pula kemungkinan terjadinya OMA disamping oleh karena system imunitas anak yang belum berkembang secara sempurna. Tuba eusthacius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring yang berfungsi sebagai ventilasi, drainase sekret dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh yang terganggu, sumbatan dan obstruksi pada tuba eusthacius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media sehingga invasi kuman ke dalam telinga tengah juga gampang terjadi yang pada akhirnya menyebabkan perubahan mukosa telinga tengah berat.1,2,3 sampai dengan terjadinya peradangan

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Telinga Untuk memahami tentang gangguan pendengaran perlu diketahui dan dipelajari anatomi telinga dan fisiologinya. Telinga terdiri dari tiga bagian; telinga luar, tengah, dan dalam. Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut.5

Anatomi Telinga Luar Telinga luar terdiri dari pinna (bagian daun telinga, auricula), meatus auditorius eksternus (liang telinga), dan membrana timpani (gendang telinga). Pinna, suatu lempeng tulang rawan elastin terbungkus kulit, yang berfungsi mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke liang telinga. Daun telinga secara parsial menahan gelombang suara yang mendekati telinga dari arah belakang, dengan demikian membantu seseorang membedakan apakah suara datang dari arah depan atau belakang. Liang telinga berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.5,6

Anatomi Telinga Tengah Membran timpani yang teregang menutupi pintu masuk ke telinga tengah. Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan bagian bawah disebut pars tensa.(6) Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Refleks cahaya adalah 4

cahaya dari luar yang dipantulakan oleh mambran timpani. Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawahdepan, serta bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.(5) Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Tuba eustachius dalam keadaan normal tertutup, tetapi dapat dibuat terbuka dengan gerakan menguap, mengunyah, atau menelan. Pembukaan tersebut memungkinkan tekanan udara di dalam telinga tengah menyamakan diri dengan tekanan atmosfer, sehingga tekanan di kedua sis membran timpani menjadi setara. Infeksi yang berasal dari tenggorok kadangkadang menyebar melalui tuba eustachius ke telinga tengah.(6)

Gambar 1.1 Anatomi Telinga Tengah

Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) berada diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada 5

membran basalis ini terletak organ corti. Pada skala media terdapat bagian yang disebut membran tektorial dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar, dan canalis corti yang membentuk organ corti (gambar 1.4).5,6

Gambar 1.3 Anatomi Telinga

Fisiologi Telinga Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran (maleus, inkus, dan stapes). Rantai tulang ini bergerak dengan frekuensi yang sama, memindahkan getaran dari membran timpani ke jendela oval yang menghubungkan ke telinga dalam. Tulang-tulang pendengaran itu yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi tulang yang telah diamplifikasi akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergetar. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antar membran basilaris dan membra tektorial. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang mnyebabkan terjadinya defleksi stereosillia sel-sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pengelepasan ion bermuatan listrik. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius.3,7 BAB II 6

OTITIS MEDIA AKUT 2.1 Definisi Otitis media akut merupakan radang infeksi atau inflamasi pada telinga tengah oleh bakteri atau virus dengan gejala klinik nyeri telinga, demam, bahkan hingga hilangnya pendengaran, tinnitus dan vertigo. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan umumnya berlangsung dalam waktu 3-6 minggu.3 2.2 Etiologi Penyebab utama otitis media akut (OMA) adalah invasi bakteri piogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Bakteri tersering penyebab OMA diantaranya Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pnemokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Haemofilus influenza, Escherichia coli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurogenosa. Haemofilus influenza sering ditemukan pada anak berusia dibawah 5 tahun. Infeksi saluran napas atas yang berulang dan disfungsi tuba eustachii juga menjadi penyebab terjadinya OAM pada anak dan dewasa.3 2.3 Insidensi Otitis media akut paling sering diderita oleh anak usia 3 bulan- 3 tahun. Tetapi tidak jarang juga mengenai orang dewasa. Anak-anak lebih sering terkena OMA dikarenakan beberapa hal, diantaranya :3 1. Sistem kekebalan tubuh anak yang belum sempurna 2. Tuba eusthacius anak lebih pendek, lebar dan terletak horizontal 3. Adenoid anak relative lebih besar dan terletak berdekatan dengan muara saluran tuba eusthachii sehingga mengganggu pembukaan tuba eusthachii. Adenoid yang mudah terinfeksi menjadi jalur penyebaran bakteri dan virus ke telinga tengah. 2.4 Patogenesis Faktor pencetus terjadinya OMA dapat didahului oleh terjadinya infeksi saluran pernapasan atas yang berulang disertai dengan gangguan pertahanan tubuh oleh silia dari mukosa tuba eusthachii,enzim dan antibodi yang menimbulkan tekanan negative sehingga terjadi invasi

bakteri dari mukosa nasofaring ke dalam telinga tengah melalui tuba eusthachius menetap di dalam telinga tengah menjadi otitis media akut.1,3

dan

Ada 5 stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah, yaitu : 1. Stadium Oklusi Ditandai dengan gambaran retraksi membrane timpani akibat tekanan mungkin telah terjadi tetapi sulit dideteksi. 2. Stadium Hiperemis Tamapak pembuluh darah yang melebar di sebagian atau seluruh membrane timpani disertai oedem. Sekret yang mulai terbentuk masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar dinilai. 3. Stadium Supurasi Oedem yang hebat pada mukosa telinga tengah disertai dengan hancurnya sel epitel superficial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani menyebabkan membrane timpani menonjol kea rah liang telinga luar. Gejala klinis pasien Nampak terasa sakit, nadi, demam, serta rasa nyeri pada telinga bertambah hebat. Pada keadaan lebih lanjut, dapat terjadi iskemia akibat tekanan eksudat purulent yang makin bertambah, tromboflebitis pada vena-vena kecil bahkan hingga nekrosis mukosa dan submukosa. 4. Stadium Perforasi Rupturnya membrane timpani sehingga nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang pengeluaran secret bersifat pulsasi. Stadium ini sering diakibatkan oleh terlambatnya pemberian antibiotika dan tingginya virulensi kuman. 5. Stadium Resolusi Ditandai oleh membrane timpani yang berangsur normal hingga perforasi membrane timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Hal ini terjadi jika membrane timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah. 2.5 Diagnosis 8 negative telinga

tengah. Kadang- kadang membrane timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi

Diagnosis OMA harus memenuhi 3 hal berikut ini : 1. Penyakit ini onsetnya mendadak (akut) 2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan memperhatikan tanda berikut: a. Mengembangnya gendang telinga b. Terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga c. Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga d. Cairan yang keluar dari telinga 3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah yang dibuktikan dengan adanya salah satu diantara tanda berikut : a. Kemerahan pada gendang telinga

b. Nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal Anak dengan OMA dapat mengalami nyeri telinga atau riwayat menarik-narik daun telinga pada bayi, keluarnya cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran, demam, sulit makan, mual dan muntah serta rewel. Namun gejala-gejala ini tidak spesifik untuk OMA sehingga diagnosis OMA tidak dapat didasarkan pada riwayat semata. Efusi telinga tengah diperiksa dengan otoskop untuk melihat dengan jelas keadaan gendang telinga/membrane timpani yang menggembung, eritema bahkan kuning dan suram serta adanya cairan berwarna kekuningan di liang telinga. Jika konfirmasi diperlukan, umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatic (alat untuk melihat gendang telinga yang dilengkapi dengan pompa udara kecil untuk menilai respon gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara). Gerakan gendang telinga yang kurang dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Pemeriksaan ini dapat digunakan sebagai pemeriksaan tambahan untuk memperkuat diagnosis OMA. Namun umunya OMA sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan otoskop biasa.

Efusi telinga tengah juga dapat dibuktikan dengan timpanosentesis (penusukan terhadap gendang telinga). Namun pemeriksaan ini tidak dilakukan pada sembarang anak. Indikasi perlunya timpanosentesis anatara lain OMA pada bayi berumur di bawah 6 minggu dengan riwayat perawatan intensif di rumah sakit, anak dengan gangguan kekebalan tubuh, anak yang tidak member respon pada beberapa pemberian antibiotic atau dengan gejala sangat berat dan komplikasi. OMA harus dibedakan dengan otitis media dengan efusi yang dapat menyerupai OMA. Untuk membedakannya dapat diperhatikan hal-hal berikut : GEJALA DAN TANDA Nyeri telinga, demam, rewel Efusi telinga tengah Gendang telinga suram Gendang yang menggembung Gerakan gendang berkurang Berkurangnya pendengaran OMA + + + +/+ + OMA EFUSI + +/+ +

2.6 Penatalaksanaan Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik.1 Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12 thn atau dewasa, antihistamin bila ada tanda-tanda alergi, serta antipiretik. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan antibiotik selama 7 hari: Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau 10

Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari

Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin, selama 10-14 hari: Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari

Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari. Kemudian diberikan obat tetes hidung nasal dekongestan maksimal 5 hari, antihistamin bila ada tandatanda alergi, antipiretik, analgetik dan pengobatan simtomatis lainnya.1 Pada stadium supurasi terjadi edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar.pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemi, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan , di tempat ini akan terjadi rupture. 1 Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan nanah keluar ke liang telinga. Dengan dilakukan miringotomi luka insisiakan menutup kembali, sedangkan apabila terjadi rupture, maka lubang tempat rupture (perforasi) tidak mudah menutup kembali. Miringotomi dilakukan jika membrane timpani masih utuh.1 Selain miringotomi, diberikan juga antibiotik pada stadium ini, yaitu: 11

Amoxyciline : Dewasa 3x 500mg/hari, Bayi/anak 50mg/kgBB/hari Erythromycine : Dewasa/ anak sama dengan dosis amoxyciline Cotrimoxazole : (kombinasi trimethroprim 80mg dan sulfamethoxazole 400mg-tablet) untuk dewasa 2x2 tablet, Anak ( trimethroprim 40mg dan sulfamethoxazole 200mg) suspense 2x1 cth.

Jika kuman sudah resisten (infeksi berulang): kombinasi amoxyciline dan asam clavulanic, dewasa 3x625 mg/hari. Bayi /anak, disesuaikan dengan BB dan usia.

Antibiotik diberikan 7-10 hari, pemberian yang tidak adekuat dapat menyebabkan kekambuhan. Penderita yang alergi penicillin dapat diberikan golongan makrolid (Azithromicine, Roxythromicine).1 Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga ( ear toilet) H2O2 3% (4-5 tetes sehari) selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat, berupa ciprofloxacin 200 mg (2x1) selama 3-14 hari. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari.1,3 Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan ini berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis. Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Observasi dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam dua sampai tiga hari, atau ada perburukan gejala. Ternyata pemberian antibiotik yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya komplikasi supuratif seterusnya. Masalah yang muncul adalah risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik meningkat. Menurut American Academy of Pediatrics (2004), mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut. Tabel 1. Kriteria Terapi Antibiotik dan Observasi pada Anak dengan OMA

12

Usia Kurang dari 6 bulan

Diagnosis pasti (certain) Antibiotik

Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat,

6 bulan sampai 2 tahun Antibiotik 2 tahun ke atas Antibiotik berat, jika

gejalaObservasi

Diagnosis pasti OMA harus memiliki tiga kriteria, yaitu bersifat akut, terdapat efusi telinga tengah, dan terdapat tanda serta gejala inflamasi telinga tengah. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam kurang dari 39C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang-berat atau demam 39C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan sampai dengan dua tahun, dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. Follow-up dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen dan ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi. Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin merupakan first-line terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. Jika pasien alergi ringan Haemophilus influenzae dan Moraxella terhadap amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin seperti cefdinir. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap catarrhalis, termasuk Streptococcus penumoniae. Pneumococcal 7- valent conjugate vaccine dapat dianjurkan untuk menurunkan prevalensi otitis media Pembedahan

Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA rekuren, seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi. 1. Miringotomi

Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, supa ya terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Syaratnya adalah harus dilakukan secara dapat dilihat langsung, anak harus tenang sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior. Bila terapi yang diberikan sudah 13

adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali jika terdapat pus di telinga tengah. Indikasi miringostomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA. Salah satu tindakan miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi second-line, untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur.1,3 2. Timpanosintesis

Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk tujuan pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau pasien yang sistem imun tubuh rendah. Menurut Buchman (2003), pipa timpanostomi dapat menurun morbiditas OMA seperti otalgia, efusi telinga tengah, gangguan pendengaran secara signifikan dibanding dengan plasebo dalam tiga penelitian prospertif, randomized trial yang telah dijalankan. 3. Adenoidektomi

Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media dengan efusi dan OMA rekuren, pada anak yang pernah menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis, tetapi hasil masih tidak memuaskan. Pada anak kecil dengan OMA rekuren yang tidak pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis rekuren. 2.7 Komplikasi Sebelum adanya antibiotik, OMA dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. Komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani, mastoiditis akut, paresis nervus fasialis, labirintis, petrositis), ekstratemporal (abses subperiosteal), dan intrakranial (abses otak, tromboflebitis).4

2.8 Pencegahan 14

Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mencegah ISPA pada bayi dan anak-anak, menangani ISPA dengan pengobatan adekuat, menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan, menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok, dan lainlain.4

STATUS PASIEN KEPANITERAAN KLINIK STATUS ILMU PENYAKIT THT FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA 15

SMF ILMU PENYAKIT THT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN, JAKARTA

Nama Nim

: NorHazirah Binti Mohd Rashid : 11-2011-256

Tanda Tangan:

Dr Pembimbing / Penguji : dr Wiendyati, Sp.THT-KL

IDENTITAS PASIEN Nama : Nn L Umur : 16 Tahun Status Perkawinan : Belum Menikah Pekerjaan : Tidak bekerja Alamat : Pembangunan tiga dalam, gajah mada ANAMNESIS Diambil dari : Autoanamnesis Tanggal : 29/08/2013 Jam :1010 WIB Jenis Kelamin : Perempuan Kebangsaan : Indonesia Agama : Islam Pendidikan : SMK kelas 2 Tanggal Masuk Rumah Sakit : 29 Agustus 2013

Keluhan utama : Nyeri telinga kiri sejak 1 hari sebelum ke Poliklinik THT RS Tarakan.

Riwayat perjalanan penyakit (RPS): Sejak 1 hari sebelum ke Poliklinik THT RS Tarakan, pasien mulai merasa nyeri di telinga kirinya. Nyeri yang dirasakan timbul secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus. Pasien juga merasakan seperti pendengaran telinga kirinya berkurang bersama dengan keluhan nyeri tersebut. Pendengan berkurang tetap sama di tempat bising atau tenang. Pasien menyangkal adanya keluar cairan dari telinga, gatal dan rasa berdengung. Setahun ini pasien mengeluh pilek dan hidung buntu pada kedua hidung dan sedikit batuk tanpa sebab yang jelas hilang timbul. Pasien juga mengeluh sering merasakan seperti menelan lendir. Selain itu 16

pasien juga mengeluh sering terasa cekot-cekot di daerah kepala. Seluruh badan juga merasa agak panas. Pasien sempat minum sebiji obat panadol untuk menurunkan panas badan tapi tiada perbaikan. Keluhan pada tenggorokan dan nyeri gigi tidak ada. Pasien menyangkal adanya trauma kepala, telinga ditampar, terpajan bising dan pemakaian obat-obatan. Pasien memiliki kebiasaan minum minuman ber es dan suka makan makanan yang pedas. Pasien juga mempunyai riwayat alergi debu dan asma.

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) Riwayat alergi Riwayat trauma Riwayat lain : Alergi debu : Tidak ada : Asma (+), kencing manis (-) darah tinggi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) Ibu pasien mempunyai riwayat alergi debu dan asma.

PEMERIKSAAN FISIK Status General Keadaan umum Kesadaran Status Gizi Nadi Tensi Suhu RR : tampak sakit ringan : compos mentis : cukup : 88 x/menit : 110/80 mmHg : 36,9 0 C : 22 x/menit

Kepala dan Leher Kepala : normosefali 17

TELINGA

Wajah

: simetris

Leher anterior : KGB tidak teraba membesar Leher posterior: KGB tidak teraba membesar

KANAN Bentuk daun telinga Kelainan kongenital Radang, tumor Nyeri tekan tragus Penarikan daun telinga Kelainan pre, retroaurikuler Region Mastoid Liang telinga Normotia Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada tekan (-), benjolan (-) Abses (-), nyeri tekan (-)

KIRI Normotia Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada tekan (-), benjolan (-) Abses (-), nyeri tekan (-)

infra, Abses (-), hiperemis (-), nyeri Abses (-), hiperemis (-), nyeri

Lapang, furunkel (-), jaringan Lapang, furunkel (-), jaringan granulasi (-), serumen (+), granulasi (-), serumen (-), sekret (-) hiperemis (-), edema sekret (-), darah (-), hiperemis (-). Utuh, (-), edema (-). (+), Utuh, reflek Hiperemis(-), Retraksi

Membran timpani

reflek

cahaya

cahaya perforasi

(-), (-),

Hiperemis(-), perforasi (-)

TES PENALA KANAN (+) Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa 512 Hz KIRI (-) Ada lateralisasi memanjang 512 Hz

Rinne Weber Schwabach Penala yang dipakai

HIDUNG HIDUNG Vestibulum KANAN Tampak bulu hidung KIRI Tampak bulu hidung 18

Sekret (-) Furunkel (-) Cavum nasi Konka inferior Krusta (-) Lapang Sekret (-) Hiperemis (+) Edema (+) Hipertrofi (-) Konka medius Sekret (+) Hiperemis (+) Edema (+) Meatus nasi medius Sinus frontalis (nyeri tekan + nyeri ketuk) Sinus maksilaris ( nyeri tekan + nyeri ketuk) Septum nasi Sekret (+) Tidak tampak Sulit dinilai Tidak ada Tidak ada Simetris , tidak ada deviasi

Sekret (-) Furunkel (-) Krusta(-) Lapang Sekret (-) Hiperemis (+) Edema (+) Hipertrofi (-) Sekret (+) Hiperemis (+) Edema (+) Sekret (+) Tidak tampak Sulit dinilai Tidak ada Tidak ada Simetris , tidak ada deviasi

RHINOPHARYNX Koana Septum nasi posterior : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

Muara tuba eustachius : Tidak dilakukan Tuba eustachius Torus tubarius Post nasal drip : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN TRANSILUMINASI Sinus frontalis kanan : Tidak dilakukan 19

Sinus frontalis kiri Sinus maxillaris kanan Sinus maxillaris kiri

: Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

TENGGOROK FARING Dinding faring : Hiperemis (+), mukosa tidak rata, granul (-), post nasal drip (+), lendir mukoid (-) Arcus Tonsil Uvula Gigi : Hiperemis (-) simetris : T2-T1 : Bentuk normal, di garis median, hiperemis (-) : Semua gigi dalam batas normal

LARING Epiglotis Plica aryepiglotis Arytenoids : hiperemis (-), tumor (-), kista (-), simetris, edema (-) : hiperemis (-), tumor (-), kista (-), simetris, edema(-) : hiperemis (-), tumor (-),granul (-), edema (-) edema (-)

Ventricular band : hiperemis (-), tumor (-),paralisis (-). polip (-) Pita suara Rima glotis Sinus piriformis : hiperemis (-), tumor (-), paralisis/parese (-) : hiperemis (-), tumor (-), terbuka

: hiperemis (-), tumor (-),korpus alineum (-) sekresi (-)

Kelenjar limfe submandibula dan cervical : tidak membesar, tidak ada nyeri tekan 20

RESUME Dari anamnesis didapatkan keluhan : Sejak 1 hari sebelum ke Poliklinik THT RS Tarakan, pasien mulai merasa nyeri di telinga kirinya timbul secara tiba-tiba dan dirasakan terus menerus. Pasien juga merasakan seperti pendengaran telinga kirinya berkurang tetap sama di tempat bising atau tenang. Pasien menyangkal adanya keluar cairan dari telinga, gatal dan rasa berdengung. Setahun ini pasien mengeluh pilek dan hidung buntu pada kedua hidung dan sedikit batuk tanpa sebab yang jelas hilang timbul. Pasien juga mengeluh sering merasakan seperti menelan lendir, terasa cekotcekot di daerah kepala, seluruh badan juga merasa agak panas. Pasien memiliki kebiasaan minum minuman ber es dan suka makan makanan yang pedas. Pasien dan ibunya juga mempunyai riwayat alergi debu dan asma. Dari pemeriksaan didapatkan : Telinga kanan : Tidak ditemukan kelainan Telinga kiri : retraksi membran timpani, refleks cahaya (-), rinne (-), weber lateralisasi dan schwabach memanjang. Hidung : konka nasalis medialis dan inferior hiperemis, edema dan sekret kental. Tenggorokan : hiperemis, mukosa tidak rata, tonsil T2-T1. Post nasal drip (+)

WORKING DIAGNOSIS Otitis Media Akut stadium obstruksi tuba eustachius aurikuler sinistra Nyeri telinga Pendengaran berkurang Onsetnya mendadak 21

Terdapat retraksi membran timpani Rinne, Weber dan Schwabach mengarah tuli konduktif

Rhinosinusitis ec alergi Nyeri kepala, hidung tersumbat, batuk sedikit dan sekret kental Riwayat alergi Konka nasalis medialis dan inferior hiperemis, edema, terdapat sekret kental Post nasal drip

DIAGNOSIS BANDING Otitis Media Serosa

RENCANA PEMERIKSAAN LANJUTAN Foto rontgen sinus paranasal Skin Prick Test Timpanometri

PROGNOSIS Ad vitam :Ad Bonam Ad fungsionam :Ad Bonam Ad sanationam :Ad Bonam

22

PENATALAKSANAAN MEDIKAMENTOSA Antibiotik : Cefadroxyl 500mg 2 x 1 tab Antihistamin dan dekongestan : Pseudoephedrine HCL 30mg, Terfenadin 40mg 2 x1 tab Kortikosteroid : Dexamethasone 0,5 mg 3 x 1 tab Antitusif : Bromhexine hydrochloride 8mg 3 x 1 tab Garam fisiologis NaCl 0,9% tetes hidung 6 kali sehari

NON-MEDIKAMENTOSA Minum air yang banyak dan sering Menghindari iritan seperti paparan debu atau asap dengan memakai masker di persekitarannya Mengurangkan makanan seperti makanan pedas, soda, atau minum es. Hindari berada di bawah ac atau langsung ke kipas angin Sering olahraga minimum 3 kali seminggu selama 30 menit Tidak memasukkan sesuatu ke dalam telinga

ANJURAN 23

Kontrol ke poliklinik THT seminggu kemudian

PEMBAHASAN KASUS

Otitis media merupakan suatu peradangan pada telinga tengah. Otitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang paling sering ialah sumbatan tuba eustachius akibat infeksi. Selain itu, otitis media dapat juga merupakan suatu komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis, sinusitis, faringitis, otitis eksterna, dan lain-lain. Gejala yang sering ditimbulkan pada otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing, juga kadang disertai mendengar suara dengung (tinitus). Pada kasus di atas, pasien mengalami gejala nyeri pada telinga kiri sejak 1 hari, yang disertai dengan batuk pilek berulang sejak lama. Pasien juga mengeluhkan pendengarannya bekurang. Untuk menegakkan diagnosis otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi dan pada pasien ini didapatkan membran timpaninya kelihatan mengalami retraksi. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium perforasi. Pada pemeriksaan garpu tala juga didapatkan rinne (-) dan Weber lateralisasi pada telinga kiri yang sakit mengarah adanya gangguan tuli konduktif. Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien di atas ialah rhinosinusitis. Pasien mengalami batuk pilek hilang timbul, nyeri kepala dan hidung tersumbat. Pasien juga mempunyai riwayat alergi yang mana alergi merupakan penyebab tersering rhinosinusitis. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema & hiperemi yang disertai adanya cairan mukus purulen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab dari otitis medianya ialah komplikasi dari rhinosinusitis. Pengobatan yang diberikan pada pasien di atas ialah pemberian antibiotik (Cefadroxyl tablet), kortikosteroid, antihistamin dan dekongestan dan antitusif dan cuci hidung disertai edukasi. Kemudian pasien diminta untuk kontrol lagi 1 minggu jika gejala tidak hilang. 24

DAFTAR PUSTAKA

1. Efiaty AS, Nurbaiti I, Jenny B, Ratna DR. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Jakarta; Penerbitan FKUI; 2007 2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta; Penerbit FKUI; 2004. 3. Adams GL, Boeis, LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi keenam. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000. 4. Suwento R. Epidemiologi Penyakit THT di 7 Propinsi. Kumpulan makalah dan pedoman kesehatan telinga. Lokakarya THT Komunitas. Jakarta, 2009. 5. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi Keenam. Jakarta; Balai Penerbit FKUI; 2010. 6. Guyton, Arthur C. & John E. Hall, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, Editor: Irawati Setiawan. Jakarta; ECG:2001. 7. Tierney L M, McPhee S J, Papadaxis M A. 2005. Current Medical Diagnosis And Treatment. McGraw Hill Appleton Lange, Toronto USA. Ebook.

25