Anda di halaman 1dari 3

Tata Laksana Penyakit Infeksi Dentomaksilofasial 1.

Penegakan diagnosa Terdiri dari : Pemeriksaan subjektif Dilakukan anamnesa kepada pasien meliputi keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat medis, riwayat gigi terdahulu dan riwayat keluarga pasien. Pemeriksaan Klinis Pemeriksaan klinis meliputi : 1. Pengamatan penampilan umum dan kesehatan pasien 2. Pengamatan ekstra oral, meliputi : kepala, wajah, leher, bibir, nodus limfatik, kelenjar saliva, sendi temporomandibula, dan otot otot pengunyahan. 3. Pengamatan intra oral, meliputi : gigi geligi , mukosa, lidah, dasar mulut, aliran saliva, periodontium. Dan apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti foto radiografi dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan penunjang juga sangat membantu dalam menentukan pemberian obat dan penanganan terhadap pasien. 2. Penata Laksanaan Terdiri dari penanganan lokal dan sistemik : 1. Penanganan Lokal Dapat dilakukan insisi ataupun drainase untuk mengeluarkan cairan supuratif dari lesi. Drainase abses dilakukan dengan cara memasukkan hemostat yang ujungnya tertutup ke dalam kavitas dengan secara perlahan lahan ujungnya dibuka. Kemudian pada saat yang sama jaringan lunak pada region tersebut dipijat untuk memudahkan keluarnya push.

gb. Contoh penanganan abses submandibular

2. Penanganan Sistemik Dilakukan dengan cara pemberian obat seperti antibiotik dan analgesik pada pasien. Pembetian antibiotik hendaknya berhati hati disebabkan tidak jarang pasien memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik tertentu.selain itu pemberian antibiotik yang dilakukan secara luas dapat pula menimbulkan resistensi beberapa organisme terhadap obat. Sebaiknya didapatkan riwayat lengkap pada sebelumnya, sebab respon negative yang terjadi pada pengobatan sebelumnya belum jaminan bahwa obat selanjutnya aman. Mungkin saja terjadi alergi silang pada kelompok obat tertentu yang diberikan. a. Penicillin Adalah antibiotik yang paling sering digunakan. Namun banyak pasien yang memiliki riwayat alergi pada obat ini. Obat ini bekerja secara bakteriosid spektrum luas, mekanisme kerjanya memecah dinding sel bakteri. b. Erythromycin Adalah obat yang penting digunakan bagi pasien yang memiliki riwayat alergi penicillin. Obat ini efektif terhadap bakteri gram positif yang pekaa terhadapnya. Biasanya kurang peka terhadap bakteri gram negative. Mekanisme kerjanya menghambat sintesis protein bakteri. Bisa bersifat bakteriostatis pada bakteri tertentu dan dapat bersifat bakteriosid pada bakteri lainnya. c. Cephalosporin Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium. Senyawa ini mirip dengan Penicillin namun lebih resisten terhadap -Lactamase dan cenderung lebih aktif terhadap bakteri gram (+) maupun gram (-).Aktivitas dan cara kerja antimikroba beserta mekanisme resistensi cephalosporin analog dengan penicillin. d. Tetracycline Obat ini cenderung merupakan antibakteri spektrum luas. Bersifat bakteristatik baik untuk gram (+) dan gram (-) , bakteri anaerob, riketsia, clamidia, micoplasma, serta untuk beberapa protozoa misalnya amuba. Tetracyclin memasuki mikroba melalui difusi pasif dan transport aktiv sehingga pada mikroba yang rentan terdapat penumpukan obat ini di dalam sel. Tetracycline kemudian terikat reversible ke reseptor pada subunit 30S

ribosom dalam posisi yang menghambat pengikatan aminoasil-tRNA ke tempat akseptor pada komplek mRNA ribosom. Efek lanjut adalah mencegah penambahan asam amino baru ke rantai peptide yang tumbuh. e. Clindamycin Obat ini merupakan turunan dari lyncomycin. Keduanya mempunyai aktivitas yang menyerupai erythromycin namun clindamycin lebih kuat dalam mengatasi infeksi banyak bakteri kokus gram (+), kecuali enterokokus, Haemopgilusm Niseria, dan Mycoplasma yang resisten.