Anda di halaman 1dari 5

A.

Latar Belakang Masalah Dalam beberapa tahun terakhir belakangan ini banyak dari negara negara hampir di seluruh penjuru dunia yang menginginkan kedaulatan penuh yang berada di tangan rakyat. Atau yang lebih kita kenal dengan sistem pemerintahan yang demokrasi. Negara kita, Indonesia merupakan negara yang menggunakan sistem pemerintahan yang demokrasi dan bahkan Indonesia dianggap menjadi negara dengan sistem pemerintahan demokratis yang baik yang ada di dunia. Walaupun pada kenyataannya demokrasi yang ada di Indonesia belumlah berjalan sebagaimana mestinya. Demokrasi merupakan sistem pemerintahan dimana kebijakan dan kekuasaan berada di tangan rakyat sepenuhnya, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Mungkin itulah gambaran sederhana dari demokrasi. Sehingga diharapkan apabila sebuah negara menggunakan sistem pemerintahan demokrasi ini maka yang diharapkan adalah kita mampu memenuhi keinginan yang diinginkan oleh rakyat karena pada dasarnya kekuasaan sistem ini berada di tangan rakyat. Demokrasi memang terkadang bisa menimbulkan suatu perpechan. Dalam sejarah demokrasi di berbagai negara, ancaman anarkis memang tetap ada. Pasca pemilu di negara negara Eropa Timur, perpecahan kemudian terjadi bahkan memancing

terjadinya pertumpahan darah. Tidak tahan dengan upaya perdamaian, perpecahan negara kemudian terjadi. . Di Asia Tenggara, contoh terdekat adalah sikap anarkis di dalam menyikapi pemilu terlihat dengan amat jelas pada pemilu di Thailand. Setelah pemilihan demokratis terjadi, aksi jalanan kemudian terus menerus terjadi, dan kemudian menurunkan pemerintah terpilih. Aksi menduduki bandara dan gedung pemerintahan pun sempat menjadi sorotan masyarakat internasional dan aksi anarkisme yang terjadi bisa merugikan sebuah negara, seperti di negara Thailand yang baru baru ini sering terjadi konflik antara kaos merah yang anti pemerintahan Thailand dengan tenrara Thailand karena ingin menggulingkan pemerintahan yang ada. Banyak tindakan anarkisme yang terjadi akhir akhir ini di Thailand dan hingga saat ini konflik di Thailand belum menemukan titik terang yang jelas.

B. Rumusan Masalah Mengapa terjadi anarkisme di Thaland? C. Pembahasan Awalnya negara Thailand menggunakan sistem pemerintahan Monarki konstitusi kemudian pada tahun 1997, Raja menyetujui agar sistem pemeintahan diganti menjadi sistem pemerintahan Demokrasi. Pemilu pertama dibawah konstitusi berlangsung pada 6 Januari 2001. Pada saat itu Thaksin dari partai Thai Rak Thai berhasil memenangkan pemilu dan pada tanggal 9 Februari 2001 Thaksin dilantik menjadi PM Thailand. Banyak sekali konflik militer yang terjadi di Thailand namun smuanya dapat terselesaikan, walaupun pada akhirnya konflik tersebut masih sering terjadi hingga konflik militer terulang kembali beberapa pecan belakangan ini. Anarkisme yang terjadi akibat dari konflik militer yang menentang pemerintahan dengan pasukan keamanan Thailand telah menimbulkan berbagai pertanyaan. Banyak korban berjatuhan akibat konflik yang terjadi karena menentang pemerintahan daqn berusaha ingin meminta turun Perdana Menterinya yang dijabat oleh Abhisit sejak pemilu ketiga di Thailand. Abhisit dilantik menjadi PM sejak Desember 2008. Namun semenjak dipimpin noleh Abhisit banyak sekali terjadi perubahan susunan kabinet yang dipimpinnya. Korupsi, kolusi,dan nepotisme terjadi dimana mana. Hal inilah yang memicu terjadinya konflik antara para demonsran anti pemerintahan dengan pasukan keamanan Thailand. Demonstran yang minoritas di penuhi oleh bekas pendukung Thaksin yang mantan PM Thailand pada tahun 2001 2004 mulai melakukan aksi anarkisme di mana mana. Kaos merah atau julukan dari bekas pendukung Thaksin yang berusaha menuntut agar parlemen segera dibubarkan dan Abhisit segera diturunkan. Jika kita melihat dari sistem pemerintahan yang ada yaitu Demokrasi maka tak heran jika rakyat menuntut agar keinginan mereka didengarkan oleh pemerintah, karena kembali pada prinsip sistem Demokrasi yaitu kekuasaan berada di tangan rakyat. Sehingga harusnya pemerintah menyadari bahwa peran dari sistem itu sendiri dan tidak di

monopoli oleh keinginan pribadi semata. Karena jika kita melihat dari segi social masyarakat Thailand yang ada, bahwa pada kenyataannya perbedaan status social di Thailand sangatlah mencolok. Antara kaum atas dengan kaum bawah masih terlihat nyata adanya. Thaksin Dalam hal ini mampu melihat kenyataan yang ada, dia mampu menyelesaikan perbedaan social yang ada sehinnga banyak rakyat kelas bawah yang mendukung Thaksin, namun juga disamping itu Thaksin juga masih banyak melakukan kesalahan seperti KKN namun hal itu tidak terlalu berarti. Sedangkan pada masa pemerintahan Abhisit justru rakyat merasa semakin dibedakan, pemerintah tidak lagi mau melihat kepada kaum bawah. Sehingga pada akhirnya kaum atas lah yang di untungkan, KKN berjalan dimana mana, kaum elite pun berkuasa . Anarkisme dari para demonstran anti pemerintahan pun tidak dapat terelakan, ketika pemerintah tidak menggubris apa yang di inginkan dari para demonstran. Pemerintah bersikukuh ingin memperthankan keadaan yang ada dan justru berusaha mengungkapkan bahwa pemerintah tidak akan mundur. Begitupula dengan yang dilakukan oleh para demonstran, mereka justru semakin menjadi jadi ketika tuntutan mereka tidak didengar, mereka mulai melakukan aksi anarkis dengan merusak perlengkapan fasilitas yang ada di pusat kota Thailand, Bangkok. Tidak sedikit korban yang berjatuhan akibat dari konflik berdarah ini, karena pemerintah bersuikukuh terhadap pendirian mereka bukan malah sebaliknya melakukan negosiasi ataupun mediasi. Banyak negara lain khususnya ASEAN yang berusaha untuk menengahi konflik yang terjadi sudah cukup lama ini namun Thailand merupakan satu satunya anggota ASEAN yang negaranya tidak noleh dicampuri urusannya oleh pihak manapun. Hal ini juga yang membuat sulit bagi negara lain yang ingin memberikan bantuan untuk dapat m,embantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Dampak lain juga dirasakan dari aspek ekonomi, karena banyak investor yang ingin menanamkan modalnya di Thailand kemudian akhirnya enggan. Karena tadi adanya tindakan yang anarkisme yang seharusnya tidak perlu terjadi yang justru akhirnya merugikan negara itu sendiri.

D. Kesimpulan Demokrasi yang diharapkan mampu memberikan kekuasaan kepada rakyat yang ada di Thailand ternyata pada kenyataan yang ada tidak mampu menjadi sistem yang mampu memberikan kepuasan kepada rakyat justru malah sebaliknya kekuasaan tidak berada di tangan rakyat dan akhirnya konflik antara para demonstran anti pemerintahan dengan pasukan keamanan Thailand tidak mampu terelakan dan berujung pada keanarkismean. Anarkisme terjadi karena beberapa faktor diantaranya: perbedaan kepentingan. rasa ketidak puasan terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Lunturnya kode etik dalam berdemokrasi.

IDE - IDE POLITIK KONFLIK DI THAILAND

Ade. Kistrifaldi 151 080 151 / D

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Anda mungkin juga menyukai