Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS PENDEK SEORANG ANAK DENGAN KEJANG DEMAM SEDERHANA DENGAN TONSILOFARINGITIS AKUT DAN STATUS GIZI

BAIK Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Anak di RSUD dr. H. Soewondo, Kendal

Disusun oleh : Lia Nur Aini 01.208.5698 Pembimbing : dr. Sri Mulyani, Sp.A BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

BAB I LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Bangsal : An. A : 2 tahun 21 hari : Perempuan : Kendal : Islam : Dahlia

Tanggal Masuk : 12 Agustus 2012 IDENTITAS ORANG TUA Nama Ayah : Tn. T Umur : 30 tahun Pekerjaan : Wiraswasta B. DATA DASAR 1. Anamnesis (Alloanamnesis) Alloanamnesis dengan Ayah dan ibu pasien tanggal 12 Agustus 2012 pukul 20.00 WIB dan didukung catatan medis. Keluhan Utama : kejang a. Riwayat Penyakit Sekarang : sejak 2 hari yll pasien panas tinggi. Panas dirasakan sepanjang hari dan tidak naik turun. Pasien belum minum obat penurun panas. Panas tinggi disertai dengan pilek dan batuk. Batuk dirasakan kering dan tidak mengeluarkan dahak. Selama sakit nafsu makan pasien menurun.Pasien juga tidak merasakan adanya nyeri perut atau riwayat jajan sembarangan. Pada hari sebelum masuk Rumah Sakit Pasien Kejang 1 kali 3 menit, kejang terjadi di seluruh tubuh sebelum kejang pasien sadar Nama Ibu Umur Pekerjaan : Ny. I : 27 tahun : Ibu Rumah Tangga

selama kejang pasien tidak sadar dan setelah kejang pasien menangis. Kemudian pasien di bawa ke Rumah Sakit. Pada saat dibawa ke Rumah Sakit Pasien sudah tidak Kejang dan tidak ada kejadian kejang berulang. Pasien sebelumnya belum pernah mengalami kejang. b. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat kejang di sangkal. Riwayat trauma kepala disangkal Penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien adalah demam, batuk, pilek, diare, tetapi tidak sampai dirawat di rumah sakit atau balai pengobatan. c. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien Ayah pasien pernah mengalami kejang adalah anak pertama . Ayah pasien bekerja wiraswasta

d. Riwayat Sosial Ekonomi sedangkan ibu pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Pasien tinggal bersama ayah dan ibu. Biaya pengobatan menggunakan biaya pribadi (umum). Kesan sosial ekonomi : cukup e. Riwayat pemeliharaan prenatal Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Mulai saat mengetahui kehamilan hingga usia kehamilan 8 bulan pemeriksaan dilakukan 1x/bulan. Saat usia kehamilan memasuki usia kandungan 8 bulan, pemeriksaan rutin dilakukan 2x/bulan hingga lahir. Selama hamil ibu telah mendapat suntikan TT 2x. Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat trauma saat hamil disangkal. Riwayat minum obat tanpa resep dokter ataupun minum jamu disangkal. Obat obat yang diminum selama kehamilan adalah vitamin dan tablet tambah darah.

f. Riwayat kelahiran Persalinan Usia dalam kandungan Berat badan lahir Panjang badan g. Riwayat Imunisasi BCG DPT Polio Hepatitis B Campak : 1x umur 1 bulan, scar (+) di lengan atas kanan : 3 x ( 2,4,6) bulan : 4 x (0,2,4,6) bulan : 3x umur (0,1,6) bulan : 1x umur 9 bulan : Lahir spontan di tolong oleh bidan : 9 bulan : 2800 gram : tidak ingat

Kesan : Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan

Kesan : Imunisasi dasar lengkap tepat bulan h. Riwayat Gizi ASI Susu formula : Diberikan sejak lahir sampai umur 1 tahun. : Diberikan susu formula sejak lahir sebagai pelengkap asi sampai sekarang. Makanan pendamping: Mulai umur 7 bulan sudah mulai diberi makanan lunak (promina) bertahap kemudian Bubur, Nasi Tim dan sekarang sudah mulai makan nasi beserta lauk pauk, sayur dan kadang buah. Status Gizi menurut Z-score Berat Badan Usia WAZ (BB/U) HAZ (TB/U) : 12kg : 2 tahun 21 hari = 12 11,9 1,3 = 85 86,5 = -0,45 (Normal) 3,30 WHZ (BB/TB) = 12 11,8 = 0,14 (Normal) = 0,07 (Gizi Normal) Tinggi badan : 85cm

1,4 Kesan : Status gizi baik, perawakan normal i. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak Pertumbuhan : Berat badan lahir 2800 gram, panjang badan lahir tidak ingat, berat badan sekarang 12 kg, panjang badan sekarang 80 cm Kesan : Normal Growth Perkembangan : o o o o Tengkurap : usia 4 bulan Duduk dengan dibantu : usia 6 bulan Merangkak : usia 7 bulan Berjalan : usia 11 bulan

Kesan : Perkembangan sesuai umur. 2. Pemeriksaan Fisik Tanggal 12 Agustus 2012 pukul 21.00 WIB (di dahlia) Status Present Jenis kelamin Usia Berat badan Panjang badan Tanda vital : perempuan : 2 tahun 21 hari : 12 kg : 85 cm : HR : RR :t KU/Kesadaran Kepala Rambut Mata = 120 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup. = 40 x/menit, reguler = 40o C (aksila)

: Sedang / komposmentis : Mesosephal, bentuk dan ukuran normal : Hitam, tidak mudah dicabut : Conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), kornea jernih, pupil bulat, isokor, refleks pupil (+/+), reflek kornea (+/+), reflek bulu mata (+/+)

Telinga

: Bentuk normal, simetris, discharge (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tarik (-/-), tidak bengkak 5

Hidung Mulut

: Simetris, nafas cuping (-), sekret (+/+), epistaksis (-/-) : Bibir kering (-), sianosis (-), karies dentis (-), lidah kotor (-), gusi berdarah (-), T2-2 Hiperemis (+/+), faring hiperemis (+/+), vaskuler injeksi (+)

Leher Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi

: Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar kuduk (-) : Iktus kordis tidak tampak

limfe, kaku

: Iktus kordis teraba di sela iga IV, linea medioclavikula sinistra, kuat angkat, tidak melebar : Redup Batas atas Pinggang Batas kanan : ICS II linea parasternal kiri : ICS III linea parasternal kiri : ICS IV linea sternalis kanan

Batas kiri bawah : ICS IV linea midclavicularis kiri Auskultasi Paru-paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi : datar, tidak ada gambaran usus ataupun vena : supel, tidak nyeri tekan, turgor cukup Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Perkusi Auskultasi : timpani : peristaltik normal : Hemithorax sinistra dan dextra simetris dalam statis dan dinamis, tidak ada retraksi : Stem fremitus kanan = kiri : Sonor seluruh lapangan paru : Suara dasar vesikuler. Suara tambahan: wh-/-, ronkhi -/: Suara jantung I dan II normal, Suara tambahan (-)

Genital

: tidak ada kelainan

Ekstremitas : tidak ada deformitas Sianosis Akral dingin Oedem Capillary refill Pemeriksaan Neurologis Refleks Fisiologis Tendon achilles Patella Biceps Triceps : +/+, normal : +/+, normal : +/+, normal : +/+, normal Superior -/-/-/< 2 Inferior -/-/-/< 2

Refleks Patologis Babinski Chaddock Oppenheim Gordon : -/: -/: -/: -/: Normotonus :-

Tonus Clonus Rangsang Meningeal Kaku kuduk Brudzinski I Brudzinski II Brudzinski III Brudzinski IV

: : : ::-

3. Pemeriksaan penunjang 7

Pemeriksaan darah rutin ( 12 Agustus 2012 ) Leukosit : 19.050/ul Hb Ht : 10,9 g/dl : 35,90 (4000-11000/ul) (11-18g/dl) (32-54) (120.000-500.000/Ui)

Trombosit : 471.000/Ui

Tes Widal (12 Agustus 2012) O: H: PA: -

Pemeriksaah darah rutin (13 Agustus 2012) Leukosit ;214.400/ul Hb Ht ;9,7 g/dl ;31,63

Trombosit :280.000/Ui

Pemeriksaah elektrolit (13 Agustus 2012) Natrium :140,4 Kalium :3,94 Calcium :1,37 (135-148) (3,5-5,3) (1,13-1,37)

C. DIAGNOSA BANDING I. Observasi kejang dan disertai demam a. Meningoensefalitis b. Meningitis c. Kejang demam komplek d. Kejang demam simplek II. Status gizi baik, perawakan normal III. Tonsilofaringitis akut

D. DIAGNOSA SEMENTARA 1. Kejang demam simpleks 2. Status Gizi Baik, Perawakan normal 3. Tonsilofaringitis akut E. PENATALAKSANAAN a. Medikamentosa O2 2 L / menit Infus RL 12 tpm Inj. cefotaxim 3x300 mg P/O : o Luminal puyer 3x12mg b. Diit 3 x makanan lunak c. Monitor : KU, TTV, pengawasan jika kejang berulang F. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Darah rutin 2. Cek elektrolit 3. Pungsi lumbal 4. EEG G. PROGNOSA Qua ad vitam Qua ad sanam Qua ad fungsionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

BAB II PEMBAHASAN A. KEJANG DEMAM 1. Definisi Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4 oC tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh lebih dari 380 aksila dan 37,80 rektal yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Umur 6 bulan - 5 tahun Pernah kejang tanpa demam tidak termasuk KD KD pada umur < 1 bulan tidak termasuk KD KD pada umur < 6 bln atau > 5 th pikirkan infeksi SSP, Epilepsi disertai demam KD 2 - 4% populasi anak 6 bln -5 thn 2. Klasifikasi Klasifikasi kejang demam umumnya dibagi menjadi 2 golongan. Kriteria di bawah ini dikemukakan oleh berbagai pakar dimana terdapat perbedaan kecil dalam hal penggolongan tersebut. Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu : a. Kejang demam sederhana b. Epilepsi yang dicetuskan oleh demam Ciri kejang demam sederhana menurut Livingston yaitu kejang bersifat sederhana, lama kejang berlangsung singkat ( < 15 menit ), usia waktu kejang demam pertama muncul < 6 tahun, frekuensi serangan 1 4 kali dalam satu tahun, EEG normal. Kejang demam yang tidak sesuai dengan

10

ciri-ciri tersebut oleh Livingston disebut sebagai epilepsi yang dicetuskan oleh demam. Sedangkan menurut Fukuyama, kejang demam dibagi menjadi : a. Kejang demam sederhana b. Kejang demam kompleks Kejang demam sederhana menurut Fukuyama harus memenuhi semua kriteria berikut yaitu : 1. Di keluarga pasien tidak ada riwayat epilepsi 2. Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun 3. Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan 6 tahun 4. Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit 5. Kejang tidak bersifat fokal 6. Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang 7. Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas perkembangan 8. Kejang tidak berulang dalam waktu singkat Bila tidak memenuhi kriteria di atas, maka digolongkan ke dalam kejang demam komplek. 3. Insiden Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2 5 % anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun. Insiden kejang demam sering dijumpai pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan berkisar antara 1,4 : 1 dan 1,2 : 1. Berdasarkan penelitian Lumbantobing pada 297 anak dengan kejang demam, sebanyak 165 adalah anak laki-laki dan 132 anak perempuan dengan perbandingan 1,25 : 1.

11

4. Etiologi demam pada kejang demam Beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam adalah : 1. Demam itu sendiri 2. Efek produk toksik dari mikroorganisme (kuman atau virus) terhadap otak 3. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi 4. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit 5. Ensefalitis viral yang ringan yang tidak diketahui 6. Gabungan semua faktor tersebut di atas 5. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium rutin tidak dianjurkan, tapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi atau mencari penyebab, seperti darah perifer, elektrolit dan gula darah. 2. Pungsi Lumbal Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0,6%-6,7%. Pada bayi kecil sering manifestasi meningitis tidak jelas secara klinis, oleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada: a. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan b. Bayi antara 12-18 bulan dianjurkan c. Bayi >18 bulan tidak rutin Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. 3. Elektroensefalografi Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulang kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan.

12

Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.

4. Pencitraan Foto X-ray kepala dan neuropencitraan seperti CT atau MRI jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan atas indikasi, seperti a. kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis) b. parese nervus VI c. papiledema 6. Penatalaksanaan

Pengobatan rumat dipertimbangkan bila : o Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam. o Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan o Kejang demam 4x atau lebih per tahun.

13

7. Edukasi - Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya dapat teratasi -Memberikan cara penanganan kejang a. Tetap tenang dan tidak panik b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama sekitar leher c. Bila tidak sadar posisikan terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Jangan masukkan sesuatu ke dalam mulut d. Ukur suhu, catat berapa lama dan bentuk kejang e. Tetap bersama pasien selama kejang f. Beri diazepam rektal hanya saat kejang g. Bawa ke dokter atau pelayanan kesehatan lain bila kejang > 5 menit. h. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali

14

DAFTAR PUSTAKA 1. Anonim., http://www.idai.or.id/tips/artikel.asp?q=2009421101559, Kejang

Demam, IDAI 2. Lumbantobing SM. Kejang Demam (Febrile Convulsions). Jakarta : Balai Penerbit FK UI. 2002 : 1-45 3. Standar Pelayanan Minimal Kesehatan Anak, 2004, IDAI 4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 2 . Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 1985:847-54, 930-32 5. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Konsensus Penanganan Kejang Demam, Jakarta, 2005

15