1

RENCANA PELAKSANAAN RONDE KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.. B DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUANKENYAMANAN : NYERI BERHUBUNGAN DENGAN SPASME OTOT JANTUNG PADA DIAGNOSIS DECOMPENSANTIO CORDIS DI RUANG A RSU. . X MAKASSARTANGGAL : 27 JUNI 2012
Topik : Asuhan keperawaatan pada pasien dengan masalah keperawatan intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan, kelemahan umum, tirah baring lama, imobilisasi Sasaran : Pasien Tn. B : 60 menit ( 10.00 – 11.00 WITA)

Hari / tanggal : 27 juni 2012 Waktu

A. Tujuan 1. Tujuan Umum Menyelesaikan masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan kasus decompensantio cordis. 2. Tujuan Khusus a. Melakukan justifikasi masalah keperawatan pada klien dengan kasus decompensantio cordis. b. Mendiskusikan penyelesaian masalah keperawatan yang muncul dengan tim kesehatan lain yang ada di ruang A RSU X c. Meningkatkan validitas data klien d. Mampu menemukan masalah ilmiah terhadap masalah klien e. Mampu memodifikasi rencana keperawatan sesuai masalah yang muncul f. Mampu melanjutkan intervensi keperawatan sesuai masalah keperawatan g. Mampu melanjutkan implementasi keperawatan sesuai masalah keperawatan h. Mampu melanjutkan evaluasi keperawatan sesuai masalah keperawatan i. Meningkatkan kemampuan mahasiswa melakukan report per lisan

2

B. Sasaran Tn. B dengan kasus decompensantio cordis yang dirawat di ruang A RSU. X Makassar

C. Materi Yang didiskusikan a. Teori asuhan keperawatan pada klien decompensantio cordis. b. Masalah keperawatan yang muncul pada klien kelolaan dengan kasus decompensantio cordis. c. Intervensi keperawatan dan implementasi keperawatan yang telah dilakukan d. Masukan dan saran dari anggota ronde yang lain untuk intervensi selanjutnya

D. Metode Diskusi

E. Media 1. Dokumen klien 2. Sarana diskusi (buku, bollpoint) 3. Materi disampaikan secara lisan

F. Kegiatan Ronde No 1 Waktu Kegiatan Pra ronde : 1. Menentukan kasus sebelum pelaksanaan ronde 2. Menentukan tim ronde 3. Informed consent 4. Menentukan literatur 5. Membuat proposal 6. Diskusi pelaksanaan Pelaksana Penanggung jawab: Klien dan Keluarga Tempat R. A

Memberi salam dan memperkenalkan pasien dan keluarga kepada tim ronde 2. Menyampaikan topik ronde yang akan disampaikan 4. Memperkenalkan tim ronde 3. Mencocokkan dan menjelaskan kembali data yang telah disampaikan 5. Menjelaskan masalah yang timbul pada klien. Menyampaikan identitas dan masalah pasien Penyajian masalah : 1. Perawat konselor Memberik Nurse an respon station dan menjawab pertanyaan Karu. PP. PP. Salam pembukaan 2.3 2 5 menit Ronde Pembukaan : 1. Diskusi antara anggota tim dan pasien tentang masalah keperawatan tersebut Karu. intervensi dan implementasi yang sudah dilakukan serta hasil evaluasi Validasi data 4. Perawat konselor . Menjelaskan riwayat singkat penyakit klien Kepala ruangan (Karu) - Ners station 3 15 menit PP Mendenga rkan Nurse station 3.

Hasil a. Peserta ronde keperawatan hadir ditempat pelaksanaan ronde keperawatan c. Penutup Karu. Perawat dapat : 1) Menumbuhkan cara berpikir yang kritis dan sistematis . Evaluasi dan rekomendasi intervensi keperawatan 2. Pasien puas dengan hasil kegiatan b. X Makassar b. supervisor. Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau kepala ruang tentang masalah pasien serta rencana tindakan yang akan dilakukan 7. Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir b. Pembimbing Nurse station G. Persiapan dilakukan sebelumnya 2. Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran yang telah ditentukan 3. Struktur a. Masalah pasien dapat teratasi c. Ronde keperawatan dilaksanakan di Ruang A RSU. Perawat konselor.4 6. Menentukan tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah ditetapkan 5 5 menit Pasca ronde : 1. Proses a. Kriteria Evaluasi 1.

PP I PP II 3. S.Kep : Ita. S.5 2) Meningkatkan kemampuan validitas data pasien 3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnose keperawatan.Kep : Erna Sadja.Kep . PA I PA II 4. Kepala ruangan 2. S. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berorientasi pada masalah pasien 4) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan 5) Meningkatkan kemampuan justifikasi 6) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.Kep : Bachtiar S. S. Pengorganisasian 1. S.Kep : Ilmia.Kep : Risma. S. S.Kep : Nurul Qalby. S. Konselor 5.Kep : Darni.Kep : Ni’ma. Pembimbing 7. Supervisor : Suwandi. Ahli Gizi 6.

Gagal jantung kiri Dengan berkurangnya curah jantung pada gagal jantung mengakibatkan pada akhir sistol terdapat sisa darah yang lebih banyak dari keadaan keadaan normal sehingga pada masa diatol berikutnya akan bertambah lagi mengakibatkan tekanan distol semakin tinggi. Konsep Dasar Medis 1. a. Gagal jantung adalah suatu tipe kegagalan sirkulasi.6 A. vasodilatasi periver. Klasifikasi Gagal jantung dibagi menjadi gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan berdasarkan manifestasi klinisnya. Gagal jantung adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan gejala) yang ditandai oleh sesak nafas dan fatik (saat istirahat atau saat aktivitas) yang disebabkan ole kelainan struktur atau fungsi jantung. sering disebut gagal jantung kongestif. Istilah gagal jantung kongensif paling sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan kanan 2. dan ketidakadekuatan oksigenasi hemoglobin. makin lama terjadi bendungan didaerah natrium kiri berakibat tejadi peningkatan tekanan dari batas normal pada atrium kiri (normal 10-12 mmHg) dan diikuti pula peninggian tekanan . Gagal jantung. suatu istilah yang juga mencakup hipoperfungsi yang diakibatkan oleh kondisi jantung tambahan. Pengertian Decompensantio Cordis / Gagal Jantung adalah keadaan menurunya kemampuan miokardium dan terutama mempengaruhi ventrikel kiri (LV). seperti hipovolemia. adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuan jaringan oksigen dan nutrisi.

splenomegali. Kegagalan ini akibat jantung kanan tidak dapat khususnya ventrikel kanan tidak bisa berkontraksi dengan optimal . bila tekanan di kapiler makin meninggi cairan transudasi makin bertambah akan keluar dari saluran limfatik karena ketidaka mampuan limfatik untuk. terjadi transudasi cairanin tertisiel bronkus mengakibatkan edema aliran udara menjadi terganggu biasanya ditemukan adanya bunyi eksspirasi dan menjadi lebih panjang yang lebih dikenal asma kardial fase permulaan pada gagal jantung. b. hepatomegali. berakibat membaliknya kembali kedalam sirkulasi sistemik. Gagal jantung kanan Kegagalan venrikel kanan akibat bilik ini tidak mampu memeompa melawan tekanan yang naik pada sirkulasi pada paru-paru. hal ini akibat vetrikel kanan pada saat sistol tidak mampu mempu darah keluar sehingga saat berikutnya tekanan akhir diatolik . peningkatan volume vena dan tekanan mendorong cairan keintertisiel masuk kedalam(edema perier).7 vena pembuluh pulmonalis dan pebuluh darah kapiler di paru. terjadi bendungan diatrium kanan dan vena kava superior dan inferiordan tampak gejal yang ada adalah udema perifer. menampungnya (>25 mmHg) sehingga akan tertahan dijaringan intertissiel paru-paru yang makain lama akan menggangu alveoli sebagai tempat pertukaran udara mengakibatkan udema paru disertai sesak dan makin lama menjadi syok yang lebih dikenal dengan syak cardiogenik diatandai dengan tekanan diatol menjadi lemah dan rendah serta perfusi menjadi sangat kurang berakibat terdi asidosis otot-otot jantung yang berakibat kematian. Pada saat peningkatan tekanan arteri pulmonalis dan arteri bronkhialis. dan tampak nyata penurunan tekanan darah yang cepat. karena ventrikel kanan masih sehat memompa darah terus dalam atrium dalam jumlah yang sesuai dalam waktu cepat tekanan hodrostatik dalam kapiler paru-paru akan menjadi tinggi sehingga melampui 18 mmHg dan terjadi transudasi cairan dari pembuluh kapiler paru-paru..

Kontraksi kardiak c. Ventricular overload terlalu banyak pengisian dari ventricle c. Preload dan afterload Meliputi : a.tamponade. Overload tekanan (kebanyakan pengisian akhir : stenosis aorta atau arteri pulmonal.8 ventrikel kanan makin meningkat demikin pula mengakibatkan tekanan dalam atrium meninggi diikuti oleh bendungan darah vena kava supperior dan vena kava inferior serta selruh sistem vena tampak gejal klinis adalah erjadinya bendungan vena jugularis eksterna. 3. Tanda dan Gejala a. Kerusakan langsung pada jantung (berkurang kemampuan berkontraksi). defek seftum ventricalar 4. vena lienalis (splenomegali) dan bendungan-bedungan pada pada ena-vena perifer. atau aritmi. Dan apabila tekanan hidristik pada di pembuluh kapiler meningkat melampui takanan osmotik plasma maka terjadinya edema perifer. kecepatan yang tinggi. aneurysma ventricular b. Ventrucular overload (kebanyakan preload) regurgitasi dari aourta. stenosis f. Keterbatasan pengisian sistolik ventricular e. infark myocarditis. Etiologi Penyebab kegagalan jantung dikategorikan kepada tiga penyebab: a. Stroke volume : isi sekuncup b. mitra. vena hepatika (tejadi hepatomegali. hipertensi pulmonari d. Gagal jantung kiri 1) 2) 3) Dispnea Ortopnea Dispnea nokturial paroksimal . myocarial fibrosis. Pericarditis konstriktif atau cardomyopati.

bercak merah muda. 3. atau mungkin ada sputum berdarah). Edema ekstermitas bawah ( edema dependen) yang biasanya merupakan pitting edema 2. 5. 9. batuk disertai dahak putih. kulit dingin dan lembab. penurunan keluaran urin. 4. nadi lemah dan cepat. 8. keniruan (sianostik). peningkatan tekanan vena. 6) Bunyi jantung S3 b. 10. 7.9 4) 5) Asma jantung Edema pulmonal (dispnea akut. Peningkatan berat badan Hepatomegali Splenomegali Asites Distensi vena jugularis Anoreksia Mual Nokturia Kelemahan . Gagal jantung kanan 1. pernapasan tersengal-sengal. ansietas berat. 6.

mengatur atau mengurangi edema seperti pada hipertensi atau gagal jantung. Terapi farmakologis a. Obat-obatan ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena. diet dan istirahat. c. sehingga tekanan pengisisan ventrikel kiri diturunkan dan dapat dicapai penurunan drastis kongesti paru dengan cepat. Pembatasan natrium ditujukan untuk mencegah. Dukungan diet Rasional dukungan diet adalah mengatur diet sehingga kerja dan ketegangan otot jantung minimal dan status nurisi terpelihara. sesuai dengan selera dan pola makan klien. sehingga tekanan pengisisan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena. Penatalaksanaaan Tujuan dasar penatalaksanaan klien dengan gagal jantung adalah sebagai berikut: a. .10 5. Dukung istirahat untuk mengurangi beben kerja jantung b. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan baham-bahan farmakologis c. Terapi diuretik Diuretik diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Menghilangkan penimbunan caiaran tubuh berlebihan dengan terapi deuretik. Terapi vasodilatasi Obat-obatan vasoaktif merupakan pengobatan utama pada penatalakasanaan gagal jantung. Digitalis Digitalis meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan memperlambat frekuensi jantung b.

Penyakit jantung koroner. b) Tekanan darah mungkin normal atau meningkat. 5) Hygiene perseorangan Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas. 4) Nutrisi Mual. 3) Eliminasi Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.11 6. d) Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi. kehilangan nafsu makan. nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time. f) Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal. Pengkajian 1) Aktivitas dan istirahat Kelemahan. ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas). berkeringat banyak. kelelahan. g) Edema: Jugular vena distension. Asuhan Keperawatan a. 2) Sirkulasi a) Mempunyai riwayat IMA. penurunan turgor kulit. Tekanan darah tinggi. odema anasarka. c) Suara jantung . h) Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku. CHF. disritmia. e) Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia). . suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya. muntah dan perubahan berat badan. diabetes melitus. crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung.

kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor. b. dan mencapai puncak pada 24 jam. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi. c) Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. pucat atau cyanosis. menangis. diabetes. Changes mentation. rahang dan wajah. Pemeriksaan Penunjang 1) ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri iskemi. . 8) Respirasi Dispnea dengan atau tanpa aktivitas. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam. perokok. hipertensi. b) Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan. gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri. perubahan pustur tubuh. tekanan darah. stroke. penurunan kontak mata. emosi yang tak terkontrol. suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler.12 6) Neoru sensori Nyeri kepala yang hebat. ECG. 2) Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam. dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran. 7) Kenyamanan a) Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin. 10) Pengetahuan Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung. 9) Interaksi sosial Stress. perubahan irama jantung. batuk produktif. riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis.

5) Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis atau akut. 9) Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.13 3) Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia. atau aneurisma ventrikuler. 7) Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali. 4) Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan. 6) Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis. 8) Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung. CHF. .

14 .

15 .

dibuktikan oleh menurunya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital dalam batas normal selama aktivitas. perubahan frekuensi. dispnea. 7. kelainan katup. imobilisasi 2. Mencapai peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur. penurunan perfusi jaringan C. edema. 6. kelemahan umum. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d penumpukan secret Gangguan pola nafas b/d distensi vena sistemik Kerusakan intergritas kulit b/d tirah baring lama. perpindahan cairan (diuretic) atau pengaruh fungsi jantung 2. perubahan struktural (mis. Intervensi dan rasional: 1. Diagnosa Keperawatan 1. imobilisasi Hal yang diharapkan/ criteria evaluasi klien akan : 1. 5. berkeringat. tirah baring lama. catat takikardi. Catat respon kardiopulmonal terhadap aktivitas. disritmia. Curah jantung menurun b/d perubahan kontraktilitas miokardial. 4. memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri 2. konduksi listrik.. meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium/ air. perubahan ionotropik. tirah baring lama. irama. R/ hipertensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilatasi). pucat . Intervensi Keperawatan dan Rasional Diagnose keperawatan : Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan. Berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.16 B. khususnya bila klien menggunakan vasodilator. Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen/kebutuhan. antidiuretik penyekat beta. kelemahan umum. Ketidakefektifan perfusi jaringan b/d hipovolemia Kelebihan volume cairan b/d menurunnya laju filtrasi glomelurus (menurunnya curah jantung)/. aneurisma ventricular) 3.

Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas R/ dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung dari pada kelebihan aktivitas. Nyeri dan program penuh stress juga memerlukan energy dan menyebabkan kelemahan. Kolaborasi implementasi program rehabilitasi jantung/ aktivitas R/ peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/ konsumsi oksigen berlebihan. trasquilizer. . nyeri R/ kelemahan adalah efek samping beberapa obat (beta bloker. Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri sendediri sesuai indikasi. 3. juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.17 R/ penurunan/ ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas. Kaji presipitator/ penyebab kelemahan. contoh pengobatan. dan sedative). bila disfungsi jantung tidak dapat membaik kembali. Penguatan dan perbaikan fungsi jantung di bawah stress. dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen. 5. 4. Selinggi periode aktivitas dengan periode istirahat R/ pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien tanpa mempengaruhi stress miokard/ kebutuhan oksigen berlebih 6.

RM :A : xx Dengan ini menyatakan setuju untuk dilakukan ronde keperawatan. S.Kep . S. S. Perintis Kemerdekaan IV Ruang No. Makassar .Kep Welma Fredika. 3. B Umur : 52 tahun Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan IV Adalah suami / istri / orang tua / anak dari pasien : Nama : Ny. D Umur : 48 Tahun Alamat : Jl.18 SURAT PERSETUJUAN DILAKUKAN RONDE KEPERAWATAN Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Tn.Kep Nurhaeda. 2. Marhani. 26 juni 2012 Perawat yang menerangkan Saksi – saksi : Penanggung Jawab 1.

19 Resume Pasien dalam Pelaksanaan Ronde Identitas Umur Status Pendidikan Pekerjaan Alamat MRS : Tn. Upaya yang telah dilakukan : Setiap bulan klien rutin kontrol ke Poli Jantung RSU. saat anamnesa awal klien mengeluh nyeri dada yang menjalar ke bahu. KELUHAN UTAMA Nyeri dada B. rasanya seperti diremas. Klien sempat berobat di Puskesmas B dan dilakukan rawat inap selama dua hari.5 mg per oral. nyeri hilang setelah ± 1 menit dengan posisi tidur mengunakan dua bantal. lengan dan tengkuk. digogsin 1-0-0 per oral. Skala nyeri 5.00 WITA dan dilakukan rawat inap di ruang A. furosemid 1 x 10 mg IV. ranitidine 2 x 2 mg IV. mulai tanggal 25 Juni 2012 jam 08. X Makassar masuk melalui UGD sekitar jam 23. X Makassar.15. sesak berkurang dengan klien tidur menggunakan dua bantal. infuse RL : DL (1:1) 1000 cc/24 jam. Perintis Kemerdekaan IV : xxxxx A. B : 52 Tahun : Menikah : SMA : Pengusaha : jl. Tindakan keperawatan tekhnik relaksasi untuk mengurangi nyeri. sesak memberat saat klien beraktivitas jalan ke kamar mandi. namun karena klien tidak kuat untuk duduk menunggu antrian klien control ke Puskesmas B Terapi yang telah diberikan : antrain 3 x IV . captopril 2 x 12. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Klien mengeluh sesak sejak 5 hari sebelum MRS. kemudian PuskesmasB tidak dapat menangani kondisi klien dan pada hari Minggu 24 Juni 2012 klien dirujuk ke RSU. .

S2 tunggal. Tanda – tanda vital TD : 130/90 mmHg N : 80x/ menit 2. murmur (+) 4.7 OC . RIWAYAT KESEHATAN DAHULU Klien memiliki riwayat hipertensi.5 kal) klien mengatakan takut jika makan banyak nanti ke belet BAB. sayur. Sistem pernafasan Inspeksi : tidak ada retraksi dinding dada Palpasi : vocal fremitus teraba disemua lapang paru Perkusi : sonor Auskultasi : vesikuler 3.20 C. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Klien mengatakan ibunya mempunyai riwayat penyakit hipertensi E. Sistem kardiovaskuler Inspkesi : terlihat pulsasi ictus cordis di ICS IV – V aksila anterior line sinistra Palpasi : teraba getaran iktus cordis di ICS IV – V mid clavikula line Perkusi : redup Auskultasi : S1. D. lauk pauk. saat MRS yang dahulu klien mengalami bengkak di kaki. karena sulit untuk mencapai kamar mandi harus di bopong. Klien hanya menghabiskan ¼ porsi (1 porsi = 650 kal ¼ porsi = 162. Abdomen : Inspeksi : bentuk flat Palpasi : tidak ada nyeri tekan. Pemeriksaan fisik 1. buah. klien makan 3 x/hari dengan nasi tim. tidak ada pembesaran hepar dan lien Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus : 8x/ menit RR : 22x/menit T : 37. Sistem pencernaan Klien mengatakan tidak nafsu makan.5 kal x 3 kali makan = 487. Klien pernah MRS pada tahun 2010 dan 2011 dengan keluhan yang sama penyakit jantung. tangan dan muka.

Personal hygiene Pasien mampu mansi selama ditempat tidur 2x sehari. pasien mempunyai motivasi yang tinggi untuk sembuh. tetapi pasien juga berkeluh kesah karena keadaannya tidak segera membaik. CRT 1 detik. F. konsistensi lunak klien mengeluh panas saat berkemih dan dibagian yang sedang terpasang selang.2 % (40 – 47 %) Trombosit :193 x 109 /L (150 – 450 x 109 /L) Faal hati . gosok gigi 2x sehari. klien BAB 1 kali semenjak MRS. tidak ada deviasi trakea. kuku pendek. Pemeriksaan penunjang 1. Sistem perkemihan BAK per DC. Psikososial spiritual Pasien tidak dapat menjalankan shalat karena badan lemah. 7. pasien Nampak kusust. ganti pakaian 2x sehari. akral dingin.7 dl/gr (11. terpasang selang infuse di sebelah kiri klien mengeluh nyeri pada tangan yang terpasang infuse kekuatan otot tangan kanan – kiri 4 : 4. Sistem Muskuloskeletal dan integument Tidak terdapat oedema.1 dl/gr) Leukosit : 7.9 x 109 / L (4. Sistem Endokrin Inspeksi : tidak terlihat pembesaran kelenjar tiroid dextra dan sinistra Palpasi : tidak teraba massa padat multinoduler. Laboratorium tanggal 25 juni 2012 Hematologi Hb : 6. UP ± 2000 cc/ 24 jam warna kuning pucat. penampilan tidak rapi 10. kekuatan otot kaki kiri – kanan 4:3 8. Auskultasi : bruit (-) 9.4 – 15. Sistem persarafan Ptosis pada mata kanan 6.21 5.3 – 11. rambut acak – acakan. kotor. 3 x 109 /L) Hematokrit : 23.

1 mg/dl) BUN = 35 mg/dl (6 – 20 mg/dl) Urea = 75 mg/dl (10 – 50 mg/dl) Asam urat = 6. Radiologi Tanggal 26 juni 2012 Foto thoraks : tampak pembesaran jantung. Oral Digogxin 1-0-0 Captopril 2 x 25 mg 2.0 – 5.31 u/L) SGPT = 16 u/L (9 – 36 u/L) Faal Ginjal Kratinin serum = 1.7 mg/dl) Kadar gula darah sewaktu 109 mg/dl (<200 mg/dl) Elektrolit Natium= 137.5 – 1. 68 mmol/L ( 2.76 mmol/L (0. Parenteral Transfuse : 1 kolf PRC 250 cc Infuse : RL : D5 = 1 : 1 : 12 tpm Injeksi : ranitidine 2 x 1 ampul (1 ampul = 2 ml) Antrain 3 x 1 ampul ( a ampul = 2 ml) Furosemid 1 x 1 ampul (1 ampul = 10 ml) 3. Terapi Tanggal 25 juni 2012 1.03 mmol/L) Fosfor = 1. CTR = 64% EKG .22 mmol/L ( 3.4 mg/dl (0.5 – 5.57 mmol/L) Magnesium = 0.22 SGOT = 15 u/L (10 .77 – 1. Aritmia G.4 mg/dl (2.1 mmol/L (135 155 mmol/L) Kalium = 4.0 mmol/L) Chlorida = 106.3 mmol/L (90 – 110 mmol/L) Calcium = 1. Lain – lain Diit RG 3 nasi tim 3 x 650 k . 15 – 2.25 mmol/L (0.60 mmol/L) 2.85 – 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.