Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS FILM THE MIRACLE WORKER

Synopsis

SINOPSIS Film yang dibintangi seorang anak kecil yang bernama Hellen Keller, ia adalah seorang anak perempuan yang cantik berusia sekitar sepuluh tahun yang mempunyai cacat atau keterbatasan indera. Ia mengalami kebutaan dan tidak bisa berbicara. Hellen Keller merupakan anak dari pasangan Arthur Keller dan Catie Keller, karena melihat kondisi hellen seperti itu ayahnya hendak membawa hellen kerumah sakit jiwa, karena sudah di bawa ke beberapa rumah sakit di dua negara tidak ada yang sanggup. Namun hal tersebut ditolak oleh ibu dan bibi Hellen. Kemudian bibi Hellen menyarankan agar ayah Hellen mengirimkan surat kepada Dr. Chisolm di Baltimore guna meminta dikirimkan seorang pengasuh sekaligus pengajar untuk Hellen. Lalu ayah hellen mengirim surat kepada Dr. cuisolm,Tak berapa lama surat itupun sampai pada Dr. Chisolm dan beliau langsung menugaskan Ny. Annie Sullivan untuk menjadi pengasuh sekaligus pengajar Hellen, yang mempunyai latar belakang hampir sama dengan apa yang dialami hellen, bahkan ia dibesarkan di rumah sakit jiwa.Setelah sampai di rumah keluarga Keller, Ny. Sullivan langsung pendekatan dengan Hellen. Tetapi dengan kedatangan Ny.sullivan hellen merasa terganggu dan Hellen marah-marah, lalu hellen menuju kamar dengan membawa bawaan Ny.sulivan dan menemukan boneka didalam tas yang di bawanya tadi, hellen merasa senang, dengan penemuanya itu Ny.sillivan memberitahu nama boneka itu dengan sandi tangan. Akan tetapi ia sempat dikunci di dalam kamar oleh Hellen dan kuncinya di bawa lalu di buang, karena merasa terganggu akan kehadirannya. Dengan adanya kejadian tersebut tidak berarti membatalkan niat Ny. Sullivan untuk mengasuh serta mengajar Hellen. Kemudian Saat keluarga Keller sedang makan bersama, seperti hari-hari sebelumnya kebiasaan Hellen selalu memakan makanan dari piring-piring anggota keluarga satu persatu dengan tangan langsung(tanpa sendok makan). Namun Ny. Sullivan tidak mau jika Hellen melakukan hal ini secara terus-menerus, dan hellen marah-marah karena tidak boleh melakukan hal yang diinginkan,kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dari sebelumnya. Akhirnya ia meminta agar seluruh anggota keluarga Keller untuk meninggalkannya bersama Hellen di ruang makan bersama ny.sullvia untuk diajari makan yang baik, ny.sullvian agak kesulitan mengajari hellen namun, setelah beberapa waktu di dalam ruang makan Hellenpun akhirnya mampu makan

menggunakan piring sendiri bahkan mampu juga menggunakan sendok serta garpu. Meskipun keadaan di ruang makan menjadi berantakan serta Hellen kelihatan tertekan. Melihat keadaan tersebut keluarga Keller merasa tidak senang dan hendak memecat Ny. Sullivan, akan tetapi Ny. Sullivan bersikeras untuk menggasuh dan mengajar Hellen serta memberikan pemahaman kepada keluarga Keller bahwa Hellen sangat membutuhkan pendidikan. Selain itu Ny. Sullivan juga mengetahui bahwa Hellen mempunyai kecerdasan

yang tinggi meskipun Hellen mempunyai keterbatasan indera. Setelah melalui perbincangan-pembicaraan akhirrnya keluarga Keller menyetujui niat Ny. Sullivan untuk mengasuh serta mengajar Hellen dengan caranya sendiri, dan ia meminta agar ia dan Hellen ditempatkan di rumah yang sebenarnya dijadikan gudang oleh keluarga Keller yang berada di hutan yang tidak jau dari rumah. Kemudian hellen diantar pake kereta kuda. Dengan keterbatasan waktu yang diberikan keluarga Keller kepada Ny. Sullivan dalam mengasuh dan mengajar Hellen. Ny. Sullivan sangat bersunggguh-sungguh karena merasa memiliki kemiripan latar belakang. Meskipun pada awalnya Hellen sempat merasa takut dan terganggu akhirnya Ny. Sullivan berhasil mendekati Hellen. Ia mengajarkan Hellen tentang kata-kata benda yang ada di sekitarnya dengan menggunakan huruf sandi tangan. Dengan cepat Hellen mampu

menggunakan sandi dengan tangan yang diajarkan oleh Ny. Sullivan, akan tetapi Hellen tidak memahami apa yang diajarkannya sampai tiba hari terakhir yang diberikan oleh keluarga Keller kepadanya. Kemudian Ny. Sullivan meminta tambahan waktu kepada keluarga Keller dalam mengasuh serta mengajari Hellen. Namun keluarga Keller

enggan memberikan tambahan waktu tersebut. Karena berakhirnya waktu yang diberikan kepada Ny. Sullivan, Hellenpun kembali dibawa pulang ke rumah oleh keluarga Keller. Hingga tiba waktu makan bersama keluarga Keller, sebab belum memahami apa yang diajarkan Ny. Sullivan kepadanya Hellen akhirnya makan kembali menggunakan kebiasaannya sebelum kedatangan Ny. Sullivan, yaitu memakan makanan dari piring-piring anggota keluarga yang makan. Oleh karena itu Ny. Sullivan kembali untuk meminta waktu tambahan dalam mengajar Hellen agar apa yang telah diajarkannya kepada hellen tidak hilang begitu saja. Di lain pihak keluarga Keller tetap tidak mau memberikan waktu tambahan untuk Ny. Sullivan dalam mengajar dan mengasuh Hellen. Akhirnya Ny. Sullivan membawa Hellen keluar rumah dan menuju sumur pompa yang terletak di depan rumah keluarga Keller. Meskipun awalnya keluarga Keller tidak merelakan, namun akhirnya keluarga tersebut

merelakannya. Setelah beberapa waktu, dengan sumur pompa dan air tersebut akhirnya Hellen mampu memahami apa yang selama ini diajarkan oleh Ny. Sullivan kepadanya. Hellen meminta Ny. Sullivan untuk mengajarkannya kembali tentang apa yang belum ia pahami. Kemudian Hellenpun tumbuh menjadi dewasa serta mampu menjadi seorang penngacara terkenal meskipun ia mempunyai banyak kerterbatasan.

HE MIRACLE WORKER Film ini menceritakan kehidupan keluarga yang sangat harmonis dan sangat bahagia tapi ditangah-tengah kebahagiaan itu terdapat helen seorang anak kecil yang sangat luar biasa. Ia lahir normal di Tuscumbia, Alabama pada 1880. Pada usia 19 bulan, ia diserang penyakit misterius yang menyebabkannya buta dan tuli. pada usianya7 tahun, Ia jadi liar dan tidak dapat diajar dan dalam keadaan seperti itu dia sangat nakal dan susuah untuk dikendalikan, dia sangat pemarah dan selalu membuat kekacauan dalam rumahnya apa bila apa yang ia inginkan tidak dituruti oleh orang disekitarnya. sehinga suatu saat ayahnya(Athur keller) merasa kesal akan ulahnya dan berkeiginan membawanya kerumah sakit jiwa tapi bibinya mencegahnya dan memberikan soluli agar Helen dicarikan guru prifat untuk mendidiknya agar jadi lebih baik. Akhirnya Athur menyetujuinya dan mengirim surat kepada Dr. Chisolm di Baltimore. Tapi Dr. Chisolm tidak bisa apa-apa, lalu ia meromendasikan Dr. Alexsander Bell yaitu Nyonya Annie Sullivan walaupun agak keberatan dia berusaha meyangguinya. karena Dr. Chilson mempercayakan hal itu kepada Nyonya Annie Sullivan yang memiliki sosok seorang pengasuh yang cerdas dan berpegalaman dalam hal ini. Walupun dengan metode yang sangat susah dipahami oleh Helen yaitu dengan menggunakan tangan dan peraba, Nyonya Sullivan tetap berusaha keras untuk mendidiknya dengan sabar dan perhatian penuh kepadanya agar ia tau maksud yang diajarkanya. Dalam hal ini Sullivan sempat mengalami kesusahan dalam memberikan pengajaran kepada Helan. karena Helan masih ada perhatian dari orang tuanya yang selalu tidak setuju apabila Sullivan memberikan metode belajarnya yang agak kasar, lalu Sullivan meminta untuk membawa Helan kesuatu tempat yaitu rumah untuk mereka berdua(Sullivan dan Helan) agar tidak ada gangguan baik dari orang sekitarnya atuapun keluarganya. Dan dalam hal ini keluarganya sempat tidak percaya pada metode yang diberikan sullivan pada Helan, setelah ber hasil lalu semua keluarga percaya kalau metode yang di berikannya memberi manfaaat banyak pada Helan.

A. Sinopsis Film The Miracle Worker menceritakan tentang seorang anak yang bernama Helen Keller dilahirkan dalam keadaan normal. Akan tetapi, ketika sembuh dari sakitnya. Dia mengalami tuli, bisu dan buta. Dia dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, sebuah kota pedesaan kecil di Northwest Alabama, Amerika Serikat. Putri Kapten Arthur Henley Keller dan Kate Adams Keller. Dan film tersebut juga menceritakan perjuangan Annie Sullivan dalam mendidik Helen dari tidak bisa apa-

apa, tak mengenal aturan, liar, hingga menjadi gadis cantik, pintar, dan mampu berkomunikasi. Helen Keller dibesarkan oleh orangtua yang sangat mencintai dan menyanyanginya, lebih-lebih ketika dia mengalami penyakit cukup berat bagi anak seusianya. Dan pada saat Helen berusia sekitar enam tahun, dia telah berkembang menjadi anak yang susah diatur dan dikendalikan. Meskipun orangtuanya mencobanya tetapi tidak mampu untuk menolong atau mengendalikannya. Kapten Arthur Henley Keller berniat untuk membawa dia ke rumah sakit jiwa tetapi ibu dan bibi Helen melarangnya kemudian setelah itu ayah Helen menulis surat kepada Dr. Chilsom untuk mengirim seorang pengasuh. Dr. Chilsom pun merekomendasikan Annie Sullivan kepada keluarga Kapten Arthur Henley Keller, Annie Sullivan adalah sosok pengasuh yang cerdas dan sabar dalam megajari Helen meskipun cara pengajaran agak terkesan kasar. Dari saat Annie Sullivan tiba, jelas bahwa ia dan Helen akan mencengkeram dalam perjuangan besar karena Helen belum bisa berinteraksi dengan orang yang belum di kenalnya dan Annie Sullivan percaya dapat berhubungan dengan Helen, kalau saja pihak keluarga tidak campur tangan. Karena menurut Annie Sullivan, selama ini cara yang dilakukan oleh keluarga dalam memperlakukan Helen itu adalah salah. Annie Sullivan meyakinkan keluarga Helen terutama kapten Arthur Henley Keller , bahwa dia membutuhkan kontrol penuh dalam mendidik Helen. Annie Sullivan yakin bahwa bahasa adalah kunci untuk memperoleh akses ke benak Helen, dan ia terusmenerus mantra yang nama-nama benda di telapak tangan Helen dengan harapan bahwa Helen akan mengenali korelasi. Walaupun Helen dapat mengeja kembali pada telapak tangan Annie Sullivan, pemahaman bahwa kata-kata yang mewakili hal-hal yang berada di luar jangkauan dia. Annie Sullivan meminta kepada kapten Arthur Henley Keller dan kelurga, sebuah tempat yang tenang, nyaman dan aman dari campur tangan dari pihak keluarga. Dari pihak keluarga pun menyetujui, dan mereka memberikan rumah yang berada tak jauh dari rumahnya tapi hanya untuk beberapa minggu saja. Setelah menghabiskan dua minggu di sana, Helen akhirnya taat Annie Sullivan, tetapi ketika waktunya habis dan mereka kembali ke keluarga. Akan tetapi sungguh sangat disayangkan, Helen segera kembali pada perilaku lamanya. Para keluarga kapten Arthur Henley Keller yang toleran dan membiarkan Helen kembali kepada perilaku lamanya, tapi Annie Sullivan tidak membiarkannya. Dia membawa Helen ke rumah itu lagi dan meminta waktu lagi untuk mendidik Helen menjadi anak yang baik lagi penurut. Helen belum sepenuhnya memahami arti kata-kata. Ketika Annie Sullivan menuntunnya ke pompa air, semua itu menjadi berubah. Pertama-pertama Annie Sullivan, memompa air ke atas tangan Helen, Annie Sullivan mengeja kata air di tangan Helen dan menjelaskan arti kata-kata padannya dan Annie Sullivan bisa segera melihat di wajahnya bahwa ia akhirnya mengerti. Helen segera meminta Annie Sullivan untuk nama pompa akan dieja di tangannya dan kemudian nama dari terali. Sepanjang jalan kembali ke rumah Helen belajar nama dari segala sesuatu yang menyentuh dan juga menanyakan nama untuk Annie Sullivan. Annie Sullivan mengeja nama Guru di tangan Helen. Dalam beberapa jam berikutnya Helen belajar tiga puluh ejaan kata-kata baru. Sejak saat itu kemajuan Helen sangat menakjubkan. Kemampuannya untuk belajar jauh sebelum apa pun yang orang pernah lihat sebelumnya dalam seseorang tanpa penglihatan atau pendengaran. Tak lama sebelum Annie Sullivan mengajar Helen

untuk membaca, pertama dengan mengangkat dan kemudian dengan huruf braile, dan menulis dengan kedua biasa dan mesin tik braile. Kiranya itulah yang menjadi dasar Annie Sullivan untuk terus-menerus mendidik Helen sampai bisa. Helen Keller, seorang buta-tuli-bisu yang menjadi orang besar nan berjasa. Berkat kegigihannya dalam belajar serta kesabaran gurunya, ia menjadi perempuan terbatas yang berprestasi. Ia menjadi pengacara terkenal dengan spesifikasi persamaan sosial. Ia juga aktif menyeru kepada dunia untuk peduli kepada orang bisu-tuli. Atas perjuangannya itu, Hellen dianugrahi Honorary University Degrees Womens Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award.

Analisis
Teori belajar behaviorisme menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkrit. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon). Metode pengajaran yang digunakan oleh Nyi. Sulivan adalah dengan mem-berikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian Tingkah laku Hellen.Tingkah laku ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hukum-hukum belajar : Pembiasaan klasik, pembiasaan prilaku respon, Peniruan. Pada dasarnya pembiasaan klasik ( classical conditioning) adalah sebuah prosedur peciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Teori pembiasaan perilaku respon merupakan teori belajar yang paling muda usianya dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya adalah Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904). Teori ini di kembangkan oleh Albert Bandura. Dalam teori ini ditegaskan bahwa anak akan meniru perilaku orang dewasa dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia cenderung akan mengambil sti-mulus yang menyenangkan dan menghindarkan stimulus yang tidak menyenang-kan. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari

pengalaman, yaitu situasi atau stimulus yang diteri-manya. Memahami kepribadian manusia , mempelajari dan memahami bagai-mana terbentuknya suatu tingkah laku. Dalam kisah Hellen Keller dalam film The Miracle Worker ini terdapat beberapa bentuk pengaplikasian teori-teori pembelajaran (behaviorisme), antara lain ialah: ketika hellen marah ibu Hellen selalu memberikan makanan yang bias menjadikan hellen tenang, ketika Ny.sullifan melihatnya ia menegur ibu Hellen, karena memberikan hadiah kepada Helen ketika melakukan kesalahan. Dan juga ketika Ny.sulivan mengajari hellen ia membawa boneka untuk diberikan hadiah ketika apa yang diajarkan Sulivan bias ia lakukan. Hellen

(koneksionisme dan pembiasaan perilaku respon). Ny.

membiasakan

menggunakan sandi tangan untuk memahami segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk dipahaminya, bahkan mengajaknya berkeliling agar mengetahui dan memahami semuanya yang ada di lingkungan tempat Hellen belajar dengan pemanfaatan lingkungan yang ada. Hingga akhirnya Hellen dapat memahami apa yang diajarkan Ny. Sullivan melalui pembiasaanpembiasaan yang telah diberikanya (pembiasaan/conditioning). Seperti mengajari Hellen mengeja kata-kata yang ia pernah rasakan, seperti memberinya kue,susu dan lain sebagainya untuk memudahkan pemahaman hellen. Selain itu hal tersebut juga dilakukan secara berulangulang (teori pembiasaan perilaku respon).Membiasakan Hellen makan menggunakan pring sendiri, sendok dan garpu sehingga serta ia menjadi dilakukan terbiasa melakukan hal tersebut hingga

(pembiasaan/conditioning)

berulang-ulang

Hellen mampu melakukannya (teori pembiasaan perilaku respon). Hellen meniru apa yang dilakukan Ny. Sullivan terhadapnya, yaitu Ny. Sullivan menamparya ketika pertama kali Hellen diajari makan menggunakan piring , sendok serta garpu sendiri. (teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura). Dalam pembelajaran yang telah di ajarkan Ny.sulivan merupakan pembelajaran yang membutuhkan waktu dan kesabaran, karena dalam pembelajaran ini perlu kebiasaan-kebiasaan dan pengaplikasikan atau pembiasaan. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang digunakan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behafiorisme ini adalah terbentuknya perilaku yang diinginkan.

Meskipun teori behaviorisme berhasil digunakan Ny. Sullivan dalam mengasuh dan

mengajar Hellen, akan tetapi terdapat pula peran teori pembelajaran kognitivisme dalam prosesnya. Yaitu secara kognitif Hellen tidak akan mau mempelajari apa yang diajarkan Ny. Sullivan kepadanya jika ia tidak memutuskan untuk mau diajari. Hellen tidak akan memahami apa yang telah diajarkan oleh Ny. Sullivan kepadanya jika ia tidak menghendaki hal tersebut. Meskipun proses belajar itu dapat diamati secara langsung, akan tetapi proses belajar juga merupakan kegiatan mental yang tidak dapat diamati secara langsung. Seperti halnya kehendak atau kemauan.

B. TEORI-TEORI PEMBELAJARAN BEHAVIORISME Secara pragmatis, teori pembelajaran dapat dipahami sebagai prinsip umum atau sebagai kumpulan prinsip-prinsip yang saling berhubungan dan merupakan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Dari sekian banyak teori pembelajaran yang ditemukan di antaranya adalah teori pembelajaran behaviorisme dan teori pembelajaran kognitivisme. Dalam teori pembelajaran behaviorisme terdapat beberapa macam teori, di antaranya yang terkenal adalah sebagai berikut: 1. Koneksionisme Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan serta dikembangkan oleh Edward L. Throndike (1874/1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Eksperimen Thorndike ini menggunakan hewanhewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena balajar. Seekor kucing yang lapar ditempatkan dalam sangkar yang berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan. Seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi. Berdasarkan eksperimen di atas, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Oleh karena itulah sehingga teori koneksionisme disebut juga S-R Bond theory dan S-R Psychology of Learning. Selain itu teori ini terkenal juga dengan sebutan Trial and Error Learning. Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya kekeliruan dalam mencapai suatu tujuan (Hilgard & Bower, 1975). Aplikasi teori koneksionisme dalam pembelajaran biasanya guru memberikan hadiah kepada murid atau anak didiknya ketika anak didik mampu mengerjakan sesuatu dalam kegiatan belajar tersebut dan hadiah yang hendak diberikan guru sudah dibberitahukan terlebih dahulu kepada murid atau anak didiknya. 2. Pembiasaan Klasik Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil ekksperimen yang dilakukan oleh Ivan Pavlov (1849/1936). Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur peciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Terrace, 1973). Selanjutnya, mungkin karena fungsinya, teori Pavlov ini juga disebut respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut).

Dalam eksperimennya Pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui hubunganhubungan antara conditioned stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned respons (CR), dan unconditioned resspons (UCR). Dengan penjelasan CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari, sedangkan respon yang dipelajari itu disebut CR. Adapun UCS berarti rangsangan yang menimbulkan respons yang tidak diipelajari, dan respons yang tidak dipelajari disebut UCR. Anjing percobaan itu mula-mula diikat sedemikian rupa dan pada salah satu kelenjar air liurnya diberi alat penampung cairan yang dihubungkan dengan pipa kecil (tube). Perlu diketahui bahwa sebelum dilatih (dikenai eksperimen), secara alami anjing itu selalu mengeluarkan air liur setiap kali mulutnya berisi makanan. Ketika bel dibunyikan, seccara alami pula anjing itu menunjukkna reaksinya yang relevan, yakni tidak mengeluarkan air liur. Kemudian dilakukan eksperimen berupa latihan pembiasaan mendengarkan bel (CS) bersama-sama dengan pemberian makanan berupa serbuk daging (UCS). Setelah latihan yang berulang-ulang ini selesai, suara bel (CS) tasi didengarkan lagi tanpa disertai makanan (UCS). Apakah yang terjadi? Ternyata anjing percobaan tadi mengeluarkan air liur juga (CR), meskipun hanya mendengarkan suara bel (CS). Jadi, CS menghasilkan CR apabila CS dan UCS telah berkali-kali dihadirkan secara bersama. Sebagai contoh aplikasinya dalam pembelajaran ialah adanya seorang guru perempuan yang selalu menggunakan sepatu cethok (jika berjalan selalu berbunyi thok-thok), ia menyuruh anak-anak didiknya memberikan penghormatan kepadanya ketika ia datang. Setelah hal itu dilakukan berulang-ulang, akhirnya anak didiknnya selalu bersiap-siap untuk memberikan penghormatan kapadanya ketika para anak didik tersebut mendengar suara sepatu yang dikenakannya tersebut. 3. Pembiasaan Perilaku Respon Teori pembiasaan perilaku respon merupakan teori belajar yang paling muda usianya dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya adalah Burrhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904). Dalam salah satu eksperimennya Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian dikenal dengan nama Skinner Box. Peti sangkar ini terdiri dari dua komponen pokok, yakni: manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit (Reber, 1988). Sedangkan aplikasinya dalam pembelajaran biasanya guru memberikan punishment (hukuman) kepada anak didiknya ketika anak didiknya tidak mencapai target tertentu. Misalnya nalai anak didik berada di bawah target yang telah ditentukan sebelumnya. Akan tetapi hukuman tersebut tidak diberitahukan dahulu kepada anak didiknya. 4. Albert Bandura Teori ini di kembangkan oleh Albert Bandura. Dalam teori ini ditegaskan bahwa anak akan meniru perilaku orang dewasa dan lingkungan yang ada di sekitarnya. C. APLIKASI TEORI PEMBELAJARAN BEHAVIORISME DALAM FILM THE MIRACLE WORKER Dalam kisah Hellen Keller dalam film The Miracle Worker ini terdapat beberapa

bentuk pengaplikasian teori-teori pembelajaran (behaviorisme), antara lain ialah: a) Ibu Hellen, Catie Keller selalu memberikan permen kepada Hellen ketika ia mengamuk, guna untuk menenangkannya. Meskipun pada akhirnya hal terseut tidak disetujui oleh Ny. Sullivan karena ibunya memberikan hadiah ketika Hellen melakukan kesalahan. (koneksionisme dan pembiasaan perilaku respon). b) Ny. Sulivan membiasakan Hellen menggunakan sandi tangan untuk memahami segala sesuatu yang ada di sekitarnya, bahkan mengajaknya berkeliling agar mengetahui dan memahami semuanya itu. Hingga akhirnya Hellen dapat memahami apa yang diajarkan Ny. Sullivan melalui pembiasaan-pembiasaan (pembiasaan/conditioning). Seperti mengajari Hellen mengeja kata cake sebelum memberinya kue dan lain sebagainya. Selain itu hal tersebut juga dilakukan secara berulang-ulang (teori pembiasaan perilaku respon). c) Membiasakan Hellen makan menggunakan pring sendiri, sendok dan garpu sehingga ia menjadi terbiasa melakukan hal tersebut (pembiasaan/conditioning) serta dilakukan berulang-ulang hingga Hellen mampu melakukannya (teori pembiasaan perilaku respon). d) Hellen meniru apa yang dilakukan Ny. Sullivan terhadapnya, yaitu Ny. Sullivan menamparya ketika pertama kali Hellen diajari makan menggukan piring , sendok serta garpu sendiri. (teori yang dikembangkan oleh Albert Bandura). D. KELEMAHAN 1. Meskipun teori behaviorisme berhasil digunakan Ny. Sullivan dalam mengasuh dan mengajar Hellen, akan tetapi terdapat pula peran teori pembelajaran kognitivisme dalam prosesnya. Yaitu secara kognitif Hellen tidak akan mau mempelajari apa yang diajarkan Ny. Sullivan kepadanya jika ia tidak memutuskan untuk mau diajari Ny, Sullivan pada malam pertama Hellen dan Ny. Sullivan menempati rumah bekas gudang yang berada di samping rumah keluarga Keller 2. Hellen tidak akan memahami apa yang telah diajarkan oleh Ny. Sullivan kepadanya jika ia tidak menghendaki hal tersebut 3. Meskipun proses belajar itu dapat diamati secara langsung, akan tetapi proses belajar juga merupakan kegiatan mental yang tidak dapat diamati secara langsung. Seperti halnya kehendak atau kemauan, pengambilan keputusan dan lain sebagainya.

TINJAUAN PEMBELAJARAN A. TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL-KOGNITIF ALBERT BANDURA (1925) Setelah melihat dan memahami film The Miracle Worker ini penulis dapat mengambil kesipulan bahwa teori yang dipakai cenderung pada teori pembelajara yang hampir sama seperti yang dipaparkan oleh tokoh behaviorisme yaitu Albert Bandura (1925) yang terkenal dengan teori pembelajaranya dibidang sosial atau kongnitif sosial serta efikasi diri dan eksperimenya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukan anak meniru secara persis prilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. 1. Asumsi yang diberikan pada teori kignitif: Individu melakukan pembelajaran dengan meniru lingkungan terutama perilaku

orang lain. Ada keterkaitan yang erat antara lingkungan, perilaku dan pribadi dalam proses pembelajaran. Hasil Belajar berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Begitu juga dalam film The Miracle Worker ini yang digunakan dalam pembelajaran adalah peniruan pada apa yang diberikan pada pendidiknya, seperti metode yang diperoleh kepada Helen dari gurunya Ny Sullivan yaitu pembelajaran yang menggunakan tangan sebagai alat untuk memahami segala sesuatu yang ada disekitarnya yang disengaja diberikan dan dilakukan oleh Helan seperti apa yang diberikan oleh Sullivan padanya. 2. Adapun faktor-fakto yang diperoleh dalam penemuan Albert ini yaitu: a. perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamatan. Seperti perhatian yang diberikan oleh Sullivan pada Helan yaitu dia meminta pada oranng tua Helan untuk tinggal bersama dirumah tanpa adanya orang tua yang mendampinginya dalam beberapa waktu karena ia ingin memberikan perhatian penuh pada Helen agar tidak banyak pengaru dari luar ataupun keluarganya untuk mempermudah sullivan memberikan teori belajarnya. b. penyimpanan atau proses pengingat, mencakup pada kode-kode atau simbol. Sama halnya hal yang dilakukan oleh Sullivan dalam meberikan pembelajaran pada Helen, dia menggunakan kode-kode yang berbeda-beda dalam suatu hal. Dan ini memudahkan Helen untuk menyimpan dan mengingatnya dalam kehidupan seharihari. c. Reproduksi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik. Di gambarkan pada waktu Sullivan memberikan pembelajaran memahami air dan ini sangat susah dan memerlukan kesabaran dalam mengajarinya dan butuh pembelajaran yang berulang-ulang sampai helen dapat memahaminya. Dapat dilihat dalam film ini meiliki faktor-faktor yang mendukung pembelajaran pada siswa, diantaranya adalah: Memiliki ciri yang bersesuaian dengan individu Nilai prestise dari model tersebut Kualitas rasa kepuasan Selain itu dalam teori yang ditemukan oleh Albert ini harus diperhatikan model atau teladan memiliki prinsip-prinsip sebagai gerikut; a) tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh denagan cara menggorganisasikan sejak awal dan mengulangi prilaku secara simbolik kemudian melakukanya. b) individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya. c) individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya memiliki nilai yang bermanfaat. 3. Proses pembelajaran dalam teori bandura terjadi dalam tiga komponen (unsur) yaitu: prilaku model pegaruh perilaku model proses intienal belajar.

4. Kelemahan dalam film The Miracle Worker Walaupun dalam teori ini banyak memberikan teori pembelajaran tetep saja ada kekuranganya, diantaranya: 1. proses pembelajaran dengan menggunakan penciuman dan peraba. 2. Waktu yang cukup lama. 3. Siswa susah memahami apa yang dipelajari. 4. Pengaruh lingkungan 5. Pengaruh keluarga 5. Kelebihan dalam film The Miracle Worker 1. Mampu mendidik siswa walau dengan indra yang tidak sempurna. 2. Memudahkan adak didik dalam memintak atau berkomunikasi dengan orang lain. 3. Menjadikan siswa menjadi lebih mandiri dan prcaya diri walau mempunyai kelemahan dalam panca indranya. B. TEORI KOGNITIFISME JEAN PIAGET (1896-1980) Teori perkembangan kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Piaget menjabarkan implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu a) Memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. b) Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam kelas, Piaget menekankan bahwa pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge ) anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan. c) Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan berbeda. d) Mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi. Setelah menyaksikan tayangan film The Miracle Worker dan mengkaji kembali teori pembelajaran kognitifisme diatas, ternyata proses belajar yang dilalui oleh Hellen Worker banyak diwarnai oleh faktor kognitif. Dalam film ini terdapat ciri-ciri yang mengarah pada teori kognitif yang menitik beratkan pada mental dan proses berfikir menurut tingkatannya, sehingga dapat dianalisa teori kognitf yang mendasarinya yaitu; 1. Usia Hellen Keller pada waktu itu sekitar 10 tahun dalam pandangaan teori kognitif itu disebut masa operasional konkrit 2. schemata

3. Cara berfikir dan proses mental anak 4. Perkembangan nalar memerlukan pertukaran gagasan 5. Zone of proximal development menurut teori Vygotsky. 6. scaffolding Hellen Keller ketika diajar oleh Ny.Sullivan usianya telah mencapai 10 tahun, usia ini dalam pandangaan teori kognitif itu disebut masa operasional konkrit (7-11 tahun) pada masa ini kemampuan bahasa dan kemampuan untuk berfikir dengan bentuk simbolis mampu memikirkan operasi secara logis, masalah konkrit (yang ada) dengan cara logis memehami hukum perlindungan dan mampu mengklasifikasi dan mengurutkan memahami reversibilitas (kebalikan), dalam kondisi ini Hellen tidak bisa menggunakan potensi kemampuan bahasanya secara vokal karena ia bisu tetapi daya kemampuan berfikirnya tetap berjalan bahkan lebih cerdas dari anak-anak seusianya pada umumnya. Disinilah Ny. Sullivan memainkan peranya, sebagai seorang psikolog ia memahami betul bahwa Hellen adalah anak yang cerdas (tidak gila) sehingga tidak perlu dibawa kerumah sakit jiwa, ia menagajari Hellen dengan menitik beratkan pada mental dan potensi akalnya yang ini merupakan proses pembelajaran dalam teori kognitif. Teori kognitif juga membahas munculnya dan diperolehnya schemataskema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapantahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Dari film ini dapat dilihat bagaimana kesabaran Ny. Sullivan dalam mengajarkan kosa kata dan lingkungan kepada Hellen yang akhirnya juga membuahkan hasil yaitu Ny. Sullivan mampu menanamkan insight pada ruang berfikirnya Hellen. Insight yaitu pemahaman seseorang secara totalitas terhadap suatu objek ini lah yang dicapai Hellen Keller, akhirnya ia mengerti bahwa tiap kata yang diajarkan oleh Ny. Sullyvan memilki makna dan bentuk tertentu yang dapat ia rasakan dan kata/benda yang pertama ia fahami dalam film itu ialah water (air). Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan dalam menjabarkan implikasi dalam teori kognitif Pieget menagatakan memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. Ny. Sullivan dalam hal ini mengerti betul bahwa dalam mendidik Hellen dia harus bisa menyentuh sisi mentalnya dan hanya dengan indra praba dan penciuman yang dimilki Hellen dia mencoba membreikan kosa kata dan bahasa sebnyak-banyak dengan menggunakan metode belajar. Memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. Teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh siswa tumbuh dan melewati urutan perkembangan yang sama, namun pertumbuhan itu berlangsung pada kecepatan berbeda maka metode yang digunakan oleh Ny. Sullivan dalam mendidik Hellen sesuai dengan kekurangan dan kelebihan yang ia miliki meski terkadang dipandang kasar dan tidak manusiawi terlebih bagi anak seperti Hellen yang serba kekurangan seperti ketika Hellen menyiram mukanya, ia kemudian membalasnya, begitu juga ketika Hellen memukul mukanya ia juga membalas dengan memukul muka Hellen. Tapi, sebenarnya tidak demikian. karena apa yang diperbuat oleh Ny. Sullivan. Ia sangat memahami ilmu psikologi. Keadaan Helen memang menuntut diberi perlakuan keras.

Menurut Piaget, pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung. Hal itulah yang dialami Hellen Keller ia baru mengerti arti sebuah gagasan ketika Ny. Sullyvan membawanya ke pompa air dan memompanya untuk mendapatkan air padahal sebelumnya ia sudah begitu banyak diajari kosa kata dan bahas oleh Ny. Sullivan namun ia tidak dapat memahaminya secara langsung sehingga sangat menguji kesabaran Ny. Sullivan untuk menjelaskannya namun akhirnya ia didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan setelah ia mengerti dan memahami gagasan atau arti sebuah kata. Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu dalam film ini diuraikan secara demonstratif bahwa proses berfikirnya Hellen Keller pada usia 10 tahun telah sampai pada tingkat ini. Hal ini terbukti ketika ia memahami arti sebuah kosa kata sehingga ia telah dapat mengatasi masalah utamanya yaitu berkomonukasi dengan orang sekitarnya khususnya orang tua dan gurunya. Ia tidak mungkin dapat menunjukkan rasa cinta dan terimakasihnya kepada gurunya yang diekspresikannya dengan mencium pipi Ny. Sullivan kalau ia belum mengerti sebuah masalah dan belum dapat memecahkannya. Scaffolding adalah memberikan kepada seorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Dalam kasus Hellen Keller tentu yang dimaksud dengan mengurangi bantuan bukanlah bantuan memperkenalkan padanya kosa kata baru, melainkan proses yang amat rumit yaitu proses menanamkan dalam pemikirannya pengetahuan menyeluruh tentang sebuah nama/sifat terhadap sebuah objek atau sering disebut dengan istilah insight. Kelemahan Harus diakui walau teori kognitif dalam film ini banyak berperan namun bukan berarti semua hal yang dialami oleh Hellen Keller didasari oleh teori kognitif, ada beberapa hal yang tidak tersentuh dengan teori ini diantaranya: Disamping proses berfikir dan mental Hellen Keller juga memerlukan proses pembiasan dan latihan, Tingkah laku yang dikembalikan pada reflek, Adanya sebuah potensi yang terbentuk sebelumnya, Proses belajar juga memerlukan indra raba dan penciuman, Pengaruh lingkungan, Mekanisme hasil belajar melalui stimulus respon dan Penekanan reaksi terhadap stimulus dan reinforcement. kelebihan Teori ini banyak digunakan oleh para pendidik dalam memberikan pendidikan pada siswa yang mengalami kesusahan dalam hal memperoleh pendidikan dan pengetahuan. PENUTUP Demikian hasil analisi film the miracle worker ini saya paparkan berdasarkan teori kognitifisme dengan tokoh ALBERT BANDURA dan JEAN PIAGET yang mungin banyak kekurangan atau kesempurna. Dan mohon bagi penganalisis selanjutnya dapat memberikan kesempurnaan dan kekurangan itu.v

Dampak Kecacatan Bagi Anggota Keluarga Anak yang mengalami tuna rungu dan tuna wicara akan mengalami masalah dalam hal berkomunikasi. Mereka sulit untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan dan sulit untuk memahami aspek-aspek emosional yang dikomunikasikan oleh orang lain. Keluarga sebagai pihak terdekat dari anak yang mengalami kecacatan juga akan merasakan dampak tersebut. Banyak orang tua mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, dalam arti kesulitan dalam menjelaskan isyu-isyu yang menurut mereka penting. Seringkali kemudian stres muncul (Mangunsong, 2009). Dampak dari kecacatan anak terhadap orang tua salah satunya adalah orang tua bisa menjadi depresi atau terlalu protektif, atau bahkan kehilangan minatnya pada anak (Elliot & Place, 2006 dalam Mangunsong, 2009). Hal ini juga terjadi pada keluarga Helen dimana orang tuanya mengalami kesulitan untuk memahami apa yang diinginkan Helen. Orang tua Helen terlalu protektif dengan anaknya. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan ini salah karena membuat Helen menjadi tidak mandiri. Bahkan sikap yang terlalu protektif dari orang tua Helen menghambat proses pembelajaran yang diterapkan oleh Anne Sullivan. Temper tantrum dan frustasi yang bersifat fisik seringkali ditunjukkan oleh anak yang mengalami kecacatan karena mereka kurang mampu untuk mengemukakan masalahnya dalam bentuk bahasa (Mangunsong, 2009). Temper tantrum yang dialami oleh Helen sering kali menimbulkan masalah di rumahnya. Bukan hanya menyebabkan keadaan rumah menjadin berantakan tapi temper tantrum yang dialami Helen juga kerap menimbulkan perdebatan antara ayah dan saudara tirinya. Bahkan pernah mengancam keselamatan adik bayinya. Rutinitas sehari-hari di keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus menjadi terganggu (Mangungsong, 2011). Hal ini telah terjadi dalam kehidupan keluarga Helen. Di beberapa keluarga, memiliki seorang anak dengan kecacatan dirasakan sebagai sebuah tragedi, disisi lain, itu mungkin dilihat sebagai sebuah krisis tetapi merupakan sesuatu yang bisa dikelola, pada sisi yang lainnya itu hanyalah satu faktor lagi yang untuk dipertimbangkan dalam

kehidupan sehari-hari sebagai usaha berjuang meraih kesuksesan (Begab, 1966 dalam Gargivlo, R.M, 2007). Keluarga Helen telah melihat permasalahan yang dialami Helen sebagai suatu kiris yang bisa ditanggulangi dan lebih melihat masalah ini sebagai suatu tantangan tersendiri. Meskipun pada awalnya masalah ini cukup membuat keluarga Helen kesulitan, namun ternyata peningkatan yang dialami Helen memberikan kebahagiaan tersendiri bagi keluarganya. Hal ini telah mengajarkan keluarga Helen untuk lebih tegar dan lebih optimis dalam menjalani permasalahan hidup.

Pembahasan 1. Tinjauan Teori Pembelajaran dalam Film The Miracle Worker. Dari hasil analisis saya ketika menyaksikan film The Miracle Worker terdapat Teori pembelajaran yang lebih dominan menggunakan teori Behaviorisme, karena di dalam film itu dapat kita temukan perubahan perilaku peserta didik yang ditandai dengan adanya hubungan antara stimulus dengan respon. Teori behaviorisme merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami peserta didik dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Prinsipprinsip teori behaviorisme sebagai berikut : 1. Objek psikologi adalah tingkah laku 2. Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek. 3. Mementingkan pembentukan kebiasaan. Ciri-ciri teori behaviorisme antara lain : 1. Mengutamakan unsur-unsur. 2. Bagian kecil bersifat mekanistis. 3. Menekankan peranan lingkungan 4. Mementingkan pembentukan reaksi dan respon 5. Menekankan pentingnya latihan dan kemampuan. 6. Mementingkan mekanisme hasil belajar. Teori behaviorisme terdapat hubungan antara S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Di dalam film The Miracle Worker, pembelajaran yang diberikan lebih dominan tentang bahasa, teori behaviorisme juga mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam mempelajari bahasa.

Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang dikondisikan dan dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu karena peserta didik mendapat rangsangan dari dalam dan luar. Maka akan mempengaruhi proses pembelajaran dan peserta didik akan merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka peserta didik tersebut akan mendapat penguatan dari orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini terjadi berulang-ulang, lama kelamaan peserta didik akan menguasai percakapan. Sebagaimana di dalam film The Miracle Worker yaitu peserta didik (Helen) dalam memahami kata-kata atau nama-nama dengan benda-benda yang dipegang ataupun diraba mempunyai korelasi. Di samping itu juga Annie Sullivan yang selalu mengajari Helen dengan cara berulang-ulang. Oleh karena jika peserta didik mendapatkan stimulus secara berulang-ulang akan terjadi suatu pembiasaan. Maka ia pun akan merespon bentuk responnya adalah melakukan apa yang telah di ajarkan oleh Annie Sullivan selaku pendidiknya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk mendidik peserta didik yang masih banyak membutuhkan peranan orang dewasa dalam proses pembelajarannya, sehingga tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang di cita-citakan. 2. Tokoh-Tokoh Teori Behaviorisme Edward Lee Thorndike (1874-(((1874-1949) Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum yaitu sebagi berikut: 1 Hukum kesiapan (Law of Readiness). Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat. 2 Hukum latihan. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. 3 Hukum akibat. Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan. Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936) dan Watson Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-

bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan, strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi. Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan. Carlk L. Hull Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor. Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output. Skinner (1904-1990) Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan faktor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditing menjamin respon terhadap stimulus. Bila tidak menunjukkan stimulus, maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan Skinner membagi menjadi 2 jenis respon. 1. Responden, Respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlo. 2. Operans Respon yang terjadi karena situasi random. Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan. Prinsip belajar Skinners adalah : 1. Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat. 2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul. 3. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman. 4. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer. 5. Dalam pembelajaran digunakan shapping Robert Gagne (1916-2002) Teori gagne banyak dipakai untuk mendisain Software instructional (Program berupa Drill Tutorial). Kontribusi terbesar dari teori instructional Gagne adalah 9 kondisi instructional: 1. Gaining attention = mendapatkan perhatian 2. Intorm learner of objectives = menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai 3. Stimulate recall of prerequisite learning = stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar. 4. Present new material = penyajian materi baru

5. Provide guidance = menyediakan pembimbingan 6. Elicit performance = memunculkan tindakan 7. Provide feedback about correctness = siap memberi umpan balik langsung terhadap hasil yang baik 8. Assess performance = Menilai hasil belajar yang ditunjukkan 9. Enhance retention and recall = meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat. Robert Gagne (1916-2002) Ia adalah seorang pskologi pendidikan berkebangsaan Amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne disebut sebagai modern Neobehaviouristik mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan yang paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam heirarki ketrampilan intelektual. Albert Bandura (1925-sekarang) Teori belajar Bandura adalah teori belajar sosial atau kognitif sosial diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif perilaku dan pengaruh lingkungan. Faktor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, dan motivasi. Jadi Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas mimetic yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Teori belajar behavioristik dengan pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi C. Kekurangan dan Kelebihan Teori Behaviorisme. a). kekurangan 1). Teori behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan saja. 2). Teori Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. 3). Penerapan teori behaviorisme juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenagkan bagi siswa yakni guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi belangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus murid pelajari. 4). Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan dari guru.

b). Kelebihan 1). Teori ini cocok untuk pemperoleh kemampuan yang membutuhkan prkatek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek dan daya tahan. 2). Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih, mengajar dan mendidik peserta didik yang masih membutuhkan peran orang tua. 3). Teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. D. Kesimpulan Belajar menurut teori behavioristik merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Prinsip penerapan teori belajar ini adalah: (1) belajar itu berdasarkan keseluruhan; (2) Anak yang belajar merupakan keseluruhan; (3) Belajar berkat insight (4) Belajar berkat insight; dan (5) Belajar berdasarkan pengalaman.

PROSES PEMBELAJARAN HELLEN KELLEN Hellen Kellen memiliki kekurangan panca indra yang penting, namun ia juga memiliki kemampuan lainnya yang menonjol, yaitu otak yang cerdas, penciuman dan perasa yang kuat. Kemampuan inilah yang dimanfaatkan oleh Ny. Sullivan untuk mengajarinya bahasa lewat isyarat tangannya yang biasa dipelajari oleh anak yang cacat. Hellen Keller yang sejak kecil dididik oleh keluarganya dengan memberikan stimulusstimulus ketika ia mulai brutal dan mengamuk agar ia tenang sementara. Hal ini dilakukannya secara berulang-ulang tiap kali Hellen marah, hingga akhirnya ia terbiasa dengan keadaan seperti ini. Hasilnya Hellen menjadi anak yang manja, liar dan pemarah.ia pun terus seperti itu, mungkin ia mengangap apa yang dilakukan adalah benar, karena ia selalu mendapatkan hadiah berupa manisan setiap kali ia marah. Keluarganya menerapkan teori Behavioristik yang lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur. Teori ini juga bersifat otomatismekanis dalam menghubungkan stimulus dan respons, sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Padahal setiap anak memiliki self direction (kemampuan mengarahkan diri) dan self control (pengalaman diri) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak merespon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.

Pendekatan kognitif yang dilakukan oleh Ny. Sullivan memberikan perspektif bahwa belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah), meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampaknya lebih nyata dalam pada setiap peristiwa belajar. Dalam hal ini, seorang pakar psikologi menyimpulkan bahwa anak-anak memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar. Ny. Sullivan memulai tugasnya untuk mengubah anak yang tidak terkontrol menjadi sosok yang sukses dengan memberikan boneka yang merupakan buatan anak-anak dari sekolah Perkin (sekolah khusus orang cacat yang kemudian dibuat khusus untuk Helen). Dengan mengejakan D-O-L-L (boneka) melalui tangan, ia berharap dapat menghubungkan objek dengan huruf. Hellen ternyata belajar dengan cepat dengan metode yang tepat pula, namun ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengucapkan kata-kata. Selama beberapa hari, ia banyak belajar mengeja kata-kata baru namun dengan cara yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Dengan datangnya Ny. Sullivan, ia mengubah pembelajaran behaviorisme menjadi pendekatan kognitif. Ia menyingkirkan semua stimulus-stimulus yang biasa diberikan pada Helen. Akibatnya Hellen memberontak, marah dan liar. Namun, Ny. Sullivan juga memberikan stimulus. Jika Helen mau mengeja huruf dengan jari-jarinya. Dan ketika Hellen mengeja C-A-K-E dengan benar, maka iapun akan mendapatkan cake. Ny. sullivan memanfaatkan indra penciuman dan perasa untuk mengenalkan bawha tiap benda itu mempunyai nama dan makna. Hal ini diajarkan pada Hellen terus menerus, hingga Hellen sudah mengetahui banyak sekali nama-nama benda yang ada disekitarnya, tapi ia belum tahu bahwa tiap kata itu memiliki makna. Dalam proses belajar membutuhkan waktu dan tempat yang khusus, maka dalam hal ini Ny. Sullivan memilih untuk berdua saja dengan Helen dalam satu tempat. Agar tidak ada campur tangan dari orang lain yang akan mempengaruhi proses belajarnya. Dalam tempat pengasingannya, Helen mengalami kemajuan yang luar biasa. Ia mempunyai ketrampilan menjahit, makan dengan tenang dan teratur, bahkan sudah mengetahui banyak kata-kata, walaupun ia belum tahu maknanya. Kemajuan positif dalam belajar harus selalu dijaga agar jangan sampai hasil yang baik itu menjadi hilang karena pengaruh lingkungan atau bahkan keluarganya sendiri, jika keluarganya mengajarkan cara yang salah dalam perkembangan anaknya. Hal inilah yang menjadikan Ny. Sullivan untuk selalu mendampingi muridnya Helen Keller hingga dewasa.

Suatu hari, Ny.sullivan mengajak Hellen dengan sedikit memaksanya pergi ke sebuah sumur pompa terbuka. Ny. Sullivan mulai memompakan air dan menaruh tangan Hellen dibawah keran air tersebut. Begitu air menyentuh tangan Hellen, ia mencoba untuk mengeja secara perlahan kata W-A-T-E-R' (air) melalui tangan hellen yang satunya kemudian semakin cepat. Tiba-tiba, sinyal itu dapat dimengerti oleh pikiran Hellen. Ia akhirnya tahu bahwa water (air) adalah zat dingin yang mengalir ditangannya. Setelah ia mengerti, lalu berhenti dan menyentuh tanah dan menanyakan ejaannya Berawal dari sumur tadilah, Hellen mulai mengerti bahwa setiap benda memiliki nama dan makna, dan iapun mulai mengenal apa yang ada disekelilingnya, dan mulailah ia belajar dan terus belajar.

C. PENUTUP Dari kisah Hellen dan Ny. Sullivan, kita mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga, dan yang paling utama ialah rasa syukur kita kepada tuhan yang telah memberikan kesempurnaan panca indra. Kemudian, kesabaran seorang guru yang mencurahkan semua daya dan melakukan segala upaya agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Walaupun banyak terdapat kekurangan yang ada pada anak didik, dalam kisah hellen yang buta, dan tuli. Akan tetapi dengan kesabaraan yang dimiliki oleh Ny. Sullivan dan keyakinan serta ketekunannya, ia dapat mengubah semua kekurangan menjadi keistimewaan yang belum tentu dicapai oleh orang yang normal sekalipun. Kemudian, ketegasan seorang guru juga diperlukan terhadap anak didik dan orangtuanya. Tegas bukan berarti keras. Tegas berarti mengatakan Ya jika ya dan mengatakan Tidak jika memang tidak sambil memberikan penjelasan atas setiap perkataan. Hal ini perlu dilakukan secara konsisten atau dijadikan pembiasaan agar anak dapat berpikir mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia dapat berhati-hati dalam bertindak. Dengan menerapkan hal ini, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya karena dirinya selalu diberikan penjelasan atas perbuatannya, maka nantinya ia akan terbiasa untuk berkomunikasi dan berdiskusi, sekaligus mengasah kecerdasannya dalam berpikir. Seorang pendidik haruslah selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Hal itu merupakan modal bagi seorang pendidik sehingga mampu memberikan pendidikan secara

menyeluruh dan tuntas. Sikap optimis pun sangat diperlukan oleh seorang pendidik karena dengan bersikap optimislah, pendidik dapat lebih termotivasi untuk berinovasi agar berguna bagi anak didinya . Jika Inderanya ada yang ganjil dan bukan pikirannya, dia pasti punya bahasa, bahasa lebih penting bagi pikiran dari pada cahaya mata. Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.

Daftar Pustaka :

Mangunsong, F. 2009. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: LPSP3 Fakultas Psikologi UI Mangunsong, F.2011.Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: LPSP3 Fakultas Psikologi UI Gargivlo, R.M. 2007. Special education in contemporary society. USA: Thomson Wadsworth

Diposkan oleh Reza Lidia Sari di 00:58

Tunarungu

Pengembangan Berbahasa Anak Tunarungu Dalam mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak tunarungu, kita perlu memahami perolehan bahasa yang terjadi pada anak mendengar dan juga yang terjadi pada anak tunarungu. Myklebust (1963; dalam Bunawan & Yuwati, 2000) mengemukakan bahwa pemerolehan bahasa anak yang mendengar berawal dari adanya pengalaman atau situasi bersama antara bayi dan ibunya atau orang lain yang berarti dalam lingkungan terdekatnya. Melalui pengalaman tersebut, anak belajar menghubungkan pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui pendengarannya. Proses ini merupakan dasar berkembangnya bahasa batini (inner language). Setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dengan benda atau kejadian yang dialaminya sehingga terbentuklah bahasa reseptif anak. Dengan kata lain anak memahami bicara lingkungannya (bahasa reseptif auditori). Setelah bahasa reseptif auditori agak terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui kata -kata sebagai awal kemampuan bahasa ekspretif auditoria tau berbicara, meskipun pada dasarnya perkembangan kea rah bicara muncul lebih dini lagi, yaitu dengan adanya masa meraban. Kemampuan itu semua berkembang melalui pendengarannya (auditori). Setelah anak memasuki usia sekolah, penglihatannya berperan dalam perkembangan bahasa

melalui kemampuan membaca (bahasa reseptif visual) dan menulis (bahasa ekspresif visual). Berdasarkan proses pemerolehan bahasa pada anak mendengar, Myklebust (1963) mengembangkan pola tersebut pada anak tunarungu. Ia menerapkan pencapaian perilaku 2 berbahasa yang telah dijelaskan diatas pada anak tunarungu. Berhubung pada masa itu teknologi pendengaran belum berkembang, maka anak tunarungu dipandang tidak/kurang memungkinkan memperoleh bahasa melalui visual atau taktil kinestetik, atau kombinasi keduanya. Dengan demikian tersedia tiga alternative, yaitu: isyarat, membaca, dan membaca ujaran. Myklebust menganggap media membaca ujaran merupakan pilihan yang tepat disbanding isyarat dan membaca. Dengan kemajuan teknologi pendengaran saat ini, maka sisa pendengarannya dapat dioptimalkan untuk menstimulasi anak tunarungu dalam perolehan bahasa. Apabila membaca ujaran menjadi dasar pengembangan bahasa batini anak tunarungu, kita dapat melatih anak tunarungu untuk menghubungkan pengalaman yang diperolehnya dengan gerak bibir dan mimik pembicara. Bagi anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar, dapat menghubungkannya dengan lambang bunyi bahasa (lambang auditori). Setelah itu, anak tunarungu mulai memahami hubungan antara lambang bahasa (visual & auditori) dengan benda atau kejadian sehari-hari, sehingga terbentuklah bahasa reseptif visual/auditori. Sama halnya seperti anak mendengar, kemampuan bahasa ekspresif (bicara) baru dapat dikembangkan setelah memiliki kemampuan bahasa reseptif. Selanjutnya anak tunarungu dapat mengembangkan kemampuan bahasa reseptif visual (membaca) dan bahasa ekspresif visual (menulis). Demikian perilaku bahasa verbal yang dapat terjadi pada anak tunarungu. Pada umumnya, anak tunarungu memasuki sekolah tanpa/kurang memiliki kemampuan berbahasa verbal, berbeda dengan anak mendengar yang memasuki sekolah setelah memperoleh bahasa. Oleh karena itu, dalam pendidikan anak tunarungu, proses pemerolehan bahasa anak tunarungu diberikan di sekolah melalui layanan khusus. Layanan pemerolehan bahasa tersebut menekankan pada percakapan, seperti halnya percakapan yang terjadi antara anak mendengar dengan ibunya/orang terdekatnya dalam pemerolehan bahasa, dengan memperhatikan sensori yang dapat diberikan stimulasi. Percakapan merupakan kunci perkembangan bahasa anak tunarungu (Hollingshead, 1982). Oleh karena itu, tugas guru SLB/B adalah mengantarkan anak tunarungu dari masa prabahasa menuju purnabahasa melalui percakapan dan bersifat alamiah. Berkaitan dengan hal tersebut, Van Uden telah mengembangkan metode pengembangan bahasa melalui percakapan, yang dikenal dengan Metode Maternal Reflektif (MMR). 2 Metode ini memiliki ciri bahwa percakapan itu terkait dengan kegiatan melakukan sesuatu bersama antara ibu atau orang lain dengan anak (bersifat alamiah), serta menerapkap metode tangkap dan peran ganda. Metode tangkap dan peran ganda maksudnya adalah bahwa ibu atau orang lain menangkap ungkapan anak, kemudian membahasakannya serta menanggapi ungkapan tersebut, sehingga tercipta suatu percakapan. Pengembangan Kemampuan Bicara Anak Tunarungu Pengembangan kemampuan berbicara merupakan serangkaian upaya agar anak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaanya dengan cara berbicara. Nugroho (2004) mengemukakan bahwa layanan bina-bicara memiliki tiga macam tujuan, yaitu: Di bidang pengetahuan, agar anak memiliki pengetahuan tentang: a) cara mengucapkan

seluruh bunyi bahasa Indonesia; b) cara mengucapkan kata, kelompok kata dan kalimat Bahasa Indonesia; c) mengevaluasi bicaranya sendiri, berdasarkan pengamatan visual, auditif, dan kinestetik; d) mengendalikan alat ucapnya untuk peningkatan kualitas bicara; serta e) pemilihan kata dan kelompok kata yang tepat. Di bidang keterampilan, agar anak terampil: a) mengucapkan bunyi-bunyi bahasa Indonesia; b) mengucapkan kata, kelompok kata, dan kalimat bahasa Indonesia; c) mengevaluasi bicaranya sendiri berdasarkan pengamatan visual, auditif, dan kinestetik; d) mengendalikan alat ucapnya demi perbaikan dan peningkatan mutu bicaranya; dan e) menggunakan kata-kata, kelompok kata, dan kalimat sesuai dengan gagasan dan tata bahasa yang baik dan benar. Di bidang sikap, agar anak memiliki: a) senang menggunakan cara bicara dalam mengadakan komunikasi dengan orang lain; b) senang mengadakan evaluasi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan serta berusaha meningkatkan kemampuannya. Tujuan akhir bina-bicara bagi anak tunarungu, adalah agar ia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar untuk: a) berkomunikasi di masyarakat; b) bekerja dan beritegrasi dalam kehidupan masyarakat; serta c) berkembang sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup. 2 Dalam pelaksanaanya, layanan bina bicara, meliputi: Pertama, latihan prabicara: latihan keterarahwajahan, keterarahsuaraan, dan pelemasan organ bicara. Kedua, latihan pernafasan, misalnya meniup dengan hembusan, meniup dengan letupan, menghirup serta menghembuskan nafas melalui hidung. Ketiga, latihan pembentukan suara: menyadarkan anak untuk bersuara, merasakan getaran, menirukan ucapan guru sambil merasakan getaran, melafalkan vokal bersuara, serta meraban sambil mersakan getaran. Keempat, pembentukan fonem. Kelima, penggemblengan, pembetulan, serta penyadaran irama/aksen. Keenam, pengembangan. Lebih lanjut, Nugroho (2004) mengemukakan bahwa materi yang diajarkan dalam layanan bina bicara, meliputi: meteri fonologik (fonem segmental dan suprasegmental); materi morfologik (kata dasar, kata jadian, kata ulang dan kata majemuk); materi sintaksis (kalimat berita, ajakan, perintah, larangan dan kalimat tanya); serta materi sistematik. Dalam pengembangan bicara anak tunarungu, ada beberapa metode yang didasarkan pada beberapa hal, yaitu: Pertama, berdasarkan cara menyajikan materi, metode yang dapat digunakan adalah: a. Metode global berdiferensisasi. Metode ini, disamping didasarkan pada cara menyajikan materi, juga didasarkan pada perimbangan kebahasaan. Bahasa pertama-tama nampak dalam ujaran secara totalitas. Oleh karena itu dalam mengajar atau melatih anak berbicara, dimulai dengan ujaran secara utuh (global), baru kemudian menuju ke pembentukan fonem-fonem sebagai satuan bahasa yang terkecil. b. metode analisis sintetis. Metode ini merupakan kebalikan dari metode global diferensiasi. Penyajian materi dilakukan mulai dari satuan bahasa terkecil (fonem) menuju kata dan kalimat. Kedua, berdasarkan modalitas yang dimiliki anak tunarungu, kita dapat menggunakan metode: 2

a. Metode multisensori, yaitu menggunakan seluruh sensori untuk memperoleh kesan bicara, seperti: penglihatan, pendengaran, perabaan (taktil), serta kinestetik. b. Metode suara, yang saat ini lebih dikenal dengan metode auditori verbal, yaitu metode pengajaran bicara yang lebih mengutamakan pada pemanfaatan sisa pendengaran dengan menggunakan sistem amplifikasi pendengaran. Ketiga, berdasarkan fonetika, metode yang dapat digunakan dalam pengajaran bicara, adalah: a. Metode yang bertitik tolak pada fonetik, yaitu didasarkan pada mudah sukarnya bunyi-bunyi menurut ilmu fonetik, dan dianggap sama bagi semua anak. Bunyi bahasa yang diajarkan dimulai dari deretan bunyi paling depan/muka di mulut, karena bunyi-bunyi tersebut paling mudah dilihat dan ditiru, yaitu kelompok konsonan bilabial (p, b, m dan w). Setelah konsonan bilabial dikuasai, dilanjutkan pada konsonan dental (l, r, t, d dan n), kemudian konsonan velar (k,g dan ng), dan selanjutnya konsonan palatal (c, j, ny, y dan s). b. Metode tangkap dan peran ganda, yaitu metode yang menuntut kepekaan guru menangkap fonem yang diucapkan anak secara spontan, yang merupakan titik tolak untuk dikembangkan kedalam kata, kelompok kata, dan kalimat. Metode ini didasarkan pada fonem yang paling mudah bagi tiap-tiap anak (prinsip individualitas). Untuk keefektifan pelaksaan pelatihan bicara anak tunarungu, dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana, antara lain: a) Alat-alat stimulasi visual: cermin, gambar-gambar, kartu identifikasi, pias kata dan sebagainya. b) Alat-alat stimulasi auditoris: speech trainer, alat bantu dengar baik klasikal maupun individual dan sebagainya. c) Alat-alat untuk stimulasi vibrasi: vibrator dan sikat getar. d) Alat-alat latihan pernafasan: lilin, kapas, minyak kayu putih, gelembung air sabun, peluit, terompet, harmonika, saluran kayu dengan bola pingpong dan sebagainya. e) Alat-alat untuk pelemasan organ bicara: permen bertangkai, madu dan sebagainya. Layanan bina bicara dapat diberikan kepada anak tunarungu secara individual maupun klasikal. Layanan secara individual diberikan di ruang khusus (ruang bina bicara), dengan lama latihan antara 20-25 menit setiap kali pertemuan. Layanan bina bicara secara klasikal diadakan menjelang percakapan dari hati ke hati melalui latihan mendengar dan bicara secara terpadu. Disamping kedua pendekatan tersebut, bina bicara dapat diberikan secara nonformal, yang artinya layanan bicara berupa pembetulan ucapan yang salah (speech correction) diberikan kapan saja, demana saja, kepada siapa saja dan oleh siapa

PENGERTIAN DAN SUMBER TUGAS TUGAS PERKEMBANGAN Robert Havighurst melalui perspektif psikologisnya berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menentukan tugas tugas perkembangan yang khusus. Tugas tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Selanjutnya Havighurst (1961) mengartikan tugas tugas perkembangan itu sebagai berikut : A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by society, and difficulty with later task. Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, apabila tugas itu dapat menentukan tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan kesulitan dalam menentukan tugas tugas berikutnya. Yang menjadi sumber dari tugas-tugas perkembangan menurut Havighurst adalah sebagai berikut : 1. Adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu 2. Tuntutan masyarakat secara kultural 3. Tuntutan dari dorongan dan cita cita individu sendiri 4. Tuntutan norma agama

Hellen keller : 1. Perkembangan wicara 2. Perkembangan emosional 3. Belum bisa memenuhi tugas perkembangan (menurut Havighurst)

1. Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Periode kanak-kanak (umur 3-5 tahun), yaitu usia pra sekolah sebagai periode peralihan dari masa bayi keusia anak sekolah sebelum anak masuk sekolah, jiwanya telah matang untuk sekolah, yaitu matang karena dipersiapkan di taman kanak-kanak atau TPA, dan jenis-jenis pendidikan anak pra sekolah lainnya. Kohnstamm meyebut periode ini dengan periode estetis, yang berarti keindahan. Ciri dari periode masa kanak-kanak ialah: 1) Perkembangan emosi kegembiraan hidup 2) Kebebasan 3) Fantasi.

Ketiga ciri tersebut, dapat berkembang dengan berbagai bentuk ekspresi seperti; permainan, dongeng, nyanyian dan menggambar itulah sebabnya, empat kegiatan tersebut sering dijadikan isi materi kurikulum di TK. Tugas perkembangan masa kanak-kanak: 1. Menguasai kemampuan fisik dasar untuk bermain 2. Bisa bermain dengan teman sebaya 3. Membentuk sikap positif terhadap diri sendiri 4. Mempelajari peran gender yang sesuai 5. Mengembangkan kemampuan dasar dalam membaca, menghitung, dan menulis 6. Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan sistem nilai 7. Memiliki kemandirian dasar dalam kegiatan sehari-hari 8. Mengembangkan sikap yang tepat terhadap kelompok sosial tertentu

2. Tugas Perkembangan Masa Anak Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembagan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsepkonsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk. Sedangkan menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anakanak adalah sebagai berikut: a) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum. b) Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh. c) Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya d) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat e) Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung f) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari g) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga i) Mencapai kebebasan pribadi.

4. Nn. Sullivan melatih stimulasi intervensi pada Helen Keller melalui pendekatan Naturalistic 5. Parenting yang buruk indulgent parenting 6. Perkembangan kognitif scaffolding 7.