Anda di halaman 1dari 8

TERAPI INSULIN PADA DIABETES MELITUS

1 1 2

Roro Widiastuti, 2Suzanna Ndraha

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jakarta Barat, Indonesia

Departemen Ilmu Penyakit Dalam, RSUD Koja, Jakarta Utara, Indonesia.

Abstract Insulin is a hormone which contains of amino-acid polymerase chain. Insulin is produced by pancreatic beta cell.1 Insulin takes main role in some biological process in the body, especially with carbohydrate metabolism. This hormone involve in glucose-utilization process in almost all body tissue.1 There are some types of insulin, which are rapid acting, short acting, intermediate acting, long acting and pre-mix. Insulin is given by subcutaneous injection. But, in particular condition, insulin can be given by intramuscular or intravenous injection or by drip. Main side effect of insulin is hypoglycemia Keyword : Insulin, rapid acting, hypoglicemia Abstrak Insulin merupakan hormone yang terdiri dari rangkaian asam amino yang dihasilkan oleh sel beta pankreas.1 Insulin berperan penting pada berbagai proses biologis dalam tubuh tertutama menyangkut metabolisme karbohidrat. Hormone ini berfungsi dalam proses utilisasi glukosa pada hampir seluruh jaringan tubuh. 1 Terdapat berbagai macam insulin, diantaranya rapid acting, short acting, intermediate acting, long acting, dan pre-mix. Dosis pemberian tergantung pada keadaan gula darah pasien. Insulin umumnya diberikan secara subkutan, pada keadaan tertentu dapat diberikan secara intravena maupun intramuscular. Efek samping utama terapi insulin adalah hipoglikemi. Kata Kunci : Insulin, rapid acting, hipoglikemi Pendahuluan Dengan meningkatnya pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup seseorang, dari segi pola makan, olahraga, penurunan aktivitas fisik, terutama di kota-kota besar menyebabkan prevalensi penyakit seperti diabetes meningkat. Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau dua-duanya.1 Hiperglikemia kronik pada diabetes

berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, jantung, pembuluh darah, ginjal serta saraf. Insulin merupakan terapi yang diperlukan pada keadaan hiperglikemia berat yang disertai ketosis, ketoasidosis diabetik, hiperglikemia hiperosmolar non ketotik, gagal kombinasi OHO dosis hampir maksimal, keadaan stres berat, DM dengan keadaan kontra indikasi atau alergi OHO. Efek samping insulin sangat minimal, oleh karena itu pada review ini, pembahasan akan dititikberatkan pada terapi insulin. Definisi Insulin merupakan suatu hormone di dalam tubuh manusia yang terdiri rangkaian asam amino, dihasilkan oleh sel beta pankreas.1 Dalam keadaan normal, bila ada rangsangan pada sel beta, insulin disintesis dan kemudian disekresikan ke dalam darah sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk keperluan regulasi glukosa darah. Sedangkan pada keadaan seperti diabetes mellitus tipe 1 mutlak terjadi defisiensi insulin, dan diabetes tipe 2 terjadi gangguan disfungsi sel beta dan resistensi insulin. Fisiologi Sekresi Insulin Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada reticulum endoplasma sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin mengalami pemecahan sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam gelembunggelembung (secretory vesicles) dalam sel tersebut. Dengan bantuan enzim peptidase, proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C (C-peptide) yang keduanya akan disekresikan secara bersamaan melalui membran sel. Kadar glukosa darah yang meningkat merupakan komponen utama yang member rangsangan pada sel beta untuk memproduksi insulin.1 Ada beberapa tahapan dalam proses sekresi insulin, setelah molekul glukosa memberikan rangsangan pada sel beta, pertama proses untuk melewati membrane sel dibutuhkan senyawa lain yaitu Glucose Transporter (GLUT), merupakan asam amino yang terdapat di dalam berbagai sel yang berperan terhadap metabolisme glukosa. Fungsinya sebagai pengangkut glukosa dari luar masuk kedalam sel. Selanjutnya di dalam sel, molekul glukosa tersebut dapat mengalami proses glikolisis dan fosforilasi yang akan membebaskan molekul ATP. Molekul ATP tersebut dibutuhkan untuk mengaktifkan proses penutupan Kchannel yang terdapat dalam membran sel. Terhambatnya pengeluaran ion K dari dalam sel menyebabkan depolarisasi dari membran sel, yang diikuti proses pembukaan Ca channel,

kemudian dengan masuknya ion Ca tersebut meningkatkan kadar ion Ca intrasel, sehingga terjadi pengeluaran insulin dari sel beta.1 Dalam keadaan fisiologis, insulin disekresikan sesuai dengan kebutuhan tubuh normal oleh sel beta dalam dua fase, yaitu sekresi fase 1 (acute insulin secretion responce =AIR) adalah sekresi insulin yang terjadi segera setalah ada rangsangan terhadap sel beta, muncul cepat dan berakhir cepat.1 Sekresi fase I mempunyai puncak yang relatif tinggi, karena hal itu memang diperlukan untuk mengantipasi glukosa darah yang meningkat tajam segera setelah makan. Kinerja AIR yang baik amat penting untuk menentukan terjadinya peningkatan kadar glukosa darah pascaprandial. Selanjutnya setelah sekresi fase 1 berakhir, muncul sekresi fase 2 dimana sekresi insulin kembali meningkat secara perlahan dan bertahan dalam waktu relatif lebih lama, puncaknya akan ditentukan sesuai kadar glukosa darah pada fase 1. Sekresi insulin fase 2 merupakan penyesuaian sekresi insulin pada fase 1. Cara kerja Insulin Insulin berfungsi dalam proses utilisasi glukosa pada hampir seluruh jaringan tubuh, terutama pada otot, lemak, dan hepar. Pada jaringan perifer seperti jaringan otot dan lemak, insulin berikatan dengan sejenis reseptor (insulin reseptor substrate = IRS) yang terdapat pada membran sel. Ikatan antara reseptor dan insulin akan menghasilkan semacam signal yang berguna bagi proses regulasi atau metabolisme glukosa didalam sel otot dan lemak, dengan mekanisme yang belum begitu jelas. Beberapa hal telah diketahui, diantaranya meningkatkan kuantitas GLUT-4 (Glucose Transporter-4) pada membran sel, maka terjadi penyerapan otot rangka dan lemak.2 Pada peninggian kadar glukosa darah puasa, lebih ditentukan oleh peningkatan produksi glukosa endogen yang berasal dari proses glukoneogenesis dan glikogenolisis di jaringan hepar. Dalam hal ini, insulin berperan melalui efek inhibisi hormone tersebut terhadap mekanisme produksi glukosa endogen secara berlebihan. Jenis jenis insulin Terdapat berbagai macam insulin yang dapat digunakan sesuai keadaan pasien Diabetes Melitus, diantaranya rapid acting, short acting, intermediate acting, long acting, dan pre-mix.3 Masing masing jenis insulin mempunyai onset (waktu sebelum insulin mencapai aliran darah dan mulai menurunkan glukosa darah), puncak (periode waktu dimana insulin

bekerja paling efektif dalam menurunkan gula darah), dan durasi (berapa lama insulin dapat bekerja untuk menurunkan glukosa darah), terdapat pada tabel dibawah ini : Tabel 1. Jenis insulin (dikutip dari4) Tipe insulin Rapid acting Humalog atau lispro Novolog atau aspart Apidra atau glulisine 15-30 menit 10-20 menit 20-30 menit 30-90 menit 40-50 menit 30-90 menit 3-5 jam 3-5 jam Onset Puncak Durasi

Tabel

2.

Jenis

Insulin(dikutip dari4)

Tipe insulin Short acting Regular (R) Humulin Or novolin Velosulin

Onset

Puncak

Durasi

30 mnt-1 jam

2-5 jam

5-8 jam

30 mnt- 1 jam

2-3jam

2-3 jam

Tabel 3. Jenis Insulin (dikutip dari4)

Tipe Insulin Intermediate acting NPH (N) Lente (L)

Onset

puncak

Durasi

1-2 jam 1- 2 jam

4-12 jam 2- 10 jam

18-24 jam 18-24 jam

Tabel 4. Jenis Insulin (dikutip dari4) Tipe Insulin Long acting Ultralente Lantus 30 menit- 3 jam 1- 1 jam 1-2 jam 10-20 jam tidak ada waktu puncak 6-8 jam 20-36 jam 20-24 jam sampai 24 jam Onset Puncak Durasi

Levemir atau detemir

Tabel 5. Jenis Insulin (dikutip dari4) Tipe Insulin Pre mixed Humulin 70/30 30 mnt 2-4 jam 14-24 jam Onset Puncak Durasi

Novolin 70/30 Novolog Humulin 50/50 Humalogmix 75/25

30 menit 10-20 menit 30 menit 15 menit

2-12 jam 1-4 jam 2-5 jam 30 mnt 2 jam

sampai 24 jam sampai 24 jam 18-24 jam 16- 20 jam

Dosis Pemberian Dosis insulin diberikan sesuai kadar glukosa dalam darah, dalam setiap kasus berbeda. Contoh pemberian insulin pada keadaan ketoasidosis diabetikum berbeda dengan kasus DM tanpa KAD. Dosis insulin awal untuk pembesaran dihitung sebagai 0,15 unit per kg per day.15, 41 Perhitungan aman lainnya adalah unit insulin per hari sama dengan tingkat glukosa plasma puasa di mmol per L. Sebagai contoh, pasien dengan kadar glukosa plasma puasa 250 mg per dL (13,9 mmol per L) akan diberikan 14 unit insulin setiap hari.41 Dosis awal untuk terapi penggantian adalah 0,5 unit per kg per hari. Dua kali lipat menjadi empat kali lipat dosis yang lebih tinggi sering diperlukan untuk pasien dengan insulin resistance. 15 Tidak ada batasan untuk jumlah insulin yang dapat digunakan dengan aman. U-500 (500 unit per 1 mL) insulin reguler tersedia untuk digunakan pada pasien yang memerlukan sejumlah besar insulin. Volume lebih dari 0,5 mL (50 unit dari U-100 insulin) harus dipecah dan disuntikkan di daerah terpisah untuk memfasilitasi penyerapan. Cara pemberian Insulin pada umumnya diberikan dengan suntikan dibawah kulit (subkutan), dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap permukaan kulit. Pada keadaan tertentu dapat diberikan secara intramuscular atau intravena secara bolus atau drip.3 Efek samping Efek samping yang paling serius dari terapi insulin adalah hipoglikemia, tetapi frekuensi dan keparahan efek ini kurang pada diabetes tipe 2 dibandingkan pada diabetes tipe 1. Dalam United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS),13 hipoglikemia besar terjadi pada 2,3 persen pasien per tahun yang diobati dengan insulin dibandingkan dengan tingkat 0,1 sampai 0,4 persen pada mereka yang melakukan diet atau terapi sulfonilurea. Risiko hipoglikemia meningkat secara signifikan ketika tingkat A1C di bawah 7,4 percent. 25

risiko Hipoglikemia dapat diminimalkan dengan penggunaan insulin analog; waktu-hati suntikan, makanan, dan olahraga; sering pemantauan diri kadar glukosa darah, dan pendidikan pasien tentang penyesuaian diri dari dosis insulin dan manajemen dari hipoglikemia. Kesimpulan Insulin merupakan suatu hormone di dalam tubuh manusia yang terdiri rangkaian asam amino, dihasilkan oleh sel beta pancreas. Insulin dapat digunakan pada pasien DM tipe 1 maupun tipe 2, dan pada keadaan hiperglikemia berat yang disertai ketosis, ketoasidosis diabetik, hiperglikemia hiperosmolar non ketotik, gagal kombinasi OHO dosis hampir maksimal, keadaan stres berat, DM dengan keadaan kontra indikasi atau alergi OHO. Jenis jenis insulin diantaranya rapid acting, short acting, intermediate acting, long acting, dan premix. Efek samping insulin hanya sedikit, efek samping utama yang ditimbulkan adalah hipoglikemi. Namun efek samping tersebut dapat dihindari dengan mengatur pola makan, gaya hidup pasien, pemantauan kadar glukosa darah. DAFTAR PUSTAKA 1. Manaf A. Mekanisme sekresi dan Aspek metabolisme insulin. Dalam Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4.Jilid 1.Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2006.hlm.1868-1869.

2. Powers A C. Diabetes Mellitus. In: Longo DL, Kasper DL, Jameson JL et al (editor).
Harrisons Principles of internal medicine.18th ed.vol 2. New York:Mc Graw Hill;2008.p.2154-2155.

3. International Diabetes Federation. IDF Clinical Guidelines Task Force. Global guideline
for type 2 Diabetes. Brussels. 2005.

4. American Diabetes Association. Medical Management of type 2 Diabetes. ADA Clinical


Series. American Diabetes Association.1998.

5. Skyler JS. Insulin therapy in type 2 diabetes mellitus. In: DeFronzo RA, ed. Current therapy of diabetes mellitus. St. Louis: Mosby, 1998:10816. 6. Yki-Jrvinen H. Combination therapies with insulin in type 2 diabetes. Diabetes Care. 2001;24:758-67. 7. Intensive blood-glucose control with sulphonylureas or insulin compared with conventional treatment and risk of complications in patients with type 2 diabetes

(UKPDS 33) [published correction appears in Lancet 1999;354:602]. Lancet. 1998;352:837-53. 8. Yki-Jrvinen H, Ryysy L, Nikkila K, Tulokas T, Vanamo R, Heikkil M. Comparison of bedtime insulin regimens in patients with type 2 diabetes mellitus. A randomized, controlled trial. Ann Intern Med. 1999;130:389-96.