Anda di halaman 1dari 589

Hitam Gelap gulita Pekat membayang mata. Tempat apa ini? batinnya pada diri sendiri.

Dimana ku berada mengapa bisa ada disini? Samar terbayang beberapa raut wajah, melintas perlahan lalu buyar dari ingatannya. Wajahwajah yang sepertinya sudah pernah ia kenal namun sekaligus terasa asing baginya. Siapa mereka? Kalau memang kenal, mengapa tak tahu nama? Segala daya ingatan sudah digalinya dalam-dalam tapi seribu pertanyaan yang menggantung tiada kunjung terjawab, bahkan makin lama makin banyak pertanyaan baru bermunculan dibenaknya. Pertanyaan yang tak mampu dijawabnya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Ia lelah lahir batin. Dipejamkan matanya sejenak. Pun akhirnya terlelap. ******* Ketika sadar kembali, kegelapan masih melingkupi walau pun tidak segelap sebelumnya. Cahaya matahari samar-samar menerobos dari beberapa celah bebatuan jauh diatas kepalanya, paling tidak ada puluhan tombak jauhnya. Cahaya sang surya yang buram dan samar hanya sanggup menyinari hingga pertengahan gua saja, tak mampu menembus hingga ke dasar tempatnya berada. Terasa hawa panas menyengat tubuhnya, sepertinya ia terendam dalam lumpur yang baunya sangit menusuk hidung. Dicobanya untuk bangkit dan duduk. Ternyata benar, ia entah sejak kapan berbaring didalam lumpur tersebut. Sejauh matanya dapat memandang, hanya genangan lumpur yang terlihat. Dibeberapa bagian, lumpur tampak menggelegak mengeluarkan gelembung yang berisi uap belerang. Entah berapa luas tempat ini. Dipandangnya dengan seksama daerah disekelilingnya, yang tampak cuma lumpur, lumpur dan lumpur. Namun disisi belakangnya, kira-kira dua tombak jauhnya, ternyata tumbuh bergerombol dengan subur sejenis tanaman perdu yang tak dikenalnya. Berhubung perutnya perih kelaparan. Dicobanya menyeret tubuhnya ke rumpun tumbuhan tersebut. Mungkin bisa kumakan. Pikirnya. Walau pun seluruh anggota tubuhnya kesakitan dan sulit diajak kerja sama, namun dengan mengerahkan seluruh kemauannya, setapak demi setapak, sampai juga ia disana. Rumpun tersebut ternyata tumbuh pada dinding karang yang tegak menjulang ke atas, entah berapa tingginya. Sebagian akarnya masuk ke dalam lumpur dibawahnya dan jika dilihat sekilas, bentuknya mirip rumpun bunga kebanyakan. Yang aneh hanyalah daunnya persegi, warnanya

hitam dengan tulang daun berwarna merah kebiruan. Ada sekitar lima sampai enam rumpun yang tumbuh bergerombol didinding karang. Anehnya lagi, setiap rumpun hanya mempunyai sekuntum bunga saja, warnanya putih menyala, sangat kontras dengan warna daunnya. Bungabunga tersebut belumlah mekar, masih menguncup. Sungguh seumur hidup ia belum pernah melihat tumbuhan yang seperti ini. Rasa lapar tak tertahankan lagi. Tanpa pikir panjang dipetiknya selembar daun tumbuhan tersebut lalu dimakannya. Rasanya getir dan agak asam serta menimbulkan hawa dingin yang menggigit dalam mulutnya. Tanpa sadar giginya telah beradu satu sama lain bagaikan seseorang yang sedang menderita kedinginan yang hebat. Namun dipaksakannya untuk terus mengunyah, lalu ditelan, Saat ditelan, rasa dingin makin hebat mendera tubuhnya. Tubuhnya tak mampu digerakkan lagi seolah darah dan dagingnya telah membeku. Daun ini beracun. Pikirnya, sadar kalau daun yang dimakannya ternyata beracun. Seiring dengan munculnya pikiran tersebut, kesadarannya pun makin menghilang, kegelapan kembali melingkupi. Ia pingsan tak sadarkan diri ******* Suara mencicit tinggi dan nyaris tak terdengar telinga menggugah kesadarannya. Matanya tetap terpejam walau pun sudah siuman. Dicobanya mengingat segala apa yang terjadi. Tubuhnya masih berada dalam genangan lumpur namun rasa lapar yang mendera perut telah lenyap. Walau masih kedinginan namun hawa panas yang ditimbulkan genangan lumpur membuatnya merasa nyaman. Rupanya hawa dingin yang diakibatkan daun tersebut berkurang banyak jika berendam didalam lumpur itu. Ia tidak tahu kalau daun yang dimakannya barusan merupakan salah satu jenis tumbuhan paling langka dan jarang terdapat didunia. Kaum bulim (dunia persilatan) menyebut tumbuhan ini dengan nama Pohon dewa neraka dewa salju, konon jika dimakan khasiatnya mampu memperkuat tulang dan otot serta menambah sinkang (tenaga sakti). Jika seorang awam memakannya, sinkangnya akan meningkat hingga setara dengan jago bulim kelas satu saat ini. Hanya segelintir orang yang tahu kalau pohon dewa neraka dewa salju terdiri dari dua bagian yang berlawanan. Kalau daunnya mengandung racun dingin yang membekukan tulang dan darah, maka bunganya mengandung racun panas yang menghanguskan. Jika seseorang tidak makan daun dan bunganya sekaligus, ia pasti mati, tak sanggup menahan hebatnya hawa dingin atau panas yang menyerang. Oleh karena itulah keduanya harus dimakan bersamaan, sebab dengan begitu racun panas dari bunga akan menawarkan racun dingin pada daun.

Hanya orang yang tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan sajalah yang sanggup memakannya dan tetap hidup. Selama lima ratus tahun terakhir, hanya ada dua orang yang tetap hidup setelah memakan salah satu bagian pohon dewa neraka dewa salju. Orang pertama adalah Ang-Sian (Dewa merah) Tong Si Lung yang memakan bunga dari Pohon dewa neraka dewa salju. Ia terkenal sebagai seorang tokoh manusia dewa yang menguasai Yang-Kang (tenaga panas) hingga mencapai taraf tidak terukur lagi saking sempurnanya. Konon ia sanggup mencairkan puncak-puncak pegunungan Tang-La yang bersalju dengan hawa pukulannya. Ang-Sian Tong Si Lung hidup hingga mencapai usia seratus tujuh puluh tahun, lalu menghilang dari bulim. Orang kedua adalah Swat-Sian (Dewa salju) Lie bing. Ia memakan daun dari pohon dewa tersebut dan tetap hidup. Berbeda dengan Ang-Sian Tong Si Lung, Lie Bing memiliki tenaga ImKang (Tenaga dingin) yang telah mencapai puncak kesempurnaannya. Konon ia pernah menyeberang dari sebuah pulau kosong ke daratan besar dengan cara membekukan permukaan air laut dengan hawa pukulannya, hingga terbentuk jalan dari pulau kosong tersebut ke pantai didaratan besar.. Selain kedua tokoh manusia dewa tersebut, belum pernah ada seorang pun yang tetap hidup setelah memakan salah satu bagian dari Pohon dewa neraka dewa salju. Lalu bagaimana mungkin seorang seorang bocah kecil dapat tetap hidup setelah memakan daun yang luar biasa dinginnya itu? Padahal seorang jago silat kelas satu pun tiada dapat bertahan. Masakan si bocah yang baru berusia sembilan tahun itu sudah memiliki sinkang sejati? Thian (Tuhan) memang Maha Baik. Perkara yang tidak mungkin bagi manusia adalah mungkin bagi-Nya. Saat tubuh si bocah mulai membeku dan pingsan, secara kebetulan ia terjatuh ke genangan lumpur, lumpur panas mengandung belerang. Panas dari lumpur tersebutlah yang membuat tubuhnya tidak membeku, sekaligus mengusir hawa dingin yang menyerangnya. Nyawanya selamat berkat adanya genangan lumpur itu. Suara mencicit menusuk telinga terdengar kembali bercampur dengan suara gemuruh, seperti suara kebasan sayap burung. Jauh diatas sana, tampak suatu kumpulan awan hitam berhamburan memenuhi celah bebatuan. Kadang ke kiri, kadang ke kanan, kadang bergerombol lalu sesaat kemudian seperti pecah berantakan. Ditajamkan pandangannya menyelidik, rupanya cuma serombongan kelelawar yang berebutan keluar melalui celah batu diatas sana. Aku masih hidup. Batinnya senang. Tubuhnya terasa sangat ringan dan bertenaga walau masih kedinginan. Terasa seperti ada aliran hawa yang bergerak-gerak, berpusaran menyebar disekujur tubuhnya. Menimbulkan suatu perasaan ganjil. Seolah tubuhnya disusupi air yang mengalir tanpa henti menembus setiap bagian tubuhnya. Dingin dan menggelisahkan hati.

Telinganya menjadi sedemikian tajam hingga mampu menangkap berbagai suara yang ada disekitarnya dengan sangat jelas. Pun otaknya bertambah jernih dan terang. Seolah dalam sekejap kecerdasannya meningkat berkali lipat dari sebelumnya. Demikian juga matanya. Walau kepekatan menyelimutinya, namun terasa segala apa dapat dilihatnya. Mata orang normal dikegelapan seperti itu, takkan mampu melihat jari tangannya sendiri. Namun ia dapat melihat segalanya dengan jelas seperti orang yang melihat di bawah cahaya lilin, samar tapi tampak. Itulah khasiat daun Pohon dewa neraka dewa salju. Hawa dingin yang maha dahsyat telah masuk menembus ke tujuh puluh dua jalan darah ditubuhnya, membobol semua penghalang yang merintangi hingga membuatnya mencapai taraf yang belum tentu mampu diraih oleh tokoh-tokoh sakti dibulim seumur hidup mereka. Sebab untuk mampu mengerahkan sinkang menembus ke 72 jalan darah merupakan suatu hal yang maha sulit. Untuk menembus jalan darah umum saja, jika salah berlatih, dapat mengakibatkan kelumpuhan. Apalagi pada jaringan jalan darah otak, dapat dibayangkan tingkat kesulitannya. Seperti mencari jarum didasar laut.. hampir mustahil. Seseorang haruslah mempunyai Lwee-kang (tenaga dalam) sempurna untuk dapat menjebol titik simpul saraf yang menghalangi aliran tenaga murni pada jaringan saraf halus otak. Sekali salah melangkah, kalau tidak mati pastilah gila. Cara kedua, menembus aliran jalan darah dengan bantuan seseorang yang mengalirkan sinkangnya, membantu menembus aliran jalan darah orang tersebut. Namun hal ini pun tidaklah mudah, sebab orang yang membantu harus mempunyai tenaga dalam sempurna, serta sanggup membimbing hawa murni orang yang ditolongnya. Dengan kata lain sinkang penolong dan yang ditolong haruslah sejenis, jika tidak tenaga keduanya malah akan saling bertabrakan. Itu sebabnya tenaganya sekarang bisa dikatakan telah setara dengan pendekar bulim kelas satu, pun panca inderanya bertambah kuat sepuluh kali lipat dari sebelumnya. Hanya saja ia masih terlalu kecil untuk menyadari keberuntungannya itu. Ia cuma tahu bahwa ia telah keracunan namun entah bagaimana masih tetap hidup, belumlah mati. Namun karena selama ini belum pernah berlatih ilmu lweekang tertentu, maka sinkang yang mengalir ditubuhnya tidak dapat dikendalikanya, apalagi dimanfaatkan. Sinkang tersebut terus berputaran disekujur tubuhnya membuatnya jadi gelisah sendiri. Ada baiknya juga si bocah belum pernah berlatih sinkang, tubuhnya yang masih kosong mampu menerima tenaga yang mengalir dalam tubuhnya. Seandainya sudah pernah berlatih, niscaya ia akan celaka sebab sinkangnya pastilah bertabrakan dengan sinkang yang baru diperolehnya.

Mengapa sinkang sedahsyat ini tidak menghancurkan organ tubuh dan jaringan sarafnya yang tak terlatih? Seharusnya tubuh si bocah pecah berantakan, paling tidak cacat. Entahlah Mungkin lumpur panas itu juga yang telah menyelamatkan jiwanya dari kematian. Sebab saat pingsan, seluruh tubuhnya terendam didalam lumpur, hanya sebagian wajah dan hidungnya saja yang tetap diatas lumpur. Hawa panas dan tekanan lumpur bercampur belerang itulah yang telah membantu menahan dahsyatnya sinkang dingin ditubuhnya. Setelah sekian waktu selama pingsan, tubuhnya telah dapat menyesuaikan dengan daya tekanan sinkang dingin dalam tubuh dan tekanan lumpur dari luar. Hal ini yang menyebabkan tubuhnya tidak mengalami cedera malah bertambah kuat, suatu hal yang tidak disadarinya. Satu hal yang pasti Thian masih menghendaki ia hidup. Tempat apa ini? Kok bisa ada disini? pikirnya sesaat. Sebaiknya ku berkeliling, siapa tahu ada orangnya. Ia lalu bangkit berdiri. Namun seketika itu juga terasa hawa yang sangat dingin menyerang bagian tubuhnya, bagian tubuh yang tidak bersentuhan dengan lumpur. Dengan mengeraskan hati, diayunkan kakinya melangkah walau rasa dingin yang menyerangnya nyaris tak tertahankan. Lumpur ditempatnya berdiri tingginya mencapai pertengahan tulang keringnya, namun semakin ia ke tengah semakin menurun. Kelihatannya genangan lumpur disitu mirip dengan danau, makin ke tengah makin dalam. Terseok ia melangkah, ketinggian lumpur ditempatnya sekarang telah mencapai lutut. Bau belerang tak pernah berhenti menusuk hidungnya. Sebentar tercium, saat berikutnya hilang sementara angin terasa bertiup ditempat itu. Adanya angin yang berhembus, entah dari mana datangnya ternyata sanggup membuyarkan hawa belerang yang tersiar. Namun karena uap belerang terus menerus naik dari dalam lumpur disekitarnya, maka bau itu tetap saja tercium, bergantian dengan udara segar yang tertiup angin. Untunglah angin terus menerus berhembus sehingga ia masih dapat bernafas walau kepayahan. Setelah tiga kali melangkah, ia tak sanggup lagi. Tubuhnya telah menggigil dengan hebatnya, giginya berkeriut mengalahkan suara lumpur yang menggelegak disekitarnya. Wajahnya memucat, putih bak salju yang baru turun ke bumi. Pasrah, dibiarkan tubuhnya terhempas ke genangan lumpur. Anehnya, disaat lumpur melingkupi dirinya, rasa dingin yang menggigit tulang langsung lenyap berganti rasa nyaman yang menyegarkan. Ia jadi melongo keheranan. Apa Apa yang terjadi? batinnya kebingungan.

Dicobanya mengangkat tangan kanannya keluar dari genangan lumpur, begitu tangannya keluar dari lumpur, seketika itu juga tangannya terasa ngilu terserang hawa yang maha dingin. Tapi ketika tangannya telah masuk kembali ke dalam lumpur, rasa dingin pun sirna. Walau cuma seorang bocah kecil, namun otaknya yang jenius mulai dapat menduga apa yang terjadi pada dirinya. Kelihatannya daun beracun itu yang menyebabkan tubuhku kedinginan dan sepertinya cuma lumpur ini yang dapat menghilangkan rasa dingin dibadan. Pikirnya. Tapi kalau harus seumur hidup berendam disini sampai disini ia jadi bingung sendiri. Biarlah, besok baru ku pikirkan lagi. Dasar masih bocah, selama masih bisa bermain, segala hal yang lainnya tidaklah menjadi persoalan. Demikianlah ia, seorang bocah berumur sembilan tahun, merangkak dan berenang mengelilingi danau lumpur tersebut. Dalam penjelajahannya, ditemukannya selain ia tak ada lagi orang lain yang tinggal disitu. Tempat itu ternyata sebuah ruangan yang luas di dalam perut bumi. Luas ruangan goa itu ditaksirnya paling tidak ada ratusan tombak dan berbentuk nyaris seperti kubah. Sementara dinding goanya sendiri tegak lurus ke atas dan tidaklah mungkin untuk didaki. Cahaya matahari tampak masuk dari beberapa celah bebatuan jauh diatas kepalanya, paling tidak ada lima puluh tombak jauhnya dari permukaan danau lumpur. Seluruh dasar goa digenangi lumpur panas, tiada tanah kering barang sejengkal pun. Ketinggian lumpur pun berbeda. Tempat didepan tumbuhnya daun dewa termasuk tempat yang dangkal, cuma sebatas tulang kering dalamnya. Ada sebagian tempat tak mampu ia arungi. Sebab lumpur ditempat-tempat itu panas membara, permukaannya pun menggelegak, mengeluarkan gelembung-gelembung gas yang membuat pusing dan mual kalau terhirup. Tampaknya panas yang jauh diperut bumi keluar melalui danau lumpur ini. Udara didalam goa tajam menyengat hidung. Hanya sekitar tumbuhan dewa yang udaranya tidak terlalu menusuk hidungnya. Apalagi cuma disekitar situ sajalah angin berhembus. Entah darimana datangnya. Namun yang pasti setiap hembusan angin membawa udara segar, dan ditempat yang penuh berisi hawa beracun seperti ini, udara segar berarti kehidupan. Setelah seharian berkeliling, ia sadar kalau dirinya cuma seorang diri dan entah bagaimana bisa terdampar di tempat itu. Jangankan pintu keluar, lobang tikus pun tak berhasil ditemukannya. Walaupun ia tabah dan pemberani, tak urung ciut juga nyalinya. Ia sadar, kesempatannya untuk bertahan hidup sangat kecil. Terkurung disuatu tempat yang penuh dengan hawa beracun, setiap saat nyawanya bisa melayang. Dan seolah pencobaan yang dialaminya masih kurang banyak, masih ditambah lagi dengan ketiadaannya tanah kering ditempat itu, sejengkalpun tidak. Masakan ia harus selamanya berkubang dalam lumpur?

Seperti kerbau saja. Dengusnya jengkel. Kerbau pun sewaktu-waktu masih naik ke tanah kering, tidak seharian berkubang dalam lumpur, apalagi untuk selamanya. Belum lagi kegelapan selalu melingkupi dan hal ini sungguh membuat gusar dirinya. Tak mampu ia menyelidiki keadaan goa tersebut lebih seksama. Ditambah lagi ditempat itu tidak terdapat sesuatu yang bisa dimakannya, apalagi air untuk diminum... Tempat itu hanya lumpur melulu dikelilingi dinding karang, tak ada air segar yang bisa diminum. Ia tahu bahwa tanpa air minum, hidupnya cuma akan bertahan paling lama tiga hari saja. Tempat itu pantas disebut neraka, benar-benar neraka bumi. Berpikir soal makanan, ia baru teringat entah sudah berapa lama ia tidak makan dan minum, paling tidak sudah lewat satu hari satu malam. Sebab ia tahu jika cahaya matahari menyorot dari celah bebatuan diatap goa berarti hari sedang siang dan jika cahaya matahari tidak tampak, berarti hari malam. Namun selama sehari semalam ini ia sama sekali tidak merasakan lapar, tepatnya sejak ia siuman dari pingsan. Ini pasti disebabkan daun yang kumakan, walau menyebabkan kedinginan tapi daun itu ternyata mampu menghapus lapar. Pikirnya senang, sadar paling tidak ia takkan mati kelaparan ditempat itu. Namun, bagaimana dengan minum? Ia tahu di danau lumpur seluas itu sama sekali tidak terdapat air untuk diminum. Jangankan air bersih, air kotor pun tak ada. Keesokan harinya, bibirnya yang memang sudah pecah-pecah semakin hebat mengelupas, merekah dan membengkak persis buah tomat yang pecah karena terlalu matang. Walau tubuhnya tidak kelaparan namun rasa dahaga yang menyerang nyaris membuatnya gila saking senewennya. Tenggorokannya kering, lidahnya kelu, ludah pun sudah tak punya. Walaupun hawa dingin yang mengeram sanggup mendinginkan suhu tubuhnya, namun dahaga dikerongkongannya tak mampu dihapus hawa dingin yang ada. Air ia butuh air. Kalau tidak, pastilah ia mati. Susah payah perlahan ia maju mendekati tumbuhan dewa. Berhubung lumpur disitu cuma sebatas tulang kering, terpaksa ia tiarap didalam lumpur, tak berani mengangkat tubuhnya dari lumpur itu. Sebab ia tahu, hanya genangan lumpur itulah yang sanggup menahan hawa dingin ditubuhnya. Pun tahu ia pasti mati kedinginan jika berpisah dari lumpur sialan itu. Saat ini sampai entah kapan, lumpur sialan itulah baju besinya, istananya, penyelamat jiwanya. Diamatinya kembali rumpun bunga dewa itu, berharap terjadi keajaiban. Siapa tahu bunga tersebut ada mempunyai buah, paling tidak bisa digunakan membasahi mulutnya. Setetes atau dua tetes cairan, yang penting bisa menghapus sedikit kekeringan yang menyiksa. Namun walau sudah diperiksanya dengan teliti, sebutir buah pun tak ia temukan. Putus asa, ia kembali berbaring.

Dipandanginya cahaya matahari yang menyorot suram dari atas sana. Tampak beberapa ekor kelelawar beterbangan masuk dan keluar melalui celah batu. Seandainya ku punya sayap... pasti menyenangkan bisa terbang keluar dari sini. Batinnya sedih, iri pada kelelawar yang beterbangan kian kemari diatas sana. Namun ia manusia. Manusia tidak punya sayap dan manusia tidak mungkin terbang seperti kelelawar. Pikirannya menerawang jauh. Kembali terbayang silih berganti raut-raut wajah yang tak dikenal, namun sekaligus terasa tak asing. Wajah seorang pria berjenggot setengah umur, berwajah gagah dan menyenangkan. Lalu muncul wajah seorang pria lain yang kehitaman terbakar matahari, tampak seolah-olah sedang berbicara dengan dirinya, entah apa yang dikatakan pria itu tak dapat ia mengingatnya. Walau sudah dicobanya, namun tiada hal lain yang mampu diingatnya, hanya wajah kedua orang tersebut bergantian terbayang dimata. Padahal ia sungguh berharap dapat mengingat sesuatu, suatu petunjuk yang memberitahukan siapa dirinya. Setengah kentungan lamanya ia berpikir, tetap tak ada hasilnya. Namanya pun ia tak tahu apalagi nama ketiga orang itu... Ingatannya kosong, polos bagaikan kertas yang belum ditulisi. Segala peristiwa sebelum ia berada digoa itu tak mampu diingatnya lagi. Ia tak tahu siapa dirinya, siapa orang tuanya. Ia pun tak tahu dari mana ia berasal dan mengapa ia bisa berada disitu. Satu hal yang sekarang diingatnya... ia butuh air. Terbersit sebuah pikiran ke dalam benaknya seolah ada yang membisikkan, akar tumbuhan tertentu sering mengandung air Pikiran itu menyelinap begitu saja. Ia tahu seseorang pernah mengatakan hal itu padanya, namun ia pun tak tahu siapakah yang pernah mengatakan hal tersebut. Semangatnya bangkit seketika. Diraihnya akar tanaman terdekat dan dibetotnya hingga putus. Benar juga, dari akar yang menggantung, menitik beberapa tetes air. Walau warna cairan tersebut keruh tapi ia tak peduli, sebat dibuka mulutnya mencucup cairan yang menetes dari akar tanaman dewa tersebut. Rasanya agak pahit namun berbau wangi seperti wangi arak. Disedotnya sekuat tenaga, walau cuma belasan tetes air keruh, namun dahaganya sedikit terobati. Dibasahi bibirnya lalu kembali membetot akar lainnya. Rasanya tidak dapat disebut enak tapi setidaknya dapat menghilangkan dahaga. Sementara aman pikirnya senang. Setelah membetot sedikitnya sepuluh akar tanaman dewa, dahaganya pun hilang. Seiring dengan hilangnya dahaga, matanya pun berat dihinggapi kantuk, maklum sudah sehari semalam ia belum tidur.

Diatur posisinya menjadi lebih santai. Seluruh tubuhnya terendam dalam genangan lumpur, hanya wajahnya yang tetap diatas. Rasa hangat yang nyaman membelai tubuhnya dan dalam beberapa saat ia pun terlelap. Sebentuk senyuman tersungging dibibirnya. Sayup-sayup terdengar hembusan nafasnya yang halus berpadu dengan suara lumpur menggelegak dan mendesis di kejauhan. ******* Suara mencicit nyaring kembali membangunkannya dari tidur. Dipandangnya rombongan kelelawaran yang terbang masuk ke dalam goa itu, demikian banyak hingga dari tempatnya berbaring hanya tampak bagai segumpal awan hitam yang bergerak cepat. Cahaya sang surya yang kemerahan, masuk melalui celah bebatuan diatas sana. Tertegun sejenak, ia pun teringat beberapa hari yang telah dilaluinya didalam goa itu. Hari ini pun dilaluinya dengan menjelajah daerah kekuasaannya itu. Ia merangkak kian kemari, berenang dari ujung sebelah sini ke ujung sebelah sana, berkelana sepuasnya mengelilingi danau lumpur itu. Sebab pikirnya, Masakan tuan rumah tidak tahu keadaan setiap ruangan dalam rumahnya sendiri?. Maka jadilah demikian. Hampir setengah harian dihabiskannya dengan bermain-main. Untunglah efek daun dewa yang dimakannya ternyata masih mampu mengenyangkan perutnya, hingga ia tidak terlalu memusingkan soal makanan lagi. Namun air minum tetap menjadi masalah bagi bocah ini. Ketika kembali ke tempatnya semula, dilihatnya dua rumpun tanaman tersebut telah mengering dan mati, yakni dua rumpun tanaman yang kemarin telah dibetot akarnya. Tinggal empat rumpun lagi yang tersisa. Jika kubetot akarnya seperti kemarin, niscaya dalam sekejap rumpun yang tersisa akan mati semuanya. Jika semua tanaman mati.. Berpikir sampai disini, hatinya resah. Ia tahu jika tanaman tersebut mati semuanya, ia pun akan ikut mati, karena hanya dari akar tanaman itulah ia dapat mengharapkan sedikit air untuk diminum. Apa boleh buat, saat rasa haus sudah tak tertahankan lagi barulah boleh kuambil satu akar tanaman untuk kuminum Hanya satu tidak boleh lebih. Tekadnya dalam hati. Ia berharap jika hanya mengambil satu batang akar saja, belum tentu tanaman tersebut akan mati. Apalagi kalau selisih saat akar tanaman tersebut diambil bisa ditundanya hingga selama mungkin maka kemungkinan tanaman tersebut untuk tetap hidup lebih banyak, otomotis kemungkinan dirinya untuk hidup pun akan bertambah. Benar-benar suatu pemikiran yang agak berlebihan untuk anak kecil seusianya. Terbukti dikemudian hari caranya itu ternyata berhasil, walau akarnya diambil namun tumbuhan tersebut tidak mati. Maka makin senanglah hatinya. Sepekan kemudian saat ia sedang tidur di pembaringannya yang nyaman didepan rumpun tanaman dewa, terasa ada air yang menetes-netes membasahi wajahnya. Seketika itu juga

matanya terpentang lebar. Tampak air menetes-netes dari celah bebatuan atap goa diatas kepalanya. Tak menunggu lama segera dibuka mulutnya menampung air yang menetes tersebut, sekenyangnya ia minum. Sambil minum diperhatikan keadaan diatas, rupanya diluar goa hujan sedang turun dan air hujan itulah yang sedang diminumnya saat ini. Rasanya sudah berpekan-pekan ia tidak minum sepuas hari ini, benar-benar hari bahagia buatnya. Ia makin yakin, ia pasti bertahan hidup dalam goa tersebut sebab berdasarkan pengalamannya, sehelai daun yang dimakannya cukup untuk mengenyangkan perut selama paling sedikit sepuluh hari. Apalagi secara tidak disengaja ia menemukan disudut terjauh sebelah kirinya, seringkali terdapat kelelawar yang mati terbenam dalam lumpur disitu. Karena kedalaman lumpur cuma sebatas tulang keringnya otomatis bangkai kelelawar yang mati tak akan terlewatkan olehnya. Asal setiap hari datang ke sana, paling tidak ia akan menemukan sedikit persediaan makanan kalau lagi beruntung. Ruangan gua yang penuh dengan hawa beracun membuatnya belajar menahan nafas setiap diperlukan, saat udara yang tercium terasa segar barulah ia berani menarik nafas panjang selebihnya ia bernafas sependek dan sesedikit mungkin, seringkali ia bahkan harus menahan nafas dalam jangka waktu yang cukup panjang. Hawa beracun kalau cuma terhirup sedikit hanya akan membuat kepala pusing serta mual dan muntah, tapi jika sampai terhirup banyak akan menyebabkan kehilangan kesadaran bahkan kematian. Pada awalnya ia tidak tahan dan sering muntah-muntah karena keracunan ringan. Namun lambat laun ia mulai dapat membiasakan diri dengan lingkungannya. Cukup menyiksa memang tapi ia harus terbiasa bernafas sehemat mungkin kalau ingin tetap hidup ditempat ini. Demikianlah hari-hari si bocah dilewatkannya dengan bermain-main kian kemari didanau lumpur itu. Hanya makan kalau ada kelelawar yang terjatuh ke dalam lumpur, selebihnya ia jarang makan. Ia hanya makan daun dewa disaat perutnya telah sangat kelaparan dan sama sekali tak dapat menemukan makanan lain untuk dimakannya. Minum pun hanya jika turun hujan, jika tidak ia hanya mencicip sedikit air dari akar tanaman dewa sekedar untuk membasahi tenggorokannya. Dalam waktu sebulan, daging ditubuhnya telah menyusut jauh, berat badannya berkurang banyak hingga tampak tulang-tulangnya yang bertonjolan diseluruh tubuh. Walau demikian tak pernah ia kelelahan atau kekurangan tenaga malah sepertinya tenaganya makin bertambah kuat. Tampaknya daun dewa yang dimakannya sanggup memenuhi seluruh kebutuhan tubuhnya akan gizi. Ada saat-saat tertentu dimana ia seperti ingin mati saja, terutama disaat hawa dingin yang mengeram ditubuhnya menyerang sedemikian dahyatnya, menusuk setiap tulang dan persendian. Urat syaraf dan organ tubuh seolah mati rasa. Ia nyaris tak dapat merasakan tubuhnya sendiri, seolah tubuhnya itu hanya sepotong kayu kering saja. Panas lumpur pun tak mampu menghangatkan tubuh bahkan lumpur disekitarnya turut mengeras, membeku saking dinginnya hawa yang keluar dari tubuhnya. Setiap helaan nafas merupakan perjuangan yang melelahkan seluruh jiwa raganya.

Kalau saat itu tiba, mau tidak mau ia harus berendam di bagian terpanas dari danau lumpur itu, bagian yang saking panasnya hingga mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung gas beracun. Sebutir telur mentah jika direndam dalam jarak sepuluh tombak dari gelembung tersebut pun akan matang hanya dalam beberapa saat saja, apalagi tubuh seorang anak manusia... Ia bagai direbus hidup-hidup. Hawa panas seolah membakar menyiksa kepalanya sementara rasa dingin menusuk tubuhnya, ditambah lagi harus menahan nafas. Bayangkan saja direbus hiduphidup tanpa boleh menarik nafas, sama halnya dengan disuruh meresapi rasa sakit yang menyiksa itu. Sungguh sangat menderita bocah ini. Harga yang harus dibayar untuk kesembuhannya itu pun amat mahal. Kulit diseluruh bagian tubuh yang terendam lumpur turut mengelupas, bahkan meleleh saking panasnya lumpur yang menempel. Untunglah otot dan dagingnya terlindung hawa dingin hingga tidak ikut rusak tergodok, kalau tidak mungkin ia takkan dapat bertahan. Saat-saat setelah penyakitnya berlalu pun tidaklah mudah baginya. Sekujur tubuhnya yang melepuh penuh dengan luka membuatnya kesakitan luar biasa. Apalagi lumpur panas mengandung belerang senantiasa menempel ditubuhnya, jauh lebih perih dari pada berendam dengan air garam. Saat seperti itu bahkan lebih menyakitkan daripada saat masih direbus. Dengan tubuh yang setengah hidup setengah mati itu si bocah hanya dapat berbaring tak sadarkan diri, kadang hingga tiga hari tiga malam ia pingsan. Namun agaknya Thian masih menyayangi jiwanya. Ia selalu hidup kembali dari kematiannya itu. Syukurnya luka-luka ditubuhnya selalu mengering dengan cepat, mungkin belerang yang bercampur lumpur panas merupakan obat mujarab bagi luka yang dideritanya. Bahkan kulitnya yang rusak pun cepat tumbuh kembali seperti sedia kala, tanpa adanya bekas cacat sedikitpun juga. Ingatannya yang hilang pun telah membantu keutuhan jiwanya menghadapi hari-hari dalam bumi neraka. Karena tidak punya ingatan tentang kesenangan dunia, maka ia menganggap apa yang dialaminya itu merupakan sesuatu yang wajar saja, sebab dipikirnya semua orang mempunyai pola hidup seperti dirinya. Seandainya ingatannya tidak hilang, mungkin ia telah gila bahkan mungkin mati karena batinnya takkan sanggup bertahan terhadap segala penderitaan dan kesunyian yang ada. Seiring dengan berlalunya waktu, ia semakin mampu menyesuaikan diri hidup di dalam goa itu. Walau hidup serba kekurangan, penuh penderitaan dan rasa sakit namun semua itu dihadapinya dengan ceria dan tanpa beban apapun juga. Hari ini merupakan hari yang takkan terlupakan oleh si bocah sebab selama setahun tinggal ditempat itu, baru hari inilah ia menemukan sesuatu yang sangat menarik hatinya.

Ketika sedang tidur, telinganya yang tajam menangkap suara gemuruh panjang, bergema mengalahkan suara-suara lain disekitarnya. Seketika matanya terbuka mencari tahu gerangan yang terjadi. Tampak olehnya sebagian atap gua disebelah kirinya berada sekarang telah runtuh, yaitu dibagian celah bebatuan tempat biasanya kawanan kelelawar beterbangan keluar masuk gua. Ia tak tahu penyebabnya namun tampak didasar gua berserakan batu-batu gunung bercampur tanah, Sinar matahari bersinar terang dari lobang yang lebarnya nyaris mencapai dua tombak dan langsung menyorot masuk hingga sampai dipermukaan danau lumpur. Cahayanya yang terang sangat menyilaukan mata si bocah, mata yang tidak pernah melihat cahaya seterang dan sesilau itu. Maklumlah biasanya tinggal dalam kegelapan tiba-tiba saja melihat cahaya, bagaikan seorang buta yang tiba-tiba melek. Apalagi pada dasarnya mata bocah tersebut tajam luar biasa otomatis ia jadi serasa buta, tidak bisa melihat saking silaunya. Matanya menyipit membentuk dua buah garis lurus hampir setengah kentungan lamanya. Terpaksa dibiasakan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada Warna cahaya matahari yang berbias menembus halimun beracun membuatnya terpesona, uap putih kekuningan berubah warnanya menjadi jingga keemasan sungguh sangat indah dimatanya. Gas yang mengambang tampak bak seorang penari yang berlenggak-lenggok dengan gemulai, namun seakan menyembunyikan sebilah pisau dibalik bajunya. Indah sekaligus mematikan. Baru sekarang ia dapat melihat keadaan dalam goa dengan jelas. Walau cahaya dalam goa sebenarnya cuma remang-remang saja, namun bagi dirinya seolah melihat langsung dibawah cahaya matahari siang. Bahkan atap goa yang gelap serta jauhnya puluhan tombak, yang sebelumnya tak mampu dilihatnya, sekarang tampak jelas bagai melihat jari tangannya sendiri. Atap goa dibagian kiri itu hitam gelap, hitam karena dipenuhi entah berapa ribu ekor kelelawar. Mereka bergelantungan, berderet memenuhi sudut tersebut. Si bocah terkesima, ia tak pernah menyangka diatap goa itu hidup sedemikian banyaknya kelelawar. Berbalik ia pun senang karena cadangan bahan makanannya ternyata melimpah ruah. Melihat makanan sebanyak itu ia jadi terkekeh sendirian. Satu, dua, tiga... iseng, dihitungnya dalam hati. Saat sedang asyik menghitung makanannya itu, tampak olehnya sebentuk gambar terukir disana. Sayangnya gambar itu tak bisa dilihatnya dengan baik karena sebagian gambar tersebut tertutup kawanan kelelawar yang bergelantungan disitu. Gambar tersebut seperti lukisan kepala harimau, juga mirip kepala kucing, atau mungkin gambar kepala seekor anjing, ia tidak pasti. Yang jelas gambar itu dibuat oleh manusia, seorang manusia yang entah bagaimana pernah sampai ke tempat itu.

Ia tak habis pikir bagaimanakah caranya gambar tersebut diukir disana, padahal atap goa dari permukaan danau lumpur ada puluhan tombak tingginya. Hanya makhluk bersayap saja yang sanggup menulis diketinggian seperti itu. Semakin dipikirnya semakin ia tak mengerti dengan cara bagaimanakah lukisan tersebut berada disana. Lukisan aneh ditempat aneh. Batinnya keheranan. Diremasnya keluar sebongkah besar karang dari dinding tebing dibelakangnya, lalu ditimpukkan ke arah kawanan kelelawar yang menghalangi pandangannya dari lukisan tersebut. Itulah hasil yang diperolehnya dari berenang sekian lama didanau lumpur. Tanpa disadarinya Gwa-Kang (tenaga luar atau tenaga fisik) yang dimilikinya meningkat tinggi. Dengan tenaga yang dimilikinya sekarang, memecahkan batu karang adalah perkara yang mudah, batu karang keras seolah menjadi seperti tanah kering ditangannya. Hancuran karang tersebut melesat menyebar bagaikan hujan anak panah yang dilepaskan sepasukan pemanah, menghantam mati berpuluh ekor dan melukai lebih banyak lagi. Bangkai dari kelelawar yang mati dan yang terluka berjatuhan ke danau lumpur dibawah. Kawanan yang lainnya segera beterbangan memenuhi atap gua tersebut, membuat lukisan itu malah semakin tak kelihatan tertutup oleh kawanan kelelawar yang beterbangan. Suara mencicit tinggi memenuhi tempat itu. Sebetulnya suara kelelawar nyaris tidak terdengar ditelinga manusia namun telinganya yang sangat peka mampu mendengar semuanya dengan jelas. Suara yang tinggi melengking menusuk telinganya, membuat sekujur tubuhnya entah kenapa menjadi lemas tak berdaya, seolah jalan darahnya ditotok oleh tangan seorang ahli totok bulim. Keheranannya semakin bertambah, bukan hanya karena lukisan itu saja tapi juga karena efek suara yang dikeluarkan kawanan kelelawar terhadap dirinya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau suara tersebut mempunyai daya pengaruh yang mampu membuat tubuhnya tak berkutik seperti ini. Untunglah saat ini ia berada dibagian danau lumpur yang dangkal, kalau tidak pastilah ia tenggelam dan mati. Jangankan berenang, untuk mengerakkan kaki tangannya saja ia tak sanggup. Kekuatannya hilang. Ia hanya mampu memandang kawanan kelelawar yang beterbangan dengan perasaan takjub sekaligus ngeri. Apa yang terjadi? Masakan suara mereka bisa membuatku begini? pikirnya dalam kebingungan. Ia tidak tahu kalau suara dapat menyerang dan melumpuhkan syaraf. Banyak tokoh bulim yang menggunakan suara mereka untuk melumpuhkan lawannya. Misalnya saja sai-cu-ho-kang (tenaga auman singa), suatu ilmu sakti tingkat tinggi yang menggunakan suara untuk melumpuhkan lawan. Suara bentakan yang dilandasi pengerahan sinkang yang kuat dapat menyebabkan telinga dan jaringan saraf otak pendengarnya pecah dan rusak, menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Semakin kuat tenaga yang melandasi ilmu itu, semakin besar pula pengaruh yang diakibatkan. Sama seperti singa atau harimau membuat lemah mangsanya dengan auman mereka.

Demikian pula suara yang dikeluarkan kawanan kelelawar itu. Sebenarnya jika hanya beberapa ekor saja yang mengeluarkan suara, efeknya tidak akan separah yang dialami si bocah. Namun karena merasa terusik, lengkingan suara yang dikeluarkan menjadi berbeda nadanya, jauh lebih tinggi dari biasanya. Belum lagi suara tersebut dikeluarkan secara bersamaan oleh ribuan ekor kekelawar yang marah. Faktor ruangan goa pun turut memperkuat efek suara yang dihasilkan. Suara mereka menjadi sepuluh kali lebih tinggi nadanya dan sepuluh kali lebih kuat dari biasanya. Bersahutan meninggalkan gema yang berkepanjangan, memantul diseluruh penjuru goa dan memenuhi udara, menulikan telinga serta melumpuhkan panca indera. Dasar ia yang lagi kurang beruntung, telinganya yang kelewat peka itu ternyata mampu menangkap dengan baik suara-suara tersebut. Kerutan didahinya tampak jelas. Telinganya berdenyut sakit, jantungnya seolah dipukul batu ratusan kati berkali-kali. Keringat dingin telah mengalir dijidatnya mencairkan sebagian dari lapisan lumpur kering yang menutupi wajah. Semakin lama kepalanya makin bertambah pening, bukan hanya karena lengkingan kawanan kelelawar itu namun juga karena ia telah mulai menghisap hawa beracun disitu. Aaarrrhhhhhhhhh teriaknya parau. Kesakitan, tanpa sadar tercetus sebuah lengkingan panjang dari mulutnya. Teriakan yang dilandasi tenaga singkang maha dahsyat. Sinkang yang dalam keadaan biasa tak mampu dikeluarkannya ternyata keluar pada saat ini. Suara lengkingannya yang tinggi nyaring menimbulkan semacam gelombang getaran yang menindih suara mencicit ribuan ekor kelelawar itu, membuat mereka terbang semakin kacau, saling tabrak bahkan membentur dinding dan atap goa. Tampak tubuh-tubuh kecil berjatuhan dari atas sana, entah berapa ekor banyaknya, entah mati entah masih hidup. Sebagian lagi keluar menerobos lobang besar diatas goa, tak peduli hari masih terang. Saat terasa kekuatannya telah pulih kembali, tampaklah atap gua bagian kiri yang semula hitam itu telah bersih dari bayangan kelelawar, seekorpun tidak. Sementara area seluas tiga tombak dibawah, bertumpuk tubuh-tubuh hewan tersebut bercampur dengan genangan lumpur. Ada yang sudah menjadi bangkai dan ada yang masih hidup, merayap naik turun diatas bangkai kawanannya sendiri. Sekitar setengah kawanan kelelawar yang hidup dalam goa itu kini telah berada dalam danau lumpur. Seketika timbul penyesalan dalam hati si bocah, entah kenapa ia merasa sayang dan menyesal telah mengambil jiwa makhluk tersebut sekian banyaknya. Walaupun perbuatannya itu tidak disengaja, namun akibatnya amatlah mengerikan. Apalagi kelelawar merupakan makanan pokoknya sehari-hari, rasanya seperti menghamburkan berpuluh karung beras ke sungai. Sementara itu kawanan kelelawar yang terbang pergi tadi telah kembali ke tempatnya semula di atap goa. Tadi karena terkesima melihat akibat teriakannya sendiri, ia jadi lupa pada gambar aneh itu. Sekarang saat teringat kembali, gambar itu ternyata telah dipenuhi kawanan kelelawar, bahkan gambar yang sebelumnya tampak sebagian sekarang malah tidak kelihatan sama sekali.

Walau besar niatnya untuk melihat gambar apa yang tertulis disana namun tak berani lagi ia berteriak, ngeri membayangkan akibat yang ditimbulkan suara pekikannya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa untuk mewujudkan niatnya, niat untuk melihat gambar itu tanpa membunuh ribuan kelelawar yang berada disitu. Sesaat kemudian terbersit satu pikiran dibenaknya, Kelihatannya suaraku punya efek terhadap kawanan binatang ini. Seandainya suaraku dapat kupakai mengusir kawanan kelelawar itu tanpa membunuh, niscaya gambar itu pasti dapat kulihat. Lebih baik lagi kalau hanya kelelawar yang menghalangi gambar itu saja yang terusir, kalau semuanya pergi dan tak kembali bagaimana aku makan nanti? pikirnya polos. Demikianlah hampir satu kentungan lamanya ia berteriak-teriak seperti orang gila, namun suaranya sama sekali tak mampu mengusik kawanan kelelawar disitu. Jangankan pergi bergerak saja tidak, hanya mata mereka yang menyala dikejauhan menatapnya. Mungkin nada suaraku kurang tinggi. Ada baiknya kucoba menirukan nada suara yang biasa mereka pakai... pikirnya kemudian. Diperhatikan suara mencicit yang kadang terdengar. Diingatnya baik-baik bunyi nada tersebut. Mulutnya monyong kiri kanan bersiul perlahan, mencoba mencari nada yang sesuai dengan bunyi kelelawar yang didengarnya. Semakin lama nada suara yang dikeluarkan mulutnya semakin tinggi. Setelah merasa nada siulannya sudah mirip dengan suara mencicit binatang itu , ia lalu bersiul sekerasnya. Siiiiiiuuuuuiiitttttttt.....! Siulnya penuh semangat, panjang bergema memenuhi seluruh penjuru goa. Akibatnya kawanan kelelawar diatas kepalanya bubar beterbangan, tidak mati tapi juga tidak pergi. Mereka hanya terbang berputaran disekitar situ lalu kembali hinggap ditempatnya semula. Walau demikian si bocah kegirangan setengah mati. Ia tahu usahanya maju selangkah. Nada siulan yang dikeluarkannya ternyata berhasil mempengaruhi kawanan kelelawar. Apalagi tidak ada seekor pun binatang itu yang mati akibat siulannya, boleh dibilang usahanya berhasil. Mungkin jika nadanya lebih kutinggikan sedikit mereka akan pergi. Pikirnya lagi. Kembali mulutnya mencong ke kiri dan ke kanan, mencoba menyiulkan nada yang jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya. Kali ini hanya sebagian kecil dari binatang itu yang menanggapi bunyi siulannya, walaupun yang pergi bukanlah yang berada diatas gambar itu. Tapi ia tak peduli sebaliknya ia makin senang karena ia tahu teorinya tentang tinggi rendah nada ternyata terbukti. Demikianlah bocah cilik itu hampir seharian lamanya bersiul, makin lama nadanya makin tinggi sampai pada titik dimana hanya hembusan udara saja yang keluar tanda batas ketinggian nada yang bisa dibunyikan mulutnya telah tiba.

Efek yang dihasilkan pun beraneka ragam. Ada nada yang membunuh sebagian kecil binatang itu, ada yang membuat lumpuh, ada yang mengusir pergi mereka, ada juga yang mengakibatkan bagian tertentu dari tubuh kelelawar itu seperti ditotok lumpuh. Namun sayangnya ia tidak dapat mengarahkan suara siulannya menyerang sekehendak hatinya. Jika kelelawar dikiri yang ditujunya, ternyata kelelawar yang dikanan yang kena. Jika ia ingin melumpuhkan kelelawar yang dikanan ternyata kelelawar yang dikiri malah mati. Melihat hasil siulannya acak dan tak bisa ditentukan hasilnya, ia jadi jengkel sendiri. Kelelawar sialan... biar pun harus seumur hidup monyong begini, tak mungkin ku menyerah kalah! Janjinya dalam hati. Jadilah demikian. Tiada hari dilewatkannya tanpa melatih siulannya. Setiap kali melihat kawanan kelelawar diatap goa, ia seperti teringat akan janjinya sendiri, juga teringat akan kenginannya melihat gambar itu. Hari-harinya dilalui dengan berlatih siulannya itu tanpa kenal lelah dan putus asa, mencoba mencari nada yang sesuai. Tak tahu sampai kapan barulah gambar itu bisa dilihatnya. Namun ia yakin, satu hari kelak ia pasti berhasil. ******* Tanpa terasa sudah lima tahun dilaluinya dalam goa neraka bumi, tanpa terasa pula sudah empat tahun dihabiskannya dengan berlatih bersiul. Nada yang dulu terlalu tinggi dan tak dapat disiulkannya, sekarang telah dapat dibunyikannya, bahkan hingga beberapa tingkat lebih tinggi dari nada tertinggi yang berhasil disiulkannya dahulu. Tanpa disadarinya khi-kang yang dimililkinya sekarang boleh dikatakan telah mencapai taraf mengagumkan, apalagi pada dasarnya ia telah memiliki sinkang dahsyat akibat makan daun pohon dewa neraka dewa salju, sinkang yang hingga kini belum mampu digunakannya dan hanya keluar sekali-sekali tanpa disadarinya. Hal ini dikarenakan ia belum pernah belajar cara mengendalikan dan menyalurkan sinkang hingga ia pun tidak tahu bagaimana cara mengunakan sinkangnya yang maha dahsyat itu. Namun karena selama empat tahun terus menerus berlatih menyiulkan nada-nada yang luar biasa tingginya, maka tanpa disadarinya ia pun jadi menguasai cara menyalurkan sinkang melalui suara siulannya itu. Suatu kepandaian yang luar biasa, apalagi jika dipelajari sendiri tanpa bimbingan seorang pun juga. Ditambah lagi kebiasaannya berlama-lama menahan nafas selama lima tahun ini. Kebiasaan yang mau tak mau harus dikembangkannya karena hawa beracun yang memenuhi goa itu tak memungkinkannya untuk bernafas secara normal. Kebiasaannya untuk menahan nafas itu membuat pernafasannya menjadi panjang dan tahan lama, paru-paru dan sistem pernafasannya pun sepuluh kali lebih kuat dari manusia manapun di muka bumi. Ia sanggup bertahan menutup jalan pernafasan hingga setengah harian lamanya, kemampuan yang didapatnya dari alam dikarenakan tubuhnya harus beradaptasi dengan lingkungan tempat ia hidup. Benarlah pepatah yang mengatakan Ikan dapat berenang karena hidup di air, demikian juga dirinya.

Setelah berlatih keras siang malam selama empat tahun, ia pun akhirnya berhasil mengendalikan arah serangan siulannya sekehendak hatinya. Ada tujuh nada yang mampu dibunyikannya, dimana setiap nada mempunyai efek yang berbeda pada kelelawar sasarannya. Tujuh nada yang saking tingginya hingga tidak terdengar oleh telinga manusia. Tujuh nada yang takkan mampu dibunyikan oleh manusia manapun dimuka bumi ini. Tujuh nada yang kedahsyatannya cuma sedikit disadarinya. Sekarang ia dapat mengusir dan memanggil, melumpuhkan bahkan membunuh kelelawar manapun yang diinginkannya. Satu ekor, sepuluh ekor, seratus ekor, sebelah kiri, sebelah kanan, semuanya mampu dikenainya dengan jitu. Bahkan layaknya seorang ahli Tiam-hoat (Ahli ilmu menotok jalan darah), bagian tubuh manapun mampu dikenainya hanya dengan nada siulannya itu. Totokan seorang ahli tiam-hoat pada waktu menotok jalan darah musuh pastilah kelihatan jurus serangannya karena menggunakan entah kaki, tangan atau benda lainnya, arah serangan pun terlihat darimana datangnya. Namun jurus serangannya tidaklah berbentuk. Tidak dapat diketahui kapan datangnya, siapakah yang dituju atau bagian tubuh mana yang diserang. Karena medium yang digunakannya untuk menyerang adalah suara. Apalagi tujuh nada siulan yang tidak kedengaran oleh telinga manusia saking tingginya cuma belumlah dapat diketahui 7 nada siulan itu apakah mempunyai efek yang sama terhadap manusia seperti yang ditimbulkannya pada kelelawar atau tidak. Tapi ia puas karena dapat memerintahkan kawanan kelelawar itu sekehendak hatinya. Setelah empat tahun akhirnya tercapai juga niatannya. Gambar yang dulu dikiranya merupakan lukisan kepala seekor hewan ternyata merupakan bagian dari suatu rangkaian tulisan yang rumit dan sama sekali tidak dimengertinya. Gambar itu jika dilihat sekilas mirip dengan gambar kepala harimau, namun kalau diperhatikan lebih jauh, garisgaris yang membentuk gambar kepala harimau itu sebenarnya merupakan huruf-huruf yang ditulis secara bersambungan. Ada seratus delapan puluh huruf yang membentuk gambar itu. Dihitungnya dengan teliti jumlah huruf yang ada. Dasar jenius, segala apa yang dilihatnya sekali saja akan langsung tertanam dibenaknya, seumur hidup takkan ia lupakan. Begitu selesai mengamati huruf-huruf tersebut otomatis rangkaian huruf yang tidak diketahui artinya itu telah diingatnya dengan baik. Ternyata cuma begini saja... Suaranya mengandung sedikit rasa kecewa, maklumlah empat tahun kerja kerasnya seolah dihabiskan hanya untuk melihat beberapa saat saja.

Ia tidak sadar bahwa kerja kerasnya tidaklah sia-sia belaka karena tanpa disadarinya ia jadi menguasai sesuatu kemampuan yang tak pernah dikuasai manusia manapun sejak dunia diciptakan. Paling tidak ia telah memenuhi janjinya pada diri sendiri. ******* Hari ini hujan turun dengan derasnya, air yang biasanya turun menetes kali ini membanjir masuk lewat lubang besar diatap gua. Tampak samar nun jauh diatas sana, cahaya matahari seakan terhalang tabir mendung gelap, sekali-kali ditimpali kelebatan cahaya petir membelah udara. Tanpa terasa sudah enam tahun berlalu. Si bocah telah tumbuh menjadi seorang remaja berusia lima belas tahun yang tegap dan gagah. Kesukaran hidup selama berkubang dalam lumpur, menempanya lahir batin menjadi seorang remaja yang luar biasa. Tubuhnya kurus tapi kokoh lagi kuat, ia lebih tinggi sekepala dan bahunya jauh lebih lebar dibanding remaja lain yang seusia dirinya. Rambutnya kaku dan keras bercampur lumpur, panjangnya hingga ke pinggang. Kulit tubuhnya berwarna putih kemerah-merahan seperti warna kulit seorang gadis. Putih karena hawa dingin yang mengeram dalam tubuh dan kemerahan karena sekian tahun berendam dalam lumpur panas. Walau demikian kulitnya sealot besi, akibat terlalu seringnya terkelupas lalu sembuh dengan bantuan lumpur panas bercampur belerang. Saking seringnya terkelupas, membuat kulitnya setiap kali tumbuh kembali, menjadi semakin liat dan alot. Seolah direndam dalam larutan obat penguat kulit, otot dan tulang. Sinkangnya lihay, karena selama enam tahun terakhir makanannya cuma kelelawar dan daun pohon dewa neraka dewa salju. Otomatis Tenaga sakti dingin (Im-Sin-Kang) makin bertumpuk dalam tubuhnya, bahkan tanpa disadari sinkang tersebut seolah telah menyatu dengan tubuhnya. Memperkuat sekaligus menyiksa. Ia pun memiliki tenaga otot yang sukar dipercaya. Bayangkan saja, jika selama enam tahun tiap saat berenang dalam lumpur. Bergerak dengan dibebani lumpur seperti itu menyebabkan GwaKang (tenaga otot) meningkat berpuluh kali lipat dibandingkan yang biasanya. Daya tahan dan kekebalan tubuhnya pilih tanding, matanya setajam rajawali dan pendengarannya sangat peka melebihi pekanya telinga seekor kelelawar masih ditambah dengan otak yang jenius, kiranya jarang ada yang dapat menyamai remaja ini. Pun batinnya kuat dan tahan menderita, benar-benar seorang remaja pilihan yang sukar dicari keduanya. Ia baru saja bangun. Seperti biasa saat sedang tidur pernafasannya selalu ditutup, hampir semalaman lamanya. Setelah bertahun-tahun, kebiasaan itu telah mendarah daging didirinya. Saat menarik nafas pertama kalinya pagi ini, suatu keharuman yang aneh terendus diantara bau belerang yang sangit menusuk hidung. Membuatnya tercengang, sebab selama tinggal disitu belum pernah ia mencium keharuman yang seperti itu.

Bau apa ini? Darimana datangnya? batinnya keheranan. Disaringnya bau yang masuk dihidung, coba mencari arah datangnya bau tersebut. Namun karena simpang siur datangnya, tak mampu ia menentukan arah dari mana bau itu berasal. Dipandangnya penjuru goa itu, tak terlihat sesuatu yang aneh, semuanya tampak biasa saja. Perhatiannya lalu beralih ke air hujan yang mengalir dari lobang diatap goa. Minum selalu menjadi prioritas utamanya karena tidak setiap hari ia dapat minum. Saat sedang minum, tanpa sengaja terlihat olehnya sekuntum bunga yang merekah dengan indahnya. Itulah bunga dari pohon dewa neraka dewa salju. Satu diantara empat bunga yang ada pada rumpun tanaman tersebut telah mekar. Bunga yang selama enam tahun ini selalu menguncup, hari ini mekar sempurna. Sebelumnya bunga itu tak terlihat karena letaknya sedikit tersembunyi dalam rumpun tumbuhan, tak terlihat dari tempat ia berada sebelumnya. Namun karena pindah posisi untuk minum, bunga itupun akhirnya terlihat dengan jelas. Sebat dihampirinya rumpun tumbuhan tempat bunga itu mekar. Bunga yang pada waktu masih menguncup tampak putih berkilat, warnanya sekarang bertambah dengan warna merah kekuningan, mengingatkannya akan warna awan yang terbias cahaya matahari pagi nan keemasan. Keharuman yang kuat teruar dari bunga itu, suatu bau harum yang aneh namun menyenangkan hati si remaja. Bentuknya pun tak kalah aneh. Mirip bunga teratai namun kelopak bunganya jauh lebih pendek dan lebar, besarnya hampir sebesar kepalanya sendiri sedang inti bunga berwarna hijau kemerahan. Dipandangnya bunga itu dengan seksama. Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Kenapa kau harus menunggu selama sekian lama baru mau mekar? ujarnya lembut pada kuntum bunga, seolah sedang bicara dengan seorang manusia. Ia memang takjub, sebab entah bagaimana ia tahu jarang ada bunga yang membutuhkan waktu enam tahun untuk mekar, seperti bunga ini. Paling dari kuncup hingga mekar sekuntum bunga hanya membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama, paling lama dalam hitungan bulan saja. Namun mengapa bunga ini membutuhkan waktu hingga enam tahun lamanya? Ia tidak habis pikir. Ia tidak tahu bunga itu bukanlah jenis bunga biasa, bunga itu adalah bunga pohon dewa neraka dewa salju. Bunga pohon dewa neraka dewa salju hanya mekar sekali dalam seratus tahun dan hari ini tepat harinya bunga itu mekar sempurna. Dalam ribuan tahun sangat jarang ada manusia yang berhasil mendapatkan sekuntum bunga pohon dewa neraka dewa salju yang telah mekar sempurna. Sebab selain tempat tumbuhnya susah dicari, waktu bunganya mekar pun sukar diketahui dengan pasti.

Semakin dipandangnya bunga tersebut, semakin besar niatnya untuk merasakan rasa dari bunga itu. Sebab pikirnya bau bunganya harum tentunya rasanya pun enak. Ia pun tahu bunga tersebut pastilah beracun, sebab daunnya saja beracun masakan kembangnya tidak? Terombang-ambing dalam keraguan, takut keracunan berbaur dengan rasa penasaran akan kelezatan bunga itu, hampir dua kentungan lamanya ia termenung. Namun kuntum bunga didepan matanya sangat menggoda hati. Akhirnya keingin-tahuannyalah yang menang. Ahhh... masa bodoh, toh sudah keracunan. Tambah sedikit juga tak apa-apa pikirnya pasti. Tekadnya sudah bulat sebab apapun yang akan terjadi ia toh sudah keracunan, ditambah sedikit racun lagi juga tidak apa-apa. Dicaploknya sebagian bunga itu dengan mulutnya, rasa manis sepat memenuhi mulut dan tenggorokannya sementara harum bunga menutupi saluran pernafasannya. Dalam sekejap saja seluruh bagian bunga telah berada dalam perutnya. Perlahan sebentuk hawa maha panas memenuhi rongga perut menimbulkan rasa yang menyiksa seakan isi perutnya disayat-sayat dari dalam dengan sebatang golok yang tumpul. Hawa panas itu bertabrakan dengan hawa dingin yang mengeram dalam tubuhnya, menimbulkan rasa yang makin lama makin menyiksa. Tubuhnya sebentar-sebentar mengejang kaku, lain saat menggeliat kepanasan, sungguh rasanya tak tertahankan lagi. Akhirnya ia pun pingsan. Berbeda dengan daunnya yang mengandung racun Im (dingin), bunga pohon dewa neraka dewa salju mengandung racun Yang (panas). Jika bunga dan daun Pohon dewa neraka dewa salju dimakan bersamaan, racun yang terkandung pada daun dan bunga akan saling menawarkan satu sama lainnya. Demikian juga yang terjadi pada remaja itu. Saat berada dalam keadaan pingsan, hawa dingin ternyata bercampur dengan hawa panas, saling menetralkan satu sama lain lalu berbaur menjadi satu ditubuhnya. Namun karena selama bertahun-tahun memakan daun Pohon dewa neraka dewa salju maka racun dingin dalam tubuhnya hanya berkurang setengahnya, tidak sembuh sama sekali. Saat kembali siuman, terasa hawa dingin yang selama enam tahun ini menyiksa tubuhnya telah berkurang sebagian, tidak sehebat sebelumnya. Bahkan tubuhnya bertambah ringan dan kuat, penuh dengan tenaga. Ia akhirnya sadar ternyata bunga yang dimakannya entah mengapa telah mengobati sebagian rasa dingin yang mengeram dalam tubuhnya. Rupanya bunga ini berkhasiat menyembuhkan rasa dingin yang kuderita. Mungkin jika kumakan beberapa lagi, aku akan sembuh sama sekali. Pikirnya berteori. Tinggal tiga kuntum bunga yang tersisa disitu, tiga kuntum bunga yang masih menguncup dan belum mekar. Dipetiknya sekaligus dua diantara tiga bunga yang ada lalu dimakannya. Rasanya ternyata tidak seenak rasa bunga yang dimakan sebelumnya, bahkan hawa panas yang ditimbulkan dua bunga itu pun nyaris tidak terasa olehnya.

Apanya yang salah? Jangan-jangan harus bunga yang telah mekar sempurna barulah berkhasiat jika kumakan. Renungnya kembali. Pastilah demikian Ia yakin teorinya itu tidak salah, yang salah hanyalah bunga yang dimakannya belumlah mekar sempurna. Sebab seandainya bunga itu telah mekar sempurna, pastilah efeknya akan sama dengan bunga yang telah dimakan sebelumnya. Tapi kapan baru bunga ini mekar sempurna? Pikirnya lagi. Makin dipikirnya, makin ia tak berani berharap sebab ia tak tahu kapan bunga itu mekar sempurna. Satu hari? Satu bulan? Satu tahun? berpuluhan tahun? Mungkin juga bunga itu mekarnya setelah ia mati nanti... Ia tak berani lagi berpikir, bunga yang masih menguncup dipandanginya dengan lesu. Hanya tersisa sekuntum bunga lagi, sekuntum bunga yang kelak mungkin dapat mengobati penyakitnya itu. Hari-harinya pun berlalu seperti biasa. Setelah enam tahun tinggal ditempat itu, rasa bosannya sudah melewati batas yang mampu ditahannya. Keinginan untuk melihat pemandangan dibalik lobang diatap goa itu sangat menyiksanya, makin hari makin tak tertahankan. Remaja ini tahu dengan kekuatannya sekarang, ia sanggup memanjat ke atas karena tangannya mampu menancap di dinding karang goa itu bagai menancap ditanah lunak saja. Namun apa daya, tubuhnya masih memerlukan panas lumpur disitu. Pun ia tahu hanya dengan berada dalam lumpur sajalah ia dapat tetap hidup. Walau rasa dingin ditubuhnya telah berkurang sebagian, namun ia belum mampu berpisah dari lumpur sialan itu. Asal terpisah sedikit, hawa dingin yang hebat pastilah menggigit setiap bagian tubuhnya. Itulah sebabnya sampai sekarang ia hanya mampu menatap lobang teresebut dengan penuh kerinduan. Kapan ia bisa keluar dari goa itu. Bagaimanakah dunia diluar sana? Apakah jauh lebih menarik daripada goa ini? Pikiran-pikiran tersebut menghantui benaknya selama banyak tahun ini. Tapi ia punya sebuah harapan. Bunga yang menguncup itulah harapannya. Jika bunga tersebut telah mekar penuh, ia pasti sembuh dari sakitnya dan takkan menjadi masalah jika harus berpisah dari genangan lumpur disitu. ******* Kira-kira dua pekan kemudian, keharuman yang sama menusuk hidungnya, berbaur dengan tengiknya bau belerang.

Sudah mekar? pikirnya penuh harap. Berdebar rasa hatinya memikirkan kemungkinan itu. Penuh semangat perlahan dihampirinya rumpun tanaman dewa. Tampak olehnya bunga terakhir yang ada disitu telah mekar dengan sempurna. Bukan kepalang girangnya saat itu hingga tanpa terasa air mata telah menetes di pipinya, terharu yang amat sangat. Akhirnya mekar juga Termangu, lama ditatapnya bunga tersebut seolah tidak percaya hal itu bisa terjadi. Disaat yang bersamaan timbul keraguan dihatinya. Bagaimana seandainya bunga itu pun tak mampu menyembuhkan dirinya? Apa selamanya ia harus berkubang dalam lumpur? Apakah selamanya ia harus diam digoa itu? Cukup lama bunga tersebut ditatapnya. Apa boleh buat mau tidak mau harus kumakan juga ini bunga. Paling tidak aku jadi tahu bisa sembuh atau tidak. batinnya kemudian. Maka diambilnya bunga tersebut dan dimakannya. Sama seperti kejadian pada dua pekan berselang, ia pun pingsan setelah bunga itu masuk ke perutnya. Saat sadar kembali dari pingsannya, tubuhnya terasa sangat nyaman. Suatu aliran hawa yang menyegarkan mengalir disetiap pembuluh darahnya. Ia merasa jauh lebih segar dan nyaman dari sebelumnya, bahkan rasa dingin yang selama ini menyiksanya telah pula hilang. Bukan kepalang girangnya hati si remaja. Beratus-ratus kata syukur diucapkannya, entah pada siapa. Ia berterima kasih pada setiap benda yang diketahuinya. Pada lumpur, pada bunga, pada kelelawar, pada gas beracun, pada apa saja hal yang terlintas dibenaknya. Sayangnya ucapan syukurnya itu tidak ditujukannya pada Thian, mungkin karena ia tidak ingat lagi akan ajaran tentang Thian. Satu hal yang diketahuinya, sekarang ia bebas meninggalkan goa Neraka Bumi. Tempat dimana ia selama enam tahun ini tinggal. Tempat yang penuh dengan siksa dan derita. Tempat yang juga memberikan keajaiban pada dirinya, keajaiban yang entah kapan baru akan disadarinya. Rembulan bersinar lembut dari balik mega, kelihatannya telah bersiap mengundurkan dirinya. Mungkin lelah setelah semalaman menerangi kegelapan dibumi. Sementara diufuk timur, cahaya matahari pagi mulai membayang. Kemerahan menembus kabut tebal yang menggantung dilereng Hou-Thian-San. Hou-Thian-San (Gunung Harimau Langit) merupakan salah satu diantara sekian banyak puncak yang terdapat di barisan pegunungan Kun-Lun. Hou-Thian-San sendiri sangat sukar dicapai karena selain letaknya yang jauh terpencil dipedalaman, untuk mencapai tempat ini pun amatlah sulit dan berbahaya. Daerah sekitarnya merupakan hutan rimba yang lebat, penuh dengan segala hewan liar dan ganas, jarang disinggahi manusia.

Hou-Thian-san dikelilingi oleh jurang yang curam dan terjal. Tebingnya pun tegak lurus dan sulit untuk didaki. Hanya orang yang memiliki Gin-Kang (Ilmu ringan tubuh) tinggi saja yang dapat sampai ke puncaknya, orang biasa jangan harap bisa sampai ke puncak. Belum lagi sepanjang perjalanan dari kaki gunung hingga ke puncak, banyak terdapat binatang buas dan tumbuhan beracun. Sebenarnya Hou-Thian-San sendiri lebih mirip bukit, karena tidak setinggi puncak-puncak lainnya di pegunungan Kun-Lun. Tapi juga tidak dapat disebut bukit, karena bentuknya yang tinggi terjal dan curam. Jika dilihat dari jauh, tampak seperti seekor harimau yang sedang melompat ke atas. Mungkin itulah sebabnya tempat itu diberi nama Hou-Thian-San (Gunung harimau langit). Gunung atau bukit? Entahlah.. yang pasti saat ini tampak seorang gadis belia sedang berdiri memandang langit pagi disisi sebelah timur lereng Hou-Thian-San. Cahaya matahari menyinari sosok si gadis, tampak butiran-butiran keringat menghiasi dahinya yang indah. Wajahnya lembut dan rupawan dengan hidung tinggi lagi mancung. Bibirnya pun tipis dan merah segar bagai buah tomat masak dipohon. Alisnya tajam melengkung berderet menghiasi atas matanya yang seperti bintang pagi. Pipinya kemerahan sementara anak rambutnya seperti menari tertiup angin yang berhembus. Rambutnya panjang hingga ke pinggul, diikat dengan sehelai sapu tangan yang berwarna merah muda. Gerak-geriknya gemulai dan sikapnya memancarkan keagungan yang jarang terlihat pada gadis seumurnya. Tubuhnya pun tinggi semampai dengan lekuk yang sempurna dihiasi kulit putih kemerahan. Sangat manis dan menarik untuk dilihat, makin dilihat makin menarik hati yang memandangnya. Ia mengenakan pakaian ringkas berwarna biru muda yang terbuat dari kain kasar sementara sepatunya terbuat dari rumput yang dijalin tebal dan kuat. Di tangan kanannya tampak sebuah keranjang yang terbuat dari anyaman kulit bambu, seperti keranjang yang biasanya dipakai untuk mengumpulkan daun dan akar obat. Sebuah pisau kecil dari baja murni tersoren pada ikat pinggangnya, mengkilat tertimpa cahaya matahari pagi. Jika dilihat sepintas ia mirip seeorang gadis desa yang sederhana, lembut dan tak berdaya. Namun tidaklah mungkin seorang gadis muda yang tak berdaya bisa sampai ke tempat yang liar dan terasing seperti itu, pastilah ilmu silat si gadis tidaklah lemah. Souw Im Giok, demikianlah nama gadis rupawan ini. Usianya baru delapan belas tahun namun ilmu silatnya hebat lagi tinggi ilmu pengobatannya. Kong-Kong (Kakek) nya seorang sakti yang terkenal di bulim karena lihay ilmu silat serta pandai mengobati orang sakit. Oleh kaum Bulim Kong-Kong nya diberi julukan Yok-Sian-San-Jin (Manusia Gunung Dewa Obat) Souw Kok Lam. Sejak kecil ia telah yatim piatu, kedua orang tuanya tewas terserang wabah penyakit yang melanda desanya. Untungnya saat itu datang Yok-Sian-San-Jin Souw Kok Lam ke desanya. Saat

sedang mengobati orang desa, dalam sebuah rumah Yok-Sian menemukan seorang bayi perempuan berumur kira-kira setahun sedang menangis melengking-lengking, sementara kedua orang tua si bayi telah mati. Timbul belas kasihan dihatinya. Bayi perempuan itu lalu dibawanya pergi dan diberinya nama Im Giok, Souw Im Giok lengkapnya. She (nama marga) mengambil dari she-nya sendiri yang she Souw. Demikianlah sejak hari itu Souw Im Giok mengikuti kakek dan juga gurunya itu berkelana. YokSian sendiri tidak pernah memberitahukan kepada gadis itu siapa dirinya yang sebenarnya. Ia hanya memberitahukan pada Im Giok kalau ayah bundanya telah meninggal dunia karena wabah penyakit sejak Im Giok masih bayi, sedang ia adalah ayah dari ibu Im-Giok atau Kong-Kong nya Im Giok dari pihak ibu. Hal itu dilakukannya karena Yok-Sian terlalu sayang pada Im Giok, ia tak ingin Im Giok merasa rendah diri dan berkecil hati kalau tahu dirinya itu hanyalah seorang yatim piatu yang dipungut Yok-Sian. Saking sayangnya hingga semua ilmu silat dan pengobatan yang dikuasai diajarkannya pada Im Giok dengan sungguh-sungguh, tak ada satu ilmu pun yang disembunyikannya. Sifat Yok-Sian-San-Jin Souw Kok Lam yang penyabar dan baik hati itu pun menurun ke Im Giok. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta dididik dalam kedisiplinan yang tinggi membuat Souw Im Giok tumbuh menjadi seorang gadis yang lembut, penyabar dan baik hati. Namun dibalik kelembutannya itu tersembunyi ilmu silatnya yang lihay sebagai akibat dari kedisiplinannya dalam berlatih. Sudah hampir sepekan lamanya mereka menetap dihutan lebat sebelah timur kaki Hou-ThianSan. Tubuh Yok-Sian yang telah berusia delapan puluh tahun itu mulai lemah dan cepat merasa lelah. Itulah sebabnya mereka memutuskan untuk tinggal sementara waktu disitu sambil menunggu kesehatan Yok-Sian membaik. Sejak subuh tadi Im Giok telah naik ke Hou-Thian-San untuk mengumpulkan bahan obat. Mengumpulkan bahan obat merupakan pekerjaan tetap yang sering dilakukannya, sebab ia tahu setiap bahan obat yang berhasil dikumpulkannya kelak digunakan menolong orang yang menderita. Ia tahu saat seperti ini kakeknya tentu masih tidur, maka waktu seperti ini digunakannya untuk berkeliling mengumpulkan tumbuhan obat. Ia ingin sebelum kakeknya bangun, ia telah pulang untuk melayani dan menemani Kong-Kongnya itu. Saat sedang asyik masyuk memandang alam sekitarnya itu, secara tak disengaja matanya terbentur pada sepasang mata yang bersinar terang, hitam mencorong bagaikan mata seekor naga sakti, memandangnya tanpa berkedip dari balik lebatnya semak belukar dekat tebing karang disisi kirinya. Sementara kulit disekitar sepasang mata makhluk itu retakretak dan berwarna coklat tua nyaris kehitaman. Berbagai perasaan bergejolak dihatinya. Jaraknya dari rumpun semak itu hanya dua tombak jauhnya. Masakan telinga dan perasaannya yang peka dan terlatih tak mampu merasakan kehadiran makhluk tersebut?

Makhluk apakah itu? Harimaukah atau binatang buas lainnya? Batinnya, resah tak tahu makhluk apakah yang sedang mengintai dirinya. Namun karena makhluk tersebut tidak juga bergerak, hanya diam sambil menatapnya, hatinya pun menjadi lebih tenang. Siapa disitu? Tanya Im Giok perlahan. Si.. a... pa di si... tu...??? Terdengar suara patah-patah dan kaku menjawab pertanyaannya. Suara yang mirip suara orang yang baru keluar dari liang kubur, juga mirip suara seseorang yang baru belajar bicara. Yang jelas suara tersebut membuat bulu tengkuk Im Giok meremang. Maaf telah mengganggu. Wanpwe (aku) Im Giok, she Souw. Mohon tanya siapakah Cianpwe (anda yang terhormat)? Tanya Im Giok kembali sambil menahan perasaannya. Seseorang yang sanggup bersembunyi dalam jarak dua tombak darinya tanpa ia sendiri mengetahuinya, pastilah orang tersebut seorang yang lihay. Oleh karena itu ia segera meminta maaf dan memperkenalkan dirinya, sekaligus mohon tanya nama besar orang tersebut. Maaf telah mengganggu WanpweImGiok She Souw Mohon tanya Siapakah nama Cianpwe ??? Suara yang sama terdengar, mengucapkan ulang pertanyaannya barusan. Kali ini suara itu terdengar lebih lancar melafalkan kalimat pertanyaannya tadi. Namun terasa juga seperti mengejek dirinya. Wajah Im Giok memerah, malu karena merasa dipermainkan orang tersebut. Mohon Cianpwe tidak bercanda. Katanya lagi. Mohon Cianpwe tidak bercanda Suara yang sama terdengar kembali. Kali ini sudah makin lancar kalimat tersebut diucapkan orang itu. Setiap ucapan yang dikeluarkan Im Giok selalu diulang kembali oleh orang itu. Seolah-olah ia sedang berbicara dalam sebuah goa yang memantulkan kembali suaranya. Perbedaannya hanyalah suara orang tersebut makin lama makin lancar diucapkan, tidak lagi tersendat-sendat seperti tadi. Sesabar-sabarnya Im Giok, panas juga hatinya. Sambil memekik nyaring dikibaskan tangannya secara melingkar, memotong menggunakan jurus Sin-Liong-Pek-Lui (Sinar Kilat Naga Sakti), salah satu jurus dari rangkaian Sin-Liong-Kun-Hoat (Ilmu Pukulan Naga Sakti) andalannya. Angin tajam menyambar dari kibasan tangannya, memotong bersih semak belukar ditempat orang itu bersembunyi.

Karena tidak ingin salah tangan, maka jurus serangannya itu hanya ditujukan pada semak belukar dan tidak diarahkannya pada orang itu. Tujuannya hanyalah memaksa orang itu menampakkan diri. Tampaklah orang itu sedang mendekam ditanah, matanya tampak semakin tajam mencorong menatap Im Giok. Tubuhnya dipenuhi potongan-potongan semak belukar yang tertebas. Tanpa sadar Im Giok memekik. Belum pernah dilihatnya orang yang seperti ini. Tidak dapat disebut manusia tapi juga mirip manusia. Kalau bukan manusia, mengapa bisa bicara? Pikir Im Giok Walaupun sedang dalam keadaan mendekam ditanah, namun tinggi makhluk itu ditaksirnya paling tidak dua kepala diatas dirinya. Seluruh badannya berwarna coklat kehitaman dan kulitnya pun retak-retak. Rambutnya panjang dan awut-awutan, kaku dan keras berwarna sama seperti tubuhnya. Tubuhnya hanya terdiri dari otot yang melingkar berbalut kulit, sama sekali tidak ada lemak disitu. Walau kurus namun terlihat kuat dan berbahaya. Kau Kau siapakah? tanya Im Giok tercekat, suaranya nyaris tak terdengar. Sebentuk senyum ganjil tampak dibibir makhluk itu, lebih mirip cengiran dari pada senyum. Berlawanan dengan kulitnya yang coklat kehitaman dan retak pecah, rongga mulut makhluk itu tampak merah segar bahkan tampak sebaris giginya yang seputih mutiara. Aku... Aku siapa? ujar makhluk itu perlahan. Mau tidak mau Im Giok harus percaya kalau makhluk dihadapannya ini sebenarnya seorang manusia. Bahkan setelah hatinya tenang dan dapat mengamati dengan lebih jelas wajah makhluk itu, tampaklah kalau makhluk itu lebih mirip manusia. Yang aneh hanyalah kulit dan rambutnya, sisanya lebih mirip manusia normal. Apalagi saat mendengar perkataan makhluk itu, makin yakinlah hatinya. Hanya manusia yang mengerti dan dapat bicara dengan bahasa manusia. Ya, kau siapa? Siapa namamu? Aku... Aku... gumamnya perlahan, tampak kebingungan Masa kau tidak tahu namamu sendiri? tanya Im Giok lagi, ketenangannya telah pulih kembali. Aku... Aku... Kau siapa? jawab si makhluk perlahan. Suaranya dalam, lebih mirip menggeram daripada bicara. Walau pun bahasanya agak kacau dan terputus-putus namun Im Giok mengerti maksud makhluk tersebut. Apalagi setelah mendekat selangkah ia jadi tahu mengapa kulit makhluk itu kelihatan pecah-pecah dan berwarna coklat kehitaman, rupanya lumpur yang membuatnya terlihat demikian. Sambil tersenyum Im Giok berkata, Namaku Souw Im Giok... Namamu siapa?

Kembali sebentuk senyuman tersungging dibibir makhluk itu, kali ini senyuman yang tulus. Im Giok jadi tertegun. Tak pernah disangkanya sebuah senyuman dapat merubah wajah yang begitu menyeramkan jadi terlihat menyenangkan. Souw Im Giok... Souw Im Giok... Gumam makhluk itu beberapa kali. Siapa namamu? tanya Im Giok kembali. Aku tak tahu. Kali ini orang itu menjawab dengan cepat dan tegas. Mengapa tidak tahu? Aku tak tahu... Kembali jawaban yang sama, namun Im Giok tak berputus asa. Baiklah Kau tinggal disini? Tidak. Disana! tunjuk orang itu ke atas tebing karang dibelakangnya. Disana? Diatas tebing itu? tanya Im Giok lagi. Disana jawab orang itu sambil menganggukkan kepalanya menegaskan. Kau tinggal sendirian? Sendiri Kenapa tinggal sendirian? Tak punya teman? cecar Im Giok lebih jauh. Tinggal sendiri... Tak punya teman. Sekarang Im Giok sudah yakin seratus persen kalau makhluk dihadapannya ini benar-benar manusia. Mungkin karena sudah lama hidup sendirian dan jarang bercakap-cakap, akhirnya ia jadi kagok dalam berbicara, namun jelas ia belum melupakan bahasanya sendiri. Buktinya semua ucapan Im Giok mampu dimengertinya, bahkan mampu pula dijawabnya. Walau jawabannya singkat, tapi semuanya masuk akal dan dapat dimengerti. Saat itu terbang melintas seekor burung elang, terbang rendah lalu hinggap diatas sebuah dahan pohon lima tombak dibelakang Im Giok. Orang itu tampak terpesona dengan kemunculan burung elang tersebut hingga melupakan kehadiran Im Giok disitu, sebab ia lalu bangkit berdiri dan melangkah mendekati tempat burung elang tersebut bertengger. Im Giok seketika terperanjat. Oh Thian! Pekik Im Giok kaget bukan kepalang.

Orang tersebut ternyata sama sekali tidak mengenakan selembar benang pun. Tadinya hal itu sama sekali tidak diperhatikannya karena orang itu sedang dalam posisi mendekam, lagipula sebagian besar tubuhnya tertimbun dalam tumpukan ranting dan rumput, hanya bagian dada ke atas yang terlihat sebagian. Namun saat berdiri, semuanya kelihatan dengan jelas. Warna merah seketika memenuhi selembar wajah Im Giok, merah padam saking jengahnya. Walau pun lumpur dan sedikit dedaunan semak masih menempel ditubuh orang itu, namun tetap tidaklah dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya. Sebat dibalikkan tubuhnya membelakangi pria itu. Kau... Jangan kemari! Teriaknya seketika. Apa? ...Kenapa? Sahut pria itu kaget. Seketika pria itu berhenti melangkah, tertegun memandang Im Giok yang berdiri membelakanginya. Kau... Kau tidak berpakaian. Sahut Im Giok Pakaian? Apa itu? kelihatan kebingungan mendengar pertanyan Im Giok tersebut. Masa kau tidak tahu pakaian itu apa? Tidak. Jangan main-main! kata Im Giok lagi, mulai gusar hatinya. Aku tidak main! Im Giok sebenarnya ingin marah tapi ketika dipalingkan wajahnya menatap wajah orang itu, tampaklah sorot kebingungan terpancar dimatanya. Kau benar-benar tidak tahu? Tidak tahu. Jawab orang itu kebingungan. Akhirnya dengan sedikit terpaksa Im Giok berkata. Pakaian adalah... sesuatu yang kita pakai menutupi tubuh kita. kata Im Giok menerangkan. Seperti itu? Tanyanya lagi sambil menunjuk baju yang dipakai Im Giok Benar tegas Im Giok kembali. Kenapa ditutup?

Im Giok jadi tertegun sendiri mendengar pertanyaan tersebut. Biar tidak kedinginan. Aku tidak kedinginan. Biar begitu kau tetap harus berpakaian. Semua orang harus berpakaian. Kenapa? Sebab itulah yang biasanya terjadi Kenapa? Sebab... Sebab kalau tidak berpakaian kau bisa dianggap tidak tahu sopan santun. Sopan santun... Apa itu? Im Giok jadi bingung sendiri, bingung bagaimana menjelaskan tentang sopan santun. Akhirnya ia coba menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Sebab pikirnya mungkin karena lama tidak bergaul dengan manusia lain, ia jadi melupakan aturan-aturan dasar yang mengikat manusia pada umumnya. Sopan santun adalah sesuatu yang membedakan kita dengan binatang. Kalau kau tak punya sopan santun, tak ada orang yang mau bicara denganmu. Tapi kau bicara denganku kata si pria. Kau juga tidak sopan? tanyanya lagi. Itu... Itu karena... Karena aku mau kau berpakaian jawab Im Giok setelah berpikir sejenak. Kenapa kau mau aku berpakaian? Sebab... Sebab kau seharusnya malu tidak berpakaian didepan seorang gadis. Kenapa malu? Sebab... sebab kita berbeda. Beda? Apanya? Im Giok jadi gemas sendiri. Sekarang ia yakin pria ini walaupun bentuk fisiknya menakutkan namun pikirannya ternyata masih polos seperti pikiran kanak-kanak. Kau seorang pria sedangkan aku wanita, tentu saja kita berbeda.

Aku dan kau beda? Ya kita berbeda tegas Im Giok lagi. Beda bagaimana? Sampai disini Im Giok sudah tak tahu harus berkata apa lagi, benar-benar kehabisan akal. Masakan ia harus menerangkan perbedaan antara pria dan wanita? Jangan-jangan setelah diterangkan, ini orang malah ingin melihat buktinya. Bisa berabe jadinya Kau Kau tunggu disini, aku segera kembali! katanya kemudian lalu melangkah hendak pergi dari situ. Kenapa? tanya pria itu cepat. Kau ingin bicara denganku lagi atau tidak? Ingin Kalau begitu tunggu disini! Kenapa? Jangan tanya kenapa. Pokoknya tunggu disini! Baiklah Jawab orang itu akhirnya. Ingat, jangan ke mana-mana. Tunggu disini sampai aku kembali! Orang itu menganggukkan kepalanya. Im Giok berkelebat pergi. Sungguh gemas Im Giok dibuatnya. Tidak sampai satu kentungan Im Giok telah kembali, tampak ia membawa seperangkat pakaian seperti yang biasanya dipakai kaum petani, satu stel pakaian sederhana milik kakeknya sendiri. Dari jauh dilihatnya orang itu sedang termangu-mangu menatap seekor kupu-kupu yang beterbangan kian kemari. Tampak serius sekali sikapnya, seolah belum pernah melihat hal yang seperti itu. Kasihan orang ini, entah kenapa ia bisa jadi begini. Sepertinya selama ini ia hidup sedemikian terasingnya hingga untuk bercakap saja sulit, bahkan pakaian pun tak dikenalnya. pikir Im Giok iba. Jarak mereka masih dua puluh tombak jauhnya namun orang itu telah mengetahui kehadiranya, padahal ginkang Im Giok tidaklah rendah. Mau tidak mau ia jadi kagum juga akan pendengaran dan ketajaman mata orang itu.

Tidak langsung menghampiri, ia bersembunyi dulu dibalik sebatang pohon. Kau lihat sungai dibawah sana? Tepat didepanmu itu! kata Im Giok. Lihat. Jawab orang itu perlahan setelah melihat sungai yang dimaksudkan. Pergi ke sana dan mandilah disungai itu! kata Im Giok lagi. Mandi? Apa itu? Gadis itu sekarang benar-benar terkejut, sampai mandi saja orang ini tidak tahu? Benar-benar sukar dipercaya. Mandi artinya kau pergi ke sungai itu lalu masuk ke dalamnya. Sampai ku bilang keluar, barulah kau boleh keluar dari situ! Ia tahu terhadap orang yang seperti ini tak ada gunanya menggunakan banyak istilah, sebab pastilah timbul banyak pertanyaan. Lebih baik bicara memakai kata-kata yang sederhana mungkin. Kenapa? Pokoknya lakukan saja. Kalau tidak aku tak mau lagi bicara denganmu! Nggg... Baiklah! Jawab orang itu setelah ragu sejenak. Agaknya ia takut kalau Im Giok tak ingin bicara lagi dengannya, hal yang sebelumnya sudah diperhitungkan gadis ini. Ia tahu orang yang lama kesepian setelah bertemu teman, biasanya takut untuk ditinggal sendirian. Terdengar langkah-langkah kaki yang berjalan ringan menuruni lereng itu. Sepertinya orang tersebut benar pergi ke sungai dibawah. Setelah menunggu beberapa saat, Im Giok pun keluar dari balik pohon itu. Segera ia menuju ke tempat orang itu berdiri sebelumnya lalu dihamparkannya pakaian yang dibawa ke atas rumput. Sebat ia berbalik kembali ke tempatnya semula. Terdengar dari sungai itu suara tawa riang berkumandang dan berceloteh sendirian. Suara tawanya terdengar seperti suara tawa senang seorang bocah yang baru saja mendapat mainan baru. Alangkah polosnya orang ini. Seperti bocah cilik saja Pikir Im Giok tertegun. Matanya melirik sekejap ke arah sungai dibawah. Jaraknya berdiri dengan sungai dibawah sana ada tujuh puluh tombak jauhnya. Namun tidak terlalu jauh juga karena masih dapat dilihatnya

sosok orang yang sedang berendam itu. Wajahnya kembali memerah. Segera dipalingkan wajahnya dan coba meredakan hatinya yang sedikit terguncang. Gosok kepalamu kuat-kuat! teriak Im Giok kemudian. Kenapa? terdengar suara orang itu berkumandang dari bawah. Nih orang tahunya cuma kata kenapa, mengapa, siapa. Apa tidak ada kata yang lain? batin Im Giok gemas bercampur geli. Jangan tanya... pokoknya lakukan saja! teriaknya kembali. Tak lama kemudian sudah terdengar kembali suara tawa riang orang itu. Setelah menunggu hampir setengah kentungan lamanya, Im Giok pun berteriak lagi. Sekarang bersihkan lumpur yang melekat, tidak bolah ada yang tersisa! Kenapa? Buset... batin Im Giok makin geli. Sudah diduganya kata itulah yang bakal keluar dari mulut orang itu. Lakukan saja! teriak Im Giok menahan tawa. Dua kentungan berlalu sudah. Cukup rasanya orang itu mandi. Im Giok pun segera memanggil. Sekarang kau keluar dari situ dan kembali ke atas sini! perintah Im Giok berteriak. Tak terdengar jawaban, padahal Im Giok sudah yakin kalau kata kenapa bakal didengarnya lagi. Ia jadi sedikit kecewa. Tak lama kemudian telah terdengar langkah kaki menapak rerumputan dan akhirnya berhenti tak jauh dari pohon tempatnya berada. Kau lihat benda yang diatas rumput disitu? itu yang namanya pakaian. Kata Im Giok. Ambil dan pakailah! sambungnya lagi. Pakaian? Baiklah. terdengar suara kresek seperti suara orang yang sedang mengaduk-aduk sesuatu. Sudah dipakai? tanya Im Giok. Sudah! terdengar suara orang itu, tegas dan pasti.

Im Giok lalu keluar dari balik pohon itu. Sedari tadi ia sudah penasaran ingin tahu bagaimana tampang orang itu. Ketika pandangannya tiba diatas sosok orang itu, seketika itu juga tawanya meledak. Ternyata baju yang seharusnya dipakai dibadan malah dipakai sebagai celana sedangkan celana malah disampirkan ke pundaknya lalu kaki celana diiikatkan ke leher. Sabuk malah dilingkarkan ke badan silang menyilang. Belum lagi sikap orang itu yang berdiri petantang-petenteng tampaknya bangga akan penampilannya yang ajaib itu. Keruan saja Im Giok terpingkal-pingkal dibuatnya. Orang itu tampak kebingungan, tak tahu apanya yang salah. Sorot matanya memandang penuh tanda tanya. Sikapnya berdiri yang tadinya angkuh sekarang tampak gelisah, tidak seyakin tadi. Bukan begitu caranya berpakaian... kata Im Giok setelah berhasil menekan tawanya. Ia jadi tidak tega menyaksikan orang itu yang tampaknya kebingungan dan salah tingkah. Kau lihat diriku? tanya Im Giok lagi sambil menunjuk pakaiannya sendiri. Lihat Beginilah seharusnya kau berpakaian kata Im Giok lagi. Begitu? Benar... Sudah kau ingat? Sudah. Pergilah ke balik semak disana lalu pakai pakaianmu seperti ini! perintah Im Giok lembut. Baiklah. jawab orang itu. Ia lalu melangkah ke balik semak belukar disana, tak berapa lama ia telah muncul kembali dihadapan Im Giok. Begini? tanyanya. Im Giok tertegun. Orang ini ternyata tajam juga daya ingatnya. Sekali melihat langsung mengerti. Walau tidak dapat disebut rapi, paling tidak setiap potong pakaian berada pada tempatnya yang seharusnya, tidak terbolak-balik seperti tadi. Benar! puas hati Im Giok melihatnya.

Dipandanginya orang itu baik-baik dan ia pun tertegun. Usianya masih muda, paling-paling baru sekitar lima belas enam belas tahun saja namun tubuh pemuda ini tingginya dua kepala diatas dirinya, padahal Im Giok termasuk tinggi untuk ukuran wanita. Bahunya pun kelewat lebar, tidak sesuai dengan tubuhnya yang kurus itu. Wajahnya biasa saja namun kegagahan terbayang jelas disitu. Yang tidak biasa hanya dua hal diwajah anak muda itu. Matanya. Matanya bersinar terang bagaikan api yang bernyala-nyala, begitu tajam mencorong hingga ia tak sanggup menatap sepasang mata itu lama-lama. Dibalik itu, juga terpancar kehangatan dan kepolosan. Sungguh sepasang mata yang mempesona. Alisnya. Alisnya tebal dan berbentuk golok. Yang aneh adalah alisnya tidak tumbuh seperti normalnya manusia lain, bulu alisnya tumbuh tegak lurus berdiri ke atas. Tidak ke samping mengikuti garis tapi benar-benar tegak lurus menantang langit. Seumur-umur tak pernah dibayangkannya ada manusia yang mempunyai alis seperti milik pemuda ini. Tapi sekarang telah dilihatnya. Setiap orang yang bertemu dengannya pastilah akan berpaling untuk memperhatikan sepasang matanya, apalagi alisnya yang menakjubkan itu... Batin Im Giok heran berbalik kagum. Tidak tampan tapi jelas menawan hati. Kulit tubuhnya anak muda ini ternyata tidak kalah halus dengan kulitnya sendiri, putih dan kemerah-merahan. Seandainya cuma melihat tangannya saja pastilah ia disangka seorang perempuan. Suatu hal yang tidak biasa. pikir Im Giok kembali terpesona. Akhirnya si pemuda menegurnya duluan. Kenapa? katanya sambil memperhatikan dirinya sendiri. Mungkin bingung atas sikap Im Giok yang memandangnya seperti seorang pembeli menaksir harga suatu barang yang hendak dibelinya. Buset... penyakit nih orang kumat lagi. Batin Im Giok geli. Sambil tertawa Im Giok pun bekata. Tidak apa-apa... kau sudah makan?

Berusaha membelokkan pertanyaan si pemuda. Belum. Kalau begitu mari ikut denganku! ajak Im Giok sambil tersenyum manis. Kenapa? Kau ingin makan bukan? Ingin. Kalau begitu ikuti aku! Perintah Im Giok lagi. Baiklah! jawab pemuda itu setelah berpikir sejenak. Kehadiran pemuda itu ternyata mendapat tempat dihati Yok-Sian, apalagi setelah dilihatnya jiwa pemuda itu benar-benar masih polos dan kekanakan, makin sukalah Yok-Sian padanya. Pembawaannya yang tenang dan tidak banyak tingkah itu cocok benar dengan Yok-Sian. Setelah mendengar semua cerita Im Giok, kakek dan cucu itu pun berusaha mencoba memancing lebih banyak cerita dari mulut pemuda itu sayang semuanya nihil. Pemuda itu kelihatannya tidak ingat sama sekali tentang masa lalunya bahkan seolah tidak berminat menceritakan masa lalunya itu. Ternyata pemuda itu seorang yang cerdas hingga hanya dalam sebulan, segala hal tentang kehidupan manusia normal sebagian besar telah dikuasainya. Bahkan oleh Im Giok, pemuda itupun diajari ilmu surat. ******* Sai-Ji (anak Sai)... Sai-Ji... kau dimana? terdengar suara teriakan memanggil-manggil dalam hutan itu. Sesosok tubuh seorang kakek yang sudah renta tampak berkelebat dengan entengnya dari satu pohon ke pohon yang lain. Sambil berkelebat tak henti suaranya yang serak terdengar. Agaknya ada seseorang yang dicarinya. Sai-Ji? panggil si kakek lagi. Suaranya yang mengandung Khikang tinggi itu menggema jauh. Jika melihat sosok si kakek yang sederhana, kelihatan renta tak bertenaga dengan penampilan seperti seorang petani gunung, tak ada yang mengira kakek inilah Yok-Sian si dewa obat yang terkenal itu.

Disini Kong-kong! terdengar sebuah sahutan. Tidak berapa lama, muncullah seorang anak muda dari balik semak belukar. Ditangannya tampak tiga ekor ikan yang masih segar. Ternyata si anak muda yang beberapa waktu lalu dibawa Souw Im Giok pulang ke rumahnya. Oleh karena tidak mengetahui namanya sendiri, akhirnya oleh Yok-Sian pemuda itu dipanggilnya A Sai karena sosok dan perbawanya mengingatkan Yok-Sian akan singa (Sai). Kau sedang apa? tanya si kakek Yok-Sian-San-Jin Souw Kok Lam. Habis menangkap ikan disungai. Kongkong... ada apa mencari A Sai? kata A Sai Terpengaruh oleh kebiasaan Im Giok yang selalu memanggil kongkong (kakek) pada Yok-Sian, A Sai pun akhirnya ikut-ikutan memanggil kongkong. Yok-Sian tidak keberatan, walau pemuda ini belumlah lama dikenalnya namun ia menyukai pemuda itu. Sifat mereka berdua sangat cocok satu sama lainnya, apalagi A Sai merupakan pemuda yang rajin, tenang dan pandai. Yok-Sian makin menghargainya. Dapat berapa? tanya Yok-Sian iseng. Lumayan kongkong Dapat tiga ekor, masing masing seekor. Jawab A Sai sambil terkekeh senang. Diacungkannya tiga ekor ikan sebesar betisnya, ikan lehi (sejenis ikan gabus) yang montok gemuk lagi segar. Wah, Im Giok bakal senang nih jawab Yok-Sian turut terkekeh. Tinggi tubuh Yok-Sian tidaklah pendek, normal seperti rata-rata tinggi tubuh pria pada umumnya. Namun berdiri disamping A Sai membuatnya tampak seperti seorang bocah berdiri disamping ayahnya, hanya sampai di dada pemuda itu. Sambil menengadah dipandangnya wajah pemuda itu. Wajah yang gagah dan menyenangkan. Tak terlihat sama sekali beban hidup diwajahnya yang polos. Wajah yang sekarang tampak berisi dan bercahaya penuh dengan semangat hidup. Ia menghembuskan nafas panjang. Kongkong ada masalah apa? Tanya A Sai melihat Yok-Sian seperti menyimpan sesuatu persoalan. Yok-Sian seringkali dibuat kagum akan kepekaan pemuda ini, seolah ia dapat menebak perasaan orang lain.

Sai-Ji, ada sementara persoalan yang ingin kongkong katakan padamu. Mari kita duduk disana. Katanya lembut lalu melangkah duduk diatas sebuah batu besar. A Sai mengikuti duduk disamping Yok-Sian. Kongkong tahu kau telah kehilangan ingatan akan masa lalumu. Kongkong pun tahu ada sementara persoalan tak ingin kau ceritakan. Kongkong tak ingin memaksamu menceritakannya namun paling tidak biarkan kongkong memeriksa keadaan tubuhmu. Siapa tahu ada sesuatu cara yang dapat kongkong gunakan untuk menyembuhkan ingatanmu yang hilang itu... Kata YokSian lembut. Kenapa kau tidak mau diperiksa? Apa ada sesuatu yang kau takuti? lanjutnya. Pemuda itu tampak tertegun mendengar perkataan Yok-Sian. Setelah termenung sejenak, akhirnya ia pun angkat bicara. Bukannya A Sai tidak mau menceritakannya tapi ada beberapa hal yang A Sai sendiri tak pahami. A Sai tak ingin menyusahkan kongkong dan Im Giok-Cici (kakak Im Giok), jadi tidak A Sai ceritakan. Bagaimana kau tahu dengan menceritakannya akan menyusahkan kami? Lagi pula bagaimana kau tahu dengan tidak menceritakannya takkan menyusahkan kami? tanya Yok-Sian cepat. Apa kau tahu bagaimana susahnya kami mengkhawatirkan keadaanmu? lanjutnya kemudian. Kelihatan bayangan penyesalan menyelubungi wajah pemuda itu. Sungguh berat rasa hati A Sai memikirkan bahwa ia telah menyusahkan kedua orang yang disayang dan dihormatinya itu. Seandainya ingatanmu hilang karena sesuatu jenis penyakit demam panas, masih tidak terlalu menjadi masalah. Tapi bagaimana kalau hilangnya ingatanmu itu disebabkan karena terpukul sesuatu benda? Asal kau tahu, benturan pada kepala dapat menyebabkan seseorang kehilangan ingatannya akan masa lalu. Lanjut Yok-Sian kemudian. Pada beberapa kejadian yang pernah kongkong temui, seringkali benturan yang terjadi menyebabkan darah yang keluar membeku dan menyumbat peredaran jalan darah pada jaringan saraf otak. Seandainya tidak diobati dengan benar, bukan hanya kehilangan ingatannya saja tapi orang tersebut pun dapat juga kehilangan kewarasan bahkan kehilangan selembar jiwanya. Begitukah? tanya A Sai tertegun. Tak pernah dibayangkannya hal itu sebelumnya. Bagaimana kalau kejadiannya sudah lewat bertahun-tahun yang lalu? Apakah masih tetap berbahaya? Tanyanya. Selama darah beku masih menyumbat diotak, maka nyawa orang tersebut tetap berada dalam bahaya. Yok-Sian menerangkan.

A Sai makin termangu. Itu sebabnya kongkong ingin mendengar ceritamu sejelas mungkin, siapa tahu berdasarkan ceritamu itu ada sesuatu petunjuk yang dapat kongkong gunakan untuk menolongmu. Kata Yok-Sian lebih lanjut. A Sai berpikir keras, tampaknya ragu menentukan langkah. Setelah menunggu sekian lama tanpa ada jawaban, akhirnya Yok-Sian berkata lagi. Kongkong tak ingin memaksamu melakukan sesuatu yang tak ingin kau lakukan... Paling tidak pikirkanlah baik-baik ucapan kongkongmu ini. Kalau seandainya sudah kuceritakan tapi tidak ada gunanya juga? tanya A Sai tiba-tiba. Kalau demikian yang terjadi maka terpaksa kongkong harus memeriksa keadaanmu. Seandainya terbukti benar seperti kecurigaan kongkong selama ini, dengan ilmu pengobatan yang kongkong miliki, kongkong yakin dapat menemukan jalan keluar bagi penyakitmu itu. jawab Yok-Sian meyakinkan A Sai. Paling tidak kita jadi tahu hal apa yang menyebabkan sakitmu. Kalau penyebabnya diketahui, penyelesaiannya pun lebih mudah dicari. lanjutnya lagi. A Sai tampak berpikir serius lalu berkata kemudian. Lebih baik kongkong langsung memeriksa A Sai saja. Bagaimana dengan ceritanya? Apa tidak ada sesuatu kejadian penting untuk kau ceritakan? Siapa tahu ceritamu itu bisa membantu. lanjut Yok-Sian. Tidak banyak yang A Sai ingat. Selama sekian tahun tinggal diatas gunung sana, tidak pernah bertemu dengan orang lain. Kongkong dan cici adalah orang pertama yang A Sai temui selama ini. jawabnya yakin. Apa selama ini kepalamu pernah terbentur sesuatu? tanya Yok-Sian lagi. Tidak pernah. Kalau pernah pastilah A Sai ingat. Jawab A Sai yakin. Walaupun tahu pemuda ini tampaknya masih tak ingin menceritakan semuanya namun Yok-Sian tak memaksanya lagi. Ia cukup kenal sifat A Sai yang tidak ingin melakukan sesuatu hal yang dianggapnya percuma. Jika ia berkata tak ada yang penting maka benar-benar tak ada yang penting untuk diceritakan. Kalau begitu sesampainya kita dirumah, kongkong akan langsung memeriksa penyakitmu itu. Lanjutnya kemudian, Mari kita pulang, tentu Giok-ji telah tak sabar menunggu kita.

Baiklah. Jawab pemuda itu patuh. ******* Belasan jarum emas bermacam ukuran tertanam ditubuh A Sai sementara lebih banyak lagi jarum perak yang menempel dikepalanya. ia mirip seekor landak saking banyaknya jarum yang menempel disitu. A Sai duduk dipembaringan sedang Yok-Sian tampak bersila disampingnya. Tangan kirinya menempel didada si pemuda sementara tangan kanan menempel ditengkuk. Jarum-jarum tersebut berfungsi untuk menutup jalan-jalan darah yang tidak perlu diperiksa sehingga tenaga yang tersalur dapatlah terfokus pada Hiat-to (titik jalan darah) yang ingin diperiksa dan diobati. Satu kentungan berlalu. Sejauh ini tak ada hal apapun yang menghalangi pergerakan tenaganya itu, tak ada satupun jalan darah A Sai yang tersumbat. Tenaganya mengalir bebas disekujur jalan darah yang dilaluinya. Tidak ada darah beku. Tak ada sesuatu yang aneh. Ia lega, jiwa A Sai tidaklah berada dalam keadaan bahaya. Cuma ada sesuatu yang tidak biasa pada jalan darah pemuda ini. Dicobanya menyusuri kembali jalan darah ditubuh A Sai dan setelah menyelidik beberapa kali, yakinlah ia akan dugaannya itu. Seng-Si-Hian-Koan (Menembus Pintu Hidup Mati). pikir Yok-Sian terkejut luar biasa. Ada beberapa hiat-to (titik jalan darah) paling rahasia dan paling sulit dibobol pada tubuh manusia. Jika hiat-to hiat-to tersebut berhasil ditembus, aliran lweekang (tenaga dalam) orang itu akan bergerak bebas hingga ke seluruh hiat-to disekujur tubuhnya, tidak ada lagi penghalang yang menghalangi. Orang itu pun akan dapat mengalirkan lweekang sekehendak hatinya ke seluruh tubuhnya itu, selain itu lweekangnya pun akan meningkat hingga beberapa kali lipat dari semula. Keadaan seperti ini disebut Seng-Si-Hian-Koan (Menembus Pintu Hidup Mati). Jika orang tersebut belajar suatu jenis ilmu lweekang, orang itu pastilah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu lweekang yang dipelajarinya itu dalam waktu singkat. Pada dasarnya setiap jenis Ilmu lweekang yang ada terbagi ke dalam beberapa tingkatan. Setiap tingkat menggambarkan keadaan lweekang orang tersebut. Misalkan jika orang tersebut berhasil menembus Tian-Tan-Hiat-to (titik jalan darah disekitar pusar yang dikenal sebagai titik pusat tersimpannya lweekang seseorang), maka orang tersebut dikatakan telah berhasil membangkitkan lweekang-nya. Dengan kata lain orang itu telah menguasai tahap pertama dari ilmu lweekang yang dilatihnya.

Jika orang itu sanggup menembus beberapa hiat-to lain yang mengontrol peredaran tenaga ditangannya, orang itu akan mampu menyalurkan lweekangnya ke tangan dengan baik, membuat pukulannya jadi mematikan, membuat tangannya kebal hingga mampu menangkis senjata tajam dengan tangan kosong dan lain sebagainya. Pada keadaan demikian orang itu dikatakan telah menguasai tahap kedua dari ilmu lweekangnya itu. Demikian seterusnya, semakin tinggi tingkatannya semakin susah pula untuk dikuasai sebab makin rumit pula jalan darah yang harus ditembusi. Tentu saja setiap ilmu lweekang yang ada mempunyai istilah dan cara berlatihnya sendiri-sendiri namun pada prinsipnya sama saja. A Sai telah mencapai tahap Seng-Si-Hian-Koan (Menembus Pintu Hidup Dan Mati). Tahap tertinggi dalam ilmu lweekang. Tahap tertinggi yang tidak semua orang mampu mencapainya, tidak pula Yok-Sian. Yok-Sian terkejut, benar-benar kaget luar biasa. Bagaimana mungkin A Sai mampu menembus Seng-Si-Hian-Koan? Padahal usianya belum lagi enam belas tahun? Lo-hu (aku orang tua) yang telah belajar ilmu lweekang enam puluh tahun lamanya saja tak mampu mencapainya pikir Yok-sian keheranan. Benar-benar ajaib. Pastilah sesuatu yang luar biasa pernah terjadi pada bocah ini, mungkin hal itu jugalah yang menyebabkannya kehilangan ingatannya. Pikir Yok-Sian kembali. Perlahan ditarik kembali tenaganya. Setelah mengatur nafas sejenak memulihkan tenaga, dicabutnya semua jarum emas dan perak dari tubuh A Sai dan disimpannya ke dalam sebuah kotak yang terbuat dari batu kemala putih. Kongkong, Bagaimana keadaan Sai-te (adik Sai)? Apa bisa disembuhkan? tanya Im Giok, suaranya terdengar penuh kekhawatiran dan ketegangan. Tampak gadis itu sedang menghapus butiran keringat dari wajah A Sai dengan selembar handuk kecil sementara si pemuda memandanginya dengan raut muka tegang penuh tanda tanya. Yok-Sian menghembuskan nafas panjang, lalu berkata. Aneh... Sungguh aneh! Apanya yang aneh kongkong? tanya Im Giok lagi. Keadaan Sai-ji tidaklah berbahaya. Tak ada darah beku yang mengeram dikepalanya, semuanya baik saja. Kata Yok-Sian perlahan. Apakah ingatan Sai-te bisa disembuhkan seperti semula? tanya Im Giok.

Hal ini sukarlah diketahui. Kembalinya ingatan Sai-ji sepenuhnya tergantung pada Thian dan nasibnya sendiri. Bisa sehari, setahun, sepuluh tahun... kongkong tak bisa menjawabnya. Jawab Yok-Sian kembali. Masakan kongkong yang dijuluki orang si dewa obat pun tak mampu menyembuhkannya? desak Im Giok lebih jauh. Kongkong pun hanyalah seorang manusia, bukanlah Thian. Manusia cuma bisa berusaha namun tetap Thian-lah yang menentukan hasilnya. jawab Yok-Sian lembut. Tapi... apa kongkong benar-benar sudah tidak ada akal lainnya lagi? tanya Im Giok berusaha mengejar lebih jauh. Tidak ada. Kita serahkan saja pada Thian. Jawab Yok-Sian tegas. Jangan khawatir Sai-ji takkan mati. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia sehat dan tak ada sesuatu yang salah selain ingatannya yang hilang itu. Satu saat kelak ingatannya itu akan kembali dengan sendirinya. lanjutnya menenangkan. Baiklah... Giok-ji percaya. Jawab Im Giok akhirnya. Yok-Sian tersenyum lembut. Saat hendak bangkit keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara A Sai bertanya. Kongkong ada hal lain yang belum kau katakan bukan? Maksudmu? Yok-Sian balik bertanya. Kongkong bilang tadi ada yang aneh. Kalau keadaan A Sai tidaklah aneh dan mengkhawatirkan maka pastilah ada hal lain yang belum kongkong katakan. Benarkah? Yok-Sian tertegun. Setelah sejenak berpikir akhirnya ia pun bertanya. Sai-ji, pernahkah kau belajar ilmu silat? belajar suatu jenis ilmu lweekang tertentu? Tidak pernah jawab A Sai yakin. Kau yakin? Yakin kongkong! tegas jawaban A Sai. Itulah yang aneh Maksud kongkong? tanya A Sai lagi. Setelah menarik nafas sesaat Yok-Sian pun berkata.

Tubuh manusia terdiri dari ratusan bahkan ribuan urat darah. Setiap urat darah yang ada dikelompokkan sesuai dengan fungsi dan kerjanya masing-masing. Kelompok-kelompok ini biasanya disebut juga jalan darah. Bentuknya pun bermacam-macam dari yang besar hingga yang kecilnya nyaris tak terlihat oleh mata. Pada seseorang yang belum pernah belajar ilmu lweekang, pada jalan darah mereka terdapat semacam klep penghalang yang menghalangi peredaran darah mereka keluar dari jalurnya. Dalam arti jika jalan darah itu hanya dapat membawa aliran darah ke jantung tak nanti jalan darah tersebut dapat menerima aliran darah dari jantung. Katanya lagi, Namun pada seseorang yang berlatih lweekang, batasan tersebut ditiadakan. Dengan tenaga yang mereka miliki mereka dapat membobol klep penghalang yang menghalangi titik-titik tersebut. Dengan kata lain mereka dapat mengalirkan lweekang mereka ke bagian tubuh yang mereka inginkan tanpa terhalang. Yok-Sian menarik nafas panjang lalu melanjutnya keterangannya. Jalan darah ini erat kaitannya dengan aliran tenaga dalam tubuh. Misalnya jika kau dapat mengalirkan lweekang hingga ke tangan niscaya kekuatan tanganmu akan bertambah bahkan hingga kebal dari senjata tajam dan sebagainya. Namun untuk dapat mengalirkan lweekang hingga ke tangan, terlebih dulu kau harus dapat membobol penghalang yang menghalangi aliran tenagamu itu supaya tenagamu dapat kau kirimkan ke tangan. Namun ada beberapa hiat-to rahasia yang sangat kecil kemungkinan tertembus, bahkan bisa dibilang hampir mustahil saking kecil dan rumitnya. Diantaranya adalah beberapa hiat-to pada tulang belakang dan otak. Beberapa hiat-to ini sangatlah sulit ditembus lagi besar resikonya, salah langkah sedikit saja dapat mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian. Katanya lagi. Titik yang paling sulit ditembus dari semuanya disebut titik Seng-Si-Hian-Koan (Menembus pintu hidup dan mati) yang letaknya jauh didalam jaringan saraf otak kecil manusia. Disebut demikian sebab untuk dapat menembus jalan darah ini orang itu benar-benar harus mempertaruhkan selembar nyawanya. Ibarat berada diantara hidup dan mati, jika tembus ia hidup jika tidak pastilah ia mati atau paling ringan gila. Orang yang berhasil menembus titik ini tubuhnya tak lagi mempan segala jenis pukulan dan racun, sebab tenaganya dapat mengalir bebas melindungi setiap bagian tubuhnya itu. Mungkin hanya segelintir orang saja yang berhasil menembus titik Seng-Si-Hian-Koan ini. Sebenarnya apa maksud kongkong menerangkan semua ini? potong Im Giok tak sabar berbareng khawatirnya timbul kembali. Titik Seng-Si-Hian-Koan milik Sai-ji telah tertembus. Kata Yok-Sian pendek. Im Giok melongo.

Disinilah letak keanehannya. Seandainya Sai-ji pernah belajar suatu ilmu lweekang mungkin hal ini tidaklah terlalu aneh, tapi Sai-ji sendiri telah mengatakan bahwa ia tak pernah belajar lalu bagaimana mungkin titik Seng-Si-Hian-Koannya tertembus? Ruangan itu makin bertambah sunyi. Suara Yok-Sian walau diucapkan dengan lirih terdengar jelas. Jika seseorang dapat menembus semua penghalang yang ada ditubuhnya maka ia akan menjadi seorang manusia dewa tanpa tanding dimuka bumi kata Yok-Sian. Setelah menahan nafas sejenak, Yok-Sian melanjutkan. Seng-Si-Hian-Koan adalah penghalang terakhir. Hari masih pagi, matahari baru saja menampakkan dirinya diufuk timur. Cuaca yang dingin dan berkabut cukup membuat orang malas keluar dari kamarnya. Tidak demikian dengan A Sai. Sejak masih remang-remang ia telah berada dilereng gunung Hou-Thian-San. Masih jelas terbayang dibenaknya segala perkataan Yok-Sian tentang ingatannya yang hilang dan tentang titik Seng-Si-Hian-Koannya yang bobol itu. Namun ia tidaklah terlalu peduli akan semuanya itu. Asalkan ia dapat tetap tinggal bersama mereka, hal yang lainnya tidaklah menjadi persoalan baginya. Derita yang selama ini mengikutinya membuatnya pasrah akan nasibnya. Prinsipnya selama hayat masih dikandung badan ia akan terus mempertahan hidupnya. Namun jika Thian berkehendak lain, ia pun tidak menyesal. Baginya dapat hidup bahagia beberapa bulan ini bersama mereka, sudah lebih dari cukup. Sudah terlalu banyak budi yang diterimanya dan ia tak mengharapkan lebih. Tujuan hidupnya sekarang hanyalah satu, membuat Yok-Sian dan Im Giok bahagia. Soal mati hidupnya adalah urusan kedua. Soal ingatannya yang hilang sama sekali tak ingin dipikirkannya sebab ia tahu percuma saja, ia tak ingin melakukan hal yang sia-sia. Terbayang kembali percakapannya dengan kongkongnya beberapa waktu yang lalu. Mulai hari ini, kongkong akan mengajarimu ilmu pengobatan. Kata Yok-Sian. Untuk apa kongkong? tanyanya. Sambil menghembuskan nafas panjang, Yok-Sian berkata. Walaupun kau tidak mempersoalkan ingatanmu yang hilang itu, namun kongkong tetap merasa bersalah padamu.

Kongkong tak pernah bersalah pada A Sai malah sebaliknya budi kongkong dan Im Giok-cici amatlah besar terhadap A Sai. Kongkong telah berusaha dan bagi A Sai itu sudah lebih dari cukup! jawab pemuda itu tegas. Walau demikian seharusnya kongkong dapat berbuat lebih untukmu, tapi kenyataannya ilmu pertabiban yang kongkong pelajari selama berpuluh tahun ini pun tak mampu menyembuhkan penyakitmu itu. Percuma saja kongkong digelari orang si dewa obat. Kata Yok-Sian dengan menyesal. Tapi... Sai-ji, turutilah perkataan kongkongmu ini. Potong Yok-Sian cepat. Hidup kongkong sudah mendekati akhirnya. Kongkong sudah tua dan sebentar lagi kongkong akan berkumpul kembali dengan leluhur. Walau ingin menyembuhkan penyakitmu namun waktu kongkongmu ini tinggal sedikit. Tak mungkin lagi menyelidiki suatu cara untuk menyembuhkan penyakitmu itu. Itu sebabnya kongkong ingin menurunkan sedikit ilmu pengobatan yang kongkong miliki ini untukmu. Jika suatu saat kau berhasil menguasai ilmu pengobatan kongkong, kau mungkin akan dapat menyembuhkan sendiri penyakitmu itu. Kata Yok-Sian panjang lebar. A Sai termenung, terharu mendengar semua perkataan kongkongnya itu. Bagaimana nak? Kau bersedia? tanya Yok-Sian kembali dengan lembut. Sai-te janganlah kau menolak permintaan kongkong. terdengar suara Im Giok turut membujuk pemuda itu. Tak mampu lagi menolak, A Sai pun akhirnya mengangguk. Demikianlah sejak saat itu A Sai pun belajar illmu pengobatan dari Yok-Sian. Dasar ingatannya bagus, semua teori dan penjelasan yang diberikan Yok-Sian mampu diingatnya dengan baik hingga Yok-Sian sendiri terkagum-kagum dibuatnya. Teori yang seharusnya dipelajari setahun ternyata mampu dipelajari A-Sai hanya dalam waktu seminggu, tinggal prakteknya saja. Keberadaan A Sai dilereng Hou-Thian-San pagi ini pun bertujuan untuk mempraktekkan teori pengobatan yang dipelajarinya. Sebab dalam ilmu pertabiban, teori tanpa praktek adalah sia-sia. Ia harus mengumpulkan berbagai bahan obat sesuai dengan gambaran yang diingatnya tentang tumbuhan dan hewan yang berguna untuk bahan obat. A Sai pun sering terkagum-kagum sebab selain hewan dan tumbuhan, ada juga benda-benda tertentu dialam yang kelihatannya tidak berguna namun ternyata dapat digunakan sebagai bahan campuran obat-obatan. Seperti tanah lempung yang dikumpulkannya pagi ini. Sepintas hanya terlihat seperti tanah liat biasa saja, sama sekali tak ada istimewanya. Ia baru tahu kalau ternyata benda ini jika

dicampurkan dengan beberapa jenis bahan lainnya akan menjadi obat pemunah racun akibat gigitan serangga. Sungguh kagum hatinya berbalik ia pun senang, ternyata ilmu pengobatan jauh lebih menarik daripada yang dibayangkannya semula. Saat sedang asyik mengumpulkan tanah lempung itu, Telinganya yang tajam menangkap sesuatu bunyi dari semak belukar dua puluh tombak dibelakangnya. Telinganya mampu menangkap suara sekecil apapun dalam jarak dua puluh tombak dari tempatnya berada. Suatu kemampuan yang dulu dianggap biasa olehnya ternyata dianggap luar biasa oleh Yok-Sian. Membuatnya jadi berpikir kembali benarkah pendengarannya melebihi kemampuan manusia lain? Suara itu kembali terdengar, berjalan perlahan ke arahnya. langkah kakinya tak mampu didengar A Sai menandakan ginkang orang ini pastilah tidak rendah. Tarikan nafasnya pun tidaklah terdengar. Namun setinggi apapun ginkang dan kemampuan orang itu menahan nafas, takkan mampu mengecoh A Sai. Denyut jantung... Tak ada satu makhluk hidup pun yang sanggup menghilangkan denyut jantungnya sendiri. Tidak juga orang ini. Denyut jantung orang itulah yang sejak tadi didengarnya. Berdenyut dengan kerasnya. Bahkan ia pun tahu kalau orang ini seorang perempuan muda yang rupawan. Ia jadi tersenyum sendiri. Giok-cici (kakak Giok) ya? kata A Sai tiba-tiba. Sai-te (adik Sai), bagaimana kau tahu cici (kakak) yang datang? tanya gadis itu kaget. Memang Im Giok tak mengerti bagaimana cara A Sai mengetahui kehadirannya itu, sebab sejak tadi pemuda itu tak pernah mengangkat muka dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Seorang ahli silat kelas satu pun belum tentu dapat mengetahui kedatangannya itu, bagaimana A Sai yang tak pandai silat ini mengetahuinya? Tapi segera ia teringat perkataan kongkongnya beberapa waktu lalu. Sai-ji walaupun tak pernah belajar sesuatu ilmu silat namun keadaan tubuhnya berbeda jauh dengan orang lain, kekuatan tubuh serta ketajaman panca inderanya bahkan diatas sebagian orang dibulim. Hanya ia sendiri tak menyadarinya. Teringat akan hal itu, mau tidak mau sekarang Im Giok percaya akan kebenaran ucapan kongkongnya itu. Dengan kagum dipandangnya A Sai. Bagaimana sih caramu mengetahui kalau yang datang itu cici? tanya Im Giok lagi.

Yang ditanya cuma bangkit berdiri sambil tersenyum lebar. Im Giok jadi tidak sabar, lembut dicubitnya lengan pemuda itu. Ayo katakan... Jangan pelit begitu! desaknya lagi. Sambil tertawa terkekeh A Sai menjawab, Cici yang baik, caranya sangat mudah Sengaja pemuda itu menunda jawabannya. Hal yang tentu saja makin membuat Im Giok penasaran. Cepat katakan, jangan jual mahal begitu! katanya tak sabaran. Tawa A Sai makin lebar. Entah kenapa ia suka melihat sikap cicinya yang seperti anak kecil itu. Manis dan menggemaskan. Mungkin itu juga sebabnya ia jadi suka menggoda cicinya ini. Sebenarnya gampang sekali... kembali ditahan jawabannya. Im Giok jadi semakin tak sabar melihat sikap pemuda itu yang sok jual mahal. Dirinya yang biasanya sabar, selalu tak mampu menahan kesabarannya jika digoda adiknya yang pendiam namun terkadang suka iseng itu Katakan sekarang atau selamanya kau takkan makan lehi masak saos kesukaanmu itu! teriak Im Giok mengancam, hatinya gemas dan penasaran. Walau geli setengah mati terpaksa A Sai menerangkan juga. Takut kalau tak bisa lagi merasakan masakan cicinya yang luar biasa enaknya itu. Katanya dengan gaya serius, Saat sedang mengumpulkan lempung ini, tiba-tiba saja sinar matahari jadi bertambah indah, suara burung jadi luar biasa merdunya bahkan lereng ini pun jadi tampak seratus kali lebih mempesona. Awan yang berarak seolah bagaikan tarian dewata. Dedaunan hijau melambai deng... Apa hubungannya? potong Im Giok tak sabar. Tentu saja ada hubungannya? jawab A Sai tetap dengan gaya serius Apa? tanya Im Giok lagi, makin penasaran dan tak sabar. Menurut cici apa? tiba-tiba ia balik bertanya. Im Giok jadi melongo. Lho... Mana cici tahu!!! teriakan Im Giok terdengar berkumandang. Sambil berteriak dihujaninya tubuh pemuda itu dengan cubitan.

Sungguh gemas hatinya. Ia seriusnya setengah mati tapi pemuda ini malah bercanda terus. A Sai tertawa terbahak-bahak, sambil tertawa tangannya sibuk membendung cubitan ganas cicinya itu. Ha Ha Ha Ampun cici Ampun Akan kukatakan! Ayo katakan! kata gadis itu berhenti, namun tangannya tetap teracung dalam posisi mengancam, agaknya siap melancarkan lagi cubitannya. He he he. A Sai berusaha menekan geli hatinya Jangan cengengesan begitu, cepat katakan! teriak Im Giok makin tak sabaran. Sampai dimana tadi? tanya A sai setelah berhasil menekan geli hatinya. Sampai disegala hal yang indah-indah itu! sambung Im Giok cepat. Oh... Apanya yang Oh? Jangan putar kiri kanan lagi! Potong gadis itu. Baiklah... saat sedang bekerja tadi, Sai-te lihat keadaan alam jadi berbeda, jauh lebih indah dan mempesona dari pada sebelumnya. Jawab pemuda itu pelan, sikapnya kembali sok serius seperti sebelumnya. Lalu? Lalu Sai-te pun paham... tetap dengan gaya serius ia menjawab. Paham apa? Im Giok mendesak. Paham kalau saat itu pastilah telah turun seorang bidadari ke bumi. Seketika selembar wajah Im Giok memerah. Ia tahu adiknya itu cuma menggodanya walau demikian tak urung senang juga hatinya. Tangannya yang sedari tadi teracung mengancam diturunkannya perlahan. Dengan memasang wajah cemberut ia pun bertanya. Dan siapakah bidadari itu? pura-pura tak acuh yakin dirinyalah bidadari itu. Yang pasti bukan cici! jawab A Sai seketika. Lalu melompat berlari menjauh sambil tertawa terbahak-bahak. Wajah Im Giok yang sudah merah sedari tadi makin memerah mendengar ucapan pemuda itu.

Sialan! Awas kalau sampai ku tangkap! teriaknya gusar lalu ia pun berlari mengejar adiknya itu. Rasa gemas dan malu bercampur jadi satu. Dasar anak nakal, masih kecil sudah berani-beraninya mempermainkan orang tua teriak Im Giok gemas, lupa kalau ia pun masih seorang gadis muda dan yang disebutnya sebagai anak kecil itu tingginya dua kepala diatas dirinya. Terdengar suara tawa A Sai diselingi teriakan gusar Im Giok saat keduanya berkejaran mengelilingi lereng itu. Lebih mirip petak umpet jadinya. Akhirnya teriakan-teriakan Im Giok pun lama-lama berubah menjadi tawa geli. Capai berkejaran, kedua kakak beradik itu pun duduk beristirahat diatas hamparan rumput. Sai-te, katakanlah pada cici... jangan bercanda terus! kata Im Giok setengah memohon. Dipandanginya wajah pemuda itu. Cici, sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh! tak tega juga hati A Sai menolak permintaan cicinya itu. Suara cici sewaktu datang terdengar oleh Sai-te! sambungnya lembut. Benarkah? tanya Im Giok tak percaya. Benar. Bagaimana mungkin? Aih... dasar ginkang cici yang lemah, pantasan kau dapat mendengar gerakan cici.! Suara gerakan cici tak dapat kudengar. Jawab A Sai santai. Im Giok jadi sedikit keheranan. Apakah suara pernafasan cici yang kau dengar? Juga Bukan itu. Sekarang Im Giok benar-benar keheranan. Jika gerakan dan pernafasan cici tidak kau dengar, lalu apa yang kau dengar? Denyut jantung cicilah yang kudengar.

Hah... Bagaimana mungkin? jangan bercanda Sai-te! kata Im Giok, kaget mendengar jawaban A Sai yang tak masuk diakal itu. A Sai menghembuskan nafas panjang lalu menjawab. A Sai tidak bercanda. Memang suara denyut jantung cicilah yang kudengar! kata pemuda itu menegaskan. Bagaimana caranya? tanya Im Giok kembali, penasaran. Suara gerakan atau pernafasan seseorang wajar kalau terdengar tapi suara denyut jantung? Ia tak percaya. Sai-te juga tidak tahu bagaimana caranya. Yang jelas Sai-te mampu mendengar suara denyut jantung cici. jawabnya. Entah sejak kapan, suara sekecil apapun dalam jarak dua puluh tombak mampu Sai-te dengar. Dulunya kupikir semua orang sama denganku, tapi menurut kongkong tidaklah demikian. Kata kongkong kemampuanku mendengarkan sesuatu jauh diatas kemampuan manusia lain. kata A Sai menerangkan. Ooo... benarkah? tanya gadis itu kembali, kagum bercampur ragu. Masa Sai-te berani membohongi cici! Huuh... bukannya tadi kau membohongi cici? jengek gadis itu. Tadi kan Sai-te cuma bercanda! jawabnya sambil terkekeh pelan. Im Giok pun akhirnya ikut tertawa bersamanya. Baiklah, cici percaya. Tapi masakan hanya dengan mendengar saja kau dapat mengetahui yang datang itu cici bukannya kongkong atau orang lain? tanya gadis itu kembali, agaknya ia masih penasaran. Kalau itu sih karena keharuman cici tercium olehku. Jawabnya polos. Wajah Im Giok jadi sedikit memerah. Dengan memberanikan diri ia pun bertanya kembali. Memangnya kau hafal aroma cici? Tentu saja. Disekitar tempat inikan cuma ada kita bertiga. Tentu saja kuhafal. Apalagi kongkong aroma tubuhnya seperti aroma kayu manis. Maka jelas tidak mungkin kongkong yang datang. Jawab pemuda tegas. Kalau cici? tanya Im Giok dengan wajah merah.

Kalau cici... hmmm... jawab si pemuda pura-pura berpikir. Kalau aroma cici bagaimana? desak gadis itu, tambah merah mukanya. Tidak terlalu buruk! jawabnya berteka-teki. Tidak terlalu buruk bagaimana? sudah merah padam wajah gadis itu, yakin bakal dikerjai lagi. Harum! jawab A Sai sambil menahan senyum. Ooo jawab gadis itu lega sekaligus bangga hatinya. Harum seperti si belang! sambung pemuda itu cepat, menyambar keranjang obatnya lalu melarikan diri sambil terbahak-bahak. Si belang adalah seekor babi piaraan mereka dirumah. Masakan dirinya yang cantik jelita ini baunya disamakan dengan bau seekor babi? Senyum lebar yang tadinya tersungging dibibir Im Giok segera lenyap. Wajahnya seketika merah padam. Sadar dirinya telah kena dikerjai lagi. Kau kau Kurang ajar! Ayo kembali! teriak gadis itu gusar. Benar-benar harus dikasih pelajaran bocah nakal ini. batin Im Giok gemas. Hanya tampak bayangan tubuh gadis itu saat ia berkelebat mengejar A Sai. Beberapa saat kemudian, didepan sana dilihatnya pemuda itu sedang berdiri waspada seolah sedang menghadapi sesuatu bahaya. Ia jadi keheranan, sebat didekatinya A Sai. Ada apa? tanya Im Giok curiga melihat sikap A Sai yang tak wajar. Sssttt bisik A Sai perlahan, seolah takut suara mereka terdengar orang lain. Ada apa? kenapa harus bisik-bisik segala? tanya gadis itu, ikut berbisik. Rasa gusarnya telah hilang sebagian berganti rasa heran dan curiga. Ada seseorang. bisik A Sai lagi. Dimana? bisik Im Giok waspada, tangannya telah meraba gagang pisau baja dipinggang. Siap dicabut dari sarungnya sementara matanya menyelidik kiri kanan. Kurang begitu jelas. jawab pemuda itu sambil hidungnya tak henti-hentinya mengendus ke segala penjuru.

Tercium? tanya Im Giok melihat kelakuannya itu. Ya. bisik pemuda itu yakin. Bau apa? tanya Im Giok makin waspada. Direndahkan tubuhnya, siap menghadapi serangan sementara pisaunya telah terhunus ditangan. Bau si belang! jawab pemuda itu kalem lalu tawanya pun pecah kembali. Sebelum Im Giok menyadari apa yang terjadi, A Sai telah melarikan diri dari situ meninggalkan suara tawa berkepanjangan ditelinganya. Mendengar tawa A Sai sadarlah gadis itu, ia telah kembali dikerjain. A Saaaiiiii...!!! teriakan Im Giok terdengar mengguntur membelah keheningan tempat itu. Kali ini ia benar-benar gusar. Dibanting kakinya berulang kali lalu menjatuhkan dirinya mendeprok di rumput. Kau... keterlaluan! jeritnya lagi. Saking kesalnya, butiran-butiran air mata telah mengalir menuruni pipinya yang indah. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah perlahan dari depan. Tampak A Sai telah kembali. Matanya tampak berkaca-kaca menahan perasaannya. Ia tahu ia telah menggoda terlalu jauh. Tak pernah disangkanya perbuatannya itu telah menyebabkan cicinya menangis. Sungguh ia sangat menyesal. Perlahan pemuda itu berkata, suaranya dipenuhi kesenduan dan penyesalan. Cici... jangan menangis... Tangis Im Giok makin menjadi. Cici... takkan kuulangi lagi, takkan kugoda lagi dirimu Bujuk A Sai menyesal. Namun Im Giok tetap menangis tersedu. Cici... mulai saat ini Sai-te berjanji takkan membuat cici menangis lagi bisiknya, penyesalannya makin menjadi. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut didepan Im Giok. Cici... jangan menangis lagi...

Kalau cici masih marah, silahkan pukuli A Sai sepuasnya... asal... asal cici jangan menangis lagi... bujuk pemuda itu kembali. TOKKK! terdengar bunyi kepala diketok. Gagang pisau baja itu dengan jitu mendarat dikepala A Sai sementara pemiliknya menatap A Sai sambil tertawa. Bayangan kemenangan tergambar jelas diwajahnya yang masih berlinangan air mata itu. Kau pikir cuma kau sendiri yang pintar mengerjai orang? jengek gadis itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. A Sai melongo, sadar dirinya telah dikerjai cicinya itu. Rupanya sejak semula tangisan cicinya itu hanyalah untuk menjebaknya. Tanpa sadar dielusnya kepalanya. Ia tak menyesal, lebih baik dirinya diketok seribu kali daripada harus melihat cicinya menangis. Senyum tulus terbit dibibir pemuda itu. Cici kalau masih kurang, silahkan ketok kepala A Sai lagi! katanya lembut. Im Giok jadi tertegun mendengar perkataan pemuda itu. Ingat kalau tadi kepala itu telah diketoknya. Penyesalannya pun timbul. Perlahan tangannya terulur lalu dengan lembut dielusnya kepala A Sai. Sakit? tanyanya lembut. Tidak. Jawab A Sai tegas. Jauh lebih sakit melihat cici menangis. Sambungnya kemudian. Im Giok jadi terharu mendengar ucapan pemuda itu. Kepala A Sai dibelainya dengan kasih sayang. Cici... Sai-te janji takkan membuat cici menangis lagi. Kalau sampai Sai-te membuat cici menangis lagi, Sai-te rela diketok seribu kali. Janji pemuda itu sungguh-sungguh. Im Giok makin terharu. Walau pun kadang isengnya bukan main namun ia tahu betapa sayangnya adiknya itu padanya. Ia yang semenjak kecilnya tak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang saudara, sekarang seolah dapat merasakan perasaan orang-orang yang beruntung dikarunia saudara.

Saudara ternyata bukan hanya teman dalam suka dan kesenangan saja, saudara juga teman dalam kesedihan dan penderitaan. Teman untuk berbagi. Lama Im Giok termenung, tak sadar kilatan cahaya nakal telah muncul kembali dimata adiknya itu. Cici... kata A Sai tiba-tiba. Ya? jawab Im Giok lembut, masih setengah melamun. Kapan cici terakhir kali mandi? tanya A Sai cepat. Lalu melarikan diri secepatnya dari situ sambil tertawa terbahak penuh kemenangan. Kali ini ia tak kembali lagi. A Saaaiiiiiiiiiii!!! Suara Im Giok melengking nyaring disusul bayangannya berkelebat mengejar pemuda itu. ******* Tak terasa sudah tiga bulan lamanya A Sai tinggal bersama Yok-Sian dan cucunya itu. Kehidupan yang sederhana namun penuh dengan kedamaian sungguh membuat pemuda ini bahagia. Ia seolah mendapatkan kasih sayang yang selama ini tak pernah dirasakannya. Kasih sayang yang tulus dan murni. Jika terbayang kembali tahun-tahun penuh derita yang dilaluinya di neraka bumi, ia merasa sangat bersyukur pada Thian untuk kehidupan yang sekarang dijalaninya. Selain ilmu pengobatan, ia pun diajari tentang aturan dan norma dalam kehidupan serta tentang Thian dan alam ini. Bimbingan dan wejangan tentang hal yang baik dan buruk selalu ditekankan Yok-Sian. Sebab kongkongnya itu ingin ia mewarisi sikap seorang pendekar sejati, ringan tangan berbuat kebajikan dan pantang melakukan kejahatan. Hampir segala hal diajarkan Yok-Sian padanya. Hanya ilmu silatlah yang belum diajarkannya, sebab ia merasa A Sai belumlah siap. Bukan secara fisik melainkan secara mental. Yok-Sian tahu dengan dasar yang sekarang dimiliki pemuda itu, belajar ilmu silat bukanlah suatu perkara yang sukar. Bahkan Yok-Sian pun yakin A Sai akan mewarisi seluruh ilmu silatnya dengan mudah. Hanya sayangnya ia melihat sifat A Sai yang masih polos dan belum memiliki landasan ilmu batin yang kuat serta masih mudah menuruti kata hati. Hal inilah yang membuatnya lebih menitikberatkan pelajaran kebatinan daripada ilmu silat. Ia tahu tanpa dasar batin yang kuat A Sai akan mudah salah jalan dan menjadi sesat, dengan kata

lain ia lebih dulu mempersiapkan mental dan batin pemuda itu sebelum menurunkan ilmu silatnya. Sai-te, pergilah tangkapkan beberapa ekor lehi. Kongkong bilang hari ini kita akan kedatangan tamu. Kata Im giok lembut. Berapa ekor? jawab A Sai riang. Tiga ekor sudah cukup. Ingat, kalau sudah dapat cepatlah pulang sebab cici harus segera memasaknya. Jangan kelayapan ke mana-mana lagi. pesan gadis itu. Ditanggung beres! jawab A Sai cepat lalu berlari pergi dari situ. Im Giok menarik nafas panjang. Senyum lembut tersungging dibibirnya. Hari masih pagi dan matahari belum lama muncul dari balik gunung. Suasana hutan yang dipenuhi kicau burung membuat hati A Sai gembira. Sambil berjalan menuju sungai kecil dibawah lereng Hou-Thian-San, ia bersiul riang. Sesampainya disungai, hanya dengan memakai celana ia segera melompat masuk ke dalam sungai itu. Kalau ada orang yang melihat cara pemuda itu menangkap ikan, pastilah mereka akan keheranan. Tidak dengan kail, jala, tombak atau panah, ia menangkap ikan dengan tangan kosong. Sambil berenang dikejarnya ikan-ikan disitu. Tubuhnya bagaikan seekor ikan besar saja, berenang cepat dalam arus sungai yang menggelora. Kecepatan renangnya tidaklah kalah dengan seekor ikan sungguhan. Lincah ia meliuk diantara arus dan bebatuan yang ada. Itulah salah satu hasil yang diperolehnya selama tinggal di neraka bumi. Pengalaman sekian tahun berkubang dalam lumpur membuatnya mampu berenang diair sederas disungai itu dengan mudah. A Sai seolah telah menjelma menjadi dewa air. Tidak sampai satu kentungan, empat ekor ikan lehi sebesar betis telah berhasil ditangkapnya. Puas, ia pun bersiap hendak pulang. Saat mengangkat kepalanya dari dalam air, sepasang mata bening lagi indah sedang menatapnya dari pinggir sungai. Maaf sobat, hendak kau jual berapa ikan tangkapanmu itu? Suaranya merdu bagai kicauan burung bulbul.

A Sai terpesona, gadis itu sangat jelita. Jauh lebih jelita dari Im Giok cicinya. Usianya pun masih muda, paling tidak seumuran dengan cicinya. Pakaiannya terbuat dari sutera halus berwarna merah muda dan dipinggangnya tersoren sebatang pedang. Rambutnya ditata lazimnya gadis-gadis zaman ini dan dihiasi sepasang jepit rambut emas bertatahkan mutiara. Sikapnya pun lembut dan anggun. Maaf.. Nona bertanya padaku? tanya A Sai masih terpesona. Sambil menahan senyum, gadis itu menjawab. Benar Sobat, juallah ikan tangkapanmu itu padaku. Katanya lagi A Sai termenung, ragu tampaknya. Nona perlu berapa ekor? tanya A Sai setelah berpikir sejenak. Semuanya. Jangan khawatir, akan kubayar dengan harga yang pantas. Kau takkan rugi! bujuk nona baju merah. Kalau cuma seekor dapatlah kuberikan pada nona, tak perlu dibayar. Tapi kalau nona menghendaki semuanya maaf hal itu tak dapat kupenuhi. Jawab A Sai lagi. Gadis itu tampak berpikir sejenak. Ayolah... bagaimana kalau kubayar segini! bujuk si gadis kembali sambil memperlihatkan sepotong perak sebesar ibu jari tangannya. Maaf nona, dibayar berapapun tetap takkan kujual! tolak A Sai halus. Kenapa? Apa kau tak butuh uang? tanyanya keheranan. Bukan begitu Masalahnya tiga ekor ikan ini milik ciciku, bukan milikku pribadi. Seekor sisanya barulah milikku. Kalau nona menghendaki, yang seekor ini dapatlah kuberikan pada nona. Tak perlu nona membayar sepeserpun juga. Gadis baju merah itu tertegun, mungkin sedikit heran dengan perkataan pemuda itu. Benarkah? tanyanya lagi. Tentu saja benar. A Sai tidak pernah berbohong! jawab A Sai tegas. Namamu A Sai? Benar!

Baiklah. Seekor juga boleh. Kata nona baju merah akhirnya. Pemuda itu naik ke tepi sungai sebab sejak tadi ia masih berada dalam air. Dilepaskannya seekor ikan lehi dari tali dipinggangnya, lalu dibungkusnya dengan daun dan diberikannya pada nona itu. Nona itu memandang gerak-geriknya dengan tersenyum. Setelah menerima ikan dari pemuda itu ia mengangsurkan sepotong perak sambil berkata. Ambillah untukmu. Tak usah.. Ikan ini kuberikan pada nona, bukannya dijual. Tolak pemuda itu halus. Kalau begitu ambillah ini. Perak ini pun kuberikan padamu, bukan untuk membayar ikanmu. Jawab gadis itu sambil tersenyum lembut. A Sai tak mampu lagi menolak. Dengan terpaksa diambilnya potongan perak itu dari tangan si nona. Baiklah! Tampak seperti ada sesuatu persoalan yang hendak diucapkan si gadis namun akhirnya diurungkan niatnya itu. Sampai jumpa lagi... A Sai! kata si nona. Setelah mengerling sejenak ia lalu berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu. Ya sampai jumpa! Jawab A Sai pelan. Setelah nona itu tidak tampak lagi, barulah ia teringat akan sesuatu hal. Dari mana datangnya nona itu? Celaka.. tadi lupa kutanyakan apa yang dilakukannya ditempat ini. Pikir A Sai. Namun hal itu segera dilupakannya. Sambil bersiul riang ia segera melangkah meninggalkan tepian sungai. Belum ada seratus tombak ia berjalan, sesosok bayangan hijau telah berkelebat menghadang jalannya. Berhenti! bentak bayangan hijau itu nyaring. A Sai kembali tertegun. Rupanya hari ini para dewi sedang ada pertemuan dihutan ini. Pikirnya heran.

Didepannya berdiri seorang gadis belia yang cantik jelita berpakaian sutera hijau pupus berusia kurang lebih empat lima belas tahunan. Sepasang gagang pedang tampak mencuat di punggungnya. Gerak-geriknya lincah dan kelihatan angkuh. Anak muda, cepat berikan ikan-ikan yang kau bawa itu pada nona besar teriak gadis itu sambil bergantian menunjuk ke arah ikan yang dibawa A Sai lalu menunjuk hidungnya sendiri. Buset.. ini bocah masih kecil tapi lagaknya melebihi orang dewasa? pikir A Sai geli. Anak muda, cepatlah kau berikan ikan-ikan yang kau bawa itu pada nona besarmu! kata gadis itu lagi, makin keras teriakannya. Kenapa hari ini semua orang jadi menginginkan ikanku? Pikirnya heran Hey! Apakah kau tuli? teriak gadis itu lagi. Ikan ini? tanya A Sai pura-pura bloon. Ya ikan itu. Cepat bawa kemari. Nona besar menginginkannya! jawab gadis itu cepat. Berapa ekor? tanya A Sai, hatinya mulai kurang senang melihat sikap si nona yang angkuh dan seenaknya itu. Apa kau tuli? Tentu saja semuanya. jengek gadis itu kembali. Tidak bisa! jawab A Sai kurang senang. Wajah si nona segera berubah, sambil membanting kakinya ia bertanya kembali. Kenapa tidak bisa? Karena aku tidak mau! Kembali dibanting kakinya berulang kali sambil mencak-mencak. Kenapa tidak mau? tanyanya gusar. Dasar bocah udik menyebalkan, tak tahukah kau siapa nona besarmu ini? Habis juga kesabaran A Sai melihat lagak si nona yang seenaknya itu. Dengan bergaya bak seorang tuan besar sedang berbicara pada budaknya, ia menjawab. Bocah cilik, tuanmu ini tak sudi kenalan denganmu! Apa kau bilang? tanyanya si nona seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Tuan besarmu ini bilang tak sudi kenalan dengan segala macam bocah cilik sok dewasa macam dirimu! jawab A Sai makin mengejek. Wajah gadis baju hijau itu makin merah padam. Segera tampak kilatan sepasang sinar pedang berkelebat menyambar tubuh pemuda itu. A Sai tersentak kaget. Siang-Kiam (Sepasang pedang) ditangan gadis itu tak dapat dipandang sebelah mata. Sekali bergerak langsung mengancam empat hiat-to penting ditubuh bagian depan A Sai. Baru hawa pedangnya saja telah mampu membuat pakaian ditubuh pemuda itu sobek kiri kanan. Sungguh ganas gadis itu. Sekali bergebrak langsung mengeluarkan jurus-jurus yang keji dan telengas. Tidak main-main lagi, langsung hendak meminta nyawa. Dengan susah payah, ia melemparkan tubuhnya jauh ke belakang meloloskan diri dari sinar pedang yang menyerangnya. Gadis itu terperangah, tak menyangka pemuda udik ini mampu menghindari jurus serangannya. Makin gusar hatinya. Kembali tampak sinar siang-kiam berkelebat mengeluarkan jurus yang lebih ganas dan keji. Sekali ini delapan hiat-to kematian yang ditujunya. Jika salah satu saja diantara hiat-to tersebut tersentuh ujung pedang, niscaya nyawa pemuda itu melayang. Siang-kiam itu menghimpit dari segala arah, menderu susul menyusul dengan berbagai perubahan yang tak mungkin ditebak. Tak ada jalan mundur atau menghindar. Jurusnya ini hanya bisa dihadapi dengan jalan mengadu keras lawan keras. Senyum dingin muncul dibibirnya. Ia tahu pemuda ini tak memegang senjata. Jurus serangannya ini tak mungking ditangkis dengan tangan kosong. Pun jurus serangannya tak mungkin dihindari. Selama petualangannya dibulim belum pernah ada jago yang sanggup menghindari jurus serangannya itu. Tidak juga A Sai. Ia tahu tiada jalan untuk menghindari sinar siang-kiam itu. Tak pernah disangkanya gadis cantik didepannya ini ternyata berhati kejam dan menganggap ringan nyawa manusia. Hanya ada jalan kematian baginya. Ia tak rela kalau harus mati hanya karena urusan sepele saja. Hatinya gusar bukan main. Baik. Mari mati bersama! bentak pemuda itu nekat. Kemarahan yang menghimpit nyaris membuatnya gelap mata. Tidak diperdulikannya lagi serangan si gadis. Dengan nekat diterjangnya pusaran sinar pedang dan dihantamnya sosok gadis itu. Pukulannya lurus dan sederhana.

Uap putih seketika menerobos pori-pori tubuh pemuda itu, tebal melayang bagai halimun. Tenaga maha dahsyat membanjir keluar memenuhi setiap jengkal tubuhnya, bahkan tangannya yang memukul tidak tampak lagi saking tebalnya uap yang menyelubungi. Si gadis terkejut luar biasa. Tak pernah disaksikannya sinkang sedahsyat yang dikeluarkan pemuda ini. Jurus nya hancur berantakan terbentur angin serangan si pemuda, bahkan siang-kiam berikut kedua lengannya patah seketika, sementara kepalan pemuda itu tak mungkin lagi dihindarinya. Ia tahu nyawanya bukan lagi miliknya. Dipejamkan matanya menunggu kematian, namun kematian tak juga menghampirinya. Ragu dan heran menyesakkan rongga dadanya. Apa yang terjadi? Saat dibuka matanya, terlihat si pemuda sedang berdiri memandanginya. Sinar dingin membayang disana. Kau pergilah. Kata A Sai pelan. Gadis itu meragu. Tak pernah disangkanya pemuda udik dihadapannya ini ternyata sedemikian tangguhnya. Hatinya takluk namun keangkuhannya melarangnya berbicara. Dipandangi lengannya yang menggantung lemah, dipandanginya kedua pedangnya yang berserakan dirumput. Rasa sakit menusuk kedua lengannya sementara keringat dingin telah membanjir keluar. Darah terasa mendesak di kerongkongan. Ia tahu sebelah dalam tubuhnya telah terluka. Si gadis bergidik ngeri. Apa yang kau tunggu? ulang pemuda itu lagi. Bukannya ia tak mau pergi, kakinya terlalu lemah untuk digerakkan. Dipandangnya pemuda itu penuh kebencian. Kau... Kau mematahkan lenganku! Kau... kau melukaiku! Salahmu sendiri. dengus A Sai dingin. Jika kau tak menginginkan jiwaku, takkan begini jadinya. Sambungnya lagi. Kaki gadis itu semakin melemah, kepeningan perlahan menghimpitnya. Ia tahu harapannya untuk menang telah musnah. Tiada harapan lagi. Pemuda udik ini terlampau kuat baginya. Si gadis tak mampu bicara. Ia kalah segalanya. Baik dalam ilmu silat maupun dalam berbicara. Rasa gusarnya makin menjadi. Darah yang mendesak sejak tadi akhirnya tak mampu ditahannya.

Cairan merah kental segera membasahi baju dan rerumputan didepannya sementara air mata telah mengalir deras dipipinya. Perlahan gadis itu jatuh terduduk. A Sai menghembuskan nafas panjang. Inilah pertarungan pertamanya. A Sai hingga kini belumlah percaya dengan apa yang terjadi. Ia tak pernah menyangka dirinya ternyata memiliki tenaga sedahsyat itu. Ia benar-benar tak mengerti, setitik pun tidak. Namun kenyataan didepannya berkata lain Dipandanginya bajunya sendiri yang compang-camping lalu dipandanginya kedua lengan si gadis yang patah. Tampak pula darah yang membasahi baju gadis itu. Penyesalan menguasai hatinya. Seumur hidupnya belum pernah ia melukai seseorang. Jangankan melukai, menyakiti pun tidak tapi hari ini ia telah melakukannya. Hanya karena beberapa ekor ikan? Sungguh memalukan. Kenapa tidak diberikannya saja sejak tadi? Toh ia dapat mencari lagi Benar kata kongkongnya, ia terlalu mudah menurutkan kata hatinya. Tangis si gadis makin keras mengguncang hatinya. Walau bagaimana pun lawannya hanyalah seorang gadis yang masih muda belia, masih kekanak-kanakan. Pertarungan ini mungkin dimenangkannya namun jauh dilubuk hatinya ia tahu, ia telah kalah. Kalah melawan hawa nafsunya sendiri. Nona biar kulihat lenganmu! katanya pelan. Si gadis makin gusar, ia berteriak histeris. Apa? Enak saja kau bicara. Setelah melukaiku sekarang kau pura-pura baik hati? Jangan mimpi! Kenapa tidak kau bunuh saja diriku? Kenapa kau tahan pukulanmu itu? A Sai tertegun. Tak tahu harus berkata apa. Ia tak menyangka ada orang yang sedemikian tidak tahu aturan seperti gadis ini. Terluka karena perbuatan sendiri tapi malah menyalahkan orang lain. Apa yang kau lihat? Pergi sana kau senang ya menyaksikan orang lain susah? teriak gadis itu makin histeris. A Sai makin melongo. Biar kulihat lukamu! katanya berkeras, hatinya melarangnya meninggalkan gadis itu dalam keadaan demikian,

Pergi sana! Kau manusia berhati binatang! makinya diantara isak tangisnya. A Sai tak ingin bicara lagi. Walau tak begitu mengerti namun ia tahu, menghadapi gadis seperti ini tiada gunanya bicara. Sekali ia tidak menyukai seseorang, selamanya kebaikan orang itu akan dianggapnya sebagai suatu kejahatan. Perlahan ia melangkah mendekati gadis itu. Melihat kelakuan A Sai itu, kontan si gadis tambah histeris. Mau apa kau? Jangan mendekat! Pergi sana! A Sai tak peduli kakinya terus melangkah mendekat. Kau... berhentiiiii! teriak gadis itu sekuat tenaga. A Sai tak peduli. Berhenti! Atau... atau aku akan bunuh diri dihadapanmu! teriak gadis itu mengancam. A Sai meragu. Katanya pelan. Nona, biar kuobati dulu lukamu. Kelak kau dapat mencariku lagi untuk membalaskan dendammu. Tapi kalau kau mati sekarang, hilanglah kesempatanmu untuk membalas dendam. bujuknya lagi. Gadis itu tampak ragu, walau demikian mulutnya tetap berteriak histeris. Biar kumati saja! Biar... Biar kau hidup dalam penyesalan telah membunuh orang yang tak berdosa! A Sai kembali melongo. Siapa membunuh siapa? Siapa yang tak berdosa? Dasar gadis manja!! batinnya kesal. Diamlah! Jangan seperti bocah cilik! Mana ada gadis yang mau disebut bocah cilik, walau masih kecil tetap saja ingin dipandang sudah dewasa. Apalagi gadis angkuh seperti ini? Kurang ajar, siapa yang kau sebut bocah cilik? teriakannya terdengar mengguntur mengagetkan A Sai. Kau inilah bocah cilik yang manja dan cengeng itu, baru luka sedikit sudah menangis nggak ketulungan. Apa ada bocah cilik lain disini? jengek A Sai.

Tangis gadis itu seketika berhenti. Wajahnya merah padam. Ia ingin membantah namun apa daya tak ada bantahan yang diingatnya saat ini. A Sai mendekatinya kembali. Tangannya perlahan menjangkau ke arah si gadis seperti ingin menyentuhnya. Kau mau apa? Jangan jangan kurang ajar! Bentak gadis itu sengit. A Sai tak peduli. Tangannya meraih pinggang si gadis lalu dengan sigap digendongnya gadis itu. Seumur hidup ia belum pernah digendong orang lelaki. Saking panik dan gusarnya, ilmu silatnya seketika dilupakannya sama sekali. Kakinya menendang lemah serabutan sementara mulutnya memaki kalang kabut. Turunkan aku turunkan! Beraninya kau kurang ajar... Laki-laki rendah tak punya malu! Iblis berwujud manusia! Akan kupotong kedua tanganmu! Akan kucincang tub Diamlah! Akan kubawa kau ke orang yang bisa menolongmu! potong A Sai kesal. Manusia cabul! Jai-Hoa-Cat (penjahat pemetik bunga) laknat! Ibl makiannya makin bertambah seram. Diam! Kalau tidak akan kupukul pantatmu! bentak pemuda itu keras, menghadapi macan betina seperti ini mau tak mau akalnya harus digunakan. Si gadis terdiam. Kau... Kau berani? tanyanya seolah tak percaya, keraguan mulai membayang di matanya. A Sai seolah mendapat angin segar. Memangnya apa yang kutakutkan? jengek A Sai. Kau... kau... si gadis jadi kehilangan kata-katanya. Rupanya gadis itu ngeri juga membayangkan ancaman A Sai Diam! Kalau tidak, kubuka celanamu lalu kupukuli pantatmu! ancamannya jadi makin sadis. Seketika si gadis membisu, tak bersuara lagi. Hanya air mata yang tampak mengalir deras diwajahnya yang sebentar pucat sebentar merah itu. Lebih baik disuruh mati daripada diperlakukan demikian. A Sai tahu pertarungan ini telah dimenangkannya.

Macan betina untuk sementara telah berhasil ditaklukkan. Kok Lam, keluar kau! bentakan yang mengandung khikang tinggi mengguncang tempat itu. Suara tersebut keluar dari mulut seorang nenek tua berdandan mentereng seperti dandanan seorang nyonya bangsawan. Sukar menaksir usianya kalau hanya melihat dari wajahnya saja. Ditangannya tergenggam sebatang tongkat kepala naga terbuat dari emas murni, paling tidak beratnya ada lima puluh kati. Sungguh tidak sesuai dengan tubuh si nenek yang kurus kecil dan ringkih. Kok Lam, jangan sembunyi macam cucu kura-kura! Melihat adatnya yang kasar dan berangasan, agaknya nenek ini bukanlah seorang baik-baik. Sifat dan perkataannya itu sangat tidak sesuai dengan penampilannya yang seperti seorang wanita terhormat. Terdengar jawaban dari dalam rumah kayu itu, suara Yok-Sian-San-Jin (Manusia gunung dewa obat) Souw Kok Lam. Goat Lun, tak malukah kau pada anak murid kita? Sudah tua masih mengumbar hawa nafsu! Percuma kau semedi puluhan tahun kalau kelakuanmu tetap tak berubah! Si nenek yang ternyata bernama Goat Lun itu malah terkekeh mendengarnya. Kok Lam tua bangka mau mampus. Tak perlu banyak omong, lekas kau menggelinding kemari dan hadapi aku! Jangan sembunyi macam cucu kura-kura! jengek Goat Lun lagi. Si nenek berangasan itu ternyata seorang tokoh sakti bulim. Ia termasuk seorang diantara BuLim-Su-Koay (empat aneh dunia persilatan). Empat datuk sakti yang diakui sebagai tokoh nomor satu dibulim, masing-masing dari mereka menjagoi wilayah timur, barat, utara dan selatan Tiongkok. Tok-Seng-Sian-Li (Dewi racun bintang) Tung Goat Lam itulah nama nenek berangasan ini. Namanya dijunjung tinggi diwilayah selatan Tiongkok dan diakui sebagai datuk nomor satu diwilayah itu. Sifatnya yang berangasan serta tinggi pula ilmu silat dan racunnya membuat sebagian besar orang di bulim segan mencari perkara dengannya. Goat Lun, lama tak bertemu. Baik-baikkah kau selama ini? Kok Lam, tak perlu banyak omong. Cepat kau menggelinding ke mari! Sesaat kemudian Yok-Sian tampak keluar dari pintu depan rumah itu, rumah kayu sederhana yang lebih tepat disebut gubuk daripada rumah. Dibelakangnya mengikuti Im Giok cucunya. Si nenek tampak agak kaget melihat Yok-Sian tidak keluar seorang diri dari rumah itu, melainkan keluar bersama seorang gadis belia yang manis dan anggun.

Goat-Lun, baikkah kau selama ini? ulang Yok-Sian kembali. Hehehe... kau tak mau keluar rupanya karena sibuk bergendak dengan bocah ini? Dasar bandot tua, sudah mau mampus masih sibuk jelalatan kiri kanan! jengeknya sambil tertawa terkekehkekeh. Wajah Yok-Sian tampak sedikit memerah. Goat Lun, jangan keterlaluan! Ini Im Giok cucuku sekaligus muridku! Giok-ji cepat beri hormat pada Tung Goat Lun Locianpwe (orang tua gagah Tung Goat Lun)! kata Yok-Sian lembut. Terlihat jelas kasih sayang dan kebanggaan dimatanya saat ia memperkenalkan Im Giok. Boanpwe (aku yang bodoh) Souw Im Giok! Nama besar locianpwe telah lama boanpwe dengar! katanya sambil menjalankan penghormatan, lalu mengundurkan diri ke samping kongkongnya. Hehehe Tidak buruk Tidak buruk, pantas jadi cucumu! kekeh Tok-Seng-Sianli Tung Goat Lun senang. Seorang gadis jelita seumuran Im Giok tampak berdiri agak jauh dibelakang Tok-Seng-Sianli, seperti ingin mendekat tapi juga takut untuk mendekat. Muridmukah? Kenapa tidak disuruh ke sini? tanya Yok-Sian saat melihat gadis itu. Siapa? tanya nenek itu berbareng ia menoleh ke arah yang dipandang Yok-Sian. Kim Hoa? Tak usah kau perdulikan murid yang tak becus itu! dengus nenek itu dingin, tampak kurang puas dengan muridnya sendiri. Jangan begitu, Hoa-ji Kemarilah! panggil Yok-Sian. Wajah si nenek yang pada dasarnya sudah buruk itu makin bertambah buruk saja. Kakek tua sinting, mau apa kau panggil-panggil muridku? Apa kau tidak dengar ucapanku barusan? Mau menantang ya? teriak si nenek gusar. Bocah gendeng itu kusuruh tetap ditempatnya, tak perlu sibuk mengurusinya! Murid Tok-Seng-Sianli itu tampak makin menunduk malu. Yok-Sian menghembuskan nafas panjang lalu menggeleng kepala. Sifatmu masih tidak berubah juga! Mau berubah kek, mau tidak kek... apa urusannya denganmu? dengus nenek itu makin gusar.

Sekarang urus saja urusan kita. Aku sudah sampai disini. Jangan buang waktu dengan mengurusi segala tetek bengek yang tak perlu! Yok-Sian paham betul dengan tabiat Tok-Seng-Sianli yang kasar berangasan dan seenaknya itu, ia tahu tak ada gunanya berdebat. Semakin berdebat akan semakin runyam jadinya. Baiklah... Apa maumu? Apa mauku Apa mauku? Kurang ajar! si nenek makin mencak-mencak mendengar perkataan Yok-Sian itu. Kau tanya apa mauku? Kura-kura tua bosan hidup! setan bangkotan tak tahu diri! cacing reyot ma Betapa dalamnya pengetahuan Tok-Sianli terhadap berbagai kata pujian yang ada didunia. Sementara ia bernyanyi, wajah setiap orang yang hadir memerah mendengar lagunya itu. Sungguh patut dipuji kesabaran Yok-Sian, walau wajahnya sudah merah padam namun ia hanya memandang sambil tersenyum lembut, seolah sedang menghadapi seorang anak kecil yang rewel saja. Setelah bernyanyi sekian waktu dan tidak ditanggapi, si nenek jadi berbalik risih sendiri. Kok Lam, jangan bilang kau sudah lupa dengan perjanjian kita dulu! dengus Tok-Seng-Sianli tak senang. Lo-hu belumlah lupa! Kalau begitu kenapa masih ngomong plintat-plintut kiri kanan lagi? Ayo kita mulai! teriak si nenek, tampaknya senang mendengar Yok-Sian belumlah melupakan perjanjian mereka dulu. Si nenek segera pasang kuda-kuda, siap menggempur kakek yang berdiri didepannya itu. Sabar dulu! kata Yok-Sian cepat. Urusan itu kan sudah lama berlalu, buat apa dipermasalahkan terus? Si nenek jadi mencak-mencak kembali. Kentutmu! Enak saja kau ngomong, enam puluh tahun lamanya aku bersabar, mustahil kubiarkan kau lolos begitu saja! jawabnya sengit. Im Giok tertegun.

Ia heran ada masalah apa sebenarnya diantara kongkongnya dan Tok-Seng-Sianli locianpwe hingga setelah enam puluh tahun lewat, tak juga nenek ini mau mengakhiri urusan diantara mereka. Seingatnya belum pernah kongkongnya menyinggung urusan ini padanya. Ia tahu walau berangasan dan kasar, nenek ini benar-benar seorang locianpwe, seorang pendekar sejati yang pantang melakukan kejahatan. Hanya karena sifatnya yang buruk ditambah ilmu racunnya itu, membuat kalangan bulim tidak menyukainya. Sebenarnya ada sesuatu permasalahan apa yang membuat kedua locianpwe ini jadi bersilang jalan? Apa dulu kongkongnya pernah melakukan sesuatu perbuatan yang membuat Tok-SengSianli merasa terhina? Im Giok tak mengerti. Kok Lam, tak usah pakai akal bulus segala. Sampai kapanpun perjanjian kita tetap berlaku. Jadi jangan harap segala kentut busukmu dapat merubah pendirianku! Tok-Seng-Sianli menegaskan sementara tongkat kepala naganya setiap saat siap membuka serangan. Yok-Sian hanya bisa mengelus dada melihat kekerasan hati si nenek. Ia sangat berharap waktu akan mampu melunakkan hati nenek ini, tapi sekarang ia tahu harapannya sia-sia. Sepertinya waktu enam puluh tahun tetap tak mampu menghapus pertikaian diantara mereka. Yok-Sian tahu sangat tipis harapannya untuk menghindari pertarungan ini, akalnya haruslah digunakan sebaik mungkin. Baiklah, jika kau berkeras! Bagus! Lihat ser... Tunggu dulu! potong Yok-Sian cepat. Kurang ajar! Tunggu apa lagi? bentak si nenek gusar. Apa kau lupa dengan perjanjian kita dulu itu? tanya Yok-Sian cepat. Tidak! Dasar tua bang Kau lupa syaratnya? kata Yok-Sian cepat, memotong nyanyian yang telah mulai mengalun merdu dari mulut si nenek. Si nenek yang lagi mencak-mencak seketika tertegun, tak mampu menjawab. Bagaimana? Jangan bilang kau sudah lupa syaratnya!

Syarat tak masuk akal seperti itu tak usah disinggung lagi! protes Tok-Seng-Sianli gusar. Kau ingin melanggar janjimu sendiri? Siapa bilang? Aku... Kau bawa syaratnya? Ini soal itu Kau bawa tidak? Kalau hanya Kau bawa tidak syaratnya? Tidak. Tapi Tidak ada tapi! Bunyi perjanjiannya sudah jelas. Sebelum bertarung syarat tersebut harus dipenuhi terlebih dahulu. Tidak ada syarat Tidak ada pertarungan. Titik! potong Yok-Sian lagi, tegas. Tok-Seng-Sianli kembali mencak-mencak tak karuan. Kau kura-kura tak punya malu, masa hal sepele itu Jangan lupa, waktu itu kau menyanggupi syaratku! Tentu saja kuingat tapi... Jangan bilang datuk wilayah selatan yang namanya menjulang tinggi diangkasa sekarang hendak mengingkari kata-katanya! Bukan begitu... Jangan bilang Tok-Seng-Sianli yang terkenal diseluruh kolong bulim sekarang telah berubah jadi manusia yang suka menjilat ludahnya sendiri! Kau... Jangan bilang Tung Goat Lun sekarang sudah mulai pikun dan tak becus hingga kata-katanya sendiri tidak lagi dapat dipercaya! Karuan si nenek jadi tambah blingsatan. Sungguh ingin hatinya mengetok kepala kakek didepannya ini. Namun apa daya... Jika dilakukannya, itu sama saja dengan membuktikan semua

perkataan Yok-Sian barusan, sama seperti mengakui dirinya tidak bisa memegang ucapannya sendiri. Akhirnya nenek itu hanya sanggup bernyanyi dengan merdunya tanpa mampu berbuat apa-apa. Yok-Sian tersenyum. Ia tahu tak perlu lagi ia bertarung. Nama besar adalah kelebihan juga kelemahan hampir setiap pendekar dibulim. Nama besar dipandang mereka jauh lebih berharga daripada nyawa sendiri dan melanggar janji yang telah diucapkan sama halnya dengan menghancurkan nama besar mereka. Tok-Seng-Sianli pun tidak terkecuali. Baginya jauh lebih baik mati daripada dikatakan seorang yang suka melanggar janji. Nama besarnya mutlak harus didahulukan. Apa kata orang bulim jika hal itu sampai tersiar? Harus ditaruh dimana mukanya? Lebih baik mati daripada kehilangan nama besarnya. Ini gara-gara murid tak becus itu, disuruh yang mudah saja tak mampu melakukannya! omel si nenek panjang pendek sambil melotot memandang Kim Hoa muridnya. Tapi kau jangan keburu senang dulu. Masih ada seorang muridku yang lain. Kau tunggulah sebentar, tentu ia akan kembali membawa syaratmu yang tak masuk akal itu! sambungnya kemudian, sinar matanya menyala penuh harapan. Yok-Sian kembali jadi khawatir, kalau sampai murid Goat Lun yang lain itu sanggup memenuhi syaratnya. Mau tak mau pertarungan harus dilakukan juga. Sementara Im Giok makin penasaran ingin mengetahui latar belakang sengketa yang terjadi diantara kongkongnya dan nenek itu. Sedari tadi ia sudah melangkah perlahan mendekati tempat dimana Kim Hoa berdiri. Ia tahu kemungkinan besar Kim Hoa mengetahui latar belakang penyebab semua permusuhan ini. Kim Hoa, sebenarnya syarat apakah yang sedang diperdebatkan? tanya Im Giok. Gadis itu tampak terkejut mendengar pertanyaan Im Giok, ia tak menyangka Im Giok mau menyapanya. Senyum lemah tersungging dibibirnya, perlahan ia berkata. Namamu Im Giok? Im Giok mengangguk lalu bertanya kembali. Bagaimanakah duduk permasalahan antara mereka orang tua? Kim Hoa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali.

Apakah Souw Kok Lam locianpwe tidak pernah menceritakannya padamu? Tidak pernah, makanya ku jadi bingung menyaksikan ini semua! Kim hoa menimbang sejenak, akhirnya dengan hati-hati ia menjelaskan. Enam puluh tahun yang lalu diantara mereka orang tua pernah terjalin suatu hubungan, hubungan yang cukup dekat kukira. Tapi entah bagaimana timbul semacam perbedaan pendapat diantara mereka. Suatu perbedaan pendapat yang menurut subo (ibu guru) tidak mungkin lagi diselesaikan secara baik-baik. Hanya dengan mengadu kepalan, permasalahan tersebut bisa diselesaikan. Kukira itulah awal mula pertikaian mereka. Beda pendapat dalam hal apa? Kalau soal itu aku tidak tahu, subo tidak pernah menceritakannya. Lalu apa sih yang mereka orang tua maksudkan dengan syarat pertarungan itu? Soal itupun aku tidak begitu jelas. Yang kutahu, pertarungan tidak akan dilakukan jika subo tidak sanggup memenuhi syarat tersebut. Benarkah? Lalu apa syaratnya itu? tanya Im Giok lagi. Ikan segar. Jawab Kim Hoa pendek. Ikan segar? Maksudmu? Im Giok kebingungan. Subo harus membawa beberapa ekor ikan segar jika ingin bertarung dengan kongkongmu. Im Giok tertegun. Sepertinya aku dapat menduga mengapa kongkongmu mengajukan syarat demikian. sambung Kim Hoa kemudian. Im Giok merenung, perlahan ia mulai dapat meraba sebab permintaan kongkongnya yang tidak masuk diakal itu. Sepertinya aku juga dapat menduganya. Kata Im Giok. Sambil tersenyum simpul dipandangnya kedua orang tua yang sedang ngotot beradu mulut di depan sana. Batinnya, Kongkong benar-benar lihay. Ikan digunakan sebagai syarat pertarungan hanya untuk alasan saja agar kelak kongkong dapat menghindari pertarungannya dengan Tok-Seng-Sianli locianpwe. Jika Tok-Seng-Sianli locianpwe tidak sanggup membawa ikan yang diminta kongkong, otomatis pertarungan diantara mereka dianggap batal.

Tapi mengapa harus ikan? Mengapa tidak meminta benda lain yang lebih sulit didapat? Lagipula meminta ikan sebagai syarat pertarungan memang tidak masuk diakal sama sekali. Pantasan Tok-Seng-Sianli locianpwe gusar bukan main. pikirnya heran bercampur geli. Ada satu hal yang tak kupahami... kata Kim Hoa pelan. Apa itu? Kenapa subo mau menerima syarat Souw Kok Lam locianpwe itu? Im Giok seketika tertegun. Benar juga, masakan subomu mau menerima syarat yang tak masuk akal macam begitu. Im Giok membenarkan, tak tahu harus berkata apa. Sungguh aneh. sambungnya kemudian. Apanya yang aneh? Hei bocah gendeng... Kalau ada pertanyaan, tanyakan langsung padaku! Jangan kentut sembarangan! teriakan Tok-Seng-Sianli mengagetkan kedua gadis itu. Keduanya tak menyangka telinga si nenek ternyata tajam juga. sanggup mendengar pembicaraan mereka. Kim Hoa segera menunduk, menekur menatap kakinya. Apalagi Im Giok, ia jadi salah tingkah, tak tahu harus berkata apa. Apa yang aneh? Hayo katakan! bentak nenek itu kasar. Yok-Sian jadi tak sampai hati melihat kedua gadis itu kelihatan bingung dan salah tingkah. Giok-ji, katakanlah! Keberanian Im Giok pun terbangkit, dengan wajah merah ia bertanya. Giok-ji cuma merasa sedikit aneh saja... Kenapa waktu itu Tok-Seng-Sianli locianpwe mau menyetujui syarat pertarungan yang diajukan kongkong. Apalagi syarat itu... syarat itu... maaf, syarat itu kedengaran tidak masuk akal ditelinga Giok-ji. Tampang si nenek jadi makin menyeramkan. Bocah gendeng... Kau kira aku ini orang goblok? Otak bebal? si nenek kembali berkaok-kaok gusar mendengar perkataan Im Giok barusan. Seketika wajah Im Giok jadi tambah merah padam. Kentutmu! Dari awal isi kepala kura-kura tua ini sudah kutahu... tapi kalau tidak kusanggupi, tak nanti bangkotan butut mau mampus ini mau bertarung denganku! teriakan Tok-Seng-Sianli terdengar kasar berkumandang bercampur dengan makian.

Makian adalah tanda pengenal Tok-Seng-Sianli. Rupanya begitu... Tok-Seng locianpwe terpaksa menerima syarat kongkong karena tak ingin kongkong menolak bertarung dengannya. Tapi kenapa harus minta persetujuan segala? Kan ia dapat langsung melabrak kongkong kapan saja... Pikir Im Giok lagi. Giok-ji, tak perlu bingung... Goat Lun tak punya pilihan lain. Ia ingin aku bertarung sungguhsungguh dengannya jadi mau tak mau ia harus menyetujui syaratku itu. Yang dinginkannya bukan nyawaku melainkan kekalahanku. Kata Yok-Sian, tak tega melihat kebingungan ImGiok. Namun gadis itu masih terlihat bingung juga. Giok-ji masih tidak mengerti Yok-Sian melirik sekilas ke arah Tok-Seng-Sianli Tung Goat Lun seolah ingin meminta pendapatnya. Kura-kura tua, kalau mau kentut... cepatlah kentut! Tak usah lirik kiri-kanan lagi! Yok-Sian menarik nafas lega. Secara tidak langsung Tok-Seng-Sianli tidak keberatan dirinya menceritakan duduk masalah ini. Sekarang ia boleh menceritakan bayangan masa lalu yang pernah terjadi diantara mereka. Setelah menghembuskan nafas panjang ia pun berkata. Kira-kira enam puluh tahun lalu, tanpa sengaja kami menemukan sebuah kitab pusaka peninggalan seorang sakti ratusan tahun silam. Kitab yang kami temukan itu terdiri dari dua bagian yang saling berlawanan, yaitu bagian tentang racun dan bagian tentang obat. Akhirnya kami berdua sepakat untuk mempelajarinya bersama, kongkong mempelajari bagian tentang obat sedangkan Goat Lun belajar bagian tentang racun. Bagian kitab tentang racun selain mengajarkan tentang racun dan penawarnya, juga mengajarkan bagaimana melatih lweekang beracun. Demikian juga bagian yang kongkong pelajari, selain mengajarkan tentang obat dan cara pengobatan, bagian ini juga mengajarkan cara memperkuat lweekang menggunakan berbagai jenis obat dialam. sambungnya lagi. Selain cara berlatih lweekang, disitu juga terdapat sesuatu ilmu silat yang diciptakan berdasarkan sifat racun dan obat. Kami berdua akhirnya sepakat menyebutnya ilmu silat racun dan obat, kongkong belajar silat obat sedang Goat-Lun belajar silat racun. katanya lagi sambil memandang jauh. Setelah berapa saat, Yok-Sian pun melajutkan. Setelah kami menguasai isi kitab tersebut, Goat Lun ingin kongkong mengadu ilmu dengannya. Tujuannya untuk mengetahui siapakah yang lebih lihay ilmunya, apakah ilmu yang dipelajarinya

ataukah ilmu yang kongkong pelajari. Dengan kata lain ia ingin tahu lebih kuat mana ilmu silat racun ataukah silat obat. Disitulah awal mula pertikaian kami. Sambung Yok-Sian. Tapi kau kurakura tua jadi ketakutan, makanya segala akal bulus kau gunakan untuk menghindar! jengek Tok-Seng-Sianli tiba-tiba. Yok-Sian tak peduli, dilanjutkan ceritanya. Kongkong tak ingin mengadu ilmu dengannya, oleh karena itulah kongkong terpaksa mengajukan sebuah syarat. Syarat yang harus dipenuhi jika Goat Lun ingin kongkong bertarung dengannya. Beberapa ekor ikan segar, itulah syaratnya. Tok-Seng-Sianli mendengus gusar. Kenapa kongkong mengajukan ikan sebagai syaratnya? Kenapa tidak meminta syarat lain yang lebih sulit dipenuhi? tanya Im Giok penasaran. Saat itu kami sedang berada ditepian sungai maka ikanlah yang langsung terpikir oleh kongkong. Kongkong tahu syarat itu pasti dapat dipenuhi Goat Lun saat itu juga, tapi bagaimana seandainya dikemudian hari kami bertemu di gurun pasir atau di pegunungan tinggi... bukankah Goat Lun akan kesulitan memenuhi syarat kongkong itu? Hehehe... Yok-Sian terkekeh sendiri memikirkan akalnya itu. Mencari beberapa ekor ikan segar saat sedang berada dipinggir sungai memang mudah. Itulah sebabnya kongkong mengajukan ikan segar sebagai syarat pertarungan, bukannya memilih hal lain. Kongkong tahu berdasarkan sifat Goat Lun syarat semudah itu pastilah takkan dilepaskannya. Lain halnya kalau kongkong meminta suatu jenis benda pusaka atau ginseng ribuan tahun... pastilah akan sulit membuatnya berjanji. Sayang ia lupa kalau dikemudian hari syarat tersebut belum tentu mampu dipenuhinya. Wajah Yok-Sian semakin berseri saat ia bercerita, kegelian tampak samar disitu. Pertarungan kami saat itu tak mungkin dihindari lagi. Makanya kongkong harus mempersiapkan sebuah celah untuk meloloskan diri dikemudian hari. Sebuah syarat yang mudah didapat saat itu tapi belum tentu akan mudah didapat dikemudian hari. Ikan segar mudah diperoleh di daerah sungai tapi ikan segar sulit diperoleh didaerah gurun dan beberapa daerah lainnya... Demikianlah, sejak saat itu setiap sepuluh tahun sekali kami bertemu untuk mengadu ilmu silat kami. Dan sudah empat kali kau kura-kura tua lari lipat ekor macam maling ketahuan orang! jengek Tok-Seng-Sianli tak puas, rasa gusar jelas membayang diwajahnya. Si kakek hanya tertawa terkekeh saja sementara Im Giok kelihatan masih sedikit penasaran.

Kalau memang ingin bertarung, setiap saat Tok-Seng-Sianli locianpwe kan dapat langsung melabrak kongkong... Kenapa harus... Kenapa harus... tanya Im Giok lagi, ragu-ragu menyelesaikan pertanyaannya. Cukup! potong Yok-Sian, tampak kurang senang mendengar perkataan cucunya itu. Kau pikir Tung Goat Lun orang macam apa? Walau sifatnya kasar namun hatinya jauh lebih jujur dan baik dari sebagian besar orang yang pernah kongkong temui. Setiap ucapannya selalu dipegangnya teguh, takkan sudi ia melanggar janji yng telah diucapkannya. Perkataan Yok-Sian itu selain membela Goat Lun, juga semakin memojokkan posisi si nenek. Goat Lun seolah diingatkan terus dengan janjinya dulu. Karuan si nenek makin gusar hatinya. Namun mau tak mau ia mengakui juga kecerdikan Yok-Sian itu. Kata Yok-Sian lagi, Dalam keadaan biasa saja, Goat Lun takkan menyerang orang yang tak mau melawannya. Apalagi dalam masalah ini ia ingin tahu tingkat kepandaian kongkong yang sesungguhnya dan cara untuk mengetahuinya hanyalah dengan memaksa kongkong bertarung sungguh-sungguh. Kalau ingin kongkong bertarung sungguh-sungguh, mau tidak mau syarat kongkong harus diterimanya lebih dulu. Lagi pula bukan kematian kongkong yang diinginkannya melainkan kekalahan kongkong dalam mengadu ilmu silat dengannya. Pada dasarnya Goat Lun tak punya pilihan lain selain menerima syarat kongkong yang tak masuk akal itu! Kata Yok-Sian sambil terkekeh geli. Tok-Seng-Sianli Tung Goat Lun makin gusar saja. Wajahnya yang buruk jadi semakin buruk sementara umpatan tak jelas berhamburan dari mulutnya. Sekarang Im Giok mengerti. Ia harus mengakui kebesaran hati kongkongnya yang selalu mengalah dan tak ingin melakukan pertarungan sia-sia sekaligus kagum akan kecerdikan kongkongnya yang dapat menggunakan akal sebagus itu untuk menghindar. Disisi lain ia pun kagum akan kesetiaan Tok-Seng-Sianli yang sanggup mempertahankan janjinya pada kongkongnya selama puluhan tahun ini. Sungguh kedua orang tua ini pantas disebut locianpwe. Goat Lun... Bukankah sedari dulu Lo-hu telah mengaku kalah padamu? Buat apa pertarungan sia-sia ini dilanjutkan terus? Apa Lo-hu harus mati dulu baru kau puas? tanya Yok-Sian tibatiba. Tua bangka licik, bukan kematianmu yang kuinginkan! Kau harus kalah melawanku barulah ku puas! bentak si nenek garang. Kau tahu ilmu kita seimbang. Jurusmu merupakan anti bagi jurusku demikian juga jurusku merupakan pemunah bagi jurusmu. Apalagi ilmu silat kita berasal dari sumber yang sama. Diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menjatuhkan!

Biar bagaimanapun harus ku ketahui mana yang lebih unggul, silat obatmu ataukah silat racun milikku! kata Tok-Seng-Sianli berkeras. Untuk apa? Paling kita hanya akan berakhir dengan saling mengadu sinkang lagi. Kalau sudah begitu, bukan lagi jurus silat kita yang memegang peranan tapi kuatnya lweekang yang menentukan kalah menang pertarungan kita! Aku tak peduli! Mau sinkang kek mau apa kek pokoknya kita harus bertarung! pekik nenek itu marah. Yok-Sian menarik nafas panjang, ia tahu akan sia-sia saja bicara dengan nenek ini. Baik... penuhi syaratku itu, lalu kita bertarung! Si nenek jadi terdiam kembali. Walau hatinya gusar namun ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Akhirnya kemarahan nenek itu ditumpahkannya pada Kim Hoa muridnya. Bocah gendeng! Disuruh cari beberapa ekor ikan saja tak mampu, sanggupnya cuma kentut saja. Dasar murid tak becus, memalukan perguruan saja! makinya kalang kabut. Kasihan gadis itu. Ia cuma bisa diam menunduk menatap rumput. Warna merah menjalar hingga telinga menandakan rasa malu telah menghimpitnya sedemikian rupa. Untunglah disaat itu dari jauh terdengar langkah kaki orang yang sedang berlari mendekati tempat mereka berada hingga Kim Hoa pun untuk sementara selamat dari amukan subonya itu. Secara otomatis semua orang yang ada disitu segera mengalihkan perhatian mereka kepada orang yang sedang mendekat. Kok lam, apa kau kura-kura tua yang mengundang orang ini? tanya si nenek, curiga Yok-Sian telah mengundang pihak lain untuk menghadapinya. Tidak! jawab Yok-Sian tegas. Jangan-jangan muridmu yang lain itu atau bisa juga Sai-ji yang datang! sambung Yok-Sian lagi. Tok-Seng-Sianli tampak gembira memikirkan kemungkinan muridnyalah yang datang sekaligus curiganya timbul kembali mendengar Yok-Sian menyebut nama seseorang lain. Sai-ji itu siapa? tanyanya cepat. Sai-ji? Dia muridku! Ooo..

Telinganya makin ditajamkan mencoba menebak siapakah yang datang. Tidak mungkin muridku. Walau larinya sangat cepat, orang ini jelas tidak menguasai ginkang tertentu. Apa mungkin murid kura-kura ini yang datang? Hehehe Kelihatannya kura-kura tua ini tidak becus mendidik muridnya, masa ginkang saja tidak diketahuinya? Batin Tok-SengSianli geli. Bukan Yan Ci muridku, kelihatannya muridmu itulah yang datang! Sebentar saja orang tersebut telah berdiri didepan mereka. Sosoknya warna-warni dibalut pakaian yang compang-camping. Ternyata memang A Sai yang datang. Yok-Sian mengerutkan keningnya, terkejut melihat pakaian A Sai yang robek kiri kanan sementara berbagai jenis warna menutupi sosoknya. Ada warna hijau, merah, kuning, biru, pokoknya segala jenis warna tampak memenuhi wajah dan tubuh pemuda itu. Sementara tubuh seorang wanita yang sedang pingsan berada dalam gendongannya. Racun. Pikir Yok-Sian kaget. Im Giok seketika menjerit, sebat dan hati-hati didekatinya A Sai. Gadis itu tahu Sai-te nya telah terkena bermacam jenis racun ganas. Sai-te, apa yang terjadi? Bagaimana kau sampai kena diracun orang? Siapa yang meracunimu? Siapa gadis ini? tanyanya bertubi-tubi. Racun? Siapa yang meracuniku? tanyanya kebingungan, tidak sadar kalau sebagian besar tubuhnya dipenuhi berbagai jenis racun. Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? cecar Im Giok lagi. Belum sempat pemuda itu menjawab, terdengar teriakan lain yang keluar dari mulut Tok-SengSianli Tung Goat Lun. Yan Ci! teriakannya mengagetkan semua yang hadir disitu. Tubuh si nenek berkelebat cepat menyambar tubuh gadis yang berada dalam gendongan A Sai. Lalu segera diperiksanya keadaan gadis itu. Semua orang tertegun. Gadis inikah muridmu yang lain itu? tanya Yok-Sian hati-hati. Benar, ialah Thio Yan Ci muridku! dengus si nenek pendek.

Subo, bagaimana keadaan sumoi (adik seperguruan)? tanya Kim Hoa khawatir. Diamlah! Jangan cerewet! bentak nenek itu ganas, tampak jelas kekhawatiran dimatanya. Dengan teliti diperiksanya keadaan Thio Yan Ci murid kesayangannya itu. Tok-Seng-Sianli seolah sudah melupakan sama sekali masalahnya dengan Yok-Sian, seluruh perhatiannya dicurahkan pada muridnya itu. Orang lain tidak lagi dipedulikannya. Orang yang hadir disitu seolah terbagi menjadi dua kelompok. Im Giok sibuk dengan A Sai sementara yang lainnya sibuk dengan Yan Ci. Hanya Yok-Sian yang bingung harus mengurusi yang mana duluan. Dilihatnya A Sai walau seluruh tubuhnya penuh bertaburan racun, kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh oleh racun tersebut. Akhirnya diputuskannya untuk mengurus murid Tok-SengSianli duluan, kondisi gadis itu jauh lebih lemah dan mengkhawatirkan dari pada A Sai. Biar Lo-hu lihat keadaannya! Si nenek tampak tidak rela tapi tak mampu menolak. Luka dalam yang diderita muridnya ia pun dapat menyembuhkannya. Namun kedua tulang lengan muridnya retak dan hancur dibeberapa bagian. Jika tidak diobati dengan benar, muridnya bakal kehilangan fungsi kedua lengannya itu selamanya. Tok-Seng-Sianli tahu, didunia ini hanya Yok-Sian yang dapat menyembuhkan kedua lengan muridnya. Hati-hatilah kau mengurusnya. Kalau sampai muridku tak tertolong, akan kuburu kau sampai ke akhirat! ancamnya sungguh-sungguh. Yok-Sian tak menjawab. Sebat digendongnya tubuh gadis itu lalu berbalik melangkah menuju rumahnya. Ikuti aku! katanya singkat. Tok-Seng-Sianli segera mengikutinya, sambil melangkah pergi nenek itu berkata pada Kim Hoa muridnya. Kau pergilah, tanyakan bocah itu apa yang sebenarnya terjadi pada sumoimu! Baik subo! Kedua orang tua itu segera menghilang ke dalam rumah. Perlahan Kim Hoa berbalik lalu melangkah mendekati A Sai dan Im Giok.

Diperhatikannya pemuda itu seksama. Seluruh tubuh dan wajah pemuda itu coreng moreng tak karuan dipenuhi bebagai macam warna, sementara bajunya compang camping dan robek kiri kanan. Pemuda itu sungguh jangkung dengan bahu yang kelewat lebar. Sayang wajahnya jadi sedikit tersamar dengan warna yang menutupinya. Lewat beberapa saat barulah pemuda itu dikenalinya lagi. Ternyata pemuda yang perrnah ditemuinya di sungai, pemuda yang pernah memberikan seekor Lehi padanya. A Sai. Pikirnya senang sekaligus terkejut. Tak pernah disangkanya ternyata pemuda yang dulu ditemuinya ternyata murid dari Yok-SianSan-Jin, tokoh yang dikaguminya itu. Kekagumannya pun makin bertambah melihat pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh berbagai jenis racun yang menempel ditubuhnya. A Sai... tegurnya perlahan, senyum manis mengikuti kata-katanya itu. Nona ternyata nona. Sedang apa disini? tanya pemuda itu sedikit heran, tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kim Hoa. Kalian sudah saling mengenal? tanya Im Giok melihat sikap keduanya itu. Tadi kami sempat bertemu disungai, cuma... A Sai tidak tahu siapa nona ini sebenarnya. Ooo jawab Im Giok. Namaku Tan Kim Hoa. gadis itu memperkenalkan dirinya. Tan Kim Hoa Kim Hoa ulang pemuda itu seolah sedang menghafal. Kim Hoa-cici (kakak Kim Hoa)! Potong Im Giok cepat, seolah mengingatkan akan usia A Sai yang jauh lebih muda dari Kim Hoa. Kim Hoa-cici... baiklah. Hoa-cici apa yang cici lakukan disini? tanya A Sai lagi. Cici ikut subo kemari untuk menemui suhu (guru) mu! jawab Kim Hoa pelan. Berarti gadis yang bernama Thio Yan Ci tadi adalah sumoinya cici? Benar! Kim Hoa seolah diingatkan kembali akan persoalan yang hendak ditanyakannya pada pemuda itu. A Sai, sebenarnya apakah yang terjadi? Siapakah yang melukai Yan Ci-sumoi?

A Sai tampak seperti berat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Tapi sebelum ia sempat bersuara, Kim Hoa telah memekik duluan. Heeiii bagaimana Toh-Mia-Tok-Seng (racun bintang perenggut nyawa) bisa berada ditubuhmu? Lalu ini ini kan bubuk Ang-hoa-Tok (bunga racun merah) dan ini...ini segala jenis racun yang menempel ditubuh A Sai dikenalinya, racun-racun tersebut ternyata merupakan keahlian tunggal milik subonya. Apa kau telah bertempur melawan Ci-sumoi? tanya gadis itu curiga. Kalau cuma satu macam racun saja yang berada ditubuh pemuda itu, ia masih bisa maklum. Tapi kalau hampir semua racun pusaka perguruannya berada ditubuh pemuda ini, pastilah A Sai telah bertarung melawan sumoinya itu. A Sai jadi kelihatan salah tingkah. Kau kenal segala racun ini? tanya Im Giok cepat. Tentu saja, ini semua merupakan pusaka perguruan kami. Selain kami berdua dan subo, tak ada lagi orang lain yang memilikinya. Kalau begitu, cepat berikan penawarnya! desak Im Giok. Ku kira tak perlu lagi. Racun itu sama sekali tidak berpengaruh pada Sai-te. Jawab Kim Hoa pelan seperti menahan kekecewaan. Darimana kau tahu? desak Im Giok khawatir. Sebab kalau berpengaruh, pastilah Sai-te sudah mati sejak racun mengenai tubuhnya! Benarkah? Seperti Toh-Mia-Tok-Seng ini, jika sampai terkena dikulit maka dalam hitungan detik racunnya akan menyebar ke seluruh tubuh orang tersebut. Melelehkan dan membuat tulang berikut sumsum mencair seperti bubur saja layaknya. Walau daging dan anggota tubuh lainnya tetap utuh namun tulang belulang dan sumsumnya akan hancur. Hebatnya lagi orang itu akan tetap hidup selama setengah harian sebelum maut menjemputnya. Kata Kim Hoa lagi, tampaknya bangga akan kedahsyatan racun perguruannya itu. Keduanya bergidik ngeri mendengar perkataan Kim Hoa. Kenyataannya sampai sekarang Sai-te masih tetap hidup bahkan tanda keracunan pun tidak tampak ditubuhnya seolah yang menempel hanyalah pasir biasa saja. Jadi pastilah semua racun ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap dirinya! Keduanya serempak menarik nafas lega.

Hal ini juga menjelaskan satu hal... kata Kim Hoa lagi. Apa itu? Im Giok bertanya cepat. Sai-te telah bertarung melawan Yan Ci-sumoi! Im Giok tertegun. A Sai tertunduk ragu, sementara kedua gadis didepannya tampak memandanginya dengan pandangan tajam menyelidik. Sai-te katakan apa yang sebenarnya terjadi! kata Im Giok, tegas. Walau tahu ia tidaklah bersalah tapi ia merasa berat juga harus menceritakan perkelahiannya dengan Thio Yan Ci, apapun sebabnya dirinyalah yang telah membuat gadis itu terluka parah. A Sai lalu menceritakan kembali pertarungan yang terjadi diantara dirinya dan gadis itu. Hanya tentang kehebatan sinkangnya sajalah yang berusaha ditutupinya. Benarkah demikian? tanya Kim Hoa setelah mendengar cerita pemuda itu. Benar. Kim Hoa jadi tidak dapat berkata apa lagi. Dilihat dari cerita A Sai, tampaknya kesalahan memang berada pada diri sumoinya itu. Ia tahu sumoinya mendapat tugas untuk mencari beberapa ekor ikan sama seperti tugas yang diterimanya, namun ia tak menyangka sumoinya akan melakukan tindakan perampasan seperti yang dilakukannya terhadap A Sai. Kalau sudah begini kejadiannya, A Sai pun tak bisa disalahkan. Sumoi seharusnya meminta secara baik-baik, bukannya main rampas begitu saja. kata Kim Hoa menyesali tindakan sumoinya itu. A Sai tak menjawab. Kenapa tidak Sai-te berikan saja ikan-ikan itu? Sai-te kan dapat mencarinya lagi! Im Giok kelihatan turut menyesali sikap adiknya itu. A Sai jadi sedih, penyesalannya bertambah. Ia hanya ingin menyenangkan cicinya saja. Bukankah cicinya yang berpesan agar ia secepatnya menangkap sejumlah ikan? Kalau harus diberikannya pada gadis itu bukankah sama saja dengan ia telah berlambat-lambat melaksanakan pesan cicinya? Lagipula bagaimana kalau ikan yang diminta cicinya baru dapat ditangkap setelah hari gelap atau bahkan tidak dapat ditangkapnya lagi, bukankah cicinya akan mengira ia tidak becus dalam bekerja? Mengira ia sengaja melalaikan tugasnya?

Apakah pantas seorang pemuda sepertimu melukai seorang gadis hanya karena beberapa ekor ikan saja? tambah Im Giok lagi. A Sai makin sedih dan menyesal. Kim Hoa jadi tak tega menyaksikan keadaan pemuda itu. Biar bagaimana pun A Sai tidaklah dapat disalahkan. Ia cukup kenal sifat sumoinya yang angkuh dan berangasan. Pastilah kesalahan memang berada pada diri Thio Yan Ci sumoinya. Apalagi ia telah merasakan sendiri kebaikan hati pemuda ini. Seandainya sumoinya meminta secara baik-baik, Kim Hoa yakin takkan terjadi pertarungan diantara mereka. Tak perlu disesalkan apa yang sudah terjadi. Dalam hal ini aku yakin Sai-te tidak bersalah! katanya pada Im Giok. Seandainya Sai-te mau menggunakan otaknya, pastilah ada jalan untuk menghindari pertarungan itu. Sayangnya... Sai-te lebih memilih melayani Yan Ci. Kata Im Giok menyesal. Kongkong pasti kecewa dengan sikapmu! sambungnya kemudian. A Sai tahu ia memang terlalu menurutkan kata hatinya. Seandainya ia dapat lebih bersabar, pastilah pertarungan sia-sia itu tak terjadi. Sudahlah, yang jadi masalah sekarang... bagaimana menerangkan semua ini pada suboku! ucap Kim Hoa, mengingatkan akan masalah yang sebentar lagi bakal dihadapi. Sifat nenek berangasan itu membuat keduanya jadi ngeri sendiri. Baru kata-katanya saja sudah mampu membuat orang mati berdiri, belum racunnya? apalagi ilmu silatnya. Lebih baik menerjang lautan berapi daripada disuruh menghadapi kemarahan Tok-Seng-Sianli. Kim Hoa ngeri. Im Giok pun turut ngeri. A Sai santai saja. Hanya A Sai yang belum mengetahui sifat nenek itu. Walaupun rasa sesal masih membebaninya, namun ia tidak merasa perlu untuk takut menghadapi Tok-Seng-Sianli. Ia lebih takut pada kongkong dan cicinya daripada nenek ringkih dan lemah itu. Melihat kedua gadis itu tampak tertekan, A Sai pun berkata yakin. Biar Sai-te yang menjelaskan duduk persoalannya nanti. Keduanya tertegun. Keduanya pucat pasi.

Keduanya makin ngeri mendengar ucapan A Sai itu. Uap tipis mengepul perlahan, mengambang naik dari kepala Tok-Seng-Sianli. Uap tersebut seolah bersaing dengan asap yang yang berasal dari pelita yang tergantung dilangit-langit kamar. Tangan si nenek yang kurus dan mengeriput tampak menempel ketat dipunggung murid kesayangannya, sementara gadis itu masih saja tak sadarkan diri hingga malam tiba. Disudut kamar Yok-Sian si dewa obat sedang sibuk meramu berbagai macam bahan obat-obatan, bahan yang akan digunakan kakek itu untuk menyambung tulang lengan si gadis yang patah dan remuk. Didepannya tampak sebuah kotak kemala putih berisi jarum perak dan emas berbagai ukuran sementara sebuah mangkok berisi sejenis cairan obat tampak mengepul disampingnya. Luka dalam yang diderita Thio Yan Ci ternyata jauh lebih parah dari yang semula terlihat. Isi dadanya terguncang hebat membuatnya terluka parah disebelah dalam tubuhnya, saking parahnya hingga jika terlambat ditolong bisa jadi nyawa gadis itu takkan bisa diselamatkan lagi. Sudah hampir setengah harian lamanya gadis itu pingsan, sementara keduanya secara bergantian telah menyalurkan lweekang mereka ke tubuh Yan Ci. Masa kritisnya bisa dibilang telah lewat, hanya tinggal masalah waktu sebelum gadis itu sadar kembali. Perlahan nenek itu menarik kembali tenaganya. Dengan penuh kasih dibaringkan kembali tubuh muridnya itu. Setelah beristirahat sejenak, disusut keringatnya dengan ujung lengan baju. Hatinya terguncang. Siapa pun orangnya yang telah melukai muridnya ini, pastilah akan membayar hutang berikut bunganya sekalian. Kok Lam, bagaimana dengan kedua lengan muridku ini? ucap Tok-Seng-Sianli lemah, tenaganya nyaris habis digunakan menolong selembar nyawa muridnya. Harapannya cukup baik. Jika tubuhnya tidak menolak obat yang nanti kuberikan, kemungkinan besar tangannya bakal kembali seperti sedia kala. Hanya saja ia tetap tak boleh menggerakkan tangannya sama sekali selama paling tidak sebulan. Pun kain pembalut lukanya haruslah diganti paling tidak sehari sekali Jawab Yok-Sian perlahan, kelelahannya tampak jelas diwajahnya. Kalau tidak? tanya si nenek lagi. Kalau tidak, bisa saja terjadi hal lain yang tidak diinginkan! Hal lain seperti apa? Seperti tulang lengannya sama sekali tak mau tersambung atau tulang lengannya tersambung kembali tapi bengkak-bengkok bisa juga lukanya malah membusuk dan lengannya terpaksa dipotong tanggal. jawab Yok sian menerangkan. Oleh karena itu tidak boleh ada kesalahan sama sekali dalam perawatannya. Kata kakek itu lagi, lemah tapi tegas.

Tok-Seng-Sianli tak sanggup membayangkan semua perkataan Yok-Sian itu. Walau sifatnya berangasan dan kasar, sayangnya pada Yan Ci sangatlah mendalam. Hal ini dikarenakan bakat dan kepintarannya jauh lebih besar daripada Tan Kim Hoa suci (kakak seperguruan) nya. Itulah sebabnya Tok-Seng-Sianli menaruh harapan besar pada gadis itu, ia yakin kelak Yan Ci akan mengharumkan dan mengangkat namanya. Sekarang harapannya itu terbaring didepan mata dengan kemungkinan cacat kedua lengan. Jangan ditanya lagi besarnya dendam Tok-Seng-Sianli pada orang yang telah mencelakakan murid kesayangannya itu. Akan kubuat pelakunya mati segan hidup tak mau! dengus nenek itu marah. Yok-Sian tidak memperdulikan perkataan si nenek, perhatiannya tetap tercurah pada ramuan obat yang ada dihadapannya. Setiap orang bagaimana pun saktinya orang itu, pastilah mempunyai setitik kelemahan. Entah lemah terhadap kekuasaan, harta, nama besar atau yang lainnya dan kelemahan Tok-Seng-Sianli terletak pada Thio Yan Ci murid kesayangannya itu. Segala sikap kasar dan berangasan yang menjadi ciri khas nenek ini, seakan lenyap entah ke mana sejak mengetahui keadaan muridnya yang terluka. Sikapnya tidak lagi mirip datuk wilayah selatan yang berangasan tapi lebih mirip sikap seorang ibu yang mengkhawatirkan keselamatan anak gadisnya yang terluka. Tok-Seng-Sianli kembali memandang sedih muridnya, hatinya seakan turut merasakan rasa sakit dan penderitaan muridnya itu. Perlahan ia berkata, suaranya bergetar penuh kekhawatiran dan kesedihan. Kok Lam Jika kau sanggup menyembuhkan Yan Ci seperti sedia kala Aku berjanji... semua pertikaian kita takkan pernah ku ungkit lagi... Selamanya takkan kuganggu dirimu! Yok-Sian tersentak. Sedari tadi ia sudah heran, ke mana perginya segala caci maki yang biasanya menyertai segala perkataan Goat Lun itu. Rupanya keadaan muridnyalah yang membuat sikapnya berubah. Mau tak mau ia jadi terharu melihat besarnya kasih sayang Tok-Seng-Sianli pada muridnya. Orang yang tak Lo-hu kenal saja Lo-hu bantu sekuat tenaga, apalagi muridmu? Tak perlu bersedih, Lo-hu pasti berjuang sekuat tenaga! Tok-Seng-Sianli hanya sanggup memandang dengan penuh rasa terima kasih. Ia tahu perkataan Yok-Sian jauh lebih berat dari bukit karang, takkan tergoyahkan selamanya. Dipandanginya kakek dewa obat dihadapannya. Walau umurnya sudah delapan puluh tahun lebih dan rambutnya telah memutih semua, namun perawakannya masih terlihat muda dan gagah. Seolah dalam tigapuluh tahun terakhir kakek ini

tidak pernah bertambah tua saja. Pakaiannya pun hanya terbuat dari kain kasar sederhana, namun semua kesederhanaan itu tak mampu menutupi aura yang terpancar dari dirinya. Aura yang membuat setiap orang yang melihatnya akan langsung menghormati dan ingin bersahabat dengannya. Aura yang membuat orang percaya padanya. Tok-Seng-Sianli hanya mendesah pendek. Kekagumannya pada lelaki dihadapannya ini semakin bertambah. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ramuan obat pun siap. Bantu Lo-hu meminumkan obat ini! kata Yok-Sian singkat. Sebat dan hati-hati, Tok-Seng-Sianli mendudukan tubuh muridnya. Sambil memencet hidung Yan Ci, Yok-Sian menotok beberapa jalan darah si gadis lalu menuangkan cairan obat ke dalam mulut gadis itu. Diurutnya perlahan bagian tenggorokan gadis itu untuk membantu melancarkan masuknya obat ke dalam perut. Sekarang kau harus istirahat, bagian yang ini harus Lo-hu sendiri yang melakukannya. Tok-Seng-Sianli yang tak biasa diperintah orang, sekarang menurut saja diperintah kakek itu. Tanpa banyak cakap dibaringkan kembali tubuh muridnya lalu ia segera pindah ke bangku kayu disudut kamar. Sebentar saja ia telah memasuki keadaan kosong, rupanya si nenek langsung melakukan siulian (meditasi) untuk memulihkan tenaganya yang banyak hilang. Yok-Sian pun tak berlambat-lambat lagi. Segera saja ia bersila disamping tubuh gadis itu lalu setelah mengumpulkan tenaganya, perlahan dirabanya bagian-bagian tulang yang remuk dan patah di lengan kiri gadis itu. Sinkangnya disalurkan mengurut perlahan, mencoba mengembalikan susunan tulang lengan gadis itu seperti semula. Setelah selesai, segera dibalurnya dengan ramuan obat yang telah disiapkannya. Dua kepingan kayu lalu diikatkan pada lengan kiri gadis itu dengan sepotong kain. Yok-Sian menarik nafas sejenak, lalu mengalihkan perhatiannya ke lengan kanan gadis itu. Hatinya resah, tulang lengan kanan yang patah itu mudah saja disembuhkannya. Yang menjadi masalah adalah salah satu hiat-to (titik darah) dilengan kanan gadis itu rusak serta tujuh bagian hiat-to ditubuhnya tersumbat. Hal inilah yang membuat hatinya resah. Hiat-to yang rusak merupakan salah satu hiat-to penting yang mengontrol peredaran tenaga ditubuh gadis itu. Kalau tidak dapat disembuhkan kembali, kemungkinan besar si gadis dapat kehilangan kemampuannya untuk mengalirkan lweekang di tubuhnya. Belum lagi tujuh bagian hiat-to ditubuh si gadis yang tersumbat itu. Untuk dapat mengalirkan lweekang secara lancar, tidak boleh ada satu pun hiat-to yang rusak atau tersumbat. Ibarat air dialirkan melalui sebatang bambu, lweekang gadis itu akan merembes keluar dari tempat yang bocor dan akan berhenti pada tempat-tempat yang tersumbat. Hal ini bahkan dapat menyebabkan kematian si gadis.

Kelihatannya Yan Ci bertemu seorang lawan yang kekuatan sinkangn ya berkali lipat lebih kuat darinya. Melihat keadaannya, lweekangnya telah membalik terbentur sinkang orang itu dan berakibat rusaknya sistem jalan darah ditubuhnya. Ramuan obatnya dapat menyembuhkan hiat-to yang rusak namun untuk menembus hiat-to yang tersumbat ia tak mampu. Terlalu luas dan rumit. Hanya orang yang memiliki tenaga sakti maha kuat saja yang sanggup menembus hiat-to yang tersumbat itu dan ia tak memilikinya. Seandainya tidak dapat disembuhkan, sudah pasti gadis itu bakal kehilangan ilmu silatnya. Yok-Sian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Tenaganya memang tak mampu menyembuhkan gadis itu tapi paling tidak gadis itu tak terancam lagi nyawanya. Selama nyawa gadis itu masih ada, tetap ada harapan bagi si gadis untuk sembuh. Ramuan obat yang sama dibalurkannya kembali ke lengan kanan gadis itu. Ramuannya ini tidak mampu menembus hiat-to si gadis yang tersumbat. Lweekangnya dan guru gadis ini pun tak sanggup menembusnya. Tapi ia yakin ada beberapa orang yang sanggup menembus jalan darah Yan Ci yang tersumbat, seperti rekannya datuk barat yang kekanakan dan datuk utara yang nyentrik. Masih ada juga Tiong Lo-Jin (orang tua Tiong) pertapa sakti yang masih supek (paman guru) dari ciangbunjin (ketua perguruan) Gobi-Pai sekarang. Selain mereka bertiga mungkin saja ada tokoh-tokoh sakti dari empat perguruan besar bulim yang sanggup menyembuhkannya, sebab semenjak dahulu Siauw-Lim-Pai, Kun-Lun-Pai, BuTong Pai dan Gobi-Pai terkenal sebagai gudangnya orang-orang berilmu tinggi. Seandainya saja salah seorang diantara mereka ini mau membantu, ada kemungkinan gadis ini dapat sembuh total. Hanya ia tidak terlalu yakin mengingat hubungan Tok-Seng-Sianli dengan sebagian besar orang tadi. Hanya Koay-Lo-Tong si datuk barat seorang yang besar harapannya mau menolong, sisanya lagi ia tak yakin. Yok-Sian menghembuskan nafas sejenak, dipandanginya iba gadis yang sedang berbaring itu. Masih terlalu muda. Masa depannya masih panjang. Sayang kalau harus cacat dalam usia semuda ini. Perlahan ia lalu melangkah keluar dari kamar, langsung menuju ke halaman rumah. Dipandanginya suasana malam disekitarnya. Sudah tengah malam rupanya. Bulan tampak bersinar tinggi diatas kepalanya, membiaskan cahayanya ke permukaan bumi. Cahayanya lembut membelai hati Yok-Sian namun tak dapat mengusir kegelisahan hati kakek itu. Yok-Sian tak tahu bagaimana menyampaikan kabar kurang baik ini pada Goat Lun. Berdasarkan sifat si nenek yang kasar berangasan, kemungkinan besar akan timbul masalah baru yang lebih serius lagi. Ia tak ingin membayangkannya.

Belum lama pikirannya menerawang, sesosok tubuh tampak berjalan perlahan menghampirinya, lalu berdiri membisu. Dipandanginya sosok disampingnya itu dengan teliti. Sai-ji, ceritakan semuanya! kata Yok-Sian pendek. Tampaknya ia telah membersihkan diri sebab wajahnya dan tubuhnya bersih dari racun serta telah pula berganti pakaian. Yok-Sian kembali terheran akan kemampuan A Sai menahan racun. Namun teringat akan keadaan si pemuda yang tidak biasa itu, iapun dapat menduga penyebabnya. Tanpa perlu disuruh dua kali lagi, A Sai segera menceritakan kembali peristiwa yang terjadi hari ini, tentang pertemuannya dengan Tan Kim Hoa dan pertarungannya dengan Thio Yan Ci. Tak ada yang ditutupi. Bahkan tentang tenaga yang meledak keluar secara tiba-tiba dari tubuhnya pun diceritakannya dengan jelas. Sebab ia sendiri penasaran, bagaimana hal yang tak masuk diakalnya itu bisa terjadi. Kalau ada orang yang sanggup menjelaskan hal itu, ia yakin kongkongnyalah orangnya. Yok-Sian jadi sedikit menyesal mendengar sikap A Sai yang melayani kekasaran Yan Ci itu. Posisi A Sai tidaklah salah namun jauh lebih baik jika A Sai mau menghindari pertarungannya dengan gadis itu. Akibatnya si gadis sekarang terluka parah dan bakal kehilangan ilmu silatnya, belum lagi tindakan pembalasan yang bakal dilakukan guru gadis itu. Bukankah jauh lebih baik jika A Sai mengalah saja? Walau demikian Yok-Sian juga tak dapat terlalu menyalahkan tindakan A Sai, ia hanya sanggup menyesalinya saja. Yok-Sian sadar biar bagaimana pun juga A Sai masih muda dan berdarah panas. Pengendalian dirinya masihlah terbatas. Ia hanya bertindak menurut rasa hatinya, bukan berdasarkan otaknya. Yok-Sian termenung. Kongkong A Sai mohon maaf telah mengecewakan kongkong! kata pemuda itu pelan, takut kongkongnya marah. Tak ada gunanya memarahi A Sai. Jauh lebih baik menasehatinya dari pada memarahinya, menasehatinya agar lebih berhati-hati dalam bertindak dikemudian hari. Disaat seseorang menyesali kesalahannya, biasanya setiap nasihat yang diberikan akan jauh lebih mudah diterimanya. Yok-Sian sadar jika A Sai tidak dibimbing secara benar, dengan dasar yang dimilikinya saat ini bukan mustahil lima sepuluh tahun ke depan A Sai bakal menjelma menjadi malaikat penyebar maut yang sukar ditanggulangi lagi. Dan hal ini tidaklah diinginkannya. Pemuda ini harus dibimbingnya sebaik mungkin selama ia mampu. Kau sadar kau salah? tanya Yok-Sian bijak. A Sai sadar. Jawab pemuda itu pelan.

Benarkah? Benar kongkong. Bukannya gadis itu telah berusaha merampok milikmu? A Sai terdiam, tak menyangka pertanyaan tersebut akan keluar dari mulut kongkongnya. Bukankah gadis itu telah memaki dan menghina dirimu? A Sai jadi tertunduk. Bukankah gadis itu yang menyerangmu lebih dulu? A Sai makin diam dan menunduk. Bukankah gadis itu menginginkan nyawamu? A Sai tak tahu harus menjawab apa. Lalu... dimanakah letak kesalahanmu? tanya Yok-Sian tiba-tiba. A Sai tertegun. Logika dan hatinya berperang. Logikanya mengatakan dirinya benar. Ia hanya membela dirinya. Jika hal itu tidak dilakukannya, kemungkinan besar dirinyalah yang terluka bahkan mati, bukannya gadis itu. Tapi kalau melihat dari ajaran yang selama ini ditekankan kongkongnya, tentang kesabaran, penguasaan diri dan kewajiban untuk berbuat baik pada sesama ia tahu ia salah. Apalagi hatinya sendiri seakan turut menyalahkan dirinya. Akhirnya ia cuma bisa diam, tak sanggup menjawab. Kebingungan dan penyesalan berganti-ganti diwajahnya yang polos. Apa kau sempat menanyakan penyebab perbuatannya itu? Tidak kongkong... jawab A Sai lemah. Kenapa tidak kau tanyakan? A Sai A Sai lupa. jawabannya terdengar semakin lemah. Bagaimana seandainya ia terpaksa melakukan perbuatannya itu lantaran keluarganya nyaris mati sebab sekian hari lamanya belum makan? Jika ia terbunuh olehmu bukankah sama saja kau turut membunuh keluarganya pula? A Sai mulai berpikir ke arah yang sebelumnya tidak dipikirkannya sama sekali.

Bagaimana seandainya ikanmu itu ingin digunakannya untuk menolong seseorang yang hampir mati? Jika ia terbunuh olehmu bukankah sama saja kau turut membunuh orang yang ingin ditolongnya itu? A Sai ragu, namun hatinya perlahan mengalahkan logikanya. A Sai A Sai mengaku salah. Kongkong tidaklah dapat menyalahkanmu karena biar bagaimana pun Yan Ci lah yang memulai semuanya. Kongkong hanyalah menyesali keputusan yang telah kau ambil. Jawab Yok-Sian lembut. A Sai jadi sedikit lega mendengarnya, paling tidak kongkongnya tidak terlalu menyalahkannya. Sebenarnya masalah ini dapat kau hindari jika saja kau mau sedikit bersabar dan menggunakan akalmu. Kau punya kesempatan untuk mundur dan tidak melayaninya tapi kau malah menurutkan hatimu melayani kekasaran gadis itu. Misalnya saja kau mau memberikan ikanmu itu, bukankah semua masalah ini takkan terjadi? Yok-Sian pun melanjutkan nasehatnya. Kerugian sudah pasti kau dapatkan. Bukan hanya salah seorang diantara kalian bakal terluka, seandainya kau berhasil membunuhnya pun kaum gadis itu bakal datang menuntut dendamnya. Sedangkan keuntungan... Apa ada sesuatu keuntungan yang kau dapatkan setelah mengalahkan gadis itu? Apakah kau jadi lebih kaya? Lebih terkenal? Ataukah dirimu lalu mendadak jadi lebih pintar? Tak ada bukan? Bukan saja tak ada keuntungan yang kau dapatkan, bahkan kau malah akan menciptakan suatu lingkaran dendam diantara dirimu dan pihak gadis itu. Tidak ada keuntungan justru kerugian yang pasti menantimu. A Sai tak mampu menjawab. Ia tahu perkataan kongkongnya masuk akal. Dalam menghadapi setiap masalah, bersikaplah sabar dan bijak... Jangan terlalu menurutkan kata hatimu Cobalah untuk melihat masalah yang kau hadapi itu dari sudut pandang yang berbeda, jangan hanya melihat dari sudut pandangmu sendiri. Sebab kalau hal ini tidak kau lakukan, niscaya kau bakal menghadapi banyak kesulitan dikemudian hari. Kesulitan-kesulitan yang mungkin dapat kau hindari jika kau mau menggunakan akalmu. Keraguan A Sai makin menghilang, namun masih tersisa sedikit pertanyaan dihatinya. Kongkong, seandainya bagaimana seandainya orang yang meminta pertolonganku tidak mengatakan alasannya yang sebenarnya? Bagaimana jika orang itu cuma ingin memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya sendiri? tanya A Sai pelan. Hal itu tidak perlu kau risaukan, intinya kau telah memenuhi kewajibanmu sebagai makhluk Thian, selebihnya adalah urusan orang itu sendiri dengan Thian. Soal ia menipu atau tidak, tak usah kau perdulikan lagi!

Bagaimana seandainya ia meminta sesuatu milikku namun ternyata ingin digunakannya untuk tujuan jahat? tanya A Sai lagi. Gunakan kecerdikanmu untuk menganalisa keadaan. Cobalah melihat dari segala sisi yang mampu kau lihat, gunakan akalmu. Kalau hatimu meragu, janganlah kau penuhi permintaannya itu. Prinsipnya, pintar-pintarlah kau menilai situasi yang kau hadapi. Kongkong percaya kau mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat! A Sai termenung sesaat lalu bertanya kembali. Kongkong, bagaimana jika lawan mendesak A Sai melayaninya? Selama ada jalan untuk menghindar, menghindarlah. Kalau kau harus mundur, mundurlah. Seandainya sudah tak ada jalan lagi untuk menghindar atau mundur? Terpaksa kau harus maju. Hidupmu adalah karunia dari Thian, oleh sebab itu kau wajib menjaganya baik-baik. Hanya harus kau ingat untuk sedapat mungkin tidak mengambil nyawa lawanmu. Kalau hal itu tergantung padamu, ampunilah selembar nyawanya. Tapi selama kau masih bisa mundur, janganlah kau maju. Bahkan seandainya untuk mencegah pertarungan itu kau harus lari dari hadapan musuhmu, janganlah kau ragu untuk lari. A Sai mengerutkan keningnya, tidak setuju dengan perkataan kongkongnya yang terakhir. Kongkong, bukankah melarikan diri itu perbuatan seorang pengecut? Bukankah dengan demikian A Sai akan dihina orang? A Sai akan dijadikan bahan tertawaan? Jangan pedulikan pendapat orang lain tentang dirimu. Kalau kau ingin menjaga gengsi dan nama besarmu, jagalah hal itu didepan Thian. Tidak usah perduli perkataan manusia tentang tindakanmu itu. Prinsipnya selama apa yang kau lakukan tidak bertentangan dengan hukum Thian, hukum negara serta hukum kebenaran, kau tak usah takut melakukannya. Kata YokSian lembut. Yok-Sian menghembuskan nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya. Sudah terlalu banyak nyawa melayang sia-sia hanya karena manusia terlalu sibuk memikirkan gengsi dan nama besar mereka. Cuma karena urusan sepele saja lantas hendak mengambil nyawa sesamanya. Padahal kalau mereka mau menggunakan otak untuk berpikir, masih banyak jalan yang bisa diambil untuk menyelesaikan masalah mereka itu. Tapi yang ada dipikiran mereka hanyalah malu kalau sampai nama besar mereka itu tercemar. Banyak orang menganggap mengalah itu sama dengan takut, dan takut sama saja dengan menghancurkan gengsi dan nama besar mereka. Mereka terlalu sibuk menjaga nama besar hingga tidak lagi peduli harus mencelakakan sekian banyak orang demi nama besarnya itu. Dilihat dari luarnya saja mereka menerima pujian kosong setinggi langit, dibelakangnya mereka pun memperoleh caci maki dan kutuk dari segenap kaum orang yang dicelakainya.

Yok-Sian menarik nafas lalu melanjutkan. Sai-ji... Kau masih muda, perjalananmu masih panjang dan berliku. Cobaan dan masalah adalah seperti sahabat baik yang selalu setia menemani setiap manusia selama ia hidup. Kau pun akan terbiasa dengan kehadiran mereka dalam hidupmu. Namun jangan lupa nak dibalik setiap cobaan dan masalah yang kau hadapi, selalu terselip sedikit kebahagian. Peganglah baik-baik kebahagiaan itu. Sebab sesedikit apapun kebahagian yang kau miliki sudahlah cukup, asalkan kau tahu bagaimana menggenggamnya. Pesan kongkong... Pintar-pintarlah kau mengambil sikap dalam menghadapi sesuatu masalah. Bersikaplah bijaksana dan sabar. Pertimbangkanlah dengan teliti setiap keputusan yang akan kau ambil dan janganlah terlalu menuruti kata hatimu. Ingat nak perbuatanmu hari ini, akan menentukan kebahagiaanmu dikemudian hari. Katanya menutup nasihatnya malam ini. A Sai terharu. Ia tahu kongkongnya berkata demikian semata-mata karena kongkongnya sayang dan perduli padanya. Rasa hormat dan tunduk makin dalam berakar dihatinya, Demikianlah, tidak ada kecaman hanya nasihat yang diberikan Yok-Sian pada cucunya itu. Nasihat yang luar biasa tak masuk akal bagi sebagian besar orang dibulim. Nasihat yang akan ditertawakan hampir segenap bulim jika mereka mendengarnya, sebab mana ada guru yang mengajarkan muridnya melarikan diri dari hadapan musuh? Sungguh suatu nasihat yang aneh. Nasihat yang membuat kakek ini dinobatkan sebagai seorang diantara Bu-Lim-Su-Koay (Empat aneh dunia persilatan). Yok-Sian-San-Jin (Manusia gunung dewa obat) Souw Kok Lam si datuk timur yang aneh dan tak masuk akal jalan pikirannya. Secara tiba-tiba sikap Yok-Sian yang keren dan berwibawa itu telah berganti dengan sikap gembira dan penasaran. Sekarang ceritakan lebih jelas lagi tentang tenagamu itu! kata si kakek cepat. A Sai tertegun, lalu tertawa kecil melihat sikap kongkongnya yang tiba-tiba berubah drastis seperti itu. Kalau tadi sikap kongkongnya ibarat seorang pendeta, sekarang kelakuan kongkongnya lebih mirip kelakuan seorang anak kecil saja. Jangan tunda lagi, ayo ceritakan semuanya! Si kakek rupanya bisa tak sabaran juga. Maklumlah sebagai seorang pesilat, segala hal yang berbau silat tentu saja sangat menarik perhatiannya. A Sai A Sai bingung harus memulai dari mana! jawab pemuda itu, termenung. Yok-Sian pun tampak berpikir. Ikuti kongkong! katanya singkat.

Baiklah! jawab pemuda itu cepat. Yok-Sian lalu melangkah mengambil arah ke sebelah timur sementara A Sai mengikutinya dari belakang. Setelah sepuluh tombak jauhnya dari rumah, Yok-Sian segera berkelebat cepat, menyusup makin jauh ke dalam lebatnya hutan. Mau tak mau pemuda itu pun segera mengerahkan tenaganya berlari mengejar. Sebenarnya YokSian sengaja menguji ginkang pemuda ini, namun segera dilihatnya pemuda itu sama sekali tidak menguasai suatu ilmu ginkang apapun. Langkahnya segera diperlambat, ia tak ingin A Sai sampai ketinggalan atau bahkan kehilangan jejaknya. Setelah berlari satu Li lebih, kakek itu lalu menghentikan langkahnya. Dalam beberapa saat, pemuda itu pun telah berada disampingnya. Nafasnya biasa saja dan tidak tampak kelelahan diwajahnya, bahkan setetes keringat pun tak tampak membasahi tubuhnya. Mau tak mau YokSian kagum juga melihat ketahanan fisik dan kepanjangan nafas yang dimiliki A Sai. Daya tahan dan pernafasannya hebat. Pikir Yok-Sian kagum. Berbagai jenis pohon berukuran besar berjejer tak teratur memenuhi tempat itu sementara cahaya bulan tak terlihat lagi saking rimbunnya dedaunan yang menaungi. Semak belukar tumbuh dengan suburnya makin menambah keseraman suasana disitu. Sekarang, tunjukkan dahulu tenagamu itu! kata Yok-Sian memecah keheningan hutan. Bagaimana caranya kongkong? tanya A Sai kebingungan. Selama ini lweekangnya A Sai hanya keluar sewaktu-waktu, sebab ia sendiri tidak pernah mempelajari suatu ilmu lweekang tertentu. Pemuda itu jadi bingung sendiri mendengar perkataan kongkongnya itu. Yok-Sian pun turut memutar otaknya memecahkan masalah tersebut. Kau lihat pohon dihadapanmu itu? katanya sambil menunjuk sebatang pohon seukuran dua kali tubuh orang dewasa yang berada dihadapan A Sai. Maksud kongkong? tanyanya lagi. Pukullah pohon itu sekuatmu, lebih baik lagi kalau sampai roboh! Kongkong ingin melihat semua kekuatanmu, jadi jangan tahan-tahan tenagamu! perintah Yok-Sian. Pemuda itu tertegun. Bukannya apa, dinding karang yang keras kuat saja sanggup dibolonginya dengan mudah, maka ia pun tak takut jika harus beradu kerasnya kepalan dengan batang pohon. Cuma ia ragu, sanggupkan dirinya merobohkan pohon itu? Melihat keraguan A Sai, Yok-Sian pun memberinya semangat. Salah menafsirkan keraguan A Sai sebagai ketakutan.

Ayolah! Jangan takut! Nngg... Baiklah kongkong! jawab A Sai singkat. Walau mulutnya mengiakan namun sikapnya sama sekali tidak meyakinkan. Keraguan masih tetap membayangi gerakannya. Tarik nafasmu dalam-dalam dan tenangkan dirimu. Pilih satu titik sasaran dipohon itu dan pusatkan pikiranmu pada titik yang kau pilih. Salurkan seluruh tenaga yang kau miliki ke tangan, lalu pukul titik sasaranmu itu. Tak boleh ada keraguan!. Yok-Sian mulai membimbing pemuda itu. A Sai segera melakukan apa yang dikatakan kongkongnya. Sementara Yok-Sian terus menyemangati pemuda itu. Benar begitu...! Ya Jangan mikir ke tempat lain! Pusatkan pikiranmu! si kakek berkaok-kaok memberi petunjuk. Dipusatkannya pikirannya pada satu titik pada batang pohon didepannya dan setelah tenaga telah tersalur ke lengannya, sambil mengeraskan hati dipukulnya titik itu sekuat tenaga. BRRRRRRAAAAAAAAKKKKKKKKK! Suara benturan kepalan A Sai terdengar meledak memecahkan kesunyian hutan. Pohon itu seakan tercabut dari akarnya. Ribuan daun melayang turun memenuhi udara bercampur dengan serpihan-serpihan kayu yang beterbangan. Lalu dengan diiringi suara hiruk-pikuk, pohon itu pun roboh menindih pepohonan lain disekitarnya. Benar-benar tumbang mengguncang bumi. Mengirim naik tanah dan bebatuan ke segala penjuru. Suasana tempat itu perlahan sunyi, tak ada suara yang terdengar. A Sai tertegun Yok-Sian lebih tertegun lagi Si kakek dan cucunya sama-sama terkesima, tak ada suara yang sanggup mereka katakan. Perlahan Yok-Sian menggeleng kepalanya. Ia takjub dan tak sanggup percaya. Dihembuskan nafasnya panjang dan kuat, menghembuskan keluar berbagai perasaan yang menyesakkan rongga dadanya. Itukah tenagamu yang kau ceritakan itu? tanya Yok-Sian takjub. Si Pemuda tampak berpikir sejenak, mengingat kembali saat-saat pertarungannya dengan Thio Yan Ci. Sepertinya sedikit berbeda Ya.. memang berbeda! jawab pemuda pelan.

Benarkah? Berbeda dimana? tanya Yok-Sian seakan tak percaya. Yang baru dilihatnya saja sudah sehebat ini, lalu yang bagaimanakah tenaga yang dimaksud cucunya ini. Waktu melawan Yan Ci sepertinya sekujur badan A Sai mengeluarkan uap putih, cuma A Sai tak begitu jelas uap putih tersebut berasal dari A Sai ataukah dari serangan Yan Ci Yang A Sai ingat hanyalah tangan A Sai nyaris tak kelihatan tertutup uap tebal warna putih! jawab A Sai kurang yakin. Yok-Sian berpikir sejenak sebelum menjawab. Itulah lweekang (tenaga dalam) mu, berarti yang barusan kau keluarkan tadi adalah gwakang (tenaga luar) mu! kata Yok-Sian kagum. Sungguh suatu pertunjukan gwakang yang jarang dilihatnya. Kiranya pertunjukkan seperti ini hanya pernah dilihatnya sekali. Tiga puluh tahun yang lalu saat dirinya bertarung melawan Koay-Lo-Tong (Bocah tua aneh) datuk nomor satu dari barat. Kalau Lo-Tong yang seorang ahli gwakang dapat mengeluarkannya, ia takkan heran. Tapi A Sai? Tidak mudah melatih gwakang yang sanggup merobohkan pohon seukuran dua kali tubuh manusia hanya dengan sekali pukul. Apalagi untuk ukuran seorang remaja berusia lima belas tahun. Sai-ji benar-benar menyimpan banyak misteri. Pikirnya takjub. Dilihatnya A Sai sendiri masih berdiri termangu seakan tak menyangka kekuatan pukulannya bisa sehebat itu. Sambil menghembuskan nafas panjang, kakek itu bertanya. Sai-ji, bagaimana tanganmu? A Sai tersadar, seperti baru terbangun dari mimpi mendengar ucapan kongkongnya itu. Buruburu ia segera mengalihkan pandangannya ke tangan yang dipakainya memukul tadi. Tak apa-apa kongkong... Jawab pemuda itu pelan. Yok-Sian tak percaya. Perlahan didekatinya pemuda itu lalu diraihnya tangan A Sai, meneliti kepalan tangan pemuda itu. Tangan yang putih kemerahan itu tampak semakin kemerahan saja. Walaupun tangannya berotot kekar, namun warna kulitnya lebih mirip kulit seorang anak gadis saja. Ditekannya permukaan kepalan pemuda itu beberapa kali, mencoba mencari kerusakan dalam yang mungkin terjadi akibat benturan tadi. Tapi yang ditemukannya sedikit berbeda dari yang diharapkannya semula.

Lengan pemuda ini seperti gabungan dari tiga mahluk yang berbeda fisiknya. Otot dan struktur tulang lengannya seperti seorang lelaki, warna kulitnya putih kemerahan seperti warna kulit seorang anak gadis dan ... alot. Kulit A Sai ternyata tebal dan alot seperti kulit seekor buaya. Seperti kulit seseorang yang sejak kecilnya biasa direndam dalam larutan obat penguat kulit, otot dan tulang. Yok-Sian kembali terkesima. Percayalah pada kongkong! kata kakek itu singkat. Walau tak mengerti maksud kongkongnya, pemuda itu tetap menganggukan kepalanya. Dicabutnya pisau peraknya dari pinggang. Pisau yang selama ini dipandang hormat oleh lawanlawannya. Perlahan, digoresnya kepalan tangan A Sai. Tidak terjadi apa-apa. Ditambah tenaganya hingga tiga bagian tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Kembali dinaikkan tenaga goresannya hingga lima bagian. Kulit pemuda itu cuma tampak sedikit kemerahan tapi sama sekali tidak terluka. Ia yakin seandainya ia mengerahkan enam tujuh bagian tenaganya barulah kulit itu mampu digoresnya. Namun seberapa dalam goresan yang mampu dibuatnya ia sendiri tidak tahu. Yok-Sian cuma sanggup menggeleng kepalanya, kembali kagum sekaligus tak mengerti. Disimpan kembali pisaunya itu. Hanya dalam sehari pemuda ini telah memberinya kejutan demi kejutan. Dengan kulit seperti ini, jelaslah angin pedang Yan Ci walau sanggup merobek bajunya takkan sanggup melukai kulit pemuda ini. Mungkin hanya sebatang pedang mustika saja yang sanggup merobek kulitnya. Hal ini membuktikan segala cerita pertarungannya dengan gadis itu benar adanya. Kongkong... ada apa? tanya pemuda itu pelan, bingung melihat perbuatan Yok-Sian. Kulitmu nyaris tak mempan senjata tajam. jawab Yok-Sian sambil mengamati wajah pemuda itu dengan seksama. Benarkah kongkong? Benar. Bagaimana kulitmu samp... Ahh... sudahlah! Tak usah kau pikirkan lagi. Yok-Sian membatalkan pertanyaan yang hampir keluar dari mulutnya ketika dilihatnya A Sai tampak kebingungan. Melihat air muka si pemuda, ia tahu kelihatannya A Sai pun tak menyadari kelebihan kulitnya itu. A Sai... A Sai tidak tahu kongkong!

Tak usah dipikirkan lagi. Dengan kulit seperti ini, kau tidak perlu takut lagi senjata tajam bakal melukaimu. Hanya senjata mustika saja yang mampu menembus kekebalan kulitmu. Tapi itu pun masih tergantung pada tangan yang memegang senjata itu. Jika berada dalam tangan orang biasa, kongkong ragu pedang mustika itu pun ada gunanya. Kata Yok-Sian menjelaskan. A Sai tak berkata sepatah pun, tampak pikirannya seperti sedang mengembara ke tempat lain. Kesedihan sekilas tampak diwajahnya, seolah sedang menyesali ingatannya yang hilang. Tak usah dipikirkan lagi, kelak kau akan tahu sendiri jawabannya. Kata Yok-Sian lagi, menenangkan A Sai. Senyuman terima kasih perlahan muncul dibibir si pemuda. Ayo kita coba sekali lagi! perintah Yok-Sian, agaknya masih penasaran ingin menyaksikan lweekang pemuda itu. Baik kongkong! jawab A Sai patuh, hatinya telah kembali tenang. Sekarang coba kau pukul pohon yang itu! kata Yok-Sian lagi sambil menunjuk sebatang pohon yang besarnya dua kali lipat dari pohon yang dirobohkan A Sai sebelumnya. A Sai meragu, ukuran pohon itu membuatnya ragu. Empat kali tubuh manusia besarnya batang pohon itu. Sanggupkah dirinya merobohkan pohon itu sama seperti pohon yang sebelumnya? Ayolah Apa yang kau tunggu? Apa kau tidak ingin mengetahui keadaan tubuhmu yang sebenarnya? desak Yok-Sian menyemangati pemuda itu. Baik! A Sai mengeraskan hatinya. Tanpa menunggu lama, segera diulangnya urutan gerakannya sama seperti tadi. Sekali lagi pukulannya melesat, keras dan tajam menimbulkan deru angin yang bahkan lebih kuat dari sebelumnya. BRRRRRRAAAAAAAAKKKKKKKKK! Suara benturan kepalan A Sai terdengar kembali, meledak memecah kesunyian. Walau ribuan daun masih melayang bercampur dengan serpihan kayu namun pohon itu tidaklah mampu dirobohkannya. Saat ia ingin mencoba lagi, Yok-Sian cepat mencegahnya. Jangan memukul seperti tadi! Kenapa kongkong? tanya pemuda itu tak mengerti.

Kau kembali menggunakan gwakangmu. Ingat nak... kita ingin melihat lweekangmu atau apapun itu, bukan gwakangmu lagi... Jadi usahakanlah agar pukulanmu dapat mengeluarkan uap putih seperti dulu! kata kakek itu menjelaskan. Tapi... bagaimana caranya kongkong? tanyanya lagi. Hal itu terserah padamu. Coba ingat-ingat kembali bagaimana cara kau mengeluarkannya. Bayangkanlah kembali saat pertarunganmu dengan Yan-ci. Dalam pertarungan itu... rasanya tidak ada yang aneh kongkong! jawab A Sai sambil mengingat-ingat kembali saat pertarungannya dengan Thio Yan Ci. Cobalah ingat baik-baik hal apakah yang mungkin menyebabkan tenagamu itu keluar secara mendadak! kata Yok-Sian lagi. Rasanya biasa saja! jawab A Sai lagi. Begitukah? Bagaimana jalannya pertarunganmu dengan gadis itu? Pertama kali Yan Ci menyerang A Sai mampu menghindar tapi pada serangan yang kedua, rasanya A Sai tak mampu menghindarinya lagi. Lalu? Lalu A Sai jadi marah, sebab Yan Ci menginginkan jiwa A Sai! Terus? Terus A Sai jadi nekat hingga memukul Yan Ci! Pemuda itu mendadak terdiam. Perlahan dilanjutkan kata-katanya itu. Apakah Apakah rasa marah itulah yang membuat tenaga A Sai jadi keluar? Mungkin saja begitu, bisa juga tidak. Sebaiknya kita coba saja kemungkinan itu! Baik kongkong! jawab A Sai senang. Segera saja ia kembali bersiap melancarkan serangannya. Tapi sebelum serangannya itu keluar, ia telah kembali termangu. Hal yang tentu saja membuat kongkongnya jadi geregetan sendiri. Apalagi yang kau tunggu? tanya Yok-Sian cepat. A Sai... A Sai tidak tahu caranya? jawab pemuda itu pelan.

Tidak tahu cara untuk apa? Jangan bilang kau tidak tahu caranya untuk marah! tanya Yok-Sian lagi. Bukan itu kongkong pemuda itu terlihat sedikit salah tingkah. Lalu apa lagi? si kakek makin tak sabaran. Kalau cuma marah biasa sih rasanya tidak sulit. Cuma cuma marah seperti itu rasanya susah sekali kongkong! Marah yang bagaimana? Marah yang seolah membuat A Sai jadi tak ingin apa-apa lagi selain menghancurkan gadis itu. Marah yang saking hebatnya membuat A Sai jadi gelap mata dan tak ingat lagi keadaan sekeliling. Marah yang membuat A Sai jadi melupakan segalanya, hingga yang tersisa hanyalah keinginan untuk membinasakan Yan Ci. Mungkin mungkin lebih tepat kalau disebut murka! Begitukah? Benar kongkong. Suatu perasaan marah yang hebat dan rasanya A Sai hampir tak sanggup mengedalikan diri A Sai lagi. Wah... Kalau begitu susah juga. Apakah kau tidak punya cara untuk membangkitkan kemarahan seperti itu lagi? tanya Yok-Sian kembali. Pemuda itu terlihat susah hatinya, maklumlah kemarahan seperti itu baru sekali dialaminya seumur hidupnya dan hasilnya hampir membuat orang lain kehilangan nyawanya. Kalau boleh memilih, ia tak ingin merasakan perasaan yang seperti itu lagi. A Sai... A Sai takut kongkong! jawab A Sai akhirnya, jujur. Takut apa? A Sai takut tak dapat mengendalikan diri dan melukai kongkong! Kakek itu sedikit tertegun mendengarnya. Ia senang paling tidak A Sai masih memikirkan kepentingan orang lain, tidak semata memikirkan kepentingannya sendiri. Harapannya untuk mendidik batin pemuda ini makin terbuka lebar. Jangan khawatirkan keselamatan kongkong. Kongkong dapat menjaga diri! Tapi... Sudahlah... lakukan saja apa yang kau bisa, kongkong pasti dapat menjaga diri sendiri! Baiklah kongkong!

Akhirnya A Sai menurut juga. Kakeknya telah menjamin dan ia percaya penuh pada kakeknya itu. Segera saja dipusatkan pikirannya mencoba mencari cara membangkitkan kemarahannya. Namun walau sampai lama hal itu dilakukannya, tidak mampu juga kemarahannya dibangkitkan. Jangankan sampai ke tahap murka, tahap marah saja sulit. Ada apa lagi? tanya Yok-Sian melihat sampai sekian lama belum juga ada gerakan dari pemuda itu. A Sai tampak sedikit kemalu-maluan mendengar pertanyaan kongkongnya itu. Kongkong... A Sai sedikit kesulitan membangkitkan kemarahan A Sai! jawabnya terus terang. Masa marah saja sedemikian sulitnya? Pikirkanlah hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu. Atau... apa sajalah yang membuatmu tidak senang! kongkongnya memberi saran. Akan A Sai coba lakukan! jawabnya lagi. Kembali dipikirkannya hal-hal yang paling tidak menyenangkan yang pernah dialaminya. Setelah berpikir bolak-balik kiri kanan, ternyata saat pertarungannya dengan Yan Ci lah yang mampu membuat hatinya kesal kembali. Melihat air muka A Sai yang semakin gelap, Yok-Sian jadi meningkatkan kewaspadaannya. Ia tahu cucunya secara perlahan mulai mampu membangkitkan kemarahan dalam hatinya. Segala gerak-gerik A Sai pun tak pernah lepas dari pengamatannya. Perlahan disalurkan tenaganya ke seluruh tubuh, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. A Sai kembali menghampiri sasarannya. Wajahnya gelap diliputi emosi sementara tubuhnya terlihat bergetar menahan perasaannya. Dengan diiringi bentakan nyaring, pohon itu kembali diterjangnya. BRRRRRRAAAAAAAAKKKKKKKKK! Hal yang sama terulang lagi. Tak ada pohon yang roboh. Tak ada uap putih yang mengepul. Tak terjadi sesuatu. Kembali gwakangnya yang keluar, bukan lweekangnya. Yok-Sian menghembuskan nafas panjang. Nafas yang entah sejak kapan telah ditahannya tanpa sadar. Maaf kongkong... A Sai... A Sai tak mampu melakukannya! jawabnya lirih. Kenapa tak sanggup? tanyanya cepat.

A Sai A Sai tak ingin memukulnya! A Sai tak ingin membunuhnya! Membunuh siapa? Memangnya apa yang kau pikirkan tadi? Maaf kongkong tadi A Sai membayangkan pertarungan A Sai dengan Yan Ci... hanya kejadian itulah yang mampu membuat A Sai kesal. Tapi walaupun sudah A Sai paksakan, tetap juga A Sai tak tega memukulnya! A Sai mohon maaf kongkong! A Sai benar-benar tak sanggup melakukannya lagi Yok-Sian jadi tertegun sendiri mendengar hal tersebut. Senyumnya muncul perlahan. Walau bagaimana pun ia tahu, watak pemuda ini masihlah polos. Belum dikotori dengan urusan amarah dan dendam. Ia makin yakin kalau pada dasarnya hati A Sai baik dan penuh welas asih. Tentunya cukup menyiksanya jika ia diharuskan membayangkan seolah hendak membunuh seseorang padahal hatinya sendiri melarangnya. Perasaannya yang bersih dan polos itu ternyata masih keluar juga disaat-saat terakhir, mencegahnya menurunkan tangan maut pada musuhnya. Mau tak mau Yok-Sian jadi senang juga hatinya, walau masih tersisa sedikit kekecewaan karena tak dapat menyaksikan tenaga A Sai. Kenapa demikian? A Sai tak tega A Sai benar-benar tak sanggup Maafkan A Sai, kongkong! jawabannya terdengar makin lirih saja. Yok-Sian kembali menghembuskan nafas panjang sebelum ia menjawab. Sai-ji, tak perlu menyesali ketidakmampuanmu. Kongkong tidak terlalu perduli bisa menyaksikan tenagamu itu atau tidak. Sikapmu barusan telah menunjukkan dasar hatimu yang welas asih dan bagi kongkong itu jauh lebih penting! Kongkong bangga padamu nak! Tapi bagaimana dengan tenaga yang ingin A Sai tunjukkan itu? tanyanya lagi. Biar bagaimanapun ia ingin kongkongnya melihat tenaganya itu, siapa tahu kongkongnya mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia yakin, kongkongnya pastilah mampu menerangkan padanya hal apakah yang berada dalam tubuhnya, dari mana datangnya dan bagaimana mengendalikannya. Tak perlu kau risaukan lagi. Walaupun belum pernah melihatnya namun kongkong dapat menduganya. Tentulah uap putih itu adalah lweekangmu yang tanpa sengaja tersalur keluar pada saat kau sedang dalam keadaan tertekan oleh lingkunganmu. Disaat hatimu tenang, kau pun tak sanggup mengeluarkannya lagi. Dengan kata lain kau belum mampu mengendalikannya. Kata Yok-Sian menerangkan sekaligus menenangkan hati pemuda itu. Tak usah takut. Hal ini tidaklah berbahaya, bahkan boleh dibilang hal itu jadi melindungimu dari bahaya yang mengancammu!

Yang A Sai takutkan adalah saat tenaga itu keluar A Sai tak mampu mengendalikannya hingga membuat orang lain jadi korban! Ia tak ingin peristiwa yang terjadi diantaranya dan Thio Yan Ci terulang kembali dikemudian hari. Yang ia inginkan hanyalah berteman dengan sesamanya, bukannya melukai apalagi sampai membunuh.... Yok-Sian berpikir cukup lama mendengar perkataan A Sai. Niatnya semula adalah memperkuat dulu landasan batin A Sai, setelah kuat barulah ia akan memberikan pelajaran ilmu silat termasuk diantaranya lweekang. Tapi keadaan sekarang membuatnya tak bisa menunggu lebih lama lagi. Agaknya sekarang juga ia terpaksa harus mengajarkan A Sai cara mengendalikan lweekang yang dimilikinya itu. Harapannya paling tidak tenaga yang keluar dapat dikendalikan besar kecilnya. Baiklah! Kongkong akan mengajari suatu cara untuk mengendalikan tenaga yang ada dalam tubuhmu itu! Benarkah kongkong? tanya A Sai. Benar! Tapi kongkong ingin kau berjanji beberapa hal pada kongkong! Katakanlah kongkong, A Sai akan berusaha menjalankannya! Kongkong ingin kau berjanji! Berjanji apa kongkong? Berjanjilah kau tidak akan sembarangan menggunakan ilmumu untuk menindas orang, takkan menggunakan ilmumu untuk berbuat kejahatan dan takkan sembarangan turun tangan. Kata Yok-Sian sungguh-sungguh. Baik! Hari ini dengan disaksikan langit dan bumi A Sai berjanji tidak akan sembarangan menggunakan ilmu yang A Sai peroleh dari kongkong untuk menindas orang, takkan menggunakan ilmu yang A Sai peroleh dari kongkong untuk berbuat kejahatan dan takkan sembarangan turun tangan! pemuda itu mengucapkan janjinya dengan sungguh-sungguh. Yok-Sian puas melihat kesungguhan hati A Sai, hatinya jadi lebih lega sekarang. Sanggupkah kau melakukannya dalam keadaan apapun juga? A Sai akan berusaha sekuat tenaga A Sai! Baik. Kongkong percaya padamu. Jangan pernah lupakan janjimu hari ini! Selamanya takkan A Sai lupakan! A Sai menegaskan.

Pemuda itu tampak gembira. Jika ia menguasai tenaganya itu, ia tidak perlu takut akan salah tangan lagi. Paling tidak ia dapat mengukur sebesar apakah kekuatan yang ingin dikeluarkannya nanti, tidak membuta seperti sebelumnya lagi. Baik. Di atas lereng bukit sana ada sebuah reruntuhan kuil, ke sanalah tujuan kita sekarang. Baik kongkong! jawab pemuda itu cepat, hatinya gembira. Segera saja kedua kakek dan cucu itu berangkat menuju lereng gunung tempat kuil tua itu berada. Dilangit bulan tampak rendah pertanda sebentar lagi hari sudah terang. Dari jauh tampaklah sebuah bangunan yang mungkin dulunya merupakan sebuah kelenteng besar atau mungkin juga bekas pesanggrahan yang kondisinya sekarang telah rusak berat. Temboknya runtuh dan jebol dibeberapa bagian sementara sudah tidak tersisa lagi atap menutupi bagian atas bangunan tersebut. Rumput dan semak belukar memenuhi seluruh penjuru bekas bangunan tersebut. Luas bangunan itu paling tidak ada lima tombak lebarnya dan sepuluh tombah panjangnya. Menilik dari bekas tembok yang ada, kelihatannya dahulu bangunan ini terdiri dari dua bagian ruangan yang sama besarnya. Sudah tidak tampak lagi benda apapun yang dapat menunjukkan bahwa bangunan itu dulunya bekas bangunan apa, namun disalah satu ruangannya terdapat sebuah lonceng tembaga yang besarnya nyaris satu tombak dan tingginya satu setengah tombak. Mungkin karena adanya lonceng inilah maka Yok-Sian berpendapat bahwa dahulu tempat ini merupakan sebuah kuil atau kelenteng. Cuma sudah tidak jelas lagi dewa apa yang pernah dipuja ditempat ini. Perlahan A Sai melangkah mendekati Lonceng tembaga itu. Hatinya tertarik melihat satusatunya benda yang ada ditempat itu. Berat benda itu paling tidak mencapai tujuh delapan ratus kati dan dipenuhi berbagai ukiran. Sayangnya ukiran-ukiran tersebut telah hampir lenyap tertutup kotoran. Dirabanya perlahan lonceng itu, benar-benar tebal benda itu Kongkong tempat apa ini? Entahlah... Kongkong sendiri tidak tahu. Mungkin sebuah kuil, mungkin sebuah pesanggrahan atau mungkin juga bukan apa-apa. Yang pasti kedatangan kita kesini bukan untuk mencari tahu asal-usul tempat ini! A Sai jadi nyengir sendiri. Kita kesini untuk berlatih lweekang. Tak usah kau pusingkan hal lainnya, pusatkan pikiranmu pada pelajaran yang akan kongkong berikan! kata Yok-Sian tegas. Kongkong...Bolehkan A Sai mengajukan satu pertanyaan terlebih dulu? tanya A Sai tiba-tiba. Katakanlah!

Kenapa untuk berlatih lweekang saja kita harus ke tempat ini? Kenapa tidak berlatih dirumah saja? Sederhana saja... kongkong tak ingin orang lain turut mendengarkan ilmu yang akan kongkong turunkan padamu! jawab Yok-Sian tegas. Masih ada pertanyaan lain lagi? tanyanya lagi. Tidak kongkong. Tidak ada lagi! jawab A Sai. Baik! Mari kita mul Bocah setan! Kau disini rupanya! bentak sebuah suara memotong perkataan Yok-Sian yang belum selesai diucapkan itu. Tampak sesosok bayangan berkelebat dan langsung menyerang ke arah A Sai. Sementara senjatanya menderu menyambar bahu kanan A Sai. Jika kena walau tidak sampai mati, paling tidak akan membuat tulang bahu pemuda itu remuk. A Sai tersentak kaget. Lebih kaget lagi saat mengenali orang yang menyerang adalah Tok-SengSianli (Bidadari racun bintang) Tung Goat Lun, datuk selatan yang berangasan itu. Sebat A Sai melemparkan tubuhnya ke belakang lonceng yang berada didekatnya, mencoba mencari perlindungan dari lonceng tembaga itu. Sementara Yok-Sian secepatnya menangkis serangan Tok-Seng-Sianli itu. TRRRAAAANNNNNGGGGG! Pisau perak bertemu tongkat emas. Bunga api memercik ke segala penjuru. Suara benturan nyaring menusuk telinga. Serangan itu berhasil digagalkan. Goat Lun, sabarkan hatimu! Kok Lam jangan kau lindungi bocah busuk ini, Kim Hoa dan Im Giok cucumu telah menceritakan semuanya. Aku tahu bocah iblis inilah yang melukai muridku! teriak si nenek murka, amarahnya tak mungkin dibendung lagi. Sabar dul Bayar kembali kedua lengan Yan Ci muridku Bentaknya ganas, memotong lagi ucapan YokSian. Belum selesai ucapannya, si nenek telah kembali melancarkan dua buah serangan ganas ke tubuh pemuda itu, kedua bahu A Sai lah sasarannya. Saking besarnya kemarahan yang berkobar

dihatinya telah membuat Tok-Seng-Sianli jadi melupakan kebiasaannya untuk tidak menyerang orang yang tak mau membalas. Hanya saja serangannya tetaplah tiada maksud untuk mengambil nyawa A Sai. Sebab setiap serangannya itu selalu ditujukkannya pada kedua bahu A Sai, tidak pernah ke bagian tubuh lainnya. Pula tenaga serangannya selalu dibatasi. Jurus serangannya itu kalau sampai kena paling parah hanya akan membuat cacat saja. Pemuda itu jadi menyesali keteledorannya sendiri. Seharusnya kedatangan nenek itu diketahuinya semenjak tadi. Tapi karena hatinya terlalu gembira, ia akhirnya melupakan keadaan disekelilingnya. Kehadiran Tok-Seng-Sianli sendiri sebenarnya sudah diketahui Yok-Sian namun karena ia belum pasti dengan tujuan nenek itu makanya ia jadi membiarkan saja. Sekarang barulah A Sai mengerti kenapa Im Giok dan Kim Hoa seakan ngeri berurusan dengan nenek ini, si nenek ternyata benar-benar mengerikan. A Sai bingung, tak tahu harus berkata apa. Mau menjelaskan pun sudah tak ada kesempatan. Ia hanya sanggup melompat dan bergulingan memutari lonceng tembaga itu. Otaknya yang cerdik dapat memanfaatkan benda itu sebagai tameng pelindung menahan gempuran Tok-Seng-Sianli yang ganas dan bertubi-tubi datangnya. Untunglah disaat tongkat si nenek sudah tak mampu dihindarinya, pisau kongkongnya selalu menangkis gempuran tongkat tersebut. Seandainya tidak ada Yok-Sian, niscaya sedari tadi tongkat itu telah meremukkan bahunya. Yok-Sian tidak membalas serangan si nenek, ia hanya menangkis serangan yang dilancarkan nenek itu sambil mulutnya tak henti-hentinya berkaok menyabarkan Tok-Seng-Sianli. Si nenek tak peduli, serangannya tetap saja berhamburan menyerang A Sai. Peluh telah mengalir deras disekujur tubuh A Sai. Ia tahu si nenek tidak menginginkan jiwanya namun ia pun tak rela kedua bahunya diremukkan. Ketegangan semakin mencekamnya. Kegelisahan pun turut menyiksanya bercampur dengan rasa penasaran akan sikap Tok-Seng-Sianli. Bocah laknat, Kau tidak mau menyerahkan lenganmu? Baik! Jangan salahkan aku jika salah tangan membunuhmu! teriak nenek itu makin murka. Mendadak tubuhnya mencelat mundur sejauh lima tombak ke belakang. Kuda-kudanya dipasang setengah berjongkok dengan posisi kedua kaki sejajar. Tangan kirinya terkepal di pinggang sementara tangan kanan memegang ujung tongkat. Tongkat ditariknya perlahan ke belakang menyusur lantai dengan posisi kepala naga menyentuh tanah. Uap keunguan mulai membanjir keluar dari tubuh si nenek diikuti bau sangit memuakkan, pertanda ilmu yang digunakannya itu beracun. Celaka Tok-Seng-Tung-Hoat (Ilmu Tongkat Racun Bintang)! ujar Yok-Sian ketika mengenali gerakan nenek itu sebagai jurus pembuka ilmu andalan Tok-Seng-Sianli.

Yok-Sian pun tak menunggu lama lagi. Segera dikeluarkannya ilmu andalannya sendiri. Tubuh Yok-Sian pelahan berubah warnanya menjadi putih keperakan menyilaukan mata sementara aroma seperti aroma obat-obatan, teruar dari tubuhnya. Bu-Lim-Su-Koay (empat aneh dunia persilatan) merupakan empat orang tokoh yang dianggap sebagai tokoh golongan lurus karena tidak pernah melakukan kejahatan, namun mereka pun tidak pernah mengikuti tata cara dan peradatan yang umum berlaku di bulim. Mereka tidak mengenal segala macam aturan yang mengikat tokoh golongan lurus lainnya. Semua tindakan mereka dilakukan semata-mata menuruti dorongan sifat mereka yang aneh itu. Mungkin itulah sebabnya mereka dijuluki Su-Koay (empat Aneh) sebab sepak terjang mereka memang aneh dan tidak menuruti aturan umumnya. Walau demikian mereka pun tidak digolongkan sebagai tokoh golongan sesat lantaran selama malang melintang puluhan tahun lamanya, belum pernah mereka melakukan suatu tindak kejahatan. Aneh sifatnya tapi tidak sesat perbuatannya itulah Bu-Lim-Su-Koay (empat aneh dunia persilatan). Tok-Seng-Sianli (Bidadari racun bintang) dan Yok-Sian-San-Jin (Manusia gunung dewa obat) termasuk dua dari empat orang aneh itu. Kok Lam, jangan ikut campur urusanku! Aku memandang mukamu karena Yan Ci muridku. Tapi kalau kau berkeras ikut campur, kau tanggung sendiri akibatnya! lengking si nenek marah. Lo-hu tak punya pilihan lain! jawab Yok-Sian tenang, tekadnya sudah bulat. Baik! Jadilah demikian! Diiringi bentakan nyaring tubuh si nenek melesat membuka serangan. Tongkatnya berkelebat dengan kecepatan yang sukar diikuti mata sementara kekuatannya menderu menggiriskan hati. Pisau ditangan Yok-Sian pun tak mau kalah pamor, dalam waktu yang bersamaan pisau perak diikuti pemiliknya menerjang menyongsong serangan tongkat emas si nenek. Hanya tampak bayangan samar berwarna keperakan berkelebat menyambut bayangan keunguan. Pertarungan antara dua tokoh sakti ini sudah tak mungkin dihindarkan lagi. Duel racun versus obat telah dimulai. TRRAAANNNNGGGGG! Suara benturan pisau perak dan tongkat emas makin nyaring menyakitkan telinga seiring dengan makin meningkatnya tenaga kedua tokoh tua ini. Datuk selatan bertemu datuk timur. Yang satu kasar berangasan, yang lainnya lemah lembut dan sabar. Bagai air bertemu api demikianlah yang terjadi jika racun bertemu dengan obat.

Ilmu kedua orang tokoh tua ini berasal dari sumber yang sama, dari sebuah kitab peninggalan seorang sakti ratusan tahun silam. Sesuai dengan julukan mereka demikianlah sifat dari ilmu mereka itu. Yang satu mengandung racun mematikan sedangkan yang lain menggandung obat pelumpuh semangat. Tok-Seng-Sianli mendapatkan Tok-Seng-Sinkang (Tenaga sakti racun bintang) dan Tok-SengCiang-Hoat (Ilmu tapak racun bintang) sedangkan Tok-Seng-Tung-Hoat (Ilmu tongkat racun bintang) yang dipakainya saat ini merupakan jurus ciptaannya sendiri, berdasarkan perubahan dari Tok-Seng-Ciang-Hoat yang disesuaikan dengan senjata tongkat. Tok-Seng-Tung-Hoat sendiri terdiri dari 12 jurus serangan ganas dan penuh tipu muslihat yang sukar ditebak arah sasarannya oleh lawan, dimana setiap jurus itu sendiri mempunyai 80 kembangan yang disesuaikan dengan keadaan pada saat bertarung. Sudah begitu masih ditambah lagi dengan gelombang hawa beracun yang selalu membayangi setiap serangannya itu, bagai tangan-tangan maut yang terulur dari dasar neraka. Namun si kakek pun tak kalah ilmunya. Yok-Sian mewarisi Sin-Liong-Kiam-Hoat (Ilmu pedang Naga Sakti) dan Yok-Hiang-Sinkang (tenaga sakti obat harum). Sin-Liong-Kiam-Hoat sendiri terdiri dari 32 jurus pertahanan dan 3 jurus serangan. 32 jurus pertahanan ini khusus untuk membendung gempuran 18 macam senjata yang umum dipakai dan hanya 3 jurus untuk menyerang. 3 jurus serangan itu sendiri jika hanya dilancarkan sejurus saja tidaklah terlalu ampuh tapi apabila dikeluarkan secara berantai, akan susah dibendung kedahsyatannya. Sebab jurus yang satu menutupi kelemahan sekaligus memperkokoh kekuatan jurus serangan berikutnya. Walau bagian serangan Sin-Liong-Kiam-Hoat hanya terdiri dari 3 jurus saja, namun jika 3 jurus tersebut berhasil dilancarkan berturut-turut, hampir dapat dipastikan nyawa lawan sudah bukan lagi miliknya. Kalau Tok-Seng-Tuang-Hoat mengutamakan penyerangan yang ganas dengan tipu-tipu muslihat lihay maka Sin-Liong-Kiam-Hoat mengandalkan pertahanan yang kokoh kuat laksana tembok baja. Kok Lam, jangan menghalangiku! bentak si nenek marah sementara tongkat ditangannya berputaran tanpa henti mengirimkan gelombang serangan yang menderu susul menyusul. Kabut keunguan mengikuti setiap gerakan tongkat ditangannya. Tanpa disadari oleh Tok-Seng-Sianli, pertarungan mereka makin menjauh dari tempat A Sai berdiri. Suatu hal yang memang disengaja Yok-Sian. Jurus demi jurus, tipu demi tipu, pancingan demi pancingan mereka kuras habis namun tetap tak ada petunjuk siapa diantara mereka yang bakal keluar sebagai pemenang. Jika dilihat sepintas kelihatannya Yok-Sian berada di pihak yang terdesak namun sebenarnya semua serangan si nenek tak ada satu pun yang mampu menembus benteng pertahanan Yok-Sian.

Pisau itu tak pernah lengah. Sinar putih menyilaukan bercuatan lurus, menangkis setiap sambaran tongkat yang datang sementara pemiliknya berdiri tegak, kokoh kuat bagaikan batu karang diterpa gelombang samudra. Aspek kecepatan, ketepatan dan waktu serangan ditambah dengan gerakannya yang lurus dan sederhana, itulah prinsip utama dari Sin-Liong-Kiam-Hoat. Tidak seperti jurus pertahanan lainnya, Sin-Liong-Kiam-Hoat mendahului gerakan serangan lawan untuk mematahkannya sebelum tenaga yang disalurkan lawan mencapai daya serang maksimalnya. CRING! CRING! TRANGGG! Tiga kali pisau perak ditangan Yok-Sian menangkis serangan kilat Tok-Seng-Sianli. Pada benturan yang terakhir, sengaja dikerahkan seluruh tenaganya mementalkan tongkat si nenek yang terlalu ganas menyambar. Ia butuh waktu sejenak untuk bernafas. HIAATTT! Dengan memanfaatkan tenaga benturan senjata, nenek itu segera melejit ke atas berpoksai (bersalto) dua kali diudara lalu sebat menukik kembali menyerang. Belum sempat Yok-Sian menarik nafas, tongkat emas tersebut telah datang kembali. Bergelombang mengirimkan jurus Kau-Cak-Lui-Thian (Kilat dan Geledek Menggelegar). Salah satu diantara 3 jurus tertinggi dalam rangkaian Tok-Seng-Tung-Hoat andalan nenek ini. Dalam sepersekian detik saja 32 hiat-to (jalan darah) ditubuh Yok-Sian kembali terancam oleh kekuatan dan kecepatan serangan yang mengagumkan. Pun arah datangnya tidaklah pasti. Seolah ke kiri namun bisa juga ke kanan, seolah ke kanan namun belum tentu pula ke kanan. Sungguh penuh dengan tipu muslihat dan pancingan yang menyesatkan lawan. Jurus ini kelihatannya menyerang 32 hiat-to ditubuh lawan namun sebenarnya hanya 4 hiat-to yang benar-benar diserang, sisanya hanyalah sekedar aksi pameran untuk membingungkan lawan saja. Namun bukan berarti tidak berbahaya, aksi pameran ini pun masih dapat diteruskan untuk mencabut nyawa lawan. Kecepatannya yang nyaris tak dapat diikuti mata dan masih ditambah lagi dengan kabut keunguan tebal yang seakan menutupi gerakan tongkat membuat jurus ini sangat mematikan. Jarang ada orang yang sanggup menyelamatkan nyawanya dari terjangan Kau-Cak-Lui-Thian (Kilat dan Geledek Menggelegar). Sesuai dengan namanya, jurus ini pun tampak seperti pancaran kilat keemasan yang menggelegar, menyambar-nyambar dari balik awan keunguan. Dahsyat dan mematikan. Yok-Sian terkejut bukan main. Dalam pertempuran terakhir mereka puluhan tahun yang lalu, jurus ini belumlah ada. Kelihatannya si nenek telah menciptakan jurus baru yang kedahsyatannya bukan kepalang.

Sekaligus 4 bentuk serangan mengancam dirinya. Suara menggelegar mengandung khikang tinggi yang langsung menerjang pendengaran dan jantung, hawa beracun yang menyerang pernafasan dan kulit, hawa lweekang setajam pedang yang merobek daging dan memutuskan tulang serta tongkat yang sanggup menghancurkan batu karang. Setiap bentuk serangan itu saja sudah membawa maut, masih disamarkan lagi dalam kabut tipu muslihat dan pancingan lihay. Seperti 4 jenis masakan berbeda disajikan seorang ahli masak nomor wahid dalam sebuah piring nan cantik. Yok-Sian mendesah. Jurus serangan kali ini tak dapat disamakan dengan jurus-jurus serangan nenek itu sebelumnya. Terlalu mematikan. Apa boleh buat. Batin Yok-Sian. Terpaksa dikeluarkan jurus tertinggi pada bagian bertahan Sin-Liong-Kiam-Hoat miliknya. Jurus yang selama ini belum pernah dikeluarkannya, sebab jurus ini harus segera dilanjutkan dengan 3 jurus berantai pada bagian menyerang Sin-Liong-Kiam-Hoat. Jurus bertahan tertinggi itu belum pernah digunakan namun 3 jurus serangan berantai itu telah sekali dua kali digunakannya dalam pertarungan. Dan selama ini, 3 jurus berantai miliknya tak pernah gagal melaksanakan tugasnya memunahkan nyawa lawan-lawannya. 3 jurus maut yang juga mengangkat namanya sebagai datuk nomor satu di wilayah timur. Yok-Sian mengempos seluruh semangat dan tenaganya lalu meledakkannya keluar seketika. Bentakan dahsyat merobek udara disekitar tempat itu. WHHOOOAAAAHHHHHH! Gelombang sinar putih keperakan terpancar keluar berbarengan dengan suara bentakan yang terdengar dari mulut Yok-Sian, memunahkan hawa beracun sekaligus menindih suara gelegar serangan Tok-Seng-Sian-Li. Disusul kelebatan sinar pisau yang bercuitan secara bersamaan, menyongsong 32 bayangan tongkat yang menyambar tubuhnya. Sepersekian detik kemudian, terjadi 32 kali benturan dahsyat antara pisau dan tongkat. Suara 32 kali benturan yang terdengar bersamaan sungguh tak enak terdengar ditelinga, benar-benar menulikan dan melemahkan semangat saking kuat getarannya. Celaka! Keng-Thian-Sin-Liong (Naga sakti mengejutkan langit)! batin Tok-Seng-Sian-Li kaget bukan kepalang, jurus pamungkas si dewa obat telah dikeluarkan. Matanya terpaksa dipejamkan, tak tahan memandang cahaya putih menyilaukan yang memancar dari tubuh Yok-Sian itu. Konsentrasinya buyar. Akibatnya tipu serangannya tak mampu lagi dilanjutkan, berbalik 32 serangan tongkatnya tertangkis telak oleh pisau di tangan kakek itu. Yang lebih membuatnya kaget lagi, tongkatnya tak mampu ditariknya kembali. Menempel dengan ketat pada senjata Yok-Sian.

Menangkis keras lawan keras disusul kelembutan. Itulah inti jurus pertahanan terakhir Yok-Sian. Rupanya setelah menangkis keras lawan keras, Yok-Sian lalu mengerahkan tenaga membetot untuk menyedot tongkatnya itu. Tangan si nenek yang masih bergetar kesemutan oleh benturan tadi, sekarang harus kembali digunakan untuk mempertahankan tongkatnya. Lebih celaka lagi disaat ia mengerahkan tenaganya membetot, tenaga betotan si kakek malah berubah jadi mendorong. Rupanya tenaga tarikan nenek itu segera dimanfaatkan Yok-Sian untuk menyerang balik. Pisau ditangan Yok-Sian seakan ikut terbang terbawa tenaga betotan si nenek. Bukan serangan biasa melainkan serangan lurus menyerang Tok-Seng-Sian-Li lalu ditengah jalan bergetar menyilaukan, menjadi puluhan cahaya keperakan yang mencuat, menyerang setiap hiat-to mematikan dibagian depan tubuh Tok-Seng-Sian-Li. Jurus pertama dari 3 jurus berantai bagian menyerang Sin-Liong-Kiam-Hoat telah dimainkan. Tidak ada jalan menghindar. Hanya dengan menangkis barulah jurus ini dapat diredam kedahsyatannya. Celaka! tanpa sadar Tok-Seng-Sian-Li berteriak kaget. Baru hawa serangannya saja sudah membuat darahnya seolah membeku dan berhenti mengalir, belum lagi mata pisau perak yang menyusul kemudian. Sungguh berbahaya. Namun Tok-Seng-Sian-Li belumlah kalah. Dengan tergesa serentak ditaburkannya segenap jarum beracun yang dimilikinya, sementara tangannya yang lain memutar tongkat membentuk sinar emas melindungi dirinya. Hanya dalam sepersekian detik saja jurusnya hancur berantakan malah berbalik dirinya yang berada dalam posisi terancam. Jurus Keng-Thian-Sin-Liong (Naga sakti mengejutkan langit) yang dirangkai dengan 3 jurus serangan berantai tersebut, sekali keluar benar-benar mengejutkan. Berulang kali suara benturan antara tongkat dan pisau terdengar memekakkan telinga. Bahkan ratusan jarum halus itu pun rontok terbentur gelombang serangan Yok-Sian. Yok-Sian mengempos semangatnya lalu kembali menyerang sekuat tenaga. Angin serangannya makin menggelora. Kali ini serangan tunggal tanpa tipu daya, lurus menghantam sasaran tanpa kembangan apapun. Sederhana namun tak mungkin dihindari lagi oleh nenek itu, sebab kecepatan dan kekuatan yang terkandung didalamnya tak memungkinkan jurus ini untuk dihindari. Kalau tak ingin mati, ia harus kembali menangkis sambaran pisau YokSia. Keras lawan keras. TRAANNNNGGGGGG! Si nenek kalah lihay dalam hal sinkang (tenaga sakti). Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang sedangkan kakek itu hanya mundur sejauh dua langkah saja. Tangannya yang

memegang tongkat sedikit gemetar menahan rasa nyeri yang menusuk. Disembunyikan tangannya itu ke balik tubuhnya. Tok-Seng-Sianli mengeluh dalam hati. Ia tahu Yok-Sian telah mengalah padanya. Jurus serangan pertama tadi kalau dilanjutkan dengan jurus ke dua dan ke tiga pastilah akan merenggut nyawanya. Namun ternyata si kakek tidak melanjutkan serangannya itu malah memilih mengeluarkan jurus tunggal sederhana yang mampu ditangkisnya. Selain jurusnya kalah lihay, ia pun kalah tenaga. Sinkangnya sendiri walau telah maju pesat selama puluhan tahun ini kelihatannya tetap tak mampu menandingi sinkang yang dimiliki Yok-Sian. Kelihatannya keadaannya sekarang sama sekali tidak bagus. Hatinya jadi sedikit terguncang. Hehehe... kau kaget bukan? kekeh Tok-Seng-Sianli, berusaha menutupi perasaan hatinya yang terguncang. Keduanya sama mengatur nafas dan memulihkan tenaga yang barusan diemposkan keluar secara besar-besaran. Jurus pemungkas mereka sama-sama menuntut pengerahan tenaga yang kelewat besar. Yok-Sian menghembuskan nafasnya. Tak pernah lohu sangka kau sanggup menciptakan jurus sedahsyat dan seganas itu! Hehehe... jadi kau mengaku kalah? tanya nenek itu lagi sambil terkekeh-kekeh, paling tidak hatinya bangga juga mendengar pujian sang kakek. Tempat seluas 10 tombak disekitar mereka telah porak-poranda. Pohon dan semak yang tumbuh jarang disitu, patah dan putus tak beraturan sementara rumput dan tanah hangus terbakar. Tempat itu jadi terlihat seperti habis diobrak-abrik segerombolan gajah liar, tiada satu jengkal pun yang utuh. Takkan ada yang percaya kedua makhluk ringkih dan uzur ini sanggup memporakporandakan tempat itu sampai sedemikian rusaknya. Yok-Sian tersenyum lembut. Bukankah dari dulu lohu telah mengaku kalah padamu? katanya bijak. Wajah Tok-Seng-Sianli berubah masam, sadar pertanyaannya barusan sama saja dengan menyindir dirinya sendiri. Dalam hal sinkang, kau orang tua boleh menang. Namun dalam kelihayan jurus... belumlah tentu! Jadi kau masih penasaran? tanya Yok-Sian pelan.

Masih ada sejurus dua jurus yang belum kumainkan. Kalau kau sanggup menghadapinya barulah ku mengaku kalah padamu! jawab Tok-Seng-Sianli tegas. Yok-Sian kembali menarik nafasnya. Walau masih ada penyesalan melihat sikap nenek itu yang tetap ingin bertarung dengannya namun disatu sisi ia pun senang. Paling tidak nenek itu mau mengaku kalah kekuatan sinkang (tenaga sakti) dengannya, suatu tanda kalau Tok-Seng-Sianli sudah tidak sekeras dulu lagi sikapnya. Agaknya pertolongannya pada murid kesayangan nenek ini telah sedikit melunakkan kekerasan hatinya. Kau tahu sinkang kita sama kuat! kata Yok-Sian jujur. Huhhh! si nenek hanya mendengus saja, ia tahu perkataan kakek itu ada benarnya juga. Sinkang mereka sama kuat. Namun sifat dari sinkang yang mereka milikilah yang menentukan kemenangan si kakek. Jika Tok-Seng-Sinkang (tenaga sakti racun bintang) hanya memancarkan hawa beracun yang saking kuatnya mampu membuat tanah, rumput dan tanaman yang terinjak kakinya menjadi seperti gosong terbakar. Bahkan mampu membunuh mahluk hidup yang terlanggar angin pukulannya hanya dalam 20 tarikan nafas saja, maka Yok-Hiang-Sinkang (tenaga sakti obat harum) mempunyai kelebihannya sendiri. Ilmu ini mengeluarkan keharuman yang khas obatobatan. Keharuman yang melumpuhkan semangat bertarung lawan sekaligus menjadi semacam obat kuat yang mampu meningkatkan sinkang ditubuh kakek itu. Itulah sebabnya jika belum mengeluarkan ilmu andalan masing-masing tenaga keduanya seimbang. Tetapi begitu ilmu ini dikeluarkannya maka tenaga Yok-Sian seolah bertambah setingkat lebih tinggi darinya. Hal ini juga yang membuat Tok-Seng-Sianli sejak dulu tak pernah mau mengakui kemenangan Yok-Sian. Ia merasa baik lweekang, ginkang dan perubahan jurus silatnya sama kuatnya dengan Yok-Sian. Ia hanya kalah saat kakek itu mengeluarkan Yok-Hiang-Sinkang. Ia tahu, tenaga si kakek naik setingkat lebih tinggi darinya sebab bau obatnya itulah yang memperkuat tenaganya. Sedangkan hawa racun bintangnya tidak berpengaruh pada Yok-Sian sama seperti hawa obat harum kakek itu tak berpengaruh pada dirinya. Yang lebih membuatnya jengkel lagi, si kakek selalu mengalah padanya. Ia tahu dengan kelebihan lweekang setingkat itu, Yok-Sian sanggup mengalahkannya jika kakek itu mau. Hal inilah yang membuatnya tak puas sejak dulu. Ilmu kedua tokoh tua ini ternyata cuma beda-beda tipis saja. Peluh telah mengalir membasahi jidat Tok-Seng-Sianli sebaliknya Yok-Sian masih nampak segar.

Bukan karena nafas si nenek berada dibawah kakek itu, tapi karena si nenek lebih banyak bergerak menyerang sedangkan Yok-Sian hanya berdiri tenang bertahan. Tok-Seng-Sianli mengangkat tongkatnya lurus dengan ujung menunjuk langsung ke dada YokSian. Jurusnya yang berikut telah siap untuk dilepaskan. Coba kau tahan jurusku ini! bentak nenek itu memperingatkan sebelum melancarkan serangannya. Tubuhnya kembali berkelebat samar menerjang Yok-Sian. Kali ini serangan tongkat nya sama sekali tak menimbulkan suara. Tongkat emasnya bagaikan seekor ular yang mematuk secara diam-diam. Tampak kosong tak membawa angin serangan apa pun, namun kecepatannya nyaris tak dapat diikuti mata dan mengurung tubuh Yok-Sian dari empat penjuru. Yok-Sian kembali terperanjat kaget. Gerakan tongkat di tangan nenek ini bukan lagi digerakkan menurut ilmu tongkat tapi sepertinya digerakkan dalam ilmu pedang. Kepala tongkat dipegang sedangkan ujung tongkatlah yang dipakai menyerang dan menusuk dirinya, seperti gerakan seseorang yang menyerang menggunakan pedang panjang. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi kelihayan serangan tongkat ditangan nenek itu, malah makin menambah kedahsyatan jurus serangan si nenek. Kembali pisau ditangannya mencuat kian kemari membendung serangan tongkat tersebut. Harus diakuinya, serangan Tok-Seng-Sianli kali ini bahkan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Walau tidak ada lagi khikang dahsyat yang menyertai, namun dibalik kesunyian serangannya tersembunyi bahaya maut yang jauh lebih besar lagi. Jika lawan memandang rendah serangan tersebut, sudah pasti dirinya bakal takluk di ujung tongkat si nenek. Sebab sepersekian detik sebelum tongkat mengenai sasaran barulah tenaga yang tersembunyi dibalik kesunyian itu meledak keluar. Kembali terdengar benturan dahsyat berulang kali. Serangan Tok-Seng-Sianli ternyata berhasil juga mendesak Yok-Sian. Kakek itu dipaksa melompat mundur berkali-kali dalam usahanya membebaskan diri dari kurungan sinar tongkat si nenek. Tak sedikit pun kelonggaran diberikan nenek itu pada Yok-Sian. Jangankan untuk menguatkan posisi, menarik nafas saja Yok-Sian sudah tak sempat. Serangan nenek itu terlalu gencar datangnya dan dirinya tak boleh lengah sama sekali. Tok-Seng-Sianli makin ganas merangsek. Pertarungan kedua tokoh kosen ini telah kembali bergeser makin mendekati tempat A Sai berdiri, suatu hal yang memang disengaja oleh nenek itu. Yok-Sian makin mundur saja hingga satu saat punggungnya telah menempel bekas dinding reruntuhan bangunan terdekat. TRANGGG! TRINGGG! TRANGGG!

Terdengar tiga kali bunyi benturan keras saat Yok-Sian berhasil menyelewengkan arah serangan tongkat itu. Tembok yang berada dibelakangnya langsung bolong tertembus ujung tongkat ditangan si nenek. Lalu disusul dengan suara bergemuruh, tembok tersebut pecah berantakan. HAITTT! Sebat Yok-Sian mendahului melompat jauh ke atas sambil tangannya berputar cepat, menciptakan selapisan cahaya keperakan yang melindungi dirinya dari serangan tongkat dan pecahan tembok yang menyambarnya. Si nenek tidak melanjutkan serangannya. Tubuhnya melompat tinggi, malah melambung jauh lebih tinggi dari Yok-Sian, berputar lalu melayang turun dengan kepala dibawah mengirimkan tongkatnya dalam gelombang serangan yang mematikan. Keng-Te-Ban-Kim-Tung (seribu tongkat emas mengejutkan bumi), inilah jurus tertinggi dalam ilmu tongkat Tok-Seng-Sianli. Tak terhitung banyaknya bayangan keemasan, memenuhi udara diatas kepala Yok-Sian. Yok-Sian terperangah sejenak, namun serangan kali ini tidaklah terlalu mengejutkannya lagi. Ia tahu nenek itu hendak mengeluarkan jurus andalannya oleh karena itu sedari tadi ia pun telah merapal 3 jurus berantai andalannya. Kali ini ia takkan bertahan lagi. Dengan memanfaatkan serpihan dinding yang masih beterbangan diudara, Yok-Sian kembali melompat makin tinggi menyambut tubuh Tok-Seng-Sianli yang menukik. Gelombang sinar putih keperakan kembali terpancar keluar berbarengan dengan suara bentakan yang menggelegar dari mulut Yok-Sian. Tongkat emas kembali bertabrakan telak, entah berapa kali banyaknya senjata mereka bertemu. Hanya tampak bayangan keemasan bercampur ketat dengan bayangan keperakan. Tubuh kedua tokoh ini sendiri tampak samar diantara ribuan sinar yang berkelebat. TRRAAANNNNGGGGG!!! Pada bentrokan yang terakhir, keduanya sama mengerahkan seluruh tenaga. Benturan dahsyat mengiringi pertemuan kedua senjata ditangan mereka dan menyebarkan percikan ribuan bunga api ke segala penjuru. Si nenek tersenyum dalam hati, pancingannya berhasil. Tongkat emas kepala naga terlepas dari tangannya dan langsung melesat lurus ke arah A Sai yang berada 4 tombak dibelakang Yok-Sian. Bukan terlepas tanpa sengaja melainkan sengaja dilepas sendiri oleh pemiliknya. Sejak awal jurusnya ini hanya untuk memaksa Yok-Sian menaruh perhatian sepenuhnya pada serangannya hingga lupa untuk melindungi pemuda itu. Itulah sebabnya ia pura-pura kalah tenaga saat tongkatnya membentur pisau Yok-Sian. Padahal dalam kenyataannya, tenaga tangkisan kakek itu malah digunakannya untuk meluncurkan tongkatnya menyerang A Sai.

Meminjam tenaga Yok-Sian ditambah tenaganya sendiri untuk menyerang A Sai, itulah taktik sederhana yang digunakan Tok-Seng-Sianli. Apalagi taktiknya ini masih disamarkan lagi dengan ribuan bunga api yang menyebar menutupi pandangan. Sepersekian detik berikutnya kedua kaki tangannya sudah menderu, susul menyusul menyerang dua belas hiat-to penting ditubuh YokSian dalam usahanya memaksa kakek itu untuk tak berpaling darinya. Sungguh suatu siasat serangan yang diperhitungkan dengan matang. Kali ini Yok-Sian benar-benar terkejut setengah mati. Tak disangkanya Tok-Seng-Sianli akan menggunakan akal selihay ini. Kali ini jurus ketiga dari rangkaian 3 jurus berantai miliknya terpaksa digunakan. Jurus yang selama ini belum pernah gagal mengenai sasarannya. Pisau perak ditangan Yok-Sian seketika menyala menyilaukan, tanda jurus ketiganya telah dijalankan. YAAAAHHHHHH! Seberkas sinar menyilaukan melesat dari tangannya, terbang laksana meteor turun dari langit. Hanya dengan mengandalkan pendengarannya, pisau itu disambitkannya ke belakang sekuat tenaga mengejar tongkat emas Tok-Seng-Sianli. Tak ada lagi waktu untuk berpaling, gelombang serangan susulan si nenek telah tiba. Sebelum kaki mereka menyentuh tanah, paling tidak sudah ada puluhan kali kepalan tangan dan kaki mereka beradu diudara. Sebentar saja keduanya telah terlibat dalam pertempuran tangan kosong yang mendebarkan hati. A Sai yang terkejut setengah mati, tak menyangka datangnya tongkat secara demikian rupa. Walau dirinya sedang dalam keadaan siaga satu namun datangnya tongkat itu masih terlalu cepat baginya. Matanya yang tajam masih mampu mengikuti arah serangan tongkat tapi tubuhnya sendiri tak mungkin sanggup bergerak secepat tongkat itu. Agaknya kali ini ia terpaksa pasrah pada nasib. TRRAAANNNNNGGGGGG! Disaat genting begitu, pisau Yok-Sian dengan tepat menancap dibagian belakang tongkat dan melencengkan tongkat dari tujuannya semula. Senjata Tok-Seng-Sianli dengan dahsyat menghantam lonceng tembaga didekatnya, langsung tembus ke dalam tubuh lonceng tersebut. Tiga jari ketebalan lonceng pun tak mampu menahan kekuatan yang dibawa tongkat si nenek. DHHHUUUNNNNNGGGGGGGG! Terdengar sebentuk suara yang menggetarkan sukma. Suara benturan antara tongkat emas dan lonceng tembaga meledak, mengirim gelombang suara maha dahsyat menghantam sekelilingnya. Suara tersebut bergaung tinggi, menindih segala

macam suara yang ada disitu. Bergema panjang menggetarkan seluruh panca indera pendengarnya. Hal ini terjadi karena tenaga Tok-Seng-Sianli yang terkandung dalam tongkat makin bertambah dengan tenaga Yok-Sian saat pisau menancap ditongkat. Tongkat itu seakan disambitkan bersama-sama oleh keduanya. Akibatnya lonceng itu pun seolah dipukul secara bersamaan oleh kedua tokoh tua itu. Tenaga sakti yang terkandung dalam tongkat seolah dipancarkan kembali melalui suara benturannya dengan lonceng tembaga, berkali lipat kuatnya dari semula. Akibatnya sungguh lihay. Area seluas 20 tombak disekeliling lonceng itu tersapu bersih gelombang suara maha dahsyat. Segala sisa tembok dan rangka kayu reruntuhan kuil yang masih berdiri langsung pecah berantakan, terbang pergi berhamburan terbawa gelombang yang melanda. Tidak tersisa lagi tanda-tanda kalau ditempat itu pernah berdiri suatu bangunan tertentu. Kakek nenek yang sedang bertarung sengit itu pun tak terkecuali. Walau sudah berusaha menguatkan kuda-kuda, tak urung juga tubuh keduanya tergeser hingga dua tombak jauhnya. Keduanya sama mengeluh. Meskipun dari luar kelihatannya tidak terjadi sesuatu perubahan, namun sebenarnya keduanya telah menderita luka dalam. Luka dalam yang membuat mereka hanya sanggup mengerahkan lima bagian dari lweekang mereka. Otomatis pertarungan mereka langsung berhenti seketika. Keduanya berpandangan sesaat. Tanpa mengeluarkan suara mereka telah saling memahami maksud hati masing-masing. Periksa lukamu, pertarungan ini akan kita lanjutkan nanti! kata Yok-Sian singkat. Si nenek tidak memprotes, ia tahu tak ada gunanya memaksa melanjutkan pertarungan mereka sekarang. Dalam keadaan terluka begini, tak mungkin lagi melancarkan jurus-jurus serangan andalannya. Malah salah-salah dirinya sendiri yang bakal celaka dan ia tak boleh celaka sekarang. Masih ada murid kesayangannya yang harus diurusnya. Tok-Seng-Sianli segera mengalirkan tenaga memeriksa luka yang dideritanya sedangkan YokSian sendiri lebih mengkhawatirkan keadaan A Sai. Pandangannya segera diedarkan mencari keberadaan pemuda itu. Hatinya khawatir bukan main, mereka yang berada delapan tombak jauhnya dari pusat serangan saja terluka hingga lima bagian, bagaimana dengan A Sai yang berdiri hanya dua kaki jauhnya dari lonceng itu? Ia tak berani membayangkannya. Lalu A Sai? A Sai sendiri masih tetap berdiri ditempatnya semula, tampak termangu dan sedikit keheranan. Walau demikian ia sama sekali tidak bergeser barang setapak pun dari tempatnya semula. Hati kakek itu jadi sedikit lega, berbareng timbul pertanyaan besar dalam hatinya. Mengapa

gelombang suara yang sanggup mementalkan dirinya dan nenek itu seakan tak ada pengaruhnya terhadap diri A Sai? Apakah lweekangnya telah kembali melindungi keselamatan pemuda ini? Yok-Sian tak mengerti. Kenapa gelombang suara itu seakan tak berpengaruh pada A Sai? Hal ini dikarenakan lweekang dalam tubuhnya telah secara otomatis melindungi dirinya apalagi dirinya pun sudah terlalu sering mendengar suara siulannya sendiri yang luar biasa itu, maka tanpa disadarinya tubuhnya menjadi terbiasa dan jauh lebih kuat menghadapi segala jenis serangan yang dipancarkan melalui suara dibandingkan dengan manusia lain. Itulah sebabnya gelombang suara tersebut seolah tak ada pengaruhnya atas diri pemuda itu. Benarkah tak ada pengaruhnya sama sekali? Gelombang suara yang bergema, bagi orang lain mungkin hanya diperhatikan kekuatan serangannya saja tapi bagi A Sai tidaklah demikian. Ia bukan hanya memperhatikan kekuatan gelombang suara tersebut, bunyi dan tinggi rendah nada pun diperhatikannya dengan teliti. Mungkin kebiasaannya memperhatikan nada suara kelelawar selama tinggal digoa neraka yang membuatnya demikian. Dirinya selalu tertarik dengan suara yang berbunyi tinggi dan nyaring. Makin tinggi, makin menarik hatinya. Ia dapat mendengar dengan jelas kalau gaung tersebut terdiri dari nada-nada yang semakin lama semakin meninggi hingga akhirnya hanya telinganya saja yang sanggup mendengar bunyi yang dihasilkan lonceng tersebut. Saat suara itu pertama kali meledak keluar memang tidaklah diperhatikannya baik-baik tapi disaat gelombang suara itu makin memanjang dan meninggi bergaung barulah ia sadar kalau suara tertinggi yang dicapai lonceng itu ternyata sama dengan nada siulan yang dilatihnya selama ini. Tepatnya lagi nadanya sama dengan nada ke tujuh miliknya, nada tertinggi yang berhasil dikuasainya. Efeknya pun benar-benar mengejutkan hati A Sai. Lweekang dalam tubuhnya seolah bangkit dari tidurnya ketika gema suara benturan tongkat dan lonceng sampai pada titi nada tersebut, mengggelora berputaran menerjang ke tujuh puluh dua jalan darah ditubuhnya. Seolah hanya dalam sepersekian detik saja lweekang ditubuhnya telah dibangkitkan hingga ke puncaknya. Bergerak liar, meronta menuntut pelepasan. Uap putih telah menerobos keluar menyelubungi sekujur tubuhnya. A Sai terkejut luar biasa mengetahui perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Apakah bunyi nada ini yang membangkitkan tenaga dalam tubuhku? pikirnya setengah tak percaya.

Sekarang ia baru tahu efek nada ke tujuh miliknya. Hanya seseorang yang mampu mendengar sajalah yang mampu merasakan efek nada tersebut. Sebab saking tingginya nada itu tidak dapat lagi didengar oleh telinga manusia normal. Nada ini sungguh mirip bunyinya dengan nada ke tujuh milikku. pikirnya setengah melamun. Tanpa sadar mulutnya pun menyiulkan nada ke tujuh miliknya itu dan tentu saja hanya ia sendiri yang sanggup mendengarnya. Nada siulannya sama dengan nada yang dikeluarkan oleh benturan tongkat dan lonceng itu hanya saja kali ini ia harus mengerahkan seluruh tenaganya. Ia sadar selama ini nada ke tujuh miliknya seolah tak ada pengaruhnya sebab ia selalu membatasi tenaganya disaat menyiulkan nada itu. Rupanya harus dengan sekuat tenaga barulah nada itu ada efeknya. Bunyi yang terdengar kemudian mengalun kuat dan tinggi luar biasa ditelinganya, orang lain jangan harap mampu mendengarkannya. Efek yang sama terjadi bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Gelombang tenaga dalam tubuhnya seolah mendapat perintah untuk bergolak lebih ganas lagi, menerobos seluruh hiat-to yang ada ditubuhnya. Setiap hiat-to (titik darah) yang dilewatinya seakan menguatkan kekuatan tenaga yang mengalir tersebut. Memantul dari titik darah yang satu ke titik darah yang lain, makin lama makin kuat tenaganya bergelombang, hingga setelah tenaga itu berhenti berputaran lweekangnya telah meningkat dua kali lipat dari semula. Dalam sekejap saja batas tertinggi yang dimilikinya telah dilewati. Tenaganya bertambah dua kali lipat dari semula. Luar... Luar Biasa! gumam Yok-Sian terbata-bata. Tak pernah disangkanya lweekang A Sai sampai sedemikian dahsyatnya. Belum pernah dalam delapan puluh tahun lebih masa hidupnya ditemuinya seseorang dengan kemampuan seperti yang dimiliki cucunya ini. Membayangkan pun tidak. Tapi sekarang telah dilihatnya. Dibandingkan dengan lweekang milik pemuda ini, lweekangnya dan Tok-Seng-Sianli tak lebih hanyalah seperti permainan anak kecil saja. Dulu disangkanya lweeekang yang dimilikinya ini sudah sulit dicari tandingannya lagi dibulim tapi sekarang ia sadar, ia terlalu memandang tinggi kemampuannya sendiri. Berbareng timbul juga kekhawatiran yang sangat melihat keadaan si pemuda. Ia tahu A Sai belumlah mampu mengendalikan tenaga yang muncul ditubuhnya dan melihat kedahsyatan tenaga yang dimiliki A Sai, ia takut cucunya itu tak sanggup bertahan lebih lama lagi menahan tekanan lweekang yang mengalir ganas dalam tubuhnya sendiri. Kalau tenaga itu tidak berhasil dikendalikan atau dikeluarkan, sudah pasti pemuda itu akan menemui kematiannya. Kok Lam, apa yang sebenarnya terjadi? Darimana bocah iblis ini memperoleh lweekang sedahsyat itu? tanya Tok-Seng-Sianli tiba-tiba.

Suara si nenek segera menarik Yok-Sian keluar dari lamunannya. Yok-Sian menghembuskan nafas pendek, tak tahu harus menjawab apa. Luar Biasa... hanya para dewa yang mempunyai tenaga seperti itu! kata si nenek lagi. Yok-Sian tetap diam, hatinya resah. Pikirannya diliputi kekhawatiran besar, ia tahu setiap saat nyawa cucunya itu bisa melayang. Ia ingin melakukan sesuatu namun ia pun tak tahu harus melakukan apa untuk menolong. Jika sembarangan bertindak bisa jadi malah akan memperburuk keadaan cucunya itu. Sebenarnya apa yang telah terjadi dalam tubuh A Sai? Nada yang didengarnya menjadi semacam pemicu yang entah bagaimana mampu memperkuat kekuatan lweekang yang dimiliki pemuda itu. Pada saat nada itu pertama didengarnya, lweekang dalam tubuhnya seolah bangkit dari tidur dan dalam sekejap mata telah mencapai puncak kekuatannya. Tak mungkin naik lagi. Namun saat nada tersebut disiulkannya kembali. Lweekang dalam tubuhnya yang sudah maksimal dikeluarkan ternyata masih mampu melonjak naik hingga dua kali lipat dari semula. Sesuatu yang mustahil tapi terjadi pada diri pemuda itu. Rupanya setiap hiat-to (titik darah) yang disinggahi tenaga itu makin memperkuat tenaga yang telah ada, seolah menambah kekuatan yang singgah dihiat-to tersebut. Setelah melewati ke tujuh puluh dua jalan darah miliknya, lweekangnya telah tujuh puluh dua kali mengalami penambahan tenaga hingga lweekang tersebut mampu meningkat naik dua kali lipat lebih kuat dari semula. Sungguh dahsyat tenaga yang sekarang berada ditubuh A Sai. Setiap sendi dan bagian tubuh pemuda itu telah dipenuhi kabut putih tebal, bahkan bangun tubuhnya pun hanya tampak samar diantara tebalnya uap putih. A Sai tampak mulai kepayahan. Nada ini kelihatannya selain mampu membangkitkan tenagaku juga mampu memperkuat tenaga yang telah ada. pikir A Sai, tak menyangka hasil yang ditimbulkan oleh suara siulannya itu. Mungkinkah tenagaku akan naik lagi kalau nada itu kembali kugunakan? pikirnya penasaran walau sekujur tubuhnya sudah terasa sukar dikendalikan lagi. Hanya ada satu jalan untuk mengetahuinya! batin pemuda itu lagi, rasa penasarannya mengalahkan berbagai perasaan lain yang menghimpit tubuhnya. Ia belum pasti apakah keadaan seperti ini akan dapat dijumpainya lagi dikemudian hari atau tidak, makanya ia memutuskan untuk mencoba teorinya itu sekali lagi.

Dasar keras kepala, ia tak lagi peduli dengan rasa yang menyiksanya itu. Untunglah kekuatan tubuhnya jauh diatas manusia normal ditambah lagi segala jenis rasa sakit telah dialaminya digoa neraka. Hal inilah yang membuatnya sanggup menahan segala macam perasaan yang menyiksanya. Sekaranglah saatnya atau tidak sama sekali. Batinnya mengeraskan hati. Nada yang sama terdengar kembali. Lweekang maha dahsyat yang berputaran ditubuhnya seolah mendapat tambahan tenaga baru. Meledak-ledak dan bergelombang disekujur tubuhnya. Seluruh otot di tubuh pemuda ini menggembung dipenuhi sinkang yang menggelora. Kulit tubuhnya merah berpendar menandakan hebatnya hawa yang tersembunyi dibaliknya. Tubuh pemuda itu sudah tak terlihat lagi tertutup tebalnya halimun putih yang menyelubungi. Ia lebih mirip segumpal awan yang turun ke bumi dari pada seorang anak manusia. Pusaran udara yang menyesakkan dada terpancar keluar dari tubuhnya sementara gelombang demi gelombang hawa yang tak terlihat keluar dan menyebar ke segala arah. Susul menyusul tanpa henti. Semua benda dalam jarak 10 tombak disekitarnya seakan tersapu bersih, tak mampu menahan kedahsyatan tenaga yang terpancar keluar dari tubuh pemuda itu. Sudah tak ada lagi kekaguman dalam hati Yok-Sian, kekhawatirannya mengalahkan segala perasaan lain yang ada dihatinya. Ia tak rela pemuda yang mulai disayanginya itu celaka. Ia benar-benar tak rela. Sai-ji kendalikan dirimu! Yok-Sian berkaok-kaok memperingatkan. Setiap teriakannya dilandasi dengan khikang sepenuh tenaga dan terdengar mengguntur mengguncang tempat itu. Namun teriakannya itu seolah tak didengarkan sama sekali. Rambut dan pakaian kedua orang tua itu berkibar kencang. Angin tak henti-hentinya berpusing disekitar mereka ditambah lagi sebentuk hawa yang menggidikkan hati seperti menindih tempat itu dari segala penjuru. Tanah, semak dan bebatuan berhamburan melewati mereka dengan kecepatan yang mengagumkan sementara rerumputan yang tak sampai tercabut tampak rebah, rata dengan tanah saking kuatnya tekanan hawa dan angin yang melanda. Suasana disitu sudah mirip suasana saat taufan badai melanda. Mau tak mau si nenek harus berteriak keras kalau ingin ucapannya terdengar oleh Yok-Sian. Percuma... berteriak... suaramu... didengar... bocah... setan...! teriak si nenek keras. Suara angin yang mendesing keras ditelinganya membuat Yok-Sian hanya mampu mendengar ucapan nenek itu sepotong-sepotong. Walau demikian ia dapat menduga arti perkataan yang

sepotong-sepotong itu. Pastilah Tok-Seng-Sianli sedang memperingatkannya kalau teriakannya itu percuma saja. Maksudmu? tanya Yok-Sian lagi dengan ilmu mengirimkan suara. Tenaga yang menguasainya mengacaukan pikirannya. Walau pun suaramu terdengar olehnya, namun pikirannya terlalu ruwet untuk mempertimbangkan perkataanmu itu! Tok-Seng-Sianli menjawab dengan cara yang sama. Yok-Sian sadar, kemungkinan besar si nenek ada benarnya juga. Dialihkan pandangannya dari A Sai menuju tempat Tok-Seng-Sianli berdiri. Tampak si nenek berdiri setengah berjongkok, berjuang mengerahkan tenaga memasang kuda-kuda memberatkan tubuh. Yok-Sian mengumpulkan semangatnya. Kakinya diseret perlahan setapak demi setapak mendekati tempat nenek itu berada. Bagaimana keadaanmu? tanya Yok-Sian. Jangan khawatir! Masih sanggup melayanimu ribuan jurus lagi! dengus si nenek. Urusan kita masih bisa kita tunda lain kali, Lohu harus mengurusnya dahulu! Wajah Tok-Seng-Sianli berubah makin masam. Jangan khawatir, kali berikut Lohu akan melayanimu tanpa menuntut segala macam syarat lagi. Urusan pertarungan kita akan kita lanjutkan dikemudian hari! si kakek memotong suara protes yang mau diucapkan nenek itu. Benarkah? Tanpa segala macam syarat dan muslihat lagi? tanya si nenek menegaskan. Benar! Sekarang biarkan Lohu mengurusnya! Yok-Sian menegaskan ucapannya itu. Baik! Tok-Seng-Sianli tak bicara lagi. Ia tahu saat ini tak ada gunanya memaksa Yok-Sian melayaninya. Mereka telah sama terluka dan situasi ditempat ini tak memungkinkan mereka untuk melanjutkan pertarungan. Terlalu berbahaya. Salah-salah malah celaka sendiri. Saat ini yang dikhawatirkannya bukanlah Yok-Sian lagi. Ia tahu dirinya dan kakek itu bisa dibilang seimbang ilmu silatnya namun bocah iblis murid Yok-Sian itu benar-benar diluar sangkaannya semula. Sekarang barulah matanya terbuka. Bocah setan ini kekuatannya benarbenar seperti setan saja. Dalam keadaan sehat saja ia takkan sanggup menghadapi lweekang si

bocah, apalagi dalam keadaan terluka seperti ini. Lebih baik mengamati keadaan dulu. Toh dendam muridnya masih bisa ditagihnya dikemudian hari. Berpikir demikian, panas hati si nenek jadi sedikit reda. Apa yang akan kau lakukan? tanyanya, ingin tahu tindakan yang akan diambil Yok-Sian selanjutnya. Sai-ji bisa celaka kalau tenaganya tak tersalur keluar! Hehehe... baguslah! Thian memang adil! kekeh nenek itu mengejek. Yok-Sian tak peduli. Kau lihat tidak? Tenaganya seolah makin bertambah dahsyat, makin lama makin meningkat layaknya api disiram minyak! Huh... dengus Tok-Seng-Sianli, iri menguasai hatinya. Kenapa bocah setan ini yang memiliki lweekang sedahyat itu, bukan Yan Ci muridnya. Dengan lweekang sedahsyat itu, bukan hanya dirinya yang bakal mati... agaknya kita pun bakal celaka seandainya tenaganya itu tak mampu dikuasainya. Jaraknya dengan kita ada sepuluh tombak jauhnya, namun tenaga yang terpancar dari dirinya telah membuat kita harus berjuang sekuat tenaga hanya untuk tetap berdiri ditempat! Katakan maksudmu, jangan berbelit lagi... aku bisa lihat sendiri apa yang terjadi! potong si nenek tak sabar. Kalau tenaganya tidak berhasil disalurkannya keluar... ia akan mati... paling tidak luka parah! Mungkin juga tenaganya akan turut melukai kita! Yok-Sian menerangkan kemungkinan yang mereka hadapi. Tok-Seng-Sianli jadi merinding sendiri. Ia tahu kemungkinan besar itulah yang akan terjadi nanti. Bagaimana kalau kau suruh bocah setan itu menyimpan saja tenaganya kembali! Tak mungkin! Kenapa tak mungkin? Tenaganya bangkit sesukanya. Sai-ji tak mampu membangkitkannya dan tak mampu mengendalikannya, apalagi sampai menyimpannya kembali...! Maksudmu sejenis lweekang liar begitu?

Tidak tepat demikian tapi bisa juga dibilang begitu! Si nenek mengerutkan keningnya, turut berpikir mencari jalan penyelesaian. Bagaimana kalau kita serang bocah setan itu bersamaan? tanya si nenek lagi. Tapi jawaban yang diterimanya malah mata Yok-Sian yang mendelik gusar. Jangan lupa, kita tak mungkin menyerangnya dari jarak sejauh ini... Lagipula lebih baik Lohu yang mati daripada Sai-ji kau lukai! jawab Yok-Sian ketus. Si nenek jadi nyengir kuda. Keduanya kembali terdiam. Ada satu jalan keluar! kata Yok-Sian setelah sejenak berpikir. Katakan! Yok-Sian tak menjawab namun sinar keperakan ditubuhnya makin gemerlapan menyilaukan mata, tanda lweekang telah dikerahkan hingga ke puncaknya. Hey bukankah bukankah itu mirip dengan ilmu Tong-Te-Jit-Sian (tujuh dewa turun ke bumi)? pekik Si nenek mengejutkan Yok-Sian. Yok-Sian tertegun, gerakannya terhenti. Diperhatikannya keadaan A Sai baik-baik. Sepertinya begitu! teriaknya sedikit ragu. Dari mana bocah setan ini belajar ilmu rahasia Mo-Kau (Agama iblis/sesat)? Si kakek tak mampu menjawab. Ia sendiri pun bingung dari mana cucunya ini mempelajari ilmu rahasia peninggalan pendiri Mokau itu. Konon ilmu ini telah lama hilang bahkan ketuanya yang sekarang pun tak mewarisi ilmu sakti tersebut. Mungkinkah Sai-ji masih ada hubungan dengan perkumpulan iblis itu? batin Yok-Sian bertanya-tanya. Menurut cerita yang beredar dibulim, ilmu ini merupakan ilmu lweekang tingkat tinggi yang ajaib. Saking tingginya hingga disejajarkan dengan I-Kin-Keng (Ilmu cuci tulang, otot dan darah), ilmu rahasia Siauw-Lim-Pay warisan Tat Mo-Couwsu pendiri perguruan tersebut. Tong-Te-Jit-Sian (tujuh dewa turun ke bumi) merupakan satu diantara ilmu rahasia tertinggi partai Mokau, ilmu sakti peninggalan ketuanya yang pertama. ilmu ini sudah lama sekali tidak pernah terlihat lagi dibulim, hingga banyak orang yang menduga ilmu tersebut telah hilang dari kalangan Mokau sendiri.

Hal ini disebabkan tidak semua orang berhak mempelajari ilmu ini, hanya ketua partai saja yang boleh mempelajarinya. Bahkan tidak semua ketua yang belajar ilmu ini pun sanggup menguasainya. Saking sulit dan rumitnya ilmu tersebut, hingga dikatakan hanya yang benarbenar berjodoh saja yang sanggup menguasai Tong-Te-Jit-Sian. Konon Tong-Te-Jit-Sian (Tujuh dewa turun ke bumi) mempunyai cara pernafasan yang unik pada saat bertarung. Pada Tong-Te-Jit-Sian hawa dihimpun dari alam dengan cara menarik dan mengeluarkan nafas selambat mungkin. Mirip metode pernafasan siulian (meditasi) umumnya. Dengan metode pernafasan demikian, orang yang melatih ilmu ini seolah menyaring hawa murni dari alam sekitar dan dialirkan kembali perlahan dan merata ke seluruh tubuh. Itulah inti pernafasan yang dikembangkan dalam Tong-Te-Jit-Sian. Inti pernafasan yang juga digunakan dalam pertarungan yang sebenarnya. Disinilah letak kesulitannya, hanya orang yang memiliki kekuatan batin tinggi saja yang sanggup bertarung dengan tetap mempertahankan ritme pernafasan lambat-lambat seperti itu. Gerakan tubuh secepat kilat namun harus mempertahankan ritme pernafasan lambat layaknya seseorang yang sedang siulian. Hal inilah yang membuat tidak semua ketua Mokau sanggup menguasai ilmu tersebut. Sebab umumnya pernafasan seseorang terpengaruh oleh ritme gerakannya, makin cepat gerakannya maka makin cepat pula pernafasannya. Dibutuhkan ketetapan dan kesabaran hati yang kuat untuk dapat menguasai Tong-Te-Jit-Sian. Hal inilah yang mungkin membuat ilmu ini menghilang dari bulim sebab ketua Mokau generasi sekarang ternyata tidak berbakat bagus untuk meyakini Tong-Te-Jit-Sian. Tong-Te-Jit-Sian (Tujuh dewa turun ke bumi) sendiri mempunyai cara berlatih yang berbeda dari umumnya. Ilmu ini harus dilatih dengan cara merebus diri dalam panci perak yang berisi godokan ginseng ratusan tahun dan berbagai macam rempah langka lainnya. Hawa mujizat dari bermacam rempah itulah yang akan diserap ke dalam tujuh hiat-to rahasia ditubuh orang itu berbareng segala hawa negatif entah dengan cara bagaimana, akan diserap oleh panci perak tersebut. Jika ilmu ini berhasil dikuasainya, tenaga maha dahsyat yang tersimpan dalam 7 hiat-to tersebut dapat dibangkitannya susul menyusul hingga melewati puncak tenaganya semula. Sesuai dengan namanya, 7 hiat-to itu bagaikan 7 dewa yang turun ke bumi memberikan bantuan tenaga kepada orang tersebut. Walau demikian, ilmu ini hanya mampu meningkatkan tenaga pemiliknya naik dua kali lipat dari semula yang tentu saja masih kalah lihay dibandingkan dengan nada ke tujuh milik A Sai. Nada ke tujuh A Sai dapat diibaratkan seperti selaksa dewa turun ke bumi karena tak terbatas tenaga yang sanggup dibangkitkannya. Mau sekali, dua kali, tiga kali mampu digandakan, asalkan tubuhnya pun mampu menahan tekanan tenaga yang menggelora itu. Yang menjadi batasan penggunaan nada ke tujuh ini adalah ketahanan tubuh dalam menerima kekuatan tenaga yang menggelora. Seperti yang terjadi saat ini, A Sai sanggup menaikkan lweekangnya hingga tiga kali lipat dari semula. Sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan oleh nalar manusia.

Yok-Sian tak tahu harus berkata apa. Dalam keadaan seperti ini percuma bicara, ia harus segera bertindak. Soal dari mana cucunya itu mempelajari ilmu rahasia Mokau tidaklah perlu dipikirkan sekarang. Nyawa A Sai yang menjadi perhatian utamanya saat ini. Perlahan dilangkahkan kakinya maju setapak. Semakin ia maju semakin kuat hawa yang mendorongnya ke belakang. Sampai akhirnya tubuh Yok-Sian harus mendoyong ke depan melawan gelombang hawa yang menghadang. Ia tak sanggup maju lebih jauh. A Sai tak tahan lagi. Walaupun fisiknya kuat diatas normal namun tenaga yang mengeram ditubuhnya tak sanggup ditahannya lagi. Terlalu kuat dan liar menghimpit setiap bagian tubuhnya. Lweekangnya berkerotokan dan menimbulkan pergeseran tulang dan otot disana-sini. Hanya tinggal tunggu waktu saja organ tubuhnya bakalan meledak hancur tak bersisa. Harus segera dikeluarkannya. Kalau tidak pastilah ia mati Saat yang bersamaan, Yok-Sian kembali berteriak. Sai-ji, cepat lepaskan tenagamu! Terlambat sedikit kau pasti celaka! Perkataan kongkongnya itu terdengar samar dan patah-patah menembus alam bawah sadarnya. Otak pemuda itu yang sejak tadi seperti telah beku seolah mendapatkan kembali kesadarannya mendengar peringatan kongkongnya itu. Ba... gai... ma... na... ca... ra...?! teriaknya patah-patah menahan himpitan tenaga yang nyaris membuatnya gila sendiri. Yok-Sian gembira melihat usahanya itu membawa hasil. Ia tak boleh membuang waktu. Setiap detik sangat berharga. Nyawa cucunya bergantung pada tiap detik yang berlalu. Kerahkan tenagamu menyerang pohon atau tanah atau apa saja, asalkan jangan terlalu dekat ke sini! A Sai tak menjawab, perkataan kongkongnya itu dimengertinya tapi jangankan menyerang pohon, melangkah saja ia serasa tak sanggup. Bukan dirinya lagi yang menguasai tenaga itu, sekarang lweekangnyalah yang menguasai tubuhnya. Dicoba memaksakan seluruh kemauannya namun tak sanggup juga tubuhnya itu digerakkan, seolah setiap anggota tubuhnya bukan lagi miliknya. Apakah harus berakhir sampai disini saja? pikirnya tak rela Makin lama rasa gusar dan tak rela dihatinya makin membuncah hingga nyaris tak tertahankan lagi. Kasihan anak muda itu, raganya tertekan oleh tenaga luar biasa yang menggelora sedangkan pikirannya sendiri dikuasai berbagai emosi yang seakan merobek jiwanya.

Putus asa mulai menguasai dirinya bercampur dengan kemarahan akan ketidak mampuan dirinya mengendalikan tenaga liar ditubuhnya itu. Cepat! Jangan tunda lagi! teriak Yok-Sian kembali memperingatkan dirinya. A Sai sudah tak mampu lagi menjawab. Resah, bingung, gusar, putus asa, takut, khawatir dan seribu macam perasaan lainnya bergejolak dijiwanya. Ia belum siap mati dan ia tidak ingin mati sekarang. Jiwanya berontak. YYYYAAAAARRRRRRGGGGHHHHHH!!! Sebuah raungan panjang mengerikan memenuhi udara, seperti raungan yang berasal dari mulut setan iblis dari dasar neraka. Raungan penuh penderitaan, keputusasaan dan kemarahan. Hanya satu kata yang mampu menggambarkan akibat yang ditimbulkan raungan A Sai itu Kiamat. Awas!!! teriakan Yok-Sian terdengar sesaat sebelum suara raungan A Sai terdengar. Nalurinya sebagai seorang pendekar nomor wahid telah menyadarkan Yok-Sian akan gawatnya situasi ditempat itu. Ditambah lagi dengan pengalamannya selama puluhan tahun berkelana dibulim, membuatnya dapat menduga akan jaring-jaring kematian yang semakin menguat melingkupi mereka. Kematian yang bakal datang dari cucunya itu. Seketika sinar putih keperakan makin menyilaukan menyelimuti tubuhnya sementara Yok-Sian berkelebat samar, melejit cepat ke belakang menjauhi tempat itu. Tok-Seng-Sianli pun tak perlu diperingatkan dua kali, sosoknya turut melejit mundur sepersekian detik kemudian. Mereka berdua seakan berlomba meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Sungguh sial. gerutu kakek itu dalam hati. Yok-Sian sadar, tenaga yang berkumpul liar ditubuh pemuda itu akan segera mengalir keluar dan melihat kedahsyatan lweekang tersebut, ia tak berani mengadu keberuntungannya dengan tetap tinggal disitu. Apalagi ia sendiri ragu apakah dirinya sanggup menghadapi kedahsyatan lweekang A Sai, namun paling tidak semakin jauh dirinya dari pemuda itu maka makin lemah pula tenaga yang menyerangnya. Yok-Sian tahu hanya dengan cara demikian resiko terluka bahkan kematian, dapat dikuranginya hingga seminimal mungkin. Satu prinsip kakek itu selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah. Bahkan seandainya tidak ada jalan keluar sama sekali, ia harus tetap dapat menciptakan jalan keluar. Demikian juga Tok-Seng-Sianli.

Saat teriakan Yok-Sian sampai ditelinganya, tubuhnya pun melejit mundur mengikuti langkah Yok-Sian. Namun sebentar saja ia tertinggal dua tombak jauhnya dari si kakek, bahkan kecepatan gerakannya pun tidaklah secepat Yok-Sian. Rupanya luka yang dideritanya jauh lebih berat daripada luka yang diderita kakek itu. Jaraknya dari tempatnya semula berdiri baru sekitar 15 tombak jauhnya hingga jika ditotal baru 25 tombak jarak antara dirinya dengan A Sai. Sialan! umpatan gusar keluar dari mulut si nenek. Saat itulah teriakan A Sai terdengar. Bersamaan dengan meledaknya raungan A Sai, sebentuk gelombang tenaga maha dahsyat memancar keluar mengikuti raungannya, lalu melanda dan menghancurkan tempat itu. Menimbulkan kerusakan yang tidak tanggung-tanggung bagi alam dan kehidupan disekitarnya. Sungguh dahsyat lweekang yang tersalur keluar melalui raungan pemuda itu. Kiamat melanda areal seluas 50 tombak disekitar pemuda itu berdiri. Bumi berguncang, tanah terbelah, udara terobek, batu beterbangan, pohon besar kecil tumbang dan patah, bahkan tercabut dari akarnya. Segala benda yang berada diatas permukaan bumi terbang pergi dibawa gelombang tersebut ke segala penjuru sementara debu tebal menyelimuti udara. Bahkan burung-burung yang terbang di sekitar situ pun berguguran jatuh. Semua bentuk kehidupan yang berada 50 tombak dari pemuda itu porak-poranda, tak utuh barang sejengkal pun. Tempat itu makin rusak saja jadinya. Tak mungkin lari batin Tok-Seng-Sianli ngeri. Ia tahu dengan kekuatannya yang sekarang ditambah sempitnya waktu yang tersisa, sudah tak mungkin lagi baginya untuk menghindari gelombang yang menerjangnya. Walau tipis harapannya, ia harus bertahan. Nenek itu sadar, dirinya dapat bertahan lebih baik dengan berdiri di tanah daripada dalam keadaan melayang diudara. Paling tidak seluruh tenaganya dapat penuh disalurkan untuk bertahan. Tidak harus terbagi antara bertahan dan mengerahkan ginkang. Kabut keunguan kembali menutupi Tok-Seng-Sian-Li. Tok-Seng-Sianli berusaha menghentikan gerakannya. Tubuhnya masih sementara melayang diudara saat terasa seberkas tenaga merangsek dari belakangnya. Sebelum ia sempat menghindar, kain dibagian leher bajunya telah ditarik dari belakang. Bau harum obat yang menusuk hidungnya membuatnya sadar, Yok-Sian lah yang telah menariknya untuk kembali menjauhi tempat itu. Semangat Tok-Seng-Sianli terbangkit seketika, Yok-Sian telah kembali untuk menolong dirinya. Tak menunggu lama, tubuhnya sebat bergerak mengikuti tenaga betotan si kakek. Rupanya Yok-Sian dapat menduga dari gerakan si nenek yang melambat serta makin menebalnya kabut beracun ditubuh nenek itu bahwa Tok-Seng-Sianli hendak berhenti dan bertahan ditempat dari pada meneruskan melarikan diri. Itulah sebabnya ia lalu memutuskan untuk kembali dan menolong si nenek. Walau kakek itu sadar kalau gerakannya itu makin mendekatkannya dengan tangan-tangan kehancuran.

Keduanya seperti dua tubuh dengan satu otak saja, mungkin karena telah puluhan tahun mengenal membuat mereka seolah dapat saling memahami maksud pikiran masing-masing. Tenaga Tok-Seng-Sianli lalu diselaraskan dengan tenaga Yok-Sian, saling membantu menjauhi tempat A Sai berada. Tubuh keduanya seolah menjadi satu, tenaga mereka saling menopang membuat ginkang mereka meningkat dua kali lipat dari semula. Sebentar saja mereka telah terpisah sekitar 35 tombak jauhnya dari tempat pemuda itu berdiri. Gelombang khikang maha dahsyat makin mendekat. Dari depan, segalanya tampak samar dimata kedua tokoh sakti itu. Hanya tampak pusaran gelombang dahsyat yang mendatang dengan kecepatan luar biasa, menerjang mereka. Sementara bersama datangnya gelombang tersebut, datang pula segala jenis benda yang sebelumnya berada diatas permukaan bumi. Tanah, bebatuan, semak, daun, kayu, pasir, debu, bahkan bangkai hewan dan segala benda lainnya dipermukaan bumi, bercampur jadi satu terbawa arus gelombang tersebut. Gelombang tenaga berwarna hitam dan kelam, samar merangsek secepat kilat. Setinggi apapun ginkang mereka, tak mungkin lebih cepat dari datangnya gelombang tenaga yang mengejar. Sebelum inti gelombang melanda, angin pendahuluannya saja telah membuat keduanya sesak nafas dan pening luar biasa. keduanya makin bergidik ngeri. Sungguh dahsyat lweekang yang terkandung dalam raungan pemuda itu. Bahkan kain baju dan rambut yang seharusnya berkibar ke arah dari mana mereka datang, malah berkibar ke arah mana mereka pergi, saking kuatnya angin yang melanda. Yok-Sian tersadar, tak mungkin ginkangnya sanggup menandingi kecepatan gelombang tenaga yang mengejarnya. Kalau ingin selamat, ia harus dapat memanfaatkan tenaga yang menghantamnya untuk melayang pergi dari situ. Meminjam tenaga lawan untuk menghindar, itulah maksud si kakek. Tidak dengan kekerasan tapi dengan kelembutan, meminjam dan mengikuti tenaga serangan yang menerjangnya. Namun ia tak boleh salah perhitungan sama sekali. Syarat utama menjalankan rencananya itu adalah ketepatan waktu dalam menaksir serangan yang datang. Jika waktunya tepat, tenaga tersebut dapat ditungganginya untuk mundur. Sebaliknya jika waktunya salah, sama halnya dengan menerima serangan tersebut secara langsung. Walau pun efeknya tidaklah sekuat kalau menerimanya sambil diam ditempat. Lalu gelombang itu pun tiba, menghantam keduanya. DHHHHEEEEEESSSSSH!! Walau sudah berusaha mengikuti laju gelombang yang menerjangnya namun gelombang tenaga tersebut masih terlalu cepat datangnya bagi Tok-Seng-Sianli. Mungkin karena tenaganya sudah tidak sekuat Yok-Sian membuatnya sulit menaksir waktu datangnya kekuatan yang menerpanya. Ia harus mengakui dirinya tak sanggup menyesuaikan gerakan tubuhnya dengan tenaga yang melanda. Belum lagi dalam gelombang badai yang menghantam masih bertaburan segala macam benda yang berpusaran liar, membuat

konsentrasinya makin berkurang saja memikirkan segala akibat yang mungkin ditimbulkan semua benda itu terhadap tubuhnya. Setelah terhantam gelombang tersebut, tubuh Tok-Seng-Sianli masih terbentur berbagai jenis benda lainnya entah berapa kali banyaknya. Bajunya robek kiri kanan seperti dicabik berulang kali oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan sementara darah berhamburan keluar dari mulut dan tubuhnya. Kesadaran si nenek hilang seketika sebaliknya Yok-Sian masih terus bertahan menyesuaikan irama ginkangnya dengan gelombang tenaga yang mendorongnya dari depan. Yok-Sian malah jauh lebih menderita dari Tok-Seng-Sianli. Tubuh nenek itu terlontar keras menghajar dirinya dari depan, semakin melemparkannya jauh ke belakang. Sementara bagian belakang tubuhnya pun sakit luar biasa bertabrakan dengan setiap benda yang menghalangi jalur terbangnya. Entah berapa banyak pohon besar kecil yang ditembusi tubuhnya itu. Dari depan tenaga maha dahsyat menghimpitnya sedangkan dari belakang segala jenis benda membenturnya. Sungguh sengsara Yok-Sian dibuatnya. Keduanya semakin melayang jauh meninggalkan titik-titIk darah yang menyebar berkilat diudara bagaikan embun turun dari langit. Namun belum sempat jatuh ke tanah, titik-titik darah tersebut telah terhempas lagi oleh gelombang dahsyat yang melanda lalu melayang balik mengejar tuannya. Memercik dan menempel diwajah dan tubuh kedua tokoh sakti itu. Tangan kakek itu tak sedetik pun melepaskan cengkeramannya dari tubuh si nenek. Yok-Sian sungguh bersyukur ia memilih mengikuti tenaga yang menyerangnya daripada melawannya. Kalau tidak, niscaya ia sudah mati sekarang. Tubuh mereka bagaikan sehelai daun kering yang tersapu angin taufan, terbang jauh dengan kecepatan yang mengagumkan. Satu.. dua.. tiga entah berapa banyak benda yang dihajar tubuh kedua tokoh tua ini, terutama si kakek. Yok-Sian akhirnya mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya. Walau sudah mengerahkan sinkang melindungi tubuh namun benturan demi benturan yang terjadi, mau tak mau makin melemahkannya. Perlahan namun pasti, kesadaran kakek itu pun menghilang. BRRAAAKKKK! Tubuh Yok-Sian menabrak keras sebatang pohon seukuran dua kali tubuh manusia, lalu terpental balik bertabrakan dengan tubuh si nenek yang mengikutinya dari belakang. Tabrakan itu membuat si kakek terlempar ke bawah sedangkan si nenek terlempar ke sebelah kanannya. Menembus kembali berbagai semak belukar yang ada sebelum akhirnya berhenti sama sekali terbelit semak dan rerumputan. Tidak ada gerakan dari kedua tokoh ini, entah mati entah hidup. Nyaris 65 tombak jauhnya kedua tokoh ini terpisah dari tempat si pemuda berada. Sejak raungan itu terdengar hingga tubuh keduanya terbaring ditanah, semuanya hanya terjadi dalam sekejapan mata saja.

Perlahan keadaan menjadi tenang kembali. Suasana ditempat itu jadi sunyi. Terlalu sunyi malah. Tak ada lagi kicauan burung yang biasanya terdengar ditempat itu. Tak ada lagi suara gemeresek daun yang melambai. Bahkan suara senandung serangga pun tak terdengar, hanya kepulan debu tebal yang tampak menggantung menutupi pandangan. Kira-kira setengah kentungan kemudian, dua sosok bayangan muncul disitu. Im Giok dan Kim Hoa dengan senjata terhunus, berdiri mengawasi keadaan dengan seksama. Teriakan yang terdengar dari mulut A Sai ternyata telah memancing mereka datang ke tempat itu. Wajah Kim Hoa masih terlihat mengantuk sementara pakaiannya kusut seolah-olah dikenakan dengan tergesa-gesa. Keduanya sama tertegun, tanda tanya besar bercampur dengan takjub memenuhi hati mereka sementara sinar matahari pagi mulai tampak menghiasi bumi. Ke manakah perginya warna hijau yang biasa menghiasi alam? Tak terlihat sama sekali dilereng ini. Tampak daerah didepan mereka hanya tersisa beberapa batang pohon yang sebagian besar kayunya hancur dan tak utuh lagi, sementara lebih banyak lagi yang hanya tersisa tunggulnya saja. Tak ada lagi daun yang menghiasi sisa-sisa pepohonan tersebut, hanya ranting dan cabang yang telanjang saja. Segala macam benda berserakan disitu. Bebatuan, semak dan dedaunan bertebaran memenuhi daerah sekeliling mereka. Bahkan bangkai beberapa ekor hewan dan burung pun tampak dibeberapa tempat, juga dalam keadaan rusak dan hancur. Bau kematian memenuhi udara.. Kesunyian makin menyelimuti tempat itu sementara debu tebal masih menyulitkan mereka untuk memandang. Kewaspadaan kedua gadis itu telah mencapai taraf tertinggi. Apa yang terjadi disini? tanya Kim Hoa, berbisik. Entahlah! bisik Im Giok menjawab, hatinya gelisah bukan main. Sebelum datang ke tempat ini, ia telah menyempatkan diri mencari kakeknya dan A Sai. Namun ia tak dapat menemukan keduanya. Demikian juga si nenek berangasan itu tak dapat ditemukannya juga. Kekhawatiran besar menyelimuti hati dan pikirannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkinkah ini semua ada hubungannya dengan kongkong dan Sai-te? batin Im Giok khawatir. Kau mendengar suara tadi? tanya Kim-Hoa lagi, masih berbisik. Im Giok hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Siapakah yang mengeluarkan suara tersebut? tanya gadis itu lagi.

Entahlah! jawab Im Giok tak tahu. Tapi raungan seperti itu hanya mampu dikeluarkan oleh seseorang yang memiliki lweekang sempurna saja! sambungnya lagi. Keduanya kembali terdiam, setiap syaraf ditubuh kedua gadis itu menegang siap untuk beraksi. Tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa disini! bisik Im Giok lirih. Seperti habis terjadi pertempuran dahsyat saja! sambungnya lagi. Kim Hoa menganggukan kepalanya tanda setuju. Mari kita kesana! Tunggu sebentar, kita tak dapat melihat apapun disitu! Tunggulah sebentar sampai debu yang menggantung berkurang, barulah kita ke sana! cegah Im Giok cepat. Kim Hoa kembali menganggukkan kepalanya tanda setuju. Untunglah angin pagi bertiup ditempat itu. Semilir angin yang berhembus perlahan membuat baju dan rambut kedua gadis itu melambai dengan lembutnya. Perlahan namun pasti kabut debu yang menggantung disitu mulai menipis terhembus pergi. Mata mereka pun mulai dapat melihat apa yang selama ini tersebunyi dibalik tirai debu tersebut. Keduanya kembali terkesima. Sungguh luar biasa kerusakan yang terjadi ditempat itu. Alam benar-benar rusak binasa. Tak ada tanda kehidupan yang tertinggal dilereng tempat mereka berada sekarang. Segalanya nampak tandus dan gersang. Hanya tanah dan tanah yang terlihat dimata. Bahkan permukaan bumi pun porak-poranda seolah tempat itu baru saja diguncang gempa yang hebat. Ayo kita selidiki! bisik Kim Hoa tak sabar lagi. Hati-hati! Sebaiknya kita tetap bersama, jangan sampai terpisah! Siapa tahu orang itu masih ada disekitar sini! Im Giok memperingatkan. Baiklah! Keduanya beringsut maju dengan sangat hati-hati, senjata makin erat digenggam. Makin jauh masuk ke dalam, makin rusak keadaan alam ditempat itu. Bahkan dibeberapa tempat tanah tampak terbelah dan menganga lebar. Lihat! bisik Im Giok sambil menunjuk ke sisi sebelah kiri.

Mata Kim Hoa segera memandang ke arah yang ditunjuk Im Giok. Tampak kira-kira sepuluh tombak didepan sana, sesosok tubuh tergeletak berlumuran darah, terbelit dalam kerimbunan semak belukar sementara pakaiannya compang-camping tak karuan. Rambutnya yang putih terurai awut-awutan bercampur hancuran tumbuhan, debu tanah dan darah. Sekilas memandang saja, Kim Hoa segera mengenali sosok tersebut. Tok-Seng-Sianli subonya. Itu subo (ibu guru)! pekiknya tertahan. Tanpa memperdulikan apa yang bakal dihadapinya nanti, segera saja tubuh gadis itu berkelebat cepat menghampiri gurunya. Im Giok segera mengikuti dari belakang. Belum lagi sampai ditempat nenek itu tergeletak, mata Im Giok menangkap bayangan kongkongnya lima tombak jauhnya disamping Tok-Seng-Sianli. Segera saja tubuhnya melenting berbelok menuju tempat kongkongnya berada. Kondisi kongkongnya tidak berbeda jauh dengan kondisi gurunya Kim Hoa. Sama tergeletak terlentang, tak sadarkan diri dengan pakaian hancur dan berlumuran darah. Kongkong apa yang terjadi? suara Im Giok terdengar lirih penuh kekhawatiran. Namun segera saja ia sadar kongkongnya tak mungkin mendengar suaranya. Subo! Siapa yang melakukan ini padamu? teriakan Kim Hoa malah jauh lebih keras daripada Im Giok. Sungguh sedih dan khawatir hati si gadis melihat keadaan gurunya itu. Terluka parah dengan tubuh bermandikan darah sendiri sementara wajahnya seputih kertas. Jika dilihat keadaan si nenek tak ada bedanya dengan orang mati saja. Im Giok hanya menoleh sekilas, hatinya sendiri sangat sedih dan cemas melihat kongkong yang sangat dikasihinya menjadi seperti ini. Tak ada tanda kehidupan terlihat ditubuh kongkongnya. Hanya darah kering bercampur debu tanah yang menyelubungi sekujur tubuh dan wajah kongkongnya itu. Bahkan sebatang kayu tampak tertanam dibahu kakek itu. darah masih tampak mengucur dari luka tersebut. Hati Im Giok tergetar, ketakutan menyelimuti hatinya. Dengan tangan bergetar, dirabanya urat nadi besar dileher Yok-Sian. Terima kasih Thian! syukur gadis itu dalam hatinya. Ia sangat bersyukur ternyata Yok-Sian kongkongnya masihlah hidup. Dihitungnya denyut jantung yang dirasakan jemari tangannya. Walau terasa sangat lemah, namun jelas terasa adanya detak kehidupan disitu. Perlahan disalurkan lweekangnya menyusuri aliran darah si kakek. Im Giok jadi lega sedikit, ternyata kongkongnya tidak terlalu parah lukanya. Tidak ada organ vitalnya yang rusak ataupun jalan darah yang hancur, tak ada tulang yang patah. Hanya memar dan luka luar saja saja yang memenuhi tubuhnya. Tangan gadis itu segera berkelebat, menotok beberapa jalan darah ditubuh Yok-Sian. Pendarahan Yok-Sian harus segera dihentikannya.

Cus! Cus! Dua totokan dilancarkannya kembali lalu dicabutnya potongan kayu yang menancap dibahu kongkongnya, nyaris tiga jari dalamnya. Untunglah tidak mengenai tempat yang berbahaya. Segera ditaburkannya semacam salep obat yang diambilnya dari dalam guci kecil yang selalu dibawanya. Sungguh ampun obat itu, begitu dioleskan langsung saja pendarahan Yok-Sian berhenti. Fungsi obatnya ini untuk menghentikan pendarahan luar sekaligus membunuh segala macam penyakit yang masuk melalui luka tersebut. Dikeluarkannya sapu tangannya lalu dibalutnya luka tersebut. Im Giok menghela nafas panjang lalu memijit beberapa kali bagian tengkuk kongkongnya. Dengan diikuti erangan lirih, Yok-Sian tersadar dari pingsannya. Ughhh! Kongkong! panggil gadis itu cepat, khawatir. Namun Yok-Sian belum mampu menjawab, sebagian besar kesadarannya masih berada dialam lain. Kongkong! Kongkong! Sadarlah! pekik Im Giok tambah khawatir. Perlahan mata kakek itu terbuka, cahayanya buram tak seperti cahaya yang biasa dilihat Im Giok dimata kakeknya. Giok-ji Apa yang terjadi! bisikan Yok-Sian terdengar lirih ditelinga gadis itu. Rupanya si kakek belum juga sadar sepenuhnya, masih belum mengingat segala yang telah terjadi barusan. Kongkong dan Tok-Seng-Sianli locianpwe terluka, Giok-ji tak tahu siapa pelakunya! Sebenarnya apakah yang telah terjadi kongkong? Yok-Sian tidak segera menjawab. Kepalanya pening luar biasa, dadanya sesak, bahunya perih sementara sekujur tubuhnya ngilu dan sakit. Terasa sesuatu mendesak dikerongkongannya, menuntut untuk segera dikeluarkan. Hoekkk! Segumpal darah kental dimuntahkannya keluar, darah yang menyesakkan dada dan kerongkongannya semenjak ia sadar tadi. Tangan Im Giok kembali berkelebat, menotok dan mengurut beberapa jalan darah ditubuh kongkongnya. Pernafasan Yok-Sian mulai terasa lega. Sementara tangan gadis itu aktif bekerja, mulutnya pun tak berhenti berbicara.

Siapa yang melakukan semua ini? Namun kongkongnya belum mampu menjawab pertanyaannya itu. Setelah memuntahkan darah beberapa kali lagi, kakek itu kembali pingsan. Nafasnya satu-satu dan nyaris tak terdengar sama sekali ditelinga Im-Giok yang terlatih. Kongkong! jerit Im Giok cemas. Sebat gadis itu bersila disamping tubuh kongkongnya lalu menempelkan kedua telapak tangannya didada dan perut Yok-Sian. Sinkangnya lalu dialirkan untuk mengobati luka dalam Yok-Sian. Kondisi kakeknya harus diperkuatnya terlebih dahulu. Uap putih telah membumbung dari kedua lengannya bercampur dengan harumnya obat sementara keringat mulai mengalir membasahi kening gadis itu. Nafas Yok-Sian mulai terdengar kembali, lancar dan halus. Setelah satu kentungan berusaha keras, Im Giok lalu menghentikan usahanya. Seulas senyum sedih muncul dibibirnya. Cukup untuk sementara kongkong pasti selamat. batin gadis itu. Istirahatlah kongkong! Giok-ji takkan lama! bisiknya lirih ditelinga Yok-Sian, walau pun tahu bisikannya itu takkan mungkin didengar oleh kongkongnya. Lalu dengan hati berat segera saja tubuhnya melenting dan berkelebat menuju tempat Tok-SengSian-Li berada. Kim Hoa tampak sedang memangku tubuh nenek itu dan sedang berbisik lirih ditelinga gurunya, entah apa yang dikatakannya. Namun air mata telah mengalir dari sepasang matanya yang lebar dan indah. Biar kulihat keadaan subomu! kata Im-Giok pelan pada gadis itu. Kim Hoa mengangguk lalu meletakan tubuh Tok-Seng-Sianli ke tanah dengan sangat hati-hati. Seluruh tubuh nenek itu biru lebam bercampur dengan darah kering kehitaman. Bahkan beberapa luka menganga ditubuhnya tampak diantara sisa-sisa kain baju yang robek dan hancur. Tak tersisa tanda kehidupan yang terpancar diwajahnya, biru memucat seperti mayat. Hati Im Giok menciut tak yakin. Sudah kuhentikan pendarahan subo tapi luka dalamnya terlalu parah! Aku aku tak berani sembarangan bertindak! Im Giok terperangah, semangatnya bangkit. Akan kulihat, kau berjagalah! jawab Im Giok cepat. Jangan khawatir! jawab Kim Hoa penuh kesungguhan sementara pedangnya telah kembali terhunus ditangannya, siap menghadapi segala yang mungkin terjadi. Im Giok tak membuang waktu lagi, segera saja diperiksanya keadaan nenek itu. Kening gadis itu segera saja berkerut dalam, luka Tok-Seng-Sianli ternyata jauh lebih parah dari luka yang

diderita kongkongnya. Tangannya menotok beberapa kali lalu kembali tenaganya disalurkan mencoba menstabilkan kondisi nenek itu. Kembali bau harum obat memenuhi sekujur tubuh gadis itu. Untunglah kongkongnya pernah mengajarinya seluk beluk lweekang beracun Tok-Seng-Sinkang milik nenek itu hingga ia pun tahu bagaimana caranya mengobati luka dalam si nenek. Kalau tidak tentulah sinkangnya telah bertabrakan dengan sinkang Tok-Seng-Sianli sebab sinkang keduanya sama sekali berlainan. Hampir tiga kentungan lamanya gadis itu berkutat dengan cedera Tok-Seng-Sianli sementara gadis yang lainnya berdiri waspada. Matanya sebentar-sebentar melirik sedih ke arah subonya dan Im Giok lalu dilain saat menyambar ganas mengawasi situasi disekitarnya. Hoekkk! Tok-Seng-Sianli beberapa kali memuntahkan keluar darah kental berwarna merah kehitaman. Rupanya usaha Im Giok berhasil juga. Darah yang menggumpal disebelah dalam tubuh nenek itu berhasil didesaknya keluar. Sekarang tinggal mengalirkan sinkangnya untuk menguatkan tubuh dan mengembalikan kekuatan nenek itu. Fuihhh! Kukira nyawa subomu sudah lepas dari bahaya. Untunglah tidak ada jalan darahnya yang rusak. Tapi Isi dadanya terguncang hebat, demikian juga beberapa organ vitalnya terluka Ditambah tulangnya patah di beberapa bagian, tapi untunglah tenaganya masih sanggup melindungi isi dadanya itu dari kerusakan yang lebih hebat lagi! Im Giok menerangkan. Ketegangan dan kecemasan terpancar jelas diwajah Kim Hoa. Jangan khawatir! Harapannya untuk tetap hidup besar, maut telah lewat darinya! Im Giok menenangkan. Ketegangan diwajah Kim Hoa jadi sedikit berkurang. Air mata kembali menggenangi sepasang mata Kim Hoa, rasa syukur dan senang memenuhi hatinya. Walau pun subonya kadang galak luar biasa namun ia tahu, subonya menyayangi dirinya sama seperti subonya menyayangi Yan Ci sumoynya. Apalagi ia pun hanyalah gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh subonya. Baginya subonya adalah pengganti orang tuanya sendiri. Sungguh besar rasa sayang dan terima kasihnya pada Tok-Seng-Sianli subonya, rasa yang berakar dalam dihatinya. Terima kasih Im Giok! Takkan takkan pernah kulupakan budimu ini! bisik Kim Hoa sungguh-sungguh, ucapannya benar-benar keluar dari hatinya yang paling dalam. Im Giok tersenyum lembut. Tak usah sungkan, aku hanya melakukan kewajibanku saja Thianlah yang masih menyayangi nyawa subomu!

Tapi Sudahlah, tak perlu dipersoalkan lagi! potong Im Giok cepat. Mata Kim Hoa makin merah saja, hatinya sungguh terharu akan kebaikan dan kerendahan hati gadis didepannya ini. Harus diakuinya, tidak mudah menemukan orang sebaik gadis ini dan kongkongnya. Orang yang mau menolong tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Terima kasih! bisik Kim Hoa lirih. Im Giok pura-pura tak mendengarnya. Perlahan dihapus keringat yang memenuhi keningnya dengan ujung lengan baju lalu ia pun bangkit berdiri. Hatinya jadi lega namun teringat akan A Sai, hati gadis itu jadi susah kembali. Dimana Sai-te? Apa ia pun terluka? batin Im Giok gelisah dan khawatir. Matanya segera berputar mengawasi dengan seksama areal disekitarnya. Kau pulanglah, bawa subomu! kata Im Giok. Bersihkan luka subomu baik-baik dan taburkan obat ini diatas lukanya lalu bungkus dengan kain bersih! sambungnya lagi sambil menyerahkan sebuah guci kecil berisi ramuan obat luka luar, obat yang tadi dipakainya mengobati luka luar kongkongnya. Mari kita pergi! jawab Kim Hoa cepat. Im Giok menggeleng. Ia tak dapat pergi sebelum tahu pasti bagaimana keadaan adiknya itu. Paling tidak ia harus berusaha mencarinya lebih dulu. Kau pulanglah duluan, aku masih harus mencari A Sai! Kim Hoa sedikit tertegun mendengar perkataan Im Giok itu. Maksudmu A Sai juga ada disini? Sepertinya begitu! Aku tak tahu pasti tapi sebaiknya kuperiksa dulu tempat ini baik-baik sebelum kembali ke rumah! jawab Im Giok kurang yakin. Tapi bagaimana dengan subo dan kongkongmu? Bukankah mereka pun membutuhkan perhatian segera? Jangan khawatir, mereka pasti selamat. Keadaan Sai-te lah yang lebih kukhawatirkan saat ini! Kim Hoa tampak sedikit keberatan namun ia pun dapat memahami kegelisahan Im Giok. Akhirnya setelah terdiam sejenak, ia pun berkata.

Biar kubantu kau mencari A Sai! Tak perlu kau bawa dulu subomu kembali ke rumah! Sekalian tengoklah Yan Ci kalau seandainya aku belum kembali juga, bolehlah kau kembali lagi kesini! Kim Hoa jadi teringat kembali akan sumoynya maka ia pun tak membantah lagi. dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, digendongnya tubuh Tok-Seng-Sianli lalu ia pun berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Im Giok menghembuskan nafas panjang lalu berkelebat mendekati kongkongnya. Dirabanya kembali nadi kongkongnya, hatinya tambah lega ternyata keadaan kongkongnya semakin membaik. Tangannya lalu memijat perlahan tengkuk dan pelipis Yok-Sian, berusaha menyadarkan kakeknya itu. Tak lama berselang, Yok-Sian pun sadar kembali. Ughhh Giok-ji! bisiknya lirih. Im Giok kembali terhanyut dalam kesedihan namun dikuatkan hatinya. Kongkong, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang telah melukai kongkong dan Tok-SengSianli locianpwe seperti ini? tanya gadis itu cepat. Yok-Sian berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya, perlahan ia teringat kembali segala yang terjadi. Mana Sai-ji? Mana Goat Lun? tanya kakek itu. Tok-Seng-Sianli locianpwe telah dibawa Kim Hoa balik ke rumah. Jangan khawatir kongkong, walau kondisinya cukup payah namun nyawanya dapat tertolong! Senyuman tampak tersungging lemah dibibir Yok-Sian, bibir yang pucat dan retak berlepotan darah kering. Mengenai Sai-te Giok-ji tidak tahu! sambung gadis itu. Senyuman si kakek lenyap. Wajah Yok-Sian yang pucat pasi jadi tambah pucat saja mendengar perkataan cucunya itu. Apakah apakah Sai-te juga terluka? tanya gadis itu khawatir, ternyata benar dugaannya kalau adiknya juga ada ditempat ini. Kongkong tak yakin! Coba kau cari dia disana! jawab Yok-Sian lagi. Mata Im Giok segera saja mengikuti arah pandangan kongkongnya, namun gadis itu tak juga beranjak. Ia meragu.

Biarkan kongkong disini, kongkong bisa bertahan! jawab Yok-Sian melihat keraguan hati cucunya itu. Tapi bagaimana kalau musuh yang melukai kongkong kembali ke sini? suara Im Giok terdengar ragu. Gadis itu ragu memutuskan, mencari adiknya ataukah mengurus kongkongnya duluan. Tadinya ia berniat mencari adiknya duluan tapi sekarang ia jadi tak tega meninggalkan kongkongnya begitu saja. Tak ada musuh yang datang! Im Giok tertegun, tak mengerti. Maksud kongkong? Panjang ceritanya, kau cari dulu adikmu! suara Yok-Sian terdengar makin lirih, rupanya percakapan mereka makin menguras tenaganya yang hanya tersisa sedikit itu. Cepatlah! katanya lagi. Hati kakek ini benar-benar dilanda kekhawatiran besar mengingat semua kejadian yang baru saja dialaminya. Bagaimana keadaan Sai-ji nya itu? Selamatkah? Ataukah sudah mati? Yok-Sian tak sanggup membayangkannya. Matanya telah dipejamkan. Ia lelah, benar-benar lelah. Im Giok pun mengangguk, mengeraskan hatinya. Kongkong jika terjadi sesuatu, cepat panggil Giok-ji! pesan gadis itu sebelum tubuhnya bergerak cepat menuju arah yang ditunjuk Yok-Sian. Yok-Sian sudah tak mendengar perkataan cucunya itu. Luka yang dideritanya ditambah lagi dengan bicara sekian lama membuatnya tak tahan lagi. Si kakek telah kembali pingsan. Makin jauh menyusuri arah yang ditunjuk kongkongnya, makin terpana saja hati Im Giok. Kerusakan seperti ini baru sekali dilihatnya tiga tahun lalu saat ia dan kongkongnya menolong penduduk yang desanya terlanda gempa bumi didaerah Kwan-Ga (Luar tembok besar). Keadaan disana kurang lebih sama dengan yang ditemuinya sekarang. Sayang sekali, tadi kongkongnya tidak sempat bercerita mengenai kejadian yang terjadi disitu. Apakah telah terjadi bencana alam ditempat ini? Gempa bumikah? Rasanya tak mungkin Apa hubungannya dengan raungan yang tadi kudengar? hatinya penuh dengan pertanyaan. Hanya kehancuran yang tampak dimatanya, membayang dari balik kabut debu yang mengambang tipis.

Tampak diatas tanah tergeletak sisa-sisa dari beberapa benda yang sepertinya merupakan bagian dari sebuah pohon, tapi sekarang telah hancur tak berbentuk hingga sukar dikenali lagi. Padahal ditempatnya berada sekarang, dulunya terdapat banyak pohon berukuran raksasa, bahkan seingat Im Giok beberapa pohon tersebut ada yang lebarnya mencapai satu setengah tombak. Lereng ini dulunya hijau dan penuh dengan pepohonan yang tumbuh subur, bahkan kalau tidak salah, ada pula reruntuhan kuil disekitar tempatnya berada sekarang. Im Giok mengetahunya sebab hampir seluruh kawasan di lereng Hou-Thian-San (gunung harimau langit) pernah dijelajahinya. Sebab untuk mengumpulkan tetumbuhan dan ramuan obat-obatan ia harus mencari ke semua tempat, lereng ini pun tak terkecuali. Hanya ada beberapa bagian di sisi sebelah timur yang tak mampu dicapainya dikarenakan terlalu terjal untuk didaki. Sekarang lereng yang hijau itu telah gersang dan tandus. Tak ada lagi tumbuhan maupun hewan yang hidup disitu. Gadis itu bergidik. Ia merasa seolah sedang berada didunia lain saja. Bumi tampak kosong dan telanjang. Segalanya tampak diam tak bergerak. Tak terlihat gerakan sama sekali sementara hawa kematian kental mengambang diudara. Kesunyian mencekam tempat itu. Hiiii Suasana kuburan ditengah malam saja masih lebih menyenangkan dibandingkan tempat ini. pikirnya tak nyaman. Angin semilir terus bertiup, dingin membelai membangkitkan bulu kuduknya Apa itu? batin gadis itu lagi, ketegangan mulai menguasainya. Tampak agak jauh didepan sana, sesosok bayangan tergeletak tengkurap diatas tanah sementara uap putih tampak mengambang tipis dari tubuhnya. Tubuhnya tampak menyolok diantara tanah yang tandus dan gersang. Sai-te kah itu? batin Im Giok ragu. Walau harus diakuinya sosok tubuh itu sangat mirip dengan adiknya namun ia meragu. Sai-te! pekik Im Giok memanggil. Tak ada jawaban. Sai-te! Kaukah itu? ulang gadis itu lagi, teriakannya makin bertambah keras. Masih tak ada jawaban dari orang itu sementara Im Giok makin mendekati tempat sosok orang itu terbaring. Pisau bajanya telah dihunus, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Makin mendekati tempat itu makin tegang hati Im Giok. Setelah berada sepuluh tombak jauhnya dari sosok tersebut, gadis itu memekik kaget. Ternyata memang Sai-te nyalah yang terbaring disitu. Seketika tubuhnya bergerak cepat, melejit mendekati tubuh si pemuda. Sai-te! Keadaan adiknya itu ternyata mirip dengan keadaan kongkongnya dan Tok-Seng-Sianli locianpwe. Yang berbeda hanyalah pada tubuh adiknya itu sama sekali tidak terdapat darah setetes pun juga. Sungguh aneh. batin gadis itu. Diperhatikan keadaan A Sai baik-baik. Pakaian adiknya compang-camping dan robek kiri-kanan. Rambutnya yang panjang dan tak pernah diikat itu tampak kusut dan semrawut menutupi wajahnya. Berlawanan dengan pakaiannya yang robek tak karuan, A Sai malah terlihat damai dan tenang. Pemuda itu lebih mirip seseorang yang sedang tidur saja, bahkan nafasnya pun sehalus bayi. Dadanya yang bidang naik turun dengan teratur sementara uap putih tipis tampak mengepul dari tubuhnya. Im Giok tambah tertegun. Apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini? batin gadis itu tak mengerti, rasa penasarannya makin menjadi bercampur dengan kekhawatirannya. Perlahan gadis itu berjongkok disebelah tubuh A Sai terbaring. Diperhatikannya dengan lebih teliti uap putih yang mengepul dari tubuh adiknya itu. Tampak debu yang mengambang pun seperti terbentur balik saat mengenai uap putih tersebut. Perlahan tangannya menjangkau, coba menilai uap apakah itu. Sebelum tangannya menyentuh, getaran kuat telah terasa olehnya. Getaran yang muncul jika lweekang seseorang telah dikeluarkan. Im Giok terpesona, jelas sinkanglah yang menerobos keluar dari tubuh adiknya itu. Bagaimana bisa? Sejak kapan Sai-te mempunyai lweekang setinggi ini? Dalam keadaan tak sadar saja sinkangnya masih mengalir keluar dari tubuhnya, layaknya seorang pengawal menjaga rumah tuannya dari gangguan penjahat. Bagaimana jadinya jika adiknya itu dalam keadaan sadar? Im Giok sungguh kagum dibuatnya berbalik rasa penasarannya pun makin membukit. Sai-te! Bangunlah! Ia tak berani menyentuh tubuh adiknya itu, sudah terlalu banyak masalah yang harus diurusnya dan ia tak ingin menambahnya lagi. Setelah memanggil berulang kali dan tetap tak ada jawaban, akhirnya ia menyerah juga. Pisaunya disarungkan kembali sementara tangannya lalu merogoh ke dalam lengan bajunya. Dikeluarkannya dua buah jarum perak, jarum yang biasa digunakannya untuk mengobati orang sakit.

Perlahan tenaganya dialirkan ke tangan lalu secepat kilat disambitkannya kedua jarum tersebut ke titik darah ditengkuk dan punggung A Sai. Tujuannya untuk menyadarkan pemuda itu dari keadaannya sekarang. HAIIITTT! Jarum-jarum tersebut meluncur dengan deras menuju sasarannya, namun sebelum menyentuh tubuh pemuda itu jarum-jarum tersebut rontok terbentuk uap yang keluar dari tubuh pemuda itu. Im Giok tersentak kaget, paling tidak lima bagian tenaganya telah dikerahkan namun jarumjarumnya itu tetap tak dapat menembus hawa yang melindungi tubuh A Sai. Im Giok jadi penasaran sendiri. Segera dikeluarkannya lagi dua batang jarum lalu disambitkannya kembali ke tempat yang sama. Kali ini tujuh bagian tenaga dikerahkannya. Jarum-jarumnya berhasil melewati uap yang keluar dari tubuh pemuda itu namun jarum tersebut seperti membentur batu saja. Tak mampu menancap di tubuh A Sai. Im Giok makin kagum sekaligus penasaran. Apa yang terjadi? Masakan kulitnya lebih keras dari batu? Atau jangan-jangan lweekang dibadannya telah membuat kulitnya jadi sekeras batu benar-benar tak masuk akal. batin gadis itu penasaran dan tak mengerti. Setahunya, hanya orang sadar saja yang sanggup menyalurkan lweekangnya melindungi tubuhnya. Mana mungkin seseorang yang sedang tak sadarkan diri sanggup menyalurkan lweekang? Ia tak habis pikir berbalik hatinya pun penasaran. Diulangi lagi gerakannya itu. Kembali dua batang jarum menyambar ke tempat yang sama ditubuh A Sai, kali ini tenaga Im Giok dikerahkan sepenuhnya. Ia tak boleh membuang waktu lagi, masih ada kongkongnya yang harus segera diurusnya. Sama saja hasilnya. Kali ini Im Giok benar-benar takjub. Kedua jarum yang telah disambitkannya dengan sepenuh tenaga, ternyata masih tak mampu menembus kekebalan pemuda itu. Benar-benar ajaib! tanpa sadar ucapan tersebut terlontar keluar dari mulut Im Giok. Sementara akibat dari sambitannya itu, menyebabkan tubuh si pemuda jadi terlihat bergerak. Walau pun ketajaman jarum tak mampu menembus kulitnya, bukan berarti dirinya kebal terhadap tenaga yang terbawa dalam jarum-jarum tersebut. Untunglah lweekang yang masih tersisa ditubuhnya melindungnya dari tenaga benturan tersebut. Lweekang yang ada pada jarumjarum itu terasa olehnya hingga menggugah kesadaran A Sai. Sai-te, kau dengan tidak? Sadarlah! pekik gadis itu lagi. Perlahan pemuda itu membuka matanya menatap Im Giok.

Cici suaranya terdengar pelan dan bergetar. Im Giok lagi-lagi terkejut. Sepasang mata yang menatapnya terlalu tajam mencorong. Sinar mencorong yang hanya dimiliki oleh para ahli lweekang saja. Sinar sepasang mata itu saking tajamnya hingga membuat Im Giok tak mampu menatapnya lama-lama. Gadis itu makin tak mengerti berbareng hatinya pun kagum. Kau kenapakah? Apa yang terjadi padamu? tanya Im Giok cemas dan penasaran. Pemuda itu kelihatan tak memahami pertanyaan yang diajukan cicinya itu. Ia tetap diam lalu beberapa saat kemudian, A Sai kembali memejamkan matanya. Sai-te apa yang sebenarnya terjadi disini? Mengapa kau, kongkong dan Tok-Seng-Sianli bisa berada dalam keadaan seperti ini? suara gadis itu makin lama makin meninggi terdorong oleh berbagai pertanyaan yang belum juga terjawab. Tak ada jawaban. Ternyata A Sai telah kembali tertidur. Im Giok mencoba berteriak membangunkan beberapa kali lagi namun kelihatannya usaha gadis itu sia-sia saja. Apa lagi ini? Sungguh aneh dibilang terluka, jelas ia tak terluka. Tapi mengapa tak dapat kusadarkan juga? Biasanya suara selirih apapun mampu didengarnya kenapa sekarang tidak? batin Im Giok tertegun. Uap putih yang mengepul keluar dari tubuh pemuda itu semakin menipis saja hingga akhirnya, uap tersebut berhenti keluar sama sekali. A Sai masih tak bangun juga dari keadaan tidurnya itu. Im Giok kembali berjongkok didekat A Sai, memperhatikan dengan seksama segala perubahan yang terjadi pada diri pemuda itu. Apakah sinkangnya telah tersimpan kembali ke dalam tubuhnya? Atau? Ahhh, tak ada waktu lagi. batin Im Giok, sadar masih ada banyak hal yang harus segera diurusnya. Segera dialirkan sinkangnya ke seluruh tubuh, melindungi setiap jalan darah dan organ vitalnya. Ia tak tahu apakah lweekang ditubuh adiknya itu akan menyerangnya atau tidak namun ia tak ingin mengambil resiko. Perlahan tangannya menjangkau pemuda itu. Tidak ada perlawanan sama sekali dari tubuh A Sai saat tangannya menyentuh bahu pemuda itu, seolah-olah semua sinkang yang tadinya mengeram ditubuh pemuda itu telah terbang entah ke mana. Sungguh aneh batinnya lagi.

Namun tak ada waktu untuk memikirkan semua keanehan itu. Segera saja tubuh A Sai dipanggulnya. Tidak membuang waktu lagi, gadis itu segera mengerahkan ginkangnya meninggalkan tempat itu. Kembali ke tempat kongkongnya berada. Masih setengah jalan ke tempat kongkongnya berada, sesosok bayangan tampak berkelebat dari depan menyambutnya. Im Giok tersentak waspada, seketika gerakannya berhenti. Hendak bersembunyi tapi tak tersisa lagi ditempat itu benda yang dapat dipakainya untuk menyembunyikan dirinya. Terpaksa ia hanya berdiri tegak menanti bayangan yang mendekat tersebut. Kim Hoa. Batin Im Giok lega. Memang Kim Hoa lah yang datang. Rupanya gadis itu telah kembali mencari mereka. A Sai kah itu? tanya Kim Hoa setelah tiba didepan Im Giok. Gadis itu mengangguk lalu sambil bergerak cepat kembali melanjutkan langkahnya. Kim Hoa segera berkelebat membayangi gerakan Im Giok, matanya terus mengawasi dengan ketat keadaan A Sai. A Sai kenapa? tanya Kim Hoa tiba-tiba. Tak tahulah! Saat kutemukan sudah begini keadaannya. Kim Hoa tak bertanya lagi. sebentar saja keduanya telah tiba ditempat Yok-Sian berada. Si kakek tampaknya telah kembali tak sadarkan diri. Kecemasan Im Giok muncul lagi. Biar kubawa kongkongmu! Kim Hoa menawarkan bantuan. Im Giok mengangguk lalu berkata cepat. Mari kita tinggalkan tempat ini! Bertemukah kau dengannya? tanya Kim Hoa tiba-tiba. Siapa? Si penyebab semua masalah ini! Tidak! Kim Hoa tertegun. Benar-benar hebat ilmu orang itu hingga mampu merusak alam seluas ini. Sungguh sukar diukur tingkat kepandaiannya. Bahkan subo dan Yok-Sian locianpwe pun terluka olehnya! kata gadis itu bergidik sementara matanya berputar memandangi kerusakan yang terjadi disitu.

Im Giok menghela nafas panjang, lalu berkata. Kata kongkong tak ada musuh yang datang! Maksudmu semua ini disebabkan oleh subo dan kongkongmu? tanya Kim Hoa tak mengerti. Aku tak tahu! Kongkong tak sempat menceritakannya padaku! Lalu bagaimana Sudahlah, hal itu tak perlu dipikirkan dulu! Yang terpenting sekarang adalah segera mengurus mereka ini! potong Im Giok cepat. Kim Hoa masih tampak penasaran namun ia pun tak bicara apa-apa lagi. Segera saja dipondongnya tubuh Yok-Sian lalu sambil memberi isyarat, tubuhnya berkelebat meninggalkan tempat itu. Im Giok memandang sekelilingnya sekali lagi. Sungguh sayang, alam yang dulunya indah dan permai ini sekarang telah rusak dan hancur. Sambil menghembuskan nafas panjang, tubuhnya pun bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Tempat yang kini tandus dan porak-poranda. *******

Coretan nggak jelas : Sampai disini gue jadi sedikit bingung, hendak dikemanakan arah cerita berikutnya Udah ada beberapa skenario diotak, namun masih berat juga menentukan skenario mana yang sebaiknya digunakan Mau dibuat makin rumit ataukah disederhanakan saja Inilah akibatnya kalau harus nulis ulang, mood-nya udah nggak sama lagi. Bagaimana keadaanmu? tanya Im Giok lembut. Sudah tiga hari tiga malam gadis itu gelisah. Wajahnya tampak kuyu dan jelas kelihatan kurang tidur sementara tangannya membawa sebuah mangkok tanah liat berisi obat yang masih mengepulkan uap. Ruangan itu persegi empat dengan ukuran kurang lebih satu kali satu tombak. Dindingnya terbuat dari kulit kayu yang dianyam secara sembarangan sementara lantainya hanya tanah saja. Tidak ada jendela sama sekali, makin menambah kesuraman dalam kamar itu. Berbagai macam tumbuhan dan akar-akaran obat tampak menggantung didinding dan langitlangit kamar. Satu-satunya perabotan yang ada disitu hanyalah sebuah pembaringan kayu yang

kasar buatannya dialasi dengan sehelai kulit harimau. Dipembaringan itulah tampak A Sai sedang terbaring sementara bau obat-obatan kuat tercium di udara. Kamar ini dulunya merupakan gudang bahan obat dan rempah, namun karena kedatangan Tok-Seng-Sianli dan kedua muridnya maka A Sai terpaksa mengungsi ke situ. Cici Apa Apa yang terjadi? tanya pemuda itu lemah, masih belum sadar sepenuhnya. Im Giok senang hatinya, adiknya telah sadar kembali. Cici tidak tahu, seharusnya Sai-te yang memberitahukannya pada cici! suaranya terdengar bergetar bercampur keharuanan. A Sai memejamkan matanya. Perlahan dirinya teringat kembali kejadian pada hari itu. Tentang segala pertarungan antara kongkongnya dan nenek berangasan itu serta tentang tenaganya yang naik dan tak mampu dikendalikannya lagi. A Sai mengeluh dalam hati, ia sungguh berharap ia tidak salah tangan lagi kali ini. Waktu kami menemukanmu hari itu, kau sedang dalam keadaan pingsan. Demikian juga kongkong dan Tok-Seng-Sianli locienpwe. Yang anehnya mereka terluka parah sedangkan dirimu tidak! Im Giok diam sejenak memperhatikan reaksi adiknya lalu melanjutkan kembali ucapannya. Sebenarnya apakah yang terjadi saat itu? Terlalu banyak pertanyaan yang bertumpuk dikepala gadis itu hingga ia tidak tahu harus menanyakan yang mana duluan. Sai-te ceritakanlah pada cici! kata gadis itu lagi, walau masih terdengar lembut namun ketegasan tampak jelas dalam nada suaranya. A Sai terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia bercerita. Segala kejadian dari awal sampai akhir diceritakannya semua semampu yang diingatnya. Tidak ada satu pun yang ditutupi. Im Giok tertegun, setengah tak percaya. Sungguh tidak masuk diakal segala perkataan adiknya itu. Pikirannya makin bertambah ruwet saja. Tak pernah disangkanya kejadiannya akan seperti ini. Semula disangkanya mereka bertiga terluka oleh orang lain, orang yang jauh lebih sakti dari kongkongnya dan Tok-Seng-Sianli locianpwe. Tapi kalau begini? Ia tak tahu harus berkata apa. Bagaimana dengan si nenek berangasan itu? Maukah ia menerima kenyataan tersebut? Ia ragu.

Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi? Dari manakah datangnya tenagamu itu? Cici masih tidak mengerti! katanya pelan. A Sai tampak berpikir keras, kali ini tak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Kalau menyangkut tenaga yang ada dalam tubuhnya ia sendiri tidak terlalu yakin darimana datangnya. Kalau tenaganya sampai dapat bangkit bahkan melonjak beberapa kali lipat dari semula, mungkin ia masih bisa menerangkannya walaupun ia sendiri tidaklah terlalu pasti apakah benar demikian yang terjadi. Jangan bilang kau sendiri tidak tahu akan tenaga yang ada dalam tubuhmu? tanya Im Giok lagi melihat keraguan yang tampak jelas dalam sikap si pemuda. Kenyataannya memang demikian! A Sai tidak tahu dari mana datangnya tenaga itu! jawabnya perlahan. Masakan kau tidak tahu? Yang benar saja! Im Giok tak percaya. A Sai benar-benar tak tahu A Sai baru mengetahui keberadaan tenaga itu sewaktu A Sai bertarung melawan Thio Yan Ci. Sebelumnya A Sai bahkan tidak mengetahuinya sama sekali! jawabnya berusaha meyakinkan cicinya. Im Giok melenggak, adiknya ini benar-benar menyimpan banyak teka-teki. Teka-teki yang bahkan adiknya sendiri tak mengetahui jawabannya. Coba kalau ingatannya itu tidak hilang, tentu menarik sekali mendengar riwayat hidupnya itu. Jangan-jangan masih ada hubungannya dengan titik Seng-Si-Hian-Koan (Menembus pintu hidup dan mati) mu yang tertembus itu? A Sai terdiam, benarkah demikian? Ia tak tahu. Cici kira itulah penjelasan yang kelihatannya paling masuk akal melihat keadaanmu saat ini! Mungkin saja, cuma A Sai tidak tahu apakah benar demikian ataukah bukan! jawab pemuda itu ragu. Pastilah demikian, menurut kongkong titik itu hanya bisa ditembusi oleh lweekang yang maha kuat saja. Jika titik Seng-Si-Hian-Koan ditubuhmu telah tertembus maka hal itu hanyalah menjelaskan satu hal saja, tentunya tenaga itulah yang telah menembus titik tersebut. Tapi ah sudahlah, kelak kita tanyakan saja pada kongkong. Kongkong tentu dapat menjelaskannya! A Sai hanya mengangguk. Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Cici A Sai memanggil.

Ada apa? Bagaimana keadaan kongkong dan Tok-Seng-Sianli locianpwe? tanyanya takut-takut. Tak usah khawatir, walau terluka cukup parah tapi keduanya tertolong! Bahkan mereka pun telah lebih dulu sadar darimu! jawab gadis itu pelan. A Sai termenung, ia telah kembali salah tangan. Jangan takut, keadaan keduanya makin membaik. Mereka pasti selamat dan bakalan kembali seperti sedia kala lagi! jawab Im Giok menenangkan. Pemuda itu jadi lega sedikit, paling tidak keadaan mereka orang tua tidaklah separah keadaan Thio Yan Ci yang sampai kehilangan lweekangnya. Sekarang apa yang kau rasakan? Apakah ada sesuatu yang kau rasakan aneh dengan tubuhmu? Atau adakah bagian yang terasa sakit? tanya Im Giok menyelidik. Sepertinya tak ada cici! Kau yakin? Yakin cici! Rasanya tidak ada yang salah, A Sai hanya merasa sedikit mengantuk saja! jawab pemuda itu lagi. Im Giok memperhatikan lebih teliti, kelihatannya memang tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan pada diri pemuda itu. Ia jadi makin lega. Kau istirahatlah dulu, nanti cici balik lagi menengokmu! Oya jangan lupa minum obat penguat badan ini! Sai-te jangan terlalu dipikirkan apa yang telah terjadi. Istirahatlah saja, semuanya bisa dibicarakan lagi nanti! pesan Im Giok sebelum meninggalkan kamar itu. A Sai mengangguk lesu. Sekarang pun tubuhnya sudah terasa sehat kembali, sama sekali tak ada perasaan sakit atau ada yang salah ditubuhnya itu. Bahkan boleh dibilang, ia merasa jauh lebih sehat dari sebelumsebelumnya. Ia hanya merasa sedikit mengantuk saja. Tidak yang lainnya. Diminumnya obat yang diletakkan cicinya disitu, lalu perlahan dibaringkan kembali tubuhnya. Sebentar saja ia telah bertualang ke alam mimpi. ******* Keesokan harinya saat matahari belum lama terbit, A Sai telah bangun. Tubuhnya benar-benar terasa segar dan nyaman, sama sekali tak ada tanda-tanda adanya sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, segera saja pemuda itu menuju kamar

kongkongnya. Banyak hal yang ingin diceritakan dan ditanyakan pada kongkongnya itu, tapi yang terutama adalah untuk menengok kesehatan Yok-Sian. Hatinya takkan tenang sebelum melihat langsung bagaimana kondisi kesehatan kongkongnya itu. Tampaknya kongkong sedang siulian (meditasi), Kalau ingin bertemu kongkong, inilah waktu yang terbaik mumpung Giok-cici (kakak Giok) sedang keluar. Batinnya, Ia tahu kongkongnya sedang siulian sebab suara pernafasan Yok-Sian terdengar teratur menurut ritme tertentu. Ia pun tahu saat ini Im Giok cicinya dan Kim Hoa sedang tak berada dirumah sedangkan nenek itu dan muridnya yang lain masih tidur. Semua itu diketahuinya sebab telinganya yang tajam mampu menangkap setiap suara sekecil apa pun dalam jarak 20 tombak dari tempatnya berada. Otomatis keadaan seluruh isi rumah ini pun diketahuinya dengan pasti. Tok.. tok.. tok! diketuknya perlahan pintu kamar Yok-Sian. Kongkong! panggilnya hati-hati, takut membangunkan yang lain. Terdengar helaan nafas Yok-Sian. Masuklah! Tak menunggu lama, A Sai pun masuk. Si kakek tampak sedang duduk diatas pembaringan sambil bersandar pada dinding dibelakangnya. Bajunya diletakkan disisinya sedangkan sebuah perban tampak masih melingkari pundaknya. A Sai tersentak. Apa yang terjadi dengan pundak kongkong? tanyanya cepat. Ini? Tak apa-apa, hanya sedikit luka luar saja Paling besok atau lusa juga sembuh! jawab Yok-Sian tenang. Bagaimana keadaanmu sendiri? tanya Yok-Sian sembari memperhatikan keadaan A Sai dengan teliti. A Sai jadi tambah sedih, dalam keadaan terluka pun kongkongnya masih mengkhawatirkan dirinya. Tidak ada tanda-tanda kemarahan, kegusaran atau pun kekecewaan pada diri kongkongnya, yang ada malah bayangan kekhawatiran akan keadaannya. Rasa haru memenuhi diri si pemuda bercampur dengan berbagai perasaan lain yang sebelumnya telah ada disitu. A Sai baik saja kongkong, bahkan rasa badan A Sai jauh lebih baik dari sebelumnya! jawabnya pelan. Syukurlah! bisik Yok-Sian lega.

Luka kongkong sendiri bagaimana? tanyanya khawatir sambil berjalan mendekati pembaringan Yok-Sian. Hanya luka biasa, tak ada yang perlu dikhawatirkan! Jawaban Yok-Sian terdengar seperti tidak terlalu peduli dengan kesehatannya sendiri. Namun A Sai tahu, kongkongnya sengaja bersikap demikian untuk menenangkan dan mengurangi kegelisahan dan rasa bersalah dihatinya. Menurut cici, kongkong dan Tok-Seng-Sianli locianpwe terluka parah dan itu semua karena A Sai! A Sai A Sai mohon ampun kongkong! Ia benar-benar menyesal, karena ingin tahu akan tenaga ditubuhnya ia telah melukai orang yang disayanginya. Walau pun perbuatannya itu terjadi secara tak disengaja tapi tetap saja mengakibatkan nyawa kongkongnya berada dalam bahaya dan hal itulah yang sangat ia sesali. Tak usah terlalu dipikirkan, toh semuanya terjadi tanpa disengaja Apalagi kau pun tak bermaksud demikian, benarkan? Yok-Sian menenangkan sekaligus mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Si pemuda hanya mengangguk lesu. Anggukan kepala A sai membuat Yok-Sian lega. Ternyata perkiraannya tidaklah salah. Semua kejadian itu memang tak disengaja oleh cucunya ini. Pemuda itu memandang kongkongnya dengan sedih, hatinya terpukul. Tak perlu bersedih nak, semuanya terjadi diluar kehendakmu. Tak perlu menyalahkan diri sendiri! kata Yok-Sian lemah, rongga dadanya masih terasa sakit hingga kini. A Sai tak menjawab sementara Yok-Sian mengawasinya dengan teliti. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Sai-ji, pernahkah kau belajar Jit-Sian-Tong-Te (tujuh dewa turun ke bumi)? tanya kakek itu tiba-tiba. A Sai melenggak. Rasanya tidak pernah kongkong! jawabnya lesu. Begitukah? Hmm Lalu pernahkah kau mendengar tentang Mo-Kau (partai iblis/sesat)? tanya Yok-Sian lagi. A Sai tak dapat meraba arah pertanyaan kongkongnya itu. Tidak pernah kongkong! jawab pemuda itu tegas sambil mengelengkan kepalanya.

Yakinkah kau? A Sai yakin! Bahkan mendengarnya saja baru kali ini! jawabnya. Yok-Sian menghela nafas panjang lalu mendadak terbatuk. Lukanya terasa nyeri kembali. Sementara pemuda didepannya memandangnya dengan sinar mata penuh tanda tanya bercampur kekhawatiran. Mungkin Mungkin sebaiknya kongkong beristirahat saja dulu, akan A Sai panggilkan cici ke sini! katanya pelan. Tubuhnya lalu berbalik dan segera melangkah hendak keluar dari kamar. Sai-ji tunggu sebentar, kongkong masih ingin bicara denganmu! kata Yok-Sian mencegah. Tapi Tak perlu cemas marilah, ada beberapa hal yang ingin kongkong tanyakan! A Sai tak sanggup menolak lagi, dengan sedikit terpaksa ia pun kembali ke tempatnya semula. Baik kongkong! Tapi jangan lama-lama, kongkong masih harus banyak beristirahat! katanya cerdik mengingatkan akan kesehatan si kakek yang belum baik benar. Yok-Sian tak menanggapi. Ia mengatur nafasnya, lalu mulai berbicara. Bagaimana keadaanmu nak? A Sai baik saja kongkong! Yok-Sian mengamatinya dengan seksama. Ada beberapa hal yang ingin kongkong tanyakan padamu. Sebenarnya apakah yang terjadi saat itu? bagaimanakah caramu membangkitkan tenaga yang tertidur dalam tubuhmu itu? tanya si kakek. Maksud kongkong, kau tahu sendiri bagaimana sulitnya membangkitkan lweekang dalam tubuhmu itu. saat kita mencobanya pun kau tak mampu membangkitkannya. Lalu dengan cara bagaimanakah kau membangkitkannya saat itu? kongkong ingin tahu! Yok-Sian menjelaskan maksudnya. A Sai tidak begitu pasti! A Sai terdiam sesaat, menimbang bagaimana menjawab pertanyaan kongkongnya itu.

Semuanya bermula saat tongkat emas Tok-Seng-Sianli locianpwe dan pisau kongkong mengenai lonceng tembaga itu. Suara benturan itulah yang membangkitkan lweekang yang ada ditubuh A Sai! Begitukah? Benar kongkong! A Sai menduga kalau penyebab kebangkitan lweekang A Sai itu adalah suara benturan tersebut! jawabnya. Sepertinya ada nada tertentu yang mempunyai efek terhadap lweekang liar ditubuh A Sai. Jika nadanya sesuai, lweekang tersebut dapatlah dibangkitkan dari tidurnya! A Sai menjelaskan. Maksudmu sekarang kau telah dapat membangkitkan tenagamu itu? tanya si kakek setengah tak percaya. Kelihatannya demikian kongkong! Yok-Sian termenung, penjelasan cucunya itu agak diluar pemikirannya semula. Semula dipikirnya lweekang si pemuda bangkit secara otomatis jika dirinya berada dalam keadaan terancam bahaya saja, tapi jelas sekarang cucunya telah mengalami kemajuan. Mampu membangkitkan tenaga yang berada dalam tubuhnya itu semaunya. Namun ketika dirinya teringat kembali akan kedahsyatan tenaga yang dimiliki A Sai, mau tak mau Yok-Sian jadi tak tenang hatinya. Dengan kekuatan sedemikian besarnya, akan sangat berbahaya bagi cucunya dan orang lain jika tenaga tersebut dibangkitkan, paling tidak sampai cucunya mampu mengendalikan besar kecilnya lweekang yang dikeluarkan barulah hatinya bisa merasa tenang. Bagaimana menurut kongkong? Pertanyaan A Sai menggugah Yok-Sian dari lamunannya semula. Kongkong perhatikan, saat suara lonceng terdengar tenagamu memang keluar namun beberapa saat kemudian, sepertinya lweekangmu kembali meningkat beberapa kali dari semula. Paling tidak ada dua kali tenagamu itu mengalami peningkatan. Yang kongkong ingin tahu bagaimana caranya tenagamu itu meningkat lagi? si kakek penasaran. Itu karena tanpa sengaja bunyi benturan lonceng tersebut A Sai siulkani! Maksudmu? Dua kali yang berikutnya, suara tersebut A Sai tirukan bunyinya lewat siulan! jawabnya menerangkan. Kau hafal bunyi benturan tersebut? Yok-Sian sendiri tak mengingat lagi bunyi tersebut. Seandainya disuruh menirukan sekarang, ia yakin dirinya takkan sanggup melakukannya.

Kenyataannya memang demikian kongkong! jawab A Sai menegaskan. Kau kau ingat bunyinya? tanya si kakek tak percaya. A Sai ingat kongkong! Dalam situasi demikian kau masih menyempatkan diri untuk mengingat suara benturan tersebut? tanya Yok-Sian masih tak percaya. A Sai mengangguk. Bagaimana Yok-Sian bisa percaya? Normalnya saat nyawa terancam bahaya, satu-satunya hal yang terpikir tentulah bagaimana meloloskan diri dari situasi yang berbahaya itu. Hal lain tentulah takkan diperhatikan lagi. Tingkah polah A Sai yang masih sempat membagi perhatiannya untuk memperhatikan segala macam bunyi dan suara itu sungguh mengherankan hatinya. Lagipula sekali mendengar sanggup menirukan nada yang didengar merupakan suatu hal yang tidak biasa. Hal ini hanya membuktikan beberapa hal saja. Ketenangan batin si pemuda dalam menghadapi situasi genting sepertinya diatas normal. Daya ingatnya pun tentulah luar biasa baiknya, sekali mendengar langsung dapat mengingatnya. Masih ditambah lagi dengan daya konsentrasinya, ia masih sanggup berkonsentrasi memusatkan pikiran tanpa terpengaruh lingkungan sekitarnya yang genting itu. sungguh Yok-Sian tak habis pikir berbareng hatinya pun kagum. Kenapa dalam keadaan sehari-hari sifatnya yang demikian itu seperti tidak kelihatan sama sekali? Ia malah cenderung untuk terpengaruh dengan lingkungan dan situasi yang dihadapinya, cenderung bertindak menuruti kata hati. Mungkin mungkin usia mudanya itulah yang lebih banyak mempengaruhi sikapnya. batin Yok-Sian. Kalau saja sifatnya sehari-hari sama seperti saat tersebut, ia bakal menjadi seorang yang luar biasa Sayang, ia masih labil dan sering terbawa perasaannya sendiri. batin si kakek lagi. Kenapa kau naikkan sampai dua kali, saat tenaga itu bangkit saja kau masih tak mampu mengendalikannya, kenapa harus dinaikkan sampai dua kali lagi? Soalnya A Sai ingin tahu benarkah nada yang A Sai dengar itu sanggup membangkitkan lweekang yang tertidur dalam tubuh A Sai. A Sai terpaksa kongkong! jawabnya jujur. Yah sudahlah! Cuma lain kali jangan lagi bangkitkan sampai sedemikian tingginya sebelum kau sanggup mengendalikannya. Bukannya apa dengan melakukan demikian sama saja dengan kau mencelakakan dirimu sendiri, belum lagi orang lain yang berada disekitarmu. kata si kakek lagi A Sai termenung, ucapan kongkongnya itu disadari kebenarannya. A Sai A Sai lupa diri saat itu, saking senangnya dengan hal yang baru saja A Sai temukan hingga lupa memikirkan hal yang lainnya lagi! jawabnya pelan.

Kongkong hanya berharap, lain kali kau lebih berhati-hati lagi Sai-ji, maukah kau memenuhinya? A Sai akan berusaha sekuat tenaga! jawabnya pasti. Hehehe! si kakek jadi senang hatinya. Kau tak usah khawatir, soal mengendalian tenagamu itu dapatlah kau pelajari secara perlahan. Kongkong dapat membantumu selangkah demi selangkah! Benarkah kongkong? tanya si pemuda menahan kegembiraan hatinya mendengar perkataan kongkongnya itu. Tentu saja! Terima kasih kongkong! A Sai akan belajar sebaik mungkin! A Sai takkan mengecewakan kongkong lagi! Kau tak pernah mengecewakanku nak. Agaknya sudah takdir Thian, kongkong akan membantu semampunya! janji Yok-Sian. Sekarang kau panggillah cicimu kesini! katanya lagi. Baik kongkong! Dipandangnya sosok cucunya itu yang melangkah keluar meninggalkan kamar. Hati Yok-Sian penuh dengan beban, beban yang mau tak mau harus dipikulnya juga. Agaknya Thian memang telah menentukan, dipundaknyalah terletak kewajiban untuk mendidik pemuda ini menjadi seorang yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Si kakek menghela nafas panjang, semoga waktunya masih cukup untuk mendidik A Sai. ******* Hampir seminggu lamanya Im Giok nyaris tak tidur, kerepotan mengurus orang sakit. Tidak tanggung lagi, sekaligus 4 orang yang harus diurusnya. Untunglah keadaan Thio Yan Ci dan A Sai makin membaik saja hingga waktunya dapat lebih dicurahkan mengurus kongkongnya dan Tok-Seng-Sianli. Luka dalam yang diderita Yan Ci telah sembuh hanya tertinggal luka luarnya saja yang masih membutuhkan perawatan intensif. Gadis itu sekarang telah dapat turun dari pembaringannya, suatu hal yang sama sekali belum diinginkan oleh Im Giok. Namun kekerasan hatinya benarbenar memusingkan Im Giok sebab sulit sekali menyuruh gadis itu untuk tetap tinggal diatas tempat tidurnya.

Pusingnya pun seolah makin bertambah dengan sikap si gadis yang sangat membenci A Sai adiknya. Jika ada A Sai disitu otomatis bayangan Yan Ci takkan kelihatan, begitu pun sebaliknya. Keduanya saling menjaga jarak dengan ketat, agaknya masing-masing masih sulit melupakan pertengkaran yang pernah terjadi diantara mereka. Jika tanpa sengaja keduanya berpapasan, umpatan dan sindiran bakal diterima A Sai. Untunglah sekarang A Sai lebih mampu mengendalikan perasaannya, tidak lagi mudah terpancing dengan sikap si gadis yang seenaknya itu. Agaknya kejadian demi kejadian yang dialaminya selama beberapa hari terakhir membekas dihatinya dan membuat kesabarannya makin meningkat saja. Namun tak urung Im Giok kasihan juga melihat adiknya itu menerima segala umpatan dan sindiran Thio Yan Ci. Dirinya dan Kim Hoa baru saja balik dari sungai. Saat sampai dirumah, segera saja Im Giok bergegas menuju ke halaman belakang diikuti Kim Hoa. Selama tinggal disitu, Kim Hoa selalu membantunya mencari ramuan obat dan merawat kebun obat-obatan mereka. Rupanya gadis itu tertarik akan ilmu pengobatan. Halaman belakang rumah itu dipenuhi dengan berbagai tumbuhan obat yang memang ditanam oleh Yok-Sian dan Im Giok. Sementara satu dua pohon besar menaungi tempat itu, makin menambah keteduhan dan kenyamanan suasana disitu. Tak berapa lama kemudian, Thio Yan Ci pun turut bergabung dengan mereka. Sudah kebiasaannya untuk setiap ada waktu, duduk melamun disitu. Melihat kedatangan gadis itu, Im Giok segera menghampiri. Biar kuganti perbanmu! katanya lembut Yan Ci hanya mengangguk tak acuh. Segera saja gadis itu masuk ke dalam rumah, tak berapa lama kemudian Im Giok telah kembali membawa peralatan yang diperlukan. Tangannya segera bekerja, gesit mengganti perban dan membalurkan obat sementara pasiennya menatap langit, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi disitu. Sambil bekerja mereka bercerita. Lebih tepatnya lagi ia dan Kim Hoa yang bercerita mengenai segala kejadian yang terjadi beberapa hari ini sedang Yan Ci hanya duduk diam saja, melamun lagi tampaknya. Saat itulah A Sai muncul dari pintu belakang rumah. Begitu melihat A Sai, kontan Yan Ci jadi histeris. Seperti melihat setan saja sikapnya. Mau apa kau? Pergi sana! Jangan dekat-dekat ke sini! bentak gadis itu sengit, sikapnya yang semula diam tenang jadi berbalik seratus delapan puluh derajat. A Sai tampak terkejut sekali mendengar teriakan gadis itu, dengan wajah kemerahan menahan malu ia berkata cepat.

Cici dipanggil kongkong! Im Giok mengangguk. Kau temani kongkong dulu, sebentar lagi cici menyusul ke sana! jawabnya. Kelihatannya masih ada yang ingin diucapkan pemuda itu, namun agak ragu tampaknya. Hey sudah selesai bicara? Tunggu apa lagi? Cepat pergi dari sini! Suara Yan Ci kembali terdengar membentak A Sai. Wajah si pemuda makin kemerahan saja. Tanpa bersuara, ia bergegas meninggalkan tempat itu. Kasihan Sai-te, tapi biarlah hitung-hitung melatih kesabarannya. batin Im Giok iba menyaksikan sikap Yan Ci pada A Sai itu. Kim Hoa yang kelihatannya tak bisa menerima segala kekasaran sumoy (adik seperguruan) nya itu. Sumoy apa-apaan kau? Sikapmu benar-benar kelewatan! katanya menegur. Kelewatan bagaimana? Huhh masih untung tidak kugampar muka dungunya itu! dengus Yan Ci marah-marah. Im Giok mengerutkan keningnya, ucapan si gadis sedikit banyak menyinggung perasaannya. Benar-benar keterlaluan gadis yang satu ini, bicara seenaknya tanpa menghiraukan perasaan orang yang mendengarkan ucapannya itu. Sekarang ia makin mengerti mengapa A Sai yang biasanya tenang jadi kehilangan kesabarannya menghadapi Yan Ci, rupanya sikap gadis itu memang kasar dan seenaknya sendiri. Persis Tok-Seng-Sianli gurunya. Jangan sembarangan kalau ngomong! bentak Kim Hoa tak senang, terkejut juga dirinya mendengar ucapan yang terang-terangan menghina A Sai itu. Memangnya ia salah apa padamu? Melihat sikapmu yang begini ini, tak heran kalau kau sampai terluka! sambung Kim Hoa lagi, membela A Sai. Yan Ci tak mampu menjawab sementara wajahnya mulai kemerahan. Bibirnya pun manyun menunjukkan protes yang ada dihatinya. Kalau bukan karenanya, tak mungkin diriku kehilangan kungfu! terdengar jawabannya membela diri. Kim Hoa mengerutkan keningnya. Lho apa tidak terbalik? tanyanya.

Maksud suci (kakak seperguruan)? Kalau bukan karena dirimu yang keterlaluan, bukankah ia tak perlu repot menghilangkan kungfumu? sindir Kim Hoa mengingatkan. Wajah Yan Ci jadi merah padam. Tapi Sudahlah, dalam masalah ini jelas kaulah yang salah! potong Kim Hoa cepat. Suci telah mendengar kejadian tersebut dan menurut suci jelas sumoylah yang harus disalahkan. Lagipula atas dasar apa kau menghendaki nyawanya? Kalau saat itu ia tak melawan, bukankah dirinya yang mati ditanganmu? Kalau ia yang mati, bagaimana kau mempertanggungjawabkannya pada subo dan Yok-Sian-San-Jin locianpwe? sambung Kim Hoa lagi. Wajah Yan Ci sebentar pucat sebentar merah. Saat itukan sumoy sama sekali tidak tahu kalau ia itu murid Yok-Sian-San-Jin locianpwe! Dengan sikapmu yang main hantam begitu, bagaimana mungkin ia sempat menjelaskannya? kata Kim Hoa makin memojokkan. Sekali lagi Yan Ci terdiam, tak tahu bagaimana membela dirinya. Lagi pula kenapa tidak kau tanyakan dulu siapa dirinya? tanya Kim Hoa lagi. Karena karena Karena kau terlalu sibuk untuk merampas ikannya! potong Kim Hoa lagi. Aku tidak merampasnya, kan sudah ku minta baik-baik! Minta baik-baik? Dengan pedangmu? Itu itu karena ia mengata-ngatai dan menghinaku! Ia mengataimu sebab kau yang lebih dulu mengatainya bukankah demikian? Yan Ci tak mampu menjawab lagi, segala pembelaannya gugur ditebas sucinya itu. Kau seharusnya bersyukur, disaat terakhir ia masih mengampuni nyawamu! Bayangkan satu hal Seandainya kau tanpa sebab yang jelas dihina orang, lalu orang itu pun hendak merampas sesuatu milikmu masih ditambah lagi orang tersebut menyerangmu dengan tujuan mengambil nyawamu Apa yang akan kau lakukan? Membela diri bukan? Itulah yang

dilakukan A Sai saat itu! Tidak hanya A Sai, suci yakin semua orang pun akan melakukan hal yang sama jika berada dalam situasi demikian! Kim Hoa melanjutkan ucapannya. Suci malah kagum padanya Walau pun dalam situasi yang demikian, ia masih tak mencabut nyawamu. Padahal kalau ia mau, tentunya mudah saja baginya untuk membunuhmu! Bahkan setelah kau terluka parah begitu, ia masih berusaha menolongmu! Kau tahu apa artinya? Artinya ia bukanlah seorang jahat dan patut kau perlakukan seperti tadi. Sebab kalau ia seorang yang berhati jahat, tentulah saat ini kau telah mati tanpa diketahui lagi rimbanya! Yan Ci tertegun, perkataan sucinya itu baru sekarang disadarinya. Tapi mana mau ia mengakui segala kesalahannya itu? Tapi ia ia bersikap tidak sopan padaku! protes Yan Ci lagi, masih mencoba menjatuhkan A Sai Tidak sopan bagaimana? Ia tanpa permisi lagi langsung langsung ucapannya terdengar ragu-ragu untuk dilanjutkan. Langsung kenapa? Langsung langsung saja memondongku! wajah si gadis makin kemerahan saja. Memangnya dikira siapa dirinya? Main pegang seenaknya saja! suaranya makin meninggi sementara urat besar dilehernya telah menegang kaku tanda emosi yang makin meningkat. Kim Hoa jadi geli sendiri mendengarnya, rupanya itulah salah satu penyebab sumoynya sulit melupakan masalah yang terjadi diantara mereka. Tapi ia pun dapat memaklumi alasan A Sai memondong sumoynya. Oleh karena itu ia pun tak dapat menyalahkan pemuda itu, situasilah yang memaksanya berbuat demikian. Sayangnya hal tersebut akan sulit dilupakan begitu saja oleh sumoynya yang keras kepala dan angkuh ini. Perbuatan A Sai itu tentulah dianggapnya sebagai suatu penghinaan besar terhadap dirinya. Bukankah ia terpaksa memondongmu karena harus membawamu mencari pertolongan? Kalau tidak dengan cara demikian, bagaimana mungkin ia dapat membawamu? Apa dengan cara menyeretmu kian ke mari? tanya Kim Hoa lagi. Tapi tapi ia kan bisa minta izin dulu sebelum sebelum memondongku! bela Yan Ci lagi. Setiap kali teringat akan kejadian tersebut, hatinya jadi panas kembali. Sebab itulah pertama kalinya dirinya disentuh lelaki. Bukan disentuh biasa, dipondong malah. Perbuatan A Sai itu tak dapat diterimanya begitu saja. Seandainya ia meminta izin, maukah kau mengizinkannya memondongmu? tanya Kim Hoa lagi.

Tentu saja tidak! pekik Yan Ci gusar. Kalau begitu tak perlu lagi menyalahkannya! Ia terpaksa melakukannya karena ia tahu kau takkan mungkin mengizinkannya memondongmu. Apalagi situasimu saat itu sedang terluka parah, mau tak mau ia terpaksa melupakan sopan santun demi menyelamatkan nyawamu! Tapi Sudahlah suci tahu bagaimana perasaanmu, tapi suci pun tak dapat menyalahkan perbuatan A Sai itu. Semua itu terpaksa dilakukannya demi kepentinganmu semata! Segala ucapan sucinya itu tak mampu diterimanya. Tapi biar bagaimana pun ia tak ingin bertengkar dengan sucinya sebab hanya sucinyalah yang merupakan satu-satunya orang yang selama ini dekat dengannya. Akhirnya hanya air mata yang tampak menetes dipipi gadis itu. Segala kegusaran dan ketidak-puasannya hanya bisa dicurahkannya lewat air mata. Kim Hoa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Sumoy dalam segala hal suci selalu membelamu! Pernahkah suci memperlakukanmu secara tidak adil? tanya Kim Hoa lagi pada Yan Ci sumoynya, tak tega juga hatinya melihat sumo ynya itu menangis. Yan Ci menggeleng. Dengan lembut Kim Hoa merangkul sumoynya. Dalam hal ini pun suci memperlakukanmu dengan adil! Apa kau tahu saat suci meminta ikan yang dibawanya, ia lalu memberikannya pada suci tanpa minta imbalan? Suci yakin seandainya kau memintanya baik-baik, pastilah ia mau meluluskan permintaanmu! Yan Ci melenggak, tak pernah disangkanya A Sai mau melakukan hal seperti itu pada sucinya. Ia berbuat begitu semata-mata hanya karena mempunyai maksud tertentu pada suci. batin Yan Ci keras kepala. Itulah sebabnya suci dapat memastikan kalau pada dasarnya hati A Sai baik! kata Kim Hoa lagi. Yan Ci makin terisak dalam rangkulan sucinya. Kejengkelannya pada diri A Sai makin meningkat saja. Bahkan sucinya yang selalu membelanya pun sekarang jadi berbalik menentangnya. Padahal tadinya ia sudah yakin kalau sucinya bakalan membelanya. Sungguh tak puas hati gadis itu. Lalu bagaimana dengan subo yang dilukainya?

Itu pun terjadi secara tidak disengaja, sama seperti saat ia bertempur melawanmu! Kau lupa? Bukan hanya subo yang terluka, bahkan gurunya pun terluka dalam kejadian waktu itu! Yan Ci kehabisan akal. Sejak dahulu ia tidak pintar berbicara. Itulah sebabnya ia lebih suka bicara dengan pedangnya daripada dengan mulutnya. Berdasarkan pengalamannya selama ini, pedang lebih berguna dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Hanya saja ia ketemu batunya saat berbicara dengan A Sai. Suci sumoy takut selamanya ilmu silat sumoy takkan bisa kembali lagi seperti semula! Sumoy tak sanggup memikirkannya Jika demikian yang terjadi, lebih baik sumoy mati saja! Hush.. jangan bicara begitu! Jangan khawatir, pasti ada jalan untuk menyembuhkanmu! Kim Hoa menenangkan. Benar! Kau pasti sembuh! Im Giok pun turut membesarkan hati gadis itu. Yan Ci makin tersedu saja. Ini semua gara-gara A Sai. Jika sampai ilmu silatnya tak bisa kembali lagi, maka sebelum ia bunuh diri A Sai harus mati duluan. Amarah dan dendam dihatinya makin berkobar. Tapi didepan mereka ia tak mungkin lagi menunjukkan kemarahannya itu. Kelihatannya pemuda sialan itu merupakan pujaan orang-orang disini. Sungguh ia tak mengerti mengapa. A Sai tunggu saja pembalasanku. Mulai saat ini, akan kubuat hidupmu menderita! tekad Yan Ci dalam hati. ******* Kondisi Tok-Seng-Sianli ternyata tidak separah dugaan Im Giok semula. Walau kelihatan dari luar lukanya sangat parah, namun sebenarnya lukanya tidaklah separah itu. Hanya dalam waktu beberapa hari saja luka luar si nenek mengering, berkat keampuhan ramuan obat luka Yok-Sian. Tinggal luka dalamnya saja yang masih harus dipulihkan perlahan. Namun Im Gok menduga paling tidak sebulan lagi, si nenek telah dapat sembuh sama sekali dari cideranya. Tok-Seng-Sianli sekarang telah dapat kembali berkaok-kaok dengan ganas. Marah tentang ini dan ribut tentang itu. Rupanya berbaring lama ditempat tidur membuatnya jadi senewen. Kasihan Im Giok, ia yang pusing dengan segala tingkah laku nenek itu. Namun hatinya senang melihat usahanya berhasil. Mana kongkongmu? tanya nenek itu begitu melihat Im Giok masuk ke kamarnya. Masih beristirahat dikamarnya... apa ada pesan yang ingin locianpwe katakan pada kongkong? Biar nanti boanpwe sampaikan! jawab gadis itu sopan. Tak usah, hanya ingin tahu saja keadaannya! Ooo...

Apanya yang Ooo? Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan saja! Tak perlu menyembunyikannya... kau tahu tidak? Aku paling tidak suka dengan orang yang ngomongnya plintat-plintut, lain dimulut lain dihati! semprot si nenek tiba-tiba. Im Giok tersentak, tak tahu mesti menjawab apa. Mana boanpwe berani berbuat demikian? Harap locianpwe sudi memaafkan,tadinya boanpwe kira ada sesuatu hal yang ingin locianpwe katakan pada kongkong. Itulah sebabnya boanpwe jadi bersuara demikian... boanpwe mohon maaf! Si nenek jadi tenang kembali. Sungguh susah memang adat nenek ini, segala yang dikatakan orang lain selalu dinilainya dari sisi negatifnya duluan. Itulah sebabnya hampir sebagian orang dibulim, baik dari golongan lurus dan sesat enggan untuk bergaul dengan nenek ini, salah satunya disebabkan oleh sifatnya yang berangasan dan sukar ditebak itu. Jadi begitu? Hmmm... hanya ingin tahu saja, seberapa berat lukanya dibanding denganku! Hey bocah ayu, katakan siapa yang lebih dulu sembuh, kongkongmu ataukah aku? Sambil berbicara, mata si nenek menatap tajam gadis yang berada dihadapannya itu. Hal yang mana membuat Im Giok jadi makin salah tingkah. Bingung menjawab. Kalau dijawab yang sebenarnya terjadi nanti malah membuat nenek ini jadi marah-marah lagi sementara kalau harus berbohong, ia tak sanggup. Luka kongkong sama parahnya dengan luka locianpwe. Hanya saja... Hanya saja apa? Kongkong sembuh duluan! Itukan sama saja dengan mengatakan kalau lukanya jauh lebih ringan dari luka yang kuderita. Kalau luka kami berdua sama parah, bagaimana mungkin ia dapat sembuh lebih dulu? Janganjangan kau membeda-bedakan dalam merawat kami ya? si nenek jadi gusar kembali. Mana boanpwe berani? boanpwe tak pernah membeda-bedakan dalam merawat orang, boanpwe selalu adil dalam mengobati! Tapi memang itulah yang terjadi. Saat boanpwe menemukan locianpwe dan kongkong, luka kalian memang sama parah.. namun sekarang kongkong yang telah jauh lebih sehat daripada locianpwe! Jadi maksudmu lweekangku kalah kuat dengan lweekang kongkongmu? Makanya ia yang lebih dulu sembuh? Begitu? Soal itu... kalau soal itu... Cukup! Tak usah ngomong putar kiri kanan lagi! Kalau tidak ingat kaulah yang telah menolong nyawaku, ingin rasanya kuketok gepeng jidatmu itu! bentak si nenek gusar.

Kasihan Im Giok. Jujur salah, mau menipu lebih salah lagi. Ia jadi salah tingkah sendiri, tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya Im Giok pura-pura sibuk menyiapkan obat si nenek padahal kegiatannya itu hanyalah untuk mengalihkan perhatian si nenek dari percakapan mereka barusan. Tok-Seng-Sianli jadi turut diam, rupanya segala perkataan Im Giok mengena dihatinya. Tua bangka itu lebih tangguh dariku, huh... terpaksa harus kuakui juga. Batinnya gemas. Obat ini sangat berkhasiat menyembuskan bagian tubuh yang terluka dalam. Silahkan locianpwe meminumnya! Perkataan Im Giok membuat si nenek jadi tersadar dari lamunannya. Buat apa? sekarang pun aku sudah sembuh! dengus si nenek, rupanya segala perkataan Im Giok tadi masih membekas dihatinya. Ramuan ini resep dari kongkong dan sudah sangat terbukti keampuhannya dalam menyembuhkan luka dalam... boanpwe harap locianpwe sukalah meminumnya! bujuk gadis itu lagi. Tak usah! Suruh kongkongmu meminumnya sendiri, lukaku sudah tak terasa lagi! Im Giok mengeluh, mengurus luka si nenek sebenarnya tidaklah terlalu merepotkan. Sikap si neneklah yang benar-benar melelahkan hatinya. Saat yang bersamaan terdengar suara pintu kamar diketok disusul suara Yok-Sian memanggil. Giok-ji, kau disitu nak? Kongkong? Kenapa sudah turun dari tempat tidur? Im Giok menyahut cepat dan bergegas menuju pintu kamar, ia terkejut mengetahui kongkongnyalah yang memanggil. Kok Lam, masuklah... tak usah sungkan segala! Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu! si nenek turut buka suara. Sebelum Im Giok sempat membuka pintu, pintu tersebut telah perlahan terbuka disusul Yok-Sian melangkah masuk. Gadis itu sebat melangkah mundur, memberikan jalan bagi kongkongnya untuk masuk. Namun keningnya berkerut dalam. Kongkong, bukankah kongkong harus banyak beristirahat? Kenapa sudah turun dari pembaringan? protesnya khawatir. Si kakek tersenyum lembut. Sekarang kongkong sudah merasa jauh lebih sehat. Kau melakukan tugasmu dengan baik nak! ujarnya menenangkan cucunya itu.

Im Giok cemberut, kongkongnya sama saja dengan yang lain. Kenapa tak ada seorang pun dirumah ini yang mau mendengar nasihatnya? Begitu merasa sehat sedikit saja langsung hendak kelayapan ke mana-mana. Dengan penuh kasih sayang, dibelainya kepala Im Giok cucunya. Jangan cemberut begitu, kongkong benar sudah jauh lebih sehat dari sebelumnya. Kau tahu kan, kalau terlalu lama berbaring ditempat tidur malah bikin bosan! kata Yok-Sian lembut. Im Giok tetap cemberut. Kalau ada apa-apa dengan kongkong... kan Giok-ji yang repot! protesnya lagi. Jangan khawatir nak, kau lupa ya siapa kongkongmu ini? kata Yok Sian menyakinkan cucunya. Im Giok tersadar, semua keahlian pengobatannya diperoleh dari kongkongnya. Tentu saja kongkongnya jauh lebih mengetahui kesehatan diri sendiri dibanding dirinya. Kalau kongkongnya bilang sudah sehat maka tentulah demikian kenyataannya. Khawatirnya berkurang, walau demikian tampang cemberut tetap dipasangnya. Baiklah kalau kongkong bilang begitu! ucap Im Giok akhirnya. Yok-Sian tersenyum lembut. Giok-ji... kau uruslah dulu hal yang lainnya, ada beberapa hal yang ingin kongkong bicarakan dengan Goat Lun secara pribadi! suara Yok-Sian terdengar kembali. Im Giok tampak berpikir sejenak lalu mengangguk, ia pun perlahan mengundurkan dirinya dari ruangan itu. Bicaralah! Belum lagi Yok-Sian sempat membuka mulut, si nenek telah mendahului tak sabaran. Bagaimana kesehatanmu? tanya Yok-Sian lembut. Kok lam, tak usah basa-basi lagi. Kau tahu sendiri bagaimana keadaanku! Keluarkan saja isi pikiranmu yang sebenarnya... jangan putar-putar tak karuan! si nenek menjawab tak sabar. Mengingat segala budi baik yang telah diterimanya, mau tak mau Tok-Seng-Sianli jadi sungkan sedikit terhadap si kakek. Ia mungkin saja kasar dan pemarah tapi dirinya bukanlah seorang yang tidak tahu membalas budi. Terpaksa... sedapat mungkin ditahannya segala caci maki yang menjadi ciri khasnya selama ini. Yok-Sian menghela nafas panjang, tak perlu berbasa-basi dengan nenek dihadapannya ini. Lebih baik langsung ke inti permasalahannya saja.

Yan Ci muridmu itu sudah pasti sembuh, ia tak akan kehilangan kedua lengannya! katanya. Tapi? si nenek bertanya cepat, terasa ada yang tidak beres dalam pernyataan si kakek. Tapi untuk sementara ia kehilangan lweekangnya! Perkataan Yok-Sian menghantamnya telak, tubuhnya yang memang masih lemah itu jadi serasa makin lemah saja. Apa... apa maksudmu? Beberapa titik pada jalan darah ditubuhnya rusak dan tersumbat, hal inilah yang membuat tenaganya tak mampu dikeluarkan dari pusat tempat tenaganya itu tersimpan. Kalau lweekangnya dipaksakannya keluar, malah akan berbahaya bagi tubuhnya sendiri. Yok-Sian menjelaskan lebih lanjut. Kau tak mampu menolongnya? tanya si nenek lagi, suaranya penuh dengan pengharapan. Lohu tak mampu! Jalan darah yang rusak mampu Lohu obati tapi bagian yang tersumbat itu Lohu tak mampu. Terlalu luas dan rumit, tenaga Lohu tak mampu menembusnya! Si nenek semakin lesu saja mendengarnya berbareng amarahnya pun berkobar. Ini gara-gara bocah setan itu, tunggu saja... akan kubuat perhitungan dengannya! si nenek menggeram murka. Sungguh ingin rasa hati Tok-Seng-Sianli turun dari tempat tidurnya dan pergi melabrak bocah itu, sayang tubuhnya masih terlalu lemah untuk bertempur. Apalagi kalau teringat akan kedahsyatan ilmu si bocah, mau tak mau Tok-Seng-Sianli jadi berpikir dua kali. Walau sedang diamuk kemarahan namun ia bukanlah seorang bodoh. Ia tahu saat ini ia tak punya harapan melawan bocah setan itu. Akhirnya hanya kutukan dan makian yang terdengar keluar dari mulutnya. Masih ada harapan... kata Yok-Sian. Tok-Seng-Sianli langsung terdiam, harapannya mulai timbul kembali. Tunggu apa lagi? Hayo katakan! semprot nenek itu cepat. Tenaga kita tak mampu menolongnya, tenaga orang lain mungkin bisa menolongnya! Maksudmu? si nenek mulai dapat meraba maksud Yok-Sian. Banyak orang sakti dibulim yang lweekangnya mungkin saja melebihi kita, kenapa tidak meminta pertolongan mereka?

Hmmm... dan siapakah orang-orang sakti itu? dengus Tok-Seng-Sianli, tak senang mendengar kemungkinan ada orang lain yang lebih sakti dari dirinya. Bisa saja kedua rekan kita dari barat dan utara, bisa juga salah satu dari Ciang-Bunjin (ketua perguruan) Siauw-Lim-Pay, Bu-Tong-Pay, Gobi-Pay dan Kun-Lun-Pay. Masih ada lagi TiongLojin (Orang tua she Tiong) locianpwe itu. Mungkin saja salah satu dari mereka sanggup menyembuhkan muridmu! Yok-Sian menjawab. Huhhh... si nenek mendengus gusar, tapi semakin dipikirnya semakin masuk akal saja segala perkataan Yok-Sian itu. Tapi apakah... mereka mau? Hal itulah yang harus ditanyakan langsung! Tak ada pilihan lain, mau tak mau hanya inilah jalan terbaik saat ini. Mungkin saja salah seorang dari mereka mau mengobati muridmu! Mau mengobati kan belum tentu bisa menyembuhkan! Itu sebabnya harus dicoba dulu! Lagipula dari mana kita tahu mereka mau atau tidak atau bisa tidaknya mereka menyembuhkan muridmu kalau tidak dicoba dulu? Si nenek jadi terdiam. Kali ini aku terpaksa setuju dengamu... Tapi ada satu hal yang kuinginkan! Apa itu? tanya Yok-Sian. Harus bocah setan itu yang mengantar Yan Ci! Yok-Sian tersentak, tak menduga akan permintaan nenek itu. Tak mungkin, saat ini Sai-ji sama sekali belum siap untuk turun gunung! si kakek tak setuju. Kenapa tak mungkin? Jangan dikira aku tak tahu akan kehebatannya! Lagi pula Kalau bukan bocah setan itu, siapa lagi yang pantas mengantar dan menjaga muridku sepanjang perjalanan nanti? si nenek jadi gusar lagi. Fisiknya memang kuat tapi batinnya itu yang ku khawatirkan, apalagi kau tahu sendiri kan bagaimana sifat mereka berdua? Bagai air dan api! Yok-Sian coba memperingatkan. Hehehe... sedikit perbedaan tidaklah menjadi masalah, toh mereka dapat belajar saling mengenal sepanjang perjalanan nanti! Apa maksudmu? tanya Yok-Sian curiga dengan perkataan si nenek yang terakhir.

Jujur saja, setelah kupikir-pikir... bocah setan itu tidaklah terlalu buruk. Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka? kata nenek itu lagi. Yok-Sian tersentak kaget, tak mengerti dengan sikap nenek itu. Bukannya nenek itu sangat membenci A sai? baru saja nenek itu marah-marah dan hendak melabrak cucunya, kenapa sekarang sudah bicara soal perjodohan segala? Lagipula bukankah mereka sedang membicarakan urusan penyembuhan Thio Yan Ci, kenapa sekarang berubah ke soal perjodohan? Kelihatannya makin lama Goat Lun makin pikun saja... Satu urusan saja belum selesai diurus, eh malah hendak mengurus urusan lainnya.! batin Yok-Sian tak mengerti. Ada apa? Memangnya muridku tak pantas mendampingi bocah setan itu? semprot si nenek lagi. Kau tahu kalau lohu tak suka mencampuri nasib seseorang dan urusan jodoh adalah urusan nasib orang itu sendiri, nasibnya sendiri berada ditang...! Jadi kau tak setuju? potong si nenek cepat. Bukan begitu, hanya saja perihal jodoh biarlah mereka sendiri yang memutuskan! jawab YokSian lemah, pening juga dirinya menghadapi segala sikap si nenek. Kau tak punya pilihan... kalau ingin kuampuni segala perbuatan bocah itu, kau harus menyetujui keinginanku ini! si nenek melotot menantang Yok-Sian Yok-Sian tak mampu lagi menjawab. Benar kata nenek itu, ia tak punya pilihan lain. Kalau ingin masalah yang ada diantara Sai-ji nya dan Tok-Seng-Sianli selesai, mau tak mau ia terpaksa menyetujui keinginan si nenek. Soal lain, biarlah Thian yang mengaturnya. Apa boleh buat... Soal mengantar, lohu setuju. Soal lainnya, kita lihat saja nanti! kata YokSian akhirnya. Si nenek tersenyum penuh kemenangan. Biarlah diatur begini saja... Si nenek lalu sibuk membeberkan rencananya. Sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam bisikbisik yang panjang. ******* Sorenya, kamar tempat Tok-Seng-sianli dirawat telah dipadati orang. Yok-Sian, Tok-Seng-Sianli dan A Sai tampak hadir disitu. sepertinya ada sesuatu masalah yang hendak dibicarakan diantara mereka. Bocah setan! Kau tahu kenapa dipanggil kesini? tanya Tok-Seng-Sianli tiba-tiba.

A Sai tidak pasti, hanya menduga saja! jawabnya pelan. Kau sama saja dengan guru dan sucimu, selalu ngomong plintat-plintut! semprot si nenek tibatiba mengagetkan A Sai. Kalau tahu, bilang tahu! Kalau tidak, bilang tidak! Jangan mutar-mutar begitu! semprotnya lagi lalu dilanjutkan dengan mengomel panjang pendek selama sekian waktu. Wajah si kakek dan cucunya jadi kemerahan mendengar ucapan si nenek. Langsung saja, kuingin kau menyelesaikan suatu urusan untukku! kata nenek itu akhirnya. A Sai terperangah, mengira ia telah salah mendengar ucapan nenek itu. Tadi dipikirnya ia bakalan menerima pengadilan dan penghukuman dari Tok-Seng-Sianli akibat dari perbuatannya yang sudah-sudah, ternyata perkiraannya semula meleset. Berbareng ia pun jadi tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Maafkan A Sai... maksud locianpwe bagaimana? Kalau kau ingin urusan kita kuhabiskan sampai disini... maka kau harus melakukan satu tugas dariku. Jika kau menyanggupi untuk melaksanakannya, akan kulupakan segala kekurang ajaranmu! katanya tegas. A Sai tertegun diam, hal seperti ini tak pernah dibayangkannya akan terjadi. Apakah nenek ini telah melupakan segala pertikaian mereka? Ia sungguh tak mengerti. Bocah setan! Sanggupkah kau? bentak si nenek lagi. A Sai masih tak mengerti. Tapi kalau nenek ini menghendaki bantuannya, sudah sepantasnya kalau ia membantu. Soal lain biarlah dipikirkan lagi nanti. Baiklah! Kalau itu keinginan locianpwe, A Sai akan melaksanakannya! Asalkan... asalkan tidak berlawanan dengan... dengan yang seharusnya, akan A Sai lakukan! katanya pelan tapi tegas. Si nenek segera mengerutkan keningnya mendengar jawaban pemuda itu yang menurutnya terdengar sedikit mencurigakan. Bahkan Yok-Sian pun turut mengerutkan kening mendengar perkataan A Sai yang mengandung arti ganda itu. Apa maksudmu dengan yang seharusnya itu? tanya Tok-Seng-Sianli cepat. Semua mata memandangnya ingin tahu. Maaf, maksud A Sai... selama permintaan locianpwe tidak bertentangan dengan kebenaran... dan hati A Sai, A Sai akan melakukannya! jawab pemuda itu menjelaskan. Wajah Tok-Seng-Sianli jadi berubah mengerikan.

Kurang ajar! Dasar bocah setan! Otak udang! Muka kerbau! Dengar ya, belum pernah seumur hidupnya Tok-Seng-Sianli menyuruh seseorang melakukan tindak kejahatan apa pun! Kau pikir aku ini orang macam apa? Anak sialan! si nenek jadi mencak-mencak mendengar perkataan pemuda itu. Tok-Seng-Sianli jadi geregetan sendiri, masakan dirinya dianggap sanggup menyuruh orang untuk melakukan kejahatan? Yang benar saja. Muka A Sai jadi kemerahan lagi, maksudnya baik tapi disalah artikan oleh si nenek berangasan itu. Ia cuma bisa diam sambil berharap kejengkelan nenek itu segera mereda. Sementara YokSian menahan senyum melihat tingkah polah Tok-Seng-Sianli yang seenaknya itu. Sudahlah... maksudnya kan baik, cuma mungkin sedikit salah dalam penyampaiannya! bela Yok-Sian lembut. Si nenek tak peduli, mulutnya terus berkaok hampir satu kentungan lamanya. Cara terbaik menghadapi kemarahan si nenek adalah dengan mendiamkannya saja, sebab jika sampai ditanggapi hanya akan memancing kemarahan dan keributan yang jauh lebih hebat lagi. Dan keduanya cukup paham akan hal tersebut.. Permintaanku sederhana saja dan takkan bertentangan dengan segala macam hukum yang ada dialam ini! setelah puas berkaok barulah ia melanjutkan maksud ucapannya yang sempat tertunda tadi. A Sai jadi meringis mendengar sindiran si nenek. Silahkan locianpwe mengatakannya, A Sai mendengarkan! jawabnya. Walau suaranya terdengar tenang, hati pemuda itu malah sebaliknya. Jantungnya berdegup kencang menanti ucapan yang bakal keluar dari mulut nenek itu. Tugasmu ini telah kubicarakan dengan gurumu dan gurumu pun menyetujuinya... kata TokSeng-Sianli sambil melirik ke arah Yok-Sian. A Sai jadi ikut melirik ke arah kongkongnya. Terlihat Yok-Sian mengangguk membenarkan ucapan nenek itu. Kembali dipandangnya Tok-Seng-Sianli. Mau tidak mau kau harus melakukannya! si nenek menambah tekanannya. Kalau kongkong telah menyetujuinya, A Sai pun tak mungkin menolaknya lagi! Tugas apakah yang harus A Sai lakukan? tanya pemuda itu dengan hati makin berdebar tegang. Sederhana saja... Si nenek sengaja menahan ucapannya. Kau harus mengantar Yan Ci muridku menemui beberapa orang!

Ucapan Tok-Seng-Sianli itu menampar telinga A Sai seperti petir disiang bolong. Oh Thian! si pemuda mengeluh panjang dalam hatinya. Ini sih sama saja dengan mengawal bencana! batin A Sai resah tak terkira. Hari-hari penuh kesengsaraan membayang jelas dimatanya. Tugas dari nenek ini tak mungkin lagi ditolaknya. Mengantar Yan Ci menemui beberapa orang sama sekali bukanlah suatu kejahatan. Ia tak punya pilihan lain selain menerima tugas yang diberikan padanya. Kehidupannya yang tenang dan penuh damai akan segera berakhir dan tak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegahnya. Padahal ia terlanjur menyukai kehidupannya yang sekarang dan ia tak ingin menukar kehidupannya ini dengan apa pun juga. Hidup tenang dan damai, hanya itu yang diinginkannya saat ini. Tugas ini janganlah kau pandang ringan, sebab orang-orang yang akan kau temui nanti bukanlah orang biasa. Mereka ini tergolong tokoh-tokoh kelas satu dan paling berpengaruh saat ini dibulim (dunia persilatan). A Sai mendengarkan dengan setengah hati. Kalau para Ciang-Bun-Jin (Ketua Perguruan) dari 4 perguruan tersebut tidaklah terlalu sulit ditemukan tempatnya tapi dua rekan kami itulah yang sulit ditemui. Mereka sama seperti kami, jarang menetap disuatu tempat lama-lama, kebanyakan hanya mengembara saja. si nenek melanjutkan ucapannya. Bila manakah tugas ini dianggap selesai? tanyanya menyela penjelasan nenek itu. A Sai jauh lebih tertarik mengetahui kapan tugas itu selesai dari pada segala urusan lainnya. Tugasmu selesai jika penyakit Yan Ci muridku berhasil disembuhkan! jawab Tok-SengSianli pendek. A Sai tersentak kaget. Maksud locianpwe? Jika penyakit muridku sembuh, tugasmu selesai! Jika tidak, kau harus menemaninya berkelana mencari seseorang yang sanggup menyembuhkannya! jawab si nenek tegas. A Sai jadi lemas seketika. Tugas dari nenek itu mulai dirasakannya terlalu berat. Pertarungan kalian dahulu telah menyebabkannya kehilangan kemampuannya untuk membangkitkan dan mengendalikan lweekang. Walaupun jurus silatnya tidak hilang, namun tanpa lweekang yang mendasari jurusnya itu... ia jadi kehilangan keampuhan ilmu silatnya. Sekarang gadis itu tak lebih dari seorang gadis biasa saja. Tujuan tugasmu ini ialah untuk

mengantarnya meminta pertolongan dari orang lain, pertolongan untuk mengembalikan lagi kemampuannya yang hilang itu! Yok-Sian menambahkan keterangan Tok-Seng-Sianli. Terus terang saja, kongkong dan Goat Lun tak mampu menyembuhkannya. Itulah sebabnya kami memberimu tugas ini. Siapa tahu salah seorang diantara tokoh-tokoh yang akan kalian temui nanti sanggup menyembuhkannya! sambung kakek itu lagi. Tapi kongkong... seandainya diantara mereka tak ada yang sanggup menyembuhkannya, apakah... apakah A Sai harus menemaninya terus? Tentu saja, semua kan salahmu! jawab Tok-Seng-Sianli tak mau tahu. Untuk berapa lama? Sebulan? Setahun? A Sai resah membayangkannya. Jika seorang diantara mereka sanggup menyembuhkan Yan Ci, kalian kembalilah kemari, jika tidak... kau harus menemani muridku sampai penyakitnya itu sembuh... Seumur hidup bila perlu! kata si nenek dingin. Bukan hanya sekedar menemani, kau bertanggung jawab penuh atas keselamatan jiwanya. Jika kau gagal menjaga keselamatan muridku, kau tidak usah hidup lagi. Lebih baik kau bunuh diri saja menyusul muridku! Singkatnya... jika ia mati, kau pun harus mati! sambung nenek itu lagi, kata-katanya diucapkan tanpa perasaan sama sekali. Mendung tebal menggantung diwajah A Sai. Ia tak sanggup membayangkan harus sekian lama menemani gadis itu. Sehari saja sudah terasa menyiksa, lalu sampai berapa lama ia harus tersiksa? Sebulan? Setahun? Apa lagi seumur hidup? Ia ngeri memikirkannya. Mengawalnya saja sudah merupakan suatu ujian berat bagi kesabarannya, ditambah lagi harus menjaga keselamatan jiwa gadis itu? Ia tak yakin. Melihat sifat Yan Ci, kecil kemungkinan orang lain melukai gadis itu. Kemungkinan besar... gadis itu sendiri yang bakal melukai dirinya sendiri. Berbuat sesaat, menyesal berkepanjangan! batin A Sai lesu, baru sekarang ia menyadari kebenaran dari segala nasihat kongkongnya dahulu. Tok-Seng-Sianli memandang dingin sedangkan keprihatinan tampak jelas dalam sinar mata YokSian. Kakek itu menghela nafas panjang. Bagaimana pun tugas ini dirasakannya terlalu berat bagi A Sai. Kasihan cucunya ini, terikat dengan tugas yang tak jelas kapan selesainya. Yang gadis kehilangan ilmu silatnya, yang pemuda kehilangan kebebasannya. Ia tak tahu mana yang lebih buruk nasibnya, A Sai ataukah Yan Ci. Jangan lesu begitu nak, nasibnya pun tidaklah sebaik yang kau kira... Bagi seorang pesilat, tidak ada yang lebih buruk dari pada kehilangan ilmu silatnya. Kehilangan ilmu silat sama seperti kehilangan nyawa sendiri dan bagi orang-orang seperti kami, jika bisa memilih... lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan ilmu silat. Yok-Sian menasehati bijak. A Sai tertegun.

Sepenting itukah? batinnya. Perkataan kongkongnya mengetuk nuraninya. Dihargai lebih penting dari nyawa sendiri? Ia tak pernah berpikir sampai ke situ. Ternyata keadaan Yan Ci jauh lebih berat dari yang disangkanya semula. Walau belum lama hidup bersama mereka namun ia mengerti pentingnya arti ilmu silat bagi seorang pesilat. Hanya saja tak pernah dibayangkannya hingga sepenting itu. Pikirannya mulai terbuka dan hatinya tersentuh. Perlahan, dirinya mulai menyadari buruknya nasib yang menimpa gadis itu. Dan akulah penyebabnya. batinnya makin lesu. Jangan patah semangat duluan, belum tentu keadaannya seburuk yang kau bayangkan. Siapa tahu orang pertama yang kalian temui nanti sanggup mengembalikan kemampuan Yan Ci! YokSian membesarkan hatinya. A Sai tidaklah patah semangat, ia hanya tak suka hidup dalam masalah. Ia tahu atau paling tidak ia bisa menduganya, kehidupan macam apa yang bakal dilaluinya bersama gadis itu. Dirinya terbiasa hidup dalam ketenangan dan ia tahu, mengawal Thio Yan Ci akan menguji kesabaran hatinya hingga batas paling maksimal. Ia ragu ia sanggup bertahan menjalani hari-hari itu nanti. Tapi ia pun bukan seorang yang bisa begitu saja meninggalkan tanggung jawabnya. Terlepas dari siapa benar siapa salah, keadaan gadis itu disebabkan perbuatannya. Rasanya wajar jika ia turut mengambil peranan dalam menyembuhkan gadis itu. Segala penderitaan yang bakal dialaminya nanti haruslah dapat ditanggungnya. Tak ada lagi yang perlu kusesali, penyesalan saja tiada gunanya. Kalau dengan mengantarnya dapat memperbaiki semua kerusakan yang terjadi, akan kulakukan. Soal lainnya, biar kupasrahkan saja pada Thian... Semoga saja perjalanan ini tak seburuk perkiraanku. Lebih mudah menerima suatu pekerjaan dengan lapang dada daripada mengerjakannya dengan penyesalan. Berpikir sampai disini, ketenangan hati dan rasa percaya diri A Sai pun pulih kembali. Kongkong jangan khawatir, A Sai akan melakukan tugas ini sebaik mungkin! jawabnya tegas. Yok-Sian tersenyum lega. Hihihihihi... kau ternyata tidak terlalu mengecewakan... Kok Lam, boleh juga muridmu! TokSeng-Sianli tertawa senang. Kagum juga hati si nenek. Aneh sifatnya tapi baik hatinya. Sifat bocah ini mengingatkannya akan Yok-Sian diwaktu muda dulu. Ternyata dugaannya tidaklah melesat, bocah ini patut menjadi murid rekannya itu. Semoga saja bocah ini kelak berjodoh dengan Yan Ci muridnya. Maafkan A Sai sebelumnya tapi bolehkah A Sai mengajukan suatu permohonan?

Katakanlah nak! Yok-Sian yang menjawab. Bolehkah locianpwe? tanya A Sai lagi, pertanyaannya kali ini ditujukannya pada Tok -SengSianli. Hmm... permohonan apa? Katakan saja! kata nenek itu cepat, kecurigaannya timbul. Kongkong dan locianpwe mengetahui benar bagaimana perbedaan yang ada diantara A Sai dan Yan Ci... ucap pemuda itu lambat-lambat. Katakan saja maksudmu! bentak nenek itu tak sabaran. A Sai mohon... sudilah locianpwe memerintahkan Yan Ci untuk menuruti perkataan A Sai disepanjang perjalanan nanti! keluar juga permohonannya. Nenek itu tersentak, tak menduga akan permohonan A Sai itu. Hahhh... Dasar bocah setan! Apa yang kau rencanakan? Jangan-jangan kau punya maksud tak baik pada muridku! Maksudmu apa memintaku menyuruh muridku menuruti semua perkataanmu? bentak Tok-Seng-Sianli berang. Khas sifat nenek itu, selalu melihat dari sisi negatifnya duluan. Bukan begitu, A Sai hanya khawatir... Yan Ci tidak dapat mengendalikan emosinya... dan melakukan hal-hal yang malah mengacaukan pelaksanaan tugas ini... katanya hati-hati. Tok-Seng-Sianli jadi nyengir sendiri, ternyata maksud permohonan A Sai tidaklah seburuk dugaannya semula. Mengingat sifat Yan Ci, masuk akal juga permohonan bocah ini. Demi kesembuhan muridku, tak ada salahnya kuturuti permintaan bocah ini. Toh semuanya demi kebaikan muridku sendiri. renung nenek itu. Hmmm... Begitu yah? Kenapa tidak kau katakan dari tadi? sungut nenek itu. Giliran A Sai yang nyengir. Baik! Ku kabulkan permintaanmu! Akan kusuruh muridku mengikuti perkataanmu! Tapi ingat... hanya perkataan yang baik dan masuk akal saja yang boleh dituruti muridku! jawab Tok-Seng-Sianli menyetujui. Tentu saja, A Sai takkan menyuruhnya melakukan hal yang tidak semestinya! janji pemuda itu. Tok-Seng-Sianli mengangguk, puas dengan jawaban A Sai.

Yok-Sian tersenyum. Kelihatannya cucunya telah mampu memikirkan masalah yang bakal timbul dikemudian hari dan mencoba mencegahnya sedini mungkin. Suatu tanda bahwa kedewasaannya dalam berpikir telah meningkat banyak. Baiklah... semuanya telah diatur, kalian akan berangkat segera setelah lengan muridku sembuh. Ehh... kira-kira berapa lama lagi? tanya si nenek berpaling pada kakek itu. Dua tiga minggu lagi! Benar, dua tiga minggu lagi. Sekarang kau keluarlah dulu, ada yang akan kubicarakan dengan gurumu! ucap si nenek riang. A Sai memberi hormat, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Goat Lun, apa tidak sebaiknya Kim Hoa atau Giok-ji menemani mereka? Lohu rasa, tidak pantas seorang gadis melakukan perjalanan seorang diri bersama seorang pemuda! kata YokSian tiba-tiba. Memangnya kenapa? Apa bocah setan itu bejat moralnya? tanya si nenek santai. Tentu saja tidak, hanya saja... apa kata orang nanti? Sejak kapan kau peduli dengan segala perkataan orang lain? Kalau mereka mau bicara, bicara saja... Mau kentut, kentut saja... Untuk apa dipikirkan? jawab si nenek tak peduli. Wajah Yok-Sian jadi memerah, memang sulit bicara dengan nenek ini. Jangan begitu... Bagaimana pun juga, nama baik muridmu haruslah kita pikirkan! Aku tahu persis sifat muridku dan aku yakin muridmu pun pastilah seorang pemuda pilihan, kalau tidak takkan mungkin kau mengakuinya sebagai murid. Itu sebabnya tak ada yang kukhawatirkan! si nenek menjawab tenang. Tapi... Ahhh... sudahlah, kau ini makin tua makin cerewet saja! potong Tok-Seng-Sianli cepat. Si kakek jadi melongo sendiri. Cerewet? Yang benar saja. Batin Yok-Sian sedikit kesal bercampur geli. Terserahlah! Hanya saja jika dikemudian hari nama muridmu jadi kurang baik, jangan salahkan lohu! Yok-Sian menyerah. Tok-Seng-Sianli mendengus tak peduli, ia tak ingin ada seorang pun yang menentang kebijaksanaannya. Tidak juga Yok-Sian.

Semuanya telah beres, namun ada satu hal yang tak kupahami... Tok-Seng-Sianli bergumam perlahan. Soal apa? Katakan saja! Jika tenaga kita berdua tak cukup kuat untuk menembus hiat-to (titik jalan darah) muridku, kenapa tidak kita gunakan saja tenaga bocah setan itu? Aku yakin tenaganya sanggup menembus hiat-to muridku yang tersumbat! nenek itu mengemukakan pikirannya. Bukankah sudah pernah lohu katakan... walau lweekang (tenaga dalam) nya kuat, namun ia sendiri belumlah mampu menguasai lweekangnya itu! jawab Yok-Sian. Masakan kau tidak dapat membimbingnya? tanya nenek itu lagi, tak puas dengan jawaban Yok-Sian. Jangan kau pandang remeh urusan menembus jalan darah ini... beberapa hiat-to yang tersumbat merupakan jaringan pembuluh darah yang rumit dan halus yang tersebar dan berhubungan langsung ke beberapa organ vital, termasuk beberapa pembuluh darah halus yang menuju jantung dan rangkaian tulang belakangnya. Untuk dapat menembus beberapa hiat-to ini, tenaga yang tersalur haruslah terukur kekuatannya. Lweekang yang disalurkan tidak boleh terlalu kecil dan tidak boleh terlalu kuat. Jika terlalu kecil, takkan sanggup menembus bagian yang tersumbat. Jika terlalu kuat, malah akan menyebabkan pembuluh darah tersebut pecah. Lweekang haruslah disalurkan secara serentak ke semua pembuluh darah yang tersumbat, tenaganya pun haruslah terukur kekuatannya. Tidak asal kuat saja. Itu sebabnya A Sai takkan sanggup melakukannya saat ini! Yok-Sian menerangkan panjang lebar. Apa kau tak bisa mengajarinya? Bisa saja, tapi butuh waktu lama! Dengan sifatmu yang tak sabaran itu, lohu yakin kau takkan mau menunggu lama-lama. Muridmu pun pastilah demikian! Bagaimana seandainya perjalanan mereka memakan waktu setahun bahkan lebih dan mereka tidak berhasil juga, bukankah lebih baik waktu setahun itu daripada terbuang percuma kau pakai untuk mengajarinya? tanyanya lagi. Jangan khawatir, semuanya telah lohu pikirkan baik-baik. Sebelum berangkat nanti Sai-ji akan lohu berikan latihan untuk mengendalikan lweekangnya. Nah... disepanjang perjalanan nanti, ia dapat berlatih mengendalikan lweekangnya itu. Seandainya perjalanan mereka gagal, paling tidak saat kembali nanti ia telah mampu menguasai lweekangnya. Lohu tinggal mengajarinya pengetahuan tentang jalan darah saja dan pengobatan bisa segera dilakukan. Seandainya perjalanan mereka berhasil, bukankah lebih baik lagi? Lohu pikir... hal ini lebih baik daripada menunggu disini saja! sambung kakek itu lagi. Satu usaha gagal, masih ada alternatif lain yang bisa digunakan. Batin nenek itu kagum.

Paling tidak perjalanan nanti akan sedikit menghibur hati muridmu... mudah-mudahan! sambung Yok-Sian lagi, berharap. Tok-Seng-Sianli jadi nyengir sendiri. Kagum juga dirinya akan kepandaian Yok-Sian menganalisa masalah dan merencanakan jalan keluarnya. Bahkan faktor emosional dari semua yang terlibat pun turut dipikirkan kakek itu. Sesuatu yang tak pernah bisa dilakukan dirinya. Yahhh... mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar! ucap Tok-Seng-Sianli turut berharap. Awalnya Yok-Sian punya rencana lain dan ia tak ingin cucunya yang mengantar gadis itu. Tapi makin dipikirkannya perkataan Tok-Seng-Sianli... makin masuk akal saja permintaan nenek itu. Perjalanan nanti merupakan ujian yang bagus bagi cucunya, sebab kesabaran dan hati pemuda itu bakal diuji hingga batas kemampuannya, dan hal ini merupakan ujian yang bagus bagi batinnya. Ia tak ingin salah mengambil murid oleh sebab itu perjalanan kali ini akan menguji pribadi cucunya itu, menguji pantaskah pemuda itu menjadi pewaris semua ilmunya. Yok-Sian ingin tahu... luluskah cucunya menghadapi ujian nanti? Ia benar-benar ingin tahu. ******* Masuklah nak, ada yang ingin kongkong bicarakan denganmu! Baik kongkong! A Sai menjawab patuh. Waktumu untuk mempersiapkan diri sudah tidak banyak lagi. Hari ini, akan kongkong ajarkan dasar lweekang padamu! Sekarang kongkong? tanya A Sai senang. Ya... sekarang! Kita mulai dengan teorinya dulu! Si pemuda mengangguk penuh semangat. Segera saja ia duduk dikursi kayu yang terletak dipojok ruangan, satu diantara dua kursi yang ada dalam kamar itu sementara Yok-Sian bersila santai diatas pembaringannya. Ia baru saja selesai siulian (semedi). Tanpa terasa telah dua minggu berlalu sejak kejadian terlukanya mereka oleh lweekang liar A Sai. Kesehatannya telah pulih kembali, tinggal mengembalikan lweekangnya saja. Seperti yang pernah kongkong katakan dahulu, membangkitkan lweekang (tenaga dalam) merupakan tahap pertama yang harus dilalui setiap orang yang belajar suatu ilmu lweekang. Semakin tinggi ilmu lweekang yang dipelajarinya maka akan semakin rumit pula cara untuk membangkitkan lweekangnya. Ilmu ini sendiri terbagi ke dalam beberapa tahapan. Namun pada dasarnya, tahap pertama dan tahap terakhirlah yang merupakan tahap tersulit sekaligus terpenting dalam proses penguasaan ilmu lweekang tingkat tinggi. Sedangkan tahap-tahap diantara kedua tahap ini biasanya tidaklah sesulit tahap pertama dan terakhir Yok-Sian memulai pelajarannya. Maksud kongkong apakah tidak semua ilmu lweekang sulit dipelajari? tanya A Sai.

Benar! Tidak semua ilmu lweekang sulit dipelajari, tergantung jenisnya. Ada ilmu lweekang yang mudah dipelajari dan ada juga yang tidak. Ilmu lweekang yang mudah dipelajari ini umumnya bersifat statis dan kebanyakan digunakan hanya untuk menjaga kesehatan saja. Caranya pun hanya setahap saja dengan metode pernafasan dan cara berlatih yang sama dan terus diulang-ulang, tapi kalau dilakukan secara terus menerus tentu saja hasilnya pun cukup ampuh. Hanya saja lweekang jenis ini tak dapat disamakan dengan jenis ilmu lweekang tingkat tinggi! Yok-Sian menarik nafas lalu melanjutkan ucapannya. Lweekang tingkat tinggi selain susah dibangkitkan, biasanya pun terdiri dari beberapa tahap. Dimana setiap tahap berbeda cara melatihnya. Prinsipnya makin tinggi tingkatan ilmu tersebut, akan semakin susah dan rumit untuk dipelajari. Dan tentu saja tak semua orang sanggup untuk mempelajarinya. Entah itu metode pernafasannya, posisi tubuh saat berlatih, jalan darah yang digunakan, waktu saat ilmu tersebut boleh dilatih, medium yang digunakan dalam berlatih dan sebagainya. Pokoknya, semakin tinggi ilmu lweekang tersebut maka akan semakin kompleks pula unsur yang terkait didalamnya! A Sai mengangguk, penjelasan Yok-Sian diingatnya baik-baik. Namun ada dua hal yang paling berpengaruh dalam ilmu lweekang, yaitu cara pernafasan dan jalan darah yang digunakan. Sisanya bisa dibilang hanya sebagai faktor pelengkap saja. Maaf kongkong ada satu hal yang A Sai tidak mengerti. Kalau memang metode pernafasan sangat berpengaruh dalam membangkitkan lweekang seseorang, lalu bagaimana mungkin lweekang A Sai bisa dibangkitkan? Setahu A Sai A Sai tidak pernah mempelajari suatu metode pernafasan tertentu. Apalagi melatihnya? A Sai bertanya, memotong penjelasan kongkongnya. Secara normal demikian tapi ada juga cara lain untuk membangkitkan lweekang seseorang. Benarkah? Tentu saja! Ada beberapa benda dialam yang sanggup membangkitkan lweekang seseorang. Benda ini bisa saja tumbuhan, batuan bahkan bagian tubuh hewan pun ada yang berkhasiat demikian. Mungkin saja tenagamu itu bangkit sebab kau pernah mengkonsumsi salah satu dari benda tersebut. Hanya saja kau tidak mengingatnya lagi! Yok-Sian menjelaskan. A Sai termenung, penjelasan kongkongnya itu menggugah kesadarannya. Mungkinkah daun dan bunga tumbuhan dewa yang kumakan dulu pun termasuk jenis benda seperti yang disebutkan kongkong? batinnya bertanya-tanya. Cara kedua melalui pengoperan lweekang dari satu orang ke orang yang lainnya. Proses pengoperannya pun tidak dilakukan sekaligus tapi dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit. Hal ini dimaksudkan agar tubuh orang yang menerima lweekang tersebut mampu beradaptasi dengan lweekang yang diterimanya. Hanya saja cara seperti ini tidaklah berlaku

untuk semua jenis lweekang sebab hanya lweekang tertentu saja yang bisa dioperkan, tidak semuanya bisa. Kenapa demikian kongkong? Umumnya hanya lweekang yang bersifat bersih saja yang bisa dioperkan. Lweekang yang bersifat sesat biasanya sulit untuk dioperkan. Kecuali orang yang menerima lweekang tersebut memiliki dasar lweekang yang sama dengan orang yang mengoperkan lweekang sesatnya. lweekang sesat? Maksud kongkong? lweekang sesat biasanya memiliki efek lain yang sifatnya merusak dan mematikan, misalnya saja Tok-Seng-Sinkang (tenaga sakti racun bintang). Lweekang ini tidak mungkin dioperkan pada orang yang tidak pernah mempelajari lweekang jenis ini. Jika dioperkan pada seseorang yang tak menguasai dasarnya maka lweekang yang dioperkan malah akan membunuh orang yang menerima lweekang ini. Dengan kata lain orang yang menerima pengoperan Tok-Seng-Sinkang haruslah orang yang pernah mempelajari dasar ilmu Tok-Seng-Sinkang terlebih dahulu. Kalau tidak niscaya orang tersebut akan mati karena terbakar panas dan racun dari Tok-SengSinkang! A Sai jadi bergidik sendiri sementara Yok-Sian sambil tersenyum lembut melanjutkan penjelasannya. Kembali ke penjelasan kongkong tadi Tahap pertama dan tahap terakhir merupakan dua bagian tersulit dalam ilmu lweekang tingkat tinggi. Tahap pertama dimana lweekang dibangkitkan biasanya termasuk tahap yang sulit. Sebab pada tahap ini orang tersebut baru mulai berkenalan dengan ilmu lweekangnya, jadi tentu saja dibutuhkan waktu lebih baginya untuk mengenal dan memahami segala unsur yang terkait dalam pembentukan lweekangnya itu. Dengan kata lain, ditahap awal ini orang tersebut belajar untuk mengenal lweekangnya. Dari seorang awam, ia berubah menjadi seorang pesilat. Itu sebabnya tahap ini pun termasuk diantara dua tahap tersulit dalam proses pembelajaran suatu ilmu lweekang. Tahap terakhir malah jauh lebih sulit lagi, sebab pada tahap ini seseorang mencapai puncak kesempurnaan dalam ilmu lweekang yang dipelajarinya. Ia menguasai segala faktor dan unsur dalam ilmu lweekang yang dipelajarinya dan menjadi seorang ahli. Tentu saja tidak banyak orang yang sampai pada tahap akhir ini. Salah satu syarat dalam tahap terakhir ini adalah menembus Titik Seng-Si-Hian-Koan (menembus pintu hidup dan mati). Sebab tanpa menembus titik ini, lweekang tidak akan mencapai puncaknya. Sebab masih ada keterbatasan dalam penyaluran lweekang ke seluruh tubuh. Hanya dengan menembus titik Seng-Si-Hian-Koan orang tersebut dapat mengerahkan tenaga sekehendak hatinya ke seluruh tubuhnya tanpa ada lagi penghalang yang menghalangi pergerakan tenaganya itu. Itulah sebabnya titik ini pun harus dapat ditembusi barulah orang itu dapat menguasai ilmu lweekang yang dilatihnya secara sempurna. Sambung Yok -Sian.

Maaf kongkong bisakah seseorang menguasai tahap terakhir tanpa melalui tahap pertama terlebih dulu? tanya A Sai menyela penjelasan Yok-Sian. Tidak bisa nak sebelum mengendalikan lweekang, terlebih dahulu harus membangkitkan lweekang. Sudah prosesnya demikian. Bagaimana mungkin mengendalikan lweekang jika tidak ada lweekang yang bisa dikendalikan? jawab si kakek sambil tersenyum. Tapi bagaimana dengan A Sai, kata kongkong A Sai telah mencapai tahap terakhir dari ilmu lweekang. Bagaimana mungkin mencapai tahap terakhir tanpa melalui tahap pertama dulu? A Sai jadi tidak mengerti kongkong! Mungkin dulu kau pernah memakan suatu benda tertentu yang dapat membangkitkan lweekangmu dan kelihatannya tenaga yang ditimbulkan oleh benda itu pulalah yang telah menembus seluruh titik jalan darah ditubuhmu! Melihat umurmu saat ini, kelihatannya hanya itu saja penjelasan yang paling masuk akal! Yok-Sian berspekulasi. Umur? Memangnya ada hubungannya kongkong? Tentu saja nak bagi sebagian besar orang, dari tahap pertama hingga tahap terakhir membutuhkan waktu belasan hingga puluhan tahun lamanya. Dengan umurmu yang belum lagi diatas dua puluh itu, kau tak mungkin mencapai tahap tertinggi dengan cara normal. Itulah sebabnya kongkong berpendapat demikian! A Sai termenung, ternyata dugaannya semula mendekati pemikiran kongkongnya itu. Pastilah tumbuhan dewa yang dimakannya selama bertahun-tahun itulah penyebab timbulnya tenaga liar ditubuhnya. Terus terang saja nak kongkong pun belumlah mampu menguasai tahap tertinggi dari YokHiang-Sin-Kang (tenaga sakti obat harum) yang kongkong pelajari. Padahal kongkong telah mendalaminya selama lebih dari lima puluh tahun lamanya. Setelah lima puluh tahun berlatih, masih juga belum mampu menguasainya secara sempurna. Bisa kau bayangkan bukan tingkat kesulitannya? A Sai jadi takjub mendengarnya. Lima lima puluh tahun lamanya? Wah kalau begitu, sangat sulit sekali menguasai tahap terakhir itu! katanya kagum. Tentu saja nak! Hanya saja berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menguasai ilmu lweekangnya hingga sempurna bergantung lagi pada nasib dan kondisi tubuh orang itu. Jika ia seorang yang jenius dan berjodoh dengan ilmu yang dilatihnya, bisa saja dalam beberapa tahun hingga belasan tahun ia telah mampu menguasainya secara sempurna. Hanya saja orang seperti ini sangat jarang ada. Dalam seratus tahun belum tentu lahir seorang. A Sai termenung memikirkan penjelasan kongkongnya itu.

Menguasai tahap terakhir? Memangnya ilmu lweekang apa yang kupelajari? renungnya. Menurut kongkong, lweekang apakah yang ada ditubuh A Sai? tanyanya kemudian penuh rasa ingin tahu. Kongkong tidak terlalu yakin, kelihatannya lweekangmu masih termasuk lweekang dasar. Belum termasuk ke dalam suatu golongan tertentu! Maksud kongkong lweekang pun masih terbagi lagi ke dalam beberapa golongan? tanya A Sai keheranan, makin banyak kongkongnya menjelaskan makin banyak juga pertanyaan baru yang muncul dibenaknya. Begitulah! Lweekang pun masih dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan sifat dari lweekang itu sendiri. Tepatnya dibedakan menjadi dua golongan yaitu lweekang dasar dan lweekang lima unsur. Jawab Yok-Sian lagi. Lweekang dasar adalah jenis lweekang seperti yang kau miliki, masih murni dan belum terpengaruh dengan unsur apapun. Sedangkan lweekang lima unsur adalah jenis lweekang yang telah terpengaruh dengan lima unsur utama yang ada dialam! sambung kakek itu. Yok-Sian menghembuskan nafasnya lalu melanjutkan ucapannya itu. Yang dimaksud dengan lima unsur itu sendiri adalah unsur api, air, tanah, pohon dan logam. Lweekang lima unsur berarti lweekang jenis ini mengandung salah satu sifat dari ke lima unsur tersebut! sambung kakek itu. A sai makin tertarik dengan penjelasan kongkongnya itu. Maksud kongkong bagaimana? tanya A Sai. Lweekang lima unsur menggunakan salah satu unsur tersebut sebagai tenaga utamanya. Misalnya ilmu lweekang Tok-Seng-Sinkang (tenaga sakti racun bintang) milik Goat Lun, lweekang ini bersifat panas. Dengan kata lain ilmu lweekang ini menggunakan api sebagai unsur utamanya. Sesuai dengan sifat api yang panas dan membakar, demikianlah sifat dari Tok-SengSinkang. Katanya lagi. Tapi api kan tidak beracun kongkong! protes si pemuda. Api mungkin saja tidak beracun, tapi gas dan asap yang ditimbulkan dari api bisa sangat beracun dan mematikan. Hawa beracun inilah yang disimpan ke dalam tubuh bersama dengan sifat dari unsur api itu saat Tok-Seng-Sinkang dilatih. Yok-Sian menjelaskan. Jangan lupakan tempat dan medium yang digunakan dalam berlatih Tok-Seng-Sinkang ini dilatih tidak dengan cara normal. Ilmu ini dilatih dengan melakukan latihan khusus ditempat yang suhunya panas luar biasa oleh api membara. Apinya pun bukanlah sebarang api melainkan api yang dihasilkan dengan menggunakan batuan khusus sebagai bahan bakarnya. Panas yang

dihasilkannya pun dua tiga kali lebih panas dari panasnya api normal, ditambah lagi hasil pembakarannya mengeluarkan hawa beracun yang luar biasa kuatnya. Itulah sebabnya TokSeng-Sinkang selain mengeluarkan hawa panas luar biasa juga mengandung racun mematikan. Namun tetap saja Tok-Seng-Sinkang digolongkan ke dalam jenis lweekang dengan unsur api. Sambung kakek itu lagi. A Sai mengangguk kagum, sekarang ia mulai mengerti apa yang dimaksud dengan lweekang lima unsur itu. Ehmm kongkong bagaimana cara panas api dan hawa beracun tersebut diserap ke dalam tubuh? pemuda itu bertanya lagi. Disinilah peranan metode pernafasan dan hiat-to (titik jalan darah). Dengan metode pernafasan khusus, hawa diambil dari luar tubuh dan disimpan ke dalam tubuh. Umumnya tenaga tersimpan dalam Tian-Tan (titik pusat tenaga yang terletak disekitar pusar manusia) namun tenaga yang diambil dari luar ini haruslah melalui rute yang telah ditentukan sebelumnya. Hiat-to disini berfungsi sebagai rute penghubung antara luar tubuh dengan pusat penyimpanan tenaga didalam tubuh. Bisakah tenaga tersebut disalurkan melalui hiat-to lain selain dari hiat-to yang telah ditentukan itu? Tidak bisa nak Jika telah ditentukan demikian, maka haruslah demikian dalam pelaksanaannya. Jika tidak sesuai dengan aturan yang ada, malah akan berbahaya bagi orang yang berlatih ilmu tersebut. Kenapa demikian kongkong? Sederhana saja nak Yok-Sian menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Setiap hiat-to mempunyai tugasnya sendiri dan arah alirannya pun telah ditentukan oleh alam. Jika hawa yang diambil dari luar menggunakan rute jalan darah yang berlawanan dengan yang telah ditentukan, akan berbahaya jadinya. Jika hawa tersebut seharusnya dialirkan ke pusar, tetapi kita menggunakan jalan darah lain, bisa saja hawa tersebut malah tidak akan mengalir ke tempat penyimpanannya tetapi terbawa berputaran tanpa tujuan didalam tubuh. Bahkan terbawa ke tempat yang tidak seharusnya seperti ke otak, jantung atau ke organ vital lainnya. Akibatnya tentu saja fatal bagi orang yang melatihnya. Keracunan atau kelumpuhan sudah pasti diderita orang itu, bahkan bisa saja menyebabkan kematian. Keadaan seperti ini biasa disebut orang tersesat dalam berlatih! Begitu ya batin A Sai, ia mulai mengerti sekarang ternyata semua ada aturannya. Setiap jalan darah mempunyai fungsi khusus, misalnya saja Im-Yang-Hiat-To (jalan darah dingin dan panas). Jalan darah ini bertugas sebagai rute tempat terjadinya pertukaran suhu pada

tubuh manusia. Jika suhu tubuh meningkat atau menurun akibat pengaruh dari lingkungan luar tubuh seperti cuaca dan sebagainya, pada jalan darah inilah terjadi proses penyeimbangan hawa dalam tubuh. Dengan kata lain pada Im-Yang-Hiat-To inilah terjadi lalu lintas pertukaran hawa Im (dingin) dan Yang (panas) dalam tubuh manusia, sehingga hawa Im dan Yang selalu berada dalam keadaan seimbang. Kata Yok-Sian Banyak ilmu lweekang dibulim yang memanfaatkan rute jalan darah ini, contohnya seperti Swat-Ciang-Sin-kang (Tenaga sakti telapak salju) dan Hwee-Liong-Sin-Kang (tenaga sakti naga api). Kedua ilmu ini memanfaatkan fungsi jalan darah ini secara maksimal hingga mampu menyerap hawa Im atau Yang dari alam saat sedang berlatih, dan menyalurkan hawa Im atau Yang keluar dari tubuh saat diperlukan. Hanya saja sukar menyerap atau menyalurkan kedua hawa ini secara bersamaan. Yok-Sian menarik nafas sejenak. Tetapi bukan berarti kedua tenaga ini tak dapat disalurkan bersamaan. Kira-kira seratus dua ratus tahun yang lalu, ada seorang tokoh yang sanggup membangkitkan kedua jenis sinkang panas dan dingin secara bersamaan. Entah dengan cara bagaimana. Kongkong pikir, ilmu ini pastilah menggunakan dua rute jalan darah yang berbeda. Bagaimana pastinya, hanya orang itu dan murid keturunannya saja yang mengetahuinya. A Sai makin tertarik saja mendengarnya. Dari sedikit gambaran yang kongkong berikan, tentu kau sekarang mulai dapat memahami pentingnya peranan metode pernafasan dan jalan darah yang digunakan dalam ilmu lweekang. Prinsipnya, metode pernafasan digunakan untuk menyimpan dan menyalurkan hawa murni sedangkan hiat-to berfungsi sebagai rute yang dilalui hawa murni tersebut! Sambung Yok-Sian lagi Mendengar penjelasan kongkongnya tentang seluk beluk lweekang, A Sai jadi teringat kembali akan kemungkinan membangkitkan lweekang dengan menggunakan suara. Seperti yang telah berhasil dilakukannya. Walau berhasil, ia sendiri tak mengerti bagaimana hal itu terjadi dalam tubuhnya. Mungkin saja kongkongnya dapat menjelaskan hal itu. Kongkong mmm Saat itu, A Sai menggunakan suara untuk membangkitkan lweekang liar dalam diri A Sai? Bagaimana menurut pendapat kongkong tentang hal itu? tanyanya perlahan. Banyak tokoh dibulim yang menggunakan suara mereka untuk melumpuhkan semangat lawan bahkan melukai dan membunuh musuh. Jadi bukan mustahil suara dapat juga digunakan untuk membangkitkan lweekang! Dalam ilmu pengobatan dikenal istilah 72 jalan darah. Hal ini berarti ada 72 sistem jalan darah pada manusia yang dibedakan menurut fungsinya masing-masing. Jangan mengira satu jalan darah mewakili satu urat darah saja. Yang dimaksud dengan jalan darah disini adalah kumpulan dari beberapa urat darah yang memiliki fungsi dan tugas yang sama dan saling menunjang. Misalnya jalan darah yang menunjang sistem pernafasan, bisa tersebar di kaki, tangan atau

bagian tubuh lainnya yang sama sekali berjauhan dengan paru-paru. Walau demikian ia bertugas membantu menunjang pekerjaan dari paru-paru atau organ pernafasan manusia. Si kakek menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya. Jalan darah yang ada jika diberi rangsangan yang tepat pada titik yang tepat, akan berakibat besar pada tubuh. Demikian juga yang terjadi pada tubuhmu itu. Kelihatannya suara siulanmu telah merangsang pada titik yang tepat, hingga menyebabkan lweekangmu jadi bangkit, bahkan naik beberapa kali dari semula. Hanya saja jalan darah yang mana, kongkong sendiri tak mengetahuinya! Benarkah kongkong? Kenapa tidak? Ketahuilah nak, jalan darah manusia sama rumitnya dengan bintang dilangit. Ilmu pengetahuan yang kita miliki hanya sanggup menjelaskan empat lima bagian saja dari rahasia jalan darah yang ada ditubuh manusia. Hanya Thian saja yang tahu seluruh rahasia 72 jalan darah manusia! kata Yok-Sian sambil tersenyum lembut. A Sai jadi termenung . Kau tahu Tong-Te-Jit-Sian (tujuh dewa turun ke bumi) yang kongkong tanyakan dulu? Ilmu ini pun sifatnya meningkatkan kekuatan lweekang dari semula. Itulah sebabnya kongkong menanyakannya padamu, sebab ilmu yang kau keluarkan waktu itu mirip dengan Tong-Te-JitSian dari Mo-Kau. Kata Yok-Sian. Sekarang barulah A Sai mengerti mengapa waktu itu kongkongnya menanyakan soal Tong-TeJit-Sian dan Mo-Kau padanya. Hanya saja kongkong tak pernah mendengar suara dapat digunakan untuk membangkitkan dan meningkatkan lweekang seseorang. Tapi kemungkinannya tetap ada. Apalagi melihat kejadian tempo hari ditambah dengan keteranganmu sendiri, kongkong jadi yakin hal itu mungkin saja! Walau belum mengerti seluruhnya, namun ia dapat merasakan kebenaran dibalik ucapan kongkongnya itu. Kau tahu nak, lweekang adalah dasar dari ilmu silat, tenaga penggerak utamanya! kata YokSian pelan. Jika lwekang kuat maka tenaga serangannya pun akan kuat sebaliknya betapapun tinggi dan anehnya jurus silat orang tersebut tanpa disertai lweekang yang kuat, ilmunya menjadi tidak berarti banyak. Orang yang jurus silatnya sederhana tetapi lweekangnya tinggi akan membuat jurus-jurusnya walau sederhana susah dibendung kedahsyatannya oleh lawan! Pertarungannya dengan Thio Yan Ci telah membuktikan kebenaran ucapan kongkongnya. Kerumitan jurus serangan Yan Ci patah dibawah serangannya yang sederhana. Dan itu semua

terjadi hanya karena lweekangnya jauh lebih tinggi dari pada lweekang gadis itu. Kali ini A Sai menyetujui penuh ucapan kongkongnya. Ingatlah baik-baik semua teori yang kongkong ajarkan, kelak pasti berguna bagimu! pesan Yok-Sian. A Sai pasti mengingatnya baik-baik! janjinya. Yok-Sian tersenyum puas. Baiklah sekarang kita mulai pelajaran pengendalian lweekang! Perhatikan ucapan kongkong baik-baik! Jika ada sesuatu yang tidak kau mengerti jangan sungkan, segera saja kau tanyakan! Baik kongkong! Demikianlah waktu dua minggu yang tersisa, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Yok-Sian untuk mengajarkan dasar pengendalian lweekang pada A Sai. Untunglah otak si pemuda tidaklah terlalu buruk, semua ajaran kongkongnya itu dapat dipelajarinya dengan baik tanpa menemui suatu masalah apapun. Kesungguhan hatinya dalam belajar memuaskan hati kakek itu. Tak ada waktu sedikit pun yang terlewat dengan percuma. Setiap ada waktu, latihanlah yang dilakukannya. Siang atau malam, tak ada bedanya bagi A Sai. Hasilnya pun melampaui harapan Yok-Sian semula. Cucunya telah mampu membangkitkan lweekangnya sesuka hati tanpa menggunakan siulan nada ke-7 nya itu. Hanya saja besar kecilnya tenaga yang disalurkannya keluar, belumlah mampu dikontrolnya dengan baik. Sekarang hati si kakek jadi lebih tenang, paling tidak cucunya telah memiliki sedikit bekal untuk melindungi dirinya dan murid Tok-Seng-Sianli selama mengembara nanti. Ia yakin dalam hal lweekang, tidak banyak tokoh dibulim saat ini yang sanggup menandingi lweekang cucunya. Gwakang (tenaga luar) nya pun demikian. Hanya ginkang (ilmu ringan tubuh) saja yang tak dikuasai cucunya itu, sebab sudah tak ada waktu lagi bagi A Sai untuk mempelajarinya. Namun Yok-Sian tidaklah khawatir. Paling tidak dengan lweekang dan gwakang yang dimilikinya, A Sai akan dapat menjaga dirinya dan gadis itu dengan baik. ******* Tidak mau! Teriakan nyaring penuh nada protes terdengar dari mulut Yan Ci, sesuai dengan dugaan Kim Hoa sebelumnya. Stttt. Dengar dulu penjelasan su Pokoknya tidak mau! potong gadis itu gusar.

Mulut gadis itu makin manyun saja sementara matanya berkilat penuh emosi yang berusaha ditahannya. Sayangnya sumoy tak punya pilihan lain, ini sudah merupakan keputusan dari subo! Kim Hoa menjawab. Kening Yan Ci berkerut dalam, sungguh gusar hatinya. Kenapa subo memutuskan demikian? Masa subo tidak tahu apa yang telah terjadi diantara sumoy dan bocah dungu itu? tanya penasaran. Husshh! Jaga ucapanmu! Mata Yan Ci itu mulai berkaca-kaca. Keputusan subonya itu dianggapnya keterlaluan. Kenapa suci? Kenapa ? tanyanya lagi. Kim Hoa menarik nafas, repot juga kalau harus menjelaskannya. Lebih baik sumoynya ini menanyakan langsung saja pada subo mereka. Suci tidak tahu alasannya lebih baik subo sendiri yang menjelaskannya nanti! Gadis itu tetap tak puas saja tampaknya. Kapan rencananya tugas ini akan dilaksanakan? tanya Yan Ci lagi. Menurut Im Giok, kira-kira dua pekan lagi. Menunggu lenganmu sembuh dulu. Setelah lengan sumoy sembuh, kalian akan langsung berangkat! Kenapa bukan suci atau subo saja yang mengantar? Lagi pula kenapa harus bocah ia yang mengantar? Kenapa bukan orang lain saja? tanyanya sengit. Makin dipikirkan, makin panas hati gadis itu. Jangan begitu, suci yakin subo telah memikirkan semuanya baik-baik. Pastilah ada alasannya hingga A Sai yang ditugaskan mengantarmu! Kim Hoa mencoba menenangkan kegusaran sumoynya. Bagaimana kalau sumoy pergi saja sendirian? Toh perjalanannya tidak terlalu jauh lagipula sumoy juga telah sering berkelana seorang diri dibulim! lanjut Yan Ci lagi. Giliran Kim Hoa yang mengerutkan keningnya. Masalahnya keadaanmu saat ini tidaklah memungkinkan untuk melakukan perjalanan seorang diri saja. Jangan lupa, sumoy telah kehilangan ilmu silat sumoy, keadaan sumoy sekarang sama saja dengan orang biasa! Kim Hoa menjawab.

Tapi Sudahlah sumoy tanyakan langsung saja pada subo! Suci pun takkan mungkin menentang keputusan yang telah diambil subo. Sumoy tahu sendiri kan bagaimana sifat subo kita itu? Kim Hoa menyela protes yang hendak keluar dari mulut sumoynya. Subo subo keterlaluan! nada suaranya mulai bercampur dengan sedu sedan. Hush, jangan begitu. Semua pasti ada alasannya! Akhirnya Yan Ci hanya bisa diam sementara beberapa butir air mata mulai menetes dipipinya. Keningnya berkerut dalam. Apakah apakah ia sudah tahu? Ia siapa? A Sai? Kim Hoa balik bertanya. Siapa lagi? ya bocah dungu itu! jawabnya jengkel. Hushh.. suci sudah bilang berapa kali, jangan sembarangan kalau ngomong! Yan Ci tak peduli. Baginya pemuda itu tak lebih dari seorang bocah gunung yang dungu dan sok hebat. Ia tak terkesan sama sekali. Maksud sumoy A Sai. Apakah A Sai sudah tahu tentang hal ini? ulangnya lagi. Tentu saja A Sai tahu. Tugas ini disampaikan langsung oleh subo dan Yok-Sian-San-Jin locianpwe padanya. Jadi tentu saja ia tahu. Bahkan suci pun mengetahui tentang hal ini darinya! Yan Ci jadi terdiam. Akan sumoy tanyakan pada subo! keluar juga ucapannya setelah diam sekian lama. Sebaiknya jangan sekarang, waktunya tidak tepat! Saat ini subo belumlah sehat betul, jangan dulu dipusingkan dengan tingkahmu itu! tunggulah beberapa hari lagi! Kim Hoa menyarankan. Tidak mau! Pokoknya harus sekarang juga! Yan Ci tetap ngotot. Sumoy, jaga sikapmu! Alis mata Kim Hoa terangkat, tingkah laku sumoynya mulai menjengkelkannya. Terkejut juga hati Yan Ci, jarang dilihatnya sucinya ini bersikap seperti itu padanya. Mau tak mau ditahan kegusaran hatinya. Maaf suci hanya saja hanya saja semuanya begitu tidak masuk akal bagi sumoy! katanya.

Kejengkelan Kim Hoa jadi sedikit berkurang, bagaimana pun juga ia menyayangi sumoynya ini seperti adik kandungnya sendiri. Jangan begitu, tidak masuk akal kan belum tentu tidak baik bagimu? Kim Hoa menasehati. Lagi pula A Sai pun tidaklah seburuk tuduhanmu itu. Lihat sisi baiknya, paling tidak kau akan mengenal pribadinya sepanjang perjalanan nanti Mungkin saja kalian malah akan jadi sahabat baik nantinya! sambungnya lagi. Yan Ci malas menanggapi ucapan sucinya itu. Percuma saja, sucinya takkan mengerti. Lebih baik bicara langsung dengan subonya, mungkin saja subonya masih bisa dibujuk untuk merubah keputusannya itu... Tapi perkataan sucinya yang terakhir menggelitik pikirannya. Sepanjang perjalanan nanti? Berapa lamakah perjalanan nanti? batinnya. Benar juga kata suci, kenapa tidak kumanfaatkan seja kesempatan ini? batinnya lagi, sebentuk ide cemerlang muncul dikepala gadis itu. Kenapa tidak? Inilah kesempatan terbaik untuk membalas semua perbuatannya... Sepanjang perjalanan nanti akan kubuat susah hidupnya dan perjalanan nanti akan menjadi perjalanan yang paling disesali bocah dungu itu seumur hidupnya. Itu juga jika ia masih tetap hidup untuk menyesalinya. Pikirnya senang. Memikirkan kemungkinan tersebut, kemarahan dan kegusarannya jadi sedikit berkurang. Inilah kesempatan terbaik untuk membalaskan semua penghinaan dan sakit hati yang telah diterimanya. Bukankah ia jadi punya banyak waktu untuk membalaskan dendamnya tanpa diketahui dan dihalangi seorang pun juga? Kapan lagi kesempatan seperti ini dapat ditemuinya? Semakin dipikirkannya, semakin menyenangkan memikirkan manisnya pembalasan yang akan dilakukannya nanti. Yan Ci jadi senyum-senyum sendiri memikirkan idenya itu. Ada apa? tanya Kim Hoa, sedikit curiga melihat perubahan sikap sumoynya itu. Tidak apa-apa, sumoy hanya perlu waktu untuk berpikir sejenak! jawabnya pura-pura gusar, sikapnya telah kembali seperti sebelumnya Benarkah? Kim Hoa jadi tambah curiga. Benar suci! Sumoy ingin beristirahat sejenak sumoy akan kembali ke kamar sekarang! sengaja menghindar dari pertanyaan lanjutan Kim Hoa sucinya. Hmmm baiklah kalau begitu, sumoy kembali saja duluan! jawab Kim Hoa. Diperhatikannya bayangan sumoynya yang keluar dari kebun belakang dan kembali ke dalam rumah. Perban yang melingkar di kedua lengan sumoynya membuatnya terharu. Sungguh kasihan sumoynya itu, namun mau bagaimana lagi? sumoynya sendiri yang menjadi penyebabnya. Seandainya saja sumoynya tidak sekaku dan sekasar itu sikapnya.

Kim Hoa makin yakin akan dugaannya semula, sepertinya ada sesuatu yang sedang direncanakan sumoynya itu. Sesuatu yang kelihatannya mirip dengan masalah. Sifat Yan Ci sumoynya telah dikenalnya baik dan kata mengalah tidak ada dalam kamus sumoynya itu. Sikap sumoynya barusan menggelisahkannya. Mudah-mudahan saja sumoy mau menerima keputusan subo. Hanya saja kok perasaanku jadi tidak enak begini? pikir Kim Hoa was-was. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan tindakan sumoynya. Kasihan A Sai semoga apa yang kutakutkan, tak akan terjadi nanti! Tanpa terasa satu pekan telah berlalu sejak mereka meninggalkan kediaman Yok-Sian-San-Jin di hutan sekitar kaki Hou-Thian-San. Perjalanan mereka dilakukan dengan lambat sebab kondisi Yan Ci tidaklah memungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan cepat. Tujuan pertama mereka adalah Kun-Lun-Pay. Walau melakukan perjalanan bersama, namun keduanya tidak kelihatan seperti teman seperjalanan. Yang gadis berjalan didepan sedangkan yang pemuda berjalan dibelakang. Jelas terlihat kalau si pemuda berjalan dengan sedikit menjaga jarak langkahnya. Tidak terlalu jauh namun tidak juga terlalu dekat. Akan tetapi berapa pun jarak yang terbentang, tetap saja tak mampu mengendurkan hawa ketegangan yang mengambang kental diantara mereka. Si pemuda tahu, lebih baik menjaga jarak dengan gadis itu, tidak hanya secara fisik tapi juga secara emosional. Demi kebaikan mereka berdua. Yan Ci tunggu sebentar! Mau apa? tanya gadis itu tanpa membalikkan badannya. Tak perlu buru-buru, perlahanlah sed... Urus saja urusanmu! potong gadis itu cepat. A Sai terdiam, sambil mengangkat bahu ia melanjutkan langkahnya. Bagaimana mungkin Subo memerintahkanku menaati perintah bocah dungu ini? Huhh... benarbenar memalukan! batin gadis itu gusar. Langkahnya makin dipercepat hingga membuat pemuda yang mengikutinya pun makin mempercepat langkahnya pula. Namun semakin cepat ia melangkah, gadis itu pun ikut pula menambah kecepatannya. Sehingga mereka lebih mirip dua orang yang sedang berkejaran. Rupanya gadis itu tidak mau kalah dengannya. Dasar keras kepala. Batin pemuda itu gemas, akhirnya ia memperlambat langkahnya.

Siapa sangka begitu langkahnya melambat, otomatis langkah gadis itu pun melambat. A Sai melenggak, ada apa dengan gadis ini? ia tak tahu dan ia pun tak ambil peduli. A Sai hanya heran saja, hal-hal remeh seperti itu pun masih dipersoalkan oleh gadis yang satu ini. Langkahnya pun makin diperlambat dan sesuai dengan dugaannya semula, gadis itu pun kembali memperlambat langkahnya. A Sai tersenyum, geli dengan sifat Yan Ci yang keras kepala hingga terkesan kekanakan. Lalu sambil bersenandung riang, dikeluarkannya sejilid kitab dari balik baju dalamnya. Sebuah kitab yang masih baru. Sin-Liong-Kiam-Hoat (Ilmu pedang naga sakti). bacanya perlahan dalam hati. Sebelum turun gunung, Yok-Sian telah menghadiahinya dua jilid kitab dan Sin-Liong-KiamHoat termasuk sejilid diantaranya. Memandang kitab yang berada ditangannya, ia jadi terkenang kembali akan ucapan kongkongnya saat itu. Sai-ji (anak Sai)... ilmu dan pengalamanmu masih cetek dan kau belumlah siap untuk turun gunung. Tapi mengingat situasi yang sekarang tengah kau hadapi, mau tidak mau kau terpaksa pergi juga. Yok-Sian terdiam sesaat lalu menghembuskan nafas panjang seolah berusaha mengeluarkan segala ganjalan yang ada dihatinya. Dasar-dasar lweekang telah kongkong ajarkan padamu, berhasil atau tidaknya sepenuhnya tergantung pada usaha dan kerja kerasmu sendiri dalam berlatih. Namun jangan khawatir, dalam hal lweekang dasarmu sudah cukup kuat. Hanya saja... Hanya saja apa kongkong? A Sai bertanya. Kau sama sekali tidak menguasai ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan jurus silat yang dapat kau gunakan saat ini. Hal inilah yang sedikit menyusahkan kongkong. Untung pada dasarnya kecepatan gerak alamiahmu sudah diatas manusia normal lainnya. Tapi? A Sai dapat menangkap kalau ucapan kongkongnya itu belumlah selesai. Tapi kecepatan gerakanmu itu tak ada artinya jika kau bertemu dengan musuh yang menguasai ginkang. Ginkang tingkat menengah saja takkan mungkin kau hadapi, apalagi jika berhadapan dengan orang yang menguasai ginkang tingkat tinggi? Hal ini yang membuat kongkong jadi sedikit khawatir. A Sai terdiam, menunggu kelanjutan ucapan kongkongnya, namun kongkongnya tidak melanjutkan ucapannya. Malah sebaliknya, Yok-Sian mengeluarkan dua jilid kitab dari sebelah dalam bajunya lalu diangsurkannya pada A Sai. Ambilah! katanya pendek.

Agak ragu juga A Sai. Dipandang wajah kongkongnya dengan seksama, terlihat jelas kesungguhan disana. Melihat kesungguhan kongkongnya, akhirnya dengan perlahan diraihnya juga kitab-kitab itu. Kitab apa ini kongkong? Kenapa diberikan pada A Sai? tanyanya ingin tahu. Kedua jilid kitab itu untukmu. Kau pelajarilah isinya sebaik mungkin! Yok-Sian menjawab singkat. Sin-Liong-Kiam-Hoat, demikian judul kitab yang pertama. A Sai terkejut. Sin-Liong-Kiam-Hoat merupakan ilmu pusaka si dewa obat kongkongnya dan sekarang diberikan padanya. Bahkan cicinya sendiri pun tak diizinkan membaca kitab ini dan hanya belajar Sin-Liong-Kiam-Hoat dari ajaran lisan kongkongnya saja. Kenapa sekarang kitab yang sedemikian pentingnya itu diberikan padanya? Ia benar-benar tak menyangka. Kenapa diberikan pada A Sai kongkong? tanyanya penuh rasa ingin tahu. Kitab seperti ini sanggup menggoncangkan bulim. Kaum Bulim takkan segan-segan mengalirkan darah siapa saja demi demi mendapatkan kitab ini. Dan sekarang kitab ini malah diberikan padanya? A Sai tak menyangka. Kitab ini tak ada artinya lagi sekarang bagi kongkong karena isinya telah kongkong kuasai, namun kitab ini akan berarti banyak bagimu. Kekalahanmu dalam hal ginkang dan jurus silat dapatlah kau tutupi dengan mengandalkan isi kitab ini. Yok-Sian menjelaskan. A Sai termenung mendengar penjelasan yang diluar perkiraannya semula itu. Benarkah kongkong? Apakah Sin-Liong-Kiam-Hoat mengandung ilmu pelajaran ginkang tingkat tinggi? tanya pemuda itu lagi. Sin-Liong-Kiam-Hoat bukanlah mengutamakan ginkang atapun mengajarkan tentang ginkang, tapi merupakan ilmu silat yang mengutamakan pertahanan. Inti dari ilmu ini ialah untuk menciptakan benteng pertahanan diri yang sanggup membendung gempuran lawan yang secepat apapun juga, dengan cara memaksimalkan ketepatan dan kecepatan yang kita miliki untuk membendung serangan lawan. Yok-Sian menjelaskan. A Sai terlihat ragu mendengar penjelasan Yok-sian. Tapi kongkong... Ngg... bagaimana menangkis serangan lawan jika kecepatan lawan beberapa kali lipat diatas kecepatan kita? pemuda itu mengungkapkan keraguan hatinya.

Yok-Sian menatapnya senang. Ucapannya tidak diterima begitu saja tapi dipertanyakan dahulu kebenarannya. Dan ia tidak tersinggung dengan hal ini, malah berbalik ia merasa senang. Sebab hal ini membuktikan kalau cucunya benar-benar menaruh perhatian dan menyimak segala ucapannya. Tidak asal mendengarkan dan langsung menerima saja. Sebab menurutnya, orang yang langsung menerima perkataan orang lain tanpa lebih dulu menguji kebenarannya, akan dengan mudah salah jalan. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan kita memaksimalkan kecepatan dan ketepatan yang dimiliki dalam membendung serangan lawan. Sin-Liong-Kiam-Hoat mengajarkan ilmu pertahanan yang khusus dikembangkan untuk menghadapi 18 macam senjata yang umum digunakan dikalangan bulim. Selain ke 18 macam senjata tadi, ilmu ini juga mengajarkan cara membendung serangan lawan yang menggunakan tangan kosong, baik ilmu pukulan maupun tendangan. Kalau dasarnya telah dikuasai, akan mudah bagi orang yang mempelajari Sin-LiongKiam-Hoat untuk menganalisa arah serangan lawannya. Jika arah serangan lawan telah diketahui, akan jauh lebih mudah lagi bagi orang tersebut untuk membendungnya, bahkan mendahului menyerang sebelum serangan lawan mencapai kita. Yok-Sian menjelaskan lebih jauh. Prinsipnya mendahului serangan lawan sebelum serangan lawan mengenai kita... Dan bukan hanya sekedar mendahului menyerang, tapi mendahului menyerang lawan pada titik kelemahan jurusnya sehingga jurus serangan lawan patah ditengah jalan sebelum sepenuhnya dikeluarkan. Sambung kakek itu lagi. A Sai terpana mendengar, benarkah ada ilmu yang demikian? Cara kerja Sin-Liong-Kiam-Hoat dapat digambarkan seperti ini... Yok-Sian menarik nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya. Saat musuh menyerang, mau tidak mau ia pastilah membuka satu dua lobang kelemahan pada pertahanannya sendiri. Jika matamu sanggup menangkap arah serangan jurusnya dan dapat pula melihat lobang kelemahan tersebut, berarti setengah dari kemenangan telah kau genggam. Setengahnya lagi tanya anak muda itu tak sabaran. Setengahnya lagi kalau kau dapat mengarahkan seranganmu ke celah kelemahan lawan. Ngg... itu tidak menjelaskan bagaimana kecepatan musuh dapat kukalahkan... katanya tak puas dengan penjelasan kongkongnya. Hehehe... kau ini tak sabaran juga. Baiklah, rahasianya ada di... Yok-Sian membisikannya langsung ditelinga anak muda itu. Wajah A Sai berubah serius lalu menganggukkan kepalanya dengan takjub. Rupanya begitu. Katanya perlahan.

Kau mengerti sekarang? A Sai mengerti kongkong. Kau paham sekarang kenapa kitab ini kongkong berikan padamu? A Sai paham kongkong. Baik kalau kau sudah paham. Jangan lupa melatih isi kitab itu baik-baik, kelak... kitab itu mungkin saja dapat menolongmu melewati suatu kesulitan. A Sai berjanji kongkong. Oya..jika kau telah selesai menghafal isinya, bakarlah kitab itu. Ba... bakar? Kenapa? tanya si pemuda terkejut. Kalau kau telah menghafal isinya maka keberadaan kitab itu tidaklah bermanfaat lagi bagimu, oleh karena itu kau harus membakarnya. Bukannya apa, kongkong hanya tidak ingin kalau kitab itu kelak terlepas dari tanganmu dan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itulah bakarlah kitab itu segera setelah kau menghafal isinya. Tapi... A Sai terlihat ragu. Jangan khawatir nak, kitab itu hanyalah salinan dari kitab Sin-Liong-Kiam-Hoat... bukan kitab Sin-Liong-Kiam-Hoat yang asli. Yok-Sian menenangkan, seakan mampu membaca penyebab keraguan cucunya. A Sai menarik nafas lega. Ooo... A Sai kira... Baiklah, A Sai pasti melakukannya. Yok-Sian tersenyum senang. Sekarang kongkong jadi lebih lega melepas kepergianmu. Ingat nak, tugasmu memang berat tapi bukan berarti tak mungkin untuk diselesaikan. Lakukan saja sebaiknya, sisanya serahkanlah pada Thian. Sambung Yok-Sian menutup pembicaraan mereka malam itu. Baru sepekan lamanya mereka meninggalkan tempat kediaman Yok-Sian, namun kerinduan telah menggelayut dihatinya. Rindu akan kehangatan dan kebersamaan yang dirasakannya saat bersama dengan kongkong dan cicinya. Dan ia bersyukur untuk semua perhatian dan kasih sayang yang didapatnya ditempat itu. Pandangan A Sai menyelidik jauh ke angkasa, agaknya terhanyut dialam khayalannya sendiri. Tanpa disadarinya, si gadis diam-diam memperhatikan segala gerak-geriknya itu.

Apa yang direncanakan bocah dusun itu? batin Yan Ci curiga melihat gerak-gerik A Sai yang sebentar-sebentar tersenyum, sebentar lagi menghela nafas panjang seperti sedang menanggung sesuatu. Namun karena pemuda itu berjalan agak jauh dibelakangnya, ia jadi tak dapat mengamati dengan seksama air muka pemuda itu. Huh... kau pikir kau sudah menang? Tunggu saja waktunya... kau pasti menyesal! sungut gadis itu dalam hatinya. Dua hari kemudian, tibalah mereka disebuah dusun kecil dan sepi. Hanya ada belasan rumah yang berderet tak teratur dan berkelompok. Tidak terlihat adanya sawah ladang sepanjang perjalanan mereka mengelilingi dusun itu, malah yang tampak hanyalah gantungan berbagai kulit binatang buruan yang dijemur dipekarangan hampir sebagian besar rumah yang ada. Kelihatannya penduduk desa ini menggantungkan hidupnya pada berburu dan mengumpulkan hasil hutan, lalu menjualnya ke dusun tetangga atau membarternya dengan kebutuhan lain yang tidak tersedia di dusun mereka. Beberapa pasang mata penduduk desa memperhatikan keduanya dengan seksama, tampak bayangan keheranan dan kecurigaan diwajah mereka. Yang pria rata-rata bertubuh kekar dan kuat sementara yang wanita tampak sehat dan segar. Mereka merupakan gambaran orang-orang yang hidup dan besar dialam dan terbiasa bergelut dengan kerasnya kehidupan. Orang-orang yang tahu bagaimana alam bisa begitu bersahabat, sekaligus tahu juga bagaimana alam dapat berubah menjadi musuh yang menakutkan. A Sai tersenyum kiri kanan. Bagaimana pun juga, melihat begitu banyak rumah dan orang seperti saat ini merupakan pengalaman baru baginya. Ia sibuk memperhatikan segalanya. Semua yang dilihatnya diperhatikannya dan dicatat dengan seksama. Memang aneh melihat kedua anak muda ini. Yang seorang masih pemuda tanggung dengan ukuran tubuh melebihi pemuda sebayanya, sementara yang satu lagi masih remaja putri yang kecil mungil dan cantik jelita. Selain sebuah buntalan yang menggantung dipundak keduanya, tak terlihat sama sekali benda lainnya yang dibawa mereka. Tak ada gagang pedang atau pun senjata lain yang menandakan mereka termasuk dalam golongan pendekar. Dibilang pedagang pun tak mungkin, sebab tidak tampak adanya rombongan kuda yang membawa barang dagangan dibelakang mereka. Apalagi dua orang remaja tanggung yang melakukan perjalanan bersama tanpa ditemani orang dewasa? hal ini mengundang tanda tanya sekaligus keheranan dihati penduduk desa itu. Para penduduk tampak saling berbisik sambil mengamati setiap gerak-gerik A Sai dan Yan Ci. Tinggallah keduanya yang merasa tak nyaman sendiri. Bukannya apa, kalau diperhatikan secara sembunyi-sembunyi mungkin tidaklah seberapa. Tapi kalau diperhatikan secara terang-terangan seperti ini? A Sai mulai merasa rikuh dan salah tingkah. Aku lapar, kau bagaimana? A Sai bertanya mencoba mengalihkan pikirannya dari sambutan yang mereka terima.

Huhhh! hanya suara dengus tak peduli yang terdengar dari mulut orang yang ditanyanya. Baik, mari kita cari tempat yang menjual makanan... Pemuda itu menjawab sendiri pertanyaannya. Lalu melangkah makin lebar melewati si gadis. Yang ditujunya adalah seorang pria tua berumur sekitar 50-an tahun yang tampak sedang asyik menyamak kulit binatang dibantu istrinya. Istri pria itu menatapnya penuh selidik, namun A Sai tak memperdulikannya. Selamat siang paman, adakah kedai makanan atau penginapan didusun ini? tanyanya sopan. Pria itu berpaling dengan malas-malasan menatap A Sai, tapi ketika matanya bertemu dengan mata pemuda itu. Segera saja rasa malasnya hilang. Pria tua itu tampaknya terkesima dengan pemuda yang berdiri dihadapannya itu. Diperhatikannya A Sai dengan penuh perhatian, hal yang mana membuat A Sai jadi rikuh sendiri. Maaf telah mengganggu paman, adakah tempat didusun ini yang menyediakan makanan dan tempat tidur? Pria itu terdiam sebentar lalu berpaling pada istrinya sebelum menjawab. Kalau penginapan yang kau maksudkan... tidak ada. Tapi kalau makanan... bisa kau tanyakan dikedai arak Koh Lopek (paman tua Koh). Biasanya selain arak, Koh tua juga menyediakan sedikit makanan untuk tamunya. Dimanakah letak kedai arak Koh Lopek, paman? Jalan saja terus, kalian akan menjumpai sebuah bangunan yang bentuknya agak lain dari yang lain... disitulah tempatnya. Kau takkan mungkin melewatkannya. Kali ini istri pria itu yang menjawab. Terima kasih banyak paman. Terima kasih bibi. jawab pemuda itu dengan gembira, berpamitan lalu segera melangkah meninggalkan tempat itu. Oya, mohon tanya lagi paman... tiba-tiba ia berbalik dan berkata. Apakah nama dusun ini? tanyanya. Dusun ini? dusun Musim Berburu. Jawab pria itu. Benarkah? Kenapa dinamakan demikian? A Sai tertegun sesaat, keheranan mendengar nama dusun yang tidak biasanya itu. Agaknya bertanya telah menjadi kebiasaan anak muda ini. Suatu hal yang jamak bagi orang lain bisa saja merupakan suatu keanehan yang patut dipertanyakan baginya. Sampai-sampai nama

dusun pun dipertanyakannya hanya karena menurutnya nama dusun itu terdengar aneh dan tak lazim. Pria itu menatapnya sejenak, mungkin heran mendengar pertanyaan A Sai itu. Kenapa dinamakan demikian? Entahlah. Saat datang ke dusun ini, dusun ini telah dinamakan demikian. Siapa yang memberi nama dan mengapa memberi nama demikian, aku tak dapat menjawabnya anak muda. Pria itu menjelaskan. Ooo... begitu... Nng... terima kasih paman. Suaranya terdengar sedikit tak puas, mungkin karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Segera setelah mengucapkan kalimat tersebut, A Sai pun melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Pria itu menarik nafas panjang sambil mengamati bayangan A Sai dan Yan Ci yang semakin menjauh. Ada apa? Kenapa kau kelihatan terkejut saat melihat anak muda tadi? tanya istri pria itu heran. Masa tidak kau lihat keanehan anak muda itu? Hmm... selain postur tubuhnya yang sedikit lebih besar dan mata yang terlalu tajam untuk seorang anak yang seumuran dirinya, tak ada lagi hal lain. Memang agak sedikit berbeda tapi itu kan bukan sesuatu yang aneh? jawab istrinya setelah berpikir sejenak. Bukan cuma ukuran tubuh dan matanya saja yang terlihat aneh... jawab pria itu setengah melamun. Maksudmu? Alisnya... pernahkah kau melihat bentuk alis yang seperti itu? Kali ini istrinya tak menjawab. Aku pun tak pernah melihat bentuk alis yang seperti itu. Konon, hanya keturunan darah tertentu saja yang mempunyai bentuk alis seperti itu. Istrinya mengangguk, tampaknya mulai menyetujui ucapan suaminya. Tak usah dipikirkan, paling-paling mereka berdua merupakan murid tokoh terkenal bulim. Lebih baik kita selesaikan saja pekerjaan kita ini! jawab istrinya lagi Kali ini suaminya terpaksa mengangguk setuju, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. ******* Hanya ada sebuah kedai arak sederhana didusun itu. Arak yang dijualnya pun merupakan arak

lokal buatan sendiri. Walau demikian, kedainya tak pernah sepi dari pelanggan. Sebab hanya kedai inilah satu-satunya tempat yang menyediakan arak dan makanan kecil dalam jarak ratusan Li dari tempat itu. Pemiliknya seorang tua tak beristri yang biasa dipanggil penduduk dengan sebutan Koh Lopek. Matahari tepat diatas ubun-ubun saat keduanya melangkah memasuki pintu kedai arak tersebut. Suasana kedai arak sendiri tampak sunyi, hanya ada dua orang pelanggan yang sedang duduk menikmati arak sambil bersenda gurau. Maklumlah, masih terlalu siang bagi penduduk dusun untuk menikmati arak. Kedai arak ini hanya ramai dikunjungi pada malam hari, disaat para penduduk dusun telah beristirahat dari perkerjaan sehari-hari mereka. Pemilik kedai arak ini belumlah terlalu tua usianya, paling masih sekitar 45-50 tahun. Seorang pria setengah umur yang hanya menggantungkan penghasilannya dari menjual arak dan sedikit makanan kecil. Bukan karena ia terlalu malas untuk bekerja, tapi karena sebelah kakinya pincang sedangkan tangannya yang satu lagi buntung. Hal ini yang membuatnya tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para penduduk dusun itu. Koh Lopek baru saja mengantar tambahan sekati arak dan sepiring kuaci bagi dua orang tamunya ketika dilihatnya sepasang muda-mudi memasuki pintu kedai araknya. Wajahnya berseri penuh harapan sebab sedari pagi tadi hanya dua orang tetangganya itu yang duduk minum, itupun dengan jalan menghutang. Otomatis kedatangan dua orang tamu ini disambutnya dengan penuh keramahan. Sebab tamu berarti uang baginya. Selamat siang Kongcu (tuan muda)... Selamat siang Siocia (nona)! Silahkan masuk... Silahkan masuk! dengan penuh semangat Koh Lopek mempersilahkan tamunya masuk. Terima kasih paman! A Sai menjawab sopan, sedikit tersipu mendengar panggilan pemilik kedai arak itu padanya. Tangan Koh Lopek yang tinggal satu itu dengan cekatan membersihkan meja dan bangku terbaik dikedai itu, lalu segera mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk. Namun belum sempat ia membuka mulut bertanya, A Sai telah lebih dulu berkata. Paman, kami pesan makanan lengkap dengan lauknya ditambah sepoci teh. Koh lopek tertegun, jarang ada orang datang ke kedai arak untuk minum teh dan makan siang. Walau demikian, ia dapat memaklumi permintaan pemuda dihadapannya ini. Sebab sepasang muda-mudi ini bukanlah penduduk dusun itu. Jika bukan penduduk dusun, pastilah mereka sedang melakukan perjalanan jauh dan mampir untuk mencari makanan disitu. Wah... terus terang saja, kedai arak ini hanya menyediakan arak dan makanan kecil saja. Tapi kalau kongcu menghendaki, bisa kusiapkan makanan sekedarnya. Hanya saja mohon dimaafkan, paling hanya bubur dan dendeng asap yang mampu kusediakan untuk Kongcu dan Siocia. Baik, kami mau. Terima kasih paman! jawab A Sai cepat, tak menyadari perubahan wajah gadis yang duduk agak jauh disampingnya itu.

Wajah A Sai berseri senang. Ia tak terlalu peduli dengan makanan. Yang penting tidak kelaparan, sudahlah cukup baginya. Soal rasa makanan itu sendiri tidaklah menjadi suatu persoalan. Berbeda dengan Yan Ci, wajahnya berubah muram mendengar perkataan pemilik kedai arak itu. Apalagi saat mengetahui bakal makan siangnya hanyalah semangkok bubur cair dan dendeng asap yang kering dan keras, nafsu makannya langsung hilang. Tunggulah sebentar, akan kusiapkan! Koh Lopek menjawab tak kalah cepatnya. Ngg... Kalau bisa, tolong tehnya dibuatkan dahulu paman! Tentu... tentu... tunggulah sebentar! Dalam hitungan detik saja, tubuh pemilik kedai arak itu telah menghilang dibalik sebuah pintu yang agaknya menuju ke dapur kedai. Terdengar suara riuh didapur miliknya itu. Agaknya Koh lopek sedang sibuk menjerang air dan menyiapkan segala keperluan untuk memasak pesanan tamunya. Huhh! Suara dengusan tak senang terdengar dari mulut Yan Ci. A Sai mendengarnya, tapi mencoba tak peduli. Takut kalau dilayani, bakal timbul masalah lain lagi. Ia hanya diam dan pura-pura sibuk memperhatikan keadaan disekelilingnya. Huhhhhh! Dengusan yang sama terdengar kembali, kali ini bahkan terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya. Bahkan kedua orang tamu yang duduk agak jauh didepan mereka pun memalingkan wajah dan menatap keduanya dengan penuh minat. Namun A Sai masih mencoba tak peduli. Huhhhhhhh... menyebalkan sekali harus berjalan dengan seorang dungu yang tak dapat mengerti kebutuhan wanita! kali ini dengusannya diiringi dengan semprotan pedas menyerang pemuda yang duduk disampingnya itu. Mau tak mau, wajah A Sai memerah juga. Apalagi kedua orang tamu yang lain pun turut tersenyum mendengar perkataan Yan Ci itu. Apakah kau tak suka dengan makanan yang ada? tanya A Sai akhirnya, mengambil kesimpulan sendiri. Makanan? Seperti itu kau sebut makanan? tanya gadis itu cepat, gusar. Benar dugaannya, soal makanan yang sedang diributkan gadis itu. Memangnya bukan? Bubur dan dendeng asap kan makanan juga... A Sai balik bertanya, sedikit heran dengan penolakan Yan Ci.

Huhhh... Bukan untukku! semprot gadis itu. A Sai jadi tersenyum sendiri. Lalu? Makanan seperti apa yang kau inginkan? tanyanya perlahan. Nasi ditambah paling tidak dua jenis masakan sayur dan dua jenis masakan daging! kata gadis itu cepat penuh semangat. Agaknya berbicara mengenai makanan telah membangkitkan lagi seleranya makannya. A Sai jadi tersenyum getir, keinginan gadis itu masih bisa dimengertinya. Hanya saja didusun terpencil seperti ini, dimana ia harus mencari tempat yang sanggup memenuhi selera gadis ini? Dimanakah harus kucari masakan seperti itu? Terserah bagaimana caramu, Kenapa harus tanya aku? Tapi... Lagipula aku kan tidak memintamu mencarikan masakan yang aneh-aneh... hanya masakan biasa saja, asalkan lauk pauknya dua jenis dan ditambah nasi! potong gadis itu tak membiarkan A Sai melanjutkan ucapannya. Aku tahu... hanya saja dimana harus mencarinya? Satu-satunya kedai didusun ini pun hanya sanggup menyediakan bubur dan dendeng asap, memangnya harus kucari diman... Kau suruh aku makan bubur? Huh, yang benar saja! Bahkan si belang pun akan kehilangan nafsu makannya jika disuruh makan bubur! potong gadis itu lagi. Berbicara mengenai si belang membuat A Sai teringat akan babi kecil piaraan cicinya. Babi yang karena terlalu disayang cicinya hingga selalu mendapatkan makanan terbaik langsung dari meja tuannya. Jangan begitu, hargailah makanan apa pun yang disediakan bagimu. Lagipula orang telah mau bersusah payah memasakkannya bagi kita, kenapa harus disunguti? bujuk si pemuda. Enak saja kau bicara, kau kan biasa makan sembarangan... jangan samakan diriku dengan dirimu! A Sai mulai gerah juga mendengar ucapan-ucapan gadis itu yang benar-benar seenaknya sendiri. Bukankah selama sepekan terakhir ini kita hanya makan roti kering dan daging saja? Kenapa sekarang jadi berubah pilih-pilih makanan? sindir si pemuda.

Itukan karena tak ada makanan lain lagi yang bisa dimakan... apalagi kau tak pernah mau berburu, sok suci dan berlagak tak tega untuk membunuh hewan. Yan Ci balas menyindir. Lho... memangnya salah perbuatanku itu? tanyanya. Apalagi seingatku memberimu makan, bukan termasuk tugas yang kuterima dari Subo mu. lanjutnya lagi, sedikit jengkel. Gadis itu mendelik gusar, tak tahu harus berkata apa lagi. Jadi kau tak mau mencarinya? Kau tahu jawabannya. Jawab A Sai. Kalau begitu, kau saja yang makan! Jangan harap ku mau memakannya! Terserahlah! ujar A Sai gerah, pusing juga kalau harus menuruti semua keinginan gadis itu. Baik! jawab Yan Ci tak mau kalah lalu dilanjutkan dengan duduk merajuk, bibirnya manyun menunjukkan ketidak-senangan hatinya. A Sai tak menanggapi sikap gadis itu, perhatiannya telah beralih pada dentingan mangkuk yang berasal dari dapur. Agaknya teh telah selesai dibuat dan akan segera dihidangkan. Benar dugaannya, sebab beberapa saat kemudian si pemilik warung telah muncul meletakkan sepoci teh yang masih mengepulkan asap beserta dua cawan kosong yang terbuat dari tanah liat. Kedatangannya disambut senyum lebar A Sai dan wajah muram Yan Ci. Maaf... maaf... agak terlambat sedikit tehnya. Silahkan diminum selagi masih panas! Koh Lopek dengan cepat menuangkan teh yang dibawanya ke dalam cawan-cawan kosong yang ada. Terima kasih paman. Sama-sama! Makanannya sebentar lagi siap, silahkan dinikmati dulu tehnya! A Sai tak menunggu lama lagi, segera saja dijemputnya cawan teh tersebut lalu mulai meniupnya. Beberapa saat kemudian, isi cawan telah berpindah ke dalam perutnya. Sebentuk senyum puas tersungging dibibir pemuda itu sementara pemilik warung menatapnya senang. Bagaimana tehnya? Sedap paman, sungguh menyegarkan! puji A Sai. Senyum lebar menghiasi wajah Koh Lopek yang dipenuhi kerutan itu.

Hehehe... kongcu bisa saja. Kekehnya senang lalu segera mengundurkan dirinya kembali ke dapur untuk melanjutkan acara masaknya. A Sai tersenyum puas. Kursi yang didudukinya menempel pada dinding kedai dan si pemuda segera saja memanfaatkannya. Sambil bersandar santai ke dinding, pandangannya menyapu isi kedai itu. Sungguh sebuah kedai yang sederhana, hanya tampak dua orang pria yang sedang duduk menikmati arak sambil bercerita pelan. Yang seorang berumur sekitar empat puluhan, berwajah sangar dengan brewok menutupi mukanya dan sinar mata licik yang liar bergerak ke sana kemari. Yang seorang lagi berwajah tampan dengan kumis kecil melintang diatas bibirnya, namun segaris codet tampak membelah pipi kirinya dari dahi hingga hampir mengenai tulang rahang dan membuat ketampanannya jadi tak enak untuk dilihat. Nafas si pemuda mendadak tertahan. Walau cuma sekejap, ia dapat menangkap kilatan liar dari kedua pria yang walau secara sembunyi-sembunyi, namun jelas pandangan tersebut ditujukan mereka pada dirinya dan Yan Ci. Agaknya ada sesuatu yang kurang baik yang sedang mereka rencanakan. Gelagatnya kurang baik. Desah pemuda itu dalam hatinya. Diliriknya sekilas gadis yang duduk disampingnya itu, namun pandangan matanya bentrok dengan pandangan mata gadis itu. A Sai terkesiap, kelihatannya gadis itu sejak tadi memperhatikan segala gerak geriknya. Entah kenapa, pemuda itu merasa seperti sedang berada diantara dua kawanan binatang buas. Seorang gadis dengan pandangan yang seolah hendak menelannya bulat-bulat dan dua orang pria yang memperhatikan mereka dengan sinar mata tidak baik. Yang mana kawan, yang mana lawan? batinnya pada diri sendiri. Entah kenapa, ia jauh lebih khawatir terhadap pandangan gadis itu daripada pandangan kedua pria yang duduk beberapa meja dari tempat mereka. Dipandangnya lagi kedua pria itu. Kilatan liar yang sama kembali terlihat dan membuat A Sai makin yakin saja, bakal terjadi sesuatu yang kurang baik. Siapa mereka? Kenapa terlhat seolah mengandung maksud yang tidak baik? renungnya dalam hati. Heh... A Sai berpaling, tak menyangka akan ditegur secepat ini oleh si gadis. Namaku A Sai, bukan heh... Jawabnya pelan sedikit memprotes. Mau A Sai kek... A Gu kek... A Kauw kek... aku tak peduli. ejek si gadis.

Walau sudah menabahkan hati menunggu jawaban gadis itu, mau tak mau A Sai jadi meringis sendiri. Singa (Sai) masih enak didengar tapi kalau kerbau (Gu) atau anjing (Kauw)? Pemuda itu kehilangan kata-kata, tak tahu harus menjawab apa. Kedua orang tolol bertampang idiot itu sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik. Cepat ke sana dan beri mereka pelajaran! kata gadis itu lagi. A Sai tertegun, rupanya gadis itu pun mempunyai kecurigaan yang sama dengannya. Hush... jangan sembarangan memaki orang, lagi pula dari mana kau tahu mereka berniat jahat? tanpa ada buktinya, kita tak bisa seenaknya. A Sai tak setuju. Kau takut? Takut berbuat salah? Sudah pasti. Tegasnya. Gadis itu mendengus mengejek lalu bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah gemulai dan anggun, ia berjalan perlahan mendekati meja tempat dua orang itu duduk. A Sai memandang tak berdaya. Entah apa lagi yang hendak dilakukan gadis itu. Ji-wi Tay-Hiap (Dua pendekar besar), apa yang sedang ji-wi (anda berdua) lakukan ditempat ini? Arak diatas meja belumlah habis. Kulit makanan kecil yang terbuat dari biji semangka pun masih bertebaran diatas meja. Namun dua orang yang duduk diatas meja itu sudah tak lagi memperhatikannya. Perhatian mereka telah teralih pada suara lembut nan merdu yang memanggil, selembut sutra membelai hati. Kedua pria itu berpandangan, tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah mereka telah salah dengar? Ataukah mendadak saja mereka telah berubah menjadi seorang Tay-Hiap? Bahkan si pemuda teman gadis itu pun tampak tak mengerti. Tapi mereka semua tidak salah dengar, memang kalimat itulah yang keluar dari mulut Thio Yan Ci. Nona salah orang! si codet akhirnya menjawab singkat. Benarkah? mata si gadis yang indah mengerling penuh arti. Benar, nona pasti salah orang. Kami berdua bukanlah pendekar, kami hanyalah sepasang pemburu yang sedang melewatkan waktu sambil bersantai menikmati arak. Si brewok menegaskan. Aku belum pernah salah lihat sebelumnya... Ngg... benarkah Ji-Wi bukan Tayhiap? si gadis makin mengerling penuh arti.

Temanku sudah mengatakannya. Pria satunya yang menjawab. Walau pun mulutnya berkata demikian namun matanya tak pernah berhenti jelalatan, berkelana menjelajahi keindahan gadis yang berdiri didepannya itu. Apa maksud bocah nakal itu? A Sai termenung. Apa ia memang mengenal kedua pria itu? Hmm... biar kulihat dulu bagaimana perkembangannya. Sementara tingkah gadis itu makin menantang saja, sikapnya seperti seorang sahabat lama yang bertemu dengan teman baiknya diwaktu lalu. Setiap ucapannya teratur dan sopan, bahkan terkesan mesra dan menggoda. Suatu hal yang berlawanan dengan pembawaan gadis itu seharihari. Entah apa maksud gadis itu. Benarkah? Ah... sayang sekali... Ucapan si gadis yang dibiarkan menggantung itu tentu saja mengakibatkan keingin-tahuan kedua pria itu makin meningkat. Sayang apanya? si brewok bertanya sambil matanya melirik sekilas ke arah teman pria gadis itu. Didunia ini hanya ada tiga golongan manusia. Golongan yang pertama adalah golongan pendekar... lalu? si codet bertanya cepat, tak mengerti. Golongan yang kedua adalah golongan cecurut, yang bisanya hanya berbuat kejahatan secara diam-diam, lempar batu sembunyi tangan... Wajah kedua orang itu mulai berubah, tetap tak mengerti maksud segala ucapan gadis itu. Namun entah kenapa, perasaan tak enak mulai terbit dihati kedua pria itu. Yang ketiga adalah golongan orang sepertiku... Hmm... golongan apakah itu? si brewok bertanya setengah mendengus. Golongan pemimpin. golongan orang yang menjadi pemimpin diantara kedua golongan lainnya. Golongan orang yang harus dipatuhi setiap ucapannya. Golongan orang yang setiap perkataannya sama beratnya dengan titah dari para dewa sendiri. Yan Ci sengaja menahan sedikit ucapannya, lalu dengan perlahan-lahan ia pun mengucapkan kalimat berikutnya.

Pertanyaannya sekarang... Ji-wi ini termasuk golongan yang manakah? gadis itu melanjutkan ucapannya lagi. Kedua pria itu saling berpandangan. Segala ucapan gadis itu belum jelas arahnya. Bego amat sih, masa ucapan sejelas ini tak juga dipahami? gerutu gadis itu dalam hatinya. Melihat ucapannya masih belum dapat memancing kemarahan si brewok dan temannya, gadis itu pun makin menuangkan minyak ke dalam api. Golongan pendekar, jelas tidak. Ji-Wi sendiri yang mengatakannya... Golongan Pemimpin... hehehe... jelas bukan, Ji-Wi sama sekali tidak ada tampang sebagai pemimpin... setiap ucapan gadis itu diucapkan dengan lambat-lambat. Wajah kedua pria itu mulai berubah hebat. Kalau Ji-Wi bukan datang dari golongan pendekar, bukan pula dari golongan pemimpin... maka sudah pasti Ji-Wi berdua termasuk golongan yang lainnya itu... senyum gadis itu makin melebar. A Sai tersentak, namun sudah terlambat. Hawa pembunuhan tebal memancar dari si brewok dan temannya. Sebilah pisau bermata lebar terbuat dari baja mendesing membelah udara, tanpa malu-malu langsung berkelebat mencari lambung gadis itu. Yan Ci tersenyum sinis, dengan gaya yang anggun ia berkelit ke samping menghindari kilat pisau sepanjang satu setengah jengkal milik si codet. Malah tawa mengejek masih sempat keluar dari mulut si gadis. Namun ia melupakan satu hal, dirinya yang sekarang tidaklah sama dengan dirinya yang dahulu. Tanpa lweekang, otomatis gerakannya pun menjadi sama dengan manusia lainnya. Mana mungkin sanggup menghindarkan diri dari serangan si codet yang jelas-jelas bukanlah seorang biasa yang tak mengerti ilmu silat. Untunglah kegesitannya masih belum hilang ditambah lagi jurus silat perguruannya belumlah dilupakan, gerakan yang telah mendarah daging itu menyelamatkan nyawanya disaat terakhir. Namun hal itu tak berhasil melepaskan mantel yang dikenakannya dari kerusakan, robek terlanggar mata pisau yang setajam silet. Keringat dingin mulai mengalir, sadar dirinya saat ini takkan mampu menghadapi kedua pria yang ada didepannya itu. Cepat dicarinya bayangan A Sai.

Eh... mana dia? gadis itu tersentak kaget ketika tak menjumpai A Sai pengawalnya dimeja tempat duduk mereka. Kurang ajar... malah melarikan diri dari tempat ini? gusar hati gadis itu. Tapi ia tak sempat berpikir lama-lama, pantulan kilatan pisau menyinari wajahnya. Menyadarkannya akan maut yang sedang bergegas mencarinya. Celaka... tahu begini, takkan ku cari masalah dengan mereka. Batin gadis itu lagi, menyesali keteledorannya. Ia memang patut menyesal. Tujuannya mencari masalah dengan kedua pria ini hanyalah sematamata untuk mengadu keduanya dengan A Sai. Tapi kalau A Sai tidak ada, percuma saja semua usahanya itu. Malah berbalik dirinya yang berada dalam bahaya. Sudah capek-capek mencari masalah... eh, si dungu itu malah kabur. gerutunya panjang pendek dalam hati. Diperhatikannya si codet yang menggenggam pisau. Sebilah pisau berburu yang tajam dan berat. Jika pisau itu sampai masuk ke tubuhnya, sudah dapat dipastikan ia takkan meninggalkan kedai arak ini lagi selamanya. Gadis itu menelan ludah, kekhawatiran menguasai dirinya. Hehehe... kukira ada isinya, ternyata sama sekali tidak bisa apa-apa... si brewok tertawa mengejek. Nona manis, kalau kau mau menemani kami minum arak dan bersenang-senang... Hmm.. kami pasti melupakan segala perbuatanmu... sambung si brewok lagi. Hmm... benar juga, sayang kalau kau mati muda. Lebih baik kau ikut saja dengan kami, dijamin kau akan bahagia seumur hidupmu. Si codet pun turut buka suara. Mata kedua pria itu menyala liar seolah hendak melahap gadis yang berdiri dihadapan mereka itu. Agaknya ide cemerlang temannya telah mengurangi nafsu membunuh dihati si codet. Cis, tak tahu malu. Kalau mau bunuh, lekas bunuh. Tak usah banyak bacot! bentak gadis itu, agaknya ucapan kedua pria itu telah membangkitkan kemarahannya dan membuatnya sejenak melupakan kekhawatiran dihatinya. Nona manis... tak perlu malu-malu. Bukankah kami jauh lebih baik dibandingkan dengan bocah temanmu yang pengecut itu? Lihat saja dirinya, saat kau berada dalam bahaya, ia malah lari terbirit-birit meninggalkanmu. Apa yang kau harapkan dari bocah seperti itu? Hehehe... Lebih baik kau ikut saja dengan kami. Si brewok membujuk lagi. Cis... setidaknya ia manusia, bukan binatang jorok dan rendah seperti kalian!

Mata si codet berkilat menyeramkan. Tangannya yang menggenggam belati mulai menegang, bersiap menyerang. Ucapan Yan Ci membangkitkan kembali nafsu membunuhnya. Ji-wi, harap tunggu sebentar! Suara tersebut mengalihkan perhatian mereka dari Yan Ci. Serentak keduanya menoleh. Tampak bocah teman gadis itu berjalan santai keluar dari balik pintu tembusan yang menuju dapur kedai arak Koh-Lopek. Kedua pria itu membelalakkan mata setengah tak percaya, sejak kapan anak muda ini berada didapur? Kenapa mereka tidak melihat gerakannya? Padahal dapur berada diantara mereka dan meja gadis itu. Seharusnya gerakan anak muda itu saat menuju ke dapur terlihat oleh mereka. Yang lebih membuat keduanya terpana lagi adalah mangkuk besar yang berada ditangan si anak muda. Rupanya ia ke dapur semata-mata hanya untuk mengurusi perutnya yang kelaparan. Kedua pria itu makin tak mengerti. Ku harap, Ji-wi mau menghabiskan segala urusan ini sampai disini saja. A Sai menjawab tak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan yang belum sempat dimakannya hingga selesai. Buset, disaat seperti ini pun masih memikirkan makanan? Yan Ci gemas melihatnya. Bagaimana tidak gemas, bukankan kewajiban A Sai untuk selalu melindunginya? Kenapa disaat ia dihina orang dan hampir saja bertemu dengan raja akherat, pemuda itu malah pergi ke dapur untuk makan? Heh... bocah cilik, lebih baik kau diam saja. Lekas angkat kaki dari sini, jangan ikut campur urusan orang tua! bentak si codet ganas. Sungguh sulit... Sungguh sulit. A Sai menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menggumam tak jelas. Apanya yang sulit? Segalanya. Jawab A Sai pelan. Apamukah gadis ini? tanya si brewok. Ngg... bukan apa-apa sih... jawab pemuda itu lagi. Kalau begitu tak ada yang sulit. Tinggalkan saja gadis ini bersama kami... kau selamat, ia pun bahagia. Jawab si brewok lagi. A Sai mengerutkan keningnya, tampak seperti sedang berpikir keras layaknya seorang yang berat memutuskan langkah apa yang hendak diambilnya.

Apakah yang hendak Ji-wi lakukan padanya? tanya pemuda itu tiba-tiba. Kau tak usah tahu! bentak si codet marah. A Sai makin mengerutkan keningnya. Tentu saja aku harus tahu. Gadis ini diserahkan dibawah pengawasanku, segala hal yang menyangkut kebahagiaannya tentu saja menjadi urusanku. Jawabnya tegas. Anak muda, gadis itu hendak kami jadikan istri. Kau mau apa? tantang si codet berang. Kalau ia mau diperistri kalian sih... aku juga tak dapat berbuat apa-apa, hanya saja... aku ragu ia mau. Lalu tanpa memperdulikan kedua pria itu lagi, ia berpaling dan menatap Yan Ci. Kau mau ikut dengan mereka? Sambil meludah ke lantai, gadis itu membentak gusar. Cis... siapa yang sudi? Jangan banyak omong lagi, lekas beri mereka pelajaran! Oya? Kenapa harus aku yang memberi mereka pelajaran? Apa matamu sudah buta? Apa kau tidak lihat mereka telah menghinaku habis-habisan? bentak gadis itu lagi, makin gusar. Kau sendiri kan yang mencari masalah. Selesaikan sendiri masalahmu, jangan melibatkan orang lain yang tak tahu apa-apa dong. pemuda itu menggerutu. Kau... gadis itu makin gemas saja melihat tingkah A Sai yang seolah jual mahal. Bilang saja kau takut, jangan pura-pura gagah... Lagaknya saja yang seperti seorang pendekar besar, kenyataannya... hanyalah seorang pengecut! jengek gadis itu akhirnya. Biar saja... daripada berlagak jagoan, padahal hanya tong kosong yang nyaring bunyinya. A Sai tidak tersinggung, malah balik menyindir Yan Ci. Kedua pria itu kembali berpandangan, tak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi ditempat itu. Kedua anak muda itu bukannya bersatu melawan mereka malah sibuk saling mengejek sendiri. Si Codet makin marah saja. Mereka berdua seolah tidak dianggap sama sekali oleh gadis itu dan si pemuda temannya. Akhirnya tak tahan lagi, ia berteriak menyela pertengkaran mereka. Diam! Kalian sudah gila? bentaknya murka.

Tutup mulutmu! Kau diam saja disitu, jangan ikut campur urusan orang lain! Yan Ci malah balik membentak si codet. Si codet melongo sesaat, tak menyangka akan menerima jawaban yang demikian dari gadis itu. Namun hanya beberapa saat ia terdiam sebab disaat yang berikutnya pisaunya telah disambitkannya dengan sekuat tenaga, melayang mencari dada gadis dihadapannya itu. Mati kau! Desisnya murka. Yan Ci tersentak kaget, A Sai malah sebaliknya. Segala gerak-gerik si codet dan temannya telah diperhitungkannya sedari tadi. Satu hal yang selalu diajarkan kongkongnya padanya adalah ia harus selalu mengamati situasi ditempat mana pun dirinya berada. Sebab dengan menguasai situasi dan keadaan yang ada, ia akan lebih mudah dalam memutuskan langkah apa yang hendak diambil. Gerakan melempar pisau itu merupakan pilihan serangan pertama yang diperhitungkannya bakal dilancarkan si codet pada Yan Ci. Jarak sekitar enam langkah yang terpaut diantara si codet dan gadis itu membuat kemungkinan serangan dengan menggunakan senjata rahasia atau pun serangan jarak jauh lainnya merupakan pilihan tepat, dan A Sai telah memperhitungkannya sebelumnya. Oleh karena itu pun ia telah siap sedari tadi dengan penangkalnya. Tranggg! Sesaat sebelum pisau itu menancap di dada Yan Ci, sebuah benda melayang datang menghalangi jalur terbang pisau si codet. Lalu diiringi dengan suara nyaring, benda tersebut pecah berantakan terbentur pisau pemburu si codet, cukup untuk membelokkan arah pisau dari tujuannya semula ke dada gadis itu menjadi melenceng ke langit-langit kedai arak. Si codet memandang A Sai dengan marah, rupanya A Sai lah yang telah menyambitkan mangkuk ditangannya menangkis lontaran pisau si codet. Kurang Ajar! geram si codet makin murka. Sabar nak, jangan terburu nafsu! A Sai menjawab dengan lagak serius, pura-pura menasehati layaknya seorang ayah menasehati anaknya yang kedapatan berbuat nakal. Karuan saja si codet makin terbakar amarahnya. Toako (kakak tertua), hati-hati... Kelihatannya ia bukan pemuda sembarangan! si brewok menasehati cepat. Peduli setan! sambil memaki nyaring, si codet melompat menerjang A Sai. Sekali bergerak, jarak satu tombak telah dicapainya. Gerakannya cepat dan bertenaga. Pukulannya melayang dengan kuat dan dalam sekejap saja telah meluncur mendekati sasarannya. Pukulan si codet tak dapat dianggap ringan. Si codet terkenal dikalangan para pemburu didusun itu sebagai seorang pria bertenaga besar. Bahkan saking kuat kepalannya, hingga si codet

dijuluki tinju selaksa kati. Jangankan dada bocah yang masih muda belia ini, kepala kerbau pun sanggup diremukkannya dengan tinju kebanggaannya itu. Bukkk! Kreekkk! terdengar suara tinju mengenai sasarannya disusul dengan suara tulang yang berderak patah. Tinju si codet dengan jitu mendarat didada A Sai namun kejadian yang terjadi berikutnya malah membuat kedua pria itu terkejut dan nyaris tak percaya. Senyuman kemenangan si codet dengan cepat berubah menjadi seringai tak jelas, lalu dalam sekejap berikutnya berubah menjadi jerit kesakitan. Sementara pemuda yang terkena telak tinjunya hanya berdiri nyengir, malah sedikit salah tingkah. Si brewok melongo tak percaya. Tinju selaksa kati si codet mungkin memang ampuh, hanya saja sayang sekali, pemuda yang diserangnya tidaklah selemah lawan-lawannya sebelumnya. Bahkan dada pemuda itu pun jauh lebih kuat dari kepala kerbau yang mampu diremukkannya. Bukan tulang dada pemuda itu yang patah, malah kepalannya sendiri yang remuk. Nyerinya menusuk hingga ke sumsum dan si codet pun tak malu-malu lagi. Air matanya telah mengalir deras sementara orangnya sendiri telah bergulingan dilantai sambil berteriak-teriak kesakitan memegang kepalan kanannya yang patah. Sungguh sial nasib si codet. Yan Ci tersenyum mengejek, entah senyum itu ditujukannya pada siapa. Dengan anggunnya gadis itu kembali duduk dimejanya semula. Lalu dengan santai dan tak peduli, ia menuangkan teh, kemudian perlahan meminumnya. Masih sempat terdengar suara dengusannya. Dasar tikus-tikus mau mampus! Tak tahu tingginya langit dalamnya laut! ejeknya tak jelas. Si brewok terpaku, matanya terbuka. Ternyata gadis itu dan pemuda temannya sama sekali tidaklah selemah perkiraan mereka semula. Malah si codet pun hanya dalam sejurus telah takluk melawan pemuda itu. Kalau mengukur tingkat ilmu silat dan tenaga, si codet masih menang dua tingkat dari dirinya. Kalau si codet saja tak mampu melawan pemuda itu, apalagi dirinya. Keringat dingin mulai mengalir memenuhi jidat si brewok, sadar keadaannya dan si codet temannya sama sekali tidak menguntungkan. Otak si brewok dengan cepat berputar mencari akal. Namun agaknya ia tak perlu bersusah payah menguras otaknya lagi. Jerit kesakitan si codet temannya telah mulai mengundang kedatangan orang dusun ke kedai arak itu. Si brewok bernafas lega, kesempatannya untuk lolos telah terbuka. Bahkan kalau ia sedikit beruntung, situasi ini dapat dimanfaatkannya untuk membalas sakit hati dan rasa penasarannya dan temannya.

Langkah-langkah kaki makin santer terdengar mendekati kedai arak tersebut, bahkan A Sai pun telah mendengarnya sedari tadi. Celaka... bakal timbul keributan yang lebih besar lagi nih. Pikir pemuda itu gelisah. Apa yang terjadi disini? muncul seorang pria setengah umur dari pintu kedai lalu disusul dengan seorang pria lain dibelakangnya. Pemandangan dalam kedai arak yang tampak porak-poranda ditambah dengan si codet yang masih bergelung diatas lantai sambil menjerit kesakitan membuat kedua pria yang baru datang itu mengerutkan keningnya. Pandangan keduanya langsung terarah pada si brewok dan A Sai yang sedang berdiri berhadapan. Walau hanya sekilas melihat, mereka langsung mengerti kalau sedang terjadi perkelahian antara si brewok dan si codet melawan pemuda jangkung itu. A Sang... apa yang terjadi? pria yang berdiri paling depan bertanya pada si brewok. Nanti kuceritakan... bantu aku dulu, ringkus pemuda dan gadis itu! Si brewok menjawab cepat. Kenapa? pria itu bertanya lagi. Mereka telah berani memandang rendah dan menghina kami, bahkan telah pula melukai Gan Toako (kakak Gan)! si brewok menyambung lagi ucapannya. Benarkah? A Gan terluka? tanya pria itu tak percaya sambil melirik ke arah si codet yang masih tergeletak tak berdaya dilantai. A Gan! Bagaimana keadaanmu? Kau terluka? pria itu bertanya pada si codet namun tak terdengar jawaban apa pun dari mulut si codet. Agaknya si codet telah pingsan, tak sanggup menahan rasa sakit yang melanda. Sudah, jangan banyak tanya! Cepat ringkus mereka! si brewok membentak tak sabaran. Pria itu berpaling menatap A Sai dan Yan Ci, lalu bertanya tegas. Siapa kalian? Apa maksud kalian dengan semua ini? Sudah, tak usah banyak bicara lagi! Lekas ringkus mereka! kata si brewok ganas. Apa kau buta tidak bisa melihat keadaan A Gan yang terluka parah seperti iniini? si brewok menyemprot kedua temannya itu, berusaha memanasi rekan-rekannya itu. A Sai cepat menyela, bisa tambah runyam masalahnya kalau urusan ini tidak segera diperjelas pikirnya dalam hati. Sabar dul...

Hehehe... datang lagi dua tikus, jangan sungkan... ayo maju semuanya! Ucapan A Sai terpotong oleh ucapan Yan Ci, ucapan yang memang sengaja dikeluarkan untuk menambah besar api permusuhan yang telah ada. Akibat dari ucapan gadis itu membuat si brewok seakan hendak menelan mereka berdua bulatbulat. Bahkan kedua orang yang baru datang itu pun tak terkecuali, mulai terbakar amarahnya melihat kepongahan gadis itu. Sial... A Sai menggerutu tak jelas. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Semuanya telah salah sejak awal dan sekarang, sudah terlalu terlambat untuk mencegahnya. Sombong sekali! Biar kucincang mulutnya! sambil membentak nyaring pria yang berdiri paling belakang langsung menerjang menyerang Yan Ci sementara gadis yang diserangnya tampak tak peduli, tetap duduk santai menikmati tehnya dengan tenang. Disaat yang bersamaan si brewok dan pria yang satu lagi turut menyerang A Sai. A Sai diserang dari arah depan dan kirinya, sedangkan yang seorang lagi menyerang Yan Ci. Pukulan mereka membawa angin yang cukup kuat. Bahkan si brewok entah sejak kapan telah menggunakan bangku kayu yang tadi didudukinya untuk menyerang A Sai. Agaknya ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan temannya si codet. A Sai menilai situasi yang ada, dalam sekejap ia tahu apa yang harus dilakukannya. Pemuda itu membiarkan saja pukulan pria setengah umur dan bangku kayu keras itu mendarat dengan telak di tubuhnya, ia sendiri bergegas menghadang laju tinju dari pria yang menyerang Yan Ci. Dukkk! Kraakkk! Braakkk! Terdengar suara pukulan mengenai tubuh. Ada juga suara kayu dan papan yang pecah berantakan diselingi dengan suara tulang yang berderak patah. Tinju-tinju yang mengganas remuk begitu mengenai sasaran. Bangku kayu hancur berkepingkeping. Namun bukan pemuda itu yang terpelanting, para penyerangnya yang tumbang kiri kanan menabrak meja dan kursi. Lalu keadaan pun menjadi sunyi sesaat. Plok..Plok..Plok.. suara tepukan tangan terdengar dibelakangnya memecah keheningan. A Sai menghela nafas panjang. Sambil tersenyum pahit dipandanginya hasil perbuatannya itu, lalu perlahan ia berbalik menatap Yan Ci. Matanya bersinar penuh teguran.

Sudah puas? tanyanya sebal. Gadis itu tak peduli. Dengan santai kembali dituangnya teh ke dalam cawannya yang telah kosong. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa, diminumnya teh tersebut dengan anggunnya. Sungguh gemas rasa hati pemuda itu melihat tingkah si gadis. Namun sebelum ia sempat menyuarakan isi hatinya, perhatiannya telah teralih pada erangan lawan-lawannya. Ilmu setan! desis pria setengah umur itu sambil melotot menahan sakit. Bukan... Bukan ilmu setan... Tiat-Bu-Sha (ilmu baju besi)... Si brewok meralat ucapan temannya sambil mengelus jidatnya yang kini telah menjendol. Saking bersemangatnya hingga bangku yang dipakainya memukul ketika mengenai tubuh si pemuda malah mental balik dan pecah berantakan dijidatnya sendiri. Si brewok menggelenggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha mengusir kepeningan yang menyerang kepalanya. Ketiga pria yang tadinya tampak garang, sekarang jadi terlihat mirip-mirip tikus yang habis digebuk. Tubuh mereka tumpang tindih bercampur dengan berbagai benda yang ada dalam kedai arak Koh Lopek. Dasar tikus-tikus dungu mau mampus, tunggu apa lagi? Kenapa tidak lekas-lekas berlutut minta ampun?. Ejek gadis itu lagi. Si brewok telentang diatas si codet sementara benjol sebesar telor ayam tampak dijidatnya. Pria setengah umur itu tiarap dibawah meja sambil merintih kesakitan, kepalanya berlumuran arak yang tumpah dari guci yang ditabraknya saat terpelanting tadi. Sementara pria yang satu lagi tak kedengaran suaranya karena telah pingsan sedari tadi. Agaknya pria itu yang paling sial, tubuhnya terpental menembus dinding kedai, setengah tubuhnya didalam kedai sedangkan setengahnya lagi berada diluar kedai. Untung saja dinding kedai Koh Lopek terbuat dari anyaman bilah bambu, jika tidak mungkin saja cederanya bakal lebih parah lagi dari yang sekarang dialaminya. Aduh... mati aku! rintih pria setengah tua itu kesakitan. A Sai menghela nafas panjang, hatinya tergerak melihat rintihan kesakitan tersebut. Ia pun berjalan menghampiri pria itu lalu memeriksa luka yang dideritanya. Sekali meraba saja ia tahu, beberapa tulang jemari pria itu patah. Si pemuda kembali menghela nafas panjang. Tangannya lalu berkelebat menotok beberapa bagian dipundak dan lengan pria itu untuk menghentikan deraan rasa sakit yang menyiksa, lalu perlahan diurutnya tulang yang patah. Jangan khawatir paman, tulangmu telah kusambung kembali. Mohon jangan dipakai dulu selama kurang lebih sebulan. katanya pada pria itu. Pria itu menatapnya penuh dendam.

Tak perlu pura-pura! Kau pikir aku akan melupakan begitu saja perbuatanmu hari ini? jangan harap! raung pria itu marah. Disentakkan tangannya yang terluka lepas dari genggaman A Sai lalu dengan tangannya yang masih bebas, diayunkan kembali tinjunya menyerang A Sai. Dengan mudah saja tinju pria itu ditangkapnya. Ia tak ingin pria itu kehilangan tangannya yang satu lagi. Malang bagi pria setengah tua itu. Tanpa sadar tangannya yang patah itu dipakainya untuk menopang badan saat berusaha mengayunkan tinjunya. Akibat dari gerakannya itu membuat si pria menjerit kesakitan sendiri, rupanya ia lupa kalau kepalannya yang lain patah. Si pria setengah umur pun pingsan, nyeri yang melanda ternyata tak mampu ditanggungnya. Hik hik hik... dasar tikus tak berguna, sudah mau mampus masih juga tak sadar diri! jengek gadis itu sambil terkekeh. A Sai melotot marah pada Yan Ci. Bukannya takut, gadis itu malah menjulingkan matanya sambil meleletkan lidah. A Sai... tahan dirimu... Kata-kata itu terus menerus diulangnya dalam hati, tidak mudah memang tapi ia harus bisa menguasai dirinya. Sementara si brewok sedari tadi diam saja, hanya pandangan matanya yang menyiratkan kebencian yang mendalam pada kedua orang yang ada dihadapannya itu. Ingin rasanya sekali terkam, dicabik-cabiknya setan betina itu. Hanya sayang... ia tak mampu. Untuk mencapai si gadis, masih ada pengawalnya yang jangkung itu. Sekarang tinggal seekor tikus lagi... tikus brewok! Gadis itu seolah sedang bicara sendiri namun A Sai tahu, ia ditugaskan untuk mengurus si brewok. Dengan sebal dipandangnya gadis itu. Kau urus saja sendiri! katanya. Kau takut? Atau tak mampu? Pemuda itu malas meladeni ucapan si gadis, pembicaraan pun berusaha dialihkannya. Sebaiknya segera kita tinggalkan dusun ini sebelum masalah yang lebih besar muncul. Kata A Sai jengkel sambil berpaling memperhatikan suasana diluar kedai arak tersebut lalu diraihnya buntalan pakaiannya dan diikatkan ke pundaknya. Eitt... kau tunggu disitu, ada yang ingin kutanyakan pada tikus brewok ini. Yan Ci menjawab cepat. Apa lagi? Apa masih kurang besar masalah yang ada?

Cerewet! Diamlah disitu dan urus saja urusanmu! jawab gadis itu tak peduli. A Sai menghela nafas panjang. Bagaimana pun juga semuanya bermula dari Yan Ci, terlepas dari niat si brewok dan temannya, gadis itulah yang pertama mencari masalah. Mau tak mau, A Sai pun turut merasa bersalah. Karena ulah Yan Ci, ia terpaksa melukai orang lain. Walaupun dirinya tak menginginkan semua itu terjadi, tapi ia tak punya pilihan lain. Seandainya saja sedari awal ia sanggup menentang keinginan gadis itu, mungkin semua kejadian ini bisa dicegahnya. Melihat A Sai tak menanggapi ucapannya, gadis itu seolah mendapat lampu hijau. Dengan langkah lambat dan anggun, gadis itu mendekati si brewok. Heh... ada yang ingin nona besar tanyakan padamu. Kalau kau tidak menjawabnya dengan benar, benjol dijidatmu itu bakalan bertambah satu lagi! bentaknya galak. Si brewok tak menjawab, hanya matanya saja yang memandang makin penuh dengan kebencian. Apa yang tadi kalian rencanakan pada kami? Si brewok tak menjawab, sebaliknya A Sai yang menjawab. Tak ada gunanya kau tanyakan pertanyaan bodoh seperti itu padanya? Pertanyaan bodoh? Beraninya kau me... Ayo tinggalkan tempat ini, tak usah pedulikan lagi pria itu. A Sai memotong kemarahan gadis itu. Enak saj... Diamlah! Apa kau lupa janji yang kau ucapkan dihadapan subo mu? Kau... Diam dan cepat jalan! Sekarang juga kita tinggalkan tempat ini! bentak A Sai sebal. Yan Ci tak sanggup menjawab, kalau urusannya sudah menyangkut janji yang pernah diucapkannya. Ia tak dapat berbuat apa-apa lagi selain memenuhi janjinya itu. Janji untuk menuruti perintah A Sai, perintah yang tidak bertentangan dengan kebenaran. Akhirnya sambil mendengus gusar, ia pun kembali ke meja tempatnya semula lalu mengambil buntalan pakaiannya. A Sai sendiri tanpa bersuara, mengeluarkan tiga potong perak seberat satu tael dari buntalannya sendiri lalu diletakkannya diatas meja. Segera setelah membayar makanan dan minumannya

berikut ongkos kerugian yang diderita Koh Lopek, A Sai pun beranjak meninggalkan kedai arak itu. Kelihatannya tak lagi peduli dengan Yan Ci. Heh... mau kemana kau? tanya gadis itu, melihat si pemuda meninggalkannya begitu saja. Pergi dari sini, memangnya kau masih ada muka untuk tetap disini? jawab A Sai acuh tak acuh. Gadis itu tak menjawab. A Sai mengerutkan keningnya, heran tidak biasanya Yan Ci mengiyakan saja perkataannya. Akhirnya sambil mengangkat bahu, ia lalu melanjutkan langkahnya. Sial... aku kan belum lagi makan... gerutu gadis itu lirih. Baiknya kusuruh Koh Lopek untuk membungkusnya saja buat bekal dijalan nanti! agaknya gadis itu baru teringat akan perutnya yang belum diisi sedari tadi. Koh Lopek! Koh Lopek! gadis itu memanggil. Tak ada gunanya. Paman Koh telah kusuruh mengungsi untuk sementara. Malah A Sai yang menjawab. Bukan main gemasnya hati gadis itu, padahal ia kan belum makan. Ada apa lagi? tanya A Sai santai. Bukankah makanan Koh Lopek tak cocok untuk nona besar sepertimu? sindir pemuda itu lebih lanjut. Gadis itu bungkam, tak tahu harus berkata apa. A Sai tersenyum dalam hati. Biar tahu rasa gadis keras kepala ini. Waktunya makan bukannya makan, ehh... malah mencari masalah dengan orang lain. Setelah itu baru sibuk hendak makan.... sudah terlambat. Sambil menahan kegelian hatinya A Sai melangkah keluar dari kedai itu, Sial. Awas kau... umpat Yan Ci jengkel. Semua ulahnya hari ini semata-mata dilakukannya untuk menjerumuskan pemuda itu ke dalam masalah. Namun agaknya orang-orang dusun ini sama sekali tak ada yang sepadan menjadi lawan pemuda itu. Apa lagi yang kau tunggu? tanya A Sai dari luar kedai.

Apa kau menunggu sampai seluruh penduduk dusun ini tiba dulu disini? sindir pemuda itu lagi. Cerewet! jawab Yan Ci sebal. Akhirnya pemuda itu benar-benar melangkah pergi. Sebelum pergi, tak lupa gadis itu memberi persen dua kali pada si brewok. A Sai yang mendengarnya dari jauh hanya mampu mengeluh dalam hati. Dasar gadis liar... batinnya tak habis pikir. Oleh karena telah terjadi keributan dengan penduduk dusun, maka kali ini A Sai tak berani lagi mengambil jalan umum. Ia ingin menghindari masalah sebisa mungkin. Akhirnya jalan-jalan kecil kecillah yang diambilnya untuk keluar dari dusun itu. Bahkan terkadang ia harus menerobos semak dan pekarangan orang agar dapat keluar dengan aman. Suatu hal yang tentu saja menuai protes dari Yan Ci. Tapi si pemuda tak lagi peduli. Celakanya lagi disaat mereka hampir keluar dari dusun tersebut, terjadilah hal yang sebelumnya telah diperkirakan A Sai bakal terjadi. Itu mereka! terdengar teriakan nyaring memecah kesunyian. Siapa lagi yang berteriak kalau bukan si brewok. Dibelakangnya tampak mengikuti ramai orang dusun. Seperti tengah terjadi perburuan besar-besaran. Hanya saja kali ini A Sai dan Yan Ci lah yang dijadikan binatang buruan mereka. Sialan! Harusnya tadi kuhabisi saja brewok jelek itu! Yan Ci menggerutu marah. Sudahlah, ayo... sedikit lagi kita berhasil keluar dari dusun ini! jawab A Sai. Enak saja... takkan puas hatiku sebelum berhasil menggampar bacot brewok jelek itu! jawab gadis itu tak puas. Sebelum A Sai sempat menjawab, gadis itu telah melompat keluar dari jalan kecil yang mereka ambil dan langsung menuju kerumunan massa dibawah pimpinan si brewok. Si pemuda menganga tak percaya melihat kelakuan gadis itu. Dasar nasib... sambil menghela nafas panjang ia menggerutu. Jika urusannya menyangkut Thio Yan Ci, segalanya mungkin saja terjadi. bahkan tindakan yang paling bodoh sekali pun sanggup dilakukan gadis itu, kalau hatinya ingin melakukannya. Itu gadis setan yang kuceritakan tadi! Tangkap dia, bunuh bila perlu! si brewok berteriak memberi komando pada kawanannya.

Gadis setan? Kurang ajar... kau akan menyesali ucapanmu itu! Lalu sambil meraung marah, gadis itu maju menerjang si brewok. Tak lagi peduli dengan kerumunan massa yang dengan cepat mengurungnya. Tujuan Yan Ci hanya satu... si brewok. Sayang sekali, gadis itu kembali lupa kalau dirinya yang sekarang tidaklah sehebat dirinya yang dahulu. Hanya dengan melangkah ke samping, serangan gadis itu dengan mudah dihindari si brewok. Sebat si brewok membalas menyerang, tinjunya melayang menggunting Yan Ci dari kiri dan kanan secara hampir bersamaan. Gadis itu tersentak, terburu-buru dia melompat menghindar ke samping. Tinju kanan si brewok mengenai tempat kosong, tapi si brewok tak peduli. Tinju kanannya itu hanyalah pancingan semata, karena tinju kirinyalah yang berbahaya. Dan tak mungkin si gadis sanggup menghindari tinju kirinya itu. Sudah tak keburu lagi. Si brewok mendengus dingin sebaliknya gadis itu kembali tersentak kaget. Tak disangkanya ternyata tinju si brewok sebagus itu. Sial, ternyata ada isinya juga tikus brewok ini. si gadis hanya sanggup memaki dalam hati, tak menyangka bakalan terkecoh dengan jurus serangan si brewok. Dukkkk! kraakkkk! Tinju kiri si brewok dengan telak membentur sebuah lengan, lengan yang jauh lebih keras dibandingkan dengan lengannya sendiri. Apalagi lengan tersebut nyaris sekeras besi yang telah ditempa hingga hampir menjadi baja. Ibarat bambu bertemu besi, itulah yang terjadi dengan lengan si brewok saat membentur lengan tersebut. Suara tulang berderak patah terdengar disusul tubuh si brewok yang terpental mundur sejauh satu tombak. Masih untung ada rekan-rekannya yang dengan sigap menangkap tubuhnya yang sedang terlempar itu hingga tak terhempas ke tanah. Kali ini ia tak mungkin lagi menyelamatkan lengannya dari kesialan. Wajah si brewok jadi kehilangan warnanya. Butiran-butiran air dengan segera muncul diwajahnya. Rasa sakit menghinggapi, kiut miut rasanya hingga nyaris tak tertahankan lagi. Namun si brewok bukanlah lelaki cengeng. Harga dirinya cukup untuk membuatnya menahan segala kenyerian yang menusuk panca inderanya. Dari mana datangnya? Kenapa tadi tak kulihat? batinnya penuh dendam bercampur dengan rasa heran melihat pemuda jangkung teman si gadis itulah yang barusan telah menahan serangannya.

Sambil menggertakkan gigi, direnggutnya sepotong balok kayu dari tangan orang yang berada disebelahnya. Lagi-lagi kau! desisnya. Biar kita mengadu jiwa hari ini! sambungnya lagi. Belum habis perkataannya itu diucapkan, si brewok telah melesat maju menyerang A Sai. A Sai tersenyum lemah. Ibarat karang diterjang gelombang samudra, dirinya pun demikian adanya. Sejak awal ia hanya bertahan saja dan hanya menangkis serangan musuh yang datang. Soal ringan beratnya cedera yang dialami lawannya, semuanya itu tergantung pada lawannya sendiri. Semakin kuat serangan lawan, akan semakin besar pula cedera yang dialami lawan. Ia hanya menyesuaikan tenaganya untuk menangkis serangan lawan semata. Namun agaknya hal itu belumlah cukup, tampaknya tenaga yang disalurkan masih terlalu kuat juga hingga masih bisa membuat lawannya kehilangan lengannya. A Sai menghela nafas panjang. Ia masih harus belajar lebih serius lagi dalam mengatur dan menyeimbangkan tenaganya. Baik tenaga untuk menyerang, maupun untuk bertahan. Dendam membuat si brewok kehilangan akal sehatnya. Seharusnya pelajaran yang diterima sebelumnya cukup untuk membuatnya sadar akan kemampuan diri sendiri. Apa daya, dendam membuatnya buta hingga tak dapat melihat kenyataan yang ada. Bisa ditebak, kejadian yang sama terulang kembali. Walau A Sai sudah berusaha mengurangi tenaganya, namun tenaga pukulan si brewok masih juga membalik lebih dari cukup untuk melemparkannya melewati kepungan rekan-rekannya sesama penduduk dusun itu. Kali ini, si brewok tidak dapat bangun lagi. Pria-pria pengikutnya terkesima, takjub dengan kekuatan pemuda jangkung itu. Ilmu siluman... Ilmu sihir... Ilmu baju besi... Terdengar lirih bisikan disana-sini. Agaknya kejadian yang baru saja mereka saksikan, cukup menggetarkan nyali mereka. Keraguan membayangi langkah mereka. Sayangnya hal itu tak bertahan lama.

Hutang darah, bayar darah! Seseorang berteriak dari antara kerumunan massa yang mengurung sepasang muda-mudi itu. Entah siapa yang berteriak memberi semangat. Namun ucapannya mendapat sambutan hangat dari penduduk. Apalagi sewaktu suara-suara lainnya turut terdengar menyemangati, penduduk dusun yang semula tampak gentar dan ragu itu jadi terbangkit kembali semangatnya. Lebih baik mati dari pada dihina orang! Benar! orang banyak menjawab. Dimana keadilan? Dimana kebenaran? Tangkap mereka! Adili mereka, hidup atau mati! Benar! lebih banyak lagi suara yang menjawab. Suasana tak terkendalikan lagi. Melihat teman sendiri terluka oleh orang asing dalam lingkungan dusun mereka, telah memancing emosi dan kemarahan mereka hingga ke puncaknya. Tekad mereka telah bulat untuk menuntut balas. Teriakan-teriakan tidak puas dan penuh amarah semakin terdengar ramai disekeliling keduanya. A Sai menghapus keringat dingin dari dahinya, suasana disekitarnya mau tak mau membuatnya jadi makin tak enak hati. Bunuh mereka! Bunuh! Entah siapa yang berteriak, serentak saja kerumunan massa menyerang. Tiga penduduk terdekat terpental balik ketika pukulan mereka mengenai tubuh A Sai dan memukul mundur beberapa rekannya yang berdiri disekitar mereka. Untung saja, A Sai mulai dapat mengukur tenaga yang dipakainya melindungi diri. Kalau tidak, niscaya ketiga pria ini pun bakalan bernasib sama dengan si brewok dan yang lainnya. Sejenak gelombang serangan penduduk terhenti tapi sayangnya hal itu hanya berlangsung sesaat. Ucapan Thio Yan Ci telah kembali mengobarkan kemarahan mereka. Hey orang-orang udik tak tahu malu... belum pernah merasakan kerasnya kepalan nona besar kalian? Ayo lekas minggat dari hadapan nonamu! Si gadis berkoar menantang.

Kau...! A Sai tak sempat lagi menyelesaikan ucapannya sebab belum lagi selesai ucapannya itu, batu sebesar telor bebek telah mendarat di dadanya. Disusul dengan datangnya berbagai benda aneh beterbangan menuju dirinya dan Yan Ci. Rupanya mereka cukup mengerti kalau menyerang pemuda jangkung itu secara langsung akan berakibat tidak baik bagi diri mereka sendiri. Oleh karena itulah mereka menyerang dari jarak jauh dengan cara melemparkan segala benda yang ada disekitar mereka, baik itu batu, kayu atau apapun benda yang sanggup mereka temukan. Berbagai macam benda deras beterbangan mengancam A Sai dan Yan Ci. A Sai jadi kelabakan bukan main. Tanpa memperdulikan hujan serangan yang mengancam dirinya, ia melompat mendekati gadis itu. Keselamatan gadis itu tetaplah menjadi prioritas utamanya, soal dirinya ia tak peduli. Toh kekebalan dirinya masih sanggup melindunginya. Apalagi saat dilihatnya gadis itu hanya cengengesan saja, bahkan tak ada tanda-tanda ia mau berusaha melindungi dirinya dari ancaman bahaya yang datang. Tampaknya keselamatan dirinya benar-benar diserahkannya pada A Sai. Sungguh sial! umpat pemuda itu dalam hati. Untunglah postur tubuhnya yang tinggi dan lebar itu sanggup menutupi tubuh gadis itu dari serangan yang mengincarnya. Kalau tidak, gadis itu sudah pasti bakal cedera parah... bahkan mati. Hanya suara bak bik buk yang ramai terdengar diikuti riuhnya caci maki dari penduduk dusun. Kau sudah gila ya? bentak A Sai gusar pada Yan Ci. Kau yang gila! gadis itu balas membentak. Kau yang gila! Ayo kita pergi dari sini! bentak A Sai lagi. Tidak mau! Kenapa harus takut dengan segala cacing kelaparan mau mampus itu! teriakannya yang keras berkumandang semakin meningkatkan kemarahan penduduk dusun itu dan membuat hawa pembunuhan semakin terasa tebal mengambang diudara. Kau... A Sai tak mampu berkata lagi. Suruh mereka ke sini, biar kuberi mereka pelajaran! seakan masih kurang, gadis itu tambah berkoar menantang. Diam! bentakannya mengagetkan si gadis. Walau tak terluka, namun hujan batu, kayu dan berbagai benda lainnya itu mulai membuatnya khawatir. Khawatir akan keselamatan Yan Ci dan khawatir ia bakal kehilangan pengendalian

dirinya. Apalagi telinganya mulai menangkap bunyi logam berdenting dari dalam kerumunan massa yang marah, tanda senjata-senjata tajam telah mulai dilolos dari sarungnya. Celaka, tidak ada lagi waktu untuk berdebat. Terlambat sedikit, terpaksa harus turun tangan lagi. Batin pemuda itu gusar. Sebelum Yan Ci sadar dengan apa yang terjadi, A Sai telah menyambar pinggang gadis itu dan memondongnya. Begitu Yan Ci berada dalam gendongannya, tubuh pemuda itu segera melesat pergi meninggalkan penghuni dusun yang telah haus darah itu. Namun, kejadian yang dahulu terulang lagi. Begitu berada dalam pondongan A Sai kontan gadis itu jadi histeris. Laki-laki tak tahu malu, kau... Maaf... Caci maki si gadis jadi terhenti saat si pemuda menepuk perlahan bagian tengkuknya dan membuat gadis itu pingsan seketika. A Sai menghembuskan nafas pendek lalu melanjutkan larinya yang sempat terhenti. Dalam keadaan gawat seperti ini ia tak ingin kehilangan waktu dengan melayani Yan Ci. Apa boleh buat, terpaksa gadis itu dibuatnya pingsan agar tidak menggagalkan usahanya meloloskan diri dari dusun itu. Hal yang seharusnya telah dilakukannya sejak awal. Hanya dalam beberapa saat saja, mereka telah terpisah belasan langkah dengan para penduduk desa. Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos! Tanpa perlu disuruh dua kali para penghuni dusun segera berhamburan mengejar kedua orang yang berusaha melarikan dari situ. Namun jarak diantara mereka dan kedua orang buruan mereka malah semakin jauh saja. Walaupun sedang menggendong seorang gadis, namun lari pemuda itu masih saja secepat larinya kijang muda. Sungguh sulit menyamai kecepatan larinya. Walau tidak mengenal medan didusun itu, namun A Sai masih mengingat lokasi dari mana ia datang. Maka tanpa mengalami kesulitan apa pun, ia mengambil jalan meninggalkan desa sesuai arah tujuan semula yaitu ke Kun-Lun-Pay. Apalagi telinganya pun turut membantunya mendeteksi keberadaan penduduk disetiap jalan yang hendak dilaluinya dan membuatnya mampu menghindari perjumpaan dengan penduduk dusun dalam perjalanannya keluar dari dusun itu. Tak lama kemudian mereka telah melewati batas dusun Musim Berburu dan mulai memasuki kawasan padang rumput yang cukup luas. Kenapa malah padang rumput? batin A Sai gemas begitu matanya menangkap dataran yang membentang didepannya itu.

Berlari ditempat terbuka seperti itu, membuat pengejarnya mampu melihat keberadaannya dengan mudah. Otomatis, penduduk yang tadinya kesulitan menentukan posisi dirinya sekarang dapat dengan mudah mengejarnya kembali. Untunglah kira-kira belasan Li sebelah timur, tampak gerombolan pohon besar yang kehijauan luas membentang menutupi perbukitan. Hutan. Batin A Sai senang, langkahnya segera diarahkannya menuju hutan itu. Teriakan dan pekikan disusul suara langkah kaki yang berdebam menyusulnya dari belakang namun A Sai tak lagi khawatir, toh jaraknya dengan penduduk dusun telah ratusan langkah jauhnya. Paling tidak kesempatannya untuk sampai dihutan itu sangat besar. Jika berhasil memasuki hutan, ia yakin akan jauh lebih mudah baginya untuk lolos dari kejaran. Dua kentungan kemudian, hamparan padang rumput tersebut telah dilewatinya dan hutan telah dimasukinya. Pohon-pohon besar dan kecil mulai menghalangi larinya, namun A Sai sama sekali tak mengurangi kecepatan larinya. Begitu telah berada dalam kawasan hutan langkah kakinya pun berbelok, tidak lagi menuju ke barat seperti tujuan semula tapi ia malah berbelok ke utara untuk mengecoh pengejarnya. Dua ratus langkah kemudian barulah ia berbelok lagi ke barat. Paling tidak dengan cara demikian, ia jadi sedikit melenceng dari arah semula sehingga otomatis pengejarnya pun akan sedikit kesulitan dalam menemukan jejaknya. Hanya satu hal yang sedikit kurang menguntungkan baginya, hutan itu ternyata tidaklah seluas dugaannya semula. Setelah berlari satu li lebih, mulut hutan telah dijumpainya. Dibalik hutan itu terhampar kembali padang rumput yang luas. Langkah pemuda itu jadi terhenti sejenak. Agaknya ia sedang sibuk menilai situasi yang sedang dihadapinya. Bertahan dihutan percuma saja, dengan banyaknya jumlah pengejar dan luas hutan yang tidak seberapa, akan percuma saja bersembunyi dihutan ini. Cepat atau lambat, mereka pasti menemukanku. Pikirnya cepat. Kalau terus berlari, kemungkinannya jauh lebih besar untuk lolos dari pengejaran mereka. Paling tidak jarak yang ada dapat terus kuperlebar. Siapa tahu dibalik padang rumput ini ada tempat yang lebih bagus untuk bersembunyi. Atau mungkin juga mereka akhirnya menyerah. Berpikir sampai disini, segera saja tubuh pemuda itu melesat kembali menerobos padang rumput yang terbentang luas dihadapannya. Langkahnya kembali diarahkannya ke arah barat. Keringat telah mulai mengalir diwajah dan tubuhnya, namun tak sedikit pun menghalangi gerakannya. Kecepatannya sama sekali tak berkurang malah semakin lama semakin pesat saja larinya. Sebentar saja, ratusan langkah telah dilaluinya. hutan kecil dibelakangnya semakin lama makin mengecil. Namun pemuda itu tak juga menghentikan langkahnya. Jalan yang dilaluinya mulai mendaki, agaknya daerah perbukitan telah dimasukinya. Dari jauh terlihat sebuah anak sungai kecil mengalir ditengah-tengah padang rumput tersebut. Bukan anak sungai kecil itu yang menarik perhatiannya, melainkan 4 sosok tubuh yang berdiri

didekat anak sungai itulah yang memancing keingin-tahuannya. 3 sosok diantaranya terlihat seperti sosok tubuh pria sedangkan seorang lagi agaknya wanita. Siapa mereka? batin A Sai. Sebaiknya kuhindari saja mereka. Ia tak mengenal mereka, tak juga tahu mereka itu kawan atau lawan. Ia tak ingin mengambil resiko dalam situasi yang sekarang dihadapinya. Setiap langkahnya kali ini haruslah diperhitungkannya matang-matang. Bukan saja demi keselamatannya, tapi juga demi keselamatan gadis itu dan demi tugas yang sedang diembannya. Masih ada setengah li jauhnya dari anak sungai tersebut, A sai memutar langkahnya. Tidak lagi lurus ke barat, yang berarti langsung menuju ke sungai tersebut melainkan sedikit memutar ke utara. Sementara kehadirannya pun telah diketahui ke empat orang tersebut. tampak jelas dari sikap tubuh mereka yang tadinya santai sekarang semuanya malah berbalik menghadap ke arahnya. Dipadang rumput yang seluas ini, orang dapat memandang hingga jauh tanpa ada sesuatu apa pun yang menghalangi. Maka lumrah jika mereka pun telah mengetahui kedatangannya itu. Namun A Sai tak peduli, selama mereka tidak mencampuri usaha pelariannya itu, ia pun takkan ambil peduli. Lebih tepatnya lagi, ia harus berusaha agar mereka jangan sampai punya kesempatan untuk mencampuri urusannya. Tanpa menghentikan langkahnya pemuda itu berpaling ke belakang, berpaling melihat ke arah orang-orang yang mengejarnya. Hanya saja penduduk dusun masih terus mengejarnya. Apalagi mereka pun dapat melihat dirinya sama seperti dirinya pun dapat melihat mereka. Hatinya lega, paling tidak jarak yang terpaut diantara dirinya dan para pengejarnya ada sekitar 1 Li jauhnya. Namun kelegaan hatinya tak berlangsung lama, sebab diantara penduduk yang mengejarnya, ada juga yang mengendarai kuda. Wah... bisa berabe kalau harus mengadu kecepatan lari dengan kuda! batin pemuda itu tak tenang. Dikumpulkan semangatnya, lalu dengan mengerahkan seluruh tenaganya tubuhnya pun melesat makin cepat melintasi padang rumput itu. Sementara itu, kehadiran A Sai segera menarik perhatian ke empat orang itu. Seorang pemuda tanggung berlari ditengah padang rumput yang sepi sambil menggendong seorang gadis cantik... hanya orang mati saja yang tak akan tertarik untuk mengetahuinya. Siapa sepasang muda mudi itu? Dan siapa pula rombongan yang mengejar mereka? pikir seorang diantara mereka yang bertubuh seperti raksasa. Tunggu dulu... bukankah rombongan pengejar itu orang-orang dari dusun Musim Berburu? Apa yang terjadi? batinnya lagi.

Toa-Suheng (kakak seperguruan pertama), menurutmu apakah yang sedang terjadi? tanya seorang gadis manis bertahi lalat pada pria bertubuh raksasa tersebut. Entahlah Sumoy (adik seperguruan perempuan), tapi pastilah mereka telah melakukan satu kesalahan besar hingga membuat seluruh penduduk dusun mengejar mereka seperti itu. Jawab si Toa-Suheng. Senjata-senjata yang berkilat dibawah cahaya matahari, dengan cepat memberitahukan mereka bahwa orang-orang yang mengejar pemuda itu hanya berniat satu...berniat membunuh pemuda tanggung itu. Keduanya masih remaja tanggung. Timpal pria lain yang bertubuh pendek dan gemuk. Hmmm... Apakah mereka telah melakukan suatu kejahatan? kali ini giliran seorang pria muda berusia 25 tahunan berwajah tampan yang berbicara. Mungkin saja Sam-Sute (adik seperguruan ketiga) benar. Jawab si brewok akhirnya. Mungkinkah pemuda itu melarikan anak gadis orang dan diketahui oleh penduduk dusun hingga ia dikejar-kejar seperti itu? gadis bertahi lalat kembali angkat bicara. Maksud Sumoy Jai-Hoa-Cat (penjahat pemetik bunga)? tanya si gemuk sambil menajamkan matanya ke arah pertunjukan yang berlangsung didepan matanya. Bisa saja. si tampan yang menjawab komentar Ji-Suheng (kakak seperguruan kedua) nya. Mereka sama terdiam. Bagaimana baiknya sekarang? akhirnya si Sumoy bertanya lagi. Jangan turun tangan dulu. Para Sute dan Sumoy awasi saja perkembangan yang terjadi sementara aku akan pergi menanyakannya pada penduduk dusun. Jawab Toa-Suheng setelah berpikir sejenak. Serempak para Sute dan Sumoy nya mengangguk. Begitu mendapat persetujuan, segera saja si raksasa yang dipanggil Toa-Suheng itu berkelebat menuju barisan terdepan penduduk dusun yang terdiri dari beberapa orang pria kekar yang menunggang kuda. Walau bertubuh tinggi besar, namun gerakan si Toa-Suheng benar-benar cepat, tanda ginkang (ilmu meringankan tubuh) nya hebat. Hanya sebentar saja, ia telah sampai ditujuannya. Kedatangannya yang seperti bayangan mengejutkan penduduk yang sedang mengejar itu. Serentak mereka berhenti dan bersiaga. Tapi ketika mereka mulai dapat melihat siapa yang datang, wajah para penduduk dusun menjadi cerah.

Cu-Wi (anda sekalian), apa yang terjadi? Mengapa kalian mengejar pemuda itu? tanya si brewok cepat. Tan Tay-hiap (pendekar besar Tan), syukurlah... Tolong bantu kami membekuk kedua anak muda itu! Rupanya si Toa-Suheng dan para penduduk dusun telah saling mengenal sebelumnya. Urusan itu gampang saja, tapi kesalahan apa yang telah diperbuat mereka hingga kalian berniat mengambil nyawa mereka? tanya si brewok lagi sambil mengamati berbagai macam senjata yang dibawa pria-pria itu. Ohh.... mereka... mereka telah menghina kami dan melukai beberapa orang penduduk dusun. Mereka berbahaya dan bukanlah orang biasa, itulah sebabnya kami kesulitan menangkap mereka. jawab seorang pria berusia lima puluhan bernafsu. Sampai-sampai Sim Cung-Cu (kepala dusun Sim) pun turut mengejar? Pastilah urusannya sudah sedemikian rumitnya. Hanya saja kulihat pemuda itu masih muda dan tidak tampak berbahaya. Apakah gadis itu putri salah seorang dari kalian? Gadis itu temannya! jawab pria berusia lima puluhan itu cepat. Pria inilah kepala dusun dari perkampungan pemburu itu, sehari-hari oleh warganya ia biasa dipanggil kepala dusun Sim. Tan Tayhiap mohon jangan tertipu dengan penampilan mereka, kami pun tadi terperdaya oleh penampilan mereka yang masih muda itu. Tapi... Bicaralah pelan-pelan, jangan terburu nafsu seperti itu! Tan-Tayhiap atau si Toa-Suheng memotong penjelasan Sim Cung-Cu. Coba ceritakan secara singkat! sambung si brewok lagi. Baik! Tapi mari kita lanjutkan pengejaran, mereka tak boleh lolos sebelum menerima hukuman. Akan kuceritakan sambil berjalan! jawab Sim Cung-Cu cepat, lalu tanpa menunggu jawaban dilanjutkan kembali lari kudanya. Mau tak mau si brewok pun turut berlari. Sambil berlari, kepala dusun Sim menceritakan jalannya peristiwa yang terjadi tadi. Tan TayHiap meragu. Cerita yang didengarnya baru dari pihak orang dusun saja, bagaimana pula cerita dari pihak pemuda itu ia belum tahu. Jadi si pemuda dan teman wanitanya itu berada dipihak yang benar atau yang salah, masih terlalu dini untuk memastikannya. Tan Tayhiap menajamkan matanya. Jarak yang terpaut diantara mereka dan pemuda itu sudah cukup jauh, lebih satu li selisihnya. Bahkan pemuda itu pun telah sampai dipinggiran hutan lebat diatas bukit didepan sana, lalu menghilang dalam lebatnya hutan. Tanpa bantuannya dan

saudara-saudara seperguruannya sudah pasti para penduduk dusun itu akan kehilangan jejak buruan mereka. Bagaimana Tan Tayhiap? kepala dusun tersebut bertanya, meminta kesediaannya untuk membantu. Mohon bantuannya. Sambung kepala dusun lagi. Tan TayHiap si Toa-Suheng terdiam cukup lama sebelum menjawab permintaan kepala dusun she (marga) Sim. Kami akan membantu, hanya saja urusan ini biarlah diserahkan pada kami. Sim CungCu dan saudara yang lain lebih baik kembali saja ke dusun. jawab Tan Tayhiap akhirnya. Jangan khawatir, kami akan berusaha menangkap mereka. Jika mereka tertangkap oleh kami, akan kami hantarkan kembali ke dusun. Sambung Tan Tayhiap lagi saat dilihatnya Sim CungCu hendak memprotes. Kepala dusun she Sim berpikir sejenak. Tanpa adanya bantuan pria itu dan saudara-saudara seperguruannya, rasanya akan sulit menemukan bahkan menangkap buruan mereka itu. Walau berat akhirnya ia terpaksa menyetujui juga syarat yang diajukan pria raksasa dihadapannya itu. Begitu mendapatkan jawaban yang diinginkannya, segera saja Tan Tayhiap mengangkat 4 jarinya ke atas lalu menunjuk ke arah perginya A Sai dan Yanci. Tanda bagi saudaranya yang lain untuk segera bertindak. Ia sendiri segera berkelebat cepat mengejar jejak buruannya. Melihat kode yang diberikan si Toa-Suheng, tiga saudara seperguruannya segera saja memencar menjadi 3 rombongan. Ketiganya saling menjaga jarak 7 tombak antara satu sama lainnya. Si Toa-Suheng sendiri segera berkelebat cepat mengejar adik-adik seperguruannya. Dengan maju serentak dalam garis lurus dan saling menjaga jarak 7 tombak satu sama lain, mereka berharap tak akan ada hal apapun yang lolos dari pengamatan mereka. Tentu saja sistem pencarian orang seperti ini sangat praktis dan sistematis dan hasilnya pun biasanya tidaklah mengecewakan. Apalagi ginkang mereka lebih tinggi dari pemuda buruan mereka, otomatis mereka optimis akan dapat menemukan buruan mereka itu. Gerakan ke empat orang ini benar-benar cepat, tanda ginkang mereka telah masuk dalam jajaran tokoh papan atas dunia persilatan. Namun jika melihat ginkang yang dipertunjukkan si ToaSuheng, ketiga saudara seperguruannya mau tak mau berdecak kagum. Sebentar saja ia telah mampu menyusul ke dalam formasi yang dibuat oleh saudara-saudaranya. Kecepatan yang sangat tidak sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi besar itu. Setelah posisinya tepat berada dalam formasi yang ada, si Toa-Suheng pun mengurangi kecepatannya dan menyesuaikan diri dengan kecepatan saudaranya yang lain. Toa-Suheng, apa yang terjadi? Sumoynya segera bertanya.

Pemuda itu dan gadis temannya telah melukai beberapa orang penduduk dusun, itulah sebabnya mereka bermaksud menangkap kedua orang anak muda itu. Ke tiga saudara seperguruannya mengangguk, sekarang mereka mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Apakah ilmu silat pemuda itu hebat? tanya sang Sumoy lagi. Aku tak tahu, tapi kelihatannya sih demikian! Toa-suheng nya menjawab. Kalau sampai bertemu dengan mereka, usahakan untuk tidak salah tangan. Bujuk mereka agar mau menyerahkan diri baik-baik untuk diadili didusun itu. Katakan kita bersedia menjadi saksi keadilan bagi mereka! si Toa-Suheng menyambung ucapannya lagi. Ketiga adik seperguruannya kembali mengangguk. Setelah berlari beberapa waktu lamanya, dataran yang membentang didepan mereka mulai berubah. Tidak lagi padang rumput yang datar tapi mulai menanjak dan ditumbuhi beraneka pepohonan yang lebat. Rupanya kawasan hutan telah hampir mereka masuki. Hutan yang tumbuh dilereng sebuah gunung. Kawasan sebelah kirinya tampak lebat dan gelap sedangkan sisi sebelah kanannya tidaklah terlalu lebat namun jelas terlihat tebing dan jurang yang terjal dan dalam disana-sini. Repot juga kalau begini... Si Toa-Suheng mengerutkan keningnya lalu bersiul panjang melengking, serentak pula ia menghentikan langkahnya. Dalam sekejap saja, ketiga adik seperguruannya telah berada disampingnya. Rupanya siulan si Toa-Suheng merupakan tanda yang biasa digunakannya untuk memanggil saudara-saudaranya berkumpul. Diantara mereka, sumoynya inilah yang paling lemah ilmu silatnya sedangkan Sam-Sute nya kurang perhitungan dan sering bertindak ceroboh. Lebih baik jika Sumoy nya bersamanya sedangkan Sam-Sute nya itu biar ditemani Ji-Sute nya yang sabar dan penuh perhitungan. Biarlah mereka mengambil jalur hutan lebat, ditempat rata akan lebih mudah baginya untuk melindungi Sumoy nya jika keadaan mendesak sedangkan kedua Sute nya akan mengambil jalur hutan yang penuh jurang terjal itu. Toa-Suheng memandang langit, hari telah beranjak senja. Waktu mereka tinggal tiga empat kentungan lagi sebelum matahari terbenam. Ia tak ingin saudara-saudaranya berada didalam areal hutan tersebut saat malam tiba, terlalu berbahaya dan ia tak ingin mengambil resiko. Bagi dua rombongan. Aku dan Sumoy akan mengambil jalur sebelah kiri, Ji-Sute (adik kedua) dan Sam-Sute (adik ketiga) ambil jalur sebelah kanan. Rombongan mana yang bertemu dengan anak muda itu, segera beri tanda seperti biasa. Ingat... berhasil atau tidak, kita berkumpul kembali ditempat ini dua kentungan dari sekarang. kata si Toa-Suheng singkat.

Saudara-saudaranya mengangguk tegas lalu serempak bergerak memisahkan diri, kali ini rombongan dibagi menjadi dua sesuai perintah Toa-Suheng mereka. ******* Terdengar langkah kaki yang ringan mengejar dari belakang. A Sai sadar, tak mungkin melepaskan diri dari kejaran orang yang mengikutinya. Agaknya orang ini bukanlah orang biasa, terbukti dari kecepatan larinya yang jauh lebih pesat dari dirinya sendiri. Anak muda, perlahan dulu! suara si gemuk terdengar halus namun penuh wibawa. A Sai mulai mengurangi kecepatan larinya, namun tidak berhenti sama sekali Anak muda, kenapa kau tak mau berhenti? Lho... bagaimana sih? Kan kau bilang perlahan, ya ia cuma perlahan. Kalau kau bilang berhenti, baru mungkin ia mau berhenti! Yan Ci yang menjawab. Si gemuk melenggak, A Sai pun turut melenggak. Sejak kapan ia sadar? batin A Sai heran. Benar juga kata-kata bocah itu. lain lagi pikiran si gemuk. Maaf... maaf... aku yang salah! Anak muda tolong berhenti sebentar, ada yang ingin ku tanyakan padamu! si gemuk kembali bersuara. Kelihatannya ia bukanlah penduduk dusun tadi. Hmm... biar kulihat apa maunya. Batin A Sai, mengesampingkan keheranannya akan gadis itu. Langkah kakinya pun berhenti beberapa saat kemudian. Begitu berhenti, segera saja Yan Ci melompat turun dari gendongannya dan memberinya persen sebuah tamparan. Sebuah tamparan yang mengagetkan tidak hanya A Sai, tapi juga si gemuk ikut kaget dibuatnya. Itu untuk kekurang-ajaranmu! bentaknya gusar. A Sai tak menjawab, hanya memperhatikan saja mimik wajah gadis itu yang terlihat sedikit aneh dimatanya. Sialan... tahu begini, takkan kugampar wajah bocah dusun ini dengan tangan kosong. rutuk gadis itu dalam hatinya sambil menahan sakit, rupanya tangannya kesemutan juga saat dipakai menampar pemuda itu. Paman gendut, ada apa kau mengikuti kami? tanya gadis itu tiba-tiba pada pria gemuk yang berada dihadapan mereka, berusaha mengalihkan perhatian A Sai darinya.

Yan Ci! A Sai membentak kaget, usaha gadis itu ternyata berhasil mengalihkan perhatian A Sai wajahnya yang terlihat aneh itu. Si gemuk lebih kaget lagi, lalu perlahan wajahnya yang memang sudah kemerahan itu makin bertambah merah saja. Ucapan gadis itu dirasanya keterlaluan. Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu, A Sai telah lebih dulu berkata. Harap Eng-hiong (orang gagah) sudi memaafkan temanku ini, ia sedang tak enak hatinya. Bujuknya halus. Si gemuk terpana, tak menyangka ucapan tersebut akan didengarnya dari mulut si pemuda. Perlahan ia pun tersenyum. Sungguh berbeda dua orang anak muda didepannya ini. Yang wanita blak-blakan tutur katanya hingga terkesan kasar sementara yang pria malah halus dan sopan. Namun agaknya si gemuk ini bukan tipe orang yang gampang kehilangan kesabarannya. Tak perlu minta maaf, sudah sepantasnya temanmu merasa terganggu! jawab si gemuk, masih tetap halus dan sopan. Tentu saja ia merasa terganggu, agaknya kehadiran kita mengganggu rencananya Suheng! Berbareng dengan suaranya berkumandang, sambil tersenyum-senyum si tampan pun muncul di tempat itu lalu berdiri tepat disamping si gemuk Ji-Suhengnya. Si gemuk sedikit mengerutkan kening mendengar perkataan Sute nya, tapi ia tak berkomentar apapun. Berbeda dengan A Sai yang tak peduli mendengar sindiran si tampan, Yan Ci malah tampak kepanasan. Dan langsung bereaksi seketika begitu mendengar ucapan si tampan itu. Heh... kadal hijau, maksudmu apa? Apa orang tuamu tak pernah mengajarimu sopan santun? semprot Yan Ci marah. Giliran si tampan yang kemerahan mukanya. Suheng, bocah perempuan ini benar-benar tajam mulutnya. Sindir si tampan. Hmm... bocah tua ini benar-benar tak punya otak! gadis itu malah menyindir balik. Tak punya otak? Kenapa? tanya si gendut, bukannya marah malah terlihat geli dengan gaya Yan Ci yang mencak-mencak bak anak kecil. Datang-datang langsung menuduh orang seenaknya. Sudah begitu... malah bilang aku yang tajam mulut. Mana bisa demikian? Hanya orang yang tak punya otak saja yang seperti itu! jawab gadis itu gusar.

Si gemuk terpaksa mengakui kebenaran kata-kata gadis yang ada dihadapannya ini sebaliknya sang Sute malah tambah naik darah. Namun sebelum ia sempat untuk bertindak, Ji-Suheng nya telah mencegahnya terlebih dulu. Ingat pesan Toa-Suheng. Katanya menyabarkan. Si gemuk lalu bersiul, melengking panjang terdengar hingga jauh. Siulannya itu dilandasi dengan pengerahan tenaga khikang yang tidak lemah. Lalu semuanya hening. Hanya suara dedaunan yang bergemeresekan tertiup semilirnya angin yang sampai ditelinga mereka, makin menambah ketegangan yang ada. Ketegangan yang terutama dirasakan oleh sepasang muda-mudi itu sebab keduanya dapat menduga arti dari siulan si gemuk itu. Jangan jauh-jauh dariku. Bisik A Sai pada Yan Ci. Si gadis tak menjawab, agaknya dapat juga merasakan kurang baiknya situasi mereka. Pikiran pemuda itu dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang sebentar lagi bakal diketahui jawabannya. Samar-samar ia mulai dapat mendengar suara langkah kaki menapak tanah dan rerumputan. Orang yang tiba duluan langkahnya sedemikian halusnya hingga terdengar sayup ditelinganya, sedangkan langkah orang yang menyusul kemudian dapat didengarnya dengan jelas. Yang datang belakangan kelihatannya tak perlu kukhawatirkan, yang pertamalah yang perlu kuwaspadai. Belum lagi kedua pria ini... harus sangat berhati-hati. Batinnya. Kewaspadaan pemuda itu makin meningkat. Bukan hanya terdapat orang-orang yang menghadang mereka tapi terutama sekali terhadap Yan Ci. Sebab hanya dengan sepatah kata saja, gadis itu sanggup merubah pesta meriah menjadi upacara perkabungan. Agaknya ucapanucapan gadis itulah yang patut dikhawatirkannya. Apa pun yang terjadi, kau diamlah. Biarkan aku yang bicara dengan mereka. Bisik pemuda itu tegas pada Yan Ci. Ingat janjimu. Tambahnya lagi saat dilihatnya gadis itu hendak membantah ucapannya. Si gadis jadi urung bersuara. Tak perlu menunggu lama, sosok seorang pria bertubuh raksasa telah berdiri diantara kedua pria tadi disusul dengan munculnya seorang gadis muda menarik yang wajahnya dihiasi sebuah tahi lalat. Kehadiran si raksasa seolah memenuhi tempat itu, memenuhinya bukan hanya dengan wibawa, tapi juga dengan aura kekuatan yang terpancar jelas dari sinar mata dan perawakan tubuhnya.

Tan Tayhiap si Toa-Suheng telah datang. Mereka? tanya si Toa-Suheng singkat. Merekalah orangnya! jawab si tampan Sam-Sute nya. Namun si Toa-Suheng belumlah yakin, sebab sepasang muda-mudi ini masih terlalu belia untuk mengalahkan seluruh penghuni dusun Musim Pemburu itu. Dusun yang bahkan dihindari oleh para begal dan rampok karena penghuninya yang rata-rata bukanlah orang biasa. Kaliankah yang telah melukai beberapa penduduk dusun Musim Berburu? tanyanya pada A Sai. A Sai menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengangguk sebagai jawaban. Pria itu memandangnya tak percaya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya keluar juga pertanyaan susulan dari mulutnya. Kenapa? Apakah mereka telah melakukan suatu kesalahan pada kalian? tanyanya menyelidik. Kali ini A Sai tak mampu menjawabnya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya pemuda itu menggeleng lemah. Hmm... Anak muda, kaukah orangnya yang telah melukai mereka? Sekali lagi pemuda itu mengangguk. Pria raksasa itu menatapnya makin tak percaya. Setelah menghela nafas sejenak, akhirnya ia pun berkata. Kalau begitu, silahkan ikut dengan kami. Kau telah melukai mereka, bagaimana pun juga kau harus berani mempertanggung-jawabkan perbuatanmu itu. Si pemuda terlihat ragu-ragu, seperti menimbang apa yang harus dilakukannya. Ada apa? Apakah kau hendak mengingkari perbuatanmu? Jadi manusia berani berbuat harus berani bertanggung jawab. katanya sambil mengerutkan keningnya. A Sai tak menjawab. Kau tidak bisu bukan? tanyanya lagi, kerutan dikeningnya makin tampak terlihat. Tidak. Jawab pemuda itu akhirnya. Ataukah ada sesuatu hal yang ingin kau katakan? Sebagai pembelaan mungkin? tanyanya lagi. Tidak ada.

Kalau begitu, silahkan ikut dengan kami kembali ke dusun tadi. A Sai berpikir sejenak, ucapan pria raksasa didepannya ini sangat masuk akal. Alangkah memalukan baginya jika ia tak mau mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu. Baiklah. Jawabnya singkat. Si Toa-Suheng memandangnya, penilaiannya jadi sedikit berubah. Paling tidak ia kini tahu kalau anak muda yang berada dihadapannya ini tidaklah seburuk yang digambarkan Sim Cung-Cu sebelumnya. Setidaknya ia telah menunjukan niat baiknya untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya. Silahkan jalan duluan. Kata pria itu lagi. A Sai tak menjawab namun kakinya melangkah mengarah kembali ke dusun tadi. Tahan dulu! Kalian pikir kalian ini siapa? Datang-datang langsung main perintah seenaknya. Tiba-tiba terdengar protes yang berasal dari mulut Yan Ci. Si Toa-Suheng dan saudara-saudara seperguruannya tak jadi meneruskan langkah mereka. Serempak mereka berbalik memandang gadis itu dengan pandangan ingin tahu. A Sai pun tak terkecuali. Nona ada keberatan apa? akhirnya si Toa-Suheng buka suara. Oh hoho banyak sekali keberatanku. Jawab Yan Ci sambil tertawa mengejek. Sikap kalian benar-benar seenaknya dan tidak tahu aturan. Sambungnya lagi. Jaga mulutmu! semprot si tampan tak senang. Ciss Kenyataannya memang demikian cibir gadis itu. Coba nona jelaskan maksud perkataan nona itu. Si gemuk turut bersuara. Sederhana saja. Jawab Yan Ci. Kalian ini siapa? Datang-datang tanpa memperkenalkan diri langsung saja hendak mencampuri urusan orang. Itu keberatanku yang pertama. Keberatanku yang kedua orang-orang dusun tolol itu hendak berbuat jahat pada kami, Salahkah kalau kami memberi mereka sedikit pelajaran? Keberatanku yang ketiga dan yang terutama sejak kapan Cu-Wi diangkat sebagai hakim yang menangani masalah ini? Seenaknya saja berlagak. sambung Yan Ci panjang lebar. Mendengar perkataan Yan Ci, A Sai jadi makin tak mengerti dengan sikap gadis itu sebaliknya keempat saudara seperguruan itu jadi merah mukanya. Keberatan gadis itu masuk akal, hanya saja kedengarannya terlalu kasar ditelinga mereka. Si tampan langsung mencak-mencak,

Kurang aj Stt biar kujawab. Toa-Suheng memotong umpatan si tampan Sute nya yang baru keluar setengah jalan. Kami berempat bersaudara seperguruan. Aku saudara tertua dan namaku Tan Cit Kong. Ini JiSute ku Sin Kun Tek, ini Sam-Sute Kok Cin Lai dan yang itu Sumoy ku Yap In Nio. Kami berempat murid CiangBunJin Kun-Lun-Pay. Itu untuk keberatanmu yang pertama. Kata Tan Jit Kong si Toa-Suheng sambil bergantian memperkenalkan saudara-saudaranya yang lain. Paras sepasang muda-mudi itu berubah, kiranya mereka berempat ini murid ketua perguruan Kun-Lun-Pay. Untuk keberatanmu yang ketiga Kami disini bukan sebagai hakim yang menghakimi kalian, kami hanyalah sebagai penengah saja antara kalian dan orang dusun. Sim CungCu, kepala dusun Musim Berburu sendiri yang telah memohon pada kami untuk membantunya menyelesaikan urusan ini secara adil. Kami telah mendengar kejadian ini dari pihak orang dusun, itu sebabnya kami pun menanyakannya pada teman priamu. Bukankah ia sendiri malah memperkuat cerita orang dusun tersebut? sambungnya lagi. Tan Cit Kong menatap tajam Yan Ci, ingin tahu pembelaan apa lagi yang hendak dikemukakan gadis itu. Bagaimana dengan keberatanku yang kedua? tanya gadis itu tak puas. Untuk menjawab keberatanmu yang kedua, bukankah kita harus langsung bertemu dengan orang dusun dahulu baru masalah siapa berbuat jahat pada siapa bisa terjawab? Ceritamu begini sedangkan cerita penduduk dusun lain lagi. Untuk mengetahui yang sebenarnya, akan lebih baik kalau kedua pihak bertemu dahulu agar masalah ini bisa diperjelas duduk persoalannya. Jawab Tan Cit Kong bijak. Sejenak Yan Ci tak tahu harus menjawab apa, namun mana mau ia menerima usul pria raksasa didepannya itu? bukan Yan Ci namanya kalau menerima begitu saja usul orang lain. Bagaimana mungkin bertemu kalau belum apa-apa mereka hendak langsung mengambil nyawa kami? Bukankah kalau kami ikut dengan kalian sama saja dengan menyerahkan nyawa percuma? jawab gadis itu berkelit. Soal itu serahkanlah pada kami, kami empat bersaudara pastilah akan menjaga keselamatan kalian dengan hidup kami sendiri. Kalau kalian ternyata tidak bersalah, kalian bebas pergi dari dusun itu dengan selamat, dan kami yang akan menjamin hal itu pasti terlaksana. Namun seandainya nanti kalian ternyata memang bersalah, kami pun akan memastikan kalian menerima hukuman yang adil dan sesuai dengan kesalahan yang kalian perbuat. Tan Cit Kong menjawab, mencoba meyakinkan gadis itu.

A Sai jadi tak enak hati, perkataan pria itu sangat tahu aturan dan adil, tidak memihak salah satu pihak saja. Namun ia tahu, Yan Ci takkan mungkin menerima alasan apapun yang dikemukakan Tan Cit Kong padanya. Huh paling-paling yang ada nantinya hanyalah kata-kata mereka melawan kata-kata kami saja, lagi pula belum tentu mereka mau mengakui semua perbuatan mereka. Jawab gadis itu asal-asalan. Dapat ditebak kelanjutannya, percakapan mereka berdua jadi tiada habisnya, sebab si gadis tetap saja pada pendiriannya. Semakin lama, makin panas saja ketegangan yang ada diantara keduanya. Akhirnya setelah berusaha sekian lama mencoba meyakinkan Yan Ci, habis juga kesabaran pria raksasa itu. Nona, kenapa kau malah hendak mempersulit masalah yang ada? Sikapmu ini bisa diartikan kau takut karena kau merasa bersalah. katanya jengkel. Si gadis balik mendelik gusar. Takut? Takut pada siapa? Kalian? Orang-orang dusun itu? ejek Yan Ci. Biar ditambah sepuluh orang lagi pun takkan mungkin ku takut pada kalian! Pria itu menatapnya marah. Namun belum sempat ia mejawab kalimat yang diucapkan gadis itu, Kok Cin Lay Sam-Sute nya telah menjawab duluan. Gadis kurang ajar! Tak perlu Toa-Suheng yang turun tangan, aku pun sanggup mengajarimu sopan santun! Kau? Hahaha. Bocah kemarin sore sepertimu hendak mengajariku sopan santun? Sungguh menggelikan! jengeknya. Lebih baik kau pulang saja, berguru sepuluh tahun lagi baru kau boleh sesumbar didepanku! Bukan main marahnya Kok Cin Lay mendengar ejekan Yan Ci itu, belum sempat ia membalas ejekan tersebut Yap In Nio Sumoynya telah duluan bereaksi. Sombong sekali kau! bentaknya marah. Tak perlu Sam-Suheng yang turun tangan, aku pun sudah lebih dari cukup untuk memberimu pelajaran! Agaknya semua yang ada telah hilang kesabarannya, hanya si gemuk Sin Kun Tek saja yang terlihat mampu mengendalikan emosinya. Nona, jadi kau menolak semua tuduhan yang dilimpahkan penduduk dusun Musim Berburu pada kalian? tanyanya, tetap tenang dan sopan.

Tentu saja aku menolaknya. Jawab Yan Ci cepat. Aneh teman priamu sendiri tadi tidak menampik tuduhan tersebut, kenapa kau malah menolak mengakuinya? tanyanya lagi ingin tahu. Ia bukan temanku, tugasnya hanyalah untuk mengawalku saja, jadi perkataannya sama sekali tidak berarti disini karena semua keputusan ada ditanganku. Gadis itu tetap mempertahankan pendapatnya. Walaupun ia hanyalah pengawalmu saja, kesaksiannya pun tetap saja dihitung dan berarti sama beratnya dengan kesaksianmu dan kesaksian penduduk dusun tadi. Lagi pula ia pun Ciss kau tahu apa? Memangnya kau sendiri yang mengalami kejadian tersebut? potong gadis itu, tak sabar mendengar nasihat Sin Kun Tek. Hmmm hanya suara itu yang terdengar dari si gemuk Sin Kun Tek, agaknya ia sedang berpikir mencari jalan keluar. Yan Ci seketika melotot padanya, rupanya deheman si gemuk dianggapnya sebagai suatu bentuk ketidak percayaan pada perkataannya barusan. Ada apa? Kau pun tak percaya? Bukan begitu, hanya saja keteranganmu dengan keterangan tem.. eh pengawalmu ini sama sekali bertolak belakang. Jawab Sin Kun Tek akhirnya sambil bergantian memandang Yan Ci dan A Sai. Terserah apa penilaian kalian, pokoknya aku menolak semua tuduhan kalian tadi. Jawabnya. Tak mungkin ada asap kalau tak ada api yang membakar duluan! Tak mungkin ada masalah kalau penduduk dusun tersebut tidak terlebih dulu mencari masalah denganku! sambung Yan Ci kemudian. Sin Kun Tek makin mengerutkan keningnya. Gadis ini jelas takkan mau mengakuinya, hanya saja ceritanya berbeda dengan pengakuan pengawalnya ini. Baiknya coba kukorek keterangan dari anak muda pengawalnya ini. batin pria gemuk itu. Heng-Te (saudara muda), benarkah apa yang dikatakan nona majikanmu itu? tanyanya lembut pada A Sai. Mendengar pertanyaan pria gemuk itu, mau tak mau A Sai jadi dongkol juga pada Yan Ci. Garagara perkataan gadis itu, sekarang dirinya dianggap sebagai pengawal gadis itu dan gadis itu dianggap sebagai majikannya.

Tapi pemuda itu agak bingung memutuskan, memberitahukan kejadian sebenarnya ataukah mendukung segala perkataan Yan Ci barusan. Namun kebingungannya tak berlangsung lama, akhirnya sambil mendelik gemas pada Yan Ci ia menjawab juga pertanyaan Sin Kun Tek. Apa yang dikatakannya benar adanya, yang kukatakan pun tidaklah salah. Lho Maksudmu bagaimana sih? Agak sulit menjelaskannya. Jawab A Sai sedikit ragu. Singkatnya, mereka memang berniat jahat pada kami, namun sebelum mereka turun tangan melaksanakan niat mereka, kami telah turun tangan duluan. Jawab pemuda itu setelah berpikir sesaat. Yang dikatakannya memang benar, tidak menghindar dari perbuatannya tapi secara langsung juga telah mengatakan alasan turun tangannya itu. Hmm Niat jahat yang bagaimanakah? tanya si gemuk lagi. Kali ini A Sai sukar untuk menjawabnya, sebab kalau ia menceritakan yang terjadi maka sudah jelas pihaknyalah penyebab pertikaian tersebut. Sebab niat jahat penduduk dusun tersebut belumlah terbukti, jadi masih berupa asumsi dirinya dan Yan Ci saja. Sudah tak usah tanya-tanya lagi, yang jelas merekalah yang bersalah. Mau percaya atau tidak, terserah! Yan Ci telah menjawab duluan. Si gemuk tak tahu harus menjawab apa, kekasaran gadis muda ini dinilainya semakin lama semakin kelewatan. Akhirnya ia berpaling pada suhengnya Tan Cit Kong meminta pendapatnya. Tak ada jalan lain terpaksa kami harus memaksa kalian ikut dengan kami untuk menjernihkan semua permasalahan yang ada. Si Toa-Suheng berkata lambat-lambat. Silahkan kalau kalian memang mampu! sahut Yan Ci tak mau kalah. Kenapa tidak mampu? dengus si tampan gusar. Wajah-wajah yang merah padam itu makin gelap diliputi amarah, hanya wajah si gemuk saja yang tetap tenang walau pun sudah kemerahan warnanya. Toa-Suheng, biar kubeset lidah iblis betina ini! sang Sumoy pun turut buka suara, agaknya sudah nyaris tak mampu lagi mengendalikan emosinya. Hati-hati sumoy! Sesabar-sabarnya Tan Cit Kong, tak mampu juga dirinya mengendalikan amarahnya. Apalagi sikap gadis itu pada mereka dinilainya sama sekali tidak memandang mereka lagi. Sambil

mengibaskan lengan bajunya, ia melangkah mundur ke belakang. Memberi jalan bagi sumoynya untuk bertindak. Yap In Nio sang sumoy pun tak menunggu lama. Dengan diiringi bentakan nyaring, ia berkelebat membuka serangan. Angin tajam mendesing keluar dari balik lengan halus dan mulus, menyambar lurus mengancam Thio Yan Ci. Bersama desingan angin yang mencicit, terbawa juga serangkum hawa dingin yang menusuk. Yap In Nio tersenyum sinis melihat sasarannya yang kelihatannya tidak sanggup menghindari serangannya itu. Namun ketika diperhatikannya paras sasarannya, ia jadi terkejut sendiri. Sasarannya sama sekali tidak kelihatan takut, sebaliknya seuntai senyuman yang bahkan jauh lebih sinis dari senyumannya, tampak diwajah gadis sasarannya. Kurang ajar, seranganku sama sekali tak dipandangnya sebelah mata. Batin gadis itu geram. Kalau sebelumnya hanya berniat memberi pelajaran atas kekurang ajaran Yan Ci, sekarang niatnya telah berubah total. Hatinya panas bukan main melihat sikap Yan Ci yang seolah tidak memandangnya sama sekali. Dalam sedetik saja, seluruh lweekangnya telah disalurkan hingga maksimal. Angin dingin yang terbawa bersama serangannya semakin menusuk tulang. Kali ini niatnya hanya satu, mengambil nyawa gadis yang dinilainya terlalu luar biasa angkuhnya itu. Sumoy, jangan mengambil nyawanya! Tan Cit Kong berteriak memperingatkan. Si gadis tersadar, namun sudah terlambat. Serangan yang telah dikeluarkan, tak mungkin ditarik kembali tiba-tiba. Bukan hanya ia tak mampu tapi juga dapat berakibat fatal bagi keselamatan dirinya sendiri. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah mengurangi tenaganya sebisa mungkin. Dhesss! Sesaat sebelum serangannya mengenai sasaran, tenaganya patah ditengah jalan terbentur sebuah lengan yang kokoh kuat. Yap In Nio tersentak kaget. Lengan yang menghadang terlalu kokoh kuat, mementalkan tenaganya balik menyerang diri sendiri. Haiiittt! diiringi pekikan nyaring, si gadis melenting mundur. Sambil berpoksai diudara, ia memunahkan tenaganya yang terpukul balik lalu mengerling pemuda yang berdiri tenang disamping gadis itu.

Siapa dia? batinnya terkejut, lengannya yang kesemutan membuktikan kalau pemuda itu bukanlah orang sembarangan. Sumoy, kau tak apa? suhengnya si tampan segera melejit ke sampingnya sambil bertanya cepat. Tak apa Sam-Suheng tak sedetik pun pandangannya beralih dari sosok pemuda yang sekarang telah berdiri didepan gadis sasarannya itu. Sumoy, mundurlah! Kau bukan lawannya! Tan Cit Kong memberi perintah. Tapi... Mundurlah Sumoy, Toa-Suheng benar. Si tampan Kok Cin Lay Sam-Suheng nya pun turut buka suara. Dengan kesal, gadis itu melompat keluar dari arena pertarungan. Belum lagi kakinya menyentuh tanah, si tampan telah berdiri dihadapan dengan A Sai. Dengan cermat dipandanginya A Sai dari ujung rambut sampai ujung kaki, mencoba menilai ketangguhan pemuda yang berdiri dihadapannya itu. A Sai balik menatapnya tenang, menanti gerakan apakah yang hendak dilakukan pria tampan didepannya itu. Anak muda, kau mundurlah! Jangan ikut campur urusan ini! Si gemuk Sim Kun Tek menasehati. Seandainya saja aku dapat A Sai bergumam lirih. Hmm Kau ingin membelanya? Gadis seperti itu sama sekali tidak pantas kau bela. Jangan sia-siakan waktumu dengannya! Percuma si gemuk menasehati lagi. Terima kasih atas nasehat Eng-Hiong, sayangnya sudah tugasku untuk menjaga keselamatannya. Tapi kal Nasi sudah menjadi bubur dan kau terlalu banyak omong! Lihat serangan! si tampan memotong tak sabaran. Haittt! bayangan tubuhnya menyambar bersamaan dengan pekikan yang keluar dari mulutnya. Serangan si tampan dilakukan dengan penuh perhitungan dan sepenuh tenaga. Ia tak ingin mengalami kejadian seperti yang telah dialami sumoynya. Selisih tenaganya dengan Sumoynya itu hanya sedikit. Kalau sampai pemuda didepannya ini sanggup mematahkan serangan Sumoynya dengan mudah, maka pemuda ini pastilah bukan orang sembarangan. Oleh karena itulah serangannya dilakukannya dengan sepenuh tenaga dan langsung mengeluarkan jurus

andalan perguruan mereka, sama sekali tak memberi ampun. Kalau bisa, sekali gebrak ia ingin langsung menjatuhkan musuhnya ini. Memang dari antara 4 bersaudara seperguruan ini, si tampan inilah yang paling berangasan. Apalagi secara diam-diam ia menyukai Sumoynya itu, otomatis ia ingin menunjukkan kebolehannya didepan pujaan hatinya sekaligus membalaskan kekalahan yang telah diderita Sumoynya tersayang. Tiga pukulan dilancarkan si tampan, susul menyusul mengarah beberapa bagian tubuh A Sai. Serangan yang belakangan dilepaskan kelihatannya cepat sedangkan serangan yang lebih dulu dilancarkan malah terlihat lambat. Apalagi selisih waktu antara pukulan yang satu dengan yang lain hanya sepersekian detik saja Disinilah letak keunggulan ilmu silat perguruan si tampan. Pukulan yang dilepaskan duluan belum tentu sampai duluan, sebaliknya pukulan yang dilepaskan belakangan bisa jadi malah duluan mengenai sasarannya. Sungguh ilmu pukulan yang membingungkan lawan, bingung menentukan serangan manakah yang sampai terlebih dahulu. Belum lagi lawan harus dapat menentukan, pukulan yang mengancam termasuk jenis pancingan atau pukulan yang sebenarnya. Suatu faktor yang semakin membingungkan pihak lawan dan makin membuat ilmu ini menjadi salah satu ilmu silat yang diakui kalangan dunia persilatan (bulim) sejak KunLun-Pay didirikan. Mata A Sai menyipit sesaat, mencoba menganalisa jurus dan arah serangan lawannya. Dada, perut lalu berbarengan pundak dan kepala, itulah inti sasaran jurus serangannya. Batin A Sai mengambil kesimpulan. Begitu mengetahui arah serangan lawannya, otomatis serangan tersebut menjadi tak berarti apaapa lagi bagi A Sai. Walau pun kecepatan serangan si tampan sulit diikutinya, namun ia yakin asalkan ia sanggup menangkis sebuah serangan yang datang, maka serangan yang lainnya pastilah akan ikut hancur berantakan juga. Kelebihannya dalam hal SinKang haruslah dimanfaatkannya sebaik mungkin. Tubuhnya seketika menyusut, merendah hingga hampir menyentuh tanah. Otomatis serangan si tampan yang tadinya mengarah ke perut sekarang mengancam kepalanya. Si tampan mendengus pendek, tiga serangan lainnya ditariknya kembali sedangkan serangan ke arah kepala tetap dilanjutkannya. Berbarengan, kakinya menyerang. Menyapu ke arah kaki A Sai dengan tujuan membongkar kedudukan kuda-kuda lawannya itu. Walau jurus sapuan tersebut dilepaskan belakangan, namun serangan inilah yang tiba duluan mengancam kaki A Sai. A Sai tersenyum dalam hati, jurus sapuan ini telah diperhitungkannya sebelumnya. Dhess Terdengar suara keras saat kaki bertemu dengan kaki.

Akibat dari sapuan tersebut membuat tubuh A Sai limbung dan mendoyong deras ke depan serta membuat serangan si tampan yang mengarah kepalanya otomatis menjadi luput dari sasarannya, berbalik si tampan yang terancam sepasang kepalan A Sai. Rupanya Kesempatan tersebut dimanfaatkan pemuda itu untuk menghindari serangan ke arah kepalanya sekaligus balik menyerang si tampan lawannya. Ibarat sebatang rumput, jika bagian bawahnya dipukul maka bagian atasnya akan mendoyong mendekati penyerangnya. Demikian juga yang dialami A Sai yang telah memanfaatkan serangan lawannya untuk menyerang balik. Apalagi sapuan pada kakinya itu membuat kecepatan gerakannya meningkat drastis dan membuat serangan sepasang tinjunya itu menjadi sulit untuk dihindari lawannya. Namun dasar hatinya baik dan tidak tegaan, pukulan yang dilepaskannya hanya dilandasi tenaga sekedarnya saja, hanya untuk memaksa si tampan mundur dan berganti jurus. Berganti si tampan yang terkejut, sebat ia melompat mundur jauh ke belakang. Keringat dingin perlahan mengucur di jidatnya, nyaris saja ia terlambat. Apa yang terjadi? Kenapa jurus sapuanku sama sekali tidak dirasakannya? batinnya terkejut. Kakinya kesemutan, kiut miut rasanya. A Sai menatapnya tenang, kembali menanti serangan lanjutan pria tampan didepannya itu. Si tampan menarik nafas panjang, menghimpun hawa sakti sekaligus berusaha mengusir rasa sakit yang melanda sebelah kakinya. Suasana hening sejenak. Sam-Sute, mundurlah! kata Tan Cit Kong perlahan, walau diucapkan perlahan namun suaranya terdengar jelas ditempat itu. Si tampan melenggak kaget, tak percaya suhengnya menyuruhnya menyerah begitu saja. Ia kan belum kalah? Kenapa harus mundur sekarang? Tapi jelas sekali rasa penasaran yang tergambar diwajahnya. Mundurlah! Kau bukan lawannya. ulang Tan Cit Kong tegas. Tapi Sute kau sudah kalah! giliran si gemuk yang berkomentar. Si tampan tak percaya, namun sebelum protesnya sempat dikeluarkan, si gemuk Ji-Suheng nya telah menunjuk ke arah dadanya.

Kening si tampan makin berkerut, tanpa sadar diraba dadanya. Hatinya berdebar kencang saat dirasanya jemari tangannya langsung bersentuhan dengan kulit dibagian tersebut. Selembar wajahnya memerah lalu dalam sekejap berubah menghitam, rasa gusar bercampur dengan malu yang hebat melandanya. Namun apa daya, ia benar telah kalah. Hanya dalam sejurus kalah dari bocah bau kencur yang baru mulai gede ini? Sungguh tak puas hati si tampan. Apa daya, melihat kenyataan yang ada, ia memang telah kalah. Apa yang terjadi? Masakan kepalannya telah menyentuh dadaku tanpa kusadari? batinnya, ada sebentuk rasa jerih menyelinap dihatinya. Aku kalah! setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun melompat ke pinggir arena. Ternyata si tampan cukup gagah juga untuk mengakui kekalahannya tersebut. A Sai memandangnya kagum, kagum akan kegagahan pria tampan tersebut. Tapi suara angin yang berkesiur lirih segera mengalihkan perhatiannya. Ternyata si gemuk Sin Kun Tek telah berdiri didepannya. Heng-Te, mari kita main-main sebentar. Katanya perlahan sambil tersenyum lembut. Si gemuk inilah lawan yang paling menakutkan baginya. Walaupun ia belum pernah melihat kehebatan ilmu silat si gemuk, namun pembawaan si gemuk yang terlalu tenang dan selalu mengumbar senyum itulah yang membuatnya yakin si gemuk ini bukanlah lawan yang mudah dihadapi. Sejujurnya, ia bahkan tidak punya keyakinan sama sekali akan mampu melawan pria gemuk didepannya itu. Sesaat ia ragu, ragu untuk melanjutkan pertarungan tersebut. Heng-te, majulah jangan sungkan! si gemuk berkata tenang, senyum diwajahnya makin melebar. Kongkongnya pernah berkata padanya bahwa lawan yang tenang pembawaannya merupakan jenis lawan yang paling sulit dihadapi. Jenis lawan seperti ini menguasai perasaannya dengan baik dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya. Ketenangan dan pengendalian diri dalam bertarung merupakan salah satu faktor yang menentukan kemenangan seseorang. Dalam ketenangan, akan jauh lebih mudah memikirkan setiap jurus yang akan digunakan dalam bertarung dan tanpa ketenangan, akan mudah sekali jatuh ke dalam jurus pancingan lawan. Tidak berani, biar A Sai menanti saja! jawabnya perlahan. Si gemuk menatapnya senang, anak muda dihadapannya ini jelas tidak kelihatan seperti seorang yang berhati jahat. Terlalu sopan dan tahu diri.

Hmm namamu A Sai? Benar. Baiklah, Heng-Te bersiaplah dan lihat seranganku! Setelah memperingatkan demikian, tubuhnya segera melayang menerjang A Sai. Jangan dikira tubuhnya yang gemuk seperti bola itu tidak dapat bergerak cepat, bentuk tubuhnya sama sekali tak mempengaruhi kecepatan gerakannya. Tubuhnya melayang cepat, lebih tepat menggelinding cepat menerjang A Sai. Belum sempat A Sai menyadari apa yang terjadi, kedua telapak Sim Kun Tek telah mengancam pinggangnya. Serangannya walau cepat namun tak terlihat bertenaga, bahkan angin serangannya pun tak terasa. Bukan main! batin A Sai terkejut, tak pernah disangkanya sedemikian hebatnya kecepatan gerakan lawan. Hanya dalam sekejapan mata, kedua telapak tangan lawannya telah berada dua jengkal dari pinggangnya. Sudah tak mungkin lagi untuk menghindar, sementara untuk mengandalkan kekebalan tubuhnya pun ia tak berani. Walaupun tak ada angin yang menyertai serangan lawannya, namun pengalamannya sewaktu menyaksikan pertarungan antara kongkongnya dan Tok-Seng-Sianli telah mengajarinya satu hal. Jangan pernah memandang rendah jurus serangan lawan, sesederhana apapun bentuknya. Tergesa kakinya melangkah mundur, lebih mirip melompat mundur dari pada melangkah. Disusul kedua lengannya menghadang laju sepasang telapak lawan. Dhesss! A Sai tergetar ditempatnya, si gemuk malah menggelinding ke samping sambil melepaskan dua tendangan susul menyusul dari bawah, mengarah paha kanan dan pundak kirinya. Celaka! batinnya kembali terkejut. Ia menarik nafas cepat, menghimpun tenaga dari pusar dan disalurkan seketika ke bagian tubuh yang diserang. Sambil mengangkat kakinya, serangan ke arah paha ditangkisnya dengan lutut. Sedangkan serangan ke arah bahu dibiarkannya saja. Menurut perkiraannya daya benturan yang terjadi antara lututnya dan tendangan lawan dapat dimanfaatkannya untuk melayang mundur demi menghindari serangan ke arah bahu. Ternyata perhitungannya meleset jauh. Benturan yang diharapkannya tidak kunjung terjadi, malah tendangan ke arah bahu yang seharusnya sampai belakangan malah tiba duluan mengancam jalan darah penting dibagian bahu kirinya.

Dalam hal tenaga ia tak kalah, namun dalam hal kecepatan pemuda itu jelas kewalahan. Sudah kepalang tanggung, terpaksa tangkisan lutut tersebut dilanjutkannya dengan tendangan, menyambut tendangan yang dilancarkan lawannya. Mau tak mau ia harus melakukannya kalau tak ingin bahunya tersengat tendangan lawannya. Dhess! Meminjam benturan tersebut, A Sai melayang mundur dan bahunya pun terluput dari serangan si gemuk lawannya itu. Namun belum juga kakinya menginjak tanah, serangan susulan si gemuk telah datang bertubi-tubi, bergelombang bagai air bocor dari tanggulnya. Kakinya ibarat kitiran yang bergerak memutar susul menyusul mengurung gerakan si pemuda sementara tangannya beralih fungsi menopang tubuhnya. Jurus-jurus tendangan yang dilancarkannya secara berantai semakin lama semakin cepat dan dahyat, dilepaskan dengan kekuatan yang tidak tanggung-tanggung dan menggiriskan hati lawan. Hati si pemuda kebat-kebit juga melihat kehebatan serangan lawannya itu. A Sai menabahkan hatinya, dalam situasi seperti ini pikirannya tidak boleh terpengaruh dengan kedahsyatan serangan lawan. Jika tidak, ia bakalan mudah saja termakan kelihayan jurus Sin Kun Tek. Sambil mundur-mundur menghindari terjangan musuh, diperhatikannya kembali berbagai perubahan jurus yang dipertunjukan lawannya itu. Walau sangat berbahaya, namun ia mulai dapat melihat titik kelemahan serangan lawannya. Kiranya terletak pada kedua lengannya yang menopang pergerakan tubuhnya itu. Hanya saja untuk langsung menyerang lengan lawan, ia harus melewati dinding tebal yang diciptakan kedua kaki lawan. Menyusahkan saja batin si pemuda mencari akal. Jangankan menyerang lengan lawan, mendekati perisai tendangan Sin Kun Tek saja ia sudah kerepotan. Salah bergerak sedikit, dijamin tubuhnya bakalan menjadi bulan-bulanan tendangan lawan. DHESSS! Kembali terdengar suara benturan saat tendangan Sin Kun Tek mampir dengan telak dipaha A Sai dan membuat tubuh pemuda itu limbung ke kanan. Belum sempat ia mengokohkan kudakudanya, tiga tendangan susulan telah kembali menyambar datang mengancam tubuhnya. Tidak sempat mengatur posisinya, segera saja pemuda itu bergulingan ke kanan menjauhi serangan Sin Kun Tek. Setelah menggelinding sejauh hampir dua tombak, ia melompat berdiri.

Ternyata Sin Kun Tek tidak mengejarnya hingga membuat A Sai segera sadar, ia telah mendapat belas kasihan dari lawannya. Keringat dingin telah mengucur dari jidat anak muda itu. Hanya meleng sebentar saja, nyaris ia terjungkal. Untunglah si gemuk lawannya masih berbaik hati dan tidak segera melanjutkan serangannya itu, kalau tidak niscaya tubuhnya akan kembali mendapat persen beberapa buah tendangan dari Sin Kun Tek. Mau tak mau, timbul juga rasa terima kasih dalam hati si pemuda pada lawannya. A Sai menghembuskan nafas panjang, kakinya yang terkena tendangan lawan terasa sakit dan kesemutan. Diam-diam dialirkan lweekangnya mengusir rasa sakit yang menyerang kakinya. Heng-Te, sebaiknya kita akhiri saja pertarungan ini. Tak ada gunanya dilanjutkan lagi. Hanya akan mengakibatkan kerugian bagi dirimu sendiri. Sin Kun Tek membujuk perlahan. Ikutlah dengan kami, kalau memang kau dan nonamu tak bersalah, akan kuminta keadilan bagimu! bujuknya lagi. Terima kasih atas kebaikan Sin Eng-Hiong (orang gagah she Sin), mohon maaf kebaikan ini tak dapat ku terima. Pria gemuk itu mengangkat bahunya, agaknya ia enggan bertarung lagi dengan pemuda yang mulai menarik hatinya itu. Toa-Suheng, ia bukan lawanku. Bisik pria gemuk itu pada Tan Cit Kong suhengnya. Tan Cit Kong menatap Ji-Sute nya sejenak, keberatan hati Ji-Sutenya itu dapat dimengertinya. Sebab sifat Ji-Sute nya yang baik hati dan halus perasaannya itu sudah dikenalnya dengan baik. Apalagi ia pun tahu, Ji-Sutenya ini paling tidak suka mengambil keuntungan dari lawan yang lebih lemah darinya. Makanya ia pun tak ingin menyusahkan hati Ji-Sute nya. Anak muda, kau dan nonamu telah dituduh berbuat semena-mena dan melukai beberapa orang. Bagaimanakah caramu membikin terang urusan ini? tanyanya gusar. Ia ingin mereka mengikutinya dengan sukarela, sebab bagaimana pun juga rasanya tidak pantas jika ia dan saudara-saudara seperguruannya menggunakan kekerasan memaksa mereka mengikutinya. Kelompoknya menang jumlah, menang pula usia dan tingkat ilmu silat. Ia tak ingin kelak beredar cerita bahwa anak murid ketua Kun-Lun-Pay mengandalkan jumlah dan ilmu silat untuk menarik keuntungan dari orang yang jauh lebih muda dan cetek ilmu. Toa-Suheng, kenapa harus sungkan segala? Tangkap saja mereka. Soal lainnya biar diatur nanti saja. Sumoy yakin takkan ada orang yang akan memandang rendah kita karena urusan ini. malah si Sumoy Yap In Nio yang menjawab, agaknya ia dapat mengerti jalan pikiran ToaSuheng nya itu.

Apa lagi sikap mereka mencurigakan sekali. kalau memang tidak bersalah, kenapa harus takut mengikuti kita? sambungnya lagi. Enak saja kau ngomong, siapa yang takut? jengek Yan Ci. Kami hanya tak punya waktu saja untuk melayani kalian! Tampaknya urusan yang ada hendak diperumit lagi oleh gadis itu, hal yang tentu saja makin membuat A Sai jengkel pada Yan Ci. Samar-samar Tan Cit Kong mulai dapat melihat kejanggalan sikap sepasang muda-mudi itu. Tampak jelas kegusaran yang terpancar diwajah kedua anak muda itu. Hanya saja kegusaran si gadis ditujukan pada mereka sedangkan kegusaran pengawalnya yang jangkung itu malah ditujukan pada nona majikannya sendiri. Ia jadi keheranan sendiri. Rasa gusar dan tak senang yang ada dihatinya mulai tergeser dengan rasa heran dan ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua muda-mudi ini? Apa pula hubungan yang ada diantara mereka? Kenapa ucapan dan sikap mereka saling berlawanan satu sama lain? Sungguh aneh. batinnya tak mengerti. Sebenarnya kalian ini siapa dan berasal dari perguruan mana? tanyanya. Yan Ci terdiam, tak sanggup menjawab. Apalagi A Sai? Lebih-lebih tak tahu harus menjawab apa. Keduanya sama membisu. Ada apa? Kenapa takut menjawab pertanyaan Toa-Suheng ku? jengek Yan In Nio. Kontan mata Yan Ci mendelik lebar. Soal kami ini siapa, tak ada urusannya dengan kalian! bentaknya singkat. Baiklah, bagaimana kalau diatur begini saja jika kalian sanggup mengalahkan kami, kami akan segera undur diri dari tempat ini dan selamanya takkan mengungkit lagi urusan ini Tan Cit Kong cepat menyela ketika dilihat Sumoy nya hendak melayani kekasaran gadis itu. Tapi jika kalian kalah kalian harus mau mengikuti kami kembali ke dusun tadi! Kedua muda-mudi itu terdiam lagi, tak segera menjawab usulnya itu. Bagaimana? Apa kalian takut? pancingnya cerdik. Baik! A Sai menjawab cepat, tak ingin urusan yang ada makin dibuat rumit oleh Yan Ci. Tapi..

Sudahlah, apa kau mau selamanya berdiri ditempat ini? Kau mundur saja, biar kuselesaikan urusan ini. katanya kesal memotong protes yang baru keluar dari mulut Yan Ci. Capek dirinya mendengarkan pertengkaran yang berlarut seperti ini. Seharusnya sejak tadi urusan ini diselesaikan dengan kepalan saja. Dan ia tahu, hanya jalan itu yang tersedia kalau ingin segera berlalu dari tempat ini. Mohon petunjuk Cu-Wi sekalian. Katanya sambil melangkah kembali ke tengah kalangan. Tan Cit Kong memandang sejenak Ji-Sutenya. Melihat pandangan Toa-Suheng ditujukan padanya, Sin Kun Tek tak punya pilihan lain. Sambil mengangguk tak bersemangat, ia lalu melangkah kembali memasuki kalangan. Heng-Te, silahkan mulai. Sin Eng-Hiong, harap jangan sungkan! jawab A Sai sambil tersenyum, pandangannya terhadap si gemuk semakin meningkat tinggi. Melihat si gemuk tak kunjung membuka serangan, A Sai menarik nafas sejenak. Tampaknya ialah yang harus mendahului menyerang. Hanya saja ia tak ingin lebih dulu menyerang mengingat Ginkang dan perubahan jurusnya kalah jauh dari Sin Kun Tek, akan sangat tak menguntungkan jika ia berada dipihak yang menyerang duluan. Sedari tadi ia telah menganalisa pertandingannya dengan pria gemuk ini dan diam-diam ia telah mempunyai rencana sendiri untuk menghadapi jurus Sin Kun Tek. Hanya saja, rencananya ini barulah dapat dijalankan jika lawan yang berada diposisi menyerang. Itu sebabnya ia harus dapat memancing lawannya untuk berada diposisi tersebut. Kalau tidak, niscaya ia takkan punya kesempatan untuk mengalahkan lawannya itu. Sayang, Sin-Liong-Kiam-Hoat belum kukuasai. Batin A Sai sedikit menyesal. Heng-Te, majulah! Ucapan pria gemuk itu segera menarik A Sai dari lamunannya. Sin Eng-Hiong, harap jangan sungkan. A Sai takkan mungkin kalah! sengaja si anak muda bicara sesumbar untuk memancing serangan lawannya. Mata lawannya menyala sesaat. Benarkah? tanya Sin Kun Tek tak percaya. Benar, sejak tadi bukankah A Sai belum lagi balas menyerang Sin EngHiong? Bukankah serangan Sin EngHiong pun tak dapat melukai A Sai? katanya lagi.

Benar juga. Tendanganku tadi menggunakan tujuh bagian tenaga tapi kelihatannya anak muda itu sama sekali tak mengalami cidera. Padahal seorang tokoh BuLim kelas satu sekali pun belum tentu dapat menerima seranganku begitu saja. Jangan-jangan ia memang masih menyimpan kemampuannya yang sejati. Batin pria gemuk itu. Semangat Sin Kun Tek seketika menyala kembali. Ia tak suka mengalahkan lawan yang telah kena dikalahkan. Tapi kalau alasannya demikian, tentu saja ia pun jadi ingin tahu sampai dimanakah tingkat kemampuan pemuda jangkung yang sanggup menahan tujuh bagian tenaganya tanpa mengalami cidera. Sin EngHiong, berhati-hatilah. Kali ini A Sai takkan menahan diri lagi. Sin Kun Tek memandangnya setengah tak percaya setengah penasaran. Dihimpun tenaganya sebanyak sebesar delapan bagian lalu berkata. Baiklah. Heng-Te, lihat serangan! Kalimatnya masih menggantung diudara tapi orangnya sendiri telah lenyap dari tempatnya semula berada. Hanya dalam sekejapan mata, kedua kepalan Sin Kun Tek telah kembali mengancam dada dan pundaknya. Si pemuda tak menunggu lama. Segera saja dikerahkan lweekangnya hingga ke puncaknya, segala batasan yang ada segera dilepaskannya. Hanya dalam sekejap tenaganya telah mengalir deras hingga ke puncaknya dan menyebabkan kabut putih tipis mengambang menyelubungi tubuhnya sementara lebih tebal lagi uap putih yang membungkus kedua lengannya. Tak ada lagi batasan, tenaga si pemuda telah sampai ke puncaknya. Bukan main kagetnya hati Sin Kun Tek. Tak pernah disangkanya lawan yang masih muda belia ini ternyata memiliki lweekang yang sedemikian hebatnya. Sayangnya, sudah tak mungkin lagi baginya untuk menarik atau pun merubah jurus serangannya. Kalau tak ingin celaka, ia pun harus mengeluarkan seluruh lweekangnya. Walau hatinya meragu, ia akan sanggup menandingi kekuatan lweekang lawan, tapi ia tak punya pilihan lain. Terdengar suitan nyaring keluar dari mulut si gemuk Sin Kun Tek, pada detik-detik terakhir berhasil juga tenaganya ditingkatkan sekuatnya. DHEEESSSSS! Benturan tenaga sakti keduanya menimbulkan suara yang memekakkan telinga diikuti pusaran debu dan angin yang menyebar ke empat penjuru tempat itu, disusul dengan tubuh Sin Kun Tek yang terpental keluar dari kalangan pertarungan. Untunglah Tan Cit Kong segera berkelebat menangkap adik seperguruannya itu, kalau tidak tentulah tubuh si gemuk bakalan berkenalan dengan pohon-pohon besar yang ada disekitar situ.

Wajah pria gemuk itu seputih kertas, darah menetes keluar dari sudut bibirnya. Kesadarannya nyaris hilang namun sekuat tenaga, ia berusaha bertahan. Sung sungguh lihay ucap Sin Kun Tek lirih sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya dalam rangkulan Toa-Suhengnya. Semua orang sama terperangah, tak menyangka hasil pertarungan bakalan seperti itu jadinya. Serempak kedua adik seperguruannya mendekati Toa-Suheng mereka, jelas kelihatan sangat mengkhawatirkan keselamatan Ji-Suheng mereka itu. Sedangkan si Toa-Suheng sendiri telah sibuk sedari tadi, kedua tangannya sibuk melancarkan serangkaian totokan ke tubuh Ji-Sutenya, berusaha menstabilkan kondisi kesehatan adik seperguruannya itu. Lalu dari dalam saku bajunya, dikeluarkannya dua butir pil yang langsung dijejalkannya ke dalam mulut Sin Kun Tek Sutenya. Didudukkannya tubuh adik seperguruannya itu lalu ia sendiri segera saja bersila dibelakang tubuh adik seperguruannya dan segera mengalirkan lweekangnya ke tubuh Ji-Sutenya. Kehadiran A Sai dan Yan Ci seperti telah dilupakan, Tan Cit Kong tak lagi peduli dengan urusan lainnya. Keselamatan Ji-Sute nya yang menjadi perhatian utamanya saat ini. Kedua pihak sama terdiam, tak ada gerakan yang terlihat. Diam-diam Yan Ci berpaling menatap A Sai, dilihatnya pemuda jangkung itu masih tetap ditempatnya semula berdiri. Tak bergeser barang sejengkal pun juga. Uap putih yang menyelubungi bangun tubuhnya pun telah sirna. Sepertinya ia telah menyimpan kembali tenaganya yang menakutkan itu. Ilmu setan apakah yang digunakan bocah udik itu? batin si gadis ngeri. Tak pernah disangkanya kemampuan A Sai sudah setinggi itu. Ia sendiri jika belum kehilangan ilmu silatnya pun bukanlah tandingan si gemuk. Tanpa mengeluarkan satu jurus pun, pemuda ini telah mampu mengalahkan si gemuk hanya dengan tangkisan biasa yang mampu dilakukan siapa pun juga. Sungguh menakutkan jika mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi didepan matanya itu. Hati Yan Ci seperti tenggelam. Rupanya dulu waktu melawanku, ia tidak bersungguh-sungguh. Kalau dulu ia bertarung seperti sekarang maka tak mungkin aku masih bisa berdiri disini. Ternyata membalaskan dendam ini sama sulitnya seperti mencari jarum didasar samudra. Batin gadis itu gelisah. Ditatapnya kembali A Sai. Dilihatnya pemuda itu masih tetap termangu sambil menatap kedua lengannya. Entah apa yang dipikirkannya. Si gadis mengeluh perlahan.

Perlahan tapi tak cukup perlahan hingga mampu didengar si pemuda. Pandangan pemuda itu beralih dari kedua lengannya ke arah Yan Ci lalu detik berikutnya segera saja berpaling mencari lawannya. Agaknya pemuda itu seperti baru saja sadar dari khayalannya sendiri. Heh kau baik saja bukan? tanya Yan Ci pada A Sai. Kening si anak muda tampak berkerut, mungkin heran dengan pertanyaan yang tidak biasanya itu. Detik berikutnya hanya gelengan lemah yang dilihatnya. Aneh, sudah menang bukannya senang kok malah terlihat susah? Batin Yan Ci tak mengerti. Tentu saja ia tak mungkin memahami jalan pikiran A Sai. Hanya si anak muda sendiri yang tahu. Belum sempat ia bertanya lebih jauh, perhatiannya segera teralih dengan suara dan gerakan yang datang dari pihak anak murid Kun-Lun-Pay. Ternyata si Toa-Suheng Tan Cit Kong telah selesai dengan usaha pengobatannya dan tampak sedang membaringkan adik seperguruannya ke atas rumput. Wajah si gemuk pun sudah tidak sepucat tadi lagi. Kelihatannya si gemuk telah berhasil ditolong suhengnya. Toa-Suheng, bagaimana keadaan Ji-Suheng? tanya si tampan Kok Cin Lay cepat. Sudah baikan. Sam-Sute dan Sumoy berdua, kalian uruslah Ji-Suheng kalian. Setelah menyerahkan urusan Ji-Sutenya pada adik seperguruannya yang lain, ia pun melangkah menghampiri A Sai. Bagaimana keadaan Sin EngHiong? Dahi Tan Cit Kong berkerut mendengar pertanyaan A Sai. Itu urusan kami, tak usah kau tanyakan lagi. Sekarang tinggal aku Tan Cit Kong yang harus kau kalahkan, mari kita selesaikan urusan ini. sambungnya lagi. Kalau tadi masih ada rasa sungkan dalam hatinya, sekarang rasa sungkan itu telah terhapus sama sekali dari diri pria raksasa itu. Sekarang urusannya telah berubah sama sekali. Urusannya sekarang sudah menyangkut soal nama dan kehormatan perguruan mereka. Mau ditaruh dimana mukanya jika sampai terdengar orang kalau anak murid ketua Kun-Lun-Pay kena dipecundangi seorang bocah yang masih bau kencur? Belum lagi ia harus mempertanggung jawabkan kejadian ini pada suhunya. Semakin dipikirkan semakin gusar rasa hati Tan Cit Kong. Walau hatinya gusar bukan main, namun ia tak lagi memandang rendah pemuda yang berdiri dihadapannya ini. Lweekang si pemuda telah dilihatnya dan harus diakuinya, lweekangnya sendiri belumlah mampu menandingi kehebatan lweekang si pemuda. Hanya saja ia masih punya pertimbangan lain dan tak takut bakal kalah. Sebab dari beberapa kali pertarungan yang terjadi

antara anak muda ini dan pihaknya, ia dapat melihat kalau pemuda ini semata-mata hanya mengandalkan kekuatan lweekangnya saja, sedangkan ginkang dan jurus silat si pemuda menurutnya biasa saja. Itu sebabnya ia masih punya keyakinan untuk menang. Tadi pun ia dapat melihat si pemuda sengaja menunggu detik terakhir saat pukulan Ji-Sute hampir mengenainya barulah ia membangkitkan seluruh tenaganya. Tujuannya sudah jelas, seandainya sejak semula ia menunjukkan kekuatannya itu sudah barang tentu Ji-Sutenya takkan mau mengadu kuatnya lweekang dengan anak muda itu. Itu sebabnya si anak muda sengaja menunggu saat terakhir baru tenaga yang sesungguhnya dikeluarkan. Tujuannya cuma satu agar Ji-Sutenya sudah tak mampu lagi menarik serangannya dan terpaksa harus mengadu kuatnya lweekang. Dari sini saja ia sudah dapat menarik kesimpulan kalau si pemuda sengaja bertindak demikian sebab kecepatannya tak sanggup menyamai Ji-Sutenya. Siasat yang bagus, entah murid siapakah sepasang muda-mudi ini. batin pria raksasa itu dalam hatinya, timbul juga sedikit kekaguman dalam hatinya. Kau memang cerdik, pandai menilai dan memanfaatkan situasi. Katanya terus terang pada A Sai. A Sai tampak tersipu, ternyata akalnya diketahui juga oleh pria dihadapannya ini. Tak perlu malu atau merasa bersalah, Ji-Suteku yang kurang hati-hati. Hanya saja jangan harap akalmu itu dapat kau gunakan lagi. A Sai tak menjawab. Anak muda, bersiaplah. Aku takkan berlaku sungkan padamu, jadi jangan tahan-tahan kemampuanmu.. Hati si pemuda sedikit bergetar. Sin Kun Tek Sutenya saja sudah sedemikian hebatnya dan hanya dengan menggunakan sedikit akal ditambah dengan nasib baik saja ia dapat mengalahkan si gemuk. Kalau Sutenya saja sudah sehebat itu, bisa dibayangkan bagaimana hebatnya si Suheng. Sementara akal tadi sudah tak mungkin digunakannya lagi. Ia tahu, pria didepannya ini bakalan mengandalkan ginkang dan perubahan jurusnya yang hebat itu untuk melawannya. Anak muda itu mendesah dalam hati, nasibnya dan Thio Yan Ci ditentukan oleh pertandingan ini. Kedua orang itu berdiri berhadapan ditengah kalangan. Tinggi A Sai sudah diatas normal, tapi pria yang berdiri didepannya ini malah sekepala lebih tinggi dari si pemuda. Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut mereka. Keduanya sama menaksir kekuatan lawan. Keheningan menyelimuti tempat itu, keheningan sebelum datangnya badai. Tan Cit Kong memegang kata-katanya. Begitu bergebrak, langsung saja ilmu andalan perguruan dimainkannya. Tidak tanggung-tanggung lagi, serangannya dilakukan dengan sepenuh hati tanpa

belas kasihan sedikit pun. Agaknya ia tak ingin terjungkal ditangan seorang anak muda yang tak diketahui asal usulnya. Ditambah lagi ia tak punya waktu untuk berlama-lama ditempat itu. JiSutenya perlu mendapat perhatian segera dan kali ini waktu tak memihak dirinya. Itulah sebabnya ia bertekad memenangkan pertarungan secepat mungkin. Haittt! Belum hilang suara bentakannya, orangnya sendiri telah berada disamping A Sai. Jarak 3 tombak yang terbentang diantara dirinya dan pemuda itu dilewatinya hanya dalam sekejapan mata saja. A Sai terpana. Tak pernah disangkanya ginkang murid tertua dari ketua Kun-Lun-Pay ini sudah sedemikian hebatnya. Ilmu meringankan tubuhnya sungguh tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Kaki tangan Tan Cit Kong serentak melancarkan serangan yang dilepaskannya susul menyusul dalam sekejapan mata. Sekaligus 12 serangan maut berhamburan mengancam 12 jalan darah penting di tubuh si anak muda. Apalagi selisih antara pukulan yang satu dengan yang lain teramat tipis hingga sulit memastikan pukulan manakah yang akan tiba duluan. Suara gemuruh mengiringi setiap jurus serangan Tan Cit Kong. Kembali A Sai terkejut, tak ada lagi waktu untuk menangkis. Pada hakekatnya, ia tak mungkin menangkis. Celaka! tanpa sadar pemuda itu memekik kaget. Belum lagi dirinya bersiap, kedua kepalan lawan telah berada dua jengkal didepan tubuhnya. Sudah begitu masih ditambah lagi dengan angin yang meniup keras terbawa derasnya serangan yang mendatang membuatnya kesulitan melihat arah serangan lawan. Tak ada waktu lagi untuk berpikir, lweekangnya yang sedari tadi telah dimaksimalkan hingga ke puncaknya lah yang menjadi pegangannya. Kabut putih dipenuhi hawa sakti mengambang tipis memenuhi seluruh tubuh A Sai. Harapannya hanya satu, semoga benteng pertahanan yang terbentuk oleh hawa lweekangnya sanggup bertahan menahan gempuran lawan. Dhessss! Kepalan kanan Tan Cit Kong dengan jitu mendarat dibahu si pemuda, membuat A Sai tergetar ditempatnya. Belum lagi hilang getaran pukulan lawan menjalari tubuhnya, pukulan berikut telah kembali mendarat mulus dibagian tubuhnya yang lain. Dhuukkk! Dhesss! Dhaakkk!... Tiga pukulan telak menggetarkan dada dan punggung si anak muda. Hawa lweekang yang dibangunnya nyaris buyar digedor lawan berulang kali.

Ughhh....! keluh A Sai lirih. Serangan lawan mampu diikutinya, sayang sekali tubuhnya tak sanggup bergerak secepat penglihatan matanya. Sia-sia saja tahu ke mana arah serangan lawan jika tetap tak sanggup bergerak menghindarinya. Pikirannya berputar keras mencari jalan hidup. Kembali beberapa pukulan lawan mendarat telak ditubuhnya, membuat pemuda itu makin terdesak mundur. Awas! pekik Tan Cit Kong memperingatkan. Setelah mendaratkan secara beruntun 12 kali pukulan dahsyat, Tan Cit Kong berganti nafas menyiapkan jurus penutup rangkaian ilmu pukulannya. Hawa udara yang dihirupnya masuk segera saja dibakar aliran tenaga dalamnya dan diledakkannya keluar lewat tinju kanannya. Jurus pukulannya lurus menusuk jalan darah utama didada kanan si anak muda dan dilepaskannya menggunakan sembilan bagian tenaganya. Ibarat seekor naga sakti, pukulan tersebut melejit keluar dengan kecepatan yang sulit diikuti mata dan meledak diatas tubuh lawan. Itulah pukulan terakhirnya. Pukulan yang dilepaskannya sebagai penutup rangkaian jurus serangannya. 13 naga merobek langit, demikianlah nama jurus serangan yang digunakannya saat ini. Ilmu pukulan yang terdiri dari 13 jurus maut yang dilancarkan secara berantai menyerang setiap hiat-to penting ditubuh lawan. Kedahsyatannya pilih tanding dan tidak sebarang orang sanggup menahannya. DHUAARRRR! Kembali terdengar suara benturan dahsyat, kali ini bahkan jauh lebih dahsyat dari yang sudahsudah diikuti dengan gelombang hawa yang tidak kelihatan menyebar ke empat penjuru tempat itu. Sekitar tempat kedua pria itu bertarung tertutup debu tipis, debu yang naik dari permukaan tanah akibat dari pertemuan tenaga sakti keduanya. Kepalan tinju kanannya kembali dengan mulus mendarat didada kanan A Sai hingga membuat si pemuda terjengkang mundur empat langkah, sebaliknya Tan Cit Kong sendiri tidak melanjutkan serangannya, malah melambung tinggi lalu berpoksai mundur tiga tombak ke belakang. Lalu pertarungan antara keduanya mendadak berhenti. A Sai berdiri setengah membungkuk dengan wajahnya memucat menahan sakit sedang Tan Cit Kong berdiri tenang ditempatnya. Keduanya sama berdiri diam mengatur nafas, tak ada gerakan lain lagi yang terlihat. Semuanya sama terkesima, tak begitu mengerti dengan apa yang tengah terjadi dalam arena pertarungan. Apa yang terjadi? Masakan Toa-Suheng hendak mengalah padanya? batin anak murid KunLun-Pay yang lain, penasaran.

Jelas-jelas lawan sudah terdesak hebat, kenapa Toa-Suheng tidak segera saja mengakhiri pertarungannya? kedua adik seperguruan Tan Cit Kong membatin tak mengerti. Tentu saja mereka takkan mengerti situasi yang dihadapi Tan Cit Kong, tak mengetahui kalau saat itu Toa-Suheng mereka sedang menghadapi dilemanya sendiri. Sungguh tak dinyana... sembilan bagian tenagaku pun tak sanggup menundukkannya. Batin Tan Cit Kong nyaris tak percaya. Setelah mendaratkan serangkaian jurus serangan ke tubuh lawan, bukannya lawan yang cedera malah terasa ada sesuatu yang mengganjal dan menyesakkan dadanya. Ternyata benturan demi benturan tenaga sakti yang terjadi antara keduanya sedikit banyak telah membalik dan menghantam badan sendiri. Tan Cit Kong mengerutkan keningnya, ternyata kemampuan lawan diluar perkiraannya semula. Dikerahkan lweekangnya ke bagian dada dan kedua lengannya yang berdenyut sakit sambil berusaha bersikap sewajar mungkin. Ia tak ingin pemuda lawannya itu mengetahui kalau ia telah mulai mengalami cedera disebelah dalam tubuhnya. Bagaimana mungkin ia sanggup bertahan? Biar pun lweekangnya diatasku, tapi setiap jurus seranganku dengan tepat mengenai hiat-to penting ditubuhnya. Masakan ia sama sekali tidak merasakannya? batin Tan Cit Kong heran dan penasaran, apalagi saat dilihatnya wajah lawan yang memucat perlahan-lahan memerah kembali sungguh penasaran hati pria raksasa itu dibuatnya. Pria raksasa ini patut merasa heran sebab sekali pun tenaga A Sai diatas Tan Cit Kong, namun setiap serangan Tan Cit Kong dengan jitu mengenai hiat-to penting ditubuh si anak muda. Walau pun bagian tubuhnya yang terkena pukulan dilindungi lweekang, tapi hiat-to lawan seharusnya tergetar putus setelah digedor berulang kali. Apalagi selisih tenaga antara A Sai dan Tan Cit Kong hanyalah terpaut sekitar dua tiga tingkat saja. Otomatis serangan tersebut seharusnya membawa efek yang tidak sedikit bagi A Sai. Namun kenyataannya A Sai masih dapat berdiri tegak, hal inilah yang sulit dipahami pria raksasa ini. Walau sedang berusaha secepat kilat menstabilkan kondisi kesehatannya yang merosot, tapi pandangan Tan Cit Kong tak pernah lepas menyapu gerak-gerik dan perubahan air muka lawan, sementara otaknya berputar menganalisa bentrokan pertamanya dengan lawan. Jangan-jangan anak muda ini meyakini sejenis ilmu baju besi? batin Tan Cit Kong. Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya... Setelah selesai menguatkan kembali isi dadanya yang sempat tergetar, pria itu kembali menarik nafas panjang. Tampaknya telah menghimpun lagi hawa murninya, bersiap menyerang.

Jarang ada orang yang sanggup menerima secara langsung 13 naga merobek langit dengan tubuhnya, kaulah orang pertama yang tetap berdiri setelah menerima rangkaian jurusku itu. Aku kagum padamu, tapi kuingatkan kau... seranganku yang berikutnya takkan seringan jurus seranganku barusan. Kata-kata Tan Cit Kong yang diucapkan perlahan terdengar jelas ditelinga A Sai. A Sai tak menjawab, hanya senyum kecut tersungging dibibirnya. Benarkah si anak muda tidak merasakan sama sekali jurus 13 naga merobek langit Tan Cit Kong? Sama sekali tidak benar. Setiap serangan pria raksasa itu menggetarkannya. Satu-satunya hal yang membuatnya sanggup berdiri sampai sekarang hanyalah karena daya tahan tubuhnya yang luar biasa itulah yang membuatnya sanggup menahan hebatnya rasa sakit yang menyerang sejak tadi. Segala rasa yang menyesakkan dada dan pikirannya ternyata masih sanggup ditanggungnya. Walau lweekang pemuda itu diatas lawan namun karena yang diserang lawan adalah hiat-to penting ditubuhnya, maka mau tak mau efek serangan Tan Cit Kong naik dua tiga kali lipat dari pada seandainya serangan lawan tidak mengenai hiat-to penting ditubuhnya. Itulah sebabnya walau pun lweekang pria raksasa itu lebih rendah dari dirinya, tapi karena yang terkena pukulan adalah beberapa Hiat-To utama ditubuhnya, tentu saja getaran serangan lawan mengoyak juga pertahanannya. Untunglah lawan sendiri pun tergetar hebat oleh tenaganya yang membalik, sebab seandainya lawan terus menerus menggenjot isi dadanya, dijamin si pemuda bakal berkunjung ke neraka. Baik yang menyerang maupun yang bertahan telah sama-sama terluka. Siapa yang rugi dan siapa yang untung? Entahlah. Yang pasti... pertarungan mereka baru saja dimulai. A Sai menarik nafas panjang, bersyukur lawan berhenti menyerang disaat dirinya sudah berada dititik kritis. Anak muda ini tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, dipikirnya pihak lawan mengasihani dirinya hingga menghentikan serangannya pada saat terakhir. Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Tan Cit Kong berhenti menyerang sebab ia sendiri tak sanggup lagi menahan gejolak tenaganya yang membalik. Tak sadar, perbuatannya itu telah membantu si pemuda. Maklumlah, si anak muda belum lama belajar lweekang... itu sebabnya ia tidak menyadari kenyataan yang ada didepan matanya itu. A Sai tersenyum tenang sambil menatap lawannya, tak seorang pun yang tahu bagaimana gelisah hatinya. Setelah melihat lawan tidak melanjutkan serangannya, segera saja si anak muda berusaha memulihkan dirinya. Dialirkan kembali hawa saktinya berputaran menguatkan isi dada dan seluruh hiat-to nya yang terguncang hebat. Ia harus dapat memulihkan dirinya sebelum serangan berikut lawan dilancarkan.

Sementara itu Tan Cit Kong pun telah selesai dengan persiapannya, tampak jelas hawa murninya telah dikeluarkannya. Tidak tanggung-tanggung lagi, sepuluh bagian tenaganya telah dimaksimalkannya keluar. Awas serangan! Selesai memperingatkan lawan, tubuh pria raksasa itu berkelebat samar menerjang A Sai. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah setiap hiat-to penting yang ada ditubuh lawan. Sepasang tinju pria raksasa itu seketika berubah tak terhitung banyaknya dibarengi dengan angin yang berkesiur kencang berputaran menerjang si pemuda. A Sai pun tak sanggup lagi menghitung banyaknya tinju lawan yang mengancam dirinya. Serangan lawan beterbangan mengitari tubuhnya bagaikan hujan badai menerpa daratan. Thian-Tee-Lian-He (Langit bumi bersatu)! tanpa sadar kedua adik seperguruan Tan Cit Kong memekik kaget. Tentu saja kedua adik seperguruannya kaget bukan kepalang. Langit dan bumi bersatu merupakan jurus rahasia perguruan mereka. Jurus yang hanya diajarkan suhu mereka pada ToaSuheng mereka, bahkan mereka sendiri pun tidak diperkenankan mempelajari jurus ini. Sebab jurus ini hanya boleh dipelajari oleh ketua perguruan dan calon penggantinya. Hanya saja jurus ini tak boleh sebarang dikeluarkan. Hal ini dikarenakan sekali jurus ini keluar, nyawa lawan dan nyawa sendiri kemungkinan besar bakalan melayang. Itulah sebabnya jurus ini termasuk salah satu jurus terlarang Kun-Lun-Pay yang hanya boleh digunakan saat nyawa sudah berada diujung tanduk. Sudah sedemikian hebatkah pemuda itu sampai-sampai Toa-Suheng terpaksa mengeluarkan jurus terlarang perguruan kita? bisik Yap In Nio pada Sam-Suhengnya. Entahlah... tapi... kelihatannya begitu. Jawab Kok Cin Lay lirih, tak habis pikir. Sungguh lihay, padahal usianya masih sangat muda... gumam gadis itu tak jelas. Tadi saat menyaksikan Toa-Suheng mereka mengeluarkan 13 naga merobek langit saja mereka berdua sudah terkejut bukan kepalang. Sebab mereka mengenal keampuhan jurus itu, tapi mereka pun tak kalah terkejutnya saat melihat lawan ternyata sanggup menahannya. Padahal rangkaian jurus tersebut merupakan ilmu pukulan baru hasil pemikiran suhu mereka selama puluhan tahun. Jurus yang diambil suhu mereka dari berbagai gerakan paling lihay yang terdapat dalam Kun-Lun-Kun-Hoat (Ilmu pukulan Kun Lun) dan Kun-Lun-Kiam-Hoat (Ilmu pedang Kun Lun). Ternyata 13 naga merobek langit pun tak sanggup mengalahkan lawan. Keduanya sekarang mengerti, ternyata Toa-Suheng mereka sudah tak ada lagi pilihan lain selain mengeluarkan jurus terlarang warisan perguruan. Berbalik hati keduanya kebat-kebit dilanda kekhawatiran. Sebab mereka tahu... nyawa Toa-Suheng sedang berada diujung tanduk. Pertarungan sekarang merupakan pertarungan hidup mati. Siapa pemenangnya, sukar mengetahuinya. Kedua petarung mempunyai kelebihannya sendiri namun diam-diam keduanya telah mengambil keputusan untuk turun tangan seandainya diperlukan nanti.

Sementara itu A Sai sedang kerepotan bukan main menghadapi jurus yang dikembangkan lawannya. Tidak ada celah sama sekali baginya untuk menghindar. Kepalan lawan menutupinya dari enam penjuru. Kiri, kanan, muka, belakang, atas, bawah, semua ruang disekitar tubuhnya dipenuhi bayangan tinju Tan Cit Kong yang menyambar dahsyat tak kenal ampun. DHEEESSSSS! Suara benturan dahsyat kembali terdengar mengguncang tempat itu. Bukan hanya sekali, melainkan berulang kali sementara tubuh pemuda itu tergetar mundur ke segala arah diberondong sepasang kepalan lawan. Ada kalanya tubuh pemuda itu terhuyung ke kiri, dilain saat tersentak ke kanan lalu saat berikutnya terjajar mundur. Saat sedang berusaha menguatkan kuda-kudanya, tubuhnya telah terangkat dari tanah dihajar kepalan lawan yang menusuk dari bawah ke atas. Baru juga terangkat dua tiga jengkal dari tempatnya berpijak, kepalan lawan telah mengirim tubuhnya turun kembali ke bumi. Jurus Thian-Tee-Lian-He (Langit dan bumi bersatu) benar-benar luar biasa dahsyatnya. A Sai seolah dihajar dari segala penjuru, bahkan langit diatas dan bumi dibawah pun seolah bersatu meremukkan tubuhnya. Akhirnya pemuda itu hanya sanggup main mundur. Mundur bukan karena kemauan sendiri tapi mundur karena digenjot pukulan keras lawan. Serangan Tan Cit Kong benar-benar tak kenal ampun. Hal ini disebabkan ia yakin pemuda lawannya ini menguasai sejenis ilmu baju besi, itulah sebabnya setiap titik dan jalan darah yang berada ditubuh pemuda itu diserangnya. Tujuannya hanyalah satu, mengetahui titik kelemahan lawan. Ia yakin, asalkan dapat menemukan titik yang tepat maka pemuda itu pastilah akan kehilangan kemampuannya menggunakan ilmu baju besinya. Masakan sampai sejauh ini tak juga kutemukan titik kelemahannya? batin Tan Cit Kong sambil berusaha menahan gejolak didadanya sendiri. Pria itu mengeraskan hatinya, ia tak lagi peduli dengan lukanya yang semakin lama semakin menghebat. Serangannya semakin gencar dilancarkan. Kasihan A Sai. Jelas kelihatan kalau A Sai sama sekali bukanlah tandingan Tan Cit Kong. Keunggulannya dalam hal lweekang nyaris tak berkutik didepan murid tertua ketua Kun-Lun-Pay itu. Kemenangan si pemuda dalam hal lweekang hanyalah membuatnya sanggup menahan gempuran lawan. Tapi untuk berapa lama? Butiran keringat dingin telah sejak tadi mengalir deras dijidat A Sai. bahkan darah segar pun telah mengucur keluar dari mulut dan hidungnya. Jelas si anak muda telah terluka dalam. Hati pemuda itu gelisah bukan buatan, tahu tak ada jalan hidup baginya. Agaknya saat kematiannya sudah tiba.

Perlahan, kepeningan mulai menyelimutinya. Dunia mulai terlihat berputar dimatanya. Pemuda itu tahu, kesadarannya mulai hilang. Terlalu banyaknya pukulan yang menerpa tubuhnya. Seluruh hiat-to penting ditubuhnya telah disinggahi kepalan lawan dan ia tahu... sebelah dalam tubuhnya telah terluka. Lukanya kali ini tak dapat disebut ringan lagi. Tidak boleh terjadi... sama sekali tidak boleh! batinnya mengeraskan hati, berusaha mengembalikan semangat dan kesadarannya yang perlahan menghilang. Ujung lidah sendiri terpaksa digigit agar kesadarannya pulih kembali... walau tak berarti banyak, namun paling tidak sedikit menyadarkannya dari kepeningan yang melanda. Haruskah kunaikan lagi tenagaku? batinnya bimbang ditengah kepeningan menyerangnya. Teringat kembali akan kejadian dahulu, pemuda itu jadi ragu sendiri. Ragu ia akan sanggup menguasai dahsyatnya tenaga yang bakalan meluap nanti. Pikiran si pemuda berada dipersimpangan jalan. Pilihan pertama atau pilihan kedua, sama-sama tak bisa diperkirakan hasilnya. Hanya satu hal yang diketahui A Sai dengan pasti, kalau keadaan ini tak segera diubah... kemungkinan besar nyawanya pastilah melayang. A Sai tak punya pilihan lain. Kongkong... maafkan A Sai... ucap pemuda itu lirih, sedih mengingat pesan kongkongnya harus secepat ini dilanggarnya. Detik disaat ia hendak menyiulkan nada ke-7 miliknya, tiba-tiba saja roda nasib berputar arah. Serangan gencar lawan menyurut, bahkan pukulan pria raksasa itu pun tidaklah sekuat sebelumnya. Walau pening bukan buatan, mau tak mau A Sai dapat juga merasakan keganjilan yang ada. Hal yang tentu saja membuatnya keheranan. Apa yang terjadi? Apakah Tan Eng-Hiong telah kembali mengalah? batin pemuda itu tak mengerti. DHESSSSS! Setelah pukulan tersebut mendarat ditubuh A Sai dan membuat tubuh pemuda itu terjajar selangkah ke belakang, Tan Cit Kong kembali melompat mundur. Mundurnya Tan Cit Kong sudah termasuk aneh, tapi yang membuat semua orang makin tercekat hatinya adalah keadaan Tan Cit Kong yang ternyata tidak lebih baik dari A Sai. Nafas pria raksasa itu kembang-kempis sementara wajahnya sepucat kertas yang belum ditulisi. Walau pria itu berusaha menyembunyikan keadaannya, namun semuanya dapat melihat kalau pria raksasa ini keadaannya sangat tidak beres. Hoekkk!

Darah segar dimuntahkannya keluar, ternyata Tan Cit Kong pun terluka dalam. Belum lagi darah yang keluar dari mulutnya menyentuh tanah, lutut pria raksasa itu telah lebih dulu mencium tanah. Agaknya luka dalam yang dideritanya sudah sedemikian parahnya hingga ia tak mampu lagi mempertahankan kuda-kudanya sendiri. Disaat kedua adik seperguruannya hendak berkelebat menolongnya, pria itu segera saja mengangkat tangan mencegah mereka. Keadaan Tan Cit Kong yang terluka sudah sejak semula diperkirakan adik-adik seperguruannya bakal terjadi. Sebab mereka tahu betul kelebihan dan kekurangan jurus Thian-Tee-Lian-He. Jurus ini menyerang seluruh hiat-to penting yang ada ditubuh lawan, menyerang dengan sepenuh kekuatan tanpa meninggalkan lagi sedikit pun tenaga untuk pertahanan. Hal ini disebabkan jurus ini membutuhkan tenaga luar biasa besarnya untuk menciptakan gelombang serangan sebanyak, secepat dan sekuat mungkin. Jadi pemakai jurus ini haruslah memaksimalkan seluruh tenaganya lalu memakainya untuk meningkatkan kecepatan serangan, variasi dan perubahan jurus tapi harus tetap menjaga agar kekuatan pukulan tidak menurun. Jika hanya setengah setengah mengeluarkan tenaga, jurus ini takkan berhasil dimainkan. Kekurangan jurus ini terletak pada faktor pertahanan diri pemakainya yang secara otomatis akan menurun drastis, sebab seluruh lweekang yang ada digunakan untuk menyerang lawan. Selain itu jurus ini pun akan menguras habis seluruh tenaga dalam pemakainya. Itulah sebabnya ThianTee-Lian-He termasuk jurus terlarang Kun-Lun-Pay yang hanya boleh digunakan saat nyawa sudah berada diujung tanduk. Sebab pada hakekatnya, jurus ini sama saja dengan jurus bunuh diri. Jika lawan tidak luka oleh jurus ini, kemungkinan besar diri sendiri yang terluka bahkan mati. Sayangnya hal tersebut tak diketahui A Sai. Pemuda itu masih tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi ditempat itu. Walau tak begitu mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi namun hati pemuda itu girang bukan buatan. Harapannya untuk menang telah kembali terbuka lebar. Detik itulah baru A Sai merasa efek pukulan yang menerpa tubuhnya sedari tadi. Seluruh tubuhnya seperti dicabik-cabik tangan yang tidak kelihatan, dadanya sendiri sesak bukan kepalang. Agaknya luka yang diderita si anak muda tak lebih ringan dari pria raksasa lawannya itu. Namun pemuda itu berusaha bertahan sedapat mungkin, ia tak ingin keadaannya diketahui pihak lawan. Darah yang mengganjal ditenggorokannya terpaksa ditelannya kembali. Hanya kekerasan hati ditambah dengan daya tahan tubuhnya saja yang membuatnya tetap tegar berdiri hingga sekarang. Padahal sepasang kakinya sedari tadi telah oleng. Dengan mengeraskan hati... berhasil juga pemuda itu menguatkan lututnya yang goyah. Keheningan kembali menguasai tempat itu, kedua pihak sama menaksir situasi yang dihadapi mereka. Tan Eng-Hiong, perlukah kita lanjutkan lagi pertarungan ini? suara A Sai terdengar memecah kesunyian yang ada.

Tan Cit Kong mengangkat kepalanya memandang A Sai, rupanya pria itu sedang menimbang situasinya sekarang. Bocah hebat... Sudah terkena 13 naga merobek langit ditambah lagi dengan Thian-Tee-Lian-He, ternyata dirinya masih sanggup tegak berdiri. Sanggup pula berbicara... berpikir sampai disini, lenyaplah semangat tempur Tan Cit Kong. Thian-Tee-Lian-He adalah jurus andalannya, ilmu rahasia tertinggi Kun-Lun-Pay yang berhasil dikuasainya. Jika ilmu andalannya saja tak mampu menundukkan lawan, jurus apa lagi yang harus digunakannya? Hati Tan Cit Kong seperti tenggelam. Tak ada harapan lagi yang tersisa baginya untuk mengalahkan lawannya yang masih belia ini. Setelah berpikir ke sana ke mari, akhirnya ia pun buka suara. Kau memang hebat, masih semuda ini telah mampu menerima semua seranganku. Kata pria itu lemah. A Sai meringis mendengarnya selaligus hatinya jadi berdebar sendiri menunggu kelanjutan ucapan lawan. Pertarungan ini telah kau menangkan! sambungnya perlahan. Walau hatinya malu bukan main, namun Tan Cit Kong tak segan mengakui kekalahannya sendiri. Ucapan lawan sudah tentu membuat A Sai terpana. Apa yang telah terjadi? Kenapa lawan tibatiba mengaku kalah padanya? Kenapa pula lawan bisa terluka hingga sedemikian parah? Makin dipikir, A Sai makin tak mengerti. Sebaliknya, kedua saudara seperguruan pria itu tak bisa menerima perkataan Toa-Suheng mereka. Tapi Toa-Suheng... serempak kedua adik seperguruannya memprotes. Ucapan keduanya langsung terhenti ditengah jalan ketika melihat Tan Cit Kong mendelik gusar ke arah mereka. Segala perkataan yang hendak dikeluarkan langsung ditelan kembali. Apa kalian buta hingga tak bisa lagi menyaksikan pertarungan barusan? tanya Tan Cit Kong gusar. Apa kalian tidak bisa melihat siapa yang masih tegak berdiri dan siapa yang tidak? tanyanya lagi. Kedua adik seperguruannya sama membungkam, tak berani menjawab perkataan Toa-Suheng mereka. Sudah jelas dia yang berdiri dan aku yang duduk disini, apa lagi yang belum kalian pahami?

A Sai bersyukur dalam hati, berbareng hatinya jadi tidak enak sendiri melihat Tan Cit Kong memarahi kedua adik seperguruannya itu. Sejujurnya sampai sekarang pun ia tidak mengerti bagaimana ia bisa memenangkan pertarungan mereka. Dari awal dirinyalah yang kena dipukuli habis-habisan sedangkan lawan tak pernah tersentuh tangannya, bagaimana mungkin lawan bisa terluka sehebat itu? A Sai tak mengerti namun segala rasa heran dan penasaran yang ada dihatinya disimpannya rapat-rapat. Akhirnya pemuda itu pun menjatuhkan dirinya bersimpuh diatas rerumputan. Kesempatan ini harus dimanfaatkannya sebaik mungkin. Pertarungan ini tak ada yang menang dan tak ada yang kalah. Pemuda itu akhirnya buka suara. Ucapan A Sai segera saja menyita perhatian para anak murid Kun-Lun-Pay. Tanggapan mereka pun berbeda, si Toa-Suheng mendelik gusak ke arahnya sedangkan kedua adik seperguruannya malah mengangguk setuju mendengar ucapannya itu. Apa maksudmu? Sudah jelas kau yang menang dan aku yang kalah, kenapa berkata seperti itu? tanya pria raksasa itu kurang senang. Apa kau hendak lebih mempermalukan lagi diriku? Apa kau kira Tan Cit Kong bukanlah lelaki sejati yang takut mengakui kekalahannya sendiri? Hayo jawab! semprot pria itu lagi. Agaknya maksud baiknya yang hendak membuat pria itu tidak kehilangan mukanya didepan saudara seperguruannya itu telah disalah tanggapi oleh pria itu. A Sai jadi salah tingkah sendiri, ucapannya haruslah dipertimbangkannya masak-masak. Salah menjawab sedikit, bakalan timbul masalah baru lagi. Agak susah menjelaskannya... jawab A Sai setelah berpikir sesaat. Jelaskan saja. Potong pria itu singkat. Semua serangan Tan Enghiong tak mampu A Sai hindari, walau semua serangan tersebut tak sanggup menjatuhkan A Sai, tapi bukankah A Sai pun tak sanggup menyerang balik barang satu kali pun juga? pemuda itu berusaha memberi alasan. Lagipula Tan Enghiong terduduk disitu kan bukan akibat pukulan A Sai melainkan karena keinginan Tan Eng-Hiong sendiri. Jadi siapa menang siapa kalah belumlah diketahui. Itu sebabnya A Sai katakan pertarungan ini sama sekali tak ada pemenangnya. Sambung si anak muda lagi. Tan Cit Kong melongo sesaat, lupa untuk berkomentar. Bicara sejujurnya, ia merasa tak ada gunanya melanjutkan lagi pertarungan mereka sebab semua jurus serangannya sama sekali tak berpengaruh bagi lawan. Sedangkan lawannya sendiri belum lagi balas menyerang. Seandainya lawan menyerangnya disaat ia sudah terluka begini, tentu saja ia takkan sanggup menghindarinya lagi. Jangankan untuk menghindar, bergerak saja rasanya ia sudah tak sanggup. Hanya lweekang maha kuat saja yang sanggup menerima semua serangannya tanpa terkapar, dan si anak muda telah membuktikan kalau lweekangnya pun bukanlah sesuatu

yang bisa dibuat main-main. Jika sampai serangan lawan mengenai dirinya, akibatnya sungguh tak berani ia bayangkan. Tapi ucapan A Sai dirasakan juga kebenarannya. Tak urung timbul rasa terima kasihnya pada pemuda itu sebab ia tahu, si pemuda berkata demikian semata-mata hanyalah untuk menyelamatkan mukanya. Kau memang hebat! Baiklah, biarlah pertandingan hari ini dianggap saja seri. Akhirnya pria tersebut menyetujui juga ucapan A Sai. A Sai jadi lega mendengarnya. Rupanya batas ketahanan si anak muda telah tiba. Ia tak sanggup bertahan lebih lama lagi. Rasa mual sudah tak tertahankan lagi. Darah yang ditelannya telah kembali mendesak kerongkongannya. Bersamaan dengan itu, keluar juga segala ganjalan yang menyesakkan dadanya sejak tadi dan berceceran membasahi rumput didepannya. Hoekkkk! Ternyata A Sai sudah tak sanggup lagi menyembunyikan keadaan dirinya yang terluka. Penuh khawatir, dipandanginya pihak anak murid Kun-Lun-Pay. Rasa was-was kembali menyelubungi hatinya. Ia takut mereka akan mengambil keuntungan setelah mengetahui keadaan dirinya yang terluka itu. Tapi kekhawatirannya sama sekali tidak terbukti. Tan Cit Kong dan kedua adik seperguruannya sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Tan Cit Kong telah tenggelam dalam semedinya, berusaha memulihkan keadaan dirinya yang terluka sementara kedua adik seperguruannya telah bersila disamping pria itu sambil membantu menyalurkan lweekang mereka ke tubuh si ToaSuheng. Walau demikian hatinya masih juga khawatir, takut semua yang dilihatnya itu hanyalah sandiwara semata dari pihak lawan. Itulah sebabnya ia belum berani melakukan siulian memulihkan kondisinya yang luka parah. Sebaliknya si anak muda tetap bersiaga, walau pun tubuhnya sudah nyaris tak sanggup digerakannya lagi. Heng-Te, lekas siulian! Kalau tidak, kau bakalan bertemu leluhurmu! suara si gemuk Sin Kun Tek mengagetkan A Sai. Ternyata si gemuk Sin Kun Tek telah sadar dari pingsannya dan ketika dilihatnya si anak muda yang menarik perhatiannya itu muntah darah, ia pun buka suara memberi nasihat. A Sai tak segera menuruti perkataan pria gemuk itu, anak muda itu masih juga ragu tampaknya. Melihat si anak muda tampak meragu, Sin Kun Tek segera membisikinya dengan ilmu mengirimkan suara. Jangan khawatir, kami takkan mungkin mengambil keuntungan dari keadaanmu itu. Bisiknya dari jauh.

Toa-Suheng dengan setulus hati telah mengakui kekalahannya padamu. Takkan mungkin dirinya menyusahkanmu lagi. Tapi dengan bersikap waspada seperti itu, kau telah menunjukkan ketidak-percayaan dirimu padanya... dan hal itu merupakan penghinaan besar baginya. Apa kau ingin membuat sengketa baru dengan kami? sambung Sin Kun Tek. Rupanya pria gemuk ini sengaja bicara menggunakan ilmu mengirimkan suara sebab ia tak ingin saudara seperguruannya yang lain mendengar ucapannya itu. A Sai kembali meringis mendengar bisikan pria itu, ternyata ia telah salah menilai mereka. Pemuda itu tersenyum lemah, ucapan pria gemuk itu tentu saja dipercayainya. Sebab dari ke empat anak murid ketua Kun-Lun-Pay yang hadir disitu, hanya pria gemuk inilah yang dirasakannya paling baik. Si anak muda tak ragu lagi, segera saja tenaga yang masih tersisa disalurkannya memutari tubuhnya. Hanya dalam sekejap, ia telah hilang dalam semedinya. Kedua pihak sibuk dengan usaha masing-masing, si gemuk Sin Kun Tek pun tak terkecuali. Begitu melihat A Sai telah tenggelam dalam siuliannya, ia pun telah kembali melakukan siulan memulihkan kesehatannya. Dua kentungan berlalu, tempat itu mulai dilanda kegelapan. Rupanya malam telah tiba menyelimuti hutan tempat mereka berada. Si gemuk Sin Kun Tek lah yang pertama kali sadar dari Siulian nya. Begitu matanya terbuka, keheranan langsung menyelimuti dirinya. Baru sekarang ia sadar, ada sesuatu yang kurang ditempat itu. Segera saja matanya berputar mencari ke segala penjuru, hanya kegelapan malam yang dijumpainya. Rasa heran makin menguat menguasai hati dan pikirannya. Ke mana nona cilik tadi? Pantasan suasana setenang ini, rupanya nona itu tidak berada lagi disini... Batinnya keheranan, berbareng rasa tak senang pun muncul dihatinya. Bagaimana mungkin nona cilik itu meninggalkan pengawalnya begitu saja disaat pengawaln ya sedang terluka parah seperti ini? Bukankah pemuda pengawalnya ini bertarung demi membela ucapan nona itu? makin dipikirkan, makin tak senang hati pria itu. Tapi setelah merenungkan kembali sikap kedua muda-mudi itu, Sin Kun Tek jadi ragu sendiri. Sedari awal sikap keduanya sama sekali tidak mencerminkan sikap antara nona majikan dan pengawal. Mana ada majikan yang takut sama pengawalnya sendiri? Sikap pengawalnya sendiri tidak mirip sikap seorang pengawal sama sekali... Hmm... tampaknya ada sesuatu yang aneh dengan keduanya. Dipandanginya A Sai. Melihat si pemuda masih tenggelam dalam semedinya, Sin Kun Tek menarik nafas panjang. Jelas ia merasa kasihan dengan si pemuda yang mati-matian bertarung demi nona majikannya... ehh... majikannya malah kabur entah kemana.

Tarikan nafas Sin Kun Tek menyadarkan A Sai dari semedinya. Matanya perlahan terbuka mengamati situasi disekelilingnya. Dilihatnya Sin Kun Tek duduk bersandar pada sebatang pohon sedangkan lima tombak disebelah kirinya ketiga saudara seperguruannya masih sibuk dengan urusan mereka. Kembali diedarkan hawa saktinya ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya ternyata sudah tidak sesakit sebelumnya. Walau pun tenaganya belum lagi pulih, namun paling tidak rasa sesak yang mengganjal dadanya telah sirna. Hal ini dianggapnya sebagai pertanda baik, tanda bahwa luka dalamnya walau belum sembuh betul namun sudah tidak lagi berbahaya. Bagaimana lukamu? pertanyaan Sin Kun Tek menyadarkannya, pandangan A Sai segera beralih pada pria gemuk itu. Sudah baikan, terima kasih. Ngg... Maafkan A Sai karena membuat Sin Eng-Hiong terluka.. perkataan pemuda itu terdengar kikuk dan sarat dengan penyesalan. Sin Kun Tek memandanginya sambil tersenyum. Tak usah khawatir, luka sekecil ini tak ada artinya bagiku. Jawabnya lembut. A Sai makin tak enak hati mendengar jawaban pria itu. Melihat si anak muda makin salah tingkah, Sin Kun Tek menghiburnya. Jangan Heng-Te pikirkan lagi, kalau kita tak bertarung lebih dulu tentu sekarang kita takkan saling mengenal. Lagi pula luka sekecil ini tak ada artinya, besok juga sudah hilang. jawabnya lagi. Tapi... Sudahlah, tak perlu lagi mengungkit hal yang telah lewat. Kemarilah, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Potong pria itu cepat saat dilihatnya A Sai hendak membantah ucapannya itu. Si pemuda jadi urung buka suara. Sambil menghembuskan nafas panjang, ia pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati si gemuk Sin Kun Tek. Ada hal apakah yang ingin Sin Eng-Hiong bicarakan dengan A Sai? tanya A Sai setelah berada didepan pria itu. Pria gemuk itu tertawa sendiri mendengar ucapan A Sai yang terdengar kikuk ditelinganya. Suaranya mengalun lembut dan halus. Sebelumnya... biar kupanggil kau Sai-Te dan cukup kau panggil diriku dengan Toako (kakak) saja, jangan pakai Eng-Hiong (orang gagah) segala. Aku belum pantas menyandang sebutan itu. Katanya pada A Sai.

A Sai mengangguk, walau tidak setuju dengan perkataan pria itu. Kalau Sin Kun Tek tak pantas dipanggil Eng-Hiong, lalu yang bagaimanakah yang pantas disebut Eng-Hiong? Keberatannya itu disimpan saja dalam hatinya, ia tak ingin mengecewakan pria gemuk didepannya ini. Baiklah... ada urusan apa yang ingin Sin Toako bicarakan dengan Sai Te? ulangnya lagi. Begitu lebih baik. Sin Kun Tek mengangguk puas. Maukah kau menceritakan kejadian hari ini? Kejadian yang sebenarnya terjadi diantara kalian dan penduduk dusun Musim Berburu... tanyanya lagi penuh harap. Biar bagaimana pun juga ia ingin tahu latar belakang kejadian yang telah menyebabkan timbulnya pertikaian diantara mereka dan A Sai. Walau dirinya mempercayai pemuda ini, namun seluk beluk permasalahan yang ada masih samar baginya. A Sai ragu sesaat, menimbang permintaan pria gemuk tersebut. Hanya sesaat ia ragu, saat berikutnya segala kejadian yang terjadi hari itu telah diceritakannya keluar. Tak ada lagi yang perlu ditutupi. Toh mereka takkan mungkin lagi memaksanya dan Yan Ci untuk kembali ke desa itu. Bukankah pertarungan mereka telah berakhir seri? Sesuai perjanjiannya dengan Toa-Suheng pria ini, ia tak perlu khawatir lagi bakalan didesak anak murid Kun-Lun-Pay kembali ke dusun tadi. Hanya soal siapa dirinya dan Yan Ci saja yang tidak ikut diceritakannya. Biarlah mereka tetap menganggap hubungannya dengan gadis itu sebagai hubungan antara majikan dan bawahan saja. Kiranya demikian... kata Sin Kun Tek setelah mendengarkan semua penjelasan pemuda itu. Dipandanginya pemuda yang duduk bersimpuh didepannya itu. Dari sikap yang ditunjukkan Yan Ci tadi, paling tidak ia dapat membayangkan bagaimana sulitnya melayani seorang nona majikan yang gampang naik darah dan selalu bersikap seenaknya itu. Sikap gadis itu mudah menimbulkan pertikaian dengan siapa pun juga. Kasihan anak muda ini, harus selalu siap melindungi majikannya. Nona majikan benar atau pun salah ia tak punya pilihan lain selain melindungi nona majikannya itu. Sementara untuk menyalahkan si anak muda, ia tak sampai hati. Sudah tugas anak muda ini untuk melindungi nona majikannya. Mau tak mau, timbul rasa simpatinya pada si pemuda. Ternyata begitu kejadiannya... kata pria gemuk itu. Bolehkah Toako tahu, kalian ini siapa? Anak murid siapa dan hendak ke mana? A Sai kembali meragu, urusan ini tak dapat diceritakannya pada sebarang orang. Maafkan Sai-te, soal yang satu ini tak dapat Sai-te beritahukan pada Sin-Toako. Kenapa?

Tidak dapat saja, kelak kalau urusan Sai-te sudah selesai... akan Sai-te ceritakan semuanya pada Toako. Jawab si pemuda tegas. Sin Kun Tek pun tak bertanya lagi soal itu, jika si pemuda telah berkata demikian maka tak ada gunanya lagi mendesak si pemuda. Toh... urusan ini akan jelas sendiri dikemudian hari. Baiklah, takkan Toako tanyakan lagi soal ini. Hanya saja ingat ucapanmu, kelak Toako tunggu penjelasanmu. Kata si pria sambil tersenyum penuh pengertian. A Sai mengangguk meyakinkan pria gemuk itu. Saat pria itu hendak bertanya lagi, A Sai cepatcepat memotong ucapannya. Sin Toako, sekarang giliran Sai-te yang bertanya. Bolehkah? tanya si pemuda sambil memandang penuh harap. Tentu saja boleh, katakanlah. Apakah Sin Toako mengikuti jalannya pertarungan yang terjadi antara Sai-te dan Tan EngHiong tadi? Tentu saja, walau tidak benar-benar mengikutinya namun paling tidak garis besar pertarungan kalian Toako tahu. Jawabnya berusaha menebak arah pertanyaan A Sai. Apa ada sesuatu yang tidak kau mengerti? tanyanya lagi. Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak Sai-te pahami. Katakanlah, akan Toako jawab semampu mungkin. A Sai berpikir sejenak sebelum akhirnya buka suara bertanya. Dalam pertarungan tadi, sudah jelas Tan EngHiong lah yang menyerang, kenapa malah Tan EngHiong sendiri yang terluka? Sejak kapan ia terluka dan bagaimana mungkin ia bisa terluka hingga separah itu? tanya si anak muda. Sin Kun Tek menatap A Sai tak percaya. Masakan hal yang sudah jelas seperti itu pun tak dimengertinya? Pria gemuk ini jadi tak mengerti sendiri. Sai-te... jangan katakan kau sama sekali tidak punya gambaran mengenai apa yang terjadi tadi... tanyanya tak percaya. A Sai memang tak punya gambaran. Jawab si pemuda lagi. Sedikitpun juga tak ada? Sama sekali tak ada gambaran.

Sin Kun Tek makin tak percaya. Masakan sudah mempunyai lweekang setinggi itu masih tak mengerti juga penyebab kekalahan Toa-Suhengnya? Jangan-jangan anak muda ini hendak mempermainkannya. Tapi kebingungan yang terlihat jelas dimata si anak muda membuatnya jadi sangsi sendiri. Akhirnya sambil menghembuskan nafas panjang, Sin Kun Tek pun menjawab pertanyaan A Sai. Penyebab kekalahan Toa-Suheng kalau Toako tak salah duga... kemungkinan besar disebabkan lweekangnya berada dibawah lweekangmu. Itulah sebabnya walau pun setiap pukulannya dengan tepat mengenai tubuhmu, namun tenaganya kalah kuat hingga tak mampu menjebol benteng hawa sakti yang kau ciptakan. Bukannya melukai dirimu, malahan tenaganya jadi terpukul balik dan melukai sebelah dalam tubuhnya sendiri. Apalagi Toa-Suheng nekat memukulmu terus menerus tanpa memperdulikan kesehatan sendiri, sama saja ia memukul dirinya berulang kali. Sebab tenaganya yang membalik sedikit demi sedikit menguncang sebelah dalam tubuhnya. Itulah sebabnya walau pun kelihatannya ia tak mengalami suatu cedera apa pun, kenyataannya lukanya semakin lama semakin bertambah parah. Jawab Sin Kun Tek panjang lebar, berbareng ia sadar kalau ternyata lweekang si anak muda ternyata sudah sedemikian hebatnya hingga mampu membalikkan lweekang Toa-Suhengnya. Oh... kiranya begitu... gumam A Sai pelan. Memangnya kau tidak tahu? A Sai hanya menggeleng perlahan. Apa Suhumu tak pernah memberitahumu hal dasar seperti ini? tanyanya, heran dan tak percaya. A Sai kembali menggeleng sambil tersipu malu. Aneh sekali... kejadian yang demikian seharusnya sudah kau ketahui sejak kau mulai belajar ilmu lweekang. Sungguh tak masuk akal.. kata Sin Kun Tek sambil menggelengkan kepalanya makin tak percaya. Si pemuda jadi salah tingkah sendiri. Mana pria ini tahu kalau lweekang yang ada ditubuhnya timbul dengan sendirinya tanpa ia pelajari? Teori lweekang sendiri baru sebentar dipelajarinya, tentu saja masih banyak hal yang tidak dipahaminya. Hanya saja ia berat menceritakan keadaan dirinya itu. Harap Sin Toako tidak heran, lweekang yang Sai-te miliki Sai-te pelajari sendiri tanpa bimbingan guru. Jawabnya sedikit berkelit. Benarkah? Ini... ini malah lebih aneh lagi. Sin Kun Tek makin keheranan. Belajar tanpa bimbingan seorang pun bisa mencapai tingkat yang sedemikian tingginya? Ia tambah tak percaya.

Toako sendiri yang belajar belasan tahun lamanya dibawah bimbingan suhu pun tak mampu menandingi lweekangmu yang kau pelajari sendiri... mana ada hal yang seperti itu? Sai-te, katakanlah yang sebenarnya... Jangan kau buat Toako mu mati penasaran. A Sai jadi tak enak hati melihat kebingungan dan rasa penasaran pria itu. Sebenarnya ada hal lain lagi... Hal lain apa? tanya Sin Kun Tek cepat. Lweekang ditubuh Sai-te bisa sedemikian hebatnya karena secara tidak sengaja Sai-te pernah makan sejenis tumbuhan dewa. Tumbuhan dewa itulah yang membuat lweekang Sai-te jadi seperti ini. Benarkah? Tentu saja benar, kalau tidak masakan lweekang Sai-te bisa sekuat ini. Mau tak mau Sin Kun Tek percaya juga dengan perkataan A Sai. Sebab setelah dipikirnya bolakbalik, penjelasan si anak muda ternyata sangat masuk akal. Jika belajar dengan bimbingan seorang guru, masakan ia tak mengetahui teori dasar penggunaan lweekang dalam bertarung? Tapi ada kemungkinan lweekangnya meningkat jadi sehebat itu disebabkan oleh tumbuhan dewa yang pernah dimakannya. Hal itu juga menjelaskan kenapa tenaganya sekuat ini tapi tidak mengetahui seluk-beluk lweekang dalam menghadapi lawan. Makin dipikir, makin masuk akal saja penjelasan si anak muda. Ia pun dapat melihat kalau si anak muda semata-mata hanya kuat lweekangnya saja sedangkan dari segi yang lain... si anak muda sama sekali masih kosong. Tidak menguasai sejurus pun ilmu silat, belum lagi ginkangnya si anak muda benar-benar payah. Kalau ia mempunyai guru, masa gurunya tega membiarkan muridnya yang masih setengah jadi ini merantau di bulim? Akhirnya Sin Kun Tek jadi senyum sendiri. Toako percaya padamu... lupakanlah segala perkataan Toako barusan. Syukurlah kalau Toako mau percaya. Tapi... Ada lagi yang ingin Sai-te tanyakan? Sin Kun Tek segera bertanya ketika dilihatnya pemuda itu kelihatan ragu melanjutkan ucapannya. Tidak ada, Sai-te hanya ingin menyalakan api saja. Tidak enak rasanya gelap-gelapan seperti ini. jawab si pemuda sambil tertawa kecil. Memang, jauh lebih enak bercerita didepan api unggun. Jawab pria gemuk itu, turut tertawa.

Hari memang telah semakin gelap. Suasana hutan yang cukup rimbun oleh pepohonan membuat tempat ini jadi lebih cepat gelap daripada tempat lainnya. Sin Kun Tek kembali bersemedi sebab kesehatannya belumlah pulih betul. Baru juga beberapa saat menutup matanya, A Sai telah kembali setengah berlari menghampirinya. Kegelisahan si pemuda membuat Sin Kun Tek membatalkan Siuliannya. Ada apa? tanyanya singkat ketika dilihatnya wajah si anak muda penuh diliputi kekhawatiran. Toako, Sai-te tak dapat menemukannya! jawab A Sai setengah berteriak. Pria gemuk itu mengerutkan keningnya. Maksudmu? Nona majikanmu itu? Sin Kun Tek bertanya cepat. Benar dia, apa Toako melihatnya? tanya pemuda itu makin gelisah. Sin Kun Tek hanya mengangkat bahu lalu menggeleng, A Sai langsung lemas melihat jawaban pria itu. Kemana perginya gadis itu? batin A Sai. Apakah telah terjadi sesuatu dengannya? Makin dipikir, makin cemas rasa hati si pemuda. Anak muda, kalau ingin pergi mencari nonamu... pergilah! Anak murid Kun-Lun-Pay sudah tak punya urusan lagi denganmu atau pun nonamu! kata Tan Cit Kong tiba-tiba mengagetkan A Sai. Kok Cin Lay cepat menyela ucapan Toa-Suhengnya. Tapi Toa-Suheng, bagaimana dengan penduduk dusun Musim Berburu? Soal itu tak usah kalian pikirkan, Toa-Suheng yang akan menyelesaikannya nanti. Jawab Tan Cit Kong tenang. Kok Cin Lay tak bersuara lagi. kalau si Toa-Suheng telah berkata demikian, ia bisa apa? Apakah Tan EngHiong sekalian melihat nona majikanku? tanya A Sai cepat. Ketiganya berpandangan sejenak, lalu diam. Sebelum pertarungan dimulai, nonamu masih ada. Tapi setelah pertarungan dimulai, keadaan nonamu itu sudah tak kuperhatikan lagi. Jadi soal ia kemana dengan siapa, aku tak tahu. Yap In Nio menjawab pelan, tak tega melihat kebingungan si anak muda.

Pemuda itu terdiam sesaat, pandangannya kembali menyapu Tan Cit Kong. Anak muda itu ingin segera berlalu dari situ sayangnya ia masih sedikit ragu, ragu mereka akan melepaskannya begitu saja. Tan Cit Kong rupanya dapat menebak hal apa yang menahan si pemuda hingga tidak segera berlalu dari situ. Anak muda, apalagi yang kau tunggu? Urusan diantara kita sudah selesai, tak ada lagi ganjalan. Pergilah, cari nona majikanmu itu! katanya bijaksana. Maaf, kami tak bisa membantumu. Kami masih punya urusan yang harus kami selesaikan. Kuharap kau mengerti. Sambung pria itu lagi Mendengar ucapan Tan Cit Kong si pemuda jadi lega, agaknya kekhawatirannya terlalu berlebihan. Terima kasih! Maaf, A Sai tak dapat berlama-lama lagi disini... A Sai mohon diri sekarang. Sai-te, jaga dirimu! Sin Kun Tek cepat berpesan. Pemuda itu mengangguk singkat, setelah berpamitan segera saja ia berlari meninggalkan tempat itu. Sambil berlari pikirannya menerawang memikirkan situasi yang tengah dihadapinya ini. Semakin dipikirkan, semakin tak tenang jadinya. A Sai jadi geregetan sendiri berbareng kegelisahannya semakin menguat. Hanya ada dua kemungkinan. Yan Ci pergi sendiri meninggalkan tempat ini, atau... gadis itu dibawa pergi orang lain. Tan Cit Kong terlihat lesu, saudara-saudari seperguruannya pun demikian. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Agaknya masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara didepan mereka, sebuah api unggun tampak berkobar menerangi tempat itu. Kehangatan yang dipancarkannya mampu mengusir dinginnya hawa yang bertiup. Sayang sekali... kehangatannya ternyata tak mampu mengusir kebekuan yang dirasakan empat manusia itu dalam hatinya. Tan Cit Kong tahu sukar melanjutkan perjalanan dalam suasana segelap ini. Apalagi halimun mulai naik dari tanah dan menutupi pegunungan. Akan sangat berbahaya jika ia memaksakan diri melanjutkan perjalanan mereka. Bukan saja karena sukarnya medan yang harus dilalui, tapi juga karena dirinya dan Ji-Sutenya masih butuh waktu paling tidak semalam untuk menyembuhkan diri dahulu. Itulah sebabnya murid tertua ketua Kun-Lun-Pay ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka setelah hari terang. Sudah cukup banyak masalah yang dihadapinya hari ini dan ia tak ingin menambahnya lagi. Tan Cit Kong memandangi kembali lidah-lidah api yang sedang menari didepannya. Tak terasa, pertarungan hari ini kembali terbayang dibenaknya. Kekalahannya dari A Sai ternyata membawa

pukulan batin yang tidak sedikit baginya, pukulan batin yang juga dirasakan ketiga saudara seperguruannya. Pria raksasa itu mengeluh dalam hatinya. Walau dari luar pria itu terlihat tegar, namun didalam tidaklah demikian. Ia punya alasan sendiri untuk menghentikan pertarungannya dengan pemuda itu. Alasan yang belum tentu dapat diterima oleh saudara seperguruannya yang lain. Pria raksasa itu tahu selain JiSutenya, kedua adik seperguruannya yang lain menyimpan rasa tidak puas atas sikapnya tadi. Toa-Suheng, maafkan kelancangan Sute. Kata Kok Cin Lay perlahan sambil menatap ToaSuhengnya. Kekhawatiran Tan Cit Kong terbukti. Sam-Sute Kok Cin Lay mulai buka suara, agaknya sutenya ini sudah tak mampu lagi menahan ganjalan dihatinya. Benarkah anak muda tadi sedemikian hebatnya? lanjut Kok Cin Lay lagi. Walau bagaimana pun juga, Kok Cin Lay tak rela pihaknya menderita kekalahan ditangan orang lain. Kalau sampai kejadian hari ini tersebar luas, bukankah hal ini akan menjatuhkan nama baik Kun-Lun-Pay? Bukankah sudah kau saksikan sendiri pertarungan tadi? jawab Tan Cit Kong pelan. Kok Cin Lay terdiam. Tak ada alasan baginya untuk menuduh Toa-Suhengnya telah berlaku mengalah pada pemuda itu. Pertarungan mereka disaksikannya langsung dan mau tak mau ia harus mengakui kebenaran perkataan Toa-Suhengnya itu. Hanya saja sulit baginya untuk menerima kenyataan yang ada. Pria itu mencoba lagi. Kenapa dalam pertarungan tadi Toa-Suheng tidak menggunakan senjata? Sute yakin, seandainya Toa-Suheng menggunakan pedang... anak muda itu pastilah dengan mudah ToaSuheng kalahkan... Tan Cit Kong memandang Sam-Sutenya dengan gusar. Walau ucapan Sutenya itu ada benarnya juga namun ucapan tersebut sama saja menuduh dirinya sengaja berlaku mengalah pada A Sai, Kau pikir Toa-Suhengmu ini orang macam apa? Pernahkah Sute lihat aku mengambil keuntungan dari orang lain? Kok Cin Lay tak menjawab. Tak ada jalan lain, terpaksa kukatakan juga penyebab sikapku tadi. Kalau tidak, selamanya bakal ada ganjalan antara mereka dan aku. Batin Tan Cit Kong.

Baik kukatakan terus terus alasanku, agar kalian tak perlu mengira yang tidak-tidak. Pria itu menghembuskan nafasnya sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bagiku hingga tak mau mengadu jiwa dengannya. Dalam pertarungan tadi, seluruh kemampuan yang kumiliki telah kukeluarkan. Bahkan jurus larangan perguruan pun sudah kugunakan, kenyataannya... pemuda itu tak dapat juga kukalahkan. Betul kata-kata Sam-Sute tadi. Seandainya menggunakan pedang, besar kemungkinan pertarungan tadi dapat kumenangkan. Hanya saja... melihat kemampuan anak muda tadi, hatiku jadi ragu sendiri... Kenapa Toa-Suheng ragu? Bukankah nama besar perguruan jauh lebih penting lagi? tanya Kok Cin Lay tak puas. Dalam hal kematangan dan perubahan jurus serta GinKang, aku masih unggul. Tapi jujur saja, lweekang anak muda itu masih diatasku. Dengan melihat lweekang yang dimilikinya itu, bisakah Sam-Sute bayangkan bagaimana tingginya lweekang guru pemuda itu? Jika muridnya yang masih semuda itu saja sudah berhasil meyakini lweekang sedahsyat itu, bagaimana pula kesaktian gurunya?" jawab Tan Cit Kong perlahan. Kok Cin Lay terdiam. Itu sebabnya aku enggan mengadu jiwa dengannya. Jika sampai ia mati dan hal itu diketahui gurunya, bukankah kita bakalan mengundang datangnya bencana dari si orang sakti gurunya itu? Bagaimana seandainya gurunya mengetahui kematiannya itu, lalu ia pun datang membalaskan dendam muridnya, hingga mengakibatkan terjadinya peristiwa yang tidak kita inginkan... Bukankah aku akan lebih berdosa lagi terhadap perguruan? Lagipula pertarungan kami tadi bisa dibilang berakhir seimbang. Aku tak mampu menjatuhkannya, ia pun tak mampu menyentuhku. Tapi... bagaimana kalau anak muda itu bercerita lain diluar? Bagaimana kalau ia sengaja membesar-besarkan kekalahan Toa-Suheng hingga perguruan kita menjadi bahan tertawaan orang? Soal itu kiranya tak perlu Sute khawatirkan. Aku yakin, pemuda itu berhati baik. Sikap mengalah yang ditunjukkannya ditambah dengan sikapnya yang tak ingin mempermalukan diri Toa-Suheng saja telah membuktikan kerendahan hatinya. Tak mungkin ia akan menyebar cerita lain diluaran... Kali ini si gemuk Sin Kun Tek lah yang menjawab pertanyaan Sutenya itu. Tan Cit Kong memandang Ji-Sutenya penuh rasa terima kasih. Dalam pertarungan tadi telah kukeluarkan seluruh kepandaianku. Walau tak mampu menjatuhkannya tapi tak ada lagi yang perlu kusesalkan. Setidaknya didepan suhu nanti kejadian ini dapat kupertanggung-jawabkan. Soal Suhu hendak menghukum nanti, akan kuterima. Salahku sendiri tidak becus belajar hingga kena dikalahkan. Pria itu menarik nafas panjang lalu melanjutkan penjelasannya.

Kewajibanku pada perguruan telah kulakukan, demikian juga kata-kataku didepan Sim-CungCu telah kulaksanakan. Maka tak ada lagi ganjalan dalam hati. Kejadian ini malah jadi suatu pelajaran baik bagi kita. Masih banyak orang sakti diluar sana, kalau ingin perguruan kita tetap jaya maka kita wajib mengembangkan kemampuan sendiri agar kelak dapat menjaga wibawa perguruan kita Pikiran kedua adik seperguruannya itu mulai terbuka, ternyata ada banyak hal yang mempengaruhi keputusan Toa-Suheng mereka. Akhirnya hanya kesedihan yang tersisa dipikiran tiap anak murid tersebut. Kuingatkan kalian, jangan ada seorang pun diantara kalian yang mencari perkara dengannya karena urusan ini. Kalau tidak, kalian akan semakin mempermalukan diriku dan perguruan kita. Ucap Tan Cit Kong lagi. Tak seorang pun yang membantah. Mana pemuda itu? Walau diucapkan dengan halus, namun keheningan tempat itu membuat semua anak murid KunLun-Pay tersentak kaget. Kekagetan mereka semakin bertambah saat mengetahui seorang gadis muda usia tujuh belasan berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Tak ada seorang pun yang menjawab ucapan nona itu, tampaknya mereka telah mengenali si gadis yang baru datang. Tan Cit Kong... mana pemuda itu? kembali nona itu mengulangi ucapannya. Menilik dari kata-katanya, gadis ini kelihatannya masih ada hubungannya dengan Tan Cit Kong sendiri. Tapi kenapa Tan Cit Kong seperti terlihat sungkan didepan gadis ini? Anehnya lagi, gadis itu bersikap seolah dirinya jauh lebih tinggi dari ke empat murid utama ketua Kun-Lun-Pay ini. Hal itu terlihat dari caranya memanggil Tan Cit Kong dengan langsung menyebutkan nama tanpa ada embel-embel lainnya, padahal selisih umur mereka paling tidak ada belasan tahun jauhnya. Pria raksasa itu menarik nafas panjang, agaknya sedang berusaha menenangkan hatinya sendiri sebelum akhirnya menjawab. Nona Er, sedang apa disini? ia bertanya resah. Kedatangan si gadis bakal membuat urusan jadi bertambah panjang lagi. Tan Cit Kong, jangan membelokkan arah pembicaraan. Kemanakah pemuda yang telah mencoreng muka Kun-Lun-Pay? tanya si gadis dengan sikap dingin. Tan Cit Kong mengangkat bahu tak berdaya, bahkan ketiga saudara seperguruannya yang lain pun tak berani mengeluarkan suara.

Kalau kau tak mau mengatakannya, jangan salahkan aku kalau urusan ini bakalan jadi lebih panjang lagi. Keempat saudara seperguruan itu saling memandang sekejap, tahu maksud ucapan gadis itu. Tentulah gadis itu berniat memberitahukan kejadian hari ini pada Suhu mereka, kejadian versi gadis itu sendiri. Ditambah lagi mereka pun tahu, ancaman gadis itu bukanlah ancaman kosong. Tak urung hati keempat orang ini jadi makin gelisah mendengar perkataan si gadis. Dia telah pergi. Jawab Tan Cit Kong akhirnya, perlahan. Ke arah mana? tanya gadis itu lagi. Ke sana. Jawab Tan Cit Kong sambil menunjuk ke arah yang sebelumnya diambil A Sai saat meninggalkan mereka. Seperti apakah rupa pemuda itu? Dengan berat hati, Tan Cit Kong terpaksa menjelaskan ciri-ciri A Sai pada gadis yang dipanggilnya nona Er itu. Sudah berapa lama ia pergi? Kira-kira... setengah kentungan yang lalu. Benarkah? tanya gadis itu memastikan, sambil memandang tajam pria raksasa itu. Benar. Baiklah, awas kalau kau bohong. Si gadis kembali mengancam. Setelah berkata demikian, gadis itu lalu berkelebat pergi ke arah yang ditunjuk Tan Cit Kong barusan. Nona Er, jangan kejar dia. Nona itu tak menjawab, bayangannya tetap saja berkelebat meninggalkan tempat itu. Hanya dalam sekejap mata, bayangan si gadis telah hilang lenyap ke dalam gelapnya malam. Celaka... Kalau sampai pemuda itu tersusul olehnya, akan semakin runyam jadinya. Batin Tan Cit kong gelisah. Toa-Suheng, bagaimana sekarang? Sin Kun Tek bertanya, hati pria ini pun turut gelisah melihat sikap si nona tadi. Tan Cit Kong berpikir cepat, agaknya urusan kali tak dapat ditundanya lagi

Sumoy, kau temanilah Ji-Suhengmu disini. Sam Sute, pergilah temui Sim CungCu. Katakan saja kedua muda-mudi itu telah hilang entah kemana. Kalau Sim CungCu mendesakmu, bilang saja kita masih ada urusan lain hingga tak bisa lagi membantunya. Lalu Toa-Suheng sendiri? Yap In Nio cepat bertanya. Aku harus mengikuti nona Er, bagaimana pun juga keselamatannya sudah menjadi kewajibanku. Jawab pria itu lagi. Tapi Toa-Suheng kan masih terluka, bagai... Yap In Nio jelas tak setuju. Tak usah buang waktu lagi, lakukan saja. Potong pria raksasa itu cepat. Jika tugasmu telah selesai, lekas kembali ke sini. Kata pria raksasa itu pada Kok Cin Lay SamSute nya. Jika dalam sehari aku belum juga kembali, kalian kembalilah ke perguruan. Ceritakan semuanya pada Suhu. Sambungnya, kali ini ucapannya itu ditujukannya pada ketiga adik seperguruannya itu. Tapi... Tan Cit Kong segera mengibaskan lengannya memotong ucapan Sumoynya. Detik berikutnya, tubuh pria itu telah melesat mengejar gadis itu. Nyata jelas kegesitan Tan Cit Kong hanya tersisa separuh dari yang biasanya. Tapi pria itu tak peduli, langkahnya tegar dan sama sekali tidak menunjukkan keadaan dirinya yang sebenarnya sedang terluka. Hanya dalam sekejap, pria itu pun telah hilang dari pandangan. Ketiga adik seperguruannya untuk sesaat saling memandang satu sama lain, tak tahu harus bagaimana lagi. Ikut saja perkataan Toa-Suheng. Akhirnya Sin Kun Tek buka suara. Maka Kok Cin Lay pun bergegas meninggalkan tempat itu mengambil arah kembali ke dusun Musim Berburu sedangkan Sin Kun Tek dan Yap In Nio hanya bisa menatap kepergian saudara mereka dengan gelisah. ******* Kemana harus kucari? A Sai termenung sendiri. Pikiran itu yang terus menerus terbayang dikepalanya. Sudah hampir satu kentungan berlalu sejak ia meninggalkan anak murid Kun-Lun-Pay, tapi sampai sekarang jejak Yan Ci sama sekali tak dijumpainya. Baru sekarang ia sadar, sulit menemukan gadis itu tanpa mengetahui dengan pasti ke arah mana gadis itu menghilang. Empat penjuru langit membentang luas didepan mata. Kemungkinan si gadis bisa menuju ke mana saja. Jika salah memilih arah, seumur hidupnya pun

belum tentu ia bakalan menemukan gadis itu. Belum lagi kegelapan malam telah menutupi jagat dan membuatnya semakin sukar menentukan arah yang harus diambilnya. Sungguh sulit menemukan jejak seseorang ditengah kegelapan seperti ini. Walau matanya terbiasa dengan kegelapan, tapi hal ini pun tidak banyak membantunya. Kelebihan penglihatannya itu disaat seperti ini hanya berguna menentukan tempatnya berpijak saja, tapi untuk mencari seorang gadis ditengah pegunungan sepi begini... apalagi dimalam hari yang berkabut seperti saat ini? Tidak banyak membantu. Sedari tadi A Sai hanya berlari mengitari tempat itu secara serabutan. Kegelisahan membuatnya jadi tidak begitu memperhatikan arah pencariannya itu. Akhirnya pemuda itu jadi bingung sendiri, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Mana tugas belum lagi selesai, sudah ditimpa segala macam peristiwa... pemuda itu jadi bersungut sendiri. Hatinya kesal bukan main bercampur dengan rasa khawatir akan nasib gadis itu. Bagaimana pertanggung-jawabanku nanti pada kongkong dan guru gadis itu? Semakin dipikir, semakin tak tenang hatinya. Untunglah keadaan tersebut tak berlangsung lama, berbagai wejangan yang diterimanya dari Yok-Sian telah mengembalikan kembali akal sehatnya. Tak ada gunanya kebakaran jenggot, aku harus dapat menemukan jalan keluar dari masalah ini. Pikiran si pemuda jadi tenang kembali. Tak ada gunanya juga berlarian tak tentu arah begini... biarlah kupikirkan kembali peristiwa tadi. Batinnya. A Sai pun menghentikan langkahnya lalu sigap menjatuhkan dirinya duduk bersila diatas rumput. Ditenangkan pikirannya lalu mencoba membayangkan kembali kejadian yang tadi berlangsung. Setitik cahaya terang berkelebat memasuki otak pemuda itu. Tunggu dulu.. kenapa tidak terpikir sedari tadi? batin si pemuda gembira. Sisi sebelah selatan tertutup tebing terjal dan jurang yang dalam, rasanya tak mungkin gadis itu atau pun orang yang membawanya akan mengambil jalan itu... Pikiran A Sai tidaklah salah, bahkan Tan Cit Kong pun terpaksa menghindari sisi sebelah selatan itu dikarenakan Yap In Nio Sumoynya takkan sanggup melewati medan seberat itu. Tapi... masih tersisa tiga jurusan lagi...

Pemuda itu kembali berpikir keras. Kami datang dari timur menuju ke barat, sedangkan pihak lawan mengejar dari belakang yang berarti dari timur juga datangnya. Saat hendak bentrok dengan mereka, gadis itu berada dibelakangku yang berarti disisi sebelah barat sedangkan lawan disisi sebelah timur. Kalau seandainya ia menuju ke timur, otomatis kepergiannya itu harus melewati lawan dulu dan pastilah kepergiannya itu akan diketahui lawan. Kenyataannya tak ada satupun dari mereka yang melihat kepergiannya itu. Hmm... Agaknya sisi sebelah timur terpaksa kucoret dari daftar. A Sai makin tenggelam dalam pemikirannya itu. Hanya tersisa sisi sebelah barat dan utara saja, arah manakah yang harus kupilih lebih dulu? Sisi sebelah barat langsung menuju Kun-Lun-Pay... Tak ada pilihan lain lagi, biarlah kucari ke barat saja sekalian berkunjung ke Kun-Lun-Pay. Disana nanti dapat kutanyakan keberadaannya. Siapa tahu diantara para anak murid mereka ada yang melihat Yan Ci. Seandainya tak ada seorang pun yang melihatnya, apa boleh buat... terpaksa kuambil jalan yang satunya. Batin pemuda itu. Tapi... bagaimana seandainya arah yang kuambil salah? Bagaimana seandainya gadis itu malah ke selatan atau timur? timbul kembali kekhawatiran pemuda itu. Sebaiknya dicoba dulu... belum tentu keadaannya nanti seperti kekhawatiranku saat ini. katanya menenangkan hatinya sendiri. Hati si pemuda jadi sedikit tenang, walau berbagai kekhawatiran masih menghantui pikirannya namun dicobanya untuk tidak memikirkannya dahulu. Keputusannya telah bulat, ke baratlah ia harus pergi. Walau tubuhnya lelah bukan main dan sakit sana-sini, tapi ia tak punya pilihan lain. Keselamatan gadis itu merupakan tanggung jawabnya, soal kondisi tubuhnya yang nyaris tak bertenaga itu tak ingin dipikirkannya lagi. Dengan mengeraskan hati, dipaksakan juga tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah. Namun baru juga melangkah empat lima tindak, pemuda itu telah jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Rupanya batas ketahanan A Sai telah sampai pada puncaknya. ******* Ugh... Keluhan lirih terdengar dari mulut A Sai. Panas api terasa menyengat kulitnya sementara hidungnya mencium pengapnya asap bercampur dengan harumnya bau daging dibakar. Suara ranting dilalap api pun memenuhi telinganya. Perlahan kesadaran si anak muda pun kembali ke tubuhnya. Tempat apa ini? batinnya keheranan.

Walau baru terjaga, tapi otaknya dapat cepat merasakan ketidak-beresan yang dilihat matanya. Bukannya berada ditengah pegunungan yang dipenuhi hutan lebat, sebaliknya saat ini dirinya malah sedang berada dalam sebuah goa yang tak diketahui dimana letaknya. Tentu saja hati pemuda ini heran berbalik jadi waspada. Sejak kapan ia berada dalam gua ini? Siapa juga yang membawanya ke sini? A Sai cepat bangkit bersila, diedarkan pandangannya mengawasi keadaan gua itu. Kemanakah orang yang telah membawaku kemari? batin pemuda itu lagi. Walau demikian, ia tidak merasa khawatir. Kelihatannya siapa pun orangnya yang telah membawanya ke mari sama sekali tidak bermaksud jahat pada dirinya. Sebab jika orang itu hendak mencelakainya, bukankah mudah saja bagi orang itu melaksanakan niatnya disaat ia sedang tak sadarkan diri? Perlahan, pandangannya kembali menyapu sekelilingnya. Lebar goa itu hanya empat tombak dengan panjang kurang lebih enam tujuh tombak. Dinding belakangnya buntu, sementara tinggi goa itu paling hanya dua sampai dua setengah tombak saja. Semak belukar rimbun menutupi jalan masuk ke goa itu menyebabkan sinar matahari pun kesulitan menembus masuk hingga ke dalam. Bau harum daging bakar kembali mengusik hidungnya. Perhatian si pemuda segera saja teralih ke api unggun yang menyala tiga langkah dari tempatnya berada. Dilihatnya sepotong besar daging terpanggang diatas api unggun tersebut. Tanpa sadar, pemuda itu menelan ludah. Perutnya yang berkeriuk nyaring semakin menggodanya untuk segera mencicipi daging tersebut. Apa daging bakar itu sengaja disediakan untukku? batinnya penuh harap. Ingin rasanya segera meraih daging panggang tersebut, hanya saja ia sedikit ragu. Keadaannya saat ini belum lagi diketahuinya dengan pasti, untuk apa menambah masalah dengan memakan sesuatu yang tidak diketahui dengan pasti kebersihannya? Bisa saja makanan tersebut diracun orang... atau... banyak kemungkinan melintas diotaknya hingga membuat pemuda ini jadi makin ragu. Tapi keadaan tersebut tak berlangsung lama, ingatannya akan keberadaan Yan Ci yang sampai sekarang belum diketahuinya seketika mengalihkan perhatiannya. Celaka, tak ada waktu lagi berlama-lama disini. Batinnya. Pemuda itu cepat bangkit dan dengan tergesa meraih buntalan pakaiannya, lalu segera melangkah keluar menerobos semak belukar yang menutupi pintu goa. Baru juga tubuhnya melalui semak belukar tersebut, langkah pemuda itu terhenti. Sepertinya... ada yang tidak beres. pikirnya.

Pemuda itu meraba sebelah dalam bajunya, lalu wajahnya berubah pucat. Tergesa-gesa dirabanya buntalan pakaian yang dibawanya. Ketika tak kunjung menemukan benda yang dicarinya, wajah anak muda itu semakin memucat. Siapa yang telah mengambil kedua kitab pemberian kongkong? batin pemuda itu resah berbarengan kegusaran mulai melandanya. Ternyata kedua kitab yang diberikan Yok-Sian pada pemuda itu telah diambil seseorang disaat si anak muda sedang tak sadarkan diri. Hal yang membuat A Sai resah, keresahan yang dirasakannya bahkan jauh melampaui kegelisahannya saat menyadari Yan Ci hilang. Sebab hal ini dipandangnya lebih hebat lagi. kedua kitab salinan tersebut berisi ilmu andalan Yok-Sian Kongkongnya. Jika sampai jatuh ke tangan yang salah, bakalan menimbulkan bencana dibulim. Wajar jika si pemuda jadi resah tak terkira. Belum lagi jika mengingat pesan Yok-Sian padanya. Kurang ajar! makinya marah. Gua itu kembali dimasukinya. Walau setiap jengkal dalam gua itu telah ditelusurinya namun kedua kitab tersebut tidak juga ditemukan. Apa yang harus kulakukan? batinnya mulai panik. Haruskah terus menunggu disini? Atau... kucari saja pelakunya? Disaat pemuda itu sedang dilanda kepanikan, telinganya menangkap suara langkah yang sangat ringan mendatangi gua tempatnya berada. Seketika itu juga harapannya timbul. Agaknya pencuri itu kembali lagi. Batin A Sai dengan hati dag dig dug. Pemuda itu segera saja berbaring ke posisinya semula, berpura-pura dirinya masih belum sadar dari pingsannya. Padahal seluruh urat syaraf ditubuhnya menegang kencang, siap membekuk siapa pun mahluk yang sedang menuju ke gua itu. Bahkan seandainya yang datang setan sekali pun, akan tetap dibekuknya. Waktu seakan berjalan lambat bagi A Sai. Sinar sang surya tampak menyilaukan mata dikala rumpun semak yang menutupi mulut gua disibakkan dari luar. Sinarnya berbias dipunggung orang yang baru masuk hingga membuat A Sai kesulitan melihat wajah orang tersebut. Tapi dari siluet yang dilihatnya, ia dapat menduga kalau orang yang baru masuk tersebut masihlah seorang bocah, bocah yang gendut tampaknya. Tinggi bocah ini ditaksirnya bahkan jauh lebih pendek dari Yan Ci. Hey... bocah besar, kau sudah bangun belum? Belum sempat A Sai berpikir lebih jauh lagi, bocah itu telah menegur duluan. Aneh... bocah sekecil ini kok suaranya seperti suara orang dewasa? batin A Sai.

Mana seenaknya lagi menyebutku bocah besar... Pikir pemuda itu gemas bercampur heran. Hehehe... tak usah pura-pura pingsan. Bocah sepertimu takkan mungkin menipu orang jenius sepertiku. Tawa bocah itu terdengar, mengejek A Sai. Walau pemuda itu sedang gusar, tak urung kaget juga dirinya mendengar perkataan si bocah gendut. Dari mana ia tahu kalau aku tidak pingsan? pikir A Sai. Kau dengar tidak? Ayo bangun. Bocah gendut itu kembali meneriaki A Sai. Masih tak mau bangun juga? Apa kau ingin kutimpuk dulu? tanyanya lagi sambil berjongkok memunguti batuan yang berserakan disitu. Sebenarnya A Sai masih ingin menunggu hingga bocah itu maju lebih dekat lagi, sayangnya ia sudah ketahuan. Terlebih lagi tidak ingin ditimpuk orang, terpaksa A Sai melompat bangun. Begitu sebelah kakinya menapak tanah, tubuh pemuda itu langsung melejit menerkam bocah gendut yang ada didepannya itu. Dipikirnya hanya sekali terjang, lengan bocah itu bakal kena dicengkeramnya. Si bocah hanya tertawa terkekeh. Dengan sedikit meliukkan tubuh, serangan pemuda itu meleset dari sasarannya. A Sai kembali terkejut, kaget serangannya dielakkan lawan semudah itu. Sial bagi A Sai. Saking kuatnya melompat, dirinya jadi melayang menembus semak belukar yang tumbuh dimulut gua ketika serangannya dielakkan lawan. Pemuda itu jadi terbanting sendiri bergulingan keluar gua. Tawa bocah itu terdengar kembali, makin keras tampaknya. Agaknya bocah itu benar-benar kegelian melihat keadaan si pemuda yang jatuh tumpang tindih hingga bergulingan ditanah. A Sai jadi malu sendiri. Anak muda itu bergegas bangkit berdiri lalu menerobos masuk kembali ke dalam gua itu. Sialan... maki A Sai malu bercampur gusar. Kau inikah orangnya yang telah mengambil kedua kitab milikku? tanya si pemuda keras. Agaknya bocah itu tidak mendengarkan sama sekali ucapan A Sai, sebab ia masih terus terpingkal-pingkal tak karuan, tubuhnya yang gendut itu jadi ikut terguncang kiri-kanan dalam tawanya. Rupanya kejadian barusan sangat menggelikan hatinya.

Pemuda itu jadi makin naik darah. Katakan padaku, apa kau inilah yang telah mengambil kedua kitab milikku? ulang si pemuda sambil berusaha menekan hawa amarahnya. Memangnya kalau aku yang mengambilnya, kau bisa apa? jawab bocah itu sambil tetap terkekeh geli. Huh... tentu saja akan kurebut kembali! bentak pemuda itu. Bukannya takut atau pun tersinggung, bocah tersebut malah semakin terpingkal. Agaknya ucapan A Sai itu dianggapnya sangat menggelikan. Lambat laun, habis juga kesabaran A Sai. Baik, jangan bilang aku kejam menyerang seorang bocah sepertimu! Lihat serangan! pemuda itu berteriak lantang memperingatkan lawan. Sambil menggertak gigi, pemuda itu kembali menyerang. Pundak kiri dan lengan kanan bocah itulah yang menjadi sasaran A Sai. Wuutttt! Wuuuutttt! Serangan pemuda itu kembali dengan mudah dielakkan lawannya. Hanya dengan melangkah perlahan, bocah tersebut telah melayang mundur tiga langkah makin masuk kembali ke dalam gua. A Sai mengejar. Kedua tangan pemuda itu tak pernah berhenti mencengkeram lengan lawan namun apa daya, semua serangannya itu tak pernah mengenai sasarannya. Bocah tersebut sambil tertawa-tawa menghindari dengan mulus setiap serangannya, sementara si anak muda mengikuti sambil menyerang gencar. Hahahahaha.... kau benar-benar bocah tolol yang tak bisa apa-apa... Wuuutttt Eit... hampir kena ejek bocah itu lagi sambil tertawa-tawa senang. Wuuuuttt Wakakakak.... salah lagi Tawa dan ejekan bocah itu nyaris membuat A Sai kehilangan akal. Apalagi semua serangannya dielakkan lawan dengan mudah. Gerakan meliuk dan langkah-langkah pendek si bocah ternyata mampu membuat semua cengkeraman A Sai luput dari sasarannya.

Seperempat kentungan telah berlalu, wajah dan seluruh tubuh si pemuda telah basah bermandikan keringat. Tapi sampai sedemikian lamanya ia berusaha, tak ada satu pun serangannya yang mengenai sasarannya itu. Bocah itu pun mulai terlihat bosan, mungkin merasa sudah terlalu lama bermain dengan A Sai. Waduh... dasar keras kepala... Wuuuttt... Setelah menghindari serangan A Sai, mendadak bocah itu menepuk perlahan punggung si pemuda. Walau dilakukan dengan perlahan, tapi tepukan tersebut membuat pemuda itu jadi terpelanting di tanah. Lukanya yang belum sembuh betul itu membuatnya kembali merasa sesak didada. Cukup... Aku tak mau main lagi sungut bocah itu, agaknya kegembiraan hatinya telah hilang. Mana pemuda itu mau mendengarnya, kedua kitab kongkongnya harus dapat direbutnya kembali. Sambil menggertak gigi menguatkan hati, A Sai lalu bangkit kembali menyerang lawan, kondisi fisiknya tak lagi diperdulikannya. Si bocah tampak keheranan. Ehhh... kau masih bisa bangkit lagi? Kenapa tidak bisa? sungut A Sai sementara kedua tangannya gencar menyambar lawan. Aneh..komentar lawannya. Ketika serangan pemuda itu luput lagi dari sasarannya, si bocah kembali memberikan tepukan dipunggung A Sai hingga membuat pemuda itu sekali lagi mencium tanah. A Sai mengeluh dalam hati, sentuhan lawan kali ini bahkan lebih berat dari sebelumnya. Ugh... erang pemuda itu lirih menahan nyeri. Hanya sesaat ia terbaring sebab disaat berikut, ia telah melompat bangun menyambar lawannya. Keheranan semakin menjadi diwajah bocah itu. Waahhhh.... ini benar-benar kejadian aneh. Katanya tak percaya. Dua kali serangannya dengan tepat mengenai hiat-to kelumpuhan dipunggung si pemuda tapi serangannya itu sama sekali tak ada pengaruhnya bagi lawan. Hal ini membuat bocah itu tambah keheranan, rasa penasarannya mulai muncul. Hmm... ingin kulihat sampai dimana kau sanggup menahan totokanku.

Pemuda itu tak menjawab, kedua tangannya bahkan semakin gencar menyambar lawan. Percuma saja, tak ada sebuah pun serangannya mengenai lawan. Hanya dengan mengandalkan liukan tubuhnya ditambah langkahnya yang pendek dan aneh itu, semua serangan A Sai dihindarinya. Tangan bocah gendut itu kembali menyambar perlahan, tiga hiat-to kelumpuhan sekaligus diserangnya. Walau melihat datangnya serangan musuh, pemuda itu sudah tak lagi ambil peduli. Dibiarkannya saja serangan lawan mengenai tubuhnya, dirinya sendiri tetap menyerang kalang kabut. Akibatnya tidaklah seringan yang dibayangkan pemuda itu. Tiga totokan dengan mulus mendarat diatas hiat-to kelumpuhannya, membuat kali ini si pemuda terjungkal lumayan parah. Agaknya bocah ini telah kembali menambah tenaga totokannya. Getaran totokan tersebut serasa mencabik bagian tubuhnya yang terkena tangan lawannya itu dan membuat si pemuda jadi sulit bangkit kembali. Kelelahan dan rasa sakit akibat pertarungannya kemarin saja belumlah hilang, sudah ditambah pula dengan yang baru. Hal ini membuat kondisi A Sai semakin menurun drastis. Tapi dasar bandel, semua kesakitan tersebut ditahannya sekuat tenaga. Dengan lutut gemetaran menahan sakit, pemuda itu bangkit berdiri. Kali ini ia tidak sanggup lagi untuk langsung menyerang, butuh waktu sedikit baginya menghilangkan rasa sesak didadanya. Siapakah bocah ini? Pastilah gurunya bukan orang sembarangan, masih semuda ini sudah sedemikian hebatnya.... batin A Sai sambil mengatur nafas memulihkan isi dada dan uratnya yang terkena ujung jari lawan. Hal yang sama pun ternyata sedang dipikirkan bocah itu. Ketahanan si pemuda dalam menerima serangannya membuatnya terkejut bukan main. Para ketua perguruan besar sekali pun takkan sanggup menerima begitu saja sebuah totokannya itu, tapi pemuda ini ternyata mampu berdiri tegak setelah menerima beberapa totokannya. Kenyataan tersebut sangat mengganggu si bocah. Bocah itu memandang dengan teliti pemuda yang berada didepannya itu, ujung rambut hingga ujung kaki diperhatikannya baik-baik. Anak muda, siapakah gurumu? tanyanya, sikap si bocah berubah serius. A Sai terperangah sesaat, diperhatikan baik-baik lawannya. Walau penerangan dalam gua itu hanya berasal dari api unggun, tapi sedikit cahaya itu telah lebih dari cukup bagi mata si pemuda. Tinggi bocah itu hanya sampai ke pinggangnya saja, bertubuh gendut dengan perut besar seperti orang cacingan, Celana warna putih yang kedodoran dan digulung hingga ke lutut menutupi bagian bawah tubuhnya sedangkan bagian atas tubuhnya kosong tak berbaju. Kakinya pun tak

memakai alas kaki sementara dilengan kirinya tampak melingkar dari pergelangan tangan hingga ke pangkal lengan atas, rantai emas yang penuh dihiasi ratusan butir permata berbagai ukuran. Rantai emas tersebut ukurannya sama dengan jari telunjuk A Sai sedangkan panjangnya paling tidak ada satu dua tombak. Beratnya kurang lebih 25 kati ditaksirnya. Dilingkarkan secara demikian, tentu saja membuat lengan kirinya jadi membengkak dua kali lipat ukurannya dari lengannya yang lain. Itukah senjatanya? Bukan main... senjatanya itu saja kiranya cukup untuk membeli sebuah kota. Batin pemuda itu heran. Setitik ingatan berkelebat diotak si pemuda. Yok-Sian pernah bercerita kalau salah seorang rekannya dari Bu-Lim-Su-Koay (empat aneh rimba persilatan) menggunakan senjata rantai emas berhias ratusan butir permata. Ciri-ciri rekannya itu pun telah diceritakannya pada A Sai... ciri-cirinya tepat benar dengan lawannya saat ini. Pemuda itu memperhatikan wajah lawannya baik-baik. Ternyata yang disangkanya bocah sedari tadi ini kiranya seorang kakek seusia kongkongnya sendiri. Wajah si kakek yang bulat gemuk itu tampak kencang dan segar, bersih dari kumis dan jenggot bahkan kepalanya pun gundul tak ditumbuhi rambut. Matanya bersinar nakal, bibirnya pun selalu menyeringai layaknya seorang bocah. Jika hanya melihat sekilas saja, orang bakalan mengira kakek ini hanyalah seorang bocah saja. Hati si pemuda jadi berdebar tegang, mungkinkah bocah didepannya ini si datuk besar dari barat Koay-Lo-Tong (Bocah tua aneh)? Sikap A Sai jadi berubah. Mohon tanya, siapakah Lo-Cian-Pwe (orang tua gagah) ini? tanyanya hati-hati. Mendengar pertanyaan A Sai, kakek itu tampak kebingungan. Matanya yang bulat besar makin besar saja. Siapa yang kau sebut Lo-Cianpwe itu? tanyanya lalu ia pun mulai celinguk kiri kanan seolah sedang mencari sesuatu. A Sai tertegun. Tentu saja Lo-Cianpwe sendiri, tak ada orang lain lagi disini selain kita berdua. Jawab A Sai, bingung dengan sikap dan perkataan kakek itu. Si kakek jadi tersadar sendiri. Maksudmu aku? JHIAHAHAHAHAHAHA.... tanya si kakek disusul suara tawanya meledak, tawa kakek itu ternyata benar-benar dahsyat dan keras ditelinga.

Buset, tawanya itu.... A Sai jadi ikut geli berbarengan ia pun keheranan, apanya yang lucu dengan pertanyaannya itu? Tapi karena kakek itu masih kegelian, akhirnya ia diam saja menunggu si kakek reda. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tawa kakek itu pun mereda. Sambil menyusuti air matanya yang mengalir keluar karena kegelian, kakek itu bertanya kembali. Aku ini Lo-Cianpwe? Kenapa menyebutku Lo-Cianpwe? A Sai jadi tertegun sendiri, pertanyaan si kakek sedikit sukar diraba kemana arahnya. Apakah salah? Tak bolehkah kupanggil kau orang tua dengan Lo-Cianpwe? tanyanya hati-hati Sikap kakek itu mendadak berubah sinis, sambil mendengus ia berkata. Lo-Cianpwe merupakan panggilan yang digunakan orang muda untuk menghormati orang tua yang dikaguminya... Kakek itu berhenti sesaat. Tapi kenapa sikapmu sebelumnya sangat kurang ajar dan sama sekali bertentangan dengan ucapan Lo-Cianpwemu itu? A Sai tersadar, ternyata kakek itu bermaksud menyindir perbuatannya yang kasar tadi. Pemuda itu jadi malu sendiri. Cepat otaknya berputar mencari alasan sebab jika terbukti benar kakek yang ada didepannya ini adalah si datuk barat yang itu, maka kecurigaannya pada kakek ini sama sekali tidak beralasan.... Dan ia dalam masalah besar. Tanpa sadar, A Sai jadi teringat kembali penjelasan kongkongnya beberapa waktu lalu. Bu-Lim-Su-Koay ada empat orang, Lo-hu dan Goat Lun sudah kau temui dan kau ketahui sifatnya. Tapi masih ada dua lagi yang belum pernah kau jumpai. Mereka adalah Swat-Jin (Manusia salju) Kim Tan Hong si datuk utara dan kakek usilan Koay-Lo-Tong (bocah tua aneh) si datuk barat. Swat-Jin Kim Tan Hong tidaklah terlalu masalah tapi terhadap Koay-Lo-Tong ini kau harus ekstra hati-hati, jaga sikap dan kata-katamu sebaik mungkin. Lebih baik kau diam jika tak tahu apa yang harus kau katakan didepannya. Kenapa demikian Kongkong? tanya A Sai heran. Kau sudah lihat bagaimana repotnya menghadapi Goat Lun bukan? tidak segera menjawab, Yok-Sian malah balik bertanya. Pemuda itu mengangguk, kemarahan nenek itu sudah disaksikannya.

Koay-Lo-Tong lebih sukar dihadapi lagi, keanehan karakter maupun tingkatan ilmu silatnya pun masih selisih satu dua tingkat diatas Goat Lun. Itulah sebabnya kongkong ingin kau menjaga sikapmu sebaiknya didepan kakek ini... Sai-Ji, apa kau mengerti? A Sai mengerti... tapi, bagaimanakah keanehan sifat Lo-Cianpwe Koay... Ngg, bagaimana A Sai menyebutnya? jawab si pemuda sekaligus mengajukan pertanyaan baru. Panggil saja Lo-Tong tanpa embel-embel apa pun sebab kakek itu lebih senang jika dipanggil demikian. Sebenarnya tak ada seorang pun yang tahu nama asli dari kakek aneh ini, itulah sebabnya ia diberi nama Koay-Lo-Tong (bocah tua aneh). Sesuai dengan julukannya itu, demikian pulalah sifatnya. Yok-Sian mulai menerangkan Sifatnya angin-anginan dan serba ingin tahu, belum lagi pembawaannya yang selalu gatal ingin mengerjai orang lain. Kalau menyebut nama orang yang paling senang ikut campur urusan orang, kiranya dalam lima puluh tahun terakhir ini tak ada seorang pun yang dapat menyamai Koay-Lo-Tong. Hal ini masih ditambah lagi dengan sifatnya yang tak pernah mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri. Jika ia sedang ingin mengerjai seseorang, jangankan kongkong... kaisar sekali pun akan dikerjainya juga. Seingat kongkong, sampai sekarang ini belum ada satu partai pun yang belum pernah dikerjainya. Bahkan partai-partai besar seperti Siauw-Lim dan BuTong pun tak luput dari keusilannya. Anehnya lagi... tak ada juga dari mereka yang menarik panjang masalah mereka, seolah mereka takut untuk bentrok lebih jauh dengannya. Tapi yang pasti, belum sampai setahun ia muncul namanya telah mengguncang rimba persilatan waktu itu. Bagaimana asal usulnya sendiri? tanya A Sai semakin tertarik. Dia muncul kira-kira lima puluh tahun yang lalu. Berasal dari mana dan siapa nama aslinya, tak ada seorang pun yang tahu. Yang jelas, setahun setelah kemunculannya yang menggemparkan itu, kami akhirnya bersilang jalan. Yok-Sian menarik nafas panjang, lalu melanjutkan ceritanya. Waktu itu Lo-Tong telah mengerjai salah seorang kenalan baik kongkong hingga membuatnya menanggung malu yang hebat. Maka kongkong pun tak ada pilihan lain lagi selain pergi mencari dan meminta pertanggung-jawabannya... Yok-Sian kelihatan terhanyut kembali ke masa lalunya. A Sai memandang tak berkedip. Lalu kami pun terlibat dalam pertengkaran yang berujung pada perkelahian hebat, harus KongKong akui... Ilmu silat Lo-Tong saat itu masihlah diatas KongKong. Setelah bertempur lima ratus jurus lebih, KongKong terpaksa mengakui keunggulannya. Disaat itulah baru Lo-Tong menceritakan alasan perbuatannya itu. Rupanya perbuatannya mengerjai kenalan KongKong itu disebabkan kesalahan kenalan KongKong itu sendiri. Singkatnya walau sifatnya angin-anginan dan tukang bikin kacau, tapi orangnya sendiri punya hati yang baik dan adil. Rupanya segala tingkahnya mengerjai orang lain itu selain didorong oleh sifat usilnya juga ada penyebab lain lagi. Penyebab lain itu biasanya disebabkan kesalahan orang itu sendiri, entah karena orang itu

telah berbuat jahat pada sesamanya atau disebabkan Lo-Tong hendak memberi pengajaran pada orang tersebut, pengajaran versi Lo-Tong. Kiranya begitu... batin A Sai. Mengingat sifatnya itu, kau sebaiknya menjaga sikap didepannya. Sebab sekali ia tersinggung dan berniat mengerjaimu, maka dewa pun takkan bisa menolongmu. Dan kongkong jamin... kau takkan pernah melupakannya seumur hidupmu. Sambung Yok-Sian. Apakah... Apakah KongKong pun pernah dikerjainya? tanya A Sai ingin tahu. Setelah terdiam sesaat, kakek itu menjawab juga pertanyaan A Sai. Pernah satu kali... Walau cuma sekali, tapi kejadian itu takkan pernah kongkong lupakan. Jawab Yok-Sian sedikit berat, jelas kelihatan ia enggan untuk bercerita lebih jauh. Dasar A Sai yang selalu ingin tahu, kesempatan tersebut tak disia-siakannya. Bagaimana kejadiannya KongKong? Soal itu sebaiknya tak usah dibicarakan saja... Ayolah kongkong... ceritakan sedikit saja... pemuda itu memohon. Yok-Sian jadi serba salah, akhirnya setelah menimbang sesaat dengan berat hati diceritakan juga kisah hidupnya itu. Sebab pikirnya, ada baiknya jika cucunya mempunyai gambaran lengkap tentang kakek aneh ini. Supaya seandainya dikemudian hari bertemu, akan dapat lebih membawa diri. Rupanya urusan kenalan KongKong itu telah membuat Lo-Tong tersinggung. Setelah menceritakan duduk persoalannya, ia pun mencela diriku dan menuntut ganti rugi. Ganti rugi apakah? tanya A Sai cepat, hati pemuda itu makin tertarik saja. Ia menuntut biaya hidup selama setahun. Sebab katanya karena ulahku itu, dirinya terpaksa menghabiskan seluruh tenaga dalamnya dalam pertarungan kami. Akibatnya tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Sedangkan untuk pulih seperti sedia kala, ia butuh waktu setahun. Itulah sebabnya ia menuntut dibiayai sebab tenaganya tidak ada lagi untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri. Mana ada aturan demikian? Lagipula jelas kalau alasannya itu hanyalah alasan yang dicari-cari saja... kata A Sai penasaran, tuntutan Koay-Lo-Tong dianggapnya berlebihan dan tak masuk akal. Yok-Sian terkekeh mendengar protes cucunya.

Eh... terus bagaimana? Apa kongkong memenuhi tuntutannya? Tentu saja tidak. Perkataan kongkong sama persis dengan perkataanmu saat ini. KongKong katakan padanya kalau alasannya itu hanya dibuat-buatnya saja. Tapi Lo-Tong tak peduli. Ia tetap ngotot memaksa kongkong memenuhi tuntutannya itu. Sampai disini Yok-sian mendadak terdiam. Kau tahu apa yang dilakukannya demi memaksa kongkong memenuhi keinginannya itu? A Sai menggeleng tanda tak tahu sementara otaknya sibuk membayangkan apa saja perbuatan yang mungkin dilakukan Koay-Lo-Tong agar Kongkongnya mau memenuhi permintaannya itu. Yok-Sian menghembuskan nafas panjang, rupanya kejadian puluhan tahun itu masih juga membawa kenangan buruk baginya. Lo-Tong bilang ia akan menjelma jadi bayangan Kongkong jika kongkong tak memenuhi keinginannya itu... Jadi bayangan bagaimana? Kau tahu bagaimana sifat bayangan tubuhmu bukan? Kemana pun kau bergerak, bayanganmu tentunya mengikutimu. Demikianlah yang terjadi waktu itu. kemana pun kongkong pergi, LoTong selalu berjalan selangkah disamping KongKong. Waktu tidur pun ia ikut tidur tepat disebelah kongkong. Bahkan saat ke kamar mandi pun ia ikut. Kongkong sampai nyaris mati kesal dibuatnya waktu itu. Ucap Yok-Sian pelan, agaknya kejadian tersebut benar-benar membekas dalam dihatinya. Mau tak mau A Sai jadi tertawa. Ia mulai dapat membayangkan berbagai kesulitan yang diperoleh KongKongnya dari kakek aneh itu. Yok-Sian jadi ikutan tertawa. Sampai-sampai kami berdua disangka orang saudara kembar.. tambah Yok-Sian jenaka. Ehh... apa kongkong berdua segitu miripnya? Mirip dari mana? Tak ada miripnya sama sekali. Cuma karena kelakuannya yang selalu membayangi kongkong itulah yang membuat orang-orang rimba persilatan mengejek kami demikian. Sai-Ji.... Apa kau tahu julukan kami waktu itu? A Sai menggeleng. Sepasang laki-laki tak genah.

Kontan tawa pemuda itu meledak, tak pernah disangkanya julukan kongkongnya dahulu sedemikian hebatnya. Yok-Sian pun turut tertawa, rupanya ia jadi geli sendiri membayangkan masa lalunya disaat masih bersama Koay-Lo-Tong dahulu. Terus... bagaimana ceritanya hingga KongKong berhasil mengusirnya? tanya si pemuda setelah berhasil menekan tawanya. Siapa bilang KongKong berhasil mengusirnya? Pada hakekatnya, tak ada cerita demikian. Walau KongKong sudah mencoba segala cara, tetap saja tak mampu mengusirnya. Akhirnya selama setahun itu KongKong hanya bisa pasrah menerima nasib... Untung saja Lo-Tong memegang janjinya sebab setahun kemudian, ia menghilang dengan sendirinya. Hanya saja, pengalaman tersebut nyaris membuat KongKong gila. Ternyata sifat kakek itu lebih mengerikan lagi dari Tok-Seng-Sianli Lo-Cianpwe... batin A Sai. Sejak saat itu, tak ingin lagi KongKong bersilang jalan dengannya. Prinsipnya... jika Lo -Tong ke barat, KongKong pastilah ke timur. Jika ia ke timur, Kongkong pasti ke barat. Takkan mau Kongkong bertemu orang itu lagi. Bahkan KongKongnya yang sakti pun terlihat jerih pada kakek aneh itu, hal ini membuat si pemuda jadi mengerti seriusnya urusan yang dipesankan Yok-Sian padanya. Apakah sejak saat itu kongkong tidak pernah lagi bertemu dengannya? tanya A Sai ingin tahu. Pernah sekali, kejadiannya sendiri terjadi kira-kira 30 tahun yang lalu. Jawab Yok-Sian setelah berpikir sejenak. Bagaimanakah kejadiannya Kongkong? Yok-Sian mengumpulkan ingatannya lalu mulai bercerita kembali. Saat itu nama Yok-Sian-San-Jin Souw Kok Lam telah melambung tinggi dan disanjung ramai orang, saking tingginya hingga melewati ketenaran nama Koay-Lo-Tong sendiri. Kau bisa menduga kejadian selanjutnya bukan? Pemuda itu mengangguk perlahan. Demikianlah yang terjadi. Tidak terima ada orang lain yang namanya jauh lebih harum dari namanya sendiri, Lo-Tong pun akhirnya mencari KongKong. Menurutnya ilmu silat yang dimilikinya lebih tinggi dari kongkong, sudah sepantasnyalah kalau namanya pun jauh lebih harum dari Kongkong... Agaknya ia lupa, keharuman nama seseorang bukan melulu ditentukan oleh ketinggian ilmu silatnya. Ucap Yok-Sian pelan menyesali sikap rekannya itu.

Setelah mencari sekian tahun, akhirnya kami pun bertemu kembali. Kali ini kongkong tak dapat lagi menghindarinya. Lo-Tong mengancam jika kongkong tidak memenuhi keinginannya untuk mengadu ilmu, ia bakalan mengikuti kongkong seumur hidup. Mendengar perkataannya itu, kongkong langsung tahu.... tak ada lagi jalan yang tersisa untuk menghindari pertarungan diantara kami. Apa boleh buat... kongkong terpaksa melayani keinginannya itu. sambung YokSian. Ngg... siapakah yang keluar sebagai pemenang? tanya A Sai penasaran. Saat itu kongkong telah berhasil meyakini Sin-Liong-Kiam-Hoat (Ilmu pedang naga sakti) dan Yok-Hiang-Sin-Kang (Tenaga sakti obat harum) hingga sanggup melayani permainan Lo-tong, kalau tidak kongkong takkan sanggup menghadapinya. Jawab Yok-Sian. Lo-tong mempunyai kelebihan dalam kecepatan gerak (ginkang) sedangkan kongkong menang variasi dan perubahan jurus. Walau ginkangnya lebih unggul dari kongkong, tapi ia sendiri tak mampu menembus benteng pertahanan Sin-Liong-Kiam-Hoat milikku. Kongkong pun tak sanggup menyentuh tubuhnya dikarenakan selain ginkangnya yang hebat itu, ia pun menguasai sejenis ilmu langkah yang ajaib. Langkah inilah yang sebenarnya menjadi kemampuan tunggal Koay-Lo-Tong, kemampuan yang menjadi ciri khasnya sendiri. Setelah bertempur dua hari dua malam dan tak ada juga yang menang, pertarungan kami akhirnya berhenti sendiri karena sama kelelahan dan kehabisan nafas. Setelah sama memulihkan diri, kakek itu sudah tak ingin bertarung lagi dengan KongKong. Rupanya ia kecewa dengan ilmu silatnya sendiri, mungkin baru sekali itu ia menemui seorang lawan yang sanggup menghadapinya sekian lama. Atau... bisa juga ada alasan yang lain lagi... yang jelas, ia tak lagi bernafsu bertarung dengan kongkong. Akhirnya sama seperti kemunculannya yang selalu tiba-tiba, ia pun pergi begitu saja tanpa pamit. Sampai sekarang, tak pernah lagi kongkong berjumpa dengannya. Sambung Yok-Sian Apakah ia lenyap dari bulim? tanya A Sai penasaran Oh tidak... Lo-Tong tetap malang melintang dalam dunia persilatan, kongkong saja yang tak ingin bertemu untuk ketiga kali dengannya... Begitulah ceritanya. Yok-Sian menutup ceritanya itu. Pemuda itu memandang kongkongnya, tak pernah dibayangkannya kalau kongkongnya ternyata sampai sedemikian tingginya memandang Koay-Lo-Tong. Itulah sebabnya KongKong ingin kau lebih berhati-hati mengambil sikap didepan kakek itu. tambah Yok-Sian tegas. Sekarang kau sudah mengerti bukan? A Sai mengerti. Jika suatu saat kelak A Sai berjumpa dengan Lo-Tong, A Sai akan lebih berhati-hati. Jawab pemuda itu mantap.

A Sai jadi tersenyum-senyum sendiri mengingat cerita Yok-Sian waktu itu. Heh... bocah gila, kenapa mesem-mesem sendiri? suara si kakek mengagetkan A Sai dan membuatnya tersadar dari lamunannya. Tak mungkin orang lain lagi. Ciri-ciri yang digambarkan kongkongnya serupa benar dengan kakek ini. Kiranya kakek inilah Koay-Lo-Tong (bocah tua aneh) si datuk barat yang menggemparkan itu. Bukan saja A Sai tidak mengenali kakek yang berdiri didepannya itu, bahkan ia telah pula bersikap kurang pantas pada si kakek. Teringat pesan kongkongnya dahulu, mau tak mau pemuda itu menelan ludah kalut, sementara orang yang paling dihindari kakeknya sedang menatapnya dengan senyum tak senyum. Bulu kuduk A Sai pun bangkit berdiri... Dengan sikap keren, si kakek bertanya, Kenapa diam saja? Sejenak pemuda itu merenung. Salah menjawab, bisa tambah runyam urusan yang ada. Lebih baik bicara jujur, semoga kakek aneh ini mau mengerti situasinya. Mohon maafkan A Sai... bukan maksud A Sai hendak bersikap tidak sopan pada kau orang tua, tapi... terus terang saja A Sai lagi kebingungan. Sesuatu benda milik A Sai telah hilang diambil orang, dan ketika melihat kau orang tua masuk... A Sai kira... A Sai kira orang yang mengambil milik A Sai itulah yang datang. Cepat-cepat diterangkan situasi yang dihadapinya. Si kakek tak bereaksi. Melihat kakek aneh itu masih saja diam, keberaniannya pun bertambah. Apalagi Lo-cian... eh.. Lo-tong pun tidak membantah saat A Sai tanya soal itu, maka... maka A Sai pikir kau orang tualah pelakunya. Harap Lo-tong tidak marah. Sambungnya lagi. Sikap si kakek mulai terlihat santai. Benar-benar bocah edan! Ditanya A, malah B yang di jawab. Siapa yang perduli dengan barang milikmu yang hilang? Bukannya menjawab pertanyaanku... kenapa malah ngomong yang tak jelas begitu? Sebagai seorang angkatan tua yang aneh sifatnya, kelakuan si pemuda barusan bukanlah hal baru baginya. Sudah terlalu banyak kekurang-ajaran yang disaksikannya selama ini dan menurutnya, segala perbuatan A Sai tadi biasa saja. Alasan pemuda ini pun masuk diakalnya, maka sikap si bocah pun tidaklah dapat dipersalahkan juga. Ia jauh lebih tertarik akan asal-usul si anak muda dibandingkan hal yang lainnya. Agaknya kemampuan pemuda itu dalam menerima beberapa serangannya telah menggugah keingin-tahuannya. A Sai tertegun sesaat, jawaban kakek ini diluar perkiraannya.

Awalnya ia rada kalut juga dengan si kakek, tapi ketika dilihatnya kakek itu kelihatannya tidak marah dengan perbuatannya barusan, legalah hatinya. Berbareng ia pun sadar, pertanyaan Lotong itu membuktikan kalau kakek ini bukanlah orang yang telah mengambil kedua kitab miliknya. Sebab kalau kakek ini yang mengambil kitab miliknya, tak mungkin kakek ini akan menanyakan perihal siapa gurunya. Hanya dengan melihat sampul kedua kitab tersebut, orang akan tahu kalau benda itu milik kepunyaan Yok-sian-san-jin Souw Kok Lam. Paling tidak, LoTong akan langsung menuduh Yok-sian sebagai gurunya bukannya bertanya lagi siapa gerangan gurunya. A Sai berpikir sesaat. Ia tak mungkin mengatakan nama Suhu nya pada Lo-tong karena sejak jauh hari, Yok-sian telah berpesan untuk sedapat mungkin tak mengungkit hubungannya dengan Yok-sian didepan orang lain. Jujur salah, berbohong pun ia tak sanggup. Akhirnya pemuda itu jadi ruwet sendiri. Harap kau orang tua suka memaafkan kalau A Sai bersikap kurang hormat... tapi... A Sai tak dapat mengatakannya. Ucapnya hati-hati. Sikap kakek itu berubah, jelas kurang senang mendengar si anak muda menolak menjawab pertanyaannya. Kenapa tak dapat? Karena... karena demikianlah pesan Suhu. A Sai harap kau orang tua mau mengerti kesulitan ini. Ada-ada saja, siapa sih Suhu mu itu? Kenapa pakai acara meninggalkan pesan yang tak jelas seperti itu? Hmm... jangan-jangan kau hanya cari alasan saja! Mana A Sai berani. Apa yang A Sai katakan, itulah yang sebenarnya terjadi. Puihhh, segala pesan omong kosong pun kau turuti. Memangnya moyangmu ini tidak pantas mengetahui nama besar suhumu? tanyanya penasaran. Melihat Lo-tong berkeras ingin tahu, pemuda itu mengeluh dalam hati. Maafkan A Sai kal... Bocah edan, kenapa setiap kali kau buka mulut selalu saja kata maaf kudengar? potong si kakek cepat. Singkat saja bicaramu dan tak usah pakai segala macam peradatan! Kalau bisa diutarakan dalam satu kata, cukup satu kata kau ucapkan... jangan kau tambah lagi. Huhh... bikin ngantuk saja! sungut Lo-tong lagi.

A Sai cuma bisa nyengir mendengarnya, adat dan tata krama kelihatannya tidak dihitung oleh kakek yang satu ini. Dan karena dirinya tak ingin menyinggung si kakek, soal sopan santun antara yang muda dan yang tua terpaksa dilupakannya sementara waktu. Sekarang katakan, kenapa Suhu mu tak ingin diketahui namanya? Kali ini A Sai benar-benar sulit menjawab, bagaimana menjelaskan urusan ini pada si kakek? Apa kau tahu siapa moyangmu ini? Pemuda itu mengangguk perlahan lalu menjawab, Ngg... Bukankah kakek ini yang digelari orang Koay-lo-tong? Si datuk barat yang lihay itu? jawabnya. Si kakek seketika membusungkan dada, bangga mendengar kata Si datuk barat yang lihay itu. Sayangnya, dada yang dibusungkan... malah perut yang makin membuncit ke depan. Bukannya bertambah gagah, malah terlihat konyol jadinya. Mau tak mau, A Sai jadi geli sendiri melihat sikap si kakek yang berusaha digagah-gagahkan tapi gagal itu. Hehehe... Rupanya kau kenal juga nama besar moyangmu, tentunya sekarang kau ingin memberitahukan siapa nama gurumu itu bukan? tanya Lo-tong sambil terkekeh bangga, dadanya... ehh, perutnya makin dibusungkan. Hmph... A Sai tak berani... perintah suhu tak mungkin diabaikan. Jawabnya dengan suara pasti, geli hatinya terpaksa dilupakannya sesaat. Si kakek jadi kheki sendiri. Bocah bau kencur, rupanya kau belum kenal siapa moyangmu ini. Kau pikir kau pintar? Ingin kulihat sampai berapa lama kau mampu menyembunyikan rahasiamu itu. Si kakek membatin penasaran. Lo-Tong merubah taktik, soal menjebak orang... ia jagonya. Dipandangnya A Sai baik-baik, lalu dengan sikap mengejek ia berkata. Aneh... Kenapa suhumu tak ingin diketahui namanya? Apa suhumu itu seorang yang tidak genah? Ataukah suhumu itu segolongan manusia rendah sampai-sampai menyebutkan nama sendiri saja ia malu? Atau jangan-jangan suhumu malah bukan manusia hingga kau pun ikut malu mengakui namanya? Mau tak mau, wajah pemuda itu jadi kemerahan juga karena jengah. Lo-tong sengaja menyudutkan dan memancing emosi pemuda itu, siapa tahu pemuda itu jadi kehilangan pengendaliannya lalu tanpa sadar mengatakan nama gurunya. Sayangnya A Sai bukanlah seorang bodoh. Taktik kakek itu bisa diduganya. Tentu saja suhu seorang manusia, cuma...

Masakan hanya alasan saja sedemikian susahnya dikatakan? Kalau kau tidak mau mengatakannya, berarti semua dugaan moyangmu ini benar... Hehehe... Gerah juga A Sai jadinya. Lo-tong salah! Banyak tokoh dibulim yang tidak suka dengan nama besar... Suhu pun demikian. Itu sebabnya nama Suhu sama sekali tidak boleh kubawa-bawa. Jawab A Sai keras. Lo-Tong terpana sejenak, berbalik hatinya pun jadi rada panas. Ucapan pemuda ini sama saja dengan mengatakan dirinya termasuk golongan orang yang suka dengan nama besar. Lagi pula dengan tak mau mengatakan nama gurunya, bukankah pemuda ini pun terlalu memandang rendah dirinya? Setelah tertegun sejenak, ia pun melanjutkan taktiknya itu. Hehehe... Dibulim ini hanya ada satu telur busuk yang tidak suka dengan nama besar. Kiranya kau ini muridnya telur busuk itu... jengek si kakek lagi. Sekarang giliran A Sai yang deg-degan. Orang rimba persilatan sama tahu akan sifat Yok-sian yang tidak suka akan nama besar. Benarkah kakek ini telah tahu kalau gurunya adalah Yok-sian? Jangan-jangan ucapan si kakek hanya untuk memancingnya saja. Akhirnya diputuskannya untuk berenang mengikuti arus. Kalau Lo-Tong sudah tahu, maka tak ada lagi yang bisa A Sai katakan. Lo-tong jadi kesal sendiri melihat pemuda itu tidak masuk ke dalam pancingannya. Tapi untuk berhenti sudah tak mungkin, ia terlanjur penasaran akan guru si anak muda dan sebelum mendapatkan jawabannya, ia takkan mau berhenti. Si kakek masih menunggu, tapi ketika dilihatnya pemuda itu diam saja, Lo-tong jadi makin kesal dibuatnya. Eh... apa kau tidak ingin tahu pendapatku mengenai siapa Suhumu itu? pancingnya penuh harap. Untuk apa? Kakek itu jadi makin jengkel, dibanting-banting kakinya dengan kesal. Kau telur busuk kecil, sama sekali tidak asyik! Hayo... tanya aku, siapa nama Suhumu itu? LoTong merajuk. A Sai tertegun mendengar tuntutan Lo-tong, rada geli juga jadinya. Terpaksa diikuti maunya si kakek. Baiklah... Menurut Lo-tong, siapakah Suhu ku?

Si kakek seketika berseri wajahnya, dengan lagak serius ia menjawab. Pastilah Lam Bhok Taysu, badut Siauw-lim-pay itu! Benarkan? Huahahahahaha... masa hal segampang itu saja moyangmu tidak tahu! jawabnya sambil terbahak senang, bangga dengan jawabannya sendiri. A Sai hanya bisa nyengir, tak menyangkal atau pun membenarkan. Melihat sikap si anak muda, tawa Lo-tong perlahan lenyap. Ehh... salah ya? tanyanya tercengang. Pemuda itu mengangguk. Bagaimana bisa salah? desak si kakek. Hwesio ketua Siauw-lim-pay masakan memiliki murid yang bukan hwesio? Lagi pula anak murid Siauw-lim-pay tidak ada larangan menyebutkan nama suhu dan perguruan mereka! jawab pemuda itu dengan senyum dikulum. Benar juga! Kalau bukan hwesio itu... siapa lagi ya? batin Lo-tong. Jangan-jangan Tan Hong si mayat jelek dari utara? tebak Lo-Tong lagi Kembali si anak muda menggeleng. Salah lagi? Apakah Kok Lam tukang obat sinting itu? desak Lo-tong makin penasaran. A Sai kembali nyengir, kacau juga kakek ini. Lam Bhok Taysu ketua Siauw-lim-pay disebutnya badut Siauw-lim-pay. Swat-jin Kim Tan Hong si datuk utara dibilangnya mayat jelek sedangkan kongkongnya dikatakan tukang obat sinting. Ngg... sebenarnya, Lo-tong tahu tidak sih siapa Suhu ku? Dengan menebak seperti itu, bukankah nama semua orang akhirnya akan disebutkan juga? tanyanya berusaha mengelak dari pertanyaan kakek itu. Lo-tong jadi jengkel sendiri, sambil bersungut panjang pendek ia pun berkata, Baik! Baik! Moyangmu mengaku kalah! Sekarang katakan siapa Suhu mu? Bicara panjang lebar, rupanya si kakek bersikeras tak mau melepaskan urusan begitu saja. Ngg.. bukankah sudah A Sai katakan tidak bisa? Lo-tong jadi mencak-mencak benaran. Berlagak sekali suhumu itu... kata si kakek gusar.

Lo-Tong memicingkan matanya menatap A Sai penasaran, matanya tampak mencorong dalam keremangan gua. A Sai kembali tegang sendiri, apa yang hendak dilakukan kakek ini? Bagaimana kalau kita taruhan? Pemuda itu jadi tercengang mendengar kata-kata si kakek, bingung dengan jalan pikiran kakek ini. Taruhan? Ya taruhan. Kau berani tidak? Kalau kau kalah, kau harus memberitahukan nama Suhumu yang banyak lagak itu! Sifat penasaran dan tak mau kalah Koay-lo-tong sudah termahsyur ke mana-mana. Kalau tidak diturutinya kemauan kakek ini, selamanya Lo-tong akan terus menyusahkannya. Daripada urusan yang ada jadi panjang dan merepotkan dikemudian hari, lebih baik diturutinya saja mau si kakek. Kalau Lo-tong yang kalah? tanya A Sai pelan. Lo-tong menatapnya sangsi lalu menjawab, Sebenarnya belum pernah ada hal yang demikian... tapi kalau moyangmu sampai kalah, moyangmu akan mengabulkan satu keinginanmu! A Sai tertegun. Apa tidak terlalu takabur ucapan kakek ini? bagaimana kalau dia minta si kakek bunuh diri? Apa akan dikabulkan? Lagipula urusan nama saja diurusi sampai sedemikian seriusnya... benar-benar aneh kakek ini. Setelah ragu sejenak, akhirnya diputuskannya untuk mengikuti permainan kakek itu. Baik, A Sai setuju. Sekarang... taruhan apa yang Lo-tong inginkan? Kakek aneh itu tertegun, taruhan apa yang sebaiknya dilakukan? Lo-tong berpikir sejenak, lalu mulai berjalan mondar-mandir dengan lagak serius. A Sai memandangnya tak mengerti sedangkan si kakek tetap saja dengan gayanya. Bagaimana kek? Hendak taruhan apa? ulangnya setelah menunggu sekian lama. Sabar dulu! Masa kau tidak lihat moyangmu ini sedang berpikir? semprotnya kesal, agakn ya ucapan A Sai mengganggu konsentrasinya. Namun setelah menunggu sekian lama tanpa hasil, akhirnya pemuda itu pun memberanikan diri untuk bertanya lagi. Sudah ada hasilnya? Cerewet amat sih! Kau pikir mudah menentukan taruhan yang akan kita lakukan?

Melihat A Sai menatapnya sangsi, kontan Lo-tong makin gusar dibuatnya. Dalam segala hal, moyangmu ini unggul darimu. Maka tentu saja pertaruhan nanti haruslah adil. Kalau tidak begitu, nanti kau bilang moyangmu berat sebelah dan mencari menang sendiri! semprot Lo-tong. Kau tunggu sebentar, jangan kau ganggu moyangmu dulu! tambahnya lagi lalu kembali mondar-mandir seperti tadi. A Sai tersenyum simpul melihat tingkah polah Lo-tong, dipikirnya dari pada ribut lagi mending ditunggunya saja si kakek hingga selesai dengan kesibukannya. Toh Lo-tong tidak lagi mempersoalkan kekurang-ajarannya tadi. Pemuda itu akhirnya menghampiri api unggun, dikoreknya unggun yang menyala hingga menyebabkan api yang ada kian membesar, sementara matanya terpaku menatap daging yang terpanggang disitu. Ketegangannya tadi telah membuatnya melupakan rasa laparnya tapi sekarang, teringat juga ia akan perutnya yang kelaparan. Seingatnya perutnya terakhir kali diisi diwarung Koh-lopek dan itu berarti, paling tidak sudah sehari semalam ia belum makan. Perut si pemuda berbunyi nyaring. Eh.. kalau kau lapar, makan saja... tak perlu sungkan segala! Lo-tong berkata cepat, agaknya bunyi perut si anak muda terdengar olehnya. Bolehkah? Ambil saja... toh tidak ada yang tahu! A Sai tertegun sejenak. Maksud Lo-tong... makanan ini bukan punya Lo-tong? Punyaku atau tidak, tak ada masalah bukan? Kau sedang kelaparan dan kebetulan ada makanan terhidang didepanmu. Kalau tidak kau makan, apa bukan bodoh namanya? jawabnya asalasalan. Tapi, bagaimana kalau pemiliknya datang? Untuk apa dipikirkan lagi? Salah sendiri meninggalkan makanannya begitu saja... jawab si kakek makin asal-asalan. Pemuda itu jadi malas bersuara lagi, sayang bekalnya telah habis sebelum memasuki dusun Musim Berburu. Akhirnya ia memutuskan untuk menahan lapar saja. Kenapa tidak makan? Kau takut? tanya si kakek melihat A Sai tetap duduk diam ditempatnya.

Oo.. tidak! A Sai masih belum terlalu kelaparan. Jawabnya cepat. Melihat si kakek hendak usil kembali mengurusi masalah perutnya, pemuda itu cepat-cepat buka mulut bertanya, Bagaimana? Apa Lo-tong sudah dapat ide? Lo-tong jadi batal bersuara, dengan bersungut-sungut ia kembali mondar-mandir seperti tadi. A Sai menarik nafas lega. Diperhatikannya Lo-tong baik-baik. Tingkah si kakek sering kali membuatnya bingung dan tertegun. Kadang sikapnya serius, dilain saat berubah seenaknya dan terkesan sembarangan. Seandainya Yok-sian tak pernah memberitahukan dirinya mengenai pembawaan dan karakter kakek ini, niscaya ia takkan tahu bagaimana menyesuaikan sikapnya dengan Lo-tong. A Sai menghela nafas panjang, walau kelihatannya situasinya baik-baik saja. Tapi ia tahu, situasi sekarang bisa berubah setiap saat. Sebutir kerikil kecil dapat mengguncang permukaan telaga yang luas, demikian juga sepatah kata yang salah darinya bisa menghancurkan posisinya sekarang. Disaat pemuda itu sedang sibuk melamun, Lo-tong mendadak melompat menghampirinya lalu dengan wajah bersungut ia berkata, Ini tidak adil! Keterlaluan, masakan moyangmu yang harus memikirkan segalanya? Maksud Lo-tong? tanya A Sai rada kaget. Kau juga harus ikut berpikir! Masa kau suruh moyangmu ini putar otak sedangkan kau asyik duduk ongkang kaki disitu? protes Lo-tong. Terpaksa si pemuda pun manggut-manggut setuju, ia pun akhirnya jadi ikutan mikir. Bocah edan, katakan... apa kau ada ide mengenai taruhan kita? tanya si kakek tiba-tiba. Percuma saja kakek ini berlagak serius putar otak dari tadi. Buntut-buntutnya, toh bertanya juga padanya. Pemuda itu jadi geli sendiri berbareng ia pun sadar, jalan keluar dari masalahnya telah muncul. Ngg... Ayo katakan, jangan takut! desak si kakek lagi. Pemuda itu mengangguk singkat lalu melanjutkan ucapannya, Bukankah Lo-tong ingin pertaruhan yang adil? Kakek itu mengangguk tak sabaran.

Kalau begitu, sebelum bertaruh. A Sai harus tahu dulu apa kelebihan Lo-tong, demikian juga sebaliknya. Benarkan? Ehh.. benar juga, kenapa tidak kupikirkan dari tadi? batin si kakek. Melihat kakek itu diam saja, ia pun melanjutkan ucapannya. Bolehkan A Sai tahu dulu, kepandaian apa saja yang paling Lo-tong kuasai? Tentu saja ilmu silat! jawab Lo-tong bangga. Melihat si kakek tampak bangga, A Sai hanya tersenyum simpul. Jawaban si kakek sudah diduganya dari semula. Bagaimana dengan ilmu surat? tanya A Sai lagi. Ehh... kalau soal itu, mendingan tidak usah dibicarakan lagi. jawab Lo-tong sedikit enggan. Melihat keengganan si kakek, A Sai bisa menduga kalau kakek ini tidak terlalu menguasai ilmu surat. Kalau begitu sulit jadinya. Ilmu silatku parah, ilmu suratku pun biasa saja... Jawab pemuda itu serius. Lo-tong jadi lemas sendiri mendengarnya. Wahh... kalau begitu, sudah jelas kita tak dapat bertaruh ilmu silat maupun ilmu surat dong! Lo-tong menjawab kecewa. Ehh.. masa tidak ada kepandaian lain yang kau kuasai? sambungnya lagi. Ada sih, tapi entah bisa disebut kepandaian atau tidak. Katakan saja, biar moyangmu yang menilainya. Ngg... A Sai bisa sedikit ilmu pertabiban! Maksudmu, kepandaian mengobati sakit penyakit dan meracik obatnya? A Sai mengangguk. Dengan tak bergairah, kakek itu menjawab, Kalau mengobati penyakit akibat pukulan atau tendangan sih, moyangmu jagonya. Tapi kalau disuruh menganalisa dan menyembuhkan sakit penyakit hadiah dari alam, mending kau suruh orang lain saja.

Agaknya ilmu pertabiban A Sai pun tak bisa dipakai dalam pertaruhan. Kata A Sai pelan menyambung perkataan kakek itu. Lo-tong jadi ruwet sendiri. Ini tak bisa, itu tak boleh. Lalu bagaimana baiknya sekarang? omel kakek itu. Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kiranya harus demikian... suara Lo-tong terdengar memecah kesunyian gua, mengagetkan A Sai yang sedang ikutan melamun. Ehh... maksud Lo-tong? tanyanya, tak mengerti maksud perkataan si kakek. Kau sanggup menahan beberapa serangan moyangmu, berarti tenagamu lumayan juga. Kata Lo-tong pelan. Jelas kakek ini kagum dengan kekuatan A Sai. Apalagi dimiliki oleh seorang bocah yang belum lagi dewasa, hal yang seperti ini belum pernah ditemuinya selama malang melintang puluhan tahun. Moyangmu bisa lihat kalau ilmu silatmu parah, tapi lweekangmu malah sebaliknya. Hmm... bagaimana kalau kita adu tenaga saja! Kau tidak keberatan bukan?. Sambung si kakek lagi. Sejujurnya pemuda itu keberatan. Fisiknya belum lagi pulih, boleh dibilang baru delapan sampai sembilan bagian saja yang sembuh. Kalau harus mengadu tenaga kembali, jelas ia akan sangat dirugikan. Hanya saja ia tak punya pilihan lain. Jangan khawatir, moyangmu tahu kalau kau tidak seratus persen sehat. Karena itu kita takkan mengadu tenaga secara langsung. Lo-tong dapat melihat keraguan pemuda itu. A Sai menatap si kakek, ternyata keadaan dirinya pun diketahui kakek ini dengan pasti. Baiklah, A Sai setuju. Sekarang bagaimana caranya? Lo-tong tidak segera menjawab, ia malah melangkah keluar dari gua. Tiada pilihan bagi A Sai selain mengikuti kakek itu dengan penuh rasa ingin tahu. Setelah berada diluar gua dan telah terpisah lima enam tombak dari mulut gua, Lo-tong lalu berhenti dan membuat sebuah garis lurus memanjang yang memisahkan dirinya dan A Sai diatas tanah. Kita adu tenaga disini! Lo-tong lalu meloloskan rantai emas penuh permata yang melingkar dilengan kirinya, lalu memberikan ujungnya pada A Sai sedangkan ujung yang lainnya tetap dibiarkan meliliti lengannya. Walau tidak mengerti maksud kakek itu, diterimanya juga ujung rantai Lo-tong.

Caranya sederhana saja, kita adu tenaga dengan cara saling menarik lawan. Barang siapa yang tertarik oleh lawan hingga melewati garis ini, ia kalah! Jika rantai sampai terlepas dari tangan maka ia pun dianggap kalah! si kakek menerangkan singkat sambil menunjuk garis yang dibuatnya tadi. A Sai mengerti sekarang. Rupanya adu tenaga yang dimaksudkan Lo-tong mirip dengan permainan tarik tambang. Hanya saja sebagai pengganti tambang digunakan rantai emas senjata andalan si kakek. Rantai si kakek hampir satu tombak panjangnya. Dengan jarak yang ada, cukup lega bagi keduanya untuk bergerak leluasa. Ingat baik-baik... dalam adu tenaga ini, luka atau tidaknya dirimu tergantung padamu sendiri. Jika tak sanggup lagi bertahan, lepaskan saja rantai yang kau pegang maka kau bisa terhindar dari cedera. Tapi kalau kau ingin keras kepala maka jangan salahkan moyangmu. Sambung Lotong lagi. Jika mengadu tenaga dengan cara saling menarik seperti itu, maka cedera tergantung sepenuhnya pada diri sendiri. Seandainya sudah terdesak sekalipun mereka tetap dapat dengan mudah melepaskan rantai dan terhindar dari cidera. Lain halnya kalau mengadu tenaga dengan cara mendorong, kemungkinan cedera sangat besar terjadi. Sebab selain tenaga keduanya berbenturan secara langsung yang tentunya beresiko timbulnya cedera yang lebih besar, untuk menarik kembali tenaga yang tersalur pun haruslah dilakukan secara bersamaan oleh kedua pihak. Jika tidak demikian, maka tenaga yang satu akan langsung menghantam yang lain. Hanya saja, ada lagi kesulitan tambahan dalam pertaruhan ini. Rantai emas Lo-tong yang dipenuhi intan permata itu tajamnya luar biasa. Kiranya ketajaman batu permata yang ada disenjata si kakek sebanding dengan mata pedang. Batu-batu mulia tersebut bukan hanya sekedar hiasan, tapi juga berfungsi sebagai mata pisau yang digunakan kakek itu dalam pertarungan. Senjata andalan Lo-tong ini kalau sampai mengenai tubuh lawan, akan merobek daging dan kulit berikut tulang keluar dari tempatnya semula. Senjata yang sangat ditakuti musuh-musuhnya sekaligus senjata yang turut mengangkat nama Koay-lo-tong sebagai datuk nomor satu diwilayah barat Tiongkok. Disinilah letak kesulitan tambahan. Untuk dapat mengadu tenaga dengan cara demikian orang selain harus mengerahkan tenaga menarik rantai, ia pun haruslah membagi tenaganya untuk mengeraskan lengannya. Kalau tak sanggup, dengan segera kulit dan dagingnya bakalah robek teriris tajamnya permata dirantai si kakek. Melihat dari sini saja A Sai jadi bertanya sendiri, sealot apakah kulit lengan Lo-tong? Sebab rantai yang melilit dilengannya itu sama sekali tak mampu menggores kulit si kakek. A Sai jadi berhati-hati. Tanpa sepengetahuan si kakek, tangannya lalu menggenggam ujung rantai tersebut sekuatnya. Hatinya jadi lega saat mengetahui ketajaman batu-batu mulia tersebut ternyata tak mampu menembus kekebalan tubuhnya. Benda pusaka yang tak ada duanya. Batin pemuda itu kagum.

Terlepas dari senjatanya ini, cara yang diajukan Lo-tong baik sekali. Hmm... kelihatannya kakek ini tidaklah sebodoh yang perlihatkannya selama ini. Jangan-jangan semua sikap konyolnya itu hanyalah untuk menutupi kepintarannya saja... batin A Sai dalam hatinya. Kau sudah siap? tanya Lo-tong. Pemuda itu mengangguk singkat lalu mulai menyalurkan hawa sakti ke seluruh tubuh. Uap putih tipis mulai mengambang naik dari pori-pori kulit si anak muda. Melihat hal tersebut Lo-tong jadi tercekat hatinya, kiranya lweekang si anak muda cukup ampuh juga. Segera saja kakek itu menaikkan tenaga hingga 6 bagian lalu sambil membentak nyaring ia mulai menarik. Walau sudah bersiap, tak urung tergeser juga kuda-kuda si pemuda setapak jauhnya. A Sai segera mengempos tenaganya, sambil membentak nyaring dinaikan tenaganya hingga 8 bagian barulah tenaga tarikan si kakek mampu ditahannya. Kaki kedua orang itu sudah sejak tadi terbenam dalam tanah hingga ke pergelangan sedang tubuh mereka menegang kaku tak bergerak. Lo-tong jadi tercekat sendiri, 6 bagian tenaganya sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan tokoh-tokoh papan atas dibulim. Si kakek kembali menaikkan tenaga, 7 bagian langsung dikeluarkannya hingga kembali membuat A Sai tertarik selangkah mendekati garis. Ughh... apa boleh buat... keluh A Sai perlahan, keringat mulai deras mengalir membasahi wajah dan pakaiannya. Terpaksa dimaksimalkannya keluar seluruh tenaganya. Uap putih makin deras mengalir memenuhi permukaan tubuhnya sementara lengannya yang menggenggam rantai telah lenyap tersembunyi dalam kabut putih tebal. Kali ini giliran Lo-tong yang tergeser kuda-kudanya. Tanah dan rerumputan jadi terbongkar keluar saat kuda-kuda si kakek tergeser selangkah jauhnya. Walau kuda-kudanya tak berubah, tetap saja tergeser selangkah jauhnya. Sebat si kakek menaikkan tenaganya satu tingkat barulah keadaan jadi berimbang kembali. Lo-tong mengerutkan keningnya tak percaya. Bukan main! Bocah ini selain sanggup menahan delapan bagian tenagaku kelihatannya ia pun mampu membagi lweekangnya dengan baik. Bakat sebagus ini belum pernah kutemui selama ini... Kalau dibimbing dengan benar, tiga empat tahun lagi pemuda ini mungkin sudah tak ada tandingannya... batin si kakek terkejut dan kagum. Diperhatikannya A Sai baik-baik. Mata si pemuda mencorong tajam laksana sepasang bintang pagi sementara seluruh otot ditubuh pemuda itu menggembung keluar. Masih ditambah lagi dengan keadaan tubuhnya yang dipenuhi kabut putih tipis, kabut yang hanya bisa timbul dari orang yang memiliki lweekang hasil latihan selama enam tujuh puluh tahun lamanya. Hal ini makin membuat Lo-tong jadi tambah kagum saja.

Dalam hal lweekang, kiranya tak banyak lagi tokoh dibulim yang sanggup mengalahkan pemuda ini. Berbareng hati si kakek pun jadi makin penasaran ingin tahu siapakah orang yang berhasil mendidik si pemuda. Sebab pikirnya, kalau muridnya saja sudah sehebat ini lweekangnya, apalagi gurunya. Dilain pihak, A Sai pun sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan mengeluarkan seluruh tenaganya seperti ini, dadanya kembali terasa sesak. Ia tahu, kalau dipaksakan terus, akan berbahaya bagi dirinya. Untuk sesaat ia bimbang. Ia tahu ia harus segera menentukan pilihan, sebab semakin lama berada dalam kebimbangan, semakin parah kondisi tubuhnya. Pemuda itu segera putar otak. Setelah menghitung untung rugi, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyerah saja. Toh tidak sebanding kalau ia harus mengorbankan nyawa hanya gara-gara urusan sepele begini. Agaknya ia terpaksa memberitahukan saja nama gurunya dan melepaskan impiannya untuk minta bantuan si kakek mencari dan menyembuhkan Yan Ci. Soal kongkongnya sendiri, A Sai tidaklah terlalu khawatir sebab ia yakin, Yok-sian pastilah akan memaklumi tindakannya hari ini. Apalagi semua tindakannya juga sudah sesuai dengan petuah kongkongnya. Bukankah kongkongnya selalu mengajarkannya untuk menghindar dari masalah? Selama bisa mundur, kenapa harus maju? Untuk apa juga memaksa diri mengorbankan nyawa untuk suatu urusan yang tidak jelas kayak begini? Agaknya jalan pikiran Yok-Sian yang aneh dan tak masuk akal itu telah berakar dihati si pemuda. Wuuutttttt! Rantai emas berhias permata terlepas dari tangan si pemuda dan menyambar dahsyat terbawa tenaga tarikan Lo-tong kembali ke pemiliknya. Dengan tenang Lo-tong menangkap rantai yang melayang datang lalu menggulungnya kembali dilengan kirinya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut si kakek. Matanya tak pernah berpaling dari A Sai. Perlahan, kabut tipis yang menyelimuti bangun tubuh si anak muda menghilang. Matanya pun sudah tidak lagi mencorong seperti tadi. Hanya peluh yang membasahi wajah dan tubuhnya ditambah lagi dengan kakinya yang terbenam hingga ke lutut saja yang menjadi bukti bahwa si pemuda telah berusaha sekuat tenaga. A Sai kalah! kata si pemuda tegas. Untuk sesaat Lo-tong tak tahu hendak berkata apa. Walau pun bermandikan keringat tapi nafas si pemuda biasa saja. Kalau tidak melihat keringat diwajahnya dan kakinya yang masih terbenam hingga ke lutut, orang takkan tahu si pemuda baru saja melakukan adu tenaga dengannya. Akhirnya sambil menghela nafas, ia berkata singkat, Kau... hebat! A Sai tak menanggapi pujian si kakek, ia malah berkata, Sesuai perjanjian, A Sai akan memberitahukan Lo-tong perihal siapa gerangan Suhu.

Suhu A Sai adal... Lo-tong mengibaskan tangannya sambil berkata memotong ucapan pemuda itu, Tak usah dikatakan lagi. Moyangmu sudah tahu siapa Suhumu! A Sai tertegun. Be... benarkah? Lo-tong menghembuskan nafas panjang, lalu dengan sikap serius ia berkata. Rata-rata pesilat dibulim jauh lebih memilih mati dari pada mengaku kalah pada lawan. Biar kata ada sepuluh jalan untuk menghindar dari pertarungan, tetap saja mereka takkan menyimpang selangkah pun juga. Biar kata kekuatan lawan seratus kali lebih kuat diatas mereka, tetap saja mereka labrak. Huhh... orang-orang tolol itu membuatku muak. Sudah tolol, sombongnya selangit lagi. Saking tolol dan sombongnya hingga tak pernah mau sadar dengan kemampuan sendiri. Omong kosong kalau mereka bisa tetap hidup dan malang melintang dibulim dengan sifat yang seperti itu. kata si kakek panjang lebar. Kau berbeda. Caramu berpikir dan bersikap benar-benar lain dari yang lain. Kau mengingatkanku akan Kok Lam si tukang obat itu. Darimana Lo-tong tahu? tanya A Sai kaget. Dalam pertarungan tadi jelas-jelas kau lebih suka mengaku kalah dari pada terluka. Ajaran tak masuk akal seperti yang demikian ini kiranya hanya mungkin diajarkan seorang saja di rimba persilatan pada muridnya. Apalagi kau sendiri yang bilang kalau Suhumu tak suka dengan nama besar ditambah kau pun menguasai ilmu pertabiban. Hehehe... Sisanya mudah untuk kutebak. Jawab si kakek. A Sai tertegun, kagum juga dirinya pada Lo-tong. Tak pernah disangkanya kakek yang terkenal selalu usil dan tak pernah serius ini bisa melihat segalanya. Dugaan Lo-tong tidak salah. Kata A Sai pelan. Lo-tong menggangguk, senyum kecil terbit dibibirnya. Mari kita kembali ke dalam, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Kata si kakek serius. Tanpa menunggu jawaban lagi, kakek itu segera melangkah kembali memasuki gua tadi, A Sai mengikuti dari belakang. Setibanya didalam gua, kakek itu lalu duduk didepan api unggun yang mulai padam. Tanpa sungkan diambilnya daging bakar yang ada lalu disobeknya jadi dua bagian. Yang satu langsung dimakannya sedangkan yang lainnya segera diberikannya pada si pemuda. Makanlah! Katanya tegas.

A Sai meragu sejenak. Tak usah banyak pikiran, makan saja! Jelek-jelek begini, Koay-lo-tong tak pernah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Maksud Lo-tong... makanan ini milik Lo-tong? tanyanya tak menduga. Tentu saja milikku! jawab si kakek pendek lalu kembali melanjutkan acara makannya. A Sai tak bertanya lagi, tanpa malu-malu segera saja disantapnya daging bakar yang ada ditangannya. Hanya dalam sekejap mata, makanan tersebut telah bertransmigrasi ke dalam perutnya. Enak! komentar pemuda itu setelah selesai dengan santapannya. Hehehe... Tentu saja enak, muridku sendiri yang memasaknya. Untuk urusan masak-memasak, masakan muridku boleh kau sandingkan dengan koki diistana kaisar. Kata Lo-tong bangga. Benar juga, rasanya tidak kalah lezat dari daging kijang yang biasa dimasak Im Giok-Cici. Batin A Sai setuju. Kakek itu lalu kembali bersikap serius, matanya menatap tajam si anak muda. Bagaimana keadaan gurumu? tanyanya perlahan. Suhu sehat saja, terima kasih atas perhatian Lo-tong. Dia orang tua pasti senang mendengar hal ini. jawab A Sai sopan. Si kakek malah terkekeh mendengarnya. Hehehe... tak perlu bersikap sopan. Suhumu jauh lebih senang jika aku tak menanyakan keadaannya... A Sai jadi tersipu sendiri. Sekarang katakan, apa yang kau lakukan ditengah pegunungan Kun Lun ini? apa kau ada sesuatu urusan yang hendak kau selesaikan dengan Kun-lun-pay? Kenapa Lo-tong berpikir demikian? tanya A Sai, kaget dengan ketajaman intuisi Lo-tong. Kok Lam tak mungkin mengirimkan muridnya yang masih setengah jadi sepertimu mengembara di rimba persilatan, kecuali ada urusan maha penting yang tak bisa tidak harus kau lakukan. Karena kau ada disini, mudah saja menduga kalau urusan yang dipesankan Suhumu itu erat kaitannya dengan perguruan Kun-lun.

Lo-tong berhenti sesaat menunggu reaksi A Sai. ketika dilihatnya si pemuda tak membantah ucapannya itu, makin yakinlah si kakek dengan kesimpulannya itu. Katakan padaku, kau ada urusan apa dengan pihak Kun-Lun? A Sai berpikir sejenak. Kelihatannya inilah saat yang terbaik untuk menceritakan semua urusan ini. Dengan bantuan Lo-tong, lebih besar harapannya untuk menemukan gadis bengal itu. Bahkan kalau beruntung, ilmu silat Yan Ci pun bisa dipulihkan kembali. Hanya saja... maukah kakek ini menolongku? Apa boleh buat, hasilnya takkan kuketahui sebelum mencobanya terlebih dahulu. Tak pernah disangkanya urusan akan semudah ini jadinya. Tadinya dikira ia harus berkelana jauh ke barat sebelum bertemu Koay-lo-tong, ternyata hari ini tanpa disangka-sangka ia bertemu dengan kakek ini. Bukankah inilah kesempatan terbaik baginya untuk memohon bantuan kakek ini? Setelah berpikir demikian, A Sai pun mengambil keputusan untuk menceritakan urusan yang mengikatnya itu. Memang ada sedikit urusan yang dibebankan Suhu padaku, urusan yang berkenaan dengan pihak Kun-lun-pay... katanya pelan. Lalu ia pun bercerita mengenai keadaan Thio Yan Ci. Soal hilangnya kemampuan si gadis dalam menyalurkan lweekangnya dan tentang usaha penyembuhan Yok-sian dan Tok-seng-sianli yang tidak berhasil sementara kakek itu hanya manggut-manggut mendengarkan ceritanya. Jadi begitu ya? Hehehe... tak pernah kuduga Kok Lam menghargaiku hingga setinggi itu. jawab si kakek sambil terkekeh senang. Jadi... maukah Lo-tong menolong gadis itu? tanya si pemuda penuh harap. Soal itu mudah saja, tapi maukah gadis itu menerima pertolonganku? Menilik dari ceritamu itu, kelihatannya gadis itu termasuk orang yang susah untuk dihadapi. Nah.. kalau ia setuju menerima pertolonganku, moyangmu pun takkan sungkan untuk membantu. Jawab si kakek tegas. Kontan A Sai jadi girang luar biasa, jawaban kakek itu benar-benar melegakannya. Seketika ia menjatuhkan dirinya berlutut hendak menyembah si kakek. Tapi baru setengah jalan ia melaksanakan niatnya, Lo-tong telah mencegahnya. Tak usah sampai segitunya. Lagi pula belum tentu juga aku berhasil menyembuhkan gadis itu. Jangan keburu senang dulu. Kata si kakek serius. Mendengar perkataan Lo-tong, pemuda itu pun membatalkan niatnya. Hanya wajahnya saja yang berseri kegirangan penuh rasa terima kasih.

Hehehe... Bocah baik, sekarang katakan padaku. Dimana adanya gerangan gadis itu? kenapa ia tak bersamamu? tanya si kakek turut senang. A Sai segera saja menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Thio Yan Ci ketika bertemu dengan Tan Cit Kong bersaudara. Mendengar ceritanya itu, wajah Lo-tong jadi sedikit berkerut. Untunglah masalahmu dengan anak murid Tan Cit Kong berakhir damai. Kalau tidak, kau harus berurusan juga denganku. A Sai tertegun. Tan Cit Kong jelek-jelek begitu pernah beberapa kali menerima petunjuk dariku. Walau tidak resmi, ia dan adik seperguruannya yang gendut itu boleh dibilang terhitung muridku. Lo -tong menjelaskan. Hmm.. tahukah kau siapa muridku? tanyanya lagi. A Sai menggeleng. Sikap serius Lo-tong hilang berganti dengan sikap seorang anak kecil, anak kecil yang nakal. Sambil tertawa-tawa ia berkata, Tentu saja kau takkan tahu, tapi kujamin sekali kau melihatnya... hehehe... kau takkan bisa tidur siang malam... Benarkah? Kenapa sampai tak bisa tidur segala? tanya A Sai dengan kening berkerut tak mengerti. Kakek itu terdiam sesaat lalu menyambung ucapannya, Lebih baik tak usah kukatakan, kalau kau bertemu dengannya nanti kau akan tahu sendiri jawabannya. kata Lo-tong misterius, membatalkan niatnya semula untuk memberitahukan gerangan muridnya pada si pemuda. A Sai jadi bertanya sendiri, memangnya siapa gerangan murid kakek aneh ini? tapi hanya sebentar saja pemuda itu berpikir. Ia sudah terlalu senang dengan kesediaan si kakek membantunya maka soal anak murid kakek itu, tak lagi dipedulikannya. Kau ada gambaran ke mana perginya gadis itu? Ehh... Kemungkinan besar kalau tidak ke barat, pastilah gadis itu berjalan ke utara... tapi itu hanya dugaan A Sai saja, entah benar entah tidak. Jawabnya. Lalu, apa rencanamu sekarang? A Sai hendak langsung ke Kun-lun-pay saja. Seandainya disana tidak bertemu dengannya, paling tidak dapat kucari kabar beritanya disana. Siapa tahu ada anak murid mereka yang pernah melihat atau mengetahui kabar beritanya.

Hmm... Kupikir rencanamu itu lumayan juga. Sayangnya aku sendiri punya urusan lain yang harus kuselesaikan, kalau tidak tentunya mengasyikan juga bermain ke tempat itu. kata Lo-tong serius. Pemuda itu jadi sedikit kecewa. Tak usah kecewa, soal pengobatan gadis itu kan sudah kusetujui? Kau pergilah saja ke sana. Nama Suhumu kiranya sudah lebih dari cukup untuk kau gunakan. Aku yakin mendengar nama Suhumu itu, Teng Kwan Siu mau membantumu. Hanya kau harus mengingat satu hal... apapun yang kau katakan didepannya nanti, jangan sekali-kali kau singgung nama Tok-seng-sian-li. Pesan si kakek. Pemuda itu hanya mengangguk saja. Sebenarnya ia berharap Lo-tong akan berjalan bersamanya ke Kun-lun-pay, tapi kelihatannya kakek ini punya rencana sendiri. Anak muda kok tidak bersemangat seperti ini? Ayo bangkit, mari kita main-main sebentar. Hendak moyangmu lihat sampai dimana pelajaran yang diberikan Kok Lam padamu! rupanya rasa hati A Sai pun tak luput dari pandangan Lo-tong. Bukankah... bukankah tadi sudah? si pemuda jelas ragu. Tadi itu kan sebelum moyangmu tahu kau ini muridnya tukang obat itu? Karena sekarang sudah tahu, maka harus kita ulangi lagi... Kakek ini memang bermaksud mengukur kepandaian guru berdasarkan kepandaian muridnya. Sedangkan A Sai yang ditanya tak langsung menjawab. Dipikirnya daripada diteror terus nantinya, lebih baik rasa penasaran kakek ini dipuaskannya sekarang. Baiklah... harap Lo-tong berlaku murah hati. Si kakek mengangguk senang. Setelah terdiam sesaat, Lo-tong pun menyambung ucapannya. Gua ini terlalu sempit. Mari kita keluar sebentar. Tak ada pilihan, A Sai pun akhirnya mengikuti keinginan Lo-tong. Sesampainya mereka diluar, Lo-tong bertanya kembali, Pelajaran apa saja yang sudah kau pelajari dari Suhumu? Sejauh ini baru sampai pada ilmu lweekang saja. Jadi Yok-hiang-sinkang sudah kau pelajari? Ehh... kenapa yang kau keluarkan tadi sama sekali berbeda? Bukan hanya tidak mirip, bahkan keharuman khas Yok-hiang-sinkang pun tak ada! tanya Lo-tong dengan kening berkerut.

A Sai sendiri tidak paham, mungkin karena lweekang A Sai belumlah setinggi Suhu hingga belum lagi mampu mengeluarkan keharuman khas Yok-hiang-sinkang. Pemuda itu tak ingin menjelaskan keadaan dirinya itu pada si kakek. Apalagi soal ilmu dan kesaktian perguruan bukanlah sesuatu yang bisa dibicarakan begitu saja. Itu sebabnya ia mengelak dari pertanyaan Lo-tong. Mungkin juga. Pikir Lo-tong. Mata si kakek bersinar terang, ia berdiri dengan gaya seenaknya sedangkan si pemuda malah sebaliknya. Bocah bagus, bersiaplah! Moyangmu akan menyerang! Sambil tersenyum, si kakek melangkah maju. Tangannya mengibas perlahan dengan gerakan seperti mengusir lalat lalu gerakan tersebut dilanjutkan dengan tangannya yang meluncur maju mencengkeram pundak si pemuda. Walau kelihatannya sederhana, tapi tenaga yang terbawa dalam kibasan kakek ini tidaklah sederhana. Sasarannya adalah salah satu titik darah dipundak kiri si anak muda sementara angin kebutannya berhembus kencang menutupi pandangan. Membuat mata jadi perih dan memaksa A Sai memejamkan matanya. Secara naluri, A Sai melangkah mundur. Lalu sambil memicingkan matanya, ia berkelit dari cengkeraman kakek itu. Walau demikian, tangan si kakek terus saja mengejarnya. Kemana pun ia bergerak, tangan kakek itu selalu mengikuti satu jengkal dari tubuhnya. Kemana pun ia berpaling, selalu saja tangan si kakek didepan bahunya. Tanpa terasa keringat dinginnya mengalir. Jangankan untuk menyerang, melepaskan diri dari kejaran tangan si kakek saja ia tak mampu. Pemuda itu berpikir keras, baru sekarang ia sadar arti perkataan kongkongnya. Tanpa Ginkang yang memadai, takkan mungkin ia mampu menjaga diri dalam rimba persilatan. Kalau hanya melawan seseorang dengan ginkang pas-pasan ia boleh berharap menang, tapi kalau berhadapan dengan seorang ahli ginkang seperti kakek ini... jangan harap ia mampu mengatasi si kakek. Mendadak Lo-tong menghentikan serangannya. Lalu sambil berkata gusar ia berkata, Apa yang sedang kau lakukan? Masakan serangan semudah itu pun tak mampu kau hindari? Si pemuda tak menjawab. Kok Lam terkenal dengan ilmu pertahanannya, masakan kau muridnya sama sekali tidak menguasai ilmu andalannya itu? Huh... benar-benar mengecewakan moyangmu! tegur Lo-tong jengkel. Harap Lo-tong tidak marah, kalau Sin-liong-kiam-hoat yang kau orang tua maksudkan... terus terang saja, belumlah A Sai kuasai... Yang benar saja! Kelihatannya Kok Lam sama sekali tak becus mendidik muridnya. Masa sudah sebesar ini pun ilmu andalan Suhumu belum juga kau kuasai? Yok-hiang-sinkang tak

becus, ehh... Sin-liong-kiam-hoat pun tak bisa. Lalu apa yang kau bisa? Lo-tong jadi marahmarah sendiri. A Sai tak sanggup menjawab, bagaimana memberitahu kakek ini kalau ia baru beberapa bulan mengikuti Yok-sian? Belum juga setengah tahun, tentu saja ilmu andalan kongkongnya itu belum lagi dipelajarinya. Paling-paling baru sampai tahap teori, prakteknya belum pernah. Tentu saja sukar menggunakannya dalam pertarungan yang sebenarnya. Apalagi lawannya bukan sebangsa cecurut melainkan tokoh nomor satu diwilayah barat, makin kelihatanlah ketidakmampuannya itu. Melihat si pemuda tak menjawab perkataannya, Lo-tong makin jengkel jadinya. Kukatakan padamu! Puluhan tahun yang lalu, Kok Lam hanyalah seorang anak muda yang tak becus sepertimu. Tapi dengan semangat dan ketekunan luar biasa, ia mampu mengangkat nama diantara sekian ratus bahkan ribu orang pesilat Tiongkok. Pada usia 20 tahun, Suhumu itu telah masuk dalam jajaran pesilat kelas satu dan pada usianya yang ke tiga puluh, namanya sudah disejajarkan dengan para Ciang-bunjin perguruan besar. Kau tahu kenapa bisa demikian? Kedua ilmu andalannya itulah penyebabnya. Kenapa sekarang kau tidak mewarisi kepandaiannya itu? Bahkan segala ilmu cakar bebek pun tidak kau kuasai. Kau benar-benar tak berguna! si kakek berkaok-kaok marah. A Sai tak sanggup bicara, hendak menjelaskan bagaimana agar si kakek mau diam? Sudah berapa lama kau ikut Kok Lam? Sekitar... tiga empat bulan. Ehh... benarkah? Kenapa Kok Lam mau menerima murid sebesar dirimu ini? tanya Lo-tong terkejut. Pada umumnya jika hendak mengangkat murid, seorang guru pastilah mencari seorang bocah yang selain berbakat dan bertulang bagus, juga masih muda usianya. Semakin muda usia calon muridnya, akan semakin baik pula jadinya. Hal ini disebabkan dengan waktu yang ada, diharapkan seluruh kepandaian guru dapatlah diturunkan pada muridnya. Target seorang guru biasanya sederhana saja. Mereka menginginkan sebelum muridnya memasuki usia dua puluhan, muridnya haruslah sudah tamat belajar. Tapi kalau mengangkat murid dengan usia seperti A Sai, lima belas tahunan maka ini merupakan suatu hal yang tidak biasa dilakukan. Bisa dibilang, sudah terlalu terlambat untuk belajar silat. Hal ini mengherankan Lo-tong. Hmm, kalau benar perkataan bocah ini... wajar saja kalau kedua ilmu andalan gurunya belumlah dikuasainya. Hanya saja... kenapa Kok Lam mau mengangkat murid seperti bocah ini? Apalagi sampai melepasnya berkelana seorang diri, seperti bukan Kok Lam saja. Batin Lo-tong, rasa gusarnya perlahan sirna berganti keheranan. Bagaimana ceritanya? tanya Lo-tong mulai tertarik.

A Sai berpikir sejenak sebelum menjawab. Tak ada yang istimewa. Suhu telah menolongku dan karena berbelas kasihan, dia orang tua lalu mengajakku mengikutinya. Seterusnya A Sai pun diangkat jadi murid... eh, masih belum resmi sebetulnya. Jawab A Sai. Pemuda itu sengaja tak bercerita lebih jauh karena ia tak ingin si kakek jadi semakin tertarik dengan masa lalunya. Mendengar perkataan A Sai, kakek itu jadi merenung sendiri. Hmm... Kelihatannya ada sesuatu pada diri bocah ini yang membuat Kok Lam tertarik padanya. Mungkinkah karena tenaga saktinya itu? Dari mana ia mendapatkannya? Kalau baru tiga empat bulan belajar sudah memiliki tenaga seperti itu, bisa dipastikan sebelum bertemu Kok Lam pastilah bocah ini telah lebih dulu berguru pada orang lain. Atau jangan-jangan ia sedang berusaha menyembunyikan kepandaiannya? Ehh, kenapa tidak kupaksa saja? Kalau dihajar hingga babak belur sudah pasti bocah ini bakalan mengeluarkan juga kepandaiannya yang sejati. Tapi kalau ternyata kepandaiannya tak juga dikeluarkan, berarti semua ceritanya ini benar adanya. Berpikir sampai disini, bulatlah niat Lo-tong untuk mengetahui jawabannya. Lo-tong patut merasa penasaran. Masa selama ini hanya melulu belajar lweekang? Umumnya orang sambil belajar lweekang, mulai juga belajar ginkang dan jurus silat. Entah ilmu silat tangan kosong atau pun ilmu silat menggunakan senjata. Sedangkan pemuda yang berada didepannya ini sama sekali berbeda. Belum lagi menilik dari kuatnya lweekang si pemuda, rasanya tak masuk diakal kalau pemuda ini sampai tak menguasai ilmu lainnya. Selain itu dengan menguasai tenaga dalam sekuat ini pada usianya yang masih belasan tahun, hal ini membuktikan kalau guru si anak muda sebelum Yok-sian pastilah seorang tokoh maha sakti. Dengan guru yang demikian, sudah sewajarnya jika pemuda ini pun menguasai satu dua ilmu silat lihay dan aneh. Tapi yang diperlihatkan pemuda ini sama sekali tak sesuai dengan yang biasanya terjadi. Hal ini membuat Lo-tong jadi makin penasaran. Dan sebelum mengetahui yang sebenarnya, pemuda ini takkan dilepasnya pergi begitu saja. Moyangmu tak percaya! bentak Lo-tong. Kau pikir segala cerita murahan seperti itu mampu mengakali moyangmu? Kalau kau tetap menolak menceritakan yang sebenarnya, jangan harap kau mampu meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup! A Sai menatap tak berkedip. Kakek ini bahkan jauh lebih sukar dihadapi daripada Tok-sengsianli. Paling tidak, Tok-seng-sianli takkan menyerang orang kalau ia tak diserang duluan. Apalagi sifat si kakek yang selalu berubah membuatnya makin kesulitan menentukan sikap. Kadang tingkahnya seperti seorang bocah nakal, dilain saat bersikap bijaksana layaknya angkatan tua, lalu sekejap kemudian berubah ganas dan seenaknya seperti seorang begal hendak merampok mangsanya. Mungkin itulah sebabnya kaum rimba persilatan menjulukinya Koay-lotong (Bocah tua aneh), sebab nama ini benar-benar pantas disandang kakek ini. Sayangnya A Sai sudah tak sempat lagi berpikir lama-lama. Bentakan Lo-tong membuatnya tersadar.

Jaga serangan! Koay-lo-tong terkenal sebagai seorang ahli Gwa-kang (tenaga luar) dan Gin-kang (tenaga gerak atau ilmu meringankan tubuh) nomor satu zaman ini, kiranya tak ada lagi seorang ahli gwakang yang lebih hebat dari Lo-tong diseluruh daratan Tiongkok. Tembok kota yang tebalnya 3-4 tombak pun mampu dijebol kakek ini hanya dengan dua tiga pukulan saja, maka jangan ditanya lagi seberapa kuatnya tenaga kakek ini. Bisa dibilang, Lo-tong inilah pakarnya pakar dalam hal Gwakang. Keunggulannya masih ditambah lagi dengan sejenis ilmu langkah yang ajaib. Ilmu yang membuat selama si kakek malang melintang dalam dunia persilatan, belum pernah ada satu pesilat pun yang mampu mengenai tubuhnya. Sudah lebih 50 tahun lamanya Koay-lo-tong malang melintang dan selama ini, hanya dua tiga orang pesilat saja yang sanggup bertahan menghadapinya, bahkan Yok-sian-san-jin pun pada 30 tahun berselang hanya mampu bertarung seimbang dengan si kakek. Kelihayan ilmu silat ditambah dengan keanehan sifatnya inilah yang membuat kakek ini ditakuti ramai pesilat. Koay-lo-tong mulai merangsek. Karena ia memang berniat memaksa A Sai mengeluarkan ilmunya, maka Lo-tong pun menyerang dengan sungguh hati. Walau jurus serangannya biasa saja, tapi tenaga dan kecepatan yang melandasi serangannya itu dikeluarkan dengan sepenuh kemampuannya. Serangan Lo-tong ini tak bisa dibandingkan dengan serangan Tan Cit Kong bersaudara, jauh sekali bedanya. Tubuh Lo-tong seolah lenyap dari pandangan dan sebelum A Sai sadar dengan apa yang terjadi, tubuhnya telah dihantam tinju kanan kakek itu. Sakitnya tak usah ditanyakan lagi, diseruduk gajah pun takkan mungkin sesakit yang dirasakan A Sai saat kepalan Lo-tong menyengat perutnya. Dheeessss! Paling tidak tenaga si kakek 2 tingkat diatas A Sai maka menerima seluruh tenaga Lo-tong, mana mungkin pemuda itu sanggup bertahan? Seluruh tenaganya pun hanya sanggup menahan 8 bagian tenaga si kakek, bisa dibayangkan akibat yang diderita A Sai. Disaat kepalan Lo-tong menggenjot perutnya, seketika udara seolah dipompa keluar secara paksa dan membuatnya kehilangan kemampuannya untuk bernafas. Lalu disusul dengan tubuhnya yang melayang pergi tiga tombak sebelum jatuh bergulingan menembus semak dan rerumputan disitu. Si pemuda terkapar diam, nanar, dan tak bergerak. Sebenarnya tinju Lo-tong mengarah jantung pemuda itu, tapi karena dilihatnya si pemuda sama sekali tak bisa menghindar, kakek itu merubah arah serangannya. Bukan lagi ke dada kiri, tapi ke perut. Tenaganya pun dikuranginya satu bagian, hanya sekedar mencoba reaksi si pemuda. Melihat hasil serangannya itu, si kakek jadi termangu.

Kelihatannya bocah ini berkata jujur... batin Lo-tong dalam hati, jelas si kakek mulai ragu dengan dugaannya semula. Walau mulai ragu, ia memutuskan mencoba satu dua kali lagi. Paling tidak sampai pemuda itu mengeluarkan ilmunya atau sudah tak sanggup lagi bergerak, barulah ia akan berhenti dan memulihkan si pemuda. Bagaimana dengan A Sai? Untung baginya disaat bahaya mengancam, lweekangnya tanpa sadar telah kembali bangkit secara otomatis melindungi tubuhnya. Inilah salah satu keuntungan jika seluruh titik jalan darah telah tertembus. Lweekang ditubuhnya seolah jadi punya nyawa sendiri. Tanpa perlu diperintah, lweekangnya telah mampu bergerak sendiri melindungi tubuhnya. Ibarat seorang pengawal yang selalu siap sedia menjaga rumah majikannya dari musuh, demikianlah sifat pergerakan hawa sakti dalam tubuh A Sai. Itulah sebabnya disaat tenaga Lo-tong menyentuh tubuhnya, seketika lweekangnya timbul sendiri lalu berkumpul dititik yang diserang Lo-tong, dan berusaha menolak tenaga yang berusaha masuk merusak tubuhnya. Sayangnya walau hawa saktinya telah secara otomatis melindunginya, namun tetap saja ia kalah tenaga. Pukulan Lo-tong terlampau kuat baginya. Pukulan si kakek ternyata mampu membuyarkan hawa perlindungannya dan merasuk masuk menghajar rongga perutnya. A Sai terbaring setengah sadar, nafasnya satu-satu sementara darah tampak mengalir dari sela bibirnya. Walau perutnya sakit bukan kepalang, namun kesadarannya masih ada. Dengan susah payah, ia berusaha mengembalikan kembali udara yang hilang dari paru-parunya. Melihat darah yang menetes dari mulutnya, bisa diduga kalau getaran pukulan Lo-tong telah mencederai sebelah dalam tubuh pemuda itu. Setelah megap-megap beberapa saat, berhasil juga usahanya. Udara pegunungan yang dingin dan segar mengembalikan kejernihan pikirannya. Tak menunggu lama, segera saja dikumpulkan lweekangnya, mencoba mengetahui cedera yang dideritanya. Pemuda itu terhenyak tak percaya. Peredaran hawa sakti dalam tubuhnya tersendat-sendat dan tak lancar. Sepertinya beberapa jalan darah ditubuhnya tak mampu dilewati aliran Lweekangnya. Pukulan Lo-tong cukup parah menggetarkan isi perutnya. Jangankan untuk bangkit berdiri, menggerakkan tangannya saja ia tak bertenaga. Sial! rutuk A Sai, kemarahannya mulai berkobar. Tak pernah disangkanya Lo-tong akan menyerangnya sampai sedemikian rupa. Apapun alasannya, kakek itu sudah sangat-sangat keterlaluan bermain-main dengan nyawa manusia.

Kalau orang lain yang menerima pukulan ini, sudah sejak tadi nyawanya terbang ke akherat. Kongkong bilang kalau sudah tak ada lagi jalan untuk mundur atau menghindar, bukankah aku boleh maju? Kalau lawan menghendaki nyawaku, sudah pasti takkan kuberikan dengan mudah. Berpikir sampai disini, makin berkobar saja kemarahan A Sai. Yok-sian Kongkongnya selalu mengajarkannya untuk mengalah. Jika bisa mundur, kenapa harus maju? Jika bisa menghindar, kenapa harus bentrok? Tapi disisi lain nyawanya cuma satu hadiah dari Thian dan tak ada lagi cadangannya. Itulah sebabnya ia berkewajiban menjaganya sebaik mungkin. Menimbang beberapa saat, bulatlah hati pemuda itu. Hanya ada satu jalan. Pikir pemuda itu mengambil keputusan. Ia selalu berpikir dan berpikir sebelum melangkah. Sebab ia tahu, sekali dirinya melangkah... takkan mungkin lagi untuk berhenti. Pemuda itu mengempos seluruh semangat dan kemauannya, lalu seluruh tenaga yang tersisa dipakainya seketika. Suuuiiiittttt! Sebentuk nada yang tidak lagi mampu didengar manusia normal berkumandang, tinggi melengking menembus pendengaran pemuda itu. Nada ke-7 telah dimainkan... Seberkas tenaga mengalir keluar dari Tan-tian dan bergulung-gulung menerobos sekujur tubuhnya. Dalam sekejap telah melewati ke-72 jalan darah ditubuh pemuda itu. Hawa sakti dalam tubuh si pemuda yang tadi tersendat dan tak mau mengalir, seketika mengalir lancar. Titik-titik jalan darahnya yang seperti tersumbat langsung jebol diterobos tenaga saktinya itu. Tubuh A Sai mulai dipenuhi kabut tipis, kabut yang timbul dari tenaganya yang baru saja dipulihkan. A Sai berusaha bangkit dan duduk, rasa mual menyesakkan tenggorokannya. Hoekkk! Dua tiga kali ia muntah darah, darah kental berwarna kehitaman tumpah membasahi tanah didepannya. Anehnya... setelah selesai dengan acaranya itu, tubuhnya malahan bertambah segar. Bahkan rasa sakit yang tadinya melilit diperut dan dadanya pun berkurang jauh. Tahulah ia kalau luka dalamnya telah berkurang sebagian. Walau tak mengerti, ia tak lagi peduli. Benaknya lebih terisi dengan persoalan lain, persoalan seperti bagaimana caranya mengalahkan si kakek yang dianggapnya keterlaluan itu.

Masih kurang... renung A Sai. Karena sebelumnya tenaga yang tersisa nyaris habis, maka siulannya itu hanya sanggup meningkatkan lweekangnya hingga kembali penuh. Belum sanggup meningkatkan tenaganya hingga dua kali. Padahal untuk dapat bertarung dengan Lo-tong, tenaganya harus dinaikkan paling tidak dua kali lipat dari semula. A Sai lalu bangkit berdiri, gerakannya ringan dan sama sekali tak ada tanda-tanda kalau ia baru saja mengalami luka dalam hebat. Sekali lagi diedarkan hawa saktinya mengitari seluruh jalan darah ditubuhnya. Lega hatinya mengetahui tak ada lagi penghalang yang menghalangi pergerakan tenaganya. Pemuda itu menarik nafas panjang dan menenangkan pikirannya lalu bersiap meningkatkan kembali tenaganya. Siulannya yang berikut sangat beresiko, salah-salah malah dirinya sendiri yang celaka. Pengalamannya dulu telah memberinya pelajaran berharga. Sewaktu bertarung melawan Tan Cit Kong bersaudara, nada ke-7 ini berat dikeluarkannya. Ini disebabkan karena ia sendiri takut dengan akibat yang mungkin ditimbulkan siulannya. Selain itu silang sengketa yang ada antara dirinya dan pihak anak murid Kun-lun-pay beralasan. Pun sikap anak murid Kun-lun-pay sesuai aturan dan tidak seenaknya saja. Tapi terhadap Koay-lo-tong beda lagi permasalahannya. Sikap Lo-tong yang dianggapnya ringan tangan dan sewenang-wenang, bahkan bermain-main dengan nyawanya membuatnya marah. Kalau tanpa alasan yang jelas lalu menjatuhkan pukulan sekejam itu pada sesamanya, bukankah orang seperti kakek itu tak bisa lagi dikasih hati? Dirinya ibarat telah disudutkan hingga tersandar didinding, tak ada lagi ruang baginya untuk menghindar. Kalau tak bisa mundur atau menghindar, terpaksa ia harus maju. Jangankan Lo-tong, gunung pun bakalan diterjangnya saat ini. Itulah sebabnya ia tidak ragu lagi menggunakan nada ke-7 ini. Apa pun yang terjadi, akan kutanggung akibatnya. Bisiknya lirih. Nada yang sama terdengar kembali. Lweekang yang berputaran ditubuhnya seolah mendapat tambahan tenaga baru. Seluruh otot di tubuh pemuda ini seketika bertonjolan keluar dialiri sinkang yang menggelora sementara tubuhnya perlahan kembali dilapisi kabut keputihan. Gelombang hawa mulai menyebar keluar dari tubuhnya. Dalam sekejap saja batas tertinggi yang dimilikinya telah terlewati. Tenaganya bertambah dua kali lipat dari semula. Seperti yang dulu pernah terjadi, kali ini pun demikian adanya. Gelombang hawa sakti yang berputaran liar dalam tubuhnya tidak lagi mampu dikuasainya. Seluruh urat syaraf ditubuhnya menegang. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya sesak. Tubuh dan pikirannya seolah tak mampu lagi dikendalikannya. Bahkan saking dahsyatnya tenaga yang menggelora hingga pemuda itu seperti kehilangan akal sehatnya.

Berlawanan dengan tenaganya yang meningkat drastis, akal sehat si anak muda ternyata menurun jauh. Tenaga dahsyat yang ditimbulkan siulannya itu selain menguasai tubuhnya, meruwetkan juga pikirannya dan membuatnya kehilangan akal. Sebelum tenaga yang menguasainya itu dikeluarkan hingga kembali dalam batasan normal, ia takkan bisa mengendalikan dirinya. Seandainya tidak sedang berada dalam kemarahan, belum tentu tenaganya dapat mempengaruhi pikirannya secepat itu. Sayang ketenangannya telah hilang berganti amarah, itulah sebabnya akal sehatnya turut tenggelam. Cuma satu yang diingatnya, mengalahkan dan menghancurkan kesombongan si kakek. Sementara itu Koay-Lo-tong sendiri mulai merasakannya. Seperti api yang dinyalakan ditengah kegelapan demikianlah yang dirasakannya saat sebentuk tenaga memancar keluar dari tengah belukar tempat si pemuda terhempas. Hehehe... akhirnya keluar juga simpanannya. Batin Lo-tong senang. Tengah asyik berpikir, tenaga yang menyeruak dari depannya meningkat naik secara mengejutkan. Lo-tong tertegun jadinya, hawa tenaga yang menyebar bergelombang seperti ini belum pernah ditemuinya. Debu dan dedaunan mulai melayang bersama rumput kering. Bahkan kerikil dan batuan kecil yang tadinya diam tak bergerak pun akhirnya mulai bergulingan perlahan. Daun dan rumpun semak disekitar si pemuda tampak bergoyang naik turun, seperti terhembus angin sepoi-sepoi. Hanya saja segala tumbuhan tersebut bergerak melawan angin yang bertiup ditempat itu. Angin dari utara datangnya, tapi... daun disitu bergerak ke arah yang berlawanan. Kalau hawa lweekangnya saja sudah mampu menggerakan segala tanaman disekitarnya, bocah ini tak boleh dibuat main main. batin Lo-tong terkejut. Melihat besarnya tenaga yang timbul dari depannya, Lo-tong pun tahu akan bahaya. Mendadak semak belukar tersebut terkuak ke samping seperti tertolak tenaga yang tidak kelihatan, lalu muncullah A Sai. Dengan gerakan kaku dan patah-patah ia berjalan menghampiri si kakek. Lo... tong... ingin... bermain? Mari... bermain... sepuasnya...! Koay-lo-tong terkesima. Tanpa sadar, bulu kuduknya meremang. Kata-kata A Sai terdengar dingin dan menyeramkan menusuk telinganya. Seperti diguyur dengan air es, itulah yang dirasakan Lo-tong saat suara si pemuda menembus pendengarannya. Mata pemuda itu bersinar terang laksana lentera dikekelaman malam. Sayangnya bagian yang seharusnya berwarna putih malah berwarna merah darah, merah dikarenakan seluruh urat darah

dimatanya timbul keluar. Sementara bagian yang hitam semakin kelam dan menakutkan. Seluruh otot wajahnya menegang kaku, bahkan saat bicara pun bibirnya nyaris tak bergerak. Seperti melihat sesosok mayat hidup sedang berkata, demikianlah yang terjadi saat pemuda itu buka suara. Sedangkan sosok tubuhnya yang jangkung, dilapisi kabut lweekang berwarna putih yang tampak melayang-layang memutari bangun tubuhnya. Hal ini membuat pakaiannya berkibar terdorong hawa tenaga saktinya sendiri, sementara rambutnya yang panjangnya sepinggang menegang sedikit kaku. Bukan saja tampang polos yang biasanya ada telah hilang, bahkan wajah si pemuda pun terlihat lebih mirip setan daripada manusia. Apalagi ditambah dengan pakaian yang berantakan dan robek dibeberapa bagian, rasanya setan pun masih jauh lebih tampan darinya. Mau tak mau, Lo-tong jadi bergidik sendiri. Ilmu setan apa yang dikuasainya? Batin si kakek, tercengang melihat keadaan si pemuda yang lain dari yang lain. Untuk sesaat Lo-tong tak mampu bersuara. Hehehe... Jangan takabur! Kau pikir kau mampu mengecoh moyangmu? kekeh si kakek, berusaha meredakan perasaan hatinya yang rada terguncang. Namun si pemuda tak menjawab perkataannya itu, bahkan ucapan Lo-tong pun seperti tidak didengarnya. Sebab sesaat kemudian sambil menggertakkan gigi ia berkata, Mari... bermain...! Begitu selesai ucapannya, tubuhnya melangkah setindak ke depan lalu tangan kanannya terayun, mengibas ke arah si kakek. Gerakannya kaku dan terlihat aneh. WUUUTTTTT!!! Seberkas tenaga melesat keluar dari lengannya dan menyebar menyerang kakek itu. Koay-lo-tong terkejut bukan main. Tenaga yang terpancar keluar dari serangan si pemuda menyebar dan menutup area seluas dua tiga tombak disekitar tubuhnya. Jarak 3 tombak yang membentang antara dirinya dan A Sai jadi kehilangan artinya. Lo-tong terperangah, untunglah ilmu silatnya telah mendarah daging hingga dalam keadaan genting begitu, tanpa disadari tubuhnya jadi bergerak sendiri menyelamatkannya dari bahaya yang mengurungnya. Sedetik telah lebih dari cukup menyadarkan kakek itu. Tak ada waktu baginya untuk terkesima dengan segala yang dilihat matanya. Kalau tak ingin kalah, ia harus dapat berpikir jernih.

Lo-tong mengumpulkan semangatnya lalu kakinya seketika bergerak lincah mengeluarkan seluruh kemampuan ringan tubuhnya. Tangannya sendiri mengembang kiri kanan menyeimbangkan gerakan tubuhnya itu. Bukan main! batin si kakek kaget, lambat sedikit saja nyaris ia terjungkal. Walau ugal-ugalan sifatnya, si kakek tidaklah bodoh. Ia sadar serangan A Sai tidaklah dapat dibuat main-main. Jika sekali saja dirinya terkena telak, bakal fatal jadinya. Apalagi melihat kuatnya hawa lweekang yang mengurungnya, tak berani si kakek berlaku ayal. Sementara untuk menangkis secara langsung, Lo-tong lebih tak berani lagi. Lweekang yang dikeluarkan lawan nyaris dua kali lipat lebih kuat dari Lweekangnya sendiri. Sama saja cari mati kalau dirinya hendak menangkis serangan tersebut. Lo-tong mengempos semangatnya. Tubuh kakek itu bergerak semakin lincah. Layaknya segumpal asap, ia melejit diantara angin serangan si pemuda sementara kakinya melangkah pendek-pendek dan aneh. Seluruh konsentrasi dan kemampuannya dicurahkan sepenuhnya untuk meloloskan diri dari setiap serangan lawan. Baru sekarang terlihat, nama besar si datuk barat, bukanlah nama kosong belaka. Lo-tong berkelebat samar menyusup diantara hawa sakti yang menggelora. Setiap gerakannya benar-benar tak dapat diduga sebelumnya. Terkadang seolah lenyap dari pandangan, dilain saat lambat seperti bergerak tak bergerak. Saat berikutnya lagi ia sudah mengapung tinggi diudara lalu mendadak berbelok ke samping dan turun bergulingan menyusur tanah. Baru juga bergulingan setindak, ia telah kembali melejit ke udara lalu turun kembali disisi yang lain. Langkahnya kadang terhuyung, dilain saat seperti berlarian. Tubuhnya bergerak seperti tidak menuruti aturan ilmu silat yang umum berlaku. Hebat benar kakek ini. Seluruh gerakannya benar-benar sulit diduga. Seperti bergerak menurut aturan Ngo-heng (lima unsur) lalu dilain saat berubah mengikuti garis Pat-Kwa. Bahkan terkadang gerakannya itu seperti pencampuran antara sifat pergerakan Ngo-heng dan Pat-kwa. Sungguh sulit menduga arah gerakannnya itu. Satu hal yang pasti, tak ada satu pun serangan A Sai yang sanggup mengenai tubuh si kakek dengan telak. Tidak mampu mengenai telak, bukan berarti tak kena. Walau telah berlaku sebat mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tak urung beberapa serangan A Sai sanggup juga menyerempet tubuhnya. Biar hanya terserempet, tapi lebih dari cukup untuk membuat si kakek jatuh bangun. Kalau bukan karena Lo-tong memiliki tubuh sekeras baja, mungkin sudah sejak tadi si kakek terkapar mampus. Lweekang setinggi ini rasanya tak ada dibulim. Siapa sih gerangan bocah ini? Batin Lo-tong pucat, beberapa bagian tubuhnya yang sempat terserempet angin pukulan lawan terasa ngilu dan nyeri.

Satu dua kali dicobanya menyerang si pemuda, tapi belum juga kepalannya menyentuh tubuh pemuda itu, ia telah dipaksa menarik kembali serangannya. Bahkan rantai emas andalannya pun tak berdaya saat dikeluarkan, sebab angin serangan lawan selalu membuat rantainya terpukul balik menyerang dirinya sendiri. Bukannya melukai, yang ada malah terluka sendiri oleh tenaganya yang membalik. Tiga kali mencoba, tiga kali gagal. Lo-tong jadi jera mengulanginya lagi. Akhirnya si kakek hanya sanggup menggunakan ginkangnya yang maha lihay itu. Ditambah dengan langkah ajaibnya... sangguplah ia meloloskan diri sampai sedemikian lamanya. Pemuda itu bahkan tak perlu lagi bergerak maju. Cukup dengan kibasan tangannya saja kakek itu sudah nyaris tak mampu meloloskan diri. Keringat dingin mulai mengalir menuruni jidat si kakek, dada dan punggungnya berkilat oleh peluh yang mengalir deras. Belum pernah seumur hidupnya ada seorang manusia yang sanggup membuatnya berkeringat dingin dalam pertempuran. Ini yang pertama kali dialaminya. Serangan A Sai keluar tanpa henti. Entah sudah berapa banyak kali Lo-tong harus bergulingan tunggang langgang menyelamatkan dirinya. Wajah dan seluruh tubuh si kakek dipenuhi debu tanah dan rerumputan bercampur keringat, rupa si kakek sudah tak karuan dipenuhi kotoran. Mungkinkah Tong-tee-jit-sian (tujuh dewa turun ke bumi) dari Mo-kau yang sedang dimainkan bocah ini? batin Lo-tong gelisah, ia menduga kalau ilmu yang digunakan A Sai adalah ilmu ajaib milik Mo-kau. Tubuh kakek itu semakin cepat berkelebat memutari A Sai. Hanya dengan berlarian seperti inilah ia dapat memaksa si pemuda menurunkan tempo serangannya. Sementara A Sai makin ganas menyerang. Hawa sakti terus berhamburan keluar dari sepasang lengannya dan mengejar bayangan Lo-tong ke mana pun si kakek melangkah. Gerakan Lo-tong yang sebatnya seperti bayangan ditambah dengan arah gerakannya yang sulit diduga dan selalu berkelebat memutari A Sai, sedikit menyulitkan pemuda itu untuk menyerang. Tapi A Sai tak peduli. Walau tak mampu melihat jelas tubuh lawan, asalkan matanya menangkap sedikit saja bayangan si kakek, segeralah tangannya mengibas menyalurkan lweekangnya keluar menyerang. Dalam sekejap saja, arena pertarungan telah porak-poranda tak beraturan. Keadaan tersebut berlangsung hampir setengah kentungan lamanya. Koay-lo-tong yang termahsyur diseluruh kolong rimba persilatan nyaris tak berkutik dihadapan seorang bocah ingusan yang entah dari mana datangnya. Kalau ada yang melihat kejadian ini, matilah aku batin Lo-tong gemas. Walau demikian, si kakek pun tak dapat berbuat apa-apa. Jangankan untuk menyerang, bertahan saja ia kelabakan. Sedangkan untuk melarikan diri dari situ ia tak sanggup. Bukan karena tak mampu meloloskan diri, tapi karena harga dirinyalah yang melarangnya pergi dari tempat itu.

Belum lagi perkelahian seseru ini baru sekali ini dialaminya. Biasanya ia yang membuat lawan kelabakan, tapi sekarang malah dirinya yang dibuat kelabakan. Hal yang seperti ini menimbulkan berbagai perasaan dalam hati si kakek dan Lo-tong sungguh salah kaprah dibuatnya. Satu hal yang pasti, si kakek pun ternyata merasa berat melewatkan begitu saja pertarungan yang ada. Tengah berlarian menghindari serangan, mendadak Lo-tong mendapat akal. Semoga saja perkiraanku tidaklah meleset. Batin Lo-tong gelisah. Tak ada waktu berpikir lebih jauh, segera saja akalnya itu dijalankan. Sudah! Sudah! Cukup! Lo-tong berkaok-kaok memancing. A Sai seolah tak mendengarnya, tenaga yang menguasai tubuhnya membuat si pemuda hampirhampir tak sanggup menguasai dirinya lagi. Otaknya buntu dan tak bisa berpikir jernih. Ia hanya bergerak mengikuti naluri dan amarahnya saja. Itulah sebabnya teriakan Lo-tong seolah masuk telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan. Tak digubrisnya sama sekali. Selain karena pikirannya kacau dipenuhi amarah, tubuhnya pun dibanjiri lweekang hingga sukar dikendalikan lagi. Hal ini membuat pemuda itu lupa diri. Jadilah si kakek terus dihajar tanpa henti. Keterlaluan! teriak Lo-tong keras. Masakan soal sekecil ini kau simpan dalam hati? sambung si kakek lagi. DHESSSSS! Teriakannya itu membuat gerakan Lo-tong jadi melambat, tak ayal serangan si pemuda yang berikutnya telat dihindarinya. Kali ini, hawa lweekang yang menyambar telak menghajar Lotong. Darah muncrat seketika dari mulutnya sedangkan tubuh si kakek terlempar seperti daun kering tertiup angin, dua tombak jauhnya lalu jatuh tunggang langgang ditanah. Ughhh! si kakek mengerang lirih lalu diam tak bergerak. Gerakan pemuda itu jadi terhenti sesaat. Dengan mata merah membara, ia menatap tubuh Lotong yang terbaring diam tiga empat tombak dari tempatnya berdiri. Cukup lama ia tertegun. Selang beberapa saat, ia lalu melangkah kaku mendekati Lo-tong. Setelah berada selangkah didepan kakek itu, ia berhenti sejenak memperhatikan kondisi si kakek. Hehehe kena kau! batin Lo-tong. Sekonyong-konyong si kakek bergerak menyerang dari bawah. Rantainya menyambar melingkar mengarah punggung A Sai seperti naga menyabetkan ekornya sementara kepalan kanannya pun menyusul kemudian menyodok dada si pemuda. Tipu gerakannya ini sungguh lihay dan sulit dihindari sebab jarak satu langkah yang terpaut antara dirinya dan A sai, membuat pemuda itu tak menduga serangan tersebut akan dilancarkan si kakek yang jelas-jelas sudah tak bergerak ini.

Walaupun A Sai lihay tenaga dalamnya, tapi orangnya sendiri sangat polos. Kurang pengalaman dalam bertarung, jadi akal si kakek mana mungkin diduganya? Itulah sebabnya serangan tersebut dengan jitu menyabet tubuhnya. Saking panjangnya rantai emas Lo-tong hingga sekaligus menyabet punggung lalu melingkar turut menyabet dada juga. Lotong menjadi girang hatinya melihat serangannya membawa hasil, tapi kegirangan si kakek terlalu cepat datangnya. Rantainya begitu membentur tubuh si pemuda seketika membalik lalu menyabet dirinya sendiri dengan kecepatan luar biasa. Kalau Lo-tong tak segera bergerak menghindar, dijamin ia bakal benar-benar terbaring dan tak sanggup bangun lagi. Sebat si kakek menahan pukulan susulannya dan bergulingan ke kanan lalu melompat mundur. Wajah pemuda itu jadi makin menyeramkan, serangan Lo-tong barusan membuat kemarahannya semakin berkobar. Masih juga tubuh Lo-tong mengambang diudara, angin serangan yang mengandung hawa lweekang kuat menyambar keluar dari kedua lengannya. Celaka! pekik Lo-tong terkejut. Rupanya melihat si kakek hanya berpura-pura dan telah membokong dirinya, si pemuda jadi tambah marah. Segera saja ia kembali mengerahkan lweekangnya menyerang kakek itu. Untunglah si kakek bertindak sebat, jika tidak nyawanya mungkin tak akan tertolong lagi. Masih ditengah udara, mendadak Lo-tong melenting berbelok dari arahnya semula. Dengan demikian luputlah dirinya dari serangan A Sai. Tapi mana si pemuda mau melepaskannya begitu saja? Belum juga angin serangannya itu diketahui pasti atau tidak mengenai tubuh lawan, ia sudah menyusulkan serangan lanjutan menghantam tubuh lotong yang masih mengapung di udara. Serangannya bergelombang datang, susul menyusul tanpa henti. Serangan yang satu masih ditengah jalan, serangan yang berikutnya telah menyusul. Lo-tong menjerit kaget. Serangan lawannya kali ini bahkan jauh lebih berbahaya dari sebelum-sebelumnya. Selain karena kecepatannya meningkat, kekuatannya pun seolah bertambah. Bahkan tempo serangannya pun susul menyusul tanpa ada jeda sedikitpun. Haittt. Lo-tong mengempos seluruh semangat dan tenaga, lalu memaksakan diri berkelebat makin cepat. BRAKKKKKK! Sebatang pohon sebesar 4 pelukan orang dewasa dibelakang si kakek langsung patah terhajar hawa sakti si pemuda. Wajah Lo-tong makin memucat. Nyaris saja ia terlambat. Kalau sampai serangan tadi mengenai tubuhnya, ia tak tahu bagaimana jadinya.

Keringat dingin makin deras mengaliri wajah kakek itu, Terulang lagi kejadian yang sebelumnya terjadi. Si kakek kembali mengandalkan ginkangnya melejit berputaran mengelilingi si anak muda sementara hawa lweekang si pemuda mengejar kakek itu kemana pun ia melangkah. Bocah lihay. Kalau begini terus, tulang-tulangku takkan sanggup bertahan lagi. batin lo-tong dalam hatinya. Terserempet beberapa serangan lawan ditambah telah menerima satu pukulan telak, ternyata cukup mengguncang jago tua ini. Sedikit demi sedikit, si kakek mulai merasakan akibatnya. Tapi walau mulai kepayahan mana kakek ini mau menyerah? Semakin ulet lawannya, semakin penasaran si kakek jadinya. Ibarat jahe, makin tua makin pedas. Apalagi jahe tua yang aneh seperti Lo-tong? Agaknya bermain-main dengan maut tak membuatnya gentar sama sekali. Yang ada bukannya takut, ia malah semakin merasa tertantang. Pertarungan seramai ini belum pernah ditemuinya dan hal inilah yang membuatnya jadi semakin bersemangat. Mungkin pikirnya dalam sisa hidupnya yang tinggal sedikit ini, akan sulit baginya menemukan pertarungan sehebat saat ini. Itulah sebabnya walau kewalahan, Lo-tong malah makin semangat. Bocah edan! Kau boleh juga! si kakek berteriak nyaring ditengah kesibukannya. Hayo keluarkan seluruh kemampuanmu! A Sai tak menjawab, hanya kedua lengannya yang sibuk bekerja. Tubuh si kakek tak pernah berhenti bergerak sementara hawa sakti pemuda itu tak sedikit pun surut menghantam. Sudah lewat satu kentungan berlalu namun keadaan dalam arena pertarungan masih juga tidak berubah. Yang muda menyerang gencar sedangkan yang tua selalu berkelebat menghindar. Kalau begini terus, bisa berabe jadinya. Harus cari akal lain pikir Lo-tong. Seorang pesilat bagaimana pun saktinya takkan mampu melawan usia tua. Demikian pula Koaylo-tong, walau kesaktiannya menggetarkan langit tapi usianya pun tidak lagi muda. Usianya telah melewati delapan puluh tahun otomatis stamina dan nafasnya telah berkurang. Apalagi seorang ahli Gwakang yang mengandalkan kekuatan luarnya, usia tua sangat berpengaruh baginya. Tidak seperti seorang ahli Lweekang yang makin tua walau fisik menurun tapi Lweekangnya justru makin terasah. Sebaliknya seorang ahli Gwakang yang mengandalkan kekuatan fisiknya tidaklah demikian. Setelah melewati usia 50-60 tahun, Gwakangnya malah makin menurun. Menurut teori jika telah mencapai puncak, antara Gwakang dan Lweekang tidak lagi dapat dibedakan. Sayangnya tidak semua orang sanggup mencapai tingkatan yang demikian. Tidak juga Lo-tong.

Sementara itu pertarungan mereka telah nyaris dua kentungan berlangsung. Perlahan namun pasti, nafas kakek itu mulai memburu. Apalagi Lo-tong yang sejak mula mengerahkan seluruh kepandaiannya ringan tubuhnya? Gerakan seperti ini selain menguras banyak tenaga juga membutuhkan kekuatan nafas yang tidak sedikit. Hal ini menyebabkan staminanya jadi jauh lebih cepat berkurang daripada jika ia bertarung dalam keadaan tenang. Apalagi lukanya pun tidaklah ringan. Itulah sebabnya lambat laun kondisi si kakek semakin menurun. Gerakannya pun jauh berkurang kelincahannya. Syukurlah tenaga dalam yang membanjir ditubuh A Sai pun telah berkurang banyak. Sebab sama seperti Lo-tong yang mengerahkan seluruh tenaga untuk menghindar, demikian juga si pemuda mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyerang. Dengan mengumbar tenaga seperti ini, tenaganya jadi lebih cepat berkurang jadinya. Apalagi A Sai pun tak tahu bagaimana memanfaatkan tenaganya itu dengan baik maka beruntunglah Lo-tong. Selama sebulan terakhir pemuda itu telah belajar penguasaan lweekang, itu sebabnya tubuh si anak muda pun dapat lebih bertahan terhadap tenaga dalam tubuhnya itu. Tapi kemampuannya ini belumlah cukup dipakai mengendalikan kedahsyatan tenaganya itu. Satu hal yang kini diketahui A Sai dengan pasti. Setiap serangan yang dikeluarkannya ternyata membuat tubuhnya jadi terasa lebih enak. Makin banyak ia menyerang, makin berkurang pula tenaga yang mendesak-desak dalam tubuhnya. Seiring dengan makin berkurangnya tenaga sakti dalam tubuhnya, makin jernih pula jalan pikiran A Sai. Sedikit demi sedikit, ia mulai sadar kembali dengan keadaan disekelilingnya. Dan akhirnya setelah dikeluarkan tanpa henti lebih dua kentungan lamanya, habislah kelebihan tenaganya. Pemuda itu pun dapat lagi mengendalikan dirinya. Tanpa sadar, pemuda itu bergidik ngeri dan takjub. Empat limat tombak disekitarnya rusak parah. Tak ada satu pohon pun yang tetap utuh. Tak ada batu yang tetap berdiri ditempatnya. Pecahan dan serpihan kayu bertebaran disekitarnya. Sisasisa semak dan belukar pun memenuhi tanah. Bahkan dibeberapa tempat, tanah dan rerumputan tampak terbongkar keluar seperti baru habis dibajak. Bertanding sekian lama tidak membuat lukanya bertambah parah, malah badannya jadi lebih segar dari sebelumnya. Bahkan rasa sakit yang melilit perutnya pun nyaris tak terasa lagi. Satu hal yang tidak disadari si pemuda, peningkatan tenaganya itu rupanya mempercepat proses penyembuhan luka dalam tubuhnya. Cedera yang normalnya sembuh dalam seminggu, jadi sembuh dalam sejam dua jam saja. Apalagi saat tenaganya ditingkatkan untuk kedua kalinya, proses yang seharusnya terjadi dalam sejam dua jam jadi makin cepat jadinya. Kalau diibaratkan cederanya ada delapan bagian, maka setelah meningkatkan tenaganya sekali, lukanya jadi tinggal empat bagian. Dan setelah meningkatkannya untuk kedua kali, lukanya bahkan tersisa satu bagian saja. Itulah sebabnya cedera yang diderita si pemuda jadi berkurang jauh. Sementara Lo-tong masih tetap berkelebat ringan mengitarinya, hanya saja gerakannya sudah

semakin lemah. Bertarung selama lebih dari dua kentungan telah menguras banyak tenaga dan daya tahan tubuh kakek itu. Tubuh Lotong yang sebelumnya selalu tampak samar, sekarang gerakannya mulai dapat terlihat oleh A Sai. Bahkan raut wajah si kakek pun dapatlah dilihatnya sekali-sekali. Melihat darah tampak menetes membasahi dagu dan sebagian wajah Lo-tong, A Sai mengerutkan keningnya. Kapankah Lo-tong terluka? Apakah seranganku ada yang mengenainya? pemuda itu tercekat hatinya. Kekacauan pikirannya tadi membuat si pemuda tidak ingat lagi dengan jalannya pertarungan. Hanya saja ia dapat menduga kalau memang demikianlah yang terjadi. Untuk sesaat ia meragu, tak tega juga hatinya melihat keadaan Lo-tong. Perlahan, amarahnya mulai hilang berganti iba. Serangannya pun makin surut, tidak lagi dilancarkan seperti gelombang samudra tapi mulai dilakukannya satu dua kali secara terukur. Bocah lihay! Permainan kita sedang asyik-asyiknya, masakan kau sudah ingin berhenti? teriak Lo-tong, nafasnya yang memburu tak diperdulikannya sama sekali. Agaknya kakek ini merasa penasaran karena sudah sekian lama tak juga dapat menangkan A Sai. Maka saat dilihatnya lawan mengurangi serangan dan tenaganya, segera saja Lo-tong berkaok-kaok gusar. Saat lawan bersungguh hati ingin menjatuhkannya, walau gelisah tapi hatinya senang. Tapi disaat lawan tak tega melihat keadaannya dan berniat menyudahi pertarungan, ia jadi gusar dan tak senang. Rupanya Lo-tong pantang dikasihani. Sama seperti pesilat lain, sedikit banyak tinggi juga harga dirinya. Hanya saja A Sai sudah surut amarahnya. Biar bagaimana pun juga, kakek ini adalah angkatan tuanya. Apalagi dilihatnya si kakek sudah terluka dan jelas terlihat kepayahan menghindari serangannya. Kalau dilanjutkan terus, sudah pasti si kakek bakal tak tahan. Kemungkinan salah tangan besar sekali dan ia tak berani membayangkan kalau ia sampai salah tangan. Bukankah Kongkongnya pun pernah berpesan sedapat mungkin jangan mengambil nyawa lawan? Apalagi dipikirnya Lo-tong telah cukup mendapatkan pelajaran. Berpikir sampai disini, kemarahan pemuda itu akhirnya padam sama sekali. Lo-tong! Kita sudahi saja sampai disini! katanya cepat, kedua lengannya pun berhenti menyerang. Lo-tong terkesiap sesaat, lalu ikutan berhenti. Tapi matanya mendelik ganas pada si pemuda. Kalau pertarungan dihentikan sekarang, kan sama saja mengaku kalah dan menerima belas kasihannya. Hendak ditaruh dimana mukaku nanti? pikir Lo-tong gemas. Apalagi dirinya sudah jelas terluka sedangkan A Sai dilihatnya masih segar bugar. Tentu saja jika ada orang yang melihat pertarungan mereka, orang itu pastinya akan mengatakan bahwa dirinyalah yang kalah. Sedangkan terlukanya A Sai oleh pukulannya itu tak diketahuinya sama

sekali, itu sebabnya ia menganggap dirinya sendiri yang terluka dan si pemuda masih sehat tak kurang suatu apa. Enak saja kau ngomong! Sampai moyangmu bilang selesai, baru selesai! Si kakek berteriak gusar. Hayo, kita lanjutkan lagi! Begitu ucapannya selesai, Lo-tong langsung melejit menerjang A Sai. A Sai tersentak kaget, walau sudah terluka tapi kecepatan si kakek masih juga tak mampu ditandinginya. Pukulan Lo-tong berkelebat cepat menghajar jalan darah dibahu kanan si anak muda. Dhesssss! A Sai tergetar tapi tak beranjak sejengkal pun dari tempatnya berpijak. Malah Lo-tong yang terpental mundur. Darah kembali muncrat dari mulut si kakek. Benturan diantara keduanya semakin memperparah cedera dalam tubuh kakek itu. Sebaliknya serangan si kakek sama sekali tak mampu melukai lawannya yang masih belia itu. Tenaga si kakek telah berkurang banyak ditambah lagi dirinya pun sudah terluka, hal ini menyebabkan jurus serangannya itu berkurang pula kedahsyatannya hingga Cuma tersisa setengah dari yang biasanya. Dengan tenaga yang sisa setengah itu, mana mungkin kakek itu sanggup melukai si pemuda? Yang ada bukannya melukai tapi malah makin cedera terkena tenaga dalamnya yang membalik. A Sai mengerutkan keningnya. Tak pernah diduganya si kakek akan berkeras seperti ini. A Sai jadi rada gugup juga melihatnya. Kalau dilanjutkan terus, cedera kakek ini akan semakin parah jadinya. Bukan mustahil pada akhirnya Lo-tong bakalan celaka ditangannya. Lo-tong! Kita akhiri saja! bujuk A Sai halus. Tapi mana Lo-tong mau mendengar perkataan si anak muda? Walau sudah parah terluka, si kakek tak mau undur sedikit pun jua. Sambil menggertakkan gigi menahan sakit, Lo-tong kembali menyerang. Hanya saja kali ini gerakannya sudah tidak teratur lagi, lambat dan kurang bertenaga. Waduh... harus mengatur tenaga sebaik mungkin. Jangan sampai Lo-tong jadi semakin terluka. Pikir si pemuda cepat. Lo-tong langsung main tabrak, gayanya sudah mirip banteng mengamuk. Gerakannya pun sudah tidak mirip dengan jurus silat apa pun juga. Asal main seruduk saja sedangkan tangannya teracung serabutan menyerang kalang kabut.

A Sai berlaku waspada. Jurus silat apaan ini? batin A Sai keheranan, bergegas ia mengelak ke kanan. Begitu sasarannya menggeser posisi ke kanan, Lo-tong pun merubah arah ditengah jalan. Dengan gerakan terhuyung, kakek itu terus mengejar. Hal ini membuat serangannya tetap saja mengancam tubuh si pemuda. Sebat si pemuda kembali melangkah setindak ke samping. Dhesss! kembali tinju kiri Lo-tong yang berlapiskan rantai emas mendarat ditubuh si anak muda. A Sai terkejut, tak menyangka serangan Lo-tong berhasil mengenainya. Ehh? Kenapa bisa kena? batinnya keheranan, rasa sakit akibat pukulan Lo-tong dibiarkannya saja sebab otaknya sedang berada ditempat lain. Saat ini ia menang kecepatan. Luka Lo-tong agaknya tidak ringan hingga kecepatan si kakek bahkan sudah berada dibawah dirinya. Apalagi tadi sudah jelas serangan si kakek pastilah meleset, kenapa disaat terakhir masih bisa mengenai tubuhnya? A Sai tak habis pikir. Hmm, benar-benar tak masuk diakal. Jangan-jangan ada suatu rahasia dibalik gerakannya yang tak karuan itu. pikir A Sai sesaat. Sementara si kakek masih terus menyerang. Bahkan kekeh tawa mulai terdengar dari mulutnya, sedangkan tangannya tak pernah berhenti terulur dan menggapai. Hehehe... jangan samakan moyangmu dengan orang lain! jengek Lo-tong, puas juga hatinya melihat air muka A Sai yang berubah pucat. Lo-tong tahu pukulannya itu takkan dapat menjatuhkan lawannya. Itu sebabnya disaat melihat wajah lawan berubah tercengang, rasa gusar dihatinya jadi sedikit terobati. Sekarang baru kau kenal kelihayan moyangmu. Batin Lo-tong puas. Kejadian barusan kembali terulang. Walau sudah berusaha mengelak, tetap saja serangan Lotong mampir ditubuhnya. Dan yang membuat A Sai terpana ialah serangan musuh masih bisa mengenainya disaat ia yakin serangan tersebut sudah pasti meleset. Untunglah setiap serangan kakek itu karena sudah berkurang banyak tenaganya, tak mampu lagi melukainya. Paling banyak hanya menimbulkan rasa sakit saja, tapi tak mampu mencederai sebelah dalam tubuhnya. Apalagi kulit, otot dan tulangnya pun kuat luar biasa, itulah sebabnya serangan si kakek jadi kehilangan artinya. Dari keheranan, A Sai berubah penasaran.

Ia yang disamping kerepotan mengelak, harus pula membatasi diri agar tenaganya tidak berlebihan dalam menahan serangan Lo-tong. Selain itu ia pun haruslah membagi perhatiannya memecahkan keanehan yang dialaminya saat ini. A Sai mengempos semangat memusatkan pikirannya pada gerakan Lo-tong. Saat si kakek kembali menyerang, diperhatikannya baik-baik setiap gerakan Lo-tong, tak ada satu gerakan pun yang terlewat dari matanya. Dhesss! kembali pukulan Lo-tong menghajar punggungnya. Mungkinkah demikian? renung si pemuda, pukulan si kakek kembali tak dihiraukannya. Ia malah semakin asyik putar. Untunglah gerakan kakek itu telah semakin melambat hingga ia dapat dengan jelas mengamati setiap perubahan gerakan lawan. Sementara Lo-tong makin kesetanan. Berturut-turut empat lima pukulan dan tendangan mendarat ditubuh si pemuda. Tapi hasilnya tetap saja nihil. Kekeh tawa Koay-lo-tong mulai lenyap. Beberapa kali serangannya sama sekali tak berarti bagi lawan. Bahkan lawan seolah menganggap sepi semua serangannya. Pun ia dapatlah melihat kalau si anak muda sudah tidak lagi bersungguh hati menghadapinya. Sesaat tampak serius mengamati, dilain saat seperti lebih banyak melamun dari pada melayaninya. Lo-tong jadi gemas dibuatnya berbareng timbul kekaguman dalam hatinya. Si kakek menyerang kembali dan bisa diduga, serangannya kembali mendarat mulus diatas tubuh lawan. Lo-tong hebat! puji si pemuda tulus sambil mengusap-usap bahunya yang panas dan perih kena pukulan. Senyum kakek itu kembali terbit, senang hatinya mendengar pujian si anak muda. Saat Lo-tong kembali menyerang, A Sai mulai mendapat petunjuk atas keanehan serangan lawan. Setelah diperhatikan baik-baik selama sekian waktu, gerakan tangan Lo-tong yang tampaknya kacau balau itu ternyata mengandung berbagai perubahan yang sulit diduga. Gerakan kedua lengannya yang seperti menggapai dan meraba tak beraturan, pada detik-detik terakhir dapat berubah menjadi pukulan, totokan, cengkeraman, serangan telapak tangan dan sebagainya. Sifatnya pun bukan hanya menjotos, tapi bisa jadi menotok, mengemplang, mengibas, membetot dan membanting.

Tapi rahasia semua keanehan itu kelihatannya justru terletak pada pergerakan kaki si kakek. Langkahnya bahkan jauh lebih aneh dari pada ilmu langkah ajaib yang tadi perlihatkan kakek itu. Sepertinya keberhasilan serangan Lo-tong malah terletak pada pergeseran kuda-kudanya. Sebab disaat serangan Lo-tong sudah pasti takkan mengenai lawan, kaki kakek itu mendadak menggeser maju sejengkal. Bahkan pergeseran kakinya itu sedemikian halusnya hingga kalau tidak diperhatikan dengan seksama, susah untuk melihatnya. Kakinya tidak melangkah seperti layaknya pergeseran kuda-kuda dalam bertarung, tapi menggeser begitu saja tanpa merobah kuda-kudanya sama sekali. Jadi si kakek seolah meluncur maju begitu saja diatas tanah. Apalagi kedua lengannya pun tak pernah diam bergerak serabutan, otomatis perhatian lawan akan lebih tercurah untuk mengamati lengannya. Mau tak mau, kagum hati si pemuda. Tunggu sebentar kek! Sambil melompat mundur setombak ke belakang, pemuda itu berteriak. Lo-tong melotot sesaat, tapi menghentikan serangannya. Ada apa lagi sekarang? tanya si kakek cepat. Ilmu ini apa namanya? tanya pemuda itu penuh kagum. Dasar A Sai yang selalu ingin tahu, rupanya saking kagumnya hingga ia tak dapat lagi menahan diri untuk bertanya. Lo-tong tertegun sesaat, lalu perlahan tawanya kembali terdengar. Huahahaha... rupanya kau kenal juga kelihayan moyangmu! kata si kakek dalam tawanya. Memang lihay sekali! jawab si pemuda jujur. Senang juga hati Lo-tong dipuji demikian. Layaknya seorang bocah, si kakek segera menjawab penuh semangat. Ilmu ini moyangmu kasih nama Ngo-heng-koay-hoat (ilmu aneh lima unsur). Jawab si kakek sambil terus terkekeh, bangga sekali tampaknya. Aneh benar namanya... Ehh, apakah Lotong yang menciptakannya? tanya si pemuda polos. Lo-tong makin terbahak senang. Kau pintar juga. Memang Ngo-heng-koay-hoat moyangmu yang menciptakannya. Hehehe... tidak kecil rejekimu bisa melihatnya! Diam-diam si kakek merasa puas juga mengetahui ilmu silat ciptaannya ini ternyata mampu mengatasi lawan yang lebih kuat darinya. Ya... A Sai memang beruntung! jawab si pemuda sambil tersenyum simpul.

Nah sekarang agar kau lebih beruntung lagi, biar moyangmu perlihatkan kembali kelihayan Ngo-heng-koay-hoat! kata si kakek bangga, berbareng ia bergerak menyerang. Sebenarnya Ngo-heng-koay-hoat ini khusus diciptakan si kakek untuk menandingi Sin-liongkiam-hoat nya si dewa obat. Bahkan ilmu ini pun baru dikeluarkan Lo-tong kali ini saat menghadapi A Sai. Biasanya cukup dengan Ginkang dan tenaga gajahnya serta langkah ajaib, ia sudah dapat menangkan lawan-lawannya. Tapi ia terluka lumayan parah saat menghadapi A Sai, hingga Ginkang dan Gwakangnya tak lagi bisa diandalkannya. Itulah sebabnya ilmu andalannya Ngo-heng-koay-hoat terpaksa dimainkan. Perhatian pemuda itu kembali tercurah. Selain mengawasi berbagai perubahan yang dikeluarkan sepasang tangan si kakek, matanya pun tak pernah lepas mengamati langkah lawan. Gerakan tangan Lo-tong melambai-lambai tak tentu arahnya. Bisa mengarah bagian tubuh lawan yang mana saja. Baru sekarang ia melihat jelas perbedaan serangan Lo-tong dengan serangan yang dilancarkan orang lain. Sewaktu menyaksikan pertarungan antara Yok-sian kongkongnya dengan Tok-seng-sianli dahulu kedua tokoh itu tak sebarang mengeluarkan serangan. Disaat lawan telah hampir masuk ke dalam jarak jangkauan barulah mereka menyerang dan mengeluarkan tipu serangan. Tapi Lo-tong beda lagi. Jarak masih terpaut enam tujuh langkah tapi si kakek sudah sibuk sendiri mengeluarkan segala perubahan jurusnya yang aneh bin ajaib itu. Gerakan Lo-tong yang seperti orang gila menyerang udara kosong itu makin membuat A Sai yakin dengan dugaannya semula. Sepertinya Lo-tong sejak awal sengaja menggerakan tangannya secara demikian, tentunya untuk membuyarkan konsentrasi lawan, dan memaksa lawan mencurahkan seluruh perhatian pada pergerakan tangannya itu. Pastilah ada sebab hingga Lo-tong berlaku demikian. Hmmm... tadinya kukira disitulah letak kelihayan ilmunya, tapi ternyata rahasia kelihayan ilmunya ini justru terletak pada pergeseran kakinya. Rupanya segala gerakan tangannya itu selain memang lihay bukan main juga dimaksudkan untuk menutupi perubahan kuda-kudanya. Batin si pemuda dalam kesibukannya. Saat Lo-tong kembali menyeruduk maju disusul dengan kedua lengannya yang melambai-lambai berubah menjadi cengkeraman ke leher dan sodokan ke perut, A Sai berlaku sebat menggeser diri setindak ke kiri. Kali ini ia mencurahkan seluruh perhatiannya pada pergerakan kaki lawan. Tangan si kakek tak lagi dipedulikannya. Benar saja dugaannya. Sudah jelas kedua macam serangan itu takkan mungkin mencapai dirinya. Tapi disaat terakhir cengkeraman dan sodokan tersebut kembali berubah menjadi gerakan melambai seperti hendak meraba-raba tubuhnya. Tapi dibalik semua itu, dilihatnya secara aneh kaki si kakek menggeser setindah jauhnya diatas tanah tanpa merubah kuda-kudanya, seolah-olah dikaki si kakek ada rodanya. Akibat pergeseran kuda-kudanya itu, tubuh si pemuda kembali masuk kedalam

jangkauan kedua lengan Lo-tong dan gerakan melambai si kakek pun lalu berubah kembali menjadi serangan kilat menghantam pundak dan pinggang si pemuda. Dhuakkk! Dhesssss! Serangan Lo-tong dengan jitu menghantam A Sai. Sebaliknya karena tak ingin melukai si kakek, pemuda itu sengaja mengikuti benturan yang terjadi dan membiarkan tubuhnya kembali terpental mundur. Rupanya begitu! batin A Sai senang, rasa sakit dan perih akibat kepalan Lo-tong kembali tak diacuhkan. Sambil menggosok-gosok bagian tubuhnya yang sakit, pemuda itu mencurahkan seluruh perhatiannya pada gebrakan yang baru saja terjadi. Dicobanya mengingat-ingat segala gerakan Lo-tong barusan. Agaknya ia sedang berusaha mencari cara pemecahan ilmu andalan kakek ini. Tapi biar bagaimana pun ia putar otak, tetap saja tak ada akal yang bisa digunakannya. Palingpaling ia hanya bisa mengandalkan lweekangnya mengalahkan si kakek. Mau tak mau, A Sai jadi tambah kekagumannya akan kemampuan si kakek, yang sanggup menciptakan ilmu silat selihay Ngo-heng-koay-hoat ini. Sementara Lo-tong sendiri sudah semakin kepayahan. Setelah habis menyerang, ia berhenti sejenak untuk menarik nafas, tak mampu lagi dirinya menyerang secara terus-menerus. Lukaku tidak ringan... Sebelum benar-benar tak mampu bergerak, harus segera kuselesaikan pertarungan ini. batin si kakek, sadar dengan keadaan dirinya yang semakin memburuk. Tapi... dapatkah kukalahkan bocah ini? batinnya mulai sangsi. Sementara si bocah pun sedang berpikir hal yang sama. Melihat keadaan si kakek yang semakin tak menentu, ia pun mengambil keputusan untuk menyudahi pertarungan secepat mungkin. Ternyata pikiran keduanya sama benar, walau alasannya berbeda satu sama lain. Lo-tong berusaha menghimpun tenaga. Sambil membuang waktu, diajaknya si bocah bicara. Hehehe... bagaimana kelihayan Ngo-heng-koay-hoat moyangmu dibandingkan dengan Sinliong-kiam-hoat gurumu? tanya Lo-tong, jelas-jelas tampak bangga. A Sai berpikir sejenak lalu buka suara, Hmm, sebenarnya A Sai tak pantas memberikan penilaian! Mendengar keraguan si pemuda, Lo-tong jadi mendelik gemas. Omong kosong! Kau kan sudah mencicipi kelihayan jurusku... Sin-liong-kiam-hoat pun kau ketahui. Kenapa kau tak pantas memberikan penilaian? Sudah, tak usah mengelak lagi, jawab saja pertanyaan moyangmu! kata Lo-tong tak puas.

Setelah ragu sesaat, akhirnya A Sai pun berkata, Sin-liong-kiam-hoat banyak bertahannya sedangkan Ngo-heng-koay-hoat banyak menyerangnya... Bocah tolol! Jawaban apa itu? Masa hanya itu saja yang kau ketahui? Kedua ilmu ini tidaklah sesederhana itu! damprat Lo-tong dengan wajah merah padam, bukan jawaban seperti itu yang ingin didengarnya. A Sai tersenyum. Benar... keduanya memang lihay bukan main. Penuh dengan perubahan-perubahan gaib yang sulit untuk dinalar. Kata A Sai pelan, sengaja mengangkat si kakek. Si kakek kembali besar kepala. Rasa bangga menyesakkan dadanya. Sambil tertawa terkekehkekeh ia mengangguk-angguk senang. Benar! Benar! Bocah bagus, menurutmu kalau diadu, manakah yang lebih unggul? Sin-liongkiam-hoat ataukah Ngo-heng-koay-hoat? kejar Lo-tong lagi. Ehh... kalau itu, rasanya agak sukar untuk diketahui. Sebab... sebab keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing! Senyum lebar si kakek lenyap seketika, matanya melotot besar ke arah A Sai. Sembarangan! Ngo-heng-koay-hoat ku ini sempurna! Sifat dan pergerakannya tak mungkin diduga lawan. Tak ada kekurangannya dan tak ada kelemahannya sama sekali! raung Lo -tong keras, matanya jadi tambah lebar melotot. Si pemuda tetap bersikap tenang. A Sai pikir tidak demikian! bantahnya. Phuihh! Kau bocah ingusan ini tahu apa? Jaga mulutmu kalau ngomong! bentak si kakek. Mana A Sai berani bicara sembarangan? A Sai hanya mengatakan apa yang A Sai lihat tadi! bantah pemuda itu. Lo-tong tak menjawab, hanya sorot matanya dari gusar mulai berubah tak percaya, lalu berubah lagi ingin tahu. Kalau Lo-tong tak percaya... Baiklah! Akan A Sai katakan! katanya. Dalam beberapa jurus tadi, A Sai dapatlah melihat kelebihan Ngo-heng-koay-hoat. Harus A Sai akui, ilmu Lo-tong benar lihay! Tapi ilmu ini pun ada kekurangannya, dan kekurangannya justru terletak pada perubahan kuda-kudanya! lanjut si pemuda lagi. Wajah Lo-tong mulai berubah.

Betulkan kata-katanya itu? Benarkah hanya dalam beberapa gebrakan saja bocah ini mampu melihat kelebihan dan kekurangan Ngo-heng-koay-hoat? batin Lo-tong sangsi, hanya saja perkataan A Sai itu mulai membuatnya penasaran. Coba katakan! tantang Lo-tong sesaat kemudian. A Sai tambah tersenyum, lalu dengan suara sungguh-sungguh ia berkata, Kelebihan Ngo-hengkoay-hoat terletak pada... Maka diceritakannyalah hasil pengamatannya tadi. Tentang kelebihan ilmu si kakek yang terletak pada pergerakan tangan dan kakinya, serta tentang kelemahan jurus si kakek yang juga terletak pada pergeseran kuda-kudanya yang nyaris tak terlihat itu. Kontan si kakek jadi melongo, niatnya untuk memberi komentar pedas dilupakannya seketika. Menurut Suhu, dalam bertarung kelebihan bisa jadi kekurangan, sebaliknya kekurangan pun bisa jadi kelebihan kita! Tinggal tergantung pada siapa lawan kita, situasi dan kondisi saat bertarung, dan sebagainya! pemuda itu menutup penjelasannya. Lo-tong tertegun. Ternyata apa yang diduga pemuda itu walau tidak benar seluruhnya, tapi paling tidak tujuh delapan bagian sifat Ngo-heng-koay-hoat bisa ditebaknya. Apalagi, analisanya itu masuk akal dan sedikit luar biasa, luar biasa karena dikatakan oleh seorang anak usia lima belasan. Terbukalah mata Lo-tong dan ia pun mulai menyadari beberapa celah dalam Ngo-heng-hoayhoat yang selama ini tidak disadarinya. Maka tercenganglah hati Koay-lo-tong karenanya. Kau... kau... dari mana kau tahu? tanya Lo-tong tergagap, tak pernah diduganya ilmu silatnya yang paling lihay bisa langsung ditebak orang sedemikian mudahnya dalam penampilan perdananya. Kalau bocah yang masih setengah jadi ini saja mampu menebak semudah itu, apalagi Yoksian, Tok-seng-sianli dan pendekar-pendekar berpengalaman lainnya? Bukankah mereka akan langsung menebak kelemahan ilmunya ini seketika? Bukankah hal ini juga berarti kalau Ngoheng-koay-hoat pada hakekatnya terlalu polos dan rendah tingkatannya? Kalau ilmunya ini dalam beberapa saat saja sudah berhasil ditebak sifat dan pergerakannya oleh lawan... bagaimana tipu serangannya bisa berhasil lagi? Berpikir sampai disini, lemaslah hati si kakek. Hilanglah hasratnya untuk bertarung. Lo-tong tak tahu bahwa ilmunya ini berhasil ditebak si pemuda bukan karena Ngo-heng-koayhoat terlalu rendah tingkatannya, tapi lebih karena bakat si pemuda memang tidaklah rendah. Pun ditambah dengan sedikit keberuntungan, jadilah sifat ilmunya itu berhasil ditebak si pemuda. Otaknya yang mampu mengingat secara luar biasa ditambah dengan kemampuannya berkonsentrasi dibawah tekanan hebat, masih ditambah lagi dengan kelebihan-kelebihan panca inderanya yang lain, hal inilah yang membuat Ngo-heng-koay-hoat berhasil dipecahkan pemuda itu.

Coba saja seandainya daya tahan dan tulang belulang serta otot si pemuda tidak kuat luar biasa, atau kulitnya tidaklah kebal, bukankah sudah sejak tadi ia terluka bahkan mampus oleh pukulan dan senjata Lo-tong? Coba saja kalau otaknya tumpul, bukankah segala gerakan dan perubahan jurus Lo-tong tak mampu diingatnya? Seandainya matanya tidaklah setajam rajawali, belum tentu ia dapat melihat segala pergerakan Ngo-heng-koay-hoat yang dimainkan Lo-tong. Kalau dirinya tak mampu berkonsentrasi dibawah tekanan, bukankah pemuda itu bakal gugup dan kelabakan hingga takkan bisa lagi berpikir? Bisa jadi ia malah sibuk mengelak hingga tidak sempat lagi memperhatikan segala perubahan jurus Lo-tong. Semua itu masih ditambah lagi dengan sedikit keberuntungan. Keadaan Lo-tong yang kepayahan membuat kecepatan dan tenaganya berkurang jauh. Dengan demikian Ngo-heng-koay-hoat yang dimainkan Lo-tong jadi berkurang kecepatan dan kedahsyatannya. Jadinya si kakek seolah bukan lagi menyerangnya, tapi lebih seperti sedang memperagakan jurus-jurusnya itu untuk dinilai oleh A Sai. Dalam keadaan si kakek yang kepayahan saja A Sai masih juga kena dihajar dan butuh waktu sekian jurus baginya untuk mengetahui sifat Ngo-heng-koay-hoat. Coba seandainya si kakek belum terluka atau sejak mula telah mengeluarkan ilmunya yang lihay itu, sudah pasti bobot serangan dan kecepatannya takkan mampu dilawan si pemuda. Dan belum tentu juga A Sai mampu menghadapinya, apalagi sampai menebaknya? Jadi sebenarnya bukan karena Ngo-heng-koay-hoat ciptaan Lo-tong terlalu dangkal, tapi karena faktor diatas itulah yang membuat A Sai dapat menebak sifat dan pergerakan Ngo-heng-koayhoat. Sayangnya Lo-tong telah terlanjur patah semangat dan kecewa. Akal sehatnya hilang berganti kekecewaan yang sangat. Ia merasa ilmu yang dibanggakannya ini telah gagal total dihadapan si pemuda. Dipikirnya percuma saja waktu tiga puluh tahun terakhir dipakainya untuk menciptakan Ngo-heng-koay-hoat. Bahkan setelah menyempurnakannya sekian lama, ternyata ilmunya itu masih juga mampu ditebak seorang bocah tak bernama. Lo-tong merasa ia telah melewatkan tiga puluh tahun hidupnya itu dengan sia-sia. Sia-sia saja semua jerih payahku... batin si kakek sedih, air mulai membayang dimatanya. Lo-tong menjatuhkan dirinya diatas tanah. Beberapa saat kemudian, pecahlah tangisannya. Tingkahnya persis seorang anak kecil yang sedih dan kecewa karena kehilangan mainan kesayangannya. Huhuhuhu... berpuluh tahun berkelana tanpa tanding, ternyata hari ini harus kalah ditangan seorang bocah yang masih menetek pada ibunya! tangis Lo-tong, air matanya mulai deras mengalis. Wajah si pemuda berubah merah, jengah melihat tingkah si kakek yang tak pada tempatnya dan jengah mendengar perkataan Lo-tong yang terakhir.

Walau tak tega dan ingin menghibur si kakek, tapi A Sai terpaksa mengeraskan hatinya. Sebenarnya ia ingin memberitahukan kakek itu kalau ilmu si kakek lihay luar biasa, bahkan dirinya pun kalau tidak mengandalkan lweekangnya takkan mungkin bertahan. Hanya saja ia khawatir kalau kata-kata penghiburan itu dikeluarkannya, bisa jadi si kakek bangkit lagi semangatnya dan memaksa bertarung kembali. Mumpung Lo-tong telah patah semangat, adalah lebih baik jika si kakek dibiarkan dulu. Yang penting sekarang adalah mengurus luka dan cedera yang diderita kakek itu. Setelah berpikir demikian, ia lalu membiarkan saja Lo-tong dengan kesibukannya itu. Sementara tangis Lo-tong semakin menjadi-jadi, bahkan si kakek tidak sungkan lagi bergulingan ditanah. A Sai tercekat hatinya, ia mulai merasa keterlaluan kalau dibiarkannya saja si kakek bergulingan sambil menangis seperti itu. Akhirnya sambil menarik nafas panjang, ia pun melangkah mendekati Lo-tong. Sudahlah kek! Kita kan hanya main-main... Tak usah dipikirkan lagi! bujuknya halus. Mendengar kata-kata si pemuda yang nadanya halus membujuk, bukannya berhenti... tangis Lotong malah makin keras melengking. Ia seolah diingatkan dengan kekalahannya itu, bahkan ia pun merasa seperti dikasihani lawan. Itu sebabnya bukannya berhenti, tangis Lo-tong malah semakin dahsyat terdengar. Lebih baik sembuhkan dulu luka Lo-tong! pemuda itu coba lagi membujuk. Tak ada hasilnya. Walau sudah mencoba berkali-kali, tetap saja tangisan Lo-tong tak juga berhenti. A Sai mulai gelisah sendiri. Menghadapi orang menangis seperti ini, baru sekali dialaminya. Dan ia tak tahu dengan cara apa tangis si kakek mesti dihentikannya. Untuk sekian lama, anak muda itu kebingungan. Akhirnya karena tak tahu lagi apa yang mesti dilakukannya, A Sai tanpa sadar lalu mengomel sendiri melampiaskan kekesesalan hatinya. Tidak muda tidak tua, sama saja semuanya! Saat diatas angin, bersikap layaknya Eng-hiong (orang gagah)! Tapi saat dibawah angin... lupa lagi ucapan sendiri dan kelihatanlah sifat aslinya! sungut pemuda itu kesal. Ajaib! Tangis Lo-tong jadi berkurang, tinggal sedu sedannya saja yang masih tersisa. Melihat keajaiban tersebut, otaknya yang cerdik segera dapat menerka penyebab berhentinya tangis si kakek. Dari kesal, ia berbalik girang. Maka pemuda itu pun melanjutkan lagi omelannya.

Kalah menang soal biasa, kenapa dimasukkan ke hati? Apalagi ilmu silat kan bukanlah suatu ukuran bagi seseorang untuk pantas disebut Eng-hiong? Berani mengakui kelemahan dan kekurangan diri sendiri, itulah sikap seorang bijaksana! Berani memperbaikinya, itulah yang pantas disebut Eng-hiong sejati! kata A Sai lagi. Tentu saja omelannya ini merupakan kalimat yang dikutipnya dari beberapa nasihat yang diwejangkan Yok-sian padanya. Kalimat yang dirasanya cukup bisa dipakai menyindir dan menyadarkan Lo-tong akan sikapnya, sikap yang menurutnya kurang pantas dilakukan oleh seorang gagah yang tinggi tingkatannya seperti si kakek. Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, barulah A Sai sadar kalau ucapannya itu rada kelewatan dan terkesan menggurui si kakek. Suatu ucapan yang sebenarnya kurang sopan dan sepantasnya tidak diucapkannya pada orang yang jauh lebih tua. Tapi sudah terlambat menarik kembali ucapannya, sebab dilihatnya si kakek mulai bereaksi. Tangisnya seketika berhenti. Bahkan seluruh tubuh Lo-tong terlihat bergetar. Rupanya segala ucapan A Sai mengena telak dihati kakek itu. Sudah kepalang tanggung, lagipula niatku kan baik. Soal nanti, lihat saja nanti! batin si pemuda memutuskan terus maju. Seorang Kuncu (budiman) tidak usah takut terlambat. Selama gunung masih menghijau, tak usah takut kekurangan kayu bakar! Yang penting sekarang adalah memulihkan diri dulu... toh dikemudian hari masih bisa bermain lagi! Tubuh Lo-tong makin gemetaran. Wajahnya merah padam sarat dengan emosi sedang nafasnya makin keras tersengal. Berubah wajah A Sai melihatnya. Kelopak mata si kakek perlahan terbuka, tapi yang dilihatnya disana sedikit berbeda dari yang diduganya semula. Bukan amarah atau kegusaran yang ditemuinya tetapi sinar mata yang seperti mentertawakannya, seperti juga memendam kesedihan yang sangat. Saat berikutnya, meledaklah tawa Koay-lo-tong dengan dahsyatnya. Hanya saja air mata si kakek turut meleleh bersamaan dengan suara tawanya itu. bahkan cucuran air mata si kakek tak kalah derasnya dibandingkan saat ia sedang menangis tadi. Untuk sesaat, A Sai lupa untuk berkata-kata. Bagaimana mungkin orang bisa tertawa sambil mengucurkan air mata? batinnya keheranan. Tingkah laku yang diperlihatkan Lo-tong, sedikit pun tak masuk diakalnya. Ia bahkan tidak lagi tahu, air mata yang mengalir apakah air mata kesedihan, ataukah air mata kesenangan? Huahahahaha Huhuhuhuhu.

Ternyata si kakek tertawa dalam tangisnya dan menangis dalam tawanya. Yang jelas hal seperti ini, belum pernah dibayangkannya bisa terjadi. Bingung hendak berbuat apa, dibiarkannya si kakek mengeluarkan segala ganjalan hatinya itu. Akhirnya setelah lewat sekian waktu, habislah tawa dan air mata si kakek. Kenapa? Belum pernah lihat yang demikian? kata Lo-tong mendadak sambil menyusut wajahnya yang berlepotan air mata, darah serta keringat bercampur debu dan tanah. Pemuda itu mengangguk pelan. Lo-tong menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Wajahnya yang semula merah padam dan sarat dengan emosi perlahan melembut. Kau anak baik! Kini moyangmu mengerti mengapa Kok Lam mau mengambilmu sebagai murid! suara Lo-tong terdengar lembut, suatu hal yang sedikit melegakan hati pemuda itu. Jadi jadi Lo-tong tidak marah? tanya A Sai pelan. Si kakek menggeleng, lalu menjawab, Kau benar nak! Hari ini Koay-lo-tong telah menerima suatu pelajaran berharga! Semua ucapanmu barusan hanya membuktikan perhatian dan kebaikanmu. Walau pun tidak enak didengar, tapi semuanya itu keluar dari lubuk hatimu. Lo-tong menghela nafas panjang lalu menghembuskannya keras. Kalau orang sudah setulus hati memperhatikanku, untuk apa lagi berkeras hati? Moyangmu mungkin keras kepala, tapi ia bukanlah seorang bodoh dan tak kenal budi! sambung si kakek. A Sai tersenyum, lega hatinya. Setelah itu, Lo-tong bangun dari tempatnya berbaring dan dengan tubuh limbung dan tanpa mengeluarkan suara, ia beranjak meninggalkan A Sai. Pemuda itu tertegun. Lo-tong panggilnya ragu. Legakan hatimu! Walau moyangmu sudah tua, tapi tulangnya belumlah rapuh! Cedera seperti ini tak ada artinya! Jawab si kakek tanpa menoleh, seolah dapat membaca kekhawatiran si pemuda Satu hal lagi, jika suatu saat ingin mencariku sehubungan dengan urusan nona temanmu itu kau carilah muridku. Namanya Teng Yi Er dan kau bisa menanyakan kediamannya pada bocah Tan Cit Kong itu. Muridku itulah yang akan menunjukkan jalan bagimu! sambung si kakek tanpa menghentikan langkahnya.

Mendadak Lo-tong berhenti melangkah. Setelah tertegun sesaat, ia berbalik menatap A Sai. Lalu seperti sulap saja, dua jilid kitab telah berada ditangannya. Entah selama ini kedua benda itu disimpannya disebelah mana. Kukembalikan padamu! sambil berkata, kedua jilid kitab tersebut dilemparkannya ke A Sai. Kitab tersebut melayang perlahan lalu hinggap tepat ditelapak tangan A Sai, bukan seperti dilempar tapi seolah diangsurkan Lo-tong langsung ke dalam tangannya. Mau tak mau, A Sai kagum melihatnya. Tadinya moyangmu pikir kedua kitab itu bukan milikmu, tapi setelah sekian waktu tak ada lagi yang perlu dipertanyakan! Kau benar murid Kok Lam! Setelah berkata demikian, Lo-tong membalikkan tubuhnya dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Kali ini si kakek tak kembali lagi. Kelak kau akan menimbulkan banyak gelombang dalam Kang-ouw (sungai telaga) dan Lioklim (rimba hijau)! Berhati-hatilah dalam membawa diri agar jangan mengecewakan gurumu dan juga moyangmu! suara Lo-tong terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Untuk sekian waktu, A Sai terdiam. Perkataan Lo-tong terus terngiang ditelinganya. Tapi demi dilihatnya kedua kitab ditangannya itu, wajahnya berubah girang. Ternyata dua kitab itulah kitabnya yang hilang diambil orang. Rupanya selama ini Lo-tong menyangkal mengambilnya dikarenakan si kakek curiga ia mencuri kitab tersebut dari Yok-sian. Itu sebabnya Lo-tong sengaja menguji dirinya sampai sedemikian rupa. Dan setelah si kakek yakin kalau dialah pemilik sebenarnya, kitab itu pun dikembalikan padanya. Rupanya semua perbuatan Lo-tong hari ini semata-mata untuk menyelidiki diriku batin si pemuda menarik kesimpulan, apalagi sejak awal si kakek lebih tertarik mengetahui asal usul diri dan perguruannya dari pada yang lain. Termasuk saat mengadu ilmu, bukankah kakek itu secara tidak langsung telah memancingnya mengeluarkan beberapa ilmu andalan Yok-sian kongkongnya? Sayang ia tidak menyadarinya sejak awal. Saat mengangkat wajahnya, dilihatnya bayangan tubuh si kakek telah lenyap entah ke mana. Pemuda itu jadi menyesal sendiri. Apalagi saat diingatnya kalau cedera Lo-tong pun tidaklah ringan. Begitu teringat akan cedera yang diderita si kakek, tergesa-gesa pemuda itu berlari ke dalam gua dan mengambil buntalan pakaiannya. Dilain saat, ia pun telah berlari mengejar Lotong. Untung saja Lo-tong telah terluka hingga jejaknya terlihat sepanjang jalan. Hal inilah yang memudahkan usahanya dalam melacak jejak kakek itu. Karena diliputi kekhawatiran, pemuda itu mengerahkan seluruh tenaganya mengejar. Sekejap saja, ia telah menerobos masuk hingga jauh ke dalam hutan. Kira-kira seperempat kentungan kemudian, dilihatnya sosok si kakek terbujur kaku ditanah 6 tombak didepannya. Tubuhnya menelungkup hingga sukar mengetahui bagaimana keadaan kakek itu. Kagetlah hati si pemuda.

Lo-tong! pekiknya khawatir. Tapi si kakek tetap rebah tak bergerak. Tubuhnya terbujur kaku diantara semak dan dedaunan yang ada. Sebagian wajahnya terbenam dalam lapisan dedaunan kering yang telah membusuk ditanah. Pemuda itu tak bersuara lagi. Secepat kilat, ia berkelebat mendekati Lo-tong lalu berjongkok meraba nadi besar dileher si kakek. Walau lemah, denyut nadi kakek itu jelas masih ada. A Sai jadi girang hatinya. Selama nadi masih berdetak, besar harapannya untuk sembuh. Dibalikkannya tubuh kakek itu, hatinya jadi tambah lega. Walau paras Lo-tong pucat pasi dan kotor, paling tidak si kakek masih bernafas. Cepat dikeluarkannya sebutir Sian-yok-tan (Pil obat dewa) dari guci kecil yang diambil dari dalam buntalan pakaiannya, lalu dimasukkannya ke dalam mulut kakek itu. Paling tidak, pil ini dapat menguatkan jantung dan mempertahankan kondisi Lo-tong untuk sementara waktu. Terpaksa balik lagi ke gua tadi. batinnya cepat. Segera digendongnya tubuh Koay-lo-tong lalu kakinya pun melangkah kembali ke tempat dari mana ia datang. Saat ini ia butuh tempat berteduh dari hujan dan angin. Suatu tempat yang hangat dan mampu menghindarkan mereka dari terpaan dinginnya udara pegunungan Kun-lun. Dan gua tadi memenuhi semua syarat yang ada. Maka pemuda itu pun semakin cepat menggerakan kakinya melangkah. Sesampainya di gua, ditaruhnya tubuh si kakek dilantai gua, sedang A Sai sendiri lalu duduk bersila disamping Lotong dan menempelkan kedua telapak tangannya didada dan perut kakek itu. Rupanya ia sedang berusaha menguatkan kondisi tubuh Lo-tong dengan cara menyalurkan hawa saktinya ke tubuh si kakek Belum lama menyalurkan lweekang, pemuda itu mengerutkan keningnya. Selain isi dada Lo-tong terguncang hebat, peredaran darahnya pun kacau. Apalagi jalan hawa dalam tubuhnya tidak beraturan. Sebentar ada, dilain saat hilang. Dari sini saja, A Sai telah dapat mengetahui berat ringannya luka yang diderita kakek itu. bahkan ia pun dapat merasakan darah yang menggumpal didalam tubuh Lo-tong. Pemuda itu lalu memaksakan tenaga saktinya mendesak darah mati yang berkumpul dalam tubuh si kakek. Hoekkk! Beberapa kali Lo-tong muntah darah. Kalau darah kotor yang ada dalam tubuh bisa dikeluarkan, maka takkan menjadi penyakit lain lagi dalam tubuh. A Sai jadi makin bersemangat. Sepertinya segala usahanya ini tidaklah sia-sia belaka.

Waktu berlalu dengan cepat. Sinar matahari yang tampak diluar gua mulai meredup. Udara dingin pun semakin menggigit. Namun pemuda itu tak juga bergeming dari tempatnya. Butiran keringat deras membasahi sekujur tubuhnya, bahkan wajahnya pun sudah terlihat kuyu dan letih. Tapi A Sai tetap berkeras menyalurkan hawa saktinya. Satu kentungan kemudian, hanya tersisa kegelapan ditempat itu menandakan malam telah tiba. Tapi si pemuda tak juga berhenti bekerja. Bahkan uap keputihan semakin tebal membumbung dari ubun-ubun dan kedua lengannya. Saat bulan telah tinggi diatas kepala, barulah A Sai menghentikan penyaluran lweekangnya. Pemuda itu menghembuskan nafas panjang dan memperhatikan keadaan diluar gua. Hari sudah jauh malam, halimun tebal terlihat melayang-layang didepan mulut gua. Suasana terasa dingin dan sunyi. Sayup-sayup dikejauhan, terdengar lolongan beberapa binatang hutan. Raungannya membangkitkan bulu roma dan bersahutan ditengah pegunungan yang sunyi dan gelap. Sudah setengah harian lewat dan sudah setengah harian pula pemuda itu mengerahkan Sinkangnya ke tubuh si kakek. Keadaan si kakek sudah agak mendingan dan tidak separah sebelumnya. Pemuda itu menarik nafas lega. Ia yakin Lo-tong bakalan sembuh seperti sedia kala. Hanya saja ada satu hal yang tidak dimengertinya. Menurut perhitungannya, seharusn ya Lotong sudah sadar sejak beberapa kentungan yang lalu. Kenapa si kakek masih belum sadar juga? Ternyata luka Lo-tong jauh lebih parah dari yang kubayangkan semula. Pemuda itu termenung. Sayang belum lama kubelajar dari kongkong. Kalau saja pengobatan tusuk jarum sudah kupelajari, dengan menggabungkan pengobatan menggunakan sinkang, ramuan obat dan tusuk jarum, akan lebih mudah menyembuhkan Lo-tong. Batinnya lagi. Pemuda itu menghela nafas panjang, luka si kakek ternyata tidak main-main. Sejak meninggalkan Hou-thian-san, ia dibekali Yok-sian dengan berbagai ramuan dan pil obat. Sayangnya segala pil pengobatan yang dibawanya, kurang sesuai untuk digunakan saat ini. Agaknya ia terpaksa membuat ramuan baru yang lebih sesuai. Pemuda itu lalu duduk termenung, mengingat segala ramuan yang telah dibacanya. Sekejap kemudian, ia pun teringat pada salah satu resep dalam kitab pengobatan kongkongnya. Resep yang menurut apa yang dibacanya, sesuai untuk dipakai menyembuhkan segala jenis luka dalam. Wajah A Sai bersinar penuh harapan. Untuk membuat obat tersebut, ia butuh paling tidak enam jenis bunga, empat jenis daun, empat jenis kulit kayu dan lima jenis akar-akaran. Dari jumlah yang ada, ia masih kekurangan dua tiga jenis lagi. Pemuda itu segera keluar dari gua dan keluyuran ditengah malam buta. Halimun dan kabut tebal tak dipedulikannya sama sekali. Sebentar saja, sekujur tubuh dan pakaiannya telah basah oleh embun dan uap air yang mengambang pekat diudara. Tapi pemuda itu seolah tak merasakan dinginnya hawa. Tekadnya cuma satu, ia harus dapat menemukan bahan obat yang

dibutuhkan. Untung bagi A Sai. Setelah mencari sekian waktu, dapat juga ditemukannya bahanbahan yang diperlukannya disekitar tempat itu. Tapi ada lagi kesukaran lain yang ditemuinya. Ditengah rimba seperti ini, sukar baginya mencari alat yang diperlukannya untuk menggodok segala ramuan tersebut. Terpaksa pemuda itu harus kembali putar otak mencari akal. Sebagai gantinya panci, ia menggunakan sebuah batu karang bundar sebesar kepalanya, yang lalu diubahnya secara darurat menjadi panci. Dengan lweekangnya, tak susah bagi pemuda itu mengeruk sebelah dalam batu karang tersebut hingga bentuknya bisa disulap menjadi panci darurat. A Sai lalu mengeluarkan sepotong baju bersih dari dalam buntalan pakaiannya. Dengan bajunya itu, pemuda itu kembali melangkah keluar dari gua. Kali ini kain yang ada ditangannya digunakannya untuk menyerap segala embun yang menempel direrumputan dan pepohonan disekitar situ. Dikarenakan hawa pegunungan yang dingin dan berkabut. Sebentar saja kain bajunya telah basah dengan embun. Lalu baju yang basah kuyup oleh embun tersebut, diperasnya ke dalam panci ajaibnya. Demikian dilakukannya berulang kali hingga air yang dibutuhkannya untuk menggodok ramuan obat mencukupi takaran. Tak lupa ia pun mengumpulkan seikat besar ranting kering yang basah oleh embun untuk persediaan nanti. Setelah semua yang diperlukannya didapat, pemuda itu segera beranjak memasuki gua dan tergesa dibuatnya sebuah tungku darurat. Tungku yang cuma terdiri dari 3 buah batu besar yang disusunnya berbentuk segitiga sebagai tempat dudukan panci, sedangkan dibawahnya dinyalakannya api. Sebentar saja, api telah menyala dan mulai membakar panci batu berisi ramuan. Tak lupa seikat kayu basah yang dibawanya pulang lalu dikeringkannya didekat unggun yang menyala. A Sai menarik nafas sesaat, puas melihat hasil kerjanya itu. Ia lalu kembali melangkah keluar gua untuk membasahi lagi kain bajunya. Dengan bajunya itu, dibersihkannya wajah Lo-tong yang berlumuran darah dan kotoran. Selesai membersihkan wajah dan kepala si kakek, pemuda itu lalu berhenti sesaat. Dari dalam buntalannya, dikeluarkannya sehelai selimut kulit domba dan dihamparkannya ke lantai gua. Tak dipedulikannya sama sekali keadaan lantai gua yang kotor dipenuhi lumut, debu tanah dan bebatuan. Kalau Im Giok-Cici melihat selimut buatannya ini kupakai seperti ini, apakah cici bakalan tersinggung? batin pemuda itu dalam hatinya, tapi gerakannya sama sekali tak berhenti. Urusan nyawa jauh lebih penting dari segala hal lainnya. Ia lalu memindahkan Lo-tong ke atas selimut tersebut lalu kembali dibersihkannya bagianbagian tubuh si kakek yang masih kotor. Hati-hati sekali sikapnya. Setelah selesai dengan semua itu, ramuan obatnya pun telah mendidih. Diturunkannya panci serba guna tersebut dari atas api unggun dan didinginkannya diluar gua. Lalu ia pun sibuk memisahkan segala tumbuhan dan akar dari airnya. Setelah siap, diminumkannya air ramuan tersebut pada Lo-tong sedangkan ampas sisa rebusan obat, digunakannya sebagai obat koyo untuk membalur dada, perut dan punggung Lo-tong. Selesai dengan pekerjaannya itu, dipandangnya Lo-tong dengan teliti. Kesehatan si kakek diperiksanya lagi dengan seksama. Dalam hati, pemuda itu girang. Ternyata kondisi si kakek sudah semakin membaik dari sebelumnya.

Selesai sudah! batin A Sai puas. Baru sekarang terasa kelelahan menggerogoti tubuhnya. Bertarung mati-matian ditambah lagi dengan harus menyalurkan Sinkang setengah harian lamanya menolong Lo-tong, telah menguras habis tenaganya. Walau tubuhnya lelah dan kantuk membuat matanya berat, tapi hatinya puas dan gembira. Sementara itu hari telah jauh malam, malah sudah hampir memasuki pagi. Dua tiga kentungan lagi, matahari bakalan terbit. Biarpun sangat ingin dirinya membaringkan tubuh dan tidur, tapi pemuda itu tak berani melakukannya. Kondisi Lo-tong masih tetap memerlukan seluruh perhatiannya. Akhirnya A Sai memutuskan untuk Siu-lian saja, bermeditasi memulihkan tenaganya yang banyak hilang sekalian melatih Lweekangnya. ******* A Sai berjalan cepat memasuki gua. Sudah satu kentungan lamanya pemuda ini berada ditengah rimba. Sinar sang surya remangremang membayang diufuk timur. Pun kabut masih tebal menutupi seluruh pegunungan. Samar dikejauhan, tampak menjulang puncak-puncak gunung tinggi tertutup awan. Sedangkan kicauan burung nyaring memenuhi pelosok hutan. Dipagi yang dingin dan berkabut seperti ini, A Sai telah mengitari lereng sekitar situ beberapa kali. Apalagi tujuannya kalau bukan mencari sesuatu untuk dimakan dan air untuk diminum? Itulah yang terjadi saat ini. Setelah berusaha sekian waktu, dapat juga ditemukannya sebuah mata air kira-kira dua ratus tombak dari gua kediamannya. Tadinya ia berniat berburu hewan liar. Tapi ketika menemukan satu dua ekor kelinci dan rusa, ia malah jadi tak tega membunuhnya. Yang ada bukannya berburu, tapi malah asyik sendiri memperhatikan segala tingkah polah hewan buruannya. Sayang kalau makhluk selucu dan seindah ini harus kubunuh. Batinnya sambil tersenyumsenyum sendiri. Akhirnya ia lalu membatalkan niatnya untuk berburu. Untung saja dengan pengetahuannya yang mendalam tentang tumbuhan dan tanaman obat, ia bisa juga menemukan beberapa jenis buah-buahan liar dan segerombol besar semak yang umbinya dapat dimakan. Sebanyaknya yang bisa dibawanya, sebanyak itulah yang digalinya dari tanah. Segera dilepasnya baju yang dipakainya lalu digunakannya untuk membungkus semua umbi-umbian yang berserakan ditanah. Disaat sedang membungkus persediaan makanan tersebut, sedihlah hatinya.

Kasihan cici batinnya, haru melihat baju yang dipakainya kotor dan robek dibeberapa tempat. Rupanya pemuda itu teringat kalau baju yang rusak tersebut buah tangan Im Giok cicinya. Tapi semua itu segera dilupakannya. Setelah selesai mengikatkan baju berisi bahan makanan ke punggungnya, pemuda itu segera melanjutkan langkahnya. Air ada. Makanan sudah. Ramuan obat juga sudah. Kayu bakar masih banyak persediaan. Sambil berjalan, dicobanya mengingat kembali semua kebutuhannya. Dan karena semua yang dibutuhkan sudah didapat, pemuda itu mempercepat langkahnya. Tubuhnya yang kurus berotot bermandikan peluh tampak berkilat tertimpa cahaya matahari pegunungan. Dipunggungnya tampak sebuah buntalan berat yang sarat dengan ubi dan buah liar sedang sebuah panci batu berisi air dan ramuan obat tampak dikedua tangannya. Celananya robek dua tempat dan kotor penuh tanah. Warnanya yang semula biru muda sekarang telah berubah kecoklatan. Dari jauh, si anak muda sudah tak ada bedanya dengan pengemis rudin yang biasa terlihat dikota besar. Setelah berjalan seperempat kentungan lamanya, sampailah pemuda itu digua kediamannya. Cukup lama juga ia berada diluar dan api yang semula menyala, kini telah padam. Untung saja arang masih membara. Maka setelah meletakkan semua bawaannya, segera dikoreknya sisa-sisa unggun yang ada lalu ditambahkannya beberapa ranting kering ke dalamnya. Meniup beberapa saat, api akhirnya menyala. Panci batu yang berisi air dan segala ramuan obat, langsung saja dinaikkan ke atas tungku darurat. Sambil masak, mulutnya sibuk mengunyah beberapa buah liar yang dikumpulkannya tadi sedangkan sebagian ubi liar dikeluarkannya dari dalam buntalan bajunya dan dilemparkannya ke dalam api yang menyala. Perhatian si pemuda teralih pada Lo-tong. Ia menghela nafas sesaat lalu bangkit mendekati si kakek. Kembali diperiksanya kondisi kesehatan pasiennya. Lo-tong tampak seperti sedang tidur, wajahnya tenang dan damai. Nafasnya pun mengalir lancar dan halus. Hal ini sedikit mengherankan hati A Sai. Aneh kenapa masih belum sadar juga? Kalau melihat kondisinya sekarang, semestinya Lotong sudah sadar dari tadi batinnya. A Sai bergegas memeriksa kesehatan si kakek. Dipegangnya pergelangan tangan Lo-tong dan kembali dihitung denyut jantung si kakek. Kening pemuda itu berkerut dalam. Sesuatu yang tak wajar terasa olehnya. Sepertinya sedang terjadi pertempuran sengit dalam tubuh kakek itu. Pertempuran antara Im (dingin) dan Yang (panas). Segera saja ia menempelkan kedua telapak tangannya ke tubuh si kakek dan menyalurkan lweekangnya. Hawa lweekang A Sai menembus masuk ke sekujur jalan darah si kakek dan berulang kali bentrok dengan hawa Im dan Yang dalam tubuh Lo-tong. Walau sudah berusaha, tetap saja ia tak mampu meredakan pergolakan hawa yang terjadi. Kalau hawa dingin yang ditekannya, maka timbul perlawanan yang hebat dari hawa panas, demikian sebaliknya. Apalagi saat sedang berusaha, ia mendapati tanda-tanda kehidupan si kakek menurun drastis. Sebaliknya

ketika ia mengurangi usahanya, tanda vital Lo-tong malah berangsur normal. Ini sesuatu yang luar biasa dan tak pernah didengarnya. Pemuda itu tertegun. Ternyata walau dari luar segalanya tampak wajar, tapi didalam tubuh kakek itu tidaklah demikian. Jauh didalam tubuh kakek itu, bergejolak dua jenis hawa yang berlawanan. Hawa Im dan Yang bercampur jadi satu tapi seperti juga saling bentrok satu dengan yang lain. Kadang ada, dilain saat hilang. Hal ini berlangsung silih berganti dan tak terlihat sama sekali dari luar. Kalau ia tidak meraba langsung kulit Lo-tong, ia takkan tahu kalau ditubuh Lo-tong terjadi pergantian hawa yang luar biasa. Apalagi wajah dan kulit Lo-tong pun terlihat normal dan sama sekali tak menunjukkan gejala penyakitnya itu. Si kakek seolah sedang tidur dengan tenangnya. Kening A Sai berkerut makin dalam. Mungkinkah kedua jenis hawa yang bergejolak dalam diri Lo-tong adalah hawa Lweekangnya sendiri? Adakah hal ini timbul dari suatu jenis ilmu yang dilatih Lo-tong? Ataukah ada penyebab lain lagi? batinnya mulai gelisah. Yang jelas, keadaan si kakek tak bisa dikatakan membaik. Walau kelihatannya baik-baik saja, tapi ia tahu kalau keadaan hawa dalam tubuh Lo-tong tidak seimbang. Ilmu pengobatan yang dipelajarinya menitik-beratkan pada keseimbangan hawa Im dan Yang dalam tubuh. Menurut penjelasan kongkongnya, segala sakit penyakit dalam diri manusia timbul karena adanya hawa yang tak seimbang dalam tubuh. Dan selama hawa tersebut tak bisa diseimbangkan, selamanya si penderita takkan sembuh dari sakitnya. Satu hal yang pasti, apa yang sekarang dihadapinya ini termasuk suatu kejadian yang luar biasa. Biasanya sehebat apapun pergolakan hawa dalam tubuh, dengan bantuan lweekang dan totokan ditambah dengan ramuan obat, hal ini dapatlah diredakan. Ia telah berusaha menurut teori yang ada, tapi kenapa tidak berhasil juga? Rasanya tak mungkin kalau penyebab kegagalan usahanya itu disebabkan karena lweekangnya kalah kuat. Sebab sudah jelas lweekangnya tidaklah kalah dari kedua jenis hawa yang ada dalam tubuh Lo-tong. Bahkan ia dapat dengan mudah menekan pergolakan yang ada, tapi justru ketika hawa yang bergejolak nyaris berhasil diredakan, tanda kehidupan si kakek malah melemah. Dan A Sai tahu kalau dipaksakan terus menekan menggunakan lweekangnya, bukan mustahil tanda-tanda kehidupan Lo-tong bahkan berhenti sama sekali. Hal inilah yang mencemaskan hati A Sai. Pemuda itu kembali mengingat-ingat segala ajaran Yok-sian, tentang sifat dan pergerakan hawa dalam tubuh manusia dan bagaimana menyeimbangkan hawa yang ada. Tapi sampai setengah kentungan lamanya ia putar otak, tak ada satupun yang cocok dengan keadaan yang tengah dihadapinya itu. Hal yang seperti ini bahkan tidak tercatat dalam kitab pengobatan yang diberikan Yok-sian padanya. Apakah kitab tersebut kurang lengkap? Rasanya tidak mungkin. Segala jenis sakit penyakit tercatat lengkap dalam kitab pemberian kongkongnya. Tapi kenapa gejala penyakit

yang diderita Lo-tong sampai tidak tercatat dalam kitab itu? Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah keadaan yang sekarang dialami si kakek adalah suatu kejadian luar biasa. Kejadian yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seratus laksa kejadian. Kejadian yang muncul satu kali dalam seratus tahun. Bahkan mungkin kejadian yang belum pernah ada sebelumnya. Berpikir sampai disini, pemuda itu jadi lesu sendiri. Tapi ia tidaklah patah semangat. Apapun yang terjadi, ia harus berhasil mengatasinya. Aku harus dapat berpikir tenang, tak ada gunanya kelabakan seperti ini. batin A Sai menenangkan dirinya. Setelah pikirannya tenang kembali, ia lalu bersila disamping si kakek dan memusatkan seluruh perhatiannya menganalisa keadaan yang sedang dihadapinya itu. Agaknya kesadaran Lo-tong belum kembali dikarenakan kejadian ini. kalau pergolakan hawa tersebut dibiarkan, Lo-tong baik-baik saja. Tapi begitu berusaha menyeimbangkannya, denyut jantung dan segala tanda kehidupan Lo-tong malah melemah. Bagaimana Lo-tong bisa sadar kalau hal seperti ini berlangsung terus dalam tubuhnya? Renung A Sai. Hmm, akar permasalahannya terletak disini. Kalau hawa yang bergejolak mampu kuseimbangkan, bereslah sudah. Tapi bagaimana caranya? Kalau cara-cara yang biasa dilakukan tak mempan, apakah ada cara khusus lain? Berpikir sekian lama, tak juga ada pemecahan. Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan untuk membiarkan dulu keadaan Lo-tong sambil sekalian mengamati perkembangan kesehatan kakek itu. Siapa tahu dalam satu dua hari pergolakan hawa Im dan Yang dalam tubuh Lo-tong bakal hilang dengan sendirinya. Pemuda itu lalu bangkit mendekati unggun yang ada. Oleh karena tidak begitu pasti dengan penyakit Lotong, maka segala bahan dan ramuan obat yang telah siap tak jadi diminumkannya. Sebab khasiat obatnya ini khusus untuk menyembuhkan luka dalam Lo-tong, bukan untuk meredakan segala pergolakan hawa seperti yang dialami si kakek. Ia khawatir obatnya itu bukannya menyembuhkan, malah berbalik memperparah keadaan Lo-tong. Akhirnya hanya ampas ramuan yang berfungsi sebagai obat luar saja yang tetap dibalurkannya ke tubuh Lo-tong. Sisanya lagi, terpaksa dibuangnya. Sisa hari itu dilewatkan si anak muda dengan melatih lweekangnya. Walau demikian, tak pernah ia lupa memeriksa keadaan pasiennya. Sampai dengan malam tiba, kondisi Lo-tong tak juga membaik. Maka makin gelisahlah pemuda itu. ******* Matahari baru saja terbit dan cahayanya tampak memerah dikaki langit. Walau hari masih pagi, tapi A Sai sudah bangun sejak tadi. Ia sudah sarapan ubi liar bakar sisa semalam dan telah pula menggodok ramuan obat si kakek. Setelah selesai dengan semua pekerjaannya itu, pemuda itu lalu kembali serius melakukan siulian melatih lweekangnya. Saat itulah tatkala sedang asyik-

asyiknya siulian, telinganya menangkap suara Lo-tong. Suara si kakek lirih dan nyaris tak terdengar. Uhukk uhukk! Suara batuk si kakek yang menyusul kemudian, membuat pemuda itu tersadar sepenuhnya. Hatinya seketika berdebar, Lo-tong sudah sadar? batinnya terkesiap. Sebat pemuda itu melompat bangun dan menghampiri si kakek. Lo-tong pekiknya pelan. Lo-tong mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat, lalu pandangannya jatuh ke wajah si anak muda. Ehh, kau? kata si kakek sedikit keheranan, tak menyangka akan melihat A Sai lagi. Suara si kakek sedemikian halusnya hingga A Sai harus memperhatikan baik-baik kalau tak ingin salah mendengar. Terima kasih Thian! sorak si pemuda girang dalam hatinya. Bagaimana keadaan Lo-tong? Apakah ada sesuatu yang terasa ganjil? Apa ada bagian tubuh yang sakit atau terasa aneh? tanya A Sai cepat. Si kakek tidak menjawab, malah berbalik menatapnya keheranan, lalu berkata, Mengapa kau ada disini? Eh, kenapa aku bisa berada lagi digua ini? A Sai yang membawa Lo-tong kesini, tapi itu tak penting. Sekarang katakan, bagaimana rasa tubuh Lo-tong? jawab si pemuda cepat. Kening Lo-tong berkerut sebentar lalu mendadak wajah Lo-tong berubah kelam. Bocah edan! Apa yang kau lakukan padaku? Maksud Lo-tong? wajah A Sai ikut berubah. Wajah Lo-tong mengernyit sesaat, lalu sambil memejamkan matanya ia berbisik lirih, Tenagaku lenyap sama sekali, bahkan. Kata-kata tersebut tak sempat lagi diselesainya, sebab si kakek telah keburu pingsan. Kek! Bangun kek! digoncangnya tubuh si kakek, tapi si kakek tak juga bergerak. Darah kehitaman mengalir dari sela bibir si kakek. Pemuda itu tersentak kaget. Buru-buru ditempelkannya sebelah lengannya didada Lo-tong. Hawa sakti mengalir dari lengannya dan masuk menyusuri jalan darah kakek itu.

Ternyata pergolakan hawa didalam tubuh Lo-tong masih berlangsung sampai sekarang. Batinnya gelisah, keadaan si kakek masih sama seperti hari-hari sebelumnya, tak ada perubahan sama sekali. Akhirnya ditarik kembali tenaga saktinya lalu dengan lengan bajunya, disusutinya darah yang mengalir dari mulut si kakek. Wajah A Sai memucat karena khawatir. Tapi ketika selesai membersihkan sudut bibir si kakek, tiba-tiba saja darah kembali mengucur. Sebat ditotoknya beberapa jalan darah ditubuh Lo-tong untuk menghentikan mengucurnya darah. Tapi walau demikian, tetap saja darah tak juga berhenti mengalir. Setelah mencoba berulang kali dan selalu saja gagal menghentikan pendarahan, makin gelisahlah hati pemuda itu. Apanya yang salah? A Sai bertanya dalam hatinya. Semua Hiat-to yang berhubungan sudah kutotok. Seharusnya tak ada lagi darah yang mengucur apakah apakah ini disebabkan pergolakan hawa dalam tubuhnya itu hingga luka dalamnya bertambah parah? batinnya bertanya. Hal yang seperti ini hanya bisa terjadi kalau luka dalam si kakek sudah sedemikian hebatnya, hingga darah yang menggenang dalam tubuhnya akhirnya mengalir keluar lewat mulut. Tapi rasanya tak mungkin. Kalau benar luka dalamnya sehebat itu, seharusnya darah juga mengalir keluar lewat lubang tubuhnya yang lain pemuda itu membantah sendiri pikirannya. A Sai termenung sesaat, tak tenang hatinya. Pemuda itu lalu menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak hatinya. Setelah tenang, kembali ia putar otak mengira-ngira pengebabnya. Nyaris setengah kentungan pemuda itu berpikir, walau demikian otaknya tak juga dapat menemukan penyebabnya. Walau sudah diingatnya seluruh isi kitab pengobatan Kongkongnya, tetap saja gelap. Terlalu banyak kemungkinan yang berkelebat diotaknya. Dan ia tak mungkin bertindak berdasarkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Sebelum mengobati, ia harus tahu dengan pasti penyebab sakit kakek itu. Kembali diperhatikannya mulut Lo-tong dengan seksama. Rupanya setelah mengalir beberapa saat, darah akan berhenti sendiri. Tapi kalau darah yang mulai mengering dibibir si kakek dihapus dan dibersihkan, darah pastilah mengucur kembali. Hal yang seperti ini belum pernah ditemuinya. Mendengarnya pun tidak. Apalagi ia telah menotok beberapa jalan darah Lo-tong, seharusnya totokannya itu dapat menghentikan keluarnya darah yang bagaimana pun hebatnya. Lengan yang terkutung pun takkan mengucurkan darah kalau ditotok dengan ilmunya ini, kenapa yang ini berbeda? Pemuda itu mengawasi dengan heran, tegang, dan khawatir. Jangan-jangan ada penyebab lain lagi pikir A Sai, matanya mengawasi tubuh dan wajah Lo-tong dengan seksama.

Perlahan disekanya kembali darah yang ada lalu dibukanya mulut Lo-tong dengan hati-hati. A Sai tertegun. Ternyata tidak tampak darah menggenang dalam tenggorokan dan rongga mulut si kakek. Sebaliknya darah yang mengalir berasal dari tiga titik kecil sebesar jarum dibagian sebelah dalam dari bibir bawah kakek itu. Ehh? Apakah ini? ucapan tersebut keluar dari mulutnya tanpa sadar. Luka disekitar tiga titik itu berbeda warnanya. Kedua lubang dikiri kanan berwarna hitam sedangkan lubang luka yang ditengah berwarna biru terang. Warna-warna tersebut terlihat nyata pada bibir Lo-tong yang kepucatan. Tidak ada tanda-tanda pembengkakan seperti normalnya jika daging terluka. Semuanya tampak normal kecuali warna pada luka tersebut. Yang jelas, dari tiga titik itulah darah mengalir. Mungkinkah Lo-tong telah digigit sejenis binatang beracun? Ularkah? Ahh, rasanya tak mungkin. Belum pernah kudengar ada ular yang taringnya tiga. Bahkan dalam kitab pengobatan kongkong pun tak ada. pemuda itu membatin sendiri, pikirannya jadi tambah kacau. Mendadak satu ingatan berkelebat dibenaknya. Jangan-jangan wajah A Sai berubah pucat, ingat kalau luka yang tampak dibibir Lo-tong sepertinya ada tertulis dalam kitab pengobatan Kongkongnya. Cepat dikeluarkannya kitab pengobatan pemberian Yok-sian Kongkongnya. Thian-bun (gerbang langit). Kata itu tercetak besar dan indah disampul kitab. Goresannya kuat dan sangat indah, jelas ditulis oleh seorang yang tahu benar tentang Su-hoat (seni menulis indah). Dibawahnya lagi tertulis kalimat yang lebih kecil, Intisari penyakit dan obat. Itulah tulisan tangan dari Yok-sian-san-jin (manusia gunung dewa obat) Souw Kok Lam. Melihat dari judulnya saja, dapat diduga kalau ilmu yang terdapat dalam kitab ini sangat tinggi tingkatannya, hingga diibaratkan seperti gerbang atau pintu langit yang sanggup memberikan keajaiban dan kehidupan. Kitab ini dalam dunia pengobatan sama tingginya dengan kitab I-kinkeng dari Siauw-lim-pay dan Tong-tee-jit-sian dari Mo-kau dalam dunia persilatan. Souw Kok Lam mendapat julukan Yok-sian (Dewa obat) bukan tanpa sebab, kepandaiannya dalam mengobati berbagai penyakit sudah diakui seluruh bulim. Dari penyakit yang mudah diobati hingga yang mustahil untuk disembuhkan, sanggup ditanganinya. Bahkan dalam beberapa kasus, kakek ini bahkan mampu menyeret kembali nyawa orang yang sudah separuh didalam kubur kembali ke dunia. Itulah sebabnya julukan dewa obat yang berarti juga tabib dewa disandangnya. Sedangkan kepandaian si kakek, didapatkannya dari kitab Thian-bun ini. Bisa dibayangkan sampai dimana tinggi dan ajaibnya kitab ini? Sungguh beruntung orang yang mampu memilikinya. Dan A Sai menyadari betul hal ini.

Pemuda itu menatap kitab ditangannya dengan sikap hormat. Setelah mengangkat tinggi kitab tersebut dengan kedua tangannya, ia menunduk kepala sejenak memberi hormat. Lalu dibukanyalah kitab Thian-bun tersebut. Cepat dicarinya bagian yang menjelaskan tentang hewan langka dan berbisa. Ada lebih lima ribu jenis hewan berbisa yang tercatat dalam kitab itu. Lima ribu jenis hewan ini masih terbagi ke dalam beberapa puluh golongan dan kelas. Diantaranya golongan hewan tak berkaki seperti ular dan hewan melata lainnya, golongan serangga, golongan hewan berkaki empat dan berkaki banyak, golongan hewan bersayap, golongan hewan bersirip, dan sebagainya. Golongan ini pun masih terbagi lagi ke dalam beberapa tingkatan menurut tempat hidupnya, makanannya, dan lain-lain. Ada juga dijelaskan tentang sifat racun masing-masing hewan dan cara pengobatannya. Melihat lengkapnya catatan dalam kitab Thian-bun, A Sai kagum bukan main. Maka tenggelamlah pemuda itu dalam bacaannya. Dari sekian banyak hewan berbisa yang ada dibumi Tiongkok, kurang lebih ada 100 ekor dimasukkan ke dalam golongan Tok-ong (raja racun) dan 10 diantaranya disebut sebagai Sianong (Raja dewa). Rupa-rupa racun yang dimiliki nenek berangasan Tok-seng-sian-li, si gembong racun nomor satu dibulim pun hanya berasal golongan Tok-ong saja. Walau demikian, si nenek sudah digelari biang racun nomor satu. Kalau Tok-ong saja sudah luar biasa beracunnya, bagaimana pula ke-10 ekor yang digelari Sian-ong itu? Saking beracunnya hingga sesudah disebut Ong (raja), masih ditambahi juga gelar Sian (dewa). Yang pasti, ke-10 hewan tersebut racunnya tiada tara, tak ada juga obatnya diatas dunia. Makhluk hidup apapun yang terkena racun dari salah satu Sian-ong ini, boleh berharap mati saja. Kiranya demikian. Katanya lirih setelah membaca beberapa waktu, wajah pemuda itu mulai memucat sementara matanya menatap tak berkedip pada salah satu halaman yang membahas tentang ke 10 ekor Sian-ong itu. Pemuda itu mulai membaca, suaranya terdengar perlahan memecah keheningan gua. Sian Ong nomor tiga : Sam-jio-sian-ong (Raja dewa dengan tiga tombak). A Sai menenangkan debaran hatinya, lalu kembali membaca. Sam-jio-sian-ong termasuk ke dalam jenis hewan melata berkaki empat serupa kadal dan sebangsanya. Warna merah darah dengan keempat kaki berwarna putih kehijauan. Bertanduk satu dibawah rahangnya dan mempunyai sisik serupa ikan disepanjang tulang belakang. Sam-jiosian-ong dewasa panjangnya antara 2 hingga tiga jengkal dengan berat sekitar seperempat kati. Tempat hidup hewan ini berubah-ubah tergantung waktu dan bulan. Antara bulan empat dan lima, hidup disekitar kaki pegunungan Kun-lun dan lereng-lerengnya yang rendah dan berkabut. Antara bulan delapan dan sembilan hewan ini pindah lebih jauh ke barat, ke puncak gunung yang

bersalju tebal disepanjang pegunungan Kun-lun hingga ke Tibet. Selain kedua waktu tersebut, Sam-jio-sian-ong tak diketahui dimana tempatnya dan tak mungkin ditemukan A Sai terus membaca. Makin ia membaca, makin kacau hatinya. Sebab berdasarkan kitab Thianbun ini, sudah jelas luka yang ada dibibir Lo-tong disebabkan oleh Sam-jio-sian-ong. Menurut apa yang dibacanya, dikatakan bahwa Sam-jio-sian-ong selalu meninggalkan tiga titik bekas luka sebesar jarum. Dimana dua diantara bekas luka tersebut berwarna merah kehitaman, sedangkan satu bekas luka yang ditengah berwarna biru terang. Bekas luka inilah yang tadi diingatnya sewaktu sedang putar otak. Pemuda itu berusaha menenangkan dirinya, lalu membaca lebih jauh. Sifat racun : Berubah seturut waktu. Dahi pemuda itu berkerut dalam, pikirnya, Berubah seturut waktu? Apa maksudnya? Apa racun Sam-jio-sian-ong sifatnya tidak tetap? Berubah seturut waktu bisa jadi awalnya racun bersifat Yang (panas), satu dua saat kemudian akan berubah Im (dingin) Bisa juga sebaliknya. Atau? Banyak kemungkinan berkelebat dibenak A Sai, tapi tak ada yang memuaskannya. Akhirnya dilanjutkan kembali kesibukannya itu. Cara pengobatan : Tidak ada! Membaca sampai disini, pemuda itu kalut bukan buatan. Kitab ini sama sekali tidak menjelaskan cara pengobatannya. Pikir A Sai, nyaris kehilangan ketenangannya. Dibagian paling bawah, terlukis sketsa seekor Sam-jio-sian-ong. Kadal busuk inikah yang melukai Lo-tong? pikir pemuda itu, rasa gusar memenuhi dadanya bercampur dengan segala perasaan lainnya. A Sai memperhatikan gambar tersebut sekian waktu dan mencatatnya baik-baik dalam hati. Lalu ia pun mengalihkan perhatiannya kembali pada Lo-tong. Dalam keadaan tidak sadar seperti ini, Lo-tong terlihat sama lemahnya dengan kakek-kakek lain yang sepantaran dirinya. Tak ada lagi tampang jagoan, hanya tampang seorang kakek tua yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Renta, lemah dan mengundang belas kasihan. Ada satu hal yang tidak dimengertinya. Kalau benar si kakek digigit seekor Sam-jio-sian-ong, kenapa sampai sekarang kakek ini masih bernafas? Katanya paling berbisa, kenapa Lo-tong masih tetap hidup sampai sekarang? Bukankah semakin berbisa, semakin cepat pula menyebabkan kematian? Semakin dipikir, semakin ia tak mengerti.

Tanpa sadar, pemuda itu mengeluh. Dirabanya lagi pergelangan tangan si kakek lalu dihitungnya denyutan yang ada. Detak jantung Lo-tong kembali melemah. Sementara darah yang keluar dari ketiga lubang dibibir si kakek telah berhenti dan mengering. Karena tak tahu lagi hendak berbuat apa, dibiarkan saja darah kering menggumpal dimulut si kakek sebab pikirnya percuma saja dibersihkan kalau akhirnya keluar lagi. Pemuda itu menarik nafas panjang menenangkan dirinya. Apa yang harus kulakukan? Coba kalau Kongkong ada disini, pastilah luka Lo-tong bakalan sembuh. batin pemuda itu dalam kekhawatirannya. Untuk sesaat, timbul pikirannya untuk kembali ke Hou-thian-san membawa Lo-tong menghadap Yok-sian. Tapi ia pun teringat dengan segala urusannya yang belum selesai. Kalau sekarang ia pulang, urusan yang ada bakal tambah kacau jadinya. Akhirnya ia pun kembali putar otak menganalisa situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Kalau Kongkong yang mengalami kejadian seperti ini, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh kongkong? batinnya berandai-andai. Pemuda itu mengingat-ingat kembali beberapa pelajaran yang diberikan Yok-sian padanya, pelajaran yang terutama sekali berhubungan dengan racun dan cara pengobatannya. Tanpa sadar, terbayang kembali perkataan kongkongnya saat itu. Sai-ji, Untuk menawarkan racun ada dua cara yang umum digunakan orang. Cara pertama dengan menggunakan obat penawar yang sesuai dengan sifat racun tersebut. Cara kedua bisa juga menggunakan racun melawan racun. Hanya saja cara kedua ini hanya bisa digunakan kalau kau tahu pasti jenis dan sifat dari racun yang ada. Selain itu pun cara ini sangatlah beresiko. Sebab cara ini hanya berhasil jika kedua racun yang ada berlawanan sifatnya. Jika tidak, bakalan tambah keracunan jadinya. Pun takarannya haruslah sesuai. Jika tidak tahu pasti dan tidak terpaksa, jangan sekali-kali kau gunakan cara yang kedua ini Kata Yok-sian. Maksud kongkong jika seseorang terkena racun yang bersifat Im (dingin) maka dengan menggunakan racun yang bersifat Yang (panas), keracunan orang tersebut bisa diobati? Teori dasarnya kurang lebih demikian. Hanya saja dalam prakteknya tidaklah semudah itu. Racun yang ada sering kali tidak hanya mengandung satu sifat saja, tapi bisa juga mempunyai beberapa sifat. Kalau racun yang ada sifatnya demikian, sangatlah sulit membuat penawarnya. Oya, selain sifatnya, kau haruslah tahu racun yang ada menyerang bagian tubuh yang mana. Benarkah? Tentu saja! Racun pun dibedakan menurut bagian tubuh yang diserangnya. Seperti jaringan syaraf dan otak, darah, jantung dan organ dalam tubuh, tulang, kulit dan sebagainya. Tapi ada juga racun yang sifatnya sangat istimewa hingga sulit dikenal lagi. Racun yang seperti ini sangat jarang didunia, tapi pasti ada. Satu hal yang harus kau ingat baik-baik sebelum membuat penawar dari suatu jenis racun, kau harus lebih dulu tahu dengan pasti sifat-sifat dari racun

tersebut. Kalau tidak, penawar yang kau buat malah akan mencabut nyawa orang yang ingin kau tolong. Kata Yok-sian sungguh-sungguh. Susah juga Kongkong! Yok-sian terkekeh melihat paras A Sai yang memucat, Hehehe memang susah! Tapi jangan terlalu khawatir! Pada prinsipnya, ada tiga hal yang harus kau perhatikan saat membuat obat penawar racun. Sifat racun, bagian tubuh yang diserang serta jumlah takaran dari obat penawar yang hendak kau buat. Setelah menarik nafas sejenak, Yok-sian berkata lagi, Berat ringan takaran obat penawar haruslah kau hitung dengan teliti. Perbandingannya haruslah tepat antara satu dan lainnya. Kurang dari takaran yang seharusnya, obat tersebut jadi kehilangan khasiat. Sebaliknya jika berlebihan, malah berbahaya. Oleh sebab itu kau harus juga memperhatikan hal ini baik-baik. Demikianlah angan si pemuda berkelana ke masa lalu, ke masa dimana ia masih bersama Kongkongnya. Masa dimana Yok-sian mengajarkannya teori dasar tentang racun dan penawarnya. Pikiran pemuda itu lalu kembali sibuk memikirkan keadaan Koay-lo-tong yang terluka dan keracunan hebat. Bagaimana caranya mengetahui sifat racun ditubuh Lo-tong? Bahkan dalam kitab Tiang-bun pun sifat racun Sam-jio-sian-ong tidak tercatat, lalu dari mana mengetahuinya? pikir si pemuda gelisah. Matanya menatap api unggun yang menyala didepannya tanpa berkedip. Mendadak, pikiran pemuda itu terbuka. Dari mana orang tahu kalau api itu panas membakar? gumam A Sai tak jelas, lalu senyumnya pun merekah. Benar juga! Kalau ingin tahu sifat racun Sam-jio-sian-ong. Terpaksa harus merasakan sendiri racunnya! Timbul harapan baru dihatinya. Hanya dengan cara inilah ia dapat mengetahui sifat racun yang ada ditubuh Lo-tong. Soal dirinya bakal keracunan, ia tidak lagi peduli. Apalagi Yok-sian pernah mengatakan kalau daya tahan tubuhnya terhadap racun lebih tinggi dari orang lain. Asal ia bisa sedikit merasakan sifat racun tersebut, sudah cukup baginya untuk menganalisa sifat racun serta bagian tubuh mana yang diserang. Kalau bisa mengetahui kedua hal ini, ia mungkin dapat meracik ramuan untuk dicobakan menyembuhkan Koay-lo-tong. Soal lain, lihat saja nanti. Sekarang yang terpenting adalah mengusahakan kesehatan Lo -tong. Pikir A Sai, berusaha menekan gejolak hatinya. Perhatiannya lalu teralih pada panci batu berisi godokan ramuan obat, obat jatah pagi ini yang belum sempat diberikannya pada Lo-tong. Ramuannya itu kegunaan utamanya adalah sebagai obat dalam yang harus diminumkan. Sangat berkhasiat untuk menyambung urat dan otot serta

organ dalam tubuh yang putus, robek atau terluka. Tapi kalau keracunan seperti ini? Sudah jelas ramuan ini jadi kehilangan khasiatnya. Bahkan bisa jadi bukannya mengobati, malah makin memperburuk kondisi kesehatan Lo-tong. Tapi ia terpaksa membuatnya lagi sebab walau pun ramuannya ini tidak bisa lagi digunakan sebagai obat dalam, tapi paling tidak masih bisa digunakan sebagai obat luar. Panci tersebut diturunkannya dari tungku dan ditambahkannya beberapa potong ranting kering ke dalam api. Diambilnya sebutir ubi liar yang dibakarnya kemarin dan dimakannya, sedangkan sisa ubi bakar yang lain, kembali dipanaskannya didekat api. Karena sekarang sudah ada kejelasan mengenai tindakan apa yang harus dilakukannya, maka pemuda itu jadi sedikit tenang hatinya. Ia lalu pindah bersandar didinding disebelah pintu keluar gua dan memejamkan matanya. Lo-tong ditemukannya dalam keadaan pingsan saat hari siang. Itu berarti hewan yang menggigit kakek itu keluar disiang hari. Kalau perkiraannya tidak salah, saat antara siang dan sore lah waktu yang terbaik untuk mencari Sam-jio-sian-ong. Dan ia masih punya waktu beberapa jam untuk mengumpulkan tenaga. Berpikir sampai disini, A Sai lalu memutuskan untuk meditasi mengumpulkan tenaga. Sebentar saja, pemuda itu telah tenggelam dalam Siulian nya. ******* Cahaya matahari membias diantara rimbunnya pepohonan dan menyinari sebagian tubuh A Sai. Pemuda itu tampak berdiri tenang mengamati rimba disekitarnya. Rimba yang saking rimbunnya hingga sinar matahari pun sulit menyinari tanah tempatnya berpijak. Sejauh mata memandang hanya warna hijau gelap bercampur kuning dan coklat kehitaman yang terlihat. Namun dibeberapa tempat, batu-batuan besar berlapis lumut tebal terhampar. Permukaan tanah disekitarnya nyaris tak kelihatan lagi tertutup tebalnya dedaunan yang membusuk. Tebalnya hingga ke mata kaki, dibeberapa bagian bahkan sampai ke pertengahan tulang keringnya sementara semak dan belukar tampak menggerombol dikiri dan kanannya. Batang-batang pohon besar kecil rapat mengelilingi. Dan karena terhalang oleh pepohonan yang ada, A Sai jadi kesulitan melihat lebih dari tiga empat tombak jauhnya. Pemuda itu termenung sesaat. Disinilah Lo-tong kutemukan. Hmm, tentunya sarang hewan itu pun berada disekitar sini! Sekarang masalahnya bagaimana caranya menemukan kadal itu? Mata si pemuda mencorong tajam mengawasi tanah. Setelah mengawasi beberapa lama, pemuda itu pun menarik nafas panjang. Daun busuk sudah setebal ini rasanya kuda pun bakalan tidak kelihatan kalau bersembunyi dibawahnya. Batinnya gemas.

Pemuda itu mengangkat bahu dan memasang kuda-kuda sambil mengomel, Haya, kalau segala sampah dan kotoran ini tidak dibersihkan dahulu, akan sangat sulit menemukan sarangnya. A Sai mengumpulkan semangat lalu mulai membangkitkan lweekangnya. Hawa sakti si pemuda segera saja keluar. Angin sepoi-sepoi mulai berkesiur disekitar tubuh si anak muda, tanda tenaganya telah dikeluarkan. Kalau menggunakan angin pukulan menyerang menyusur tanah, bisa jadi mulut lobang tempatnya bersarang malah teruruk tanah dan benda lain. Apalagi aku tidak tahu sarangnya itu menghadap ke mana Kalau mulut sarangnya itu menghadap ke arahku, sudah pasti segala benda ini bakalan langsung menyumbat lubang sarangnya dan kalau sampai tertutup, akan sangat sulit untuk menemukannya kembali. Setelah putar otak sekian waktu, ditemukan juga jalan keluarnya. Cara paling baik adalah dengan mengangkat segala dedaunan ini ke udara, baru membuangnya ke tempat lain. Merepotkan memang, tapi apa boleh buat terpaksa kugunakan cara ini. Berpikir sampai disini, pemuda itu segera bertindak. HAAIIITTT! dengan diikuti pekikan nyaring, A Sai menggerakkan kedua lengannya. Lengannya bergerak cepat secara bersamaan dan memutar membentuk satu lingkaran penuh diudara yang terus diulangnya berulang kali. Itulah salah satu gerakan yang didapatkannya dari Yok-sian dan sudah biasa dilatihnya. Gerakan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pergerakan hawa sakti didalam tubuh sekaligus melatih pengendalian hawa sakti yang disalurkan keluar dari tubuh. Gerakannya itu mirip dengan gerakan orang yang mengaduk air dalam kuali, mirip juga gerakan melukis lingkaran diudara, atau seperti gerakan sepasang lengan yang sedang mengacau permukaan air. Yang jelas akibat dari gerakan tersebut membuat hawa lweekang yang keluar dari sepasang lengannya jadi ikut berputaran. Hawa saktinya menyambar menyusuri permukaan tanah dan berputaran membawa naik segala dedaunan dan ranting yang membusuk ke udara. Angin yang berpusaran kencang, melanda permukaan tanah seluas dua tombak didepannya. Bahkan saking kuatnya mengerahkan tenaga, hingga segala rumpun semak belukar pun turut tercabut dari akarnya dan melayang diudara. Otomatis permukaan tanah seluas dua tombak didepannya jadi bersih dari segala kotoran. Tapi A Sai tidak berhenti sampai disitu, sebab lengan kanannya pun telah ikut bergerak. Selagi segala sampah itu masih melayang diudara, A Sai kembali menggerakkan lengannya memukul lurus ke udara. WUUUTTTTT! Serangkum angin kuat kembali menyambar dan mementalkan segala benda tersebut pergi dari hadapannya. Pohon-pohon yang berukuran kecil tampak bergoyang hebat dan tidak sedikit ranting dan cabang yang patah terlanggar angin serangannya itu. Sebagian sampah tersebut bertabrakan dengan batang-batang pohon, sebagiannya lagi lenyap diantara pohon dan semak

yang ada. Permukaan tanah seluas dua tombak didepannya jelas terlihat, bersih dari segala sampah dan kotoran. Pemuda itu mengamati sejenak permukaan tanah didepannya. Ketika apa yang dicarinya tak ditemukan, ia lalu mengulangi lagi gerakannya. Kali ini bagian sebelah kirinya yang mendapat bagian. WUUUTTTT! Terulang lagi kejadian sebelumnya. Dua tombak disebelah kiri si pemuda terlihat jelas, bersih dari segala daun busuk, rumput dan belukar. Bahkan batu-batu kecil dan kerikil pun ikut terhempas pergi dari atas permukaan tanah. Yang tersisa hanyalah tanah telanjang saja. Tidak ada juga! kata pemuda itu lirih. Ia lalu mengulangi lagi gerakannya. Sambil memekik nyaring, ia membersihkan permukaan tanah disebelah kanannya. Ketika tak juga menemukan, ia melanjutkan membersihkan tanah dibelakangnya. Dalam sekejap mata, permukaan tanah seluas dua tombak disekeliling pemuda itu bersih dari kotoran. Yang tinggal tersisa hanyalah beberapa batu gunung berukuran besar yang mampu bertahan dari angin serangan si pemuda. Tapi batu-batu gunung itu pun tak dibiarkannya lamalama disitu, sebab si pemuda tidak membiarkan batuan tersebut menghalangi pandangannya. Batu-batu yang ada beraneka ukurannya. Yang terkecil hampir sebesar anak kerbau dengan berat sekitar 200 kati sedangkan yang terbesar beratnya tidak kurang dari 400 kati. Walau demikian, pemuda itu sanggup juga mengangkat segala batuan tersebut dari tempatnya. Kuda-kudanya kokoh terpasang dan dengan hati-hati, diangkatnya setiap batu yang ada, lalu dengan sekuat tenaga dilemparkannya jauh-jauh dari situ. Beberapa saat lamanya sekitar tempat itu dipenuhi suara hiruk-pikuk, suara yang timbul akibat batu yang dilemparkannya menimpa tanah atau menabrak pepohonan. Segala hingar-bingar itu terdengar hingga ber li-li jauhnya dipegunungan. Tapi si anak muda tak ambil peduli. Sambil mengangkat dan melempar, matanya tak pernah lengah mengawasi permukaan tanah disekitar dan dibawah batuan tersebut. Setelah selesai melemparkan semua batu yang ada, tanpa beristirahat lagi matanya telah kembali tajam mengawasi permukaan tanah yang sudah dibersihkannya. Tak ada satu jengkal pun yang terlewat dari matanya. Semut dan serangga kecil yang keluyuran diatas tanah pun terlihat jelas olehnya, apalagi lubang sarang Sam-jio-sian-ong? Kalau memang ada, pastilah terlihat olehnya. Selama sekian waktu, pemuda itu duduk berdiam diri sambil mengawasi dengan ketat. Tak ada! batinnya kecewa, jelas ditempat yang telah dibersihkannya tak terlihat adanya lobang yang mungkin didiami hewan itu. Baiklah, akan kuperluas daerah pencarianku!

Maka pemuda itu pun makin giat bekerja. Tanpa mengenal lelah, ia terus mengeluarkan lweekangnya membersihkan permukaan tanah disekitar tempat itu. Tapi sampai hari mulai gelap, apa yang dicarinya tak juga ditemukan. Bukannya sarang Sam-jio-sian-ong yang ditemukan, malahan sarang dan liang sejenis tikus tanah, ular belang, ular rumput, kelinci, sejenis burung puyuh dan beberapa hewan pengerat lainnya yang ditemukannya. Sedangkan sarang buruannya sama sekali tak kelihatan. Pemuda itu menarik nafas panjang menenangkan hatinya yang mulai kesal, pun ia gelisah bukan main. Dimanakah sarang binatang itu? Mata si pemuda menyorot tajam, menyapu kawasan yang telah dibersihkannya itu dengan seksama. Permukaan tanah seluas lima puluh tombak terhampar didepan mata. Dalam jarak sekian, tak ada rumput, daun, ranting dan kerikil diatas tanah. Hanya tersisa beberapa batu gunung besar yang tak sanggup dibersihkannya dikarenakan ukurannya yang luar biasa besar dan tertanam begitu dalam ditanah. Tapi selebihnya, berhasil dipindahkannya dari tempat itu. Tiga ratus lebih pohon yang tumbuh dalam area tersebut dalam keadaan setengah telanjang. Setengah telanjang dalam arti Batang pohon yang keluar dari dalam tanah hingga ketinggian setengah tombak telah habis dikuliti. Bahkan akar yang menonjol keluar diatas tanah pun telah dibetot orang hingga putus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan A Sai... Karena khawatir Sam-jiosian-ong menyembunyikan diri diantara akar pohon dan dibalik kulit kayu, maka pemuda itu telah menguliti sebagian kulit pohon dan mencabut akar-akar pohon yang menghalangi pencariannya itu. Sedangkan dipinggiran area yang telah dibersihkannya, tampak menumpuk segala macam sampah dan kotoran. Tidak kurang satu setengah tombak tingginya dan empat tombak lebarnya tumpukan sampah yang dibuangnya keluar dari area yang telah dibersihkan. Area sebelah dalam tanah terlihat bersih mengkilap sedangkan disebelah luarnya, berserakan segala benda bercampur dengan batang-batang pohon yang patah tertindis bebatuan. Pemuda itu jadi termangu sendiri melihat hasil perbuatannya. Ada sedikit penyesalan dihatinya manakala dilihatnya keasrian alam yang ada telah berubah hebat ditangannya. Tapi ia lalu menghibur dirinya sendiri. Semua itu dilakukannya semata-mata demi menolong nyawa sesamanya. Demikianlah setelah berusaha setengah harian lamanya, tanpa sengaja ia telah menyulap tempat itu jadi tempat yang luar biasa aneh pemandangannya. Kalau ada orang yang datang ke tempat itu, dijamin orang tersebut bakal terheran-heran melihat keadaan tempat itu yang lain dari pada yang lain. Sementara itu kabut tipis perlahan mulai menutupi tempat itu. Cahaya matahari pun sudah semakin redup. Suara serangga hutan yang biasanya berbunyi disore hari mulai terdengar bersahutan. Pemuda itu jadi tersadar dengan waktu yang ada. Sudah senja, sedikit lagi gelap. Batinnya gelisah.

Pemuda itu menarik nafas panjang menenangkan hatinya. Apa boleh buat tak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini. Sebaiknya pulang dulu melihat keadaan Lo-tong. Besok baru kembali lagi kesini. Batin A Sai, mengambil keputusan. Apalagi tubuhnya pun lelah dan kelaparan. Sudah terlalu banyak tenaga yang dikeluarkannya hari ini dan ia perlu memulihkan dulu tenaganya. Kalau dipaksakan terus, selain berbahaya baginya hasil usahanya pun bakalan tidak maksimal. Semakin baik persiapan dirinya, semakin baik pula kemungkinan usahanya berhasil. Demikianlah setelah berpikir demikian, pemuda itu pun melangkah pulang sambil menahan kekecewaan hatinya. Sayup-sayup didalam kerimbunan hutan yang gelap, mulai terdengar nyanyian burung malam. Kicauannya parau dan memilukan hati... seolah sedang menembangkan sebuah kidung tentang kematian. Sesampainya digua, si kakek ditemukannya dalam keadaan sadar. Walau pun sudah sadar, jelas Lo-tong masih belum sanggup menggerakkan anggota tubuhnya. Lo-tong! pekik pemuda itu terkejut, girang hatinya melihat hal itu. Sekali pun hatinya girang, tapi khawatirnya muncul lagi kala teringat kondisi si kakek yang keracunan hebat. Sadarnya ini bisa dibilang suatu keajaiban semata dan entah bertahan sampai kapan. Wajah kakek itu dari hari ke hari semakin kehilangan sinarnya. Bahkan mulai terlihat selapis cahaya tipis kehijauan membayang disitu. Cahaya yang semakin terlihat jelas seiring waktu yang berlalu. Cepat dihampirinya kakek itu. Kek! Katakan pada A Sai, apa yang Lo-tong rasakan sekarang? tak ada lagi basa-basi, cepat maksud hatinya itu disampaikannya. Ia takut si kakek keburu maka ia pun tak sungkan lagi dalam bertindak. Semakin cepat ia mendapat petunjuk mengenai racun dalam diri si kakek, makin cepat pula ia dapat memikirkan jalan keluar dari masalah yang ada. Lo-tong tak sanggup untuk segera menjawab pertanyaan si anak muda. Dengan susah payah ia bernafas. Sejak sadar tadi angannya telah berusaha mencerna gerangan apa yang terjadi. Namun sejauh ini, segalanya tampak samar. Entahlah suara si kakek terdengar lirih. Segalanya tak terasa! Tenagaku lenyap sama sekali! Kakek itu memejamkan matanya lalu menyambung lagi ucapannya, Apa yang sebenarnya terjadi?

Butiran keringat bergulir deras dari keningnya. Wajahnya kadang pucat, kadang kemerahan, kadang kehijauan. A Sai menatap tak tenang. Perlahan tangannya terulur menghapus peluh yang deras mengalir diwajah si kakek. Hawa panas terpancar dari balik kulit yang disentuhnya. Jelas kalau Lo-tong sedang dilanda suatu demam hebat, suatu demam hebat yang aneh. Perlahan, pemuda itu menjelaskan apa yang telah terjadi pada diri kakek itu, mulai dari saat si kakek ditemukannya dalam keadaan tak sadar hingga soal keracunan yang disebabkan gigitan hewan berbisa, hewan yang dicurigainya sebagai Sam-jio-sian-ong. Sementara Lo-tong mendengarkan dengan nafas tak beraturan. Selesai bercerita tentang semuanya itu, pemuda itu kembali menyalurkan hawa saktinya masuk ke tubuh si kakek mencoba menambah daya kehidupan Lo-tong. Sam-jio-sian-ong Sam-jio-sian-ong. Si kakek bergumam beberapa kali. Benar! Apakah Lo-tong pernah mendengarnya? tanya pemuda itu cepat. Si kakek menggeleng lemah, lalu menjawab, Tak pernah! Ughh, Bocah baik mampukah kau menawarkan racunnya? setiap ucapan kakek itu dikeluarkannya dengan susah payah. A Sai tak kuasa menjawab, tak tega hatinya mengatakan kenyataan yang ada. Katakan saja nak jangan sembunyikan sesuatu dari moyangmu ini! Pemuda itu menguatkan hatinya lalu berkata pelan, Dalam kitab pertabiban Suhu, penawar racun Sam-jio-sian-ong tidak tertulis... Tapi melihat sampai detik ini Lo-tong masih sanggup bertahan, A Sai pikir A Sai pikir jalan kesembuhan masih terbuka Air muka Lo-tong berubah. Sudahkah kau gunakan Sinkang? tanyanya selang beberapa saat kemudian. Sudah A Sai coba tapi tapi kepandaian A Sai sungguh membuat malu saja. A Sai terlalu cetek ilmu tak mampu berbuat apa-apa. Katanya lambat-lambat penuh sesal. Sinar mata si kakek jadi makin guram. Apa yang kau temukan saat itu? tanya Lo-tong lebih lanjut. Kalau dipikir memang aneh semua nadi didalam tubuh Lo-tong telah berhasil A Sai lancarkan, tapi ada dua jenis hawa dingin dan panas yang bergejolak dan saling berperang satu sama lain. Waktu A Sai kerahkan tenaga, lweekang A Sai bagaikan memasuki samudera luas yang tak bertepian. Tubuh Lo-tong tidak menolak, tidak pula menerima. Saat A Sai coba

menekan hawa yang bergolak, tanda kehidupan kau orang tua malah melemah. Itu sebabnya A Sai tak berani memadamkan pergolakan yang ada. Jawabnya sedih. Air muka kakek itu sekilas tampak aneh dan sukar dipahami lalu kembali seperti sebelumnya. Setelah berganti nafas, ia pun berkata lambat-lambat. Kalau soal gejala tubuh yang tak bisa menerima pengoperan lweekang ini pertanda kalau hawa murni moyangmu telah buyar dan darah mendekati tanda mengering. Hmm kelihatannya racun Sam-jio-sian-ong menyerang darah. Hawa Im-nya membekukan darah, hawa Yang-nya membakar darah. Diserang setiap saat secara bergantian berakibat darah jadi mengering. Sedangkan soal tanda kehidupan yang melemah saat kau tekan hawa yang bergejolak hal ini disebabkan ketidak-seimbangan kedua hawa inilah yang sekarang menjadi pendorong bagi darah agar tetap mengalir dalam tubuh. Kalau salah satu dari kedua hawa ini berhasil kau padamkan maka sudah pasti darah akan berhenti mengalir! Kata si kakek. Tercekat hati pemuda itu mendengar perkataan si kakek. Apakah tak bisa kedua hawa tersebut diseimbangkan? tanyanya dengan hati gundah. Tanpa obat penawarnya sampai disini, si kakek lalu menggeleng lemah. Hati si pemuda tenggelam seketika. A Sai tak percaya! katanya keras, terdorong oleh kesedihan dan kemarahannya. Lo-tong memaksakan diri tertawa lalu melanjutkan ucapannya, Bila tidak bisa ditolong dalam beberapa hari ini, mungkin moyangmu sudah tiada harapan untuk tertolong lagi. Mimik wajah Koay-lotong tidak terbaca. Pemuda itu menatap sedih. Hendak menghibur tapi ia sendiri tak tahu hendak berkata apa. Sepertinya Lo-tong sudah pasrah menerima nasib, tak ingin pula dikasihani. Suhu bilang manusia punya keinginan, Thian punya kuasa! Segala sesuatu yang ada dialam semesta ini, Dialah yang menentukan! A Sai harap Lo-tong tak memikirkan hal yang belum terjadi. Mati hidup manusia ada ditanganNya! Sebelum saat itu tiba izinkan A Sai yang mencari jalan! A Sai jelas tidak rela, selama masih ada harapan ia tak akan berhenti berusaha. Kakek itu tak menjawab. Kepalanya terkulai kembali dan pernafasannya terdengar semakin berat. Melihat sikap Lo-tong ini, dengan hati berat pemuda itu pun menyurut mundur dua langkah. Ia tahu, Lo-tong tak ingin diganggu dahulu. Sejenak dipandangnya kembali kakek itu lalu mendesah sedih. Situasi yang dihadapi Lo-tong saat ini mau tak mau sering membuatnya terpikir tentang kematian. Ia tak tahu seperti apakah kematian itu dan ia pun tak tahu baik atau burukkah kematian itu. Hanya satu hal yang ia

ketahui, kalau sampai dirinya tak sanggup menolong si kakek dari cengkeraman maut, entah sampai kapan ia akan hidup dalam penyesalan. Pikiran kalut, hati sedih dan kesal, badan lelah ditambah lagi perutnya yang sedari tadi berteriak minta diisi membuat pikiran si anak muda jadi makin butek saja. Akhirnya ia pun beranjak pergi dari sisi Lo-tong guna mencari sekedar makanan bagi dirinya. Setelah selesai mengisi perutnya yang kelaparan, pemuda itu pun bersemedi menenangkan diri dan menghimpun hawa murni. Keesokan harinya setelah selesai mengurus Lo-tong dan menyiapkan segala kebutuhan, A Sai pun kembali berkunjung ke dataran yang dibersihkan sehari sebelumnya. Hampir tengah hari saat ia tiba ditempat itu. Suasana masih tetap sama seperti saat ditinggalkannya. Tak ada sesuatu yang berubah. Hanya daun-daun yang baru gugur saja yang tampak menghiasi tanah disitu. Sejenak pemuda itu mengawasi sekelilingnya lalu menghela nafas. Agaknya ia harus kembali memperluas wilayah pencariannya. Disebelah kirinya batuan dan cadas tampak mendominasi permukaan hutan. A Sai merenung sesaat lalu memutuskan untuk mencari di area yang penuh bebatuan itu. Siapa tahu Sam-jio-sianong justru bersarang dikawasan bukit batu tersebut. Tapi sampai lama ia putar kayun, tak juga ditemukannya sesuatu yang mirip sarang atau liang tempat kediaman Sam-jio-sian-ong. Pemuda itu berhenti sejenak. Menurut apa yang pernah dibacanya, hewan berbisa mempunyai kebiasaan yang unik dalam membuat sarangnya. Makin langka dan berbisa, makin unik bentuk dan lokasi sarangnya. Makin unik sarangnya, maka makin susah pula didapatkan. Hal inilah yang sekarang dijadikannya sebagai patokan dalam mencari sarang hewan tersebut. Sesuatu yang unik dan tidak sebagaimana mestinya. Bisa diatas tanah, bisa juga diatas pohon, bahkan bisa juga dalam kerimbunan semak, lubang batu, batang pohon dan sebagainya. Yang jelas sesuatu itu haruslah unik. Kalau ia berhasil menemukan keunikan tersebut, besar kemungkinan sarang Sam-jio-sian-ong berhasil ditemukannya. Pemuda itu mengangkat mukanya memandang langit. Matahari berada diatas kepalanya, agak sedikit ke barat. Ditaksirnya sekarang sudah lewat satu kentungan dari tengah hari. Ia harus bergerak cepat. Hari ini tak bisa tidak, sarang hewan itu harus dapat ditemukannya. A Sai lalu kembali menyusuri tempat yang telah dibukanya kemarin. Kalau sebelumnya hanya tanah dan sebagian batang pohon batas setengah tombak dari permukaan tanah saja yang diperhatikannya, kali ini dari atas tanah sampai ke pucuk pohon diperhatikannya dengan seksama. Tiga ratus lebih pepohonan yang tumbuh disitu tak ada satupun yang luput dari pandangan matanya yang tajam. Dan usahanya itu tidaklah sia-sia belaka. Baru juga sampai ke pohon yang ke-30, usaha telah membuahkan hasil. Dalam jarak tiga tombak dari tempatnya berada tampak berdiri kokoh sebuah pohon Pek berukuran besar.

Sebenarnya ukurannya itu sama dengan pohon-pohon Pek lainnya yang berada disekelilingnya. Namun yang membuat pemuda itu tertarik adalah karena bentuknya yang lain sendiri dan benarbenar berbeda dengan kawanan pohon Pek yang ada disekitarnya. Usianya paling tidak ada 10 tahunan namun ia terlihat seperti berusia beberapa abad lebih tua. Sebagian batangnya tampak kering dan layu sedangkan daun-daunnya sangatlah jarang. Bahkan bisa dibilang hampir gundul, dan hal ini sangat tidak sesuai dengan usia pohon tersebut. Harusnya dalam ukuran demikian, pohon itu sedang dalam usia dewasanya, kenapa malah tampak kering dan gundul? Pohon lainnya yang seukurannya jelas tampak segar dan rimbun penuh dedaunan, kenapa yang satu ini berbeda? Hmm, pohon Pek yang satu ini terlihat janggal, sungguh berbeda dari yang lainnya batin A Sai mulai curiga. Perhatian pemuda itu tertarik sepenuhnya. Kalau dibilang terserang penyakit, seharusnya pohon sejenis yang berdekatan pun akan seperti ini. Kenapa cuma pohon ini saja yang kering dan gundul? batinnya lagi. Berpikir sampai disini, A Sai memutuskan untuk menyelidiki lebih cermat. Pemuda itu lalu melangkah menghampiri. Setelah tinggal dua tombak dari pohon tersebut, ia pun berhenti dan mengawasi pohon yang menjulang didepannya. Sebagian besar batang pohon telah mengering dan membusuk, sedangkan hampir seluruh daun yang ada disitu telah tiada. Rupa pohon itu seperti pohon yang terserang penyakit berat, tapi seperti juga terkena rayap atau suatu jenis hama tumbuhan lainnya. Dahan dan rantingnya telanjang, kulitnya pun terkelupas dan rontok disana-sini. Dibeberapa bagian dahan dan batang pohon, tumbuh dengan suburnya sejenis tumbuhan pakis bercampur dengan lumut tebal. Satu hal yang pasti pohon Pek tersebut telah lama mati. Dua tombak diatas kepalanya pada sebuah dahan melintang, tampak sebuah celah sebesar kepalan tangannya. Tadinya celah tersebut tidak kelihatan dari jauh karena tersamar oleh tebalnya pakis yang tumbuh. Tapi karena mendekat, celah tersebut jadi terlihat olehnya. Jantung si pemuda berdegup kencang. Mungkinkah ini yang kucari? Pemuda itu melangkah setombak lebih dekat. Samar tercium keharuman yang aneh. Keharuman yang memabukkan dan sedikit berbau amis. Pemuda itu tersadar seketika. Kelihatannya itulah sarang Sam-jio-sian-ong yang dicarinya. Mungkin itu juga penyebabnya hingga pohon jadi layu dan mati karena tak tahan dengan hawa beracun yang dihasilkan kadal tersebut. A Sai melangkah makin dekat lalu disalurkan hawa saktinya menepuk perlahan batang pohon Pek tersebut. Seketika kulit dan serbuk kayu bersama sebagian dahan dan ranting rontok

berguguran. Bersamaan dengan semuanya itu, selarik sinar kemerahan melesat keluar dari lubang tersebut. Gerakannya cepat bukan main dan dalam sekejap mata, telah lenyap dibalik batang-batang pohon yang tumbuh disitu. Sam-jio-sian-ong! pekik si pemuda dalam kagetnya. Tak pernah disangkanya gerakan hewan tersebut bisa secepat itu. Kecepatannya itu bahkan tidak kalah hebatnya bila dibandingkan dengan ginkang yang dimiliki Tan Cit Kong. Pemuda itu bergegas mengejar. Saat tinggal dua tiga tombak dari tempat menghilangnya hewan tersebut, tiba-tiba saja si kadal melejit lagi ke jurusan yang lain. Gerakannya itu benar-benar luar biasa cepatnya. Ketajaman mata A Sai pun hanya mampu melihat sekilas bentuk badan hewan tersebut. Dari sini saja sudah bisa diukur sampai dimana tingginya kecepatan gerak yang dimiliki Sam-jio-sian-ong. Tapi pemuda itu tak berputus asa. Hewan itu kembali dikejarnya. Untung saja sekitar sarangnya telah kubersihkan, kalau tidak sudah sejak tadi kadal sialan ini menyembunyikan dirinya. Batin si pemuda bersemangat. Dikarenakan lima puluh tombak disekitar sarang Sam-jio-sian-ong permukaan tanah telah bersih dari segala sampah dan kotoran, maka hewan tersebut jadi kesulitan menyembunyikan dirinya. Hal ini tentu saja jadi satu keuntungan besar bagi A Sai. Walau tak dapat mengejar, namun paling tidak ia dapat dengan mudah menemukan kadal tersebut. Apalagi hewan itu pun hanya berlarian berputaran disekitar situ, agaknya ia pun segan lari jauh dari sarangnya. Gerakan hewan tersebut mengingatkan A Sai akan Tan Cit Kong bahkan Koay-Lo-tong. Sebab kecepatannya memang nyaris menyamai ginkang yang dimiliki si bocah tua aneh. Terulang lagi kejadian sebelumnya. Tubuh si kadal gesitnya bukan main. Dengan kecepatan yang mengagumkan, ia meliuk diantara batang-batang pohon yang tumbuh disitu. Sebentar lari ke barat, sebentar kemudian lari ke utara. Dengan kecepatan demikian, bagaimana mungkin pemuda itu mampu menangkapnya? Jangankan menangkap, mengejarnya saja A Sai tak mampu. Sampai malam menjelang, si pemuda tetap saja gagal menyandak buruannya. Perawakannya telah basah oleh keringat tapi ia masih juga berusaha. Setelah berlarian sekian lama dan belum juga memperoleh hasil, A Sai jadi sadar sendiri tak mungkin menangkap hewan tersebut dengan cara yang digunakannya sekarang. Sudah jelas ia kalah cepat dan tak mungkin baginya mengadu lari dengan hewan tersebut. Walau hatinya berkeras ingin secepatnya menangkap buruannya itu, tapi ia tahu kalau apa yang dilakukannya sekarang adalah sesuatu yang sia-sia. Ia lalu menghentikan gerakannya. Otaknya kembali diperas mencari jalan keluar yang tepat dengan keadaan yang sekarang dihadapinya. Seharusnya catatan mengenai Sam-jio-sian-ong dalam kitab Thian-bun ditambahi keterangan kadal paling berbisa merangkap ahli ginkang nomor satu dalam rimba persilatan gerutu

pemuda itu sambil tertawa tawar, mentertawakan kebodohan dirinya yang hendak mengadu lari dengan buruannya itu. Huhh, walau pun tak mampu menandingi ginkangmu bukan berarti A Sai menyerah kalah! Aku punya otak kau tidak! Masakan kuharus bertekuk lutut dihadapanmu? dengus pemuda itu gusar. Ia boleh saja kalah dalam adu lari ini, tapi belum tentu ia kalah dalam adu kecerdikan. Kadal sepintar apa pun, tetap saja binatang. Mereka hanya bergerak berdasarkan naluri dan insting, bukan berdasarkan otaknya. Masakan ia yang dikaruniai indra untuk berpikir oleh Thian tak sanggup menggunakannya? Kalau sampai ia kalah dari hewan tersebut, lebih baik kadal itu saja yang jadi dirinya dan ia yang jadi kadal. Kira-kira itulah yang melintas dalam benak A Sai saat ini. Hmm, tak perlu terlalu khawatir. Yang namanya hewan, selama sarangnya belum rusak dan masih ada kemana pun perginya pastilah akan kembali juga ke sarangnya. Walau sekarang tak bisa menangkapnya, tidak masalah! Toh letak sarangnya telah kuketahui. Yang perlu kulakukan hanyalah mencari jalan lain untuk menaklukkan hewan tersebut. Berpikir sampai disini, pemuda itu jadi sedikit terhibur. Sementara itu kegelapan mulai menyelubungi alam sekitarnya. Tanpa terasa, malam sudah menjelang. Sinar sang surya mulai lenyap dari permukaan bumi dan udara pegunungan semakin lama semakin menurun. Bahkan halimun pun telah mulai naik dari tanah dan menutupi lereng pegunungan tempatnya berada sekarang. Tapi pemuda itu tak peduli. Matanya tetap memandang tajam hewan buruannya itu. Sementara si kadal Sam-jio-sian-ong tetap tak bergerak. Diam tenang diatas batu cadas tiga tombak jauhnya dari si pemuda. Badannya yang bersisik tebal tampak semakin kemerahan dibawah sinar matahari senja, sedangkan kepalanya terangkat tinggi dan angkuh. Lidah berwarna merah kebiruan, terjulur keluar masuk sementara matanya berputararan berulang kali, seperti mentertawakan si anak muda. Kau jangan sombong dulu! katanya jengkel. Sungguh gemas hatinya melihat tingkah buruannya itu. Tengah asyik melotot, lolongan hewan liar terdengar disekelilingnya. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Dari suara yang terdengar sambung menyambung, mudah diduga kalau hewan tersebut lebih dari seekor. Agaknya sudah saatnya bagi kawanan hewan malam tersebut untuk keluar mencari mangsa. Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini suara-suara tersebut terdengar dekat dengan tempatnya berada. Seperti lolongan anjing liar bisa juga serigala. Batin pemuda itu, untuk sesaat pikirannya teralih pada lolongan-lolongan seram yang terdengar disekitarnya. Mendadak wajah si pemuda berubah pucat.

Celaka! pekiknya gelisah. Jelas ia teringat akan sesuatu sesuatu hal yang berhubungan dengan suara-suara raungan kawanan hewan liar disekelilingnya itu. Apalagi yang diingatnya kalau bukan bayangan si kakek yang ditinggalkannya sendirian digua. Celakanya lagi kakek itu masih belum sadar dan tak mungkin mampu menjaga dirinya. Kalau sampai kawanan hewan tersebut menyatroni gua kediamannya. Berpikir sampai disini, pemuda itu jadi menggigil sendiri. Tanpa memperdulikan lagi si kadal yang sedang petantang-petenteng diatas cadas, pemuda itu segera melesat pergi meninggalkan tempat itu. Ia harus dapat kembali ke gua secepat mungkin. A Sai bergerak maju kalang-kabut. Walau masih ada 200-an tombak jauhnya dari gua kediamannya dan Lo-tong tapi ia telah mendengar geraman hewan-hewan tersebut semakin dahsyat bersahutan. Bulu tengkuk pemuda itu makin meremang. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik sedang terjadi, dan semoga saja ia belum terlambat. Pemuda itu berganti nafas cepat lalu memaksakan dirinya berlari makin pesat. Walau pepohonan menghalangi pandangannya dari mulut gua, tapi semakin mendekati gua kediamannya, semakin nyaring suara-suara geraman tersebut ditelinganya. Sesekali geraman yang ada diselingi dengan raungan panjang yang mendirikan bulu roma. Wajah A Sai bertambah pucat, tak dipedulikannya lagi segala semak belukar dan pepohonan yang merintangi jalannya. Tak dipedulikannya juga medan yang dilaluinya itu. Ia berlari seperti kesetanan dan ditabraknya segala halangan yang ada. Langkahnya lurus dan kalau tak terpaksa, tak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Tidak lagi berlari menghindari semak belukar, tapi langsung main terobos. Bahkan pakaiannya yang memang sudah robek tak karuan itu, jadi makin terkoyak. Tapi ia tak peduli. Saat ini hanya satu hal yang ada diotaknya keselamatan Koay-Lotong. Sekejap saja, sampailah pemuda itu ke tujuan. Dalam tebalnya halimun, bayangan tubuh-tubuh hewan berkaki empat bergentayangan mondarmandir didepan pintu masuk gua. Tubuh-tubuh tersebut dipenuhi bulu tebal panjang berwarna kelabu dengan mata yang mencorong kuning didalam kegelapan. Serigala. Batin pemuda itu tersadar. Yang terlihat oleh matanya saja jumlahnya paling tidak sudah 15 sampai 20 ekor, belum lagi yang tidak kelihatan? Pemuda itu melangkah maju dengan hati-hati. Sambil melangkah, diperhatikannya situasi disekelilingnya dengan cermat. Namun kawanan serigala tersebut telah pula mengetahui kedatangannya, sebab beberapa ekor yang paling dekat dengannya sudah berpaling ke arahnya dan mulai mempertontonkan rangkaian taringnya yang berkilauan.

Berpasang mata menyala terang mengawasi A Sai. Mata pemuda itu pun mencorong, tak kalah terangnya dengan berpasang mata yang ada. Dua tiga ekor bergegas menghampiri pemuda itu dan berjalan cepat mengitarinya. Agaknya bermaksud mengurung pemuda itu ditengah. Bulu tengkuk hewan-hewan tersebut menegang kaku. Geraman dan dengusan liar tak hentinya keluar dari moncong mereka. Dua tiga kejap kemudian, makin banyak serigala yang mengelilingi A Sai. Kening si pemuda mulai basah oleh peluh yang mengalir. Ketegangan mulai menguasai hatinya. Jantungnya berdegup kencang sementara matanya tak pernah berhenti mengawasi kawanan serigala yang mengelilinginya. Hawa sakti mulai merambati sekujur tubuh A Sai, kewaspadaannya pun semakin meningkat. Dengan diiringi gerengan dahsyat, serigala yang terdepan meloncat menerkamnya, disusul seekor dari sebelah kanan dan seekornya lagi dari belakangnya. Dalam detik yang bersamaan, tiga ekor sekaligus telah menerjang. Pemuda itu menatap gusar, detik sebelum serangan terdepan mengenai tenggorokannya, si pemuda berteriak nyaring lalu kepalannya pun beraksi. Dengan gerakan berputar satu lingkaran penuh ditempat, sepasang lengannya mengembang dan menghantam. Hawa sakti terpancar keluar layaknya gelombang, lima tombak jauhnya. PRAAKKK! PRAAKKK! PRAAKKK! Dalam detik yang hampir bersamaan, suara tengkorak pecah terdengar berulang kali disusul enam bangkai serigala terbanting tak bernyawa. Darah segar bercampur cairan otak bersama serpihan-serpihan gigi, daging dan tulang serta segala isi perut hewan tersebut tampak berceceran dirumput dan dedaunan sekitar. Bahkan semak belukar pun turut terbabat putus seperti diiris pedang. Rupanya dalam tegangnya, ia telah menyalurkan sepuluh bagian tenaganya keluar. Itu sebabnya serangan si anak muda bukan hanya menghancurkan sebelah dalam tubuh, tapi juga mencabik-cabik dan mengiris putus sekalian serigala yang ada dalam jangkauan angin serangannya. Sekeras apa pun tulang belulang hewan itu, takkan mungkin sanggup menahan hawa sakti yang terpancar keluar dari kibasan sepasang lengan A Sai. Ibarat sebutir semangka yang dipukul dengan palu godam, demikianlah yang terjadi dengan barisan serigala yang menyerang pemuda itu. Tampang si pemuda kelam membatu, tak kalah beringas dengan kawanan serigala yang mengurungnya. Bau amis memualkan tajam menyengat hidung.

Bau yang ada membuat kawanan yang mengelilinginya jadi makin beringas. Dengan suara riuh rendah, kembali beberapa ekor segera menubruk dari segala arah, susul menyusul tak kenal takut. Tapi si pemuda pun tak kalah beringasnya. Sepasang lengannya menari ditengah derasnya terjangan yang ada, berturut-turut dua ekor lainnya meregang nyawa tersambar hawa sakti si pemuda. Tapi kawanan serigala yang ada bukannya takut malah semakin ganas mereka merapat dan menerjang. A Sai menggeram marah. Dua ekor segera menyusul menyerang, seekor menyerang betis kanannya dan seekor yang lain melompat naik mencoba menggigit punggung si pemuda. Tanpa menghiraukan ancaman yang datang, sekaligus sepasang tinjunya terayun. Yang satu mengibas tinggi ke belakang sedangkan tinjunya yang lain menyambar rendah ke bawah. PRAAKKK! PRAAKKK! Begitu selesai menghabisi nyawa penyerangnya, A Sai segera bergerak maju dengan ganas. Kali ini, ia yang menyerang. Cepat sekali sepasang lengannya mengibas mampus serigala terdekat. Demikianlah hanya dalam waktu beberapa saat saja, setengah dari kawanan serigala disitu telah binasa. Sisanya lagi sambil menggeram panjang pendek, berhamburan meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap mata, bayangan tubuh mereka telah lenyap dibalik tebalnya kabut. Dari jauh sekali-sekali terdengar suara lolongan hewan tersebut. Tapi A Sai tak berhenti sampai disitu. Tanpa sempat menarik nafas lagi, A Sai berkelebat cepat memasuki gua. Sekilas pandang terlihat kalau si kakek masih tetap terbaring ditempatnya semula, kelihatannya belum sempat diganggu kawanan hewan buas tersebut. Barulah sekarang A Sai dapat bernafas lega. Kedatangannya belumlah terlambat. Terima kasih Thian! bisiknya tanpa sadar. Setelah memeriksa keadaan gua dan memastikan si kakek tak kurang suatu apa, pemuda itu lalu keluar dan menguliti beberapa ekor yang tubuhnya tidak terlalu rusak. Paling tidak ada lebih dua puluh ekor yang binasa malam itu ditangannya. Pemuda itu menarik nafas, hatinya diliputi penyesalan. Saat lolongan kawanan serigala tersebut pertama kali didengar malam sebelumnya, seharusnya ia sudah dapat memikirkan sampai ke situ. Keteledorannya nyaris menghilangkan nyawa Lo-tong dan hal inilah yang disesalinya. Untung saja ia sampai pada waktunya, kalau tidak?

Akhirnya setelah selesai dengan kesibukannya itu, dibawanya beberapa potong besar daging serigala ke dalam gua, sisanya lagi lalu dilemparkan ke tempat lain. Malam itu dilewatinya dengan berpesta sekenyangnya. Pesta daging serigala. ******* A Sai tampak berdiri mengawasi enam helai kulit serigala yang sedang dijemurnya. Ke enam lembar kulit tersebut tergantung pada seutas tali yang dijalinnya dari bahan yang sama. Sekalian kulit tersebut digantungnya menutupi jalan masuk ke gua. Hal ini selain bertujuan untuk mengeringkannya, juga untuk menakut-nakuti sekalian hewan lain yang datang ke situ dengan bau yang teruar dari kulit yang dijemurnya. Semalam diperhatikannya kulit serigala ternyata tebal dan hangat. Daripada dibuang begitu saja, lebih baik jika diambilnya beberapa, siapa tahu ada gunanya nanti. Apalagi dipikirnya dalam cuaca yang serba dingin ini jika digunakan sebagai mantel atau selimut, akan besar kegunaannya untuk melawan hawa dingin. Itulah sebabnya ia memutuskan untuk menguliti beberapa untuk keperluan nanti. Ia baru saja kembali dari mengumpulkan beberapa barang kebutuhannya. Ditangan kanan pemuda itu tampak sebuah kantong kecil dari kulit, kantong yang dibuatnya dari usus serigala. Setelah dibersihkan dan dilumuri ramuan obatnya, usus yang ada jadi bertambah liat, bahkan bau tak enak pun sudah tak ada lagi. Kantong dipinggangnya itu menggembung dipenuhi getah pohon Kiang-giok-ci. Kejadian semalam memberinya pelajaran berarti. Itu sebabnya ia tak lagi berani berjalan jauhjauh dari gua kediamannya. Seandainya terpaksa berjalan jauh, maka perjalanannya itu diusahakannya secepat mungkin sudah harus kembali. Setelah termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu menghela nafas panjang lalu bergegas memasuki gua kediamannya. Setengah kentungan kemudian, A Sai telah berada kembali ke lokasi yang telah dibersihkannya kemarin. Tampak diatas sebuah batu datar disebelah tempatnya berdiri, terbaring Lo-tong. Tubuh si kakek terbungkus dalam selembar selimut kulit domba dan tepat disebelahnya, api unggun tampak berkobar. Hari ini si kakek terpaksa dibawanya. Oleh karena dirinya mesti berada setengah harian ditempat itu, maka Lo-tong dibawanya pula ke situ. Ia tak lagi berani meninggalkan kakek itu sendirian digua. Takut terjadi lagi sesuatu disaat dirinya tak ada. Setelah selesai mengatur tempat peristirahatan Lo-tong, pemuda itu pun kembali menghampiri sarang Sam-jio-sian-ong. Lubang gelap tersebut masih sama seperti kemarin. Pohon pek itu pun tak berubah. Tapi hewan yang dicarinya tak berada lagi ditempatnya.

Kebetulan malah batin A Sai senang. Dengan tidak beradanya kadal tersebut disarangnya, ia jadi punya banyak kesempatan meneliti sarang hewan tersebut. Pemuda itu segera memanjat naik ke dahan dimana sarang Sam-jio-sian-ong berada. Gerakannya lincah seperti kera. Bau harum yang memabukkan menyambar hidungnya. Ia tahu, itulah hawa beracun yang ditinggalkan Sam-jio-sian-ong. Semula ada sedikit rasa was-was, tapi setelah beberapa waktu, yakinlah dirinya kalau segala hawa beracun hewan tersebut tak berpengaruh padanya. Beberapa waktu lamanya diperhatikannya keadaan sarang hewan tersebut. Ehhh sebenarnya apa yang kucari disini? batin A Sai. Tengah asyik putar otak cari akal, terdengar suara Lo-tong. Apa yang kau lakukan diatas sana? A Sai tersentak. Wajahnya berseri seketika mengetahui si kakek sudah sadar. Cepat pemuda itu melompat turun dari dahan tempatnya bertengger dan menghampiri Lo-tong yang sedang memandang ke arahnya penuh minat. Ehh, Lo-tong sudah sadar dari tadi? tanyanya tergesa. Kakek itu mengangguk cepat lalu mengulangi pertanyaannya, Kau sedang main apa? Kenapa duduk diatas pohon? dan apa juga yang sedang kau amati? tanyanya si kakek bertubi-tubi. Pemuda itu tertawa tawar. Oh A Sai sedang berusaha menangkap Sam-jio-sian-ong. Cuma kadal itu gesit sekali, susah menangkapnya! Cepat ia menjelaskan. Lo-tong menatap ingin tahu lalu mulai mengamati dahan tempat si pemuda tadi bertengger. Mana dia? tanya si kakek makin tertarik sementara matanya jelalatan mengamati dengan lebih seksama. Kebetulan kadal itu tidak berada disarangnya. kata A Sai sambil mengawasi sekelilingnya. Lo-tong mengerutkan keningnya menatap A Sai lekat-lekat, lalu bertanya, Disitukah sarangnya? Kenapa moyangmu tidak melihatnya? Ehh, sebenarnya letak sarangnya itu diatas dahan tadi Lobang sarangnya takkan kelihatan dari sini!

Lo-tong memandang beberapa kejap lalu tampak berpikir serius. Peluh mengalir deras dari jidatnya. Kenapa tidak robohkan saja pohon itu? Kalau kau robohkan terus kau bongkar batangnya, bukankah binatang itu jadi tak punya tempat persembunyian lagi? kalau tak ada tempat sembunyi, bukankah kau jadi mudah menangkapnya? saran Lo-tong sambil meringis menahan sakit. Wajah A Sai berubah kemerahan. Bagaimana menjelaskan kalau dirinya tak mampu menandingi kecepatan hewan itu? lagipula ia takut kalau mengatakan demikian si kakek jadi patah semangat. Akhirnya pemuda itu berusaha menjawab tanpa menyinggung ke arah situ. Selama sarangnya masih utuh, hewan itu pastilah akan kembali ke sarangnya. Tapi kalau sarangnya dihancurkan A Sai khawatir hewan itu malah melarikan diri ke tempat lain. Dan kalau sampai ia melarikan diri dan tak mau kembali lagi wah akan sangat sulit menemukannya! Jawab A Sai sungguh-sungguh. Benar juga yang dikatakan pemuda itu. Akhirnya Lo-tong hanya sanggup manggut-manggut saja. Rupanya bocah ini punya perhitungannya sendiri. Soal bagaimana ia melakukannya, kiranya tak perlu ikut camput mengurusinya. Batin si kakek. Rupanya begitu? Ya sudah, tapi kenapa kau menginginkan hewan itu? Oh hoho, moyangmu tahu kau ingin membalaskan dendam moyangmu bukan? tanya si kakek sambil terkekeh, walau tertawa tapi tampang si kakek malah mengeryit menahan sakit. A Sai tertawa tawar, hatinya tertusuk. Itu cuma salah satu alasan sampingannya saja. Tujuan utamanya karena A Sai ingin mempelajari sifat racunnya Sam-jio-sian-ong! jawab si pemuda sungguh-sungguh. Si kakek jadi terharu mendengar perkataan si anak muda. Untuk sesaat, ia tak mampu berkatakata. Ternyata semua kerepotan ini demi dirinya. Matanya memandang A Sai lekat-lekat, jelas terlihat kesungguhan dimata pemuda itu. Lo-tong menghela nafas melonggarkan dadanya yang mendadak sesak oleh emosi. Tak usah dipaksakan! Pelan-pelan saja kau berusaha! kata si kakek pelan. Pemuda itu memandang sekilas lalu menjawab, Tak ada waktu lagi untuk berlambat-lambat. Kadal itu harus segera A Sai dapatkan. Ngg, Lo-tong istirahat saja disini. Biar A Sai yang mengurus semuanya! sambungnya lagi dengan nada penuh percaya diri yang dipaksakan.

Si kakek makin terharu. Cepat ia berpaling ke jurusan lain. Ia tak ingin pemuda itu melihat air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya. Melihat Lo-tong telah tidak memperhatikannya lagi, A Sai pun melangkah pergi. Kembali dihampirinya sarang hewan buruannya itu. Ia melangkah dengan hati-hati, sambil mengamati seksama lobang dibatang pohon Pek tersebut. Samar dalam keremangan lobang, sepasang mata kuning kehijauan sedang memandangnya tanpa berkedip. Rupanya Sam-jio-sian-ong telah menyelundup masuk ke sarangnya. A Sai tertegun. Kedatangan hewan ini sungguh tak diketahuinya sama sekali. Sedikit meleng saja sang kadal sudah berada kembali ditempatnya. Sungguh lihay gerakannya. Karena buruannya telah berada kembali disarangnya, maka sekarang tinggal bagaimana ia mengatur langkah agar kadal buruannya itu tak mampu meloloskan diri dari tangannya. Lama si pemuda putar otak. Hmm, kuusir saja keluar dari sarangnya begitu ada kesempatan, segera pasang perangkap. Pikirnya. Dikerahkan lweekangnya lalu ditepuknya batang pohon tersebut dengan perlahan. Bersama gugurnya ranting dan kulit kayu, berkelebat juga sesosok bayangan kemerahan diudara. Wuuttt! A Sai membentak nyaring lalu mengibas perlahan. Angin pukulannya menyambar sasaran. Tidak secara langsung tapi lebih seperti mendorong sasarannya itu untuk makin jauh meninggalkan tempat itu. Memang si anak muda ada maksud untuk menjauhkan hewan tersebut dari sarangnya, itu sebabnya ia menjaga agar tenaganya tidak sampai melukai sasarannya itu. Dalam sekejap mata, bayangan kemerahan tersebut telah lenyap dari pandangan. Itukah Sam-jio-sian-ong? suara Lo-tong terdengar mendadak, rupanya segala gerak-gerik pemuda itu diikutinya dari tadi. Benar kek! Sayang gerakannya terlalu cepat bagi A Sai! nada suaranya mengandung penyesalan. Lo-tong termangu, lalu menggeleng kepalanya beberapa kali. Binatang cilik itu memang lincah bukan main. Larinya itu bahkan lebih hebat dari ginkang sebagian besar pesilat dibulim. Dengan ginkangmu itu, tak heran kau tak bisa menyandaknya. Kata si kakek coba menghibur. Pemuda itu menunduk kesal dan malu, diam-diam ia jadi menyesali kepandaian sendiri yang rendah.

Melihat A Sai seperti tertekan dengan situasi, Lo-tong coba kasih pendapat, Kalau tak mampu menangkapnya, kenapa tidak kau mampuskan saja dengan hawa lweekangmu? Pemuda itu tertegun. A Sai menginginkannya hidup-hidup. Lo-tong jadi ikutan tertegun, dipandanginya si anak muda dengan sorot mata tidak mengerti. Kenapa? Bukankah tak ada bedanya? Mati atau hidup, tetap saja beracun! Ngg, A Sai khawatir kalau racun yang dihasilkan Sam-jio-sian-ong setelah mati, jadi berubah sifatnya. Maksudmu kau takut jika kadal itu mati, racunnya tidak seampuh saat ia masih hidup? Ngg. Begitulah! Kontan Lo-tong menggeleng tak setuju. Kata siapa? Racun ya racun! Dipatuk ular hidup, tak ada bedanya dengan ditusuk menggunakan jarum yang dilumuri racun ular tersebut! Mediumnya boleh beda, tapi hasilnya sama saja! Pemuda itu tertawa tawar. Soal apakah racunnya melemah atau tidak setelah hewan tersebut mati A Sai tak begitu pasti! Tapi disaat seperti ini, A Sai tak ingin ambil resiko! Racun yang ada haruslah disuntikkan disaat kadal itu masih hidup, sebab A Sai takut kalau hewan itu langsung dibunuh dan ternyata sifat racunnya itu ternyata tidak seampuh saat ia masih hidup, kemana lagi harus dicari Sam-jio-sianong kedua dengan waktu yang tersisa ini? Harap Lo-tong jangan mentertawakan kebodohan A Sai. Hanya saja untuk menghindari terjadinya kesalahan, A Sai terpaksa mengesampingkan nasihat kau orang tua. Katanya berkeras. Kau tahu apa? sungut si kakek sedikit tak senang. A Sai jadi tak enak hatinya. Maafkan A Sai kek! Oleh karena ingin mengetahui sifat racun yang sebenar-benarnya maka A Sai terpaksa melupakan kebodohan sendiri! Dari pada langsung menutup jalan yang ada, A Sai pikir lebih baik jika dicoba dulu satu persatu! Harap kau orang tua tidak tersinggung! Lo-tong kembali tertegun mendengar alasan yang dikemukakan pemuda itu. Walau hatinya tak senang namun ia dapat mengerti kesulitan A Sai itu. Rupanya karena tak ingin salah maka si pemuda rela bercapai lelah berusaha menangkapnya hidup-hidup. Hanya saja menilik situasi yang ada, jelas kecil kemungkinan pemuda itu akan berhasil.

Hmm, alasannya ada benarnya juga, sayang ia lupa dengan kemampuannya sendiri. Memangnya dia mau berusaha sampai kapan? Dengan ginkang yang pas-pasan begitu, lebih banyak kemungkinan gagal daripada berhasil batin Lo-tong rada dongkol, walau dongkol ia tersentuh juga dengan usaha si pemuda demi menolongnya. Menurutmu kira-kira berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menangkapnya? Sehari? Seminggu? Sebulan mungkin? Bisa juga setahun! Lo-tong coba mengingatkan. Paras pemuda itu berubah merah, perkataan Lo-tong secara tak langsung telah menyindirnya sebagai orang yang tak sadar dengan kemampuan sendiri. Tak sadar dengan kemampuan sendiri tak ada bedanya dengan tak tahu diri. A Sai akan berusaha sekuat tenaga! Lo-tong tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya sanggup menghela nafas saja. Si pemuda pun tak berkata-kata juga. Ia sudah punya akal yang hendak dikerjakannya, dan ia harus mengerjakannya sekarang. Setiap detik yang berlalu, tak boleh dibuang percuma. Harap Lo-tong suka menunggu sebentar, A Sai hendak pergi mengurus sesuatu! kata si anak muda kemudian, lalu ia pun beranjak dari tempat itu. Ehh, kau hendak mengurusi apa? Pemuda itu nyengir sesaat, lalu menjawab, A Sai pikir kalau tak mampu menangkapnya dengan cara ini, masih ada cara lain yang bisa A Sai gunakan. Harap Lo-tong sudi menanti sebentar, A Sai pergi takkan lama! Setelah berkata demikian, ia kembali berkelebat pergi dari situ. Tunggu sebentar! Jelaskan maksudmu itu! Lo-tong cepat berteriak memanggil. Langkah pemuda itu kali ini tak berhenti, hanya suaranya yang terdengar dari jauh. A Sai hendak memasang perangkap! Lo-tong terkesima. Benar juga ucapan bocah itu. Perangkap bisa jadi berhasil menangkap Sam-jio-sian-ong Hmm, otaknya itu ternyata bisa juga digunakan. Batin si kakek dalam hatinya. Senyum Lo-tong tampak menghiasi wajahnya, wajah yang semakin lama semakin kuyu dan kehilangan sinar. Setelah ditinggal pergi, baru terasa kalau ia terlalu memaksakan dirinya berbicara. Mungkin karena tak ingin dianggap lemah membuat Lo-tong akhirnya memaksakan diri sekuat tenaga

menahan sakit-penyakitnya itu. Sekarang segalanya jadi bertambah gelap bagi si kakek. Akhirnya Lo-tong pun kehilangan kesadarannya, lagi. Tidak sampai seperempat kentungan kemudian, A Sai telah kembali. Tangannya menjinjing beberapa perlengkapan yang dibuatnya secara terburu-buru. Tali sepanjang empat tombak dari kulit serigala ditambah dengan satu kantong kecil yang dibuatnya dari usus hewan tersebut tadi malam. Kantong itu digunakannya untuk menampung getah pohon Kiang-giok-ci yang disadapnya disekitar situ. Getah pohon ini tidak berwarna dan tidak berbau, daya rekatnya pun kuat luar biasa. Jika terkena, tanpa obat penawar takkan bisa melepaskan diri dari daya rekat getah kiang-giok-ci. Dengan mengandalkan getah pohon inilah A Sai hendak menjebak Sam-jiosian-ong. Getah Kiang-giok-ci dilaburkannya didasar dan pintu masuk sarang Sam-jio-sian-ong. Tak lupa dibeberapa dahan sekitar situ turut dilumurinya pula. Lalu ia pun mundur teratur mengawasi jebakan yang telah dibuatnya. Selesai sudah, sekarang tinggal menunggu hasilnya. Batin pemuda itu puas. Ia pun berkelebat menghampiri Lo-tong. Wajahnya kembali terlihat susah manakala keadaan si kakek telah diperiksanya. Pemuda itu bergumam tak jelas lalu berpaling mengawasi langit. Sudah lewat dua kentungan dari tengah hari. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya sekarang selain menunggu hasilnya. Setelah memadamkan api unggun yang ada, diangkatnya tubuh Lo-tong lalu ia pun berkelebat kembali ke gua. ******* Kadal ini licik sekali! gerutu A Sai sambil mengamati jebakan yang dibuatnya. Keningnya berkerut dalam, jelas getah yang dilaburkannya kemarin sama sekali belum terusik. Ini hanya berarti dua hal; Sam-jio-sian-ong belum kembali ke sarangnya sejak jebakan ini dibuat atau ia berhasil menghindari getah yang dilaburkannya disitu. Apakah hewan ini bisa mengetahui jebakan yang kuatur disini? Masakah sama sekali ia tak menyentuhnya? Atau jangan-jangan ia sudah pindah dari sini? batin A Sai bertanya-tanya. Lama pemuda itu termenung putar otak. Akhirnya ia pun kembali lagi ke tempatnya semula disisi Lo-tong. Sudah seharian lewat namun perangkap kita tak juga berhasil menjebaknya. Agaknya hewan yang satu ini pintar juga! katanya gelisah. Lo-tong mengangguk setuju.

Jelas kadal ini masih jauh lebih pintar darimu! setelah berkata demikian, si kakek lalu terbahak. Rupanya geli sendiri mendengar ucapannya itu. A Sai jadi ikut tertawa. Sekarang akal bulus apalagi yang hendak kau gunakan? tanya Lo-tong setelah tawanya reda. Pemuda itu berpikir cukup lama. Entahlah kek! Biar nanti A Sai pikirkan lagi! jawabnya tak pasti. Lo-tong jadi kasihan melihatnya. Caramu itu kurang tepat digunakan! Lagi pula sukar diduga hasilnya! Bocah baik, bagaimana kalau kuajari kau cara menangkapnya? kata Lo-tong tiba-tiba. Pemuda itu tertegun sesaat, kemudian bertanya, Apakah apakah Lo-tong ada akal lain? nada suaranya penuh dengan pengharapan. Lo-tong mengangguk. Kujamin caraku ini akan berhasil menangkap hewan itu secepatnya! Mata si pemuda bersinar terang. Benarkah Lo-tong tahu bagaimana cara menangkap Sam-jiosian-ong? Cara apa yang hendak Lo-tong gunakan? Katakanlah kek, A Sai siap menerima petunjuk dari kau orang tua! pintanya Wajah si kakek yang pucat dan mandi keringat jadi kelihatan sedikit berseri. Duduklah disampingku! Ucapannya itu segera dituruti si pemuda. Si kakek terdiam sesaat lalu mendadak bertanya, Tahukah kau apa penyebabnya hingga kau tak mampu menyandak hewan itu? A Sai mengangguk, lalu menjawab, A Sai memang tak becus, gerakan hewan itu jauh lebih cepat dari A Sai! Lo-tong mengangguk menyetujui ucapan si pemuda. Itulah masalahnya! Padahal dengan dasar Lweekang yang kau miliki, seharusnya mudah saja bagimu untuk menangkapnya. Hal ini hanya berarti satu kau belum tahu bagaimana menggunakan tenaga saktimu itu dengan benar.

Wajah si pemuda berubah jengah, tapi dengan cepat ia mengangguk setuju. Hal yang seperti ini sungguh patut disayangkan! Ginkang Suhumu itu tak bisa dibuat mainmain. Seharusnya dengan dasarmu sekarang, mempelajari ilmu meringankan tubuh bukanlah sesuatu hal yang sulit Tapi kenapa dasarnya pun belum juga ia ajarkan Hmm, entah apa maksud Suhumu itu. A Sai tertawa tawar. Mungkin Suhu ada mempunyai kesulitannya sendiri! Lo-tong jadi gemas hati, pikirnya, Mengingat sifat Kok Lam, perkataan bocah ini ada benarnya juga. Dasar tukang obat sinting, dapat bakat sebagus ini kenapa disia-siakan begitu saja? Kalau aku yang jadi gurunya, takkan kulepaskan bocah ini berkelana sebelum ia tamat mempelajari seluruh kepandaianku. Berpikir sampai disini, si kakek jadi tak senang hatinya. Kelak urusan ini tak boleh tidak akan kutanyakan langsung padanya. Hmm ingin kulihat apa yang akan dikatakannya nanti. Batinnya lagi. Ya, sudahlah! Otak Suhumu itu memang rada tidak beres! kata si kakek kesal. Pemuda itu cuma bisa nyengir saja. Cara moyangmu sederhana saja. Dengan dasar tenaga sakti yang ada padamu, jika kau melatih diri menurut petunjuk yang kuberikan, moyangmu jamin paling lama esok hari Ginkangmu takkan kalah dengan binatang itu. Jelas maksud kakek itu, ia hendak mengajarkan Ginkang perguruannya pada A Sai. Air muka A Sai berubah ragu dan tegang. Ada beberapa urusan yang memberatkannya. Zaman itu, kedudukan seorang guru dipandang tinggi seperti bintang dilangit, dan umumnya seorang murid tak bisa seenaknya saja mengangkat guru. Hal ini terutama berlaku kalau ia sudah berguru duluan pada orang lain. Sebab jika ia mengangkat seorang guru baru tanpa seizin gurunya yang sebelumnya, ia pastilah dianggap murid durhaka dan tidak berbakti pada guru dan perguruannya. Belum lagi persoalan ini bisa menimbulkan dendam dan pertikaian diantara kedua gurunya itu. Itu sebabnya A Sai untuk sesaat meragu dan tak bisa langsung mengiakan perkataan Lo-tong. Lo-tong pun cukup mengetahui keberatan A Sai itu, maka ia segera berkata: Tak usah kau pandang sedemikian seriusnya... Walau pun hendak mengajarkan Ginkang padamu, tapi yang akan kuajarkan nanti hanyalah Ginkang pasaran yang mudah didapat dipinggir jalan, bukan ilmu Ginkang pusaka perguruanku! Nah, dengan demikian diantara kita

tak ada hubungan guru dan murid. Kau membantuku, aku pun membantumu. Ini sudah sewajarnya dan tak bisa dikatakan kau menerima budi dariku! Si kakek menghela nafasnya lagi lalu menyambung ucapannya. Lagi pula dengan menolong dirimu sama juga dengan menolong diri sendiri. Ketegangan si pemuda mulai mengendor, alasan yang dikemukakan Lo-tong bisa diterimanya. Baiklah kek! A Sai menurut saja! Lo-tong mengangguk senang, walau baru beberapa hari mengenal A Sai tapi hatinya sudah langsung menyukai sikap dan pembawaan pemuda itu. Kemampuannya pun mencengangkan si kakek, belum lagi Lo-tong merasa telah menerima budi dari A Sai. Itu sebabnya walau dimulutnya berkata demikian, tapi dalam hatinya benar-benar serius hendak menurunkan ilmu ginkang andalannya pada si pemuda. Ilmu yang menjadi kebanggaannya selama malang melintang puluhan tahun lamanya. Tempat ini cukup memenuhi syarat untuk berlatih! Anak baik, dekatkan telingamu, akan kuturunkan Kouw-koat (teori) ilmu meringankan tubuh sekarang! Dengan memahami cara pernafasan dan penyaluran hawa murni ini, kujamin dalam waktu sebentar saja Ginkangmu takkan kalah dengan kadal itu! Pemuda itu mengangguk lalu segera melakukan apa yang diinginkan si kakek aneh. Lo-tong pun tak berlambat lagi, segera diwariskannya ilmu Ginkangnya yang maha tinggi itu pada si pemuda. Ginkang pasaran yang hendak diturunkannya ini dalam rimba persilatan dikenal dengan nama Siang-lui-khi-hong-ho (sepasang sinar kilat mengendarai hujan dan angin). Ilmu ini bisa dikatakan setara, bahkan mungkin lebih ajaib dari pada Te-hun-cong (Ginkang menapak awan) Bu-tong-pay. Tentu saja nama ilmunya itu tak dikatakannya pada A Sai, sebab ginkangnya itu sangat terkenal dalam dunia persilatan. Tak mungkin ginkang pasaran keluaran pinggir jalan punya nama sebagus dan seterkenal itu. Demikianlah, A Sai pun belajar ilmu tersebut tanpa mengetahui nama dan asal usul ilmu yang dipelajarinya itu. Lo-tong tak sungkan lagi. dikeluarkannya segala kouw-koat Siang-lui-khi-hong-ho pada A Sai. Teori yang seharusnya dihafalkan seminggu, ternyata bisa dihafalkan si anak muda dalam waktu satu dua kentungan saja. Ditambah lagi Lo-tong senantiasi memberi petunjuk dan penjelasan, maka dalam waktu yang tak lama mengertilah pemuda itu dengan baik. Pada dasarnya teori Siang-lui-khi-hong-ho hanyalah terpusat pada soal pernafasan saja. Tapi soal pernafasan ini sebenarnya terbagi ke dalam tiga bagian besar, yaitu : bagian pengaturan hawa murni, keseimbangan tubuh dan cara bergerak. Didalamnya termasuk teori-teori tentang mengatur keseimbangan tubuh, mengelola pernafasan dalam setiap gerakan, menyalurkan

tenaganya saat berada atau tidak berada diatas tanah, menambah kecepatan gerakan dengan memaksimalkan tenaga yang dimiliki, serta aneka macam variasi gerakan. Demikianlah yang terjadi dari siang hingga malam menjelang. Pemuda itu menghabiskan waktu yang ada dengan sungguh-sungguh mempelajari segala teori yang diturunkan Lo-tong padanya. Kalau ada yang tak diketahuinya, ia tak sungkan untuk bertanya. Walau demikian, ada juga bagian yang tak bisa langsung dilakukan pemuda itu seketika, terutama dibagian cara bergerak. Gerakan yang harus dilakukannya cukup merepotkan A Sai. Sebab gerakan yang harus dipelajarinya itu meliputi berbagai variasi gerakan poksai (salto) diatas tanah dan diudara, berbagai variasi bergulingan menyusur tanah, dan sebagainya. Dan A Sai jelas kesulitan. Gerakan seperti ini haruslah dilatih dengan teratur dan tak bisa dipelajari dalam sehari dua hari saja, sebab gerakan yang seperti ini membutuhkan keseimbangan dan keluwesan tubuh yang tinggi. Walau pemuda itu berbekal bakat yang bagus, tetap saja dalam hal ini kemampuannya sangatlah terbatas. Apalagi tanpa adanya contoh, jelas ia makin kesulitan melakukannya. Bagi seorang awam, seperti A Sai yang belum pernah melatih jurus silat, sudah pasti pergerakan tubuhnya rada kaku dan kurang luwes, kurang pula keseimbangannya. Kalau cuma salto sekali ke depan atau bergulingan biasa menyusur tanah sih masih tidak mengapa, gerakan yang harus dilatihnya ini ruwet dan seringkali bahkan tak masuk diakalnya. Misalnya saja seperti bagaimana melakukan tiga empat kali putaran diudara lalu mendadak melenting ke arah yang lain dan sebagainya. Sekarang baru kelihatan jelas kalau bocah ini belum pernah mempelajari jurus silat. Gerakannya tubuhnya itu seperti kerbau saja, sungguh kaku dan tak enak dilihat. Pikir si kakek, geli melihat A Sai yang jatuh bangun mencoba melakukan gerakan yang diperintahkannya itu. Sayang, aku tak bisa menunjukkan contoh padanya. Kalau tidak, ia akan lebih mudah melakukan gerakan tersebut. Sesal si kakek lagi. Walau demikian ia pun dapat memaklumi kesulitan pemuda itu sebab adalah tak mungkin memaksanya menguasai segala variasi gerakan sulit itu dalam sehari. Si kakek tersenyum senang. Bocah baik! Pusatkan saja perhatianmu pada bagian pernafasannya, soal variasi gerakan itu tak usah kau perhatikan terlalu serius. Asalkan sudah kau ingat teorinya, bolehlah kau latih dikemudian hari! Kata Lo-tong. Pemuda itu mengangguk, lalu melanjutkan kembali kegiatannya itu. Tapi terlepas dari kegagalannya dalam menguasai variasi gerakan, Lo-tong puas sekali menyaksikan pemuda itu ternyata sanggup mengatur tenaganya dengan baik, bahkan ia seolah tak menemui kesulitan apa pun dibagian pernafasan dan penyaluran tenaga Siang-lui-khi-hongho.

Akibatnya pun sungguh hebat, hanya berlatih tidak sampai setengah harian saja, kecepatan gerakan A Sai telah meningkat pesat, dan hingga malam menjelang, ginkangnya bisa dibilang telah meningkat tiga empat kali lipat lebih lihay dari yang sebelumnya. Ternyata ilmu ringan tubuh Siang-lui-khi-hong-ho (sepasang sinar kilat mengendarai hujan dan angin) andalan Koay-lo-tong memang tiada bandingannya saat ini. Tapi itu semua tak terlepas juga dari keadaan tubuh si anak muda yang punya dasar kuat berkat titik Seng-si-hian-koan nya yang jebol. Dengan dasar keadaan tubuhnya itu ditambah lagi dengan bekal lweekang dan kecerdikannya, tak susah baginya mendapat kemajuan seperti saat ini. Bahkan Lo-tong saat masih belajar dulu pun membutuhkan waktu tiga bulan lamanya baru dapat mencapai hasil yang diperoleh A Sai sekarang. Maka hasil yang diperlihatkan pemuda itu jelas membuat si kakek takjub. Lo-tong memandang kagum, terpesona hatinya melihat kemajuan si pemuda. Memang benar kata orang, lweekang adalah dasar ilmu silat. Kalau dasarnya sudah kuat, takkan susah belajar ilmu apa pun juga. ******* (Bersambung) A Sai mengempos seluruh semangat dan tenaganya lalu memompanya sekaligus ke dalam beberapa jalan darah ditubuhnya, diiringi bentakan nyaring, tubuhnya pun melambung naik tiga tombak dari permukaan tanah. Tapi ia tak berhenti sampai disitu, selagi masih mengambang diudara, tubuhnya mendadak melenting empat tombak ke depan lalu hinggap didahan pohon terdekat. Seharusnya masih bisa lebih jauh lagi Sial, masih ada tenaga yang terbuang percuma! Terlalu banyak gerakan yang tak perlu! pemuda itu bergumam dengan wajah tak puas. A Sai menarik nafas sesaat lalu kembali bergerak cepat. Tubuhnya melenting kian kemari dalam berbagai variasi gerakan yang sulit, dari satu pohon ke pohon yang lain ia berkelebat tanpa suara sementara tirai kabut pegunungan membuat gerakannya semakin samar terbungkus halimun yang melingkupi. Sesaat tampak jelas, sesaat kemudian tampak samar, dilain waktu malah lenyap sama sekali dari pandangan. Bagai segumpal asap berbaur dengan angin yang berhembus, demikianlah dirinya. Sungguh sulit membedakan tubuhnya itu dengan tirai kabut disitu. Pemuda itu berlatih dengan sepenuh hati. Peluh yang mengalir deras membuat bagian tubuhnya yang tak teralang kain tampak berkilau dibawah sinar bulan. Kegelapan yang melingkupi tak dipedulikannya, tak dipedulikannya juga hawa yang membeku, ia bergerak seperti kesetanan. Siang-lui-khi-hong-ho (sepasang sinar kilat mengendarai hujan dan angin) terus dan terus dilatihnya. Kalau tidak memaksakan diri berlatih melewati batas, ia tak boleh berharap akan

dapat menguasai ginkang Siang-lui-khi-hong-ho secepatnya. Sayang waktu tak berpihak padanya. Setiap detik yang berlalu menentukan hidup mati Koay-lo-tong. Dan dengan dengan cara berlatih gila-gilaan seperti inilah ada harapan bagi kesembuhan Lo-tong. Pokoknya sebelum roda kematian berputar, ia harus berhasil. Tengah asyik berlatih, terdengarlah raungan aneh dari dalam gua. A Sai terkejut bukan main, tanpa menghiraukan segala yang ada, ia berkelebat masuk ke gua. Apa yang kemudian dilihatnya, semakin membuatnya khawatir. Si kakek menggelepar keras dan bergulingan dilantai gua dengan seluruh tubuh menggigil hebat. Mata kakek itu melotot lebar sedangkan kedua lengannya mencakar-cakar sekujur tubuhnya sendiri. Sinar kehijauan tampak berpendar tipis, bukan hanya diwajah tapi juga disemua bagian kulit tubuhnya yang terlihat. Jelas racun sedang bergolak dahsyat saat ini, saking dahsyatnya hingga kakek itu sudah seperti orang gila saja. Lo-tong! Tanpa menunda waktu lagi, ia berusaha sekuat tenaga meredakan segala penderitaan si kakek, baik dengan totokan, penyaluran sinkang, maupun dengan pil pengurang sakit dan penambah daya kehidupan. Segala yang diketahuinya dikeluarkan semua. Susah payah pemuda itu berjuang mempertahankan nyawa kakek itu. Hati dan pikirannya kacau bukan main. Hanya orang yang pernah berjuang mempertahankan nyawa sesamanya dari tangan dewa kematian saja yang tahu bagaimana kalutnya perasaan A Sai saat ini. Syukurlah usahanya itu tidaklah sia-sia. Keadaan tubuh Lo-tong yang terlatih sedikit banyak mampu bertahan terhadap serangan racun ditubuhnya. Kalau orang lain yang terkena, sudah siang-siang nyawa mereka melayang. Demikianlah setelah berusaha tiga kentungan lamanya, akhirnya pertarungan tersebut berhasil dimenangkannya. Pemuda itu menghapus keringat yang mengalir deras diwajahnya, hatinya penuh dengan rasa syukur. Fuihhhh! Hampir saja batinnya pucat. Dua kali ia kehilangan denyut kehidupan Lo-tong selama sekian waktu. Walau Cuma sekian saat, tapi itulah saat-saat paling menegangkan baginya sejak keluar dari Neraka Bumi. Pemuda itu tepekur cukup lama, sekujur tubuhnya yang penat dan basah oleh keringat tak dipedulikannya lagi. Seluruh perhatiannya dicurahkan sepenuhnya memikirkan persoalan Lo-tong. Terlalu sedikit yang kuketahui terlalu banyak yang tak kumengerti. Renungnya gelisah. Pemuda itu menghela nafas panjang lalu menghembuskannya keras-keras. Tak ada jalan lain lagi, Sam-jio-sian-ong harus kudapatkan malam ini juga! Berpikir sampai disini, pemuda itu pun bulat hatinya.

Tanpa menghiraukan tubuhnya yang lelah, ia lalu bangkit dan menyobek dua kerat besar daging serigala yang diasapinya dari kemarin. Sepotong langsung dimakannya, sepotong lagi lalu disisipkannya begitu saja ke balik bajunya. Tidak berhenti sampai disitu, ditelannya pula dua butir tablet penambah tenaga pemberian Yok-sian padanya. Setelah siulian setengah kentungan lamanya, tenaganya pun pulih kembali. Setelah sekali lagi memeriksa kesehatan Lo-tong, ia pun beranjak keluar dari gua. Sesampainya diluar, ia tidak langsung pergi sebaliknya malah mencari beberapa batu gunung sebesar kerbau yang lalu digulirkannya menutupi pintu masuk gua itu. Berat batuan yang mencapai empat lima ratus kati tak dirasakannya sama sekali. Tujuannya cuma satu, mencegah hewan liar apa pun untuk masuk ke dalam gua itu. Pemuda itu menatap hasil kerjanya itu, setelah yakin pintu daruratnya itu cukup kokoh dan tak mungkin dijebol begitu saja, ia pun berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Sekali menjejak tanah, seketika jarak lima tombak dilaluinya. Gerakannya samar dan nyaris tak terlihat oleh mata. Sudah bukan seperti manusia lagi tapi lebih mirip bayangan seekor burung raksasa yang melayang-layang dalam pekatnya kabut. Beberapa saat kemudian, sampailah pemuda itu dipohon tempat bersarangnya Sam-jio-sian-ong. Tak menunda waktu lagi, ia bergegas memulai usahanya itu. PLAKKK! Tangannya menepuk perlahan batang pohon tempat bersarangnya Sam-jio-sian-ong. Bersamaan dengan rontoknya daun dan kulit kayu, seberkas sinar kemerahan melesat keluat dari sarang hewan tersebut. Tapi si pemuda telah bersiap sedari tadi. Begitu Sam-jio-sian-ong melesat keluar, ia pun melejit lurus dua tombak ke atas mencegat buruannya. Tangannya menyambar naik memapak tubuh buruannya. Wuttttt! Binatang itu ternyata hebat juga gerakannya. Ditengah jalan ternyata ia mampu meloloskan diri dari celah sempit yang tercipta pada serangan A Sai. Dengan kecepatan yang mengagumkan, ia menerobos keluar dari cengkeraman si pemuda dan melejit ke dahan pohon didekatnya. Pemuda itu mendengus gusar. Dalam keadaan melayang diudara, mendadak tubuhnya melenting balik mengejar bayangan merah yang sedang berusaha melarikan diri darinya. Tapi tetap saja ia terlambat sepersekian detik, kadal itu telah lebih dulu mendarat didahan pohon tersebut dan kembali melejit ke pohon lainnya. Bukan main! Sekali melompat, jarak lima tombak dilaluinya. Batinnya kagum.

A Sai menahan nafas diperut hingga menyebabkan tubuhnya mengambang sepersekian detik diudara, menyusul tangannya memukul ke bawah mengirimkan hawa sakti menggempur tanah. Blaarrrrrrr! seketika tanah dibawahnya terbongkar dilanda hawa sakti pemuda itu. Memanfaatkan pantulan tenaganya itu, tubuh pemuda itu kembali melejit lima tombak jauhnya ke depan. Seakan masih kurang, tangannya masih juga menyambar dan menarik ranting-ranting pohon didekatnya, memanfaatkan ranting tersebut, tubuhnya berkelebat makin cepat mengejar sasarannya. Dari jauh, hanya tampak bayangan merah kecil berkelebat cepat dan meliuk diantara pepohonan disusul bayangan besar mengejar ketat dibelakangnya. Hal ini pun masih ditambah lagi dengan kelincahan si kadal yang bukan buatan. Sebab buruannya itu berlarian zig-zag kiri kanan dan sanggup merubah arahnya secara tiba-tiba kapan saja ia mau, seolah perubahan arah secara mendadak pada waktu sedang berkelebat cepat itu tak mempengaruhi sang kadal. Hal inilah yang membuat pemuda itu jadi bertambah-tambah kesulitannya. Sebab A Sai masih butuh waktu sepersekian detik disaat hendak merubah arah larinya. Inilah sebabnya hingga setelah lewat setengah kentungan masih juga tak mampu kadal itu ditangkapnya. Kecepatan keduanya ternyata seimbang. Sayang ia baru setengah harian melatih Siang-lui-khihong-ho, masih rada kaku gerakannya. Seandainya berlatih semalaman lagi, mungkin ia akan lebih mudah mengejar dan menangkap buruannya itu. Keadaan Lo-tong yang berada diambang kematian akhirnya memaksa pemuda itu untuk menghentikan latihan dan mulai dengan perburuannya itu. Wajah dan leher A Sai basah bermandikan peluh yang mengalir deras. Sial kalau begini terus, kapan baru bisa kutangkap kadal jelek ini? batinnya gelisah. Pemuda itu bersuit nyaring, memaksakan diri bergerak makin cepat. Satu hal yang tidak disadarinya, berlarian sekian lama sambil mengeluarkan seluruh kemampuan ringan tubuh Siang-lui-khi-hong-ho, sama halnya dengan melatih Siang-lui-khi-hong-ho secara sungguh-sungguh. Lambat laun, dirinya makin terbiasa dengan ilmu barunya itu dan semakin menguasai pula pengaturan nafas dan gerakannya. Pelan tapi pasti, gerakannya pun makin bertambah cepat. Setelah lewat satu kentungan, pemuda itu pun menyadari kemajuannya itu. Semangatnya makin berkobar saja. Dengan senyum tersungging dibibir, ia berkelebat kian kemari sementara sepasang tangannya menyambar buruannya itu tanpa henti. Si kadal kewalahan juga dikejar seperti itu. Menyadari dirinya takkan mungkin lagi bersembunyi didaerah gundul itu, ia pun bergerak makin menjauhi sarangnya. Sial.. kalau hewan ini sampai berhasil keluar dari sini, bakal lebih susah lagi menyandaknya. Batin A Sai gelisah sambil mempercepat langkahnya.

Tiga tombak lagi hewan tersebut berhasil keluar dari daerah gundul tersebut, melihat hal ini, A Sai jadi gelisah bukan main. Tapi ia pun tak kehilangan akal, disalurkannya lweekang ke tangan kanan lalu diserangnya kadal itu. Serangkum angin keras berhembus keluar dari lengannya dan menghantam si kadal dari belakang. WUUUUTTTTTT! Sial! rutuk pemuda itu tanpa sadar. Kadal itu seperti mempunyai mata dibelakang tubuhnya, tanpa menengok, ia berkelit ke kanan lalu menyusup ke dalam lubang diantara akar pohon yang ada. Jangan harap kau bisa lolos malam ini! dengus A Sai gemas. Tergesa dilepaskannya kantong kulit yang berisi getah Kiang-giok-ci lalu ditutupkannya pada mulut lubang yang ada. Tanpa banyak macam lagi, tangannya menepuk perlahan tanah disekitar mulut liang, mengirim hawa saktinya ke dalam bumi. Tanah bergetar, debu beterbangan, rerumputan layu seketika. Dalam radius 1 tombak, tenaganya menyebar menyusur tanah. Sam-jio-sian-ong seolah dihimpit tenaga yang tak kelihatan dari segala penjuru dan liang kecil tersebut tak mampu menyelamatkannya dari jangkauan tenaga sakti si pemuda. Tak ada pilihan lain lagi selain keluar dari persembunyiannya. Begitu hewan itu melesat keluar, otomatis ia terperangkap masuk ke dalam kantong yang telah disiapkan A Sai. Kena kau! Pekik A Sai kegirangan. Sebelum hewan itu sadar berada dimana, tergesa diikatnya mulut kantong tersebut erat-erat. Walau si kadal berontak sekuatnya, mana mungkin sanggup merobek kantong pusakanya itu? Pemuda itu terkekeh sesaat, hatinya riang bukan main. Sambil bersiul senang, ia pun melangkah kembali ke gua peristirahatannya. Segala capai lelahnya terbayar sudah. ******* Hari menjelang pagi. Penerangan dalam gua hanya berasal dari unggun yang menyala. Cahaya yang biasanya masuk dari luar gua sama sekali tak kelihatan terhalang tebalnya bebatuan yang menumpuk disitu. Pintu gua nyaris tak ada lagi. Beraneka batuan sebesar anak kerbau tampak menutupi, celah yang masih ada pun ditambal dengan kerikil dan tanah. Praktis sudah tak bisa masuk atau keluar dari dalam gua itu. Dibeberapa bagian yang paling tinggi pada tumpukan tersebut, terlihat dua tiga lobang kecil, saking kecilnya hingga hanya nyamuk dan lalat yang mampu melewati. Ini memang sengaja ditinggalkan sebagai lubang hawa agar ruangan gua tak kekurangan udara dan

tak perlu khawatir mati kehabisan nafas. Untuk apa semua ini? kenapa pula harus menyumbat satu-satunya pintu yang ada? Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk berjaga-jaga agar Sam-jiosian-ong tidak melarikan diri keluar dari gua itu. Bisa diduga, A Sai lah yang membuatnya. Kalau ia mampu menutupi pintu gua yang ada, tentunya ia punya keyakinan untuk membongkar segala tumpukan yang ada. Keadaan dalam gua itu hening tak ada suara. Disudut belakang gua, A Sai sedang tenggelam dalam semedinya, sedang berusaha secepatnya memulihkan hawa dan mengembalikan semangatnya yang berkurang. Selangkah didepannya, kantong kulit yang berisikan Sam-jio-sian-ong tergeletak begitu saja didasar gua. Beberapa waktu kemudian, mata pemuda itu akhirnya terbuka. Ketegangan tampak jelas dalam gerakgeriknya itu. Biar bagaimana pun juga, mencobakan racun salah satu hewan paling berbisa yang dikenal dunia pada dirinya cukup menggetarkan hatinya. Salah-salah malah nyawa sendiri yang bakal melayang, dan A Sai cukup menyadari akan hal itu. Mati hidup rahasia Thian semoga saja Thian menyertai usahaku ini. batinnya mencoba meraih kembali ketenangan hatinya yang timbul tenggelam dengan menyerahkan seluruhnya pada Thian. Perlahan tapi pasti, ia mulai mendapatkan kembali ketenangan hatinya. Pemuda itu menghembuskan nafas panjang, menghembuskan berbagai perasaan yang menyesakkan rongga dadanya, lalu tanpa ragu-ragu bangkit mengambil kantong didepannya itu. Tahap kedua dari usahanya dimulai. Secara sembarangan, salah satu makhluk paling beracun diseluruh daratan Tiongkok dikeluarkannya. Merasa ada sesuatu yang memegang tubuhnya, hewan itu mendesis garang lalu menancapkan taringnya ke tangan si pemuda. Ini yang memang diharapkannya. Sayang, taring hewan tersebut tak sanggup menembus kekebalan tubuhnya. A Sai tersenyum getir. Disaat seperti ini, kelebihan tubuhnya justru jadi penghalang bagi usahanya. Sambil menggenggam Sam-jio-sian-ong yang meronta liar dalam genggamannya, otaknya berputar sementara matanya memperhatikan sosok hewan tersebut dengan teliti. Tubuh si kadal seperti dilapisi selapisan tipis minyak, berkilat-kilat kemerahan, tampangnya kasar mengerikan penuh tonjolan tak rata sedangkan sepasang matanya besar berwarna kuning terang. Kulit tubuhnya bersisik mirip ular, keempat cakarnya menegang dan mencengkeram tangan si pemuda. Ekornya yang panjang bergerak liar membelit kian kemari. Samar-samar dibawah sinar api, segulung uap putih tipis seperti melayang keluar dari mulutnya. Tampang Sam-jio-sian-ong benar-benar jelek tak ada bagusnya.

Disudut gua yang lain, Koay-Lo-tong menatap lemah tak berkedip. Segala gerak-gerik pemuda itu diperhatikannya dengan seksama. Melihat keraguan dan kegelisahan si anak muda, hati Lotong mulai dilanda perasaan tak enak. Apalagi saat dilihatnya kadal beracun itu memagut tangan si pemuda dan A Sai sama sekali tak berusaha menghindarinya, perasaan Lo-tong jadi semakin tak menentu. Ia mulai dapat meraba jalan pikiran si anak muda. Jalan pikiran yang membuat hati Lo-tong serasa tenggelam entah kemana. A apa yang ingin kau lakukan de.. dengannya? tanya Lo-tong susah payah penuh emosi. Pemuda itu berpaling sejenak, lalu tersenyum lembut dan berkata, Mencoba racunnya. Air mukanya terlihat tenang. Hati Lo-tong membeku mendengar jawaban A Sai itu. Ternyata apa yang ditakutkannya benar adanya. Sekarang ia tahu kalau yang dimaksudkan anak muda itu dengan mencari tahu sifat racun Sam-jio-sian-ong adalah dengan cara mencobakan racun tersebut langsung pada dirinya sendiri. Tadinya ia mengira A Sai ingin mencobakannya pada hewan lain untuk mengamati hasilnya, atau mungkin juga mencoba mencari tahu dengan cara lainnya... Tapi tindakan yang hendak mencobakan racun langsung pada tubuh sendiri sama saja dengan bunuh diri. Timbul rasa sesal yang sangat dalam hati Lo-tong. Tahu begini, takkan diajarkannya Ginkang Siang-lui-khi-hong-ho pada A Sai. Kau sudah gila? Racun binatang itu tak ada obatnya! bentak si kakek panik. Pemuda itu tersenyum getir, namun tak menjawab Lo-tong benar-benar habis akal melihat sikap A Sai itu. Melihat segala jerih payah si anak muda yang keras kepala bersungguh-sungguh berusaha selama beberapa hari ini, jelas tak mungkin kata-katanya akan didengarkan pemuda itu. Akhirnya si kakek hanya sanggup memejamkan matanya lalu berkata dengan suara bergetar, Ku mohon. Jangan lakukan itu! Seumur hidup belum pernah Lo-tong memohon sesuatu. Membayangkan si pemuda akan menemani perjalanannya ke alam maut sungguh membuat hatinya tertekan bukan main. Berbagai emosi dan perasaan memenuhi jiwanya. Beberapa diantaranya bahkan belum pernah dirasakan si kakek seumur hidupnya. Ia memang ingin sembuh, tapi ia tak ingin pemuda itu berkorban sampai sedemikian jauhnya. Kebaikan yang diterimanya beberapa hari ini saja sudah setinggi gunung sedalam lautan dan entah sampai kapan bisa dibalasnya, jadi bagaimana mungkin ia sanggup menerima pengorbanan diri pemuda itu lagi? Saat ini, soal mati hidupnya sudah tak penting lagi baginya. Nyawa pemuda ini sudah dipandangnya jauh melebihi nyawanya sendiri. Sayang ia tak mampu berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

Pemuda itu tersenyum sendu. Lo-tong tenang saja, A Sai tahu apa yang harus A Sai lakukan. Jawabnya penuh tekad. Kakek itu tak mampu bersuara lagi. A Sai menarik nafas sejenak, ia tak mungkin berhenti sampai disini ia sudah terlalu jauh melangkah. Pemuda itu akhirnya berpaling dan kembali mengamati kadal jelek ditangannya. Perlahan senyuman kecil tersungging dibibirnya. Agaknya ia telah berhasil mendapatkan jalan keluar dari masalahnya itu. Pemuda itu bergegas melaksanakannya. Sambil menguatkan hatinya, ia membuka mulut kadal tersebut. Disingkapkan sepasang taring dan tanduk yang ada lalu dibawa ke mulutnya sendiri. Kelihatannya ia hendak membiarkan si kadal jelek memagut bibirnya, mungkin pikirnya hanya ditempat itulah taring si kadal mampu menembus kulitnya. Hanya disitulah racun dapat masuk ke tubuhnya. Tidak ada tempat lain lagi yang pantas digigit si kadal, sebab tempat lain ditubuhnya lebih keras dari pada besi pilihan. Rupanya keadaan terlukanya Lo-tong lah yang memberinya ide demikian. Perlahan didekatkannya binatang jelek itu ke bibirnya. Disebelah sana, wajah Lo-tong bertambah pucat, Nak Ja jangan laakukan itu, kumohon pikirkan kembali erang si kakek putus asa. A Sai tersenyum tipis tapi tak menghentikan gerakannya. Dibiarkannya hewan tersebut menancapkan taringnya dibibirnya. Cesssss! Inilah ciuman pertamanya, ciuman yang paling memuakkan hatinya, tapi juga ciuman yang paling diinginkannya saat ini. Yang pasti, ciuman hari ini takkan pernah dilupakan seumur hidupnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia telah berciuman dengan kematian. Wajah si pemuda berubah hebat, beberapa tetes darah segar bergulir dari sela mulut yang bertemu. Racun Sam-jio-sian-ong, racun nomor tiga terjahat dibulim menerobos pembuluh darahnya lalu dalam sekejap mata telah berbaur dengan darah ditubuhnya. Setelah terasa racun yang masuk telah berhenti, dengan sekali sentak dibuangnya si kadal ke sudut gua. Tubuh si pemuda mulai menegang, seluruh otot ditubuhnya mengencang. Darahnya bergejolak seperti gelombang samudra sementara peluh mulai deras membasahi tubuhnya. Wajah pemuda itu mulai pucat kehilangan warnanya. Semakin lama, semakin lemah jantungnya berdetak. Telinganya berdenging nyaris pekak, lidahnya mulai kelu dan mati rasa, bahkan hidung dan

seluruh panca inderanya semakin lama semakin kehilangan fungsinya. Perlahan namun pasti, segalanya mulai tampak samar terlalu samar malah. Sekuat tenaga, pemuda itu bertahan tapi rasanya sungguh nyaris tak mampu ditanggungnya. Terlalu menyakitkan. Bahkan Lweekang yang sudah sejak awal dikerahkannya untuk melindungi jantung dan organ penting lainnya pun mulai terasa buyar dan tak mampu dikendalikannya lagi. Tanpa mampu mengerahkan lweekang, penderitaannya jadi terasa berkali lipat lebih kuat. Luar dalam tubuhnya seolah dicabik-cabik ribuan tangan yang tak kelihatan. Remuk redam. Pemuda itu pun roboh ke lantai tak mampu lagi untuk bertahan tetap duduk. Kesadarannya pun semakin lama semakin melemah. Diantara sadar dan tidak, berbagai bayangan tak jelas tampak menari-nari dibenaknya. Seperti mentertawakannya, seperti juga mencelanya, bahkan seolah merayu dirinya untuk menyerah saja. Beberapa bahkan berbisik ke dalam hatinya, Bocah baik istirahatlah kau sudah lelah untuk apa bertahan lihat kematian akan melepaskan dirimu dari penderitaan ada melepaskanmu dari dunia yang menjemukan ini memberimu kedamaian abadi Istirahatlah nak Tidurlah berbagai rayuan itulah yang terngiang samar direlung hatinya. A Sai benar-benar berada diantara hidup dan mati. Bisikan dan bujukan yang ada nyaris membuatnya terlena dan nyaris membuat A Sai mengikutinya. Tapi, pemuda itu mengeraskan hati. Sekuat tenaga, dikumpulkannya kembali semangatnya yang nyaris buyar dan dipaksakan dirinya tetap sadar. Dalam keadaan payah demikian, ia mencoba meresapi racun yang menyerangnya mencoba berkonsentrasi menganalisa sifat racun yang ada. Sungguh patut dipuji batin pemuda ini. Dalam keadaan menderita hebat, ia masih juga memikirkan kepentingan orang lain dan masih juga berusaha menyelidiki sifat racun yang menyerangnya itu. Padahal orang lain jika berada dalam keadaan yang demikian, pastilah melupakan segalanya dan hanya memikirkan perasaan sendiri Sungguh suatu hal yang belum tentu mampu dilakukan manusia lainnya. Ternyata segalanya sesuai dengan perkataan Lo-tong... Racun Sam-jio-sian-ong memang menyerang darah. batinnya setengah sadar diantara kesakitan yang melanda, kesakitan yang nyaris tak sanggup ditahannya. Tubuh si pemuda yang semula gemetaran hebat, tampak mulai melemah kehabisan daya. Sekali sekali, tubuhnya tampak tersentak dan mengejang. Tampangnya saat ini sudah mirip mayat saja. Disudut yang lain, Lo-tong menatap pilu. Seperti hancur jiwanya melihat keadaan si pemuda. Penderitaan A Sai pernah dirasakannya, dan ia tahu betul seperti apakah rasanya. Melihat A Sai bersedia merasakan penderitaan seperti itu sungguh sangat memukul perasaannya. Rasa terima kasihnya pada si pemuda tak mampu diungkapkannya lagi dengan kata-kata. Rasa bersalah dan penyesalan pun turut menindihnya. Satu hal yang pasti, suatu perasaan baru pun turut tumbuh dan berakar kuat dalam diri si kakek.

Ja jangan khawatir nak kau takkan pergi sendiri Akan kutemani kau ke dasar neraka akan kutemani kau ke Nirwana kemana pun kau akan pergi takkan kubiarkan kau berjalan seorang sendiri. suara Lo-tong sarat dengan keharuan dan kasih sayang, wajahnya banjir dengan air mata. Suara si kakek sayup-sayup menembus alam pikiran A Sai dan membangkitkan semangatnya. Walau tubuhnya melemah, tapi tekadnya jadi semakin menguat. Ucapan Lo-tong berhasil menguatkan hatinya dan hal ini membantunya melewati masa penderitaannya itu. Demikianlah, lebih dua kentungan lamanya pemuda itu meresapi siksaan racun yang menggelora. Setelah lewat waktu tersebut, akhirnya racun yang masuk kedalam darahnya ternetralisir sendiri oleh tubuhnya. Suatu hal yang tak masuk akal sebenarnya jika dinalar, tapi satu hal yang pasti Thian masih menyayangi jiwanya. Tubuh si pemuda mulai tampak tenang, tak lagi bergetar seperti tadi. Perlahan namun pasti, nafasnya pun mulai teratur. Pemuda itu tetap terbaring sambil memejamkan mata, tubuhnya nyaris tak bertenaga. Beberapa saat kemudian, dicobanya mengalirkan lweekangnya dan usahanya itu berhasil. A Sai menghembuskan nafas panjang sambil tak hentinya mengucap syukur pada langit. Selama sekian waktu kemudian, ia beristirahat mengumpulkan kembali tenaga dan semangatnya. Setelah tubuhnya terasa lebih mendingan, pemuda itu pun menyusuti peluh yang deras membasahi wajahnya lalu bangkit dan duduk. Dengan tenang, dikeluarkannya kitab Thian-bun lalu dibacanya. Wajahnya yang kuyu terlihat berseri, agaknya ia berhasil menemukan apa yang ingin diketahuinya. Dengan setengah menyeret tubuh, pemuda itu merangkak mendekati Lo-tong. Kita berhasil kek! kata-katanya terdengar lemah tapi penuh dengan kegirangan. Air muka Lo-tong yang mandi keringat dan air mata susah dikatakan. Nak Jangan pernah lakukan itu lagi! Pemuda itu tertawa pahit namun tak menjawab. Lo-tong makin hancur jadinya, keharuan dan syukur menyesakkan dadanya. Mulai saat ini nyawa Koay-lo-tong milikmu seorang. janji si kakek pelan pada dirinya sendiri. ******* Matahari tepat diatas kepala. Sesosok bayangan berkelebat cepat ditengah pegunungan Kun-lun nan sepi. Gerakan bayangan tersebut cepat bukan main. Ia melesat kian kemari, melompati jurang, mendaki tebing, menerobos rimba, berlari seperti kesetanan melewati ribuan Li. Pakaiannya kotor, bajunya

compang-camping bak pengemis rudin disudut pasar. Bajunya yang rusak itu ditutupi dua lembar kulit serigala sementara tubuh seorang kakek yang ditutupi selembar kulit domba tampak dipunggungnya. Si kakek jelas tidak sadar, bahkan tidak sehat. Tubuh yang semula gemuk, kini tampak kuyu, kurus dan lemah. Lebih banyak matinya daripada hidup. Wajah bayangan tersebut kelam tersaput mendung tebal. Walau berhasil mengetahui sifat racun Sam-jio-sian-ong namun bahan yang diperlukannya untuk membuat obat penawar sungguh susah dicari. Butuh waktu bertahun-tahun baru mungkin dapat mengumpulkan semuanya. Ia butuh keajaiban lagi. Sekarang semua tergantung nasib, semoga Thian menyertai usahanya ini. Sudah setengah harian ia meninggalkan gua kediamannya. Segala usahanya mengobati keracunan Lo-tong, termasuk menangkap Sam-jio-sian-ong, bisa dikatakan berhasil, bisa juga tidak. Kenyataannya ia mampu memperpanjang nyawa si kakek sekian lama, tapi tetap saja ia tak mampu menyembuhkannya sama sekali. Dalam hal ini, ia maju selangkah lalu berhenti ditempat. A Sai memandang jauh ke depan, menatap puncak-puncak gunung dikejauhan. Segalanya tampak samar terhalang tirai awan. Biru kelabu seperti hatinya sekarang. Untung saja dalam kitab Thian-bun ia menemukan cara yang dapat digunakannya untuk meredakan keracunan Lo-tong. Darahnyalah yang sekarang ini untuk sementara waktu mampu meredakan keracunan si kakek. Rupanya percampuran antara racun si kadal dengan darahnya telah membuat darahnya itu jadi berkhasiat meredakan keracunan yang diderita Lo-tong. Sayang hanya sanggup meredakan tapi tidak memunahkan sama sekali. Satu hal yang pasti, Hidup Koaylo-tong bergantung sepenuhnya pada darahnya itu, sama seperti ia dulu bergantung penuh pada lumpur panas di Neraka Bumi. Jadi biar bagaimana pun juga, ia tetap harus mencari bahan-bahan untuk membuat obat penawar racun Sam-jio-sian-ong bagi Lo-tong. Seolah masih kurang banyak bebannya, nasib Thio Yan Ci yang belum diketahuinya hingga kini pun turut menekan perasaannya. Hendak mengeluh, mengeluh pada siapa? Langit? Bumi? Ia tak ingin, tak juga sanggup melakukannya. Anggap saja ujian yang harus dilaluinya. Anggap saja nasibnya sudah digariskan demikian. Walau batin tertekan, tapi ia selalu punya harapan. Harapan akan hari esok, hari esok yang lebih baik dari hari ini. Ia percaya, walau nasib sudah digariskan, asal ia berusaha sekuat tenaga bertarung melawan takdir, ia akan mampu merubahnya. Hanya dalam waktu beberapa pekan saja, si pemuda telah mengalami berbagai kejadian, kejadian yang menguji tidak hanya fisik tapi juga batin. Kedewasaannya maju dengan pesat, A Sai yang sekarang berbeda jauh dengan A Sai sebulan yang lalu, baik lahir, maupun batin. Kawasan hutan seperti tiada habisnya, terkadang berganti dengan padang rumput luas. Hutan lebat yang dipenuhi beraneka ragam tumbuhan senantiasi mengelilinginya dan hal yang seperti ini sedikit memperlambat gerakannya. Sudah setengah harian si pemuda berlari, sekarang pun masih terus berlari dan setengah harian bukanlah waktu sebentar. Tubuhnya lelah, kakinya mulai gemetaran. Ia butuh istirahat, tapi ia

tak mau sebab dirinya harus secepatnya tiba di Kun-lun-pay. Semoga disana, ia menemukan satu jalan hidup bagi si kakek. Inilah keajaiban yang diharapkannya saat ini. Lo-tong menggeliat lemah. Walau lemah, cukup bagi si pemuda untuk mengetahuinya. Langkahnya melambat, lalu berhenti. Tubuh si kakek mulai tampak kehijauan, sesaat membara, sesaat membeku, keringat sebesar jagung memenuhi wajahnya dan jelas sedang demam tinggi. Rupanya si kakek sedang kumat racunnya. Kening si pemuda berkerut dalam. Perlahan, dibaringkannya si kakek ke atas rumput, lalu memeriksa kesehatan si kakek. Setelah termenung sesaat, ia lalu memutuskan beristirahat sejenak disitu. A Sai lalu menggulung lengan baju dan meloloskan rantai emas penuh intan permata dari pinggangnya sendiri. Setelah menyalurkan sepuluh bagian lweekang ke ujung permata, pemuda itu lalu mengiris lengan kirinya sendiri. Darah mengalir seketika, merah membasahi lengannya. Tak menunda waktu, dibukanya mulut Lo-tong hati-hati lalu lengannya pun dibawa ke mulut si kakek. Ditotoknya beberapa jalan darah si kakek, lalu dibiarkan darahnya itu mengalir memenuhi mulut kakek itu. Tangannya yang lain tak pernah berhenti mengurut leher, melancarkan darahnya memasuki perut Lo-tong. Setelah dirasanya cukup, ia menotok jalan darah sendiri menghentikan pendarahan. Sinar kehijauan diwajah dan tubuh Lo-tong perlahan menghilang, lenyap tak berbekas, bahkan tubuhnya yang menggigil pun jadi tenang kembali. Jelas darah pemuda itu entah kenapa ternyata mampu menetralisir racun yang mengeram dalam tubuh si kakek. Sayang, itu semua hanya sementara. Sehari sekali, si kakek harus minum darahnya. Kalau tidak, nyawanya sudah pasti melayang. Lo-tong siuman beberapa saat kemudian. Pemuda itu memeriksa sejenak, lalu mengangguk puas. Dikeluarkannya sekerat besar daging asap, daging serigala lalu mulai makan dengan tergesa. Dari balik bajunya, merayap turun seekor kadal, berwarna kemerahan, jelek tak terkira. Dalam sekejap, si kadal telah lenyap dibalik belukar. Pemuda itu menghela nafas panjang. Entah kenapa, si kadal menganggap dirinya majikan, tak ingin lagi berpisah dengannya walau sedetik pun. Ia tak peduli, tak sanggup juga membunuhnya. Kalau Sam-jio-sian-ong ingin mengikutinya, biarlah... tapi kalau harus membunuhnya, ia jelas tak tega.

Diambilnya kembali sekerat daging asap, dilembutkannya serat daging yang ada dengan lweekangnya, lalu mulai menyuapi si kakek. Sebelah lengan menyuapi, sebelah lengan menyalurkan tenaga ke tubuh kakek itu. Dengan cara ini barulah Lo-tong punya tenaga mengunyah daging yang ada. Lo-tong makan sambil berurai air mata. Ditatapnya A Sai tak berkedip, mengamati wajah yang memucat kehilangan darah, mengamati tubuhnya yang jauh lebih kurus dari sebelumnya, mengamati lengannya yang terluka. Hanya Thian yang tahu bagaimana rasa hati Lo-tong saat ini. Pemuda itu balik menatap, senyum lembut tampak diwajahnya. Tak ada kata yang yang keluar dari mulut mereka. Segalanya dilakukan tanpa bersuara. Setelah selesai menyuapi Lo-tong, ia pun bersemedi sejenak memulihkan tenaga. Satu kentungan kemudian disaat dirinya sedang tenggelam dalam semedinya, telinganya menangkap lolongan hewan liar beberapa Li dari tempatnya sekarang. Kesadaran si pemuda segera kembali ke tubuhnya, diperhatikannya baik-baik lolongan yang terdengar dikejauhan tersebut. Kawanan serigala lagi? batinnya waspada, nampak jelas kalau suara-suara yang ada semakin lama semakin jelas terdengar. Agaknya sedang mendekati ke arahnya sekarang. Kelihatannya ada tamu yang datang! kata Lo-tong perlahan. Lo-tong tenang saja, biar A Sai yang mengurusnya! jawabnya menenangkan. Lo-tong tersenyum simpul lalu memejamkan matanya. Ada seseorang seperti si pemuda disampingnya tak ada yang dikhawatirkannya. Pemuda itu lalu memandang sekilas sekelilingnya. Dengan tenang dipondongnya Si kakek lalu berjalan menghampiri sebatang pohon berukuran dua kali tubuhnya, pohon yang rimbun penuh dengan cabang dan daun. Sebuah tempat yang baik dan memenuhi syarat untuk berlindung. Tak perlu menunggu lama, bau kawanan tersebut akhirnya tercium olehnya, disusul geraman panjang pendek terdengar dari segala arah. Bersama dengan suara-suara itu, telinganya pun turut mendengar bunyi kain tersampok angin. Kelihatannya ada seorang manusia yang datang bersama kawanan serigala ini. Pemuda itu sedikit keheranan berbareng seluruh indra ditubuhnya makin menegang waspada. A Sai memandang tajam sekelilingnya. Gerombolan semak mulai beroyang, beberapa bayangan gelap mulai bermunculan satu persatu dan berjalan mengendap dibalik lebatnya pepohonan dan belukar yang ada. Akhirnya serigala yang pertama pun muncul. Hampir semua bulu tengkuk dan punggung hewan itu berdiri, tubuhnya jauh lebih besar dari serigala umumnya, saking besarnya hingga lebih mirip anak sapi dari pada serigala. Apalagi warnanya pun lebih mirip putih dari pada kelabu. Binatang itu melangkah maju dan berhenti setombak jauhnya dari A Sai sambil tak

hentinya memamerkan rangkaian taringnya, geraman liar terus menerus terdengar dari moncongnya. Sepertinya serigala inilah pimpinan kawanan yang ada. Besar sekali batin pemuda itu kagum, keheranannya pun bertambah. Tingkah kawanan ini lebih mirip sekumpulan penyamun yang hendak menyergap korbannya, tidak langsung main serang tapi hanya seekor yang memunculkan diri, sisanya lagi bersembunyi menunggu kesempatan. Apalagi ia pun belum melihat manusia yang datang bersama kawanan serigala ini. Kalau orang tersebut datang bersama dengan kawanan ini, bisa dipastikan orang tersebut bersahabat dengan kawanan serigala. Saudara dari manakah yang datang, harap suka menampakkan diri! kata si pemuda lantang. Tak ada jawaban. Wanpwe bernama A Sai! Kebetulan lewat ditempat ini! Kalau kehadiran Wanpwe mengganggu saudara, mohon dimaafkan! Wanpwe akan segera berlalu dari sini! kata si pemuda lagi, sambil berkata diperhatikannya gerak-gerik tamu gelap itu. Tetap tak ada jawaban, hanya terdengar suara gerakan halus dari tempat orang itu bersembunyi. Agaknya ia sedang beringsut memutar ke sebelah kanan si pemuda. A Sai mengerutkan keningnya, jelas orang itu tak bermaksud baik. jangan-jangan malah sedang mengatur siasat membokong dirinya. Walau demikian, hal ini tidaklah mengganggunya. Sebab ia pun tertarik ingin mengetahui siapakah orangnya yang sanggup bersahabat dengan kawanan binatang licik dan kejam ini. Pemuda itu berpikir sesaat hendak memancing keluar tamunya itu. Kalau saudara sungkan untuk memperkenalkan diri, mohon maaf! Terpaksa Wanpwe mohon diri! sambil berkata, tubuhnya menjejak tanah melambung lurus ke atas 3 tombak jauhnya, lalu hinggap pada dahan besar yang ada diatas kepalanya. Bersamaan dengan lompatannya itu, tamu gelap tersebut mengeluarkan geraman pendek. Seketika serigala putih besar yang ada didepan A Sai melompat menerkam. Taringnya yang berkilat tampak ganas dan mengerikan. Wuttt! Luput. Walau gerakan binatang itu cepatnya diatas serigala normal, tetap saja tak mungkin baginya menyandak si pemuda. Tepat pada saat A Sai nyaris menjejakkan kakinya didahan pohon, selarik sinar datang menyambar dirinya. Serangan gelap seperti inilah yang diwaspadainya sejak awal.

Walau datangnya secara gelap namun serangan tersebut tidaklah berbahaya. Sambil mendengus pelan, tangan pemuda itu bergerak menyampok benda yang datang dan membuatnya melayang balik ke tuannya sendiri. Sedang pemuda itu melompat naik 2 tombak lagi ke dahan yang lebih tinggi. Terdengar jeritan pendek dari balik semak belukar, jeritan wanita. Bersama dengan jeritan tersebut, tumpah-ruahlah keluar segala serigala yang ada disitu. Diantara tubuh-tubuh serigala, turut keluar juga seseorang. Pemuda itu tertegun, tak disangkanya si penyerang gelap seorang wanita. Bukan wanita yang biasa dilihatnya, malah si wanita sama sekali tidak biasa. Dilihat dari sudut mana pun si wanita bukanlah orang biasa. Perawakannya sedang dengan bentuk wajah bundar, rambutnya awut-awutan dan kotor, panjang hingga ke betis dan dibiarkan begitu saja tak diikat. Wanita itu mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit serigala, ehh, tidak mirip pakaian sebenarnya karena segala kulit serigala tersebut seperti diselimutkan begitu saja diatas tubuhnya itu, dan ini membuat beberapa bagian tubuhnya yang seharusnya ditutupi jadi tampak dengan jelas. Sekujur tubuhnya coreng moreng kecoklatan, baik baju dan tubuhnya kotor berlumur rumput dan debu tanah. Secara keseluruhan, si wanita nyaris tak ada bedanya dengan kawanan serigala yang melolong ganas disekelilingnya. Hanya wajahnya saja yang walau ditutupi debu dan tanah masih tetap terlihat jelita. Walau terlihat aneh, si wanita jelas menarik hati. Otomatis pemuda itu bertambah keheranannya. Tak pernah dilihatnya wanita yang berdandan seperti ini, mendengarnya pun belum. Sebagian bahunya yang bagus bentuknya itu tampak jelas tak ditutupi, sebagian betisnya pun demikian sedangkan anyaman bunga liar tampak melingkari kepalanya. Sosok wanita itu mirip dengan peri penunggu hutan dalam khayalan si pemuda. A Sai memandang polos, pakaian si wanita yang unik mirip benar dengan pakaian yang dikenakannya sekarang. Mendadak ia teringat sesuatu. Jangan-jangan wanita inilah pemilik kawanan serigala disini Apakah ia bermaksud menuntut balas kematian piaraannya? sementara berpikir, matanya tak pernah lepas mengamati tanah dibawahnya, tanah yang sekarang dipenuhi berpuluh-puluh ekor serigala dan seorang peri penunggu hutan. Suasana disitu bising bukan main. Lolongan dan raungan tak hentinya berkumandang. Beberapa berusaha meloncat naik, beberapa lagi sibuk mencakar batang pohon dibawahnya. Sisanya berlarian ganas mengelilingi batang pohon tempat pemuda itu berada. Wanita itu menatap tajam. Wajahnya yang jelita namun kotor itu jelas terlihat gusar sementara cahaya api seolah memancar dari sepasang matanya. Terdengar siulan lirih dari mulutnya, siulannya bergaung tinggi melengking. Seketika kawanan serigala yang ada berhenti bergerak, diam tenang ditempat seperti telah lenyap kebuasannya saja. Suasana mendadak hening seketika.

Pemuda itu tertegun keheranan melihat hasil siulan wanita itu. Bukan main, orang ini sanggup mengendalikan kawanan hewan-hewan buas ini hanya dengan siulannya saja! batin pemuda itu kagum. Dari kagum, timbul keingin-tahuannya. A Sai lalu bersiul panjang, bunyi siulannya persis sama dengan nada siulan yang diperdengarkan si wanita tadi. Suiiitttt! suara siulannya pun bergaung tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dan kuat dari siulan wanita tersebut. Kekacauan seketika terjadi dalam kawanan serigala disekitarnya. Kawanan serigala tersebut terlihat bingung, tampak jelas kegelisahan diantara mereka. Rupanya siulan si pemuda berpengaruh pada mereka. Si wanita aneh mendengus gusar, sepasang matanya makin berkilat menatap A Sai. Ia lalu kembali bersiul, hanya saja kali ini nadanya berbeda dengan yang sebelumnya. Hasilnya pun mencengangkan si pemuda. Segala kawanan yang sebelumnya beringas, jadi berubah tenang. Ehh??? Bukan main, wanita ini sanggup mengendalikan seluruh kawanan serigala yang ada. hmm, kelihatannya suara siulannya itu dimengerti oleh kawanan hewan ini batinnya heran dan takjub. Terdorong rasa ingin tahunya, ia pun lalu bersiul menirukan nada yang diperdengarkan wanita aneh itu sebelumnya, nada yang tadi digunakan si wanita aneh untuk menyuruh serigala putih besar menyerangnya. Keajaiban terjadi, hewan tersebut berpaling memandang si wanita dengan mimik muka aneh, seperti gusar hendak menyerang tapi sepertinya juga takut. Melihat hal ini, A Sai bersorak kegirangan dalam hatinya. Ternyata siulannya pun berpengaruh pada hewan tersebut. Wanita itu memekik marah, ia mengeluarkan geraman tak jelas, geraman yang membuat serigala putih itu merandek ditempatnya, lalu perlahan duduk bergelung ditanah. Sikapnya sudah tidak mirip serigala lagi tapi lebih mirip seekor kucing kecil yang manis dan taat pada majikannya. A Sai coba lagi menirukan nada menyerang tadi. Ternyata si serigala putih itu bereaksi seperti yang diharapkannya. Hal yang membuatnya kesenangan sebaliknya si wanita aneh makin sewot saja jadinya. Kembali wanita tersebut menggeram rendah, hal yang membuat si serigala jadi tenang kembali. Tapi A Sai pun tak mau kalah, ia pun bersiul kembali memberi perintah menyerang. Bisa ditebak kelanjutannya, keduanya jadi sibuk berusaha mengendalikan si serigala putih. Tinggalah binatang itu yang kebingungan sendiri diperintah terus menerus secara bersamaan. Berusaha sekian waktu tanpa ada tanda-tanda siapa yang bakal menang, akhirnya si wanita jadi meledak amarahnya. Diambilnya sebongkah batu besar lalu sambil memekik nyaring, batu tersebut disambitkannya sekuat tenaga pada si pemuda., A Sai tertawa tawar, lalu sambil tersenyum simpul ia mengelak dari sambitan wanita itu.

Ehh??? Orang ini sama sekali tak berbekal ilmu silat! Hanya menang tenaga kasar saja! walau demikian ia cukup keheranan, seorang wanita biasa yang tak pernah belajar silat ternyata mempunyai tenaga luar melebihi empat lelaki dewasa, ini bukanlah hal yang lumrah. Agaknya ia lupa keadaannya pun tidaklah berbeda jauh dengan wanita ini. Melihat sambitannya tak membawa hasil, wanita itu rupanya sadar juga kalau pemuda yang ada diatas pohon ini berbeda dengan orang kebanyakan. Sebab gerakannya jadi berhenti sendiri, jelas terlihat ragu. Si.. siapa kau? tanyanya. Lagu suaranya tak ada merdunya sama sekali, lebih mirip geraman binatang daripada suara seorang wanita. Wanpwe A Sai, kebetulan lewat disini! A Sai tak ingin mengganggu nyonya, harap nyonya berlaku murah hati! katanya ramah, buru-buru menjelaskan keadaannya. Siapa yang nyonya? jawab si wanita cepat, kelihatan tak senang, tapi seperti juga jengah, Sudahlah! Kenapa kau membunuh piaraanku? Benar dugaannya, wanita inilah majikan kawanan serigala yang ada. Ngg soal itu, A Sai tak ada pilihan. Piaraan nona yang menyerang dulu, A Sai hanya membela diri! Si nona mengerutkan keningnya, Kenapa harus dibunuh? tanyanya lagi tak senang. Pemuda itu tertegun. Benar juga kata gadis ini, kenapa harus dibunuh? Untuk sesaat ia tak dapat menjawab. Kenapa dibunuh? desak si nona lagi. Soal itu maafkan A Sai, A Sai benar-benar tak ada pilihan. Seandainya ada jalan, sudah pasti piaraan nona takkan A Sai ganggu seujung bulunya jua. Tapi jawaban si pemuda mana mungkin mampu meredakan amarah gadis itu. Kau membunuh piaraanku! Dengan apa kau hendak menggantinya? kata si nona sambil mendengus gusar. Ini Ngg, apa yang nona inginkan? Kau harus membayar dengan nyawamu! desis si nona peri ganas. Dari balik bajunya yang tak karuan itu, dikeluarkan sebatang kapak berukuran raksasa. Kapak bermata dua yang bersinar putih kebiruan dalam lebatnya hutan.

A Sai sudah pernah melihat beberapa bentuk kapak, tapi kapak yang dikeluarkan gadis ini belum pernah dilihatnya. Mata kapak tebalnya ada tiga jari, berwarna putih kebiruan, lebarnya nyaris sama dengan lebar badan pemiliknya. Ini sudah termasuk tidak biasa, tapi yang lebih tidak biasa lagi adalah gagang kapaknya yang terbuat dari kayu hitam itu ukurannya sama dengan gagang pisau biasa, tidak lebih dari satu jengkal saja. Ini benar-benar tidak sebanding dengan mata kapak yang berukuran raksasa itu. otomatis, timbullah keheranan dan keingin-tahuan A Sai. Melihat ukuran kepalannya itu, kelihatannya kapak sebesar ini hanya bisa digenggam dengan satu tangan saja Ehh, bagaimana ia memainkannya? pikirnya heran. Untuk sesaat, pemuda itu terkesima dengan apa yang dilihatnya. Tapi hal ini tak berlangsung lama, gadis tersebut telah mengayunkan tangan melemparkan kapak. Suara desingan terdengar membelah udara. Bukan pemuda itu yang ditujunya melainkan batang pohon tempat si pemuda bertengger. Wuttttt! Crassshhhh! batang pohon seukuran dua kali orang dewasa itu putus seketika terkena kapak si gadis. Dengan suara bergemuruh, pohon itu pun tumbang. A Sai melongo sejenak, kagum bukan buatan dengan tenaga dan senjata si gadis berbareng tubuhnya melambung tinggi lalu hinggap dipohon sebelahnya. Gerakannya mirip capung yang melayang diatas air. Nak tak usah main-main lagi. Mari kita pergi! Lo-tong yang sedari tadi memperhatikan dari balik punggung si anak muda akhirnya buka suara juga. Wajah si pemuda memerah. Baik kek! jawabnya pada Lo-tong lalu berpaling pada si gadis, Maaf! A Sai tak dapat menemani nona lebih lama lagi! Enak saja! Jangan harap kau bisa meloloskan diri dari tempat ini! pekik si nona marah sambil bergegas memungut kembali kapak yang dilemparkannya tadi. Segala kawanan serigala piaraannya itu pun turut melolong buas, tapi tak bergerak dari tempat mereka. Jelas kawanan serigala ini sudah sangat terlatih dan takkan bergerak sebelum mendapat perintah dari nona majikannya. Pemuda itu tertawa tawar. Dari ketinggian, ia mengawasi tanah dibawahnya menganalisa situasi yang sedang dihadapinya itu, bersiap meloloskan diri. Mendadak terjadi suatu keanehan. Sekalian kawanan serigala yang semula tenang, tampak mulai gelisah. Suara lolongan mereka berubah jadi geraman tak jelas. Bukan geraman marah, tapi geraman lirih tanda jerih. Jerih akan sesuatu. Bahkan si serigala putih pun turut berbuat demikian.

Gadis majikan serigala pun merasakan kejanggalan tersebut, ia mengalihkan perhatiannya dari A Sai dan memandang kawanan piaraannya itu dengan kening berkerut, lalu cepat berpaling mengamati sekelilingnya. A Sai pun tak kalah herannya. Apa gerangan yang sebenarnya terjadi? batin si pemuda, timbul lagi keingin-tahuannya. Setelah mengamati beberapa waktu dan tidak juga menemukan sesuatu yang mencurigakan, gadis itu pun kembali membentak marah pada A Sai, Turun kau! Mari kita bertarung seperti laki-laki sejati! suaranya penuh dengan kemurkaan. Laki-laki??? Huahahahaha! tawa Lo-tong terdengar mendadak, Rupanya kau ini sebangsa laki bukan perempuan bukan? Huahahahaha! Kelihatannya si kakek jadi timbul usilnya dan sengaja menggoda gadis itu. A Sai jadi tersenyum sendiri. Wajah si gadis seketika merah padam, malu dan marah jadi satu. Kakek usil! Kau kau harus diberi pelajaran! desisnya marah bukan main, suaranya terdengar mengguntur mengguncang tempat itu. bahkan segala kawanan serigala disekelilingnya pun mendadak jadi buas kembali. Detik disaat si gadis hendak melemparkan kapaknya menyerang, selarik sinar kemerahan melesat keluar dari sebatang pohon dibelakangnya. Sam-jio-sian-ong! desis A Sai keheranan, heran melihat kadal jelek itu menyerang kawanan serigala yang berkerumun mengancamnya. Si gadis dan segenap piaraannya pun tak kalah kagetnya. Kepanikan dengan cepat melanda seluruh kawanan serigala yang ada. Hanya bayangan samar berwarna kemerahan yang tampak berkelebat menyerang, dari satu serigala ke serigala yang lain ia berpindah. Kecepatannya itu mana mungkin sanggup ditandingi sekalian serigala yang ada? Demikianlah, hanya dalam waktu sepuluh tarikan nafas saja, segenap kawanan serigala yang hadir disitu telah rebah binasa dengan tubuh hangus dan membiru. Tinggal si gadis dan serigala putihnya saja yang masih tetap berdiri ditempatnya dengan tubuh menggigil. Sisanya lagi telah putus nafas terkena gigitan beracun si kadal biang racun itu. Sam-jio-sian-ong bertengger gelisah diatas bangkai seekor serigala besar yang baru dibunuhnya, gelisah karena tak dapat menemukan tuannya. Rupanya setelah kenyang mencari makan, kadal itu lalu teringat pada tuannya dan bergegas pulang kembali mencari tuannya itu. Dan ketika tak menemukan tuannya disitu, binatang itu jadi mengamuk kalang kabut. A Sai tersenyum pahit lalu tertawa tawar.

Mendengar tawa si pemuda, si kadal mendongak cepat lalu melesat menghampiri A Sai. Wajah Lo-tong berubah makin pucat sebaliknya A Sai malah tersenyum sekilas, biarkannya si kadal menghampirinya. Dalam sekejap mata, binatang jelek itu telah menyelinap masuk ke dalam lengan baju si pemuda. Sam. Sam-jio-sian-ong! kata si gadis dengan suara bergetar, tampak jelas ketakutan diwajahnya. Bahkan serigala putih didekatnya pun telah lari bersembunyi dibelakang nona majikannya itu. Ekornya yang panjang terlipat masuk diantara kedua kaki belakangnya. Jelas gentar dengan si kadal. Benar! Nona mengenalnya juga? tanya A Sai, suatu pikiran mendadak muncul dibenaknya. Dari sikap si gadis yang ketakutan, sudah jelas gadis ini mengenal baik kehebatan kadal tersebut. Kalau ia mengenal Sam-jio-sian-ong, mungkin ia bisa mendapatkan sedikit informasi dari si gadis. Informasi yang mungkin berguna baginya, berguna untuk digunakan menyembuhkan Lotong. Gadis itu mengangguk pelan, segala kegarangannya telah lenyap berganti ketakutan. Pemuda itu berusaha menahan kegirangannya, dengan lagak tak acuh ia kembali bertanya, Tahukah nona kehebatan Sam-jio-sian-ong ini? Gadis itu kembali mengangguk pelan, Sam-jio-sian-ong, salah seekor diantara sepuluh dewa racun yang berkelana dipermukaan bumi. Hati A Sai makin berdebar tegang, agaknya si nona memang benar mengenal kadal itu. Ceritakan apa yang nona ketahui! katanya cepat. Walau sedang ketakutan, si nona pun tak mudah diperintah begitu saja. Sambil mendelik gusar bercampur takut ia berkata, Jangan dikira aku takut sama piaraanmu itu! Racunnya boleh menakuti orang lain tapi terhadapku tak ada artinya! Jangan pernah berharap kau dapat memerintahku sesukamu! Huahahaha! Bocah bernyali bagus! puji Lo-tong dari balik A Sai. A Sai turut tersenyum, kelihatannya tak mungkin memaksa si nona dengan kekerasan. Ia harus mencoba cara lainnya. Mana A Sai berani? kata si pemuda mulai menjalankan akalnya, Nona memberikan keterangan, A Sai akan memenuhi satu keinginan nona satu keinginan yang masuk akal! Gadis itu berubah wajahnya, tampak terheran dengan sikap dan perkataan si anak muda. Apa apa maksudmu?tanyanya perlahan.

Pemuda itu kembali tersenyum lalu berkata, Kalau nona bersedia menceritakan semua yang nona ketahui tentang Sam-jio-sian-ong, sudah pasti A Sai takkan menyia-nyiakan budi nona itu. Pertolongan nona akan selalu A Sai ingat dan kalau ada hal yang bisa A Sai lakukan bagi nona, katakan saja! Selama permintaan nona mampu A Sai lakukan, akan A Sai lakukan! Gadis itu tampak berpikir keras. Cukup lama ia berpikir. Setelah terombang-ambing dalam keraguan, akhirnya gadis itu pun buka suara, Baiklah! Akan kuberitahukan, tapi jangan ingkari perkataanmu itu. Tentu saja! jawab si pemuda kegirangan, Sekarang apa yang nona inginkan sebagai balasannya! Si gadis berpaling menatap sekalian kawanan piaraannya yang terbujur kaku ditanah, sorot matanya dipenuhi kesedihan. Mereka piaraan tuanku! Kalau kau tak bisa mengganti nyawa mereka, bagaimana aku dapat kembali dan melaporkan semua ini pada tuanku? kata-katanya terdengar sendu tapi seperti juga takut. A Sai tertegun. Kelihatannya perbuatanku membunuh piaraannya itu telah memberinya kesusahan besar. Majikan nona ini pastilah seseorang yang menakutkan. Batin si pemuda kasihan. Untuk sesaat pemuda itu tak mampu berkata-kata. Bagaimana kalau A Sai ikut nona menghadap majikan nona? Biar nanti urusan ini A Sai sendiri yang menjelaskannya! Dengan jalan ini, nona tak perlu khawatir dipersalahkan majikan nona lagi! katanya memberi saran. Wajah si gadis berubah cerah, lalu dengan cepat kembali suram. Percuma! katanya sendu. Tak adakah jalan lain lagi? tanya A Sai mulai gelisah. Jalan lain? Mungkin mungkin ada. kata gadis itu pelan, wajahnya mulai berubah cerah. Harapan si pemuda timbul kembali, dengan cepat ia berkata, Katakanlah nona! Pasti akan kucoba lakukan! Si gadis menengadah menatap A Sai dan berkata, Kalau kau mampu mendapatkan serigala sejumlah yang mati kukira sudah cukup! Tak perlu lagi kau menghadap dan menceritakan kejadian ini pada tuanku! Pemuda itu kembali tertegun sesaat.

Bagaimana caranya? Apakah aku harus menangkap sejumlah demikian dan membawanya pada nona? tanyanya. Gadis itu mengangguk cepat. Ucapan gadis ini sebenarnya sudah terhitung banyak mengalah dan A Sai pun menyadari akan hal ini. Cuma dengan waktu yang ada, tak mungkin baginya menangkap serigala belasan hingga puluhan ekor banyaknya dalam keadaan hidup. Hendak dicari dimana? Tapi ia harus memutuskan cepat. Memenuhi permintaan si gadis dan kehilangan waktu sekian lama, atau menolak dan bermusuhan dengan gadis ini dan entah siapa lagi yang ada dibelakangnya. Pemuda itu jadi susah sendiri memikirkannya, otaknya kembali berputar memikirkan situasi yang sedang dihadapinya saat ini. Terlambat ke Kun-lun-pay beberapa saat toh tidak lagi jadi persoalan, Yan Ci belum tentu ada disana dan Lo-tong pun untuk sementara dapat bertahan dari serangan racunnya. Lagipula siapa tahu informasi yang dimiliki gadis ini dapat membantuku menyembuhkan Lo-tong. lebih baik lagi kalau ia tahu penawarnya. Apa boleh buat, kuikuti saja maunya. Siapa tahu kelak gadis ini dapat membantuku mencari Yan Ci. pikirnya cepat. Bagaimana? Soal bagaimana menangkap mereka, kelak akan kuajarkan caranya kata si gadis tak sabaran. Baiklah! Akan kuturuti keinginan nona! Gadis itu tersenyum senang. Senyuman yang membuat bumi jadi terlihat seratus kali lebih indah dalam pandangan A Sai... hehehe.... ******* Pondok itu sederhana saja, tak ada yang istimewa. Ukurannya pun hanya dua kali tiga tombak, sebuah pondok kayu yang kasar buatannya dan dibangun ditengah lebatnya rimba dan belukar. Mirip dengan pondok yang biasa digunakan kaum pemburu sewaktu kemalaman dihutan. Untuk beberapa waktu lamanya, A Sai mengawasi pondok dihadapannya itu dengan teliti. Apa kakekmu itu sedang sakit? tanya gadis itu tiba-tiba sambil menatap Lo-tong ingin tahu. Begitulah! jawab A Sai singkat. Kalau begitu, biarlah ia beristirahat dikamar saja. katanya lalu tanpa menunggu jawaban si pemuda, gadis itu membuka pintu pondok dan melangkah masuk. A Sai dengan ragu mengikuti dari belakang. Hanya ada dua ruangan dalam pondok sederhana itu. Ruangan yang pertama tak jelas digunakan untuk apa. Mungkin sebagai dapur, mungkin juga sebagai tempat menerima tamu, atau bisa juga

bukan untuk apa-apa Satu hal yang pasti, ruangan tersebut kosong melompong, tak ada hiasan atau perkakas apa pun didalamnya. Ruangan yang satunya lagi kelihatannya digunakan si gadis untuk tidur. Sebab didalamnya terlihat jelas sebuah pembaringan beralaskan berlembar-lembar kulit serigala. Seorang gadis tinggal sendirian dalam sebuah pondok sederhana ditengah hutan seperti ini agak sedikit diluar perkiraan A Sai, bahkan Lo-tong. Tapi kelihatannya gadis itu sudah terbiasa dengan segala yang ada. Pemuda itu menatap ragu dari ambang pintu kamar. A Sai pikir, lebih baik kami beristirahat diruang ini saja! katanya sungkan, biar bagaimana pun juga ruangan ini dipakai si gadis untuk tidur. Tak pantas baginya masuk ke situ. Tapi kelihatannya gadis itu pun sejenis dengan Lo-tong yang tidak terlalu mengidahkan adat yang berlaku. Tak usah sungkan, kamar ini hanya sewaktu-waktu kugunakan. Bahkan orang-orang lelaki dari perkampungan kami pun terkadang menggunakannya. Kening si pemuda berkerut sedikit. Maksud nona... nona tidak tinggal disini? tanyanya cepat. Gadis itu mengangguk, Tentu saja! Pondok ini hanya kugunakan sewaktu-waktu kala sedang berada disekitar sini. Tapi aku sendiri tidaklah tinggal disini! katanya menjelaskan. Si pemuda masih juga berkeberatan, tapi Lo-tong tidaklah demikian. Apa lagi yang kau tunggu? Bocah baik, letakkan aku disitu! kata si kakek kesenangan. Dasar Lo-tong yang tak pernah sungkan, kamar seorang gadis perawan pun dianggapnya seperti taman bunga milik umum saja. Dengan seenaknya saja si kakek minta diturunkan diatas pembaringan yang empuknya tentu saja dijamin. A Sai memandang tak yakin, namun gadis itu malah turut memaksanya menyetujui keinginan Lo-tong. Apa boleh buat, dengan hati berat terpaksa si kakek pun diturunkannya ke atas tempat tidur gadis itu. Lo-tong tersenyum puas, sudah lama rasanya tak merasakan pembaringan seempuk ini. Hidungnya kembang-kempis mencium keharuman yang ada, keharuman yang tidak seharusnya dimiliki gadis dengan penampilan sekotor itu. Kening si kakek jadi sedikit berkerut. Kalian pergilah! Urus urusan kalian itu! kata si kakek lambat-lambat. Setelah memastikan Lo-tong tak kekurangan sesuatu, A Sai pun memberi isyarat pada si gadis untuk mengikutinya keluar. Sesampainya diluar, pemuda itu pun tak menunda waktu lagi. Segera saja ia minta diajari cara menangkap hewan serigala. Demikianlah, A Sai lalu diajari cara menangkap serigala. Ternyata seluruh perintahnya dalam bentuk siulan dan geraman saja. Bagi A Sai, ini bukanlah suatu hal

yang sulit untuk mengingat dan menirukan isyarat dan perintah yang diajarkan nona itu padanya dan tak sampai satu kentungan, pemuda itu telah menguasai dengan baik pelajaran yang diberikan padanya. Satu kentungan berikutnya dipakai gadis itu untuk mengajarkan kebiasaankebiasaan yang dimiliki hewan serigala pada A Sai. Penjelasannya itu sesekali ditimpali pertanyaan si pemuda. Kukira sudah cukup, kau bisa mulai tugasmu sekarang! Ingat, jangan sampai kurang dari jumlah yang kukatakan padamu. Oya, kalau sudah dapat sejumlah yang diperlukan kembalilah ke mari, agar aku dapat membantumu menggiring mereka ke sini! pesan si nona. Pemuda itu mengangguk. Setelah meninggalkan Koay-lo-tong disitu, dan mewanti-wanti panjang lebar pada si gadis, akhirnya pemuda itu pun pergi meninggalkan si gadis dalam usahanya mengganti kerugian si gadis. Gadis itu memandang sekilas pada punggung si anak muda yang menjauh. Setelah menarik nafas sejenak, ia pun melangkah masuk kembali ke kamarnya, kamar tempat si kakek sedang berbaring keenakan. Kakek sudah makan? tanyanya tanpa basa-basi. Lo-tong tak menjawab. Kalau kakek mau, bisa kusiapkan sedikit kuah daging buat makan! Tak usah, belum waktunya makan tolak Lo-tong kemalas-malasan. Si kakek berbaring santai sementara matanya yang tajam tak pernah lepas mengamati gadis yang berdiri dihadapannya itu. Seorang gadis yang baik. batin si kakek setelah mengamati beberapa waktu lamanya. Mungkin puas dengan apa yang dilihat matanya. Bocah, siapa namamu? tanya Lo-tong tiba-tiba. Gadis itu melenggak sesaat, mengamati Lo-tong beberapa kejap, lalu menjawab tenang, Hui Eng. Kata-katanya wajar dan tak dibuat-buat, sama seperti setiap gerakannya. Sikap yang polos dan wajar seperti ini tentu saja menarik hati si kakek. Lo-tong mulai merasa suka pada gadis kotor dan aneh yang ternyata bernama Hui Eng itu. She mu?

Hui Eng mengangkat bahu, entah tidak tahu, entah tak ingin memberitahukannya. Kakek itu pun tak memaksa. Nama seseorang tidaklah penting bagi Lo-tong, sikap dan perbuatan lah yang penting dimatanya. Pondok ini milikmu? tanya Lo-tong lagi. Hui Eng menggeleng, Milik majikanku. Siapa nama majikanmu? kembali si kakek mencoba mencari tahu. Majikan yang mana? Hui Eng balik bertanya. Lo-tong mengerutkan keningnya, Memangnya majikanmu ada berapa? tanyanya, sedikit tak menduga jawaban gadis itu. Hui Eng mengunjukkan tiga jari tangannya ke arah si kakek. Tiga? Siapa saja? tanya Lo-tong cepat. Majikan tua dipanggil Cu-Sianli (bidadari), sedangkan majikan muda ada dua, Cu-Siocia dan Cu-Kongcu Mendengar jawaban gadis itu, Lo-tong terlihat seperti berpikir keras. She Cu? Hmm, belum pernah kudengar ada orang rimba persilatan she Cu yang memelihara dan melatih kawanan serigala batin Lo-tong dalam hatinya. Kakek itu kembali memandang Hui Eng dengan pandangan menyelidik, katanya kemudian, Sudah berapa lama kau ikut mereka? sepasang matanya mengamati air muka Hui Eng dengan seksama. Gadis itu tampak berpikir sejenak, lalu menjawab, Empat tahun lima bulan dua belas hari. Kata-katanya tegas, jelas bukan jawaban yang diberikan secara asal-asalan. Apakah mereka baik terhadapmu? tanya Lo-tong lagi dengan kening berkerut. Air muka Hui Eng berubah sekilas, walau cuma sekilas tapi perubahan ini tak terlepas dari mata si kakek yang tajam menyelidik. Mereka cukup baik! berbeda dengan jawaban-jawabannya yang sebelumnya yang selalu tegas dan pasti, jawaban Hui Eng kali ini terdengar lemah seolah tidak yakin dengan perkataannya sendiri. Mendengar hal tersebut, otomatis sifat ingin tahu kakek usilan itu pun semakin menguat. Cukup baik bagaimana? tanya Lo-tong lagi. Cukup baik saja.

Lo-tong memandang tak puas. Apakah kau pernah mendapat perlakuan yang tidak adil? kejar Lo-tong lagi. Wajah Hui Eng kembali berubah, lalu perlahan ia menggeleng. Tak usah takut, moyangmu takkan menyakitimu moyangmu pun tak kenal dengan majikanmu itu, jadi tak ada yang perlu kau khawatirkan. Katakan saja yang sebenarnya! kata Lo-tong bersemangat. Sianli dan Cu-Siocia baik terhadapku, tapi gadis itu terlihat ragu menyelesaikan ucapannya. Cu-Kongcu yang tidak baik memperlakukanmu? kejar Lo-tong makin bersemangat. Gadis itu meragu sejenak, kemudian mengangguk perlahan. Tidak baik bagaimana? Hui Eng membuang muka, lalu melangkah perlahan menghampiri pintu kamar. Jelas gadis itu bermaksud menghindar dari pertanyaan Lo-tong barusan. Apa dia bersikap kurang ajar padamu? Koay-lo-tong selamanya tak pernah sungkan, apa yang dipikirkannya itulah yang dikatakannya. Tubuh si gadis bergetar, langkahnya tertahan. Tapi ia tetap membisu. Katakan saja! Bukan itu Cuma Cuma Kalau bukan, kenapa ragu menjawab pertanyaan moyangmu? desak Lo-tong tak puas, memotong perkataan Hui Eng. Soal itu soal itu tak dapat kuceritakan pada kakek! jawab gadis itu akhirnya, jawaban yang semakin menguatkan kecurigaan Lo-tong. Kumohon pinta si gadis pelan, membuat Lo-tong jadi membatalkan niatnya semula yang hendak terus mendesak gadis itu menceritakan semuanya. Si kakek menarik nafas panjang lalu berkata, Ya sudah, kalau kau tak ingin menceritakannya moyangmu pun tak bisa apa-apa! Sekarang ceritakanlah tentang majikan tuamu itu! Berapa usianya? Bagaimana perawakannya? Bagaimana sifatnya? Bagaimana ilmu silatnya? berbagai pertanyaan meluncur keluar dari mulut si kakek. Gadis itu termenung sejenak, lalu mulai bercerita.

******* Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah batang-batang pohon saja yang tumbuh rapat berdampingan sementara pakis dan lumut menyelubungi sebagian besar permukaan batangnya. Besarnya pun tidaklah kepalang tanggung. Yang paling kecil saja ukurannya sudah sebesar dua kali pelukan orang dewasa, apalagi yang terbesar? Belum lagi segala semak dan belukar yang menutupi tempat itu, ditambah dengan tumpukan daun yang membusuk, praktis permukaan tanah sudah tak kelihatan lagi. Dibeberapa tempat, tampak tumbuh dengan suburnya rumpun perdu yang memiliki bunga berwarna kuning kehijauan, liar namun indah dipandang mata. Sudah lewat satu kentungan sejak matahari terbenam, dinginnya angin yang berhembus ditambah dengan kelembaban dan kabut yang ada, tak usah ditanyakan lagi. Belum lagi kegelapan yang ada disekitarnya. Diwaktu siang saja, cahaya matahari nyaris tak dapat menembus rimbunnya dedaunan ditempat itu, apalagi diwaktu malam seperti ini? Disaat seperti ini, ketajaman matanya sungguh sangat membantunya. Kawasan hutan ini letaknya hampir sepuluh Li jauhnya dari pondok kediaman Hui Eng si gadis penggembala serigala. Suatu tempat yang sangat terpencil dan kelihatannya belum pernah ada satu manusia pun yang menginjakkan kakinya ditempat itu. Tempat inilah yang dicarinya, suatu tempat yang liar dan terasing, jauh dari tangan-tangan manusia. Hui Eng telah mengajarkannya beberapa trik sederhana yang berguna dalam melacak buruannya itu. Trik pertama yang diajarkan padanya ialah bagaimana mengenal bau hewan buruannya itu. Untuk itu ia diharuskan mencium kotoran serigala dan harus pula mengingat seperti apa baunya, suatu hal yang tentu saja bukanlah hal sulit bagi A Sai. Selain itu ia pun diajarkan berbagai hal yang menyangkut pola hidup buruannya dialam liar, seperti tempat bersarang, waktu dan pola binatang itu berburu makanannya, serta lain sebagainya. Dan yang terpenting tentu saja bagaimana memancing hewan buruannya itu mendekatinya. Hal inilah yang sekarang sedang dilakukan A Sai. Setelah mengikuti jejak bau diatas tanah ber Li-li jauhnya, sampailah ia ke kawasan hutan ini. Ditempat inilah bau buruannya tercium jelas sekali, tanda hutan inilah tempat bermain atau bisa juga tempat bersarangnya binatang buruannya itu. A Sai berdiri nyaris tak bergerak, sepasang matanya tajam mengamati kawasan hutan yang ada sementara mulutnya mulai menirukan geraman dan lolongan serigala. HAUUUUUU!!! Suara lolongan pemuda itu terdengar menyayat hati hingga jauh, lolongannya itu nyaris tak ada bedanya dengan lolongan serigala sungguhan. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk memancing kawanan serigala yang ada menghampirinya. Suaranya itu terdengar seolah seekor serigala yang sedang dirundung malapetaka, tinggi dan menyayat hati. Menurut Hui Eng, lolongan seperti ini merupakan lolongan tanda kesusahan. Lolongan yang hanya dikeluarkan seekor serigala jika ia mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan kawanannya. Seandainya lolongan tersebut didengar kawanannya, akan memancing

datangnya mereka untuk mencari tahu dan memberi pertolongan pada kawannya yang sedang kesusahan itu. Pemuda itu menjejak tanah, lalu melambung tinggi dan hinggap dicabang pohon diatasnya. Dari atas, ia kembali melolong sedih ke segala arah. Sekarang tinggal menunggu hasilnya batin A Sai tegang, penuh harap. Segala suara yang ada tak luput dari pendengarannya. Ia benar-benar berkonsentrasi pada alam disekelilingnya. Tak perlu menunggu lama, segera saja lolongan sedihnya itu mendapat sambutan. Kira-kira dua ratus langkah dari tempatnya berada terdengar lolongan lain membalas panggilannya itu. Hati si pemuda berdebar seketika. Apalagi saat semakin banyak lolongan yang menyahuti panggilannya itu. Sudah datang. Bisik pemuda itu senang saat menyadari usahanya itu ternyata membuahkan hasil. Sebentar saja, serigala yang pertama telah muncul dibawahnya, rekan-rekannya menyusul dari belakang. Ditaksirnya paling tidak ada lima enam ekor banyaknya. Pemuda itu pun lalu menirukan siulan yang diajarkan Hui Eng padanya. SUIITTTT!!! suara siulannya menggema ditempat itu dan membuat segala kawanan buruannya terdiam ditempat. A Sai tersenyum simpul. Tubuh pemuda itu lalu berkelebat cepat menghampiri serigala terdekat disusul tangannya menyambar dan menotok bagian tubuh hewan tersebut, dua jari dibawah rusuk kiri buruannya. Tanpa suara, hewan tersebut terkulai ke tanah tak sanggup lagi untuk bersuara atau bergerak. Setelah menotok lemas serigala pertama, ia kembalil berkelebat menotok sisa kawanan yang ada. Dalam sekejap mata, semua serigala yang hadir ditempat itu telah berhasil ditaklukkannya. A Sai memandang puas, Lumayan, enam ekor berhasil kutangkap. Sekarang tinggal mencari kekurangannya saja maka tugasku pun selesai. Batin pemuda itu senang. Membayangkan hal ini, A Sai jadi makin bersemangat. Setelah mengumpulkan kawanan yang ada jadi satu, ia pun berdiri tenang mengingat-ngingat lokasi hutan tempatnya berada sekarang, lalu kembali bergerak melacak sasaran berikutnya. Langkahnya tak pernah berbelok, sejak mula selalu lurus ke utara. Tujuannya cuma satu memudahkannya mencari jalan pulang seandainya ia tersesat nanti. Demikianlah, sampai dengan hari menjelang pagi, ia berhasil menangkap tiga puluh tiga ekor banyaknya. Tiga puluh tiga ekor bukanlah jumlah yang sedikit, namun tetap saja masih kurang dari jumlah yang diminta Hui Eng padanya.

Fuuiiihhhh! Kurang dua ekor lagi, genaplah sudah! katanya pada diri sendiri, sementara tangannya sibuk menyusuti peluh yang mengalir dikeningnya. Dalam semalam, nyaris tiga puluh Li dilaluinya. Tempat dimana ia sekarang berada bukan lagi lereng yang dipenuhi hutan lebat, tapi lereng yang tandus dipenuhi cadas dan karang. Tanpa terasa, sudah semalaman ia berburu, untunglah semua yang dicarinya berhasil didapatkannya. Sambil bersenandung riang, pemuda itu mengangkat kepalanya menatap langit, agaknya sudah lewat satu kentungan sejak matahari terbit. Cahaya matahari yang kemerahan tampak berbias dari balik puncak-puncak gunung dikejauhan. Tampak indah sekaligus menyenangkan hati si pemuda. Untuk beberapa waktu lamanya, ia terpesona dengan pemandangan alam yang membentang didepan matanya. Walau semalaman belum tidur, tapi tampang pemuda itu sama sekali tidak terlihat lelah. Bergerak siang malam baginya bukanlah sesuatu hal yang baru, itu sebabnya ia tak kesulitan sama sekali menyesuikan dirinya dengan perubahan waktu yang ada. Angin keras yang dingin membekukan tulang bertiup menyapu lereng bercadas tempatnya berada sekarang. Bersama angin yang bertiup, tercium aroma yang sudah sangat dikenalnya. Aroma serigala. Pemuda itu tersentak sadar dari lamunannya. Wajahnya jadi makin berseri menyadari keberuntungannya itu. Dengan hati-hati, ia lalu bergerak melawan angin mendekati sumber datangnya aroma tersebut. Sepuluh langkah didepannya, sebuah lubang tampak diantara celah cadas yang ada. Lebarnya pun hanya setengah ukuran badan pemuda itu. Dari Lubang itulah teruar kuat bau sasarannya. Pemuda itu merendahkan tubuhnya setengah berjongkok dibalik sebuah batu besar didepannya. Dari balik batu itulah ia mengintai sarang buruannya. Angin yang berhembus keras sedikit mengganggu pendengarannya, itu sebabnya ia jadi sedikit kesulitan menebak jumlah kawanan yang ada dalam liang tersebut. Tapi pemuda itu tak peduli. Ia punya keyakinan sendiri dan ia tahu, keyakinannya itu tidaklah berlebihan. Saat dirasa memungkinkan, tanpa suara ia lalu berendap-endap mendekati atas lobang gua. Diatas lobang gua itulah ia berjongkok tenang mendengarkan. Lima ekor dua dewasa, tiga lagi kelihatannya seperti anak-anaknya. Ehh, bisa jadi sepasang induk serigala dengan anaknya. Pikir A Sai setelah mendengarkan beberapa saat lamanya.. Pemuda itu tersenyum simpul lalu menjalankan rencananya. HAAAUUUUUUUUU!!! terdengarlah lolongan menyayat hati dari mulut si pemuda, suara lolongannya nyaris tak ada bedanya dengan serigala sungguhan. Tak perlu menunggu lama, telinganya yang peka mulai menangkap dengusan lirih disertai gerakan binatang dari dalam celah cadas dibawahnya. Kelihatannya kedua serigala dewasa yang

ada dalam liang telah mulai bereaksi menanggapi lolongannya itu dan mulai beranjak keluar dari sarangnya. A Sai bertambah waspada. Dalam sekejap mata, serigala pertama muncul dibawahnya disusul serigala yang berikutnya. Serigala pertama dibiarkannya saja, tapi serigala yang kedua langsung ditotoknya ditempat. Tanpa mengeluarkan suara, binatang itu roboh lemas diatas tanah. Pasangannya berlari terus beberapa tindak lalu mendadak berbalik menatap menatap A Sai. Seekor serigala betina yang besar dan ganas. Gerengan buas terdengar dari moncongnya. Namun belum sempat binatang tersebut menerkam si pemuda, A Sai telah lebih dulu bersuit, suitan yang menenangkan. Untuk sesaat, hewan itu merandek ditempatnya, jelas ragu hendak menerkam ataukah menuruti perintah si pemuda. Tapi demi melihat pasangannya bergelung tak bergerak diatas tanah, binatang itu jadi bangkit amarahnya dan berubah liar tak terkendali. Suara siulan A Sai tak lagi dipedulikannya, bahkan seperti tak berpengaruh padanya. Bulu tengkuknya yang sempat rebah, kembali tegak berdiri. Ehh, kenapa tidak menuruti perintahku? batin pemuda itu tertegun. Suitan yang sama kembali dikeluarkannya. Serigala betina itu bukannya menurut, malah semakin ganas menyeringai. Hal yang tentu saja membuat si pemuda keheranan sendiri. Dari keheranan, dengan cepat rasa ingin tahunya muncul. Belum sempat pemuda itu berpikir lebih jauh lagi, binatang tersebut telah menerkamnya. Ehh? seru pemuda itu terkejut sambil melompat mundur setombak jauhnya. Kenapa hewan yang satu ini berbeda? Kenapa perintahku tak ada pengaruhnya sama sekali? pikir si pemuda mulai penasaran, rasa ingin tahunya semakin menguat. Kembali diulangnya perintah tersebut. Hasilnya tetap sama saja, bahkan terjangan dan terkaman binatang itu makin liar saja menyambarnya. Semakin lama hewan itu jadi semakin buas tak terkendali. Terhadap serigala piaraan Hui Eng yang terlatih, sudah tentu perintahnya itu tak mungkin dibantah. Tapi terhadap serigala liar seperti ini hasilnya agak susah ditebak. Seandainya serigala tersebut dalam keadaan tenang, mungkin saja perintahnya itu berhasil. Namun hewan yang satu ini telah terlanjur murka melihat pasangannya menggeletak tak bergerak akibat ulah A Sai. Otomatis segala perintah yang datangnya dari pemuda itu jadi tak berarti banyak bagi serigala betina tersebut. Itu sebabnya perintah si pemuda seolah tak didengarkan sama sekali oleh makhluk itu. Suatu hal yang tidak disadari oleh A Sai. Sial! Ingin kulihat sampai berapa lama kau mampu menolak perintahku! pemuda itu berkaok penasaran, kata-katanya itu dengan cepat disambut sambaran rangkaian gigi yang berkilauan.

Sambil berkelit kiri-kanan, pemuda itu memandang sasarannya. Rasa ingin tahunya telah berganti dengan rasa tak puas, penasarannya pun turut melambung tinggi. Disaat seperti itu, mendadak saja sebersit ingatan berkelebat dibenaknya. Ingatan yang membuat pemuda itu berdebar sendiri. Hmm, tak ada salahnya dicoba batinnya mengambil keputusan. Disaat serigala yang ada kembali menerkamnya, pemuda itu pun bergegas melejit mundur sejauhnya, lalu berdiri tenang. Serigala betina dengan cepat mengejarnya. Tapi A Sai tak peduli, tubuhnya tak bergeming sama sekali dari tempatnya berpijak. Matanya tiba-tiba mencorong menakutkan menatap sasarannya sementara mulutnya mengerucut seperti mimik seseorang yang sedang bersiul. Namun suara siulannya kali ini sama sekali tak terdengar telinga. Benarkah ia sedang bersiul? ataukah mimik wajahnya itu hanyalah keisengannya semata? Entahlah. Satu hal yang pasti, serigala betina yang sedang melayang diudara mendadak terhenti gerakannya, lalu terbanting jatuh menabrak A Sai. Cepat pemuda itu menggerakkan tangannya menyambut tubuh hewan tersebut. Tubuh yang kini kaku seperti sebuah patung kayu, benar-benar kaku tak bergerak. Posisi tubuh hewan tersebut walau sudah berada ditangan pemuda itu pun tetap saja tak berubah, masih tetap dalam posisi menerkam. Diangkatnya tubuh hewan tersebut tinggi-tinggi dan diperhatikannya dengan teliti. Jelas hewan tersebut masih bernafas, hanya saja keadaannya yang kaku itu tak ada bedanya dengan sepotong kayu kering. Hanya sepasang bola matanya saja yang masih dapat bergerak kian kemari menatap pemuda itu dan hanya itulah yang menjadi bukti kalau hewan itu masihlah hidup. Ternyata. Ternyata berhasil! bisik si pemuda tertegun. Perlahan, senyum A Sai pun mengembang. ******* Nona!!! Nona!!! Teriakan A Sai terdengar lantang. Dalam jarak satu Li jauhnya Hui Eng sudah dapat mendengar panggilan pemuda itu. Dengan tergesa, gadis itu memadamkan api ditungku berbareng ia lalu menurunkan sebuah periuk tanah liat yang berisi nasi, nasi yang dimasakny