Anda di halaman 1dari 77

BAB I

BAB II

SEKILAS PERJALANAN SANIMAS KISAH SUKSES SANIMAS

11 25 125 133

BAB III PEMBELAJARAN DARI SANIMAS BAB IV LAMPIRAN

SEK APUR SIRIH

Saya menyambut baik atas terbitnya buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini sebagai salah satu inovasi dalam pembangunan prasarana dan sarana di bidang Cipta Karya, khususnya bidang sanitasi. Pembangunan infrastruktur sanitasi ini ditujukan dalam rangka pencapaian target MDGs 2015 dan sasaran RPJMN 2010 - 2014, yaitu target akses sanitasi sistem setempat (on site) yang aman untuk tahun 2014, yaitu 80% untuk perkotaan dan 50% untuk perdesaan atau 60% untuk skala nasional. Menyadari akan kondisi lingkungan permukiman di Indonesia saat ini yang masih memprihatinkan, ditandai dengan masih adanya lokasi permukiman kumuh dan keluarga yang belum mempunyai tempat tinggal yang layak huni, belum seluruh penduduk Indonesia memperoleh akses air minum yang aman dan akses sanitasi yang aman dan memadai, serta masih adanya masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka buku ini diharapkan dapat mendorong dan mengingatkan kita untuk dapat bertindak secara tepat untuk memperbaiki kondisi tersebut agar dapat membawa kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik. Direktorat Jenderal Cipta Karya merupakan salah satu instansi yang bertanggung jawab dalam penyediaan prasarana permukiman, baik di perkotaan maupun di perdesaan dalam skala lingkungan maupun kawasan. Berbagai faktor eksternal seperti kebijakan makro, perkembangan ekonomi, serta tuntutan masyarakat, mitra swasta, dan kondisi keuangan negara telah mendapatkan respon dalam pembangunan prasarana dan sarana bidang Cipta Karya. Hal ini dimaksudkan agar hasil-hasil pembangunan dapat secara langsung memenuhi kebutuhan serta menunjang perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Untuk itu langkah-langkah dan upaya yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya ini perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas untuk menunjukkan keseriusan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur permukiman. Akhir kata, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam pelaksanaan pembangunan dan penyusunan buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini. Semoga buku ini dapat memberi manfaat dan sekaligus dapat dijadikan bahan kajian bagi perencana dan pelaksana pembangunan, khususnya di bidang sanitasi.

Jakarta, Agustus 2009 Direktur Jenderal Cipta Karya

Budi Yuwono
5

K ATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa, berkat rahmat dan hidayah-Nya Buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini dapat kami selesaikan sehingga dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka pengembangan sanitasi di perkotaan. SANIMAS merupakan suatu pendekatan dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh, dan rawan sanitasi di perkotaan. Dalam pelaksanaannya, SANIMAS mengedepankan proses pemberdayaan masyarakat, yaitu melibatkan masyarakat secara penuh dalam setiap tahapannya dengan pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach). SANIMAS diperkenalkan oleh BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association) sejak tahun 2003 dengan pilot project di Provinsi Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur (sebanyak 25 lokasi) yang dilaksanakan sejak tahun 2003 hingga 2005. Melihat keberhasilan contoh-contoh tersebut (fasilitas yang dibangun sampai saat ini masih berfungsi dan terpelihara dengan baik), maka sejak tahun 2006 Departemen Pekerjaan Umum melalui Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Ditjen Cipta Karya telah melaksanakan replikasi kegiatan SANIMAS, yang hingga saat ini SANIMAS sudah dilaksanakan di lebih dari 400 lokasi yang tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Buku ini akan menyajikan pelaksanaan SANIMAS di beberapa lokasi yang kami nilai cukup berhasil ditinjau dari berbagai aspek. Kami harapkan buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini dapat menggugah seluruh pihak (Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, LSM/Swasta, dan masyarakat) untuk turut berpartisipasi aktif dalam penanganan sanitasi di Indonesia.

Jakarta, Agustus 2009 Direktur Pengembangan PLP

Susmono

K ATA PENGANTAR

Adalah sebuah kebanggaan bagi kami menjadi bagian dari penerbitan buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini. BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association) adalah sebuah organisasi non-profit yang berdiri sejak tahun 1977 di Bremen, Jerman. BORDA bertujuan untuk memberikan bantuan kepada Negaranegara berkembang pada kegiatan proyek yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti pengentasan kemiskinan, penyelamatan sumber daya dan perlindungan lingkungan. BORDA mulai bekerja di Indonesia sejak tahun 1988 di wilayah Jakarta Utara untuk penanganan kampung kumuh dan di Boyolali, Jawa Tengah untuk pengembangan biogas dari kotoran ternak sapi di lereng gunung Merapi Merbabu melalui program Integrated Rural Development Project/IRDP yang didanai oleh Kementerian Kerjasama Ekonomi an Luar Negeri Jerman/BMZ. Kemudian sejak tahun 1996 mulai memfasilitasi sektor UKM termasuk rumah sakit, industri tahu, rumah potong hewan/RPH untuk penanganan limbah cair domestik dengan mengaplikasikan teknologi DEWATS/decentralized wastewater treatment system. Dan sejak tahun 1999 mulai diaplikasikan untuk daerah migran di wilayah Tangerang; permukiman padat penduduk perkotaan di Jogjakarta; serta komplek perumahan RSS di Solo, Jawa Tengah dengan program Community Based sanitation/CBS. Program SANIMAS dimulai tahun 2001 di 6 kota/kabupaten di Provinsi Jawa Timur dan Bali, yang dibiayai oleh AusAID melalui WSP bekerjasama dengan GOI, dimana BORDA bersama dengan partner LPTP, BEST dan BALIFOKUS sebagai executing agency. Tahun 2004 direplikasi oleh Pemerintah kota/kabupaten dengan dukungan dari BAPPENAS melalui Pokja AMPL dan BORDA, kemudian tahun 2006 menjadi program nasional dan direplikasikan pada skala yang lebih luas di 16 provinsi oleh Departemen PU melalui Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman/PPLP, Direktorat jenderal Cipta Karya bekerjasama dengan BORDA, sampai sekarang. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dan memberikan support untuk program SANIMAS sehingga bisa berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan, khususnya mereka yang tinggal di permukiman padat dan miskin di perkotaan yang selama ini kondisi sanitasinya relatif tertinggal. Harapan kami program SANIMAS bisa membantu pemerintah untuk mencapai target MDGs tahun 2015. Dengan penerbitan buku Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia ini, para stakeholders di bidang sanitasi dapat mengetahui capaian-capaian program SANIMAS di Indonesia serta dapat meningkatkan perhatiannya terhadap sektor sanitasi. Kami mengucapkan terimasih kepada semua tim yang telah membantu melaksanakan program SANIMAS dengan baik dan tekun di lapangan, terutama partner: LPTP, BALIFOKUS dan BEST, tenaga fasilitator lapangan/TFL dan senior fasilitator/STFL serta Pemerintah Kota/Kabupaten dan masyarakat. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada tim yang telah mempersiapkan buku ini. Think long term acting now

Yogyakarta, Agustus 2009 BORDA-SEA Coordinator

Frank Fladerer

BAB I

SEKILAS PERJALANAN SANIMAS


10 11

A. KONDISI EKSISTING SANITASI DI INDONESIA Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang begitu cepat terutama di wilayah perkotaan memberikan dampak yang sangat serius terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Dampak tersebut harus disikapi dengan tepat, khususnya dalam pengelolaan air limbah, oleh karena kenaikan jumlah penduduk akan meningkatkan konsumsi pemakaian air minum/ bersih yang berdampak pada peningkatan jumlah air limbah. Pembuangan air limbah tanpa melalui proses pengolahan akan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan, khususnya terjadinya pencemaran pada sumber-sumber air baku untuk air minum, baik air permukaan maupun air tanah. Pengelolaan air limbah memerlukan prasarana dan sarana penyaluran dan pengolahan. Pengolahan air limbah permukiman dapat ditangani melalui sistem setempat (on-site) ataupun melalui sistem terpusat (off-site). Pada umumnya kota-kota di Indonesia masih belum memiliki sistem pengelolaan air limbah secara terpusat. Pada saat ini sistem pengelolaan air limbah terpusat hanya berada di 11 kota saja dengan cakupan pelayanan yang masih rendah. Tingkat pelayanan Air Limbah Permukiman di perkotaan melalui Sistem perpipaan (sewerage system) mencapai 2,33% dan melalui jamban (pribadi dan fasilitas umum) yang aman (menggunakan tangki septik) baru mencapai 66,01% (SUSENAS BPS, 2004). Sedangkan, tingkat pelayanan Air Limbah Permukiman di perdesaan melalui pengolahan setempat (on-site system) berupa jamban pribadi dan fasilitas umum yang aman (menggunakan tangki septik) baru mencapai 25,47% (SUSENAS BPS, 2004). Atau dapat dikatakan, tingkat pelayanan air limbah permukiman melalui pengolahan setempat (on-site system) yang aman (menggunakan tangki septik) secara nasional di tahun 2004 baru mencapai 42,71% (SUSENAS BPS, 2004). Kondisi tersebut dikarenakan oleh berbagai kendala dalam penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman di Indonesia, baik dalam aspek peraturan perundangan, peran serta masyarakat, pembiayaan, istitusi serta aspek teknis teknologis. Sektor Penyehatan Lingkungan Permukiman khususnya Bidang Air Limbah (Municipal Waste Water) merupakan salah satu hal penting yang menjadi perhatian baik secara global maupun nasional. Secara global Indonesia terikat upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana rekomendasi pada KTT Bumi di Johannesburg 2000, dimana salah satu sasarannya adalah bidang penyediaan air minum dan sanitasi.

13

Sasaran tersebut diagendakan dalam Millenium Development Goals (MDGs) dengan menetapkan horizon pencapaian sasaran pada tahun 2015 dan sasaran kuantitatif; Mengurangi setengah proporsi jumlah penduduk yang kesulitan memperoleh akses terhadap

air minum aman dan sanitasi yang memadai. Indonesia yang ikut meratifikasi sasaran MDGs 2015 tersebut harus mempersiapkan langkah pencapaian sasaran tersebut.

B. SEKILAS PERJALANAN SANIMAS

Pekerjaan Umum, dilakukan evaluasi dan penyempurnaan program. Setelah itu kemudian SANIMAS direplikasikan di 22 provinsi di seluruh Indonesia dengan target 100 lokasi yang kemudian terealisasi sebanyak 50 kota/ kabupaten sebanyak 65 titik/lokasi dengan pendanaan dari APBN, Pemerintah Kota/kabupaten, Masyarakat dan BORDA. Tahun 2007, diimplementasikan di 125 titik/lokasi di 80 kota/kabupaten dari 22 provinsi dan tahun 2008 di 108 titik/lokasi dari 69 kota/kabupaten di 16 provinsi.

Sedangkan untuk tahun 2009, sedang dilakukan persiapan-persiapan- di 17 provinsi yang sudah mengajukan minat. Program SANIMAS akan terus dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya agar akses masyarakat yang tinggal di perkampungan padat dan berpendapatan rendah diperkotaan terhadap sanitasi yang layak semakin meningkat, sekaligus untuk mendorong capaian target MDGs 2015.

Sanitasi Oleh Masyarakat atau lebih dikenal dengan SANIMAS merupakan salah satu opsi program untuk peningkatan kualitas di bidang sanitasi khususnya pengelolaan air limbah yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat kumuh miskin perkotaan dengan menerapkan pendekatan berbasis masyarakat. Program SANIMAS ini telah berlangsung sejak tahun 2003, merupakan inisiatif kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia melalui Australian International Agency for International Development (AusAID) dan Water and Sanitation Program (WSP) World Bank. Bremen Overseas Research and Development Association (BORDA), bersama mitra LPTP, BEST, BALIFOKUS, YIS dan LPKP, sebagai executing agency. Sebagai pilot project, pada tahun 2001- 2003 program ini dilaksanakan di 2 provinsi yang termasuk paling padat di Indonesia yakni provinsi Jawa Timur dan Bali. Di dua provinsi tersebut dipilih 7 kota/kabupaten dengan-

menggunakan prinsip Demand Responsive Approach (DRA) atau pendekatan tanggap terhadap kebutuhan. Setelah program ini dapat berhasil dengan baik, kemudian pada tahun 2004 atas inisiatif BAPPENAS melalui Pokja AMPL dan BORDA dengan menggunakan pendekatan yang sama, SANIMAS berhasil direplikasikan di 7 kota/kabupaten yang sama di kedua provinsi tersebut. Oleh karena itu, kemudian pada tahun 2005, atas inisiatif dari Departemen KIMPRASWIL dengan pendanaan APBN dan BORDA, program ini diperluas menjadi 4 provinsi yakni Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah dan DIY dan berhasil diimplementasikan di sejumlah lokasi sebanyak 15 kota/kabupaten. Karena keberhasilan SANIMAS yang bisa dilaksanakan secara berturut-turut, maka pada tahun 2006, oleh Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen-

1. Gambaran Umum Program SANIMAS menggunakan prinsip Demand Responsive Approach (DRA) atau Pendekatan yang Tanggap Terhadap Kebutuhan. Apabila kota/kabupaten tidak menyampaikan minat maka tidak akan difasilitasi. Minat tersebut salah satunya dicerminkan dengan kemauan untuk mengalokasikan dana dari APBD. Oleh karena itu, SANIMAS juga menekankan prinsip pendanaan multi sumber (multisource of fund). SANIMAS juga menggunakan prinsip seleksi-sendiri (self selection), opsi teknologi sanitasi, partisipatif dan pemberdayaan. Tahap-tahap pelaksanaan program adalah sebagai berikut: Pertama, kota/kabupaten diundang untuk mengikuti acara multi-city seminar atau seminar multi-kota/ kabupaten. Dalam seminar tersebut dijelaskan tentang pentingnya penanganan masalah sanitasi, terutama di lingkungan masyarakat berpenduduk padat dan miskin di kawasan perkotaan, sanitasi menjadi tanggung jawab semua pihak, garis besar program SANIMAS termasuk prinsip dan tahap-tahap pelaksanaan SANIMAS dan pendanaannya, peran berbagai pihak dalam pelaksanaan SANIMAS, serta jangka waktu implementasi. Sekembali dari seminar, pemerintah kota/ kabupaten yang berminat harus mengirimkan surat minat ke Departemen PU, untuk kemudian dilakukan penandatanganan kesepakatan MoU. Kedua, pemerintah kota/kabupaten yang sudah menandatangani MoU kemudian mengirimkan tenaga fasilitator dari Dinas Penanggung jawab dan wakil masyarakat untuk mengikuti Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) selama satu minggu bersama dengan TFL dari kota/kabupaten lain. Se-

14

15

lama- pelatihan, mereka diberi pembekalan berupa pengetahuan dan keterampilan untuk memfasilitasi masyarakat dalam penerapan SANIMAS. Ketiga, seleksi kampung atau seleksi masyarakat dengan pendekatan self selection yang dimulai dari longlist dan shortlist kampung serta penjelasan program SANIMAS kepada masyarakat yang masuk dalam shortlist. Masyarakat yang tertarik kemudian harus mengirimkan surat undangan kepada Dinas Penanggung jawab untuk difasilitasi SANIMAS. Jika dalam kota/kabupaten terdapat lebih dari satu peminat, sementara dana yang dialokasikan hanya untuk 1 lokasi, maka dilakukan proses seleksi dengan menggunakan metode RPA (Rapid Participatory Appraisal) dengan sistem scoring dimana masyarakat bisa menilai sendiri kemampuannya kemudian berdasarkan nilai yang ada sudah bisa ditentukan sendiri pemenangnya dengan sistem ranking. Model seleksi ini dilakukan dengan cara transparan dan adil dalam sebuah pertemuan dengan para wakil masyarakat. Hasil dari seleksi kemudian disepakati dengan penandatanganan Berita Acara oleh semua stakeholder yang hadir dalam pertemuan tersebut. Keempat, tahap berikutnya adalah penyusunan dokumen rencana kerja masyarakat atau disingkat RKM, yang dilakukan secara partisipatif. Masyarakat diberikan ruang seluas mungkin untuk mengambil keputusan untuk menangani sanitasinya sendiri. Kegiatan ini

dimulai dari penentuan calon penerima manfaat program, pemetaan wilayah pelayanan, pemilihan sarana teknologi sanitasi, penyusunan detailed engineering design (DED), penyusunan rencana anggaran dan belanja (RAB), penentuan kelompok swadaya masyarakat (KSM) pengguna, penentuan dan kesepakatan iuran baik untuk pembangunan maupun operasional dan perawatan, serta legalisasi dokumen RKM. Kelima, adalah tahap konstruksi dan capacity building dimana pada tahap ini mulai dilakukan pelatihan-pelatihan kepada KSM sebagai penanggung jawab pekerjaan pembangunan, pelatihan tukang dan mandor, persiapan pekerjaan konstruksi, pengadaan barang, pengawasan kualitas barang dan kualitas pekerjaan, pengerahan tenaga kerja, keamanan selama pekerjaan konstruksi, sampai komisioning bangunan serta keuangan dan kelembagaan. Setelah semua pekerjaan pembangunan selesai, juga diberikan pelatihan operasional dan pemeliharaan kepada KSM, operator dan masyarakat pengguna agar masyarakat tahu cara-cara penggunaan fasilitas sanitasi dengan benar dan operator bisa merawat dengan baik agar bangunan aman dan tahan lama, serta KSM tahu tanggung jawab yang harus diemban selama masa operasional dan pemeliharaan sarana sanitasi ini, terutama mengelola iuran masyarakat pengguna. Keenam, adalah dukungan untuk operasional dan pemeliharaan sarana SANIMAS. Agar sarana sanitasi yang telah dibangun terse-

but benar-benar berkelanjutan (sustainable) maka perlu dukungan terhadap KSM maupun masyarakat dan operator. Selama masa ini, dilakukan kegiatan monitoring kualitas effluent agar diketahui secara terus menerus kualitas limbah cair rumah tangga yang dibuang ke sungai sudah benar-benar memenuhi persyaratan baku mutu lingkungan. Monitoring

juga dilakukan terhadap aspek keuangan (iuran pengguna) serta keberadaan dan fungsi KSM sebagai pengelola. Dukungan juga bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten dan institusi terkait dengan bentuk pembe rian insentif kepada masyarakat yang mengelola limbahnya sendiri.

2. Capaian Program Sejak tahun 2003 hingga akhir tahun anggaran 2008, SANIMAS telah dibangun di 24 provinsi, 124 kota/kabupaten, 323 titik/ lokasi di seluruh Indonesia, khususnya di lingkungan masyarakat yang tinggal di perkampungan padat dan kumuh serta miskin atau sering disebut PAKUMIS. Bagi kota-kota yang telah memiliki seweragePeta Sebaran SANIMAS

system, maka SANIMAS adalah komplementer (pelengkap), namun bagi kota/kabupaten yang belum memiliki sewerage system maka SANIMAS menjadi solusi dengan pembiayaan yang terjangkau. Sebaran lokasi SANIMAS di seluruh Indonesia bisa dilihat dalam peta berikut:

Dep. PU + BORDA-Network partner + Pemda + Masyarakat Dep. PU + Pemda + Masyarakat

16

17

Fasilitas yang dibangun sesuai preferensi masyarakat adalah sistem terdesentralisasi (decentralized sistem) yang bisa melayani antara 50 150 KK. Secara umum, fasilitas yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah (1) pemipaan langsung dari rumah/komunal, (2) MCK plus dan (3) kombinasi keduanya. Model fasilitasnya bisa dilihat dalam gambar sebagai berikut:
Gambar Opsi Teknologi Sanitasi

Disebut sanitasi yang baik karena mereka sudah tidak lagi mencemari lingkungan karena air limbah yang mereka buang sudah memenuhi baku mutu pembuangan air limbah domestik sesuai Kepmen LH No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Total air limbah domestik yang diolah setiap harinya adalah sebanyak 5.636,45 M3/ hari yang dibuang ke badan air atau ke sungai. Berikut adalah contoh perbandingan kualitas warna air limbah sebelum dan sesudah diolah yang siap dibuang ke badan sungai:

Untuk penyediaan sarana sanitasi bagi masyarakat yang tinggal di perkampungan padat, kumuh dan miskin di perkotaan tersebut, sejak tahun 2003 hingga tahun 2008 telah dikeluarkan dana untuk pembangunan sarana fisik sebanyak Rp.82.963.218.356,- yang bersumber dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kota/Kabupaten, Masyarakat, LSM/donor, dengan porsi pendanaan dari pemerintah kota/kabupaten paling besar yakni di atas 51%. Detail pendanaan bisa dilihat dalam tabel berikut:
Tabel Pendanaan SANIMAS Pertahun

Jika dihitung secara total, sejak tahun 2003 hingga 2008 SANIMAS sudah berhasil meningkatkan akses terhadap sanitasi yang baik bagi warga masyarakat yang tinggal di perkampungan padat, ku muh dan miskin sebanyak 30.251 KK atau sekitar 136.602 jiwa. Fasilitas sanitasi tersebut tidak saja permanen tetapi juga bagus dan indah, bahkan sekaligus telah dimanfaatkan sebagai ruang publik dan media komunikasi antar warga. Hal ini penting mengingat di daerah perkotaan semakin sulit untuk mendapatkan ruang publik. Kondisi tersebut bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:
Anak-anak bermain di lapangan olahraga yang dibangun di atas bangunan IPAL SANIMAS Warga duduk santai di bangunan SANIMAS

TA H U N

M A S YA R A K AT IN-KIND IN-CASH

PEMDA IN-CASH

BAPPENAS/ PU IN-CASH
448362659*

BORDA IN-CASH
P E M B E R D AYA A N

T O TA L

2003

39,519,047

41,140,608

986,044,611 *(AUSAID)

29,073,015

1,095,777,281

2004 2005 2006 2007 2008 TOTAL

51,862,138 92,920,325 502,912,023 610,659,754 77,387,000 1,375,260,287

32,930,750 43,797,388 292,912,881 382,922,510 174,719,000 968,423,137

1,008,879,459 1,687,126,349 8,330,124,000 15,538,842,878 21,084,938,000 48,635,955,297

552,825,658 856,783,181 4,900,000,000 8,400,000,000 10,800,000,000 25,509,608,839

350,115,329 299,182,452 1,175,000,000 0 0 1,853,370,796

200,000,000 275,000,000 1,800,600,000 2,345,000,000 0 4,620,600,000

2,196,613,334 3,254,809,695 17,001,548,904 27,277,425,142 32,137,044,000 82,963,218,356

18

19

Disamping capaian-capaian tersebut, SANIMAS juga telah berhasil mendidik tenaga fasilitator lapangan sekaligus memberikan lapangan pekerjaan bagi 180 orang yang memiliki latar belakang beragam mulai dari latar belakang teknik sipil, teknik lingkungan, arsitektur, sosiologi, ekonomi bahkan pendidikan agama. Dari sekian orang TFL juga telah berhasil menjadi senior TFL karena telah memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun dengan tanggung jawab yang lebih luas meliputi aspek manaje men. TFL dan STFL ini telah menjadi salah satu pelaku kunci sanitasi di wilayahnya. Di tingkat masyarakat juga telah muncul para pelaku sanitasi langsung berupa operator sebanyak 323 orang yang setiap hari mengurusi air limbah rumah tangga yang dibuang oleh warga, suatu pekerjaan yang pada umumnya dihindari orang karena dianggap kotor, berbau, sama sekali tidak bergengsi. Para operator ini berada dibawah naungan 323 KSM yang setiap bulan menyelenggara kan pertemuan membahas masalah pensanitasi dikampungnya. Setiap bulan dana yang dikelola oleh KSM tidak kurang dari Rp 287.000.000, yang berasal dari iuran warga pengguna sarana SANIMAS yang notabene adalah warga yang miskin. Dana ini merupakan dana yang digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan fasilitas sanitasi. Lebih jauh lagi, KSM dan operator SANIMAS tersebut sekarang telah membentuk AKSANSI (Asosiasi KSM dan Operator SANIMAS-

Seluruh Indonesia) yang merupakan forum komunikasi antar pelaku SANIMAS dan telah menyelenggarakan SANIMAS AWARD untuk memberikan penilaian dan penghargaan terhadap KSM yang terbaik.

3. 4. 5.

guna) bisa mengelola sendiri, mengurangi subsidi operasional dan perawatan dari pemda, sebelum pemda bisa/mampu membangun sarana sanitasi kota. Sanitasi bisa dikelola dengan prinsip cost recovery-basis dalam lingkup unit terkecil di tingkat masyarakat. Artinya, dengan biaya mandiri dari masyarakat, dana terse- but bisa berputar sehingga mencukupi untuk biaya operasional dan perawatan. Sarana SANIMAS juga telah menjadi salah satu alternatif public space yang jumlahnya semakin berkurang di wilayah per- kotaan, apalagi di daerah padat pensani- tasi duduk. Tidak jarang bisa dilihat sekarang, ibu-ibu sedang melakukan aktifitas menyuapi anak balita di MCK karena tempatnya bersih dan tidak berbau, bah- kan tempat tersebut telah menjadi sarana untuk bertemu antar warga pemukiman. Dengan makin sering bertemu maka komunikasi antar warga menjadi lebih baik. Selain itu, banyak IPAL komunal yang dimanfaatkan oleh warga menjadi lapangan olahraga. Sebanyak 292 orang warga memperoleh pekerjaan tetap sebagai operator sarana sanitasi, baik pada sistem pemipaan mau- pun MCK plus, dengan pendapatan mini- mal sesuai dengan standar upah minimum provinsi (UMP).

kondisi kesehatan masyarakat, produktifitas mereka semakin meningkat. Hal ini tentunya akan lebih menaikkan taraf kesejahteraan karena mereka bekerja dengan lebih optimal sehingga pendapatan yang diterima meningkat, sementara disisi lain, pengeluaran untuk pengobatan penyakit yang terkait dengan sanitasi menurun.

3. Dampak Program Secara umum, dampak kegiatan SANIMAS yang bisa dirasakan sebagai berikut: 1. 2. Adanya perubahan cara pandang terhadap sanitasi. Perubahan cara pandang ini terjadi di beberapa level: pemerintah, masyarakat dan juga LSM/donor atau swasta. Di level pemerintah sekarang mulai memandang masalah air limbah juga sebagai salah satu prioritas dengan memberikan pengalokasian dana untuk penanganan sanitasi secara terus- menerus. Di level masyarakat juga mulai ada anggapan bahwa air limbah bukan sesuatu yang harus dibuang dan dihindari tetapi harus dikelola dan diolah agar tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit. SANIMAS bisa menjadi salah satu opsi dalam upaya penanganan terhadap masalah sanitasi, khususnya air limbah rumah tangga di perkotaan. Sistem penanganan air limbah terdesentralisasi (decentralized) bisa menjadi alternatif yang terjangkau dari segi biaya, mudah cara perawatannya, masyarakat (peng-

4. Kendala dan Rekomendasi Pernah dalam satu seminar, ada peserta yang bertanya kenapa yang diceritakan aspek bagus dan keberhasilan SANIMAS saja, apakah tidak ada kendalanya? Apapun programnya, termasuk SANIMAS, pasti ada kendalanya. Karena buku ini membahas mengenai Kisah Sukses SANIMAS di Indonesia maka yang disampaikan memang aspek-aspek yang berkaitan dengan contoh sukses. Namun demikian untuk melengkapi pemahaman tentang perkembangan SANIMAS maka disini penting juga ditulis aspek-aspek atau fakor-faktor yang menjadi kendala, terutama dalam implementasi. Bahkan kendala implementasi SANIMAS tidak bisa dikatakan sedikit dan ringan, tetapi banyak dan cukup berat. Kendala yang umumnya masih terus menerus diperdebatkan antara lain: 1. Pemahaman konsep partisipatif, masih banyak yang beranggapan bahwa-

6. Dampak tidak langsung SANIMAS dibidang ekonomi juga dapat dirasakan oleh masyarakat. Seiring dengan membaiknya

20

21

2. 3.

pendekatan partisipatif tidak boleh dibuattarget waktu. Memang banyak pihak ber- pandangan seperti itu, sehingga SANIMAS tidak bisa digolongkan kedalam pendeka- tan partisipatif. Banyak kalangan yang tidak mengerti bahwa partisipatif untuk masyarakat perkotaan esensinya adalah dialog. Pendanaan, sebenarnya SANIMAS meng- kombinasikan antara pendekatan pember- dayaan dan pendanaan dari berbagai stakeholder, terutama pemerintah karena permasalahan sanitasi sampai hari ini adalah merupakan tanggung jawab publik. Memang kegiatan pemberdayaan butuh waktu lama, namun penggunaan dana publik (pemerintah) juga harus sesuai dengan aturan penganggaran. Oleh karena itu, SANIMAS harus mengkombinasikan dua pendekatan tersebut, sehingga sering terjebak pada kegiatan yang berbasis ang- garan, meski harus terus diupayakan bahwa aspek pemberdayaan masyarakat tidak bisa dilupakan. Karena dengan melu- pakan proses pemberdayaan masyarakat maka sistem SANIMAS tidak akan sustainable. Jadwal implementasi, pada umumnya, penyelesaian pekerjaan fisik (konstruksi) SANIMAS berlangsung sampai bulan Januari atau Februari pada tahun berikut- nya, sehingga hal ini sering menjadi masalah bagi para pelaksana. Beberapa pihak mengusulkan agar jadwal pelaksan aan SANIMAS dibuat menjadi 2 tahun anggaran (multi-year budgeting).

4.

Tetapi aspek terpenting sebetulnya adalah menjaga semangat masyarakat yang baru saja menjadi pemenang lokasi. Untuk mulai membangun SANIMAS dibutuh- kan energi dan keswadayaan masyarakat yang juga lebih tinggi lagi, maka memanfaatkan moment semangat masya- rakat adalah sangat penting apalagi me nyangkut masalah sanitasi yang tidak pernah menjadi prioritas masyarakat. Jangankan bagi masyarakat, bahkan Pemerintah Daerah pun tidak meletakkan sanitasi menjadi prioritas pembangunan nomor satu. Kondisi budaya masyarakat setempat juga menimbulkan beberapa permasala - han pada saat implementasi SANIMAS. Permasalahan yang muncul berkaitan dengan budaya masyarakat setempat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lain, sehingga memerlukan penanganan yang berbeda pula.

22

BAB II

KISAH SUKSES SANIMAS

SANIMAS : DARI MASYARAKAT UNTUK MASYARAKAT...


Kampung Nelayan II
Kampung Nelayan II terletak di Kelurahan Sungailiat, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Luas kelurahan Sungailiat adalah 15.5 Km, sedangkan luas daerah Kampung Nelayan II adalah 236 Km. Dengan jumlah penduduk Kampung Nelayan sebesar 8.409 Jiwa, maka kepadatan penduduk adalah 35,6 Jiwa/Km. Jumlah warga yang tidak memiliki MCK sebesar 122 KK (577 Jiwa). Secara umum penduduk di Kampung Nelayan II bermata pencarian sebagai nelayan dan buruh tambang timah. Namun hal ini bersifat musiman, tergantung cuaca dan kondisi laut.

27

No.

RINCIAN B I AYA B U L A N A N
Listrik Penjaga PDAM Pembersih keramik & alat kebersihan

R ATA - R ATA PENGELUARAN


Rp. 400.000 Rp. 500.000,Rp. 750.000,Rp. 500.000 Rp. 700.000,Rp. 50.000 Rp. 100.000,Rp.1.700.000 Rp.2.050.000,-

Sebelum adanya kegiatan SANIMAS, air buangan (limbah) rumah tangga umumnya dibuang atau disalurkan ke sungai terdekat atau menggunakan septictank/cubluk. Sedangkan untuk rumah tangga yang belum memiliki MCK menggunakan sumur terbuka sebagai sarana mencuci dan mandi serta menggunakan drainase dan pantai sebagai tempat untuk membuang air besar. Keadaan ini membuat Kampung Nelayan II terlihat sangat kumuh, yang menyebabkan tingginya angka penyakit yang penyebarannya melalui air (waterborne diseases). Sumber air bersih/air minum yang digunakan oleh masyarakat Sungailiat sangat tergantung kondisi ekonomi masyarakat dan kondisi daerah yang terjangkau oleh PDAM. Umumnya perpipaan air bersih yang dikelola oleh PDAM hanya terkonsentrasi pada daerah terbangun, sedangkan untuk daerah pinggiran kota umumnya masyarakat masih menggunakan sumber air dari sumur, mata air dan sungai. Namun pelayanan PDAM pun masih tergantung suplai listrik dari PLN, dimana hingga akhir tahun 2008 masih sering terjadi pemadaman listrik. Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat tertarik untuk mendapatkan program SANIMAS. Pelaksanaan SANIMAS di Kampung Nelayan II dapat berjalan lancar terutama pada proses perencanaan dan pembangunan. Hal ini disebabkan masyarakat dan tokoh masyarakat pada lokasi tersebut sangat membutuhkan dan mendukung program tersebut dengan cara menghibahkan sebagian tanah-

Lokasi
Kampung Nelayan II, Kab. Bangka

Nama KSM
Bunga Rampai

Sistem
MCK

Teknologi SANIMAS yang terpilih di lokasi ini adalah MCK Plus dengan pertimbangan lokasi permukiman masyarakat di Kampung Nelayan II yang memiliki rata-rata jarak antar rumah yang relatif jauh serta topografi lokasi yang relatif datar.

1 2 3 4

Total Pengeluaran Bulanan

Jumlah Pengguna
129 KK / 577 jiwa

Pengelolaan Keuangan dalam SANIMAS


Rata-rata biaya operasional dan pemeliharaan perbulan meliputi biaya listrik, penjaga, dan pera watan bangunan dapat dilihat pada tabel berikut. Sedangkan pendapatan/partisipasi masyarakat pengguna perbulan Rp.1.700.000 Rp. 2.500.000,-. Pendapatan tersebut berasal iuran warga Rp. 1.000 5.000 untuk setiap kali mandi; Rp. 1.000 untuk pemakaian WC; dan untuk kegiatan mandi, mencuci dan mengambil air sebesar Rp 1.000 - Rp 3.000,-. Namun secara umum masyarakat pengguna menggunakan bangunan SANIMAS hanya untuk kegiatan mandi dan buang air besar, sedangkan untuk mencuci baju masyarakat masih menggantungkan pada sumur umum yang ada di sekitar bangunan SANIMAS yang tidak membutuhkan biaya pemakaian. Rata-rata penduduk sini kerjanya nelayan dan buruh tambang, penghasilannya tidak seberapa, jadi berusaha untuk sehemat mungkin, ungkap Pak Dolar, ketua KSM Bunga Rampai.

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (5), WC (4), kran air (3), wastafel (2), bangunan ruang penjaga, tandon air, IPAL

Mulai Program
Agustus 2006

Mulai Operasional
Juli 2007

Iuran
Rp.1.000 - 5.000 (mandi); Rp.1.000 (WC), dan Rp. 1.000 - Rp 3.000,- (mandi, mencuci dan mengambil air)

Biaya Konstruksi
Rp. 301.844.000,-

Pendamping
PU, Pemkab Bangka, Masyarakat

kosongnya dan secara bersama menyusun kelompok swadaya masyarakat untuk ikut berpartisipasi merencanakan dan melaksana kan pembangunan. Jumlah penerima manfaat SANIMAS di Sungaliat ini sebanyak 129 KK (577 jiwa).

28

29

Selain fasilitas MCK, di bangunan SANIMAS ini juga dibangun warung sembako untuk masyarakat sekitar, yang sebagian hasil penjualannya digunakan untuk tambahan biaya operasional SANIMAS. Selain itu juga dipenuhi tanaman hias, sehingga bangunan SANIMAS ini tampak cantik dan rapi.

Manfaat SANIMAS
Hasil yang diperoleh dari program SANIMAS ini adalah: berkurangnya tingkat aktivitas open defecation sehingga meningkatkan kualitas lingkungan Kampung Nelayan II, masuknya jaringan perpipaan air minum dan program pembangunan lainnya (seperti perbaikan jalan lingkungan) ke wilayah ini, serta membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat. Jaman dulu air bersih disini sulit sekali didapat, air sumur payau karena dekat laut, jalan disini juga jelek sekali. Tapi setelah mendapat program SANIMAS, saya perjuangkan agar jaringan perpipaan air minum bisa masuk sini bu. Akhirnya syukur alhamdulillah jaringan PDAM masuk, kemudian jalan lingkungan juga diperbaiki, ungkap Pak Dolar.
Fasilitas SANIMAS : kamar mandi, WC, dan wastafel

Manajemen semacam ini terbukti berhasil karena keputusan yang diambil melibat- kan warga dan merupakan komitmen sosial bersama.

b. Dampak Ekonomi SANIMAS

Sisa dana yang tersedia di KSM yang cukup banyak mampu digunakan oleh warga untuk kepentingan bersama. Misalnya untuk tambahan biaya masuknya jaringan perpipaan air minum dan perbaikan jalan lingkungan.

c. Dampak Sosial SANIMAS

Dengan adanya berbagai fasilitas yang tersedia di lokasi SANIMAS, membuat warga semakin sering berkumpul di waktu senggangnya untuk sekedar bercakap- cakap. Tanah yang awalnya tidak mempunyai fungsi apapun berubah menjadi tempat warga untuk bersosialisasi.
(1) Warga menggunakan sumur terbuka, (2) dan (3) Fasilitas SANIMAS

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari MCK Plus di lokasi ini adalah :
a. Manajemen berbasis masyarakat

Artinya, berapapun besarnya iuran yang harus dibayarkan harus diputuskan sendiri oleh warga. Hal ini sangat penting me- ngingat tidak semua warga mempunyai tingkat ekonomi yang sama, sehingga harus ada kesepakatan yang diambil untuk dapat mengakomodir kepentingan semua warga.
31


30

Penentuan berapa besarnya jumlah iuran untuk penggunaan sarana di MCK ini se- penuhnya diserahkan kepada masyarakat.

prasarana sanitasi berupa WC berbentuk cubluk dan menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik mereka secara langsung/tanpa diolah, dan sebanyak 41,8% ( 33) KK tidak memiliki prasarana sanitasi berupa WC, hingga membangun WC & Kamar Mandi di sebantaran sungai yang melintas di RT. 03 & 02 RW. 01. Buruknya kondisi sanitasi lingkungan tersebut berpotensi menyebabkan tingginya angka penyakit yang menyebar melalui air (waterborne diseases). Kepadatan penduduk yang cukup tinggi, letak lokasi yang berada diatas tanah rawa, tingginya muka air tanah serta topografi yang datar merupakan salah satu kendala untuk membangun sarana pengolahan limbah secara terpusat. Sementara itu untuk sumber air bersih maupun air minum yang digunakan oleh warga bersumber dari PDAM Kota Banjarmasin. Secara sosial ekonomi sebagian besar warga lingkungan permukiman RT.03 & 02 RW. 01 Kel. Kelayan Tengah Kec. Banjarmasin Selatan berprofesi sebagai buruh pasar, pedagang dan pekerja perusahaan swasta. Kondisi lingkungan yang kumuh berpotensi menimbulkan penyakit bagi warga disadari oleh mereka dengan cara ikut dalam program pembenahan dan peningkatan prasarana dasar sektor sanitasi pengolahan air limbah permukiman melalui kegiatan sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS). Kampung ini terpilih karena kesiapan warganya untuk berkontribusi (uang maupun tenaga), keaktifan warganya untuk-

Lokasi
Kel. Kelayan Tengah, Banjarmasin Selatan

Nama KSM
Kelayan Tengah

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
79 KK / 395 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (2), kamar mandi/WC (4), kran air (4), bangunan ruang penjaga, tandon air, IPAL

Mulai Program
November 2006

DARI CUBLUK DAN SUNGAI MENJADI JAMBAN BERSIH DAN IPAL

Mulai Operasional
Juli 2007

Iuran
Rp.200,- (mandi), Rp.300 (WC), dan Rp1.500,(mandi, mencuci dan mengambil air). Pelanggan tetap : Rp.1.000 - Rp.20.000 per bulan

Kelayan Tengah, Banjarmasin Selatan


Jumlah penduduk Kota Banjarmasin menurut data BPS tahun 2005 berjumlah 662.825 jiwa. Secara administrasi kepemerintahan Kota Banjarmasin terbagi menjadi 5 (lima) kecamatan, yaitu : Kec. Banjarmasin Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah. Total luas Kota Banjarmasin adalah 72 Km, dimana Kec. Banjarmasin Selatan memiliki wilayah terluas, yaitu 20,18 Km, dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 6.587 jiwa/ Km (sumber, Data BPS 2004). Selain tingkatkepadatan penduduk yang sangat tinggi, tingkat kepadatan hunian dan kepadatan bangunan juga cukup tinggi, kualitas rumah sangat rendah, serta kondisi prasarana dan sarana dasar yang tidak memadai. Sebagian besar permukiman warga RT.03 & 02 RW.01 Kelurahan Kelayan Tengah Kecama tan Banjarmasin Selatan terletak di sebantaran sungai yang melintas pada kawasan permukiman dan diatas rawa. Sebelum tahun 2006, sebanyak 58,2% ( 46) KK memiliki-

Biaya Konstruksi
Rp. 207.670.829,-

Pendamping
PU, Pemko Banjarmasin, Masyarakat

32

33

berdiskusi, serta komposisi warga yang sebagian besar tidak memiliki sarana sanitasi yang layak. Calon pengguna SANIMAS Kelayan Tengah ini sebesar 79 KK (atau 395 jiwa). Bangunan SANIMAS Gg. Anajah RT. 02 & 03 RW. 01 Kel. Kelayan Tengah terletak diatas tanah yang telah dibeli oleh warga melalui KSM Kelayan Tengah. Dana Pembelian tanah tersebut diambil dari alokasi dana pendamping APBD II. Teknologi yang dipilih oleh masyarakat adalah MCK Plus karena lokasi permukiman masyarakat relatif datar, perumahan warga sebagian besar berada diatas muka air rawa, banyaknya warga yang belum memiliki fasilitas MCK, khususnya kakus, di masing-masing rumah.

Pendapatan/partisipasi masyarakat pengguna perbulan sebesar Rp. 500.000 - Rp. 650.000,-. Pendapatan tersebut berasal dari iuran warga sebesar Rp. 200 untuk setiap kali mandi, Rp.300 untuk pemakaian WC dan Mandi. Mencuci dan ambil air sebesar Rp 1.500,-. Serta kontribusi iuran bulanan warga pengguna tetap sebesar antara Rp. 1000 - Rp. 20.000,-/bln.

dan terbangunnya jalan lingkungan menuju lokasi SANIMAS dan pembuatan bak penampung air bersih dari hasil kontribusi pemakai bangunan SANIMAS.

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari MCK Plus di lokasi ini adalah : a. Perlunya peran stakeholder terkait untuk membantu masyarakat menyadari arti pentingnya sarana sanitasi yang baik, serta penetapan prioritas pembangunan di sektor sanitasi untuk mengurangi ting- kat penyebaran penyakit melalui media air (waterborne diseases); b. c. Keaktifan dan inisiatif warga dan Pemerintah Kota/Kabupaten sangat diper- lukan dalam kegiatan ini untuk mendu- kung keberlanjutan kegiatan SANIMAS; Perlunya tindak lanjut dari berbagai pihak pada tahap pasca pembangunan SANI- MAS, terutama pendampingan kepada warga mengenai PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Kondisi sebelum dan sesudah dibangun SANIMAS

Pengelolaan Keuangan SANIMAS


Rata-rata biaya operasional dan pemeliharaan perbulan meliputi biaya listrik, penjaga, dan perawatan bangunan dapat dilihat pada tabel dibawah.
No.
1 2 3 4 5

Manfaat
Hingga saat ini hasil yang dapat diperoleh dari kegiatan SANIMAS Gg. Anajah RT. 02 & 03 RW. 01 Kel. Kelayan Tengah, antara lain : masyarakat melakukan pembongkaran WC terapung disebantaran sungai yang melintas pada Kel. Kelayan Tengah; adanya perubahan perilaku masyarakat yang biasa open defecation menjadi pengguna MCK SANIMAS; perubahan prilaku konsumsi air bersih masyarakat dengan menggunakan sarana air bersih PDAM dari MCK SANIMAS untuk kegiatan memasak di rumah mereka; serta tertata-

RINCIAN B I AYA B U L A N A N
Listrik Bensin Penjaga PDAM Pembersih keramik & alat kebersihan

R ATA - R ATA PENGELUARAN


Rp. 4.800 - Rp. 23.600,Rp. 25.000,Rp. 150.000,Rp. 146.000 - Rp. 302.500,Rp. 75.000,Rp. 400.800 - Rp. 575.600,-

Total Pengeluaran Bulanan

34

35

Penanaman di sekitar IPAL ini merupakan inisiatif murni warga untuk membuat lingkungan IPAL ini tampak asri dan hijau. Selain itu, tanaman-tanaman tersebut juga menghasilkan sayur dan buah yang dapat dikonsumsi warga untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Melihat lingkungan di sekitar IPAL itu menjadi asri, warga kemudian tergerak untuk menata lingkungan kampung mereka, sehingga juga terlihat asri dan menarik. Gotong royong pun dimulai untuk menata kampung mereka. Selokan dan jalan mulai dibersihkan. Tanah di samping dan di depan rumah yang dulu terbengkalai, kini mulai ditanami berbagai jenis tanaman sehingga terlihat hijau dan indah dipandang. Hasilnya cukup membanggakan, karena kampung Minomartani ini terpilih menjadi juara pertama lomba Kampungku Indah dan Ramah pada tahun 2007 yang diselenggarakan oleh salah satu operator seluler di Indonesia. Selain itu, kampung ini juga mendapatkan juara II di lomba Yogyakarta Green and Clean yang diselenggarakan oleh Pemda Kota/Kab DIY pada tahun 2008 untuk kategori Kampung dengan Kepadatan Tinggi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari ke beradaan SANIMAS yang menjadi inspirasi warga untuk mulai menata daerah mereka. Hal ini membuktikan bahwa perhatian terhadap sektor sanitasi diperlukan apabila ingin menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan.

Lokasi
Minomartani, Kab. Sleman

Nama KSM
Layur Sehat

Sistem
Perpipaan Komunal

Jumlah Pengguna
93 KK / 310 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


76 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
November 2006

Mulai Operasional
Januari 2007

Iuran
Rp. 2.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 323.286.000,-

Pendamping
Bappenas, BORDA & LPTP, Pemkab Sleman, Masyarakat

MENATA SANITASI, MENATA LINGKUNGAN


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) SANIMAS sistem perpipaan komunal di kampung Minomartani, Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman ini terlihat rapi, indah dan hijau. IPAL yang berdiri di atas lahan dengan luas total 96 m ini terletak di bantaran sungai Kladungan yang berada di salah satu pojok kampung Minomartani. Mayoritas penduduk disini bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta. Salah satu keunikan SANIMAS di daerah ini adalah tanah yang berada di sekitar IPAL digunakan warga untuk bercocok tanam. Mulai dari tanaman palawija seperti jagung, singkong, ada juga berbagai macam sayuran seperti bayam, cabai, dan juga beberapa tanaman obat-obatan. Selain itu, ada juga beberapa tanaman hias.

Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah (Utara), Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta (Selatan),-

36

37

Provinsi Jawa Tengah (Timur), Kabupaten Kulonprogo dan Provinsi Jawa Tengah (Barat). Kabupaten ini mempunyai luas 574,82 Km dan dihuni oleh 910,007 jiwa (tahun 2006). Tingkat kepadatan penduduknya adalah 1.583 jiwa/Km. Berkah Gunung Merapi menjadi keberuntungan Sleman dalam menggerakkan perekonomian, terutama pertanian dan pariwisata.

Perlunya SANIMAS
Perumahan Minomartani RT.19 dan RT.20 RW.04 adalah salah satu dari wilayah padat yang ada di Kabupaten Sleman yang menjadi lokasi SANIMAS. Luas wilayah tersebut adalah 0,009 Km. Jumlah penduduknya 375 jiwa (93 KK). Komposisi penduduk laki-laki 195 jiwa, perempuan 180 jiwa, penduduk dewasa 291 jiwa, dan anak-anak 84 jiwa. Pada umumnya penduduk bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp. 1.000.000,- per bulan. Sebagian besar masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari PDAM dan sisanya bersumber dari sumur gali. Rata-rata kebutuhan air bersih per-KK adalah 200 liter/hari, terutama untuk keperluan minum, cuci, dan mandi. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah Rp.45.000 per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar/BAB, masyarakat menggunakan sarana WC yang ada di masing-masing rumah. Tetapi sarana WC yang ada tidak dilengkapi dengan sistem penampungan dan pengolahan air limbah yang baik. Sebagian besar limbah rumah tangga dari kloset ditampung di septictank model jumbleng dan septictank tanpa peresapan air, sehinga kotoran yang sudah penuh harus sering disedot oleh penyedot tinja. Sedangkan limbah rumah tangga dari kamar mandi dan dapur dibuang ke saluran air hujan yang ada di depan rumah yang dialirkan ke sungai, dan mengakibatkan pencemaran sungai.

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari SANIMAS di lokasi ini adalah : Oleh karena itu program pengelolaan air limbah seharusnya menjadi perhatian serius untuk mencegah kemungkinan buruk di kemudian hari.

a. Air limbah merupakan bagian dari sanitasi Seringkali program-program kebersihan lingkungan yang dilakukan tidak menyentuh sektor yang juga penting di dalam kebersihan lingkungan, yaitu air limbah. Air limbah yang menjadi polutan utama bagi pencemaran air tanah diabaikan karena dampaknya tidak akan terasa langsung seperti halnya ketika sampah berserakan. Namun, dampak dari air limbah ini akan dirasakan beberapa tahun ketika air tanah mulai tercemar dan air bersih menjadi sulit didapatkan.

b. SANIMAS menginspirasi Tidak hanya kali ini program SANIMAS menginspirasi masyarakat untuk memperbaiki kondisi lingkungannya. Namun, SANIMAS di kampung ini juga benar-benar membawa perubahan bagi warga. Berbagai juara yang direbut oleh kampung ini menjadi bukti bahwa masyarakat telah benar-benar sadar akan pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan.

(1) bak kontrol, (2) pipa pembuangan effluent

Bangunan IPAL komunal

38

39

Kabupaten Malang adalah kabupaten terluas kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi. Sebagian besar wilayah Malang adalah pegunungan. Bagian barat dan barat laut berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Arjuno (3.339 m) dan Gunung Kawi (2.651 m). Di pegunungan ini terdapat mata air Sungai Brantas, sungai terpanjang di Jawa Timur. Kabupaten Malang adalah daerah yang berada di wilayah hulu sungai Brantas, yang menjadi sumber air baku air minum bagi beberapa daerah di bawahnya. Oleh karena itu, kabupaten ini juga sekaligus sebagai pemasok limbah, terutama limbah domestik. PT. Jasa Tirta sebagai pengelola DAS Brantas tentu sangat berkepentingan untuk memperbaiki kualitas sungai brantas, salah satunya dengan membangun unit-unit pengolahan air limbah agar pencemaran kali Brantas bisa ditekan, dan kualitas airnya bisa dipertahankan.

Lokasi
Kampung Baru, Kepanjen, Kab. Malang

Nama KSM
Panji II

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
97 KK / 400 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi, WC, IPAL, tandon air

Mulai Program
September 2005

Mulai Operasional
April 2006

Iuran
Rp.5.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 331.252.000,-

SANIMAS : SWASTA PUN BISA


Selama ini dirasakan cukup sulit untuk melibatkan sektor swasta untuk ikut membiayai SANIMAS. Mereka umumnya memiliki program CSR/corporate sosial responsibility, dimana prioritas programnya mungkin berbeda meskipun sama-sama di bidang sanitasi. Meskipun demikian, di Kepanjen, Kabupaten Malang ada 1 unit SANIMAS yang dibangun dengan pendanaan dari Swasta, yakni PT Jasa Tirta II, BUMN.

Pendamping
APBN, PT.Jasa Tirta I, BORDA, Masyarakat

Kabupaten Malang, Jawa Timur


Kampung Baru RT 4A dan 4B RW 04 merupakan salah satu kampung yang terletak di Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Kampung ini adalah salah satu dari kampung padat yang berada di Kabupaten Malang yang menjadi lokasi SANIMAS. Luas wilayah kampung tersebut adalah 3 ha dengan jumlah penduduk 490 jiwa, yang tergabung dalam 141 KK. Pada umumnya, penduduk bekerja sebagai pegawai swasta(pedagang) dengan penghasilan berkisar antara Rp. 400.000 - 500.000 / bulan. Masyarakat di kampung ini menggunakan air bersih dengan cara berlangganan dari PDAM. Rata-rata kebutuhan air bersih per-KK adalah 50 liter/ hari yang digunakan untuk keperluan masak dan minum, sedangkan untuk mandi mereka menggunakan air tanah. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk

Kabupaten Malang, Jawa Timur


Kabupaten Malang terletak di Provinsi Jawa Timur, luas wilayah sekitar 3.711,61 Km. Jumlah penduduk sebesar 2.257.221 jiwa. Tingkat kepadatan rata-rata adalah 511 jiwa/Km, tetapi di daerah perkotaan sudah lebih dari 3000 jiwa/Km. Secara administratif kabupaten ini terbagi menjadi 35 kecamatan, 2 perwakilan kecamatan, 16 Kelurahan, 390 Desa, 3.055 RW dan 14.526 RT.

40

41

memenuhi kebutuhan air bersih adalah sekitar Rp. 40.000/bulan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar masyarakat biasanya menggunakan sungai dan saluran irigasi yang ada dengan hanya ditutupi bambu seadanya. Akibatnya sumursumur yang ada menjadi tidak layak minum dan sungai menjadi tercemar. Kebiasaan BAB dan membuang sampah yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan tersebut menyebabkan berkembangnya lalat yang membawa penyakit kepada manusia seperti diare, muntaber, dan thypus. Kejadian diare dan thypus di kampung ini terjadi setiap tahun, dengan jumlah penderita sebanyak 5 orang anak-anak.

Kemudian desain, DED dan RAB disusun bersama-sama masyarakat dengan difasilitasi oleh BEST Surabaya dengan pertemuan warga setiap minggu sekali, kemudian hasilnya dikonfirmasikan kepada PT Jasa Tirta untuk mendapatkan persetujuan. Masalah pendanaan, terutama iuran warga juga dimusyawarahkan berulang-ulang hingga terjadi kesepakatan besarnya iuran, baik untuk pembangunan maupun penggunaan saat operasional. Dokumen perencanaan masyarakat tersebut kemudian ditandatangani dan dilegalisir oleh pihak-pihak yang akan mendanai yakni PT Jasa Tirta, Satker PPLP, BORDA dan masyarakat. Setelah itu mulai dilakukan pembangunan. Masa konstruksi menghabiskan waktu sekitar 3 bulan, termasuk membangun biodigester untuk biogas.

b.

Berkelanjutan. Program SANIMAS memang didesain un- tuk bisa dikelola oleh masyarakat, karena pada akhirnya merekalah yang akan menggunakan dan merawat fasilitas ini. Oleh karena itu, keberlanjutan program ini nantinya akan ditentukan oleh masya- rakat. Dengan memberikan bekal capacity building terhadap masyarakat mengenai pentingnya keberlanjutan program termasuk kampanye kesehatan dan cara-cara operasional dan pemeliharaan akan da- pat menuntun masyarakat agar berjalan mandiri kedepannya.

c.

Keterlibatan PT Jasa Tirta tersebut bukan tanpa alasan. Perusahaan tersebut adalah penyedia air baku untuk PDAM di berbagai kota di Jawa Timur yang bersumber dari sungai Bran- tas. Oleh karena itu, Jasa tirta harus menjaga kualitas air baku air kali brantas. Namun, masalah selanjutnya adalah salah satu hulu sungai Brantas merupakan kota/ kabupaten yang tumbuh dengan cepat seperti kota Malang, kota Batu dan Kabupaten Malang. Hulu sungai Brantas juga banyak tercemar oleh sumber limbah domestik. Oleh karena itu, SANIMAS merupakan program yang tepat untuk mengurangi tingkat pencemaran sungai brantas yang bersumber dari limbah domestik tersebut.

SANIMAS di Kampung Baru


Kondisi yang cukup memprihatinkan seperti diatas, dan rasa tanggung jawab untuk ikut memperbaiki kualitas air kali Brantas, mendorong masyarakat untuk ikut mengajukan diri sebagai calon lokasi SANIMAS ketika ada sosialisasi program yang dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten Malang pada tahun 2005. Dan ternyata kampung Baru dinyatakan menang. Tahap berikutnya adalah penentuan calon pengguna dan pemilihan jenis sarana sanitasi yang akan digunakan. Karena kontur tanah kampung yang rata serta padatnya rumah-rumah penduduk, maka masyarakat cenderung memilih fasilitas sanitasi berupa MCK Plus.

Warga mencuci piring di tepi sungai

Manfaat & Pembelajaran


a. Solusi cepat dan tepat.
Untuk mengatasi permasalahan sanitasi di perkotaan yang memerlukan tindakan yang cepat, SANIMAS merupakan salah satu pilihan yang tepat, karena dengan pendekatan partisipatif masyarakat dapat menumbuhkan rasa memiliki. Prosesnya yang tidak singkat namun juga tidak terlalu lama dapat memberikan dampak yang cukup besar di masyarakat, terutama mengenai perubahan perilaku masyarakat.

42

43

pembangunan sarana sanitasi sendiri. Untuk membiayai hidup mereka sehari-hari saja sudah harus pontang-panting kesana-kemari, apalagi untuk membangun sarana sanitasi, yang bagi mereka bukanlah hal yang terlalu penting. Selama ini masyarakat menggunakan sungai dan MCK yang ada di kompleks pasar Rejosari untuk melakukan aktivitas BAB, man di, dan cuci. MCK tersebut kondisinya cukup memprihatinkan, karena kotor, kumuh, dan tidak terawat. Fasilitas SANIMAS MCK Plus++ yang dibangun pada tahun 2006 ini dilengkapi dengan 6 toilet, 3 kamar mandi, dan 2 kran air untuk mencuci. Selain itu, masyarakat juga meminta biogas yang dihasilkan dapat dipakai untuk pemanas air (water heater) yang diletakkan di kamar mandi. Dengan lengkapnya fasilitas sanitasi yang ditawarkan MCK Plus++ ini, masyarakat yang awalnya buang air besar di sungai dan MCK lama mulai beralih ke SANIMAS. Selain memenuhi kebutuhan sanitasi dasarnya, adanya pemanas air di hampir setiap kamar mandi ini menjadi daya tarik tersendiri. Banyak masyarakat yang cenderung menggunakan kamar mandi berpemanas air daripada yang tidak menggunakan pemanas air. Meskipun tarif yang dikenakan agak lebih mahal, namun cukup banyak warga yang memakainya.

Lokasi
Joyoraharjan, Kota Surakarta (Solo)

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
300 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


WC (5), kamar mandi (3), kran (6), rumah jaga, IPAL, tandon air

Mulai Program
September 2007

Mulai Operasional
Desember 2007

Iuran
Rp.1.000 (kamar mandi), Rp. 500 (WC)

MANDI AIR PANAS DI SANIMAS

Biaya Konstruksi
Rp. 301.904.000,-

Pendamping
PU, BORDA & LPTP, Pemko Solo, Masyarakat

Pilihan teknologi SANIMAS ada bermacammacam, yaitu : (1) Tangki Septik Bersama (Shared Septic Tank); (2) Sistem Perpipaan Komunal (Simplified Sewerage System), dan MCK Plus++ (Community Sanitation Centre). Setiap sistem memiliki kelebihannya masingmasing. Septictank bersama paling cocok dipakai jika luas lahan yang ada sangat sempit sehingga tidak memungkinkan untuk membangun IPAL dalam skala yang lebih besar, sehingga rumah yang terlayani juga hanya sedikit. Keuntungan dari sistem komunal unggul pada jumlah sambungan perpipaan yang dapat menjangkau puluhan rumah.

Sementara MCK Plus++ selain menawarkan pengolahan air limbah, juga fasilitas mandi, cuci, kakus, dan juga opsi pemanfaatan biogas. SANIMAS di Kampung Joyoraharjan RT.01/X di kota Solo memilih untuk menggunakan sistem MCK Plus++ dikarenakan ada sekitar separuh lebih dari jumlah total 356 jiwa yang belum mempunyai sarana sanitasi sendiri di rumahmereka. Mayoritas pekerjaan masyarakat di kampung yang berdekatan dengan pasar Rejosari ini adalah buruh, sehingga sulit bagi mereka untuk mengalokasikan dana bagi-

SANIMAS Kampung Joyoraharjan, Solo

44

45

Perlunya SANIMAS
Menurut Pak Sulis, operator yang bertugas setiap harinya di MCK Plus++ ini, lebih segar mandi dengan air panas, capek dan pegal jadi hilang, kata orang-orang yang memakainya. Banyak yang menggunakan air panas, terutama di malam hari dan di musim penghujan untuk mengusir hawa dingin. Karena lebih mahal, pemasukan juga bertambah sehingga selain mencukupi untuk biaya operasional dan perawatan, masih ada dana yang tersisa untuk dapat digunakan jika diperlukan. Selain masyarakat kampung Joyoraharjan, banyak juga para pedagang yang menggunakan fasilitas SANIMAS di tempat ini. Bagi para pedagang yang memerlukan air untuk berjualan, dapat dengan mudah dan murah mendapatkan air di MCK Plus++ ini.

b. c.

Pemanfaatan biogas : Pemanas Air


Salah satu pemanfaatan biogas yang ditawarkan di program SANIMAS adalah pemanas air. Dengan menggunakan energi biogas yang dibakar, air dapat dipanaskan sampai suhu tertentu yang nyaman digunakan untuk mandi. Salah satu alternatif energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.

Kampung Joyoraharjan adalah salah satu dari kampung padat dan miskin yang ada di kota Surakarta yang menjadi lokasi SANIMAS. Luas wilayah kampung tersebut sekitar 2,4 km. Jumlah penduduknya 356 jiwa (89 KK). Jumlah penduduk laki-laki 125 jiwa, perempuan 160 jiwa, dan anak-anak 71 jiwa. Pada umumnya penduduk bekerja sebagai buruh dengan rata-rata pendapatan Rp. 600.000,- per bulan. Masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari sumur gali, sumur bor, dan PAM. Jarak dari rumah ke sumber air rata-rata 10 m. Rata-rata kebutuhan air bersih per jiwa adalah 50 liter/ hari, terutama untuk keperluan mandi, cuci, masak, dan keperluan lainnya. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah Rp. 45.000,- per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar/ BAB, masyarakat biasanya menggunakan sarana WC umum yang terletak di pinggir kampung dan ke sungai yang dekat dengan lingkungan tersebut. Tetapi sarana tersebut tidak dilengkapi dengan dengan sistem pengolahan, sehingga kotoran mengalir begitu saja dan mencemari lingkungan (air tanah/sungai). Akibatnya, air yang dikonsumsi tidak sehat dan dapat menimbulkan penyakit.

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari MCK Plus++ di lokasi ini adalah :

Tambahan penghasilan Operator yang bekerja di SANIMAS ini adalah seorang tukang becak dengan penghasilan yang tidak menentu. Dengan juga bekerja sebagai operator yang tidak menyita banyak waktu karena fasilitas ini hanya perlu dibersihkan dua kali sehari, bapak dengan 5 anak ini mendapatkan tambahan penghasilan Rp. 200.000,per bulannya. Belum lagi ditambah dengan usaha berjualan tanaman yang juga ia lakukan di lokasi MCK.

Konstruksi SANIMAS

Operator SANIMAS yang berprofesi sebagai tukang becak sekaligus penjual tanaman

a.

Solusi perbaikan sanitasi


Dengan tidak hanya menawarkan sarana mandi, cuci, dan kakus, SANIMAS juga dilengkapi dengan instalasi pengolahan air limbah. Air limbah yang berasal dari aktivitas-aktivitas tersebut dapat segera langsung diolah sehingga aman dan tidak mencemari lingkungan ketika dibuang ke badan air.

46

47

Komplek Perumahan Penca, Solo


Komplek perumahan Penca (lengkapnya Penca & Seniman) terletak di Dusun Kragilan RT 01& 02, RW 24, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah. Komplek perumahan ini dibangun oleh pemerintah Kota Solo pada tahun 1980an dan diperuntukkan bagi mereka yang menyandang kemampuan berbeda yang banyak terdapat di Kota Solo. Luas wilayah kampung sekitar 0,010092Km. Terdiri dari 85 KK atau 367 Jiwa penduduk. Komposisi penduduk laki-laki 190 jiwa, perempuan 177 jiwa dan anakanak 30 jiwa. Pada umumnya, penduduk bekerja sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, dan swasta dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp 500.000/bulan. Mereka tinggal di rumah ukuran RSS, dengan fasilitas sanitasi yang sangat terbatas. Kebutuhan air bersih diperoleh dari sumur dan PDAM. Rata-rata kebutuhan air bersih per-KK adalah 50 liter/hari, terutama untuk keperluan mandi, cuci, masak, minum, dan keperluan lainnya. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah Rp. 35.000 /bulan. Sedangkan untuk BAB, mereka menggunakan sarana WC priba di (bagi sedikit rumah yang sudah mempunyai sendiri di rumah), dan lainnya menggunakan MCK yang terletak di bagian Selatan dan bagian Barat kampung yang sebenarnyaLokasi
Kragilan, Kota Surakarta (Solo)

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
85 KK / 367 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


83 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
Maret 2006

Mulai Operasional
Desember 2006

Iuran
Rp.10.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 359.290.054,-

Pendamping
APBN, BORDA , Pemko Solo, masyarakat

SANITASI UNTUK KAUM DIFABEL


Mungkin banyak yang bertanya, apa itu kaum difabel. Difabel adalah singkatan dari different ability atau orang yang memiliki kemampuan berbeda. Dulu disebut disable people atau orang yang tidak memiliki kemampuan, tapi sebutan ini dirasa kurang tepat karena mereka sesungguh nya juga punya kemampuan sama seperti kita. Bahkan sebelumnya disebut penca atau penyan dang cacat, yang rasanya malah seperti kurang menghargai. Tetapi di Solo ada komplek peruma han yang sudah terlanjur dikenal dengan sebutan komplek perumahan penca, yaitu komplek perumahan yang disediakan bagi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik tertentu atau memiliki kemampuan berbeda.

sudah dilengkapi dengan septictank, tetapi septictank tersebut sudah rusak dan sehingga kotoran mengalir begitu saja dan mencemari lingkungan dan berbau.

48

49

Kota Solo, Ternyata Bukan Hanya Kota Batik


Mungkin banyak yang bertanya mengapa di Solo banyak kaum difabel? Jawabannya karena di kota Solo ada Rehabilitation Centrum (RC) dan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) yang didirikan pada tahun 1953 oleh Prof. Dr. Soeharso dan menjadi pusat pelati han dan pendidikan keterampilan bagi anakanak yang memiliki keterbatasan fisik, baik karena perang maupun wabah polio. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka kemudian ingin tetap tinggal di Solo, dan menganggap Solo sebagai kampung halamannya yang kedua setelah kota kelahirannya. Bahkan mereka banyak yang kawin antar suku, dan tinggal satu komplek sehingga menjadi masyarakat multi-suku di Solo. Kota Solo adalah satu wilayah dalam Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif, di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, di sebelah Timur dengan Kabupaten Karanganyar dan di sebelah Barat dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Jarak dari Kota Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah, sekitar 110 Km. Luas kota Solo 44.04 Km, terletak sekitar 65 meter dpl. Jumlah penduduk 534.540 jiwa, dengan tingkat kepadatan rata-rata 12.137/ Km. Secara administratif, terbagi menjadi 5 kecamatan dan 51 kelurahan. Solo dikenal juga sebagai kota batik. Di bidang sanitasi, kota Solo sudah cukup maju, ada 3 unit IPAL kota dengan sewerage system yakni Putri Cempo, Semanggi dan Kedungtungkul dengan pelayanan baru mencapai 10.800 sambungan rumah atau sekitar 10.64% dari total rumah tangga. Sarana tersebut dikelola oleh PDAM. Sejak tahun 2005 kota Solo mulai menerapkan SANIMAS untuk melayani daerah-daerah yang belum bisa tersambung dengan sistem IPAL kota, terutama untuk wilayah padat penduduk dan berpendapatan rendah. Disamping SANIMAS, kota Solo juga mengembangkan program lain seperti pelayanan air bersih dan sanitasi dasar. Dan untuk mensinergikan program sanitasi di kota Solo telah dibentuk POKJA Sanitasi mulai tahun 2006, yakni sejak mulainya program ISSDP.

Bagaimana Masyarakat Tertarik SANIMAS?


Kaum difabel seringkali menjadi kelompok yang terpinggirkan (marjinal) karena infrastruktur yang dibangun sering tidak prodifable. Contohnya di komplek perumahan penca ini, dimana rumah yang dibangun tidak dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet di masing-masing rumah, tetapi hanya di-sediakan MCK umum yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi warga perumahan penca. Salah satu contohnya ketika TFL SANIMAS memfasilitasi pemilihan opsi sarana sanitasi yang salah satunya berupa MCK Plus, tiba-tiba salah seorang warga bersuara keras: mas jangan mengejek ya, kalau kami ditawari MCK umum bagaimana kami harus jalan kesana? Sedangkan untuk berjalan saja kami harus merangkak. Kami minta yang ada di dalam rumah biar mudah Memang beberapa rumah sudah ada yang mampu membangun kamar mandi dan WC sendiri di rumah, tetapi mayoritas masih menggunakan MCK umum. Sementara MCK umum tersebut kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan septictanknya sudah penuh sehingga lingkungan menjadi sangat bau dan tidak sehat. Oleh karena itu, ketika ada tawaran program SANIMAS, mereka kemudian sangat antusias. Kampung ini mengikuti seluruh proses yang dilakukan, sejak dari kompetisi dengan kelura han lain sampai dinyatakan menang. Seluruh masyarakat juga mengikuti seluruh kegiatandengan tekun dan sabar, dan juga sangat kritis. Masalah yang kemudian muncul juga tidak adanya lahan untuk pembangunan IPAL komunal, yang tersedia hanya jalan. Setelah diukur ternyata lebar jalannya mencukupi untuk dibangun IPAL. Sehingga diputuskan bahwa sarana yang dipilih adalah sistem perpipaan sederhana dari rumah ke rumah dengan IPAL komunal di bawah jalan. Maka disusunlah desain, DED dan RAB. Seluruh perencanaan masyarakat kemudian dibukukan dalam bentuk dokumen rencana kerja masyarakat/RKM yang disyahkan oleh berbagai stakeholder yakni PU, Pemkot, Borda dan Masyarakat. Berdasarkan dokumen RKM itu kemudian dicairkan dana dan pembangunan sarana sanitasi dimulai. Masalah yang paling berat pada saat pembangunan adalah bertepatan dengan musim hujan, sehingga masyarakat sangat khawatir galian yang dalamnya 4 meter tersebut longsor. Apabila longsor maka beberapa rumah akan ikut roboh, karena bangunan IPAL tersebut berada di badan jalan yang jaraknya dengan rumah penduduk hanya 1.5 meter. Tetapi dengan kecermatan yang tinggi akhirnya bangunan tersebut bisa selesai tanpa menimbulkan akibat sampingan. Setelah pembangunan IPAL selesai, kemudian dilanjutkan dengan proses pemasangan pipa dari rumah warga menuju ke IPAL. Panjang sambungan pipa mencapai total 446,8 m-

Sumur warga

50

51

IPAL komunal di bawah jalan lingkungan

untuk bisa menjangkau lebih banyak pelayanan kepada warga. Setelah selesai dengan IPAL dan pemipaan, kemudian dilanjutkan dengan perbaikan dan pembuatan toilet calon pengguna di rumah masing-masing. Setelah sekitar 4 bulan proses konstruksi, fasilitas SANIMAS akhirnya secara resmi dapat dimanfaatkan oleh warga.

c.

bagi kaum difabel terhadap perkembangan infrastruktur terutama di bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan. Selain- menyediakan instalasi pengolahan air limbah, SANIMAS juga memperbaiki ka- mar mandi dan toilet warga yang tidak layak. Memberikan kesempatan Program SANI- MAS yang berjalan dengan baik di kam- pung ini banyak diketahui oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, operator yang merangkap kepala KSM Tunas Harapan, Bapak Simanto sering dipanggil untuk menjadi pembicara baik itu oleh pemerin- tah maupun organisasi-organisasi lain yang tertarik mengenai program SANIMAS.

Manfaat & Pembelajaran


a. b. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2006 ada sekitar 10% dari total 250 juta pen- duduk Indonesia yang merupakan kaum difabel. Jumlah yang tidak kecil! Dan jum- lah ini telah bertambah secara cukup sig- nifikan dengan banyaknya bencana yang melanda negeri ini dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ternyata masih banyak infrastruktur yang dibangun belum prodi- fabel. Pertimbangan ini juga sangat pen- ting. Ketika membangun infrastruktur sanitasi harus memperhatikan para manula, ibu-ibu yang sedang hamil tua serta anak-anak. Mereka harus mendapat sarana sanitasi yang benar-benar dapat diakses bagi mereka, sesuai dengan kekhususan masing-masing yang pasti tentu ada di lingkungan kita semua. Menyediakan akses kaum difabel terhadap perkembangan infrastruktur. Dengan adanya program SANIMAS di wilayah ini, secara langsung telah memberikan akses-

d.

Pemanfaatan ruang publik IPAL yang dibangun terletak di jalan kampung yang sering digunakan oleh warga setiap harinya. IPAL ini tertanam di dalam tanah sehingga tidak mengganggu para pengguna jalan. Diatasnya juga diaspal halus sehingga tidak membahayakan pengendara yang lewat. Selain itu, IPAL ini tidak memakan biaya untuk pembe- basan tanah sehingga mengurangi beban anggaran pembangunan. Alokasi biaya ini kemudian digunakan untuk memperbaiki dan membangun komponen toilet bagi rumah-rumah yang terlayani.

IPAL komunal di bawah jalan permukiman penduduk pengguna SANIMAS perpipaan komunal Kp.Kragilan Kondisi eksisting saluran buangan warga

52

53

Kota Blitar, adalah sebuah kota kecil yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah selatan Kota Surabaya. Luas kota Blitar adalah 32.578 km, dan jumlah penduduk sekitar 132.106 jiwa (2007). Tingkat kepadatan penduduk rata-rata sekitar 3.875 jiwa/km. Kota ini dikelilingi oleh kabupaten Blitar karena tadinya merupakan ibukota kabupaten Blitar tetapi kemudian berdiri sendiri sebagai kota Blitar. Secara administratif, kota Blitar dibagi menjadi 3 kecamatan dan 21 desa/kelurahan. Potensi utama daerah ini adalah sektor pariwisata. Sebagai kota yang merupakan tempat kelahiran presiden Republik Indonesia yang pertama: Soekarno, sehingga kota ini terkenal dengan peninggalan sejarahnya berupa makam Soekarno yang sampai sekarang masih tetap banyak diziarahi orang dari berbagai tempat di Indonesia. Kota Blitar belum memiliki IPAL sistem kota, sarana sanitasi yang dibangun lebih banyak individual dengan sistem septictank yang kualitasnya mungkin belum memenuhi standar sebagaimana di kota-kota lain sehingga masih mencemari lingkungan, terutama air tanah. Tetapi kota ini sudah memiliki IPLT dengan truk tinja milik pemerintah maupun swasta. Kota Blitar sudah menerapkan SANIMAS sejak tahun 2003 dan setiap tahun terus dilakukan, tidak pernah berhenti.

Profil PP Nurul Ulum


PP Nurul Ulum, dipimpin oleh KH Agus Muadzin, M.Pd.I. Pondok ini diselenggarakan oleh Perguruan Al-Maarif PCNU Kota/Kab. Blitar. Pondok beralamat di Jln. Ciliwung No. 52 Kota Blitar, Jawa Timur. Di pondok ini ada tiga jenjang sekolah yakni Madrasah Diniyah (setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA). Jumlah santri ada 625 santriwan/ santriwati dan pengasuh pondok sebanyak 84 ustadz/ustadzah (guru). Pondok ini sekarang dikelola oleh para kyai muda yang berpikiran maju dan terbuka, bahkan beberapa kali santrinya memenangkan lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pondok ini berkembang cukup pesat, santrinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan hampir setiap tahun terpaksa pondok harus membatasi jumlah pendaftar karena ruangnya tidak cukup. Oleh karenanya sedang dipikirkan untuk membuka kelas baru agar semua santri yang mendaftar bisa tertampung semua. Pondok pesantren seperti ini jumlahnya ribuan, tersebar di berbagai daerah provinsi di seluruh Indonesia. Dan santriwan/santriwati datang dari seluruh penjuru daerah dari berbagai suku di Indonesia. Mereka adalah generasi muda yang pada 10-15 tahun mendatang akan menjadi pemimpin masyarakat di berbagai bidang. Oleh karena itu, perbaikan sarana sanitasi untuk mereka sangatlah-

SANITREN : SANITASI UNTUK PESANTREN


Sejak awal diterapkan di tahun 2003, SANIMAS sudah ada yang diaplikasikan di pesantren. Rupanya, semakin tahun jumlahnya semakin banyak, tidak saja di Jawa Timur, tetapi juga di provinsi lain seperti Jawa Tengah, DIY, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara dan sebagainya. SANIMAS untuk pesantren memiliki berbagai kekhasan yang berbeda dengan implementasi di masyarakat, maka para pengelola sanitasi pesantren bersepakat untuk menamakannya sebagai SANITREN: Sanitasi Untuk Pesantren.

54

55

penting, karena apabila pemahaman mereka tentang sanitasi sejak awal sudah benar, maka mereka juga akan mengajarkan hal yang sama nantinya.
Para Santri di Ponpes Nurul Ulum, Blitar

kelas sehingga sangat mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Dan luapan dari septictank ke selokan sering menimbulkan protes warga sekitar. Oleh karena itu, ketika ada sosialisasi pro gram sanitren dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Blitar, maka PP Nurul Ulum langsung mengajukan diri sebagai calon. Setelah melalui proses seleksi terbuka, ternyata PP Nurul Ulum dinyatakan paling siap untuk implementasi Sanitren tahun 2007. Proses selanjutnya adalah penyusunan rencana kerja pesantren untuk perbaikan sanitasi, yang kemudian didokumentasikan dan dilegalisasi oleh berbagai pihak yang ikut berperan serta, yaitu : wakil pondok, pemerintah kota Blitar, Dinas PU Provinsi Jawa Timur, dan Satker PPLP Jawa Timur dan Borda. Berdasarkan dokumen tersebut dana dari berbagai sumber bisa dicairkan. Pondok pesantren memilih sarana MCK Plus dengan biogas. Kemudian pipa air limbah juga dihubungkan dengan seluruh kamar mandi dan toilet yang ada di pesantren dan disalurkan ke biodigester dan IPAL. Total biaya menghabiskan Rp.337.500.000 yang berasal dari kontribusi berbagai sumber. Total waktu yang dibutuhkan untuk membangun sarana sanitasi adalah 3.5 bulan. Setelah biodigester cukup terisi, kemudian dipasang pipa penyambung gas dari biodigester ke dapur dan disambungkan ke 5 unit kompor. Tiap hari kebutuhan masak sudah bisa memanfaatkan biogas, dan telah-

Lokasi
PP Nurul Ulum, kota Blitar

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
550 jiwa / santri

Spesifikasi Teknis MCK


12 kamar mandi & WC, IPAL

Mulai Program
September 2006

Mulai Operasional
Maret 2007

Iuran
Masuk dalam iuran santri

Biaya Konstruksi
Rp. 321.000.000,-

Pendamping
APBD, BORDA , Pemko Blitar, Masyarakat

terjadi penghematan biaya beli kayu bakar dan minyak sebesar Rp. 13.000.000/tahun. Jumlah yang cukup besar dan bisa disimpan untuk kebutuhan lain. Sekarang, setelah dibangun Sanitren, PP Nurul Ulum selain memiliki jumlah kamar mandi dan toilet yang cukup, yakni sebanyak 12 kamar mandi dan WC serta ruang cuci, juga sudah tidak mencemari lingkungan lagi. Bahkan banyak manfaat lain yang dirasakan. Sanitren di Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kota Blitar yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 15 April 2008 ini pada saat-

Mengapa Tertarik Sanitren?


Alasan pondok pesantren mengikuti program SANIMAS atau Sanitren adalah karena jumlah MCK yang ada di pondok tidak mencukupi kebutuhan santri. Dari total santri, yang mondok atau tinggal di pondok sekitar 400an santri atau sekitar 64%. Namun hanya ada 5 kamar mandi dan toilet yang dapat digunakan, sehingga setiap pagi dan sore santri-santri harus antri panjang sekali. Sementara septictank dengan kapasitas 12 M3 selalu cepat penuh dan setiap 3 bulan sekali harus dikuras sehingga memakan biaya yang tidak sedikit. Bahkan bau septictank yang sangat menyengat sampai ke ruang-ruang-

56

57

pelaksanaan pembangunannya melibatkan berbagai unsur pondok pesantren seperti: santri, pengurus pondok, pengasuh serta wali/orang tua santri.

Salah satu yang menonjol di sanitren adalah ketersediaan lahan dan keterlibatan yang tinggi dari semua unsur pondok, termasuk orang tua/wali santri.

b. c.

Pemanfaatan Biogas.
Pembangunan IPAL di pesantren ini juga dilengkapi dengan biodigester sehingga dapat memproduksi biogas yang diman- faatkan kantin untuk memasak. Karena jumlah air limbah yang masuk ke IPAL cukup banyak, biogas yang diproduksi juga cukup besar. Hal ini tentunya dapat me- ngurangi biaya produksi dan sekaligus meningkatkan pendapatan kantin.

Lingkungan yang bersih dan sehat.


MCK Plus yang dilengkapi dengan taman ini membuat lingkungan pesantren Nurul Ulum terlihat bersih, asri dan sehat. Banyak santri diwaktu senggangnya duduk di taman ini sambil membaca buku atau sekedar bercanda dengan temannya.

d.

Pernah di satu pesantren yang sedang


membangun sanitren tiba-tiba ada orang yang datang dan protes. Tadinya semua pekerja bingung, kenapa orang ini datang tiba-tiba langsung marah-marah. Ternya- ta dia protes karena di pondok pesantren tempat anaknya nyantri (sekolah di pon- dok), sedang ada gotong royong tetapi dirinya tidak dikabari. Padahal kalau dikabari dia bisa kirim beberapa anggota keluarganya untuk membantu, meskipun dia tinggal cukup jauh dari pondok yakni sekitar 15 km. Hal seperti ini tentu tidak akan terjadi dalam pelaksanaan SANIMAS di masyarakat perkotaan, bahkan kalau ada gotong-royong dan tidak diundang, maka akan sangat berbahagia.

Manfaat & Pembelajaran


a. Kebutuhan Toilet Santri tercukupi dan nyaman. Dengan dibangunnya sarana MCK Plus ini, santri yang belajar di pesantren ini merasa lebih nyaman. Jika dulu untuk sekitar 400an santri hanya ada 5 toilet, sekarang bertambah 12 lagi sehingga mencukupi-
kebutuhan sanitasi dasar mereka. Selain itu, kondisi MCK lama yang sangat kotor dan tidak terawat sering menimbulkan bau tidak sedap yang sampai tercium di ruang belajar. Namun sekarang bau tak sedap di ruang belajar sudah hilang sehingga santri dapat lebih maksimal dalam menuntut ilmu.

58

59

SANIMAS, warga kemudian mempersiapkan semua hal yang diperlukan bagi pembangunan sarana sanitasi ini. Sistem MCK Plus++ yang dipilih merupakan solusi yang paling tepat karena kebanyakan warga belum mempunyai sarana sanitasi sendiri dan juga mengingat adanya pasar yang letaknya masih di area perkampungan warga. Sehingga baik warga maupun para pedagang dan pengunjung pasar dapat menikmati sarana sanitasi ini dengan lebih nyaman. Pilihan ini terbukti tepat karena selang lebih 3 tahun SANIMAS ini terbangun, warga masih menggunakannya. Iuran yang merupakan faktor penentu keberlangsungan operasional dan perawatan fasilitas ini berjalan dengan baik. Setiap warga yang ingin menggunakan fasilitas ini diwajibkan untuk membayar Rp. 500 untuk mandi dan Rp.400 untuk BAB, serta Rp. 1.000 untuk mencuci maupun mengambil air.

Lokasi
Jagalan Lor, Kota Mojokerto

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
400 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (2), WC (5), kran (3), wastafel, rumah jaga, IPAL

Mulai Program
Desember 2005

Mulai Operasional
April 2006

Iuran
Rp. 500 (WC), Rp. 1.000 (kamar mandi)

Biaya Konstruksi
Rp. 220.623.611,-

Pendamping
PU, BORDA, Pemko Mojokerto, Masyarakat

SANIMAS DI TENGAH PASAR


Berapa banyak pasar yang mempunyai sarana sanitasi yang layak? Tentunya dapat dihitung. Salah satunya adalah SANIMAS yang berlokasi di Kota Mojokerto, yang terletak di dekat pasar. SANIMAS ini sedianya diperuntukkan bagi masyarakat yang tinggal di Kampung Jagalan Lor lingkungan Kalimati. Namun, karena mayoritas penduduk kampung ini bekerja sebagai pedagang di pasar yang letaknya tidak begitu jauh dari perumahan warga, maka SANIMAS ini juga diperuntukkan bagi parapedagang dan pengunjung pasar Tanjung. Bagi penduduk kampung Jagalan Lor, sanitasi bukan merupakan prioritas karena tidak banyak warga yang mempunyai sarana sanitasi sendiri di rumah mereka. Mayoritas masih menggunakan MCK umum yang kondisinya memprihatinkan yang berada di sekitar kam pung. Atas inisiatif warga, mereka mengaju kan diri untuk diseleksi menjadi calon lokasi SANIMAS di Kota Mojokerto. Setelah memenangkan persaingan penentuan lokasi-

Dengan sistem pembayaran secara langsung, fasilitas ini dapat membiayai sendiri operasional dan perawatannya, ka-rena ternyata banyak pedagang dan pembeli pasar yang menggunakannya. Prediksi pengeluaran dan pemasukan awal adalah sekitar Rp. 1.033.500 dan Rp. 1.366.500. Namun, prediksi ini tidak tepat karena jumlah pemasukan ternyata lebih besar dari yang diharapkan. Gaji operator yang dulu hanya Rp. 450.000 mampu dinaikkan menjadi Rp. 700.000 dalam waktu kurang lebih 2 tahun. Jumlah operatornya pun bertambah dari satu menjadi dua orang yang bekerja dengan sistem shift pagi dan sore. Sampai saat ini, saldo yang dimiliki-

oleh SANIMAS Jagalan Lor merupakan salah satu SANIMAS yang mempunyai pendapatan terbesar. Sistem ini telah berjalan sejak SANIMAS ini beroperasi pada bulan April 2006 sampai saat ini. Keberlanjutan fungsi sarana sanitasi ini tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat untuk terus mendukung operasional dan perawatan yang manfaatnya akan dirasakan oleh semua warga.

60

61

Mengapa Tertarik SANIMAS?


Pembelajaran yang dapat diperoleh dari Sistem MCK Plus++ di lokasi ini adalah :

Pasar di dekat lokasi SANIMAS

a. b.

Keberlanjutan Program Sejak awal berlangsungnya program SANIMAS ini telah didesain untuk dapat sustainable atau berkelanjutan. Pelibatan masyarakat sejak proses seleksi sampai dengan fasilitas selesai dibangun dan kemudian digunakan, ternyata terbukti dapat menumbuhkan kepemilikan masyarakat terhadap sarana sanitasi ini. Lancarnya iuran yang masuk merupakan salah satu bukti keinginan masyarakat yang kuat untuk dapat menikmati fasilitas sanitasi yang layak. Kontribusi Terhadap Keuangan Daerah
Dengan besarnya dana yang masuk ke kas SANIMAS Jagalan Lor ini, selain dapat untuk membiayai kebutuhan operasional dan perawatan, masih ada saldo yang tersisa. Oleh masyarakat, saldo ini sering digunakan untuk membiayai beberapa kegiatan kampung. Selain dapat berdiri sendiri, SANIMAS ini juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan kampung.

Kampung Jagalan Lor Lingkungan Kalimati adalah salah satu dari kampung padat dan miskin yang ada di Kota Mojokerto yang menjadi lokasi SANIMAS. Luas wilayah kampung ini adalah 1000 m. Jumlah penduduknya 500 jiwa (117 KK). Pada umumnya, penduduk bekerja sebagai pedagang dengan rata-rata pendapatan sekitar Rp. 600.000 per bulan. Masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari PDAM dan air tanah, yang didapatkan dengan cara membelinya. Ratarata kebutuhan air bersih per KK adalah 20 liter per hari, terutama untuk keperluan masak dan minum, sedangkan untuk mandi mereka menggunakan air tanah. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah sekitar Rp. 40.000 per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar/ BAB, masyarakat biasanya menggunakan MCK yang ada di lingkungan kampung tersebut. MCK yang ada tidak dilengkapi dengan pengo lahan yang memadai, sehingga kotoran mengalir begitu saja dan mencemari (air tanah/ sungai). Akibatnya, sumur tidak layak minum dan sungai menjadi tercemar.

TAK ADA LAHAN, JALAN PUN JADI

Perlunya SANIMAS
Kampung Jagalan Lor, Lingkungan Kalimati secara administratif masuk Kelurahan Jagalan, Kecamatan Magersari. Letak kampung ini ada di tengah-tengah lokasi Pasar Tanjung kota Mojokerto.

Ada peribahasa tak ada rotan akar pun jadi. Maksudnya adalah kalau tidak ada yang bagus yang agak jelek pun bisa digunakan. Dalam SANIMAS juga berlaku peribahasa itu: tak ada lahan, jalan pun jadi. Maksudnya juga hampir sama, yaitu kalau tidak ada lahan yang ideal maka badan jalan pun bisa digunakan untuk IPAL, sementara diatasnya masih tetap bisa digunakan sebagai jalan.

Kota Denpasar, Bali


Umumnya orang hanya mengenal pulau Bali sebagai tujuan wisata. Kota Denpasar adalah Ibukota Provinsi Bali. Secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah selatan, Kabupaten Tabanan di sebelah barat dan Kabupaten Gianyar di sebelah timur.

62

63

juga masih relatif kecil, sehingga kota Denpasar sejak tahun 2003 sudah menerapkan SANIMAS untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap sanitasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di perkampungan padat dan kumuh di perkotaan. Namun demikian, untuk pembangunan SANIMAS di kota Denpasar, termasuk di Gg. Segina sangat sulit memperoleh lahan karena nilai lahan sudah sangat tinggi. Oleh karenanya, hampir semua SANIMAS di kota ini menggunakan badan jalan untuk membangun IPAL Komunalnya.

Masalah yang kemudian muncul adalah lahan, sementara yang tersedia hanyalah badan jalan. Oleh karena itu, masyarakat kemudian mengajukan ijin ke Dinas PU agar diijinkan untuk menggunakan badan jalan sebagai tempat IPAL komunal. Dinas PU kota Denpasar memberikan ijin, dengan persyaratan bangunan IPAL harus mampu menahan beban 10 ton karena fungsinya memang sebagai badan jalan. Selanjutnya tim dari BaliFokus membantu menghitung kekuatan strukturnya. Setelah semua persyaratan teknis terpenuhi, kemudian disusun pemetaan calon pengguna, rumah-rumah yang akan disambungkan, pembentukan KSM, rencana kontribusi dan pelatihan. Seluruh hasil perencanaan sebagai bentuk kesepakatan masyarakat tersebut didokumentasikan untuk mendapatkan legalisasi dari semua pihak yang menyediakan pendanaan, yaitu Satker PPLP, Kota Denpasar, Borda dan Masyarakat. Dokumen tersebut digunakan untuk mencairkan dana, dan dilanjutkan pekerjaan fisik. Pekerjaan fisik memakan waktu sekitar 3.5 bulan.

Lokasi
Pemecutan Kelod, Denpasar Barat

Nama KSM
Segina Asri

Sistem
Perpipaan Komunal

Jumlah Pengguna
196 KK / 448 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


176 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
September 2005

Mulai Operasional
Januari 2006

Kota Denpasar mempunyai luas 123,98 km dengan jumlah penduduk 600.000 jiwa. Tingkat kepadatan rata-rata adalah 4.839 jiwa/ Km. Pertumbuhan penduduknya rata-rata cukup tinggi yaitu 4,05%. Di Kota Denpasar ada kebijakan LC atau land consolidation, dimana banyak jalan baru yang dibangun untuk memberikan akses ke daerah-daerah yang tadinya tak terjangkau kendaraan. Seiring dengan pertumbuhan pariwisata dan ekonomi provinsi Bali, di Kota Denpasar pertumbuhan perumahan juga tinggi. Namun demikian belum diimbangi dengan penyediaan infrastruktur sanitasinya. Sebenarnya Kota Denpasar sudah memiliki sistem sanitasi skala perkotaan yang baru diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2008 yang IPALnya terletak di Suwung. Namun IPAL ini cakupan pelayanannya-

SANIMAS Untuk Kebersihan Lingkungan


Karena kondisi lingkungan rumah kontrakan yang kurang higienis, ditambah beberapa blok rumah digunakan untuk produksi sarung pantai, membuang limbahnya juga ke selokan sehingga lingkungan menjadi kumuh. Oleh karenanya ketika ada sosialisasi program SANIMAS, masyarakat sepakat untuk mengajukan diri sebagai salah satu calon lokasi. Dan ternyata setelah dilakukan proses seleksi sendiri oleh masyarakat secara terbuka, Gg. Segina menjadi pemenangnya. Selanjutnya dilakukan penyusunan rencana kerja masyarakat/RKM yang dibantu oleh TFL dari Yayasan BaliFokus, masyarakat memilih sarana sanitasinya dengan sistem perpipaan dari rumah ke rumah kemudian disambungkan dengan IPAL komunal.

Iuran
Rp. 5.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 258.820.000,-

Pendamping
APBN, Pemko Denpasar, BORDA, Masyarakat

Manfaat & Pembelajaran


a. Sanitasi membuka pintu kepada akses sanitasi berikutnya, Pengolahan Air Minum Rumah Tangga (PAM-RT) dengan teknologi BioSand Filter (BSF). Mengingat kualitas air bersih di rumah- rumah petak kurang baik, sebagian besar masyarakat perkotaan terbiasa mengguna kan air galon isi ulang yang dibeli dari kios- kios air/depo air untuk keperluan minum dan masak. Tiap bulan setiap keluarga-

membelanjakan dana sekitar Rp.100,000 - 150,000 untuk air minum.

b.

Difasilitasi oleh BaliFokus, pengurus KSM memperkenalkan BSF kepada beberapa keluarga yang berminat. Dengan dana Rp.400,000 mereka bisa mendapatkan 1 unit BSF yang mampu menyediakan air tersaring sekitar 20 liter per hari. Kualitas air hasil saringan BSF telah diuji di laboratorium dan beberapa unit sudah layak minum. Namun, para-

64

65

Bangunan IPAL dibawah badan jalan

pengguna BSF tetap disarankan untuk merebus air terlebih dahulu sebelum digunakan. Dengan menggunakan BSF seka- rang keluarga dapat mengalihkan pengeluaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli air, untuk keperluan lain.

c.

Mempererat hubungan sosial masyarakat Program SANIMAS yang mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dapat mem- pererat hubungan sosial. Kerjasama, gotong royong dan kesepakatan yang diambil murni keputusan bersama. Musyawarah untuk mufakat merupakan kunci utama bagi suksesnya program ini.

IPAL KOMUNAL DI BADAN JALAN LINGKUNGAN

TAK ADA LAHAN, JALAN PUN JADI


Profil Kel. Binanga, Mamuju
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 2005 jumlah penduduk Sulawesi Barat sebesar 969.429 Jiwa. Sebagai Ibu Kota hasil pemekaran Provinsi baru, Kabupaten Mamuju memiliki prasarana dan sarana sanitasi yang sangat minim dan rendah kualitasnya. Permasalahan ini ditambah dengan adanya sebagian besar masyarakat yang masih melakukan kegiatan buang air besar secara open defecation baik di lahan kosongbantaran sungai, drainase dan pantai. Ditambah lagi mereka menggunakan drainase dan sungai sebagai tempat mandi dan mencuci. Hal ini menyebabkan banyaknya lokasi kumuh, miskin, serta rendahnya tingkat pola hidup sehat dan bersih. Lingkungan Rawa Timur Kelurahan Binanga terletak di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dengan-

66

67

jumlah penduduk tahun 2007 sebesar 248 KK atau + 1.240 Jiwa, dimana jumlah warga yang memiliki MCK (cubluk) sebesar 87 KK /+ 435 Jiwa atau 35%, sedangkan 161 KK/+ 805 Jiwa atau 65% penduduk lainnya tidak memiliki sarana MCK. Di lingkungan Rawa Timur ini tidak terdapat satupun sarana MCK umum. Buruknya kondisi sanitasi ini menyebabkan tingginya angka penyakit yang ditularkan melalui media air (waterbone diseases), ditambah lagi timbulnya pemandangan dan bau yang tidak sedap di daerah ini. Secara umum penduduk di Lingkungan Rawa Timur Kelurahan Binanga bermata pencarian sebagai buruh, penjual sayur mayur dan ikan di pasar tradisional, dan tukang becak. Pelaksanaan SANIMAS di Lingkungan Rawa Timur dapat berjalan lancar terutama pada proses perencanaan dan pembangunan, disebabkan tingkat kebutuhan dan dukungan yang tinggi dari masyarakat dan tokoh masyarakat setempat terhadap program SANIMAS, sehingga hambatan sosialisasi/ pendekatan masyarakat dapat diminimalkan dengan adanya komunikasi intensif dan terpadu dari Dinas PU Kabupaten Mamuju, SNVT Pengembangan PLP Provinsi Sulbar dengan masyarakat maupun tokoh masyarakat di lingkungan Rawa Timur. Komunikasi intensif ini menghasilkan tingginya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan SANIMAS, hingga menghibahkan sebagian lahan kosongnya seluas 4 x 27,3 m dan secara bersama masyarakat menyusun kelompok swadaya masyarakat untuk ikut berpartisipasi-

Lokasi
Kel. Binanga, Kab. Mamuju

Nama KSM
Balaninor

Sistem
Perpipaan Komunal

merencanakan dan melaksanakan pembangunan. Dengan keikutsertaan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan, diharapkan masyarakat dapat meniru cara pembuatan baffled reactor yang ramah lingkungan, mudah pembangunan, perawatan dan operasionalnya. Teknologi yang dipilih adalah perpipaan komunal, dengan pertimbangan sebanyak 65 % (161 KK) masyarakat lingkungan Rawa Timur tidak memiliki prasarana MCK, jarak tempat tinggal masyarakat lingkungan Rawa Timur yang berdekatan, luas lahan/rumah yang relatif sangat kecil, serta keinginan masyarakat untuk dapat memiliki jamban pribadi sehingga lebih nyaman dalam waktu pemakaian maupun perawatan jamban yang tidak tergantung dengan pengguna/ masyarakat lainnya. Target kapasitas layanan bangunan perpipaan komunal di lingkungan Rawa Timur adalah 100 KK.

Pengelolaan SANIMAS
Pada tahap awal sampai bulan September 2008 biaya operasional dan pemeliharaan jaringan pipa primer dan baffled reactor perbulan masih dalam tanggungan pengelola/ KSM, kondisi tersebut dilatarbelakangi oleh : Usaha KSM untuk mensosialisasikan ke- pada masyarakat khususnya di lingkungan Rawa Timur untuk melakukan kegiatan mandi, cuci pakaian dan buang air besar bukan di bantaran sungai/tempat terbuka, melainkan ditempat yang telah disediakan dengan sistem pengolahan limbah domes- tik yang benar; Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat serta pola perilaku lama, memerlukan pendekatan oleh KSM dan Dinas penang- gung jawab kegiatan sanitasi Kabupaten untuk menggali potensi masyarakat dan-

Jumlah Pengguna
248 KK / 1.240 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


100 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
November 2007

Mulai Operasional
Juni 2008

Iuran
Masih ditangani KSM

Biaya Konstruksi
Rp. 304.000.000,-

Pendamping
PU, Pemkab Mamuju, Masyarakat
(1) peta sanitasi kampung, (2) permukiman penduduk Kel. Binanga

Cubluk

68

69

Kelurahan Binanga. Masyarakat yang sebelumnya melakukan open defecation, telah berubah dengan mandi dan buang air besar di kamarmandi dan jamban yang telah mereka bangun, baik dengan jamban pribadi maupun berkelompok dengan bentuk bangunan yang sederhana dan sesuai kemampuan masyarakat. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengerti fungsi dari manhole hingga masih banyak yang menggunakan manhole sebagai tempat buang air besar.

Pembelajaran
mendorong masyarakat untuk merubah perilaku hidup sehat; Pembelajaran yang dapat diperoleh dari SANIMAS di lokasi ini adalah bahwa walaupun banyak kendala yang dihadapi, perlu diberikan penghargaan atas usaha KSM untuk merubah perilaku masyarakat dalam melakukan kegiatan MCK di bantaran sungai dan rawa-rawa hampir terwujud, terlihat dari makin banyaknya jumlah masyarakat yang menggunakan sarana sanitasi/kloset yang memadai dan rendahnya jumlah penduduk yang menggunakan bantaran sungai maupun rawa untuk mandi, cuci dan buang air besar.

Belum kuatnya KSM pengelola kegiatan SANIMAS, khususnya dalam mengelola kegiatan sanitasi.

Manfaat
Kegiatan SANIMAS di Kabupaten Mamuju saat ini, sedikitnya telah memberi perubahan perilaku bagi warga Lingkungan Rawa Timur-

LIMBAH TAHU UNTUK KOMPOR

(1) jalan lingkungan yang sedang diperbaiki, (2) jamban warga yang sudah dipasang pipa, (3) IPAL komunal di bawah badan jalan lingkungan, (4) jaringan perpipaan dari rumah warga, (5) rembug warga dalam proses Sanimas

Pagi itu, Pak Yono, pemilik usaha tahu merangkap ketua kelompok swadaya masyarakat/ KSM SANIMAS Sari Mulyo memulai aktifitasnya seperti biasa sebagai pengrajin tahu. Dia mulai mencuci biji kedelai yang sudah direndam untuk dijadikan bahan utama pembuatan tahu. Biji kedelai yang sudah bersih itu kemudian dimasukkan ke mesin penggiling. Selanjutnya hasil gilingan kedelai tersebut dimasukkan ke bak penggodog yang terbuat dari semen yang sudah mengkilap karena tiap hari digunakan. Api dinyalakan, tenaga pembantu mulai menyaring kemudian mencetak dan-

memotong tahu yang sudah jadi. Begitulah keseharian pak Yono sebagai pengrajin tahu.

Awal Mula SANIMAS Tahu Kepek


Bermula dari bulan Desember 2005 ketika masyarakat di kampung Sumbermulyo, Kelurahan Kepek, Kecamatan Wonosari Kabu paten Gunung Kidul mengajukan diri sebagai calon lokasi program SANIMAS. Penduduk di kampung ini boleh dikatakan mayoritas adalah pengrajin tahu skala rumahan, yang-

70

71

sudah berjalan sejak tahun 1980an. Dari 68 kepala keluarga atau 260 jiwa, 14 diantaranya adalah pengrajin tahu. Kapasitas produksi mereka rata-rata sekitar 400kg/pengusaha/ hari, maka total kebutuhan kedelai mereka sekitar 5,6 ton/hari. Selama ini para pengrajin tahu hanya membuang begitu saja dengan cara mengalirkan air limbahnya melalui selokan yang kemudian masuk ke luweng (gua karst yang banyak terdapat di Gunung Kidul) kemudian mengalir ke sungai bawah tanah yang di bagian hilir digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih bahkan air minum. Sehingga hal ini menimbulkan protes setiap tahun dari masyarakat. Limbah tahu memang sangat membahayakan bagi lingkungan karena kadar COD air limbah tahu sekitar 7.700-9400 mg/L dan BOD 34004100 mg/L. Sebenarnya sudah berkali-kali mereka minta bantuan kepada Pemda tetapi setiap kali disurvey kemudian tidak ada tindak lanjutnya, sampai menimbulkan sikap apatis para-

Lokasi
Kel. Kepek, Kab. Gunung Kidul

Sistem
Perpipaan Komunal Pembuat Tahu

Hindia di selatan, serta Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, DIY di barat. Luas wilayah adalah 1.485.36 Km. Kabupaten Gunung Kidul terbagi menjadi 18 kecamatan, 114 desa dan kelurahan. Jumlah penduduk 868.000 jiwa, dengan tingkat kepadatan sekitar 462 jiwa/Km. Sebagian besar wilayah kabupaten ini merupakan daerah perbukitan dan pegunungan kapur/karst yang tandus dan pada musim kemarau sering terjadi kekeringan dan kekurangan air mimun. Hampir keseluruhan wilayah merupakan daerah pertanian, dan 100.303 Ha berupa lahan kering. Dan tanaman yang paling cocok adalah palawija terutama jagung, ubi kayu sebagai bahan baku tiwul, makanan khas daerah Gunung Kidul.
Pemanfaatan biogas hasil pengolahan limbah tahu

Jumlah Pengguna
14 pembuat tahu

Spesifikasi Teknis MCK


14 SR, IPAL Komunal

Mulai Program
September 2005

Mulai Operasional
Maret 2006

Iuran
Rp. 10.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 202.000.000,-

Pendamping
APBN, Pemkab Gunung Kidul, BORDA, Masyarakat

pengrajin tahu dan muncul anggapan jika ada orang survey pasti tidak akan ada tindak lanjutnya. Bahkan kepada tim SANIMAS, pak Yono mengatakan: apakah SANIMAS benarbenar bisa menangani limbah tahu, jangan sampai bohong karena kami sudah kapok disurvey

Di wilayah Gunung Kidul terdapat 46 pengrajin tahu yang tersebar diberbagai wilayah atau 5 cluster. Mereka memasarkan tahunya bukan saja di wilayah Gunung Kidul tetapi juga ke luar kabupaten seperti Yogya, Sleman, Bantul, Klaten dan Wonogiri. Memang secara ekonomi tahu relatif baik dan keluarga pengrajin tahu biasanya dikenal sebagai keluarga yang mampu/kaya. Akan tetapi apabila limbah produksi tahu mereka dibiarkan maka akan sangat membahayakan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Dukuh Kepek Kampung Tahu Kabupaten Gunung Kidul, DIY


Kabupaten Gunung Kidul masuk dalam wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta/ DIY. Wilayah ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di utara dan timur, SamudraDi Kampung Sumbermulyo RT 4 RW 3 kelurahan Kepek, kecamatan Wonosari, Gunung Kidul luasnya sekitar 21.18Ha. Mayoritas penduduknya bekerja di pabrik tahu, baik sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja/buruh. Jumlah penduduk sekitar 260 jiwa terdiri dari 68 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut 14 KK adalah pengrajin tahu, masing-masing mampu memproduksi 400 kg kedelai perharinya.

72

73

Produksi tahu butuh banyak air. Untuk mencukupi kebutuhan air sehari-harinya, masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari sumur gali dan PDAM, Rata-rata kebutuhan air bersih per KK perhari adalah 1-2 m3 yang digunakan untuk memasak, minum, mandi dan mencuci. Sedangkan pengrajin tahu butuh air sekitar 15m3 perharinya. Warga bukan pengrajin tahu mengeluarkan biaya Rp 30.000, dibanding Rp 500.000 per bulannya untuk pengrajin tahu. Kesadaran para pengrajin tahu akan kesehatan lingkungan cukup rendah. Hal ini dibuktikan dengan pembuangan air limbah pengolahan tahu yang hanya dialirkan begitu saja ke lingkungan padahal mengandung kadar polutan yang sangat tinggi. LPTP yang memfasilitasi program SANIMAS, setelah penandatanganan MoU dengan Pemkab Gunung Kidul, c.q. Dinas PU kemudian melakukan longlist, shorlist calon lokasi, seleksi lokasi. Setelah lokasi terseleksi, kemudian difasilitasi penyusunan rencana kerja masyarakat termasuk pemilihan teknologinya. Oleh karena permukiman pengrajin tahu ini letaknya tidak berdekatan sehingga harus menggunakan pemipaan yang panjang pipa utamanya total mencapai 466,8 m untuk dapat menghubungkan semua pengrajin tahu. Setelah perencanaan matang dan persiapan selesai, dimulailah proses pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sistem komunal di Kampung Sumbermulyo ini. Pekerjaan fisik menghabiskan waktu 4 bulan,- hingga

instalasi tersebut benar-benar bisa digunakan. Sarana IPAL juga dilengkapi dengan 2 buah biodigester berukuran masing-masing 6M. Dari digester itulah kemudian gas yang dihasilkan dipipakan ke rumah-rumah penduduk yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar alternatif. Hingga hari ini sudah ada 15 rumah tangga yang tersambung instalasi biogas dari limbah tahu. Mereka menggunakan biogas tanpa harus membayar, sehingga untuk masak mereka sudah tidak membutuhkan kayu bakar atau minyak tanah lagi.

Selain itu, pada musim kemarau air limbahnya juga banyak dimanfaatkan, bahkan untuk rebutan, oleh masyarakat sekitar untuk menyiram tanaman, termasuk menyiram rumput untuk makanan ternak yang menjadi sumber penghasilan pokok masyarakat. Selain itu, pada musim kemarau air limbahnya juga banyak dimanfaatkan, bahkan untuk rebutan, oleh masyarakat sekitar untuk menyiram tanaman, termasuk menyiram rumput untuk makanan ternak yang menjadi sumber penghasilan pokok masyarakat.

(1) Pemanfaatan Biogas Limbah Tahu untuk bahan bakar kompor, (2) Pemanfaatan air limbah terolah untuk menyiram rumput

Kanstruksi Biodigester

74

75

a.

Biogas tahu sebagai energi alternatif Para pengrajin tahu merasa gembira ka- rena limbah yang selama ini menjadi sum- ber masalah, sekarang bisa menjadi berkah, selain tidak ada lagi komplain ternyata malah bisa menjadi salah satu bentuk sodaqoh pengrajin tahu kepada warga sekitar dalam bentuk gas bio untuk masak sehingga warga merasa sangat terbantu untuk mengurangi biaya bahan bakar dan minyak untuk masak yang per- bulannya tidak kurang dari Rp.60.000.

b. Dukungan terhadap UKM Penggunaan biogas bagi UKM sangat membantu pengrajin untuk mengurangi biaya bahan bakar. Oleh karena itu perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Selain murah, mudah didapatkan dan terbarukan, sumber energi ini juga ramah lingkungan sehingga dapat mendukung keberlanjutan industri kecil ini.

SANIMAS SUNGAI PENUH


Dusun Sawahan Terandam, Kerinci
Jumlah penduduk di Kab. Kerinci menurut data BPS adalah 353.664 jiwa, dengan luas wilayah 3.521 km, sehingga kepadatan penduduknya sebesar 100 jiwa/ km. Dusun Sawahan Terandam terletak di Kelurahan Lawang Agung, kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi, dengan jenis mata pencaharian masyarakat Dusun Sawahan Terandam terdiri dari petani, pedagang, buruh dan pegawai negeri. Permasalahan yang dihadapi adalah dari sejumlah 167 kepala keluarga (KK) yang ada, baru 26,3% yang memiliki jamban keluarga, sisanya 73,7% untuk memenuhi kebutuhan Buang Air Besar (BAB) nya pada umumnya menggunakan saluran irigasi dan lahan umum, Dusun Sawah Terandam juga merupakan lokasi terdekat dari pasar tradisional terbesar di Kab. Kerinci yang sangat buruk sanitasinya sehingga kualitas lingkungan di desa ini sangat buruk.

76

77

Kondisi itulah yang menyebabkan masyarakat di Dusun ini sangat berminat mendapatkan program SANIMAS. Jumlah penerima manfaat SANIMAS di dusun ini sebanyak 107 KK atau 535 jiwa. Teknologi SANIMAS yang terpilih di lokasi ini adalah MCK Plus dengan pertimbangan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi dan masih banyaknya keluarga yang belum memiliki jamban pribadi.

Lokasi
Sungai Penuh, Kab. Kerinci

Manfaat SANIMAS
Hasil yang diperoleh dari program SANIMAS ini adalah dengan beroperasinya fasilitas SANIMAS telah merubah perilaku masyarakat di dusun Sawahan Terandam, yang selama ini selalu membuang hajat (BAB) di saluran irigasi, dengan adanya fasilitas sanitasi ini tidak dilakukan lagi sehingga saluran irigasi terjaga kebersihannya.

Nama KSM
Sater

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
107 KK / 535 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (2), WC (6), tempat mencuci, bangunan ruang penjaga, tandon air, sumur gali, IPAL

Pengelolaan Keuangan dalam SANIMAS


Pengoperasian dan perawatan dilakukan oleh KSM Sater yang diketuai oleh Bpk. Drs. Zikri Idris. Untuk biaya perawatan tahun pertama (2008) akan dibiayai oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp. 5.930.136,- dan dari masyarakat Rp. 6.000.000,-. Selain dana diatas, masyarakat pengguna tetap akan dipungut iuran bulanan sebesar Rp. 5.000,- per bulan dan di lokasi fasilitas sanitasi disiapkan kotak uang untuk masyarakat pengguna tidak tetap.

Mulai Program
Agustus 2007

Mulai Operasional
Pebruari 2008

Iuran
Pengguna tetap : Rp.5.000/bulan. Pengguna tidak tetap bayar seikhlasnya dimasukkan ke dalam kotak

Biaya Konstruksi
Rp. 306.000.000,-

Pendamping
PU, Pemkab Kerinci, Masyarakat

Proses RPA (Rapid Participatory Appraisal)

78

79

Kota Balikpapan secara administratif terbagi menjadi 5 kecamatan, 27 kelurahan/desa. Di kota Balikpapan terdapat kilang minyak pertamina yang dibangun sejak tahun 1950 Sehingga menjadi tempat tinggal bagi para pekerja tambang. Oleh karena itu, secara umum biaya hidup di Kota Balikpapan relatif lebih mahal dibandingkan dengan kota-kota lain. Akses masyarakat kota Balikpapan terhadap air minum mencapai 43,39% dari total penduduk, yang diperoleh dari PDAM. Sedangkan air bakunya diperoleh dari 56,61% Penduduk yang tinggal di permukiman padat dan miskin di perkotaan memperoleh air minum dari air tanah setempat maupun sumber lainnya Sedangkan akses terhadap sanitasi menggunakan septictank tetapi umumnya tidak standar. Masyarakat yang tinggal di perkampungan pa dat dan miskin di Kota Balikpapan cenderung masih lebih suka BAB di sungai atau lari ke laut. Sayangnya, pemda kota Balikpapan hanya menerapkan SANIMAS sekali saja yakni pada tahun 2006.

Lokasi
Klandasan Ulu, Balikpapan

Nama KSM
Padaidi Padaelo

Sistem
Perpipaan Komunal

Jumlah Pengguna
73 KK / 300 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


42 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
September 2006

Mulai Operasional
April 2007

Iuran
Sesuai kemampuan tiap keluarga

Biaya Konstruksi
Rp. 328.478.000,-

SANIMAS DI DAERAH PASANG SURUT


Salah satu tantangan sanitasi di Indonesia adalah penanganan sanitasi untuk masyarakat yang tinggal di daerah pasang surut. Tantangan yang paling berat terutama adalah rumah-rumah berada di atas air, pantai laut selalu pasang surut, ombak yang besar, masyarakat lebih suka BAB langsung di laut melalui lubang pembuangan di dalam rumah karena lebih mudah. SANIMAS di Balikpapan yang difasilitasi oleh LPTP berani mengambil tantangan itu.

Pendamping
APBN, Pemko Balikpapan, BORDA, Masyarakat

Kota Balikpapan, Kalimantan Timur


Kota Balikpapan dikenal sebagai kota minyak, merupakan hub atau penghubung untuk masuk ke wilayah-wilayah di Kalimantan. Luas kota Balikpapan 503,30 Km, secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Paser di bagian barat, Kabupaten Selat Makasar di bagian timur, Kabupaten Kutai di bagian utara dan Selat Makasar di bagian selatan. Jumlah penduduk sebanyak 601.392 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata sekitar 566 jiwa/km.

Profil Lokasi
Kampung RT 05, Klandasan Ulu, kecamatan Balikpapan selatan secara administratif di sebelah utara berbatasan dengan Jl. Jend. Soedirman, sebelah timur dengan RT 04, sebelah barat RT 06 dan sebelah selatan ada Selat Makassar.

RT 05 Klandasan Ulu termasuk salah satu wilayah pada penduduk dan berpendapatan rendah di kota Balikpapan. Luas wilayah kampung adalah 5.9 Ha. Jumlah penduduk sebanyak 300 jiwa atau 73 KK, terdiri laki-laki 156 jiwa, perempuan 144 jiwa, anak-anak 60 jiwa. Pada umumnya, penduduk bekerja sebagai pedagang, buruh, nelayan dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp. 600.000/bulan. Masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari PDAM. Rata-rata kebutuhan-

80

81

air bersih sekitar 100 liter/kk/hari, terutama untuk keperluan mandi, cuci, kakus. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah sebesar rp 70.000/KK/bulan. Sarana kesehatan masyarakat yang tersedia berupa Posyandu, Puskesmas, tenaga penyuluh kesehatan sebanyak 3 orang. Jarak dari rumah ke prasarana kesehatan sekitar 2 km. Rata-rata biaya untuk kesehatan adalah sebesar Rp 50.000/ keluarga/bulan. Untuk memenuhi kebutuhan BAB, masyarakat biasanya menggunakan sarana WC dalam ru mah sebanyak 59% dan MCK umum sebanyak 41%, tetapi sarana tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pengolahannya, mereka bisa membuang dengan mudah karena lokasi permukiman dekat sekali dengan laut. Pada tahun 2009, RT 05 terjangkit diare dengan penderita sebanyak 7 orang dan 80% adalah anak-anak.

LPTP Solo. Dari penentuan calon pengguna, pemilihan sarana teknologi sanitasi yang dikehendaki oleh masyarakat, penyusunan desain, DED & RAB, kesepakatan besarnya iuran masyarakat, pembentukan KSM, perencanaan pelatihan, perencaan operasional dan rencana konstruksi. Hal sulit yang harus diputuskan oleh tim adalah ketika masyarakat akhirnya memindah lahan untuk IPAL, yang sedianya di lapangan badminton ternyata kemudian dipindahkan ke pinggir laut. Dan ternyata bagian inilah yang tersulit yakni membangun IPAL di lahan
Jaringan perpipaan dari rumah penduduk

(masyoritas penduduk Klandasan Ulu warga Bugis), Pemda, dan LSM LPTP. Khusus dalam pelaksanaan pembangunan awal (pondasi) seringkali tidak memperdulikan siang ataupun malam, dengan memadukan kalender musim maupun kalender dari pelabuhan Balikpapan, maka didapat kapan air surut sehingga memungkinkan untuk melakukan kegiatan konstruksi meskipun waktu tengah malam atau menjelang dini hari. Akhirnya berdasarkan pengalaman warga juga, bangunan IPAL DEWATS berhasil dibangun. Tahap berikutnya memasang pipa air limbah dari rumah-rumah panggung, yang berarti pipanya akan menggantung di bawah rumah papan. Total pengguna adalah sebanyak 73 kk/300an jiwa. Biaya yang dibutuhkan beradaskan RAB sebesar Rp 328.478.000, yang berasal dari-

pemerintah pusat, pemerintah kota, Borda dan mamsyarakat sendiri. Dan siap dioperasikan sejak April 2007. SANIMAS di Klandasan Ulu dikelola oleh KSM SANIMAS Padaidi Padaelo yang diketuai oleh bpk. Ambo Andi Muri yang diperkuat dengan SK Kepala Kelurahan nomor: 188/12/KLD.U/XI/2006.

Manfaat & Pembelajaran


Dengan dibangunnya SANIMAS, maka masyarakat di Klandasan Ulu, khususnya RT05, sudah tidak perlu lagi BAB ke laut yang amat beresiko. Bahkan mereka sekarang sudah memiliki jamban di rumah masing-masing dan bisa memanfaatkan kapan pun mereka perlu. Air laut juga tidak menjijikkan lagi, kecuali sampah yang hanyut dari tempat lain. Kolong rumah juga kelihatan relatif bersih.

Bangunan IPAL

SANIMAS Untuk Masyarakat Pantai


Berdasarkan kondisi di atas, masyarakat tertarik untuk program SANIMAS agar lingkungan pemukiman menjadi bersih. Mereka kemudian mengajukan diri sebagaicalon lokasi kepada Dinas PU Kota Balikpapan. Dan ketika dilakukan seleksi terbuka ternyata Klandasan Ulu dinyatakan menang karena scorenya paling tinggi. Tahap berikutnya adalah penyusunan rencana kerja masyarakat/RKM yang difasilitasi oleh pasang surut, sedangkan rumah-rumahnya adalah rumah panggung. Timbul keraguan pada tim, bisakah IPAL dibangun di lahan seperti ini? Waktu konstruksi menjadi molor sekitar 4 bulan, kemampuan teknis membangun konstruksi di lahan pasang surut benar-benar diuji. Proses dan teknik pembangunan IPAL ini memadukan 3 unsur keterlibatan yakni: Pengalaman masyarakat pantai-

82

83

Kepadatan penduduk yang relatif tinggi, letak lokasi yang berada diatas tanah rawa, tingginya muka air tanah serta topografi yang datar merupakan salah satu kendala untuk membangun sarana pengolahan limbah secara terpusat. Sumber air bersih maupun air minum yang digunakan oleh warga bersumber dari PDAM Kota Banjarmasin. Secara sosial ekonomi lingkungan permukiman Kp. Simpang Jagung RT.04 RW. 11 Kel. Pelambuan Kec. Banjarmasin Barat Kota Banjarmasin sebagian besar warga berprofesi sebagai buruh tambang dan pekerja pada pabrik plywood. Kondisi lingkungan yang kumuh dan berpotensi menimbulkan penyakit disadari oleh warga dengan cara ikut dalam program pembenahan dan peningkatan prasarana dasar sektor sanitasi pengolahan air limbah permukiman melalui kegiatan sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS). Terpilihnya lingkungan permukiman Kp. Simpang Jagung RT.04 RW. 11 Kel. Pelambuan Kec. Banjarmasin Barat Kota Banjarmasin sebagai penerima program SANIMAS ini melalui tahap yang cukup panjang, dimana kampung ini berkompetisi dengan kampung lainnya untuk mendapatkan program SANIMAS.

Lokasi
Kel. Pelambuan, Banjarmasin Barat

Nama KSM
Baruh Batuah

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
120 KK

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (4), WC (4), kran air (2), bangunan ruang penjaga, tandon air, IPAL

SANIMAS DI TENGAH RAWA

Mulai Program
November 2006

Mulai Operasional
Juli 2007

Pelambuan, Banjarmasin Barat


Jumlah penduduk Kota Banjarmasin menurut data BPS tahun 2005 berjumlah 662.825 jiwa. Secara administrasi kepemerintahan Kota Banjarmasin terbagi menjadi 5 (lima) kecamatan, yaitu : Kec. Banjarmasin Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah. Total luas Kota Banjarmasin adalah 72 Km. Kec. Banjarmasin Barat, memiliki luas wilayah sebesar 13.37 Km dan tingkat kepadatan 8.342 jiwa/Km menempatkan sebagai Kecamatan terpadat nomor tiga (Sumber data BPS, 2004). Tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, tingkat kepadatan hunian dan kepadatan bangunan sangat tinggi, kualitas rumah sangat rendah, serta kondisi prasarana dan sarana dasar yang tidak memadai. Bukan merupakan permukiman liar (squatter settlement). Jumlah total kepala keluarga Kp. SimpangJagung RT.04 RW.11 Kel. Pelambuan Kec. Banjarmasin Barat Kota Banjarmasin adalah 252 KK, dengan sebagian besar permukiman warga terletak di sebantaran sungai yang melintas pada kawasan permukiman. Sebelum tahun 2006, sebanyak 35,8% (90 KK) warga Kp. Simpang Jagung RT. 04 RW. 11 Kel. Pelambuan telah memiliki prasarana sanitasi berupa WC (cubluk) dengan kondisi pembuangan limbah domestik mereka langsung ke bantaran sungai, sedang 62,5% (157 KK) belum memiliki MCK dirumah dengan menggunakan bantaran sungai sebagai sarana MCK. Buruknya kondisi sanitasi lingkungan tersebut berpotensi menyebabkan tingginya angka penyakit yang menyebar melalui air (waterborne diseases).

Iuran
Rp 500 (mandi); Rp 1.000 (WC), dan Rp 1.000 Rp 1.500,- (mandi. mencuci dan mengambil air)

Biaya Konstruksi
Rp. 207.670.829,-

Pendamping
PU, Pemko Banjarmasin, Masyarakat

(1) dan (3) suasana permukiman nelayan, (2) warga menggunakan air sungai untuk kehidupan sehari-hari

84

85

Manfaat
Kampung ini terpilih karena kesiapan warganya untuk berkontribusi (uang maupun tenaga), keaktifan warganya untuk berdiskusi, serta komposisi warga yang sebagian besar tidak memiliki sarana sanitasi yang layak. Calon pengguna SANIMAS Simpang Jagung RT 04. RW. 11 Kel. Pelambuhan ini sebesar 120 KK. Bangunan SANIMAS Simpang Jagung RT 04. RW. 11 Kel. Pelambuhan terletak diatas tanah milik ba pak Abdillah yang dibeli oleh warga melalui KSM SANIMAS Baruah Batuah seharga Rp.19.502.000,sesuai dengan Surat Perjanjian Jual Beli antara Bpk Abdillah dengan Bapak Wismanto selaku ketua KSM Baruah Batuah, panjang lokasi 15 meter dan lebar 13 meter. Dana Pembelian tanah tersebut bersumber dari alokasi dana pendamping APBD II. Teknologi yang dipilih oleh masyarakat adalah MCK Plus karena lokasi permukiman masyarakat relatif datar, perumahan warga sebagian besar berada diatas muka air rawa, banyaknya warga yang belum memiliki fasilitas MCK, khususnya kakus, di masing-masing rumah. Hasil yang diperoleh dengan adanya SANIMAS RT. 04 RW 11 Simpang Jagung Kel. Pelambuhan hingga saat ini antara lain : masyarakat melakukan pembongkaran WC terapung disebantaran sungai yang melintas pada kelurahan pelambuhan, berubahnya prilaku masyarakat yang biasa open defecation menjadi mempergunakan MCK SANIMAS Baruh Batuah, perubahan prilaku konsumsi air bersih masyarakat dengan mempergunakan sarana air bersih PDAM dari MCK SANIMAS untuk kegiatan memasak di rumah mereka.

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari MCK Plus di lokasi ini adalah : a. b. Penyadaran terhadap masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat untuk peningkatan kesehatan ling- kungan Pentingnya sosialisasi yang intensif kepada masyarakat dan stakeholder terkait agar lebih peduli terhadap kesehatan lingkungan dan pemeliharaan sarana sanitasi terbangun demi keberlanjutan sistem.

Bangunan Sanimas Ruang penjaga SANIMAS

No.
1 2 3 4

RINCIAN B I AYA B U L A N A N
Listrik Penjaga PDAM Pembersih keramik & alat kebersihan

R ATA - R ATA PENGELUARAN


Rp. 14.000 - Rp. 24.800,Rp. 200.000,Rp. 88.800 - Rp. 178.050,Rp. 85.000,Rp. 387.800 - Rp. 487.850,-

Total Pengeluaran Bulanan


Bangunan Sanimas

Pengelolaan Keuangan SANIMAS


Rata-rata biaya operasional dan pemeliharaan perbulan meliputi biaya listrik, penjaga, dan perawatan bangunan dapat dilihat pada tabel berikut. Pendapatan/partisipasi masyarakat pengguna perbulan Rp.436.000 Rp.482.000,-. Pendapatan tersebut berasal iuran warga Rp. 500 untuk setiap kali mandi ; Rp. 1.000 untuk pemakaian WC, dan untuk kegiatan mandi. mencuci dan mengambil air sebesar Rp 1.000 - Rp 1.500,-. Namun kontribusi masyarakat dalam OM hingga saat ini belum optimal dilihat dari tingkat kontribusi uang maupun tenaga.

86

87

Tidak saja material bangunan yang harus dijaga, ketika kereta lewat, getarannya juga cukup mengganggu konstruksi yang berjalan. Oleh karena itu, perhitungan terhadap kuat bangunan juga harus memperhitungkan tingkat getaran dari kereta yang lewat. LPTP, sebagai fasilitator program SANIMAS di Solo melakukan perhitungan secara cermat mengenai hal ini. Hasilnya dapat dilihat sekarang, bangunan SANIMAS di Kampung Sangkrah berdiri kokoh dan megah. Dikarenakan dekat dengan pasar, selain digunakan sebagai sarana sanitasi masyarakat sekitar, SANIMAS ini juga digunakan oleh para pedagang dan pembeli di pasar Tunggul Sari. Dengan biaya yang relatif rendah, Rp. 200 (WC) dan Rp. 500 (kamar mandi dan cuci), banyak pedagang dan pembeli yang menggunakan fasilitasi MCK di SANIMAS ini. Selain karena memang tidak ada fasilitas sanitasi lain yang berada di lokasi pasar, bangunan SANIMAS ini juga cukup mencolok karena warnanya yang cerah dan bentuk bangunannya yang indah. Bangunan bertingkat dua dan dihiasi tanaman di depannya menjadikan MCK ini semakin menarik untuk didatangi.

Lokasi
Sangkrah, Kota Surakarta (Solo)

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
265 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


Kamar mandi (3), WC (3), kran (3), ruang jaga, tandon air, IPAL

Mulai Program
Juni 2006

Mulai Operasional
Pebruari 2007

Iuran
Rp.200 (WC), Rp. 500 (kamar mandi dan mencuci)

NAIK KERETA API... TUT...TUT...TUT...

Biaya Konstruksi
Rp. 331.252.614,-

Pendamping
PU, Pemko Solo, BORDA , Masyarakat

Cukup jarang SANIMAS yang dibangun di lokasi-lokasi yang sulit. Biasanya fasilitas SANIMAS dibangun di tengah kampung yang mayoritas tanahnya rata dan mudah untuk dijangkau. Namun, SANIMAS yang berlokasi di Kampung Sangkrah, Kota Solo ini cukup unik. Tidak saja karena letaknya di tanggul sungai Bengawan Solo yang terkenal, namun tepat di belakang lokasi SANIMAS ini terdapat rel kereta api yang masih aktif. Rel ini berfungsi sebagai jalan kereta api Punakawan jurusan Wonogiri-Solo dan sebaliknya. Tantangan paling besar yang dihadapi ketika pembangunan SANIMAS ini adalah pada saat kon struksi. Jadwal kereta Punakawan yang lewat dua kali dalam sehari cukup merepotkan para pekerja konstruksi. Material bangunan yang biasanya berceceran di sekitar lokasi harus dijaga sedemikian rupa sehingga tidak menghalangi laju kereta yang lewat. Ditambah lagi, ketika kereta lewat para pekerja harus menghentikan aktivitasnya untuk sekedar berjaga-jaga menghindari halhal yang tidak diinginkan.

(1) Rel kereta api di belakang bangunan SANIMAS, (2) Pasar Tunggulsari, (3) Permukiman masyarakat pengguna SANIMAS

88

89

Profil Kota Solo


Kota Surakarta terkenal dengan batik, keratin, dan pasar Klewer, sehingga perekonomiannya didominasi oleh kegiatan pariwisata, perdagangan dan jasa. Kota ini lebih dikenal dengan Kota Solo. Untuk pariwisata, eksistensi keratin Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Mangkunegaran menjadikan Solo sebagai poros sejarah, seni, budaya, yang memiliki nilai jual. Nilai jual ini termanifestasi melalui bangunan kuno, tradisi kerajaan yang terpelihara, dan karya seni yang menakjubkan, tatanan penduduk setempat yang tidak lepas dari sentu han kultural dan spiritual keratin yang semakin menambah daya tariknya. Salah satu tradisi yang berlangsung turun-temurun dan semakin mengangkat nama daerah ini adalah membatik. Seni dan pembatikan Solo menjadikan daerah ini sebagai pusat batik di Indonesia. Kota Solo mempunyai luas wilayah yang cukup kecil, hanya sekitar 44,04 Km, dengan jumlah penduduknya 534.540 (tahun 2007). Kota Solo secara administratif terbagi menjadi 5 kecama tan dan 51 desa/kelurahan. Dari total jumlah penduduk kota Solo, 10% tinggal di perkampungan padat dan miskin tersebar di 5 kelurahan. Perekonomian kota ini didominasi oleh sektor pariwisata dan perdagangan dengan tingkat UMR Rp. 674.300 pada tahun 2008.

Perlunya SANIMAS
Kampung Sangkrah RT.04 RW.VIII adalah salah satu kampung padat dan miskin yang ada di kota Surakarta dan menjadi lokasi SANIMAS. Luas wilayah kampung tersebut sekitar 4 km. Jumlah penduduknya 215 jiwa (40 KK). Jumlah penduduk laki-laki 82 jiwa, perempuan 76 jiwa, dan anak-anak 67 jiwa. Pada umumnya penduduk bekerja sebagai buruh dengan rata-rata pendapatan Rp. 400.000 - 1.000.000 per bulan. Masyarakat menggunakan air bersih yang bersumber dari PAM dan Sumur. Jarak dari rumah ke sumber air sekitar 1 km. Rata-rata kebutuhan air bersih per jiwa adalah 60 liter/ hari, terutama untuk keperluan BAB, cuci, masak, dan keperluan lainnya. Biaya yang harus dikeluarkan tiap rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah Rp. 7.500,- per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan buang air besar/ BAB, masyarakat biasanya menggunakan sarana MCK umum yang sudah ada. Tetapi sarana tersebut tidak dilengkapi dengan dengan sistem pengolahan, sehingga kotoran mengalir begitu saja dan mencemari lingkungan (air tanah/sungai). Akibatnya, air yang dikonsumsi tidak sehat dan dapat menimbulkan penyakit.

Kebiasaan BAB dan membuang sampah yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan tersebut menyebabkan berkembangnya lalat yang bisa membawa penyakit kepada manusia, seperti diare, muntaber, dan typhus.

Pembelajaran
Pembelajaran yang dapat diperoleh dari MCK Plus++ di lokasi ini adalah :

a. b.

Tantangan SANIMAS di lahan sulit Sebuah tantangan baru bagi SANIMAS untuk implementasi di lokasi-lokasi yang sulit. Dengan pengalaman dan perhitungan yang tepat, akhirnya SANIMAS ini dapat dibangun dengan baik dan tahan dari getaran kereta yang lewat. Tidak hanya untuk masyarakat sekitar Penerima manfaat dari fasilitas SANIMAS di Sangkrah bukan hanya masyarakat sekitarnya saja, namun juga para pedagang dan pembeli pasar Tunggulsari yang letaknya juga berdekatan dengan lokasi SANIMAS.

90

91

Secara administratif, kota Yogyakarta dibagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan dan 310 RW. Jumlah penduduk sekitar 527.433 jiwa. Sebagai kota pelajar sekaligus kota budaya, kota Yogya secara ekonomi tergantung pada sektor perdagangan, pariwisata, kerajinan dan sektor informal lainnya. Dari total penduduk tersebut diperkirakan sekitar 125.662 jiwa atau 23.85% tinggal di perkampungan padat dan miskin yang tersebar di 45 kelurahan. Kampung Gondolayu termasuk salah satu dari pemukiman padat dan miskin yang ada di Kota Yogyakarta. Kampung tersebut menjadi lokasi program SANIMAS tahun 2007 di kota Yogyakarta, tepatnya di Kampung Gondolayu Lor RT 56 & 57 RW 11. Lokasi ini terletak tidak jauh dari pusat kota, kurang lebih sekitar 200 m ke arah Timur dari Tugu Yogya dan 3 Km ke arah Utara dari Kantor Gubernur DIY atau Malioboro.

Lokasi
Gondolayu, Yogyakarta

Sistem
Perpipaan Komunal

Jumlah Pengguna
95 KK / 324 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


42 SR (Sambungan Rumah), IPAL Komunal

Mulai Program
September 2007

Mulai Operasional
Maret 2008

Iuran
Rp. 10.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 304.105.560,-

Pendamping
PU, Pemko Yogyakarta, BORDA, Masyarakat

SANIMAS MIXED TECHNOLOGY


SANIMAS Mixed Technology maksudnya adalah sarana sanitasi yang memanfaatkan gabungan antara sistem perpipaan sederhana dari rumah tangga dengan MCK Plus dan bertujuan untuk dapat memaksimalkan penggunaan sarana sanitasi karena banyak rumah calon pengguna yang tidak mungkin membangun kamar mandi dan WC di dalam rumahnya karena ukuran rumah tinggalnya kecil, hanya cukup untuk ruang tamu dan kamar tidur saja, serta tidak adanya akses air bersih yang sampai ke rumah mereka.

Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta adalah ibukota Provinsi Dae-rah Istimewa Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya. Luas wilayah kota Yogya sekitar 32,5 km atau 1,025% dari keseluruhan luas wilayah Provinsi. Letak daerah berada di titik tengah bentangan provinsi DIY dari puncak gunung Merapi, gunung berapi paling aktif di dunia, di utara dan pantai Parangtritis di Samudra Indonesia.

Kampung Gondolayu masuk dalam wilayah Kelurahan Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta. Wilayah tersebut secara administratif berbatasan dengan RW 10 di sebelah Utara dan Kali Code di sebelah Timur, sebelah Barat RW 10 dan sebelah Selatan Jl. Jendral Soedirman Yogyakarta. Letak kampung berada di Lembah kali Code, dekat jembatan Gondolayu. Luas wilayah kampung sekitar 1 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 324 KK/1.065 jiwa. Berarti lebih padat dibanding tingkat kepadatan rata-rata Kota Yogya. Jumlah rumah ada 302 buah, dan beberapa rumah ditempati oleh lebih dari 1 KK. Rata-rata tiap KK terdiri dari 4-5 jiwa. Pada umum nya, penduduk di wilayah ini bekerja sebagai pedagang ban, pedagang kaki lima, pelayan toko dan buruh bangunan dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp.750.000/ bulan. Sebagai perbandingan, UMR Provinsi DIY adalah Rp 500.000(2008). Untuk kebutuhan air bersih di kampung tersebut belum ada jaringan pipa PDAM, sehingga pada umumnya masyarakat menggunakan sumur gali yang dibuat oleh warga di sekitar kampung terse-

92

93

(1) sumur dan jamban umum, (2) warga yang melakukan BAB di sekitar Kali Code, Yogyakarta

but yang digunakan secara bersama-sama, dan beberapa buah dibangun di dalam rumah. Ratarata kebutuhan air bersih per-KK adalah 50 liter/hari, terutama untuk keperluan masak, mandi cuci dan BAB. Untuk kebutuhan BAB, di kampung itu hanya ada sekitar 20 KK yang memiliki sarana jamban sendiri yang ada di dalam rumah, keluarga lainnya menggunakan 10 buah jamban umum dan selebihnya menggunakan Sungai Code.
Kampung Gondolayu, Kota Yogyakarta

SANIMAS Bagi Warga Miskin Kota


Berbagai kondisi yang kurang sehat tersebut, mendorong masyarakat Gondolayu mengajukan surat minat pada saat ada sosialisasi SANIMAS di tingkat kota yang diselenggarakan oleh Dinas LH Kota Yogya. Setelah dilakukan seleksi kampung dengan cara kompetisi terbuka dan fair, hasilnya Gondolayu memperoleh skor tertinggi, sehingga dinyatakan sebagai kampung yang paling siap untuk melaksanakan SANIMAS. Penyusunan rencana kerja masyarakat atau RKM dilakukan dengan didampingi oleh tim dari LPTP. Kegiatan dimulai dari pemetaan lokasi yang disusun bersama-sama masyarakat, penentuan calon pengguna dan dilanjutkan dengan pemilihan sarana teknologi sanitasi. Untuk pemilihan sarana teknologi sanitasi dilakukan dengan menggunakan ICC/ Informed Choices Catalogue dan survey detail. Masyarakat lebih suka memilih sistem perpipaan karena dianggap lebih nyaman menggunakannya karena tidak harus keluar rumah dan kemiringan lokasi kampung juga memenuhi syarat. Tetapi masyarakat juga memberi saran MCK umum tidak dibongkar, tetapi air limbahnya bisa disalurkan ke IPAL. Selain itu, MCK yang paling dekat dengan IPAL diperbaiki agar tetap bisa digunakan oleh warga. Kemudian dibentuk KSM yang akan bertanggungjawab untuk mengelola, serta ditentukan jumlah iuran setiap KK/bulan. Se luruh kegiatan tersebut dilakukan selama kurang lebih 3 bulan melalui pertemuansetiap minggu sekali yang diikuti oleh semua warga. Lahan yang gunakan adalah lahan Wedi Kengser milik keraton seluas 100M.

Di Kota Yogya sebenarnya juga sudah ada jaringan sewerage tetapi masyarakat Gondolayu tidak bisa mengakses karena letaknya lebih rendah. Limbah dari jamban-jamban yang ada pada umumnya disalurkan langsung ke Sungai Code. Beberapa menggunakan septictank yang konvensional, atau lebih tepatnya cubluk dengan sumur resapan, dan keadaannya sudah tidak memadai lagi sehingga menyebab kan pencemaran dan bakteri Coli pada air sumur.

Kebiasaan BAB dan membuang sampah yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan tersebut menyebabkan berkembangnya lalat yang bisa membawa penyakit kepada manusia seperti diare, muntaber, dan thypus. Sarana kesehatan masyarakat yang ada berupa Puskesmas, Rumah Sakit serta tenaga penyuluh kesehatan sebanyak 4 orang. Jarak dari rumah ke tempat sarana Posyandu sekitar 500 m. Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk kesehatan Posyandu sebesar Rp.10.000,-/bulan.

94

95

Klasifikasi Masyarakat Berdasarkan Kesejahteraan

SANIMAS di tengah kampung Gondolayu

No.
1

SEDANG (51.35%)
Rumah >35m2, permanen, penghasilan > Rp. 750.000/bln, punya sepeda motor, punya tv, listrik, HP, kulkas, kompor gas. Punya MCK sendiri di rumah, pekerjaan tetap atau usaha kecil

KURANG MAMPU (48.65%)


Rumah kecil, semi permanen, penghasilan tidak tetap di bawah UMR, punya seped motor, kompor minyak, tv, MCK umum, pekerjaan buruh

Berdasarkan DED dan RAB yang disusun, sarana perpipaan tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp.304.105.560 untuk membangun sarana jamban, perpipaan dan instalasi pengolahan limbahnya. Dana tersebut diperoleh dari bantuan dana dari pemerintah pusat melalui Direktorat PPLP, Dep. PU dan pemerintah Kota Yogyakarta, serta BORDA. Total rumah yang disambung sebanyak 42 sambungan rumah. Pekerjaan pembangunan fisik dilakukan selama 3.5 bulan yang dilaku kan oleh beberapa tukang yang dilatih dan tenaga kerja dari masyarakat serta dibawah supervisi dari LPTP sampai sarana tersebut benar-benar selesai 100% baru boleh diresmikan dan dioperasikan. Pekerjaan fisik mulai bulan September sampai dengan Desember 2007, dan dioperasikan mulai Maret 2008. Sekarang sarana tersebut dikelola oleh KSM Ramli, yang diketuai oleh Bpk. Muslim dan dikuatkan dengan SK Lurah Cokrodiningratan No. 001/KPTS/CKD/ TAHUN 2007 tanggal 27 Agustus 2007. Setelah ada sarana SANIMAS, kampung menjadi lebih bersih dan sehat, ada iuran warga sebesar Rp 10.000/SR/bulan. untuk operasional pemeliharaan sistem dan IPAL, bahkan diatas IPAL bisa digunakan sebagai sarana olah raga, tempat bertemu warga sehingga kampung sekarang memiliki public space. Sedangkan setiap hari-

rata-rata limbah yang dihasilkan oleh warga sebagai akibat dari aktifitas kehidupan bisa dibuang ke badan air sungai code tanpa mencemarinya karena sudah masuk standar baku mutu lingkungan.

Pembelajaran
a. b. c. Kesadaran Akan Kesehatan Pemahaman masyarakat terhadap masalah sanitasi menjadi lebih baik, terutama pada kelompok ibu-ibu dan anak-anak, dan masyarakat sudah tidak lagi melakukan open defecation dan pergi ke sungai karena sarana yang dibangun lebih nyaman. Lingkungan bersih Setelah ada sarana SANIMAS ini, lingkungan menjadi lebih bersih, saluran drai- nase menjadi kering, tidak ada air meng- genang yang menimbulkan bau dan lalat, karena air limbah yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan WC sudah masuk ke dalam perpipaan dan diolah di dalam IPAL. Komunikasi Warga Lebih Baik Interaksi sosial masyarakat di Gondolayu menjadi lebih baik. Mereka lebih sering bertemu untuk berolah raga dan melakukan aktifitas sosial lain di atas IPAL SANIMAS. Pada saat antri MCK mereka bertemu, melakukan kegiatan olah raga sebelum mandi, maupun ngobrol dengan tetangga sehingga komunikasi antar warga menjadi lebih cair, lebih komunikatif dan informasi tentang pembangunan cepat sampai kepada warga.

d.

Poluters Must Pay is Possible Masyarakat pengguna sarana SANIMAS sudah membuktikan bahwa sebagai peng- hasil limbah mereka bisa dan sanggup membayar, bahkan ada rasa memiliki dan bangga terhadap sarana yang telah dibangun. Sarana SANIMAS dikelola oleh warga sendiri melalui KSM yang diberi amanah untuk mengelolanya dan ada operator yang diberi tugas teknis untuk mengoperasikannya.

96

97

(1) papan nama KSM pengelola Sanimas Bustaman, (2) penjaga Sanimas

Secara administratif, kota Semarang dibagi menjadi 16 Kecamatan, 177 Kelurahan. Jumlah penduduk sekitar 1.268.292 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk rata-rata 3.929 jiwa/ km. Secara ekonomi, kota Semarang tergantung pada sektor perdagangan dan jasa karena ada pelabuhan Tanjung Mas. Dari total penduduk tersebut diperkirakan sekitar 30% tinggal di perkampungan padat dan miskin. Kota ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Semarang di sebelah selatan, Kabupaten Kendal di sebelah barat, serta Kabupaten Demak di sebelah timur. Kampung Bustaman termasuk salah satu dari pemukiman padat, bahkan amat padat di Kota Semarang, dan kampung tersebut yang menjadi lokasi program SANIMAS tahun 2005, tepatnya di Kampung Bustaman RT 04 & 05, RW. III Lokasi ini terletak di pusat kota, kurang lebih sekitar 200 m dari Tugu Muda yang terkenal dan Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Luas wilayah kampung sekitar 5 Ha, dengan jumlah penduduk sebanyak 330 KK/ 990 jiwa, terdiri dari laki-laki 415 jiwa dan perempuan 575 jiwa. Berarti lebih padat dibanding tingkat kepadatan rata-rata kota Semarang. Di dalam beberapa rumah ditempati oleh lebih dari 1 KK, dengan rata-rata sejumlah 4-5 jiwa per KK. Pada umumnya, penduduk di wilayah ini bekerja sebagai pedagang makanan, pedagang sate, pedagang kaki lima, pelayan toko dan tukang parkir dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp.750.000./bulan. Sebagai perbandingan, UMR provinsi Jawa Tengah adalah Rp.715.700,- tahun (2008). Untuk kebutuhan air bersih di kampung tersebut menggunakan air PDAM. Rata-rata kebutuhan air bersih per-KK adalah 50 liter/ hari, terutama untuk keperluan masak, mandi cuci dan BAB, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 75.000/bulan.

DARI SANIMAS JADI BALAI RW


Di kampung Bustaman, kota Semarang, Jawa Tengah terdapat sarana SANIMAS yang telah dibangun oleh masyarakat dan penggunaannya sangat optimal. Oleh karena itu, pendapatan bersih KSM pengelola rata-rata Rp 1.1 juta/bulan. Sehingga setelah berjalan 2.5 tahun mereka sudah bisa membangun balai RW, yang dibangun di atas MCK SANIMAS. Tidak itu saja, tiap hari puluhan ibu-ibu bahkan antri di MCK SANIMAS, bukan mau mandi atau BAB, tapi untuk masak menggunakan biogas yang dihasilkan dari kotorannya sendiri.
98

Kota Semarang
Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai kota Atlas dan terkenal dengan makanan lumpia. Luas wilayah kota Semarang sekitar 373.67 km. Letak daerah berada di titik pantai utara pulau Jawa bagian tengah.

99

Kampung Bustaman, Semarang

Untuk kebutuhan BAB, di kampung itu hanya ada sekitar 33 KK yang memiliki sarana jamban sendiri yang ada di dalam rumah, keluarga lainnya menggunakan 1 buah toilet umum yang sudah dibangun sejak jaman Belanda yang sudah rusak berat. Sehingga menimbulkan bau yang sangat mengganggu dan orang sering muntah-muntah karenanya. Kebiasaan BAB dan membuang sampah yang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan tersebut menyebabkan berkembangnya lalat yang bisa membawa penyakit kepada manusia seperti diare, muntaber, thypus. Sarana kesehatan masyarakat yang ada berupa Puskesmas, Rumah Sakit serta tenaga penyuluh kesehatan sebanyak 4 orang. Jarak dari Rumah ke tempat sarana Posyandu sekitar 500 m. Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk kesehatan sebesar Rp.10.000,-/bulan.

dari LPTP. Kegiatan dimulai dari pemetaan lokasi yang disusun bersama-sama masyarakat, penentuan calon pengguna dan dilanjutkan dengan pemilihan sarana teknologi sanitasi. Untuk pemilihan sarana teknologi sanitasi dilakukan dengan menggunakan Informed Choices Catalogue (ICC) dan survey detail. Masyarakat lebih suka memilih sistem MCK Plus karena letak rumah yang sangat padat dan kemiringan lahannya rata, serta masyarakat sendiri sudah sangat terbiasa menggunakan MCK umum. Lahan yang tersedia hanya lahan bekas MCK yang sudah rusak berat. Kemudian dibentuk KSM yang akan bertanggung jawab untuk mengelola, serta ditetapkan jumlah iuran setiap KK/bulan. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan selama kurang lebih 3 bulan melalui pertemuan setiap minggu sekali yang diikuti oleh semua warga.
Warga mencuci piring di dekat sumber air (ledeng) dan air buangannya langsung dialirkan ke saluran terbuka

Lokasi
Bustaman, Kota Semarang

Nama KSM
Pangrukti Luhur

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
124 KK / 235 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


WC=6, KM=4, kran=3, ruang jaga, tandon air, IPAL Komunal

Mulai Program
September 2005

Mulai Operasional
April 2006

Iuran
Rp. 5.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 475.000.000,-

Kota Semarang
Berbagai kondisi yang sangat sehat di tengah kampung padat tersebut, mendorongmasyarakat Bustaman mengajukan surat minat pada saat ada sosialisasi SANIMAS di tingkat Semarang yang diselenggarakan oleh Dinas PU Kota Semarang, Satker PPLP dan LPTP. Setelah dilakukan proses seleksi kampung dengan cara kompetisi terbuka, Bustaman dinyatakan menang dan dinilai yang paling siap untuk melaksanakan SANIMAS. Penyusunan rencana kerja masyarakat atau RKM dilakukan dengan didampingi oleh Tim-

Pendamping
APBN, Pemko Semarang, BORDA, Masyarakat

Pekerjaan pembangunan fisik dilakukan selama 3.5 bulan yang dilakukan oleh beberapa tukang yang dilatih dan tenaga kerja dari masyarakat, serta dibawah supervisi dari LPTP sampai sarana tersebut benar-benar-

selesai 100% baru boleh diresmikan dan dioperasikan. Pekerjaan fisik mulai bulan Sep tember sampai dengan Desember 2005, dan dioperasikan mulai Maret 2006. Sekarang sarana tersebut dikelola oleh KSM Pangrukti Luhur, yang diketuai oleh Bpk. Wahyuno. Setelah ada sarana SANIMAS, warga kampung menjadi lebih bersemangat dan tidak lagi memiliki masalah dengan bau yang menjijikkan, mudah untuk mandi dan BAB. Bahkan mereka bisa masak dengan-

Kondisi eksisting saluran terbuka di sekitar rumah warga

100

101

menggunakan biogas yang diambilkan dari kotoran mereka sendiri karena dalam feces manusia juga terkandung gas methane yang bisa dijadikan sumber bahan bakar pengganti minyak tanah.

tempat yang kotor, kumuh dan tidak higienis secara tidak langsung dapat dihindari. MCK di kampung Bustaman ini jauh dari gambaran tersebut. Lingkungan yang bersih, rapi dan higienis mampu ditonjolkan di lokasi ini.

Manfaat & Pembelajaran


a. Manajemen berbasis masyarakat Penentuan berapa besarnya jumlah iuran untuk penggunaan sarana di MCK ini sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat. Artinya, berapapun besarnya iuran yang harus dibayarkan harus diputuskan sendiri oleh warga. Hal ini sangat penting mengingat tidak semua warga mempunyai tingkat ekonomi yang sama, sehingga harus ada kesepakatan yang diambil untuk dapat mengakomodir kepentingan semua warga. Manajemen semacam ini terbukti berhasil karena keputusan yang diambil melibatkan warga dan merupakan komitmen sosial bersama.

c. d.

Dampak ekonomi SANIMAS Sisa dana yang cukup banyak tersedia di KSM mampu digunakan oleh warga untuk kepentingan bersama. Beberapa fasilitas yang ada seperti televisi, koran, lemari es dan balai RW merupakan fasilitas umum yang dapat dipakai oleh warga. Bahkan usaha laundry pun sudah disiapkan untuk menambah pengembangan dampak ekonomi dari program SANIMAS. Dampak sosial SANIMAS Dengan adanya berbagai fasilitas yang tersedia di lokasi SANIMAS, membuat warga semakin sering berkumpul di waktu senggangnya untuk sekedar membaca Koran, menonton acara sepakbola di tv ataupun sekedar bercakap-cakap. Tanah yang awalnya tidak mempunyai fungsi apapun berubah menjadi tempat warga bersosialisasi.

DARI SANIMAS KE KIPRAH


Kabupaten Sidoarjo
Berawal dari air limbah kemudian sampah, selanjutnya? Mestinya: drainase. Nah, kabupaten Sidoarjo sudah memulainya dengan pendekatan program berbasis masyarakat. Berawal dari pengelolaan air limbah rumah tangga melalui SANIMAS, kemudian meningkat ke program Kiprah yakni pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kedua program tersebut ternyata bisa berjalan di satu lokasi secara sinergis dan berkelanjutan. Pastinya, di kabupaten Sidoarjo bukan hanya lumpur lapindo yang heboh, tetapi ada juga program yang menarik, yaitu SANIMAS & Kiprah, yakni program pengelolaan air limbah dan sampah domestik dengan pendekatan berbasis masyarakat, yang bersinergi di satu lokasi secara berkelanjutan dan keduanya dikelola oleh KSM yang sama. Kedua kegiatan tersebut bisa menutup seluruh biaya operasionalnya sendiri.

b. MCK yang tidak kumuh Citra yang melekat di hampir kebanyakan orang bahwa MCK selalu identik dengan-

Pemanfaatan sarana SANIMAS

102

103

Secara georafis, kabupaten Sidoarjo merupakan daerah delta yang diapit oleh dua sungai yaitu sungai Brantas dan sungai Surabaya, berada pada posisi antara 112.50 - 112.90 bujur timur dan 7.30 - 7.50 lintang selatan, dengan batas wilayah sebelah utara: kota Surabaya dan kabupaten Gresik, sebelah selatan: kabupetan Pasuruan, sebelah timur: selat Madura, sebelah barat: kabupaten Mojokerto. Kabupaten Sidoarjo memiliki luas wilayah 714.24 Km atau sekitar 71.424.25 Ha. Secara administratif terbagi atas 4 wilayah pembantu bupati, 18 kecamatan, 322 desa dan 31 ke lurahan. Lokasi terletak antara 0-25 meter dpl, sebagian adalah lahan pertambakan: 29.97% di bagian timur dan pertanian di bagian barat seluas 28.77%. Jumlah penduduk 1.685.278 jiwa (2006), dengan pertumbuhan rata-rata 2.26%/tahun. Tingkat kepadatan penduduk 2.067 jiwa/Km. Kabupaten Sidoarjo belum memiliki sistem sanitasi kota. Kabupaten ini mengadopsi SANIMAS sudah sejak tahun 2003 sampai sekarang, dan mulai tahun 2006 mulai mengimplementasikan program Kiprah.

dan kampung Janti, dan ada 1 (satu) Perumahan yaitu Perumahan Makarya Binangun. Luas wilayah desa adalah 76,377 Ha terdiri dari pemukiman dan pabrik. Jumlah Penduduk sekitar 8.128 jiwa, terdiri dari 2.105 KK. Mata pencaharian rata-rata adalah karyawan pabrik (70 %), wiraswasta (20 %) dan PNS/ABRI (10 %). Di kampung Cucung total ada 137 KK 493 jiwa, dan hanya 25 KK yang memiliki jamban sendiri di rumahnya, selebihnya sebanyak 112 KK/340 jiwa tidak memiliki jamban. Biasanya untuk BAB mereka menggunakan badan sungai atau kadang-kadang menggunakan plastik yang kemudian nanti dibungkus dan dibuang ke tempat sampah. Pengelolaan sampah ditangani oleh RT/RW, dibuang & dibakar di TPS dan sisanya diangkut ke TPA oleh DKP (tidak setiap hari sampah bisa diangkut ke TPA). Retribusi kebersihan di RW2 Rp 3000/ KK/bulan , RW3 Rp 7000/KK/bulan, RW4 Rp 7000/KK/bulan.

Alasan mereka tertarik program SANIMAS & Kiprah bagi masyarakat sudah jelas, karena di lokasi tersebut masih banyak warga yang tidak memiliki jamban sendiri di rumah dan sampah tidak terkelola dengan baik sehingga lingkungan menjadi kotor dan bau. Oleh karenanya, pada saat ada sosialisasi program SANIMAS mereka mengajukan diri sebagai calon lokasi yang siap diikutkan dalam seleksi. Dan kampung Cucung dinyatakan menang, sehingga mereka segera mempersiapkan diri untuk pembangunan SANIMAS pada tahun 2005. Tahap berikutnya adalah menyusun rencana kerja masyarakat yang memakan waktu sampai 3 bulan untuk menentukan calon penggunanya, sarana teknologi sanitasi yang akan dipilih, menyusun desain teknis, DED dan RAB, menentukan jumlah iuran, pembentukan KSM sebagai penanggung jawab pembangunan dan operasional pasca pembangunan, serta rencana pelatihan dan operasional. Hasil perencanaan tersebut kemudian didokumentasikan sebagai hasil kesepakatan bersama masyarakat dan dilegalisir oleh stakeholder, yaitu Pemerintah kabupaten, Satker PPLP-PU, BORDA dan masyarakat. Dokumen RKM tersebut kemudian digunakan untuk pencairan dana pembangunan fisik sarana. Sarana yang dipilih adalah MCK Plus yang dilengkapi dengan biodigester. Lama pembangunan sekitar 3 bulan, menggunakan lahan milik masyarakat yang dihibahkan.

Lokasi
Bustaman, Kota Semarang

Nama KSM
Pangrukti Luhur

Sistem
MCK

Jumlah Pengguna
124 KK / 235 jiwa

Spesifikasi Teknis MCK


WC=6, KM=4, kran=3, ruang jaga, tandon air, IPAL Komunal

Mulai Program
September 2005

Mulai Operasional
April 2006

Iuran
Rp. 5.000/bulan/KK

Biaya Konstruksi
Rp. 475.000.000,-

Pendamping
APBN, Pemko Semarang, BORDA, Masyarakat

Kampung Janti, Sidoarjo


Desa Janti termasuk dalam wilayah administratif kecamatan Waru kab. Sidoarjo dengan batas utara kota surabaya, batas selatan desa Ngingas, batas barat desa Kedung Rejo dan batas timur desa Wedoro. Desa Janti terdiri dari 4 RW, 2 Kampung yaitu kampung CucungPermukiman warga kampung Janti

Tumpukan sampah di permukiman warga Janti

104

105

Begitu pula dengan program Kiprah, lahan yang digunakan juga berasal dari lahan milik warga yang dihibahkan. SANIMAS melayani 340 jiwa/112 KK sedangkan Kiprah melayani 800 KK. SANIMAS dioperasikan oleh 1 orang operator, sedangkan Kiprah dioperasional oleh 7 orang tenaga kerja yang sudah dilatih. Semua tenaga tersebut memperoleh gaji sesuai dengan minimal UMR di kabupaten Sidoarjo. Untuk SANIMAS, pengguna membayar Rp 5.000/bulan/KK, sedangkan untuk sampah mereka membayar Rp 5.000/bulan/ kk untuk warga asli dan Rp 7.000/kk/bulan untuk warga perumahan. Baik SANIMAS maupun Kiprah dikelola oleh KSM Cucung Janti Berseri, Sidoarjo.

Manfaat & Pembelajaran


a. Sustainable behavioral change Mengubah budaya dan perilaku warga yang telah berlangsung selama bertahuntahun memang tidak semudah membalik kan telapak tangan. Dibutuhkan waktu, tenaga serta keinginan yang kuat agar perubahan yang terjadi tidak hanya bersi- fat sementara, namun dapat terus ber- langsung di masyarakat meskipun program telah selesai dilakukan. Perubahan yang berlangsung secara berkesinambungan merupakan kunci keberhasilan program SANIMAS.

b. c.

Penggunaan Biogas Biogas yang dihasilkan dapat digunakan oleh masyarakat, terutama satu keluarga yang tinggal paling dekat dengan sarana MCK. Sekarang ibu itu sudah tidak perlu lagi membeli minyak tanah, dan dapur yang sederhana menjadi bersih. Hal ini membantu masyarakat untuk mendapat- kan energi ramah lingkungan yang terjangkau. Lingkungan Bersih dari Sampah Sejak adanya program Kiprah dan sampah dikelola oleh KSM Janti Berseri, maka sampah yang biasanya berserakan sekarang sudah langsung diangkut ke MRF/material recovery facility, sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan jalanjalan tidak berserakan sampah lagi.

106

KERJASAMA DEPARTEMEN PU DENGAN ORGANISASI PEREMPUAN INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN SANITASI

Sanimas yang langsung menyentuh pada infrastruktur dasar permukiman di tingkat masyarakat menjadi obyek yang menarik untuk dijadikan kerjasama dengan organisasi perempuan agar dapat mempercepat jangkauan masyarakat terhadap akses sanitasi serta mempercepat kampanye untuk membangun kesadaran dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya penyediaan sanitasi bagi kawasan permukiman, khususnya di perkotaan guna meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di Indonesia. Kerjasama Departemen Pekerjaan Umum dengan organisasi perempuan Indonesia ini diawali dengan perjanjian kerjasama antara Departemen Pekerjaan Umum dengan-

Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) No. 02/PKS/M/2008 dan 153/05/ SIKIB/2008 tentang Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi di Kawasan Permukiman Untuk Mendukung Indonesia Hijau dan Sehat. Lingkup kerjasama ini meliputi pendampingan kepada masyarakat dalam menumbuhkan kreatifitas masyarakat dalam pengembangan sanitasi serta penyelenggaraan sosialisasi dan stimulasi penyediaan sanitasi untuk mendorong pemerintah daerah dan stakeholders terkait dalam meningkatkan kualitas lingkungan pada kawasan permukiman perkotaan.

109

Dalam pelaksanaannya, SIKIB juga melibatkan organisasi perempuan lainnya, yaitu PKK Pusat, Dharma Wanita Persatuan Pusat, Dharma Pertiwi, Bhayangkari, Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB), dan KOWANI. Keberhasilan SANIMAS sangat tergantung pada keberlanjutan pengelolaan yang bertumpu pada peran aktif masyarakat, sehingga diperlukan upaya evaluasi dan monitoring, serta kampanye yang lebih baik. Dengan demikian, peran organisasi perempuan sebagai mitra pemerintah sangat dibutuhkan dalam meningkatkan upaya peningkatan kualitas pengelolaan SANIMAS. Kerjasama organisasi perempuan Indonesia dengan Departemen Pekerjaan Umum ini diwujudkan dalam bentuk pembinaan kepada masyarakat di sekitar lokasi sarana SANIMAS, khususnya mengenai perilaku hidup bersih dan sehat serta pengelolaan sarana terbangun demi keberlanjutan (sustainability) fasilitas SANIMAS, yang akan berlanjut pada meningkatnya kualitas lingkungan permukiman. Kerjasama ini ditandai dengan rangkaian peresmian SANIMAS oleh 7 (tujuh) organisasi perempuan di Indonesia. Adapun lokasi SANIMAS binaan ketujuh organisasi perempuan tersebut adalah :

No.
1 2 3 4 5 6 7

P R O V I N S I - K A B / KO TA
SUMUT - Kota Tebing Tinggi NTB - Kab. Lombok Timur JATIM - Kota Mojokerto Kep. BABEL - Kab. Bangka KALSEL - Kota Banjarmasin BANTEN - Kab. Serang JABAR - Kota Tasikmalaya

LOKASI
Kel. Tanjung Marulak Hilir, Kec.Rambutan Lingkungan Bermi, Kec. Selong Kel. Blooto, Kec. Prajurit Kulon Kel. Air Hanyut, Kec. Sungailiat Kel.Sei Jingah, Kec.Banjarmasin Barat Kp. Poponcol, Ds. Damping, Kec. Pamarayan Kp. Leuwianyar, Kec. Cipedes Kp. Cijangkar, Kel. Cisarua, Kec.Cikole (mendukung program Desa Sejahtera Binaan SIKIB) PKK Pusat

PEMBINA

DWPP (Dharma Wanita Persatuan Pusat) Bhayangkari SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) Dharma Pertiwi APPB (Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan) KOWANI

JABAR - Kota Sukabumi

SIKIB dan Ibu Negara RI

110

SANIMAS 2008

K AMPUNG NEL AYAN I


SUNGAILIAT - KAB. BANGKA
Penandatanganan prasasti oleh Ibu Lies Djoko Kirmanto dan Bupati Bangka

Peresmian SANIMAS oleh SIKIB


SANIMAS ini akan dikelola oleh KSM Nelayan I, dan dibawah binaan organisasi SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) yang diketuai oleh Ny. Widodo A.S. Pembinaan ini ditandai dengan peresmian SANIMAS MCK Plus oleh Istri Menteri Pekerjaan Umum, Ny. Lies Djoko Kirmanto pada tanggal 23 April 2009. Acara peresmian SANIMAS Nelayan I dihadiri oleh rombongan SIKIB (Ny.Lies Djoko Kirmanto, Ny. Rossi Anton Apriyantono, Ny. Laily Muhammad Nuh, Ny. Dani Hendarman Soepandji, Ny. Zainab Yusuf Asyari), Gubernur Bangka Belitung, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bangka Belitung, Ny. Meuthia Widjanarko, Ny. Erna Budi Yuwono, Direktur Pengembangan PLP, SKPD terkait, serta masyarakat sekitar. Peresmian SANIMAS Nelayan I yang ditandai dengan Penandatanganan Prasasti, dan Pengguntingan Pita oleh Ibu Lies Djoko Kirmanto dan Bupati Bangka. Dalam sambutannya, Ibu Lies Djoko Kirmanto berharap dengan pembangunan SANIMAS ini dapat menggugah dan mendorong perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak dan unsur terkait untuk meningkatkan kesadaran dan mempercepat perbaikan sanitasi, sejalan dengan tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2005-2009, dimana BAB (Buang Air Besar) tidak pada tempatnya dapat dihilangkan.

Sanimas ini berlokasi di Kampung Nelayan I, Kec.Sungailiat, Kab. Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Sebelum adanya SANIMAS, masyarakat Kampung Nelayan I sebagian besar melakukan aktivitas BAB di WC helikopter (cubluk yang dibangun di atas sungai) atau langsung ke badan air. Sumber air bersih masyarakat berasal dari PDAM Tirta Bangka. Sesuai nama kampungnya, sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan. Kondisi sanitasi yang buruk dan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah itulah yang membuat Kel. Air Hanyut, Kec. Sungailiat terpilih sebagai penerima program SANIMAS tahun 2008.
Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 48 KK; Luas lahan yang digunakan untuk SANIMAS 300 m2 (hibah dari tokoh masyarakat); dengan kondisi topografi lahan datar;

Peninjauan sarana SANIMAS

Sanimas berupa MCK++ terdiri dari 2 kamar mandi, 6 WC, 5 kran air, 1 ruang jaga, 1 gudang, dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 365.000.000,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Provinsi Kep.Bangka Belitung TA 2008, APBD Kab. Bangka TA 2008, dan kontribusi masyarakat;

Pengelola SANIMAS adalah KSM Nelayan I.

Cubluk dan pipa buangan air limbah warga langsung ke sungai

Kondisi perkampungan Nelayan I

Panel penjelasan dan foto-foto SANIMAS

112

113

SANIMAS 2008

TANJUNG M ARUL AK HILIR


KOTA TEBING TINGGI - SUMUT

Pada umumnya kondisi sanitasi masyarakat di Lingkungan III, Kel. Tanjung Marulak Hilir, Kec. Rambutan, Kota Tebing Tinggi (jumlah penduduk 2100 jiwa atau 300 KK) sebelum pembangunan MCK masih buruk, yaitu aktivi tas BAB dilakukan warga di kebun atau parit karena MCK yang ada sudah tidak layak pakai. Disamping itu, sebagian besar masyarakat mengumpulkan sampah kemudian dibakar di kebun, sedangkan untuk drainase masih berupa parit/selokan dari tanah. Jaringan PDAM belum melayani air bersih di Lingkungan III sehingga untuk mencukupi kebutuhan air bersih, masyarakat menggunakan air tanah dengan menggunakan pompa baik itu pompa tangan maupun pompa listrik (jetpump). Sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah buruh, pedagang kaki lima, dan tukang ojek. Kondisi sanitasi yang buruk dan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah itulah yang membuat Lingkungan III, Kel. Tanjung Marulak Hilir terpilih sebagai penerima program SANIMAS tahun 2008.

Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 30 KK (100 jiwa); Luas lahan yang digunakan untuk SANIMAS 100 m (hibah dari tokoh masyarakat); dengan kondisi topografi lahan datar;

Sanimas berupa MCK++ dengan komponen pengolahan berupa biodigester dan baffled reactor, komponen toilet berupa MCK yang meliputi 4 kamar mandi dan 4 WC dan pelengkap berupa tempat untuk mencuci/wudhu serta ruang operator. Adapun gas Metan (CH4) baru dapat dirasakan manfaatnya setelah 3 bulan pemakaian MCK yaitu setelah timbulan tinja diproses di biodigester;

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 321.200.000,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Kota Tebing Tinggi TA 2008, dan kontribusi masyarakat ;

Peresmian SANIMAS oleh Ketua Umum PKK


SANIMAS ini akan dikelola oleh KSM Mekar Jaya, dan dibawah binaan organisasi PKK Pusat yang diketuai oleh Ny. Effi Mardiyanto. Pembinaan ini ditandai dengan peresmian SANIMAS MCK Plus++ oleh Ketua Umum Tim Penggerak PKK pada tanggal 25 Maret 2009. Peresmian MCK Plus++ Mekar Jaya ditandai deng-an Penandatanganan Prasasti, Pengguntingan Pita, dan Pembukaan Selubung Plank SANIMAS Mekar Jaya oleh Ketua-

Umum Tim Penggerak PKK dan Walikota Tebing Tinggi. Selain itu juga penyerahan pohon penghijauan, bantuan beras, bantuan sound system, dan tali asih dari PKK Pusat. Dalam sambutannnya, baik Ketua Umum Tim Penggerak PKK maupun Walikota Tebing Tinggi berpesan kepada masyarakat agar tetap menggunakan dan memelihara dengan baik MCK Plus++ ini dengan baik, karena sejak awal proses pembangunannya melibatkan masyarakat secara penuh.

MCK warga yang sudah tidak layak pakai

114

115

SANIMAS 2008

LINGKUNGAN BER MI
KAB. LOMBOK TIMUR - NTB

Pada umumnya kondisi sanitasi masyarakat di Lingkungan Bermi, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kab. Lombok Timur sebelum pembangunan MCK masih buruk. Masyarakat mencuci dan mandi di kolam besar di ruang terbuka dengan air yang kurang bersih, sedangkan untuk buang air besar, mereka menggunakan plengsengan (jamban tradisional) yang pembuangannya langsung ke sungai di bawahnya. Sumber air bersihnya pun langsung dari aliran sungai di atasnya. Kondisi sanitasi yang buruk itulah yang membuat Lingkungan Bermi, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong terpilih sebagai penerima program SANIMAS tahun 2008. Kondisi sanitasi yang buruk itulah yang membuat Lingkungan Bermi, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong terpilih sebagai penerima program SANIMAS tahun 2008.

Peresmian SANIMAS oleh Ketua Umum DWPP


SANIMAS ini akan dikelola oleh KSM Tiga Serangkai, dan dibawah binaan organisasi Dharma Wanita Persatuan Pusat (DWPP) yang diketuai oleh Ny. Nila F. Moeloek. Pembinaan ini ditandai dengan peresmian SANIMAS MCK Plus++ oleh Ketua Umum DWPP pada tanggal 6 Mei 2009.
Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 255 KK (800 jiwa); Sanimas berupa MCK++ dengan komponen pengolahan berupa biodigester dan baffled reactor, komponen toilet berupa MCK terdiri dari MCK khusus laki-laki dan MCK khusus perempuan (karena NTB terkenal sebagai daerah yang agamis), yang meliputi kamar mandi, WC dan, pelengkap berupa tempat untuk mencuci/wudhu serta ruang operator.

Peresmian MCK Plus++ Tiga Serangkai ditandai dengan Penandatanganan Prasasti, dan Pengguntingan Pita oleh Ketua Umum DWPP. Selain itu juga penyerahan buku dan mesin jahit serta mesin obras dari DWPP. Dalam sambutannnya, baik Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan berpesan kepada masyarakat agar tetap menggunakan dan memelihara dengan baik MCK Plus++ ini dengan baik, karena sejak awal proses pembangunannya melibatkan masyarakat secara penuh. Setelah acara seremonial peresmian di Kab. Lombok Timur, DWPP melanjutkan acara sosialisasi program SANIMAS kepada seluruh pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan se-provinsi Nusa Tenggara Barat. Acara ini diadakan di Kota Mataram sore harinya.

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 534.943.000,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Kabupaten Lombok Timur, dan kontribusi masyarakat;

Pengelola SANIMAS adalah KSM Tiga Serangkai.


Tempat mandi dan mencuci

Plengsengan (tempat buang air besar)

116

117

SANIMAS 2008

SEI JINGAH
KOTA BANJARMASIN - K ALSEL

Peresmian SANIMAS oleh Ketua Umum Dharma Pertiwi


SANIMAS ini akan dikelola oleh KSM Amanah, dan di bawah binaan organisasi Dharma Pertiwi yang diketuai oleh Ny. Angky Djoko Santoso. Pembinaan ini ditandai dengan peresmian SANIMAS MCK Plus++ oleh Ketua Umum Tim Penggerak PKK pada tanggal 3 Juni 2009. Peresmian MCK Plus++ Amanah ditandai dengan Penandatanganan Prasasti dan Pengguntingan Pita. Acara peresmian juga dimeriahkan dengan nyanyian lagu Pilah Sampah oleh siswa/i SD, dan diisi dengan Penjelasan Pengelolaan Sumber Daya Air yang disampaikan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Departemen PU. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dharma Pertiwi berpesan kepada masyarakat agar tetap menggunakan dan memelihara MCK Plus++ ini dengan baik, karena sejak awal proses pembangunannya melibatkan masyarakat secara penuh.

Kelurahan Sei Jingah Kota Banjarmasin merupakan daerah yang cukup padat, dipengaruhi pasang surut dan rawan sanitasi. Secara umum masalah sanitasi di kawasan ini adalah penyediaan air bersih yang terbatas karena kualitas airnya asin, rendahnya pendapatan masyarakat setempat, sebagian besar masyarakat membuang sampahnya di kebun, dan sarana sanitasi yang ada membahayakan kesehatan.

Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 250 jiwa; Sanimas berupa MCK++ terdiri dari kamar mandi, WC, kran, tandon air, dan IPAL

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 299.918.787,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Kota Banjarmasin TA 2008, dan kontribusi masyarakat;

Pengelola SANIMAS adalah KSM Amanah; Iuran pengguna Rp. 1.000,-/bulan/KK

118

119

SANIMAS 2008

KEL . BLOOTO
KOTA MOJOKERTO - JATIM

Peresmian SANIMAS oleh Ketua Umum Bhayangkari


SANIMAS ini akan dikelola oleh KSM Kertowongso Sejahtera, dan dibawah binaan organisasi Bhayangkari yang diketuai oleh Ny. Nanny Bambang Hendarso. Pembinaan ini ditandai dengan peresmian SANIMAS MCK Plus++ oleh Ketua Umum Bhayangkari pada tanggal 23 Mei 2009. Peresmian MCK Plus++ Kertowongso Sejahtera ditandai dengan Penandatanganan Prasasti dan Pengguntingan Pita oleh Ketua Umum Bhayangkari dan Walikota Mojokerto. Acara ini juga dimeriahkan oleh Demo Pemilahan Sampah, Penanaman Bibit Pohon, serta Penutupan Jumbleng oleh warga. Dalam sambutannnya, baik Ketua Umum Bhayangkari maupun Walikota Mojokerto berpesan kepada masyarakat agar tetap menggunakan dan memelihara dengan baik MCK Plus++ ini dengan baik, karena sejak awal proses pembangunannya melibatkan masyarakat secara penuh.

SANIMAS 2008 di kota Mojokerto terletak di Kampung Trenggilis RT.02 RW.I, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, yaitu salah satu kampung padat dan berpenghasilan rendah. Luas wilayah kampung ini adalah 29 Ha dengan jumlah penduduk sebesar 180 KK (679 jiwa). Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pengrajin sepatu dan petani dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp. 600.000,- per bulan. Sebagian besar masyarakat di kampung ini tidak memiliki jamban di rumah, sehingga mereka biasanya menggunakan jumbleng (semacam jamban tradisional), yaitu berupa tanah yang digali kemudian diberi tutup dari bekas spanduk.

Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 125 KK; Sanimas berupa MCK Plus++ dengan komponen pengolahan berupa biodigester dan baffled reactor, komponen toilet berupa MCK yang meliputi 2 kamar mandi dan 6 WC dan pelengkap berupa tempat untuk mencuci/wudhu serta ruang operator. Adapun gas Metan (CH4) baru dapat dirasakan manfaatnya setelah 3 bulan pemakaian MCK yaitu setelah timbulan tinja diproses di biodigester;

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 245.279.669,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Kota Tebing Tinggi TA 2008, dan kontribusi masyarakat;

Pengelola SANIMAS adalah KSM Kertowongso Sejahtera.

Kondisi lahan untuk SANIMAS

Jumbleng

120

121

SANIMAS 2008

CIJANGK AR
KOTA SUKABUMI - JABAR

Peresmian MCK Percontohan dan Peletakan Batu Pertama SANIMAS oleh Ibu Ani Bambang Yudhoyono
Kampung Cijangkar, Kel. Cisarua, Kec. Cikole, Kota Sukabumi merupakan lokasi terpilih dalam program Desa Sejahtera Binaan SIKIB, khususnya terhadap perbaikan sanitasinya. Hal ini dikarenakan kondisi sanitasi di wilayah ini cukup memprihatinkan, dimana sebagian besar masyarakatnya belum memiliki jamban, yang memanfaatkan MCK di pinggir sungai. Dari 50% masyarakat yang memiliki jamban pun kondisinya mengkhawatirkan, karena air limbahnya langsung dibuang ke saluran terbuka atau ke sungai tanpa diolah terlebih dulu. Akibatnya, masyarakat sering menderita penyakit diare dan penyakit kulit. Hal ini juga didukung kurangnya pengetahuan mereka tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Untuk mengatasi kondisi tersebut Departemen Pekerjaan Umum dan Pemko Sukabumi mengupayakan pengembangan sanitasi jangka pendek berupa pembangunan MCK Percontohan (lokasi di sekitar masjid) dan SANIMAS (lokasi di pinggir sungai).

Profil SANIMAS di lokasi ini : Cakupan pelayanan SANIMAS 300 jiwa; Sanimas berupa MCK Plus++ dengan komponen pengolahan berupa biodigester dan baffled reactor, komponen toilet berupa MCK yang meliputi 5 kamar mandi dan 5 WC serta pelengkap berupa tempat untuk mencuci/wudhu serta ruang operator. Adapun gas Metan (CH4) baru dapat dirasakan manfaatnya setelah 3 bulan pemakaian MCK yaitu setelah timbulan tinja diproses di biodigester;

Pembangunan SANIMAS ini menelan biaya Rp. 360.000.000,- yang bersumber dari APBN TA 2008, APBD Kota Sukabumi TA 2008, dan kontribusi masyarakat;

Pengelola SANIMAS adalah KSM Bersama

Rangkaian prosesi peresmian MCK Percontohan, dan Penjelasan Maket SANIMAS Cijangkar di bawah program Desa Sejahtera binaan SIKIB

122

123

BAB III

PEMBELAJARAN DARI SANIMAS

PEMBELAJAR AN DARI KEGIATAN SANIMAS


Berbagai kisah sukses dalam kegiatan SANIMAS ini dapat memberikan pembelajaran bagi semua pihak untuk turut memperbaiki kualitas lingkungan, khususnya terhadap sumber daya air. Perbaikan kualitas lingkungan yang berawal dari skala lingkungan dapat berpengaruh terhadap perbaikan kualitas lingkungan dengan skala yang lebih besar, bahkan kepada skala nasional, dimana perbaikan kualitas lingkungan ini akan membawa dampak positif pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan lingkungannya. Pembelajaran tersebut antara lain :

1. Sustainable behavioral changes, proses menuju Zero Open Defecation


Sejak awal SANIMAS didesain untuk dapat berkelanjutan (sustainable). Pelibatan masyarakat sejak proses seleksi sampai dengan fasilitas selesai dibangun dan kemudian digunakan, ternyata terbukti dapat menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap sarana sanitasi ini, sehingga masyarakat tidak segan-segan untuk memeliharanya dengan baik.
Citra baru MCK : tidak kumuh

menjadi tergantikan dengan lingkungan yang bersih, rapi, dan higienis, bahkan sering dijadikan tempat bermain dan berkumpul warganya. Seiring meningkatnya standar kebersihan dan higienitas dengan adanya sarana SANIMAS, resiko warga sekitar terkena penyakit menjadi kecil, khususnya penyebaran penyakit melalui media air (water- borne diseases). Penentuan besarnya jumlah iuran masyarakat untuk penggunaan fasilitas SANIMAS ini juga sepenuhnya diserahkan-

Dengan adanya keberlanjutan pemeli- haraan sarana SANIMAS, dapat mengubah citra MCK yang identik dengan tempat yang kotor, kumuh, dan tidak higienis,-

127

kepada masyarakat. Artinya, berapapun besarnya iuran yang harus dibayarkan harus diputuskan sendiri oleh warga. Hal ini sangat penting, mengingat perbedaan tingkat ekonomi warga, sehingga harus ada kesepakatan yang diambil untuk mengakomodir kepentingan semua warga. Manajemen semacam ini terbukti berhasil dengan lancarnya iuran yang masuk. Hal ini karena keputusan yang diambil melibatkan seluruh warga dan merupakan komitmen sosial bersama, sehingga sarana terpelihara dengan baik. Dengan tingginya rasa kepemilikan terhadap sarana SANIMAS terbangun dapat mengubah budaya dan perilaku warga yang telah berlangsung selama bertahun- tahun, walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan waktu, tenaga dan keinginan yang kuat agar perubahan yang terjadi tidak hanya bersifat sementara, namun dapat terus berlangsung di masyarakat, meskipun sarana telah selesai dibangun. Perubahan yang berlangsung secara berkesinambungan merupakan kunci keberhasilan kegiatan SANIMAS. Misalnya, masyarakat yang tadinya suka buang air besar sembarangan, sejak terbangunnya sarana MCK SANIMAS hingga kini tidak ada lagi yang buang air besar sembarangan, melainkan selalu menggunakan sarana MCK SANIMAS.

2. Solusi perbaikan sanitasi


SANIMAS tidak hanya menawarkan sarana mandi, cuci, dan kakus; namun juga dilengkapi dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan biodigester (bangunan pengumpul gas methane hasil pengolahan air limbah), sehingga hasil buangan air limbahnya aman dan tidak mencemari ketika dibuang langsung ke lingkungan. Dengan diolahnya air limbah sebelum dibuang ke lingkungan akan dapat menjaga kualitas sumber air dari pencemaran, baik air tanah maupun air permukaan sebagai sumber air baku air minum. SANIMAS dapat memberikan perbaikan kehidupan warganya berupa alternatif sumber energi dengan adanya biodigester (bangunan pengumpul gas methane hasil pengolahan air limbah), sehingga masyarakat dapat memanfaatkan biogas tersebut sebagai sumber energi gas yang ramah lingkungan untuk memasak. Dengan kreativitas masyarakat, sumber energi tersebut dapat diubah menjadi energi listrik untuk lampu dan pemanas air.

Kombinasi Teknologi (Mixed Technology)

Penggunaan dua teknologi dalam satu tempat tidak banyak ditemui pada program SANIMAS. Teknologi campuran (gabungan antara MCK Plus++ dengan perpipaan komunal) ini contohnya dapat ditemui di Beru Wlingi, Kab. Blitar, Jawa Timur, dan beberapa tempat di kota lainnya. Teknologi ini digunakan untuk memfasilitasi calon pengguna yang belum mempunyai sarana sanitasi sendiri maupun yang telah mempunyai sarana sanitasi sendiri di rumah mereka. Sehingga tidak ada masyarakat yang mengeluh ataupun merasa diacuhkan. Hal ini akan semakin menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas SANIMAS yang dibangun.

masyarakat pengguna itu sendiri, yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat), dapat meningkatkan taraf ekonomi warga di lokasi SANIMAS tersebut. Sisa iuran warga setelah dikurangi biaya operasional dan pemeliharaan, biasanya digunakan untuk kepentingan warga itu sendiri, misalnya dibuatkan fasilitas umum (televisi, Koran, lemari es, balai RW). Selain itu, ada juga lokasi SANIMAS yang digunakan untuk usaha laundry (Kampung Bustaman, Semarang), dan tempat untuk menjual tanaman hias (selain menambah keindahan lokasi SANIMAS), bahkan ada yang dijadikan tempat wisata desa (Sleman, DIY), sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat pengguna SANIMAS. Dengan adanya berbagai fasilitas yang tersedia di lokasi SANIMAS, membuat warga semakin sering berkumpul di waktu senggangnya untuk sekedar membaca Koran, menonton acara sepakbola di TV ataupun sekedar ber- cakap-cakap. Tanah yang awalnya tidak berfungsi apapun berubah menjadi tempat warga bersosialisasi, baik untuk tempat bermain anak-anak, tempat berolahraga, maupun hanya tempat duduk-duduk, karena biasanya terdapat taman kecil di lokasi SANIMAS. Ada juga yang menambahkan bangunan diatas IPAL, yang dapat digunakan warga, misalnya membangun Mushola, atau Balai Warga untuk rapat pertemuan warga dengan badan pengurusnya (RT/RW).

3. Dampak Sosial Ekonomi SANIMAS


Dengan adanya pengelolaan iuran dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat dalam kegiatan SANIMAS (badan pengelola SANIMAS berasal dari-

128

129

dapat juga memanfaatkan ruang publik. Misalnya lokasi SANIMAS dengan teknologi perpipaan komunal dapat memanfaat kan badan jalan lingkungan untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah, yaitu di Desa Kragilan, Solo dan juga di Blitar. Sehingga alokasi dana untuk pembebasan lahan yang tidak terpakai, dapat digunakan untuk memperbaiki dan membangun komponen toilet bagi rumahrumah yang terlayani. Akuntabilitas program SANIMAS Dengan legalitas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai badan pengelola SANIMAS, mendorong agar KSM menyampaikan laporan keuangan bulanannya di depan rapat RW. Hal ini memberikan bukti akuntabilitas program SANIMAS. Transparansi merupakan salah satu aspek yang menonjol di dalam implementasi program ini. Akses mulai dari proses perencanaan, penyusunan rencana anggaran, konstruksi, sampai perawatan dapat dipantau oleh masyarakat. Proses transparansi ini penting bagi akuntabilitas program yang berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.

Kegiatan SANIMAS ini fleksibel dan tidak terbatas pada satu sisi saja. Misalnya un- tuk calon pengguna SANIMAS, tidak harus masyarakat biasa saja, namun ada yang berasal dari kaum difabel (cacat) di Desa Kragilan, Solo, Jawa Tengah maupun untuk industri rumah tangga, yaitu pabrik tahu/ tempe di Gunung Kidul, DIY. Dari segi pemilihan teknologinya, juga tersedia beberapa pilihan, ada MCK-

Plus++, Perpipaan Komunal, Septictank Komunal, maupun kombinasi antara MCK Plus++ dengan Perpipaan Komunal. Pemilihan teknologi yang akan digunakan sepenuhnya diserahkan kepada masya- rakat calon pengguna dengan difasilitasi oleh TFL (Tenaga Fasilitator Lapangan) dan disesuaikan dengan kondisi lapangan calon lokasi SANIMAS. Dari segi penggunaan lahan pun tidak terbatas, selain dari hibah, atau membeli dari penduduk,-

130

131

BAB IV

LAMPIRAN

DATA SANIMAS 2003 No.


1 2 3 4 5 6 Bali TOTAL Jawa Timur

DATA SANIMAS 2006 KO TA


Mojokerto Sidoarjo Pasuruan Kediri Blitar Denpasar 6

PROVINSI

LOKASI
Kel. Balongsari, Kec. Magersari Kel. Sidokare, Sec. Sidoarjo Bakalan, Kec. Bugul Kidul Kec.Kota, Kel.Balowerti Kel. Sukorejo, Kec. Sukorejo Pucuksari Selatan, Banjar Batur 6

PILIHAN TEKNOLOGI
MCK = Biogas MCK = Biogas Perpipaan Komunal MCK = Biogas Perpipaan Komunal Perpipaan Komunal

PENGGUNA (JIWA)
222 164 400 268 85 100 1.239

No.

PROVINSI

KO TA / K A B U PAT E N
1 Kota Sibolga 1 1

LOKASI
Kelurahan Hutabarangan, Kec. Sibolga Utara RW I, Kel. Perawang, Kec. Tualang Pondok Pesantren Al Muslimun, Desa Sikijang, Kec. Pangkalan Kerinci Jorong Kampung Tangah, Kanagari Paninggahan, Kec. Junjung Sirih Jorong Pasar Koto Baru, Kanagari Koto Baru, Kec. Koto Baru Kampung Talang Putri RT 21. Kel. Talang Putri. Kec. Plaju. Kampung Talang Aman RT.22. Kel. Talang Aman. Kec. Kemuning. Kampung Lingk. Gandus RT.05. Kel. Gandus. Kec. Gandus Pantai Indah RT V. Kel. Pasar Muko-Muko. Kec. MukoMuko Utara Pesantren Darul Amal. Kel. Tunggang. Kec. Pondoik Puguh RW. III Kel. Pasar Padi. Kec. Rangkui Sungai Selan. Kec. Sungai Selan Lingkungan Nelayan II Kel. Sungai Liat Kec. Sungai Liat 1. Kampung Lingk. III RT. I/I Kel. Kedaton. Kec. Kedaton Masjid Syech Amaludin Komplek Perumahan RSS Eko Damai Mandiri RT. 22 RW. 03 Desa Cibogo, Kec. Cisauk

SISTEM TERPILIH
MCK plus

Jumlah Pengguna KK
96

JIWA
350

SUMATERA UTARA

Kab.Siak 2 RIAU 2 Kab.Palawan 2

MCK plus

50

250

MCK plus

60

300

Kab. Solok

1 2

MCK plus

70

350

DATA SANIMAS 2004 No.


1 2 3 Jawa Timur

SUMATERA BARAT

2 Kab. Dharmasraya

PROVINSI

KO TA
Mojokerto Sidoarjo Pasuruan

LOKASI
Kedung Kwali III Bungur Medaeng, Kec. Waru Mandaran Rejo, Kec. Bugul Kidul PP Sumber Bungur, Desa Pakong (Putra) PP Miftahul Qulub, Desa Polagan (Putri) Mrican, Kel. Kampung Baru Lingkungan Mesjid Kauman Banjar Pamecutan Kaja, Denpasar Barat 8

PILIHAN TEKNOLOGI
MCK MCK = Biogas MCK = Biogas MCK = Biogas MCK = Biogas MCK = Biogas Perpipaan Komunal Perpipaan Komunal

PENGGUNA (JIWA)
300 200 375 400 500 300 400 600 3.075 4 SUMATERA SELATAN 1

MCK plus

70

350

MCK plus

197

986

Kota Palembang

MCK plus

12

60

Pamekasan

MCK plus

73

365

5 6 7 Bali TOTAL

Kediri Blitar Denpasar 7

1 5 BENGKULU 1 Kota Muko-Muko 2 1

MCK plus

70

350

MCK plus

72

361

Kab. Pangkal Pinang

MCK plus

50

188

DATA SANIMAS 2005 No.


1

BANGKA BELITUNG

Kab. Sungai Selan

MCK plus

78

365

PROVINSI

KO TA
Pasuruan

LOKASI
Kel. Gading Rejo,Kec.Gading Rejo Pondok Pesantren Al-Falah, Dempo Barat, Pasean Pondok Pesantren Darul Jihad, Kadur Karanglo RT 02 RW 15, Sanawetan Jagalan Lor Lingkungan Kalimati, Jagalan Kampung Kedung Boto RT 17 Keturen, RT 01-02 RW I Kampung Bustaman Kampung Kalitaman Perum Penyandang cacat & seniman, Kragilan Lingk. Segina VI, Br. Pekandelan

PILIHAN TEKNOLOGI
MCK MCK MCK Perpipaan MCK MCK MCK MCK MCK Perpipaan Komunal Perpipaan Komunal

PENGGUNA (JIWA)
400 400 400 312 400 350 307 307 228 365 196 3.665 9 JAWA BARAT 1 8 BANTEN 1 7 LAMPUNG 1

Kab. Bangka

MCK plus

129

577

Kota. Lampung

MCK plus

150

750

2 Jawa Timur

Pamekasan

3 4 5 6 8 9 10 11

Blitar Mojokerto Sidoarjo Tegal Semarang

MCK plus

62

150

Kab. Tangerang

2 RW. 04 Kejaroan Kampung Pulo, Desa Gintung, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang

MCK plus

120

480

Jawa Tengah

Salatiga Surakarta

Bali TOTAL

Denpasar 10

Kota Sukabumi

11

Kampung Pasir Pogor, Kelurahan Karang Tengah RT. 03 & 04 RW. VIII, Kec. Gunung Puyuh

MCK plus

95

350

134

135

1 Kota Surakarta 1

Kampung RT 4 RW VIII, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon Kampung Karang Asem RT 03 & 06, RW XVI, Kel. Kadipiro, Kec. Banjarsari Kampung Plombokan RT 04-05, RW III, Kel. Plombokan, Kec. Semarang Utara Kampung Kandang Menjangan RW 10, Kel. Tegalsari, Kec. Tegal Barat Kampung Panjang Wetang RT 8 RW 16, Kel. Panjang Wetan, Kec. Pekalongan Utara Kaweron RT 01-04, Kel. Muntilan, Kec.Muntilan Dusun Sumber Mulyo, Kec. Kepek, Wonosari, RW IX, Kamp. Payaman, Kel. Payaman, RT 6, 7 & 8, RW I - Jombang Krajan, Kel. Jombang, Kec. Jombang RT 03, RW II, Lingkungan Jayeng, Kel. Prajurit Kulon, Kec. Prajurit Kulon RT 01 & 02, RW II, Kel. Sentanan, Kec. Magersari RT 01 & 02, RW I, Lingkungan Beru, Kel. Beru, Kec. Wlingi Wiroyudan RT 04 & 05, RW IV, Kel. Kepanjen Lor, Kec. Kepanjen Kidul RW IV & VII, Pedukuhan Padeyan, Kel. Bugul Lor, Kec. Bugul Kidul Kampung Cucung, RT 01, RW I, Desa Janti, Kec. Waru RT 02 & 03, RW 20, Kel. Tompokersan, Kec. Lumajang Pondok Pesantren Pa+Pi. Nurul Islam, Desa Karang Cempaka, Kec. Bluto Kampung Baru, RT 4A & 4B, RW IV, Kel. Kepanjen, Kec. Kepanjen Dukuh Kebaran RW IV, Kel. Tawanganom, Kec. Magetan Dandangan RW IX, Kel. Dandangan, Kec. Kota RT 28 & 29, Lingk. Kleco, Kel. Jamsaren, Kec. Pesantren Pondok Pesantren Al Mujtama' (Pi), Kelurahan Plakpak, Kec. Pangetanan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Bettet, Kec. Pamekasan RT 02-03, RW III, Kamp. Lebak, Kel. Pangeranan, Kec. Bangkalan Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Ramban Kulon, Kec. Cermee

MCK plus

76

265 13 BALI 2

Kota Denpasar

Banjar Muliawan, Desa Tegal Kerta, Kec. Denpasar Barat Banjar Tegal Mawar, Kel. Banjar Bali, Kec. Buleleng RT 18, Kel. Berbas Pantai , Kec. Bontang Selatan RT 15 Jn. Pelabuhan, Kel. Tanjung Laut Indah, Kec. Bontang Selatan RT 73 Kel. Batu Ampar, Kec. Balikpapan Utara RT 05, Kel. Klandasan Ulu, Kec. Balikpapan Selatan Kampung RT 84, RW 29 Kel. Teluk Dalam. Kec. Banjarmasin Tengah Kampung RT 03 & 02, RW 01 Kel. Kelayan Tengah. Kec. Banjarmasin Selatan Kampung RT 18 RW 05 Kel. Antasan Kecil Timur Kec. Banjarmasin Utara Kampung Simpang Jagung RT.04 RW 011 Kel. Pelambuan Kec. Pelambuan Lingkungan I, RT 07, Kelurahan Kayu Bulan, Kec. Limboto Dusun Teratai, Desa Marisa Selatan, Kec. Marisa Kel. Padengo, Kec. Kabila Desa Bajo, Kec. Tilamuta Kampung Kompleks Sari Kelapa Kel. Bitung Timur Kec. Bitung Timur Lingkungan Bontosunngu Selatan, Kel. Empoang, Kec. Binamu Dusun Curio, Desa Curio, Kec. Curio Kampung RT. 02 RW.08 Kel. Bataraguru. Kec. Wolio Kampung RT 02, RW 01 Kel. Tomba Kec. Wolio Kampung Kanakea, RT 10, RT 03 Kel. Nganganaumala Kec. Wolio 4. Kampung RT 01, RT. 02 RW II dan RW III Kel. Tondonggeu Kec. Abeli Kampung Lingkungan RT 21 RW 08 Kel. Naikoten I Kec. Oebobo Kampung RW I, RT. 02, 03, 04, 05, 06 Kel. Kabor. Kec. Alok 65

Komunal Pemipaan

130

510

MCK plus

48

197

Kab. Buleleng

1 1

Komunal Pemipaan MCK plus

110 81

450 296

Kota Semarang 10 JAWA TENGAH 5 Kota Tegal 6

MCK plus

93

356 Kota Bontang

MCK plus

123

450

1 14 KALIMANTAN TIMUR 2 4 1 Kota Balikpapan 1

MCK plus

56

168

Kota Pekalo-ngan

MCK plus

89

315

MCK plus Pemipaan Komunal

44 73

260 290

Kab. Magelang 11 DIY 1 Kab. Gunungkidul Kab. Nganjuk Kab. Jombang 1

1 1 1 1 1

MCK plus Pemipaan Komunal (Tahu) MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus Kombinasi MCK Plus dan Pemipaan Komunal Pemipaan MCK Plus MCK Plus MCK Plus Kombinasi MCK Plus dan Pemipaan MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus Kombinasi MCK Plus dan Pemipaan

90 14 163 185 110 40 103 111 89 96 66 80 141 140 111 108 80 80 113 51

277 1 70 652 15 766 228 1 200 274 312 400 300 196 400 490 1 560 Kota Bau-Bau 300 400 400 400 480 256 20 NUSA TENGGARA TIMUR 2 Kota Maumere JUMLAH 50 Kota Kendari 1 19 SULAWESI TENGGARA 2 4 1 18 SULAWESI SELATAN 2 Kab. Enrekang 17 SULAWESI UTARA 1 16 GORONTALO 4 Kab. Gorontalo 4 1 KALIMANTAN SELATAN 1 Kota Banjarmasin 4 1 1

MCK plus

79

395

MCK plus

79

395

MCK plus

40

200

Kota Mojokerto 1 Kab. Blitar Kota Blitar Kota Pasuruan Kab. Sidoarjo Kab. Lumajang 12 JAWA TIMUR Kab. Sumenep Kab. Malang Kab. Magetan 1 1 1 1 Kota Kediri 1 1 Kab. Pamekasan 1 Kab. Bangkalan Kab. Bondowoso 1 1 1 1 1 1 1

MCK plus

120

600

Komunal Pemipaan

50

304

Kab. Pohuwato Kab. Bonebolango Kab. Boalemo Kota Bitung

1 1 1

MCK Plus MCK Plus MCK Plus MCK Plus

126 94 100 140

504 376 400 700

Kab. Jeneponto 2

Komunal Pemipaan

70

275

Komunal Pemipaan MCK ++ MCK ++

65 24 24

300 120 120

MCK ++

24

120

MCK Plus

124

620

Kota Kupang 2

MCK Plus

142

710

MCK Plus

51 5.700

247 23.886

136

137

DATA SANIMAS 2007 KO TA / K A B U PAT E N SISTEM TERPILIH Jumlah Pengguna KK JIWA

Kel.Tiga Empat Hulu, Lorong Wakaf RT 31, Kec. Seberang Ulu I, Kota Palembang Kel.Tiga Empat Hulu, RT 06, Kec. Seberang Ulu 1, Kota Palembang Kel.Lima Belas Hulu RT 17, Kec. Seberang Ulu I, Kota Palembang Kampung Sei Hitam RT.05, Kel. Siring Agung, Kec. Ilir Barat I, Kota Palembang Kec. Toboali, Kel. Tanjung Ketapang, Lingk. 03 Kec. Muntok, Kel. Tanjung, Lingk. Teluk Rubiah II Kec. Muntok, Kel. Tanjung, Lingk. Tanjung Sawah Kec. Bukit Intan, Kel. Bacang, RT 03 Kec. SungaiLiat, Kel. SungaiLiat, Lingk. Parit Pekir Kec. SungaiLiat, Kel. Kuday, Lingk. Air Anyut Kec. Kumun Debai, Ds. Kumun Mudik Kec. Sungai Penuh, Kel. Pasar Kec. Tanah Kampung, Ds. Sembilan Kec.Sungai Penuh, Kel.Lawang Agung, Ds.Sawahan Tarandam Kec. Tebo Tengah Kec. Rimbo Bujang, Pasar Sarinah Kec. Tanjung Karang Pusat, Kel. Kelapa Tiga Kec. Tanjung Karang Pusat, Kel. Kaliawi Kec. Tanjung Karang Pusat, Kel. Durian Payung Kec. Tanjung Karang Timur, kelurahan Sawah Brebes Kec. Teluk Betung Selatan, Kel. Kangkung Kec. Panjang, Kel. Pidada RW. 03 Kel. Kedawung Baru, Kec. Neglasari, Kota Tangerang Kamp. Pisangan Periuk RT. 04 RW. 05 Kel. Kayu Agung, Kec. Sepatan, Kab. Tangerang - BANTEN Kampung Sempu Seroja, RT 05 RW 15, Kel. Cipare, Kec. Serang, Kab. Serang - BANTEN

MCK +

70

350

No.

PROVINSI

LOKASI
Kampung Gudang Arang, Jl. Pulau Seram Ligkungan VI, Kel. Belawan Bahari, Kec. Medan Belawan, Kota Medan - SUMUT Lingkungan XXIII, Kel. Pekan Labuhan, Kec. Medan Labuhan, Kota Medan - SUMUT Pesantren Ar Raudathul Hasanah Kel. Simpang Selayang Kec. Medan Tuntungan Jl. Boxit, Lingkungan I, Kel. Kota Bangun, Kec. Medan Deli, Kota Medan - SUMUT Kampung Senteong, Kel. Pancuran Grobak, Kec. Sibolga Kota, Sibolga SUMUT Lingkungan IV, kel. Bandar Utama, Kec. Tebing Tinggi Kota, Tebing Tinggi - SUMUT Kel. Tegal Sari Kec. Kisaran Barat Lingkungan 1, kel. Matahalasan, Kec. Tanjung Balai Kota, Tanjung Balai - SUMUT Kel. Rantau prapat Kec. Rantau Utara Jangkak Kel. Campagoimpoh. Jorong Pasar Lama, Nagari Pulau Punjung, Kec.Pulau Punjung, Kab. Darmasraya - SUMBAR Jorong Balai Tangah, Nagari Sungai Rumbai, Kec. Sungai Rumbai, Kab. Darmasraya SUMBAR Jorong Aro Talang, Nagari Talang, Kecamatan Gunung Talang, Kab. Solok SUMBAR Desa Lunto Barat, Kec. , Kota Sawah Lunto - SUMBAR Korong Ringan-ringan, Nagari Pakandangan, Kec. Enam Lingkung, Kab. Padang Pariaman - SUMBAR Kelurahan Parit Rantang Kampung Painan Selatan, Nagari Painan, Kec. IV Jurai Jorong Bandar Pandung RT 01 RW 03 Kel. Tanah Garam, Kec. Tanah Garam, Kota Solok - SUMBAR

1 3 Sumatera Selatan 1 Kota Palembang 4 1

MCK + MCK +

70 70

350 350

MCK +

63

300 Kab. Bangka Selatan

MCK +

70

350

MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + MCK + Komunal MCK + MCK + MCK +

100 92 95 71 103 56 128 91 84 105 85 100 100 169 80 95 95 115 214

500 460 221 355 515 280 640 455 420 400 425 500 500 845 400 380 475 575 860

1 Kota Medan 1

MCK +

68

300 Kab.Bangka Barat 2 6 Kota Pangkal Pinang 1

MCK +

50

200

Bangka Belitung

1 1 Sumatera Utara 6 Kota Sibolga 9 1

MCK +

129

645 Kab.Bangka Induk 2

MCK +

82

400 1

Kota Tebing Tinggi

MCK +

60

300 Kab. Kerinci 5 Jambi 2 6

1 1 1

Kab. Asahan

MCK +

60

300

Kota Tanjung Balai

MCK +

60

300 Kab. Tebo

1 1 1

Kab. Labuhan Batu Kota Bukitinggi

1 1

MCK + MCK ++

50 100

200 500

1 MCK ++ 100 500 6 Lampung 1 Kota Lampung 6 1 1 MCK ++ 235 1175 1 1 MCK ++ 50 200 Kota Tangerang 1

1 Kab. Darmasraya 1

Kab. Solok 2 Sumatera Barat 8 9

Kota Sawah Lunto

MCK ++

100

500

Kab. Tangerang

MCK +

105

400

Kab. Padang Pariaman

MCK ++

100

500 7 Banten 3 5

MCK ++

46

230

Kota Payakumbuh Kab. Pesisir Selatan

1 1

MCK ++ MCK ++

100 100

500 500

Kab. Serang

Kampung Sempu Banten Girang RT 01 Rw 17 Kel. Cipare, Kec. Serang, Kab. Serang - BANTEN Kampung Kubang Kemiri RT. 05 RW. 02 Kel. Sukawana, Kec. , Kab. Serang - BANTEN Kampung Kubang Kemiri RT. 05 RW. 02 Kel. Sukawana, Kec. , Kab. Serang - BANTEN

MCK ++

53

290

MCK +

80

400

Kota Solok

MCK ++

100

500

MCK +

80

400

138

139

Kota Bogor

Kamp. Tanuwijaya, Kel. Tajur, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor - JABAR RT. 02/04 Kel. Nanggleng, Kec. Citamiang, Kota Sukabumi - JABAR RT. 02/ 04 Kamp. Cangkol Utara, Kel. Lemah Wungkuk, Kec. , Kota Cirebon - JABAR Beton RT 1,2,3, RW I, Kel. Sewu, Kec. Jebres, Kota Surakarta - JATENG Joyoraharjan RT 1,2,3, RW X, Kel. Purwodiningratan, Kec. Kebres, Kota Surakarta - JATENG Kel. Bandarharjo RW 3, Kec. Semarang Utara, Semarang Kota - JATENG Jagalan RT 7& 8, RW 2, Kel. Kutoharjo, Kec. Kaliwungu, Kab. Kendal - JATENG Poncol Gang 9 RT 02, RW V, Kel. Poncol, Kec. Pekalongan Timur, Kota Pekalongan - JATENG Boyongsari RT 04 RW 16, Kel. Panjang Wetan, Kec. Pekalongan Utara, Kota Pekalongan - JATENG Jongor RT 02, RW 08, Kel. Tegalsari, Kec. Tegal Barat, Kota Tegal - JATENG Kel. Kaligangsa Kulon RT 02, RW IV, Kec. Brebes, Kab. Brebes - JATENG Ponpes - An Nawawi, Desa Berjan, Kec. Gebang, Kab. Purworejo - JATENG Karang Gondang, Kel. Bojong, Kec. Mungkid, Kab. Magelang - JATENG Gondolayu Lor RT 56-57, RW 11, Kel. Cokrodiningratan, Kec. Jetis, Kota Yogya - DIY Dusun Jetak 2, Kel. Sidokarto, Kec. Godean, Kab. Sleman - DIY Ponpes - Mardhotullah Al Islami, Kec. Wonosari, Kab. Gunung Kidul - DIY Kerajinan Tahu - Dusun Besari, Desa Siraman, Kec. Wonosari, Kab. Gunung Kidul - DIY Dusun Kriyanan, Kel. Wates, Kec. Wates, Kab. Kulon Progo - DIY Dusun Gunung Saren Kidul, Desa Trimurti, Kec. Srandakan, Kab. Bantul - DIY

MCK +

125

500 Kota. Mojokerto

Kel. Kranggan, Kec. Prajurit Kulon, Mojokerto Kota JATIM Kel. Kedundung, Kec. Magersari, Mojokerto Kota - JATIM RW III Desa Keboan Sikep, Kec. Gedangan, Kab. Sidoarjo - JATIM RT 03, RW IV Kel. Ngemplak Rejo Kec. Purworejo, Pasuruan Kota - JATIM PP. Mambaul Ulum, Denanyar, Kab. Jombang - JATIM PP Walisongo, Desa Cukir, Kec. Diwek, Kab. Jombang - JATIM Lingk. Ngaglik, Kel. Dandangan, Kec. Kota, Kediri Kota - JATIM Lingk. Pagut RT 21, RW 08, Kel. Blabak, Kec. Pesantren, Kediri Kota - JATIM PP. Nurul Ulum, Desa Bendo, Kec. Kepanjenkidul, Kota Blitar - JATIM Dsn Jambon, Desa Pakis Kembar, Kec. Pakis, Kab. Malang - JATIM Dsn Curah Ampel, Desa Ampel Denta, Kec. Pakis, Kab. Malang - JATIM PP. As-Syahidul Kabir, Sumber Batu, Kec. Blumbungan, Kab. Pamekasan - JATIM PP. Al-Inayah, Desa Sumber Batu, Kec. Pegantenan, Kab. Pamekasan - JATIM PP. Kebun Baru, Desa Kacok, Kec. Palengaan, Kab. Pamekasan - JATIM RT 06, RW 01 Kel. Sukowinangun, Kec. Magetan, Kab. Magetan - JATIM RT 02 Lingk. Wlingi, Kel. Wlingi, Kec. Wlingi, Kab. Blitar - JATIM Kampung Tegal Harum, Kel. Tegal Harum, Kec. Denpasar barat, Kota Denpasar - BALI Lingkungan Tamansari, Kel. Kampung Baru, Kec. Buleleng, Kab. Buleleng - BALI Kel. Abianbase, Banjar Abianbase Kelod Kauh, Kec. Gianyar - BALI Lingk. Kodok, Br. Tunggal sari, Kel. Dauh Peken, Kec. Tabanan, Kab. Tabanan - BALI

MCK +

100

350

Jawa Barat

Kota Sukabumi

MCK +

75

300

MCK +

100

350

Kota Cirebon

MCK +

75

300

Kab. Sidoarjo

MCK +

100

350

1 Kota Solo 1

MCK +

79

310

Kota Pasuruan

MCK +

100

350

MCK +

44

156 Kab. Jombang

MCK +

95

477

Kota Semarang

MCK +

94

197

MCK + + Komunal

100

500

1 Komunal 75 300 Kota Kediri 1 MCK + 64 250 11 Jawa Timur 10 Kota Blitar MCK + 84 350 1 MCK + 70 415 Kab. Malang 1 MCK + 70 400 16 1

MCK +

178

688

Kab. Kendal

MCK +

95

398

1 9 Jawa Tengah 8 Kota Pekalongan 10 1

MCK +

82

410

MCK +

150

500

Kota Tegal

MCK +

125

400

Kab. Brebes

MCK +

70

350

Kab. Purworejo

MCK +

606

Kab. Pamekasan

MCK +

90

450

Kab. Magelang

MCK +

63

215

MCK +

70

350

Kota Yogyakarta

Komunal + biogas

95

324

Kab. Magetan

MCK +

133

262

Kab. Sleman

MCK +

66

284

Kab. Blitar

Komunal

77

315

1 10 DIY 5 Kab. Gunung Kidul 6 1

MCK +

40

190

Kota Denpasar

Komunal

110

500

Komunal UKM

186 12 Bali 4

Kab. Buleleng 4 Kab. Gianyar

Komunal

58

330

Kab. Kulonprogo

MCK +

78

318

Komunal

120

600

Kab. Bantul

Komunal UKM

Kab. Tabanan

Komunal

75

375

140

141

Kab Amuntai

Desa Pelelawan, Kel Pelelawan, Kec Amuntai Tengah Kel. Alalak Tengah Kec. Banjarmasin Utara Kel. Sungai Bilu Kec. Banjarmasin Timur Kel. Basirih Kec. Banjarmasin Barat RT 4 Kel. Banjarbaru Kota, Kec. Banjarbaru, Kota Banjar Baru - KALSEL RT 32 Kel Tanjung Laut Indah, Kec. Bontang Selatan, Bontang - KALTIM RT 25 Kel Tanjung Laut Indah, Kec. Bontang Selatan, Bontang - KALTIM Jl. Flamboyan, kel. Karanganyar, Kec. Tarakan Barat, Tarakan - KALTIM Gg. Bakti, Kel. Karanganyar, Kec. Tarakan Barat, TarakanKALTIM Kelurahan Kuala Pembuang Dua Dua RT 11, Kec. Kuala Pembuang, Kab. SeruyanKALTENG Kelurahan baru RT 16, Kec. Arut Selatan, Kab. Kotawaringin Barat - KALTENG Kampung Undagi, Kel. Undagi, Kec. Gerung, Kab. Lombok Barat - NTB RT 03, 04, 05 Lingk Juri, Kel. Leneng, Kec. Praya, Lombok Tengah - NTB Lingk. Gubug Tengah, Kel. Kelayu Utara, Kec. Selong, Kab. Lombok Timur - NTB Lingk. Waki, Kel. Wonggonao, Kec. Rasanae, Kota Bima - NTB RT 05, Kel. Faturbesi, Kec. Kelapa Lima, Kota KupangNTT Amburima, Kel. Rukun Lima, Kec. Ende Selatan, Kab. Ende-NTT Kampung Garam, Kel. Kota Uneng, Kec. Alok, Kab. Sikka - NTT Kampung Ngahure Bukit, Kel. Wuring, Kec. Ende Barat, Kab. Sikka - NTT Kampung Merdeka, Kec. Kota Atambua, AtambuaNTT Kampung Jati, Kel. Berdao, Atambua - NTT

Komunal

58

330

Jl. Kandea, Kel. Bantoala Toa, Kec. Bantoala, Makasar Jl. Kancil Selatan, Kel. Bontobiraeng, Kec. Mamajang, Makasar Jl. Nuri, kel. Bontorannu, Kec. Mariso, Makasar Pulau Barang Caddi, Kel. Barang Caddi, Kec. Ujung Tanah, Makasar RW IV, Kel. Benu Benua, Kec. Kendari Barat, Kota Kendari RW IV-V, Kel. Petoaha, Kec. Abeli, Kota Kendari PP Modern Syekh Abdul Wahid, Kel. Batara Guru, Kec.Wolio, Bau-bau RT 03 RW 03 Kel. Koabula, Kec. Murhum, Kota Bau-bau

Komunal

90

450

MCK +

130

650 1

MCK +

90

450

13

Kalimantan Selatan

Kota Banjarmasin

MCK +

84

420

18

Sulawesi Selatan

Kota Makasar

4 1 Komunal 60 300

MCK +

108

540

Kab Banjar Baru

MCK +

87

215

MCK +

80

400

1 Kota Bontang 1 14 Kalimantan Timur 2 4 1 Kota Tarakan 1

Komunal

42

190 Kota Kendari

Komunal

80

400

MCK +

54

202

1 Komunal-UKM 30 150 19 Sulawesi Tenggara 2 4 1 Komunal + UKM 33 200 Kota Bau-bau MCK + 53 236 1

Komunal

153

765

Komunal

60

250

Kab. Seruyan 15 Kalimantan Tengah 2 Kab. Kotawaringin Barat

Kombinasi MCK dan Perpipaan

60

300

MCK +

43

200

Kota Gorontalo

RW IV, Kel. Pohe, Kec. Kota Timur Lingk.II RT 1, Kel. Padengo, Kec. Kabila, Kab.Bone Bolango Desa Piloliyanga, Kec. Tilamuta, Kab.Boalemo Dusun Keramat, Desa Puhuwato, Kec. Marissa, Pohuwato Lingkungan Kasiwa, Kelurahan Binanga, Kec.Mamuju

MCK +

152

760

Kab. Lombok Barat

MCK +

116

580 20 Gorontalo 4

Kab. Bone Bolango 4 Kab. Boalemo

MCK +

94

470

Kab. Lombok Tengah 16 NTB 4 Kab. Lombok Timur 4

MCK +

129

645

MCK +

105

420

MCK +

151

755 Kab. Pohuwato 1 MCK + 133 665

Kota Bima

MCK +

158

790

Kota Kupang

MCK +

120

600 Kab. Mamuju

Perpipaan

100

500

Kab. Ende

MCK +

148

740 22 Sulawesi Barat 2 4

Lingkungan Tambi, Kel Mamunyu Lingkungan Deteng-Deteng ,Kec DesaTotoli, Kel.Totoli, Kec. Banggai Lingkungan Raa Timur , Kel Labuang/Mosso, Kec. Sendana

Perpipaan

100

500

1 17 NTT 4 Kab. Sikka 6 1

MCK +

100

500

1 Komunal 120 600 Kab. Majene 1 MCK + 54 270

MCK +

130

650

MCK +

150

750

1 Kab. Atambua 1

Komunal

141

705

Jumlah

79

121

10,985

51,208

142

143

DATA SANIMAS 2008 KO TA / K A B U PAT E N SISTEM TERPILIH


MCK ++ MCK+

No.

PROVINSI

LOKASI
Pondok Pesantren Arraudatul Khasanah, Kota Medan Kel. Panai Hijau, Kec. Medan Marelan, Kota Medan 4 Lingkungan III, Kel Tanjung Marulak Hilir, Kec. Rambutan, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Lingk. VI, Kel. Satria, Kec. Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara Kel. Guguk Malintang, Kec. Padang Panjang Timur, Kab. Padang Panjang, Sumatera Barat Dusun Sawah Tambang, Desa Muaro Kalaban, Kec. Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat Kel. Batang Arau Kec. Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Utara Nagari Lima Kaum, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat 8 Nagari Sumani, Kec. X Koto Singkarak, Kab. Solok, Sumatera Barat RW. III Kel. Nan Balimo Kec. Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumatera Barat Jorong Tapian Diaro, Nagari Sijunjung, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat Jorong Koto Agung, Nagari Sitiung, Kec. Gunung Medan, Kab. Darmasraya, Sumatera Barat RT 05 Lingkungan III Kel. Kutaraya Kayuagung Kecamatan Kayuagung

Jumlah Pengguna KK
80 100

Bogor (Kab)

Kec. Cibinong, Kab. Bogor

MCK ++ MCK ++ & Perpipaan MCK ++

30

400

JIWA
400 400

JAWA BARAT

Bogor (Kota) Tasikmalaya (Kota) Semarang (Kota)

Rw. 06, Kel. Gunung Batu, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor

22

200

Rw. 05, Kel. Sukamana, Kec. Simpedes, Kota Tasikmalaya Kebonharjo RT 02 RW 02, Kel. Tanjung Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang, Jateng Desa Kedunguter Rt 6-7 RW 2, Kec. Brebes, Kab. Brebes, Jawa Tengah

40

500

Medan

MCK ++

80

278

SUMATERA UTARA

2 Tebing Tinggi

MCK+

30

140 Brebes (Kab)

MCK +

90

390

Perpipaan

60

260

Ponpes Darunnajat, Desa Pruwatan, Kec. Bumiayu, Kab. Brebes, Jawa Tengah Tegal (Kota) Pekalongan (Kota) Batang (Kab) Desa Pesurungan Lor RT 06 RW 03, Kec. Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah Kp. Kraton Kidul RT 01 RW 01, Kel Kraton Kidul, Kec Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Jateng Dusun Tegalrejo, RT 1-4, Desa Depok, Kec. Kandeman, Kab. Batang, Jawa Tengah Proto kulon RT 2-3 RW1, Kel. Protomulyo, Kec. Kaliwungu Selatan, Kab. Kendal, Jawa Tengah Kampung Makam Bergolo Rw 9 Kel. Serengan, Kec. Serengan, SOLO Kampung Dawung wetan Rw 15, Kel Danukusuman, Kec. Serengan, SOLO Dusun Gatak Gamol RT 1 RW 06, Desa Pucung Rejo, Kec. Muntilan, Kab. Magelang, Jateng Kp. Brojolan Barat RW 1, Kel. Temanggung 1, Kec. Temanggung, Kab. Temanggung, Jateng Kp. Kedung Putri RT 07, RW7, Kel. Baledono, Kec. Purworejo, Kab. Purworejo, Jateng Purworejo (Kab) Ponpes Al Iman, Desa Bulus, Kec. Gebang, Kab. Purworejo, Jawa Tengah Kebumen (Kab) Banjarnegera (Kab) Yogyakarta (Kota) Desa Jatimulyo, Kec. Aliyan, Kab. Kebumen Kp. Semarang RT.1 & 3 RW 4, Kel. Semarang, Kec. Banjarnegara, Kab. Banjarnegara, Jateng Kampung Gambiran RT 30 RW 8, Kel. Pandean, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DIY Dusun Tawarsari, Desa Wonosari, Kec. Wonosari, Kab. Gunung Kidul, DIY 8 DIY 3 Gunung Kidul (Kab) 5 PP Al-Hikmah, Desa , Kec. Karangmojo, Kab. Gunung Kidul, DIY Dusun Jeruk, Desa Kepek, Kec. Wonosari, Kab. Gunung Kidul, DIY Sleman (Kab) Dusun Blunyah Gede RT 06, 07, 08, RW. 32 & 33, Desa Sundu Age, Kec. Melati

MCK +

60

300

Padang Panjang

MCK ++

100

500

MCK ++

70

265

Sawahlunto

MCK ++

100

500

MCK ++

55

276

Padang (Kota) Tanah Datar (Kab) 2 SUMATERA BARAT 8 Solok (Kab)

MCK ++ MCK ++ MCK ++

100 100 100

500 500 500 7

MCK ++

154

599

Kendal (Kab)

MCK + MCK ++ & Perpipaan MCK ++ MCK ++ & Perpipaan Komunal (Pengrajin Tahu)

63

316

JAWA TENGAH

12

Solok (Kota)

MCK ++

100

500

Solo/Surakarta (Kota)

15

33

164

61

305

Sijunjung

MCK ++

100

500

Magelang (Kab)

148 8 pengrajin, kapasitas 1430kg/hr 87

720

Dharmasraya

MCK ++

100

500

Temanggung (Kab)

MCK + MCK + MCK + MCK + MCK +

40 100 35 50 100

160 400 140 200 500

SUMATERA SELATAN

Kab. Ogan Komering Ilir

RT 09 Lingkungan IV Kel. Kutaraya kayuagung Kecamatan Kayuagung RT 02 Jl. Tembusan Kel. Mangunjaya Kecamatan Kota Kayuagung Kel. Siring Agung, Kec. Lubuk Linggau Selatan II Kel. Air Hanyut, Kec. Sungai Liat, Kab. Bangka

Perpipaan

367

MCK ++

75

375

Lubuk Linggau (Kota) Kab Bangka

MCK ++

37

188

MCK ++ Perpipaan & Digester Perpipaan

129

495

BANGKA BELITUNG

Kab. Belitung

Kampung Damai Ling. 03 Kel. Parit RT 18 A, 21 RW. 06, Kec. Tanjung Pandan, Kab. Belitung Dsn Baru Utara. Kampung Baru RT 03, 04 & 05 Kp. Gunung Batu Desa Cigantra Kec. Pagedangan RT 6 RW 2 Kampung Babadan, Desa Terumbu, Kec. Kasemen, Kab. Serang, Banten Kampung Poponcol, Desa Damping, Kec. Pamarayan, Kab. Serang, Banten

MCK +

100

500

75

200

Kab. Belitung Timur Tangerang (Kota)

MCK + MCK ++

60 80

300 400

49

216

Perpipaan

130

653

BANTEN

2 Serang (Kab)

MCK ++

88

408

Perpipaan

67

261

MCK ++

45

284

MCK ++

71

223

144

145

Mojokerto (Kota)

Kel. Bluto, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto Kel. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto RT. 1 RW. 4 Kel. Kauman. Kec Mojosari Kab. Mojokerto

MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ & Perpipaan MCK ++ & Perpipaan MCK ++ & Perpipaan MCK ++ & Perpipaan MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ Perpipaan MCK ++ Perpipaan MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++ MCK ++

70 70 59 850 130 50 60 62 70 70 70 24 300 90 70 70 100 100 100 70 125 70 100 50 73 89 70 200 28 780 580 70 70 70 50

350 350 219 850 650 250 300 313 350 350 350 120 801 450 350 350 500 500 500 350 623 350 500 250 229 350 350 1000 140 3.900 2.900 350 350 350 250

10

BALI

Buleleng (Kab) Tabanan Kab)

RT. 7, Lingk. Kampung Bugis, kel. Kampung Bugis, Kec. Singaraja, Kab. Buleleng Br. Pasekan baleran, Desa Dajan Peken, Kab. Tabanan

Perpipaan Perpipaan MCK+ Perpipaan MCK + MCK ++ MCK + MCK ++ Kombinasi MCK + & Perpipaan Kombinasi MCK + & Perpipaan Perpipaan Perpipaan Perpipaan Perpipaan MCK+ MCK++ MCK++ MCK++ MCK++ MCK++ MCK++ MCK++ Perpipaan MCK ++ MCK ++ MCK ++ Perpipaan MCK ++

109 163 80 83 100 180 75 40 75 64 80 100 100 100 100 70 70 70 70 70 70 75 60 109 225 100 119 200 11.061

399 658 300 271 400 540 375 200 375 320 305 500 500 500 500 350 350 350 350 350 350 375 300 428 1400 500 810 600 48.984

Mojokerto (Kab)

PP Darul Hikmah Desa Kedungmaling, Kec. Soka Kab. Mojokerto PP Mambaul Hikam (pa+pi), Desa Mantenan, Kec. Udanawu, Kab. Blitar

11

KALIMANTAN TIMUR

Bontang

RT. 32 . Kel. Brebas Tengah Kec. Botang Kuala RT. 36. Kel. Satimpo Kec. Bontang Selatan

Blitar (Kab)

PP Nasrul Ulum Putri, Desa Modangan, Kec. Nglegok, Kab. Blitar PP PP Karangadi (pa+pi), Desa Kerjen, Kec. Srengat, Kab. Blitar

12

KALIMANTAN SELATAN

Banjarmasin Hulu Sungai Utara (Kab) Hulu Sungai Selatan (Kab)

Kel. Kauman dan Kel. Belitung RT. 4 Kel. Palampitan Hulu, Kab. Hulu Sungai Utara Jl. Kap Tendean No. 61 Kel. Jambu Ilir, Kec. Kandangan Kota Kab. Hulu Sungai Selatan

Blitar (Kota)

RT 2 RW 2 Lingkungan Sendang, Kel. Bendogerit, Kec. Sanan Wetan, Kota Blitar PP Lirboyo Induk, Kel. Balowerti, Kec. , Kota Kediri

13

SULAWESI TENGGARA

Bau-Bau (Kota)

Pondok Hidayatulloh, Kel. Kadolo Katapi, Kec. Wolio, Kota Bau-Bau Lingk. Loji RT 1 dan 2, Kel. Nganga Naumala, Kec. Murhum, Kota Bau-Bau Lingk. Tarafu RT 3, 4 dan 5, Kel. Tarafu, Kec. Murhum, Kota Bau-Bau

Kediri (kota)

RT RW Kel. Semampir, Kec., Kota Kediri RT RW Kel. Balowerti, Kec., Kota Kediri PP Al- Arghob, Dusun Karanganyar, Kel. Karanganyar, Kec. , Kota Pasuruan Kel. Pangung Rejo, Kec. , Kota Pasuruan

Pasuruan (Kota)

Kendari (kota) 14 SULAWESI BARAT 2 Mamuju 4

Kel. Puday, Kec. Abeli, Kendari Kel. Balaninor. Kec. Mamujui, Kab. Mamuju Kel. Kalubibing, Mamuju

Jombang (Kab)

Desa Cukir, Kec. Diwek, Kab. Jombang Desa Lohsari, Kec. Ploso, Kab. Jombang RT 6 RW 2 Dusun Ngaban, Desa Ngaban, Kec. Tanggulangin, Kab. Sidoarjo 35 PP Al-Hamidy Banyuanyar Timur, Kec. , Kab. Pamekasan PP Mihtahul Ulum Pagendingan, Kec. Galis, Kab. Pamekasan PP. Masharatul Huda Panempaan, Kec. , Kab. Pamekasan PP An-Nuqoyyah

Sidoarjo (Kab)

Majene

Ling. Baurung Kel. Baurung, Kec. Banggae Timu, Kab. Mamuju Ling Mangge Kel. Totoli Kec. Kec. Banggae Kab. Mamuju

JAWA TIMUR

16 Pamekasan (Kab)

15

SULAWESI SELATAN

Bone

Kel. Bajoe, Kec. Tanette Riatang Timur, Kab. Bone Kel. Lonrae, Kec. Tanette Riatang Timur, Kab. Bone Kel. Waetuo, Kec. Tanette Riatang Timur, Kab. Bone

Sumenep (Kab)

PP Al-Karibiah Al-Amien

Malang (Kab)

PP Annur-3, Desa Murah Banyu, Kec. , Kab. Malang Ardirejo, Bangsri RT III RW I Desa Sengkut, Kec. Berbek, Kab. Nganjuk RT 3 RW 4 Desa Mlilir, Kec. Berbek, Kab. Nganjuk PP Roiyaitul Husna

Palopo

Kel. Dangerrako, Kec. Wara Utara, Kota Palopo Kel. Sallotelue, Kec. Wara Timur, Kota Palopo Ponpes Modern Datok Sulaiman Kel. Tompotikka, Kec. Wara, Kota Palopo

Nganjuk (Kab)

Bulukumba Takalar 16 NUSA TENGGARA BARAT 4 Lombok Barat (Kab) Lombok Timur (Kab) 5

Kel. Kalumeme, Kec. Ujung Bulu Lingk. Masaleng, Kel. Takalar, Kec. Mappakunggu, Kab. Takalar Dusun Telaga Ngembeng, Desa Lembuak Timur, Kec.Narmada, Kab. Lombok Barat Lingk. Bermi, Kel. Pancor, Kec. Selong, Kab. Lombok Timur Lingk. Erot, Kel. Kembangsari, Kec. Selong, Kab. Lombok Timur

Bondowoso (Kab)

PP. Mihtahul Hasan Al-Usmani RT 27, RW 03 Dusun Gedangan, Desa Suger Lor, Kec., Kab. Bondowoso PP Walisongo, Kel. Mimbaan, Kec. Panji, Kab. Situbondo

Situbondo (Kab)

PP Sumber Bunga, Desa Sletreng, Kec. Kapongan, Kab. Situbondo PP Al-falah, Kec. Tempurejo, Kab. Jember

Jember (Kab)

PP Bai'atul Ulum, Kec. Sukowono, Kab. Jember PP Baitul Hikmah, Kec. Silo, Kab. Jember

Sumbawa Barat (Kab) Sumbawa (kab) Jumlah 69

Lingk. Prate, Kel. Samapuin, Kec. Sumbawa Besar, Kab. Sumbawa Besar Dusun Mata Ai, Desa Seteluk Atas, Kec. Seteluk, Kab. Sumbawa Barat 108

Lumajang (Kab)

Dusun Krajan Kulon, Desa Selok Besuki, Kec. Sukodono, Kab. Lumajang

146

147

UCAPAN TERIMA K ASIH


Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pelaksanaan Program SANIMAS :

58. Pemerintah Kab. Kebumen 59. Pemerintah Kab. Banjarnegara 60. Pemerintah Kota Yogyakarta 61. Pemerintah Kab. Gunung Kidul 62. Pemerintah Kab. Sleman 63. Pemerintah Kab. Kulonprogo 64. Pemerintah Kab. Bantul 65. Pemerintah Kota Mojokerto 66. Pemerintah Kab. Mojokerto 67. Pemerintah Kota Blitar 68. Pemerintah Kab. Blitar 69. Pemerintah Kota Kediri 70. Pemerintah Kota Pasuruan 71. Pemerintah Kab. Jombang 72. Pemerintah Kab. Sidoarjo 73. Pemerintah Kab. Pamekasan 74. Pemerintah Kab. Sumenep 75. Pemerintah Kab. Malang 76. Pemerintah Kab. Nganjuk 77. Pemerintah Kab. Bondowoso 78. Pemerintah Kab. Situbondo 79. Pemerintah Kab. Jember 80. Pemerintah Kab. Lumajang 81. Pemerintah Kab. Magetan 82. Pemerintah Kab. Jombang 83. Pemerintah Kab. Bangkalan 84. Pemerintah Kota Denpasar 85. Pemerintah Kab. Gianyar 86. Pemerintah Kab. Buleleng 87. Pemerintah Kab. Tabanan 88. Pemerintah Kota Bontang 89. Pemerintah Kota Tarakan 90. Pemerintah Kota Balikpapan 91. Pemerintah Kota Banjarmasin 92. Pemerintah Kab. Hulu Sungai Utara

93. Pemerintah Kab. Hulu Sungai Selatan 94. Pemerintah Kab. Amuntai 95. Pemerintah Kab. Banjar Baru 96. Pemerintah Kab. Seruyan 97. Pemerintah Kab. Kotawaringin Barat 98. Pemerintah Kota Makassar 99. Pemerintah Kab. Jeneponto 100. Pemerintah Kab. Enrekang 101. Pemerintah Kota Kendari 102. Pemerintah Kota Bau-Bau 103. Pemerintah Kota Bitung 104. Pemerintah Kota Gorontalo 105. Pemerintah Kab. Bone Bolango 106. Pemerintah Kab. Boalemo 107. Pemerintah Kab. Pohuwato 108. Pemerintah Kab. Mamuju 109. Pemerintah Kab. Majene 110. Pemerintah Kab. Bone 111. Pemerintah Kota Palopo 112. Pemerintah Kab. Bulukumba 113. Pemerintah Kab. Takalar 114. Pemerintah Kab. Lombok Barat 115. Pemerintah Kab. Lombok Timur 116. Pemerintah Kab. Lombok Tengah 117. Pemerintah Kota Bima 118. Pemerintah Kab. Sumbawa Barat 119. Pemerintah Kab. Sumbawa 120. Pemerintah Kota Kupang 121. Pemerintah Kab. Ende 122. Pemerintah Kab. Sikka 123. Pemerintah Kab. Atambua 124. Pemerintah Kota Maumere 125. Serta semua pihak yang telah membantu terlaksananya program SANIMAS dengan baik.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Pemerintah Provinsi Bali Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Pemerintah Kota Medan Pemerintah Kota Tebing Tinggi Pemerintah Kota Sibolga Pemerintah Kab. Siak

29. Pemerintah Kab. Bangka 30. Pemerintah Kab. Bangka Selatan 31. Pemerintah Kab. Bangka Barat 32. Pemerintah Kota Pangkalpinang 33. Pemerintah Kab. Belitung 34. Pemerintah Kab. Belitung Timur 35. Pemerintah Kab. Sungai Selan 36. Pemerintah Kota Muko-Muko 37. Pemerintah Kab. Kerinci 38. Pemerintah Kab. Tebo 39. Pemerintah Kota Lampung 40. Pemerintah Kota Tangerang 41. Pemerintah Kab. Tangerang 42. Pemerintah Kab. Serang 43. Pemerintah Kab. Bogor 44. Pemerintah Kota Bogor 45. Pemerintah Kota Sukabumi 46. Pemerintah Kota Cirebon 47. Pemerintah Kota Tasikmalaya 48. Pemerintah Kota Semarang 49. Pemerintah Kab. Brebes 50. Pemerintah Kota Tegal 51. Pemerintah Kota Pekalongan 52. Pemerintah Kab. Batang 53. Pemerintah Kab. Kendal 54. Pemerintah Kota Surakarta/Solo 55. Pemerintah Kab. Magelang 56. Pemerintah Kab. Temanggung 57. Pemerintah Kab. Purworejo

10. Pemerintah Kab. Palawan 11. Pemerintah Kab. Asahan 12. Pemerintah Kota Tanjung Balai 13. Pemerintah Kab. Labuhan Batu 14. Pemerintah Kota Bukittinggi 15. Pemerintah Kab. Padang Pariaman 16. Pemerintah Kota Payakumbuh 17. Pemerintah Kab. Pesisir Selatan 18. Pemerintah Kab. Padang Panjang 19. Pemerintah Kota Sawahlunto 20. Pemerintah Kota Padang 21. Pemerintah Kab. Tanah Datar 22. Pemerintah Kab. Solok 23. Pemerintah Kota Solok 24. Pemerintah Kab. Sijunjung 25. Pemerintah Kab. Dharmasraya 26. Pemerintah Kota Palembang 27. Pemerintah Kab. Ogan Komering Ilir 28. Pemerintah Kota Lubuk Linggau

150

151

REFERENSI
www.indonesia.go.id www.bps.go.id www.bappenas.go.id www.id.wikipedia.org www.regionalinvestment.com www.pariaman.go.id www.surakarta.go.id www.semarang.go.id www.kabblitar.go.id www.boalemokab.go.id www.buleleng.go.id www.kabgtlo.go.id www.gunungkidulkab.go.id www.lombokbarat.go.id www.lomboktimur.go.id www.malangkab.go.id www.sidoarjokab.go.id www.slemankab.go.id www.blitar.go.id www.denpasar.go.id www.mojokerto.go.id www.pasuruan.go.id www.purworejokab.go.id www.bulelengkab.go.id

Idris, Fahmi. 2001. Pemberdayaan Nelayan Sebagai Pembangunan dalam Mengantisipasi Era Globalisasi. Jurnal Fakultas Perikanan Vol I No. 3.

152