Anda di halaman 1dari 17

Peralatan Dasar Geologi Lapangan

1. Kompas Geologi

Gambar 1. Kompas tipe Brunton Kompas, klinometer, dan hand level merupakan alat-alat yang dipakai dalam berbagai kegiatan survei, dan dapat digunakan untuk mengukur kedudukan unsur-unsur struktur geologi. Kompas geologi merupakan kombinasi dari ketiga fungsi alat tersebut. Jenis kompas yang akan dibahas disini adalah tipe Brunton dari berbagai merek. Bagian-bagian utama kompas geologi tipe Brunton diperlihatkan dalam (gmbr. Kompas tipe Brunton). Yang terpenting diantaranya adalah : 1. Jarum Magnet Ujung jarum bagian utara selalu mengarah ke kutub utara magnet bumi (bukan kutub utara geografi). Oleh karena itu terjadi penyimpangan dari posisi utara geografi yang kita kenal sebagai deklinasi. Besarnya deklinasi berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Agar kompas dapat menunjuk posisi geografi yang benar maka graduated circle harus diputar. Penting sekali untuk memperhatikan dan kemudian mengingat tanda yang digunakan untuk mengenal ujung utara jarum kompas itu. Biasanya diberi warna (merah, biru atau putih). 2. Lingkaran Pembagian Derajat (graduated circle) Dikenal 2 macam jenis pembagian derajat pada kompas geologi, yaitu kompas Azimuth dengan pembagian derajat dimulai 0 pada arah utara (N) sampai 360, tertulis berlawanan dengan arah perputaran jarum jam dan kompas kwadran dengan pembagian derajat dimulai 0 pada arah utara (N) dengan selatan (S), sampai 90 pada arah timur (E) dan barat (W). - Kompas azimuth, mempunyai pembagian derajat, mulai dari 0 derajat (utara) sampai 360 derajat (kembali ke utara) yang ditulis berlawanan arah jarum jam, dan pembacaannya juga demikian - Kompas kwardan, mempunyai pembagian derajat mulai dari derajat pada arah utara dan selatan sampai 90 derajat pada arah timur dan barat. pembacaan dimulai dari arah utara atau selatan kea rah timur atau barat sesuai kedudukan jarum kompas. 3. Klinometer

Yaitu bagian kompas untuk mengukur besarnya kecondongan atau kemiringan suatu bidang atau lereng. Letaknya di bagian dasar kompas dan dilengkapi dengan gelembung pengatur horizontal dan pembagian skala. Pembagian skala tersebut dinyatakan dalam derajat dan persen. Merupakan rangkaian alat yang digunakan untuk mengukur besarnya kemiringan bidang. rangkaian alat tersebut terdiri dari Nivo tabung, penunjuk skala, busur setengah lingkaran berskala. pada bagian atas busur bernilai 00 di tengahnya. pada bagian tepinya bernilai 900. pada bagian bawah busur, skala bernilai 0% dan di tengah dan 100% tepat pada 450 (tan 45=1=100%). klinometer dapat digerakkan dengan menggerakkan tangkai di belakang kompas. Hand level Alat ini digunakan untuk menentukan besar kemiringan suatu lereng dan ketinggian suatu objek yang dinyatakan dalam skala derajat maupun persen. 4. Pengatur Horizontal Alatnya adalah sebuah nivo bulat yang bergandengan dengan klinometer. kedudukan kompas horizontal bila gelembung udara tepat di tengah lingkaran. 5. Pengatur Arah Rangkaian alatnya terdiri dari sighting arm, peep sigh, axial line, felding sight, dan sight window. alat-alat tersebut dibantu dengan cermin. bila kompas ditembakkan ke sasaran, semua rangkaian alat tersebut harus bearada di garis sasaran.

Untuk mengukur strike: . Mengukur Strike Tempelkan sisi E (east), geser-geser, bersabarlah hingga gelembung udara dalam Bull's eye level masuk ke dalam lingkaran, jangan langsung diotak-atik, tapi tunggu dulu hingga jarum kompas stabil (nggak gerak), terakhir amati sudut yang ditunjuk arah Utara. Lalu tulislah sesuai petunjuk N __ E 1. Carilah bidang batuan yang agak rata (agar lebih rata, kamu bisa memakai papan clipboard sebagai alas). 2. Tempelkan sisi W (WEST) badan kompas ke bidang batuan dengan lengan kompas searah strike.

3. Geser-geserlah sampai gelembung udara pada level bulat (bull's eye level) tepat di tengah.

4. baca derajat yang ditunjukkan jarum utara (yaitu jarum yang menunjuk ke utara ketika kamu menghadap utara). Untuk mengukur dip: 2. Mendukur Dip Tempelkan sisi W (west) badan kompas usahakan membentuk sudut 90 terhadap strike, Clinometer level diputar-putar sampai gelembung udara berada di antara garis dalam clinometer level ditengah-tengahnya, terakhir baca sudut dalam clinometer scale. 1. Tempelkan sisi E (EAST) badan kompas ke bidang batuan dengan lengan kompas tegak lurus strike.

2. di bagian belakang kompas ada tuas kecil untuk memutar level tabung (clinometer level). Putarlah level tabung sampai gelembung tepat di tengah. 3. baca derajat yang ditunjukkan derajat klinometer (ingat, derajat dip maksimal 90 derajat).

Penggunaan Kompas Geologi Sebelum kompas digunakan di lapangan, hendaknya diperiksa dahulu apakah inklinasi dan deklinasinya telah disesuaikan dengan keadaan tempat pekerjaan. A. Inklinasi Inklinasi adalah kecondongan jarum kompas yang disebabkan oleh perbedaan letak geografi suatu daerah terhadap kutub bumi. Sudut kecondongan akan hampir 0 (horizontal) apabila kita berada di dekat/di sekitar equator, dan semakin bertambah besar apabila mendekati kutub-kutub bumi. Dengan demikian, maka tiap tempat di atas bumi ini akan mempunyai sudut inklinasi yang berbeda-beda. Pada dasarnya, sebelum kompas geologi itu dapat digunakan dengan baik, kedudukan jarum harus horizontal. Untuk itu bisa digunakan beban (biasanya ada) yang dapat digeser sepanjang jarum kompas

B. Deklinasi Deklinasi adalah sudut yang dibentuk oleh arah utara jarum kompas dan arah utara sebenarnya (Utara geografi), sebagai akibat dari tidak berimpitnya titik utara magnit dan titik utara geografi. Besarnya deklinasi di suatu daerah umumnya ditunjukkan pada peta topografi daerah tersebut. Untuk menyesuaikan agar kompas yang akan dipakai menunjukkan arah utara

yang sebenarnya, lingkaran derajat pada kompas harus digeser dengan cara memutar adjusting screw yang terdapat pada sisi kompas sebesar deklinasi yang disebutkan. Contoh nya. Deklinasi di suatu daerah adalah 15o West. Artinya, utara magnetik berada 15o sebelah barat dari utara geografi. Dalam hal ini lingkaran derajat harus diputar, sehingga index akan menunjuk pada angka 15o sebelah barat titik 0o.

Di sini kita akan mengetahui sekelumit dari cara menggunakan kompas geologi, untuk bisa memahami cara mengukur suatu kemiringan dengan kompas geologi, kita perlu mengetahui terlebih dahulu bagian-bagian dari kompas geologi tersebut. Diantaranya adalah :

Bull's eye level : Kalo dibahasa indonesiakan menjadi level mata sapi. Fungsinya digunakan dalam menentukan kedataran kompas geologi saat melakukan pengukuran strike dan trend.

Clinometer level : Fungsinya digunakan dalam menentukan kedataran kompas geologi saat melakukan pengukuran dip dan plunge. Clinometer scale : skala yang digunakan saat melakukan pengukuran dip dan plunge. Index pin : penunjuk 0 derajat pada kompas geologi. Bagian ini dapat diputar-putar sesuai kebutuhan, tetapi biasanya di arahkan ke arah Utara. Small sight dan large sight : Fungsinya digunakan untuk melakukan penembakan menggunakan kompas geologi supaya yang kita bidik tepat lurus dengan kita.

Cara Mengukur dengan menggunakan Kompas Geologi


Jurus (Strike) adalah Arah dan gars horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal. Kemiringan (Dip) adalah Sudut kemiringan terbesar yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus terhadap jurus.

1. Mengukur Strike Tempelkan sisi E (east), geser-geser, bersabarlah hingga gelembung udara dalam Bull's eye level masuk ke dalam lingkaran, jangan langsung diotak-atik, tapi tunggu dulu hingga jarum kompas stabil (nggak gerak), terakhir amati sudut yang ditunjuk arah Utara. Lalu tulislah sesuai petunjuk N __ E 2. Mendukur Dip Tempelkan sisi W (west) badan kompas usahakan membentuk sudut 90 terhadap strike, Clinometer level diputar-putar sampai gelembung udara berada di antara garis dalam clinometer level ditengah-tengahnya, terakhir baca sudut dalam clinometer scale.

3. Mengukur Plunge Cara mengukurnya seperti mengukur Dip, namun karena kita mengukur struktur garis maka pakai bantuan buku, atau papan jalan untuk mempermudah, dengan jalan menempelkan sisi buku di struktur garis dan melakukan pengukuran di sisi buku yang lain. 4. Mengukur Trend Cara mengukurnya seperti mengukur Strike, namun karena kita mengukur struktur garis kan susah tuh, maka pakai bantuan buku, atau papan jalan untuk mempermudah, dengan jalan menempelkan sisi buku di struktur garis dan melakukan pengukuran di permukaan datar yang ada di buku atau papan jalan tersebut. 5. Mengukur Pitch Cara mengukurnya jadi pertama buatlah garis strike di permukaan bidang, lalu langsung ukur derajat antara struktur garis dan strike menggunakan busur derajat. 6. Digunakan untuk mentukan tempat kita terhadap suatu benda dan arah Utara

Untuk melakukan pengukuran dengan cara ini, kita harus menggunakan small sight, large sight dan cermin agar hasil pengkurannya maksimal. Skema pengukuran bisa dilihat digambar. 7. Digunakan untuk mentukan tempat kita terhadap dua buah benda atau lebih

Untuk melakukan pengukuran dengan cara ini, kita harus menggunakan small sight, large sight dan cermin agar hasil pengkurannya maksimal. Skema pengukuran bisa dilihat digambar.
2. Peta Dasar

Gambar 2. Peta Dasar Peta dasar atau potret udara gunanya untuk mengetahui gambaran secara garis besar daerah yang akan kita selidiki, sehingga memudahkan penelitian lapangan baik morfologi, litologi, struktur dll. Selain itu peta dasar digunakan untuk menentukan lokasi dan pengeplotan data, umumnya yang digunakan adalah peta topgrafi/kontur. 3. Palu Batuan Beku (Pick Point)

Gambar 3. Pick Point

Palu batuan beku yaitu alat yang umum digunakan oleh para peneliti untuk mengambil sampel batuan, Palu batuan beku berbentuk runcing ini umumnya dipakai di daerah batuan keras (batuan beku dan metamorf) 4. Palu Batuan Sedimen (Chisel Point)

Gambar 4. Chisel Point Jenis palu geologi yang digunakan salah satunya adalah palu batuan sedimen (chisel point). Bentuknya berujung datar seperti pahat, umumnya dipakai untuk batuan yang berlapis (batuan sedimen) dan mengambil fosil. 5. Lup

Gambar 5. Lup Lup atau kaca pembesar adalah sebuah lensa cembung yang mempunyai titik fokus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar terletak di dalam titik fokus lup itu atau jarak benda ke lensa lup tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik fokus lup ke lensa lup tersebut. Di geologi, lup digunakan untuk mengamati batuan misalnya mineral maupun fosil., lensa pembesar yang umum dipakai adalah perbesaran 8 sampai 20 1.5.1 Menghitung Jarak Titik Fokus Lup Titik fokus suatu lup menentukan perbesaran yang dihasilkan, oleh karena itu titik fokusnya adalah besaran yang perlu diketahui (lihat juga dibawah). Dalam penggunaan sehari-hari jarak titik fokus dari sebuah lup dapat ditentukan dengan percobaan sederhana cahaya dapat dikumpulkan di satu titik yang berjarak tertentu dari lensa lup. Apabila cahaya mencapai tingkat energi yang tinggi maka kertas, serpih kayu, atau lainnya dapat terbakar ketika diletakkan di bawah lup tersebut. Dalam hal ini cahaya dikumpulkan di sebuah titik yang disebut titik fokus atau titik api yang sifatnya maya atau semu bukan nyata atau di belakang lensa tersebut. Metode lain yang lebih nyata untuk menentukan jarak titik fokus atau disebut juga Autoklimasi dapat menggunakan: persamaan gambar Newtonschen (juga dapat diturunkan dari persamaan lensa) Metode Bessel Metode Abbe

6. Alat Ukur

Gambar 6. Meteran Alat ukur yang digunakan dalam kegiatan lapangan biasanya menggunakan meteran 50 meter. Berbentuk seperti roll kabel agar praktis dibawa. Biasanya digunakan untuk mengukur jarak litasan dalam suatu daerah ataupun mengukur ketebalan lapisan, lebar singkapan, dan lain-lain. 7. Larutan HCl

Gambar 7. Larutan HCl Komparator dipakai untuk membantu dalam deskripsi batuan, misalnya komparator butir, pemilahan (sorting) atau prosentase komposisi mineral, maupun tabel-tabel determinasi batuan baik batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf, dan lain sebagainya. Larutan HCL digunakan untuk menguji kadar karbonat, umumnya 0,1 N. Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf, dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber, Priestley, and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. Pada saat di lapangan, HCl digunakan untuk menguji kadar karbonat pada batuan. HCl yang digunakan sebaiknya tidak terlalu pekat, umumnya yang dipakai adalah yang 0,1 N. 8. Kantong Sampel

Gambar 8. Kantong Sampel Kantong contoh batuan (kantong sampel) dapat digunakan kantong plastik yang kuat atau kantong jenis lain yang dapat dipakai untuk membungkus contoh-contoh batuan dengan ukuran yang baik yaitu kurang lebih (13x9x3) cm. Sedangkan kertas label digunakan untuk memberi kode pada tiap contoh batuan sehingga mudah untuk dibedakan. Dapat juga menggunakan "permanent spidol" untuk meberi kode langsung pada kantong.

Komparator

Komparator dipakai untuk membantu dalam deskripsi batuan, misalnya komparator butir, pemilahan (sorting) atau prosentase komposisi mineral, maupun tabel-tabel determinasi batuan baik batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf, dan lain sebagainya. Buku Catatan Lapangan

Buku catatan lapangan atau biasa disingkat BCL bisa dibilang sebagai perlengkapan nomor satu yang tidak boleh lupa dibawa saat ke lapangan. Semua hal-hal penting di lapangan di catat di buku ini. Mulai dari data-data hasil pengukuran, sketsa, deskripsi, dan lain-lain ada di dalamnya. Beberapa orang menganggap buku catatan lapangan adalah nyawa seorang geologist. Jika buku ini hilang atau rusak, data-data lapangan yang sudah susah payah diperoleh pun akan hilang dan bisa dipastikan pekerjaan akan berantakan.

PERALATAN PEMETAAN GEOLOGI 1. Peralatan Lapangan Baku dan Penggunaaannya : Untuk pekerjaan lapangan, seorang pekerja geologi perlu melengkapi dirinya dengan peralatan pokok dan pendukung, peta-peta topografi terbaru dan sebagainya. Untuk pelaksanaan lapangan geologi, termasuk juga pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan, diperlukan peralatan baku seperti tersebut di bawah ini : 1. Kompas geologi : jenis kuadran (4 x 900) maupun jenis azimuth (0 - 360). 2. Peralatan GPS, untuk penentuan koordinat secara otomatis. 3. Palu geologi : berupa jenis palu batuan beku dan palu batuan sedimen. 4. Komparator butir. 5. Kaca pembesar : usahakan yang berkekuatan ganda (lOx dan 15x) atau (Sx dan 15x). 6. Peta topografi : usahakan dari edisi terbaru, dengan skala 1 : 12.500 atau 1 : 25.000. 7. Foto udara dan citra satelit yang meliput daerah yang akan dipetakan. 8. Clipboard. untuk menjepit peta lapangan, dilengkapi dengan plastik lebar untuk melindungi peta dari air hujan. 9. Larutan asam chlorida (HCI Oj n) secukupnya isikan pada botol yang praktis dipakai, tidak mudah pecah maupun tumpah, contohnya botol plastik bekas tempat obat mata. 10. Pita ukur dari logam atau plastik 2 atau 3 meter. 11. Jacob Staff (1,5 m dengan klinometer). 12. Kantong-kantong plastik untuk tempat contoh batuan. 13. Tas lapangan yang tahan air. 2. Peralatan tulis dan sejenisnya, terdiri dari : a. Buku Catatan Lapangan (Field Notes). b. Pensil H dan HB Karet penghapus. c. Pensil benvarna, sedapat mungkin lebih dari 12 warna. d. Spidol besar waterproof, 1 atau 2 warna. e. Penggaris segitiga. f. Penggaris panjang (30 cm). g. Busur derajat (siapkan sekurang-kurangnya 2 buah). h. Jangka besar. i. Peruncing pensil.

j. Kalkulator, usahakan yang memiliki kemampuan statistis clan trigonometris. k. Plester untuk memberi label pada contoh batuan. 3. Peralatan pribadi, terdiri dari : a. b. Tas pinggang. Peralatan makan : terdiri dari ompreng makan dan tempat air minum (veldples atau botol plastik). c. Pisau saku.

d. Jas hujan : sebaiknya tipe ponco. e. Kotak PPPK kecil : berisi obat untuk untuk luka kecil atau gigitan serangga di lapangan maupun obat-obat pribadi. f. Kamera dengan film secukupnya.

g. Peralatan hiburan yang layak untuk Kerja Lapangan, misainya : radio kecil, walkman dll. 4. Kompas Geologi dan penggunaannya. Ada dua tipe kompas geologi yang dikenal, yaitu kompas empat kuadran dimana lempengan skala dibagi menjadi empat kuadran, kuadaran NE (North-East), NW (NorthWest), SW (South-West) dan SE (South-East), masing-masing besamya 0 0 s/d 90 diukur dari North (Utara) dan South (Selatan) balk ke arah East (Timur) maupun West (Barat). Sedangkan tipe yang kedua adalah kompas tipe azimuth atau tipe 360 , dimana lempengan skala dibagi menjadi 360 diukur dari North ke East. a. Koreksi Deklinasi. Karena jarum kompas adalah jarum magnet, maka arah utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas adalah arah utara magnetik. Arah utara magnetik ini tidak berimpit dengan arah utara sebenarnya (arah utara geografis). Mereka membentuk sudut yang besarnya berbeda -beda dari suatu lokasi geografis dengan lokasi geografis lainnya, dan kadang berubah dari satu waktu ke lain waktu, meskipun lokasi geografisnya tetap. Perbedaan suclut ini dinamakan deklinasi. Supaya jarum kompas menunjukkan arah yang sesuai dengan arah utara geografis maka harus dilakukan koreksi deklinasi. Misalkan, besamya harga deklinasi di daerah Bojonegoro pada tahun 1930 adalah 2 15'E dan bertambah 3' setiap tahun. Keterangan tersebut dapat dibaca pada peta topografi yang digunakan. Jika kita akan bekerja di daerah itu pada tahun 1980, maka besarnya deklinasi adalah 2 15' + 50 x 3' = 4 45' E, artinya arah utara magnetik tedetak 4 45' di sebelah timur dari utara

sebenarnya (true north). Jadi lingkaran harus kita putar sehingga index pin menunjuk 4 45' di sebelah timur dari titik 0. b. Cara Membaca Arah. Arah dari suatu titik ke titik lain dapat dinyatakan dengan dua cara, tergantung jenis/tipe kompas geologi yang digunakan. Kedua cara tersebut adalah : Dengan hanya menggunakan satu mata angin yaitu North (N) memutar melewati East (E). Setelah arah diukur dengan cara tersebut, ditulis dengan notasi N E (misalnya N 45 E, N 100 E, N 286 E). Arah yang diukur dengan metode ini disebut sebagai dinamakan Azimuth, besarnya 0 s/d 360. Penulisan arah Azimuth dinyatakan dengan NE, maksudnya pengukuran mulai dari arah North ke East, misainya N 160 E, N 340" E, N 150" E dan sebagainya. Perhatikan, NE disini tidak menunjukkan kuadran North-East. Kompas geologi yang digunakan juga disebut sebagai kompas tipe azimuth (360). Kompas geologi dari Eropa dan Jepang pada umumnya dibuat mengikuti tipe ini. Dengan menggunakan empat mata angin, yaitu North, East, South dan West. Arah-arah diukur dari : North ke arah East untuk yang berada pada kuadran NE, misalnya N 60 E, N 35 E dsb. , North ke arah West untuk yang berada pada kuadran NW, misainya N 45 W, N 25 W dsb. , South ke arah East untuk yang berada pada kuadran SE, misalnya S 12 E, S 6 E, dsb., South ke arah West untuk yang berada pada kuadran SW, misainya S 20 W, S 48 W. Dengan cara ini maka besamya arah hanya akan berkisar dari 0 0 - 90 0 saja. Kompas geologi yang digunakan dalam cara ini adalah kompas jenis empat kuadran, atau sering disebut sebagai kompas tipe Brunton. Kompas geologi buatan Amerika kebanyakan menggunakan sistem kuadran. Setiap ahli geologi harus dapat menggunakan kedua cara tersebut di atas sama baiknya, tergantung dari jenis kompas geologi yang digunakannya. Kedua cara tersebut tidak boleh dicampur aduk. c. Cara Menentukan Arah dengan Menembak (Shooting) Kalau kita berada di suatu tempat yang posisinya di peta tidak diketahui, tetapi dari tempat kita berada kita dapat melihat 1 atau lebih titik yang lokasinya di peta diketahui dengan tepat, misainya puncak bukit, perpotongan dua sungai dan sebagainya, maka lokasi tempat kita berada dapat ditentukan dengan jalan menembak (shooting) titik-titik yang sudah diketahui posisinya tersebut (dalam hal ini disebut sebagai target). Cara menembak dilakukan dengan

jalan mengarahkan kompas ke target, kemudian bacalah jarum selatan. Arah ini merupakan arah dari target ke penembak. d. Cara Mengukur Jurus dan Kemiringan. Ada beberapa cara dalam pengukuran jurus dan kemiringan lapisan batuan. Disini akan dijelaskan cara yang paling aman supaya tidak terbalik dalam membaca kemiringan. Terbaliknya penggambaran kemiringan dapat menimbulkan kesalahan yang serius. Cara pertama yang dibaca adalah arah dari jurusnya, sedangkan cara kedua yang dibaca adalah arah dari kemiringannya. Pengukuran dilakukan dari bagian atas lapisan, kalau yang tersingkap bagian bawah maka sambunglah bidang perlapisan tersebut dengan clipboard saudara dan pengukuran dilakukan di atas clipboard. Tempelkan sisi E dari kompas pada lapisan batuan sambil kompas dihorisontalkan dengan cara gelembung horisontal (horizontal bubble) diusahakan berada di tengah. Kalau kompas sudah horisontal bacalah ujung utara, maka arah ini adalah arah jurus dari lapisan. Arah kemiringannya adalah 90 dari arah ini searah jarum jam. Ukurlah besar kemiringan dengan klinometer. Caranya : kompas diletakkan miring pada sisinya yang ada skala klinorneter dalam arah tegak lurus, kemudian bacalah besarnya sudut kemiringannya. Jika arah kemiringannya yang dibaca maka: Pengukuran tetap dilakukan pada bagian atas lapisan batuan. Tempelkan sisi S dari kompas sambil kompas dihorisontalkan seperti pada cara pertama. Setelah kompas horisontal, bacalah ujung jarum utara, maka arah ini adalah arah kemiringan dari lapisan. Ukurlah besamya kemiringan dengan klinometer. Arah jurusnya tentu saja tegak lurus arah kemiringan tersebut. Kedua cara pengukuran jurus dan kemiringan yang telah diuraikan di atas berlaku untuk kompas empat kuadran maupun kompas azimut