Anda di halaman 1dari 12

SPESIFIKASI TEKNIS

PASAL 1 SEGI LINGKUP PEKERJAAN Lingkup Pekerjaan yang dimaksud dalam Rencana kerja dan syarat syarat ini meliputi segi lingkup pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana dalam pekerjaan Rehabilitasi Outlet Jubung yaitu meliputi : Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Tanah dan Urugan Pekerjaan Paving Pekerjaan Pasangan Pekerjaan Beton Pekerjaan Plesteran / Benangan Pekerjaan Atap Pekerjaan Lantai Pekerjaan Plafond Pekerjaan Cat-catan Pekerjaan Instalasi Listrik

PASAL 2 PERATURAN TEKNIS UMUM.

Untuk pelaksanaan pekerjaan ini digunakan lembar-lembar ketentuan ketentuan dan Peraturan seperti yang tercatum dalam Normalisasi Indonesia ( NI ), Standart Industri Indonesia ( SII ) dan Peraturan Peraturan Nasional lainnya yang termasuk segala perubahan-perubahannya hingga kini, antara lain seperti : a. Pedoman Pelaksanaan APBD / PERPRES NO. 54 Tahun 2010. b. Peraturan Beton Indonesia SKSNI T15 1991 - 03 c. Peraturan Muatan Indonesia PMI-NI -18-1970. d. Peraturan Semen Portland Indonesia (NI.8-1970). e. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI ) 1971. f. Standart Industri Indonesia ( SNI ). g. Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia (PUIL) 1987. h. Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI.3-1972). i. Pedoman Plumbing Indonesia 1979. j. Peraturan Perburuhan Indonesia (tentang pengerahan tenaga kerja) antara lain tentang larangan memberi kesempatan kerja kepada anak-anak dibawah umur. k. Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum KEP. 174/MEN/ 86, Tanggal 4 maret 1986 104/KPTS/1986 tentang : Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada tempat kegiatan konstruksi. l. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1990, tanggal 15 Desember 1990 Tentang : Pertambangan bahan galian golongan C di Propinsi Jawa Timur galian

m. Surat Gubernur Nomor : 188/18274/104/1993, tanggal 27 Desember 1993. Tentang : Petunjuk teknis pemungutan retribusi hasil produksi pertambangan bahan golongan C di Propinsi Jawa Timur.

n. Peraturan Pemerintah Daerah No.12 tahun 2006 dan Peraturan Bupati No.49 tahun 2006 tentang Ijin Mendirikan Bangunan ( IMB )

PASAL 3 PENJELASAN RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT 3.1. Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini beserta gambar kerjanya digunakan sebagai pedoman dasar ketentuan dalam melaksanakan pekerjaan ini. Gambar gambar detail merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini. Jika terdapat perbedaan perbedaan antara Gambar kerja dengan Rencana Kerja dan Syarat ini, maka Pemborong menanyakan secara tertulis kepada Perencana/ Direksi dan Pemborong diwajibkan mentaati keputusan Perencana / Direksi yang bersangkutan. Jika ada perbedaan antara gambar rencana dan gambar detail, maka gambar detail yang dijadikan acuan. Apabila ukuran-ukuran jumlah yang diperlukan dan bahan-bahan yang dipakai dalam Spektek tidak sesuai dengan gambar, maka Spektek yang diikuti. Bila terdapat skala gambar dan ukuran gambar tidak sesuai, maka ukuran dengan angka yang diikuti. Sebelum melaksanakan pekerjaan rekanan diharuskan meneliti kembali semua dokumen yang ada ( Gambar Kerja dan Syarat-syarat ) untuk disesuaikan dengan Berita Acara Rapat Penjelasan. PASAL 4 PEKERJAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN

3.2.

3.3. 3.4. 3.5. 3.6.

Pekerjaan Persiapan terdiri dari : 4.1. Keadaan Lokasi Kontraktor yang memenangkan lelang tidak berhak mengadakan complain apapun atas keadaan lokasi proyek. Jadi kontraktor diwajibkan meninjau lokasi proyek, sebelum menghitung anggaran penawaran/biaya. 4.2. Pembersihan lapangan/lokasi proyek Sebelum melaksanaan pekerjaan Pengukuran dan lainnya kontraktor terlebih dahulu melaksanakan pekerjaan pembersihan perlu di perhatikan adalah : Pembersihan lapangan sampai memenuhi syarat untuk memulai pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Kontraktor sebelum melaksanakan pekerjaan terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan pihak pemakai/user, Pihak Proyek dan Pihak Konsultan Pengawas tentang letak bangunan sementara (bowkeet), bahan-bahan bangunan, jalan masuk dan sebagainya. 4.3. Penyediaan tempat penimbunan Material dan Direksi kit. Untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan kontraktor harus menyediakan Direksi kit, kantor untuk pelaksanaan lapangan, gudang material yang memadai lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan. Lokasi tempat penimbunan material, Direksi Kit, dll harus diperhatikan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelancaran pekerjaan pelaksanaan. Segala biaya yang digunakan untuk pembuatan Direksi kit/tempat penimbunan material menjadi tanggung jawab pemborong. 4.4. Pengukuran/uitzetn dan pemasangan bowplank a. Ketetapan letak bangunan diukur dibawah pengawasan konsultan pengawas dengan piket/patok yang dipancang kuat-kuat dan tidak boleh dibongkar sebelum mendapat ijin dari konsultan pengawas. b. Kontraktor harus menyediakan pembantu yang ahli dalam cara-cara mengukur alat-alat penyipat datar (Teodholith/waterpass), prisma silang pengukuran menurut situasi dan kondisi tanah bangunan yang selalu berada dilapangan. c. Papan Bow Plank terbuat dari kayu meranti. Untuk patok dengan ukuran 5/7 serta penyipat datar dari papan ukuran 2/20 yang bagian atasnya diserut/diketam hingga merupakan garis lurus, dipasang pada bagian luar galian pondasi dengan jarak dari as galian 1,5 meter atau sesuai keadaan dengan ketinggian sesuai peil/duga lantai yang telah ditentukan pada gambar pelaksanaan. d. Duga lantai + 0.00 (permukaan) pada bangunan ditetapkan +0.50 dari muka tanah atau ditentukan kemudian dalam rapat Uitzetn.

e. Bila terjadi ketidak sesuaian antara batas-batas letak tanah yang tersedia dengan apa yang tertera didalam gambar, maka kontraktor harus segera memberitahukan secara tertulis kepada pemimpin proyek dan direksi untuk mendapat keputusan. PASAL 5 PEKERJAAN TANAH Pekerjaan Tanah meliputi : 5.1. Pelerjaan Galian : Pekerjaan ini meliputi penggalian tanah untuk pondasi. Galian pondasi harus dibuat sedemikian rupa sehingga terhindar dari bahaya longsor antara lain ; 1) Semua penggalian harus dikerjakan sesuai dengan panjang, kedalaman dan kemiringan dan lingkungan yang diperlukan, adapun untuk pemindahan tanah tidak dibutuhkan lagi maka galian tanah tersebut akan digunakan baik untuk urugan atau dibuang tergantung instruksi konsultan pengawas. 2) Galian tanah dilaksanakan untuk semua pasangan pondasi dan pasangan lainnya dibawah tanah seperti pasangan rollag harus dilakukan sesuai rencana gambar. 3) Pada bagian-bagian galian yang dianggap yang mudah longsor, kontraktor harus mengadakan tindakan pencegahan dengan memasang papan-papan penahan atau cara lain. Kerusakankerusakan yang terjadi akibat gugurnya tanah dengan alasan apapun menjadi tangggungan kontraktor. 4) Besarnya galian disesuaikan dengan gambar perencanaan yang telah ada. Bila ada ketidak jelasan yang berkaitan dengan pekerjaan galian maka Kontraktor wajib meminta penjelasan pada Pihak Direksi/Pihak Konsultan Pengawas. 5) Pemborong harus menyediakan mesin-mesin pompa yang siap dipakai untuk menguras genangan air akibat hujan, air sumber atau sebab-sebab lain (parit pondasi harus dikerjakan dalam keadaan kering). 5.2. Pekerjaan Urugan: Hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan urugan antara lain : 1) Jika Direksi menganggap galian pondasi sudah cukup/sesuai gambar maka selanjutnya dilakukan urugan dengan pasir urug dan ditumbuk hingga padat. 2) Urugan samping pondasi seluruhnya dilaksanakan dengan urugan tanah dan dipadatkan hingga padat. 3) Urugan Pasir Bawah pondasi dilaksanakan dengan ketebalan 10 cm, pemadatannya dilakukan lapis demi lapis hingga mendapatkan lapisan pasir yang padat. 4) Urugan pasir dibawah lantai ditentukan setebal 10 cm, sebelum penghamparan pasir terlebih dahulu permukaan tanah dasar dipadatkan dengan alat penumbuk, kemudian pasir dihamparkan secara merata pada permukaan tanah yang sudah dipadatkan lalu disiram air sampai jenuh sehingga butir-butir pasir saling bersinggungan satu sama lain. 5) Pasir Urug yang dipakai untuk urugan bawah lantai dan bawah pondasi harus bersih dari semua kotoran yang dapat mengganggu. gambar perencanaan yang ada. Hal hal yang menyimpang akan diperhitungkan sebagai 6) Urugan tanah kembali dilakukan setelah keseluruhan pasangan pondasi terpasang sesuai dengan pekerjaan tambah atau kurang. PASAL 6 PEKERJAAN PAVING 6.1 Bahan ubin/ lantai a. Lantai halaman menggunakan paving stone tebal 8 cm warna, bentuk di sesuaikan dengan permintaan Direksi dan User b. Pada tepi pemasangan paving ditutup dengan kanstein beton, bentuk di sesuaikan dengan permintaan Direksi dan User c. Perbaikan lantai trotoar menggunakan rabat beton dengan komposisi campuran 1pc:3psr:5krl Cara pemasangan : a. Sebelum pekerjaan lantai dilaksanakan, Kontraktor harus mengadakan persiapan yang baik, terutama pemadatan pasir urug ( dibawah lantai ).

6.2

b. Sebelum memasang paving permukaan lantai harus dibersihkan dari segala kotoran, khususnya bahan bangunan. c. Celah antara paving lebarnya 2 mm dan setelah cukup kering disiram pasir halus. d. Paving dan kanstein yang cacat tidak boleh dipasang dan permukaan lantai harus rata, rapi dan bersih. PASAL 7 PEKERJAAN PASANGAN PONDASI 7.1. Lingkup Pekerjaan : 1) Pekerjaan pembuatan pondasi meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan material untuk pekerjaan tersebut dan perlengkapan serta alat bantu yang diperlukan. 2) Pondasi yang dilaksanakan meliputi : pondasi batu kali dan menerus dengan dimensi sesuai dengan gambar. 3) Dengan Campuran 1PC : 4PP untuk pasangan pondasi batukali 4) Dimensi ukuran untuk pekerjaan pondasi di sesuaikan dengan Gambar. 7.2. Pedoman Pelaksanaan : 1) Sebelum dilaksanakan pekerjaan pondasi maka Kontraktor harus mengadakan pengukuran untuk as-as pondasi sesuai dengan gambar-gambar kontruksi dan harus dimintakan persetujuan Direksi / Pengawas Lapangan, selanjutnya hasil pengukuran diberi notasi yang tidak mudah hilang dan penempatannya muda dibaca. 2) Kontraktor diwajibkan memberikan laporan kepada Direksi / Pengawas Lapangan, bila ada perbedaan gambar-gambar antara gambar konstruksi dengan gambar arsitektur atau bila ada halhal yang kurang jelas. 7.3. Jenis Pondasi Batu Kali yang digunakan : a. Pondasi batu kali menggunakan spesi 1PC : 4PP dipasang diatas pasangan batu kosong ( anstamping ); diatas pondasi batu kali diberi sloof beton untuk meratakan penyebaran beban dari atas. Dibawah pondasi batu kali diberi pasangan batu kali kosongan ( anstamping ) kemudian diurug pasir dan disiram hingga padat. Sedang pada berdirinya kolom beton praktis memakai campuran spesi 1 pc : 3 psr sedalam 30 cm dari permukaan pondasi. b. Pekerjaan pasangan pondasi batu kali, menggunakan batu belah yang kuat dan tidak keropos dengan persetujuan Direksi/konsultan pengawas dan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana Bagian bawah pondasi dipasang lapisan batu kosong (Aanstamping ) tebal 20 cm dengan selaselanya diisi dengan pasir urug dan disiram dengan air hingga padat dan rata. Untuk pekerjaan pondasi foot plat meggunakan Campuran beton 1PC 2P : 3Krkl Sebelum memulai pekerjaan cor beton foot plat terlebih dahulu di pasang urugan pasir Tb. 10cm dan diteruskan dengan Cor beton Lantai kerja Tbl. 10cm. PASAL 8 PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN 8.1. Bahan : a. Semen Portland / PC. Semen untuk pekerjaan batu, batubata, dinding dan plesteran sama dengan yang digunakan untuk pekerjaan beton, yaitu kualitas dari salah satu produk. b. Pasir. Pasir yang digunakan harus pasir yang berbutir tajam dan keras. Kadar lumpur yang terkandung dalam pasir tidak boleh lebih besar dari 5 %. Pasir harus memenuhi persyaratan pubb 1970 atau NI-3. c. Batu bata ( batu merah ). Batu merah harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang-bidang sisinya harus datar / rata, tidak menunjukan retak-retak, pembakarannya harus merata dan matang. Batu merah tersebut ukurannya harus sama, keluaran dari satu tempat pembakaran dan memenuhi persyaratan NI - 10 dan PUBB 1970. Pekerjaan pasangan dinding batu merah harus menggunakan bata kwalitas baik dengan persetujuan Direksi/ Konsultan pengawas, dilaksanakan sesuai gambar rencana dengan spesi 1Pc : 3 Psr untuk pasangan trasram, sedang pasangan batu merah biasa 1 Pc : 8 Psr, kemudian diplester dengan campuran 1Pc : 3 Psr untuk pasangan trasram, dan pasangan batu merah biasa 1 Pc : 8 Psr. Sebelum dipasang semua bata harus direndam/disiram air hingga jenuh selanjutnya batu bata harus basah/disiram bila akan dipasang.

c. d. e.

Pekerjaan pasangan batu bata dan plesteran dengan perekat 1 Pc : 3 Psr meliputi bagianbagian: Pasangan bata dari permukaan balok sloof sampai 30 cm diatas lantai. Pasangan bata yang langsung menempel pada kusen ataupun beton. Semua pasangan bata yang langsung berhubungan dengan air. Permukaan beton/expused sudut tembok (Benangan) dan pinggiran tembok digunakan spesi 1 Pc : 2 pasir. Pasangan harus terpasang tegak lurus, dengan batas ketinggian untuk tiap kali pemasangan bata 1.00 m. 1. 2. 3. 4.

8.2.

Macam-macam adukan : a. Adukan untuk pasangan dan plesteran dibuat dengan macam-macam perbandingan campuran seperti tersebut dibawah ini : No 1 Perbandingan 1 pc : 3 psr Penggunaan 1. Pasang trasram yang kedap air diatas sloof s/d 30 cm diatas nol lantai (sesuai dengan gambar). 2. Pasangan Rollag 3. Plesteran dinding batu bata point 1 juga plesteran penutup pekerjaan beton pada daerah kedap air. 4. Pasangan dan plesteran genteng bubung. 1. Pasangan tembok kedap air 2. Plesteran tembok tidak kedap air.

1 pc : 8 psr

8.3.

Syarat-syarat pelaksanaan : a. Pemasangan batubata : Batu bata yang akan dipasang harus direndam kedalam air hingga jenuh dan sebelum dipasang harus bebas dari segala jenis kotoran. Cara pemasangannya tidak boleh bareh (sambungan batu bata dalam satu garis lurus dengan sambungan diatasnya), dan batu bata yang pecah tidak boleh melebihi 10 %. Pemasangan dalam 1 hari tidak melebihi dari 1 meter tingginya. Untuk pasangan setengah batu yang luasnya lebih dari 12 m2 harus diberi kerangka penguat dari beton bertulang dengan pembesian tulang utama 4 10 mm dan beugel 8 - 20 cm. Pemasangan batu bata tidak boleh diterobos perancah. b. Plesteran dinding dan sponeng / plesteran sudut : Semua dinding yang diplester harus bersih dari kotoran dan sebelum pemasangan disiram dengan air dan dibuat kepala plesteran ( klabangan ) dengan tebal sama dengan ketebalan plesteran yang direncanakan. Tebal paling sedikit 1,5 cm dan paling tebal 2 cm, plesteran yang baru saja selesai tidak boleh langsung difinis / diondrong / diselesaikan. Penyelesaian plesteran menggunakan pasta semen yang sejenis. Selama proses pengeringan plesteran harus disiram dengan air agar tidak terjadi retak-retak sesuai dengan daftar. rambut akibat proses pengeringan yang terlalu cepat dan campuran yang dipergunakan harus Semua pekerjaan plesteran harus rata dan halus dan merupakan bidang yang tegak lurus dan siku (90) tidak terjadi retak-retak, jika terjadi retak pemborong harus segera memperbaikinya. Pekerjaan plesteran tembok dilaksanakan pada seluruh pekerjaan tembok baik yang tampak langsung maupun tidak langsung antara lain pasangan tembok diatas langit-langit, tembok gevel bagian dalam dan lain sebagainya. PASAL 9 PEKERJAAN BETON BERTULANG

9.1 Lingkup Pekerjaan : a. Bagian ini mencakup segala sesuatu yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan beton sesuai dengan spesifikasi teknis. b. Pekerjaan yang tercakup dalam bagian ini adalah :

Bahan, Upah dan dan peralatan untuk mengaduk, memasang, cetakan, pembesian, penyelesaian pemeliharaan. Pengadaan, detail, fabrikasi, dan pemasangan, cetakan, pembesian, penyelesaian pemeliharaan. Perencanaan, Pelaksanaan dan Pembongkaran cetakan-cetakan beton. Penyelesaian dan pemeliharaan beton. Semua jenis pekerjaan yang menunjang pekerjaan beton termasuk pengangkutan, penyimpanan bahan-bahan. Penyediaan alat bantu, seperti : 1. Alat pengaduk semen (beton molen). 2. Alat penggetar beton (Vibrator). 3. Pompa air 9.2 Syarat-syarat Umum : a. Persyaratan-persyaratan konstruksi Beton, istilah teknik serta syarat-syarat pelaksanaan beton secara umum menjadi satu kesatuan dalam bagian dokumen ini. b. Kecuali tercantum lain dalam spesifikasi ini maka semua pekerjaan beton harus sesuai dengan standart dibawah ini: b.1. Standarat Industri Indonesia. b.2. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (SKSNI T15 - 1991 - 03). b.3. Peraturan Muatan Indonesia tahun 1970 NI 18 b.4. Peraturan Tahan Gempa 1982. b.5. American Society For Testing & Material (ASTM). c. Semua material yang digunakan harus mendapat persetujuan dari direksi lapangan. 9.3 Syarat-syarat Bahan : a. Air. Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang diminum. b. Semen : Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI-8 tahun 1972 dan memenuhi S-400 menurut Standart Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran. Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak mengeras. Tempat penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 cm. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman. c. Pasir Beton Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam PBI-1971. d. Kerikil : Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam PBI 1971. tercampur untuk menjamin adukan beton dengan komposisi material yang tepat. kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak e. Penimbunan Besi Beton (Baja Tulangan) : Besi beton yang digunakan adalah besi beton polos dengan mutu U-24 (tegangan leleh karakteristik minimum 2400 kg/cm2), ukuran dan jumlah besi yang dipakai disesuaikan dengan gambar detail struktur. Kontraktor harus dapat memberikan sertifikat dari pabrik besi beton yang menyatakan bahwa kekuatan besi beton tersebut sesuai dengan spesifikasi. Baja tulangan dengan mutu meragukan harus diperiksa di lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui. Seluruh biaya untuk itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemborong. Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di udara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan harus diminta persetujuan Direksi terlebih dahulu. Jika Pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan: 1. Harus ada persetujuan Direksi

Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas penampang). Biaya tambahan yang diakibatkan oleh penukaran diameter besi menjadi tanggung jawab pemborong.

f. Cetakan dan Acuan :

Begisting harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak ada perubahan bentuk nyata dan cukup dapat menampung beban sementara sesuai dengan jalannya kecepatan pembetonan. Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Bahan begisting dapat berupa papan kayu klas II dengan permukaan halus dan rata atau dengan menggunakan Multiplek tebal 12 mm. Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari Direksi Lapangan. Pembongkaran Begisting harus hati-hati sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan cacat pada permukaan beton, tetap dihasilkan sudut-sudut yang tajam dan tidak pecah. Bekas cetakan yang terpendam dalam tanah harus dicabut dan dibersihkan sebelum dilaksanakan pengurukan tanah kembali.
g. Mutu Beton.

Mutu beton yang digunakan adalah kekuatan Beton K-175 kg/cm2. h. Peralatan Pekerjaan Beton Minimal harus tersedia peralatan sebagai berikut : Beton Molen (concrete mixer) Alat Penggetar beton (vibrator) Dan lain-lain yang dianggap perlu dalam keadaan siap pakai dan jumlah yang cukup. j. Admixtures (Bahan tambahan). Untuk pembetonan pada umumnya tidak diharuskan menggunakan admixtures, kalau diperlukan diusulkan kepada Konsultan Pengawas. 9.4 Macam Pekerjaan Beton Meliputi : 1. Pekerjaan Pondasi Telapak 2. Pekerjaan Sloof 15 x 20 Cm 3. Pekerjaan Kolom 15 x 15 Cm, 20 x 20 Cm 4. Pekerjaan Balok Ring 11 x 15 Cm, 15 x 20 Cm 5. Pekerjaan Balok Latei 15 x 25 Cm 6. Pekerjaan Plat Kanopi Tebal 8 Cm 7. Pekerjaan Rabat Beton 1Pc : 3Psr : 5 Krl 8.5 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Pekerjaan Beton : a. Pengerjaan Beton bertulang disesuaikan ukuran dan perletakannya dengan gambar. Semua pekerjaan beton bertulang harus mengikuti SKSNI T15-1991-03. Pembesian kolom beton harus dilaksanakan sesuai gambar dengan penulangan yang ada dan apabila digambar kurang jelas harap dikonsultasikan terlebih dahulu pada pengawas. b. Pekerjaan beton bertulang terdiri dari pembuatan campuran adukan beton sesuai dengan mutu beton yang diinginkan, mengangkut adukan, membuat cetakan/ begesting/acuan, mengecor merawat beton, membongkar cetakan setelah waktu yang ditentukan dan memelihara beton sampai dengan proses pengerasan sehingga beton mencapai spesifikasi yang ditentukan. c. Sebelum adukan beton dituangkan/dicor, kayu-kayu begisting harus bersih dari kotoran-kotoran, minyak, benda-benda terlebih dahulu secepatnya. d. Pengadukan beton baru dilakukan dengan mesin pengaduk beton (beton molen) selama sekurang-kurangnya 5 menit setelah semua agregat dimasukkan dalam drum pengaduk. e. Pengecoran suatu unit atau bagian dari pekerjaan harus dilanjutkan tanpa berhenti atau tidak boleh terputus tanpa adanya persetujuan dari Direksi/ Konsultan pengawas. f. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton pada bagian utama dari pekerjaan, pemborong harus memberitahukan kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuannya, sehingga setiap pekerjaan pengecoran beton harus dapat ijin tertulis dan mendapat pengawasan dari Direksi/Konsultan Pengawas. PASAL 10 PEKERJAAN KAYU 10.1. Lingkup pekerjaan : a. Meliputi penyediaan secara lengkap akan tenaga, alat-alat dan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan kayu ( kasar dan halus ) dalam hubungannya dengan gambar. b. Pekerjaan kayu ini meliputi : 1) Pekerjaan kusen, daun jendela dan pintu 2) Pekerjaan begesting beton. 10.2. Kualitas, kelembaban dan pengawet / pelindung kayu : a. Kualitas :

Semua kayu untuk jenis yang ditentukan harus dari kualitas yang baik, tidak ada getah, mata kayu yang lepas atau mati, susut pinggir-pinggir, bekas dimakan bubuk dan cacat-cacat lainnya. b. Kelembaban : Kelembaban untuk pekerjaan kayu halus 15 %, untuk pekerjaan kayu kasar harus kurang dari 15 %. 10.3. Jenis kayu : a. Sebelum kayu terpasang contoh kayu harus dikirimkan terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan Direksi / Pengawas Lapangan. b. Kayu yang dipakai pada bangunan ini jenis meranti dan diterapkan antara lain pada : 1) Pekerjaan bouwplank. 2) Tiang-tiang untuk uitzent. 3) Papan cetakan untuk beton bertulang. 10.4. Ukuran kayu : Semua ukuran dalam gambar adalah ukuran jadi, yaitu ukuran kayu setelah dikerjakan dan terpasang, adapun untuk batas toleransi diperkenankan maximum (tidak lebih ) dari 3 mm. Ukuran-ukuran kayu pada umumnya : NO 1 2 3 4 5 KEGUNAAN KAYU PADA Papan bouwplank Kusen + daun jendela Kuda kuda Gording Usuk dan reng Steiger bouwplank dan begisting UKURAN DALAM CM 2/20 6/15,3/8 dan 4/10 8/12,6/12 5/7,2/3 5/7 KETERANGAN Kayu Klas 3 Kayu Klas 2 Kayu Klas 2 Kayu Klas 2 Kayu Klas 3

10.5. Pelaksanaan pekerjaan : a. Kontraktor pelaksana pekerjaan harus melaksanakan pekerjaan : 1) Mempasak, memahat, menyetel, memotong, menyerut, menyeponing dan lain-lain pekerjaan yang diperlukan untuk penyambungan kayu dengan baik. 2) Menyediakan peralatan-peralatan yang ada kaitannya dalam kegiatan yang dimaksud diatas, termasuk dalam penempatan plat-plat logam , skrup, baut, paku-paku dan lain-lain sehingga didapat hasil pekerjaan kayu yang memenuhi persyaratan yang diinginkan. 3) Memenuhi persyaratan PKKI tahun 1961. PASAL 11 PEKERJAAN LANGIT-LANGIT/PLAFOND 11.1 Lingkup Pekerjaan 1. Pengerjaan kerangka plafond /hanger yang baru menggunakan bahan dari kayu klas 2 6/12 dan 5/7. 2. Pengerjaan langit-langit Eternit dan konstruksi penggantungnya dikerjakan sedemikian rupa, sehingga pemasangan dan penempatannya sesuai dengan yang tercantum pada gambar. 11.2 Bahan / Produk Eternit adalah Cap Kerang atau sekualitas. 11.3 Pelaksanaan pekerjaan Rangka plafond baru dan lama : 1. Pemasangan Kerangka Plafond menggunakan kayu klas 2 6/12 dan 5/7 dengan jarak sesuai dengan gambar. 2. Rangka plafond digantung pada plat lantai dan atap beton, dengan penggantung menggunakan seperti tertera dalam gambar. 3. Kayu-kayu yang digunakan sebagai rangka plafond harus diserut rata pada sisi 4. Pemasangan Langit-langit a. Bahan penutup plafond ruangan yang digunakan adalah Eternit merk Cap Kerang atau sekualitas. b. Pemasangan plafond gypsum dipasang pada tempat yang ditunjukkan pada gambar. 11.4 Pada serah terima pertama kontraktor menyediakan lima lembar Eternit sebagai reserve.

BAB 12 PEKERJAAN PENUTUP ATAP 12.1 Umum a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan enutup atap dan talang untuk bagian bangunan tertentu seperti yang dijelaskan dalam gambar rencana. b. Standart. PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia 1982 (NI-3). SII : Standart Industri Indonesia.

12.2 Lingkup Pekerjaan. a. Pemasangan penutup atap lengkap dengan segala accesoriesnya, paku, skrup, atau pengait lainnya dan pekerjaan lain yang berhubungan , sesuai gambar. b. Bahan / Materal. - Bahan Utama : Asbes Gelombang, spesifikasi yang tercantum sesuai gambar rencana. - Mutu : Kualitas 1 (satu) mempunyai warna yang sama antara satu dengan yang lainnya, kekuatan bahan lentur dan berat per buah sesuai spesifikasi pabrik dan dibuktikan dengan dokumen Hasil Uji Kualitas (Mutu 1) 12.3 Pelaksanaan Pekerjaan. a. Sebelum mendatangkan asbes gelombang harus mengajukan contoh terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari Pihak Direksi. b. Sebelum pemasangan penutup atap, Kontraktor harus memastikan bahwa gording telah terpasang dengan rata, kemiringan telah benar, jarak gording sesuai dengan gambar yang direncanakan. d. Pemasangan penutup atap, baik urut-urutannya maupun jarak overlapping dan toleransi yang diperkenankan harus sesuai dengan petunjuk yang dikeluarkan pabrik. e. Jarak pemasangan penutup atap dan pemotongannya diarea talang jurai agar seminim mungkin, agar tidak menggangu pandangan.
PASAL 13 PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK 13.1 Umum : a. Seluruh pekerjaan instalasi listrik dikerjakan menurut peraturan umum instalasi listrik tahun 1977 / peraturan PLN edisi terakhir dan standart- standart / kode lain yang telah diakui. b. Seluruh pekerjaan instalasi listrik yang dilaksanakan harus dikerjakan oleh sub Kontraktor instalatir yang dapat dipercaya, mempunyai referensi yang baik, telah terdaftar sebagai instalatir resmi PLN dengan mempunyai Klas B. didalam kegiatan proyek ini. Akibat yang menyangkut didalam proyek ini dikoordinir terlebih dahulu agar konflik satu sama lain dapat dihindarkan. c. Untuk kelancaran pekerjaan ini harus diadakan koordinasi dari seluruh bagian yang terlibat yang akan diambil sebagai patokan adalah yang mempunyai bobot tehnis atau mempunyai biaya yang paling tinggi. d. Kalau terjadi suatu hal saling bertentangan antara gambar atau terhadap spesifikasi tehnis, maka e. Bahan yang digunakan adalah sesuai yang diisyaratkan / digambar dalam keadaan baru tanpa cacat, pekerjaan harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli. Selanjutnya Kontraktor harus menyerahkan terlebih dahulu contoh-contoh dari bahan yang akan diterapkan disertai dengan daftar perinciaan bahan termasuk didalamnya mengenai penjelasan brosur / katalog, diajukan lengkap, tidak boleh sebagian-sebagian. 13.2 Lingkup yang dikerjakan : Pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Kontraktor meliputi menyelesaikan pekerjaan sampai menyala sebagai berikut : 1) Memasang titik-titik instalasi lengkap sebagaimana terdapat dalam gambar perencanaan (sampai menyala) 2) Memberikan keer listrik dari instalasi yang bersangkutan dengan disahkan oleh PLN lengkap dengan lampiran gambarnya. 3) Sudah melalui test dengan memakai generator set, kemudian titik lampunya dinyalakan semuanya. a. Saluran penghantar dalam bangunan : 1. Setiap pencabangan atau pengambilan saluran keluar harus menggunakan junction box yang sesuai dan sambungan lebih dari satu memakai terminal strip didalam Junction Box. 2. Instalasi skakelar dan stop kontak / out let. a. Skakelar dari merk vimar atau broco bentuk persegi 80 x 80 mm, bahan ebonit warna putih. Rating 6 10 ampere, dengan voltage 220 volt, pemasangan sistem tanam dalam tembok dan tempel pada didning partisi dengan ketinggian 150 s/d. 160 cm dari lantai, kecuali ditentukan lain oleh direksi. b. Kotak-kotak out let harus memenuhi persyaratan dan sesuai ketentuan PUIL. Tahun 1977, ave, dan kotak dalam berbentuk segi empat. c. Fixtures dan lampu : 1) Lampu TL, SL lengkap.

* Tegangan 220 Volt * Daya lampu 18watt dan 5 Watt * Merk dipilih : Phillips atau sekualitas. 2) Stop kontak, skakelar ganda dan skakelar tunggal merk vimar atau sekualitas broco. 13.3 Pengetesan : a. Bila akan diserahkan diperlukan pengetesan lokasi yang tidak ada daya listriknya, diadakan dengan dinyalakan semua lampu memakai generator, yang masa waktunya minimal 1 jam. Penyiapan generator oleh kontraktor yang bersangkutan. b. Menyerahkan jaminan instalasi listrik dari instalateur yang telah mempunyai sertifikat dari PLN dengan dilampiri sketsa yang diketahui oleh PLN setempat. Gambar instalateur harus disahkan / diketahui oleh pihak direksi. c. Hasil pengetesan dibuatkan berita acara yang ditanda tangani oleh pihak-pihak yang berkompeten dan merupakan lampiran berita acara penyerahan pekerjaan. d. Selama masa pemeliharaan dan masa pengetesan, maka pihak Kontraktor masih bertanggung jawab terhadap kelancaran ataupun keberhasilan dari pada pekerjaan yang dimaksud. 13.4 Poduk peralatan yang digunakan : No 1. 2. 3. 4. 5. Produk peralatan yang digunakan Kabel : NYY, NYM Fixture, armateur Balast, stater, lamp harder Tube, bola lampu Skakelar, stop kontak, grid switch Merk Kabelindo atau sekulitas Philip atau sekulitas Philip atau sekulitas Philip atau sekulitas Vimar / Broco atau sekulitas

a. Apabila selama proyek berjalan terjadi bahwa material yang disebutkan pada tabel material, tidak dapat diadakan dengan disertai alasan yang kuat maka pihak Direksi akan mempertimbangkan dengan suatu penggantian merk / type lain dengan melalui berita acara rapat perubahan dimana dalam pertemuan tersebut dibahas pula mengenai penambahan sangsi tertentu terhadap Kontraktor yang bersangkutan. b. Prinsip teknis instalasi penerangan adalah memakai kabel NYM dan NYY masuk dalam pipa PVC untuk kabel distribusi (ukuran sesuai gambar). c. Tidak diperkenankan adanya Splite / sambungan-sambungan pada out let atau kotak-kotak penghubung yang bisa dicapai ( accessible ). Dalam membuat Splite kenektor harus dihubungkan pada konektor yang baik, sehingga tidak ada kabel telanjang yang kelihatan konektor yang dibuat dari tembaga yang diisolasi oleh porselint atau vakilite atau pipa PVC yang diameternya disesuaikan diameter kabel. 13.5 Pentanahan (arde). 1. Pentanahan tanah maksimum 2 cm ground 5 ohm, ground rod harus terbuat dari tembaga atau copper clad steel dengan diameter tidak kurang dari 2 cm dan panjang 6 meter dan harus ditanamkan ke dalam tanah. 2. Sambungan pentanahan harus terletak pada kotak pemeriksaan untuk memudahkan pemeriksaan. 3. Pada setiap ground rod harus dibuat bak pemeriksaan sambungan dari down conductor ke elektroda pentanahan yang harus dapat dibuka untuk keperluan pemeriksaan. PASAL 14 PEKERJAAN LANTAI 15.1 Bahan ubin/ lantai a. Keramik 30 x 30 Cm Lantai Keramik 20 x 20 Lantai Km / Wc Keramik 20 x 25 Dinding Km / Wc 15.2 Cara pemasangan : e. Sebelum pekerjaan lantai dilaksanakan, Kontraktor harus mengadakan persiapan yang baik, terutama pemadatan pasir urug ( dibawah lantai ). f. Sebelum memasang keramik permukaan beton harus dibersihkan dari segala kotoran, khususnya bahan bangunan. g. Celah antara tegel keramik lebarnya 2 mm dan setelah cukup kering disiram pasta semen ( warna sesuai dengan warna ubin ). h. Tegel keramik yang cacat tidak boleh dipasang dan permukaan tegel keramik harus rata, rapi dan bersih.

PASAL 15 PEKERJAAN CAT-CATAN 15.1 Pekerjaan Cat-catan meliputi : a. Pekerjaan Mengecat dengan cat tembok pada dinding bagian luar dan dalam gedung, menggunakan cat tembok setara Catylac ICI atau sekualitas serta mendapatkan persetujuan Direksi/Pengawas dan warna ditentukan kemudian b. Pengecatan eternit dengan cat tembok c. Pekerjaan cat kayu dilaksanakan pada seluruh permukaan kayu -kayu yang tampak, menggunakan produksi setara EMCO. d. Permukaan kayu yang akan dicat terlebih dahulu dicat dengan cat meni, kemudian diplamir dan digosok dengan ampelas sampai halus dan rata, selanjutnya dicat dengan pengulangan sampai 3 (tiga) kali. e. Warna semua jenis, cat dan bahan huruf atau nomor pengenal akan ditentukan kemudian oleh Pemberi Tugas/ Pihak Direksi. 15.2 Bila hasil pengecatan tidak baik kualitasnya maka Pemberi Tugas / Pengawas berhak meminta pekerjaan cat diulang sampai mendapatkan kualitas yang baik.

PASAL 16 SERAH TERIMA PEKERJAAN DAN PEMELIHARAAN 16.1 Apabila dalam waktu pelaksanaan dalam kontrak atau tanggal baru akibat perpanjangan waktu sesuai dengan Addendum Kontrak telah berakhir, pemborong harus segera menyerahkan hasil pekerjaannya dengan baik dan benar sesuai dengan kontrak kepada Pemimpin Proyek secara tertulis dengan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan bersama pekerjaan pelaksanaan antara pihak-pihak yang bersangkutan, yaitu : Pihak Proyek diwakili pemimpin Proyek Kontraktor Pelaksana Konsultan Pengawas 16.2 Pemimpin Proyek akan mengadakan rapat proyek mengenai penyerahan pekerjaan tersebut diatas berdasarkan : 1. Kontrak Pemborongan. 2. Surat Penyerahanan pekerjaan dari Kontraktor. 3. Surat tanggapan dari pengawas, setelah dapat diterima penyerahan pekerjaan tersebut. 16.3 Pemborong harus menyisihkan (mengadakan) penyediaan bahan-bahan (reserve) antara lain : 1. Keramik sebanyak 1 m2. 2. Kalsiboard 1 lembar. 3. Cat Tembok sebanyak 1 kg ( 1 kaleng). 16.4 Terhitung mulai dari tanggal diterimanya penyerahan pekerjaan yang pertama, hingga serah terima yang kedua, adalah merupakan masa pemeliharaan yang masih menjadi tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya, antara lain : 1. Keamanan dan penjagaan. 2. Penyempurnaan dan pemeliharaan. 3. Pembersihan. 16.5 Apabila Kontraktor telah melaksanakan pekerjaan tersebut diatas sesuai dengan kontrak, maka penyerahan pekerjaan yang kedua dapat dilaksanakan seperti pada tata cara (prosedur) pada penyerahan pekerjaan yang pertama.

PASAL 17 P E N U T U P 1. Segala sesuatu pekerjaan apabila terdapat perbedaan antara Gambar dan Spektek maka Spektek sebagai pedoman atau dikonsultasikan kepada direksi/pengawas. 2. Bila dalam Spektek ini tidak disebutkan suatu perkataan atau kalimat dan merupakan bagian yang harus dikerjakan oleh pemborong maka pemborong wajib untuk mengerjakan. 3. Hal hal yang tidak tercantum dalam peraturan ini akan ditentukan lebih lanjut oleh Pemimpin Proyek, bila mana perlu diadakan perbaikan dalam Spektek ini.

Jember, 06 September 2013 CV. BINA KARYA

WINDI FITRIA EKAWATI Direktris