Anda di halaman 1dari 51

35

BAB I PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang Proses produksi yang dilakukan oleh industri atau pun perusahaan perlu

kiranya dipelajari oleh mahasiswa atau akademis guna mengetahui secara pasti metoda produksi yang dilakukan industri tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengikuti lansung kegiatan yang dilkukan pada suatu industri atau yang lebih dikenal dengan Kerja Praktek ( KP) . Kerja Praktek Yang dilakukan oleh mahasiswa pada suatu industri merupakan program yang telah ditetapkan oleh lembaga perguruan tinggi dalam hal ini Fakultas Teknik Muhammadyah Sumatra Barat adalah suatu program yang bertujuan untuk membentuk mahasiswa yang terampil dan unggul serta mempunyai pengetahuan dan pengalaman terjun kedunia industri. Hal ini didasari pada kondisi Negara kita yang masih dilanda oleh krisis multi dimensi yang berujung pada krisis moral dan kepercayaan terhadap para pekerja Indonesia. Kalau kita lihat lebih jauh dan lebih dalam ternyata dunia industri ataupun perusahaan lebih memilih tenaga kerja yang terampil dan siap pakai. Hal ini wajar saja terjadi karena yang namanya perusahaan akan lebih cenderung memilih pekerja yang siap pakai dan terampil dalam bidangnya sehingga hanya butuh sedikit penyesuaian dan tidak terlalu banyak membutuhkan biaya untuk melakukan pelatihan atau training. Hal diatas merupakan suatu tantangan bagi calon pencari kerja yang akan mengisi posisi peluang kerja di industri untuk memenangkan kompetensi yang sangat ketat dimasa yang akan datang. Maka diperlukan suatu persiapan khusus yang akan menjadi bekal bagi calon lulusan Fakultas Teknik Muhammadyah Sumatra Barat dalam menghadapi persaingan tersebut dan salah satunya melalui Kerja Praktek Kerja Praktek merupakan program wajib yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Teknik Muhammadyah Sumatra Barat yang telah berada pada semester enam dan merupakan syarat dalam pembuatan Tugas Akhir mahasiswa. Melalui Kerja Praktek inilah diharapkan mahasiswa mendapatkan suatu pengalaman dan menerapkan ilmu yang didapatkan dibangku kuliah sehingga akan terjadi suatu korelasi dan sinkronisasi antara ilmu yang didapatkan tersebut kedalam bentuk pengaplikasiannya di dunia industry.

35

2.

Maksud dan Tujuan Adapun maksud dari Kerja Praktek adalah suatu kegiatan praktek yang

dilakukan pada dunia industri atau perusahaan yang pada dasarnya bertujuan agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman tentang dunia industri tersebut dan gambaran jelas mengenai baik prosesnya ataupun sebuah pengalaman baru. Pengalaman dan informasi yang didapat selama melakukan kegiatan Kerja Praktek dapat dijadikan sebagai penopang setelah mahasiswa terjun kedunia industri kerja. Pada dasarnya kegiatan Kerja Praktek mempunyai dua tujuan yakni tujuan umum dan tujuan khusus.
1. 1.

Tujuan Umum Melihat, memahami dan mengetahui secara lansung penerapan ilmu yang didapat pada bangku kuliah terhadap dunia industri.
2.

Mengetahui kendala dan permasalahan yang timbul dalam dunia industri serta mencarikan solusi atau pemecahannya. Membiasakan diri berdisiplin dan bermasyarakat sesuai dengan ketentuan yang ada pada dunia industri. Menjalin kerja sama yang baik antara Sumtra Barat dengan dunia industry. Fakultas Teknik Muhammadyah

3.

4.

1. 1.

Tujuan Khusus Mengetahui secara lansung prinsip kerja pelaksanaan perawatan dan perbaikan yang dilakukan oleh dunia industri.
2.

Mengetahui metode perbaikan yang dilakukan pada batasan waktu tertentu yang perlu dilakukan perbaikan. Bisa berfikir dengan wawasan manajemen yang luas dengan orang lain dari berbagai bidang keahlian.

3.

1.

Tujuan KP ( Kerja Praktek ) Materi Kerja Praktek untuk program konsentrasi produksi secara umum adalah

sebagai berikut :
A.

Mengetahui jenis-jenis mesin produksi dan fungsi-fungsi mesin-mesin produksi tersbut. Mengetahui struktur oraganisasi perusahaan tempat Kerja Praktek. Mempelajari sistem kerja mesin-mesin produksi yang ada di perusahaan.

B. C.

35

D. E. F.

Mengetahui jenis-jenis pekerjaan yang dikerjakan di perusahaan. Ikut andil dalam melakukan proses pekerjaan. Dapat menggunakan perlengkapan keselamatan kerja dengan tepat dan benar dalam melakukan pekerjaan. Dasar Pemikiran

I.3
1)

Kurikulum Program Diploma S-1 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Muhammadyah Sumatra Barat yang mengacu pada pendidikan vokasi, yaitu dengan penerapan teoritis 45% dan 55% praktikum. Oleh karena itu perlu diadakan penerapan paktik langsung pada dunia industri.

2)

Program Kerja Praktek diharapkan mampu menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan yang bersifat akademis dengan penerapannya dalam dunia industri. Program Kerja Praktek akan dilaksanakan selama 1,5 bulan di

3)

dunia industri merupakan 1.4 Batasan Masalah

salah satu syarat kelulusan bagi seorang Ahli

Madya Fakultas Teknik Muhammadyah Sumatra Barat. Dalam Kerja Praktek adapun tugas khusus yang dibahas adalah PERAWATAN GEAR BOX yang terdapat pada KILN DAN COAL MILL V PT. Semen Padang. I.5 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu dan tempat pelaksanaan Kerja Praktek ini adalah pada Bagian Pemeliharaan mesin kiln dan coal mill V PT. Semen Padang, yaitu 16 Juli 2013 24 Agus 2013. I.6 Sistematika Penulisan Laporan Dalam laporan Praktek Kerja Lapangan ini, penulis menyusunnya atas beberapa Bab, yaitu sebagai berikut :
BAB I

Berisikan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, maksud, dan tujuan Kerja Praktek, batasan masalah, dan sistematika pembuatan laporan.

BAB II

Berisikan tentang tinjauan umum tentang perusahaan PT. Semen Padang, sejarah, proses produksi, struktur organisasi dan

35

perkembangannya serta produk yang telah dikelola oleh PT. Semen Padang. BAB III Berisikan tentang Proses Produksi sifat Semen Portland, Penyediaan Bahan Mentah, Proses Pembakaran, Pengantongan dan Packing Plan, biro workshop dan lainnya. BAB IV BAB V Berisikan tentang tugas khusus yang dalam hal ini membahas PERAWATAN GEAR BOX. Berisikan tentang penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

35

BAB II TINJAUAN UMUM PT. SEMEN PADANG 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT semen padang merupakan pabrik semen tertua di asia tenggara yang berada di propinsi sumatera barat, berjarak 15 km dari pusat kota padang, arah timur jalan raya padang-solok, pada ketinggian kurang lebih 200m di atas permukaan laut, dengan luas 630 ha. Awalnya, dua ilmuan belanda, Ir. Carl hristoper lau dan Ir. Koninjberg, menemukan batuan di daerah karang putih dan ngalau, yang diduga dapat dijadikan bahan baku pembuatan semen. Setelah diperiksa di laboratorium Voor material Landerzoeki di belanda menunjukkan bahwa batuan tersebut merupakan bahan baku semen, yaitu batu kapur (lime stone) dan batuan silica (silica stone). Hasil penelitian ini mengundang minat pihak swasta belanda untuk mengolah deposit bahan baku semen tersebut, sehingga pada tanggal 18 maret 1910 mereka mendirikan sebuah perusahaan semen dengan nama NV. Nederlandsch Indishe Portland Cement Maatschappij (NV.NIPCPM). a. Periode I Pabrik berdiri pada tanggal 18 maret 1910 di bawah kekuasaan belanda dengan nama NV. Nederlandsch Indishe Portland Cement Maatschappij (NV.NIPCPM). berkedudukan di amsterdam berdasarkan akye no. 358 tanggal 18 maret 1910 yang dibuat dihadapan notaris bernama johannes pieter smith. Akte maret 1910 yang dibuat dihadapan notaris bernama johannes pieter smith. Akte diumumkan dalam bijvoegsel tut de naderlandsche sttat courent no. 90 tanggal 19 april 1910. Produksi pertama 1911 sebanyak 76,5 ton/hari. Pada tahun 1939, pabrik mencapai produksi tertinggi sebesar 170.000 ton/tahun dengan menggunakan 4 kiln. b. Periode II (1942-1945) Ketika perang dunia ke 2, jepang menguasai indonesia sehingga pabrik diambil alih oleh manajemen Asano Cement. Saat ini produksi tidak berjalan lancar karena sulit mencari bahan penolong, terutama minyak pelumas. Pada tahun 1944 perusahaan ini di bom oleh sekutu dengan menghancurkan 3 kiln dan menewaskan banyak karyawan. c. Periode III (1945-1947) Bersamaan dengan kekalahan jepang dari sekutu pada tahun 1945, pabrik di ambil alih oleh karyawan. Dan selanjutnya diserahkan ke pemerintahan RI, berganti nama dengan Kilang Semen Indarung. d. Periode IV (1947-1958) Pada agresi militer belanda I 1947, pabrik di kuasai oleh belanda dan berganti nama menjadi NV.Padang Portland Cement Maatcchapij (NV. PPCPM). Jumlah hasilnya sangat sedikit karena banyak karyawan yang mengungsi.

35

Setelah konvensi meja bundar 1949, pabrik kembali berjalan dengan normal. Pada tahun 1957 produksi mencapai 154.000 ton/tahun. Periode V (1958-1961) Berdasarkan Pp no.10 tanggal 15 juli 1958 tentang penemuan perusahaan perindustrian dan pertambangan milik belanda di karenakan sosianolisasi, maka NV.PPCM dinasiolisasikan dan selanjutnya ditangani oleh badan pengelola industri dan tambang (BAPPIT) . pada tahun 1958 produksi semen sebesar 80,828 ton/tahun, tahun 1959 sebesar 120.714 ton/tahun 1960 sebesar 107.659 ton/tahun f. Periode VI (1961-1971) Setelah 3 tahun dikelola oleh BAPPIT pusat, berdasarkan no.135 tahun 1961, status perusahaan di ubah menjadi perusahaan negara, dengan produksi 77.030 ton/tahun. Berdasarkan PP no.7/1971, perusahaan di siapkan untuk berbadan hukum persero yang berseolisasi pada tanggal 4 juli 1972 berdasarkan akta notaris No. 5 tahun 1972, seluruh saham dimiliki oleh RI. Tahun 1971, mencapai produksi 171.071. g. Periode VII (1971-1995) Setelah resmi bernama PT. semen padang, maka pengangkatan direksi di tentukan berdasarkan RUPS sesuai dengan surat keputusan menkeu No. 304/MK/1972 yang berlaku perusahaan bestatus PT (persero). h. Periode VIII (1995- sekarang) Berdasarkan surat menkeu RI no. 5-326/MK/1995, pemerintah melakukan konsuldasi atas tiga buah pabrik semen milik pemerintah, yaitu PT semen padang , PT semen gresik, yang terealisasikan pada tanggal 15 september 1995, sehingga saat ini PT. Semen Padang berada dibawah PT. Semen Gresik Group. Pada tahun 1998 pemerintah menginginkan agar saham PT Semen gresik dijual pada pihak asing yaitu CEMEX dengan dalih hutang luar negeri yang banyak, sehingga saham PT Semen gresik group dijual untuk menutupi hutang luar negeri Indonesia. Namun PT Semen Padang tidak menyetujuinya karena akan menimbulkan akibat yang kurang baik bagi masyarakat sumatera barat khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Oleh karena itu timbullah keinginan PT Semen Padang untuk memisahkan diri (Spin Off) dari PT Semen Gresik Group dan perjuangan ini masih berlangsung sampai sekarang.
e.

2.2 Jenis-jenis Proses Produksi PT Semen Padang PT. Semen Padang memproduksi berbagai type semen, untuk berbagai keperluan, antara lain : a. Portland Cement Type I Dipakai untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal. Lebih tepat digunakan pada tanah dan air yang mengandung sulfat 0,0% - 0,10 %, dapat juga

35

digunakan untuk bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat, dan lainlain.

Portland Cement Type II Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan yang terbuat dari beton massa yang memerlukan ketahanan sulfat lebih tinggi (pada lokasi tanah dan air yang mengandung sulfat antara 0,10-0,20%) dan panas hidrasi sedang, misalnya bangunan di pinggir laut, bangunan di tanah rawa, saluran irigasi, beton massa untuk dam-dam dan landasan jembatan. c. Portland Cement Type V Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan-bangunan pada tanah/air yang mengandung sulfat > 0,20 % dan sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.
b.

Super Masonry Cement Semen ini lebih tepat digunakan untuk konstruksi perumahan gedung, jalan dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K 225. Dapat juga digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng beton, hollow brick, paving block, tegel dan bahan bangunan lainnya e. Oil Well Cement Merupakan semen khusus yang lebih tepat digunakan untuk pembuatan sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur minyak bawah permukaan laut dan bumi. Untuk saat ini jenis OWC yang telah diproduksi adalah class G, HSR (High Sulfat Resistance) disebut juga sebagai "BASIC OWC". Bahanadditive/tambahan dapat ditambahkan/dicampurkan hingga menghasilkan kombinasi produk OWC untuk pemakaian pada berbagai kedalaman dan temperatur. f. Portland Pozzolan Cement Adalah semen hidrolid yang dibuat dengan menggiling terak, gypsum dan bahan pozzolan. Produk ini lebih tepat digunakan untuk bangunan umum dan bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti: jembatan, jalan raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan irigasi dan fondasi pelat penuh.
d.

35

Gambar1 : Jenis Semen Produksi 2.3 Struktur Organisasi PT. Semen Padang PT. Semen padang adalah bentuk perusahaan BUMN dengan struktur organisasi berbentuk line dan staf. Kekuasaan tertinggi adalah pemegang saham yang dalam hal ini adalah pemerintahan melalui dewan komisaris PT. Semen padang yang dipimpin oleh 5 Dewan direksi yang di angkat dan diberhentikan oleh menteri keuangan dan bertanggung jawab penuh kepada menteri Perindustrian. Seorang dari 5 Dewan direksi tersebut diangkat oleh Direktur Utama, sedangkan yang 4 lainnya memimpin bidang-bidang khusus, yakni : 1) Direktur Pemasaran. 2) Direktur Produksi. 3) Direktur Litbang & Operasi. 4) Direktur Keuangan. Selain membawahi keempat Direktur Utama, Direktur Utama juga membawahi satuan pengawasan intern yang sama dengan jajaran Departemen Sumber Daya Manusia dan satuan pengamanan. Tingkat jabatan dibagi menurut eselon dan golongan. (Bagian Struktur Organisasi terlampir).

35

Gambar 2 : Bagan Struktur Organisasi Departemen Produksi V 2.4 Kapasitas Produksi PT. Semen Padang Kapasitas produksi PT. Semen Padang (Persero) saat ini sebesar 5.570.000 ton/tahun, dengan rincian sebagai berikut : 1) Pabrik Indarung II 660.000 ton/tahun 2) Pabrik Indarung III 660.000ton/tahun 3) Pabrik Indarung IV 1.620.000ton/tahun 4) Pabrik Indarung V 2.300.000ton/tahun Volume produksi perusahaan tahun 1995 mencapai 3.164.347 ton meningkat 7,36% dari tahun 1994. Peningkatan ini lebih tinggi dari produksi semen nasional yang hanya sebesar 5,59% tetapi lebih rendah dari peningkatan konsumen semen nasional 11,54%. Meskipun demikian pertumbuhan konsumsi tersebut tidak diiringi oleh pertumbuhan produksi yang seimbang sehingga perusahaan selaku BUMN yang satu sama misinya sebagai stabilisator ekonomi yang telah mengurangi penjualan ekspornya dan mengalihkan kedalam negeri. Penjualan semen di dalam negeri pada tahun 1995 sebesar 2.940.000 ton naik sebesar 5,36% dibandingkan dengan penjualan semen pada tahun 1994 sebesar 2.783.705 ton. Usaha yang tak kalah pentingnya adalah usaha memasarkan jenis semen lainnya dan usaha ini telah dirintis sejak tahun 1984. Jenis semen lainnya yang diproduksi adalah jenis Semen Portland II, V, Mixed Portland Cement serta Oil Well Cement Class G- HSR. Usaha tersebut telah memperlihatkan hasil dari tahun ke tahun yaitu dengan meningkatkatnya penjualan dan meningkatnya produksi dari tahun tahun sebelumnya.

35

Dalam tahun 1995 secara total penjualan mengalami peningkatan sebesar 4,02% dari 2.957.281 ton pada tahun 1994 menjadi 34.076.304 ton pada tahun 1995. Daerah pasar primer perusahaan meliputi pulau Sumatera dimana pada tahun 1995 lebih dari 70% penjualan semen dilakukan di pasar ini dan selebihnya merupakan penjualan pada pasar sekunder dan pasar ekspor. Pada pasar ekspor, perusahaan telah mengekspor semen ke negara Bangladesh, Taiwan, Myanmar, Jepang, Thailand, Hongkong dan Papua nugini. 2.5 Misi Perusahaan Adapun misi perusahaan PT. Semen Padang, antar lain adalah : a. Sebagai sumber pendapatan negara dalam bentuk pajak serta balas jasa berupa deviden, karena itu PT. Semen Padang beroperasi sebagai unit ekonomi dengan orientasi laba dan efisien. b. Memproduksi barang dan jasa kebutuhan masyarakat sesuai dengan rencanarencana yang tertuang dalam pelita dan berperan serta sebagai stabilisator ekonomi. c. Sebagai aparatur penggerak pembangunan yang implementasinya dapat dilakukan melalui : Pengembangan unit usaha pokok. Pengembangan unit usaha sampingan, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan instansi atau perusahaan lain. Melakukan usaha peningkatan kemampuan golongan ekonomi lemah, dengan cara : Pengembangan kemampuan industri kecil. Peningkatan dan perluasan lapangan kerja.

Sebagai penggerak pengembangan wilayah karena kaitan gandanya. Sebagai media ahli teknologo maju maupun pengembangan kemampuan rancang bangun dan rekayasa.

2.6 Pengendalian kualitas Pengendalian kualitas dilaksanakan secara terpadu, teliti, cermat dan totalitas bertujuan untuk memberikan jaminan terhadap mutu yang dihasilkan. Dari kegiatan pengendalian mutu tersebtu maka hasil produksi PT. Semen Padang telah diakui oleh pemerintah sebagai produk yang memenuhi standar SNI ( Standar Nasional Indonesia ) No. 15-2084-1994 Cement Portland. Selain itu Semen Padang juga telah memnuhi standar ;

1) ASTM Vol 04.01-1990/C-150-89 (American Society For Testing And Material)

untuk Portland Cement.

35

ASTM Vol 04.01-1990/C-91 type M untuk standar spesifikasi Mansory Cement. BS 12-1989 (British Standar) untuk Portland Cement. JJSR-5210-B 1981 (Japanese Industrial Standar) untuk Portland Cement. API spec 10 A, Twenty First Edition Sept 91 untuk Oil Well Cement, class G-HSR). ISO 9001, tentang produksi massal. ISO 9002-1987, Raw Material Minning, Cement Manufacturing And Cement Packing and Marketing, dari Quality Cerijication Bureau Canada. 8) ISO 14001, tentang masalah lingkungan.
2) 3) 4) 5) 6) 7)

2.7 Sistem Pemeliharaan PT. Semen Padang Aktifitas pemeliharaan di pabrik bertujuan menjamin availability peralatan produksi beserta fasilitas lainnya pada biaya optimal serta kondisi kualitas safety, proteksi dan lingkungan yang memuaskan. Aktifitas pemeliharaan dapat dibagi menjadi 5 kelompok :
A. B. C. D. A.

Preventive Maintenance Predictive Maintenance Corrective Maintenance Design Out Maintenance

Preventive Maintenance Bertujuan untuk menjaga fungsi komponen dengan cara mengontrol komponen peralatan dan melakukan pencegahan terhadap kemunduran fungsi alat tersebut. Kegiatan Preventive Maintenance terdiri dari kegiatan pencegahan rutin secara berkala. Preventive Maintenance terdiri dari enam kegiatan yaitu : 1. Lubrication, yaitu kegiatan pelumasan bagian metal yang begerak dan bergesek seperti pada bearing, gear dan lain-lain. Perangkat yang sering digunakan untuk jenis Maintenance antara lain schedule, history card dan quality test. 2. Cleaning, merupakan aktifitas pembersihan terhadap bagian-bagian mesin motor yang kotor oleh debu atau material yang lain. Kegiatan ini biasanya dilakukan saat checking rutin harian dan dilaporkan dalam bentuk acttion report. Inspection dan adjusment, dimana dalam periode waktu tertentu diadakan pemeriksaan terahdap peralatan dan jika ditemui ketidak sesuaian dapat dilakukan pengaturan secepatnya sehingga dapat menghindari ketidaknormalan operasi. 4. Check condition, pemeriksaan kondisi peralatan secara visual dapat berupa patroli lapangan. 5. Replacement, merupakan tindakan penggantian bagian yang memang layak diganti sehingga tidak akan membahayakan bagian-bagian lainnya. 1. Predictive Maintenance Bertujuan untuk melakukan prediksiterhadap fungsi dari alat dengan melakukan pengukuran dan evaluasi terhadap alat dengan bantuan peralatan pengukuran. Kegiatan predivtive Maintenance terdiri dari kegiatan diagnosa terhadap peralatan baik yang berputar maupun yang statis.Kegiatan yang terdapat pada Predictive Maintenance antara lain : 1. Pengukuran rutin
3.

35

2.

Checking specialis

Contoh kegiatan rutin antara lain seperti : a. Pengamatan visual peralatan. b. Vibrasi yang dilakukan secara continue via panel CCR memakai vibro Scaner. c. Temperatur (thermografy), dilakukan continue via panel CCR. d. Presure, dilakukan continue via panel CCR dan dilaporkan secara periodik. e. Sound juga memakai vibro scanner untuk mendeteksi kelainan bunyi. f. Kondisi pelumasan bekerjasama dengan labor kwalitas. g. Crack/wear, untuk mengetahui keretakan-keretakan pada bagian peralatan, biasanya insidentil dan bekerjasama dengan workshop. Untuk kegiatan checking spesialis biasanya perusahaan bekerjasama dengan pihak suplayer peralatan-peralatan ( out suorching ), misalnya anatara lain dengan : a. BEUMER untuk pemeriksaan Bucket Elevator. b. Sten Bukkehave untuk kiln Indarung II, III, IV. c. CPAG untuk cooler Indarung IV. d. Mobil oil untuk pengetesan khusus pelumas. a. Corrective Maintenance Merupakan kegiatan untuk mengembalikan fungsi alat. Pemeliharaan ini hanya dilakukan apabila terjadi kerusakan (Break down). Sumber informasi ini berasal dari laporan produksi, laporan inspeksi, laporan shift atau SPK. b. Desing out Maintenance Dilakukan berdasarkan Trend analisis terhadap mesin data tersebut Trend analisis melahirkan usulan-usulan berupa peluang improvement demi kebutuhan operasi, pengurangan cost, pengurangan man power dan fleksibility.

2.8 Kunjungan beberapa biro Pelaksanaan tugas umum dapat dilaksanakan dengan cara mengunjungi berbagai unit kerja yang ada sesuai dengan jadwal (schedule) yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh bidang Diklat PT. Semen Padang, yaitu :
a.

Biro Pemeliharaan Mesin Indarung V Biro Pemeliharaan Semen Mill V berada di bawah Departemen Pemeliharaan yang bertanggung jawab kepada Direktur Produksi. Biro ini dipimpin oleh seorang kepala biro dan membawahi 3 bidang berdasarkan areanya, yaitu : Bidang Pemeliharaan semen Mill V. Bidang ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan yang ada di area storage bahan mentah (batu kapur, batu silica, tanah liat, dan pasir besi) sampai dengan sillo raw mix. Bidang Pemeliharaan Semen Mill V. Bidang ini bertanggung jawab

35

terhadap pemeliharaan peralatan yang ada di area exracsion sillo raw mix sampai dengan sillo klinker. Bidang Pemeliharaan Mesin Cement Mill Will. Bidang ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan yang ada di area sillo klinker sampai dengan silli semen. Struktur organisasi sistem kerja, Maintenance dan alat-alat transportasi tidak jauh beda dengan biro pemeliharaan mesin lainnya. Sistem kerja yang diterapkan terbagi atas dua, yaitu 1. Sistem kerja harian Dilaksanakan oleh mekanik harian. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah : Melaksanakan pekerjaan yang terencana berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) harian. Melakukan pekerjaaan berdasarkan orderan unit lain (unit produksi). Melaksanakan pekerjaan persiapan pada spart park mesin-mesin pabrik. Melaksanakan pekerjaan major overhaul. Melaksanakan PMC (Preventive Maintenance Control). Sistem kerja shift Dilaksanakan oleh mekanik shift. Pekerjaaan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut : Melaksanakan pelumasan (grease, oil). Melakukan trouble shooting. Melakukan pengecekan kondisi peralatan. Melaksanakan PMC. Melaksanakan check list peralatan..

Unit Biro produksi, untuk mengetahui : Mengetahui proses pembuatan semen dengan proses kering. Biro ini bertanggung jawab terhadap proses produksi, mulai dari proses pengolahan bahan baku sampai menjadi semen. proses produksi ini biasanya disebut proses kering. Unit biro tambang : Mengetahui alat-alat yang ada di biro tambang Mengetahui proses pengolahan bahan baku Biro jaminan Kualitas Mengetahui struktur organisasi di Biro jaminan kualitas Mengetahui standart uji mutu kualitas semen

35

Mengetahui alat-alat untuk pengujian kualitas dari semen Biro pengantongan Biro pengantongan adalah bagian yang mengelola proses pengantongan.Biro ini terdiri dari empat bidang yaitu: bidang pengantongan teluk bayur, bidang pengantongan indarung, bidang pemeliharaan khusus dan bidang pabrik kantong. Biro Penelitian dan Pengembangan Biro ini bertanggung jawab terhadap pengolahan system manajemen dan pengembangan perusahaan. Unit perpustakaan, antara lain mengetahui Sejarah PT. Semen Padang. Sturuktur Organisasi PT. Semen Padang. Tata tertib di perpustaka

BAB III PROSES PRODUKSI Komponen utama pembuatan semen adalah batu kapur, tanah liat, pasir besi, silika dan gypsum. Komposisi komponen pembentukan semen yang terdapat dalam bahan baku akan mempengaruhi semen yang akan terbentuk. Komponen pencampuran bahan baku semen tersebut adalah sebagai berikut: Batu kapur (Lime stone component) Tanah Liat (Clay) Pasir Besi dan Pasir Silika Gypsum

35

PT. Semen Padang telah memproduksi jenis-jenis semen dengan berbagai fungsi. Semua jenis semen yang diproduksi telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Adapun masing-masing jenis produksi adalah sebagai berikut: a. Semen Portland b. Semen Portland Type I (Ordinary Portland Cement) c. Semen Portland Type II (Moderate Heat Cement) d. Semen Portland Type III (High Early strength Cement) e. Semen Portland Type IV (Low Heat Cement) f. Oil Well Cement (OWC) Class G-HSR g. Semen Portland Campur (Mixed Cement) atau super masonry cement. h. Masonry Cement Type M,S,N. i. Portland Pozzolan Cement (PPC). Secara garis besar, aktifitas industri PT. Semen Padang dapat dibagi menjadi 3 tahap yaitu : 1) Proses penambangan dan penyediaan bahan mentah. 2) Proses produksi yang tediri dari proses penggilingan dan pembakaran. 3) Proses pengantongan dan distribusi semen ke konsumen. Proses produksi dalam pembuatan semen antara lain : 1. Proses Basah Pada proses basah, penggilingan bahan mentah dilakukan dengan menambahkan sejumlah air ke dalam Raw Mill, sehingga kadar air dalam campuran bahan mentah meningkat dari 6% - 11% menjadi 35% - 40%. Keluaran dari Raw Mill ini disebut slurry yang kemudian mengalami homogenisasi di dalam Mixing basin, tangki koreksi dan slurry basin. Dari slurry basin, slurry diumpankan ke dalam Kiln untuk membentuk klinker pada suhu 1450 0C, setelah itu didinginkan dengan Cooler. Kemudian klinker bersama-sama dengan gypsum digiling di dalam Cement Mill, sehingga diperoleh semen. 2. Proses Semi Basah Untuk umpan Kiln digunakan Moule/Granular (butiran), Pellet (cake) yang dibuat dengan ukuran Filter Press, sehingga kadar airnya menjadi 15% - 25%. Konsumsi panas sekitar 1000 - 2000 kcal/kg track. Proses Semi Kering (SemiDrying Process) Dalam proses ini, umpan masuk ke Kiln berupa tepung kering dan dengan alat Granular (Pelletizer) disemprot dengan air untuk dibentuk menjadi Granular dengan kadar air 10% - 12% dengan ukuran 10 - 12 mm seragam. Petimbangan pemakaian alat ini adalah karena bahan bakar yang digunakan lebih sedikit, yaitu sekitar 1000 kcal/kg. Agar kapasitas produksi meningkat maka Long Rotary Kiln dilengkapi dengan Grate Preheater. 3. Proses Kering Pada pembuatan semen pada proses kering, bahan mentah digiling dan dikeringkan dalam Raw Mill, sehingga dihasilkan raw mix dan selanjutnya dihomogenisasi di dalam Silo. Kemudian raw mix mengalami reaksi kalsinasi awal di dalam Preheater dan Calciner. Hasil kalsinasi ini diumpankan kedalam Kiln untuk

35

membentuk klinker pada suhu 1450 0C dan didinginkan dalam Cooler hingga mencapai suhu 100 0C. Setelah itu, klinker dan gypsum digiling di dalam Cement Mill, sehingga menghasilkan semen. PT. Semen Padang menggunakan 2 proses pembuatan, yaitu Wet Process dan Drying Process. Terhitung Oktober 1999, proses basah yang selama ini dilakukan di pabrik Indarung I tidak dioperasikan lagi secara menyeluruh, karena tidak efisien serta menyadari pentingnya dampak terhadap pencemaran, sehingga Indarung I dioperasikan I unit penggilingan semen (Cement Mill). Dengan demikian, keseluruhan pabrik saat ini hanya mempergunakan proses kering.Tahapan proses dalam pembuatan semen dengan sistem kering, adalah: 1) Penggilingan Bahan Mentah di area Raw Mill Pada proses ini, terjadi penggilingan bahan mentah, bahan mentah yang dipakai di sini, yaitu : Bahan utama terdiri dari batu kapur (81%) dan tanah liat (9%) Bahan penolong terdiri dari pasir silika (9%) dan pasir besi (1%)Proses dalam pengolahan bahan baku meliputi : 1. Pencampuran sesama bahan baku sesuai dengan perbandingannya 2. Pemecahan dan penggilingan bahan mentah 3. Homogensasi. 2) Pembakaran di area Kiln Bahan bakar yang dapat digunakan dalam proses ini adalah minyak residu dan gas alam atau batu bara yang telah mengalami proses penghalusan. Saat ini, yang banyak digunakan adalah batu bara karena harganya relatif murah. Tujuan utama proses pembakaran adalah untuk menghasilkan reaksi-reaksi kimia di antara oksidaoksida yang terdapat dalam slurry atau raw mix. Proses ini akan menghasilkan produk baru yang diberi nama klinker. Agar reaksi-reaksi tersebut berlangsung secara sempurna dibutuhkan panas yang banyak dan suhu yang tinggi. Panas didapat dari pembakaran bahan bakar. 3) Penggilingan Akhir di Cement Mill Klinker yang dihasilkan dari proses pembakaran, selanjutnya mengalami proses penggilingan. Pada saat penggilingan, klinker dicampur dengan gipsum (4% - 6%) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas semen. Fungsi gipsum dalam semen adalah sebagai Retarder, yaitu bahan yang dapat mengendalikan waktu pengerasan semen, sehingga semen tidak terlalu cepat mengeras. Dua jenis gipsum yang umum digunakan, yaitu : gipsum alam dari Thailand dan gipsum sintetis yang merupakan hasil samping pembuatan pupuk TSP. Dari hasil penggilingan klinker dan gipsum inilah diperoleh semen. Mesin penggilingan semen disebut Cement Mill atau Finish Mill (penggilingan akhir).

35

BAB IV PERAWATAN GEAR BOX 4.I. PENGERTIAN GEAR BOX


Gearbox merupakan suatu komponen dari suatu mesin yang berupa rumah untuk roda gigi. Komponen ini harus memiliki konstruksi yang tepat agar dapat menempatkan poros-poros roda gigi pada sumbu yang benar sehingga roda gigi dapat berputar dengan baik dengan sedikit mungkin gesekan yang terjadi.

35

Selain harus memiliki konstruksi yang tepat, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh komponen ini yaitu dapat meredam getaran yang timbul akibat perputaran dan gesekan antar roda gigi. Pada dasarnya sistem transmisi gear box merupakan pemindahan gerakan putaran dari satu poros ke poros yang lain hampir terjadi disemua mesin. Gear box merupakan salah satu yang terbaik antara sarana yang ada untuk memindahkan suatu gerakan.gear boxi dikelompokkan menurut letak poros putaran atau berbentuk dari jalur gigi yang ada. Keuntungan dari penggunaan sistem transmisi diantaranya : 1. Dapat dipakai untuk putaran tinggi maupun rendah 2. Kemungkinan terjadinya slip kecil 3. Tidak menimbulkan kebisingan

Gambar. Keterangan: 1. High speed gear 2. Intermediate I 3. Intermediate II 4. Low speed gear

4.1.1 Komponen utama Gear Box Komponen utama gear boxdapat digambarkan dalam gambar dua dimensi dibawah ini :

35

Gambar 3Bagian - Bagian Gear Box Keterangan: 1. Rumah-rumah bagian bawah 2. Rumah-rumah bagian atas 3. Penutup (cover) 4. Penutup (cover) 5. Penutup (cover) 6. Penutup untuk pemeriksaan 7. Shaft seal 8. Shaft seal 9. Pemeriksa oli 10. Mata pengangkat 11. Telinga pengangkat 12. Telinga pengangkat 13. Baut 14. Permukaan penempatan 15. Ventilasi rumah-rumah 16. Sumbatan oli 17. Plat standar 18. Penyambung 19. Pengisian oli

4.2 Klasifikasi dari roda gigi Adapun klasifikasi dari roda gigi antara lain : 4.2.1. Spur Gear (Roda Gigi Lurus)

35

Spur atau roda gigi dengan potongan lurus merupakan standar bagi banyak penggerak roda gigi dan kotak roda gigi (gearboxes). Spur gear adalah roda gigi termudah di dalam pembuatannya karena giginya dipotong lurus terhadap bagian depan dan umumnya setiap roda gigi tersendiri dan tidak harus memiliki pasangan yang sejenis. Spur gear mengatur tenaga transmisi pada dua poros paralel dengan rasio yang ditentukan oleh jumlah dari gigi dari setiap roda gigi. (Rack ialah batang lurus dimana gigi-gigi dibentuk) Spur gears memiliki masalah dimana tenaga ditransmisikan ke setiap gigi secara sendiri-sendiri, oleh karena itu lebih cenderung terjadi kegagalan saat beban yang berlebihan atau terjadi hentakan dibanding dengan jenis gearing yang lain. Perangkat Roda gigi Planet (Planetary Gear Set)Nama perangkat roda gigi Planet diambil dari bentuknya yang mirip sebuah planet yang tengah mengelilingi matahari. Mekanik akan menemukan tiga roda gigi utama di dalam perangkat roda gigi planet, semuanya adalah spur gears.

a. Roda gigi Matahari (Sun Gear)


Roda gigi Matahari adalah roda gigi tengah pada perangkat dan biasanya merupakan penggerak input.

b. Roda gigi Planet (Planet Gear)


Roda gigi planet terletak di antara roda gigi matahari dan roda gigi ring dan biasanya berada di dalam perangkat dari tiga atau lebih yang dipasang dengan pengangkutnya.

c.

Roda gigi Ring (Ring Gear)


Roda gigi ring ialah ring bundar yang memiliki bentuk spur gear yang dikerjakan dengan mesin pada permukaan sisi dalamnya.

Gambar. Kerja Perangkat Roda gigi Planet

35

Kombinasi roda gigi ini bukan saja memungkinkan perancang untuk membuat gearbox yang sangat kompak tetapi juga gearbox atau bagian dari perangkat roda gigi yang bertenaga. Daya sekarang dibawa oleh dua atau tiga gigi pada satu waktu. Selain itu, rasio yang berbeda juga diperoleh apabila setiap bagian roda gigi planet dikontrol atau dikunci:

a. Semua bebas tidak ada penggerak. b. Pengangkut planet tertahan di tempatnya terhadap ring - 1:1 penggerak, secara efektif mengunci planet. c. Pengangkut planet tertahan di tempatnya terhadap sun rasio adalah perangkat ring/roda gigi karena planet akan bekerja sebagai idler. d. Ring tetap dan planet bergerak - rasio adalah planet/ring, contohnya. planet dengan sun = 30t, Planet = 20t, Ring = 120t. (a) Semua bebas = tak ada gerakan Pengangkut tertahan bersama ring = Penggerak dengan kecepatan penuh 1:1 (b) Pengangkut tertahan bersama sun = 4:1 reduksi ( 30t :120t ) (c) Ring tetap = 6:1 reduksi ( 20t : 120t ) Mekanik pada umumnya hanya akan mendapati jenis box ini di dalam pemindahan peralatan bergerak dan penggerakkan akhir dimana tempat menjadi masalah yang utama dan biaya bukanlah masalah. 4.2.2. Roda gigi Helikal Jenis roda gigi ini sangat mirip dengan spur dalam bentuknya kecuali dipotong menyudut pada permukaannya. Sudut ini memungkinkan roda gigi memiliki dua gigi dalam pentautan sepanjang waktu dan membuat bagian face pada roda gigi menjadi lebih panjang oleh karena itu memungkinkan pemindahan daya yang lebih besar. Sudut tersebut juga akan menghasilkan gaya aksial yang harus diperhitungkan saat pengaturan poros dan bearing. Roda gigi Helikal memindahkan daya pada dua poros paralel dengan rasio yang ditentukan oleh jumlah gigi setiap roda gigi. 4.2.3. Roda Gigi Herringbone Ini adalah modifikasi dari perangkat roda gigi helikal standar. Untuk menghilangkan gaya aksial bagian pinggir, perangkat roda gigi herringbone akan menggunakan dua perangkat roda gigi helikal yang berlawanan atau baris gigi untuk membentuk setiap roda gigi yang diperlukan.Secara sederhana, dengan penggerakan berdaya kecil mekanik dapat menemukan roda gigi helikal tunggal yang terpasang saling membelakangi untuk membentuk setengah dari perangkat herringbone.Pada pemakaian yang berasio atau berdaya tinggi, perancang benar-benar harus membentuk

35

gigi herringbone pada satu casting atau gear blank. Perangkat roda gigi terakhir akan berpasangan serta di dalam perangkat yang dipasangkan, dan sebaiknya jangan dipakai secara terpisah.

4.2.4. Roda gigi Helikal Simpangan (Crossed Helical Gear) Jika sudut helikal bertambah, maka sudut pengerjaan poros dapat diubah. Penggerakkan roda gigi-roda gigi demikian pada sudut siku-siku tetapi dengan kemampuan tenaganya dikurangi secara maksimal. 5. Penggerak Ulir Ini adalah penggerak sudut siku-siku yang berbeda dari yang lainnya di dalam pengoperasian dan bentuk rancangannya: 1. Gigi-gigi penggerak ulir sesungguhnya tidak tergantung satu dengan lainnya seperti pada perangkat roda gigi lainnya, tetapi bergeser satu dengan lainnya. 2. Penggerak ulir umumnya memiliki rasio 5:1 dan memiliki satu arah. Alat tersebut hanya dapat diputar dengan menggunakan poros input. Poro s output tidak dapat menggerakkan atau memutar poros input (ciri-ciri yang membantu guna apliksi penanganan material tidak diperlukan penghentian balik lainnya). Penggerak ulir memiliki roda gigi berbentuk unik. Poros input menyerupai ulir yang sangat kasar yang dibentuk pada poros. Roda gigi berpasangan disebut roda. Roda memiliki potongan bentuk gigi yang dalam dengan panjang garis yang sesuai dengan ulir.Ulir diputar, sehingga terjadi penyekrupan pada roda, mentransfer daya dan mengurangi kecepatan. Roda digerakkan lewat pemasangan ini,yang meningkatkan kemampuan gearbox menahan beban yang tinggi lewat reduksi tunggal yang besar (reduksi 100:1 adalah hal yang mungkin di dalam instalasi ulir tunggal) Mekanik harus memastikan pengaturan yang benar serta kelurusan antara ulir dan roda bila tidak akan berakibat muncul kesalahan dan aus lebih awal.

4.2.5. Bevel Gear (Roda gigi kerucut) Nama bevel gear diambil dari faktor dimana roda gigi yang berpasangan biasanya memiliki bagian depan yang tirus atau miring. Semua poros bevel gear bekerja pada sudut 90 satu dengan lainnya tetapi tidak penting dengan garis tengah yang memotong. Perangkat roda gigi ini memerlukan pengaturan yang hati-hati untuk memastikan pengaturan roda gigi yang benar sehingga roda gigi akan bekerja sesuai beban dan usia rancangannya. Roda gigi input bisa berupa roda gigi lurus (spur gear) atau yang ditiruskan, tetapi bentuk gigi tetap sama seperti yang terdapat pada spur gear normal. Poros penggerak roda gigi harus berada 90 satu dengan lainnya serta garis tengah yang memotong. Mekanik sering kali akan menemukan penggerak roda gigi lurus ditiruskan digunakan dimana diperlukan penggerak roda gigi sederhana namun kuat, dalam hal ini roda gigi eksentrik di dalam cone

35

crusher Roda gigi spiral ialah roda gigi serong yang sama dengan perangkat roda gigi helikal. Beban sekarang dapat diangkut pada dua gigi sekaligus. Contoh gearing seperti ini merupakan roda gigi differensial utama yang berbeda di dalam mobil. Roda gigi-roda gigi ini sering berada dalam perangkat yang disesuaikan. Dengan membuat sudut gigi-gigi lebih besar, poros tidak lagi harus menyimpang sepanjang garis tengah, sehingga memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar pada penggerakan serta pemasangan gearbox. Roda gigiroda gigi ini akan selalu berpasangan dan sering dibungkus (roda gigi dipasang pada posisi yang benar dan pengerjaan beban rendah akan dibiarkan memukul dan menggosok permukaan yang lainnya). Roda gigi-roda gigi ini dikenal dengan nama roda gigi hypoid, spiroid dan helicon. 4.2.6. Roda gigi dengan Poros Simpangan atau Miring Cacing: memberikan rasio reduksi maksimum untuk jarak tengah yang ditentukan. Pekerjaan tenang dan lancar. Digunakan hanya untuk mengurangi kecepatan. Pada umumnya tidak dapat menggerakkan kembali dengan rasio lebih besar dari 20:1. Area kontaknya luas, sehingga kapasitas beban tinggi meski pekerja meluncur. Poros hampir selalu sudut siku-siku

Helikon: menahan. Thread khusus membentuk pada pinyon silinder yang bertaut dengan face gear. Kemampuan pengangkutan beban sama dengan Spiroid. Baik untuk produksi masal karena mudah ditempa atau ditekuk.

Helikal: simpangan: Juga dikenal sebagai gear spiral. Sama penampilannya dengan gear helikal yang biasa. Kapasitas muatan rendah karena area kontak gigi rendah. Pada prinsipnya dipakai untuk memberikan variasi yang luas pada rasio kecepatan tanpa mengubah jarak tengah atau ukuran gear. Bisa digunakan dengan non interseksi, poros tak sejajar.

35

Beveloid: Sifatnya. Memberikan gerakan yang akurat tidak terpengaruh oleh kesalahan pemasangan atau variasi. Kapasitas beban rendah. Bisa dipakai pada backlash nol. Sering dipakai pada instrumen pengukur ketepatan. Biasanya dipakai untuk gear poros simpangan tetapi juga cocok untuk poros menyimpang dan paralel.Kekurangannya mungkin pada biaya.

Bevel rata: Jenis gear yang paling sederhana untuk poros. Biasa dipakai pada poros yang berpotongan pada sudut siku-siku, tetapi bisa juga dipakai pada pertemuan poros pada sembarang sudut. Dirancang berpasangan, sehingga tidak selalu dapat dipertukarkan. Poros dan bearing penahan harus kaku guna menjaga kontak gigi yang tepat.

Spiroid: Sifatnya.Pinyon tirus bertaut dengan roda gigi jenis face.Kontak garis pada seluruh permukaan memberikan kapasitas beban yang tinggi.

35

Hypoid: sama dengan gear spiral-bevel kecuali poros-poros tersebut tidak memotong. Pengoperasiannya juga lebih halus dan lebih tenang dan lebih kuat untuk rasio yang telah ditentukan. Karena poros-poros tidak memotong, bearing dapat dipasang pada kedua sisi untuk rigiditas yang tinggi. Mengizinkan rasio gerakan yang sangat tinggi. Sudut poros biasanya 90, tetapi sudut-sudut lainnya adalah mungkin.Memiliki kapasitas muatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran dan rasio yang sama dari gear spiral-bevel

Spiral bevel: mengangkut muatan yang lebih tinggi dan bekerja lebih tenang dibanding gear bevel lurus.Tapi lebih mahal dan memiliki gaya aksial lebih besar.Karena gigi membentuk pada satu sudut ke poros rotasi, muatan dapat didistribusikan pada dua atau lebih gigi pada satu jarak, tergantung pada sudut spiral.

Cavex worm: Proprietary gear dengan ulir pada worm cekung yang bertaut dengan gigi gear convex. Memberikan tekanan kontak gigi yang lebih rendah serta lubrikasi yang lebih baik.

Face: Sama dengan bevel gear, tetapi berpasangan dengan pinyon helikal atau spur. Pemasangan pinyon bukan masalah penting karena bersamaan dengan bevel gears. Juga bisa dipakai dengan poros yang menyimpang.Kapasitas beban kurang dari bevel gear lurus dengan ukuran yang sama.

35

Zerol: Sama dengan spiral bevel tetapi dengan gigi yang tersusun agar beban thrust sama dengan bevel lurus.

Penggerak kerucut: Jenis proprietary dimana bentuk cacingnya menyerupai sebuah jam kaca dan memiliki ulir pembungkus ganda untuk menambah luas kontak keseluruhan, sehingga meningkatkan kapasitas beban.

4.3 Rumus Dasar Roda Gigi Adapun rumus dasar yang berhubungan dengan roda gigi antara lain sebagai berikut : a. Diameter Pitch Circle (P) Rumus dari buku deutschman (hal 521) P = Nt/d (in) Dimana : P d Nt = Diametral pitch = Diameter roda gigi ( inch ) = Jumlah gigi ( buah ) (1)

b. Perbandingan Kecepatan (rv) Rumus dari buku deutschman hal 525 rv = W2/W1 = NtP/Ntg = d1/d2 = n2/n1 (2)

35

Dimana : N1,n2 Nt1,Nt2 d1,d2 = putaran roda gigi ( rpm ) = jumlah gigi ( buah ) = diameter roda gigi ( inch )

c. Jarak Poros (C) Rumus dari buku deutschman hal 528 C = d1+d2 2 Dimana : C d = jarak poros antara dua roda gigi = diameter roda gigi (in) ( 3)

d. Kecepatan Pitch Line / Garis Kontak (Vp) Rumus dari buku deutschman hal 563 Vp = .d.n 12 Dimana : Vp = kecepatan putaran (5) (ft/mnt) (4)

e. Torsi yang Bekerja T = 63000.N daya n Dimana : T N n = torsi yang bekerja = daya motor = putaran input

f. Gaya-gaya pada Roda Gigi

35

Gambar 2.7. Gaya-Gaya pada Roda Gigi

Gaya radial (Fr) Fr = Fn.Sin = Fn.Cos Gaya normal (Fn) Fn = Ft Cos Gaya tangensial (Ft) Ft = 2T D Gaya dinamis (Fd) Fd = 600+Vp . Ft 600 Untuk 0 < Vp 2000 ft/menit Fd = 1200+Vp .Fp 1200 Untuk 2000 < Vp 4000 ft/menit

(6)

(7)

(8)

Fd = 78+Vp.Ft 78 Untuk Vp > 4000 ft/min dimana Fw Fd dan Fb Fd

35

Dimana : T n Ft Fn Fd Fr = Torsi (lbm) = Putaran (rpm) = Gaya tangensial (lb) = Gaya normal (lb) = Gaya dinamis (lb) = Gaya radial (lb)

g. Lebar Gigi (b)

Rumus dari buku deutschman hal 584 b= Fd d1.Q K (9)

Q= 2.d2 d1+d2 Dimana : b Fd d1 d2 Q K = Lebar gigi (in) = Gaya dinamis (in) = diameter pinion =diameter gear = Perbandingan roda gigi = Faktor pembebanan

h. Syarat Keamanan Roda Gigi

9 b 13 p p

35

i. Evaluasi Kekuatan Gigi (Persamaan AGMA) Sad = Sat.Kl Kt.Kr t = Ft.Ko.P.Ks.Km Kv.b.j Dimana : Sat Kl Kt Kr = Tegangan ijin Material = Faktor umur = Faktor temperature = Faktor keamanan = Tegangan bending pada kaki gigi = Faktor koreksi beban lebih = Koreksi distribusi beban = Faktor dinamis = Faktor bentuk geometris ; Sad >t (syarat aman )

( 10 )

( 11 )

t
Ko Km Kv J

j. Menentukan Gaya bending Pada Pinion dan Gear (Fb) Rumus dari buku deutschman hal 551 Fb = So.b. Y P

( 12 ) Dimana : Fb So Y b P = Gaya bending = Kekuatan permukaan gigi = Faktor bentuk Lewis = diameter pitch = lebar gigi

k. Menentukan Panjang Garis Kontak Gigi

35

r=
AB =

d 2

( r4 + a 4 ) 2 r4 2 cos 2 r4 sin + ( r2 + a 2 ) r2 2 cos 2 r2 sin ( 13 )

l. Menentukan Perbandingan Kontak (kontak ratio)


Sad = AB

. cos

( 14 )

Dimana : AB CR = Panjang garis kontak = Kontak ratio

4.4 Standart Ukuran Roda Gigi Tabel 2.1. Standart Ukuran Roda Gigi Nama Addendum (A) Dedendum (b) Tinggi gigi Tinggi kontak (d) Celah
= 14
1 2

20
1 P 1,25 P 2,25 P 2 P 0,25 P

20 dipotong
0,8 P 1 P 1,8 P 1,6 P 0,2 P

25
1 P 1,25 P 2 P 2 P 0,25 P

1 P
1,157 P 2,157 P 2 P 0,157 ( b a ) / P (c d )

35

Gambar 2.8. Bagian-bagian pada Roda Gigi

4.9 Jenis-jenis Gearbox


Mekanik akan mengetahui bahwa akan ada lebih dari satu perangkat roda gigi atau pasang yang terdapat pada penggerak dan perangkat ini akan dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Wadah atau kotak ini akan memberikan lima fungsi utama yang penting bagi unjuk kerja roda gigi serta proses kerja yang efektif: 1. Beberapa cara melindungi dari debu dan kotoran 2. Memuat dan menyuplai pelumasan ke roda gigi dan bearing saat roda gigi dan bearing bekerja 3. Meluruskan roda gigi dengan benar dan memungkinkan pengapunga bagian ujung yang benar pada bearing penahan

35

4. Mampu menanggung resultan torsi yang diakibatkan dari operasi roda gigi saat dibebani 5. Memungkinkan kemudahan pemasangan sebagai satu unit yang menyatu 4.9.1. Gearbox Yang Dipasang di Poros Seperti namanya, kotak-kotak ini dipasang langsung pada poros penggerak akhir dan memerlukan beberapa cara atau lengan torsi untuk mencegah berputarnya kotak. Banyak terdapat pada konveyor karena kotakkotak ini akan memungkinkan penginstalasian yang sederhana, biasanya memakaim penggerak sabuk atau motor hidrolik langsung.

Gambar. Gearbox yang dipasang langsung pada poroS

4.9.2. Gearbox Helikal In-line Gearbox ini biasanya dipakai pada aplikasi sederhana atau ringan. Poros input dan output berada pada satu garis, seperti pada namanya. 2Cara ini juga umum dimana motor dipasang langsung di dalam gearbox.

35

Gambar .Gearbox inline 4.9.3. Gearbox Miring atau Helikal Paralel/Sudut Siku-siku Gearbox ini tidak berbeda di dalam rancangannya serta pemakaiannya kecuali cara penginputannya ke dalam box. Model-model box ini terutama dipakai pada penggerakkan dengan beban atau daya yang tinggi untuk kekuatan pemasangan dan penguatan. Kerap kali dipasangkan langsung di antara motor dan poros penggerak sebagai unit penggerak. 4.9.4. Gearbox Paralel Poros input dan output berada pada satu garis satu sama lainnya. Hanya ada dua pilihan pemasangan untuk gearbox paralel- poros berada pada satu sisi atau berlawanan.

Gambar .Poros Paralel 4.9.5. Gearbox Bevel Instalasi roda gigi pertama adalah bevel sudut siku-siku sehingga memungkinkan poros input memasuki sudut siku-siku pada box. Ada banyak pilihan

35

penggerakkan karena input dapat ditempatkan dimana saja dari kelima posisi, ujung box, atau salah satu dari empat posisi ujung.

Gambar . Bevel helikal sudut siku-siku 4.9.6. Gearbox Ulir Gearbox ini bekerja dengan cara penyekrupan antara profil poros input terhadap gigi-gigi roda output. Cara ini menghasilkan rasio reduksi tinggi dankemampuan overload sementara menjaga gearbox agar tetap sangat rapi.Keuntungan lain dalam menggunakan penggerak ulir adalah penggerakan satu arah, artinya poros input tidak akan berputar karena poros output tanpa terpengaruh beban pada poros output. Gearbox ini hanya diterima dengan penggerakan sudut siku-siku. Gearbox ulir mudah dipasangkan dengan box input lain, penggerak sabuk atau rantai untuk menghasilkan rasio yang lebih tinggi.

Gambar . Box Ulir

4.10 Perawatan Gearbox

35

Tanpa melihat seberapa baik sebuah gearbox, gearbox akan memerlukan beberapa perwatan dan penggantian pelumas. Tim service besar pengaruhnya pada terhadap seberapa baik gearbox bertahan kerja dengan melihat cara pemasangannya, pengoperasiannya dan perawatannya. 4.10.1 Menginstal Gearbox Pada semua gearbox kecuali yang Dipasang di Poros, selalu terdapat kerangka atau alat penaik (lug). Bagian ini akan memungkinkan mekanik untuk memasang box ke dalam konstruksi alat yang bekerja.Konstruksi tersebut harus cukup kuat untuk mengatasi tenaga serta torsi yang besar yang dihasilkan penggerakkan, artinya apapun torsi yang diperlukan untukmenggerakkan alat, ditransmisikan kembali ke dalam konstruksi pemasangantetapi dengan putaran yang berlawanan. Struktur tersebut sebaiknya juga membantu mekanik dalam memudahkan pelurusan poros dan penginstalasianmotor penggerak. Catatan: Pelurusan poros yang baik mengurangi kemungkinan kegagalan pada bearing. Mekanik harus mengetahui bobot yang terlibat serta posisi atau lug pengangkatan gearbox yang benar sebelum memindahkan atau mengangkat gearbox. Untuk memastikan tidak ada kerusakan pada gearbox atau poros,angkatlah dengan posisi dan alat yang benar. 4.10.2 Pelumasan pada Gearbox Pelumasan yang benar adalah hal yang penting untuk kelangsungan dan usia pakai yang lama. Mekanik harus memastikan tingkat dan jenis pelumas yang dipakai benar dan diganti dalam periode waktu khusus sesuai dengan pabrik pembuat dan kewajiban. Semua pelumas memiliki bahan aditif untuk membantu pekerjaannya - antiaus,anti-oxidants, anti-pembusaan,pemakaian air, dan lain-lain. Bahan-bahan tambahan ini menjadi aus saat gearbox bekerja, jadi setelah periode waktu tertentu memerlukan penggantian selanjutnya meknik mengganti oli. Cara ini bukan hanya mengganti bahan tambahan dan oli dengan yang baru, tetapi juga membersihkan dan menghilangkan kotoran yang memasuki atau ada di dalam box.Sebagian besar gearbox tergantung pada pelumas yang digunakannya dan/atau terpercik lewat roda gigi sehingga menutupi semua komponen yang berputar di dalam. Untuk mengerjakannya dengan benar, ketinggian pelumas harus diperhatikan: 1. Terlalu sedikit roda gigi tidak cukup mendapat pelumasan. 2. Terlalu banyak mengakibatkan pemanasan berlebihan karena roda gigi harus bekerja dengan banyak oli tersebut.

35

Pada gearbox utama, tangki pelumas luar, pompa, filtrasi, dan sistem pendinginan dipakai untuk memastikan operasi gearbox yang berkelanjutan. Tetapi ketinggian, kuantitas dan mutu masih merupakan hal yang penting.

4.11. Perawatan Rutin


Seperti telah dijelaskan pada bagian pelumasan, gearbox akan selalu memerlukan pemeriksaan dan penggantian pelumas secara teratur. Mekanik sebaiknya menggunakan waktu pemeriksaan yang paling baik.Kondisi jika gearbox tertutup lumpur atau kotoran, bersihkanlah agar gearbox dapat menghilangkan panas di bagian dalam. Temperatur Saat Bekerja (running) sebaiknya dicatat dan jika mungkin disimpan dengan menggunakan ukuran yang teratur. Informasi ini mungkin membantu mendeteksi setiap kesalahan atau masalah secara dini. Suara Bising jika gearbox mengalami masalah, umumnya suara gearbox akan menjadi lebih bising saat bekerja.Selip balik (Blacklash) dengan memutar poros gearbox dengan tangan (bila mungkin) mekanik akan dapat merasakan putaran (mesh) roda gigi dan melihat selip balik gearbox secara keseluruhan.Pekerjaan membuat takik atau selip balik berlebihan dapat menunjukkan kegagalan pada gigi atau keausan yang berlebihan.Pelumas saat mekanik mengganti oli, mekanik sebaiknya memeriksa debris dan kotoran partikel logam dan tanda-tanda pemanasan berlebihan (oli terbakar)pada oli lama. Membersihkan dan memeriksa breathers sebuah breather harus menyaring udara yang memasuki dan keluar dari gearbox. Jika terlalu kasar atau patah kotoran akan masuk dengan mudah. Jika tersumbat gearbox mungkin tidak sama atau seimbang dengan keadaan sekeliling. Bertekanan merusak lapisan dengan mendorongnya sehingga oli keluar dari box. Tekanan rendah menghisap udara dan kotoran masuk melalui pelapis.Jika semua informasi ini direkam di setiap pengerjaan mekanik supervisor dan/atau supervisor pabrik mungkin dapat memprogram pekerjaan utama untuk gearbox ini. 4.12. Memasang Ulang Gearbox Pada suatu waktu, setiap gearbox akan memerlukan bearing, pelapis, dan bahkan instalasi roda gigi yang baru. Jumlah pekerjaan yang diperlukan ditentukan oleh usia, kegagalan, beban kerja serta kerusakan yang terjadi. Karena lingkungan yang bersih merupakan suatu syarat, maka semua box harus dikembalikan ke workshop untuk diperbaiki atau diperiksa bagian dalamnya.

35

4.12.1 Melepaskan Sebelum melepaskan gearbox dari tempatnya, mekanik harus: 1. Mengetahui beban yang terdapat pada gearbox dan mengatur peralatan pengangkatan yang tepat. 2. Memastikan bahwa peralatan benar dan terisolasi sepenuhnya serta terkunci. 3. Memastikan tidak ada muatan yang akan atau dapat mengakibatkan alat ini berjalan atau berp utar balik jadi tidak ada beban pada gearbox yang hendak dilepaskan oleh mekanik. 4. Melepaskan pengaman. 5. Melepaskan kopling atau penggerak lainnya. 6. Keringkan pelumas jika memungkinkan dan catatlah kondisi dan kontaminasi (jika ada). 7. Lepaskan gearbox dari posisi yang terpasang dengan menahan pelat (shims) dan packers yang diketahui dan mencatat posisinya untuk pemasangan ulang yang lebih sederhana. 4.12.2 Stripping Awal Apabila box telah dikembalikan ke workshop dan dibersihkan bagian luarnya, jika. box masih berfungsi, mekanik perlu memutar box dengan menggunakan tangan.Cara ini dapat menunjukkan apa yang mungkin perlu diketahui oleh mekanik seperti: memeriksa selip balik yang berlebihan, suara yang sangat berisik dan daya tahan terhadap putaran atau lokasi tertentu yang keras. Pelat penutup pinggir, apabila ditandai untuk menunjukkan posisinya, dapat dilepaskan dan gasket/shim disimpan bersama penutupnya .Kerangka atas selanjutnya dapat dilepaskan untuk membuka roda gigi dan poros. Setiap poros dapat dilepaskan dan bagian dalamnya diperiksa dari kemungkinan terdapat debris. (Jenis dan kuantitas dapat membantu menentukan alasan kegagalan akan terjadi atau telah terjadi) Semua komponen perlu dicuci dalam bahan pelarut atau dibersihkan untuk menghilangkan pelumas guna pekerjaan pemeriksaan. Diperlukan pemeriksaan yang hati-hati pada roda gigi untuk mengetahui adanya tanda-tanda keretakan yang halus atau tanda-tanda masalah lainnya (lihat bagian tentang Jenis-jenis Kegagalan). Apabila kegagalan, kondisi, ekonomi atau biaya perbaikan telah ditentukan, bearing dan lain-lain dapat dilepaskan.

35

4.12.3. Bearing Pre-loading Karena beban pada poros menjadi lebih besar, gearbox memerlukan mutu bearing yang lebih baik dan tahan panas termal yang berasal dari pengerjaan gearbox. Oleh karena itu saat mekanik mengkonsultasikan cara pengerjaan yang benar, mekanik akan mendapatkan informasi mengenai pre-load atau ruang bebas yang diperlukan untuk setiap poros atau instalasi bearing.Cara yang baik lainnya adalah dengan mencatat apa dan dimana ketebalan shim shim pada saat membuka box, karena cara ini akan membantu mekanik pada saat memasang ulang gearbox tersebut. Beberapa cara sederhana memeriksa pre-load:

1. Feeler Gauge (a) Pasanglah bearings dan poros ke dalam kerangka tanpa gasket atau shim. (b) Kencangkan penutup hingga poros tidak lagi berputar, poro menjadi terkunci. (c) Dengan feeler gauges ukurlah jarak antara kerangka dan penutup bearing. (d) Tambahkan pengapungan bebas (free float) yang tepat yang diperlukan untuk gambar ini. Gambar terakhir ini akan menunjukkan pada mekanik ketebalan shim atau gasket yang tepat yang diperlukan untuk penutup. Jumlah shim per sisi akan diatur sesuai jenis dan pelurusan roda gigi sebenarnya.(Pada spur sederhana dan kotak helikal kecil, jumlah ganjalan adalah setengah per penutup). 2. Feeler Gauge Jarak bebas bearing Cara ini dilakukan apabila bearing harus dipasang pada poros atau apabila bearing dibentuk ke dalam perangkat poros. Perangkat ini kemudian

dipasang ke dalam box. Contohnya, roller bearings tirus ganda. (a) Feeler gauges dimasukkan ke dalam bearing antara rollers dan bidang luar. (b) Kerah tirus atau kerah beban awal disesuaikan hingga jarak bebas yang benar diatur.

35

3. Dial Indicator (a) Pasanglah bearing dan poros ke dalam kerangkanya dengan beberapa atau ketebalan yang sama dari gasket asli atau pengganjal yang dilepaskan. (b) Kencangkan penutup. (c) Pasanglah dial indicator agar dapat mengukur pengapungan poros. (d) Pukullah dengan pelan sepanjang sumbu poros untuk menggerakkannya ke kedua arah. (e) Catat jumlah jalannya jarum penunjuk jika benar, pasanglah sisa baut. Jika salah, tambahkan atau lepaskan sejumlah pengganjal sesuai dengan yang diperlukan.

4.13. Pelurusan Roda gigi atau Pentautan


Pada perangkat roda gigi dan gearbox yang sederhana, pengaturan roda gigi diatur lewat bearing dan pembuatan box (biasanya gearbox atau poros akan memiliki bearing bola deret yang dalam)(deep row ball bearing) Pada perangkat roda gigi yang lebih kompleks - ulir, bevels, herringbone, hanya pelurusan yang tepat akan memastikan pekerjaan yang benar serta usia yang lama.

Gambar .Pelurusan lateral dan radial Terminologi 1. Kelonggaran (Backlash) jarak bebas sebenarnya antara gigi -gigi sepanjang jalur pitch. 2. Jalur pitch jalur tengah potongan gigi yang bekerja dan jalur perangkat roda gigi yang bekerja atau berpasangan. 3. Dasar bagian bawah lurus atau radius antara gigi-gigi. 4. Roda gigi atau roda lebih besar dari pasangan roda gigi, biasanya

35

yang digerakkan. 5. Pinyon roda gigi penggerak berukuran lebih kecil. 6. Radial penyesuaian yang dibuat untuk membawa roda gigi bertautan dengan lebih baik. 4.13.1 Lateral pelurusan roda gigi agar roda gigi cocok dengan ukuran lebarnya. 1. Penggigitan/pentautan cara dua gigi digunakan dan bekerja satu dengan lainnya 2. Bearing Blue bahan berwarna yang telah dicampur dengan oli sehingga melekat, mentransfer dan memberi tanda pada permukaan yang bersentuhan sehingga tanda-tanda kontak yang akan dihasilkan teramati, mekanik dapat menentukan apakah pentautan yang benar telah dibuat.

Catatan: Jika sedang bekerja perangkat roda gigi bekas atau usang Jangan mengubah pelurusan apabila telah usang bahkan pula jika roda gigi dipasang dengan salah. Permukaan roda gigi-roda gigi yang bekerja ini akan menyesuaikan secara bersamaan. Mengubah pelurusan akan mengakibatkan tekanan tambahan yang lebih tinggi yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kegagalan secara tiba-tiba. Jika mekanik merasa ragu menyangkut kesesuaian perangkat roda gigi untuk dipakai ulang. Beritahu langsung supervisor bagian. 3. Spur dan Helikal Untuk roda gigi spur dan helikal, mekanik biasanya akan mengkhawatirkan pelurusan lateral karena pengaturan radial dikerjakan lewat kerangka gearbox. Jika roda gigi-roda gigi ini tidak dalam kondisi lurus yang benar, biasanya masih akan bergerak tetapi akan mengalami aus yang tidak merata. 4. Herringbone Karena secara efektif ini adalah dua roda gigi helikal yang berlawanan arah,mekanik harus memperhatikan pelurusan lateral. Selama roda gigi tidak lurus, maka hanya satu sisi hanya akan mengangkut semua beban dan akan menghasilkan gaya aksial pada bearing. Bahkan diperlukan blue di seluruh bagian muka gigi herringbone. 5. Cacing (Worm)

35

Pada kotak cacing, mekanik harus memastikan apakah roda gigi semuanya telah ditengahkan secara lateral. Pengaturan radial atau kedalaman pemakaian diatur lewat permesinan box. 1. Jika roda tidak ditengahkan cacing hanya dapat bekerja pada bagian sisi gigi-gigi dari roda bukan bagian lebarnya. 2. Jika cacing tidak ditengahkan, mekanik akan melihat kerusakan pada bagian bawah roda karena cacing tidak berada cukup jauh ke dalam.

4.14. Bevel
Ini adalah instalasi roda gigi yang paling kompleks, karena radial dan lateral disesuaikan. Pada bevel tirus, perubahan pada lateral juga akan mengubah pengaturan radial. Pentautan atau penggigitan yang benar berarti roda gigi-roda gigi ini memiliki pengaturan backlash, radial dan lateral yang benar serta penandaan blue baik pada semua gigi untuk pemotongan spur atau penandaan bagian tengah untuk gigi-gigi potongan spiral. (Periksalah manual pengerjaan untuk penandaan blue pada box yang diperlukan). 1. Pinyon Dengan memasukkan pinyon, pentautan gigi-gigi akan menjadi dalam, melepaskan backlash dan mengubah pelurusan roda gigi. 2. Roda gigi Dengan mengubah roda gigi, mekanik dapat mengubah tautan gigi dan backlash. Penyesuaian ini tidak dapat mengubah pelurusan

35

Gambar . Gerakan relatif perangkat bevel gear 4.15. Jenis-jenis Kegagalan Penggerak roda gigi biasanya tidak akan mengalami kesalahan yang berat tanpa memberikan beberapa peringatan atau tanda-tanda sebelum terjadi kesalahan. Banyak dari gejala ini akan ditunjukkan dan dapat diamati tanpa membongkar gearbox dari pengerjaan. Tetapi apabila mekanik benar-benar membongkar bagian dalam gearbox, akan ada banyak roda gigi yang bisa menunjukkan kegagalan. 1. Panas Apabila roda gigi bekerja dengan kondisi yang benar, roda gigi-roda gigi tersebut akan menunjukkan warna umum yang sama dan akan memperlihatkan bagian depan pekerjaan berwarna perak halus. Jika roda gigi-roda gigi terkena panas yang berlebihan atau kurangnya pelumasan, mekanik akan menemukan warna yang kabur akibat panas. Warna-warna ini akan ditunjukkan dengan tidak meratanya warna pada gigi hingga warna biru total pada bagian depan gigi yang bekerja dan atau seluruh gigi. 2. Pelumasan Apabila perangkat roda gigi dipasang dengan benar, hal yang paling penting berikutnya adalah pelumasan. Pasangan roda gigi yang diinstal buruk bisa mengerjakan beban yang dibutuhkan, tetapi jika pelumasan salah penggerak dengan cepat menjadi tidak dapat bekerja. Bentuk-bentuk kesalahan akan ditunjukkan pada bagian depan gigi.

35

a. Debris Membiarkan benda asing atau partikel akibat keausan tetap berada di dalam casing dan oli akan mengakibatkan keausan yang lebih abrasif. Masalahnya akan menjadi semakin kronis karena apabila proses tersebut mulai terjadi, semakin banyak debris akan dihasilkan dan semakin banyak kerusakan yang terjadi pada roda gigi dan bearing. Pola kerusakan yang terjadi berupa garis-garis yang terdapat dari bagian bawah hingga ujung setiap gigi. Begitupula di dalam box, mekanik akan menemukan partikel logam dan kotoran.Biasanya masalah ini disebabkan oleh masuknya kotoran jadi breather dan pelindung gearbox harus diperiksa. Mungkin saja masalah tersebut disebabkan breather perlu di upgrade atau kondisinya dimana diperlukan periode waktu yang lebih pendek antara penggantian-penggantian oli guna menjaga kontaminasi berada pada batas yang dapat ditolerir. b. Jenis yang salah Meski tidak dipungkiri semua oli melumasi, tetapi tidak benar jika setiap oli akan melakukannya. Agar gearbox industri tertentu bekerja secara efektif, oli harus memiliki kekuatan film yang cukup serta bahan tambahan untuk menangani muatan yang dikerjakan.

(a) Terlalu ringan Petunjuk yang memperlihatkan oli terlalu ringan adalah tanda goresan pada bagian depan gigi. Goresan-goresan ini disebabkan karena bagian permukaan gigi secara terus menerus menjadi beradu satu dengan lainnya dan beberapa fusi permukaan atau pengelasan yang berlangsung. Gearbox akan menjadi berisik, menjadi panas dan saat pergantian oli akan banyak terdapat kandungan logam. (b) Terlalu berat Jika oli terlalu kental, akan dapat mengakibatkan kondisi pelumasan menjadi kurang. Karena oli menjadi lebih kental, dua hal akan terjadi: 1. Roda gigi harus bekerja lebih keras untuk menekan keluar oli antara bagian-bagian depan yang bekerja sehingga akan menimbulkan panas. 2. Kemampuan oli melindungi semua roda gigi dan bearing di dalam gearbox menjadi terbatas. Hal ini akan menyebabkan kekurangan pelumasan untuk beberapa komponen yang terdapat di dalam gearbox. Kondisi ini akan menyebabkan pemanasan pada roda gigi dan/atau timbulnya goresan pengelasan permukaan gigi.

35

c. Bahan Tambahan yang Salah Beberapa bahan tambahan yang terkandung di dalam oli menentukan kemampuannya dalam menangani tekanan berlebihan yang dihasilkan serta tidak meratanya permukaan roda gigi. Pemilihan jenis oli yang benar dan zat tambahannya sebaiknya dilakukan berdasarkan data-data dari pabrik pembuat, bersama supplier pelumas, pengetahuan tentang kondisi kerja dan pengerjaannya. Penggunaan oli yang salah akan mengakibatkan kerusakan sebelum periode servis yang harus dilakukan, oleh karena itu memungkinkan terjadinya kerusakan yang lebih cepat. Tanda-tanda terjadinya kerusakan yang lebih cepat adalah: oli kehilangan kekentalannya (viscosity) selama masa penggantian standar oli masih bersih tetapi banyak logam yang hilang korosi bagian dalam atau serangan bahan kimia di bagian dalam box. d. Bahan Pelumas tidak berubah Karena oli bekerja terus menerus, kwalitas oli (bahkan oli sintetis) akan menurun. Hingga pada akhirnya oli tersebut tidak akan memiliki kekuatan film yang dibutuhkan. Biasanya saat itu juga oli juga akan menjadi bersifat korosif, sehingga kerusakan pada gearbox menjadi lebih cepat.Periode pengerjaan yang benar atau pengujian kondisi oli secara teratur merupakan kewajiban guna memastikan usia yang panjang dari gearbox.Oli dengan kondisi ini akan menjadi lebih encer dibanding pada pemakaian awal dan akan bersifat asam. 3. Overloading 1. Plastic Flow Apabila mekanik memeriksa roda gigi, mekanik akan memperhatikan bahwa bentuk pinggiran roda gigi menjadi tidak teratur atau pada bentuk gigi-gigi pada roda gigi. Hal ini menunjukkan bahwa telah menjadi lunak,tidak diperkeras dengan baik atau telah mengalami overloading.Perubahan pada bagian pinggir disebabkan oleh perubahan logam karena disebabkan beban, sehingga memungkinkan bagian pinggir menjadi berubah bentuknya.Jika roda gigi masih dalam kondisi yang baik, pemutaran atau perubahan pada bagian pinggir dapat digerinda secara hati-hati dengan membuat sedikit penumpulan (chamfer) pada bagian pinggir roda gigi. (Jika mungkin gearbox ini perlu dipasang pada posisi dengan beban dikurangi)

35

2. Overload Jika permukaan terlihat tergores dan materi terlepas tidak merata dari semua bagian permukaan kerja, maka penyebabnya bisa merupakan overloading. Pemeriksaan harus dilakukan menyangkut seberapa baik pentautan diatur dan pada beban gearbox sebenarnya. 4. Kerusakan pada permukaan/goresan/lobang Ada dua kondisi yang dapat mengakibatkan kerusakan ini: 1. Debris yang terdapat pada kontak permukaan kerja dari roda gigi. Ketidakteraturan permukaan atau kerusakan permukaan setempat yang mengakibatkan keretakan terbentuk. 2. Hati-hati saat bekerja pada kondisi-kondisi di atas karena keduanya mengurangi luas permukaan sentuh dan dapat mengakibatkan kerusakanPermukaan yang lebih jauh. Selain itu, debris yang dihasilkan dapatmengakibatkan kerusakan lebih jauh jika tidak dibersihkan atau dibiarkan mengendap oleh pelumas. Jumlah kerusakan permukaan yang sedikit tidak akan mengambil banyak perhatian, tetapi alasan terjadinya perlu diketahui. 5. Pengaturan yang salah Masalah berikut berhubungan dengan bevel gears, karena semua jarak bebas radial ditetapkan oleh jarak pusat kerangka. Pelurusan yang salah mengurangi luas permukaan kontak adalah satu-satunya masalah yang dapat diralat oleh mekanik 6. Pentautan terlalu dalam Untuk pengerjaan yang benar, semua roda gigi yang berpasangan memerlukan jarak bebas antara bagian dasar dan ujung. Jika mekanik memperhatikan kerusakan pada bagian dasar serta pembulatan di bagian ujung pada kedua sisi, kemungkinan besar adalah pentautan roda gigi terlalu dalam dan kontak sesungguhnya telah terjadi. 1. Jika permukaan gigi benar sesuai gambar maka roda gigi dapat diatur kembali dengan benar. 2. Jika bagian depan gigi menunjukkan tanda-tanda keausan maka diperlukan perhatian yang ekstra hati-hati. Mekanik tidak boleh mengatur kembali posisi relatif roda gigi dan pengganjalan, tetapi jarak bebas harus dibuat. Gerindalah atau mesinkan secara hati-hati tip atau diameter tirus luar dari pinyon hingga jarak bebas dibuat. Bersihkan bagian pinggir yang tajam atau kasar dan atur kembali dengan menggunakan ketebalan shim yang asli baik pada roda gigi maupun setting pinyon.

35

7. Pentautan tidak cukup Jika tanda-tanda keausan menunjukkan dangkal atau backlash berlebihan,mungkin bevel gear tidak bertautan dengan benar. 1. Jika permukaan gigi benar sesuai dengan gambar maka roda gigi dapat direset dengan benar. 2. Jika gigi-gigi telah usang tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya, kurangnya penggerindaan ulang pada permukaan untuk memperbaharui dan memperbaharui kembali roda gigi-roda gigi. Mekanik sebaiknya tidak mereset pentautan roda gigi yang telah usang. (Jika roda gigi-roda gigi ini masih bisa bekerja dalam jangka waktu yang lama maka jika diperlukan, setelah mengubah dan membahas bersama supervisor mekanik, roda gigi-roda gigi ini dapat digunakan kembali hingga penggantian nanti. Tidak dianjurkan tetapi bisa dilakukan) Troubleshooting Apabila mekanik mengerjakan atau memeriksa gearbox, mekanik sebaiknya mengamati kondisi gearbox. Mekanik sebaiknya mencatat hal-hal berikut: 1. Panas

Tanda-tanda overloading atau kurangnya pelumasan atau kegagalan pendinginan jika diatur: Apakah box lebih panas lebih panas dari biasanya atau lebih dari 30 Di atas luas sekeliling atau sekitar? Panas atau bau terbakar di sekitar box? Tingkat ketinggian pelumasan, jenis yang salah atau terlalu penuh? Bising Suara penggerindaan, bunyi benda jatuh, pukulan?

2. Kondisi oli Perubahan warna pada oli karena panas? Perubahan warna karena masuknya kotoran dan debu? Apakah ada partikel logam yang halus?

35

3. Bocor Pelindung tidak berfungsi atau sudah usang? Kerusakan pada bearing? Beban samping yang berlebihan pada poros poros melentur? Pelumas terlalu banyak kebocoran pada breather? Breather terblok tekanan yang berlebihan pada box? Poros bergerak tidak seimbang Bearing usang atau tidak bekerja dengan baik? Putaran bearing pada kerangka atau pada poros? Kelonggaran pada kaitan gigi (back lash) Roda gigi sudah usang? Pengaturan yang salah?

35

BAB V PENUTUP V.1 Kimpulan Berdasarkan hasil yang di dapatkan dari kerja praktek di atas maka di peroleh hasil sebagai berikut dan merupakan hasil pengamatan dari lapangan adlah sebagai berikut : Diameter poros worm shaft masih baik Oil seal masih bagus Paking gear box masih baik Gear weel masih baik Bering worm shaft masih baik Gear box masih dapat bekerja dengan baik sebagai sepid reduser

V.2 Saran

35

Pemilihan jenis material dan faKtor keamanan adalah suatu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam perawatan Gear Box, serta dibutuhkannya suatu rpemiliharaan roda gigi yang praktis, sehingga perawatan lebih efisien dan biaya dalam perawatan Gear Box dapat ditentukan seminimal mungkin. Gunakan jenis material yang tepat untuk menerima beban atau gaya-gaya yang terjadi dan pilihlah jenis pelumasan yang effisien sehingga Gear Box lebih aman dan lebih lama umur pemakaiannya dapat dilakukan hal sebagai berikut :. 1. Diharapkan dalam melakukan praktikum ini agar lebih teliti terhadap alat dan bahan yang dipakai. 2. Jangan suka bermain main dalam melaikan praktikum. 3. Hendaklah priksa lebih dahulu kondisi alat dan bahan dalam keadaan standard atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA

35