Anda di halaman 1dari 9

KELENJAR ADRENAL I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI ADRENAL

ANATOMI Kelenjar adrenal ( kelenjar suprarenal) adalah dua massa triangular pipih berwarna kuning yang tertanam pada jaringan adipose. Organ ini berada di kutub atas ginjal. Kelenjar yang kanan terletak di belakang lobus kanan hepar dan tepat di sebelah posterolateral IVC. Adrenal kiri di anterior dibatasi oleh kantung minor dan lambung. Masing-masing kelenjar adrenal terdiri dari korteks di bagian luar dan medulla di bagian dalam. (Sloane, 2003 dan Faiz, 2004) Korteks berasal dari mesoderm dan bertanggung jawab untuk produksi hormone steroid. Medulla berasal dari ectoderm (krista neuralis) dan berfungsi sebagai bagian dari system saraf otonom. Serabut preganglionic simpatis didapat dari n.splanknikus magna yang menstimulasi medulla untuk mensekresi noradrenalin dan adrenalin ke aliran darah. (Faiz, 2004) a. Korteks mensekresi hormon steroid. Korteks terbagi menjadi tiga lapisan, dari luar ke dalam : zona glomerulosa, zona fasikulata, dan zona retikularis. b. Medulla mensekresi epinefrin dan norepinefrin

FISIOLOGI 1. Hormone medular disekresi oleh sel-sel kromafin medulla adrenal untuk merespons stimulus preganglionic simpatis. Hormone ini meliputi katakolamin, epinefrin (80%) dan norepinefrin (20%). a. Epinefrin dan norepinefrin memiliki perbedaan efek fisiologis yang berkaitan dengan kedua jenis reseptornya, alfa () dan beta (), yang terletak pada membrane sel target. b. Secara keseluruhan, fungsi hormone ini adalah untuk

mempersiapkan tubuh terhadap aktivitas fisik yang merespons stress, kegembiraan, cedera, latihan dan penurunan kadar gula darah. 1) Efek epinefrin Frekuensi jantung, metabolism, dan konsumsi oksigen meningkat Kadar gula darah meningkat melalui stimulasi glikogenolisis pada hati dan simpanan glikogen otot Pembuluh darah pada kulit dan organ-organ visceral berkomstriksi sementara pembuluh di otot rangka dan otot jantung berdilatasi 2) Efek norepinefrin adalah untuk meningkatkan tekanan darah dan untuk menstimulasi otot jantung 2. Hormone kortikal adrenal, berlawanan dengan hormone medular, sangat penting untuk kehidupan a. Mineralokortikoid disintesis dalam zona glomerulosa 1) Aldosterone, mineralokortikoid terpenting, mengatur

keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah 2) Kendali sekresi. Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin

b. Glukokortikoid disintesis dalam zona fasikulata. Hormon ini meliputi kortikosteron, kortisol, dan kortison. Hormone yang terpenting adalah kortisol. 1) Efek fisiologis Mempengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan lemak untuk membentuk cadangan molekul yang siap di metabolis. Meningkatkan sintesis glukosa dari sumber

nonkarbohidrat (gluconeogenesis), simpanan glikogen di hati (glikogenesis) dan peningkatan kadar glukosa darah. Meningkatkan penguraian lemak dan protein serta menghambat ambilan asam amino dan sintesis protein Menstabilisasi membrane lisosom untuk mencegah

kerusakan jaringan lebih lanjut 2) Kendali sekresi melalui kerja ACTH dari kelenjar hipofisis dalam mekanisme umpan balik negative. Stimulus utama dari ACTH adalah semua jenis stress fisik atau emosional Stress (misalnya trauma, infeksi atau kerusakan jaringan) akan memicu impuls saraf ke hipotalamus. Hipotalamus kemudian m ensekresi hormone pelepas kortikotropin (corticotropin releasing hormone-CRH),

yang melewati system portal menuju kelenjar pituitary anterior, yang melepas ACTH ACTH bersirkulasi dalam darah menuju kelenjar adrenal dan mengeluarkan sekresi glukokortikoid Glukokortikoid mengakibatkan peningkatan persediaan asam amino, lemak, dan glukosa dalam darah untuk membantu memperbaiki kerusakan yang disebabkan stress dan menstabilkan membrane lisosom untuk mencegah kerusakan lebih lanjut

c. Gonadokortikoid

(steroid

kelamin)

disintesis

pada

zona

retikularis dalam jumlah yang relative sedikit, steroid ini berfungsi terutama sebagai precursor untuk pengubahan testoteron dan estrogen oleh jaringan lain. (Sloane, 2003)

II.

FARMAKOLOGI ADRENAL

KORTIKOSEROID Dibagi menjadi sua kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya : 1. Glukokotikoid : berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat antiinflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kerja eosinofil 2. Mineralokortikoid : berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam di ginjal

KORTIKOSTEROID GLUKOKOTIKOID HORMON : Hidrokortison (kortisol, kortison) SINTETIK : Prednisolon Prednison Metilprednisolon Betametason Deksametason Triamsinolon (Neal, 2006) MINERALOKORTIKOID Aldosterone Fludrokortison

Hidrokortison Indikasi : Antiinflamasi, pengobatan reaksi alergik, penggantian steroid, transplantasi organ Dosis : Antiinflamasi : IV/IM, 20-300 mg (1-2 mg/kg) setiap 2-10 jam prn ; intraartikuler/intrajaringan : 10-50 mg dapat diulangi 1-3 minggu Syok yang mengancam kehidupan : IV, 0,5-2 g (50 mg/kg) setiap 2-6 jam Penggantian steroid : IV, 50-100 mg sebelum, selama, dan setelah pembedahan ; PO, 5-30 mg 2-4 kali sehari untuk peradangan berat dan insufisiensi adrenal Eliminasi : Hati Farmakologi : suatu steroid yang disekresikan oleh korteks adrenal, hidrokortison mempunyai aktivitas antiinflamasi yang lemah dan

mineralokortikoid yang poten. Hidrokortison merupakan kortikosteroid pilihan untuk terapi penggantian pada pasien dengan insufisiensi adrenokorteks. Untuk penggunaan antiinflamasi atau imunosupresif, dipilih glukokortikoid sintetik (contohnya prednison) yang mempunyai aktivitas mineralokorikoid minimal. Hidrokortison mempunyai awitan yang cepat tetapi lama aksi yang pendek. Seperti glukokortikoid lainnya, hidrokortison meningkatkan katabolisme protein, gluconeogenesis, ekskresi ginjal dari kalsium dan retribusi lemak dari daerah perifer ke daerah sentral tubuh. Hidrokortison menekan sumbu hipotalamik-hipofise-adrenal. Farmakokinetik Awitan aksi : efek antiinflamasi, IV/IM, beberapa menit Lama aksi : efek antiinflamasi/supresi HPA, 30-36 jam Interaksi/Toksisitas : bersihan ditingkatkan oleh fenitoin, fenobarbital, efedrin, dan rifampin; perubahan respons terhadap antikoagulan kumarin;

efek yang meningkat pada pasien dengan hipotiroidisme dan sirosis; berinteraksi dengan obat-obatan antikolenesterase (contohnya

neostigmine) untuk menimbulkan kelemahan yang berat pada pasien dengan miastenia gravis; efek pemborosan kalium ditingkatkan oleh diuretic deplesi kalium (contohnya tiazid, furosemide); penurunan respons terhadap toksoid dan vaksin hidup atau terinaktivasi. Peringatan 1. Kontraindikasi pada infeksi jamur sistemik 2. Hati-hati penggunaan pada pasien dengan herpes simpleks mata karena kekhawatiran terjadinya perforasi kornea 3. Pada pasien dengan terapi kortikosteroid yang dihadapkan pada suatu stress yang tak biasa, tingkatkan dosis dari kortikosteroid 4. Hidrokortioson asetat bukan untuk penggunaan IV Efek Samping Kardiovaskuler : aritmia, hipertensi, gagal jantung kongestif (CHF) pada pasien rentan SSP : kejang, peningkatan tekanan intracranial, gangguan psikis Cairan dan Elektrolit : Retensi natrium, retensi cairan, hypokalemia Musculoskeletal : kelemahan, miopati, osteoporosis Endokrin : supresi pertumbuhan, tidak adanya respons adrenokorteks dan hipofise terhadap stress, peningkatan kebutuhan akan insulin GI : penngkatan nafsu makan, mual Lainnya : tromboembolisme, pertambahan berat badan, katabolisme protein, glaucoma, peningkatan tekanan intraokuler, eritema, gangguan penyambuhan luka, penurunan respons terhadap toksoid dan vaksis hidup atau terinaktivasi, peningkatan kerentanan terhadap infeksi. (Omoigui, 2000)

III.

PEMERIKSAAN ADRENAL

1. Pemeriksaan Hemokonsentrasi Darah Nilai Normal : Dewasa wanita : 37-47% Pria : 45-54% Anak-anak : 31-43% Bayi : 30-40% Neonatal : 44-62% Tidak ada persiapan secara khusus. Specimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena. Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan. Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K, Cl), dengan nilai normal : Natrium Kalium : 310-335 mg (13,6-14 meq/liter) : 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter)

Chlorida : 350-375 mg% (100-106 meq/liter)

Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan hyperkalemia. Tidak diperlukan persiapan fisik secara khusus. 2. Percobaan Vanil Mandelic Acid Bertujuan untuk mengukur kadar katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normalnya 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus. (Rumahorbo, 1999) 3. Pemeriksaan Supresi ACTH Pada pemeriksaan supresi ACTH, suatu kortisol sintetik, deksametason, diberikan untuk menekan produksi ACTH. Jika diperlukan dosis yang sangat tinggi untuk supresi ACTH,

penyebabnya adalah hipofisis, seperti tumor hipofisis, yang menghasilkan sekresi ACTH yang berlebihan. Jika kortisol plasma terus meningkat dengan supresi ACTH penyebabnya mungkin hiperfungsi korteks adrenal (sindrom Cushings). menekan

pelepasan ACTH tidak akan mempengaruhi kelenjar adrenal yang hiperaktif.

4. Stimulasi ACTH Pada pemeriksaan stimulasi ACTH, ACTH (kosintropin) diberikan dan kadar plasma kortisol harus digandakan dalam 1 jam. Jika kadar kortisol plasma tetap sama atau lebih rendah, penyebabnya Addisons). Untuk memeriksa hipofungsi, obat metirapone (metopirone) diberikan untuk menghambat produksi kortisol, sehingga adalah insufisiensi kelenjar adrenal (penyakit

menyebabkan peningkatan sekresi ACTH. Jika kadar ACTH tidak meningkat masalahnya adalah insufisiensi hipofisis. (Kee, 2000)

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula ; Alih Bahasa James Veldman ; Editor Palupi Widyastuti. Jakarta : EGC Faiz, Omar dan David Moffat. 2004. At a Glance Series Anatomi ; Alih Bahasa, Annisa Rahmalia ; Editor, Amalia Safitri. Erlangga Kee, Joyce LeFever. 2000. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi Keperawatan ; Alih Bahasa, Easter Nurses ; Editor, Monica Ester. Jakarta : EGC Omoigui, Sota. 2000. Buku Saku Obat-Obatan Anestesia ; Alih Bahasa, R.F. Maulany ; Editor, Melfiawati S. Ed. 2 . Jakarta : EGC Neal, Michael.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis; Alih Bahasa, Juwalita Surapsari; editor, Amalia Safitri. Ed. 5 . Erlangga Rumahorbo, Hotma. 1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin ; Editor, Yasmin Asih. Jakarta : EGC