Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS HERNIA INGUINALIS BAGIAN BEDAH RS HUSADA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UKRIDA Nama mahasiswa NIM Dokter

r pembimbing I. IDENTITAS PASIEN : : : : : : : Tn. S 47 thn Laki-laki Kuli Bangunan Islam diketahui 24 Agustus 2005, Pkl. 07.15 WIB : : : Okkian Wijaya Kotamto 11-2003-070 Dr. Liliati Widjaya.

Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat Tanggal masuk RS Husada II. ANAMNESA

Autoanamnesa 24 Agustus 2005, Pkl. 09.00 WIB Keluhan Utama Keluhan tambahan : : Benjolan dilipat paha sebelah kanan yang hilang timbul, sejak kurang lebih satu bulan SMRS Husada. Nyeri pada saat BAB karena mengedan, sejak kurang lebih satu minggu SMRS Husada. Riwayat penyakit sekarang : Sejak kurang lebih satu bulan SMRS Husada, pasien mengeluh mulai timbul benjolan dilipat paha sebelah kanannya, berbentuk bulat agak lonjong. Benjolan tersebut timbul terutama saat pasien berjalan jauh dan mengangkat benda-benda berat, dan akan hilang bila pasien berbaring. Namun karena benjolan tersebut tidak terasa nyeri, maka didiamkan saja oleh pasien. Timbulnya benjolan tersebut tanpa disertai demam, mual dan muntah. Walaupun tanpa gejala, benjolan itu mengganggu aktivitas pasien dalam pekerjaannya sehari hari, yaitu sebagai kuli bangunan, seperti bila saat mengangkat bahan-bahan bangunan.

Satu minggu SMRS Husada, pasien mengeluh benjolan semakin besar, dan juga nyeri di benjolan ketika BAB.BAB satu kali sehari, konsistensi lunak, warna kuning, darah dan lendir negatif. Riwayat BAK : Lancar, warna kuning jernih Riwayat BAB : Sebelum sakit : Lancar, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan Riwayat makan : porsi cukup, tiga kali sehari. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat menderita sakit maag, kencing manis, darah tinggi, asma, penyakit jantung, batuk-batuk lama, susah BAK disangkal III. A. 1. 2. 3. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum Pasien tampak sakit sedang, dyspneu (-), sianosis (-) Kesadaran Compos mentis; GCS : E = 4, V = 5, M = 6 15 Tanda-tanda Vital Tekanan darah : Suhu 4. Kepala Bentuk normal, rambut berwarna hitm, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak teraba benjolan. 5. Mata Bentuk normal, kedudukan kedua bola mata simetris, palpebra sup et inf tidak oedema, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, kornea jernih, pupil bulat, isokor, diameter kurang lebih 4mm, reflek cahaya +/+. 6. 7. 8. Hidung Bentuk normal, tidak ada deviasi septum nasi, sekret -/-, krepitasi tidak ada. Telinga Bentuk normal, CAE lapang, sekret -/-, serumen -/Mulut Bentuk normal, perioral sianosis (-), bibir tidak kering, lidah tidak kotor, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang. : 130/80 mmHg 37 C Nadi : 80x/mnt RR : 20x/mnt

9. 10.

Leher Bentuk normal, trakea di tengah, KGB tidak teraba membesar. Thorax Paru : (I) (Pa) (Pe) (A) (I) (Pa) (Pe) Bentuk normal, tampak simetris dalam statis dan dinamis, retraksi suprasternal (-) Stem fremitus kanan kiri sama kuat Sonor pada kedua lapang paru Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/Ictus cordis tak tampak Ictus cordis teraba i.c.s. V midclavicula line sin., tak kuat angkat Redup pada ; batas atas batas kiri (A) : i.c.s. II parasternal line sin. : i.c.s. V midclavicula line sin. batas kanan : midsternal line Bunyi jantung I dan II reguler murni, murmur (-), gallop (-) Datar, tidak tampak gambaran usus dan vena Supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri tekan (-), nyeri ketok CVA kanan & kiri negatif. (Pe) (A) Timpani, meteorismus (-) Bising usus (+), Normal

Jantung :

11.

Abdomen (I) (Pa)

Regio inguinalis kanan lihat di status lokalis. 12. Genitalia eksterna Laki-laki, telah dicircumsisi, tidak tampak tanda-tanda radang, Skrotum Testis kanan dan kiri teraba, nyeri pada perabaan (-). 13. 14. Ekstremitas sup et inf Bentuk normal, deformitas (-), oedema (-), tanda-tanda radang/infeksi (-). Kulit Sawo matang, turgor baik B. Status Lokalis Regio inguinal kanan 3

(I)

Pada posisi berdiri - tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tandatanda radang. - mengedan : Tampak benjolan bulat agak lonjong berukuran 5cmx5cmx2cm . Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan.

(Pa) :

Saat berdiri mengedan. Teraba benjolan 5cmx5cmx2cm , konsistensi kenyal, dapat didorong masuk kembali dengan jari, permukaan licin,batas tidak tegas, nyeri tekan (-). Finger test (+) pada ujung jari. Saat tiduran, benjolan tidak tampak.

(Pe) (A) IV. Darah : - Hb - Eritrosit - Leukosit - Trombosit - Masa Pdrh - Masa Pbk - Ureum - Creatinine - Kalium - Natrium V.

: :

Tidak dilakukan Bising usus (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium 24/8/2005 : : : : : : : : 15,8 g/dl 5,0 juta 5.200 mm3 201.000 mm3 2 8 32 mg/dl 0,8 mg/dl

: 3,72 meq/l : 142 meq /l

RESUME

Telah diperiksa seorang laki-laki berusia 47 thn, datang dengan keluhan terdapat benjolan di lipat paha sebelah kanan ( hilang bila pasien berbaring ) sejak +1 bulan SMRS Husada ,terasa nyeri di daerah benjolan pada saat BAB, mual (-), muntah (-), demam (-), pusing (-). 4

Status Lokalis Regio inguinal kanan (I) : Pada posisi berdiri - tanpa mengedan : tidak tampak benjolan, tidak tampak tandatanda radang. - mengedan : Tampak benjolan bulat agak lonjong berukuran 5cmx5cmx2cm . Pada posisi berbaring : Tidak tampak benjolan. (Pa) : Saat berdiri mengedan. Teraba benjolan 5cmx5cmx2cm , konsistensi kenyal, dapat didorong masuk kembali dengan jari, permukaan licin,batas tidak tegas, nyeri tekan (-). Saat tiduran, benjolan tidak tampak. (Pe) (A) : : Tidak dilakukan Bising usus (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium 24/8/2005 Darah : - Hb - Eritrosit - Leukosit : : : 15,8 g/dl 5,0 juta 5.200 mm3

- Trombosit : 201.000 mm3 - Masa Pdrh :2 - Masa Pbk : 8 Kesan hasil lab dalam batas normal. VI. DIAGNOSA KERJA

Diagnosa pre op : Hernia inguinalis lateralis dextra reponibilis. VII. DIAGNOSA BANDING

Hernia inguinalis medialis dextra reponibilis. 5

Hernia femoralis dextra reponibilis. Lipoma inguinal dextra. Limfadenitis ingunal dextra. VIII. PENATALAKSANAAN Hernia Inguinalis Medialis Dextra Operatif Medikamentosa : Herniotomi dan Herniorhapy : Antibiotika Analgetika Laporan Operasi 25 Agustus 2005 Dr. Sutanto SpB Insisi kulit inguinal kanan Canalis inguinalis dibuka Kantung hernia/dicari/dikunci Dilanjutkan dengan Herniotomi setinggi internal inguinal Preparasi/diseksi untuk pemasangan Mesh Hernioraphy dengan Prolene Mesh Canalis inguinalis ditutup kembali Luka operasi ditutup lapis demi lapis Diagnosa post op : Hernia Inguinalis lateralis Dextra IX. ANJURAN

1. Bed rest. 2. Diet tinggi serat setelah operasi agar BAB lancar. 3. Usahakan untuk tidak mengangkat benda-benda berat . 4. Usahakan untuk tidak melakukan aktivitas berat. X. S O FOLLOW UP : Rasa nyeri didaerah post operasi. Flatus (+). : Tanda vital T : 120/80, N : 90, S : 37C, RR : 18. Abdomen : I. Tanda hematom post op (-). Dehisiensi luka post op (-). 6

26-8-2005

Pal : Sensibilitas daerah inguinal (+). Per : timpani. Auks : bising usus (+) normal. A S O : Hari 1 post Hernioraphy. : Rasa nyeri didaerah post operasi berkurang. : Tanda vital T : 110/80, N : 80, S : 36,5C, RR : 18. Abdomen : I. Tanda hematom post op (-). Dehisiensi luka post op (-). Pal : Sensibilitas daerah inguinal (+). Per : timpani. Auks : bising usus (+) normal. A S O : Hari 2 post Hernioraphy. : Rasa nyeri didaerah post operasi berkurang. BAB (+) : Tanda vital T : 120/80, N : 86, S : 36,5C, RR : 18. Abdomen : I. Tanda hematom post op (-). Dehisiensi luka post op (-). Pal : Sensibilitas daerah inguinal (+). Per : timpani. Auks : bising usus (+) normal. A XI. : Hari 3 post Hernioraphy. PROGNOSA Ad vitam Ad functionam : Ad sanationam : : dubia ad bonam dubia ad bonam dubia ad bonam 28-08-2005 27-8-2005

PEMBAHASAN UMUM

HERNIA
ANATOMI DINDING PERUT Lapisan dinding perut dari lapisan paling luar ke dalam. Lapisan kulit : kutis, subkutis, lemak subkutan dan fasia superfisialis (Fasia Scarpae). Otot dinding perut : m.Obliqus abdominalis eksternus, m.Obliqus abdominalis internus, dan m.transversus abdominalis. Peritoneum Pernafasan Proses BAK dan BAB dengan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kraniodorsal dari cabang Aa.lntercostac VI-XII dan Aa.Epigastrika superior. Kaudal dari A.circumflexa superfisialis , A Pudenda Eksterna dan A.Epigastrika inferior. DEFINISI Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi rongga melalui detek atau bagian lemah (lokus minoris resistensi) dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia meliputi 3 unsur. yakni : 1. Kantong hernia (peritoneum parietalis) 2. Isi (Viskus) 3. Pintu atau leher hernia (Lokus minores resistentiae pada dinding abdomen) KLASIFIKASI Berdasarkan terjadinya : Hernia bawaan atau kongenital Hernia didapat /atau akuisita Fungsi otot dinding perut

Perdarahan dinding perut

Berdasarkan letaknya : Hernia Diafragmatika Hernia inguinalis 8

Hernia umbilikalis Hernia femoralis Herna obtoratoria

Berdasarkan sifatnya : Hernia reponibilis : isi kantong akan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus. Hernia Ireponibilis : isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga , biasanya karena perlengketan pada peritoneum kantong hernia, tidak ada keluhan nyeri ataupun gejala obstruksi usus. Hernia inkaserata : isi hernia terjepit oleh cincin hernia disertai gangguan pasase usus. Hernia Strangulata : Hernia ireponibel disertai gangguan vaskularisasi.

Berdasarkan Penemunya Hernia Hernia Richter : Hernia yang isinya hanya sebagian dinding usus. Littre : Hernia yang isinya divertikulum Meckel

Hernia Spigelian : Hernia yang muncul melalui tempat lemah diantara tepi lateral m.Rectus Abdominalis dengan Linea semisirkularis.

Lain-lain

Henna Epigastrika : Hernia yang keluar melalui defek di linea alba, antara umbilicus dan proc.Xiphoideus. Hernia Skrotalis : Hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum. Hernia Pantaloon : Kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu sisi.

HERNIA INGUINALIS
ANATOMIS Batas regio inguinalis - kanalis inguinalis Kraniolateral : anulus inguinalis internus (bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis) Medial-bawah diatas tuberkulum pubikum : anulus inguinalis eksternus (bagian terbuka dari aponeurosis m.obliqus eksternus) . Atap : aponeurosis m.obliqus eksternus

Dasar : lig.inguinalis pouparti Pada wanita Pada pria Dasar Atap Medial Lateral Bawah : lig.Rotundum : spermatic cord : Fasia transversa : m.obliquus internus : tepi m.rectus abdominis : vasa epigastrika inferior : lig.inguinale

Isi kanalis inguinalis :

Batas Trigonum Hasselbach-dinding posterior inguinal

ETIOLOGI Pada orang sehat ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis 1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring. 2. M.obliqus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus saat berkontraksi. 3. Fasia Transversa yang kuat, menutupi trigonum Hasselbach. Namun bila ada faktor predisposisi : 1. Prosesus vaginalis yang terbuka. 2. Peninggian tekanan intra abdomen. Batuk kronik

10

Konstipasi Asites Menangis kuat-kuat Berdiri

3. Kelemahan otot dinding perut (karena usia) Maka dapat menyebabkan HERNIA INGUINALIS DISTRIBUSI Pada laki-laki Terbanyak pada neonatus (2 mgg pertama) dan usia 12 thn. Dewasa muda (18-30 thn) Usia 50-70 thn, karena otot-otot dinding perut sudah lemah. Pada usia tua ini yang paling banyak terjadi adalah hernia inguinalis medialis. Pada wanita Terutama pada neonatus dan usia 1-2 thn. Usia tua, lebih banyak jenis hernia femoralis. Hernia inguinalis lateralis pada wanita disebut hernia labialis. JENIS-JENIS HERNIA INGUINALIS HERNIA INGUINALIS LATERALIS / INDIREK Lateralis karena penonjolan berada disebelah lateral vasa epigastrika inferior. Indirek karena tidak langsung keluar ke annulus inguinalis eksternus, melainkan masuk melalui annulus inguinalis internus terlebih dahulu kemudian melalui kanalis inguinalis, baru keluar melalui annulus inguinalis eksternus. Umumnya tonjolan berbentuk lonjong. Pada bayi dan anak disebabkan karena kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum akibat penurunan testis ke skrotum.

11

HERNIA INGUINALIS MEDIALIS / DIREK Medialis karena penonjolan berada di sebelah medial vasa epigastrika inferior. Direk karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna, lewat kelemahan dinding posterior (trigonum Hasselbach). Hampir selalu disebabkan faktor peninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan dinding trigonum Hasselbach. Umumnya tonjolan berbentuk bulat, dapat terjadi bilateral. Jarang mengalami inkarserasi dan strangulasi.

12

HERNIA FEMORALIS Hernia femoralis umumnya dijumpai pada wanita tua , kejadian pada perempuan 4 kali laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v. femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Kadang kala hernia ini terjadi karena komplikasi operasi hernia sebelumnya.

13

DIAGNOSA Anamnesa Benjolan di lipat paha yang timbul pada waktu berdiri, menangis kuat, batuk, bersin atau mengedan dan hilang setelah berbaring Nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya pada region epigastrium atau paraumbilikal, berupa nyeri visceral karena reggangan pada satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Keluhan nyeri disertai mual dan muntah (bila timbul strangulasi karena nekrosis/gangrene atau inkarserata akibat ileus). Pemeriksaan fisik Inspeksi Mengedan ; Tampak benjolan di region inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah (hernia inguinalis lateralis) Biasanya benjolan menghilang waktu istirahat / berbaring. Pada bayi dan anak-anak, adanya benjolan yang hilang timbul di lipat paha biasanya diketahui oleh orang tua. Jika hernia mengganggu dan anak 14

sering gelisah, menangis, perut kembung maka pikirkan kemungkinan hernia strangulata. Palpasi Konsistensi kenyal Dapat/tidak didorong masuk kembali (reponibel/ireponibel). Pada anak, Setelah benjolan tereposisi dengan jari telunjuk, kadang cincin hernia Dapat diraba berupa annulus inguinalis eksternus yang melebar. Ada/tidak nyeri tekan. Testis teraba / tidak (DD/ hidrokel) Periksa keadaan cincin hernia : melalui skrotum, jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus (pada keadaan normal, jari tidak dapat masuk). Pasien mengejan dan rasakan, apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa teraba menyentuh ujung jari makak hernia inguinalis lateralis. Bila massa menyentuh sisi jari maka hernia inguinalis medialis. Perkusi Tidak dilakukan.

Auskultasi Bising usus (+), bila isi hernia = usus.

PENATALAKSANAAN Konservatif Tindakan reposisi dan pemakaian penyangga untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi dengan cara bimanual : tangan kiri pegang isi hernia, inembentuk corong. Tangan kanan mendorong ke arah cincin hernia dengan tekanan lambat narnun menetap sarnpai terjadi reposisi. Pada anak, reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es di atas hernia.Bila 6 jam gagal maka lakukan herniotomi ! Pada bayi atau usia lanjut dengan hernia congenital atau indirek. reposisi dilakukan sesegera mungkin karena insiden terhadap inkarserata dan

15

strangulasi cukup tinggi. Bila hernia inkarserata tanpa gejala sistemik maka lakukan reposisi postural bila berhasil lakukan operasi elektif 2 - 3 hari ( saat udem jaringan hilang dan KU baik). Operatif Segera bila terjadi inkarseata atau strangulasi. Prinsip dasar : Herniotomi dan Hernioplasty Herniotomi Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong hernia dibuka, isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong. Hernioplasty Memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dindig belakang kanalis inguinalis. Hernioplasty lebih penting artinya daiam mencegah terjadinya residif dibanding Herniotomi. Hernioplasty tidak dilakukan pada anak-anak, karena annulus inguinalis internusnya masih cukup elastis dan dinding belakang kanalis inguinalis masih cukup kuat ! Metode Bassini adalah dengan memperkecil annulus inguinalis internus dengan jahitan, memperkuat fascia transversa dan menjahit conjoint tendon ke lig. Pouparti. Metode Mc Vay dengan cara menjahit fascia transversa, m. transverses abdorninis internus ke lig. Cooper, biasanya dilakukan pada hernia femoralis. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang, perlu pemakaian bahan sintesis seperti Prolene Mesh, Mersilene, atau Marleks untuk menutup defek. Tehnik operasi hernioraphy sebenarnya dibagi menjadi 4 group berdasarkan pendekatannya: 1. Open anterior repair. Grup ini termasuk Bassini, Mc Vay yaitu dengan membuka aponeurosis m. obliq eksternal dan membebaskan spermaticcord. Setelah fascia 16

tranversalis dibuka dapat ditemukan kanalis inguinalis. Kemudiankantung hernia diligasi dan dasar dari kanal direkonstruksi kembali. Pada tehnik ini presentasi recurrence rate sangat tinggi 10-14 %. 2. Open posterior repair. Yang termasuk kedalam grup ini adalah iliopubictrac repair dan Nyhus technique. Perbedaan yang mendasar dengan open anterior repair adalah rekonstruksi dilakuakn dari dalam. Cara ini biasanya dilakukan pada kasus dengan multiple recurrences. 3. Tension-free repair with mesh. Lichtenstein and Rutkow techniques. Pada mulanya sama dengan open anterior repair, namun ditambah dengan menggunakan prosthetic nonabsorbable mesh. Keberhasilan dengan tehnik ini dengan recurrence rate kurang dari 1%. 4. Laparoscopic procedures. Tehnik terbaru ini mulai terkenal mulai bebrapa tahun yang lalu. Tehnik yang terbaru adalah dengan total extraperitoneal approach. Berikut ini adalah sekilas tentang laparoscopic hernia repair Laparoscopic Hernia Repair

Pertinent anatomy in a thin male with a left indirect inguinal hernia

17

Dissection starts with opening the peritoneum lateral to the medial umbilical fold in order to identify Cooper's ligament

Cooper's ligament has been exposed from the pubic tubercle down to the femoral vessels and the vas deferens

18

The ileopubic tract lateral to the internal ring is exposed. It is critical to avoid dissection or stapling posterior to this line in order to avoid injury to cutaneous nerves.

The dissection is complete. The indirect sac is left in place.

19

An 8 by 12 cm. GoreTex dual-mesh patch is now inserted. I use this material because it is resistant to adhesions, and can be placed without need for reperitonealization.

The mesh has been stapled from the pubic tubercle along Cooper's ligament down to the femoral vessels. It is now being stretched across laterally and stapled to the ileopubic tract.

20

The patch is then flipped up anteriorly, covering the hernia defect(s). It is stapled to the abdominal wall circumferentially. This completes the repair. This is the repair first devised by Fred Toy and Roy Smoot, and has been studied by a multi-center group in more than 500 patients. Recurrence rate over several years is 4%. KOMPLIKASI Bergantung dari isi hernia. Hernia dapat terjepit oleh cincin maka akan terjadi hernia inkarserata atau strangulasi yang akhirnya menyebabkan obstruksi usus. Isi hernia dapat nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguineus. Dapat perforasi dan menyebabkan abses local, fistel, peritonitis. Komplikasi yang dapat terjadi post op adalah cedera n.ilioingunalis, n.iliofemoralis , v femoralis dan duktus deferens. Komplikasi dini berupa hematom, luka infeksi, bendungan v. femoralis. Komplikasi jangka panjang berupa atrofi tetis karena lesi a. spermatika atau bendungan pleksus pampiniformisdan yang paling penting adalah terjadinya residif.

21

Daftar Pustaka 1) Sjamsuhidajat R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta : 1997 2) Way, Lawrence, Doherty, Gerard M, Current Surgical diagnosis and treatment, eleventh edition, Mc Graw Hill, Boston 2003. 3) Aksara Medisina, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah Khusus, Salemba, Jakarta : 1987 4) Sabiston, David C. Essential of Surgery, first edition, EGC, Jakarta ; 1994. 5) American Family Physician Surgical Options in the Management of Groin Hernias available from : http://www.aafp.org/afp/990101ap/contents.html. ( last update : January 1,1999) 6) Mark Pleatman, MD Laparoscopic Hernia repair available from cd rom Operation Techique

22

PEMBAHASAN KHUSUS Pada kasus ini, diagnosa kerja pre operatif adalah Hernia inguinalis lateralis dextra, sesuai dengan teori : Benjolan timbul terutama saat pasien berjalan dan mengangkat benda berat, hilang bila pasien berbaring. Ada faktor predisposisi, yakni kelemahan dinding perut akibat faktor usia (47 thn). Umumnya benjolan berbentuk bulat agak lonjong berjalan dari lateral atas ke medial bawah dengan batas tidak tegas (pada hernia inguinalis medialis umumnya benjolan berbentuk bulat, berbatas tegas). Benjolan yang hilang timbul dapat menyingkirkan dd dari Lipoma inguinalis. Tidak ditemukannya demam, dan tanda-tanda infeksi pada tungkai dan sekitarnya menyingkirkan dengan dd Limfadenitis inguinalis Pada dasarnya cukup sulit untuk membedakan hernia medialis-lateralis dan femoralis. Diagnosis pasti hanya dapat dilakukan dengan operasi. Namun maupun hernia medialis-lateralis atau femoralis, terapi yang harus dilakukan adalah operasi, mengingat komplikasinya yang akan membahayakan pasien tersebut. Setelah dilakukan herniotomi dan hernioraphy, diagnosa post operatif adalah Hernia inguinalis lateralis dextra, sesuai dengan teori. Selain dilakukan herniotomi. pada pasien ini dilakukan juga hernioraphy, sesuai dengan teori : Pada orang tua, dinding posterior abdomen lemah. sehingga bila hanya dilakukan herniotomi saja, maka kemungkinan terjadi hernia residif post op besar. Sehingga. annulus inguinalis internus perlu diperkecil dan dinding belakang kanalis inguinalis perlu diperkuat dengan hernioplasty. Pada pasien ini dipakai juga bahan untuk menutup defek Prognosa pada pasien ini baik, karena telah dilakukan herniotomi dan hernioplasty yang mencegah hernia residif. sintesis yakni Prolene Mesh

23

Anda mungkin juga menyukai